Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada Kanker Servik Jenis Adenocarcinoma

Kanker servik adalah kanker paling umum keempat yang didiagnosis pada wanita di seluruh dunia. Di Indonesia, kanker ini berada diperingkat kedua setelah kanker payudara, dengan perkiraan 20.928 kasus baru dan 4.097 kematian pada tahun 2012. Human Papilloma Virus (HPV) merupakan penyebab kanker servik dan berhubungan dengan kanker anus dan organ genital lainnya (anus, vulva, vagina, dan penis) serta kanker kepala dan leher. HPV tipe 16 dan 18 bertanggung jawab atas sekitar 70% dari semua kasus kanker servik di seluruh dunia. Berdasarkan klasifikasi histologis tumor, jenis kanker servik yang paling umum adalah karsinoma sel skuamus dan adenokarsinoma servik. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan analisis infeksi HPV pada kanker servik jenis adenokarsinoma derajad diferensiasi ringan, sedang, dan berat.

Kami melakukan penelitian cross sectional di Departemen Patologi Anatomik, RSUD Dr. Soetomo-Surabaya-Indonesia, menggunakan blok paraffin dari jaringan servik adenokarsioma servik derajad diferensiasi ringan, sedang, dan berat,  kemudian dilakukan evaluasi ekspresi E6 HPV 16/18, p53, dan p16INK4A  dengan teknik pewarnaan immunohistochemistry (IHC). E6 HPV dalam penelitian ini mewakili infeksi HPV 16 dan atau 18 (HPV 16/18).

Infeksi kronis HPV berkorelasi dengan perkembangan servik. HPV tipe 16, 18 adalah genotipe HPV yang paling umum muncul pada adenokarsinoma servik. Pada wanita Korea, prevalensi infeksi HPV pada adenokarsinoma servik adalah 90%. Infeksi HPV 16 dan / atau HPV 18 menyumbang 78% dari adenokarsinoma HPV-positif. Di Thailand, genotipe HPV yang dominan adalah HPV 18 kemudian HPV 16. Di Uppsala-Swedia, 95% adalah HPV risiko tinggi yaitu HPV18 / 45 mendominasi (77%), diikuti oleh HPV16 (27%). Di Belanda, HPV1 8 terutama merupakan faktor risiko untuk pengembangan adenokarsinoma, sementara HPV16 dikaitkan dengan SCC dan adenokarsinoma.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa 64% spesimen positif E6 HPV 16/ HPV 18. Hal ini menunjukkan bahwa HPV 16 dan atau 18 telah menjadi penyebab adenokarsinoma servik. E6 HPV risiko tinggi berikatan dengan protein dari gen penekan tumor p53 dan merusak protein p53 tersebut, sehingga jika terjadi kelainan dalam materi genetik sel tersebut, maka kerusakan sel tidak dapat diperbaiki. Kerusakan tersebut menjadi permanen dan diturunkan kepada anak sel selanjutnya dan terakumulasi sampai kanker menjadi besar dan menyebar.  

Namun hasil penelitian kami juga menunjukkan bahwa terdapat 36% spesimen yang E6 HPV 16/18 negatif. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa jaringan adenokarsinoma servik tidak terinfeksi oleh HPV tipe 16 atau 18, sehingga mungkin terkait dengan infeksi HPV tipe selain 16 dan 18 atau terdapat penyebab lain selain infeksi HPV pada kanker servik jenis adenokarsinoma. Misalnya turunan kelainan gen dari kedua orang tuanya.

Penelusuran literatur kami menunjukkan bahwa mutasi pada gen penekan tumor p53 lebih sering terjadi pada adenokarsinoma servik daripada pada karsinoma sel skuamosa atau neoplasia intraepitel servik. Ada substitusi nukleotida tunggal pada gen p53 yang terdeteksi pada 36% kasus adenokarsinoma servik dan mutasi ini tidak tergantung dari status infeksi HPV. Pada adenokarsinoma servik, p53 yang positif dikaitkan dengan kelangsungan hidup yang buruk.

Penelitian ini juga menemukan bahwa p16INK4A diekspresikan berlebihan pada adenokarsinoma servik  grade ringan, sedang, dan berat. Ini ditunjukkan dengan penyebaran 90% pada spesimen servik antara derajad diferensiasi ringan, sedang, dan  berat.  Ekspresi p16INK4A  ini bisa dijadikan sebagai penanda adanya infeksi HPV. 

Tingkat kejadian adenokarsinoma servik cenderung meningkat dan ditemukan terutama pada wanita berusia 25-39 tahun. Kecenderungan ini sangat jelas di kalangan perempuan berusia <40 tahun sehingga pada wanita disarankan untuk melakukan pemeriksaan pap smear secara rutin. Dengan pemeriksaan pap smear, maka apabila terdapat kelainan pada servik akan bisa dideteksi lebih awal dan bisa dilakukan terapi yang tepat sebelum sel berkembangan menjadi sel ganas yang sulit untuk diobati.

Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan yaitu melakukan vaksinasi HPV pada mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual.  Sedangkan bagi mereka yang sudah pernah melakukan hubungan seksual yaitu menghindari faktor risiko tertular infeksi HPV, salah satunya yaitu menghindari berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual hanya dengan pasangan (setia pada pasangan).

Penulis: Gondo Mastutik, Alphania Rahniayu, Nila Kurniasari, Anny Setijo Rahaju,Rahmi Alia, Sjahjenny Mustokoweni

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada: https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/17327

Leave a Comment

Scroll to Top