FK UNAIR Terima Kedatangan 9 Mahasiswa Asing

UNAIR NEWS – Memasuki bulan Juli 2018,  Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kembali menerima kedatangan mahasiswa asing program student exchange. Kali ini mahasiswa asing berjumlah sembilan orang asal Slovakia, Greece, Austria, Lithuania, Prancis dan Polandia.

Mereka akan menetap sementara selama sebulan untuk melakukan penelitian di Departemen Mikrobiologi FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo dan Institute Tropical Diseases (ITD) Universitas Airlangga.

Kedatangan para mahasiswa asing ini disambut oleh Dekan FK UNAIR  Prof. Dr. dr. Soetojo, SpU (K) didampingi Prof. Dr. dr Nancy Margarita Rehatta, Sp.AnK.IC beserta sejumlah mahasiswa FK UNAIR yang tergabung dalam ormawa Center for Indonesian Medical Students (CIMSA) UNAIR, di Ruang Sidang C FK UNAIR (2/7).

Mereka berasal dari Jessenius Faculty of Medicine, Democritus University of Thrace, University of Rennes, Faculty of Rouen, Medical University of Vienna, Lithunian University of Health Sciences, Charles University, Prague, Medical University of Lubin, dan University of Pavol Jozef Safarik, Kosice.

Baiq Dwi Hadiatul Azni selaku Vice Local Coordinator for External Affair CIMSA UNAIR mengungkapkan, di minggu pertama kedatangan, tim mahasiswa CIMSA akan mendampingi para mahasiswa asing untuk menjalani serangkaian kegiatan pembelajaran dasar tentang virus dan mikrobiologi. Setelah dibekali ilmu dasar, selanjutnya para mahasiswa asing akan melakukan penelitian di ITD UNAIR selama tiga minggu.

Dalam setahun, FK UNAIR rutin menerima kedatangan mahasiswa asing program student exchange dalam kurun waktu tiga bulan. Yakni periode bulan Juli, Agustus dan September. Para mahasiswa asing yang datang ke FK UNAIR sebelumnya telah melalui proses seleksi oleh The International Federation of Medical Students Associations (IFMSA).

Untuk mendukung internasionalisasi, FK UNAIR juga mengirim mahasiswanya mengikuti program student exchange ke sejumlah institusi pendidikan kedokteran manca negara. Dalam waktu dekat, salah satu mahasiswa FK UNAIR bernama Kevion Alvaro Handoko akan berangkat ke Polandia untuk mengikuti program student exchange.

Aktivitas mahasiswa kedokteran asing program student exchange juga tak lepas dari peran CIMSA UNAIR. Peran CIMSA dalam hal ini sebagai penghubung antara mahasiswa asing dengan departemen yang dituju. CIMSA juga membuat projek khusus agar mahasiswa asing tidak hanya belajar dan penelitian saja, namun juga melibatkan mereka dalam kegiatan sosial di lingkungan setempat.

Seperti diketahui CIMSA merupakan ormawa external mahasiswa FK UNAIR. Mereka mengelola enam bidang kegiatan kemasyarakatan. Antara lain SCOORE (penelitian), SCOPE (professional exchange), SCOPH (pengmas), SCORA (program reproduksi seksual dan HIV AIDS), SCORP (hak asasi dan perdamaian dunia, serta SCOME (bidang medical education). (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Surat Pernyataan Rektor Pasca Teror Bom Membuahkan Hasil

UNAIR NEWS – Sehari pasca teror bom yang menyerang 3 gereja di Surabaya Minggu pagi (13/5), Universitas Airlangga bergerak cepat untuk menstabilkan situasi. Terkait aksi teror itu, Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA, mengeluarkan surat pernyataan bernomor 1383/UN3/LN/2018.

Salah satu tujuan dari dikeluarkannya surat itu adalah untuk menenangkan mitra UNAIR yang berada di luar negeri, serta mahasiswa asing yang melakukan studi di UNAIR.

Tidak hanya dalam bentuk surat, UNAIR juga melakukan beberapa kegiatan pemulihan. Kegiatan itu dalam bentuk pemberian konselor dari dosen Fakultas Psikologi kepada murid-murid yang letak sekolahnya berdekatan dengan gereja. UNAIR juga menyediakan guest house bagi mahasiswa asing yang merasa khawatir dengan lingkungan Surabaya.

Tidak berhenti sampai situ, untuk menjaga kenyamanan dan keamanan, UNAIR juga siap menerjunkan personil untuk mengantarkan mahasiswa asing yang akan bepergian.

Menurut Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Prof. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, gerak cepat ini telah memberikan impact yang sangat baik. Terbukti, mitra UNAIR yang berada di luar negeri tetap melaksanakan agenda seperti biasa. Salah satunya adalah mitra dari negara Taiwan yang tetap berkunjung ke UNAIR, Jumat (18/5). Lebih jauh, lanjut Prof. Nyoman, mahasiswa asing yang studi di UNAIR juga tidak ada yang menginginkan pulang ke negara asal karena teror bom di Surabaya.

Ke depan, diharapkan kejadian serupa tidak terulang lagi sehingga segala proses belajar mengajar dan kerjasama UNAIR dengan mitra asing tidak mengalami kendala.

Untuk layanan komunikasi, AGE masih terus membuka jalur informasi melalui Executive Director Airlangga Global Engagement Prof. Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Mobile Phone +628113452009, email international@global.unair.ac.id) (*)

Penulis: Humas FKG

Editor: Binti Q. Masruroh




Kuliah Lapangan, Mahasiswa Brunei Belajar Alam hingga Tradisi

UNAIR NEWS Bagi masyarakat dunia, kekayaan alam, budaya, bahasa, dan tradisi di Indonesia memang sangat beragam. Karena itu, tidak sedikit, baik para pelancong maupun pelajar asing, yang berkunjung ke Indonesia untuk menikmati serta belajar tentang banyak hal.

Melalui Community Outreach Program yang dilaksanakan Universiti Brunei Darussalam (UBD) dengan menggandeng Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, sebanyak 12 mahasiswa UBD belajar banyak hal dalam kuliah lapangan di Blitar, Jawa Timur.

Bertempat di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kuliah Lapangan yang dilangsungkan selama lebih dari satu bulan itu diisi dengan berbagai kegiatan. Fendi Susilo selaku tim dari kelompok sadar wisata desa setempat menyatakan bahwa pihaknya sudah kali kedua menerima kunjungan peserta kuliah lapangan dari mahasiswa UBD.

“Ini sudah kunjungan yang kedua. Hanya, yang pertama kemarin waktunya sangat pendek. Dan, yang kedua ini lebih dari satu bulan,” paparnya saat ditemui UNAIR NEWS pada Sabtu (3/2).

Dalam kuliah lapangan yang akan berakhir pada 25 Februari mendatang tersebut, Fendi mengungkapkan bahwa pihaknya memberikan pelajaran kepada mahasiswa tentang keseharian masyarakat setempat. Mulai belajar berbahasa jawa, membuat olahan makanan tradisional, hingga belajar untuk mengenal alam lebih luas.

“Karena waktunya panjang, jadi, banyak hal yang kami berikan. Salah satunya, mengenalkan mereka tentang produksi teh dan pendakian ke gunung,” tambah Fendi.

Meski demikian, Fendi menambahkan bahwa mahasiswa UBD tidak sekadar menerima pelajaran. Dalam kuliah lapangan itu, mahasiswa UBD juga memberikan pelajaran bahasa Inggris kepada masyarakat dan siswa-siswi madrasah ibtidaiyah setempat.

“Jadi, tugas utama mereka ini memang memberikan pengabdian. Ya, seperti mengajarkan bahasa Inggris. Jadi, kita di sini semua sama-sama mendapatkan pelajaran,” jelasnya.

Senada dengan itu, Edy Syahril, salah seorang mahasiswa UBD, yang mengikuti program tersebut membenarkan pernyataan Fendi. Dia dan tim mengikuti program kuliah lapangan yang digagas kampusnya dengan tujuan utamanya memberikan pelayanan dan belajar tentang budaya setempat.

“Tujuan utama kami di sini memang belajar budaya dan memberikan pelayanan berupa mendidik masyarakat untuk belajar bahasa Inggris,” jelas Edy.

Pada akhir, Fendi menambahkan bahwa ke depan pihaknya memberikan wawasan tentang potensi kekayaan alam dan sejarah tentang peradaban bangsa Indonesia di Blitar kepada 12 mahasiswa UBD. “Kami juga akan mengajak mereka ke situs peninggalan Majapahit di daerah wisata Rambut Monte dan makam Proklamator Bung Karno,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Mahasiswa Berbagai Negara Ikuti Senam di Pascasarjana

UNAIR NEWS – Bermula dari mahasiswa asing asal Myanmar yang mengalami sakit punggung (low back pain) ketika di Surabaya, wakil direktur I Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga beserta jajaran pimpinan lantas mengajak para mahasiswa asing mengikuti senam sehat setiap Jumat. Seperti yang terlihat pada Jumat pagi (2/2) di depan gedung Magister Manajemen UNAIR.

Keseruan senam itu diikuti oleh pimpinan, ketua program studi dan staf di lingkungan pascasarjana, serta seluruh mahasiswa asing. Termasuk mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sekolah Pascasarjana (HIMASEPA).

Total, ada 14 mahasiswa asing dari berbagai negara yang belajar di pascasarjana. Mereka berasal dari Myanmar, Syria, Tanzania, Rwanda, dan Nigeria. Program studi yang mereka ambil, antara lain, pengembangan sumber daya manusia (PSDM), imunologi, ilmu forensik, bioteknologi perikanan dan kelautan, serta ekonomi Islam.

“Seluruh mahasiswa asing pascasarjana ikut senam di sini. Ternyata mereka sangat antusias. Apalagi dengan lagunya dangdut Via Vallen. Mereka sangat senang,” ujar Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, drh., M. Kes.

Selain mengajak para mahasiswa senantiasa menjaga kesehatan, lanjut Prof. Anwar, senam sehat setiap Jumat tersebut bertujuan memupuk kekeluargaan antar mahasiswa dan sivitas di pascasarjana. Sebab, mahasiswa asing sangat mungkin mengalami perasaan sendiri dan rindu kampung halaman, negara asal.

“Dengan senam ini, di satu sisi, kami ingin mereka banyak gerak, tidak gampang sakit. Kemudian, mereka merasa enjoy di sini, tidak merasa asing di UNAIR. Itu yang kami inginkan,” tambahnya.

Demi menjalin keakraban dengan mahasiswa, lanjut Prof. Anwar, bersama pimpinan pascasarjana yang lain, pihaknya ingin mengundang mahasiswa asing untuk ramai-ramai berkunjung ke rumah. Itu semata-mata dilakukan agar mereka merasa UNAIR menjadi rumah keduanya.

Sesaat setelah para mahasiswa asing mengikuti senam pagi di Kampus B UNAIR. (Foto: Istimewa)

Dalam kesempatan itu, Prof. Anwar sekaligus mengundang seluruh mahasiswa asing yang menempuh studi di UNAIR agar mengikuti senam pagi di pascasarjana. Senam pagi dilakukan setiap Jumat sejak pukul 06.30 hingga 07.30.

“Semoga nanti bisa semakin meningkat (peserta yang ikut, Red). Kami ingin bukan hanya mahasiswa pascasarjana. Tapi, juga seluruh mahasiswa asing di UNAIR akan kami undang. Nanti (senam pagi) diakhiri dengan sarapan nasi bungkus bersama,” ucap Prof. Anwar.

Salah seorang mahasiswa asal Syria, Khalid, sangat antusias mengikuti gerakan instruktur senam yang berada di depan barisan peserta. Bukan hanya mengikuti gerakan instruktur, mahasiswa ekonomi Islam itu juga ikut menikmati latunan musik dangdut yang sengaja dipilih sebagai lagu pengiring senam.

“Saya ingin program olahraga seperti ini dilanjutkan terus-menerus supaya kita menjadi semangat dalam belajar,” ujar Khalid. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria




Tak Ingin Kehilangan Momen di UNAIR

UNAIR NEWS – “Nice to Know you,” ujar Nadia Thabet sembari mengulurkan tangannya ketika ditemui tim UNAIR NEWS di Kampus B Universitas Airlangga. Perpaduan wajah Western dan Timur Tengah membuatnya tampak cantik disertai rambut keriting sebahu. Tutur katanya lembut dan murah senyum membuat obrolan semakin hangat. Mahasiswi asal Le Havre Prancis itu tengah mengikuti Academic Mobility Exchange for Undergraduate at Airlangga (AMERTA) Universitas Airlangga.

Pada awalnya, ia merasa tak percaya diri ketika hendak mengikuti program tersebut. Namun, dengan niat yang kuat ingin menambah pengetahuan baru, Nadia memberanikan diri untuk menginjakkan kakinya di Indonesia. Seluruh ketakutannya mengenai Indonesia musnah taktala ia kali pertama bertemu dan berkomunikasi langsung dengan orang lokal yang langsung menawarinya bantuan.

”Orang Indonesia ramah sekali. Aku sangat senang. Aku merasa berada di rumah,” tuturnya.

Meski baru setengah tahun menginjakkan kaki di Indonesia, Nadia sudah berkeliling ke beberapa daerah di Jawa Timur, ditemani Buddy-nya selama di sini. Seperti tak ingin kehilangan satu momen menikmati kehangatan orang Surabaya dan keadaan di sekitarnya, Nadia selalu menyempatkan diri berkeliling sekitar kampus setelah jam kuliahnya di UNAIR usai.

“Meskipun belum lama di sini, aku sudah berkeliling Kota Malang, Batu, dan pernah ke Blitar. Bagus sekali di sana,” ujarnya gembira.

Nadia memang masih menjalani program Amerta tersebut hingga enam bulan ke depan, dengan durasi yang lumayan panjang itu, ia sudah merencanakan perjalanan-perjalanan pelesir selanjutnya untuk menambah daftar pengalaman yang dikumpulkannya selama di Indonesia. Yang paling penting bagi Nadia, dirinya tak ingin kehilangan satu momen pun di UNAIR. Ia pun tak canggung untuk sekadar nimbrung dalam obrolan- obrolan teman barunya meski tak seberapa paham dengan bahasa Indonesia

“Bahkan, dosen dan mahasiswa bisa dekat. Dengan staf pun begitu. UNAIR seperti rumah kedua bagi mereka,” ungkap Nadia.

Ditanya mengenai melanjutkan kuliah di UNAIR, setelah menyelesaikan kuliahnya di Prancis, Nadia berkeinginan untuk bisa melanjutkan sekolah di UNAIR. Nadia sudah terlanjur jatuh hati dengan Kampus tersebut.

“Aku yakin Universitas Airlangga bisa mencapai 500 dunia dengan kedisiplinan dan kegigihan yang dimiliki,” ujarnya. (*)

Penulis: Faridah Hari

Editor: Feri Fenoria




Haru Biru Closing Ceremony INDIAIR 2017 and AMERTA VII Program

UNAIR NEWS – Suasana yang riuh dan ceria menyelimuti Hall Amerta Kantor Manajemen Universitas Airlangga pada Jumat sore (8/12). Puluhan mahasiswa dengan warna kulit dan bahasa yang berbeda saling bercengkrama satu sama lain seperti tak ada batasan di antara mereka. Suasana makin larut taktala beberapa peserta maju mengenalkan diri dengan bahasa masing masing, mulai dari Prancis, Thailand, Jepang hingga Afrika. Para mahasiswa ini sedang menghadiri acara Closing Ceremony INDIAIR 2017 and AMERTA VII Program.

Kedua program buatan Universitas Airlangga yang diperuntukan kepada mahaisiswa asing yang ingin merasakan pengalaman belajar dan iklim akademik di Universitas Airlangga. Hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor I Universitas Airlangga Prof. Djoko Santoso, Ph.D dan Sekretaris Eksekutif Airlangga Global Engagement Dian Ekowati Ph.D.

Dalam sesi sambutan, baik Prof. Djoko maupun Dian mengungkapkan rasa terimakasih sebesar – besarnya kepada seluruh peserta yang telah mengikuti program tersebut. Diharapkan, melalui program tersebut mereka bisa belajar hal baru yang bisa bermanfaat pada kehidupan mendatang

“Kalian sudah menorehkan banyak kenangan di sini (Universitas Airlangga, red), saya harap dari sini kalian bisa belajar mengenai apapun. UNAIR bangga memiliki kalian,” ujar Prof. Djoko seraya disambut tepuk tangan meriah para peserta.

Suasana sempat menjadi haru ketika salah satu perwakilan mahasiwa AMERTA VII yakni Nadia Thabet asal Prancis diundang ke atas panggung untuk memberikan testimoni. Wajahnya ceria ketika di mibar namun belum sempat berkata panjang, matanya berkaca- kaca dan mulai terbata karena menahan tangis.

“UNAIR memberiku kenyamanan dan juga persahabatan. Aku akan terus mengingat kampus tercinta ini,” ujar Nadia.

Suasana yang haru biru tersebut ditambah dengan penampilan mahasiswa dari program INDIAIR yang menyanyikan lagu “We Are The One”. Lagu apik yang ditulis oleh penyanyi legendaries Michael Jackson dan Lionel Richie. Semua peserta mengangkat tangan ke atas dan menyanyikan lagu tersebut bersama.Di akhir acara, mereka berfoto bareng dan berpelukan satu sama lain.

“Jujur aku berat meninggalkan UNAIR. AKu sudah jatuh cinta. Ini rumah bagiku, aku harus kembali,” ungkap Dennies Pohl, salah satu peserta dari Jerman.(*)

Penulis: Faridah Hariani

Editor: Rio F. Rachman




UNAIR Sambut Puluhan Mahasiswa Asing pada Program ”INDIAIR”

UNAIR NEWS – Ruang Kahuripan terasa hangat Senin pagi (27/11). Puluhan mahasiswa asing dari berbagai negara tampak bercengkrama akrab dan saling mengenalkan diri. Mereka merupakan mahasiswa internasional dari beberapa universitas di Jawa Timur yang mengikuti program INDIAIR (Indonesian Diversity at Airlangga) di Ruang Sidang Pleno, Kantor Manajemen Universitas Airlangga.

INDIAIR merupakan kegiatan yang kali pertama digelar di UNAIR berupa short course yang berlangsung selama dua minggu. Dalam program itu, peserta akan dikenalkan dengan multikulturalisme dan keberagaman budaya di Indonesia. Beberapa course yang ditawarkan seperti Saman Class, Gamelan Class, Diskusi budaya, dan Lecture Field Trip.

Irfan Wahyudi S.Sos., M.Comms. selaku Head of International Program Division, Airlangga Global Engagement menyatakan bahwa dalam program tersebut, mahasiwa bakal dikenalkan dengan budaya atau iklim pengajaran di Universitas Airlangga.

”Lebih jauhnya program ini untuk menambah angka mobility mahasiswa asing di Universitas Airlangga. Kita perlu melakukan serangkaian inovasi. Ini salah satu caranya,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, juga hadir Wakil Rektor I, Prof. Djoko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., Ph.D., FINASIM; Diah Ariani Arimbi, S.S, M.A, Ph.D; dan keynote speaker Stanley Harsha, mantan diplomat Amerika Serikat yang bertugas di Indonesia.

Stanley memberikan gambaran singkat mengenai keberagaman di Indonesia dari sisi orang asing. Hal itu diharapkan bisa menambah wawasan  peserta INDIAIR 2017 kali ini.

Rajesh Dass, salah seorang peserta asal Nepal, menyatakan bahwa dirinya sangat senang mengikuti program tersebut. Terutama untuk mengetahui lebih dalam tentang kota yang ditinggalinya sekarang, yaitu Surabaya.

”Saya sangat tertarik dan antusias. Melaui program ini, akan lebih banyak tahu mengenai Indonesia, Surabaya, khususnya Universitas Airlangga,” ucapnya.

Penulis: Faridah Hari

Editor: Feri Fenoria




Mahasiswa Brunei Ikuti KKN UNAIR di Blitar

UNAIR NEWS – Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Brunei Darussalam belajar bersama masyarakat di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Mereka mengikuti Community Outreach Program selama dua minggu, terhitung sejak 6-21 Oktober 2017.

Community Outreach Program terselenggara atas kerjasama antara Universitas Airlangga dengan Universitas Brunei Darussalam. Dalam program itu, ada banyak pelajaran yang diterima mahasiswa. Pun sebaliknya, masyarakat Desa Kemloko juga mendapatkan pengajaran dari mahasiswa.

Selama di Kemloko, ada banyak aktivitas yang diikuti mahasiswa asing ini. Seperti membuat layang-layang, gula jawa, dan kripik singkong. Selain itu, mereka juga diajari memainkan wayang dan menari tarian reog bulqio, tarian reog asli Desa Kemloko.

“Kami diajari menari tarian reog bulqio dan diberi kesempatan untuk tampil di depan kepala desa ketika ada malam kebudayaan di sana,” ujar Nur Azimah Binti Majuasin, mahasiswa Brunei Darussalam jurusan Bussines Administration.

Hidup bersama masyarakat di Kemloko, bagi mereka merupakan pengalaman yang sangat baru. Bukan hanya cuaca dan makanan yang berbeda, aktivitas sehari-hari serta budaya masyarakat juga berbeda.

Selama di Kemloko, mereka tinggal bersama masyarakat setempat. Selain mengikuti aktivitas masyarakat, mereka juga mengajar siswa sekolah, dari PAUD hingga SMP.

“Bagi kami, semua pengalaman di sana baru. Yang paling berkesan adalah ketika mengikuti sholawatan. Saya senang karena tetangga di sana semua ramah,” ujar Nur Azimah Binti Majuassin mahasiswa prodi Bussines Administration.

Sementara itu, Nur Aqilah Binti Hj. Abd. Ghafar mahasiswa dari prodi yang sama mengatakan, dua minggu adalah waktu yang sangat singkat.

“Untuk KKN serupa yang akan diadakan periode semester depan, semoga durasi lebih diperpanjang. Sebab dua minggu kurang bagi kami untuk belajar budaya di sana,” ujar Aqilah, sapaan karibnya.

Selama mengikuti KKN yang diselenggarakan UNAIR, mereka bukan hanya mengikuti program di Kemloko, tapi juga Rumah Bahasa, Surabaya. Selama dua bulan di Rumah Bahasa, mereka mengajar Bahasa Inggris untuk berbagai kalangan.

Universitas Brunei Darussalam mengharuskan mahasiswanya menempuh Community Outreach Program selama satu semester sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Negara-negara di Asia menjadi jujugan mereka, salah satunya Indonesia.

“KKN ini bagian dari pengmas FIB yang terintegrasi. Kami bekerjasama dengan berbagai instansi untuk pelaksanakan KKN mahasiswa asing. Hal ini juga sebagai upaya memperkuat posisi FIB dengan desa binaan,” ujar Puji Karyanto, S.S, M.Hum Wakil Dekan I FIB UNAIR. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan




Gemar Sepak Bola, Mahasiswa Asal Jerman Ingin Teliti Soal “Bonek”

UNAIR NEWS – “Saya sangat curious dengan penggemar sepak bola disini (Indonesia, -red) terutama yang ada di Surabaya, BONEK. Saya ingin mengetahui lebih banyak,” ungkap Dennies Pohl salah satu Mahasiswa Asing Program Academic Mobility Exchange for Undergraduate at Airlangga (AMERTA) Universitas Airlangga.

Dennies Pohl merupakan mahasiswa asal Hamburg University jurusan kebudayaan Asia Tenggara. Selama mengikuti Program AMERTA yang akan berakhir Desember 2017 mendatang, ia akan menyempatkan diri untuk menyusun skripsi mengenai antusiasme pendukung sepak bola PERSEBAYA.

Kedatangannya ke Indonesia baru setengah bulan lalu, oleh karena itu sampai saat ini dia masih meraba-raba mengenai keberadaan Bonek itu sendiri. Saat di interview oleh UNAIR News, dia mengatakan bahwa sangat antusias dengan sepak bola di Surabaya, khususnya pendukung kesebelasan tersebut. Bahkan, ia sudah menyusun rencana untuk menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung dalam waktu dekat ini.

“Saya memang belum banyak mengenal, saya juga masih bingung mau bertanya dimana soal Bonek ini. Saya ingin lihat pertandingannya. Itu pasti,” tandasnya.

Ditanya mengenai ketertarikannya dengan sepak bola, terutama sepak bola ASEAN, Dennies mengatakan bahwa dirinya sering melihat turnamen sepak bola ASEAN via youtube. Dari situlah dia sangat takjub akan keberadaan supporter yang begitu semarak mendukung tim sepak bola favoritnya, terlebih saat ia melihat supporter Persebaya. Baginya, sorak supporter bersama dengan yel-yel yang seirama ketika tim sedang bermain di lapangan membuat kesan tersendiri.

“Saya sangat ingin tahu apa peran mereka dalam mendukung sepak bola dan motivasi mereka sebagi supporter,” jelas Dennies.

Dalam waktu dekat, Dennies berkeinginan menemui beberapa pendukung Persebaya yang akan ia mintai keterangan perihal data untuk skripsinya.

Sangat Tertarik Indonesia

Selain tertarik dengan pendukung sepak bola di Indoneisa, Dennies juga mengatakan bahwa keikutannya dalam program AMERTA ini tak lain karena kecintaanya pada Indonesia. Ia sangat penasaran dengan budaya Indonesia yang menurutnya beragam dan orang Indonesia yang ramah.

“Di sini saya belajar banyak mengenai kebudayaan dan juga makanan tradisional. Menarik sekali,” paparnya.

Ia berharap ilmu yang ia timba di sini dapat bermanfaat dan menambah wawasan dalam mendukung kuliahnya di Jerman

Penulis: Faridah Hariani

Editor: Nuri Hermawan




Yel-Yel Bikin Semarak, Lomba Mahasiswa Asing Bikin Ketawa

UNAIR NEWS – Suasana halaman gedung Rektorat UNAIR terasa begitu ramai Kamis pagi (17/8). Lomba-lomba dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia dihelat dengan meriah. Para sivitas akademika begitu bergairah dan penuh semangat.

Ada lomba yel-yel, sepeda lambat, parikan dan karaoke bahasa Jawa. Lomba yel-yel diikuti semua unit di UNAIR. Para peserta tak segan menampilkan busana yang penuh aksesoris sebagai bentuk totalitas.

Peserta dari  Pusat Informasi dan Humas (PIH), misalnya. Mereka mencoret pipi, memakai wig dan hiasan kepala, serta mengenakan hiasan rumbai-rumbai tali raffia pada pinggang. Mereka menggubah lagu Goyang Bang Jali yang dipopulerkan Denny Cagur menjadi Goyang Merdeka. Tepuk tangan meriah dan sorak sorai bersahutan usai penampilan tim yang memakai busana bernuansa merah maroon tersebut.

Setelah mereka, tampil tim dari Rumah Sakit UNAIR. Mereka membawa tabuh-tabuhan sederhana yang digunakan untuk mengiringi yel-yel. Para penabuh, mengenakan helm khas pagawai konstruksi. Sedangkan busana yang mereka pakai berwarna hijau, yang biasa dikenakan perawat atau dokter yang mengoperasi pasien.

Lomba sepeda lambat tak kalah semarak. Begitu pula, lomba parikan dan karaoke bahasa Jawa yang juga mengundang gelak tawa. Sebab, ada penampil yang bukan berasal dari daerah Jawa. Sehingga saat menyanyikan lagu, logat yang terlontar pun jadi lucu. Misalnya, peserta dari Pusat Informasi dan Humas bernama Helmy Rafsanjani, yang menyanyikan Prau Layar.

Yang tak kalah seru adalah lomba-lomba bagi mahasiswa asing. Airlangga Global Engagement menyelanggarakan lomba makan krupuk, terompah raksasa, dan memasukkan paku dalam botol. “Ini sepertinya mudah. Ternyata sulit juga,” kata salah seorang peserta sesaat setelah dia sukses memasukkan paku dalam botol dan berteriak, “Airlangga!” Kawan-kawan di sekitarnya pun bertepuk tangan dan tertawa.

Peserta lain bernama Lotte Patty mengaku bahagia karena bisa berpartisipasi dalam acara ini. “Ini pengalaman luar biasa. Para warga kampus menghias ruangan mereka dengan nuansa merah putih. Kami juga diajak ikut merayakannya,” kata mahasiswi asal Belanda ini.

“Kami sengaja memakai pakaian olahraga dan melakukan pemanasan laksana seorang atlet. Demi bisa menjadi pemenang dalam lomba terompah raksasa dan makan krupuk,” tambah Thomas Van Scholik, mahasiswa asal Belanda, lantas terkekeh. (*)

Penulis: Rio F. Rachman