Cita-cita dan Teman Hidup “Orang Jawa”

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto by Phinemo

Salah satu pertanyaan terumit dalam hidup adalah menjawab apa itu makna dari kehidupan. Hampir setiap manusia di dunia mempunyai jawaban yang berbeda-beda jika menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang menganggap hidup ini penuh dengan tantangan, tapi ada juga yang menganggap hidup ini hanya sebatas upaya untuk mencari ketenangan. Karena hanya berlaku sekali, kadang ada yang menganggap hidup ini santai-santai saja, tapi ada juga yang menganggap hidup ini harus dipenuhi langkah-langkah serius dan terencana. Terlepas dari apa jawabannya, Hal itu ternyata dipengaruhi dari lingkungan dan budaya masing-masing.  

Di kesempatan kali ini, penulis ingin mengajak pembaca menyelami bagaimana mana orang Jawa dalam memandang makna hidup. Dan ternyata, mbah-mbah kita di Jawa dulu sudah menemukan jawaban yang mantap, yakni ungkapan “Sangkan Paraning Dumadi” untuk mengurai kerumitan hidup. Kita seakan diajak merenungkan dan menjawab “kita ini hidup dari mana, mau kemana, dan sekarang, sudah sampai mana?”.

Pertanyaan dialektis yang saling terkait itu seolah membuat kita mencari, mencari dan mencari jawaban akan pertanyaan itu. Dan dalam pencarian penulis, menemukan bahwa orang Jawa telah menemukan cita-cita terbesar hidup, yaitu “keselamatan”. Ya, keselamatan merupakan tujuan terbesar yang diharapkan orang Jawa baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat. Dalam ungkapan Jawa berbunyi “slamet dunyo akhirat”.

Sederhana sekali cita-citanya, namun manifestasinya luar biasa. Karena itu, sejak berabad-abad yang lalu, dari generasi ke generasi, mereka tidak suka mempertentangkan yang namanya “kebenaran” demi menjaga keharmonisan dan ketentraman di lingkungannya. Bisa dikatakan, mereka tidak terpaku untuk mempertahankan “benere kepriye” (benarnya bagaimana), tetapi cenderung bersikap “kepriye becike” (bagaimana baiknya).  Karena mereka tahu, bener durung musthi pener (benar belum tentu sesuai). Benarnya manusia relatif, sedang kebenaran Tuhan itu mutlak. Setelah mereka tahu bahwa manusia itu bisa salah dan benar, mereka akan sadar dan berusaha guyub rukun dengan sesama dan memayu hayuning bawana dengan alam sekitarnya.  

Jika ditelisik lebih mendalam, salah satu upaya keselamatan yang dilakukan orang Jawa adalah dengan slametan. slametan merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai wujud rasa syukur dalam hidup. Karena itu, hampir setiap peristiwa baik itu sifatnya kecil maupun besar, selalu diadakan ritual slametan seperti kelahiran anak, pernikahan, kematian, mendirikan rumah, hasil panen, dan sebagainya. 

Meski pada praktiknya terdapat pro-kontra mengenai ritual slametan di Jawa, tetapi banyak kalangan tetap melakukannya sesuai kepercayaan masing-masing demi menjaga tradisi leluhur. Bisa dikatakan slametan merupakan manifestasi spiritualisme orang Jawa. Karena di dalam ritual slametan, mereka  memanjatkan doa, mengadakan pembagian makanan sebagai ucapan terima kasih atau rasa syukur kepada yang telah memberi kehidupan dan mencukupi penghidupan, Tuhan Yang Maha Esa.

Tumbuhan sebagai Teman

Orang Jawa memuliakan tumbuhan, makhluk ciptaan Tuhan yang sama-sama hidup sebagaimana manusia di dunia. Orang Jawa tidak egois dengan memandang segala sesuatu hanya tentang manusia, tapi juga tentang alam seperti tumbuhan, hewan, gunung dan sebagainya. Bahkan di Jawa pun diajarkan untuk tidak hanya bisa berdampingan dengan yang nampak, tidak juga yang tidak seperti seperti jin, setan, dan malaikat.

Khusus mengenai tumbuhan, penulis menemukan hubungan wong cilik dengan tumbuhan di Jawa yang sudah begitu erat, mereka seperti sedulur sinarawedi (saudara kandung). Buktinya apa? Saat ini kita dapat mengetahui nama-nama desa yang menggunakan nama tumbuhan, seperti jati, mojo, tanjung, waru, ringin; kemudian olahan kuliner seperti jangan bung (rebung), pecel (kacang tanah); nyamikan (camilan) seperti kripik gadung, godoh telo (ubi); minum-minuman segar seperti sinom (asem), dawet (beras); obat-obatan seperti jamu; kelahiran bayi dengan menanam kelapa; ritual pernikahan dengan menanam pisang raja; dan bahkan sampai kematian dengan menanam kamboja dan masih banyak yang lainnya.

Orang Jawa memang benar-benar meneladani sifat tumbuhan dan sudah meresapinya dalam sendi-sendi kehidupan. Mereka dengan sadar dan sabar terus menanam di tengah perubahan zaman yang senantiasa berubah. Mereka tetap tabah ditemani kesunyian desa ketika kepemimpinan negara bergojak dan silih berganti menampakkan wajah-wajah kuasanya. Tapi orang Jawa tetap bersikap jejeg ngadeg mapan kang dadi papane (tegak berdiri ditempat yang menjadi tempatnya).    

Sebagai wujud terima kasih pada tumbuhan yang telah menemani laku hidup sepanjang hayat, mereka sampai menciptakan unen-unen (peribahasa)  “narimo ing pandum” yang saat ini sudah akrab di telinga kita. Bahkan dengan lugas kita biasanya menstigmakan bahwa orang Jawa itu “nriman” dan ”ngalahan” yang menurut hemat penulis itu meniru sifat dari tumbuhan. 

Sebagai penutup, seyogyanya kita dapat belajar bahwa tujuan terbesar Orang Jawa adalah untuk mencapai keselamatan hidup, baik di dunia maupun diakhirat. Kemudian jika dikaitkan dengan segala titi laku untuk mencapainya, ternyata Orang Jawa tidak terlepas dari pengaruh budaya tumbuh-tumbuhan. 

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi (Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga)

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS