Kemajuan Banyuwangi dan Potensi Pasca-Pandemi

Konsep pengembangan Banyuwangi secara strategis mampu mengangkat Kabupaten ini sebagai salah satu daerah di Jawa Timur yang menjanjikan perubahan berkelanjutan, bahkan pada masa pandemi. Sebelum pandemi, Banyuwangi telah mencatat lonjakan turis dari jumlah 802,475 orang pada 2011 menjadi 5,039,132 orang pada 2018. Industri pariwisata telah memantik pembangunan ekonomi lokal, membuat Banyuwangi menjadi daerah dengan pemngembangan ekonomi tercepat di wilayah tapal kuda Jawa Timur. Pada 2019, ekonomi Banyuwangi mencapai angka 5.84 persen. Tingkat okupansi hotel termasuk tinggi dan penuh pada saat hari libur nasional, menandakan popularitas Banyuwangi sebagai tujuan pariwisata favorit para turis domestik, berkat kebijakan populis pemerintahan setempat selama satu dekade. Selain itu, investasi pada aspek lingkungan yang berkelanjutan serta kesenian dan tradisi telah mengangkat branding Banyuwangi sebagai daerah yang menarik.

Pemimpin lokal yang inovatif

Banyuwangi bertengger kuat pada ranking inovasi. Pada 2019, Kementrian PAN & RB menetapkan Banyuwangi Festival sebagai TOP 45 Nasional dalam Inovasi pelayanan Publik. Banyuwangi telah secara konsisten membangun komunitas seni dan melaksanakan event multikultural dari hanya 12 acara pada 2012 menjadi 99 acara pada 2019, yang menarik turis lokal maupun mancanegara. Kemajuan ekonomi dan budaya Banyuwangi tidak lepas dari tangan dingin Bupati Abdullah Azwar Anas, yang sekarang diteruskan oleh Bupati Ipuk Fiestiandani. 

Pengamat politik Indonesia, Michael Hatherell dari Deakin University, Australia melihat Banyuwangi beruntung telah dipimpin oleh sosok teknokrat dan pemersatu seperti Anas. Dia telah menghidupkan ekonomi local melalui festival music Jazz, event balap sepeda Tour de Banyuwangi Ijen, festival-festival budaya, dan mendorong dialog keagamaan antar pemuka agama di Banyuwangi. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa juga memberi apresiasi terhadap kinerja penerintah Banyuwangi. Selama pandemi, Banyuwangi berhasil mempertahankan pertumbuhan yang positif pada 2020 sebesar 1.84 persen. Angka pengangguran terbuka juga dibawah rata-rata propinsi sebesar 5.34 persen. Pada 2021, fokus pembangunan diarahkan pada pemulihan pasca-pandemi dan membentuk solidaritas masyarakat terhadap sesama yang terdampak pandemi. Program Lapak Berbagi diluncurkan pada akhir Juli 2021 dan mendapat respon yang baik dari masyarakat. Pada sektor pariwisata, dibuat prosedur sertifikasi bagi pelaku usaha wisata serta pengaturan protokol kesehatan yang ketat bagi wisatawan.

Potensi Sejarah dan digitalisasi

Banyuwangi telah bertransformasi menjadi multicultural entertainment hub dan telah menatap industri digital sebagai tahap pembangunan selanjutnya. Bisa jadi hal ini masih menjadi kendala terkait aplikasinya, namun dari sejarah Banyuwangi sendiri telah membuktikan peran sentral daerah ini dalam sebagai communication hub. Pada akhir abad ke 19 terdapat pembangunan jaringan komunikasi telegram yang mampu menghubungkan Eropa dan Australia yang diprakarsai oleh pemerintahan kolonial Inggris. Bayuwangi menjadi salah satu penghubung kabel telegram pada saat itu, dimana kabel menghubungkan Eropa dan Asia dan Australia. Kabel dibentangkan dari London menuju daratan Asia sampai di semenanjung Singapura dan ditarik ke pulau Jawa dan berakhir di Banyuwangi. Dari Banyuwangi kabel ditarik melewati laut ke satu kota kecil di barat Australia: Broome.

Tertarik akan peran penting Banyuwangi dalam telekomunikasi dunia pada masa lampau, saya dan satu rekan peneliti dari Curtin University, Dr Thor Kerr, mengunjungi Broome dan Banyuwangi pada akhir 2019.

Sebelumnya, kami mengunjungi Broome dan bertemu Presiden dari Shinju Matsuri festival, Chris Maher. Festival ini dibuat untuk menghormati jejak orang-orang Asia di Broome, termasuk orang Indonesia yang pernah bekerja sebagai petani mutiara di abad ke 19. Menariknya, di Broome terdapat pantai yang bernama Cable Beach. Kata ‘cable’ dipersembahkan untuk mengingat kabel telegram yang pernah terpasang di Broome dan terhubung sampai ke Banyuwangi. Terkubur di Cable Beach, kabel telegram tersebut menjadi artefak penting kantor telegram, yang saat ini difungsikan sebagai kantor Catatan Sipil di Broome. Kabel telegram juga terkubur di Banyuwangi, tepatnya di satu kompleks di tengah kota yang dikenal dengan nama Asrama Inggrisan. Masyarakat Broome mengingat hal ini sebagai sesuatu yang membanggakan dari kota mereka. Sedangkan dari sisi Banyuwangi, catatan mengenai Banyuwangi sebagai penyambung saluran telegram tidak banyak dibahas. Saat kami bertemu Bupati Anas, beliau mengaku baru mengetahui mengenai sejarah Banyuwangi-Broome ini. Meski para antropolog local sudah lama membahasnya, namun pemerintahan setempat masih belum tertarik untuk menjadikan wacana ini sebagai sarana menarik wisatawan melalui program wisata budaya dan sejarah.   

Lebih jauh lagi, melihat peran penting Banyuwangi di masa lalu, maka peluang pemanfaatan teknologi digital sebagai the next big thing bukanlah perkara yang muluk. Meski demikian, penyiapan sarana dan akses terhadap teknologi yang mendukung pembangunan di Banyuwangi menjadi mutlak dilakukan. Termasuk kemitraan dengan komunitas dan institusi riset yang akan dapat membantu mengkonsep visi pembangunan dengan lebih jelas. Pemerintah Banyuwangi yang berencana merestorasi Asrama Inggrisan juga perlu didukung agar warisan budaya tidak terbengkalai dan tetap bisa menjadi sarana edukasi dan menumen keberhasilan Banyuwangi sebagai bagian dari masyrakat global.

Penulis: Irfan Wahyudi

Link Jurnal:

https://www.researchgate.net/publication/348467581_Social_imaginaries_of_subsea_cables_recovering_connections_between_Broome_and_Banyuwangi

Scroll to Top