Kemeriahan Dies Natalis FF ke-54

UNAIR NEWS – Tak kurang dari seribu orang memadati halaman depan Kantor Manajemen Kampus C Universitas Airlangga, Minggu pagi (24/9). Mereka terlihat bersemangat mengikuti senam dan jalan sehat yang dihelat oleh Fakultas Farmasi (FF). Senam dan jalan sehat ini merupakan rangkaian Dies Natalis FF yang ke-54.

Kepada UNAIR News Dekan FF Dr. Umi Athijah, Apt., M.S. mengatakan, senam dan jalan sehat sebagai bagian dari Dies natalis FF kali ini cukup istimewa karena digelar di Kampus C. Hal ini salah satunya bertujuan mengenalkan gedung baru FF di Kampus C yang rencananya mulai beroperasi tahun depan.

“Istimewanya Dies Natalis kali ini karena kita melihat gedung baru yang sedang dalam pembangunan. Ke depan, akan ada gedung FF yang megah,” ucap Umi.

Umi berharap, hadirnya gedung baru ini menambah semangat para sivitas akademika utamanya keluarga besar FF. Bukan hanya gedungnya yang baru, namun juga semangat, prestasi, juga kontribusinya diharapnya akan lebih besar lagi terhadap UNAIR.

“Sejak berdiri FF sudah pindah empat kali. Mudah-mudahan ini terakhir, karena menyatu dengan korps kesehatan yang lain seperti Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan utamanya Rumah Sakit UNAIR,” ungkap Umi.

Selain sivitas akademika FF, senam dan jalan sehat kali ini juga diikuti oleh alumni FF dari beragam angkatan, pimpinan dan pejabat di lingkungan UNAIR, juga Rektor UNAIR tahun 2006-2015 Prof. Dr. Fasich, Apt.

Kepada UNAIR News Fasich mengatakan, saat ini FF tengah menaruh perhatian lebih pada peningkatan prestasi, baik prestasi dosen maupun mahasiswa. Dengan amanah pemerintah kepada UNAIR menuju Top 500 World Class University (WCU), ia berharap bukan hanya FF namun juga fakultas lain bahu membahu mewujudkan hal itu.

“Kita sedang fokus pada prestasi mahasiswa dan dosen. WCU saya kira jadi beban semua fakultas, termasuk FF. Dengan kekuatan yang ada di farmasi, saya yakin bisa, asal kompak,” ujar Fasich.

Di antara pimpinan UNAIR salah satu yang ikut datang yaitu Wakil Rektor IV bidang Jejaring Alumni dan Bisnis Junaidi Khotib, S.Si, Apt., M.Kes. Junaidi mengatakan, usia 54 tahun adalah perjalanan panjang FF untuk terus memperbaiki kualitas dan sistem pembelajaran yang ada.

“Dengan usia ke-54 dan segala upaya yang telah dilakukan fakultas ini, FF akan terus mensupport sepenuhnya cita-cita universitas untuk menjadi perguruan tinggi yang berguna bagi peradaban kemanusiaan,” ungkap Junaidi.

Peringatan Dies Natalis FF kali ini diisi dengan beragam acara. Di antaranya, diskusi panel ilmiah, bakti sosial, seminar dan konferensi nasional. Rangkaian peringatan Dies Natalis itu sudah berjalan sejak bulan Juli lalu. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

 




Riset Obat Anti Malaria Siap Dikembangkan

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga sedang gencar menggarap penelitian bidang kesehatan yang berpotensi untuk dihilirisasi industri dan lembaga­-lembaga. Buktinya, kedua pimpinan UNAIR dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan  Republik Indonesia memperpanjang kerjasama terkait hilirisasi produk, Sabtu (5/8).

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, Ph.D dan Ketua Balitbang Kemenkes Siswanto, dr., MHP., DTM. Pada saat bersamaan, Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi Prof. Hery Purnobasuki, Ph.D melakukan penandatanganan nota kesepakatan bersama Kepala Balitbangkes Tanaman Obat dan Obat Tradisional Dra. Lucie Widowati, M.Si., Apt.

Menurut Junaidi, kolaborasi antara UNAIR dengan Balitbangkes dapat mempercepat proses hilirisasi produk.

“Penelitian UNAIR di bidang kesehatan bisa dilakukan untuk percepatan hilirisasi hanya jika peneliti menjalin kerjasama dengan industri dan regulator. Tujuannya agar suatu produk mendapat approve (persetujuan) yang sesuai dengan persyaratan dari Balitbangkes dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),” tuturnya usai acara di Ruang Sidang Pleno, Kantor Manajemen UNAIR.

Junaidi mengatakan, produk penelitian yang akan dihilirisasi dalam kolaborasi kali ini adalah obat anti malaria yang berasal dari tanaman Johar (Cassia siamea lamk). Saat ini, obat anti malaria yang diriset oleh dosen Fakultas Farmasi UNAIR Dr. Wiwied Ekasari, M.Si., Apt., tersebut sedang dalam tahap uji klinik fase satu. Artinya, peneliti sedang melakukan riset tentang profil genetika senyawa aktif pada tanaman Johar.

Guna menunjang penelitian tersebut, Balitbangkes akan mengucurkan sejumlah dana penelitian untuk dimanfaatkan dalam riset senyawa aktif tanaman Johar. Dana tersebut akan digunakan untuk proses penelitian, publikasi riset di jurnal-jurnal internasional bereputasi, hingga terciptanya obat program.

Ketua Balitbangkes mengatakan, obat herbal anti malaria yang tengah dikembangkan oleh Wiwied berpotensi untuk menjadi alternatif obat malaria yang biasa digunakan. Oleh sebab itu, Balitbangkes dan industri merasa perlu mengawal perkembangan riset obat yang dibuat dari tanaman Johar.

“Kami ingin ada pemanduan riset-riset di Tanah Air yang nantinya berujung pada proses hilirisasi,” terang Siswanto.

Kerja sama serupa sebelumnya pernah dijalin antara UNAIR dan Balitbangkes. Pada periode sebelumnya, UNAIR dan Balitbangkes bersama-sama mengawal riset produk obat antidengue AviMac. Kerja sama ini diperpanjang dan akan berlaku sampai lima tahun mendatang.

Penulis: Defrina Sukma S

 




Racik Kulit Manggis dan Kumis Kucing Menjadi Obat Diabetes dan Kolesterol

UNAIR NEWS – Salah satu pakar farmasi dan obat herbal yang berasal dari Universitas Airlangga (UNAIR) adalah Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS. Dia telah banyak melakukan penelitian panjang tentang tumbuh-tumbuhan berkhasiat di Indonesia. Salah satu yang saat ini tengah digagas untuk dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan dengan bebas adalah ramuan ekstrak kulit manggis dan kumis kucing. Manfaat ramuan yang dimaksud ada dua. Yakni, sebagai obat herbal antidiabetes (penurun kadar gula) dan antikolesterol yang merusak.

Guru Besar Farmasi itu mengungkapkan, setidaknya ada tiga pendekatan untuk mencari khasiat obat pada tanaman. Pertama, melakukan full screening pada semua tumbuhan. Dari situ, dapat terlihat, tumbuhan yang satu berkhasiat apa, sedangkan tumbuhan yang lain, berkhasiat apa. Kedua, melakukan pemetaan berdasarkan “keluarga” tanaman. Misalnya, bila satu tanaman memiliki kandungan yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, bisa jadi, tanaman lain yang berasal dari “keluarga” yang sama memiliki kandungan yang sama.

Sedangkan yang ketiga, dan inilah yang dilakukan oleh Sukardiman selama ini, dengan cara etnofarmasi. Yakni, melakukan pemetaan berdasarkan data empirik yang ada di masyarakat. Tepatnya, dari kebiasaan masyarakat di Indonesia, yang diwariskan secara turun-temurun, terkait khasiat tanaman tertentu untuk obat penyakit tertentu. “Bangsa Indonesia mesti bersyukur. Kekayaan dan kearifan lokal di negeri ini sudah membuat para leluhur gampang mendapatkan obat alami. Obat-obat tradisional itu yang bisa kita nikmati khasiatnya hingga sekarang,” papar dia.

Khazanah alam yang begitu melimpah di Nusantara juga berpotensi membuat negara ini unggul di bidang obat-obatan herbal. Tak ayal, saat ini Kementerian Kesehatan lagi gencar-gencarnya menjalankan program kemandirian pengadaan bahan baku obat dan bahan baku obat tradisional. Meski memang, birokrasi untuk menuju ke arah swasembada itu juga perlu dibenahi.

Sukardiman mengatakan, sudah sepantasnya, izin produksi obat herbal terstandar melalui proses yang panjang. Namun, tidak pas juga bila birokrasi dibuat berbelit. Apalagi, bila SDM yang berada di balik produk obat herbal itu adalah mereka yang sudah terbukti memiliki integritas dan komitmen bagi kemajuan bangsa. Di sisi lain, pengawasan terhadap promosi obat herbal juga harus dibuat proporsional. Selama ini, ada banyak pihak yang bebas melakukan promosi obat herbal di televisi, padahal kompetensi yang bersangkutan masih dipertanyakan. “Saya pernah lihat, ada satu obat tetes yang bisa menyembuh banyak sekali penyakit. Saya heran, itu logikanya di mana? Apakah kandungannya memang tercukupi? Apakah penelitiannya sudah melalui banyak proses?” papar dia.

Sebab, saat membuat obat herbal, ada tiga aspek yang harus diperhatikan. Pertama, kualitas bahan baku yang terstandar. Hal ini terkait pula dengan penelitian yang komprehensif tentang bahan baku tersebut. Tak terkecuali, di mana lokasi bahan baku itu diambil. Kedua, jaminan produk yang aman bagi kesehatan. Hubungannya dengan dosis dan berapa lama produk dapat dikonsumsi. Ketiga, khasiat dari obat herbal itu sendiri. Untuk melihat khasiat, harus melalui tahapan pengujian yang tidak pendek.

Maka itu, pemerintah harus turun tangan untuk mengawasi obat-obat herbal yang ada di pasaran dan dipromosikan dengan gencar di media massa. Sebab, ini terkait standar khasiat dan keamanan masyarakat.

Selain melakukan eksteraksi kulit manggis dan kumis kucing, Sukardiman juga telah melakukan riset tumbuh-tumbuhan yang lain. Dia mencetuskan banyak produk yang aplikatif bagi masyarakat. Antara lain, membuat obat kanker dari sambiloto, obat kanker dari kencur, obat diabetes dari sambiloto dan mahoni, obat pegal linu dari kencur, dan peningkat stamina dari kencur.

Sukardiman optimistis, bangsa Indonesia dapat menjadi mendiri di bidang obat-obatan. Asalkan, ada koordinasi yang baik antar instansi plat merah yang mengurusi segala hal terkait. Pemerintah pun mesti mendukung program riset unggulan dari dosen ataupun peneliti yang dilakukan dengan serius dan cermat.

Sukardiman adalah salah satu dosen Fakultas Farmasi yang memiliki catatan cemerlang. Dia adalah Guru Besar Termuda Fakultas Farmasi pada 2008. Pria kelahiran Kebumen ini tercatat sebagai anggota reviewer penelitian DIKTI sejak 2010, dan Penelitian Binfarkes Kemenkes RI sejak 2013. Selain itu, dia juga menjadi Anggota Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) sejak tahun 2010 dan Anggota Bidang Obat Bahan Alam dari Koligeum Ilmu Farmasi Indonesia (KIFI) pada tahun 2016. Di sela kesibukannya, dia produktif menghasilkan buku dan menorehkan paten.

Prestasi yang sudah banyak dia raih, sudah dimulai sejak dahulu. Misalnya, pada 1999, Sukardiman mendapatkan penghargaan “Young Investigator Award” dari Perhimpunan Dokter Ahli Mikrosirkulasi Asia. Selain itu, dia juga ditetapkan sebagai Penyaji Terbaik Hasil Penelitian Ilmu Penelitian Dasar (IPD) oleh DIKTI pada 2004. (*)

 




Mahasiswa Akrab dengan Lab dan Dididik Sanggup Bekerjasama

UNAIR NEWS – Fakultas Farmasi selalu berupaya menghasilkan lulusan berkualitas. Selain diberi pengetahuan tentang kefarmasian, mahasiswa juga digembleng untuk akbar dengan laboratorium dan sanggup bekerjasama. Diharapkan, mereka sukses di dunia kerja pada masa datang.

Berikut sejumlah potret di sudut-sudut fakultas ini. Helmy Rafsanjani dan Yudira Pasada Lubis, dua fotografer Pusat Informasi dan Humas, menyajikan sedikit gambaran tentang aktifitas mahasiswa di sana.

 

editor: Rio F. Rachman




Tak Menunggu Lama, Pil KB Untuk Pria Akan Dihilirisasi

UNAIR NEWS – Setelah menunggu kurang lebih lima tahun untuk hilirisasi, produk pil keluarga berencana (KB) untuk pria dari ekstrak tumbuhan Gandarusa (Justicia gendarussa) menemukan jawabannya. Temuan dari tim peneliti Universitas Airlangga itu akan dihilirisasi oleh PT. Harsen Laboratories. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua belah pihak pada Rabu, (8/3), di Kantor Manajemen, UNAIR.

“Satu dari ratusan produk milik peneliti UNAIR siap hilirisasi dan dikomersialkan. Mimpi pil KB untuk pria agar dikomersilkan segera terwujud,” ujar Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Rektor UNAIR dan Direktur Utama PT. Harsen Laboratories Haryoseno. Penandatanganan itu disaksikan langsung oleh Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Dr. Eng, Hotmatua Daulay, M.Eng. Hotmatua menyambut baik kerjasama antara PT Harsen Laboratories dan UNAIR tersebut.

“Kami dari Kemenristekdikti sejatinya senang dengan adanya kegiatan semacam ini. Selamat kepada UNAIR atas hilirisasi ini,” terang Hotmatua.

Haryoseno selaku Dirut mengaku bangga ketika pihaknya ditunjuk untuk memproduksi pil dari ekstrak gandarusa ini. Pasalnya, pil KB untuk pria baru pertama kali ada di dunia. Menurutnya, ini adalah terobosan penting untuk diketahui dunia.

“Kita ketahui bersama pertumbuhan penduduk di dunia semakin tinggi. Ini sungguh terobosan penting untuk diketahui dunia. Karena pria juga punya andil untuk program Keluarga Berencana (KB). Kami berharap proyek ini secepatnya bisa kita kerjakan,” tegas Haryoseno.

Ia juga berharap, dengan adanya pil KB untuk pria ini, kesejahteraan masyarakat yang diprogram melalui KB yang dicita-citakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan sukses terwujud.

Segera Dikomersilkan

Paling lama dalam satu setengah tahun ke depan, produk akan siap dipasarkan. Hal awal yang akan dilakukan adalah mendapatkan ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Nanti akan dipasarkan langsung ke Indonesia dan seluruh dunia. Ini pertama kali di dunia, belum ada sebelumnya. Sangat membanggakan bagi UNAIR, khususnya Indonesia,” kata Haryoseno.

Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, Ph.D, mengatakan, penelitian ini akan mengubah paradigma sebelumnya tentang KB yang hanya dilakukan oleh perempuan.

“Jadi ini paradigma baru. Kalau dulu yang dapat intervensi KB adalah para wanita, sekarang ini para pria juga bisa terlibat. Bagaimana penelitian ini akan mengubah paradigma itu, sehingga para pria yang melakukan KB,” ujar Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Bisnis itu.

Pil KB untuk pria temuan Guru Besar bidang Farmakognosi dan Fitokimia Fakultas Farmasi Prof. Dr. Bambang Prajogo, M.S., ini tidak memiliki efek samping. Justru, melalui uji klinik yang telah dilakukan, pria akan mendapatkan manfaat lain setelah mengkonsumsi obat ini. Seperti kebugaran dan meningkatkan stamina.

Selain dihadiri pimpinan UNAIR dan PT Harsen Laboratories, tim dari BKKBN juga turut datang menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman. Rencananya, BKKBN akan membeli pil KB untuk pria dan dimanfaatkan untuk mensukseskan program KB di Indonesia. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Berangkat dari Kepedulian, Peneliti UNAIR Temukan Pil KB Pria

free instagram followermake up wisudamake up jogjamake up prewedding jogjamake up wedding jogjamake up pengantin jogjaprewedding jogjaprewedding yogyakartaberita indonesiayogyakarta wooden craft



Prof. Yuwono: Analis Farmasi Selalu Punya Peran Sentral

free instagram followermake up wisudamake up jogjamake up prewedding jogjamake up wedding jogjamake up pengantin jogjaprewedding jogjaprewedding yogyakartaberita indonesiayogyakarta wooden craft



Prof Sukardiman dan Kecintaannya pada Farmakognosi

UNAIR NEWS – Ada dua unsur dalam pembuatan obat-obatan, yaitu sintesis dan bahan alami. Untuk ilmu yang mempelajarai obat-obatan yang berasal dari alam, biasa disebut dengan ilmu Farmakognosi.  Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS, merupakan Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR di bidang Farmakognosi tersebut. Dari tiga bahan alam yang dipelajari dibidang ilmu Farmakognosi (Tumbuhan, Hewan, dan Mineral), Sukardiman fokus pada bidang kajian obat yang berasal dari tumbuhan.

Sebagai peneliti, Ketua Lembaga Pengembangan Produk Akademik dan Hak Kekayaan Intelektual (LPPA-HKI) UNAIR tersebut telah menghasilkan beberapa produk riset. Diantaranya yaitu, “Komposisi Ekstrak Samiloto dengan Kunyit”  yang sudah diuji aktifitas sebagai suplemen untuk kanker payudara pada pasien, dan “Pengembangan Obat Herbal Fraksi Kencur” yang digunakan untuk kanker lambung ataupun usus besar.

Beberapa jurnalnya yang telah di-publish nasional maupun internasional, diantaranya yaitu “Immunohistochemical Study of Curcuma xanthorrhiza Roxband Morindacitrifolia L Ethanolic Extract Granules Combination in High fat Diet Induced Hyperlipidemic   Rats” pada tahun 2014, dan “The Role of Ethyl Acetate Fraction of Andrographis paniculata and Doxorubicine Combination To Ward The Increase Apotosis and Decrease of VEGF Protein Expression of Mice Fibrosarcoma Cells” pada tahun 2015.

Selain karya ilmiah, Sukardiman juga mengikuti berbagai konferensi internasional, diantaranya yakni, “The International Seminar on Chemopreventive for Health Promotion and Beauty” di Denpasar pada tahun 2010, dan “Seminar international Conference and Exbition on Pharmaceutical Nutraceutical and Cosmetical technology : Formulation and Applications” di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2010.

Sukardiman juga mendapatkan beragam penghargaan atas pengabdiannya dibidang penelitian. Diantaranya, Sukardiman diberikan penghargaan “Young Investigator Award” oleh Perhimpunan Dokter Ahli Mikrosirkulasi Asia pada tahun 1999. Selain itu, ia juga ditetapkan sebagai Penyaji  Terbaik  Hasil Penelitian  Ilmu Penelitian Dasar (IPD) oleh DIKTI pada tahun 2004.

Selain berprofesi sebagai Ketua LPPA-HKI UNAIR dan dosen, Guru Besar Termuda Farmasi pada tahun 2008 tersebut juga menjadi anggota reviewer penelitian DIKTI sejak 2010 dan Penelitian Binfarkes Kemenkes RI sejak 2013. Selain itu, ia juga menjadi Anggota Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) sejak tahun 2010 dan Anggota Bidang Obat Bahan Alam dari Koligeum Ilmu Farmasi Indonesia (KIFI) pada tahun 2016.          Disela kesibukannya tersebut, ia juga sempat menghasilkan sebuah karya buku di bidang keilmuannya yang berjudul “Farmakognosi Jilid I” pada tahun 2014.

“Obat itu bagaikan racun dan madu. Kalau terlalu banyak dosisnya, maka obatnya jadi racun. Tentunya, ilmu farmasi yang mampu mengelolanya dari berbagai macam aspek. Termasuk, melakukan pengembangan keilmuan untuk bisa menyiapkan bahan-bahan obat paling mutakhir,” kata dia.

Sementara itu, bidang kajian farmasi bukan hanya obat-obatan itu sendiri, makanan dan minuman pun juga bisa menjadi fokusnya. Tanggung jawab farmasi sangat besar. Karena, kaitannya dengan nyawa orang. (*)

Penulis: Dilan Salsabila
Editor: Rio F. Rachman




Pelatihan Manajemen Interaksi Obat se-Indonesia oleh Farmasi UNAIR

UNAIR NEWS – Program Studi Spesialis Farmasi dan Magister Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga menggelar beragam acara dalam rangka peringatan Dies Natalis yang ke-25 tahun. Salah satu dari kegiatan itu adalah pelatihan bertajuk Management of Drug Interaction in Clinical Setting. Pelatihan yang berlangsung Sabtu (28/1) ini ditujukan bagi apoteker yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan.

Pelatihan tersebut terselenggara atas kegelisahan yang terjadi di beberapa rumah sakit yang belum memiliki fasilitas mumpuni. Fasilitas yang dimaksud adalah validitas sumber data sebagai dasar dalam menentukan atau mengetahui interaksi obat.

“Saya melihat di lapangan, banyak yang tidak rasional pada interaksi obat ketika pemberian beberapa jenis obat kepada pasien. Karena refrensi kurang valid, bisa berakibat fatal kepada pasien,” ungkap Dr. Suharjono, M.S., Apt. Koordinator Program Studi Magister Farmasi Klinik.

Pelatihan ini menghadirkan pemateri profesional dengan bidang keahlian mereka. Seperti Dr. Suharjono, M.S., Apt., yang menyampaikan materi Identification and Management of Drug Interaction, materi Drug Interaction in Clinical Setting oleh Prof. Dr. Muh. Yogiarto, Sp.JP (K) FIHA, FAsCC, materi Drug Interaction in Nephrology oleh Dr. Budi Suprapti, M.Si., Apt., materi Drug Interaction in Intensive Care Medcation oleh Drs. Budi Rahardjo, Sp.FRS., Apt.

Selain itu, ada pula materi Drug Interaction in Neurology oleh Khairil Armal, S.Si., Sp.FRS., Apt., Drug Interaction in Paediantric oleh Dra. Yulistiani, M.Si., Apt., Drug Interaction in Obstetry and Gynecology Medication oleh Drs. Muh Yahya, Sp.FRS., Apt., dan Drug Interaction in Cardiology Medicine oleh bambang S. Z., S.S., M.Clin.Pharm., Apt.

Para pemateri berasal dari RS. Dr. Soetomo, Departemen Farmasi Klinik, dan alumni FF UNAIR. Terdapat studi kasus selepas pemberian materi untuk lebih memperdalam pemahaman. Pelatihan diakhiri dengan praktik registrasi dan penggunaan software interaksi obat.

Peserta pelatihan yang berjumlah 255, mayoritas terdiri dari apoteker. Selain itu ada akademisi dan juga dokter. Mereka berasal dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia, seperti Biak Papua, Makassar, Palu, Manado, Kalimantan Sumatera, dan Pulau Jawa merupakan daerah terbesar asal peserta pelatihan. (*)

Penulis : Akhmad janni
Editor    : Binti Q. Masruroh




Pakar Kimia Bahan Alam Ini Aktif Berbagi Ilmu Farmasi Hingga Lintas Negara

UNAIR NEWS – Prof. Dr.rer.nat. Gunawan Indrayanto merupakan farmasis yang bergelut di bidang kimia bahan alam, bioteknologi tanaman, dan analisis farmasi/kimia. Sebagai profesor Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Gunawan aktif menjadi pembicara seminar, memberikan pelatihan untuk para apoteker, dan melakukan penelitian.

Sampai saat ini, publikasi riset Gunawan telah dimanfaatkan peneliti dari seluruh penjuru dunia. Hingga tahun ini, tercatat sebanyak 113 publikasi di jurnal internasional dan chapter di buku-buku diktat yang telah ia tulis.

Penerima beasiswa DAAD itu telah meraih berbagai penghargaan. Gunawan merupakan salah satu dari enam ilmuwan penerima penghargaan leading scientist dari Committee on Science and Technological (Comstech), Pakistan, pada tahun 2008. Di tahun yang sama, ia terpilih sebagai dosen berprestasi dengan pengakuan nasional dan internasional dari Rektor UNAIR.

Ia juga menjadi nominator peneliti unggul yang dinobatkan oleh South East Asia European Community Net, Austria, pada tahun 2009. Ia juga memperoleh penghargaan Achmad Bakrie Award ke-XII di bidang Kesehatan pada tahun 2014. Pada tahun 2015, ia terpilih sebagai salah satu kontributor reviewer terkemuka dari Elsevier, Belanda.

Selain itu, Gunawan dipercaya sebagai reviewer atau penyeleksi karya ilmiah berbagai jurnal internasional. Tercatat, sudah ada delapan jurnal internasional yang ia review. Jurnal ilmiah internasional itu diantaranya berasal dari negara Hungaria, Amerika Serikat, India, dan Belanda. Ia juga tergabung sebagai dewan penasihat dari tujuh jurnal, baik skala nasional maupun internasional.

Kepakaran di bidang farmasi sudah tidak dapat diragukan lagi. Terbukti, Gunawan tercatat sebagai salah satu ilmuwan Indonesia yang meraih indeks tertinggi dalam Wise Index of Leading Scientists and Engineers untuk negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ia adalah satu dari enam orang ilmuwan Indonesia yang mendapat pengakuan bergengsi tersebut.

Ketika ditanya mengenai kepakarannya, Gunawan melakukan analisis farmasi agar sebuah obat memiliki mutu yang terjamin. “Tugas apoteker adalah membuat dan mengembangkan obat. Bekerja membuat obat haruslah sebaik, semurah, dan seefektif mungkin. Untuk itu diperlukan analisa farmasi atau kimia dari setiap obat yang diproduksi sehingga dapat dijamin mutunya. Melakukan analisis kimia/farmasi mungkin mudah, tetapi melakukan analisa dengan hasil valid tidaklah mudah,” ujar Gunawan.

Di Research Gate, sebuah situs web jejaring sosial untuk kolaborasi bagi para ilmuwan sains, ia aktif berdiskusi, membantu dan berdiskusi tentang pelbagai topik penelitian dengan peneliti di seluruh dunia.

“Di Research Gate, saya dapat membantu dan saling belajar dengan  peneliti dari seluruh dunia. Dengan saya banyak menjawab dan diskusi, saya dapat ilmu banyak. Dengan menjawab pertanyaan, saya menyumbang pengetahuan, menambah ilmu dan wawasan,” tambahnya.

Profesor kelahiran Kediri itu menambahkan, ratusan riset yang ia publikasikan juga telah menjadi bahan ajar dosen kepada mahasiswa.

Ke depan, keilmuan ini memiliki prospek yang besar untuk berkembang. Mengingat, Indonesia adalah negara yang kaya akan tumbuhan dan bahan-bahan alam yang dapat digunakan sebagai obat-obatan. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S