Hubungan Antara Kalkulator Risiko Sepsis dan Parameter Infeksi untuk Neonatus dengan Risiko Sepsis Onset Awitan Dini

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: alodokter

Sepsis pada neonatus adalah sindrom klinis yang ditandai dengan systemic inflammatory response syndrome (SIRS), disertai gejala klinis yang diakibatkan adanya kuman di dalam darah pada neonatus. Sepsis pada neonatus adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas di ruang perawatan intensif neonatus. Berdasarkan waktu terjadinya, sepsis pada neonatus dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu sepsis awitan dini dan sepsis awitan lambat.

Sepsis awitan   dini   memiliki   definisi   yang   bervariasi   berdasarkan   onset,  dengan bakteremia atau meningistis bakterial terjadi pada 72 jam setelah lahir pada bayi kurang bulan dan kurang dari 7 hari pada bayi cukup bulan. Sepsis awitan lambat timbul setelah 72 jam di NICU dan 7 hari pada bayi cukup bulan. Sepsis onset awitan dini dapat menyebabkan morbiditas yang fatal pada neonatus dengan insiden 0.77 kasus/1000 kelahiran hidup pada tahun 2005-2008.

Gejala klinis sepsis pada bayi baru lahir bervariasi berdasarkan usia gestasi dan beratnya infeksi.  Sangat jarang bayi menunjukan gejala demam kecuali mereka lahir dari ibu yang demam dan memiliki demam sesaat setelah lahir. Lebih sering pada bayi dengan sepsis menunjukan gejala suhu dibawah normal (hipotermia). Gejala umum yang dapat terjadi antara lain lemah, hipotermia dan sulit minum dan memiliki tanda yang tidak spesifik antara lain asidosis, gangguan pernafasan, gangguan pada jantung dan tidak bisa kencing (anuria).

Tatalaksana sepsis awitan dini yang direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) adalah memberikan antibiotik pada bayi baru lahir dengan dugaan sepsis awitan dini tanpa melihat parameter klinis. Terapi antibiotik memiliki efek samping yang signifikan jika diberikan di minggu awal kehidupan antara lain perubahan mikroba intestinal, sepsis awitan lambat, enterocolitic necrotican   serta   meningkatnya   resistensi   obat   pada   kasus   sepsis   dan meningkatnya infeksi jamur.

Kalkulator risiko sepsis adalah suatu alat yang tervalidasi telah banyak digunakan dan diteliti di berbagai negara untuk memprediksi risiko sepsis awitan dini. Pada kalkulator risiko sepsis, tidak semua bayi dengan dugaan sepsis awitan dini akan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik. Penggunaan kalkulator risiko sepsis pada bayi baru lahir dengan dugaan sepsis awitan dini, hanya memerlukan observasi tanpa pemberian antibiotik pada 50% bayi yang memiliki nilai darah lengkap dan C-reactive protein (CRP) yang tidak normal. Dan pada hanya 23% bayi yang memilki risiko tinggi dan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan kultur darah serta pemberian antibiotik menurut kalkulator risiko sepsis.

Parameter laboratorium infeksi yang biasa dilakukan untuk menunjukkan sepsis awitan dini adalah C-reactive protein (CRP), yaitu suatu protein sebagai marker infeksi, darah lengkap dan kultur darah. Pada penelitian kami  menunjukkan tidak ada hubungan antara CRP dan risiko sepsis awitan dini. Pengambilan CRP dilakukan saat usia bayi 6 jam hingga 24 jam dan hanya dilakukan satu kali pemerikaan kecuali pada beberapa pasien yang mengalami perburukan. Dengan menggunakan kalkulator risiko sepsis penggunaan antibiotik dapat diturunkan hingga lebih dari 50%.

Disarikan dari artikel dengan judul: “Association Between Sepsis Risk Calculator and Infection Parameters for Neonates with Risk of Early-Onset Sepsis” yang diterbitkan di Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease, Vol. 8 No. 2 May–August 2020: 108–15.

Penulis: Irwanto

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/article/view/10712

Berita Terkait

Binti Q. Masruroh

Binti Q. Masruroh

Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga