Usul Solusi Disleksia, Angkita Raih Wisudawan Terbaik S2 FIB UNAIR

UNAIR NEWS – Angkita Wasito Kirana patut berbangga. Usaha dan kerja kerasnya selama menempuh studi S-2 (Master) akhirnya membuahkan hasil. Perempuan kelahiran Kota Surabaya, 20 Mei 1989 ini, dalam wisuda Universitas Airlangga edisi Desember 2017, dinyatakan sebagai wisudawan terbaik S-2 Fakultas Ilmu Budaya UNAIR. Ia meraih IPK 3,92.

Mengangkat tesis dengan judul ”The Relationship Of Reading Deviation And Reading Comprehension Of Dyslexic Adolescents In Galuh Handayani Inclusive School”, ia mencoba mengkaji kemampuan membaca di kalangan remaja disleksia. Harapannya, dengan mengkaji hal tersebut ia bisa memberikan sebuah solusi.

“Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membantu lebih memahami proses membaca mereka. Sehingga dapat membantu untuk mengatasi kekurangan mereka,” papar Angkita.

Ditanya mengenai kesibukan selama studi, Angkita berkisah bahwa ia pernah menjadi editor Etnolingual, jurnal milik Magister Ilmu Linguistik. Selain itu, perihal trik dan tips lulus terbaik, ia mengaku selalu memberikan usaha terbaik untuk setiap tugas yang diberikan, tanpa harus begitu memikirkan hasil akhirnya.

“Dalam setiap usaha, jika dapat bagus berarti usahanya membuahkan hasil bagus. Jika hasil kurang bagus, berarti masih butuh berusaha lebih keras lagi dan belajar dari pengalaman,” katanya.

Tidak hanya itu,  tulus dalam berteman dengan banyak orang menjadi cara yang Angkita lakukan. Sebab memiliki banyak teman, bagi anak pertama dari dua bersaudara itu sangat menguntungkan. Selain bisa menghibur dengan berbagai obrolan saat jenuh dengan tugas dan banyak pikiran, teman bisa membantu saat menemui kebuntuan ketika mengerjakan tugas/penelitian.

”Pokoknya dalam berteman harus tulus, kepada siapapun,” tegas Angkita.

Di akhir wawancara, perempuan penghobi bermain gitar ini kembali menegaskan, keseluruhan masa kuliah adalah pengalaman yang menarik. Berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki karakter yang sangat berbeda, juga memberikan berbagai pengalaman berharga. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Binti Q. Marsuroh.




Niken Indriyanti, Lulus Terbaik S3 Farmasi UNAIR dengan IPK Sempurna

UNAIR NEWS – Niken Indriyanti terbilang konsisten dalam melakukan penelitian saat menempuh pendidikan S-3 Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Airlangga. Melalui penelitiannya tentang Efek Fraksi Etil Asetat Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata (Lmk) Pers) terhadap Biomarker Lupus pada Mencit, Niken meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK sempurna, atau 4,00.

Penelitiannya ini merupakan lanjutan penelitian sebelumnya tentang efek ekstrak daun Cocor Bebek terhadap mencit lupus yang dilakukan saat di program Master (S-2) di ITB tahun 2011. Potensi itu diteliti karena daun Cocor Bebek potensial dan sangat mudah untuk tumbuh di Indonesia, sehingga bisa menjadi bahan baku obat herbal yang diproduksi dalam negeri.

”Sampai saat ini, pasien lupus sangat bergantung pada obat-obatan off-label untuk menjaga kondisi kesehatannya, terlepas dari risiko efek samping obat yang harus ditanggung. Hal ini mengakibatkan penelitian suplemen atau obat baru yang efektif serta aman untuk lupus sangat diperlukan,” kata perempuan kelahiran Trenggalek, 3 Maret 1985 itu.

Hasil serangkaian penelitian Niken sangat memuaskan, dan dapat dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi pada November 2017 dan Februari 2018. Beberapa hasilnya juga dipublikasikan sebagai makalah oral dalam forum seminar internasional di Universitas Brawijaya, Maret 2017, dan di UNAIR Juli 2017. Selain itu memenangi kompetisi nasional Care for Lupus SDF Awards oleh Syamsi Dhuha Foundation, dua kali beruntun, 2011 dan 2012.

”Setiap penelitian memiliki ‘seni’ masing-masing. Saya mempelajari permodelan mencit lupus ini sejak 2011, sehingga tidak ada kendala berarti. Terlebih, UNAIR memiliki peralatan yang lengkap dan program-program training untuk menunjang kemampuan mahasiswa serta langganan jurnal internasional. Namun, penelitian ini cukup menyita waktu karena banyak marker yang diukur,” jelas Niken.

Ke depan, ia terus berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi di jurnal internasional bereputasi. Termasuk dalam buku sebagai bahan belajar para peneliti pemula serta mahasiswa. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor : Bambang Bes.




David Mundovi, Lulus Terbaik S2 FEB UNAIR, Ingin Berkontribusi untuk Kantor

UNAIR NEWS – Menjalani perkuliahan pada program Master (S-2) dengan pekerjaan aktif sebagai insinyur mekanik, bukanlah tanggungjawab yang mudah. Apalagi ditambah tanggungjawab sebagai kepala rumah tangga yang memiliki dua anak.

Namun, tanggungjawab itu dapat diselesaikan dengan sempurna oleh David Mundovi. Ia dinyatakan lulus S-2 (Program Magister) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga pada wisuda Desember 2017 kemarin. Ia meraih IPK 3.88.

David adalah Insinyur mekanik pada Departemen Rancang Bangun PT Petrokimia Gresik, yaitu anak usaha PT Pupuk Indonesia yang bergerak di bisnis pupuk dan bahan kimia. Baginya, bekerja sambil kuliah merupakan tantangan tersendiri, khususnya dalam manajemen waktu. Ia dituntut bisa melaksanakan kewajiban terkait pekerjaan sehari-hari di kantor, juga harus menyelesaikan deadline tugas perkuliahan yang relatif padat.

“Saya sangat berterima kasih atas dukungan keluarga yang dengan sukarela mengorbankan family time-nya dan tiada henti memberikan semangat. Terimakasih juga kepada manajemen PT Petrokimia Gresik atas segala support dan dispensasi yang diberikan sehingga mampu menyelesaikan studi ini,” kata David.

Karena bekerja di BUMN, David memanfaatkan momentum itu untuk menulis penelitian untuk tesisnya dari tempatnya bekerja. Ia memilih tema “Kajian Strategi Bisnis PT Petrokimia Gresik dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Guna Memenangkan Persaingan Bisnis Serta Menjawab Tantangan Global.

”Judul ini saya ambil dengan harapan bisa memberikan kontribusi bagi perusahaan sebagai salah satu referensi dalam merumuskan strategis bisnisnya guna mencapai objectives, goals, dan visi perusahaan menjadi produsen pupuk dan bahan kimia yang berdaya saing tinggi dan produknya paling diminati,” ujar pria kelahiran Mojokerto 6 Mei 1985 itu.

Kepada mahasiswa adik kelasnya yang sedang menempuh S-2, David berpesan agar menjalani kuliah dengan niat tulus dan komitmen yang kuat. “Seperti yang dikatakan Abraham Lincoln, Commitment is what transforms A Promise into Reality. Saya hanya bisa  memberikan tips decide, commit, succeed,” tukas David mengakhiri. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Bambang Bes




Tiada Proses Instan, Nur Aini Raih Predikat Wisudawan Terbaik S2 Farmasi UNAIR

UNAIR NEWS – Nur Aini Mulyadi, S.Farm., Apt., M.Farm., alumnus prodi S2 Ilmu Farmasi, dalam wisuda edisi Desember 2017 kemarin dinyatakan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Perempuan kelahiran Kota Surabaya 26 Desember 1991 ini menyelesaikan studinya dengan meraih IPK 3,90.

Ditemui unair.news, Aini mengakui tidak ada kata instan dalam menuai kesuksesannya ini. Tentu saja, ada air mata dan rasa kecewa turut mewarnai prosesnya. Namun ia tetap teguh menentukan arah serta memotivasi diri, dan itulah kuncinya.

Selama belajar, Aini melakukan berbagai penelitian dan publikasi. Diantaranya, International Journal of ChemTech Research yang berjudul ”Phase Behavior of Dried–DDA Liposomal Formulation Dispersed in HPMC Matrix in The Presence of Saccharides”. Kemudian Journal of Biomimetics, Biomaterials, and Biomedical Engineering dengan judul ”Physical Characterization of Liposomes Formulation Lyophilized in The Presence of Disaccharide and HPMC as Dispersed Matrix”.

Kepada media ini, ia menceritakan penelitian tesisnya tentang pengembangan formula liposom kering ovalbumin menggunakan lioprotektan sukrosa dan matriks pendispersi hpmc (sebagai sistem penghantaran vaksin). Ketertarikannya terhadap liposom didasari atas kelebihannya dibanding sistem penghantar obat lainnya.

Diantaranya, tersusun atas lipid bilyer yang memiliki kemampuan mimicking terhadap sel tubuh yang menjadi target hingga mampu mengenkapsulasi bahan obat baik yang bersifat hidrofil (larut air) di bagian interior core.

”Penelitian tesis butuh waktu, pikiran, dan tenaga. Terutama pengujian untuk mengetahui integritas ovalbumin, baik menggunakan SDS-PAGE dan Bradford Assay. Selain itu, ketidaknyamanan atas panjangnya antrean pengujian yang tak diimbangi kemampuan alat,” katanya.

Saat ini Aini memanfaatkan ilmunya sebagai apoteker. Meski demikian, dia tidak berhenti belajarnya sampai di sini. Ke depan, Aini ingin mengembangkan eksipien cetak langsung dari kombinasi Sukrosa-Polyplasdone XL-10-HPMC pada fungsi kadar tertentu menjadi satu paket co-processed excipient sehingga bisa langsung digunakan pada proses produksi semua pembawa obat yang rentan mengalami re-kristalisasi dan pemisahan fase selama liofilisasi. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor : Bambang Bes

 




Teliti Penyebab Anak ’Ngamuk’, Yunita Fauziah Lulus Terbaik S1 Keperawatan UNAIR

UNAIR NEWS – Mulanya, perasaan salah dalam memilih jurusan juga tebersit dipikiran Yunita Fauziah. Namun ia terus mencoba beradaptasi dengan jurusan pilihannya itu. Sempat mengalami kesulitan di awal perkuliahan, namun akhirnya Yunita membuktikan studi S1-nya finish dengan beragam prestasi dan lulus dengan predikat terbaik Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Ia meraih IPK 3,71.

”Waktu itu saya dipercaya untuk mewakili Jurusan Keperawatan UNAIR dalam debat bahasa Inggris, dan alhamdulillah saya berhasil meraih juara II,” kenang Yunita, kala ditemui unair.news.

Prestasi Yunita pada English Debate Ners Vaganza tahun 2014 meningkatkan kepercayaan dirinya untuk terus meraih prestasi. Kesempatan mewakili fakultas kembali diperoleh Yunita dalam Conference The 48th APACPH yang berlangsung di Tokyo, tanggal 16-19 September tahun 2016.

Paper-nya pada saat itu membahas tentang program screening kesehatan untuk Warga Negara Asing (WNA) yang akan masuk ke Indonesia, termasuk memberikan imunisasi dan profilaksis.

“Saya tidak menyangka bisa lolos, awalnya saya cuma submit paper. Jadi saya dapat berangkat ke sana untuk presentasi papernya itu,” ucap perempuan anak pasangan Marti dan Suprianto ini.

Menurut Yunita, perjuangannya dalam menjalani perkuliahan itu sama saja dengan mahasiswa lain. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja, perjuangan yang ia lakukan lebih giat dan lebih gigih ketika memperjuangkan sesuatu. Dalam menyelesaikan skripsi, misalnya sebagai salah satu syarat kelulusan, Yunita mengambil judul “Hubungan antara Parental Self Efficacy dengan Frekuensi Temper Tantrum pada Anak Usia 2-5 Tahun.

Skripsi itu ia tulis lantaran melihat kondisi lingkungan sekitar dimana banyak anak-anak yang ‘merajuk’ sampai mengamuk pada orang tuanya saat keinginannya tidak dituruti. Yunita lantas tertantang untuk mencari tahu dan penyebab dari tabiat kurang baik itu.

Dari hasil skripsi itu, ia tahu pentingnya kepercayaan diri dari orang tua dalam mengasuh dan menanggapi perilaku emosi yang ditunjukkan anak. Menurutnya, orang tua harus memiliki keyakinan bahwa ia dapat mengasuh anaknya, tetap optimis untuk bisa menghadapi tantangan dan mau berusaha mencari penanganan yang terbaik. (*)

Penulis : Helmy Rafsanjani

Editor: Binti Q. Masruroh.




Nurmalasari, Wisudawan Terbaik S3 FST: Kuliah Bukan untuk Naik Jabatan

UNAIR NEWS – Termotivasi dari kurang maksimalnya penggunaan alat deteksi penyakit tanaman buatan luar negeri, mendorong peneliti dalam negeri mencari alternatif lain alat yang lebih cocok digunakan di Indonesia.

Berangkat dari itulah Nurmalasari, mahasiswa S3 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga meneliti untuk disertasinya dengan judul “Pengembangan Metode Imunodiagnosis Penyakit Mosaik Tebu Menggunakan Antibodi Untuk Rekombinan Protein Kapsid Sugarcane Mosaic Virus”. Akhirnya ia dinyatalan lulus sebagai wisudawan terbaik dengan meraih IPK 3,91.

Menurut Nurmalasari, penelitian yang ia lakukan itu untuk memperoleh antibodi poliklanal spesifik. Hal itu sebagai uji cepat deteksi penyakit mosaik tebu yang dilakukan Sugarcane Mosaic Virus (SCMV) dari lima kabupaten di Jatim yaitu Magetan, Madiun, Lumajang, Jember, dan Bondowoso.

”Penelitian ini saya lakukan selama tiga tahun, dengan sampel berupa daun tebu yang menunjukkan gejala visual penyakit Mosaik dari lima kabupaten untuk mendapatkan sumber gen protein kapsid SCMV,” jelasnya.

terbaik
NURMALASARI ketika menerima piagam penghargaan dari Rektor UNAIR, seusai wisuda, Minggu (3/12). (Foto: Helmy Rafsanjani)

Disamping tanggungjawabnya menjadi staf urusan pembibitan tanaman, wanita asal Surabaya ini hanya berharap –saat itu—bisa menyelesaikan studi S3-nya dengan tepat waktu.

”Sebenarnya di PT Perkebunan Nusantara XI itu tidak ada tuntutan untuk harus kuliah lagi. Tetapi dengan kuliah, kemampuan kerja akan semakin terasah dan jauh lebih matang. Pendidikan sangat berguna, jadi jangan menganggap kuliah hanya untuk naik jabatan,” papar Nurmalasari.

Disamping menjadi seorang ibu rumah tangga dan dosen di sebuah universitas di Surabaya serta di Universitas Negeri Jember, motivasi untuk belajar pun tak ada pasang surutnya. Ia berprinsip untuk mencapai semua prestasinya itu adalah disiplin waktu.

”Pada kuliah ini pun saya tidak mau merepotkan banyak orang di sekitar saya, baik keluarga, rekan kerja dan lainnya. Dulu saya cuma ingin lulus tepat waktu, jadi tidak terbesit menjadi wisudawan terbaik,” kata Nurmalasari. Kendati demikian ia tetap mensyukurinya. (*)

Penulis: Disih Sugianti

Editor : Nuri Hermawan




Agnes Santoso Bangga Jadi Bagian UNAIR

UNAIR NEWSSebagai seorang perempuan yang sudah lama berkecimpung di dunia broadcast, menghidupi pembicaraan agar menarik dan mengalir adalah hal yang biasa dilakukan. Pengalaman itulah yang terasa saat UNAIR News menemuinya di Rektorat Kampus C Universitas Airlangga Senin siang (4/12). Ya, dialah Agnes Santoso.

Perempuan lulusan Fakultas Hukum UNAIR itu memang telah lama malang melintang di dunia layar kaca, baik televisi nasional maupun regional. Kalau masih ingat, terutama generasi ’90-an, nama Agnes pasti tidak asing dengan acara Krucil di SCTV. Sebab, dia menjadi presenter-nya. Itu dulu.

Kini dia aktif menjadi news anchor di SBO TV. Termasuk sebagai pembawa acara dalam beberapa program. Di antaranya, Jurnalis Klub setiap Selasa dan Kamis pukul 19.30 dan Dialog Hukum setiap Senin pukul 20.00 di SBO TV.

”Ya, memang sebenarnya passion dari dulu kan entertain dan public speaking,” tuturnya saat ditanya soal aktivitasnya sekarang.

Agnes menceritakan, meski menggeluti dunia broadcast, saat memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di UNAIR, dirinya tak sempat berpikir memilih jurusan ilmu komunikasi. Kedokteran UNAIR menjadi pilihan pertamanya saat mengikuti UMPTN (SBMPTN dulu. red).

Sempat menjalani kuliah selama dua semester, dia kerap menemui jadwal yang berbentur antara pendidikan dan bidang pekerjaannya. Pada tahun berikutnya, perempuan asli Surabaya tersebut memutuskan kembali mengikuti UMPTN dan memilih Fakultas Hukum UNAIR.

Selepas pendidikannya, Agnes tidak langsung kembali terjun ke presenter. Dia sempat menjadi pekerja kantoran di dua perusahaan. Yakni, dua tahun di bank Mandiri di bagian legal dan tiga tahun di PLN wilayah Indonsia Timur merangkap menjadi sekretaris general manager serta bagian legal pula.

”Ya, setelah di Mandiri, di PLN, saya jalan lagi di presenter. Pagi masuk kantor, malamnya bergelut di dunia broadcast lagi,” ungkapnya.

Setelah kantornya pidah ke Makassar, perempuan penyayang anjing itu akhirnya memutuskan untuk resign dan fokus menggeluti presenter di SBO TV hingga sekarang. Meski dianggap tak sesuai dengan keilmuannya, bagi Agnes, ilmu hukum yang diperolehnya sangat berpengaruh terhadap kesibukannya sekarang.

Sebab, era saat ini pengetahuan hukum sangat dibutuhkan. Terlebih Agnes aktif menjadi pembawa acara dalam program Jurnalis Klub dan Dialog Hukum yang kerap mengangkat tema-tema hukum.

”Selain itu, menjadi lulusan UNAIR adalah sebuah kebanggan. Lihat para lulusannya, Pakde Karwo dan banyak lagi,” ujarnya.

Lanjut S2

Banyak tokoh-tokoh penting yang ditemui Agnes saat membawakan program. Ilmu, pengalaman dan inspirasi selalu membuka pikirannya tentang apa pun. Meski Agnes sempat minder, nama besar dan prestasi lulusan-lulusan UNAIR turut memberinya kepercayaan serta kebanggan sehingga mampu melewati semua itu.

Meski cukup nyaman dengan kesibukannya saat ini, ke depan, Agnes memiliki banyak target berikutnya. Salah satunya melanjutkan pendidikan S2-nya.

”Saat ini memang menjadi pelaksana, ke depan juga ingin terlibat langsung dalam produksi. Selain itu, ingin membuat program dan kegiatan yang masih dicari konsepnya, ini,” ungkapnya.

Bagi Agnes, setiap langkah yang dilakukan sekarang mesti ditujukan untuk mempersiapkan hal yang terbaik. Meski demikian, kesiap-siapan pada hal yang diluar rencana juga harus dibangun. Seperti halnya prinsip yang dipegang Agnes selama ini ”Prepare to the best, ready to the worst”.

”Sebab, manusia boleh berencana. Apa pun dan bagaimana pun. Namun, satu detik setelah ini, manusia tak punya kemampuan untuk mengetahuinya. Jadi mesti menyiapkan dan bersiap.” tuturnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan




Meircurius Dwi Condro Lulus Terbaik S2 UNAIR, Teliti ’Liquid Smoke’ Atasi Sariawan

UNAIR NEWS: Meircurius Dwi Condro Surboyo sempat kebingungan dalam memilih topik penelitian untuk tugas akhirnya (TA). Sampai suatu ketika ia terinspirasi dari almarhum ayahnya dalam suatu usaha yang keras.

Dalam TA untuk tesis itu ia meneliti potensi penggunaan liquid smoke (asap cair) dari tempurung kelapa yang dimanfaatkan sebagai terapi sariawan pada kondisi penderita diabetes mellitus (DM). Ditunjang oleh tesisnya ini pula, akhirnya Meircurius DC meraih predikat wisudawan terbaik Prodi Magister Ilmu Kesehatan Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga. Ia meraih IPK 3,87.

Ide tesisnya itu muncul setelah ia dulu sering melihat ayahnya memanfaatkan asap cair dari tempurung kelapa untuk menyembuhkan luka di kulit.

”Sebelum meninggal, ayah membuat dan menggunakan liquid smoke untuk mengurangi rasa sakit pada luka di kulit. Hasilnya, lukanya jadi lebih cepat sembuh,” tuturnya.

Dan memang, secara tradisional liquid smoke sebagai pengawet ikan, produk olahan daging meatball, hingga produk olahan kacang semacam tahu dan tofu. Namun, potensi terapinya belum bisa dibuktikan secara ilmiah.

”Karena itu saya ingin menelitinya. Liquid smoke memiliki kandungan phenol, guaicol, dan 2EMP sebagai senyawa antioksidan dan mampu mempercepat penyembuhan sariawan,” tambahnya.

Laki-laki kelahiran Jember Mei 1990 itu termotivasi mendalami penelitian ini karena sebagai dokter gigi, ia sering menjumpai pasien dengan keluhan sariawan yang tak kunjung sembuh. Jadi mengganggu, apalagi pasien diabetes millitus. Sariawan di mulut berpotensi menjadi gangguan penyembuhan.

lulus
REKTOR UNAIR menyampaikan piagam penghargaan sebagai wisudawan terbaik kepada Meircurius DCS, Minggu (3/12) kemarin di Gedung ACC UNAIR. (Foto: Helmy Rafsanjani)

”Umumnya sariawan diobati secara topikal (obat diberikan langsung pada sariawan). Misalnya obat kumur. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat kumur tidak mampu mempercepat penyebuhan sariawan,” jelas pria yang  pernah juara I kompetisi case repot oral medicine oleh FKG UNAIR yang bekerja sama dengan Galaxo Smith Klien.

Meircurius terkesan dengan penelitiannya saat membuat liquid smoke di LIPI Tangerang, ia harus menyusun dan memasang alat pirolisis serta alat distilasi sendiri. ”Ini jauh berbeda dari yang pernah saya lakukan. Tak terbayangkan harus seperti seorang teknisi,” katanya. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Bambang Bes.




Wujudkan Mimpi Orang Tua, Ema Marantika Raih Wisudawan Terbaik FISIP

UNAIR NEWS – Cerita mahasiswa tingkat akhir umumnya hampir sama, menyelesaikan tugas akhir dengan bolak-balik mengganti tema, judul penelitian, bahkan merombak isi skripsi. Itulah yang dialami Ema Marantika. Namun akhirnya berbuah manis. Wisudawan asli Kabupaten Nganjuk yang akrab disapa Ema itu, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)  Universitas Airlangga dalam wisuda 2 Desember kemarin. Ia meraih IPK 3,77.

Tidak hanya itu. Ema sempat beberapa kali mengganti bagian teori dalam skripsinya, juga lokasinya. Tentu saja ia juga menemui berbagai tantangan, mulai dari mengalami kecelakaan yang ia alami sendiri, hingga ada beberapa kendala komunikasi dengan lokasi penelitiannya.

“Kalau masalah teori memang saya gonta-ganti, karena waktu itu pemahaman saya yang keliru dan akhirnya diarahkan oleh dosen pembimbing saya,” kenang Ema Marantika.

Aktivis yang selama dua periode ikut mengabdi pada Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga (AUBMO – Airlangga University Bidik Misi Organization), merasa senang karena telah berhasil mewujudkan keinginan dan kebahagiaan orang tuanya, yaitu menjadi wisudawan terbaik S1 FISIP UNAIR.

”Ini memang mimpi dan keinginan belau (orang tua – red), dan alhamdulillah saya bisa memenuhinya,” katanya terharu.

Ditanya tips bisa menjadi yang terbaik? Ema mengatakan, kepada mahasiswa tingkat akhir hendaknya perlu bekerja keras untuk mencari topik atau tema. Kemudian hal-hal yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh takut ketika akan menemui dosen pembimbing, meskipun dosen itu killer.

”Perihal menemui dosen pembimbing, jika ia killer, bisa diatasi dengan banyak bekal. Salah satunya dengan memperbanyak membaca referensi, baik referensi dari dalam ataupun luar negeri,” imbuhnya.

Pada akhir tipsnya, Ema kembali mengingatkan bahwa hal-hal yang sering dialami oleh mahasiswa adalah rasa malas. Kemudian jika kebetulan pas rasa malas datang, maka perlu untuk sejenak mencari hiburan, refreshing untuk melepaskan penat. (*)

Penulis : Akhmad Janni.

Editor : Nuri Hermawan.




Emil Faizza: Kuncinya, Manajemen Waktu

UNAIR NEWS – Kalau Anda termasuk salah seorang yang tinggal di Jawa Timur, terutama pemirsa setia JTV, sosok bernama lengkap Emil Faizza pasti tidak asing. Ya, perempuan yang baru menyelesaikan pendidikan S2 Media Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga itu merupakan salah seorang presenter yang sudah lama malang melintang di dunia media dan broadcast. Banyak program acara unggulan di JTV yang dibawakannya.

Sosok tinggi yang tinggal di Deltasari Indah, Waru, Sidoarjo, tersebut adalah seorang jurnalis, broadcaster sekaligus entertainer yang mengawali karirnya dari beberapa stasiun radio swasta setelah terlebih dahulu mengembangkan potensinya di bidang public speaking. Yakni, menjadi master of ceremony (MC) dan moderator.

Pengalamannya dalam dunia tersebut sangat banyak. Berbagai acara bertema berbeda pernah Emil bawakan. Misalnya, acara musik, pemerintah, jumpa fans, event, dan seminar. Jika didaftar mencapai puluhan event. Emil menjelaskan, dirinya mulai berkecimpung dalam dunia MC saat duduk dibangku SD.

Hingga akhirnya, bidang pekerjaannya di dunia media dan komunikasi menuntunnya untuk mengambil keputusan harus malanjutkan pendidikan S2 di bidang tersebut. Masuk pada 2015, Emil menempuh pendidikan S2 dengan lancar, yaitu lulus tepat waktu pada 2017.

Bagi dia, keputusan itu harus diambil karena setiap orang mesti melakukan upgrade diri, kemampuan, dan pengetahuan.

“Sebab, jika tidak, hal-hal baru yang lebih dari capaian sekarang tak akan mungkin bisa dilakukan,” tegasnya.

Mengawali pendidikan D1 information technology dan S1 pendidikan bahasa Inggris, Emil mantab melanjutkan pendidikan S2 jurusan media komunikasi FISIP UNAIR meski harus melawati rentang waktu yang lumayan lama. Yakni, selama sepuluh tahun. Sebab, selama bekerja setelah S1, bahkan sebelumnya, bidang kerjanya memang banyak berkecimpung di dunia tersebut.

“Saya bersyukur bisa mengombinasikan pendidikan dan pengalaman bekerja,” paparnya.

Selalu Ada Tantangan

Menurut Emil, setiap bidang pekerjaan pasti menemui tantangan dan risiko. Termasuk bidangnya, yaitu MC. Suatu ketika, perempuan yang berhobi membaca dan menyanyi itu pernah mengalami kejadian yang kurang mengenakkan. Emil sempat terjatuh dari panggung setinggi 1,5 meter ketika membawakan suatu acara setelah backdrop panggungnya roboh.

Di sisi lain, setiap event berbeda yang dibawakannya selalu memberikan pelajaran yang menarik. Termasuk pengalaman dan tantangan baru. Salah satunya adalah berkesempatan membawakan acara presiden. Termasuk mewawancarai tokoh-tokoh nasional Indonesia. Misalnya, Jusuf Kalla, Prabowo, dan Susilo Bambang Yudhoyono,

Selain itu, saat menempuh pendidikan S2, Emil harus pandai-pandai mengatur waktu. Sebab, jadwal pekerjaanya yang padat harus mampu dia siasati dengan jadwal kuliah sekaligus mengerjakan tugas-tugasnya. Bagi dia, kunci dalam mengahadapi semua itu adalah manajemen waktu. Jangan pernah sekali-kali menunda pekerjaan dan berpikir masih ada banyak waktu.

“Segeralah kerjakan. Jangan menunda. Selain itu, dukungan keluarga sangatlah penting dalam mengantarkan saya melewati tantangan hingga  menyelesaikan S2 tepat waktu,” pungkasnya.(*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan