NSTEMI with Total Left Circumflex Occlusion: How The N-Wave Might Help

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh crs-group.de

Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) merupakan pemeriksaan yang penting dalam mendiagnosis sindroma koroner akut (SKA). Pemeriksaan EKG sangat aplikatif, tersedia di sebagian besar senter kesehatan, dan hasilnya dapat diintrepretasi secara cepat. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan terapi lanjutan yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi SKA pasien. Setiap pasien dengan gejala nyeri dada atau ekuivalen, akan dilakukan pemeriksaan perekaman EKG dalam kurun 10 menit kunjungan di senter kesehatan. Gambaran EKG tersebut kemudian dibedakan berdasarkan morfologi gelombang listrik jantung menjadi STE-ACS (peningkatan pada segmen-ST) dan NSTE-ACS (tanpa peningkatan pada segmen-ST).  Gambaran STE-ACS (STEMI) mengindikasikan reperfusi secepatnya, sedangkan gambaran NSTE-ACS memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan enzim marker jantung bila disertai dengan gejala yang mendukung. Peningkatan marker menunjang diagnosis NSTEMI yang memerlukan tatalaksana reperfusi segera.

Kedua kelainan kardiovaskular tersebut memiliki tingkat kegawatan dan pendekatan terapi yang berbeda. SKA dengan morfologi STEMI diasosiasikan dengan keberadaan sumbatan melebihi 70% lumen pembuluh darah, bahkan hingga kebuntuan total. Sayangnya, tidak semua kebuntuan total memberikan gambaran STEMI. Diperkirakan 25,5% memiliki gambaran tidak khas yang menyertai kebuntuan total pembuluh darah sehingga disebut sebagai STEMI-equivalent. Berdasarkan literatur, salah satu morfologi yang dapat ditemukan pada kebuntuan total adalah keberadaan gelombang “N” (N-wave). Keberadaan gelombang ini dapat dijumpai pada 10% pasien NSTEMI dengan luaran yang sama dengan pasien STEMI. Pemahaman ini penting karena pengenalan dini N-wave dapat membantu klinisi menangani kebuntuan total pada SKA secara dini.

Kecermatan klinisi dalam melakukan tindakan reperfusi segera biasanya dipandu oleh rentang waktu yang direkomendasikan berdasar tingkat risiko NSTEMI. Peningkatan enzim marker saja, atau bila didapatkan perubahan gambaran rekam jantung kontinyu dan pasien yang mengalami henti jantung merupakan kelompok risiko tinggi yang memerlukan tindakan “early invasive” dalam kurun < 24 jam. Sedangkan pasien dengan ketidakstabilan hemodinamik, syok kardiogenik, nyeri dada menetap/berulang, penyerta aritmia maligna, dan gagal jantung merupakan kelompok risiko sangat tinggi yang memerlukan tindakan “immediate invasive” dalam kurun < 2 jam.

Dalam prakteknya, tindakan angiografi koroner yang dilakukan pada pasien NSTEMI seringkali menunjukkan adanya proses kebuntuan total. Ketidak sesuaian gambaran EKG dengan temuan kebuntuan total tentunya menjadi zona abu-abu yang perlu diatasi. Hal ini dikarenakan kebuntuan total berpotensi membahayakan jiwa, walaupun secara teoritis dikatakan bahwa 30% pasien dengan kebuntuan total di arteri sirkumfleks kiri dapat menunjukkan gambaran rekam jantung yang normal. Kondisi tersebut terjadi akibat daerah yang dialiri oleh arteri sirkumfleks kiri merupakan zona “electrical silent”.

Salah satu gambaran yang dapat membantu klinisi mengenali keberadaan kebuntuan total pada kasus NSTEMI ialah keberadaan “N-wave”. Morfologi ini belum secara awam dipahami sebagai gambaran EKG yang dapat mendukung kecurigaan sumbatan total. Niu et al., memperkenalkan morfologi ini sebagai (1) takik atau defleksi pada akhir kompleks QRS, (2) amplitudo takik atau defleksi > 2 mm, (3) perubahan kontinyu takik dalam 24 jam, bahkan bisa menghilang, dan (4) pemanjangan durasi QRS yang menandai pemanjangan aktivasi pada daerah iskemik.

Pemeriksaan N-wave memiliki tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 77% dan 89%. Melalui pengenalan dini “N-wave”, tentunya pertimbangan tindakan reperfusi dapat dilakukan dengan secepatnya dan manajemen risiko dapat diatasi dengan lebih tajam. Hal ini juga menjadikan pembelajaran bahwa evaluasi seksama juga perlu dilakukan melalui penilaian morfologi STEMI-equivalent agar membantu klinisi dalam menentukan waktu revaskularisasi yang tepat.

Penulis: Mochamad Yusuf Alsagaff

Link: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35198230/

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS