Menguji Inovasi Pendidikan di Tengah Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto by Darus id

Akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan adanya virus Covid-19 yang muncul di Wuhan, Cina. Tak butuh waktu yang lama, virus tersebut menyebar dan berubah menjadi pandemi bagi kehidupan masyarakat dunia. Dampaknya tidak tanggung-tanggung. Tak sekadar aspek kesehatan. Aspek ekonomi, sosial budaya, dan bahkan pendidikan juga harus bertekuk lutut dengan pandemi yang tak pernah pandang bulu itu. Semua elemen masyarakat saling bahu membahu untuk menuntaskan permasalahan pandemi yang belum jelas ujungnya. Meski vaksin telah hadir dan siap digunakan, nyatanya permasalahan pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda untuk segera usai dari jagat dunia.

Berbicara mengenai pandemi ini memang tidak pernah usai. Permasalahan dan solusi yang hadir ibarat dayung bersambut. Gali lubang tutup lubang. Satu usai, satu muncul kembali. Untuk itu, pada tulisan kali ini, penulis mencoba merekam kilas balik berbagai inovasi tentang pelaksanaan proses pendidikan yang mencoba untuk tetap menunjukkan eksistensi meski dihantam badai pandemi. Utamanya pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

Sebagai negara berkembang, proses pendidikan dan pembelajaran di Indonesia menjadi salah satu yang cukup banyak menghadapi dilematis. Pada saat awal pandemi misalnya. Pendidikan jarak jauh dengan aplikasi zoom atau google meet menuai banyak pro dan kontra. Terlepas dari kondisi geografis dan gap fasilitas anak di kota dan desa, pendidikan jarak jauh melalui zoom dinilai kurang efektif. Namun, apa boleh dikata, kesehatan dan keselamatan dari pandemi tetap menjadi prioritas utama. Sebab itulah, tulisan ringkas ini akan mengulas seputar sepak terjak proses pendidikan di Indonesia yang dilaksanakan pada awal pandemi hingga saat ini. Tentu, harapannya, dari catatan ringkas ini akan lahir sebuah kilas balik dari proses pembelajaran di tengah bencana non alam yang entah kapan akan usai.

Dilema Belajar Daring

Proses pembelajaran dalam jaringan atau yang dikenal dengan istilah daring menjadi salah satu model pembelajaran yang dilakukan pada masa pandemi. Terlebih adanya Surat Edaran No. 4 tahun 2020 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menganjurkan seluruh kegiatan di institusi pendidikan harus jaga jarak dan seluruh penyampaian materi akan disampaikan di rumah masing-masing. Tidak hanya itu, mengingat dalam prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah mengutamakan kesehatan dan keselamatan para peserta didik, para pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan tidak lupa pada masyarakat. Penerapan pembelajaran daring tersebut tentu menuntut kesiapan berbagai pihak, mulai dari pihak sekolah, pemangku jabatan, dan pihak peserta didik itu sendiri. Pembelajaran daring dilaksanakan dengan menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LSM). Misalnya dengan menggunakan aplikasi WhatsApp, Google, Zoom, dan lain-lain.

Perihal adanya pembelajaran daring, tentu tidak bisa lepas dari dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positif dari pembelajaran daring adalah guru dan siswa menjadi lebih mampu beradaptasi dalam menggunakan aplikasi pembelajaran. Bahkan, pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih fleksibel sebab bisa dilaksanakan di rumah dan bisa dilaksanakan di mana saja. Selain itu, pembelajaran daring juga memiliki dampak negatif bagi yang menjalankannya. Seperti terjadinya kesalahpahaman, mengingat komunikasi dilakukan tanpa tatap muka. Yang lebih parah lagi jika jaringan internet sering tidak lancar terutama daerah pelosok yang susah sinyal, dan memerlukan teknologi yang baik.

Adanya  pembelajaran secara daring ini  membuat dilema tersendiri bagi setiap orang yang menjalankannya. Bagi para siswa, utamanya siswa SD pasti akan ada rasa jenuh. Bagi guru, tentu akan banyak mengalami kesulitan tersendiri jika siswa merasa jenuh serta bagi orangtua yang harus mendampingi anak-anaknya belajar, hal ini bukanlah perkara yang mudah. Terlebih lagi jika orangtua yang memiliki lebih dari satu orang anak dan mereka yang mempunyai tanggung jawab pekerjaan. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh dan merasa kewalahan akan pembelajaran daring. Lebih kompleks lagi, pada kesempatan yang sama anak-anak juga membutuhkan pendampingan dalam belajar dan harus melaksanakan berbagai macam tugas yang harus dikumpulkan dalam waktu yang telah ditentukan.

Tidak hanya, dilematis selanjutnya yang dirasakan oleh guru dalam pembelajaran daring ini adalah sulitnya mengukur pencapaian pembelajaran. Pasalnya, antara materi yang satu dengan yang lainnya tidak bisa diukur, terkadang ada diantara peserta didik yang tidak menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, dan jika peserta didik ada yang menyelesaikan tentunya sulit memastikan apakah hasil pekerjaan anak didik tersebut atau hasil kerja orang lain, dalam hal ini tentu orang tua ataupun saudara. Sekali lagi, meski pembelajaran daring di tengah pandemi ini memiliki dilema tersendiri, namun pembelajaran daring dalam kondisi seperti ini merupakan kebijakan yang tepat sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia. Pembelajaran daring tentunya memiliki dampak positif dan negatif. Guru, siswa, dan seluruh pihak yang terlibat untuk sementara harus bijaksana dalam menyikapi pembelajaran daring yang sedang berlangsung di tengah pandemi. Semoga proses-proses yang sedang berjalan ini bisa menjadi pembelajaran yang ke depan dapat sebuah inovasi yang terus diperbaiki guna mewujudkan pendidikan sebagai langkah mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Door to Door” Solusi Belajar Anak Desa

Jika sebelumnya penulis mengulas tentang dilema belajar daring. Kali ini, penulis akan melihat sisi inovasi pembelajaran di tengah pandemi yang dirasakan sebagian anak negeri, utamanya mereka yang tinggal di desa atau pedalaman negeri. Proses pembelajaran berbasis daring yang membutuhkan koneksi internet dan menambah biaya pengeluaran untuk membeli paket internet, tentu tidak begitu menjadi masalah bagi masyarakat berada atau masyarakat kota atau daerah dengan ketersediaan jaringan internet yang lancar. Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara yang kesulitan akses internet? Tentu juga menjadi dilematis tersendiri, mengingat saudara kita yang ada di pelosok negeri juga tetap harus terlindungi dari bahaya pandemi ini. Satu hal lagi, yang juga menjadi problem bersama adalah ketersediaan telepon pintar. Tidak semua masyarakat bisa memiliki teknologi canggih yang satu ini. Padahal, pembelajaran daring tidak bisa lepas dari alat yang satu ini. Untuk itu, tidak sedikit guru atau para pendidik akhirnya memutar pikiran agar anak didik tetap bisa mengakses pendidikan, salah satunya dengan program “door to door”.

Dari sekilas pengamatan penulis, pembelajaran dengan sistem “door to door” adalah metode pembelajaran dengan cara seorang guru mengunjungi kediaman siswa untuk penyampaian suatu pembelajaran. Sistem atau metode ini hampir mirip dengan metode pembelajaran tambahan di luar sekolah seperti les. Perbedaannya adalah  guru telah mempersiapkan materi yang akan dipelajari oleh anak didik di rumah yang dikunjungi. sedangkan metode les siswa bertanya tentang materi apa yang tidak dimengerti saat di sekolah. Sistem pembelajaran “door to door” dinilai penulis lebih efektif dibandingkan sistem pembelajaran berbasis daring, terlebih bagi anak didik di pedesaan. Mengingat dari sisi koneksi siswa tidak memerlukan koneksi internet dan telepon pintar dan dari segi kesehatan siswa tetap dapat terjaga serta kondisi pandemi di pedalaman lebih bisa terkontrol.

Namun, sekali lagi yang namanya gagasan atau inovasi buatan manusia pasti ada saja kelemahannya. Beberapa hal kelemahan dari pembelajaran “door to door” juga menjadi tantangan dan catatan tersendiri. Misalnya, banyaknya waktu dan tenaga yang terbuang  bagi guru. Mengingat, guru harus mengunjungi rumah siswa satu per satu yang jaraknya juga jauh. Belum lagi akses dan tipologi daerah pedalaman yang cukup ekstrim juga menjadi tantangan tersendiri. Tapi apa boleh dibuat, pandemi sekali lagi memang menguji setiap gagasan dan inovasi yang kita lahirkan. Meski semua ada sisi keunggulan dan kekurangan, paling tidak di tengah kondisi yang belum tahu kapan akan usai ini, setidaknya kita masih dapat menyambungkan dan meneruskan semangat untuk tetap menjadi lentera dan menebarkan ilmu demi kemajuan bangsa.

Sistem Hybrid dan Blended Jalan bagi Perguruan Tinggi

Jika dua sub tulisan di atas penulis menyajikan proses sistem pembelajaran yang berfokus pada pendidikan anak sekolah dasar dan menengah, kali ini penulis akan mengulas sebuah inovasi pendidikan bagi pembelajaran di perguruan tinggi. Mengutip pernyataan Rimbun, dr., M.Si pada laman UNAIR NEWS bahwa pada Rabu hingga Kamis (19-20/05/21), mahasiswa semester enam S1 Kedokteran, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan metode kuliah hybrid khususnya pada blok keterampilan medik 4. Selaku penanggung jawab blok keterampilan medik 4 program studi S1 Kedokteran, Rimbun menjelaskan jika merujuk pada surat edaran Rektor UNAIR tentang pelaksanaan proses belajar mengajar semester genap 2020/2021, maka yang dimaksud pembelajaran hybrid adalah kombinasi dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) dalam satu pertemuan. Mekanismenya, dosen memberikan materi dan peragaan keterampilan medik secara langsung dengan dihadiri sebagian kecil mahasiswa dalam ruang kuliah dan sebagian besar mahasiswa lainnya mengikuti melalui platform zoom meeting dan tetap dapat berinteraksi langsung dengan dosen.

Meski sebagian kecil harus ikut langsung pembelajaran secara luring, beberapa syarat bagi mahasiswa yang hendak melaksanakan kuliah secara luring tidak bisa dilupakan begitu saja. Di antaranya mahasiswa harus mendapatkan izin orang tua, terdapat keterangan komorbid melalui surat pernyataan tertulis, melakukan tes swab antigen atau PCR sehari sebelum perkuliahan, menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker medis minimal 3 lapis dan face shield saat perkuliahan, serta wajib menerapkan protokol kesehatan. Dari serangkaian ini, tentu sistem hybrid ini bertujuan mahasiswa dapat mencapai kompetensi yang mendekati kompetensi ideal sesuai kurikulum dengan pelaksanaan kuliah hybrid. Meski kompetensi yang akan dicapai memang tidak bisa se ideal seperti saat pembelajaran darings secara penuh, namun dengan adanya metode hybrid diharapkan bisa lebih mendekati ideal.

Lain hybrid, lain pula blended. Inovasi pendidikan yang digagas oleh para tenaga pendidik kita adalah metode Blended Learning. Metode ini menggunakan dua pendekatan sekaligus. Dalam artian, metode ini menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka melalui video conference. Jadi, meskipun proses belajar dan mengajar dilakukan dengan jarak jauh, keduanya masih bisa berinteraksi satu sama lain. Dikutip dari sibatik.kemendikbud.go.id, Yane Henadrita mengungkapkan bahwa metode blended learning adalah salah satu metode yang dinilai efektif untuk meningkatkan kemampuan kognitif para pelajar. Salah satu media yang dapat diterapkan dengan metode ini adalah Google Classroom. Melalui media yang satu ini kita dapat membuat kelas sendiri untuk pembelajaran. Untuk itu, metode blended learning sangat direkomendasikan untuk pembelajaran pada masa pandemi ini, terlebih bagi mereka yang ada di jenjang perguruan tinggi. Adanya iklim diskusi yang terus berjalan di perguruan tinggi, membuat mahasiswa tetap ada pada ruh iklim pendidikan tinggi yang kental dengan arena diskusi dan membangun nalar kritis. Mengingat lewat metode blended learning ini peserta didik bisa berdiskusi secara langsung dengan pengajar untuk membahas kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran.

Keunggulan selanjutnya pada metode ini adalah menjadikan pengajar menciptakan pembelajaran jarak jauh tetapi terasa pembelajaran di kelas dengan waktu dan tempat yang berbeda. Namun sekali lagi penulis tekankan bahwa inovasi yang diciptakan tidak bisa lepas dari banyak kekurangan. Perihal waktu, penggunaan sistem atau metode ini harus tercipta dari kesepakatan antara guru, siswa, dan wali murid. Masih banyak fasilitas pendukung yang harus dibahas agar pembelajaran dengan metode ini dapat tercipta dengan baik dan bermanfaat untuk semua. Sekali lagi, mari di tengah pandemi kita tetap lihai untuk beradaptasi dan melahirkan banyak inovasi. Meski dalam praktiknya akan banyak kekurangan yang terjadi, namun inovasi pembelajaran yang diciptakan tidak pernah nihil dari kata kebermanfaatan. Untuk itu, di tengah pandemi yang menjadi uji bagai setiap penduduk bumi ini, kita harus tetap lihai beradaptasi dan menciptakan banyak inovasi.

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS