Pelayanan Paliatif sebagai Hal Krusial dalam Persepsi Kematian pada Era Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof Marlina S Mahajudin, dr SPKJ (K) PGD Pall Med (ECU) dan Susanto (Teknisi Forensik dan Pemulasaran Jenazah) sebagai pembicara. (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Museum Etnografi dan Kematian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga melangsungkan webinar series Night At The Museum keenam pada Kamis (31/03/2022). Dengan mengusung tema “Tonggak Sejarah Pandemi Era Milenial”, webinar itu mendatangkan Prof Marlina S Mahajudin, dr SPKJ (K) PGD Pall Med (ECU) dan Susanto (Teknisi Forensik dan Pemulasaran Jenazah) sebagai pembicara. 

Dalam kesempatan itu, keduanya mengangkat judul “Adakah Pergeseran Good Death ke Bad Death saat Pandemi?” melalui Zoom Meetings. Pada awal sesi, Marlina memperkenalkan kepada audiens tentang perawatan paliatif yang akan menjadi topik utama dalam webinar. Marlina mengutip salah satu dasar hukum paliatif, yaitu DepKes RI, 1997. 

“Paliatif yang terbaru adalah pokoknya yang semuanya untuk peningkatan kualitas hidup,” ujarnya.

Selepas pemaparan itu, Marlina juga menjelaskan perihal good death serta bad death sebagaimana pendapatnya bahwa pelayanan paliatif akan sangat berpengaruh terhadap kedua aspek tersebut. “Good death itu meninggal dengan symptom free, dia harus selesai dengan tugas duniawinya, meningkatkan kualitas ibadah, meninggal dengan iman, dan keluarga tetap sejahtera,” paparnya.

Berbeda dengan good death, sambungnya, bad death adalah kondisi ketika meninggalnya seseorang itu sengsara, tidak selesai (segala urusannya, red), dan keluarga tidak rukun. Dalam pendapatnya, segala bentuk apapun yang tidak sampai menyelesaikan masalah yang diinginkan juga dapat menimbulkan bad death.

Berkaca dari pengertian paliatif, Marlina menambahkan potret pendampingan bagi keluarga yang akan ditinggalkan. Ia juga menambahkan ada beragam reaksi kesedihan dalam masa berkabung, salah satunya adalah yang perlu diwaspadai, yakni reaksi sedih yang berusaha ditutupi agar khalayak tidak mengetahuinya.

“Ada yang (depannya, red) bagus, tapi sebetulnya dia sendiri sudah depresi, nggak berapa lama dia mengikuti,” tutur Marlina.

Di lain sisi, berdasarkan pengalaman narasumber kedua, Susanto, respons terhadap pasien yang divonis Covid-19 juga beragam. “Ada yang benar-benar menerima, lalu yang kedua, awalnya menerima, ternyata setelah kita proses semua rekap, maunya diperlakukan seperti jenazah yang tidak infeksius berat. Terus, ada juga yang awalnya nggak menerima, kita arahkan lagi, kita bicara pelan-pelan, mereka terima,” jelasnya.

Susanto juga menambahkan bahwa putusan dokter mengenai terpaparnya Covid-19 pada pasien tidaklah main-main. “Jadi, mereka punya data tersendiri atau rekam medis tersendiri sehingga saat menentukan bahwa pasien yang meninggal ini (akibat, red) Covid-19 atau tidak, itu mereka sudah ada. Jadi, mereka tidak ngawur, mereka juga di bawah sumpah dokter,” tegas Susanto.

Pada akhir, jika dihubungkan dengan tema, menurut Marlina, kematian secara good death belum tentu bergeser menjadi bad death selama pandemi. “Kita harus menanamkan bahwa ini adalah penderitaan sejagad dan kita harus gotong royong,” pesannya.

Penulis: Leivina Ariani Sugiharto Putri

Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS