Problem Komunikasi Mahasiswa Asing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
inggris
Foto: thegeekinn.in

Saat menempuh studi magister di FISIP Universitas Airlangga (Unair) dalam rentang 2013-2015, saya memiliki kawan seorang mahasiswa asing asal Madagaskar. Kerap kali, saya melihat kesukarannya dalam melakukan komunikasi (khususnya, verbal) dengan mahasiswa Indonesia. Terlebih, bila mahasiswa yang dimaksud menggunakan bahasa Jawa.

Problem yang dihadapi teman itu, membuat saya tertarik untuk melakukan penelitian khusus mengenai ini. Tepatnya, tentang bagaimana lika-liku adaptasi yang dilakukan mahasiswa asing di Unair sehubungan dengan upaya berkomunikasi dengan dosen dan mahasiswa Indonesia. Terlebih, bahasa pengantar di Unair umumnya adalah bahasa Indonesia.

Persoalan menjadi lebih kompleks, bila ternyata mereka berasal dari negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Sedangkan untuk bisa belajar di Unair, mereka lebih dulu melakukan tes internasional yang berbahasa Inggris. Logikanya begini, untuk berbicara bahasa Indonesia, mereka harus lebih dulu mentranslate “bahasa ibu” mereka ke bahasa Inggris, kemudian baru menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Kompleks, bukan?!

Sampai dengan tahun 2014 tercatat sebanyak 122 mahasiswa asing yang aktif menempuh masa belajar di berbagai Fakultas di Unair. Sebanyak 51 mahasiswa asing mulai angkatan 2011 hingga 2014 merupakan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi program Regular Undergraduate (S1) dari Malaysia. Brunei Darussalam sebanyak 19 mahasiswa dan satu orang mahasiswa dari Jerman yang mengikuti program Short Course AMERTA.

Program Darmasiswa untuk belajar Budaya dan Bahasa Indonesia selama satu tahun sebanyak 10 mahasiswa yang berasal dari Cina, Australia, Kamboja, dan Polandia. Sedangkan sisanya merupakan mahasiswa jenjang lanjut S2 dan S3, Exchange Student (pertukaran pelajar) dan Training Program(program pelatihan) yang berjumlah 26 mahasiswa asing yang masuk melalui program KNB (Kemitraan Negara Berkembang) yang berasal dari Afrika, Asia Tengah, Asia Tenggara, Papua Nugini.

Sementara itu, program Exchange Student, Training Program dan Pasca Sarjana reguler sebanyak 15 mahasiswa yang berasal dari Timor Leste, Afrika, Palestina dan Kyrgikistan. Sedangkan 1 orang mahasiswa program BIPA yang berasal dari Thailand.

Keberadaan mahasiswa asing tidak hanya menjadikan kampus ini sebagai perguruan tinggi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Tetapi juga, internasional. Keberadaan mahasiswa asing di menjadi pelengkap dari keberagaman budaya. Jika diibaratkan, Unair merupakan miniatur Indonesia yang mahasiswanya berasal dari Sabang sampai Merauke plus luar negeri.

Dalam keberagaman budaya, mahasiswa asing secara tidak langsung harus mampu menyesuaikan diri. Penyesuaian diri perlu dilakukan agar mahasiswa asing bisa berinteraksi dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang di lingkungan belajarnya. Dengan berinteraksi dan menjalin komunikasi maka kebutuhan akan informasi di lingkungan baru juga bisa terpenuhi.

Perbedaan latar sosial budaya di lingkungan belajar Indonesia dengan negara asal tentunya menjadi tantangan tersendiri. Mereka dituntut sanggup membangun komunikasi agar dapat beradaptasi dengan orang-orang di lingkungan baru. Strategi komunikasi yang dilakukan oleh seorang mahasiswa asing berkaitan dengan budaya yang dibawa olehnya baik secara verbal maupun non verbal.

Persoalan bahasa

Dalam beradaptasi di lingkungan belajar, penggunaan Bahasa Indonesia dalam kegiatan akademik di kelas merupakan masalah utama bagi mahasiswa asing. Baik mahasiswa asing yang sudah pernah belajar di Indonesia, maupun yang baru pertama kali belajar di Indonesia menyatakan kesulitan dalam memahami Bahasa Indonesia.

Para mahasiswa asing berusaha sekuat mungkin menggunakan komunikasi verbal guna mengurangi ketidakpastian. Mereka meramunya dengan komunikasi non verbal melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan teknik persuasi.

Teknik persuasi dalam berkomunikasi dilakukan untuk mengajak dan membujuk secara halus agar teman mahasiswa Indonesia mengikuti pesan yang disampaikannya. Mahasiswa asing juga menggunakan bahasa konotatif, dimaksudkan mereduksi kemungkinan timbulnya konflik. Termasuk, menutup peluang kesalahpahaman maupun kemungkinan negatif lain yang bisa mengganggu proses belajar.

Sikap membuka diri, meredam ego, sportif terhadap perbedaan budaya membantu mahasiswa asing beradaptasi di lingkungan belajar Unair. Motivasi, persepsi, pengalaman sosial budaya, situasi lingkungan sosial merupakan faktor yang mempengaruhi gaya personal mahasiswa asing dalam melakukan strategi komunikasi.

Bekal multikultural yang komprehensif

Berdasarkan argumen dan pengamatan di atas, kiranya Unair perlu menciptakan pendidikan multikultural yang jauh lebih komprehensif. Hendaknya, mahasiswa asing tidak hanya dibekali oleh pengetahuan Bahasa Indonesia. Sebab, interaksi mahasiswa asing dengan lingkungan belajar tidak hanya persoalan bahasa, tetapi juga mengenai perbedaan sosial dan budaya.

Kehidupan sosial dan budaya yang diperkenalkan meliputi karakteristik masyarakat Indonesia dan Surabaya. Juga, budaya Universitas hingga fakultas masing-masing. Sehingga muncul dorongan dalam diri mahasiswa asing itu untuk hormat, cinta dan memiliki perasaan bahwa mereka adalah bagian dari Unair. Jadi, mereka siap mengesampingkan ego sebagai mahasiswa asing yang ingin diperhatikan dan diistimewakan.

Mengenai pelatihan bahasa, tampaknya perlu ditambah dengan praktek penggunaan bahasa Indonesia. Termasuk, detail istilah-istilah apa saja yang keraap dipakai di Surabaya. Tentu, tidak semua mahasiswa asing memiliki motivasi dan pengalaman yang sama di Indonesia. Bagi mahasiswa yang pernah belajar di Indonesia sebelumnya, pasti sangat membantu di pendidikan lanjutannya sekarang. Namun, bagi mahasiswa yang baru pertama kali belajar di Indonesia maka perlu pelatihan dan pendampingan ekstra.

Berita Terkait

Yanuarita Kusuma

Yanuarita Kusuma

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga