Sulit Tapi Memuaskan: Pengalaman Hidup Lanjut Usia yang Memutuskan Tinggal di Panti Werdha

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi perawatan lansia. (Sumber: liputan6)

Populasi lanjut usia (lansia) terus bertambah, termasuk di Indonesia. Dalam konteks nasional, Undang-Undang Nasional nomor 13 tahun 1998 mengatur tentang bagaimana kesejahteraan dan kesejahteraan warga negara saat mereka bertambah tua. Upaya ini, salah satunya, dilaksanakan dalam bentuk penyediaan layanan Panti Werdha, di bawah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1996. Upaya ini bertujuan untuk memastikan lansia mendapatkan pelayanan kesehatan dan sejahtera secara fungsional.

Secara statistik, diperkirakan sekitar 11.914 lansia yang telah dilayani di Panti Werdha milik pemerintah dan swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. Studi pendahuluan kami di Griya Werdha Jambangan Surabaya Oktober 2017 lalu, menemukan bahwa 19% di antara lansia baru saja menjadi penghuni di sana. Beberapa di antara mereka dilaporkan mengalami depresi sedang hingga berat. Ini dapat disebabkan oleh kegagalan penyesuaian diri sebagai penghuni baru.

Keputusan pribadi ataupun tinggal secara paksa di Panti Werdha dapat memberikan dampak secara psikologis pada lansia, seperti sindrom stres relokasi. The North American Nursing Diagnosis Association menjelaskan sindrom ini sebagai suatu reaksi stres yang disertai gejala fisik, seperti kelelahan berkepanjangan, susah tidur, tidak nafsu makan, nyeri otot atau yang lain; dan reaksi psikologis, seperti disorientasi, cemas berlebih, dan disorientasi sebagai akibat dari relokasi dari lingkunan asal ke tempat tinggal yang baru. Dampaknya, kondisi Ini berpotensi menjadi konflik sosial penderita dengan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, dukungan profesional kesehatan sangat dibutuhkan oleh lansia yang baru saja berpindah ke unit pelayanan sosial seperti Panti Werdha.

Dukungan psikologis sangat diperlukan untuk membantu lansia agar dapat beradaptasi dengan lingkungan tinggal yang baru. Meskipun demikian, hanya ada sedikit literatur yang dapat menjelaskan asumsi ini lebih lanjut, terutama di Indonesia. Pemahaman terhadap kebutuhan lansia yang baru saja mengalami relokasi sangat dibutuhkan untuk menentukan pendekatan keperawatan yang tepat. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian ini untuk mendapatkan penjelasan yang mendalam tentang pengalaman hidup lansia yang baru saja berpindah sebagai penghuni baru di panti werdha. Kami mengambil lokasi di Griya Werdha Jambangan, karena panti ini menjadi rujukan utama penyedia layanan sosial bagi lansia di Surabaya.

Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan melibatkan tujuh orang lansia 60-80 tahun, berpindah ke Griya Werdha dalam kurun waktu empat bulan atau kurang pada saat pengumpulan data, dalam status kognitif yang baik dan mampu untuk berkomunikasi dengan baik. Temuan penelitian kami menunjukkan bahwa lansia yang berpartisipasi memutuskan secara mandiri untuk pindah, meski tidak mengetahui tentang bagaimana menjadi penghuni baru di Griya Werdha. Hal ini menyebabkan mereka merasakan penyesalan selama empat bulan pertama. Mereka merasa kesepian, mengalami sakit, dan kurang mendapatkan dukungan sebagai penghuni baru. Mereka belum pernah mendapatkan informasi tentang peraturan tinggal di panti.

Penelitian ini menemukan bahwa mekanisme koping lansia yang menjadi partisipan cukup adaptif dan mandiri, terlepas dari latar belakang pendidikan mereka yang beragam dan kurangnya dukungan yang dirasakan. Olahraga ringan dan menonton TV adalah pilihan yang dilakukan untuk mengatasi kesedihan mereka. Temuan ini membutuhkan studi lebih lanjut untuk menjelaskan tugas dan peran pekerja sosial yang bekerja di sana. Hal ini berdampak pada kebutuhan akan pendekatan proaktif untuk memfasilitasi penyesuaian diri penghuni baru di Griya Werdha selain penyediaan kegiatan yang dijadwalkan, termasuk kegiatan keagamaan, latihan fisik, dan pemeriksaan kesehatan berkala, serta fasilitas sosial pendukung rekreasional.

Penelitian ini juga menunjukkan rendahnya angka kunjungan keluarga yang dibutuhkan penghuni baru untuk mengatasi perasaan kesepian mereka. Temuan ini menyoroti perlunya petugas panti untuk memfasilitasi komunikasi yang baik di antara penghuni dengan keluarga. Lansia dalam penelitian ini juga mengungkapkan perasaan senangnya ketika ditanya tentang pengalaman setelah mampu beradaptasi sebagai penghuni panti. Mereka mengungkapkan perasaan bahagia, yang berkebalikan dengan bulan-bulan pertama mereka tinggal di panti. Mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak lagi perlu untuk khawatir tentang tempat tinggal atau mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hasil penelitian ini, merekomendasikan perlunya upaya proaktif perawat sebagai pekerja di panti untuk mengenali gejala stres relokasi dan memfasilitasi lansia sebagai penghuni baru untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Keterbatasan penelitian dengan pendekatan kualitatif salah satunya bermuara pada kecilnya jumlah narasumber yang dilibatkan. Karenanya penelitian yang lebih jauh disarankan untuk mengungkap ekspektasi penghuni panti werdha terhadap layanan keperawatan yang dapat diberikan. Hal ini, lebih jauh akan memberikan kontribusi terhadap perkembangan lingkup praktik keperawatan.

Penulis: Setho Hadisuyatmana

Informasi lebih lengkap tentang riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=8&article=497

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).