Kompilkasi Aritmia pada Sindroma Koroner Akut

Aritmia merupakan salah satu komplikasi  sindrom koroner akut. Setidaknya 75% pasien dengan  infark miokard akut  mengalami aritmia selama periode peri-infark miokard akut. CARISMA trial menyebutkan angka  kejadian   aritmia pada infark miokard akut  masing –masing sebesar  28% berupa fibrilasi atrium new-onset, 13% berupa  takikardia ventrikular non-sustained, 10% berupa  high-degree AV block , 7% berupa sinus bradikardia, 5% berupa  sinus arrest , 3% berupa  takikardia ventrikular sustained dan 3% berupa fibrilasi  ventrikular .

Kematian mendadak akibat jantung  paling sering dikaitkan dengan aritmia  dan sekitar separuh kematian terjadi sebelum pasien mencapai rumah sakit. Penyebab kematian pada infark miokard akut  sebelum rawat inap paling sering akibat takikardi ventrikular atau  fibrilasi  ventrikular .  Sejumlah besar peristiwa kematian  mendadak pada fase pra-rumah sakit  dari  sindrom koroner akut, menggarisbawahi perlunya  penapisan  untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko.

Kejadian  aritmia ventrikular  pada fase rumah sakit  telah menurun, terutama karena terapi revaskularisasi dini dan penanganan farmakologis awal yang memadai. Namun, sekiatar  6%  pasien  sindrom koroner akut  bisa mengalami  takikardia ventrikular  atau fibrilasi  ventrikular  dalam  waktu 48 jam pertama setelah timbulnya gejala, dan terjadi paling sering sebelum atau selama reperfusi. Meskipun ada penurunan yang bermakna  kejadian  kematian mendadak akibat jantung karena terapi  revaskularisasi yang lebih baik dan pencegahan penyakit jantung koroner  melalui penghentian merokok dan pengobatan statin, aritmia peri- infark miokard akut, aritmia tetap menjadi penyebab penting kematian mendadak.

Selain aritmia ventrikular, aritmia atrium dapat juga terjadi pada sindrom koroner akut  yang  dapat menyebabkan kolaps sistem sirkulasi sehingga memerlukan  penanganan segera. Fibrilasi  atrium merupakan  aritmia  atrium  yang paling sering dijumpai pada infark miokard akut.  Fibrilasi  atrium  telah dilaporkan memperberat perjalanan infark miokard  akut pada 2,3-21% pasien rawat inap. Dalam beberapa tahun terakhir, meluasnya terapi reperfusi secara dini  (trombolisis dan tindakan intervensi koroner perkutan ) serta penggunaan  obat beta-blocker, penghambat enzim pengkonversi angiotensin, dan penghambat reseptor  angiotensin II telah menurunkan secara  substansial kejadian fibrilasi atrium  pasca-infark miokard . Namun demikian, kejadian fibrilasi atrium  masih  meningkat seiring pertambahan usia, sehingga aritmia ini masih menjadi komplikasi infark miokard akut yang perlu diperhatikan.

Fibrilasi atrium pre-existing menyumbang sekitar sepertiga,  dan fibrilasi atrium new onset dua pertiga dari  semua kasus fibrilasi atrium pada infark miokard akut. Prediktor independen terjadinya fibrilasi  atrium  pada infark miokard  akut meliputi  usia tua, peningkatan denyut jantung saat masuk rumah sakit, fibrilasi atrium pre-existing, hipertrofi ventrikel kiri , adanya gejala gagal jantung, dan disfungsi ventrikel kiri . Selain itu, pasien fibrilasi atrium  lebih sering memiliki hipertensi, diabetes, infark miokard  sebelumnya, penyakit arteri koroner multi-vesel, biomarka miokard yang tinggi, dan aliran TIMI 3 yang rendah pasca terapi reperfusi.

Ketika terjadi fibrilasi atrium, biasanya didapatkan gangguan hemodinamik secara signifikan karena laju ventrikel yang tinggi, pengisian ventrikel tidak teratur, dan atau karena hilangnya kontribusi atrium terhadap curah jantung. Fibrilasi atrium  meningkatkan risiko mortalitas di rumah sakit, jangka pendek (<30 hari), jangka menengah (> 30 hari – 1 tahun), dan kematian jangka panjang (> 1 tahun) pada pasien infark  miokard  akut. .

 Terapi utama aritmia adalah obat antiaritmia, terutama penghambat saluran natrium dan amiodaron, namun  penggunaannya kini telah menurun, sejak munculnya bukti klinis hasil terapi yang kurang meyakinkan. Perbaikan mutu  layanan medis meliputi   pemulihan dini iskemia, penggunaan obat-obatan beta-blocker penghambat enzim pengkonversi angiotensin, dan penghambat  reseptor  angiotensin II, dilaporkan telah menurunkan kejadian aritmia. Demikian pula terapi terhadap  sindrom koroner akut maupun manajemen aritmia saat ini semakin didasarkan pada pendekatan invasif. Penggunaan implantable cardioverter-defibrillator (ICD) memiliki efek yang menjanjikan dalam pencegahan primer dan sekunder aritmia ventrikular  pada pasien sindrom koroner akut.

Penulis : Andrianto

http : https://www.annalsmedres.org/articles-and-issues/current-issues/item/3676-arrhythmia-complications-in-acute-coronary-syndrome-focused-on-tachyarrhythmias-p-850-7.html#

Leave a Comment

Scroll to Top