Mahasiswa FEB UNAIR jadi Delegasi Terbaik Asia-Pasific MUN 2018

UNAIR NEWS – Sejarah kembali mencatat prestasi membanggakan Ksatria Airlangga dalam daftar prestasi di kancah internasional. Keberhasilan tersebut diraih oleh Nur Pratama Abdi Muhammad, mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR).

Abdi membawa pulang prestasi sebagai Most Outstanding Delegate dalam Asia – Pasific Model United Nations (AMUNC) 2018. Acara itu dihelat oleh University of New South Wales dan Model United Nations Student Association of Australia di Sydney, Australia, pada 8-13 Juli 2018.

AMUNC merupakan Konferensi Model United Nations tahunan terbesar di kawasan Asia-Pasifik. Dalam konferensi ini, para peserta bertidak sebagai delegasi berbagai negara dan organisasi international untuk berdiskusi dan debat serta menyusun resolusi mengenai isu-isu internasional.

Kegiatan yang dilakukan dikawasan Asia Pasifik tersebut diikuti lebih dari 500 peserta dari seluruh dunia, termasuk beberapa dari negara Eropa turut ambil bagian dalam perhelatan besar tersebut. Indonesia memberangkatan sekitar 50 orang sebagai delegasi yang mewakili beberapa kampus ternama.

Sebelum akhirnya terpilih menjadi delegasi, para peserta diwajibkan mendaftakan diri terlebih dahulu. Seleksi meliputi mengirimkan esai serta sertifikat bahasa Inggris TOEFL. Setelah terpilih, delegasi akan mendapatkan plotting ke negara yang harus mereka perankan. Terlepas dari mereka adalah delegasi Indonesia, namun harus berperan sesuai negara dan topik yang mereka dapatkan.

Abdi mengungkapkan, sebelum diberangkatkan ke Sydney, delegasi Indonesia mendapatkan pelatihan khusus tentang berberapa aspek penting, meliputi public speaking, leadership, riset, serta menulis formal.

Mahasiswa yang pernah meraih prestasi sebagai Runner Up of ICAEW National Business Case Competition 2017 yang diselenggarakan di Indonesia Stock Exchange beberapa waktu lalu ini menuturkan, kegiatan AMUNC tak lepas dari dukungan Beswan Djarum. Dari Beswan Djarum, mereka juga mendapatkan pembekalan intensif tentang gambaran simulasi MUN, simulasi sidang, hingga mengasah kemampuan debat para anggota delegasi.

Tak hanya itu, delegasi Indonesia juga berkesempatan berkunjung ke United Nation Information Centre di Jakarta untuk berdiskusi mengenai MUN dan isu-isu internasional yang sedang hangat saat ini.

Abdi melanjutkan, membawa nama besar UNAIR dan Indonesia bukan perkara mudah. Banyak yang harus dipersiapkan. Abdi juga merasa mendapat tantangan tersendiri lantaran baru saja menyelesaikan sidang skripsi beberapa waktu lalu. Ketika itu, pembekalan intensif yang harus Abdi jalani bertepatan dengan jadwal bimbingan dan sidang skripsinya.

Menurutnya, kemampuan manajemen waktu serta mengatur emosi menjadi skill yang harus dimiliki mahasiswa untuk menyelesaikan kewajiban dengan baik. Hal ini ia lakukan tak lain sebagai bentuk kontribusi nyata sebagai mahasiswa.

“Almamater tidak meminta materi sebagai bentuk kontribusimu sebagai mahasiswa selama kuliah. Maka yang bisa kamu berikan sebagai bentuk apresisasi serta kontribusimu pada almamater adalah dengan mengukir prestasi baik nasional maupun internasional,” pungkasnya. (*)

Penulis : Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor : Binti Q. Masruroh




Hannan, Tak Ada Keterbatasan untuk Jadi Penghafal Alquran

UNAIR NEWS – Sepintas tak ada yang berbeda dengan salah satu peserta Dauroh Tahfidz ini. Ia menyambut ramah ketika UNAIR NEWS menemuinya selepas murajaah. Ia tak keberatan ketika kami hendak merangkum ceritanya sebagai sosok yang menginspirasi.

Adalah Hannan. Keterbatasan fisiknya bukan jadi penghalang untuk mencapai apa yang diimpikan. Menyandang tunanetra sejak lahir tak membatasi dirinya untuk bisa belajar Alquran. Ia membuktikan, semangat dan kesabarannya mampu mengantarkannya menjadi penghafal Alquran. Berbekal lima juz hafalan, tahun ini Hanan berkesempatan menerima beasiswa tahfidz Quran.

Hannan mengakui, bahwa selama ini dirinya hanya menghafal secara otodidak sejak semester I. Ia rajin mendengar murottal Alquran atau membaca Alquran braille miliknya.

Sebagai salah satu penerima beasiswa tahfidz dari UNAIR, Hanan diwajibkan mengikuti program Dauroh Tahfidz yang dimulai sejak Rabu (1/8). Bersama dua puluh sembilan rekannya, ia menjalani karantina dan monitoring hafalan selama tujuh hari di Masjid Ulul Azmi.

”Sebab, selama ini hafalannya secara otodidak. Jadi, tidak ada yang mengoreksi. Melalui dauroh tahfidz, saya bisa melakukan setoran hafalan dan dikoreksi oleh ustadzah sehingga hafalan saya lebih baik,” katanya.

Selain itu, Hannan merasa senang dapat bertemu teman-teman baru yang sama-sama berproses menghafal Alquran. Kegiatan tersebut merupakan kesempatan bagi dia untuk bisa belajar agama lebih intensif dari sebelumnya.

”Dengan menghafal, saya selalu merasa bersama Alquran. Dan, Allah senantiasa memuliakan orang-orang yang menghafal Alquran,” ujar mahasiswi D3 Bahasa Inggris tersebut.

Bagi dia, Alquran adalah obat terbaik ketika semangat belajar dan imannya sedan turun. Tiap kali seusai membaca Alquran, Hanan selalu merasa mendapat pertolongan dan kemudahan. Pada sela-sela wawancara, ia sempat melantunkan beberapa ayat dari Surat Ar-Rahman dengan fasih dan merdu.

Hannan berbagi kisah awal mula memutuskan untuk berhijrah. Berawal dari pengalaman umrah tahun lalu, ketika ia sedang berada di Masjidil Haram. Di sana, Hanan mendengar orang-orang di sekitarnya tengah mengaji. Sebab, baterai Alquran digitalnya habis, ia pun sedih tak bisa turut mengaji.

”Andai hafal Alquran, tentu saya bisa ikut mengaji seperti mereka. Pikir saya waktu itu,” kenangnya. Ia pun bertekad akan menghafal Alquran dengan sungguh-sungguh ketika tiba di tanah air.

Bukan hanya itu, Hanan juga membagikan pengalamannya saat mengunjungi Palestina. Ia mendengar dengan saksama ketika pemandunya menjelaskan tentang kondisi anak-anak di sana. Betapa sulit bagi anak-anak Palestina bisa belajar dan menuntut ilmu di tengah keadaan yang memprihatinkan.

Dari situ, Hannan merasa bahwa selama ini dirinya jauh lebih beruntung mendapat berbagai kelapangan dalam hidupnya. Ia menyesali dirinya yang dulu terlampau berorientasi pada hal duniawi. Sepulang dari Palestina, muncul niatnya untuk memperdalam ilmu agama.

Hannan juga merasa terkesan dengan perlakuan orang-orang di sana kepada para penyandang disabilitas. Ia mendapat penyambutan yang luar biasa.

“Kalau di Indonesia, orang-orang yang berkebutuhan khusus justru dikasihani. Tapi, di sana, ketika bertemu, selalu didoakan, disambut, dan dibantu. Di sini, masih banyak diskriminasi,” ujarnya.

Motivasinya menghafal Alquran tak sekadar untuk mengejar beasiswa. Hanan yakin janji Allah yang akan memuliakan para penghafal Alquran. Ia juga teringat sebuah hadits Rasulullah SAW yang berbunyi “Sesungguhnya Allah berfirman, Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya) kemudian ia bersabar, niscaya Aku mengantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.” (HR. Bukhari no 5653).

Hadits itu menyadarkan Hannan bahwa sesungguhnya Allah memberikan kemuliaan bagi orang-orang sepertinya asal mereka beriman dan bersabar. Hannan sangat bersyukur menjadi salah satu insan yang mendapat keistimewaan.

Sempat menjalani beberapa kali operasi dan cangkok mata, tak membuahkan hasil, Hannan tak lantas menyalahkan takdir. Ia yakin bahwa ini adalah yang terbaik baginya.

Tak ada lagi rasa iri dan kecemburuan terbersit tatkala ia ”melihat” teman-temannya dapat melakukan aktivitas dengan mudah dan bebas. Hannan percaya, akan selalu ada kemudahan di balik apa yang dialaminya.

”Saya pikir, sekarang teknologi makin berkembang, lagipula banyak yang bersedia membantu. Saya menerima semuanya dan bahagia sampai sekarang,” tuturnya, lantas tersenyum. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Cerita Anak Petani Lulus Dokter dengan Segudang Prestasi

UNAIR NEWS Acara pelantikan dokter periode III Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) yang berlangsung beberapa waktu lalu menjadi momen membahagiakan bagi 188 lulusan dokter yang baru dilantik. Hal itu dirasakan pula oleh Moch. Jazil Ainul Yaqin Nur Hidayat, dr.

Jazil begitu ia biasa disapa adalah satu dari 14 orang lulusan dokter FK UNAIR yang lulus S1 Pendidikan Dokter melalui jalur beasiswa Bidikmisi, dengan perolehan IPK profesi sebesar 3,59. Jazil mengaku lega lantaran bisa menyelesaikan pendidikan dokter setelah melalui berbagai rintangan.

Berangkat dari keluarga sederhana, membuat laki-laki kelahiran Nganjuk, 7 Januari 1994 ini sempat tak yakin bakal menempuh pendidikan di fakultas kedokteran.

Boro-boro jadi dokter, bisa kuliah saja saya belum berani mimpi pada saat itu,” ungkapnya.

Sejak SMA, Jazil hanya berfikir bagaimana caranya bisa segera lulus kuliah dan secepatnya mendapatkan pekerjaan. Namun keinginannya seketika berubah ketika mendengar ada program Bidikmisi dari UNAIR. Ia pun menggantungkan asa dengan mengikuti SBMPTN dan memilih jurusan kedokteran FK UNAIR sebagai satu-satunya pilihan.

“Awalnya deg-degan, apa iya mahasiswa dengan beasiswa Bidikmisi bisa terus kuliah di FK. Karena yang kita tahu biaya kuliah di sini tidak sedikit. Tapi ternyata benar, selama kami kuliah pihak universitas dan kemahasiswaan sangat mendukung. Nggak ada yang namanya diskriminasi,” ujarnya.

Pekerjaan orang tua sebagai petani di Desa Mlilir, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, membuat Jazil harus putar otak untuk memenuhi biaya hidup sebagai anak perantauan. Dengan keterbatasan yang ada, Jazil mengaku terbantu dari uang saku beasiswa sebesar 600 ribu rupiah yang ia peroleh setiap bulan.

“Sepersen pun saya tidak mengeluarkan biaya kuliah. Malah bisa nabung sedikit demi sedikit dan setiap kali pulang ke rumah bisa ngasih sedikit ke orang tua. Masih cukup untuk biaya hidup, walaupun harus super hemat mengelolanya,” ungkapnya.

Sejak awal, anak kedua dari tiga bersaudara ini berkomitmen ingin hidup mandiri tanpa membebani kedua orang tua. Selain ditopang dari uang beasiswa, Jazil merasa kemudahan datang setiap kali ia berhasil menjuarai perlombaan karya tulis ilmiah, serta diundang sebagai pemateri di berbagai acara mutsabaqah tilawatil Quran.

“Pernah suatu ketika uang beasiswa telat cairnya, padahal sudah nggak punya uang. Kepikiran ingin kerja tapi jadwal kuliah padat, minta orang tua juga sungkan. Akhirnya puasa daud dan ngutang selama empat bulan,” kenangnya.

Selama kuliah, Jazil aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Tahun 2016 lalu ia dipercaya oleh salah satu ormawa untuk  mendirikan UKM Seni Religi di UNAIR. UKM ini bergerak di bidang kesenian Islam seperti banjari, nasyid, tilawah Al-Quran, dan kaligrafi.

Tahun 2017, Jazil kembali mendirikan UKM Tahfidzul Quran sekaligus didapuk menjadi ketua pada UKM tersebut selama dua tahun.

Berkat ketekunannya selama ini, Jazil sukses memenangkan sejumlah kejuaraan kompetisi karya tulis ilmiah. Antara lain dua kali menyabet juara di Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) UNAIR selama dua tahun berturut-turut di tahun 2012 dan 2013, serta juara tiga lomba poster ilmiah tingkat nasional di Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2014.

Selain bidang ilmiah, Jazil juga tercatat pernah menyabet sejumlah kejuaraan pada lomba MTQ tingkat nasional, dan memenangkan beberapa kejuaraan bersama tim.

Lulus dengan gelar dokter (dr) tak lantas membuat Jazil puas begitu saja. Setelah mengikuti program internship selama satu tahun, Jazil berencana melanjutkan pendidikan dokter spesialis dan mewujudkan mimpinya menjadi dokter yang mengabdi di daerah terpencil.

“Kunci kesuksesan bagi saya adalah ridlo orang tua. Harus berusaha semaksimal mungkin dan mendekatkan diri pada Tuhan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Sefya  H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Banggakan UNAIR, Iga Rahma Azhari Juara 1 Duta Anti Narkoba Sidoarjo 2018

UNAIR NEWS – Iga Rahma Azhari mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga sukses meraih juara 1 Duta Anti Narkoba Kabupaten Sidoarjo tahun 2018. Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapanza ini mendapatkan gelar saat grandfinal duta anti narkoba 2018, Sabtu (14/07). Penghargaan itu ia terima setelah melewati 2 tahapan seleksi. Pertama, tes tulis tentang wawasan narkoba dan Kabupaten Sidoarjo. Kedua, tes bakat dan wawancara.

“Tiap tahapan tes punya tantangan sendiri. Tes tulis mengharuskan belajar tentang narkoba dan pengetahuan umum. Berbeda dengan saat karantina, karena diharuskan banyak belajar untuk grandfinal,” tutur Iga.

Dari semua proses yang dilalui, Iga mengaku sangat senang. Melalui semua tahapan itu ia dapat dipertemukan orang-orang hebat dan berproses menjadi seseorang yang lebih baik dalam segala hal. Selama proses tersebut, Iga juga tidak tau apa yang membuatnya terpilih. Yang ia ketahui murni penilaian juri. Ia mengaku, hanya melakukan yang terbaik di setiap prosesnya.

“Prinsip saya, memang manusia tidak bisa menjadi seorang yang sempurna. Tetapi manusia bisa melakukan yang terbaik yang ia bisa,” jelas Iga.

Prinsip itu diterapkanya selama proses dengan selalu menambah pengetahuan dan menggunakan waktu sebaik-baiknya.

Gelar duta anti narkoba itu diakui Iga menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Selain itu, gelar juga sebagai amanah untuk merealisasikan tugas Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Sidoarjo. Yakni, meminimalisir permasalahan narkoba di Kabupaten Sidoarjo.

“Sebagai duta anti narkoba, kita melakukan pencegahan dini melalui sosialiasi intensif ke masyarakat, khususnya generasi muda. Karena narkoba bukan masalah yang sepele di Indonesia,” terangnya.

Iga Rahma Azhari setelah pengumuman menjadi juara 1 Duta Anti Narkoba Kabupaten Sidoarjo tahun 2018. (Dok. Pribadi)

Iga menjelaskan, permasalah narkoba di Indonesia cukup memprihatinkan. Di Jawa timur saja lebih 4 juta penduduk tersangkut masalah penyalahgunaan narkoba. Maka perlu solusi hingga ke akar.

Dengan latar belakang mahasiswa yang merupakan salah satu alasan keikutsertaannya dalam pemilihan duta anti narkoba, Iga memang sedari awal ingin mendedikasikan diri dan waktunya untuk Kabupaten Sidoarjo. Ada kalimat yang selalu ia pegang sampai saat ini. ‘Jangan tanyakan apa yang telah Sidoarjo berikan padamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada Sidoarjo’.

Iga berharap, ia dan kawan-kawan lain dapat mewujudkan Sidoarjo dan Indonesia bebas narkoba. Ia pun memiliki pesan untuk pecandu dan non pecandu narkoba.

“Untuk pecandu, tidak ada kata terlambat untuk berubah, lakukan sekarang. Dan untuk non-pecandu, tetaplah bertahan dalam segala godaan. Karena sejatinya anda adalah pemenang dan agen perubahan,” tutur Iga. (*)

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh




Danis Farid Qosdina, Penghafal Alquran 15 Juz dari UNAIR Banyuwangi

UNAIR NEWS – ”Menjadi dokter penghafal Alquran”. Cita-cita itu ditulisnya dalam buku album SD. Danis Farid Qosdina menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk mencapainya. Danis berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) PSDKU Universitas Airlangga Banyuwangi melalui jalur SBMPTN.

Mahasiswa kelahiran Magetan, 9 Oktober 1999, tersebut mengakui bahwa orang tua serta rekannya sempat menganggap dirinya belum bisa diterima. Hal itu cukup beralasan. Sebab, sekolahnya masih terbilang baru dan belum terakreditasi.

”Saya juga sempat kurang percaya diri bisa menjadi bagian dari UNAIR. Namun, saya tetap yakin sama Allah dan terus meminta petunjuk-Nya,” tuturnya.

Mengenai hafalan Alquran, Danis mengatakan bahwa dirinya memulai itu sejak duduk di bangku SD. Saat ini dia berhasil menghafal Alquran sebanyak 15 juz berkat kerja keras serta konsistensinya. Mahasiswa jebolan pondok pesantren tersebut juga berkomitmen untuk selalu menghafal Alquran saat kuliah nanti.

”Alhamdulillah orang tua saya selalu mendukung. Apalagi soal menghafal Alquran,” tambahnya.

Danis menceritakan, awal dirinya bersemangat untuk menghafal Alquran karena ingin membalas budi orang tuanya. Selain itu, dia yakin jika mendahulukan akhirat, dunia pasti bakal mengikutinya.

”Saya ingin memberikan mahkota untuk orang tua saya di surga nanti. Dan, itu hanya bisa didapat dengan menjadi penghafal Alquran,” ucapnya.

Di UNAIR, Danis mendapatkan beasiswa bidikmisi. Hal itu membuat dia sangat senang. Beban orang tuanya sedikit terbantu dan menjadi ringan.

”Saat ini pekerjaan ayah saya menjadi guru tidak tetap di sebuah SD. Dan, ibu saya mengajar di PAUD,” tambahnya.

Danis menuturkan, kunci keberhasilannya selama ini adalah yakin kepada Allah SWT. Semua yang diinginkannya digantungkan kepada Allah dan selalu berbaik sangka kepada-Nya. Selain itu, Danis selalu mengutamakan Alquran.

”Selalu utamakan Allah. Pokoknya Allah dulu, Allah lagi, dan Allah terus. Yakinlah Dia sudah menyiapkan rencana yang keren buat kita,” ungkapnya.

”Jangan gampang putus asa jika kita belum mendapat apa yang kita inginkan. Sebab, Allah pasti tidak akan salah memberikan sesuatu kepada hamba-Nya,” imbuhnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

 




M. Faqih: Pertama dari SMA-nya yang Sukses Raih Bidikmisi UNAIR

UNAIR NEWS – “Saya sekolah di SMA Insan Cendekia Mandiri Boarding School, dari yayasan Yatim Mandiri. Saya mendapat beasiswa sekolah gratis di sana”. Begitulah cerita Muhamad Faqih mengenai perjalanan putih abu-abunya saat UNAIR NEWS mengulik kisahnya hingga sampai diterima  Universitas Airlangga.

Mahasiswa kelahiran Surabaya, 8 Januari 2000, tersebut kini diterima di jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR. Dia bercerita, dirinya sukses masuk UNAIR melalui jalur SBMPTN. Itu terjadi karena Faqih merupakan lulusan angkatan pertama di sekolahnya. Jadi, dia tidak bisa mengikuti SNMPTN.

“Saat saya kelas XII, ada bimbingan belajar dari sekolah untuk mempersiapkan diri menghadapi SBMPTN. Guru-guru saya juga selalu memotivasi agar saya memperoleh beasiswa saat kuliah, terutama bidikmisi,” ungkapnya.

Selain melalui bimbingan, Faqih selalu belajar dengan keras secara mandiri. Bahkan, dia rela belajar hingga larut malam demi bisa bersaing dengan siswa lain di seluruh Indonesia. Khususnya agar mampu masuk di UNAIR. Faqih juga disibukkan dengan kegiatan keagamaan di asrama yang ditempatinya.

Bagi dia, hal tersebut merupakan pengalaman yang paling berkesan. Faqih mendapat nilai alias pelajaran bahwa kerja keras yang dilakukan pasti akan berbuah baik.

”Namun, perlu diingat, yang terbaik tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Sebab, yang terbaik bagi kita adalah apa yang telah diberikan Allah SWT,” tambahnya.

Faqih memilih jurusan Kimia karena sejak kecil sangat menyukai hal-hal yang berbau sains. Karena itu, dia bertekad mempelajari mengenai sains lebih dalam lagi di UNAIR. Doa, kerja keras, tawakal, dan syukur dalam menerima segala keadaan menjadi kunci Faqih hingga seperti sekarang.

“Ibu juga selalu support saya. Dan, saya selalu meminta restu orang tua saya sebelum melakukan sesuatu,” tuturnya.

Selain itu, peran sekolah sangat membantu Faqih dalam kesuksesannya diterima di UNAIR. Dia menceritakan, pihak sekolah sangat mendukung seluruh siswanya untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Hal itu dibuktikan sekolah dengan memfasilitasi siswanya. Yakni, melalui pemberian bimbingan untuk menghadapi SBMPTN dua tahun terakhir.

Mengenai impiannya ke depan, Faqih ingin menyelesaikan study tepat waktu dengan IPK terbaik. Selain itu, dia sangat ingin menimba ilmu di luar negeri.

“Nanti saya ingin kuliah di luar negeri, tepatnya di Jerman,” ujarnya.

Mahasiswa yang juga hafal Al-Qur’an sebanyak 11 juz tersebut juga mengaku sangat senang bisa mendapat beasiswa bidikmisi di UNAIR. Bagi Faqih, mendapat beasiswa bidikmisi dapat meringankan beban orang tuanya. Termasuk mempermudah dirinya untuk mendapat beasiswa dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP).

”Untuk teman-teman, terutama adik kelas saya, fokuslah pada hafalan Al-Qurannya. Sebab, kesempatan untuk memperoleh kemudahan lebih besar. Tapi, jangan sampai niatkan untuk dunia, melainkan untuk menjaga ayat Al-Quran,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Woro Andini: Penerima Bidikmisi 2018 UNAIR dari Merauke, Papua

UNAIR NEWS – Senyumnya tampak saat UNAIR NEWS menemuinya di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C Universitas Airlangga Senin siang (23/7). Sesekali tangannya menutupi wajahnya karena tersenyum haru saat UNAIR NEWS mengulang kisah kesuksesannya masuk UNAIR. Tepatnya pada sela acara Penyambutan Mahasiswa Bidikmisi Jalur SNMPTN & SBMPTN 2018 UNAIR.

Namanya Diajeng Woro Andini. Perempuan kelahiran Merauke, 10 Februari 2001, itu merupakan mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dari Bumi Cendrawasih, tepatnya Merauke, Papua. Andini diterima di program studi hukum fakultas hukum melalui jalur SNMPTN 2018.

”Perasaannya sangat senang, bangga, diterima di UNAIR,” ujarnya.

Andini mengungkapkan, pramugari sempat menjadi cita-citanya semasa kecil. Hal itu turut mengiringi kisah pilihannya untuk mendaftar ke UNAIR. Namun, ibunya tak cukup memberikan Andini alasan untuk fokus pada profesi pramugari.

”Ibu tidak menginjinkan jadi pramugari,” ucapnya.

Lantas, Ibu Andini memberikan dua opsi lainnya. Yakni, antara menjadi pengacara dan polisi wanita (polwan). Atas pilihan tersebut, Andini sempat merasa bimbang.

”Akhirnya, saya renungkan dan memikirkannya kembali. Saya memilih menjadi pengacara,” katanya.

”Karena itu, saya memilih mendaftar ke UNAIR jurusan hukum,” tambahnya.

Andini menceritakan, saat pendaftaran SNMPTN, gurunya sempat mempertanyakan keputusan memilih UNAIR dalam SNMPTN. Sebab, menurut gurunya, pilihan itu cukup berisiko, masuk UNAIR tidak mudah.

”Sempat pula ragu dengan pilihan ini,” katanya.

”Akhirnya, saya tetap bersikukuh. Dan, saya merasa harus mencoba dulu untuk dapat melihat hasilnya. Kalau tidak diterima, berati memang bukan jalannya untuk menimba ilmu di UNAIR,” imbuhnya.

Saat SNMPTN akhirnya diumumkan, ada perasaan tak percaya kala Andini mengecek hasilnya. Diulanginya pengisian nomor peserta dalam laman pengumuman tersebut. Meski, saat akan membuka pengumuman, Andini dipenuhi perasaan yakin bakal diterima.

”Saya kaget. Ternyata saya diterima di UNAIR di prodi Hukum. Rasanya itu campur aduk antara senang dan tidak percaya bisa diterima di UNAIR,” ungkapnya.

Andini akhirnya memang diterima di UNAIR. Sehari setelah itu, dia ke sekolah dan mengabarkan hasil tersebut.

”Guru saya juga sangat kaget dan merasa tidak percaya kalau bisa diterima,” ucapnya.

Prestasi Andini saat SMA, berhasil mendapatkan nilai UNBK tertinggi kedua, menjadi salah satu kunci raihan tersebut. Selain itu, dia tekun dan rajin belajar. Andini menanamkan kepada dirinya bahwa mampu. Yang paling penting, tutur dia, adalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepada teman yang lain, Andini berpesan meyakini segenap kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Kesuksesan tidak akan datang kepada mereka yang hanya menunggu. Kesuksesan datang kepada mereka yang berusaha dan berbuat sesuatu.

”Hal mudah akan terasa sulit jika yang pertama muncul di pikiran kita adalah kata sulit. Terus berusaha meski dengan berbagai keterbatasan, tak lupa berdoa kepada Tuhan,” tuturnya. (*)

 

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Atlet Finswimming Ini Salah Satu Alumnus Berprestasi FH UNAIR

UNAIR NEWS – Chrisna Arwiandra Leuwol, laki-laki kelahiran Surabaya, 22 Maret 1996, adalah salah satu alumni berprestasi dari Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR). Banyak prestasi yang telah ia capai, baik tingkat regional hingga nasional. Sebagian besar dari prestasi itu adalah olahraga renang.

Pencapaian itu antara lain Juara III Kejuaraan Nasional Finswimming Piala Gubernur Jawa Timur (2016), Juara II Apnea Putra dan Brifin Putra Pekan Olahraga Kabupaten Sidoarjo (2016), serta Juara I Renang Lintas Selat Madura, HUT Armada RI (2016).

Selain berprestasi, Chrisna yang aktif dalam kegiatan mahasiswa angkatan 2014 ini juga menjadi pelatih renang kelas pemula. Ia juga menjadi pengurus aktif di cabang Olahraga Finswimming (POSSI) Kabupaten Sidoarjo.

“Kegiatan di samping perkuliahan saya adalah menjadi atlet finswimming pada Sport Club eagle Surabaya, serta sebagai pelatih renang kelas pemula. Saya juga aktif  menjadi staff BSO ILSA (Badan Semi Otonom International Law Student Association, Red) pada 2015 lalu. Saat ini saya menjadi pengurus di cabang olahraga (cabor) finswimming Kabupaten Sidoarjo,” tuturnya.

Meski banyak melakukan kegiatan di luar kampus, namun Chrisna mengaku menikmati setiap kesempatan yang dia lalui. Chrisna percaya bahwa hasil akhir tidak akan menghianati usaha.

“Puji Tuhan berkat dukungan orang tua, kakak perempuan, sanak saudara, dosen wali, teman, sahabat, membuat saya menikmati setiap kesempatan itu. Tidak pernah lupa juga berkat Tuhan Yesus Kristus yang membuat hambatan tersebut seperti anak tangga yang harus saya naiki satu persatu,” ujar alumnus SMA 1 Taman, Sidoarjo.

Chrisna telah diwisuda pada 1 Juli 2018 lalu. Dalam skripsinya tentang hak cipta lagu di internet, Chrisna membahas mengenai perlindungan hukum pada hak cipta, serta bentuk hak cipta lagu di internet. Hak cipta itu diatur berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, baik perdata maupun pidana.

“Judul tersebut saya ambil berdasarkan pengembangan penelitian, serta masukan dan arahan dosen pembimbing mengenai masalah hukum dalam perkembangan teknologi informasi secara global. Hak cipta lagu yang dimaksud berbasis digital di media online,” paparnya.

Setelah lulus, Chrisna berencana melanjutkan pendidikan S2 dengan konsentrasi kenotariatan. Untuk menunjang keinginannya itu, saat ini Chrisna mengikuti magang di kantor notaris guna memperluas wawasan dalam bidang yang akan ia ambil.

“Jangan menganggap enteng keadaan. Selalu persiapkan diri untuk menghadapi tantangan serta wawasan baru. Berusaha realistis dan logis dalam menyikapi kendala. Banyak bersyukur pada Tuhan, juga berusaha memperluas relasi yang bermanfaat dan membangun,” imbuh Chrisna. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




Tekun Ikutin Kompetisi Ekonomi Islam, Arinda Jadi Wisudawan Berprestasi

UNAIR NEWS – Mengikuti berbagai ajang kompetisi di berbagai universitas membuat Arinda Dewi Nur Aini, mahasiswa S1 Ekonomi Islam, berkesempatan untuk berbagi pengetahuan serta menggaungkan dakwah ekonomi Islam. Ia tidak menyangka memperoleh predikat wisudawan berprestasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) karena menurutnya terdapat mahasiswa yang jauh lebih aktif dalam mengikuti kompetisi.

“Jujur saya merasa kaget. Bahkan sempat saya kira itu spam call,” tutur perempuan kelahiran 4 Desember 1995 itu.

Dalam beberapa kompetisi, ia berhasi menjuarai Olmpiade Ekonomi Islam Temilreg, National Islamic Economic Olimpiad, Sharia Economic Smart Olympiad, serta finalis berbagai paper competition. Dari kesempatan berkompetisi, ia menyadari bahwa ilmu yang ia peroleh di bangku perkuliahan tidak cukup untuk mengasah softskill dan wawasan dalam bidang yang ia tekuni.

Selama perkuliahan, ia tergolong aktif mengikuti berbagai organisasi. Seperti Association of Sharia Economic Studies, Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam, hingga Moslem Student Assciation of Economic and Business Faculty. Menurutnya, tantangan utama adalah membagi waktu antara organisasi, akademik, dan ibadah.

Dalam mengembangkan ekonomi Islam, ia megangkat topic skripsi mengenai akuntansi untuk lembaga wakaf. Ia melihat bahwa belum ada standar akuntansi yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), khususnya yang mengatur mengenai pengakuan, pengukuran, dan penyajian transaksi wakaf produktif.

“Selama ini, IAI masih mengatur standar akuntansi untuk lembaga zakat. Padahal karakteristik zakat dan wakaf jelas berbeda. Melalui penelitian ini, saya ingin berkontribusi untuk pengembangan wakaf produktif di Indonesia,” terangnya.

“Tujuan perkuliahan tidak semata-mata untuk memperoleh gelar, namun juga menuntut ilmu, mengasah potensi diri dan melatih softskill yang pasti berguna untuk memasuki dunia kerja,” tuturnya.

Ia berpesan, sebagai mahasiswa harus memanfaatkan waktu dengan baik dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan. Mengingat, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengenyam bangku perkuliahan. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Binti Q. Masruroh




Sempat Terpuruk dan Gagal Lulus 2,5 Tahun, Wahyuni Jadi Wisudawan Terbaik

UNAIR NEWS – “Awalnya saja saya tidak percaya diri bisa masuk UNAIR, sekarang saya malah bisa menjadi salah satu wisudawan terbaiknya,” ucap Wahyuni Agustina, selepas mengetahui bahwa dirinya merupakan wisudawan terbaik Fakultas Vokasi periode Juli 2018.

Wisudawan yang lahir di Ngawi itu berkisah, pada awalnya, ia sempat tak percaya diri dengan kemampuannya, mengingat pendidikan sebelumnya dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun, peran orang tua dalam meyakinkan bahwa tiada yang tidak mungkin jika mau berusaha menghantarkannya menjadi mahasiswa UNAIR.

“Allah pasti membuka serta menunjukkan jalan, maka waktu itu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan setelah SNMPTN dan SBMPTN ditutup saya mendaftar jalus masuk D3 gelombang 2. Syukur alhamdulillah saya diterima,” kenangnya.

Ditanya perihal hal terberat yang ia jalani selama kuliah, ia mengatakan bahwa selama menjalani perkuliahan hal terberat itu ketika mengerjakan tugas akhir. Pasalnya, ia bertekad akan menyelesaikan studi lebih cepat.

“Tantangan terberat saya, selama masa kuliah itu memutuskan untuk lulus 2,5 tahun. Tapi ternyata harus mundur karena tuntutan laporan magang dan tugas akhir harus selesai berbarengan. Kala itu saya juga fokus terbagi menjaga ayah yang sakit,” tuturnya.

Pada akhir, ia kembali mengatakan bahwa semua beban yang dirasakan dapat dilewati melalui dorongan keluarga dan teman. Dari dorongan itu, ia salurkan untuk memaksimalkan tugas akhir. Di akhir masa kelulusan, mahasiswa penerima beasiswa Generasi Emas dari Pemerintah Kota Surabaya ini bangga atas yang telah ia lalui hingga mendapatkan gelar wisudawan terbaik di jenjang vokasi.

“Ini merupakan kebanggaan tersendiri untuk saya, ibu, dan almarhum ayah. Kita semua sudah sama-sama bekerja keras dan berakhir manis,” tutupnya. (*)

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan