Nurun Nujum, Calon Dokter yang Mujur di Atas Catwalk

UNAIR NEWSDua kali mengikuti kontes, dua kali pula ia juara. Bermodal keyakinan, Nurun Nujum Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mencoba peruntungan di bidang modeling. Walau dengan pengalaman dan skill seadanya.

Baru-baru ini Nujum  berhasil menjuarai sebuah kontes pemilihan Puteri Auleea 2017, sebuah event pencarian bakat  yang dikelola oleh Fatayat NU Jawa Timur. Ia tak menduga akhirnya berhasil menyisihkan puluhan kontestan lain dari berbagai wilayah di Jawa Timur.

Sebenarnya melenggang di atas catwalk bukanlah bagian dari  rutinitas yang ia tekuni selama ini. Sehari-harinya, dara kelahiran 8 Maret 1997 ini lebih disibukkan dengan kegiatan perkuliahan yang saat ini sedang memasuki semester enam.

“Tadinya nggak ada niat mau ikutan. Mama yang nawarin saya untuk ikutan kontes ini. Setelah saya pikir tidak mengganggu jadwal kuliah, okelah,” katanya.

Selama proses seleksi, Nujum dan puluhan peserta lainnya dikarantina di Sekolah Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo selama dua hari. Di sana, peserta dinilai mulai dari aspek kedisiplinan, sikap, ditambah pula dengan tes wawancara, uji wawasan ke-NU-an, tes mengaji, hingga menulis arab.

“Sempat grogi sih waktu tampil di babak final, karena bersaing ketat dengan kalangan model. Tapi saya pede aja. Pokoknya ikut, menang atau nggak itu urusan belakangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Nujum juga pernah memenangkan kontes semacam itu ketika masih di bangku SMA. Alumni SMA Negeri 1 Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung itu berhasil menjuarai kontes pemilihan Akhi-Ukhti sebagai perwakilan kelas.

“Karena waktu itu nggak ada pengalaman, akhirnya sebelum tampil saya diajari teknik berjalan di atas catwalk sama seorang designer dan adik saya yang kebetulan ikut ekstrakurikuler modeling waktu itu,” kenangnya.

Sejak awal, Nujum memang tidak menaruh hati pada dunia modeling. Ia mengaku saat itu sempat minder dengan teman-teman model lain yang lebih cantik dan proporsional. Keraguan juga sempat menghampirinya ketika akan masuk perguruan tinggi.

“Awalnya nggak kepingin jadi dokter juga, karena takut alat suntik dan kuliahnya berat. Tapi berkat dukungan mama, akhirnya saya mantap masuk kedokteran,” ungkapnya.

Perspektifnya pun berubah tentang bagaimana memandang sebuah peluang. Menurutnya peluang belum tentu akan datang dua kali, maka jangan dilewatkan begitu saja.

“Yang pasti jangan takut mencoba, mumpung ada kesempatan. Harus yakin pada kemampuan diri sendiri dan minta restu orang tua. Insha Allah tercapai,” ungkapnya.

Meski telah terbuka lebar peluang baginya untuk terjun ke dunia modeling, Nujum lebih memilih fokus pada pendidikannnya saat ini.

“Saya lebih memilih jadi dokter, karena sudah menjadi bagian dari passion hidup saya. Profesi ini Insha Allah akan menjadikan saya lebih bermanfaat untuk masyarakat. Bisa bantu ngobati pasien, bantu sembuhin pasien,” ujar mahasiswa angkatan 2015 ini.

Dalam kesehariannya sebagai mahasiswa kedokteran, Nujum cukup aktif di organisasi Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) UNAIR. Di organisasi itu ia dipercaya menjadi bendahara.

“Target tahun ini pingin segera tuntasin penelitian. Dan setelah lulus, pingin lanjut pendidikan spesialis. Tapi masih bingung, bisa jadi spesialis bedah plastik, atau spesialis kulit kelamin, atau urologi,” ungkapnya.

Setelah memenangkan kontes, perempuan yang demen makan sup ayam ini merasa tidak banyak yang berubah dari dirinya. Hanya saja disela-sela aktivitasnya sebagai mahasiswa, Nujum sudah harus berbagi waktu dengan jadwal pemotretan dan talkshow.

“Kalau ada tawaran pemotretan sih nggak apa-apa selama nggak mengganggu jadwal kuliah,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Soal perawatan wajah, perempuan berparas ayu dan kalem ini tidak muluk-muluk. Agar wajah tampil sehat natural, Nujum membagikan tipsnya agar lebih rajin membersihkan wajah dan pakai masker. Karena dengan rutin menggunakan masker minimal seminggu 2 kali akan sangat efektif merawat kesehatan kulit.

“Saya lebih suka pakai perawatan yang ala-ala Korean skin care, atau pakai masker buah. Hasilnya kulit jadi lebih kenyal dan glowing gitu,” ujarnya. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Tak Ingin Kehilangan Momen di UNAIR

UNAIR NEWS – “Nice to Know you,” ujar Nadia Thabet sembari mengulurkan tangannya ketika ditemui tim UNAIR NEWS di Kampus B Universitas Airlangga. Perpaduan wajah Western dan Timur Tengah membuatnya tampak cantik disertai rambut keriting sebahu. Tutur katanya lembut dan murah senyum membuat obrolan semakin hangat. Mahasiswi asal Le Havre Prancis itu tengah mengikuti Academic Mobility Exchange for Undergraduate at Airlangga (AMERTA) Universitas Airlangga.

Pada awalnya, ia merasa tak percaya diri ketika hendak mengikuti program tersebut. Namun, dengan niat yang kuat ingin menambah pengetahuan baru, Nadia memberanikan diri untuk menginjakkan kakinya di Indonesia. Seluruh ketakutannya mengenai Indonesia musnah taktala ia kali pertama bertemu dan berkomunikasi langsung dengan orang lokal yang langsung menawarinya bantuan.

”Orang Indonesia ramah sekali. Aku sangat senang. Aku merasa berada di rumah,” tuturnya.

Meski baru setengah tahun menginjakkan kaki di Indonesia, Nadia sudah berkeliling ke beberapa daerah di Jawa Timur, ditemani Buddy-nya selama di sini. Seperti tak ingin kehilangan satu momen menikmati kehangatan orang Surabaya dan keadaan di sekitarnya, Nadia selalu menyempatkan diri berkeliling sekitar kampus setelah jam kuliahnya di UNAIR usai.

“Meskipun belum lama di sini, aku sudah berkeliling Kota Malang, Batu, dan pernah ke Blitar. Bagus sekali di sana,” ujarnya gembira.

Nadia memang masih menjalani program Amerta tersebut hingga enam bulan ke depan, dengan durasi yang lumayan panjang itu, ia sudah merencanakan perjalanan-perjalanan pelesir selanjutnya untuk menambah daftar pengalaman yang dikumpulkannya selama di Indonesia. Yang paling penting bagi Nadia, dirinya tak ingin kehilangan satu momen pun di UNAIR. Ia pun tak canggung untuk sekadar nimbrung dalam obrolan- obrolan teman barunya meski tak seberapa paham dengan bahasa Indonesia

“Bahkan, dosen dan mahasiswa bisa dekat. Dengan staf pun begitu. UNAIR seperti rumah kedua bagi mereka,” ungkap Nadia.

Ditanya mengenai melanjutkan kuliah di UNAIR, setelah menyelesaikan kuliahnya di Prancis, Nadia berkeinginan untuk bisa melanjutkan sekolah di UNAIR. Nadia sudah terlanjur jatuh hati dengan Kampus tersebut.

“Aku yakin Universitas Airlangga bisa mencapai 500 dunia dengan kedisiplinan dan kegigihan yang dimiliki,” ujarnya. (*)

Penulis: Faridah Hari

Editor: Feri Fenoria




Fokus HAM, Herlambang Kembali Raih Penghargaan

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga Dr. R. Herlambang Perdana Wiratraman, S.H., M.A., kembali menorehkan prestasi dikancah Internasonal. Setelah berkecimpung dalam bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) selama 14 tahun, dosen asal Jember ini terus mengaplikasikan ilmunya baik dalam bidang akademisi maupun pengabdian masyarakat.

Rabu, (22/12) Herlambang mendapat kabar membanggakan dari  Equitas, Lembaga Pendidikan HAM berbasis di Montreal Canada, Millagros Arguelles bahwa ia terpilih sebagai salah satu dari lima puluh orang pemimpin inspiratif bidang HAM. Sebelumnya, Herlambang pernah mendapat penghargaan ashoka saat usianya masih 25 tahun.

Alhamdulillah, saya bersyukur. Saya merasakan bahwa ini hasil dari banyak sinergi kolega akademisi yang tentunya melibatkan banyak pihak. Hal ini juga bermakna sekali bagi kolega akademisi di Pusat Hukum HAM FH UNAIR. Mereka berinteraksi, berinisiasi, mengembangkan kerjasama, pendidikan Hukum dan HAM secara voluntary. Modal kami solidaritas, sehingga aktifitas kami tak pernah mengenal kata berhenti. Jadi penghargaan dan pengakuan Equitas ini merupakan penyemangat iklim akademik yang terus bermakna di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ditanya mengenai upaya yang ditempuh hingga mendapat penghargaan, Ketua Human Rights Law Studies (HRLS) FH UNAIR ini mengatakan bahwa hal ini sebenarnya tidak beranjak dari peran akademisi dalam menjalankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pusat studi.

“Kami mengembangkan kurikulum, bahan bacaan yang berkualitas, dan pengembangan metode mengajar. Di Kawasan Asia Tenggara, kita sudah membuat buku induk pendidikan HAM bagi mahasiswa se-Asia Tenggara. Bahan-bahan tersebut bisa diakses secara gratis melalui website SEAHRN. Selain itu, kita juga mengembangkan riset kolaboratif, visiting lecture, lokakarya pengembangan metode belajar melalui konferensi, seminar, dan lainnya,” tutur salah satu pendiri Serikat Pengajar HAM Indonesia tersebut.

Setelah mendapatkan penghargaan ini, Herlambang tidak berpuas diri begitu saja. Baru baru ini UNAIR telah membuat sejarah baru dengan membuat prinsip-prinsip Surabaya untuk Kebebasan Akademik. Herlambang bersama jaringan akademisi lainnya bermimpi membangun kekuatan intelektual untuk mengawal perubahan lebih baik, semakin lugas berhadapan dengan praktik korupsi, berani untuk tidak takluk dihadapan korporasi maupun pendisiplinan yang mengancam kebebasan akademik.

“Tentu ini kerja panjang dan bersama. Saya bersyukur, UNAIR memberi ruang dan kesempatan kami untuk berinovasi, mengembangkan riset dengan metode lebih imajinatif bagi perubahan. Semoga jalan ini bisa terus menguatkan mimpi-mimpi perubahan, bukan untuk saya, kami, tetapi bagi warga bangsa Indonesia. Insya Allah,” tegasnya.

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan




Ingin Jadi Notaris, Rahmadika Sefira, Wisudawan Terbaik S2 FH UNAIR

UNAIR NEWS – Rahmadika Sefira E pantas merasa bangga. Perempuan yang akrab dipanggil Fevi ini berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Kalau sebelumnya perempuan kelahiran Surabaya 12 Maret 1994 ini pernah meraih IPK 4,00 saat pendidikan S1, sekarang lulus S2 dengan IPK 3,72.

Dalam tesisnya berjudul “Keabsahan Perjanjian Jaminan Hak Tanggungan Atas Objek Harta Bersama Tanpa Persetujuan Suami/Istri Alumni Universitas Sam Ratulangi Manado” ini, Fevi membahas pemenuhan kebutuhan atau peningkatan usaha terkait dana yang diperlukan masyarakat dari kegiatan pinjam-meminjam di perbankan yang kadang diikuti dengan perjanjian jaminan.

”Saya mengangkat tema itu karena melihat keadaan masyarakat. Ini merupakan hal yang sederhana, tapi mengandung risiko maupun akibat pada kemudian hari bila tidak disesuaikan dengan peraturan yang ada. Tidak jarang terdapat beberapa kelalaian dari para pihak. Karena itu, saya membahas akibat hukumnya serta beberapa contoh kasusnya,” jelasnya.

Mengingat perjuangan untuk masuk kuliah di UNAIR juga tidak mudah, maka selama studi Magister, Fevi hanya fokus kuliah, sehingga hasilnya maksimal. Meski dia tetap memanfaatkan waktu menambah ilmu ketika liburan, yaitu magang dan menjadi asisten di sebuah kantor.

“Masuk UNAIR bukan hal mudah. Sebab dari kecil saya menempuh pendidikan di luar Jawa. Tentu ada persaingan ketat, sehingga sempat gagal. Ketika pada akhirnya saya bisa masuk UNAIR maka ingin membuktikan mampu menyelesaikan studi dengan baik,” jelas Fevi.

Setelah lulus Master ini, ia ingin berusaha mewujudkan cita-citanya sebagai notaris. Sambil menunggu waktu, Fevi mengisinya dengan magang.

”Meski banyak rintangan dan diperlukan kerja keras, saya percaya hal yang baik akan dating bagi mereka yang mau berusaha. Rajin-rajinlah meng-update ilmu pengetahuan, sebab ilmu bisa diperoleh dari mana saja,” tutur Fevi mengakhiri keterangan. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor : Bambang Bes.




”Goyah” di Awal Kuliah, Wismoyo Justru Lulus Terbaik FKM UNAIR

UNAIR NEWS – Sumber inspirasi dan motivasi bisa datang dari mana saja. Itu yang dirasakan Wismoyo Nugraha Putra, tiga tahun lalu. Wisudawan terbaik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga pada wisuda awal Desember 2017 ini, masih ingat dengan masa-masa sulit saat merasa terasing dan merasa berat saat mengawali pendidikan jenjang S1-nya (Strata-1) di FKM.

Sempat ingin kembali mengikuti SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk PTN) di awal kuliahnya, penerima beasiswa dari Perusahaan Gas Nasional (PGN) ini kemudian bisa menjalani masa-masa sulit itu dengan lancar. Satu bukti konkretnya, gelar wisudawan terbaik mampu diraih Wismoyo, lulus dengan IPK 3,77.

Titik baliknya ketika semester III, saat mengikuti AIESEC. Ternyata seorang peserta dari Taiwan, yang saat itu tinggal di rumahnya, punya problem serupa, tapi ia mampu survive dan berprestasi dengan kondisi demikian.

”Kami ngobrol. Dia terbuka dan inspiratif. Jurusannya Sastra Inggris dan itu dianggap bukan passion-nya. Tapi dia bisa melewati dengan berprestasi,” ucap Wismoyo.

Kuncinya mengubah mind-set. Setiap manusia pasti memiliki masalah, terutama pendidikan. Namun bagaimana pun, kita mesti bertanggungjawab dengan semua itu. Anggap yang kita hadapi sekarang ini hal terbaik dan tepat yang diberikan Tuhan.

Sejak itu studinya lancar. IPK diatas 3,50 bisa dipertahankan, bahkan disertai aktif terlibat organisasi, kepanitiaan, dan kegiatan keilmuan lain baik dalam maupun luar negeri. Diantaranya menjadi penyaji paper International Conference on Public Health di Srilanka. Pada seminar itulah Wismoyo menemukan ide skripsinya.

Sempat sakit sebulan saat mengerjakan skripsinya yang berjudul “Hubungan Pola Makan, Aktivitas Fisik dan Aktivitas Sedentari dengan Overweight di SMA Negeri 5 Surabaya”, Wismoyo cukup puas dengan capaian akhirnya. Kedepan, anak kedua dari tiga bersaudara ini ingin melanjutkan S-2 dengan target menjadi dosen. (*)

Penulis : Feri Fenoria

Editor : Binti Q. Masruroh




Jadi Aktivis, Tak Halangi Ida Wijayanti Raih Wisudawan Terbaik FEB UNAIR

UNAIR NEWS – Ada penggalan pengalaman menarik yang dijalani Ida Wijayanti. Perempuan asli “Kota Brem” Madiun ini pernah berproses untuk mendapatkan Indeks Prestasi Sementara (IPS) 4.00 secara berturut-turut, setelah tiga semester sebelumnya gagal. Suatu saat ia ingat, pernah menulis di dalam catatan di telepon genggamnya, ia menjanjikan kepada ibunya untuk mempersembahkan IP 4,00.

”Ternyata saat beliau masih ada (semester 1-3) saya belum berhasil, dan justru tercapai meraih IP 4,00 setelah beliau tidak ada,” kata Ida. Kendati demikian, toh Ida berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga dengan meraih IPK 3.92.

Meski selama kuliah langganan dengan nilai akademik yang sempurna, Ida juga disibukkan dengan  berbagai kesibukan non-akademik. Diantaranya pernah menjadi tenaga paruh waktu  instruktur di Cartenz HRD dan trainer di Pyramida Edu Training. Ia juga turut berpartisipasi sebagai relawan dalam acara nasional maupun internasional, seperti UN Habitat dan Asian Australia Research Summit.

Meski bersibuk-ria, masa studinya juga tak lekang dari beragam prestasi. Menjadi peserta pertukaran pelajar di University Brunei Darussalam (UBD) menjadi salah satu prestasi terbaiknya. Selain itu, Ida juga pernah menjadi Juara II Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FEB UNAIR ketika semester VI/2016. Mengenai capaiannya itu, Ida mengaku, kuncinya hanyalah mau belajar dari apapun dan siapapun.

”Yang terpenting berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat,” tandasnya.

Perihal skripsi, anak terakhir dari empat bersaudara ini mengambil judul Transformasi Mustahiq: Studi Komparasi pada Lembaga Zakat Indonesia dan Brunei Darussalam. Meski mengambil objek lintas negara, Ida justru merasa tertantang.

”Hal yang menarik dalam proses skripsi saya adalah sesaat setelah sidang dan dinyatakan lulus, dosen pembimbing saya diminta untuk menyampaikan hasil penelitian empiris saya ini di forum penyuluhan lembaga zakat dan muzakki,” kata Ida Wijayanti, bangga. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Binti Quryatul Masruroh.




Sukses Lewati Masa Sulit, Meisy Andriana Lulus Terbaik S3 FK UNAIR

UNAIR NEWS – Dr. Meisy Andriana, dr., Sp. KFR-K., perasaannya lega. Hal ini lantaran berhasil menyelesaikan studi Doktornya (S3) secara tepat waktu. Bahkan tidak hanya tepat waktu, tetapi disertai lulus sebagai wisudawan terbaik Prodi S3 Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga. Meisy meraih IPK 3,87.

Perjuangannya menyelesaikan studinya ini terbilang cukup berat. Di awal studinya, wanita kelahiran Surabaya 1 Mei 1960 ini harus menerima takdir, yaitu suami tercintanya, Dr. Heru Koesbijanto, dr., Sp.,B, BTKV(K), meninggalkannya untuk selama-lamanya.

”Suami tercinta pergi. Ini yang membuat saya sempat vakum, dan malah berniat mundur. Saya kehilangan semuanya, baik semangat dan motivasi. Tetapi perlahan-lahan bisa bangkit, dan sangat bersyukur akhirnya berhasil menyelesaikan amanahnya,” kata Dr. Meisy.

Tak ingin sedih terlalu lama, ibu dari dr. Kinanti Koesandrini dan Tatya Koesandriani itu, berusaha tegar dan melanjutkan studinya. Dalam tugas akhirnya, Meisy meneliti ”Mekanisme Regulasi Transporter Folat SLC 19a1 dan Receptor Folat α di Duodenum pada Tikus Hiperhomosistein yang Mendapatkan Asam Folat dan Latihan Fisik Intensitas Sedang.

Meisy terinspirasi setelah melihat banyak stroke survivor yang berulang walau faktor risikonya terkendali. Itu disebabkan tingginya kadar homosistein dalam tubuh. Sebab, homosistein merupakan faktor sekunder yang sering terlupakan. Menurutnya, pencegahan menurunkan kadar homosistein itu sederhana. Yakni, pemberian asam folat yang cukup murah serta berolahraga.

Kemudian, Meisy juga sibuk mengajar dan bergiat di Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo sebagai koordinator prodi. ”Menjelang ujian kelayakan dan tertutup, saya harus mempersiapkan akreditasi prodi dengan LAM-PTKES. Jadi, pontang-panting antara ujian dan akreditasi. Alhamdulillah, dua minggu sebelum ujian disertasi, akreditasi prodi lulus dan berpredikat A,” katanya.

Dokter di Divisi Neuro Rehabilitasi RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR ini mengaku tak punya metode khusus dalam belajar. ”Saya hanya mengandalkan mood. Sebenarnya jelek ya, tapi saya tetap punya prinsip dan target. Tidak berambisi serta menjalani semuanya dengan easy going,” tuturnya. (*)

Penulis: Sefya H. Istighfaricha.

Editor : Feri Fenoria.




Peduli Penderita Skizofrenia, Firanti Lulus Terbaik S1 Psikologi UNAIR

UNAIR NEWS – Peduli dengan penderita Skizofrenia atau penderita yang sulit membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri, Firanti Claudia Gea, tertarik untuk menelitinya sebagai bahan skripsinya. Hasilnya, sebuah skripsi berjudul “Gambaran Komitmen Pernikahan Istri Orang dengan Skizpfrenia (ODS)” berhasilia pertahankan.

Tema yang jarang diteliti itulah ikut mengantarkan meraih gelar jadi wisudawan terbaik S1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Firanti meraih IPK 3.73. Wisudawan yang akrab disapa Claudia ini, memilih judul itu perduli dengan persoalan kesehatan mental keluarga. Sebab perempuan kelahiran Batam ini percaya bahwa kesehatan mental dibentuk dan dimulai dari hubungan individu dengan anggota keluarganya sendiri.

”Sebab keluargalah tempat pertama individu untuk belajar segalanya, sebelum ia mempu untuk berinteraksi dengan orang lain,” tuturnya.

Selanjutnya, Claudia memaparkan bahwa penelitian itu bertujuan untuk mengetahui gambaran komitmen pernikahan istri orang dengan skizofrenia (ODS), laki-laki pada usia 25 hingga 35 tahun berisiko mengalami gejal skozofrenia lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.

”Sehingga gejala skozofrenia itu berpotensi mengganggu keberfungsian seorang laki-laki sebagai seorang suami,” jelasnya.

mental keluarga
REKTOR Universitas Airlangga menyerahkan piagam penghargaan wisudawan terbaik kepada Firanti Claudia Gea, dari S1 Psikologi UNAIR. (Foto: Bambang Bes).

Diakui oleh Claudia, dalam mengerjakan penelitaan ia menemui berbagai tantangan. Bahkan hingga akhir pengumpulan di bulan September, ia masih diminta dosen pembimbingnya untuk menambah subjek penelitian. Tetapi meski menemui banyak kendala, perempuan yang pernah tergabung di UKM Paduan Suara ini berhasil lulus dengan meraih predikat  wisudawan terbaik.

”Kalau boleh jujur, saya tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan predikat ini,” katanya.

Pada akhir percakapan, ia mengaku sejak sekolah bisa mempertahankan peringkat di sepuluh besar. Namun, yang menurutnya, paling penting adalah dukungan kedua orang tua dan doa. Kedua orang tua, baginya,  mencukupi segala kebutuhan selama ia menimba ilmu. Karena itulah anak pertama dari dua bersaudara ini sejak awal sudah bertekad tidak menerapkan sistem “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang).

”Dengan semangat itu, sehingga saya aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi intra kampus lainnya,” kata Claudia. (*)

Penulis: Akhmad Janni

Editor: Nuri Herwaman.




Shobrina Silmi, Mawapres II 2014 Itu Jadi Wisudawan Terbaik S1 FPK UNAIR

UNAIR NEWS – Pernah meraih gelar sebagai mahasiswa berprestasi (Mawapres) tingkat fakultas sebanyak dua kali pada tahun 2014 dan 2016, serta Juara II Mawapres UNAIR tahun 2014, Shobrina Silmi Qori Tartila membuktikan bahwa deretan prestasi itu bisa diraih selama kuliah. Bahkan akhirnya, ia berhasil lulus dengan predikat wisudawan terbaik S-1 Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR pada wisuda Desember 2017. Shobrina meraih IPK 3.96.

Tidak berhenti sampai di situ. Selama menjalani perkuliahan Silmi pernah berhasil meraih hibah pendanaan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) lima bidang yaitu pada tiga PKM. Tahun 2014 pada PKM Penelitian Eksakta (PKM-PE), dan tahun 2016 dua PKM Karsa Cipta (PKM-KC).

”Niat saya untuk memenuhi tugas mata kuliah, tetapi teman-teman bersikeras untuk mengirimkannya menjadi karya tulis, sehingga saya hanya menuruti untuk dikirimkan. Eh, ternyata dapat,” ucap puteri pasangan Suman Hadi dan Ririn Dyah Martarini itu.

Ketika mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk PTN), Silmi kepincut ingin masuk Fakultas Kedokteran. Kemudian lalu memilih studi di FPK sebagai pilihan kedua. Mengapa memilih FPK? ”Alasannya karena saya mencintai laut dan nanti akan praktikum dengan jalan-jalan di laut,” katanya.

Ia tertantang untuk studi di bidang perikanan dan kelautan ini, walaupun bapaknya kurang setuju dengan pilihan Silmi. Namun, justru situasi itu yang memacunya untuk membuktikan kepada sang ayah.

”Melalui mata kuliah dan praktikum yang saya tempuh selama studi, saya ceritakan semuanya mengenai potensi dunia perikanan. Alhamdulillah, bapak luluh dan sangat mendukung saya untuk meneruskan ke jenjang S-2,” papar gadis kelahiran Kediri 5 April 1995 itu.

Selain beragam kesibukan di kampus, Silmi juga menyibukkan diri menjadi guru les kimia dan Bahasa Inggris di LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) maupun privat. Kemudia juga sering diminta untuk mengisi beberapa forum diskusi dan menjadi narasumber di beberapa kegiatan kampus.

”Sudah berapa banyak orang yang kamu singkirkan untuk sekedar merasakan kursi kuliah yang dinikmati saat ini? Jadi, bersyukurlah, nikmatilah, dan lakukan yang terbaik,” kata Silmi memberikan saran. (*)

Penulis : Helmi Rafsanjani.

Editor : Binti Q. Masruroh.




Achmad Herman, Penyuka “Touring” Itu Jadi Wisudawan Terbaik S3 FISIP UNAIR

UNAIR NEWSAchmad Herman, Doktor kelahiran Makassar ini, memiliki hobbi yang terbilang unik. Ia menyukai vespa, sehingga tergabung dalam komunitas vespa. Dari hobbinya itu, anak nomor 10 dari 13 bersaudara ini masih sering dan senang mengikuti touring keluar kota.

”Saya juga senang mengoleksi pernak-pernik yang berkaitan dengan vespa,” katanya. Kesibukannya itu menjadi pengiring dalam menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa S3 Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. Kendati sudah sibuk pun, ia masih berhasil menjadi wisudawan terbaik S3 FISIP dengan IPK 3,82.

Sebelumnya, Herman juga pernah mendapatkan predikat sama sebagai wisudawan terbaik S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Hasanuddin tahun 2000. Prestasi lain yang ia banggakan ketika terpilih menjadi penulis terbaik dalam kegiatan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) tahun 2011 yang dilaksanakan kerjasama AIPI dan LIPI.

touring
REKTOR UNAIR Prof. M. Nasih menyerahkan piagam Wisudawan Terbaik kepada Achmad Herman, dalam wisuda UNAIR di gedung ACC Kampus C, Minggu (3/12). (Foto: Helmy Rafsanjani)

Dalam memenuhi penelitiannya, Herman mengangkat topik di daerahnya, yaitu “Wacana Politik Lokal dalam Pers Lokal: Praktik Wacana Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah”. Ia perlu pemikiran yang fokus ketika mengerjakan penelitian ini, karena dituntut untuk meneliti konteks lokalitas di Palu dan orisinalitasnya.

“Sebelumnya saya berpikir akan sulit menyelesaikan studi ini karena saya harus bolak-balik ke Palu,” terang Herman seraya berkisah bahwa untuk mencapai semua itu tidak ia jalani dengan mudah. Ia kerap menghadapi kendala. Selain kendala bolak-balik Palu-Surabaya, kendala selanjutnya adalah saat ibu mertua dan ayah tercinta meninggal dunia. Selain juga finansial yang kurang.

Herman berpesan, tetap fokus dan membuat target untuk dijadikan acuan dalam mengelola waktu dengan baik adalah trik suksesnya. “Selain itu, perlu menjaga kesehatan dan perbanyak baca referensi untuk hasil tulisan yang baik,” pungkasnya. (*)

Penulis : Akhmad Janni

Editor : Nuri Hermawan.