Konservatifisme dan Keperawanan dalam Film Remaja

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
wanita
Foto: classifiedadsites.org

Terlepas dari kelompok film remaja, secara umum banyak film Indonesia yang bahkan menggunakan kata perawan dalam judulnya, sejak Perawan di Sektor Selatan (1971) hingga Perawan Seberang (2013). Pada perkembangannya, muncul pula film dengan judul Virgin, Virgin 2, dan Virgin 3, yang menunjukkan pengaruh globalisasi di Indonesia. Dalam film remaja di Indonesia, keperawanan muncul sebagai indikator dari ‘perempuan baik-baik’. Sebagai media dengan kekuatan audio-visual, maka dalam film muncul citraan perempuan perawan dalam berbagai versi.

Dalam definisi medis, sebenarnya ciri-ciri visual perempuan yang masih dan sudah tidak perawan tidak dapat dijelaskan secara kasat mata. Menurut Dr Andri Wanananda MS, pakar seksologi dari Universitas Tarumanegara dalam wawancaranya dengan detik.com, Rabu 19 September 2012, tidak ada perubahan fisik yang terjadi ketika perempuan kehilangan keperawanannya. Keperawanan yang ditandai dengan utuhnya selaput dara (hymen) hanya bisa dipastikan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, misalnya melihat apakah selaput daranya telah ditembus oleh penis atau tidak.

“Utuhnya selaput dara (hymen) harus diperiksa oleh dokter spesialis kebidanan atau bidan-ahli di klinik kebidanan melalui prosedur pemeriksaan intra-vaginal. Orang awam (layman) tidak mungkin mampu melaksanakannya. Jadi ciri-ciri fisik luar itu hanya mitos.”

Dalam Not for Sale, perawan muncul dalam visualisasi tokoh May, seorang pelajar SMA dari keluarga menengah ke bawah. Meskipun tidak divisualisasikan kekurangan uang sampai harus menunggak uang sekolah, jatuh miskin atau berpakaian compang-camping misalnya, namun kesederhanaan May nampak kontras dengan teman-temannya yang nampak lebih glamor dan modern.

Karakter May dimainkan oleh perempuan dengan wajah berkarakter Melayu, dengan rambut lurus hitam dan panjang yang selalu diikat rapi dan menggunakan tas punggung, menekankan karakter gadis SMA baik-baik.

Rambut hitam dan panjang serta karakter wajah Melayu telah lama menjadi indikator kecantikan klasik dari perempuan Indonesia dalam media massa. Perawan versi May, adalah perempuan yang pendiam dan lugu. Keluguan May muncul secara verbal pada saat May menawarkan minuman untuk Dessy usai menari di klub. May menawarkan segelas air mineral yang ditolak Dessy dengan kalimat “Gua nggak minum gituan!” yang dilanjutkan Dessy dengan mengambil segelas alkohol dan menyebut May dengan “Lo dari mana sih? Majalengka ya? Kamse deh.”

Kamse dalam istilah anak muda adalah akronim dari kampungan sekali, atau dengan kata lain udik sekali. Penyebutan kota Majalengka yang terletak di pinggiran Jawa Barat dimaknai sebagai tempat yang tidak modern. Hal ini dikarenakan pola pikir May yang masih mengkonsumsi air mineral dan bukannya alkohol dianggap kuno dan terbelakang. Pertanyaan ini dijawab May dengan “Gue dari Jakarta kok”. Pernyataan ini menegaskan posisi Jakarta sebagai lokasi yang kontras dengan Majalengka, sebagai kiblat gaya hidup modern.

Sedangkan dalam Virgin 2, keperawanan direpresentasikan dalam visual tokoh Tina, seorang siswi SMA yang diusir dari rumah karena dituduh menggoda pacar ibunya. Nayato menggambarkan karakter Tina hampir serupa dengan May. Sedikit perbedaan visual muncul, misalnya May berambut lurus, sedangkan Tina memiliki rambut ikal yang selalu diikat ke belakang. Meskipun sama-sama nampak tertutup dan berbicara dengan suara lirih, karakter Tina merepresentasikan ketidakberdayaan perempuan (perawan) dari sudut pandang yang lebih tragis. Sejak awal, tokoh Tina digambarkan sebagai sosok yang lemah, tidak berkuasa, dan kerap menjadi objek seksual pasif. Dari segi sifat, May lebih feminin dan dewasa sedangkan Tina lebih kekanak-kanakan.

Representasi keperawanan sebagai bagian dari budaya kuno di Indonesia tampak jelas pada kedua tokoh ini, karena Tina dan May sama-sama digambarkan ‘terpisah’ dari lingkungan sekitarnya dan tidak mempunyai cukup banyak teman. Keluguan kedua tokoh tersebut bahkan digambarkan secara gamblang melalui pemilihan warna, karena di awal cerita, May dan Tina sama-sama menggunakan pakaian berwarna hijau, yang identik dengan alam dan fertilitas. Dengan demikian secara visual, May dan Tina adalah representasi keperawanan yang menurut perspektif konservatif adalah syarat ‘alamiah’ perempuan yang identik dengan fungsi reproduksi dan kesuburan. Warna pakaian ini, tidak dipakai lagi setelah mereka berkenalan dengan tokoh-tokoh lain yang sudah lebih dulu terjun dalam pergaulan bebas.

Tina bahkan diceritakan hanya memiliki satu orang teman dekat pada awalnya, yaitu Kenny, yang tuna wicara, dengan lokasi pertemuan di sebuah pemakaman (yang dituliskan Kenny dalam ajakan dengan “Kita ke tempat biasa, yuk?”). Keheningan komunikasi antara Tina dan Kenny menjadi kontras dengan keriuhan kehidupan modern yang disimbolkan dengan pergaulan bebas dan klub malam. Dalam film, kontrasnya dua dunia ini juga dimunculkan secara audio, dengan riuhnya music elektronik saat shot memunculkan visualisasi klub malam dan dengan heningnya suara saat shot memunculkan adegan Kenny dan Tina yang diam bersandar pada batuan makam atau duduk di atas pohon. Berita tentang meninggalnya Kenny karena menabrakkan diri ke mobil yang sedang berjalan diketahui Tina pada bagian klimaks cerita, ketika ia sedang mencari bantuan karena Nadya mengalami pendarahan, dan di saat yang bersamaan ditemukan kembali oleh Yama. Petaka yang bertumpuk-tumpuk ini menjadi ciri khas dalam film-film karya Nayato, yang mengenakan awful ending pada tokoh-tokoh utamanya. Meninggalnya Kenny secara tidak langsung menjadi simbol dari ‘peresmian’ Tina memasuki dunia pergaulan bebas dan tidak bisa lagi kembali ke dunia lamanya yang hening bersama Kenny.

Penekanan diskursi keperawanan sebagai ‘warisan’ budaya lama dijelaskan Nayato dalam tokoh Shasi di film Not for Sale. Sebagai gadis SMA yang dikenal sebagai mucikari teman-temannya sendiri, Shasi menjadi anomali penggambaran perawan menurut ideologi Nayato. Diperankan oleh seorang artis berdarah keturunan Jerman yang sudah cukup dikenal di industri film Indonesia (berbeda dengan May dan Tina yang diperankan perempuan Indonesia dan belum terkenal), Shasi berpenampilan cukup provokatif dengan seragam yang kancingnya terbuka hingga dada, dan konsumsi rokok yang terus menerus. Berbeda dengan May dan Tina yang sejak awal dikenalkan sebagai perawan yang lugu, Shasi justru baru dikenalkan sebagai perawan di akhir cerita, setelah May ‘menjual’ keperawanannya untuk menyelamatkan teman mereka. Penegasan ini diungkapkan secara verbal, “Kesucian gue hanya gue berikan kepada orang yang bener-bener gue cinta, bukan untuk dijual”. Ekspresi Shasi atas keperawanannya didukung pula dengan senyum penuh kebanggaan dalam adegan di tengah cerita, ketika Shasi berada di kamar mandi dan menyelipkan cermin ke antara kedua pahanya. Sempat membuat penonton bertanya-tanya, adegan ini menjadi dapat dipahami setelah pernyataan Shasi atas keperawanannya. Hal ini menjadi kontradiktif dengan visualisasi Shasi dan dengan profesinya sebagai mucikari, meskipun hal tersebut dikatakannya hanya untuk membantu teman-temannya yang membutuhkan uang.

Diskursi keperawanan sebagai identitas perempuan Indonesia yang diagungkan ditunjukkan dengan tingginya ‘harga’ yang rela dibayarkan oleh pria paruh baya. Dalam sebuah adegan, seorang pria klien Shasi mengatakan “kalau lo bisa dapetin perawan buat gue, gue bayar mahal. 30 juta!”. Mitos mengenai keperawanan yang merepresentasikan perempuan yang masih ‘suci’, agaknya menjadi nilai jual yang lebih. Kontras dengan kesucian tersebut, ketika akhirnya May ‘dibeli’ seharga 30 juta untuk menebus Andhara, kalimat pertama yang diucapkan May setelah tidak lagi perawan adalah “gue ngerasa kotor banget sekarang”.

Keluguan perawan dalam visualisasi May dan Tina didefinisikan pula sebagai perempuan yang tidak menguasai cara bersosialisasi dengan laki-laki. Hal ini muncul secara verbal ketika May bersiap untuk kencan dengan laki-laki bernama Rangga. Dessy yang melihat May berdandan kemudian bertanya “Nanti kalau Rangga minta cium, gimana?” Pertanyaan Dessy menunjukkan anggapan konservatisme keperawanan, termasuk ketidaktahuan mengenai kontak fisik dan tindak seksual dengan gender lain – yaitu laki-laki. Dalam Virgin 2, Tina digambarkan percaya begitu saja ketika Steffi, pertama kali mengenalkannya pada Yama dan berkata “Kayaknya Yama tertarik sama lo,” Tina tersipu malu, hingga ia percaya untuk meminum alkohol yang ditawarkan Yama lalu kehilangan kesadaran – dan keperawanannya. Senada dengan hal ini, Webster (2010:229) juga mengungkapkan bahwa dalam film remaja, diskursi dan narasi konservatif secara ambigu ditampilkan sebagai hal yang pada akhirnya terkalahkan dan tidak lagi relevan dengan remaja urban (…being negotiable, outmoded and no longer of relevance for particular urban youth).

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari tesis penulis.

Berita Terkait

Dyestari Dyanutami

Dyestari Dyanutami

Penulis tesis Representasi Femininitas Dan Seksualitas Remaja Dalam Film Indonesia.