Cinta Surabaya, Mahasiswa FEB UNAIR Cetuskan Bisnis Clothing Line

RADIO UNAIR –  Hal yang paling penting dalam memulai usaha ialah niat. Namun ada hal lain yang mesti diperhatikan yaitu peluang dan lingkungan. Hal inilah yang kemudian membuat enam orang mahasiswa Program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR untuk membuat sebuah bisnis. Keenam mahasiswa tersebut yakni Adi Hanifi, Andriawan aliefianto, Radinda Audi N, Fahima Budi Imaniar, Diva A Verdiar, dan Ivan Arya S, semuanya merupakan angkatan 2014.

Berawal dari mata kuliah kewirausahaan yang mengharuskan para mahasiswa untuk membuat suatu bisnis. Dari sana, tercetuslah sebuah ide bisnis Clothing Line. Mereka mengawali bisnis ini dengan modal yang didapatkan dari hasil patungan.

Clothing Line yang mereka produksi  menawarkan desain yang sederhana. Bertemakan tentang kota Surabaya karena kecintaan mereka pada kota tempat mereka menuntut ilmu, meskipun keenam mahasiswa ini bukan merupakan warga Surabaya asli. Clothing Line ini di branding dengan nama SUB.CO yang diambil dari kode penerbangan internasional Kota Surabaya.

“Setelah mata kewirausahaan selesai, kami tetap melanjutkan bisnis ini karena kami rasa ada peluang yang besar untuk bisnis clothing line ini, apalagi untuk masyarakat Surabaya,” tutur Adi Hanifi saat diwawancarai oleh Radio UNAIR.

Adi juga menambahkan, bahwa untuk Clothing Line yang membawa unsur Kota Surabaya ini masih sangat jarang. Oleh karena itu, ia dan teman-temannya bertekad untuk membuat bisnis SUB.CO ini menjadi lebih besar, hal tersebut juga bertujuan untuk memperkenalkan Kota Surabaya dengan medium T-shirt

Contoh desain produk SUB.CO (Ilustrasi: UNAIR NEWS)
Contoh desain produk SUB.CO (Ilustrasi: UNAIR NEWS)

Selain mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di bangku perkuliahan, lingkungan tempat mereka mengenyam pendidikan pun mendukung keberlangsungan dari bisnis ini.  Adi menuturkan bahwa keikutsertaanya dalam organisasi WEBS (Workshop Entrepreneur Business Society) yang ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sangat berguna, dengan mengikuti organisasi tersebut ia bisa bertukar pengalaman dengan senior maupun rekan yang sudah memiliki bisnis terdahulu, baik bisnis yang berskala kecil hingga berskala internasional .

Selain melalui media sosial, Pemasaran dari SUB.CO ini juga melalui bazaar dan pameran yang diadakan di mall supermarket yang ada di Kota Surabaya. (*)

Penulis : Faridah Hari
Editor : Dilan Salsabila




[Podcast] AYMUN Bahas Isu Kemaritiman pada Simulasi Sidang PBB

RADIO UNAIR – Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga mengajak pelajar sekolah menengah atas, dan mahasiswa untuk merasakan atmosfer sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tahun ini, HIMAHI menggagas acara Airlangga Youth Model United Nations (AYMUN) dengan tema “The Evolving Maritime World”. Acara akan diselenggarakan pada tanggal 3 – 5 Juni 2016 di Hotel Crown Prince di Surabaya.

“Tujuan dari AYMUN ini adalah meningkatkan perhatian pelajar dan mahasiswa terhadap isu-isu global serta mempelajari sistematika penyelesaian melalui badan- badan formal PBB” tutur Govinda Yudhistira, salah satu panitia AYMUN 2016.

Posisi organisasi atau komite yang dibuka pada acara AYMUN ini adalah WTO (World Trade Organization), UNEP (United Nations Environment Programme), dan UNSC (United Nations Security Council). Dalam AYMUN ini juga terdapat kelompok Press Commerce (PC), yakni simulasi jurnalis yang mewakili sebuah kantor berita dalam meliput dan membuat berita di sebuah konferensi PBB.

Pembicara yang hadir dalam sesi diskusi panel AYMUN juga tak kalah menarik. Tiga pembicara yang hadir dalam AYMUN adalah Prof. Dr. Makarim Wibisono, MA-IS., MA, selaku Guru Besar bidang Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNAIR, Gracia Paramitha, S.Hub.Int., M.Si,, selaku Global Youth Advisor pada TUNZA UNEP (United Nations for Environmental Programme), dan Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H., M.A.P, selaku Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur.

Nantinya, peserta AYMUN juga diajak mengikuti tur keliling kota dan pesta penutupan sebagai rangkaian acara AYMUN ini.

Berikut wawancara panitia AYMUN di Radio Unair

Penulis: Faridah Hari
Editor: Defrina Sukma S




[Podcast] Mahasiswa Vokasi Rancang Alat Peningkat Kualitas Tidur

RADIO UNAIR Empat mahasiswa asal Fakultas Vokasi program studi Otomasi Sistem Instrumentasi (OSI) merancang alat peningkat kualitas tidur. Alat yang dinamai GL-Tech (Gas Sensing dan Lavender Technology) dirancang oleh Rayhan Bagir Daysani (2013), Pratama Bagus Baharsyah (2013), Nur Dewi Ratna Swari (2013), dan Mariatul Qibtiyah (2014). Ide tersebut mereka salurkan lewat proposal Program Kreativitas Mahasiswa – Karya Cipta (PKM – KC) yang telah lolos seleksi pendanaan oleh Kemenristekdikti tahun 2016.

GL-Tech menggunakan teknik penguapan dan pemberian ekstrak lavender. GL-Tech mempunyai dua cara kerja, yaitu penggunaan blower untuk membuang karbondioksida dan menggantinya menjadi oksigen. Kemudian, ekstrak lavender diberikan kepada pengguna untuk memberikan sensasi ketenangan. Komponen-komponen utama yang digunakan dalam penggunaan GL-Tech ini antara lain alat pengendali mikro, dinamo, dan alat sensor karbondioksida serta beberapa piranti yang lain.

GL-Tech (Gas Sensing dan Lavender Technology) (Foto: Istimewa)
GL-Tech (Gas Sensing dan Lavender Technology) (Foto: Istimewa)

Keuntungan yang ditawarkan dalam GL-Tech ini yaitu hemat energi listrik, serta wangi aroma lavender mampu memberikan ketenangan dan berfungsi sebagai pengusir nyamuk. (*)

Penulis: Faridah Hari
Editor: Defrina Sukma S




[Podcast] Jaring Bakat Potensial, UNAIR Gelar Airlangga Got Talent

RADIO UNAIR – Untuk menjaring bakat-bakat potensial mahasiswa Universitas Airlangga ke ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) tahun 2016, Universitas Airlangga menggelar ajang Airlangga Got Talent (AGT) yang dalam pelaksanaanya dikoordinir oleh  para anggota Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (Forkom UKM).  Ajang AGT digelar sejak 4 Mei dan akan berlangsung sampai 20 Mei 2016.

“Tujuan Airlangga Got Talent ialah untuk membina minat dan bakat dalam bidang seni. Jadi, seluruh mahasiswa UNAIR bisa mengikuti dan meraih prestasi,” tutur Deni Yasmara, S.Kep.Ns., M.Kep., selaku staf Direktorat Kemahasiswaan UNAIR.

Kompetisi AGT dibagi dalam beberapa kategori. Di bidang tarik suara, lomba yang digelar adalah pop tunggal, dangdut tunggal, keroncong tunggal, grup vokal, dan seriosa tunggal. Di bidang seni visual dan penulisan, lomba yang digelar adalah lomba lukis, fotografi, poster, komik strip, baca puisi, penulisan cerpen, penulisan lakon, penulisan puisi dan monolog.

Deni juga menambahkan bahwa seluruh mahasiswa UNAIR yang memiliki minat dan bakat di kedua bidang itu bisa mengikuti ajang AGT. Dengan mengikuti ajang AGT, mahasiswa diharapkan bisa mendapatkan pengalaman dan melatih softskill khususnya di bidang kesenian.

Untuk info lebih lanjut mengenai ajang AGT, silakan akses www.airlanggagottalent.wordpress.com

Berikut wawancara Radio Unair dengan Deni Yasmara dan Panitia Airlangga Got Talent tanggal 3 mei 2016.

 

Penulis: Faridah Hari
Editor: Defrina Sukma S.




[Podcast] Mahasiswa UNAIR Produksi Pemanis Alami Berbahan Lidah Buaya

UNAIR NEWS – Lidah buaya adalah salah satu tanaman yang memiliki berbagai macam khasiat, baik untuk kecantikan maupun kesehatan. Akan tetapi, masih jarang ditemukan olahan lidah buaya berupa makanan yang banyak digemari masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi Bisma Brata Atmaja (FEB 2014), Fania Andriana (FEB 2014), Indi Mumtaza (Farmasi 2014), Hady Palgunadi (FST 2014) dan Muhammad Yusuf (FEB 2015) untuk membuat sebuah terobosan baru, yakni pemanis berbahan lidah buaya yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat dan dapat memulai gaya hidup sehat.

“Disini kami ingin memasyarakatkan lidah buaya dan mempermudah orang agar mengonsumsi lidah buaya. Maka hadirlah gulo ijo sebagai pemanis alami. Rasanya sama seperti gula biasa, tidak ada rasa lidah buaya tapi kita tetap mendapatkan manfaat lidah buaya,” Papar Hady.

Selama memproduksi gulo ijo, banyak hambatan yang menghadang. Salah satunya adalah ketika memanaskan saringan lidah buaya dengan suhu yang terlalu tinggi, maka saringan lidah buaya tidak bisa digunakan lagi. Selain itu, tim juga harus melakukan perjalanan panjang untuk mendapatkan supplier  lidah buaya dengan harga murah tapi memiliki kualitas yang baik.

Gulo ijo dipasarkan dalam kemasan 125 gram. Untuk membuatnya, lidah buaya dikupas, kemudian dicuci dan diblender. Setelah berbentuk cair, lidah buaya disaring dan airnya dipanaskan sampai menyusut hingga mencapai takaran tiga perempatnya. Selanjutnya, ditambah gula pasir dengan perbandingan 1:1.  Terakhir, campuran lidah buaya dan gula dimasak dan jadilah gulo ijo.

Selain memproduksi gulo ijo, Mahasiswa yang tergabung dalam tim PKM-K ini juga mengolah aneka minuman yang berbahan dasar lidah buaya dan tentu saja menggunakan pemanis gulo ijo.

“Kami saat ini sedang bereksperimen membuat aloe vera menjadi nata de coco,” pungkas Hady. (*)

Penulis : Afifah Nurrosyidah
Editor    : Dilan Salsabila




[Podcast] UKM Pramuka Cetak Pembina dan Kader Lewat Kursus Mahir Tingkat Dasar

RADIO UNAIR – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka UNAIR telah membawa anggotanya menggapai sukses dengan bekal moral Pramuka. Lulusan dari pramuka UNAIR dituntut untuk memiliki kompetensi di bidang leadership  dengan berbagai peran, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mengabdi kepada negara dan pancasila.

Untuk meningkatkan kompetensi diri, pramuka UNAIR menyelenggarakan kegiatan Kursus Mahir tingkat Dasar (KMD) yang baru pertama kali dilaksanakan oleh Pramuka UNAIR. Pada dasarnya kegiatan KMD ini bertujuan untuk mencetak pembina atau kader pramuka yang berkualitas. Di dalam kurikulum KMD sendiri sudah terdapat penjelasan mengenai tata cara melatih peserta didik pada kategori siaga hingga pandega.

“KMD yang akan kami selenggarakan adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencetak pandega di tingkat racana di universitas.” papar Anggi, selaku ketua panitia KMD 2016.

KMD merupakan kegiatan wajib untuk perguruan tinggi yang terkonsentrasi di ranah pendidikan dan keguruan. Merupakan suatu prestasi tersendiri bagi UNAIR karena dapat mengadakan KMD ini. Pasalnya, UNAIR bukan termasuk perguruan tinggi yang terkonsentrasi di bidang pendidikan dan keguruan.

KMD kali ini bekerjasama dengan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) cabang Surabaya yang menghadirkan para pelatih yang sudah memiliki kualifikasi Kursus Mahir tingkat Lanjut (KML). Tujuan utama dari pelaksanaan KMD ini yaitu untuk membekali anggota UKM Pramuka UNAIR program kerja tahun 2016-2019 dengan berbagai pelatihan yang telah disiapkan.

Kegiatan KMD ini akan diselenggarakan pada tanggal 4-8 Mei 2016, dan terdiri dari beberapa program pelatihan mulai dari pendidikan dasar, Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), pelatihan leadership,dan pelatihan ahli manajemen. Kemudian peserta KMD yang dinyatakan lulus akan mendapatkan ijazah dan sertifikat.

Anggi berharap, event KMD ini bisa menjadi gebrakan baru dan dapat dijadikan sebagai langkah awal bagi UKM Pramuka UNAIR untuk melaksanakan acara di tingkat nasional. (*)

Penulis : Afifah Nurrosyidah
Editor : Dilan Salsabila




[Podcast] Kabinet SUPER BEM Dukung UNAIR Jadi Perguruan Tinggi Kelas Dunia

RADIO UNAIR – Mewadahi aspirasi mahasiswa dan mendukung pergerakan Universitas Airlangga menuju perguruan tinggi kelas dunia merupakan visi sekaligus misi Kabinet SUPER Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UNAIR periode 2016 – 2017. Sejak dilantik pada tanggal 16 Maret 2016 lalu, Ketua dan Wakil Ketua BEM UNAIR sudah menyiapkan berbagai program dan struktur organisasi terbaru.

Muhammad Rizky Fadhillah (FIB/2012) dan Ikhwanun Mudhofir Hariri (FH/2013), masing-masing adalah Ketua dan Wakil Ketua BEM UNAIR. Keduanya dilantik oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, bersamaan dengan pelantikan pengurus organisasi mahasiswa di tingkat universitas maupun fakultas.

Ketika diwawancarai oleh kru Radio UNAIR, Rizky menuturkan bahwa dirinya ingin mengajak mahasiswa UNAIR berpikir lebih kritis dan lebih aktif untuk mengikuti beragam kegiatan di UNAIR. Senada dengan Rizky, Hariri sang Wakil Ketua BEM UNAIR juga menginginkan sivitas akademika UNAIR berkontribusi lebih banyak kepada masyarakat.

Untuk menjalankan program yang sesuai dengan visi dan misi, Rizky dan Hariri menamakan kepengurusannya dengan Kabinet SUPER. “Huruf S berarti Satukan cita, cinta, dan rasa untuk keluarga mahasiswa UNAIR. Huruf U berarti Unggulkan sumber daya mahasiswa agar lebih progresif di tengah masyarakat. Huruf P berarti Prakarsa atas terwujudnya aspirasi keluarga mahasiswa UNAIR. Huruf E berarti Eratkan gerakan mahasiswa yang kreatif dan inovatif. Terakhir, huruf R berarti Revitalisasi penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tutur Rizky.

Kabinet SUPER terdiri dari empat kementerian koordinator, yaitu Kementerian Keilmuan, Kementerian Harmonisasi, Kementerian Pergerakan Progresif, dan Kementerian Inovasi Pembaruan. Setiap kementerian memiliki tugas dan program kerja yang sesuai dengan visi dan misi pimpinan BEM UNAIR.

Ketua dan Wakil Ketua BEM UNAIR berharap dalam masa kepengurusannya setahun ke depan dapat memperbanyak kajian dan aksi positif terhadap isu-isu yang terjadi di kampus dan masyarakat. Selain itu, keduanya ingin mensinergikan semua elemen sivitas akademika untuk mendukung UNAIR menjadi perguruan tinggi kelas dunia.

Simak wawancara selengkapnya Ketua dan Wakil Ketua BEM UNAIR dengan kru Radio UNAIR! (*)

Penulis: Faridah Hari
Editor: Defrina Sukma S




[Podcast] Beli Sayur Pakai Popok demi Cegah Pencemaran Sungai

RADIO UNAIR – Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi pencemaran sungai, keempat mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas metode baru untuk mencegah pencemaran salah satu sungai di wilayah Gunung Anyar Tengah, Surabaya. Metode baru yang dimaksud adalah membeli sayur pakai popok bayi atau yang disingkat LISA KEPO.

Keempat mahasiswa FKM UNAIR yang mengagas ide tersebut adalah Anca Laika (FKM/2015), Elsya Vira Putri (FKM/2014), Ahmad Habibullah (FKM/2014), dan Musyayadah (FKM/2014). Ide tersebut mereka tuangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM – M) yang berhasil lolos seleksi pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2016.

Mengapa menggunakan popok bayi? Metode ini berawal dari kondisi Sungai Brantas di Sidoarjo yang tercemar akibat melimpahnya limbah popok bayi. Sedangkan, wilayah Gunung Anyar Tengah terletak di lokasi yang diapit oleh dua sungai, berpotensi untuk dicemari oleh limbah sungai yang berasal dari popok bekas.

Sesuai dengan ilmu kesehatan lingkungan yang mereka dapatkan di bangku kuliah, popok bayi mengandung zat bernama Gel Sodium Polyacrylate sehingga bisa dijadikan sebagai media tanam sayuran. Bahkan, gagasan mereka telah mendapatkan apresiasi dari Dinas Pertanian Pemerintah Kota Surabaya. Pejabat dari Dinas Pertanian Pemkot Surabaya membantu pemberian bibit sayuran agar bisa ditanam di popok bekas itu.

Dalam proses implementasi gagasan, tim LISA KEPO memberdayakan para ibu anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat. Tim LISA KEPO mengajak para ibu PKK untuk membuat bank sampah yang cukup besar untuk menampung popok bayi bekas. Setiap warga yang membuang popok bayi bekas dianjurkan untuk mencatatkan jumlah popok yang dibuang setiap harinya ke pengurus bank sampah. Semakin banyak pembuangan popok bekas pada bank sampah, semakin banyak pula sayur hasil tanam yang didapatkan. Metode inilah yang diberi nama LISA KEPO (membeli sayur pakai popok).

Mereka berharap dengan adanya penemuan ini, intensitas pembuangan popok bayi bisa berkurang dan gagasan bisa menyebar ke daerah lain. Ingin tahu selengkapnya tentang gagasan tim LISA KEPO? Simak wawancara selengkapnya bersama kru Radio UNAIR dengan Anca Laika, Elsya Vira Putri, dan Ahmad Habibullah! (*)

Penulis: Faridah Hari
Editor: Defrina Sukma S




[Podcast] Ksatria Airlangga Reusable Bag, Inovasi Pengganti Kresek Karya Mahasiswa

RADIO UNAIR – Masalah sampah kerap menyita perhatian banyak pihak. Bermacam-macam aksi dilakukan para pecinta lingkungan untuk mengurangi masalah berkaitan dengan sampah. Merujuk pada undang undang nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, pada 21 Februari lalu pemerintah menerapkan kantong plastik berbayar. Tujuannya, mereduksi jumlah sampah kresek.

Bertolak dari itu, sejumlah mahasiswa UNAIR terinspirasi. Mereka membuat inovasi reusable bag  yang bisa digunakan berulang sebagai pengganti tas kresek. Karya tersebut berawal dari tugas membuat PKM saat ospek universitas. Terbersit ide dari Indah Novitasari ( Akuntansi 2015), Miftakhul Jannah (Akuntansi 2015), Aldian Alif Fitria (Sastra Inggris 2015) , Ma’shumatul Kurnia (Ekonomi Islam 2014), dan Aida fitriya(Keperawatan 2013) untuk membuat reusable bag sebagai bentuk kepedulian lingkungan.

Karb
Karb

Inovasi kantong plastik ini diberi nama KARB atau Ksatria Airlangga Reusable Bag. Sebagai bentuk kebanggaan atas sebutan ksatria muda airlangga. Juga, sebagai harapan agar menjadi pioneer mahasiswa UNAIR untuk menggunakan reusable bag.

KARB sendiri memiliki banyak keunggulan. Diantaranya, anti air, mampu menahan beban hingga 7 kg dan bisa dilipat menjadi bentuk yang kecil. Saat ini, KARB tersedia dalam  3 desain. Dengan tulisan #IndonesiaBebasSampah, Aku Diet Tas Kresek, dan I’m Okay Without Plastic. Untuk promosi sendiri, tim KARB menggunakan media sosial dan berencana melakukan roadshow di UNAIR serta PDD Banyuwangi.

“Kami berharap bisa menjadi trendsetter untuk seluruh mahasiswa UNAIR”, ujar Miftah, bagian pemasaran dari KARB.

Tanggal 7 April 2016, tim KARB on air di Radio UNAIR dalam segmen SAGA untuk memperkenalkan inovasi mereka. Berikut podcastnya. (*)

Penulis: Radio UNAIR
Editor: Rio F. Rachman




[Podcast] Mahagana UNAIR, Bersatu Demi Membantu Korban Bencana

RADIO UNAIR – Tak ada bencana yang tak menyisakan kepingan kesedihan. Tengoklah bencana banjir di Sampang dan Sidoarjo pada medio Februari 2016 lalu. Atau bencana letusan Gunung Kelud pada pertengahan Februari tahun 2014. Warga yang terdampak bencana berjuang untuk memperbaiki kehidupan mereka sebagaimana sebelumnya.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga terdampak bencana, ada kelompok mahasiswa Universitas Airlangga yang sigap dan tanggap dengan kejadian bencana alam. Kelompok bernama mahasiswa tanggap bencana atau yang biasa dikenal dengan Mahagana UNAIR lahir sebagai badan semi otonom (BSO) tahun 2011 yang dibentuk oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UNAIR. Sedangkan, pada tahun 2014, Mahagana telah resmi menjadi badan otonom (BO) baru.

Kegiatan Mahagana. (Foto: Instagram mahagana)
Kegiatan Mahagana. (Foto: Instagram mahagana)

Sewaktu masih menjadi BSO, anggota Mahagana UNAIR terdiri dari anggota UKM Wanala (mahasiswa pencinta alam), UKM Menwa (resimen mahasiswa), UKM Pramuka, KSR-PMI, dan BEM UNAIR. Setelah resmi menjadi BO, asal keanggotaan Mahagana pun bertambah. Kini, mahasiswa dari fakultas yang tidak tergabung dengan keempat UKM itu diperbolehkan bergabung dengan Mahagana UNAIR.

Kegiatan Mahagana UNAIR tak jauh-jauh dari pemberian bantuan terhadap warga terdampak bencana. Mereka turut aktif membantu warga dengan berkontribusi di area dapur umum, hingga evakuasi wargaa.

Mahagana UNAIR juga memiliki program preventif terhadap warga yang tinggal di lokasi rawan bencana. “Salah satu desa siaga yang sudah terdeteksi oleh tim Mahagana UNAIR adalah Desa Ranupani yang terletak di lereng Gunung Semeru. Desa Ranupani termasuk dalam zona bahaya karena letaknya berada di daerah aliran lahar Gunung Semeru,” tutur Lyntar.

Ingin tahu selengkapnya tentang Mahagana UNAIR? Simak wawancara kru Radio UNAIR bersama Mahagana UNAIR.

Penulis: Faridah Hari
Editor: Defrina Sukma S