Robert James Bintaryo, Alumnus Manajemen Jadi Kepala KDEI Taiwan

UNAIR NEWS – Robert James Bintaryo merupakan alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga yang menjadi Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) Taipei. Ia merupakan lulusan Manajemen tahun 1986.

Robert merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Lulus dari SMAN 5 Surabaya pada tahun 1979, pria kelahiran Malang ini sempat gagal masuk UNAIR. Robert kemudian berkuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya.

Tahun berikutnya, Robert mencoba lagi mengikuti seleksi masuk UNAIR dan diterima di Jurusan Manajemen yang menjadi pilihan pertamanya.

“Sampai saat ini saya masih hafal nomor identitas mahasiswa saya,” ungkap lelaki kelahiran 2 September 1959 bangga.

Saat Robert mulai berkuliah, orangtuanya pensiun. Ia dan saudara-saudaranya yang menempuh pendidikan tinggi pada waktu yang sama, harus memahami kondisi keuangan keluarga. Robert yang suka menikmati musik, bersama teman-temannya sering mengadakan acara bermusik untuk mendapatkan uang tambahan.

“Sering bikin acara siaran di TVRI. Saya sendiri nggak bisa main musik, tapi teman-teman saya yang main. Jadi, kita punya semacam event organizer musik. Saat itu bisa masuk TVRI itu sudah senang sekali rasanya,” kenangnya.

Skripsinya tentang produk pakan ternak sebuah perusahaan pakan ternak di Jawa Timur mengantarkannya lulus menjadi sarjana ekonomi pada tahun 1986. Setelah lulus, Robert sempat bekerja di perusahaan asuransi di Jakarta. Dua tahun kemudian ia mengikuti seleksi dan lolos menjadi PNS di Kementerian Perindustrian dan Pedagangan (Kemenrindag) pada saat itu.

Dapat Beasiswa Kuliah di Inggris

Saat menjadi PNS di Kemenrindag, Robert mendapatkan beasiswa untuk studi di Inggris selama dua tahun. Robert mengambil Diploma Business Administration di Cardiff Business School, Cardiff,  pada tahun pertama dan melanjutkan Master of Business Administration di Hull University, Hull, pada tahun kedua.

“Alhamdulillah tesis saya dipilih oleh professor untuk disidangkan beliau. Jadi, saya tidak perlu maju sidang,” paparnya.

Pengalaman bersama TKI

Sebelum memimpin KDEI, Robert telah memiliki banyak pengalaman memimpin. Ia pernah menjadi Atase Perdagangan Belgia/Uni Eropa (2005 – 2009), Kepala Bagian Bantuan Luar Negeri Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian Perdagangan (2009), Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis Direktorat Jenderal (Ditjen) Perdagangan Dalam Negeri (2014 – 2016), serta Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Ditjen Perdagangan Dalam Negeri (2016).

Berbekal pengalamannya memimpin organisasi, menjadi atase, dan berbaur dengan masyarakat, Robert memimpin KDEI Taipei yang terdiri dari beragam divisi seperti imigrasi, perdagangan, perindustrian, investasi, ketenagakerjaan, serta pelayanan dan perlindungan WNI.

Pelayanan dan perlindungan WNI menjadi tantangan tersendiri bagi Robert. Pasalnya, jumlah Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan sendiri pada tahun 2016 telah mencapai 253 ribu atau 1 persen dari total populasi Taiwan, dan ada 5000 pelajar Indonesia di Taiwan.

Sering kali ia terjun langsung ke lapangan untuk memantau para TKI yang bermasalah, mengunjungi TKI yang sakit, mengadakan buka bersama para TKI, hingga bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk mengadakan acara hiburan bagi para TKI.

Menurut penghobi renang ini, kunci keberhasilannya adalah mampu menjaga kepercayaan, jejaring, dan mau terjun ke masyarakat.

“Saya punya banyak teman. Tanpa bantuan teman-teman rasanya saya tidak bisa seperti ini. Selain itu juga menjaga kepercayaan yang sudah diberikan,” paparnya.

Harapan untuk UNAIR

Sebagai alumnus UNAIR, Robert berpesan untuk para mahasiswa dan alumni, agar kita ingat bahwa negara membutuhkan kontribusi kita.

“Perhatikan masyarakat bawah, agar kontribusi kita untuk negara bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” papar Robert.

Robert berharap, dengan kualitas pendidikan yang dimiliki UNAIR, serta dukungan para alumni, UNAIR bisa mengejar rangking dunia. “Kita sudah punya tokoh-tokoh yang diperhitungkan. Tinggal kita tingkatkan lagi, dan terus menjaga kualitas,” ungkap Robert.

Kakak dan adik Robert juga alumnus UNAIR. Kakaknya seorang dokter gigi, dan adiknya dokter wanita spesialis bedah tulang pertama di Indonesia, dr. Yvonne Sarah Bintaryo.

Penulis: Inda Karsunawati (alumnus Fisika UNAIR dan kandidat master Teknobiomedik di National Taiwan University of Science and Technology)

Editor: Defrina Sukma S

 




Dosen UNAIR Hobi Menyanyi dan Ciptakan Lagu

UNAIR NEWS – Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa alunan musik adalah bagian dari kehidupan manusia. Tidak pandang dari kalangan mana, seseorang pasti akan mencintai alunan musik sesuai genrenya. Begitu pula yang dirasakan oleh salah satu dosen di Departemen Sastra Indonesia Universitas Airlangga Mochammad Jalal, S.S., M.Hum. Dosen Linguistik ini mengaku mencintai dunia musik sejak masih usia belasan tahun.

“Sebenarnya sampai sekarang dunia musik bagi saya hanya sekedar penyaluran hobi yang tidak pernah saya geluti secara profesional,” ungkap Jalal.

Sejak kecil, dosen yang akrab disapa Jalal ini memang tumbuh di lingkungan yang bersentuhan dengan alunan-alunan musik. Sang ayah, sering nembang macapat sebagai penghantar tidurnya. Selain itu, di lingkungan masjid tempatnya mengaji juga banyak hal yang berkaitan dengan nada-nada musik yang harus dihafal.

“Ya banyak yang harus saya hafal, seperti puji-pujian, sholawatan, diba’, dan lainnya,” ujar Jalal.

Dosen asal Bojonegoro ini mengaku, dirinya dibesarkan di lingkungan masyarakat yang kental dengan tembang-tembang seni tradisional. Tayub dan gending-gending Jawa adalah musik yang sering Jalal dengarkan sejak kecil. Maka tak heran, bakatnya memainkan alat musik seperti seruling dan gitar memang telah terasah secara otodidak sejak dini.

“Bermula dari sanalah rupanya yang menumbuhkan sense of music saya. Menginjak remaja, saya mulai berlatih musik, gitar, dan seruling secara otodidak. Dalam olah vokal, saya juga mulai berlatih dengan menirukan suara penyanyi yang kala itu lagu-lagunya saya nilai menarik, baik dari genre pop dan dangdut,” tutur laki-laki yang melanjutkan studi S-2 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini.

Hasilnya tidak main-main. Saat duduk di bangku SMA, Jalal pernah menjuarai kompetisi menyanyi dangdut se-Kabupaten Bojonegoro.

Hobi menyanyi tidak hanya berhenti sampai usia SMA saja, namun berlanjut hingga dirinya tercatat sebagai mahasiswa UNAIR tahun 90-an. Bahkan, Jalal dengan sengaja bergabung dengan grup Paduan Suara UNAIR agar dapat belajar musik secara teoritis.

“Di PSUA era 90-an, saya termasuk tim inti yang dikirim di berbagai event nasional dan selalu tidak ketinggalan dalam berbagai festival untuk membela UNAIR,” tuturnya.

Kepada UNAIR News Jalal menuturkan, dirinya saat itu mulai tertarik dengan genre seriosa yang dianggap paling sulit dalam seni olah vokal. Semangatnya belajar untuk dapat menguasai genre musik itu membuahkan hasil. Di tahun 1994, Jalal berhasil menjadi Juara 1 kompetisi menyanyi se-Jawa Timur untuk kategori seriosa.

Menciptakan lagu

Dengan bergabung PSUA sejak tahun 2008, kemampuan dosen yang kini tinggal di Sidoarjo ini dalam mengaransemen suara dan menulis lagu kian terasah. Apalagi, kini dirinya telah mempunyai single lagu yang sudah viral di kampus karena unggahannya di akun YouTube beberapa bulan lalu.

Saat diwawancarai mengenai single terbarunya yang berjudul Izin Poligami, ia menuturkan bahwa apa yang ditulis hanya untuk hiburan semata.

“Itu sebenarnya iseng dan untuk lucu-lucuan saja. Ketika isu poligami sedang ramai dibicarakan di media, saya jadi ingin membuat lagu dari genre dangdut. Tidak norak, smart, tapi bisa menggambarkan isu poligami dengan apik,” ungkapnya.

Berbekal melakukan rekaman di studio milik teman serta hasil dorongan keras dari teman, single tersebut akhirnya ia unggah di YouTube, mulai viral dan menjadi pembicaraan di lingkungan UNAIR.

Jalal mengatakan, hobi di dunia seni musik tidak pernah menjadi pengganggu aktivitasnya sebagai dosen. Namun justru sebaliknya, dapat disinergikan dengan berbagai kegiatan seni yang diselenggarakan di UNAIR. Berbekal kompetensi itu, Jalal dipercayai menjadi pembina PSUA sejak 2003 hingga 2015. Selain itu, pihaknya kini menjadi pembina Paguyuban Karawitan Sastra Jendra (Pakar Sajen) FIB UNAIR.

“Saya juga sering dipercaya menyelenggarakan event yang berhubungan dengan seni di UNAIR. Misalnya tahun 2011 saya berhasil membuat pertunjukan ludruk berbahasa Suroboyoan dengan mengkolaborasikan antara dosen, mahasiswa, dan mahasiswa asing,” tambahnya.

Jalal mengaku, meskipun sekadar hobi, seni musik cukup bisa menghasilkan uang. Dengan menjadi Pembina PSUA dan terkadang mendapat pesanan untuk mengaransemen lagu, rezeki bisa mengalir dengan sendirinya. Pihak keluarga juga sering mengandalkan dirinya menjadi pengisi acara musik tradisional maupun modern. Selain itu, melalui hobi bermusik Jalal mengaku semakin menambah relasi dan kolega yang memiliki hobi yang sama.

“Ya yang jelas ini memang awalnya hanya sekedar hobi. Tidak pernah terbersit keinginan untuk benar-benar profesional. Hanya menggeluti bidang ini. Ya pokoknya just fun dan main-main dengan bidang musik seperti sekarang ini saya rasa cukup,” ungkapnya di akhir perbincangan. (*)

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor : Binti Q. Masruroh




Maulana Satria Aji, Pelajar Bidikmisi Membangun Kampung Kelahirannya

UNAIR NEWS – Maulana Satria Aji, mahasiswa S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga berhasil mengubah wajah kampungnya. Daerah kelahirannya, Kelurahan Sidotopo, Surabaya kini berhasil menjadi kampung percontohan keluarga berencana Jawa Timur tahun 2016.

Aji, sapaann akrabnya, adalah pemuda berusia 20 tahun ini merupakan salah satu penerima bantuan pendidikan Bidikmisi di UNAIR. Anak sulung dari tiga bersaudara ini adalah tamatan SMA Muhammadiyah I Surabaya. Sempat terbersit untuk tidak melanjutkan kuliah. Ia merasa tanggungan orang tuanya sudah berat karena harus membiayai kedua adiknya.

Namun, ia tak lekas menyerah. Ia mendapatkan informasi dari kakak tingkat tentang bidikmisi. Inilah titik ia mulai merangkai mimpi untuk berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR. Dan juga, memperbaiki wajah tanah kelahirannya.

“Kampung saya terkenal dengan berbagai tindak kriminal. Dulunya, saya merasa enggan untuk berkecimpung di karang taruna. Sempat takut terbawa kebiasaan kurang baik orang-orang sekitar. Saya juga prihatin melihat teman-teman yang sebaya dengan saya terbiasa minum minuman beralkohol,” tutur Satria.

Langkah demi langkah ditapaki, ia bersama keenam temannya mengajak para ‘pentolan’ geng pengguna narkoba untuk berdiskusi. Tidak mudah membuat orang berubah. Itulah yang terbersit di pikiran Aji saat mengajak para pengguna untuk meninggalkan obat-obatan terlarang. Caci maki sudah biasa ia terima dari orang-orang sekitar.

“Awalnya mereka tidak mau diajak berubah. Bahkan saya kerap diejek karena sering main ke balai rukun warga setempat untuk mengajak mereka berubah. Dikatain sok bener lah dan sempat diludahi,” tutur Aji saat ditemui UNAIR News.

Tidak berhenti sampai disitu, Aji mengajak mereka untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan  Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur dan Badan Narkoba dan Narkotika. Setelah dikarantina selama dua minggu, mereka berubah drastis. Layaknya efek domino, dampak baik itu menyebar ke orang-orang sekitar.

Pada tahun 2016, mulailah dibentuk pusat informasi dan konseling sebagai wadah untuk berbagi permasalahan dan segala penyelesaiannya. Di tahun yang sama, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan kampungnya sebagai Kampung Keluarga Berencana (KB). Perannya membangun pemuda-pemudi di kelurahan setempat mendapat apresiasi.

“Perasaan saya ketika didatangi Bu Risma sungguh sangat senang sekali. Bahkan, ada orang dari Blitar sampai menitikkan air mata melihat perjuangan kami mengubah kampung ini. Bagaimana kami rela mengajarkan dan menuntun tanpa mengharap balas jasa.” jelasnya.

Bangun kampung literasi

Di samping membangun kampungnya, Aji yang gemar menulis ini beberapa kali menjadi delegasi konferensi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bertemu orang-orang hebat di negeri ini dan saling bertukar pikiran tentang bangsa ini. Keyakinannya dalam membangun negeri melalui komunitas pun diwujudkan dalam Komunitas Pelajar Mengajar Surabaya (KPMS).

Komunitas tersebut baru-baru ini mendapatkan penghargaan komunitas terbaik dari AIESEC. Sebagai ketua dari komunitas, ia menggagas program mengajar di Kampung Sidotopo tanpa dipungut biaya. Mereka hanya perlu ‘membayar’ dengan sampah yang kemudian dipilah untuk kerajinan. Selain di Sidotopo, KPMS juga hadir di Nginden, Tambak Wedi, dan Kampung Nelayan Sukolilo.

“Awalnya saya melihat anak-anak kecil sibuk bermain gawai dan permainan dalam jaringan di warung kopi. Saya tergerak mengajak mereka untuk mengisi waktu luang dengan belajar. Baik belajar pelajaran sekolah atau mengaji. Bahkan sebelum kegiatan pengajaran dimulai, mereka salat berjemaah yang dipimpin oleh salah satu dari anak didik KPMS,” imbuh pemilik indeks prestasi kumulatif 3,25.

Ke depannya, ia ingin membentuk kampung literasi yang saat ini sedang dirancang. Akan ada perpustakaan dan pembuatan mural. Tujuannya, untuk menumbuhkan kegemaran membaca pada seluruh tingkatan usia. Mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Tetaplah terus berkarya, Aji!

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S




Puteri Indonesia Jawa Timur Tertarik Jadi Dosen

UNAIR NEWS – Puteri Indonesia Jawa Timur (Jatim) tahun 2017 Fatma Ayu Husnasari mengaku tertarik menjadi dosen bila ditawari untuk mengajar di almamater kuliah Fakultas Hukum, Universitas Airlangga. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Fatma, sapaan akrabnya, usai dikukuhkan menjadi mahasiswa baru jenjang pascasarjana, Kamis (10/8), bersama 1.450 mahasiswa baru lainnya.

“Bisa. Saya juga kepikiran untuk jadi dosen. Sebenarnya sudah ada tawaran jadi dosen, tapi bukan di UNAIR. Saya merasa terlalu cinta UNAIR sehingga kalau ada tawaran jadi dosen di UNAIR saya akan tertarik di sini,” ujar Fatma seraya tertawa.

Fatma melanjutkan studi S-2 di FH UNAIR setelah melepas statusnya sebagai mahasiswa S-1 dari fakultas yang sama pada tanggal 17 Maret tahun 2017 lalu.

Hasratnya untuk menempuh pendidikan begitu besar. Bagi Fatma, melanjutkan studi merupakan sebuah kebutuhan untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas keilmuan. Terlebih ia kini masih menyandang predikat sebagai Puteri Indonesia Jatim 2017.

“Sebagai Puteri Indonesia, selain kita dituntut untuk fisiknya harus bagus, maka juga dituntut untuk jadi orang yang pintar, untuk nambah wawasan dan ilmu kita. Sehingga, ketika ada kesempatan untuk sekolah lagi, mengapa tidak,” terang Fatma.

Gadis bertubuh jenjang tersebut ingin meneruskan studinya pada peminatan yang sama dengan yang ditempuhnya pada saat kuliah S-1 dulu, yakni Hukum Bisnis. Peminatan ini juga selaras dengan keinginan presenter magang Metro TV untuk menjadi pengampu bidang hukum di suatu badan usaha.

Rencananya, saat kuliah S-2 nanti, Fatma juga ingin mengikuti konferensi internasional dan publikasi riset tentang keilmuan yang ia dalami. “Boleh. Jika ada kesempatan untuk mengikuti riset, penelitian baik dari UNAIR maupun yang saya lakukan sendiri, saya tertarik untuk mengikuti,” ungkap perempuan kelahiran Blitar itu.

Kuliah jenjang master juga menuntut kemampuan Fatma untuk multitasking. Ia harus bisa membagi tanggung jawab baik di bidang pekerjaan maupun pendidikan agar keduanya berjalan optimal. Belum lagi kegiatannya sebagai Puteri Indonesia Jatim 2017 yang mengharuskannya untuk hadir di berbagai acara.

“Saya harus siap dengan tanggung jawab. Saya sudah memilih dan kita harus menampilkan yang terbaik untuk tanggungjawab yang sudah kita pilih,” kata Fatma.

Ia lantas berharap agar studi masternya di FH UNAIR berjalan lancar, lulus tepat waktu, dan mendapatkan hasil yang terbaik. Fatma juga berpesan agar kawan-kawannya di organisasi Puteri Indonesia tak pernah melupakan pentingnya pendidikan. (*)

Penulis : Defrina Sukma S

Editor : Binti Q. Masruroh




Penerima LPDP Sering Juarai Kompetisi Jurnalistik

UNAIR NEWS – Bermodal tekad dan nekat. Itulah langkah awal Eben Haezer saat memutuskan kuliah S-2 di FISIP UNAIR. Pasalnya, saat itu ia kekurangan dana untuk membiayai kuliah dan kehidupan sehari-hari.

“Mendaftar kuliah S-2 itu jadi salah satu keputusan terbesar yang saya buat. Karena saat itu tabungan saya tidak mencukupi untuk membayar biaya pendaftaran,” kenangnya.

Langkah Eben tidak berhenti. Ia kemudian mengajukan pinjaan ke koperasi untuk menutup biaya pendaftaran. Dari hasil pinjaman ditambah sisa tabungan dan tambahan penjualan printer, akhirnya cukup untuk membayar pendaftaran. Setelah dinyatakan diterima sebagai mahasiswa S-2 Media dan Komunikasi, upaya Eben adalah mendaftar beasiswa LPDP.

“Tak disangka, selain mendapat beberapa proyek, saya juga lolos seleksi penerima beasiswa LPDP,” terangnya.

Selama masa studi, Eben juga menjadi seorang jurnalis di salah satu media di Surabaya serta aktif di organisasi profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surabaya.

“Saya juga aktif di luar kampus dengan menjadi jurnalis serta dipercaya sebagai sekretaris di organisasi AJI Kota Surabaya,” jelas Eben yang juga suka travelling ini.

Eben juga berhasil menyabet beberapa penghargaan di bidang jurnalistik. Diantaranya, juara III Journalist Competition kategori tulis di ajang Indonesia IT 2013, juara III Karya Jurnalistik Petrokimia Media Awards 2013, dan juara III Kompetisi Blog AirAsia Indonesia tahun 2014.

“Selain pernah menjuarai ajang lomba, saya juga aktif sebagai pemateri dan pembicara dalam beberapa acara jurnalistik,” terangnya.

Meski menjalani kuliah dengan berbagai kesibukan dan kompetisi, Eben tidak melupakan kewajiban studinya. Akhirnya studinya diselesaikan dalam 2 tahun dengan nilai IPK 3,77.

“Asal semua itu dijalani dengan memiliki visi, konsisten dengan visinya, siap lelah, berani menjadi yang pertama, dan tidak meremehkan diri sendiri,” pesan Eben. (*)

Penulis : Akhad Janni

Editor : Nuri Hermawan




Plasma Darah Jadi Alternatif Mahalnya Biaya Stem Cell

UNAIR NEWS – Lama bergelut dalam laboratorium stem cell, Annas Prasetyo Adi ingin berkontribusi di bidang kesehatan dengan memanfaatkan limbah medis plasma darah pasien  dalam proses isolasi stem cell. Berbekal tesisnya berjudul “Proliferasi Mesenchymal Stem Cells From Human Exfoliated Deciduous Teeth (Shed) yang di Kultur Pada Media Dengan Plasma Darah Manusia” Annas dinobatkan wisudawan terbaik S-2 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga dengan IPK 3,84.

Kepeduliannya dengan pasien terhadap mahalnya biaya terapi pengobatan berbasis stem cell inilah yang mendorong alumnus S-2 Biologi ini membuat alternatif baru. Alternatif itu dimulai dari plasma darah pasien yang dijadikan sebagai pengganti fetal bovine serum (FBS) yang selama ini menjadi komponen penting sebagai campuran medium kultur stem cell.

“Pengggunaan stem cell yang dikultur dalam medium yang telah dimodifikasi tersebut dapat mengurangi bahaya penolakan dan lebih aman ketika digunakan dalam aplikasi klinis karena plasma darah tersebut berasal dari pasien itu sendiri,” jelas wisudawan terbaik asal Sidoarjo.

Disamping pengetahuan akademisnya tersebut, ia juga pandai memodifikasi peralatan laboratorium penelitiannya akibat keterbatasan fasilitas yang ia temuai disana.

“Awalnya saya kesulitan untuk melaksanakan penelitian ini karena keterbatasan fasilitas, Tapi dengan memodifikasi segala peralatan yang sangat terbatas itu, akhirnya saya mendapatkan tambahan ilmu praktis yang tidak pernah didapatkan dibangku perkuliahan,” imbuh Annas.

Keuletan menjadi sebuah kata yang tidak bisa jauh dari pribadi Annas. Ikhlas sampai tuntas itulah yang selalu ia geluti di dalam laboratorium biologi setiap hari.

“Ikhlas dan selalu mencoba untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai sampai tuntas.  Walaupun terkadang harus terbangun dini hari dan mengorbankan waktu istirahat tetapi yang penting saya melakukan semuanya dengan senang hati dan ikhlas,” jelas Annas.

Ia tidak menyangka, bahwa proses yang membuatnya jatuh dan bangun untuk mendapatkan gelar magister tersebut akhirnya dapat terselesaikan beserta bonus menjadi wisudawan terbaik S-2 FST. (*)

Penulis : Disih Sugianti

Editor : Nuri Hermawan




Wisudawan Terbaik Menjadi Dosen di Tanah Kelahiran

UNAIR NEWS – Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Lambaung Mangkurat, Banjarmasin ini tercatat sebagai wisudawan terbaik S-3 Fakultas Hukum Universitas Airlangga periode wisuda Juli 2017. Ialah Rachmadi Usman, laki-laki kelahiran Banjarmasi, 14 September 1967 yang lulus dengan perolehan IPK sebesar 3.83.

Menjadi wisudawan terbaik merupakan prestasi yang membanggakan, tak terkecuali bagi Rachmadi. Perolehan predikat ini tidak ia dapat secara tiba-tiba. Pasalnya, selama menjalani studi S-3, tidak sedikit perjuangan yang dilalui Rachmadi. Namun hal itu tidak membuat dirinya menyerah dalam memperdalam studi Ilmu Hukum.

Seperti dosen-dosen pada umumnya, dalam enam tahun terakhir Rachmadi aktif mengikuti simposium nasional, seminar dan lokakarya, konferensi nasional, maupun focus group discusion (FGD).

Sejak 1993 hingga sekarang, Rachmadi tercacat sebagai Dosen tetap UNLAM Banjarmasin. Ia tercatat pernah menjadi Kepala Bidang Pendidikan Program Magister Ilmu Hukum UNLAM tahun 2006-2010, Pemimpin Lembar Warta FH UNLAM tahun 2006-2010, Ketua Bidang Litigasi Lab. Hukum FH UNLAM tahun 2008-2010, Pembantu Dekan I Bidang Akademik FH UNLAM tahun 2010-2012, Penyunting Lambung Mangkurat Law Journal Program Magister Kenotariatan FH UNLAM, dan masih banyak jabatan lainnya.

Beberapa penghargaan yang diperoleh Rachmadi antara lain mahasiswa berprestasi I FH UNLAM tahun 1990, Dosen Teladan I FH UNLAM tahun 1999, Pemakalah Terbaik I Seminar Program Pengembangan Diri Bidang Ilmu Hukum oleh Dirjen Dikti tahun 2005, Satyalencana Karya Satya X Tahun pada 2011, dan masih banyak prestasi lainnya.

“Berdoa dan bersedekah. Mandiri, tidak putus asa, dan meluangkan waktu setiap hari untuk menulis disertasi. Karena dengan berdoa dan bersedekah, insya Allah akan membantu memperlancar dan memudahkan segala urusan kita,” imbuhnya. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Binti Q. Masruroh




Kecintaan Terhadap Hewan Antarkan Desy Raih Wisudawan Terbaik

UNAIR NEWS – Menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga tentunya selalu berinteraksi dengan hewan. Bahkan tak sedikit ada mahasiswa yang memelihara herwan. Desy Meta Anggraini misalnya, yang memiliki hewan peliharaan di rumahnya.

“Merawat hewan adalah kegiatan favorit saya, di rumah punya banyak hewan seperti kucing, sapi, burung, lele, dan angsa,” ujarnya.

Kecintaannya terhadap binatang itu mengantarkan Desy berhasil meraih wisudawan terbaik dengan IPK 3,94. Ia mengaku pencapainnya ini tidaklah mudah. Perjuangan yang sangat luar biasa ia rasakan, pasalnya ketika mengerjakan tugas akhir tersebut ia sempat berkali-kali menjalani revisi.

“Skripsi ini memang penuh pengorbanan, baik waktu, pikiran, dan perasaan. Terlebih ketika teman-teman saya revisi 3-4 kali kemudian sidang, saya harus melewati 15 kali revisi, dan juga harus membagi waktu sebagai asisten dosen,” papar Desy.

Dibalik perjuangan tersebut Desy memiliki modal yang luar biasa, yakni tekad menghadapi sesuatu yang dengan sabar dan ikhlas. Karena kesemuanya itu bagi Desy adalah hal yang membuat semakin mandiri.

“Pokoknya jangan pernah berhenti mengerjakan skripsi atau tugas walupun mood sedang jelek, lebih baik kerjakan sedikit demi sedikit namun ajeg dan jangan banyak mengeluh percaya saja bahwa Tuhan yang punya rencana indah. Kucinya adalah usaha, sabar, dan tawakal,” jelas.

Perempuan kelahiran Pacitan 23 tahun silam ini juga aktif di organisasi kampus. Tercatat selama studi ia sempat menjabat sebagai sekretaris Divisi Media dan Opini Jamaah Mulim Veteriner tahun 2014. Selain itu, ia pernah juga menjadi Asisten Dosen di Departemen Parasitologi selama 2 semester.

“Saya merasa bangga karena bisa mendapat kepercayaan dari dosen untuk bisa membimbing adik-adik. Melelahkan memang namun rasanya bahagia ketika bisa membantu adik-adik untuk memahami materi,” pungkasnya. (*)

Penulis : Akhmad Janni

Editor : Nuri Hermawan




Anak Kampung Nelayan dari Tarakan Jadi Wisudawan Terbaik

UNAIR NEWS – Menjadi bagian dari sivitas akademika Universitas Airlangga membuat Sam Sam Eka Bada, anak nelayan di pesisir Tarakan Kalimantan Utara, terus berpacu lebih giat. Usaha dan kerja kerasnya selama studi di UNAIR pun terbayar dengan berhasil menyabet gelar wisudawan terbaik dengan nilai IPK 3,95.

Anak pertama dari empat bersaudara tersebut menuturkan, selama studi ia harus berlari dalam proses pembelajaran, karena tidak mudah baginya yang berasal dari keluarga nelayan yang jauh di kota kecil Tarakan beradaptasi dengan mahasiswa lainnya.

“Namun berkat bertukar pengetahuan yang diberikan dari teman-teman serta para dosen alhamdulillah akhirnya saya sadar akan pentingnya bidang keilmuan K-3 yang saya tekuni,” terangnya.

Laki-laki kelahiran Banyuwangi, 19 Juli 1992 tersebut mengangkat tesis dengan judul “Analisis Hubungan Paparan Benzena dan Kadar Trans, Trans Muconic Acid (Tt-Ma) Urin dengan Profil Darah Pengrajin Sepatu di Kelurahan Tambak Oso Wilangun  Surabaya”.

Alasannya, mengambil riset tersebut karena implementasi dari perhatian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K-3) bagi para pekerja yang bekerja di sektor industri informal sangatlah kurang. Untuk itulah, dalam pengerjaan tesisnya, ia berfokus pada penelitian dan edukasi pekerja.

“Lebih dari itu kami juga memberikan penyuluhan terkait teknis cara bekerja yang aman bagi kesehatan hingga memberikan contoh formulasi makanan yang dapat mereduksi substansi bahan toksik bagi tubuh pekerja,” terangnya.

Di akhir, laki-laki yang hobi menikmati beragam kuliner dan sepakbola tersebut memiliki cara untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi. Salah satunya yakni menjadikan segala hal dalam kulih dilakukan secara totalitas dan sungguh-sungguh.

“Dan hal yang terpenting adalah “Habluminallah wal Habluminannas” selalu dijaga dengan baik, Insya Allah everything’s going to be OK,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Defrina Sukma S.




Teliti Penyakit Newcastle Disease, Indah Jadi Wisudawan Terbaik

WARTA UNAIR – Indah Laili Rahmawati terbilang gigih dalam menuntaskan pendidikan S2 Program Studi Vaksinologi dan Imunoterapi. Melalui penelitiannya tentang analisis asam amino gen fusion (F) dan prediksi epitop sel B virus Newcastle Disease yang memiliki sifat imunogen tinggi sehingga dapat digunakan vaksin berbasis epitop di Indonesia, perempuan kelahiran Banjarbaru, 16 Oktober 1993 ini meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,92.

“Alasan saya mengambil riset ini karena penyakit Newcastle Disease sangat menular pada ayam, spesies burung peliharaan dan burung liar, dan menyebabkan kerugian ekonomi di industri perunggasan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan vaksin berbabis epitop yang mampu menanggulangi penyakit tersebut,” tuturnya.

Perjalan Indah tidaklah mudah. Ia mengalami beberapa kendala terkait manajemen waktu. Awalnya ia kerepotan mengatur waktu. Namun seiring berjalannya waktu ia mulai memahami prosedur-prosedur penelitian. Hal itu membuatnya mampu mengatur waktu dan mengatasi kesalahan dalam penelitian.

Ia mengaku perjuangannya membuahkan hasil setimpal. Beragam perjuangan ia lakukan, mulai mencari sampel di pagi-pagi buta, mengulangi hasil pemeriksaan yang gagal, menunggu hasil dari sebuah uji, serta masalah klasik yaitu revisi. “Saya bahagia karena dikelilingi orang-orang yang membantu saya, tim yang hebat, serta pembimbing-pembimbing yang luar biasa,” kata Indah.

Indah mengaku segala hal yang dilakukan karena cinta akan mendorong untuk bekerja keras, tidak mudah menyerah, tekun, dan memberikan yang terbaik. Terlepas dari itu, motivasinya adalah untuk membanggakan orang tua.

“Kelak apabila diberi kesempatan, saya ingin melanjutkan penelitian ini lebih dalam,” kata perempuan alumni SMA Negeri 1 Amuntai ini.

Baginya, semakin mendalami sesuatu maka akan timbul kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Maka dari itu, ia tidak ingin berhenti belajar. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor : Nuri Hermawan