Aplikasi ‘Sejarah Bangsaku’ Bawa Tim UNAIR Raih Medali Emas Internasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim HI UNAIR serta dosen pembimbing. (Sumber: Twitter KPHI UNAIR)

UNAIR NEWS – Lima mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Airlangga (UNAIR) menorehkan prestasi membanggakan dengan menggondol medali emas dalam World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA 2021). Mengembangkan aplikasi bernama Sejarah Bangsaku, kelimanya berhasil mengalahkan inovasi 450 tim lain dari 35 negara.

Aplikasi edukasi tersebut digagas oleh Nabilah Az-zahro, Rifqi Dirga Syahputra, Jihan Amirotul Farikhah, Adisty Salsabila Candra, serta Afifah Jilan Hasninda.  Tidak hanya meraih medali emas kategori pendidikan, kelima mahasiswa HI angkatan 2020 tersebut juga meraih penghargaan Macedonia Special Award dari Daily Center Association ‘Doza Srekja’ – Skopje, Republic of North Macedonia.

Bertajuk ‘Innovative ‘Sejarah Bangsaku’ Application in Developing Youth Interest and Implementing a History Education Based on Friendly Online Learning in the Covid-19 Pandemic’, kelimanya tidak menyangka inovasi tersebut dapat meraih salah satu penghargaan tertinggi. Terlebih dari ratusan inovasi yang berkompetisi dalam WYIIA, mereka menjadi satu-satunya tim yang membahas inovasi terkait sejarah.

Aplikasi ‘Sejarah Bangsaku’ sendiri berisikan berbagai mode belajar menarik. Pertama, terdapat Mode Belajar yang berisikan video animasi sejarah yang mendorong pemahaman pengguna aplikasi dengan metode yang menarik dan menghibur. Kedua, Mode Jelajah yang memuat kuis, tryout, dan games yang mendorong motivasi belajar melalui poin dan sistem level.

Ketiga adalah Mode Kreasi yang memungkinkan pengguna untuk membagikan karya dan ide kreatif mereka melalui foto, video, poster, hingga tulisan tentang sejarah. Terakhir adalah Mode Literasi yang memuat koleksi buku, jurnal, dan literatur sejarah lain yang dapat menjadi referensi tambahan dalam memahami sejarah.

“Berbagai mode tersebut ditujukan agar pengguna dapat belajar dengan acara yang menyenangkan serta turut berkontribusi secara aktif ikut membuat konten-konten sejarah, khususnya dalam Mode Kreasi,” terang Dirga, salah satu anggota tim.

Mewakili timnya, Dirga mengungkapkan bahwa ide aplikasi tersebut tercetus akibat minimnya ketertarikan generasi muda akan sejarah. Apalagi pelajaran sejarah dalam kurikulum pendidikan di Indonesia umumnya diisi dengan materi dan buku yang cenderung menjenuhkan.

“Dari situasi itu, kami berusaha merumuskan aplikasi yang mampu meningkatkan literasi sejarah anak muda dengan metode online learning yang atraktif. Kamipun menyasar pengguna dari tingkat SD hingga SMA,” imbuhnya.

Meski mampu menggagas ide aplikasi yang cemerlang, siapa sangka mereka mengeksekusi ide tersebut hanya dalam kurun waktu satu minggu. Tidak ayal jika kelimanya berusaha memaksimalkan waktu tersebut dengan koordinasi daring untuk merampungkan paper, power point, dan poster di bawah bimbingan dosen HI M. Muttaqien, S.IP., M.A., Ph.D.

Melalui raihan tersebut, Dirga meyakini bahwa keunikan yang dibawa aplikasi mereka menjadi keunggulan yang membawa timnya meraih emas. Dirga meyakini bahwa aspek tersebut menjadi hal yang harus diperhatikan mahasiswa lain apabila ingin mengikuti kompetisi serupa.

“Tekankan keunikan agar inovasi yang kita buat dapat menjadi sebuah terobosan baru. Yang penting berpikirlah unik dan lakukan yang terbaik agar bisa menjadi yang terbaik pula,” tandasnya.

WYIIA 2021 sendiri menjadi kompetisi inovasi internasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association yang berkolaborasi dengan Universitas Negeri Yogyakarta. Kompetisi inipun juga berkolaborasi dengan beberapa institusi internasional lain dari Malaysia, Turki, Rumania, Tunisia, Macedonia, hingga Maroko. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp