Problematika PTM di Tengah Lonjakan Kasus COVID-19 Gelombang Ketiga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto by Suara.com

Sudah 2 tahun terkini Indonesia dilanda pandemi COVID-19 yang tak kunjung henti perkembangan kasusnya. Berbagai kebijakan yang sudah dilakukan oleh pemerintah dari tahun 2020 hingga 2022 saat ini terus mulai bermunculan dan menimbulkan dampak positif serta dampak negatif dari berbagai sektor. Dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat saat ini adalah pada sektor pendidikan. 2 tahun sudah pembelajaran yang dilakukan secara online oleh para pelajar dan mahasiswa memiliki efek berkepanjangan yang tidak pasti. Namun pada tahun 2022 awal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Satuan Gugus Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Kementerian Agama, dan Pemerintah Daerah mengeluarkan aturan kebijakan terbaru untuk seluruh sekolah hingga perguruan tinggi yang ada di Indonesia memperbolehkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara offline dengan kapasitas 100 persen dengan skema durasi waktu maksimal 3 jam tiap satu kali pertemuan dan dibagi ke beberapa sesi pada tiap harinya. 

Beberapa wilayah di Indonesia secara zona Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) termasuk kategori zona Level 1 hingga Level 2 telah menyelenggarakan PTM secara 100 persen pada tingkat TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Akan tetapi tidak disangka setelah 4 minggu berjalan dengan baik pada bulan Januari lalu, beberapa siswa dinyatakan positif COVID-19 setelah dilakukan testing secara acak pada tiap minggunya. Dengan adanya kasus positif dari penyelenggaraan PTM kapasitas penuh inilah yang menimbulkan klaster baru dalam dunia pendidikan saat ini, di sisi lain masuknya varian Omicron yang sudah menyebar luas menimbulkan gelombang ketiga penularan COVID-19 yang lebih tinggi. 

Munculnya gelombang ketiga dalam kasus penularan COVID-19 saat ini dengan adanya kebijakan pelaksanaan PTM menimbulkan kekhawatiran yang dialami oleh masyarakat khususnya para siswa, orang tua, guru, mahasiswa, dan dosen. Problematika pun muncul jika PTM dilanjutkan secara kapasitas penuh, kebimbangan antara memprioritaskan kesehatan saat ini atau masa depan anak-anak yang menjadikan dilema di bidang pendidikan pada masa pandemi COVID-19. Terlebih pembelajaran yang dilakukan secara online sejak 2 tahun sekarang ini terdapat banyak kekurangan dan menimbulkan polemik bagi psikis serta masa depan anak. Kegiatan yang dilakukan pada saat sekolah belum tentu benar belajar untuk sekolah dan mayoritas melakukan kegiatan sampingan yang dapat membahayakan diri sendiri dan psikis kedepannya nanti. Sebagai contoh saat ini yang sering terjadi ialah pada saat pembelajaran online banyak siswa yang sering melakukan aktivitas bermain game online baik itu mobile legend, free fire, atau game online lainnya dari gadget yang dimilikinya. Sehingga aktivitas belajar sekolah tidak seratus persen belajar buat sekolah melainkan teruntuk game online, disamping itu hal yang paling bikin aneh saat ini dan dialami oleh para orang tua adalah sang anak tugasnya belajar kemudian membantu orang tua di rumah justru kebalikannya yang ternyata orang tua serasa jadi murid sekolah untuk mengerjakan tugas sekolah anak saat jam sekolah berlangsung di rumah.

Berbeda halnya dengan mahasiswa pada saat pembelajaran online via zoom meeting ataupun google meeting justru banyak melakukan hal yang tidak biasa dan kurang beretika kepada dosen. Salah satunya yaitu mematikan kamera laptop ataupun handphone saat jam kelas online berlangsung dan disambi melakukan kegiatan lain baik itu ditinggal tidur, memasak, makan, membantu orang tua di rumah, atau melakukan berbagai aktivitas lainnya. Contoh seperti inilah menjadikan budaya baru namun etika menghargai orang lain sudah mulai luntur dan menjadikan problem pendidikan di Indonesia saat ini dan jika dilakukan terus menerus akan timbul kebiasaan baru.

Dari peristiwa tersebut, kacamata masa depan pendidikan Indonesia akan menjadi suram jika pembelajaran online saat pandemi COVID-19 sekarang ini mayoritas menimbulkan dampak negatif dari pada dampak positif yang menyelamatkan kesehatan agar tidak tertular COVID-19. Namun, jika pembelajaran dilakukan secara tatap muka langsung secara tidak langsung mengurangi aktivitas negatif pembelajaran secara online dan murid ataupun mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan tempat belajar baru serta akan terbuka secara pemikiran ketika berkomunikasi dengan orang lain secara langsung dibandingkan virtual secara online.

Sehingga perlu adanya catatan penting bagi pemerintah, sekolah, murid, mahasiswa, tenaga pengajar, guru, dan orang tua jika PTM secara langsung di lingkungan sekolah dan kampus tetap diadakan supaya tidak menimbulkan problem saat ini dan masa depan. Catatan yang pertama, ialah kesiapan mental siswa dan mahasiswa akankah secara penuh akan siap jika belajar secara langsung saat situasi pandemi COVID-19 saat ini terus melonjak kasusnya. Kedua, terkait dengan kesehatan tubuh yang notabene memiliki antibodi berbeda-beda dan tidak ada kesamaan antibodi yang kuat. Dan ketiga, mengenai jaminan kesehatan dari pihak sekolah dan pemerintah yang diberikan untuk orang tua jika anaknya mengalami positif COVID-19. Dari ketiga itulah peran orang tua, pihak sekolah, dan pemerintah untuk selalu bersinergi dan tidak hanya sebuah peraturan yang dikeluarkan kemudian dijalankan oleh murid dan mahasiswa, akan tetapi antisipasi serta tindakan nyata jika terdapat sesuatu hal yang tidak diinginkan saat PTM berlangsung supaya tidak menimbulkan kegelisahan orang tua demi pendidikan sekarang ini hingga suatu saat nanti.

Penulis: Rizal Djati Dwisepta (Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga)

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS