Prof. Djoko Santoso (tengah) ketika membagikan pengalamannya dalam menulis opini. (Foto : Galuh Mega Kurnia)

UNAIR Undang Redaktur Opini Jawa Pos untuk Latih Dosen Menulis Opini

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengadakan pelatihan penulisan opini pada Selasa (12/2) di Kantor Manajemen Kampus C. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar sembilan puluh dosen dari seluruh fakultas yang ada di UNAIR.

Prof. Djoko Santoso, Wakil Rektor 1 UNAIR hadir untuk memberikan sambutan sekaligus membagikan pengalamannya dalam menulis opini. Prof. Djoko juga berharap dengan diadakannya kegiatan tersebut dosen UNAIR menjadi lebih percaya diri dan termotivasi untuk menulis opini.

“Semoga dari ruangan ini terlahir setidaknya sepuluh persen penulis-penulis baru,” ucap Prof. Djoko.

Selain itu, Doan Widhiandono, redaktur Opini Jawa Pos yang akrab disapa Doan turut hadir sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut Doan menerangkan beberapa alasan ditolaknya sebuah artikel opini yang dikirimkan ke Jawa Pos.

Menurut Doan, writing is selling. Ketika seorang mengirimkan hasil tulisannya pada media, dalam hal ini surat kabar, maka penulis tersebut sedang berusaha untuk menjual karyanya.

Hal yang perlu untuk diperhatikan oleh penulis ketika ingin karyanya diunggah adalah, penulis tersebut harus menyelaraskan tulisannya dengan media yang akan dituju. Selain itu, penulis juga perlu memperhatikan isu yang diambil sebagai materi serta cara atau struktur penulisan karyanya.

“Selayaknya seorang pembeli, maka saya tidak akan membeli barang yang tidak sesuai dengan saya atau barang yang akan merepotkan saya karena harus banyak mengedit atau hal lainnya,” jelas Doan.

Selain itu, Doan juga menegaskan bahwa dalam penulisan opini, kemampuan yang paling penting bukanlah kemampuan menulis. Melainkan, kemampuan untuk menceritakan suatu cerita atau story telling ability.

“Menulislah sebagaimana kamu berbicara,” ucap Doan.

Dalam story telling ability, maka seseorang perlu untuk memilih dan memilah fakta yang diperlukan untuk menunjang tulisannya. Kemudian dirangkai dengan hati-hati dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

Sebagai penutup, Doan mengingatkan kepada seluruh peserta bahwa menulis tidak bisa untuk diajarkan. Namun, kemampuan menulis bisa untuk ditularkan. Yaitu dengan cara banyak bergaul dan berlatih bersama penulis-penulis senior lainnya.

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan




Ilustrasi oleh conference com mx

Fintech dan Hak Asasi

Pekan-pekan ini, dunia financial technology (fintech) diramaikan oleh demonstrasi nasabah di Jakarta dan laporan  kepada Lembaga Bantuan  Hukum (LBH). Dalam waktu dua pekan, sedikitnya ada 1.300-an laporan tentang praktik nakal collection fintech yang masuk, tidak termasuk 2.000-an laporan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Para nasabah melapor karena merasa menjadi korban intimidasi, persekusi, perbuatan tidak menyenangkan, fitnah, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh perusahaan fintech. Yang dialami nasabah bermacam-macam. Ada yang diintimidasi oleh collector fintech, dicaci-maki, dan diminta foto telanjang. Ada juga yang foto pribadi dalam smarphonediakses dan disebarkan, dan ada juga penagihan dilakukan terhadap  kontak-kontak di smartphone (baca: HP).

Yang menarik, laporan tersebut bukan hanya ditujukan kepada satu perusahaa fintech. LBH mencatat  laporan-laporan nasabah itu ditujukan kepada 89 platform fintech. Hampir semua adalah fintech yang bergerak dalam peer to peer lending.

Platform umumnya menawarkan kredit cepat tanpa agunan dan tanpa survey. Platform hanya melakukan survey melalui teknologi dengan cara diperbolehkan mengakses berbagai informasi penting nasabah. Bahkan, kontak dalam smartphone nasabah.

Inilah awal dari bencana ini. Begitu kredit nasabah bermasalah atau macet, fintech menggunakan berbagai cara untuk menagih. Sebagian nasabah mengaku kontak-kontak dalam handphone-nya dihubungi untuk mengingatkan kewajiban nasabah. Ada yang penagihan disebar ke berbagai pihak dengan tujuan mempermalukan nasabah jika tidak segera membayar tagihannya.

Pengaduan lain berkaitan dengan denda harian yang sangat besar. Keterlambatan pembayaran langsung dikenakan denda yang dihitung setiap hari, sehingga tiap hari membesar. Ada yang dendanya Rp 50.000 rupiah per hari untuk pinjaman yang besarnya antara Rp 600.000 hingga Rp 1.500.000,-. Bunganya juga sangat tinggi hingga 62,5% sebulan, meskipun umumnya berkisar 20-30 persen per bulan.

Fakta menarik lainnya adalah kebanyakan fintech di Indonesia adalah illegal. Dari sekitar 300 platform fintech yang beroperasi di Indonesia, tercatat hanya 60-an yang memiliki izin operasional dari OJK. Menurut data pada OJK per Oktober 2018, ada 182.895 rekening pemberi pinjaman uang berbasis teknologi ini. Peminjamnya mencapai 2.805.026 rekening dengan nilai pinjaman mencapai 15,99 triliun.

***

Tindakan para platform fintech yang mengakses data-data pribadi nasabah  untuk  mengintimidasi dan memanfaatkannya untuk mempermalukan nasabah harus menjadi pelajaran bagi OJK. Sebab,  diperkirakan platform fintech yang bergerak pada peer to peer lendingakan berkembang sangat pesar. Diperkirakan,  omzet tahun depan bisa mencapai Rp 40 triliun.

Banyaknya platform illegal serta perlindungan nasabah, khususnya hak asasi nasabah, harus menjadi perhatian serius pemerintah (OJK). Sebab, jika tidak segera dicegah dan dilakukan tindakan tegas, hal itu akan membahayakan masa depan fintech itu sendiri.

Kasus akses data pribadi dan menggunakannya untuk kepentingan tertentu seperti ini mirip dengan kasus Cambridge Analytica yang disebut-sebut berperan besar dalam kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Menurut informasi Facebook Inc., terdapat sekitar 80 ribu  akun facebook yang dibobol, sekitar 1 juta di antaranya dari Indonesia.

Konsultan dan analis Cambridge Analytica yang berkantor pusat di Inggris itu pun menjadi sorotan. Pembonolan data itu sebagian besar digunakan untuk kepentingan politik tersebut dianggap telah merugikan dan melanggar hak asasi manusia. Facebook sebagai penyedia jasa teknologi informasi pun harus bertanggung jawab terhadap hal ini.

Dalam konteks Indonesia, fintech nakal yang melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia ini bisa  dikenai  hukuman pidana dan perdata. Misalnya,  melanggar undang-undang (UU) informasi dan transaksi elektronik (ITE), penyalahgunaan data nasabah dan melakukan pengancaman dan pencemaran nama baik di media elektronik.

Oleh sebab itu, sebelum kasus seperti ini akan membesar seiring perkembangan fintech, penegakan hukum harus dilakukan. OJK harus berani memberi sanksi berat penutupan terhadap fintech nakal yang melanggar Pasal 47 Peraturan OJK No. 77, meskipun fintech ini belum masuk dalam POJK No 1/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Selain itu, nasabah yang dirugikan juga harus berani melaporkan para platform nakal tersebut kepada pihak kepolisian.  Aparat penegak hukum harus berani mengambil langkah tegas dengan penuntutan dan hukuman maksimal atas berbagai tindak pidana teknologi di bidang keuangan ini.

Satu hal yang tidak kalah penting, DPR atau pemerintah harus segera menyusun RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang sempat diinisiasi. Ini untuk mengantisipasi pengambilan secara illegal data-data pribadi melalui teknologi informasi untuk kepentingan apa saja, bisnis atau politik, yang akan merugikan masyarakat.*




Ilustrasi oleh People Prime Consulting

Pilah Pilih Organisasi Kampus

Baru baru ini muncul wacana mengenai program yang akan dikeluarkan oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi mengenai pencegahan radikalisme di Kampus dengan cara mengikutsertakan organisasi mahasiswa di kampus untuk mengedukasi dan mengajak mahasiswa agar tidak bergabung dengan kelompok radikalisme, kebijakan ini bisa saja ampuh namun kita juga harus mampu memilah organisasi kampus mana yang akan kita ikuti.

Kehidupan kampus tidak bisa lepas dari eksistensi organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada didalamnya, di Universitas Airlangga misalnya ada 2 tipe organisasi, baik yang dinaungi oleh kampus seperti BEM, HIMA Jurusan, BLM, UKM. Maupun organisasi yang pergerakannya berada di luar kendali kampus yaitu GMNI, HMI, PMII, Ormada, dan sebagainya. Yang namanya organisasi pasti akan mencari, menyaring dan merekrut anggota anggota baru untuk menambah jaringan organisasi atau hanya untuk eksistensi dan gengsi karena mampu meraup anggota yang banyak. Mahasiswa baru atau maba seringkali menjadi incaran organisasi untuk dijadikan pasukan tambahan. bahkan tak jarang mereka sengaja membentuk sebuah panitia khusus (pansus) untuk merekrut calon keluarga keluarga barunya. Bukan berlebihan, namun itu sudah seperti menjadi agenda tahunan bagi suatu organisasi, pantas saja karena jika tidak ada anggota yang masuk tentu saja nanti tidak ada penerus untuk menjalankan roda organisasi mereka selanjutnya.

“OPREC” biasa disebut, seringkali posternya menjamur di timeline media sosial setiap masa masa orientasi mahasiswa baru, tujuannya tidak lain tidak bukan untuk menarik perhatian para maba dengan tujuan supaya para maba memutuskan bergabung ke organisasi mereka. Tidak hanya melalui poster, biasanya anggota dari organisasi akan mencoba mendekati mahasiswa mahasiswa baru yang mereka kenal untuk menjual apa yang ada pada dirinya dan organisasinya, ideologinya juga pandangannya. Seperti agen yang menawarkan sebuah produk tentu saja segala macam kelebihan dan rayuan diberikan agar berhasil merayu sang maba yang masih dilema tersebut.Organisasi organisasi tersebut seringkali menampilkan dan menyebarkan apa yang menjadi tujuan dan garis haluan organisasi mereka agar para mahasiswa yang memiliki pemahaman yang sama bisa bergabung bersama mereka. ada yang orientasi kepada nilai keagamaan, kebangsaan, kedaerahan, keterampilan, bahkan gabungan dari semuanya. Seakan akan mahasiswa dihadapkan pada sebuah katalog organisasi dengan banyak varian, rasa dan warna. Tapi seperti itulah, terkadang jika difikirkan kembali hal hal tersebut sangat indah kompetisi antar organisasi dalam merekrut mahasiswa, namun tentu saja harus dengan cara yang baik dan beradab pula.

Untuk itu, mahasiswa diharapkan mampu memilah dan memilih organisasi yang dirasa cocok dengan diri dan keinginan.Jika ingin mengikuti kegiatan mahasiswa yang berada dibawah naungan kampus pilihlah BEM yang secara legal dan resmi mewakili nama kampus, jika ingin kegiatan yang berkaitan dengan jurusan kuliah pilihlah HIMA atau ingin berkumpul dengan mahasiswa dari daerahnya bisa masuk ke ORMADA. Bahkan tak jarang organisasi yang berafiliasi kepada partai politik maupun memiliki pandangan politik organisasi.

Berkaca dari pengetahuan saya mengenai organisasi kampus, di dalam organisasi kampus sendiri memiliki banyak divisi atau bidang, mahasiswa dapat memilih salah satunya, misalnya bidang Pengabdian Masyarakat yang fokus pada bidang semacam tanggung jawab mahasiswa terhadap Pembangunan masyarakat

Sebagai mahasiswa memang dituntut untuk baik dalam bidang akademik dan aktif dalam bidang organisasi, bukan tanpa alasan, organisasi berguna untuk menambah kawan dan jaringan bahkan bisa jadi ajang menambah gebetan. jika sudah lulus nantipun bisa saja teman teman organisasi yang akan memberi kita informasi pekerjaan. Selagi banyak organisasi yang memiliki arah dan tujuan kepada hal yang baik, tidak ada alasan untuk menjadi mahasiswa kupu kupu (kuliah pulang kuliah pulang). Mari berorganisasi !




Ilustrasi oleh Ilustrasi oleh ehrintelligence com

Peran Generasi Muda dalam Menangkal Berita Hoax

Menggeliatnya arus tekhnologi ibarat dua mata pisau, di satu sisi memiliki segi yang positif dan di sisi lain dapat melukai kita sendiri. Generasi muda berperan sangat penting dalam perkembangan tekhnologi dan media sosial. Hal ini karena kehidupan mereka yang seakan tidak pernah bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Oleh karena itu generasi muda ini sangat potensial untuk dipengaruhi oleh berita hoax. Pada akhir-akhir ini kita sebagai masyarakat Indonesia tidak asing dengan istilah berita “ Hoax “. Berita hoax adalah berita palsu yang sengaja dibuat sebagai alat politik, entah itu untuk memenangkan salah-satu kandidat calon, maupun  untuk memecah Kebhinekaan bangsa Indonesia.

Suhu perpolitikan yang mendekati masa pemilu seakan membuat bangsa Indonesia terkotak-kotakan secara golongan. Berita hoax yang disebarkan secara terus-menerus melalui perantara media sosial bukan hanya berbahaya secara individu, namun juga berbahaya secara konteks keIndonesiaan. Maka disinilah peran yang sesungguhnya bagi generasi muda untuk menangkal berita Hoax dan terus membangkitkan semangat nasionalisme. Media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter bukan sebuah hal yang asing ditelinga generasi muda kita. Kita pasti sering menulis sebuah status, ngetwit dan bahkan story di Instagram, meskipun itu kita anggap hanya sebagai bentuk pengekspresian diri.

Akun media sosial para generasi muda ini tentunya mayoritas memiliki pengikut lebih dari 500 orang. Maka untuk itu mulai dari sekarang saya mengajak para generasi muda untuk merubah orientasi menulis status mereka di media sosial. Status yang mulanya hanya untuk sarana mengumbar eksistensi semata perlahan-lahan harus difokuskan sebagai sarana penyadaran kolektif guna menangkal berita Hoax. Seperti yang pernah dikatakan oleh Presiden Sukarno dalam pidatonya “ Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama-sekali tak berjuang untuk tanah air dan bangsa nya, pemuda begini lebih baik digunduli saja kepalanya “. Berjuangnya pemuda pada masa lalu, tentunya berbeda dengan pemuda pada masa sekarang yang sudah hidup dengan tekhnologi yang serba modern. Namun semangat perjuangan mereka harus terus-menerus diwarisi oleh generasi muda ( di era kapanpun itu ).

Berdasarkan pengamatan penulis terhadap media sosial Instagram, media sosial ini tidak pernah sepi dalam menu insta story nya. Kebanyakan dari generasi muda yang menggunakan aplikasi ini hanya memanfaatkan nya untuk menunjukan kehidupan keseharian nya, atau bercerita tentang permasalahan percintaan nya saja. Kecil dari mereka yang memanfaatkan menu tersebut sebagai sarana penyadaran, entah secara individu maupun masyarakat luas. Penyadaran yang dimaksudkan adalah menulis status atau bahkan opini singkat tentang bahayanya berita hoax dan tentang nasionalisme yang sudah mulai menurun di kalangan generasi muda.

Media sosial adalah sarana yang paling modern untuk menyampaikan sebuah pemikiran dan opini. Namun media sosial juga ibarat hutan belantara dan setiap orang yang tidak berhati-hati akan terjebak di dalam nya. Terjebak yang dimaksudkan adalah termakan isu-isu yang sengaja di tuliskan dan disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Generasi muda juga dapat membuat semacam Official Account untuk sarana saling berdiskusi dan berdialektika sesama penggiat media sosial. Hal seperti ini perlahan-lahan juga akan memupuk kesadaran para pemuda untuk tahu mana informasi yang benar dan salah. Cara lain yang dapat dilakukan untuk menangkal hoax adalah dengan cara membuat semacam meme comic, yang mana hal seperti itu mudah untuk diterima kalangan manapun. Meme comic tersebut tentunya harus mengandung konten yang membangun dan positif serta kemudian dapat disebarkan secara luas di media sosial.

Pemerintah sudah secara tegas dalam upaya memberantas Hoax, dari pembuatan UU ITE hingga lembaga semacam Cyber Crime. Maka untuk itu generasi muda harus turut ambil andil dalam mengawal hukum tersebut. Dikarenakan generasi muda ini adalah generasi yang nantinya juga akan memegang tonggak kepemimpinan bangsa di masa depan. Penulis harapkan setelah tulisan ini terbit para generasi muda lebih memiliki kesadaran tersendiri untuk memanfaatkan akun media sosialnya dalam upaya memberantas hoax.




Ilustrasi oleh nasional kompas

Menemukan Arah Kemajuan Bangsa dengan Excellence with Morality

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multikultural, yang memiliki berbagai suku dan kebudayaannya yang ber-bhineka. Kebhinekaan bangsa Indonesia yang beragam merupakan suatu kekayaan bagi bangsa Indonesia. Namun, apabila tidak diarahkan kepada suatu cita-cita bersama yang sesuai dengan Pancasila, kekayaan tersebut akan berubah menjadi perbedaan yang meruncing menjadi perpecahan. Untuk menetralisir hal tersebut, dibentuk adanya institusi sebagai pengajar ‘kebangsaan’ yang selalu proaktif dalam mengayomi keberagaman di Indonesia. Institusi tersebut adalah melalui ‘pendidikan’.

Pendidikan merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pendidikan tidak mungkin terjadi atau terlepas dari kehidupan bermasyarakat. Dan oleh karena setiap masyarakat mempunyai kebudayaannya, maka pendidikan merupakan suatu kegiatan budaya. Seperti yang tertuang dalam Undang Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Sangat nampak jelas jika pendidikan  di dukung oleh Pemerintah yang telah dipalangi oleh Undang-Undang (UU) untuk tujuan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Kemudian dengan Semakin terbukanya dunia pendidikan karena globalisasi, ditambah semakin berkembangnya teknologi informasi, membuat terlihatlah kemajuan setiap negara. Setiap orang begitu mudah untuk saling memperbandingkan diri.Tentu tidak ada kemajuan sebuah negara yang bisa ditiru secara mentah-mentah. Perbedaan sistem politik, kondisi masyarakat, budaya, potensi ekonomi membuat kebijakan suatu negara tidak bisa sepenuhnya diterapkan di negara lain. Namun, perbandingan tetap diperlukan untuk menjadi pemicu, menjadi pembangkit semangat. Mengapa negara yang sama-sama melakukan pembangunan bangsa, bisa berbeda hasilnya.

Inilah yang melandasi adanya akreditasi sekaligus pemerataan perangkingan dunia yang dikenal dengan World Class University untuk memberikan daya dorong kemajuan bagi setiap universitas di dunia. Ini yang menjadi bekal institusi pendidikan di Indonesia untuk selalu berpacu menjadi yang terbaik, sepertiUniversitas Airlangga yang menunjukkan eksistensinya dengan bekal jargon “Excellence with Morality”.

Excellence With Morality untuk Kemajuan Indonesia

Dalam buku yang berjudul Membangun Peradaban Bangsa Mendidik Generasi Excellence With Morality yang ditulis Purnawan Basundoro (2015), dijelaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kalimat Excellence with Morality,Di awali dengan ‘Excellence’ yang bermakna suatu kemampuan yang cerdas berkualitas tinggi, mampu menghasilkan produk-produk saintifik dan humaniora yang berkualitas tinggi. Ukurannya adalah prestasi dan kualitas dari civitas akademika.Kemudian kata ‘Morality’ bermakna sebagai kualitas jati diri seseorang yang memiliki kualitas budi pekerti, religiusitas, spiritualitas, keimanan, dan akhlak. Dalam konteks “morality” inilah Universitas Airlangga menegaskan jika untuk mencapai tahapan yang unggul, dibutuhkan proses penyelenggaraan yang didasari oleh moralitas yang tinggi.

Kemudian sebagai tanggung jawab terbesar dari jargon tersebut, yang harus dijalankan oleh Universitas Airlangga adalah dengan mendidik generasi muda agar tercerahkan, sehingga generasi tersebut mampu mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang. Tanggung jawab semacam itu bukanlah hal yang ringan, karena proses itu adalah membentuk karakter seseorang agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, amanah, serta mampu mengatasi berbagai problem yang mereka hadapi.

Konsekuensi dari tanggung jawab untuk mendidik generasi masa depan adalah dengan mencetak lulusan sarjana yang terbaik dalam setiap bidangnya serta senantiasa bermoral untuk kepentingan bangsa.




Ilustrasi oleh Warta Kota

Gizi Buruk Saudara Papua

Di era sekarang pemerintah sudah banyak melakukan fokus kuratif (pengobatan) terhadap seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi, disamping hal dari itu, tindakan preventif (pencegahan) yang telah dilakukan masih cukup minim. Selain itu, banyak hal lain juga yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga kesehatan di Indonesia bisa di katakan kurang baik karena masih banyak masalah kesehatan yang dihadapi oleh negara ini. Antara lain masalah yang paling tinggi merupakan masalah kesehatan gizi yaitu Anemia, Obesitas, Gaky (kekurangan asupan yodium), KVA, dan KEP. Dari beberapa hal itu masalah yang paling serius dan mendesak di negara ini merupakan KEP atau Kekurangan Energi Protein.

Banyak dibeberapa daerah kurang adanya tindakan tentang masalah gizi. Hal ini karena banyak kendala yang dialami oleh masyarakat. Beberapa masalah yang sedang menjadi sorotan bangsa bahkan jadi fokus utama bagi pimpinan dalam penaganan masalah kesehatan bagi bangsa ini, seperti halnya kasus gizi buruk yang terjadi pada saudara kita di daerah Indonesia Timur. Kondisi kesehatan khususnya masalah gizi di negeri ini cukup sangat kompleks dan rumit akibatnya pemerintahan kita mengalami kesulitan dalam menangani hal itu khususnya masalah gizi di Indonesia bagian timur terutama di masyarakat papua.

Mengutip dari BBC Indonesia (15/1/2018) “Presiden Joko Widodo memerintahkan sebuah tim untuk segera kelapangan di kabupaten Asmat, Papua,  menyelesaikan masalah gizi kronis yang sejauh ini menimbulkan setidaknya 61 korban jiwa.” Melihat hal itu bisa dikatakan mengapa pemerintahan kita baru menangani hal seperti itu di saat KLB (Kejadian Luar Biasa) sudah terjadi pada saudara kita di papua sana ? Dari pertanyaan diatas saya rasa banyak hal yang sudah terjadi di masyarakat kita khususnya  tentang kesehatan yang kurang merata di setiap daerah, seperti halnya yang terjadi pada masyarakat papua itu. Beberapa penyebab kurangnya penanganan  masalah gizi tersebut adalah kurangnya pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan(fayankes) di daerah terpencil.

Selama ini bisa kita lihat bahwa pemerintah lebih banyak melakukan pengembangan  fayankes di kota-kota besar seperti halnya pembangunan rumah sakit daerah dan pusat yang terlalu di lebih-lebihkan memang benar pemerintah kita tidak mengesampingkan pembangunan di daerah terpencil akan tetapi masih banyak tempat yang bisa di katakan Fayankes nya belum memenuhi standar yang telah di tetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Seharusnya hal itu bisa di tangani oleh pemerintah kita karena dana yang tersalurkan itu sudah cukup memenuhi namun terkdang malah anggaran dana yang di tujukan untuk masalah kesehatan yang terjadi di negeri kita ini kalah besarnya dengan anggaran dana yang di tujukan untuk kepentingan politik, berbicara tentang politik memang tidak akan ada habis-habisnya  namun bagaimana dengan kesehatan masyarakat kita yang saya kira hal itu harus sangat benar-benar di perhatikan oleh pemerintah kita.

Selain dari fayankes ada beberapa hal lain juga yang kurang di perhatikan khususnya pada daerah papua yang telah mengalami KLB Gizi Buruk. Kendala lain yang di alami oleh masyarakat papua itu merupakan akssesabilitas atau jalan untuk menempuh fayankes yang ada di daerah papua lebih tepatnya di Kabupaten Asmat itu cukup jauh sekitar tiga jam. Hal itu terdapat pada di beberapa desa yang ada di kabupaten Asmat karena transpotasi yang bisa di gunakan itu hanya transpotasi Air saja. Melihat hal itu bisa di katakan bahwa pembangunan Fayankes ada di sana itu kurang merata.

Selain itu ada hal lain yang benar-benar menjadi momok bagi masyarakat di sana yaitu kurangnya Sumber Daya Manusia(SDM) yang memadai dan mutu pelayana  yang kurang efektif. Hal itu perlu adanya penegasan dari pemerintah setempat tentang kelalaian SDM yang terjadi di tempat itu. Berdasarkan laporan masyarakat setempat mereka beberapa kali tidak menjumpai Petugas kesehatan di beberapa Pustu (Puskesmas Pembantu). Dengan banyaknya kasus Gizi Buruk di sana banyak pula pasien terutama anak-anak yang di larikan pada fayankes yang  tidak teratasi sehingga kasus tersebut menyebar kepada anak-anak lainnya. Seharusnya pemerintah kita lebih tegas lagi dalam masalah kualitas SDM di tempat itu, bahkan saya kira dari hal ini perlunya penekanan kembali tentang pemerataan SDM yang berkualitas tinggi ke berbagai daerah yang terpencil.

Dari sekian kasus yang di atas banyak hal yang memang harus kita atasi bersama-sama namun hal itu tidak lepas juga dari peran pemerintah yang sangat berpengaruh untuk peningkatan kesehatan di negeri kita ini terkhususnya saudara kita di daerah Indonesia Timur yaitu Daerah Papua. Apakah  Kesehatan saudara kita di Papua akan tetap sama seperti ini sampai seratus tahun ke depan ?




Ilustrasi oleh QS WUR

Semerbak Ikhtiar Menuju QS World University Ranking

Reputasi internasional bagi perguruan tinggi negeri atau pun swasta menjadi bahan pertimbangan bagi calon mahasiswa lokal atau pun asing memilih ladang menuntut ilmu. Telah diumumkan oleh Kelembagaan Iptek dan Dikti (2016),QS World University Ranking merupakan ikhtiar bersama yang akan mencerminkan nilai-nilai dan kerja keras dari perguruan tinggi atau swasta di Indonesia. Tahun 2019 mendatang, Universitas Airlangga ditarget masuk dalam peringkat 500 perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia (Kelembagaan Iptek & Dikti, 2016).

Seluruh elemen pendidik dan tenaga kependidikan saling bahu-membahu untuk menghantarkan perguruan tinggi di Indonesia mendapat posisi yang layak pada QS World University Ranking. Berdasarkan hasil telaah pada halaman QS World University Ranking bab Methodology(Top University, 2018), ada beberapa poin-poin yang merujuk pada sistem penilian yang ditentukan. Enam metrik penilaian tersebut meliputi Academic Reputation (Reputasi Akademik), Employer Reputation (Reputasi Pengguna Lulusan), Faculty/Student Ratio (Rasio Mahasiswa), Citations per faculty (Sitasi per fakultas), International Faculty Ratio (rasio kelas international), danInternational Student Ratio (rasio mahasiswa asing).Penilaian untuk metric academic reputation mendapat jatah 40%, employer reputation sebanyak 10%, faculty/student ratio sejumlah 20%, citation per faculty sebanyak 20%. Sementara itu, angka prosentase metrik untuk international faculty ratio dan international student­masing-masingsebesar 5%. Jika kita telisik keenam metrik ini lebih dalam, akan ditemukan satu benang merah bahwa ada tigadrivers ditingkat operasional yang menentukan naik atau turunnya ikhtiar bereputasi internasional. Tiga drivers ini meliputi tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan mahasiswa.

Mencermati pengertian tenaga pendidik dan tenaga kependidikan itu perlu. Dasarnya, sebuah perguruan tinggi tidak dapat berdiri jika kedua elemen absen dari peradaban. Hal ini juga berlaku untuk calon mahasiswa yang juga akan menjadi driver. Undang-Undang Pasal 39 No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas memperjelas perbedaan fungsi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Pada ayat 1, ndang-Undang Pasal 39 No.20 tahun 2003 mengemukakan bahwa tenaga kependidikan bertangungjawab melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan, pada ayat 2, dijelaskan bahwa Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Dari telaah pengertian di atas, dapat ditarik satu kata kunci bahwa pendidik bergerak di bagian teaching (pembelajaran) dan tenaga kependidikan administration (administrasi). Masing-masing kata kunci ini memiliki penjabaran yang lebih terperinci. Namun, dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi yang terukur dalam enam metric di atas, pendidik dan tenaga kependidikan perlu bersinergi. Sinergi yang terbentuk diharapkan dapat bermuara pada kelancaran proses pembelajaran dan pelayanan untuk peserta didik (mahasiswa).

Tenaga pendidik khususnya memiliki peran penting dalam managerial administrasi, sistem, dan wajah pada satuan pendidikan. Academic reputation, contohnya, tidak bisa terbentuk dengan baik jika pengelolaan akademik peserta didik tidak ditangani oleh tenaga kependidikan. Surat-menyurat, input data, atau pun urusan ijazah akan terhambat jika tenaga kependidikan absen dari kedudukan di perguruang tinggi. Ada saja yang kita sadari bahwa sebenarnya tenaga pendidik memegang peran memuluskan managemen organisasi pendidikan. Terlebih, tenaga pendidik seperti staf jurnal dan akreditasi menyumbang peran ke dalam empat metrik sekaligus yaitu employer reputation, citation per faculty, International faculty ratio, dan International Student ratio.

Pekerjaan berat bagi tenaga kependidikan yang bergelut di bidang publikasi jurnal. Tidak hanya managemen publikasi jurnal yang harus ditangani, stakeholder maintenance(penulis, reviewer, editor, dan section editor) menjadi tanggung jawab yang cukup besar. Berbicara soal reputasi jurnal itu sendiri, staf jurnal tidak hanya terlibat dalam marketing jurnal agar terbaca oleh khalayak luas, tapi branding jurnal juga menjadi komponen pokok untuk meningkatkan sitasi tulisan tiap-tiap fakultas. Dengan begitu, staf jurnal utamanya juga menaikkan reputasi wadah kepenulisan ke taraf international dan menggaet mahasiswa lokal maupun asing untuk berkontribusi dan menjadi stakeholder.

Sejalan dengan kriteria standar Internasional sesuai dengan Quacquarelli Symonds (QS) rank, mutu riset, jumlah publikasi nasional dan internasional membutuhkan perhatian besar untuk meningkatkan kualifikasi peringkat (Ristek Dikti, 2018). Tak heran, jika keterlibatan staf jurnal sebagai tenaga kependidikan di Universitas Airlangga ataupun perguruan tinggi lainnya sangatlah vital. Ketersediaan jurnal yang sudah memiliki reputasi nasional hingga internasional akan memberikan peluang yang lebih mudah kepada para pendidik untuk berkolaborasi dengan berbagai penulis dan berkesempatan untuk menerbitkan di jurnal tersebut secara objektif. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan International Faculty. Terdapat 441 artikel jurnal yang terindeks Scopus (Sinta Ristekdikti, 2018), jumlah yang masih perlu ditingkatkan dalam mencapai QS World University Ranking.

Sebagai penutup, kalimat Bahasa Madura dalam bahasan Rifai (2007) “ce’ ngadhebbha da’ lalakonna”(sangat bersungguh-sungguh melakukan pekerjaannya)dapat menjadi pengingat hangat bagi Universitas Airlangga yang berikhtiar menuju QS World University Ranking. Impossibility makes dreams possible. Sekarang peringkat Universitas Airlangga sudah mencapai peringkat 751-800 berdasarkan penilaian QS World University Ranking(Top University, 2018). Semoga dengan sumbangsih dari ketiga drivers ini bisa menebar semerbak pencapaian di masa yang akan datang.




Ilustrasi oleh digitalvidya.com

Digital Marketing, Menembus Batas dalam Membaca Peilaku Manusia

Pemasaran Online atau Digital Marketing merupakan pilar konten “bebas” di web yang telah merevolusi pemasaran bisnis dalam beberapa tahun terakhir  dengan menciptakan segudang peluang baru bagi pengiklan untuk menjangkau calon pelanggan. Model periklanan saat ini dibangun di atas infrastruktur yang rumit yang terdiri dari berbagai entitas perantara dan teknologi. Tujuan utamanya adalah untuk iklan yang mentarget langsung secara personal. Untuk itu, banyak sekali data pengguna yang dikumpulkan, digabungkan, diproses, dan diperdagangkan dibelakang layar dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya (Estrada-Jim´enez dan Parra  dkk, 2016). Data pengguna yang telah terkumpul menjadi modal berharga setiap perusahaan dalam menjalankan iklan dikemudian hari. Tentu pengambilan keputusan yang diharapkan dapat menaikkan omset dari perusahaan tersebut.

Menurut Evans, dalam bukunya yang berjudul Social Media Marketing: The Next Generation of Business Engagement, ia menjelaskan bahwa jalan menuju pemasaran melalui media sosial kini tengah terbuka sangat baik. Sebuah studi Anderson Analytics pada bulan Juli 2009 menemukan bahwa 60% populasi internet menggunakan  jejaring sosial dan situs media sosial seperti facebook, My Space, dan Twitter. Selain itu menurut Evans, media sosial telah menjadi komponen utama pemasaran: kolaborasi, teknologi sosial sekarang bergerak melintasi organisasi, ke dalam fungsi bisnis mulai dari SDM dan legal hingga manajemen produk dan rantai pasokan.

Berdasarkan data pengguna internet di Indonesia yakni berjumlah 132,7 juta jiwa pada akhir tahun 2016. Jumlah tersebut bertambah sekitar 44,7 juta jiwa dari 2 tahun sebelumnya. Dari total 132,7 juta jiwa tersebut, 97,4% aktif dalam sosial media. Dan sekitar 71,6 juta jiwa sering mengunjungi atau aktif dalam media sosial facebook. Data tersebut menunjukkan sebuah potensi besar para pebisnis untuk memasarkan produknya melalui media sosial (APJII, 2016).

Dengan banyaknya populasi manusia yang beraktifitas pada mesin pencari atau social media, hal ini akan linear dengan data yang terkumpul nantinya. Data yang terkumpul ini seperti demografi, pola interaksi, minat yang terekam dan masih banyak lagi. Tentu secara tidak langsung, setiap orang yang terdaftar pada beberapa layanan digital seperti facebook, google, dan Instagram akan terdata segala aktifitas mereka dalam suatu database (big data).

Didalam big data, semua perilaku manusia akan dicari pola yang sesuai dengan target pasar perusahaan. Tentu akan terjadi proses matching data yang akan menyesuaikan secara otomatis bagaimana perilaku manusia yang sesuai dengan suatu produk. Suatu Produk, misalkan kopi tentu memiliki konsumen dengan perilaku khusus dan pasti berbeda perilaku dengan konsumen teh. Hal ini lah yang sedang digarap oleh beberapa perusahaan raksasa baik mesin pencari (search engine) maupun sosial media.

Digital marketing dapat menjadi studi literature baru di abad 20 yang mengiriskan beberapa macam bidang ilmu seperti statistika, matematika, pemasaran, psikologi, sosiologi, manajemen, dan pengiklanan. Universitas sebagai institusi pendidikan tertinggi harus menjadi pusat pengembangan teknologi yang terbarukan. Dalam menembus batas untuk membaca perilaku manusia, Universitas harus menghadirkan berbagai macam literasi yang mampu mengarahkan perkembangan ini agar berjalan positif. Perkembangan teknologi harus tetap dikedepankan, namun moralitas manusisa juga harus dipertimbangkan dalam pengembangan teknologi tersebut.

 

Penulis merupakan CEO Sarang Walet Markaswalet.com

Digital marketing Specialist

Mahasiswa Matematika Universitas Airlangga

Wakil Ketua BEM UNAIR 2018




Ilustrasi oleh Liputan6.com

Mengembangkan Historiografi Islam di Banyuwangi dan Indonesia

Pembahasan tentang sejarah adalah pergulatan tentang manusia, ruang, dan waktu. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut, secara fitrah memiliki rekam masa lalunya masing-masing dan saling berkaitan. Baik itu rekam jejak berupa dokumen arsip maupun ingatan dalam kepala saksi dan pelaku sejarah. Dalam istilah ilmiah, hal tersebut populer dikenal sebagai sumber sejarah. Melalui sumber-sumber sejarah yang bertebaran diberbagai tempat, kajian sejarah dapat dilakukan dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Dewasa ini muncul fenomena yang unik, yakni kian berkembangnya komunitas kesejarahan yang menjadi penggerak kajian-kajian sejarah terutama pada lingkup lokal (kedaerahan). Salah satu komunitas kesejarahan itu ialah Komunitas Pegon yang berada di Banyuwangi. Komunitas yang menelusuri sumber-sumber serta fokus mengkaji sejarah keislaman di Banyuwangi: Pesantren dan Nahdlatul Ulama, sekaligus merajut fakta-fakta masa lalu menjadi karya historiografi keislaman di Banyuwangi.

Salah satu karya yang berhasil dituliskan adalah buku dengan judul Kronik Ulama Banyuwangi: Serpihan Kisah Pengabdian dan Perjuangan Ulama Banyuwangi Abad 15 hingga 20. Buku tersebut ditulis secara fragmentatif dengan puluhan judul artikel yang disesuaikan dengan sumber-sumber sejarah yang ada. Meskipun buku ini berupa kumpulan tulisan yang tidak memiliki keterkaitan langsung antara satu judul artikel dengan yang lain, namun, di sisi lain, buku ini layak diapresiasi karena mampu menyediakan “kunci” yang dapat digunakan untuk membuka peluang menghadirkan kajian tema sejarah keislaman di Banyuwangi secara lebih kritis dan komprehensif.

Beberapa judul tulisan yang kemudian memantik guna diteruskan kajiannya secara lebih mendalam dan menyeluruh antara lain; pertama “Kiai Saleh Lateng Banyuwangi, Tradisi Istifa’ dan Jejak Intelektualnya” (hlm 31). Kiai Saleh Lateng adalah salah satu ulama Banyuwangi yang memiliki reputasi baik di tingkat regional, nasional dan bahkan internasional. Dituliskan bahwa, beliau terbilang sering berbalas surat dengan ulama-ulama yang berada di Mekkah dan Madinah. Konten dari surat menyurat tersebut ialah seputar permasalahan keagamaan yang timbul di tanah jawa. Kebiasaan Kiai Saleh Lateng berdialektika dengan ulama di timur tengah melalui media surat, mengindikasikan bahwa beliau memiliki intelektualitas ilmu keagamaan yang memumpuni. Dengan intelektualitas yang dimiliki, dan aktivitas yang dilakukan, sangatlah tidak mungkin seorang Kiai Saleh Lateng tidak memiliki sebuah karya. Dugaan-dugaan semacam inilah yang kemudian meninggalkan pertanyaan diahir tulisan. Sekaligus menjadi tugas “bersama” untuk melacak jejak intelektualitas sang kiai.

Kedua, “Jejak Intelektual Kiai Faqih Cemoro Banyuwangi” (hlm 57). Kiai Faqih Cemoro adalah salah satu ulama kharismatik bumi Blambangan. Pada artikel ini, dinarasikan bahwa, sang kiai mampu berdakwah dengan damai karena mampu memanfaatkan pendekatan tradisi, membuat masyarakat Banyuwangi dapat menerima Islam dengan baik kala itu. Bentuk ritual dakwah dengan tradisi lokal Banyuwangi ialah, ritus peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang disemarakkan dengan tradisi kembang endhog. Kepiawaian Kiai Faqih Cemoro mendakwahkan Islam menjadi titik perhatian pada bagian ini, Ayung, selaku penulis berhasil menjelaskan bagaimana genealogi intelektual sang kiai, hingga menelurkan tradisi yang mendukung kelancaran dakwah. Meskipun demikian, kedepan, kajian tentang tradisi kembang endhog perlu dikembangkan dengan menempatkan tradisi kembang endhog sebagai objek primer kajian.

Ketiga, “Zarkasy Djunaidi, Kiai Banyuwangi Panutan Gus Dur” (hlm 241). Pada bagian ini, dideskripsikan tentang sosok kiai lokal yang memiliki hubungan intim dengan tokoh nasional. Dijelaskan bahwa, Kiai Zarkasy Djunaidi disebutkan menjadi salah satu ulama yang menjadi panutan Gus Dur. Hal ini dikarenakan, bagi Gus Dur, Kiai Zarkasy adalah seorang kiai yang alim sekaligus wara’, ahli ibadah sekaligus aktif di organisasi sosial keagamaan. Kisah penuh dengan hikmah keteladanan ini kiranya masih perlu penelitian lanjutan, misalnya, mengkaji Biografi Kiai Zarkasy Djunaidi secara holistik, sebab semasa hidupannya syarat akan dinamika keagamaan dan keorganisasian, hal ini yang kemudian menjadi sangat menarik untuk diteliti oleh siapapun.

Beberapa contoh judul artikel dalam buku Kronik Ulama Banyuwangi diatas sekiranya cukup untuk menegaskan bahwa historiografi keislaman lokal memegang peranan penting dalam rangka pengembangan historiografi keislaman nasional. Meskipun, dalam buku ini memuat serpihan-serpihan informasi, hal itu tidak perlu dipandang sebagai kekurangan dan kelemahan, melainkan harus dipahami sebagai peluang yang sangat potensial. Dalam artian, daripada potongan informasi tersebut digerus gerak perubahan zaman, lebih baik segera dituliskan, meskipun hanya menarasikan penggalan sejarah, seiring berjalannya waktu, diharapkan ada peneliti yang melengkapi narasinya.

Bagi mahasiswa, pengajar, dan peneliti sejarah yang memiliki minat kajian tentang sejarah keislaman di Banyuwangi maupun di Indonesia dan belum memiliki tema penelitian, buku ini menjadi salah satu bacaan wajib. Sebab, serpihan-serpihan dokumen arsip yang berhasil dituliskan dalam buku ini merupakan sumber informasi awal yang sangat berharga untuk memulai penelitian lanjutan yang lebih mendalam dan menyeluruh.

Pada ahirnya, mari bersepakat, bahwa ikhtiar untuk mengembangkan serta menyempurnakan historiografi nasional perlu diawali dengan penulisan sejarah ditingkat lokal secara massif, kemudian dari karya historiografi lokal tersebut, diintegrasikan dengan narasi historiografi nasional dengan mencari rasionalisasi titik temu guna mengisi narasi-narasi sejarah yang masih rumpang.




Ilustrasi oleh Borneo Chanel

Melestarikan Flora dan Fauna, Menyejahterahkan Manusia

Abbe Georges, kosmolog asal Belgia, pada 1927 menghebohkan dunia dengan mengemukakan teori Big Bang. Teori penciptaan alam semesta paling kondang ini disokong banyak bukti ilmiah, sehingga dapat diterima semua kalangan, baik ilmuwan maupun orang awam. Menurut teori Big Bag, alam semesta bermula dari kondisi super padat dan panas, yang meledak dan kemudian mengembang kira-kira 13.700 juta tahun lalu.

Temperatur suhu panas mengurai berbagai unsur-unsur kompleks dari benda langit hasil ledakan. Sementara proses pendinginan dan kondensasi mendorong keanekaragaman variasi unsur-unsurnya. Alam semesta akan meledak, mengembang, menyusut, dan terus-menerus melanjutkan siklus reinkarnasinya. Pola proses evolusi materi di luar angkasa tersebut sebagaimana terjadi dalam evolusi kehidupan di bumi.

Proses terjadinya hujan secara alamiah juga mengikuti siklus alam. Sinar matahari mengakibatkan menguapnya air dari sungai, danau, laut, manusia, flora maupun fauna. Uap air mengalami kondensasi, sehingga menjadi embun. Titik-titik embun berkumpul, memadat dan membentuk awan. Kemudian dengan bantuan angin, awan-awan kecil berkumpul dan membentuk awan yang lebih besar. Ketika awan yang terkumpul berubah menjadi semakin kelabu, dan titik-titik air memberat menjadi butiran-butiran air yang jatuh ke bumi. Maka terjadilah hujan.

Siklus kehidupan tersebut juga terjadi pada manusia, flora dan fauna. Siklus hidup manusia, flora dan fauna memungkinkan pergantian generasi dengan proses tertentu dan sesuai karakteristik masing-masing. Sebagai makhluk hidup, manusia, flora dan fauna saling berkelindan menerima dan mengikuti berbagai siklus kehidupan yang terjadi di bumi, tempat tinggal mereka. Meskipun, flora dan fauna sepertihalnya manusia, dapat bereproduksi dan mengalami metabolisme, namun hanya manusia, makhluk hidup yang diberi anugerah akal budi.

Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, menyebut manusia sebagai ‘animal rasionale’, binatang yang dapat berpikir rasional. Akibatnya, sumber pengetahuan dan alat untuk ‘mengerti’ dunia sekitarnya tidak hanya terbatas pada entitas penginderaan saja. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang dibekali akal budi, manusia mengemban tanggung jawab moral dalam mengelolah bumi beserta isinya.

Flora, Fauna dan Manusia Indonesia

Hamparan hutan tropis lebat dan terluas kedua setelah Brazil, berada di Kepulauan Indonesia. Spesies flora dan fauna di Indonesia sangat beragam, bahkan variasinya terbagi-bagi berdasarkan biomanya masing-masing. Jenis tanah, ketinggihan lahan, iklim dan faktor-faktor lainnya yang saling tumpang tindih melipatgandakan pertumbuhan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna. Kondisi geografis wilayah Indonesia yang terdiri dari 16.065 pulau (terdaftar PBB 2017) semakin mendorong pertumbuhan keanekaragaman hayati, sehingga Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara ‘mega-biodiversitas’.

Namun, hutan-hutan dan lingkungan hidup flora dan fauna di Indonesia senantiasa terancam aktivitas-aktivitas eksploitasi. Bagi flora dan fauna, kemerdekaan Indonesia hanya peralihan rezim, yang hanya berdampak pada pergantian aktor. Kenyataannya pembakaran hutan dan perburuhan satwa masih tetap berlanjut. Misalnya, pembantaian harimau Jawa, perdagangan ilegal burung Cendrawasih dan pembakaran hutan untuk membuka lahan perkebunan yang seringkali terjadi pada masa kolonial, juga bisa dijumpai setelah kemerdekaan Indonesia.

Kepulauan tropis yang dikagumi Alfred Russel Wallace, kini berulangkali masuk portal berita nasional maupun internasional bertajuk kebakaran hutan, pembantaian orang utan dan perdagangan ilegal satwa dilindungi. Oleh karena itu, momen peringatan Hari Cinta Puspa & Satwa Nasional yang jatuh pada tanggal 5 November ini, dapat menjadi hari perenungan atas pertanyaan, apakah manusia Indonesia sudah melaksanakan tanggung jawab moralnya sebagai satu-satunya makhluk hidup yang dianugerahi akal pikiran?

Siklus Kehidupan dan Tanggung Jawab Moral   

Perbincangan warung kopi senantiasa menarik. Seorang teman berkisah tentang kampung halamannya. Sebelum berkuliah di Universitas Airlangga, pepohonan kelapa sangat melimpah di daerahnya. Namun, kemarin ia tidak menemukan satu pun pohon kelapa. Pohon-pohon kelapa dirusak kumbang nyiur yang menyerang pangkal batang, sehingga banyak pohon kelapa sudah mati pada usia 1-2 tahun.

Menurut masyarakat setempat, serangan hama kumbang nyiur disebabkan karena perburuhan tupai. Air kencing tupai (bajing) dipercaya mampu mencegah pohon kelapa dari serangan kumbang nyiur. Teman saya membenarkan perburuhan tupai tersebut, karena menyaksikan langsung tiga pengendara motor mengangkut banyak sekali tupai mati menuju kota sebelah. Dari kisah itu, kita tahu, merusak siklus kehidupan fauna dengan memutus salah satu rantai makanan akan berdampak buruk terhadap flora maupun manusia yang saling terhubung dalam kesatuan lingkungan hidup.

Dengan akal budinya, manusia Indonesia seharusnya bisa menumbuhkan kesadaran atas batas-batas eksploitasi. Kerusakan apapun dalam siklus alam akan berdampak buruk, dan berlaku pula sebaliknya. Oleh karena itu, melindungi dan melestarikan flora dan fauna merupakan bagian dari upaya menjaga siklus alam. Penulis buku Life, Origin & Nature, Hereward Carrington, mengatakan bahwa kehidupan (tentang manusia, alam, flora maupun fauna) dan cinta jadi semacam analogi sampai batas tertentu; karena, ketika kita memberi lebih banyak, maka semakin banyak pula kita menerima. Terbukti, ketika saya mengadakan penelitian sosial-budaya di kampung nelayan Greges, masyarakat setempat terbuka dan menyambut kami lantaran sebelumnya banyak mahasiswa Universitas Airlangga mengajak mereka menanam mangrove.