SALAH seorang mahasiswa asing mengamati prose pembuatan kain batik dalam rangkaian kegiatan pengenalan budaya INDIAR 2019. (Foto: Istimewa)

Tips Mahasiswa Asing dalam Mengurangi Ketidakpastian Budaya

UNAIR NEWS – Keberadaan mahasiswa Asing di Universitas Airlangga tidak hanya menjadikan Universitas Airlangga dapat bersaing di lingkup nasional tapi juga kanca internasional. Mahasiswa asing di sini menjadi pelengkap dari keberagaman budaya akademik yang ada. Dapat diibaratkan, UNAIR adalah salah satu contoh miniatur Indonesia dengan banyaknya mahasiswa asing yang berasal dari Sabang sampai Merauke bahkan Internasional.

Kehadiran fenomena budaya meliputi bahasa, logat, dan karakter yang berbeda membuat mahasiswa asing di UNAIR mengalami ketidakpastian. Akibatnya, berbagai macam dugaan dan persepsi hadir untuk menghambat komunikasi antarbudaya yang efektif.

Hal tersebut membuat penyampaian pesan di antara dua kebudayaan itu menjadi terdistorsi atau terhambat. Akibatnya, perlu adanya simulasi dalam memahami komunikasi antarbudaya mahasiswa asing di UNAIR.

Seperti fenomena culture shock (gegar budaya) yang dialami oleh Laurent Andriamalala, mahasiswa S2 Media dan Komunikasi asal Madagaskar. Dia bercerita pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di kampus UNAIR. Laurent mengungkapkan bahwa dirinya mengalami ketidakpastian, perasaan ragu dan takut salah saat berhadapan dengan orang yang ditemuinya.

”Saya merasakan kebingungan ketika pertama kalinya menginjakkan kaki di UNAIR. Saya layaknya orang awam yang tidak mempunyai pengetahuan apapun,” ungkap Laurent.

”Ketika saya sedang mendengarkan dosen, bahasa Indonesia menjadi salah satu permasalahan yang saat ini saya hadapi. Tapi, saya masih terus belajar untuk menyesuaikan bahasa dan lingkungan di sekitar saya,” tambahnya.

Untuk mengurangi ketidakpastian tersebut, mahasiswa asing di UNAIR tentu akan melakukan berbagai macam cara. Salah satunya yaitu dengan meniru, menyamakan persepsi, dan mengadopsi nilai budaya yang ada. Agar lebih mudah diterima oleh lingkungannya. Kali ini, tim Unair News merangkum beberapa tips bagi mahasiswa asing yang ingin kuliah di UNAIR.

Pertama, adanya kemauan atau motivasi untuk beradaptasi dan belajar bahasa Indonesia dengan sesama teman di kelas. Hal tersebut dapat didapatkan ketika mahasiswa asing yang berkuliah di UNAIR aktif dalam mendengarkan dan menyesuaikan dengan lawan bicaranya. Pentingnya belajar menyenangi hidup bersama dengan budaya yang berbeda akan membuat komunikasi menjadi lebih efektif.

Kedua, menciptakan persepsi positif dalam mengenal kebudayaan yang berbeda. Persepsi itu dapat membantu mahasiswa asing dalam berkomunikasi, khususnya ketika kali pertama bertemu dengan orang baru yang belum ia kenal.

Berkomunikasi secara aktif dan interaktif dengan dosen maupun teman sekelas menjadi salah satu cara mahasiswa asing dalam memulai pembicaraan serta mengenalkan dirinya. Jadi, mahasiswa asing di sini dapat menghargai perbedaan budaya serta mengesampingkan ego maupun prasangka dalam diri.

Ketiga, Lingkungan sosial tempat mahasiswa asing berada. Kondisi lingkungan belajar mahasiswa asing, nyatanya, juga mempengaruhi mahasiswa asing dalam berkomunikasi. Untuk memperlancar bahasa Indonesia, mahasiswa asing diharapkan dapat memilih tempat tinggal kos untuk dapat langsung berinteraksi dengan masyarakat Surabaya. Sebab, kurangnya pengenalan lingkungan sosial dan budaya dapat membuat mereka memperoleh pengetahuan terbatas akan lingkungan sekitar. Jadi, prasangka maupun dugaan negatif akan menjadi lebih terminimalkan.

Ketiga faktor diatas diharapkan dapat dipahami oleh mahasiswa asing yang ingin berkuliah di UNAIR. Khususnya dalam meminimalkan ketidakpastian budaya yang terjadi. (*)

 

Penulis: Khefti Al Mawalia                                                                                                Editor: Feri Fenoria




SEJUMLAH mahasiswa dari luar negeri melihat dan belajar cara membatik dalam rangkaian kegiatan program Winter Session bertajuk Indonesian Diversity at Airlangga (INDIAIR). (Foto: Istimewa)

INDIAIR Ajak Mahasiswa Asing Kenali Budaya Lokal

UNAIR NEWS – Dalam usahanya mewujudkan keunggulan reputasi dan nilai kompetitif menuju World Class University, Universitas Airlangga melalui Airlangga Global Engagement (AGE) menghadirkan program Winter Session bertajuk Indonesian Diversity at Airlangga (INDIAIR). Tema itu bertujuan untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing, selama 12 belas hari sejak tanggal 14 hingga 26 Januari 2019.

Kegiatan tersebut dibagi dalam dua program, yaitu in-class yang diselenggarakan di Universitas Airlangga dan field-trip, on-site visit, serta cultural trips di beberapa tempat. Program itu diawali dengan student summit yang diisi oleh beberapa pembicara. Tujuannya, memberikan gambaran umum mengenai keberagaman di Indonesia sebelum nanti peserta mengeksplorasi lebih lanjut melalui program yang telah disediakan.

Penyelenggaraan kelas internasional itu bertujuan untuk meningkatan kualitas layanan pendidikan, meningkatkan daya tarik bagi mahasiswa asing, dan meningkatkan indeks mobilitas internasional. Harapannya dengan mengikuti program INDIAIR, mahasiswa asing dapat memahami situasi budaya yang berbeda, mendapatkan wawasan dan pengalaman yang luas, serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pluralisme dalam sistem demokrasi.

Wilda Qonita Romadhona selaku penanggung jawab INDIAIR 2019 menyampaikan, pelaksanaan kegiatan itu turut didukung dengan anggota komite. Mereka mendampingi peserta INDIAR sepanjang program. Khususnya saat para peserta memiliki pertanyaan dan kebingungan.

Menurut Wilda, INDIAR yang fokus pada keragaman Indonesia di UNAIR itu adalah program tahunan yang diprakarsai oleh Airlangga Global Engagement (AGE). Khususnya untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia.

”Tahun ini menandai kali kedua INDIAIR digelar. Dalam dua minggu ke depan, Anda mengalami Keanekaragaman Indonesia melalui kelas, kunjungan lapangan, dan bergaul dengan masyarakat setempat,” ujarnya.

”Saya harap Anda semua menikmati program ini dan mendapatkan pengalaman baru. Khususnya soal Budaya Indonesia,” imbuhnya.

Kegiatan tersebut cukup dianjurkan untuk mengekspos kualitas pendidikan UNAIR di mata mahasiswa dan partner internasional. Waktu pelaksanaan programnya pun cukup strategis. Mengingat, waktu pelaksanaannya pun bertepatan dengan masa liburan di musim dingin. 

Sementara itu, Nabila, salah seorang mahasiswa asing asal Management and Sains University, Malaysia, mengungkapkan rasa senangnya saat hadir dan mengikuti program tersebut dengan mendapatkan banyak pengalaman. Dia juga dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk turut serta mengeksplorasi kebudayaan serta pendidikan yang ada di UNAIR.

“Saya senang dapat mengikuti program ini. keunikan bahasa, keberagaman budaya, dan aneka macam makanan menjadi salah satu pengalaman berharga bagi saya,” ungkap Nabila.

“Saya juga mendapatkan banyak teman di sini. Bahasa asing saya juga menjadi lebih baik lagi tambahnya.

Melalui program yang dilaksanakan oleh AGE, UNAIR membuktikan bahwa mobilitas akademik perguruan tinggi negeri ini telah siap untuk bersaing dengan perguruan tinggi negeri lainnya. Hal tersebut didukung dengan mobilitas akademik yang didukung dengan kelas internasional serta fasilitasnya yang telah mumpuni untuk belajar sejumlah mata kuliah unggulan. (*)

 

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Feri Fenoria




UNAIR Sambut Ratusan Mahasiswa Asing yang Akan Jalani Pendidikan

UNAIR NEWS – Setiap tahunnya Universitas Airlangga menerima mahasiswa asing dari berbagai negara. Melalui Airlangga Global Engagement (AGE), mahasiswa asing yang diterima UNAIR disambut dalam acara Welcoming Reception International Students. Acara tersebut berlangsung pada Jumat (14/9), bertempat di Aula Kahuripan 300 Kampus C UNAIR.

Irfan Wahyudi, Ph.D, selaku staf ahli program internasional AGE mengatakan, Welcoming Reception International Students dilaksanakan guna menyambut mahasiswa asing yang akan memulai proses pendidikan di UNAIR. Irfan mengatakan, saat ini, ada sebanyak 200 mahasiswa asing menimba ilmu di UNAIR. Mahasiswa tersebut berasal dari berbagai negara di Asia, Eropa, dan Afrika.

“Mahasiswa masuk dari berbagai jalur seperti Airlangga Development Scholarship (ADS), Program AMERTA, Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Dharmasiswa, dan program regular,” tambahnya.

Saat ini, lanjut Irfan, tercatat mahasiswa asing yang diterima dari program AMERTA sejumlah 37 mahasiswa. Sedangkan dari Dharmasiswa terdapat 9 mahasiswa, 5 dari 10 mahasiswa berasal dari KNB, 12 dari 32 mahasiswa berasal dari ADS, dan 14 mahasiswa berasal dari program regular.

Irfan mengatakan, mahasiswa nantinya akan mengikuti kuliah dengan program bergelar dan non gelar.  Program bergelar salah satunya ialah dari beasiswa KNB yang diperuntukkan bagi mahasiswa S2. Sedangkan program non gelar yang berasal dari beasiswa Dharmasiswa diperuntukkan bagi mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia saja.

“Dengan berbagai program beasiswa yang disediakan dan peningkatan kualitas dari masing-masing bidang studi di UNAIR, kami berupaya untuk terus menarik minat mahasiswa asing, baik program bergelar maupun non gelar yang nantinya membuat UNAIR akan semakin dikenal secara global,” tuturnya.

Salah satu mahasiswa asing yang diterima UNAIR disambut dalam acara Welcoming Reception International Students, Jumat (14/9). (Foto: M. Najib Rahman)

Sementara itu, Klawdia Frost, mahasiswa asing asal Polandia menceritakan perasaannya saat pertama kali di Indonesia. Mahasiswa dari program Dharmasiswa tersebut mengaku mengalami masalah culture shock dan homesick. Namun dirinya mengakui bahwa masalah tersebut merupakan masalah yang wajar ketika berada di lingkungan baru.

“Seiring berjalannya waktu pasti masalah ini akan hilang dan saya berharap kita semua dapat menikmati proses belajar di sini,” ungkapnya.

Lain halnya dengan Klawdia, Faith Fore menceritakan keseruannya saat berada di Indonesia. Hal itu dikarenakan dirinya sering diajak foto bersama oleh masyarakat sekitar. Tanpa basa basi Faith pun menerima ajakan masyarakat yang ingin berfoto dengnnya.

“Masyarakat Indonesia khususnya warga UNAIR sangat ramah dan siap membantu kita semua. Jadi kita juga harus melakukan hal yang sama dengan mereka,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




DARI kanan, Rektor Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., Ak., CMA., Ahmed Muhammad Omar Al-Madani dalam prosesi pelantikan wisuda pada Minggu (9/9) di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus C UNAIR. (Foto: Agus Irwanto)

Selendangkan Bendera Palestina, Mahasiswa Asal Gaza Diwisuda

UNAIR NEWS Berdasar agenda akademik Universitas Airlangga pada September 2018, diadakan tiga agenda pelantikan wisuda oleh Rektor Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., Ak., CMA. Yakni, pada Sabtu (8/9), Minggu (9/9), dan Selasa (11/9).

Agenda wisuda Minggu menjadi hal yang tidak terlupakan bagi salah seorang mahasiswa UNAIR asal Timur Tengah. Adalah Ahmed Muhammad Omar Al-Madani. Salah seorang mahasiswa UNAIR asal Gaza, Palestina, itu diwisuda bersama total 3.667 lulusan lainnya.

Ahmed, sapaan akrabnya, tercatat sebagai mahasiswa UNAIR program studi S3 Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Sebelum itu, Ahmed menjalani ujian doktor terbuka di Ruang Adi Sukadana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR pada Senin (16/7).

Disertasi berjudul “Hamas And Iran : A Strategy Alliance Betwen A State And A  Non State Actor (2005-2015)” mengantarkan Ahmed merengkuh gelar doktornya di UNAIR. Hingga akhirnya, dia diwisuda rektor pada Minggu (9/9) bersama 1.330 lulusan.

Mengenai perjalanan panjangnya menempuh pendidikan di UNAIR, Ahmed masuk dan tergabung menjadi mahasiswa UNAIR secara resmi terhitung sejak November 2013. Hal itu diakbatkan kondisi negaranya yang kurang kondusif, hingga Ahmed tertahan di perbatasan.

Ahmed mengenang kisahnya hingga sampai di Indonesia, tepatnya di Surabaya. Dia mesti melakukan banyak perjalanan. Bahkan, melakukan tak sedikit upaya penjelsan kepada penjaga perbatasan.

”Untuk keluar dari Gaza, saya harus melewati Rafah Border. Rafah Border merupakan pembatas antara Gaza dan Mesir. Rafah Border selalu tertutup dan hanya orang orang tertentu yang bisa mengaksesnya,” kenangnya.

Setiap hari Ahmed mestu pergi ke Rafah Border. Tujuannya hanya satu, yaitu melakukan negoisasi kepada penjaga di sana. Terutama agar dia bisa keluar dan terbang ke Indonesia.

“Waktu itu, hanya ada dua pilihan, saya tetap tinggal di Gaza dengan situasi yang seperti ini atau saya keluar dari Gaza dan membuat hidupku lebih baik (melanjutkan pendidikan, Red),” ungkapnya.

Ahmed akhirnya berkesepatan menerima Beasiswa Unggulan untuk mahasiswa asing yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hingga, perjuangannya itu berbuah. Ahmed menyelesaikan pendidikan S3-nya di UNAIR.

Dalam wisudanya di Airlangga Convention Center, Kampus C UNAIR, Ahmed diwisuda bersama lulusan S3 FISIP yang lain. Ada hal yang tampak berbeda dalam prosesi wisudanya kali ini. Tepatnya saat namanya dipanggil untuk mendapat sertifikat wisuda. Ahmed terlihat mengenakan selendang atau slayer bergambar bendera Palestina dengan dominasi warna merah, putih, hijau, dan hitam.

Rektor Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., Ak., CMA., pun memberikan selamat kepada Ahmed. Tak disangka, Ahmed mengalungkan selendang berbendera Palestina itu kepada rektor yang tampak menyambut prosesi itu. Tepuk tangan dari para wisudawan dan undangan yang hadir sontak terdengar.

”Terima kasih Universitas Airlangga. Terima kasih Indonesia. Atas kesempatan dan pengalaman ini,” ungkap Ahmed. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifa’I




IHSAN Idrees (jibab merah maroon, bertopi) mahasiswa S2 Hubungan Internasional FISIP UNAIR asal Palestina meraih juara I lomba tempeh dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-73 RI yang diadakan di Pusat Bahasa UNAIR. (Foto: Istimewa)

15 Mahasiswa Asing Ikuti Lomba 17-an di Pusat Bahasa UNAIR

UNAIR NEWS – Memasuki Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-73 Bangsa Indonesia, beragam perayaan diadakan sivitas Universitas Airlangga. Lomba-lomba yang merekatkan kerja sama tim dan kekompakan digelar. Bukan hanya mahasiswa, perayaan kemerdekaan juga diikuti dosen dan karyawan.

Kali ini Pusat Bahasa UNAIR turut menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan mengajak serta mahasiswa asing yang berstudi di UNAIR. Sebanyak 15 mahasiswa asing mengikuti lomba Agustus-an bersama karyawan dan pengajar di pusat bahasa UNAIR pada Kamis (16/8). Lomba-lomba itu sekaligus menjadi ajang memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada mereka.

Salah seorang panitia lomba yang juga Koordinator Training dan Test Pusat Bahasa UNAIR Imroatul Muhsinah., S.S., M.Pd, menyatakan bahwa kegiatan perlombaan tersebut bertujuan mengenalkan tradisi masyarakat Indonesia kepada mahasiswa asing. Khususnya mereka yang tengah belajar bahasa Indonesia di Pusat Bahasa UNAIR.

Muhsinah menambahkan, jenis lomba yang digelar, antara lain, lomba makan kerupuk, meletakkan tempeh di atas kepala, memasukkan paku ke dalam botol, dan memasukkan gelang karet ke sedotan. Di UNAIR, mahasiswa asing itu menempuh studi yang berbeda-beda dari jenjang S2 hingga S3. Di antaranya, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Sebanykan 15 mahasiswa asing itu berasal dari Myanmar, Zimbabwe, dan Palestina. Sebagian besar dari mereka studi di UNAIR dengan beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KMB) dari pemerintah Indonesia.

Sementara itu, salah seorang peserta asal Palestina Ihsan Idrees mendapat juara I lomba meletakkan tempeh di atas kepala. Mahasiswa S2 Hubungan Internasional FISIP UNAIR tersebut terlihat sangat antusias mengikuti perlombaan.

Ihsan mengungkapkan kegembiraanya saat mengikuti perlomban itu. Meski baru, Ihsan tampak sangat menikmati beragam perlombaan yang diadakan.

”Saya senang sekali mengikuti lomba ini. Saya juga senang ikut kompetisi. Kalau tahun depan ada, aku suka (ingin, Red) ikut,” ujarnya.

”Sebenarnya saya ingin lomba makan kerupuk. Itu kompetisi yang bagus, tapi karena aku puasa jadi aku nggak bisa ikut. Saya juara I meletakkan tempeh di atas kepala. Saya suka bisa melatih keseimbangan di kepala,” tambahnya. (*)

Penulis: Faris Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




FK UNAIR Terima Kedatangan 9 Mahasiswa Asing

UNAIR NEWS – Memasuki bulan Juli 2018,  Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kembali menerima kedatangan mahasiswa asing program student exchange. Kali ini mahasiswa asing berjumlah sembilan orang asal Slovakia, Greece, Austria, Lithuania, Prancis dan Polandia.

Mereka akan menetap sementara selama sebulan untuk melakukan penelitian di Departemen Mikrobiologi FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo dan Institute Tropical Diseases (ITD) Universitas Airlangga.

Kedatangan para mahasiswa asing ini disambut oleh Dekan FK UNAIR  Prof. Dr. dr. Soetojo, SpU (K) didampingi Prof. Dr. dr Nancy Margarita Rehatta, Sp.AnK.IC beserta sejumlah mahasiswa FK UNAIR yang tergabung dalam ormawa Center for Indonesian Medical Students (CIMSA) UNAIR, di Ruang Sidang C FK UNAIR (2/7).

Mereka berasal dari Jessenius Faculty of Medicine, Democritus University of Thrace, University of Rennes, Faculty of Rouen, Medical University of Vienna, Lithunian University of Health Sciences, Charles University, Prague, Medical University of Lubin, dan University of Pavol Jozef Safarik, Kosice.

Baiq Dwi Hadiatul Azni selaku Vice Local Coordinator for External Affair CIMSA UNAIR mengungkapkan, di minggu pertama kedatangan, tim mahasiswa CIMSA akan mendampingi para mahasiswa asing untuk menjalani serangkaian kegiatan pembelajaran dasar tentang virus dan mikrobiologi. Setelah dibekali ilmu dasar, selanjutnya para mahasiswa asing akan melakukan penelitian di ITD UNAIR selama tiga minggu.

Dalam setahun, FK UNAIR rutin menerima kedatangan mahasiswa asing program student exchange dalam kurun waktu tiga bulan. Yakni periode bulan Juli, Agustus dan September. Para mahasiswa asing yang datang ke FK UNAIR sebelumnya telah melalui proses seleksi oleh The International Federation of Medical Students Associations (IFMSA).

Untuk mendukung internasionalisasi, FK UNAIR juga mengirim mahasiswanya mengikuti program student exchange ke sejumlah institusi pendidikan kedokteran manca negara. Dalam waktu dekat, salah satu mahasiswa FK UNAIR bernama Kevion Alvaro Handoko akan berangkat ke Polandia untuk mengikuti program student exchange.

Aktivitas mahasiswa kedokteran asing program student exchange juga tak lepas dari peran CIMSA UNAIR. Peran CIMSA dalam hal ini sebagai penghubung antara mahasiswa asing dengan departemen yang dituju. CIMSA juga membuat projek khusus agar mahasiswa asing tidak hanya belajar dan penelitian saja, namun juga melibatkan mereka dalam kegiatan sosial di lingkungan setempat.

Seperti diketahui CIMSA merupakan ormawa external mahasiswa FK UNAIR. Mereka mengelola enam bidang kegiatan kemasyarakatan. Antara lain SCOORE (penelitian), SCOPE (professional exchange), SCOPH (pengmas), SCORA (program reproduksi seksual dan HIV AIDS), SCORP (hak asasi dan perdamaian dunia, serta SCOME (bidang medical education). (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Surat Pernyataan Rektor Pasca Teror Bom Membuahkan Hasil

UNAIR NEWS – Sehari pasca teror bom yang menyerang 3 gereja di Surabaya Minggu pagi (13/5), Universitas Airlangga bergerak cepat untuk menstabilkan situasi. Terkait aksi teror itu, Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA, mengeluarkan surat pernyataan bernomor 1383/UN3/LN/2018.

Salah satu tujuan dari dikeluarkannya surat itu adalah untuk menenangkan mitra UNAIR yang berada di luar negeri, serta mahasiswa asing yang melakukan studi di UNAIR.

Tidak hanya dalam bentuk surat, UNAIR juga melakukan beberapa kegiatan pemulihan. Kegiatan itu dalam bentuk pemberian konselor dari dosen Fakultas Psikologi kepada murid-murid yang letak sekolahnya berdekatan dengan gereja. UNAIR juga menyediakan guest house bagi mahasiswa asing yang merasa khawatir dengan lingkungan Surabaya.

Tidak berhenti sampai situ, untuk menjaga kenyamanan dan keamanan, UNAIR juga siap menerjunkan personil untuk mengantarkan mahasiswa asing yang akan bepergian.

Menurut Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Prof. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, gerak cepat ini telah memberikan impact yang sangat baik. Terbukti, mitra UNAIR yang berada di luar negeri tetap melaksanakan agenda seperti biasa. Salah satunya adalah mitra dari negara Taiwan yang tetap berkunjung ke UNAIR, Jumat (18/5). Lebih jauh, lanjut Prof. Nyoman, mahasiswa asing yang studi di UNAIR juga tidak ada yang menginginkan pulang ke negara asal karena teror bom di Surabaya.

Ke depan, diharapkan kejadian serupa tidak terulang lagi sehingga segala proses belajar mengajar dan kerjasama UNAIR dengan mitra asing tidak mengalami kendala.

Untuk layanan komunikasi, AGE masih terus membuka jalur informasi melalui Executive Director Airlangga Global Engagement Prof. Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Mobile Phone +628113452009, email international@global.unair.ac.id) (*)

Penulis: Humas FKG

Editor: Binti Q. Masruroh




Kuliah Lapangan, Mahasiswa Brunei Belajar Alam hingga Tradisi

UNAIR NEWS Bagi masyarakat dunia, kekayaan alam, budaya, bahasa, dan tradisi di Indonesia memang sangat beragam. Karena itu, tidak sedikit, baik para pelancong maupun pelajar asing, yang berkunjung ke Indonesia untuk menikmati serta belajar tentang banyak hal.

Melalui Community Outreach Program yang dilaksanakan Universiti Brunei Darussalam (UBD) dengan menggandeng Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, sebanyak 12 mahasiswa UBD belajar banyak hal dalam kuliah lapangan di Blitar, Jawa Timur.

Bertempat di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kuliah Lapangan yang dilangsungkan selama lebih dari satu bulan itu diisi dengan berbagai kegiatan. Fendi Susilo selaku tim dari kelompok sadar wisata desa setempat menyatakan bahwa pihaknya sudah kali kedua menerima kunjungan peserta kuliah lapangan dari mahasiswa UBD.

“Ini sudah kunjungan yang kedua. Hanya, yang pertama kemarin waktunya sangat pendek. Dan, yang kedua ini lebih dari satu bulan,” paparnya saat ditemui UNAIR NEWS pada Sabtu (3/2).

Dalam kuliah lapangan yang akan berakhir pada 25 Februari mendatang tersebut, Fendi mengungkapkan bahwa pihaknya memberikan pelajaran kepada mahasiswa tentang keseharian masyarakat setempat. Mulai belajar berbahasa jawa, membuat olahan makanan tradisional, hingga belajar untuk mengenal alam lebih luas.

“Karena waktunya panjang, jadi, banyak hal yang kami berikan. Salah satunya, mengenalkan mereka tentang produksi teh dan pendakian ke gunung,” tambah Fendi.

Meski demikian, Fendi menambahkan bahwa mahasiswa UBD tidak sekadar menerima pelajaran. Dalam kuliah lapangan itu, mahasiswa UBD juga memberikan pelajaran bahasa Inggris kepada masyarakat dan siswa-siswi madrasah ibtidaiyah setempat.

“Jadi, tugas utama mereka ini memang memberikan pengabdian. Ya, seperti mengajarkan bahasa Inggris. Jadi, kita di sini semua sama-sama mendapatkan pelajaran,” jelasnya.

Senada dengan itu, Edy Syahril, salah seorang mahasiswa UBD, yang mengikuti program tersebut membenarkan pernyataan Fendi. Dia dan tim mengikuti program kuliah lapangan yang digagas kampusnya dengan tujuan utamanya memberikan pelayanan dan belajar tentang budaya setempat.

“Tujuan utama kami di sini memang belajar budaya dan memberikan pelayanan berupa mendidik masyarakat untuk belajar bahasa Inggris,” jelas Edy.

Pada akhir, Fendi menambahkan bahwa ke depan pihaknya memberikan wawasan tentang potensi kekayaan alam dan sejarah tentang peradaban bangsa Indonesia di Blitar kepada 12 mahasiswa UBD. “Kami juga akan mengajak mereka ke situs peninggalan Majapahit di daerah wisata Rambut Monte dan makam Proklamator Bung Karno,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Senam mahasiswa asing

Mahasiswa Berbagai Negara Ikuti Senam di Pascasarjana

UNAIR NEWS – Bermula dari mahasiswa asing asal Myanmar yang mengalami sakit punggung (low back pain) ketika di Surabaya, wakil direktur I Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga beserta jajaran pimpinan lantas mengajak para mahasiswa asing mengikuti senam sehat setiap Jumat. Seperti yang terlihat pada Jumat pagi (2/2) di depan gedung Magister Manajemen UNAIR.

Keseruan senam itu diikuti oleh pimpinan, ketua program studi dan staf di lingkungan pascasarjana, serta seluruh mahasiswa asing. Termasuk mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sekolah Pascasarjana (HIMASEPA).

Total, ada 14 mahasiswa asing dari berbagai negara yang belajar di pascasarjana. Mereka berasal dari Myanmar, Syria, Tanzania, Rwanda, dan Nigeria. Program studi yang mereka ambil, antara lain, pengembangan sumber daya manusia (PSDM), imunologi, ilmu forensik, bioteknologi perikanan dan kelautan, serta ekonomi Islam.

“Seluruh mahasiswa asing pascasarjana ikut senam di sini. Ternyata mereka sangat antusias. Apalagi dengan lagunya dangdut Via Vallen. Mereka sangat senang,” ujar Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, drh., M. Kes.

Selain mengajak para mahasiswa senantiasa menjaga kesehatan, lanjut Prof. Anwar, senam sehat setiap Jumat tersebut bertujuan memupuk kekeluargaan antar mahasiswa dan sivitas di pascasarjana. Sebab, mahasiswa asing sangat mungkin mengalami perasaan sendiri dan rindu kampung halaman, negara asal.

“Dengan senam ini, di satu sisi, kami ingin mereka banyak gerak, tidak gampang sakit. Kemudian, mereka merasa enjoy di sini, tidak merasa asing di UNAIR. Itu yang kami inginkan,” tambahnya.

Demi menjalin keakraban dengan mahasiswa, lanjut Prof. Anwar, bersama pimpinan pascasarjana yang lain, pihaknya ingin mengundang mahasiswa asing untuk ramai-ramai berkunjung ke rumah. Itu semata-mata dilakukan agar mereka merasa UNAIR menjadi rumah keduanya.

Sesaat setelah para mahasiswa asing mengikuti senam pagi di Kampus B UNAIR. (Foto: Istimewa)

Dalam kesempatan itu, Prof. Anwar sekaligus mengundang seluruh mahasiswa asing yang menempuh studi di UNAIR agar mengikuti senam pagi di pascasarjana. Senam pagi dilakukan setiap Jumat sejak pukul 06.30 hingga 07.30.

“Semoga nanti bisa semakin meningkat (peserta yang ikut, Red). Kami ingin bukan hanya mahasiswa pascasarjana. Tapi, juga seluruh mahasiswa asing di UNAIR akan kami undang. Nanti (senam pagi) diakhiri dengan sarapan nasi bungkus bersama,” ucap Prof. Anwar.

Salah seorang mahasiswa asal Syria, Khalid, sangat antusias mengikuti gerakan instruktur senam yang berada di depan barisan peserta. Bukan hanya mengikuti gerakan instruktur, mahasiswa ekonomi Islam itu juga ikut menikmati latunan musik dangdut yang sengaja dipilih sebagai lagu pengiring senam.

“Saya ingin program olahraga seperti ini dilanjutkan terus-menerus supaya kita menjadi semangat dalam belajar,” ujar Khalid. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria




Tak Ingin Kehilangan Momen di UNAIR

UNAIR NEWS – “Nice to Know you,” ujar Nadia Thabet sembari mengulurkan tangannya ketika ditemui tim UNAIR NEWS di Kampus B Universitas Airlangga. Perpaduan wajah Western dan Timur Tengah membuatnya tampak cantik disertai rambut keriting sebahu. Tutur katanya lembut dan murah senyum membuat obrolan semakin hangat. Mahasiswi asal Le Havre Prancis itu tengah mengikuti Academic Mobility Exchange for Undergraduate at Airlangga (AMERTA) Universitas Airlangga.

Pada awalnya, ia merasa tak percaya diri ketika hendak mengikuti program tersebut. Namun, dengan niat yang kuat ingin menambah pengetahuan baru, Nadia memberanikan diri untuk menginjakkan kakinya di Indonesia. Seluruh ketakutannya mengenai Indonesia musnah taktala ia kali pertama bertemu dan berkomunikasi langsung dengan orang lokal yang langsung menawarinya bantuan.

”Orang Indonesia ramah sekali. Aku sangat senang. Aku merasa berada di rumah,” tuturnya.

Meski baru setengah tahun menginjakkan kaki di Indonesia, Nadia sudah berkeliling ke beberapa daerah di Jawa Timur, ditemani Buddy-nya selama di sini. Seperti tak ingin kehilangan satu momen menikmati kehangatan orang Surabaya dan keadaan di sekitarnya, Nadia selalu menyempatkan diri berkeliling sekitar kampus setelah jam kuliahnya di UNAIR usai.

“Meskipun belum lama di sini, aku sudah berkeliling Kota Malang, Batu, dan pernah ke Blitar. Bagus sekali di sana,” ujarnya gembira.

Nadia memang masih menjalani program Amerta tersebut hingga enam bulan ke depan, dengan durasi yang lumayan panjang itu, ia sudah merencanakan perjalanan-perjalanan pelesir selanjutnya untuk menambah daftar pengalaman yang dikumpulkannya selama di Indonesia. Yang paling penting bagi Nadia, dirinya tak ingin kehilangan satu momen pun di UNAIR. Ia pun tak canggung untuk sekadar nimbrung dalam obrolan- obrolan teman barunya meski tak seberapa paham dengan bahasa Indonesia

“Bahkan, dosen dan mahasiswa bisa dekat. Dengan staf pun begitu. UNAIR seperti rumah kedua bagi mereka,” ungkap Nadia.

Ditanya mengenai melanjutkan kuliah di UNAIR, setelah menyelesaikan kuliahnya di Prancis, Nadia berkeinginan untuk bisa melanjutkan sekolah di UNAIR. Nadia sudah terlanjur jatuh hati dengan Kampus tersebut.

“Aku yakin Universitas Airlangga bisa mencapai 500 dunia dengan kedisiplinan dan kegigihan yang dimiliki,” ujarnya. (*)

Penulis: Faridah Hari

Editor: Feri Fenoria