Melalui Perjuangan Menulis di Jurnal Scopus, Yeni Jadi Wisudawan Terbaik S3 FST

UNAIR NEWS – Kesulitan dalam membagi waktu antara keluarga dan kuliah S3 tidak membuat Yeni Kustiyahningsih, patah semangat. Hal tersebut dibuktikan Yeni meraih predikat wisudawan terbaik S3 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga dengan IPK 3,87.

Dalam tugas akhirnya, mahasiswa kelahiran Sidoarjo, 21 September 1977 tersebut mengangkat judul “Model Pengambilan Keputusan Grup Multi Kriteria Dengan Adaptive Interval Value Fuzzy Untuk Rekomendasi Sistem E-Learning. Dalam disertasi itu ia membahas mengenai pembuatan framework model pengambilan keputusan grup multi kriteria dengan konsep adaptive interval value fuzzy dan mengkonstruksi model hybrid metode Adaptive Interval Value Fuzzy Analytic Hierarchy Process (AIVFAHP) dengan Adaptive Interval Value Fuzzy Technique for Order Preference of Similarity Ideal Solution (AIVFTOPSIS). Juga mengimplementasikan model keputusan untuk pengukuran dan rekomendasi sistem e-learning.

“Artikel penelitian/disertasi saya diterima di jurnal bereputasi dan terindeks Scopus,” ucapnya.

Yeni menuturkan, bukan hal yang mudah agar disertasi tersebut diterima di jurnal bereputasi dan terindeks Scopus. Kesulitan dalam menentukan topik dan judul disertasi sampai menemukan benang merah penelitian S3 pun pernah dihadapinya. Ditambah, akses jurnal internasional yang berbayar sangat terbatas sehingga informasi yang didapat tidak optimal.

“Belum lengkapnya informasi mengenai jurnal yang terindeks Scopus, jurnal predator dan jurnal yang abal-abal juga sedikit menyulitkan saya untuk submit jurnal,” tambahnya.

Namun, banyaknya kendala yang dihadapi tidak membuat Yeni menyerah begitu saja. Prinsipnya, tidak menunda tugas dari dosen serta membuat planning apa yang akan dilakukan ke depannya. Juga, tidak pernah lupa untuk berdoa dan selalu berusaha. Alhasil, disertasinya diterima di jurnal bereputasi dan terindeks Scopus.

“Baca jurnal sebanyak-banyaknya dan segera submit jurnal jika proposal sudah diambil,” tambahnya.

Ke depan, selain kembali mengabdi menjadi dosen di Universitas Trunojoyo Madura, Yeni berencana mengembangkan bidang penelitian S3 dengan banyak menulis publikasi baik nasional maupun internasional. Selain itu, ia juga akan mengembangkan penelitian S3 yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kearifan lokal di Madura. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




Asik Berkarir Hingga Sempat Tak Ingin Kuliah, Zakky Jadi Wisudawan Berprestasi FKM

UNAIR NEWS – Ahmad Zakky Multazam atau yang akrab dipanggil Zakky, mahasiswa dengan jiwa bisnis yang besar ditunjang softskill bidang desain grafis, sempat tidak ingin melanjutkan kuliah selepas SMA. Terlebih ketika dirinya telah mendapat banyak permintaan desain baik dari dalam maupun luar negeri.

Tuntutan orang tua untuk melanjutkan kuliah membawa Zakky menjadi wisudawan berprestasi Fakultas Kesehatan Masyarakat PSKU UNAIR di Banyuwangi. Zakky berhasil lulus dengan perolehan IPK 3.41 dan SKP sebesar 1.130. Tidak hanya berkuliah saja, Zakky juga mengelola beberapa bisnis kecil-kecilan untuk menambah pemasukan dan mengasah kemampuan.

“Di samping kuliah, saya juga memiliki usaha percetakan kecil-kecilan, menjadi juragan cetak, serta membina bisnis kripik mbote kepada adik binaan,” ucap mahasiswa asal Kediri itu.

Meskipun sibuk berkuliah dan berbisnis, Zakky terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai organisasi. Ia dipilih menjadi ketua Keluarga Mahasiswa (KM) PSDKU UNAIR di Banyuwangi (2014), menjadi bagian dari B-PHA (Banyuwangi Public Health Association) dan koordinator Broadcasting Class Sinematografi (2016), serta koordinator Advokasi INSAN GENRE Banyuwangi (2017).

Prestasi yang diperoleh Zakky tidak kalah membanggakan. Tahun 2014 ia berhasil menjadi juara I Kumite Kelas Remaja Putra Piala PANGKOSTRAD Karate Full Body Contact Tingkat Nasional di Semarang dan juara II Logo dan Maskot Contest in ASEAN Tourism Forum di Manila (2016). Selain itu, pada semester lima Zakky mengikuti program pertukaran mahasiswa Permata di Univesitas Sumatera Utara selama satu semester.

Untuk adik-adik yang kini masih menjalani perkuliahan, Zakky berpesan agar mereka tidak terlalu asik menjalani rutinitas kuliah saja. Menurut Zakky, perbedaan mahasiswa dengan siswa biasa adalah pada pola pikirnya. Untuk itu, mahasiswa juga harus memperbanyak organisasi dan berdiskusi.

“Jika hanya fokus dengan kuliah, maka kita tidak akan bisa berkembang. Perlu untuk mengasah skill dan pola pikir dengan organisasi dan berdiskusi,” pungkas Zakky. (*)

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Binti Q. Masruroh




Tiga Tahun Berturut-turut Jadi Juara Debat Ilmiah Nasional

UNAIR NEWS – Amadea Zulfiah Azmi alumnus S1 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini memiliki segudang pencapaian yang membuat dirinya dinobatkan menjadi wisudawan berprestasi periode Desember 2018. Di antaranya, berhasil mengharumkan nama prodi Pendidikan Bidan UNAIR di ajang lomba kebidanan bergengsi pada bidang debat ilmiah nasional bertajuk Scientific Debate in National Camp Midwifery Student Competition (NCMSC).

Tak tanggung-tanggung, Amadea sukses menjadi jawara nasional selama tiga tahun berturut – turut sejak 2015 – 2017. Yakni, menjadi juara I pada tahun 2015, juara III pada tahun 2016, dan kembali merebut juara I pada 2016.

“Jujur saja, saya berawal tidak ingin sama sekali bersekolah di kebidanan. Sebagai anak yang berusaha mengejar ridha bapak ibu, saya berusaha mencoba dan struggling. As I go long, saya merasakan bahwa ilmu kebidanan yang saya pelajari ini insyaAllah bermanfaat untuk saya pribadi maupun orang-orang sekitar saya,” ungkap gadis kelahiran Surabaya itu.

Dirinya mengutarakan, tidak pernah memasang target tertentu untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Hal yang senantiasa dilakukannya ialah berusaha semaksimal mungkin dan tak henti memanjatkan doa.

“Singkatnya, melakukan hal terbaik itu tujuan, sedangkan mendapat apresiasi adalah dampak,” imbuhnya.

Perjuangan Amadea selama menempuh pendidikan tinggi rupanya bukan tanpa hambatan. Di pertengahan kuliah, ia mengaku sempat menghadapi masa sulit akibat faktor finansial. Ia pun harus memutar otak untuk mengatasi masalahnya agar dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa membebani kedua orangtuanya. Alhasil, kegigihan Amadea pun mengantarkan dirinya menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa PPA.

“Berinteraksi dan bermanfaat untuk sekitar. Disamping kegiatan non akademis di kampus, semenjak semester 2 akhir, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan menjadi tentor Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) bagi adik-adik SD dan SMP, hingga semester 7. Alhamdulillah mendapat rezeki untuk kebutuhan kuliah sehari-hari,” terangnya.

Kini, dirinya tengah fokus menjalani studi pendidikan profesi bidan serta menekuni bisnis kreasi hijab yang dirintisnya, Eluria.id. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




Banggakan UNAIR Hingga Kancah Internasional, Dewi Jadi Wisudawan Berprestasi FST

UNAIR NEWS – Berasal dari desa kecil di Lamongan, fokus menuntut ilmu di madrasah dan pondok pesantren membuat Dia Kurnia Dewi merasa minder dan ragu untuk dapat beradaptasi. Namun, pemikiran tersebut mulai terkikis ketika pertama kali dirinya dikukuhkan dan melihat para mahasiswa berprestasi UNAIR naik ke atas podium.

“Sejak saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh minder belajar di sini dan suatu saat saya harus menjadi bagian kesatria Airlangga yang bukan hanya bangga menjadi bagian dari UNAIR tapi juga harus bisa membanggakan nama UNAIR,” jelas Dewi, mahasiswa biologi yang berhasil menjadi wisudawan berprestasi Fakultas Sains dan Teknologi.

Dewi berhasi lulus dari UNAIR dengan IPK sebesar 3,37 dan SKP 1.397. Pretasi tersebut tentu tidak didapatkan Dewi dengan instan. Sejak tahun pertama perkuliahan, Dewi telah mengikuti berbagai organisasi dan perlombaan.

Berbagai prestasi telah diraih oleh Dewi. Tahun 2016 ia menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional SELF Udayana, Universitas Udayana; juara harapan I MTQM Regional cabang Fahmil Quran Universitas Trunojoyo; dan juara II Archipelago Essay Competition Universitas Pattimura.

Tahun 2017 Dewi berhasil menjadi finalis LKTI MIPA Open and Exposition Universitas Negeri Makassar, finalis Call for Paper LOGIKA Universitas Indonesia, juara III MTQM Nasional cabang Fahmil Quran, Universitas Negeri Malang – Universitas Brawijaya, dan memperoleh medali perak di ajang World Young Inventor and Exhibition Malaysia.

Tidak hanya itu, pada tahun 2018 Dewi memperoleh Gold Award on International Invention and Innovative Competition Malaysia.

“Bagi saya prestasi yang paling berkesan yaitu ketika menjadi Juara III cabang Fahmil Quran diajang MTQ Mahasiswa Nasional dan ketika mengikuti World Young Inventor and Exhibition yang mengantarkan saya dan tim memperoleh Silver Medal,” terang Dewi.

Setelah menyelesaikan studi S1, ke depannya Dewi ingin bekerja dan mengikuti kegiatan volunteer di waktu luang. Dewi merasa berkewajiban untuk terlibat dalam pengabdian masyarakat karena semasa kuliah dirinya merupakan mahasiswa Bidikmisi. (*)

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Binti Q. Masruroh




Juara 1 LKTI di Solo, Egy Jadi Wisudawan Berprestasi Vakultas Vokasi

UNAIR NEWS – “Sebenarnya saya orang yang tidak terlalu menonjol di akademik maupun non akademik. Bahkan saya orangnya humoris. Tetapi ketika saya sudah menentukan pilihan, saya akan berusaha untuk melakukannya semaksimal mungkin.” Itulah ungkapan dari Egy Ramandhani, wisudawan berprestasi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) periode Desember 2018.

Wisudawan kelahiran Sidoarjo, 8 Februari 1997 itu mengaku, selama kuliah di prodi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Hiperkes) Fakultas Vokasi UNAIR, dirinya diajari arti tanggungjawab, komunikasi, kekeluargaan serta kerja sama yang dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja.

Perjuangan menuntaskan kuliah tak selalu berjalan mudah. Awalnya, Egy terkendala ketika merasakan pengalaman praktik kerja lapangan (PKL). Egy mengakui dirinya merasa gugup saat pertama kali memberikan pengarahan mengenai keselamatan kerja kepada pekerja.

“Tetapi saya tidak menyerah dan saya belajar untuk berkomunikasi di depan pekerja. Lama kelamaan saya sudah bisa dan terbiasa untuk berkomunikasi di depan orang,” terang wisudawan yang pernah aktif di HIMA Hiperkes itu.

Pengalaman PKL itu diangkat Egy dalam kompetisi lomba karya tulis ilmiah (LKTI) IOSH Summit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Competition 2017 dan menjadi juara satu dalam kompetisi tersebut. Dia mengambil tema tentang penerapan budaya kerja sehat, dan menamainya dengan aplikasi SEGOMIMIK atau senam ergonomis dan musik. KTI itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi wisudawan berprestasi.

“Jadi itu (SEGOMIMIK, Red) dilakukan sesaat sebelum pekerja istirahat. Gerakan senamnya sederhana. Seperti gerakan salat, tetapi manfaatnya akan sangat baik bagi tubuh jika dilaksanakan secara berkelanjutan,” terang wisudawan yang sedang bekerja di PT Wilmar Gresik tersebut.

Tak lupa, Egy berpesan untuk mahasiswa UNAIR yang sedang menempuh kuliah. “Jangan sia-siakan waktu anda di kuliah hanya belajar atau bermain saja, jika ada kesempatan atau kegiatan yang sekiranya positif untuk dilakukan entah itu HIMA, BEM, UKM atau kegiatan di luar kampus yang diminati sebaiknya coba untuk dilakukan. Karena waktu kuliah ini menentukan kehidupan anda selanjutnya saat masuk ke masyarakat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Binti Q. Masruroh




Konsisten Tekuni Renang, Hezby Jadi Wisudawan Berprestasi Fakultas Psikologi

UNAIR NEWS “Perjuangan saya selama menempuh studi S-1 adalah memprioritaskan pendidikan. Walaupun saya sebagai atlet dituntut untuk latihan rutin setiap hari, namun saya berusaha untuk dapat mengimbanginya.” Begitulah ungkapan semangat dari Hezby Vierdausytha, wisudawan berprestasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga periode Desember 2018.

Wisudawan kelahiran Surabaya, 24 Januari 1997 tersebut menambakan, selama perkuliahan ia lebih banyak menghabiskan kegiatan di luar kampus. Seperti mengikuti kejuaraan pada event tingkat provinsi dan nasional cabang olahraga renang, dan berlatih di club renang Suryanaga Surabaya.

“Selain itu, saya juga ikut mendirikan UKM Airlangga Aquatic pada tahun 2016 dan menjadi sekretaris UKM tersebut. Selain menjadi pengurus, saya juga menjadi pelatihnya tahun 2016-2017. Dari situ, saya bisa berlatih dan mengikuti berbagai kejuaraan antar mahasiswa untuk mengharumkan UNAIR pada cabang olahraga renang,” terangnya.

Tak tanggung-tanggung, wisudawan yang akrab dipanggil Hezby ini mempunyai sederetan gelar juara renang yang cukup banyak. Prestasi terbesar yang pernah diperolehnya adalah mendapatkan 3 medali pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIV di Aceh pada tahun 2015, terdiri dari juara II renang gaya dada 50 meter, juara III renang gaya dada 100 meter, dan juara III renang estafet gaya ganti 4×100 meter.

Setelah lulus dari UNAIR, Hezby berkeinginan untuk kembali menekuni dunia renang. Selain itu, ia juga berharap dapat melanjutkan S-2 profesi psikologi di UNAIR dengan konsentrasi pengembangan bidang keolahragaan renang di Indonesia.

Tak lupa, wisudawan yang mengagumi sosok Giorgio Chiellini pemain Juventus tersebut berpesan kepada seluruh mahasiswa UNAIR. Pesannya, agar mahasiswa selalu mengasah kemampuan dengan selalu bersifat gigih dan bertanggung jawab terhadap apapun yang sedang ditekuni.

“Karena kesempatan menjadi mahasiswa tidak datang dua kali. Oleh karenanya harus dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan memprioritaskan mana yang lebih menjadi kewajiban utama,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Binti Q. Masruroh




Catatkan IPK Sempurna 4,00, Ika Jadi Wisudawan Terbaik S2 FKH

UNAIR NEWS – Mengangkat judul thesis Analisis Usaha Pengaruh Ekstrak Meniran (Phyllanthus niruni Linn) sebagai Pengganti Antibiotik Growth Promoter (AGP) pada Ayam Petelur yang Diinfeksi APEC (Avian Pathogenic Escherichia coli)” membawa Ika Anes Ajiardiana menjadi wisudawan terbaik S2 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR periode Desember 2018 dengan indeks prestasi kumulatif sempurna, 4,00.

Wisudawan kelahiran Malang, 30 Oktober 1991, tersebut mengulas tentang pengaruh penambahan ekstrak meniran (Phyllanthus niruni Linn) sebagai pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) pada pakan terhadap analisis usaha ayam petelur yang diinfeksi atau tidak diinfeksi oleh Escherichia coli.

Ika mengatakan terdapat tiga alasan mengapa dirinya meneliti topik tersebut; pertama dirinya berharap penelitian ini dapat menggantikan cara kerja AGP (Antibiotic Growth Promoter) yang penggunaannya sudah dilarang oleh pemerintah. Sebab, itu menimbulkan residu obat pada ternak, gangguan kesehatan pada manusia, timbulnya resistensi mikroba pathogen, dan tidak ramah lingkungan.

Kedua, mengetahui berapa jumlah atau dosis ekstrak meniran yang diberikan sebagai pengganti AGP pada pakan ayam yang diinfeksi dan yang tidak diinfeksi bakteri Escherichia coli. Dan yang ketiga, untuk mengetahui besar keuntungan dan kerugian peternakan ayam petelur yang diinfeksi dan yang tidak diinfeksi bakteri Escherichia coli dengan penambahan ekstrak meniran pada pakannya.

”Biasanya ayam petelur terinfeksi bakteri Escherichia coli dapat memproduksi telur dengan optimal setelah diberi penambahan ekstrak meniran pada pakannya dengan konsentrasi 30 persen dan tentunya itu tidak menimbulkan kerugian pada peternakan,” jelasnya.

Perempuan yang pernah praktek kerja di Dinas Peternakan Kota Denpasar tersebut, bahkan pernah memublikasikan penelitiannya dalam jurnal internasional dengan judul Effect of Meniran Extract (Phyllanthus Niruni Linn) to Alternate Antibiotik Growth Promoter (AGP) on Egg Quality and Economic Analysis of Layer that Infected By Eschericia Coli.

Untuk merealisasikan penelitiaannya itu, Ika ingin memulainya dari hal kecil. Misalnya, bercita-cita membuat usaha peternakan untuk masyarakat di desanya.

”Saya berkeinginan kuat membuat peternakan ayam atau sapi untuk memberdayakan masyarakat desa. Saya ingin membangun pola pikir masyarakat, terutama dalam hal etos kerja di bidang peternakan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifai




Rekomendasikan Pengelolaan Zakat di Perguruan Tinggi, Nisa Jadi Wisudawan Terbaik Pascasarjana

UNAIR NEWS – Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Begitulah perjalanan Khoirun Nisak, S.E., M.SEI., dalam menjalani studi S2 di Universitas Airlangga. Perbedaan budaya antara Malang dan Surabaya mengharuskan dirinya untuk ekstra keras beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun, mahasiswa kelahiran Trenggalek, 22 Agustus 1992 tersebut berhasil mengakhiri studinya dengan predikat wisudawan terbaik Sekolah Pascasarjana dan total IPK 3,8.

Tentang tugas akhirnya, mahasiswa yang akrab disapa Nisa tersebut mengangkat judul model pemberdayaan zakat di perguruan tinggi: studi kasus LAZ el-Zawa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dalam tesisnya tersebut, Nisa membahas mengenai pengelolaan zakat di perguruan tinggi. Menurutnya, topik tersebut merupakan hal yang baru dan jarang dibahas oleh mahasiswa lain.

“Saya ingin tesis saya tidak hanya berakhir berdebu di rak perpustakaan, tapi bisa menjadi rekomendasi dan manfaat bagi lembaga yang bersangkutan dalam pengelolaan zakat dan universitas lain yang ingin membuat lembaga zakat yang serupa,” tambahnya.

Nisa menuturkan, dalam pengelolaan zakat di perguruan tinggi uang zakat berasal dari karyawan kampus. Kemudian dari hasil pengumpulan dana tersebut, porsi dana zakat lebih besar disalurkan kepada civitas akademika yang kurang mampu.

Nisa menceritakan, saat kuliah di samping sibuk dengan akademiknya, Nisa juga disibukkan dengan menjadi supervisor Beastudi Etos Surabaya. Nisa juga termasuk pegiat #IndonesiaTanpaJIL chapter Surabaya , sebuah komunitas yang fokus mengkaji pemikiran Islam. Dalam event tertentu, Nisa juga mengikuti beberapa international conference di bidang ekonomi Islam serta menjadi salah satu penerima manfaat Beasiswa Kepemimpinan dari Dompet Dhuafa.

“Awalnya ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi di Surabaya dan membuat kesulitan beradaptasi tapi saya berusaha untuk terus menyesuaikan diri,” tambahnya.

Nisa mengaku harus banyak menyesuaikan diri dengan budaya Surabaya yang berbeda dengan budaya di Malang ketika menjalani studi S1.  Di samping itu, dirinya juga harus seimbang membagi waktu antara kuliah dan kerja.

“Tapi memang begitulah seninya belajar, kata Imam Syafi’i “kalau kau tak tahan menanggung lelahnya, maka kau harus tahan menanggung pahitnya kebodohan”,” ucapnya.

Saat ini, Nisa masih menjadi supervisor Beastudi Etos Surabaya dan menjadi asisten peneliti untuk beberapa riset. Kedepan, Nisa berencana untuk menjadi pengajar di kampus.

“Mahasiswa S2 seharusnya mindset-nya sudah beda dengan mahasiswa S1, porsi untuk penelitian, diskusi ilmiah, baca buku, dan menulis harus lebih besar. Jangan menjadi magister karbitan yang kapasitas keilmuannya belum mumpuni ketika lulus,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman




Aplikasikan Ilmu dengan Kembangkan Startup, Eka Jadi Wisudawan Terbaik S1 FST

UNAIR NEWS – Kretawiweka Nuraga Sani atau yang lebih karib disapa Eka mencintai mulai gemar mengembangkan startup sejak duduk di bangku semester lima perkuliahan. Beberapa startup itu ada produk yang ia hasilkan berkat ilmu yang ia dapat dari program studi sistem Informasi. Tak hanya memiliki keterampilan yang mumpuni, dalam bidang akademik Eka berhasil menamatkan studi dengan IPK cumlaude 3,56.

Sejak semester lima, bersama teman-temannya, Eka mengembangkan startup antara lain Hai UNAIR dan olimipiade.id. Hai UNAIR menjadi startup yang fokus pada pengembangan aplikasi kumpulan event-event yang ada di UNAIR. Sedangkan olimpiade.id merupakan startup yang menyediakan jasa pendaftaran online hingga ujian online.

Di ranah akademik, kegelisahan terhadap informasi hoaks yang bermunculan di Indonesia membuat Eka berinovasi membuat sistem pendeteksi keakurasian sebuah berita. Melalui inovasi itu, Eka membuat sistem pendeteksi berita, apakah berita tersebut fakta atau hoaks. Tentu, sistem itu sudah diberi algoritma dan sudah dilakukan proses training data.

“Saya ingin sedikit membantu menyelesaikan masalah peredaran informasi hoaks dengan ilmu yang saya punya,” terang Eka yang menulis skripsi dengan judul “Sistem Deteksi Hoax Berita Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Algoritma Naive Bayes”.

Saat ini Eka sedang bekerja sebagai Frontend Developer di kitabisa.com. Ia memiliki impian untuk bisa melanjutkan studi S2 nantinya.

“Saya ingin membuat produk startup sendiri. Tapi untuk saat ini saya masih butuh ilmu yg lebih banyak lagi,” terangnya.

Dikatakan Eka, tak ada kendala berarti dalam menyelesaikan perkuliahan. “Mungkin lebih ke bagi waktu pada semester enam, antara kuliah dengan kerja di startup itu,” papar Eka. Kesibukan itu ia rasakan ketika berada di semester 6 saat sedang mempersiapkan diri mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

“Kalau kuliah jangan hanya kuliah. Selagi masih kuliah gali aja potensi yang ada di dalam diri. Jangan sampai hingga lulus mahasiswa masih belum menggali potensi yang ada pada dirinya,” terang Eka. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh




Raih Juara dan Tiga Penghargaan dalam Sekali Lomba, Nina Jadi Wisudawan Berprestasi FH

UNAIR NEWS – Periode ini, nama Nina Farah Adela menjadi salah satu daftar wisudawan yang menyandang gelar sebagai wisudawan berprestasi. Alumnus S1 Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga ini telah banyak menorehkan catatan prestasi selama dirinya menempuh studi.

Di antaranya ialah, menjadi Juara 1 National Moot Court Competition Piala Mutiara Djokosoetono IX di FH Universitas Indonesia pada Desember 2016. Pada acara yang sama, Nina menyabet tiga penghargaan terbaik sekaligus, yaitu sebagai majelis hakim terbaik, penuntut umum terbaik, dan penasehat hukum terbaik. Kompetisi peradilan semu itu diikuti oleh beberapa tim yang beranggotakan 20 orang dari masing-masing universitas di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, pada April 2016, Nina juga meraih juara 3 Story Telling dalam acara The 20th ALSA National English Competition di FH Universitas Indonesia.

Disamping perkuliahan, Nina juga mengikuti beberapa kegiatan aktif di kampus. Di antaranya, anggota Divisi Moot Court dan anggota Divisi Eksternal dalam Komunitas Peradilan Semu (KPS FH UNAIR), Vice Head Officer of Information, Communication and Technology International Law Students Associaton (ILSA FH UNAIR), dan anggota Divisi Gunung Pecinta Alam Tanda Kehormatan (PATAKA FH UNAIR).

“Diluar kegiatan dalam kampus, saya menghadiri beberapa seminar atau konferensi internasional. Pada Juni 2015, saya berkesempatan untuk menjadi salah satu delegasi indonesia dalam acara Japan University English Model United Nations Conference di Kindai University, Osaka, Jepang,” sebut gadis asal Sidoarjo tersebut.

Kemudian, pada Januari hingga Februari 2018 Nina dan beberapa rekannya mengikuti kegiatan magang di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia.

Setelah menyelesaikan studi, ia berencana mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), melanjutkan pendidikan jenjang S2 Magister Hukum dengan konsentrasi international law, dan bekerja pada kantor hukum. (*)

Penulis: Zana Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh