Belajar Sastra Membuat Sri Ratnawati Belajar Realita Kehidupan

UNAIR NEWS – “Rasa bahasa yang hadir pada karya sastra selama ini sering menghipnotis pembaca-pembacanya. Rekam jejak sejarah yang dimunculkan dalam karya fiksi membuat orang lain paham tentang apa yang telah terjadi pada masa lampau,” begitulah penuturan Sri Ratnawati, dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga saat menjelaskan betapa pentingnya seseorang untuk belajar sastra.

Ratna sapaan karibnya adalah salah satu dosen di FIB yang begitu cinta dengan sastra. Baginya, sastra adalah representasi kehidupan di dunia ini. Apapun yang terjadi pada kehidupan manusia, telah digambarkan jelas dalam karya sastra.

Menurut dosen yang pernah menerbitakn jurnal ilmiah dengan judul Dialektika Hindu-Jawa Islam dalam Serat Mi’raj ini, jika menyinggung perihal sastra, maka perlu untuk diketahui bahwa akan ada sebuah karya dimana sastra mengemas tiga budaya dalam satu wadah, karya itu adalah sastra pesisiran. Akan didapatkan budaya Hindu, Jawa, dan Islam di dalamnya.

Proses penyiaran Islam yang dilakukan di masa silam salah satunya melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Ratna menuturkan, melalui karya-karya sastra pesisiran, penyebaran agama Islam menjadi lebih efektif.

“Apalagi sastra pesisiran lebih kepada membungkus Islam dengan tradisi sebelumnya,” tambah Ratna.

Saat diwawancarai, dosen asal Madura ini mengatakan bahwa Islam bukanlah anti tradisi, tetapi lebih pada toleransi terhadap tradisi yang hadir sebelum Islam datang. Tentu, adaptasi tradisi itu dengan menggunakan gaya-gaya yang baru.

Dikatakan Ratna, tokoh yang ditulis dalam sastra pesisiran sudah mengarah pada nama-nama Islam. Namun, beberapa masih menyinggung tradisi Hindu dan Budha. Misalnya, nama dewa dan dewi, tokoh khayangan, dan tradisi yang lainnya. Oleh karena itu sastra pesisiran adalah salah satu alat yang digunakan untuk merepresentasikan orang-orang zaman dahulu dalam hal toleransi terhadap sesama.

“Terlihat jelas, orang terdahulu lebih luwes pandangannya terhadap dunia luar dibandingkan orang-orang modern sekarang ini,” tutur dosen yang sedang melakukan penelitian mengenai dongeng Madura ini.

Ratna menambahkan, saat Islam mulai mewarnai agama di Nusantara, tradisi Hindu-Budha tidak serta merta langsung dihapuskan. Namun tetap dibungkus dengan apik agar Islam dapat lebih mudah disebarkan dan diterima oleh masyarakat umum.

“Islam tidak pernah menafikkan tradisi yang lebih tua. Sejarah semacam ini perlu dipelajari oleh setiap orang, tidak hanya orang-orang yang bergelumit di bidang budaya saja, agar setiap pribadi mampu menghargai setiap perbedaan yang ada di muka bumi ini,” ujar Ratna.

“Sastra itu tidak pernah berbohong. Apapun yang dituliskan itu adalah riil. Walaupun memang sastra dikemas dalam bentuk fiksi, namun berangkatnya dari realitas,” tambah Ratna.

Ratna berujar, sastra pesisiran tidak membicarakan hitam putih atau benar dan salah. Namun, sastra ini menggambarkan bagaimana konsekuensi bagi orang baik dan orang jahat, maupun perbuatan benar dan salah.

Sebagai seorang akademisi, Ratna memiliki harapan kepada masyarakat umum, khususnya kalangan pemuda, agar lebih mencintai sastra. Karena dari sastra, dunia dapat dilihat dalam sekejap.

“Sastra selalu memberikan pelajaran moral untuk bekal hidup, serta memberi tahu kita bagaimana orang-orang terdahulu dalam mengatasi masalah dengan tidak emosional,” tandas Ratna diakhir wawancara. (*)

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor : Binti Q. Masruroh




Jauh dari Keluarga Tak Halangi Noorce Meraih Predikat Lulus Terbaik S3 FKM

UNAIR NEWS – Mengingat kembali perjalanan selama studi, membuat Dr. Noorce Christiani Berek, S.KM., M.Kes tak mampu membendung air mata. Banyak sekali pengalaman yang mengiringi proses meraih gelar Doktornya. Selain modal pengetahuan, peraih IPK 3,79 ini harus punya kesabaran besar selama studi. Bertahun-tahun terpisah dari suami dan anak-anaknya di Kupang (NTT). Noorce teringat momen terberat ketika harus sembilan kali seminar dan ujian untuk menyelesaikan studi.

“Saya rasanya seperti mau mundur dan pulang ke Kupang. Saya sudah siap meninggalkan suami dan anak di Kupang. Ini merupakan perjuangan tersendiri bagi seorang ibu seperti saya,” katanya.

Termasuk ketika ujian kualifikasi. Penguji disertasinya mengatakan, rencana penelitiannya tak dapat dilanjutkan atau dapat dilanjutkan namun dengan koreksi cukup banyak.

“Saya sempat tidak mampu berpikir lagi dan merasa jenuh dengan semua aktivitas studi yang selama ini saya lakukan. Saya meninggalkan proposal disertasi selama tujuh bulan. Rasanya sulit sekali memacu diri untuk mempersiapkan seminar dan ujian proposal berikutnya,” ungkap wisudawan terbaik S-3 Ilmu Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR ini.

Di saat sedang terpuruk, dukungan keluarga dan sahabat rupanya ampuh membangkitkan gairahnya untuk melanjutkan perjuangan. “Saya selalu berada dalam lingkaran komunitas seperjuangan,  yaitu teman-teman yang juga sedang menyelesaikan S-3, jadi kami dapat saling berdiskusi dan sharing,” tambahnya.

Ia mengaku tidak punya ‘rahasia’ belajar. Hanya berprinsip fokus pada tujuan akhir. Dalam disertasinya, Noorce menggali permasalahan seputar tindakan atau perilaku tidak aman dalam bekerja, khususnya pekerja konstruksi gedung. Dalam penelitian itu, ia membuat model tanggap hambatan terhadap tindakan/perilaku tidak aman. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan faktor internal inilah yang berperan penting dalam membentuk tindakan atau perilaku seseorang. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Desrian Sukma S/ Bes




Meneliti KDRT Bersama Dosen, Bernadeta Lulus Terbaik Psikologi UNAIR

UNAIR NEWS – Bernadeta Ayuning Tyas Ajeng Satiti patut berbangga lantaran dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S-1 Fakultas Psikologi pada periode September 2017. Selain berprestasi di bidang akademik, pengalaman paling berkesan selama kuliah adalah keterlibatannya dalam tim Payung Penelitian KDRT yang diketuai Margaretha S.Psi., P.G.Dip.Psych., M.Sc. Ajeng, sapaan akrabnya, dinyatakan lulus dengan IPK 3.79.

“Dalam keikutsertaan penelitian itu saya memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang tidak dapat saya peroleh di bangku perkuliahan. Saya mempelajari banyak hal tentang riset ilmiah, tidak hanya dalam pengerjaan skripsi saya, namun juga ketika saya membantu rekan-rekan lain untuk mengerjakan skripsi mereka,” ujar alumnus SMAK Stella Maris Surabaya itu.

Ajeng mengerjakan skripsi dengan topik berada dalam payung penelitian bersama Margaretha. Penelitian yang ia tulis itu mengangkat fenomena atribsusi kesalahan terhadap korban (victim blaming) terhadap korban KDRT serta faktor-faktor yang menyebabkannya.

Gadis yang pernah menjadi tutor Bahasa Inggris di Pondok Pesantren Al-Hafidz Surabaya tahun 2015 ini tidak memiliki hambatan berarti dalam menyelesaikan studi. Hanya, ia harus pandai mengatur waktu antara skripsi, kegiatan yang diikuti, dan waktu untuk magang. Pada semester akhir, ia bekerja sebagai staf magang di Unit Pelayanan Psikologi (UPP) Universitas Airlangga selama 2016-2017.

“Pada periode yang sama saya menjadi Regular Reliever di aplikasi Riliv,” ujar Ajeng.

Meski sudah dinyatakan lulus dari menempuh studi di UNAIR, namun Ajeng masih disibukkan dengan kegiatan akademik. Saat ini, ia sedang mempersiapkan presentasi ilimah tingkat ASEAN yang akan dilaksanakan di Bali bulan September 2017 ini.

Kepada mahasiswa yang sedang menempuh studi S-1, Ajeng berpesan agar belajar secara berkelompok. Sebab, teman belajar selain dapat berbagi pengetahuan dan berdiskusi untuk menambah wawasan, juga dapat menjadi partner untuk saling membantu dan mengingatkan. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Nuri Hermawan, Bes.




Vinca Rosa Putri, Aktivis Kampus Jadi Lulus Terbaik S1 Farmasi UNAIR

UNAIR NEWS – Begadang pun harus dijalani demi selesainya skripsi. Begitulah yang dilakukan Vinca Rosa Putri Andila. Usaha yang tidak mudah itu terbayar sudah dengan raihan menjadi wisudawan terbaik S1 Fakultas Farmasi. Ia meraih IPK 3,80.

Mengangkat skripsi dengan judul  Analisis Penggunaan Antibiotika pada Pasien Rawat Inap di KSM Ilmu Penyakit Dalam Menggunakan Defined Daily Dose, perempuan yang akrab disapa Vinca ini mencoba mengkaji pola dan menghitung kuantitas penggunaan antibiotika menggunakan Defined Daily Dose. Selain itu, ia juga menganalisis tren penggunaan antibiotika pada pasien rawat inap KSM Ilmu Penyakit Dalam di Rumah Sakit Pendidikan UNAIR.

“Isi dari skripsi saya ini lebih mengarah pada pengkajian pola penggunaan antibiotikanya,” tegasnya, seraya menambahkan semasa mengerjakan skripsi banyak hambatan dan tantangan yang ia lalui. Hal itulah yang membuatnya tak segan untuk mengerjakan revisi hingga larut malam.

“Bahkan saya pernah begadang ketika mengerjakan revisian penelitian itu,” kenangnya.

Selanjutnya, Vinca juga berkisah bahwa selama kuliah, ia juga aktif diberbagai kegiatan kampus, diantaranya  OLFAR (Olimpiade Farmasi Nasional), CAKRAWALA, SE (Study Excursion), CROWN (Creativity On Wonderful Night). Selain aktif dibeberapa kepanitiaan, Vinca  juga lihai dalam berkompetisi. Tercatat, selama ia studi ia dan tim pernah menjuarai Pekan Ilmiah Mahasiswa UNAIR.

“Bersama dengan tim, saya berhasil meraih Juara I Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian pada PIM UNAIR tahun 2013,” terangnya.

Dari pencapaiannya selama ini, Vinca sangat beryukur, tak lupa dia juga berbagi pengalaman untuk menjadi mahasiswa terbaik. Baginya, tidak menunda pekerjaan adalah satu hal mutlak agar bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi.

“Dalam menyelesaikan suatu hal jangan menunda pekerjaan, banyak bimbingan, berdiskusi dan banyak membaca literatur serta diiringi dengan doa,” jelasnya.

Selanjutnya, untuk rencana pascakampus Vinca memiliki impian untuk menjadi apoteker sukses dimasa mendatang. Vinca yang telah menyelesaikan studi S1 di FF UNAIR bakal melanjutkan profesi di fakultas dan kampus yang sama untuk mewujudkan keinginan terbesarnya itu. (*)

Penulis: Akhmad Janni

Editor: Nuri Hermawan, Bes




Kesibukan Tak Halangi Prestasi Aisya Ramadhana Jadi Wisudawan Terbaik FKM

UNAIR NEWS – Keseharian Aisya Ramadhona adalah dokter di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah, Mojokerto. Ia sekaligus ibu bagi ketiga buah hatinya. Tetapi kesibukannya itu tak membuatnya patah semangat dalam menyelesaikan kuliahnya pada Program Studi S-2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Bahkan, ia berhasil lulus dan menjadi wisudawan terbaik S-2 FKM dalam wisuda September 2017, dengan meraih IPK 3,91.

Berbagai tantangan silih berganti ia hadapi. Aisya mengaku, perjalanan dari tempat kerja menuju kampus ditempuhnya cukup jauh. Dari Mojokerto sekitar 2-3 jam, belum lagi ditambah kemacetan di Surabaya.

Dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, ia mampu menjalaninya selama dua tahun. Bahkan di awal perkuliahannya, perempuan kelahiran Surabaya ini sedang hamil delapan bulan. ”Di tahun pertama saya kuliah harus membawa breast pump ke kampus untuk ASI bayi saya. Ketika sampai di rumah langsung disambut ketiga anak saya, dan tidak ada yang dapat mengambil hak anak saya,” katanya.

Dalam memenuhi penelitian tesisnya, Aisya menceritakan bagaimana ia mengangkat topik di rumah sakit tempatnya bekerja, yaitu “Upaya Pencegahan Reaksi Kusta Berdasarkan Analisis Faktor Risiko”. Topik itu sesuai dengan pekerjaannya, sehingga saat penelitian tak perlu meninggalkan pekerjaannya. Apalagi, rumah sakit khusus kusta itu perlu dikembangkan secara optimal karena penderita dengan reaksi kusta banyak terjadi secara berulang.

Aisya berpesan, mahasiswa hendaknya memegang teguh beberapa prinsip untuk mencapai hasil memuaskan. Manajemen waktu sangat diperlukan, mulai dari membuat linimasa untuk diri kita sendiri. ”Dengan kuliah kita sudah mendapat ilmu, sehingga ke depan adalah kontribusi apa yang dapat kita berikan agar ilmu tersebut bermanfaat dan berguna bagi orang lain,” tutupnya. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor : Defrina Sukma S, Bes.




Terkabul, Tekad Lailatul Rohmah Banggakan ‘Ortu’ dengan Lulus Terbaik FKH UNAIR

UNAIR NEWS – Berangkat dari skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Semangka (Citrullus Lanatus) Terhadap Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa Tikus (Rattus Norvegicus) dengan Paparan Suhu Panas”, Lailatul Rohmah meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) dalam wisuda Universitas Airlangga, September 2017. Ia meraih IPK 3,62.

Dalam penelitian itu, Lailatul sapaan akrabnya, membahas kandungan dalam kulit semangka sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan kualitas sperma yang terkena stress panas dan diuji dengan melihat presentase kemungkinan untuk hidup.

”Manfaat penelitian ini, semoga bisa memberikan informasi mengenai kandungan kulit semangka yang biasanya tidak bermanfaat dan dibuang alias jadi limbah, tapi bisa bermanfaat untuk menangkal radikal bebas karena mengandung banyak antioksidan di dalamnya,” kata gadis kelahiran Kota Soto Lamongan tahun 1995 ini.

Ditanyai mengenai suka dukanya selama penulisan skripsi, gadis lulusan SMAN 9 Surabaya ini mengaku harus melakukan penelitian cukup lama. Hal ini karena memang objek yang diambil hewan yang memiliki siklus spermatogenesis lama. “Harus lebih dari satu bulan saya menunggu siklus itu. Belum nanti di laboratoriumnya,” katanya.

IPK yang diraihnya membuat Lailatul bangga. Karena ini bagian perjuangannya untuk bisa membanggakan semua orang. Gadis yang pernah magang di PT Super Unggas Jaya Pasuruan ini ingin studi profesinya tahun ini berjalan lancar dan tepat waktu, agar cepat bisa menyalurkan ilmunya.

”Keinginanku biar dikasih kelancaran lagi buat kuliah pendidikan profesi dokter hewan. Diberi ilmu lebih banyak, pengalaman lebih banyak, semoga bisa mempertahankan nilai yang kemarin, kalau bisa semakin naik,” ujar Lailatul.

Lailatul membagikan semangat untuk mahasiswa yang sedang berjuang menggapai asa, bahwa waktu kuliah itu sangat singkat, maka tidak boleh disia-siakan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. “Coba kegiatan apa saja yang disuka. Tanamkan di hati kalau kalian harus jadi yang terbaik, usahakan semaksimal mungkin agar bisa membanggakan orang tua,” pungkasnya.(*)

Penulis: Ainul Fitria

Editor : Nuri Hermawan, Bes




Belajar Serius, Rachmawati Utami Akhirnya Lulus Terbaik Fakultas Vokasi UNAIR

UNAIR NEWS – Setelah diwisuda dari Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Rachmawati Utami, penyandang gelar lulusan terbaik tingkat fakultas ini berencana melanjutkan ke S-1 melalui alih jenis dan mendapatkan pengalaman bekerja.

”Saya ingin bekerja dulu untuk mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Kemudian, jika ada waktu dan rezeki, Insya Allah ingin meneruskan alih jenis ke S-1,” tutur Rachma, peraih indeks prestasi kumulatif (IPK) hampir sempurna, 3,98.

Ia mengaku tak ada kiat khusus untuk menjadi lulusan terbaik Fakultas Vokasi. Ia hanya memaksimalkan waktu dan kemampuannya selama perkuliahan dengan cara memperhatikan penjelasan dosen.

“Ketika dosen menjelaskan, saya sambil membayangkan apa yang dimaksud. Saya bisa lebih cepat mengerti dan mengingatnya. Frekuensi belajar di rumah, saya cukup jarang, karena rumah saya lumayan jauh dari kampus. Jadi setelah pulang kuliah biasanya istirahat atau sekadar mengerjakan tugas yang urgent (mendesak),” kisah Rachma yang tinggal di Surabaya Barat.

Di akhir pekan, biasanya ia menggunakan waktunya untuk mengerjakan seluruh tugas kuliahnya selama seminggu terakhir. Jika tidak merasa capek, lulusan D-3 Perpajakan ini melanjutkan membaca buku dan regulasi termutakhir soal perpajakan. “Itu saya lakukan terus-menerus, walaupun sedikit demi sedikit,” tuturnya kepada Warta Unair.

Sebagai laporan tugas akhir, Rachma menulis soal kebijakan amnesti pajak yang diterapkan pemerintah tahun 2016 hingga awal tahun 2017. Selain karena topiknya hangat, Rachma ingin mengetahui lebih jauh tentang persoalan regulasi amnesti pajak.

“Saya mendapat masukan selama melakukan praktik kuliah lapangan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Gubeng. Saya jadi tertarik membahas masalah perpajakan yang lagi in di Indonesia. Selain itu, masyarakat cukup antusias dengan program amnesti pajak,” imbuhnya.(*)

Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Binti Q Masruroh.




Ingin Bermanfaat Bagi Orang lain, Kautsar Ul-Haq Lulus Terbaik FST

UNAIR NEWS – “Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. (QS. Al Baqarah 148)” Begitulah sisipan motivasi yang mendorong Kautsar Ul Haq, wisudawan terbaik S-2 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga pada periode September 2017.

Setelah berhasil menyelesaikan studi melalui program percepatan atau fast track, alumnus S-2 Kimia itu berhasil meraih IPK 3.91 dengan bonus tercatat sebagai wisudawan terbaik. Lima tahun waktu yang dibutuhkan Kautsar untuk mendapatkan gelar sarjana sekaligus master. Tuntutan selesai studi dalam lima tahun itu mendorongnya untuk cepat dalam menyelesaikan riset yang ia geluti.

“Tidak ada masalah yang berarti dalam perkuliahan yang saya jalani. Alhamdulillah dalam mengerjakan riset saya selalu diberikan berbagai kemudahan. Contohnya riset yang dibiayai, termasuk proyek, dan dosen pembimbing yang telaten serta aktif membantu menemukan solusi atas masalah yang saya hadapi saat melakukan penelitian,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kautsar adalah salah satu mahasiswa penyumbang medali emas dalam ON-MIPA 2013 tingkat nasional bidang kimia. Pada semester II tingkat S-1, ia juga pernah meraih peringkat I ON-MIPA 2013 tingkat Kopertis VII Jawa Timur. Saat ini, wisudawan yang dulu aktif di Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMAKI) dan tentor mahasiswa Kimia dalam ON-MIPA itu, menjadi analis Fourier Transform Infrared (FTIR) di Laboratorium Terpadu.

Ia bercerita, tidak ada trik khusus untuk meraih beragam prestasi yang membanggakan itu. Tetapi ia termotivasi untuk bisa menjadi individu yang dapat menjadi panutan dan bermanfaat bagi orang lain. “Tidak ada trik atau rahasia dan saya juga tidak pernah terbayang menjadi wisudawan terbaik atau berprestasi. Hanya saja, saya menyukai bidang yang saya pelajari, sehingga terasa seperti bermain. Hal terpenting lainnya adalah doa, kerja keras, manajemen waktu dan pantang putus asa,” imbuhnya. (*)

Penulis: Disih Sugiarti

Editor: Binti Q. Masruroh, B Bes.




Ubah Kegagalan Jadi Kesuksesan, Moh Saad Lulus Terbaik Pascasarjana UNAIR

UNAIR NEWS – Beragam kegagalan yang dialami Moh. Saad berhasil ia wujudkan menjadi kesuksesan. Setelah merampungkan studi dalam kurun waktu 1 tahun, 5 bulan, 12 hari, ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S-2 Sekolah Pascasarjana dengan perolehan IPK sebesar 3.83.

Saad pun berhasil memecahkan rekor dengan menjadi wisudawan tercepat di prodi Bioteknologi Perikanan dan Kelautan. “Sungguh terasa bagai mimpi yang menjadi kenyataan, dapat lulus dengan pencapaian tersebut,” ulasnya.

Sebelumnya, berulangkali Saad mengulang kegagalan. Optimisme yang luar biasa dari dirinya patut diapresiasi. Ia selalu berpegang teguh, “Keberuntungan itu omong kosong. Keberuntungan adalah hasil/kebaikan yang kita peroleh dari kerja keras dan doa”.

Pasalnya, ia pernah gagal masuk perguruan tinggi lewat jalur undangan, namun satu tahun berikutnya ia berhasil masuk ke perguruan tinggi lewat jalur ujian tulis. Ia pernah gagal masuk BEM sebagai staf SEMIKAT (Seni, Minat dan Bakat), namun satu tahun berikutnya ia menjadi koordinator BEM SEMIKAT. Ia pernah gagal dalam mengajukan PKM, namun satu tahun kemudian dua PKM kategori kewirausahaan yang ia dan tim ajukan berhasil lolos didanai Dikti.

Ia juga pernah gagal terpilih sebagai asisten praktikum, namun satu tahun berikutnya ia menjabat sebagai koordinator praktikum Genetika dan Pemuliaan Ikan dan memasukkan penelitiannya sebagai materi dalam praktikum. Selanjutnya, ia pernah gagal menjadi wisudawan terbaik pada jenjang S-1, namun satu tahun berikutnya ia terpilih sebagai wisudawan terbaik S-2 Sekolah Pascasarjana.

“Kata-kata yang terdengar alay bagi para pendengar, tapi justru dari kata-kata tersebutlah yang dapat memotivasi saya untuk selalu berusaha bisa dalam segala hal, dan selalu berusaha keras mencapai suatu tujuan. Sungguh Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambanya yang selalu berusaha keras dan terus berdoa,” ucapnya. (*)

Penulis: Disih Sugianti

Editor: Binti Q. Masruroh/ Bes.




Dian Ing Tyas, ’Beauty Vlogger’ Itu Jadi Wisudawan Terbaik S-1 FEB UNAIR

 

UNAIR NEWS – Dara 22 tahun bernama Dian Ing Tyas Dananjaya ini, berhasil lulus dengan predikat wisudawan terbaik S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) pada wisuda periode September 2017.

”Alhamdulillah, sebuah kehormatan bagi saya dapat dinobatkan sebagai perwakilan wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis,” tutur peraih IPK 3,91 ini.

Selama berkuliah, Dian berusaha menjaga konsistensi nilainya dengan rutin belajar. Mulai dari mencicil belajar setiap bab per minggu, mencatat pelajaran di kelas, dan mengerjakan kuis secara maksimal. Disamping rutinitas perkuliahan, lulusan S-1 Manajemen ini juga aktif di Koperasi Universitas Airlangga, Pusat Data FEB, hingga komunitas beauty vlogger Indonesia.

Perempuan kelahiran 1997 ini menggemari media sosial. Ia aktif membentuk personal diri bidang kecantikan melalui YouTube dan Instagram. Dari kegemarannya itu ia meraih banyak prestasi. Diantaranya pernah menjadi Top 30 Face Awards Indonesia 2017, dan finalis Top 10 Marvella Contest 2017. Dari situ, ia mendapat penghasilan tambahan hingga diajak bekerja sama dengan perusahaan rias ternama.

”Komunitas beauty vlogger Indonesia tersebut menyediakan platform bagi saya untuk dapat mencurahkan passion (minat) dan hobi dalam bidang kecantikan kepada banyak orang,” kata cewek yang juga pernah menyabet semifinalis Duta FEB ini.

Lalu Dian memanfaatkan hobinya itu dengan menulis skripsi yang topiknya tak jauh-jauh dari kecantikan. Jadilah skripsi ”Antecedent dan Konsekuensi Parasocial Interaction antara Youtube Beauty Vlogger dengan Millenials Consumer (Studi pada produk kecantikan merek Maybelline)”. Sebuah bukti pada kegemarannya dari aspek akademis.

Agar skripsinya maksimal, ia memanfaatkan waktu dalam mencari ratusan responden, mengolah data dengan otodidak, bahkan tidak tidur lantaran berlatih untuk sidang skripsi.

”Semua hal besar bermula dari hal kecil yang dilakukan dengan kesungguhan hati. Ketika kita menginginkan nilai A, maka kerjakan tugas demi tugas secara maksimal dan melalukan proyek akhir sebaik mungkin. Ingat, jangan patah semangat karena setiap kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan,” begitu pesan Dian. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina SS/ Bambang Bes.