Pegang Pesan Orang Tua dan Terinspirasi “Melampaui Batas”

UNAIR NEWS – Berasal dari desa tak lantas membuat Andre Pupung Darmawan berhenti berjuang mengukir prestasi. Lelaki asal Dusun Pesenggrahan, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, itu merupakan mahasiswa jurusan Ekonomi Islam (Ekis), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga (UNAIR), angkatan 2017.

“Saya terinspirasi buku Melampaui Batas yang menceritakan tiga anak desa dari keluarga tidak mampu bisa kuliah di universitas favorit,” ujar laki-laki kelahiran Banjarnegara, 13 Agustus 1999, tersebut.

Andre memiliki minat yang cukup besar dalam bidang karya tulis ilmiah, esai, dan olahraga. Berbagai perlombaan, baik tingkat nasional maupun internasional, oleh perguruan tinggi sering diikutinya.

Pada semester I dan II saja, Andre berhasil meraih enam prestasi tingkat provinsi dan nasional. Yakni, juara I Essay Plasma Event 2017 di Politeknik Negeri Madiun (PNM); juara I Eureka Leader Fest 2018 di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED); juara I lomba Essay The Battle of Creatity BEM KM Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sriwijaya (UNSRI) 2018; harapan I dan II Esai Mahasiswa Tingkat Nasional MOTOGE 2018; dan Harapan III Karya Tulis Ilmiah Dinas Kehutanan Jawa Timur 2017.

“Saya berharap menjadi mawapres (Mahasiswa prestasi, Red), juara PIMNAS, dan mencapai 30 prestasi nasional,” ungkapnya.

Keaktifan Andre terjun dalam perlombaan bermula sejak duduk di bangku SMP. Yakni, dengan lomba cerpen. Termasuk karya tulis ilmiah. Soal capaiannya kini, Andre berpegang teguh dengan pesan orang tua dan kakaknya.

“Belajar yang benar. Kalau hasilnya jelek, belajarnya berati kurang benar,” tutur Andre mengulangi pesan orang tuanya.

“Tidak adanya jadwal (kuliah, Red), kalau bisa baca. On time walau yang lain tidak. Sesuai dengan jadwal yang ada. Selain itu, menarget bisa membuat satu karya dalam seminggu. Dikerjakan pada Sabtu atau Minggu,” imbuh Andre.

Perpustakaan, terutama ruang thesis dan skripsi, menjadi tempat favorit Andre. Bagi dia, selain nyaman, banyak referensi yang dapat dibaca untuk memperkaya wawasan, juga lomba karya ilmiah.

Andre menyampaikan, keterbatasan dalam bentuk apa pun hendaknya tak menghentikan langkah untuk berprestasi. Selain itu, berbagai kesempatan yang muncul mesti dimanfaatkan dengan baik.

“Jadilah orang yang cerdas. Sebab, orang cerdas bisa menyelesaikan masalah walau masalah itu belum pernah dihadapinya,” sebutnya. (*)

Penulis: Rolista Oktavia

Editor: Feri Fenoria




Dosen UMM Raditya Weka Nugraheni Lulus Terbaik S2 Fak Farmasi UNAIR

UNAIR NEWS – Usaha yang dilakukan Raditya Weka Nugraheni selama menempuh perkuliahan, mendapatkan hadiah yang spesial. Perempuan dengan panggilan Dita ini meraih gelar wisudawan terbaik program Magister (S2) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, pada wisuda periode Maret 2018. Ia meraih IPK 3,85.

Penyuka pelajaran kimia dan biologi ini pada topik penelitian tesisnya mengembangkan penelitian dosen pembimbingnya, Helmy Yusuf, M.Sc., Apt., Ph.D., yang kemudian disempurnakan lagi.

“Penelitian ini merancang formula prototype untuk sediaan vaksin kering. Hal itu karena sediaan obat dalam keadaan cair akan terdegradasi ketika terkena air dan rusak pada suhu tinggi,” paparnya.

Setelah menyelesaikan penelitiannya Dita ditarget untuk publikasi jurnal ilmiah internasional. Ini yang dirasa Dita sulit, karena belum terbiasanya menulis dalam bahasa Inggris, jadi banyak revisi. Selain itu, dalam publikasi penelitian itu harus punya novelty (kebaruan) dan data yang tervalidasi. Hasil usahanya terbayar terhitung 6 bulan sejak submission hingga publication.

“Saya rasa semua itu tantangan yang dialami bagi semua mahasiswa Pascasarjana. Alhamdulillah akhirnya naskah dapat dipublikasi di jurnal terindeks scopus berkat bantuan Pak Helmy Yusuf dan Pak Dr. Dwi Setyawan, Apt,” tambah Dita.

Dita kini sedang menjalani sebagai tenaga pengajar di Departemen Farmasetika, Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berharap, tesis dan jurnalnya yang telah terunggah ini dapat meningkatkan mutu produk, menekan biaya penyimpanan, dan memproduksi vaksin dapat ditekan.

“Prinsip yang saya pegang, ya belajar bukan hanya untuk berprestasi diri sendiri, tapi lebih dari itu belajar itu harus ada kemanfaatan yang dirasakan oleh orang banyak,” pungkasnya. (*)

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor : Nuri Hermawan




Kerja Keras Antarkan Airin Gondokusumo Lulus Terbaik S1 FH UNAIR

UNAIR NEWS Airin Gondokusumo, mahasiswa kelahiran 9 Februari 1996 itu patut berbangga lantaran dirinya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik program studi S1 Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga. Hal itu tak lepas dari jerih payahnya dalam kuliah tiga setengah tahun, dan meraih IPK hampir sempurna; 3,95.

Dalam skripsinya berjudul “Perbandingan Karakteristik Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi (Financial Technology Peer to Peer Lending) dengan Perbankan”, Airin mengulas karakteristik perbankan dengan Fintech P2PL. Kemudian dibandingkan untuk ditemukan persamaan dan perbedaan antar keduanya.

“Saya memilih judul itu karena Financial Technology Peer to Peer Lending (Fintech P2PL) merupakan salah satu produk finansial teknologi yang jarang dibahas, khususnya dari segi hukum, padahal di Indonesia Fintech P2PL sedang berkembang,” ujar Airin, saksi ahli terbaik pada kompetisi Internal Moot Court FH UNAIR (2015) ini.

Alumnus SMA Gloria 1 ini ternyata juga berprofesi sebagai guru kimia pada salah satu Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Surabaya. Meski kuliah jurusan hukum yang notabane ilmu social, namun Airin juga gemar mempelajari mata pelajaran kimia yang merupakan salah satu basic ilmu sains.

“Dulu saya murid dalam LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) tersebut, kemudian setelah lulus SMA saya ditawari menjadi guru les di LBB itu. Karena saya suka pelajaran kimia, saya terima tawaran itu. Pendapatan di les juga bisa menambah uang jajan, dan saya mulai jadi guru les dari semester 1 hingga sekarang,” tuturnya.

Selama perkuliahan, tidak jarang ia merasa jenuh dan lelah karena kegiatan yang tidak hanya belajar, tetapi juga mengajar. Namun hal itu dapat diatasi lantaran dirinya merasa bahwa hal itu menjadi persoalan yang lumrah.

Kini, Airin mencoba mencari informasi terkait jenjang S2 maupun informasi kerja. Kalau pun Airin ternyata diterima kerja terlebih dahulu dirinya tetap berkomitmen untuk tetap melanjutkan ke program Magister (S2) meski harus menunggu satu atau dua tahun kemudian. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan




Fokus Kuliah dan Berdoa, Ayune Rosfina Lulus Terbaik FST UNAIR

UNAIR NEWS – Mengakui tidak banyak kendala dalam menghadapi selama kuliah, Ayune Rosfiana, akhirnya berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik jenjang S1 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga. Ia berhasil meraih IPK 3,70.

Namun mengaku bukan sama sekali tanpa hambatan, misalnya sulit membagi waktu saat banyak tugas dari kampus, dan sulit beradaptasi waktu dengan lingkungan. Namun dengan niatan yang keras, Ayu dapat mengatasinya.

“Pada saat terjadi kendala, yang perlu dilakukan adalah mengingat lagi apa tujuan awal kami kuliah dan berapa banyak tenaga, waktu, biaya serta perjuangan yang sudah dikeluarkan untuk sampai pada saat ini, sehingga kita akan semangat lagi untuk menjalani aktivitas kuliah,” ungkapnya saat ditanya alasannya.

Aktivitas yang ditempuh Ayune selama kuliah cenderung berfokus pada aktivitas akademik.  “Ada beberapa kegiatan kepanitiaan dan seminar yang sering saya ikuti,” akunya.

Kefokusannya pada dunia akademis pun turut mendasari penulisan skripsinya. Dijelaskan bahwa skripsinya tidak lepas dari ketertarikannya dalam mengembangkan konsep.

“Alasan saya memilih topik tersebut karena saya tertarik untuk mengembangkan konsep dimensi matrik kuat, sehingga dalam skripsi tersebut dibangun definisi dimensi metrik kuat lokal pada graf dan beberapa teorema yang berkaitan dengan dimensi metrik kuat lokal pada graf,” katanya, tanpa menjelaskan maknanya.

Setelah lulus, Ayune berencana untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmunya, juga mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang pascasarjana. Dia berpesan agar mahasiswa dapat memanfaatkan waktunya dengan baik. Berdoa, baginya, adalah keharusan.

“Selalu berdo’a kepada Allah SWT dan meminta doa restu orang tua agar diberikan yang terbaik,” tambah Ayune. (*)

Penulis : Moh Alfarizqy

Editor : Feri Fenoria.




”Lulus Cobaan”, Ni Luh Putu Diarthini Jadi Wisudawan Terbaik S2 FK UNAIR

UNAIR NEWS Ni Luh Putu Eka Diarthini pantas berlega hati. Ini lantaran dapat menyelesaikan pendidikan S2 dengan baik, bahkan meraih predikat lulusan terbaik Prodi S2 Ilmu Kedokteran Dasar (IKD), Fakultas Kedokteran UNAIR, dengan meraih IPK 3,84. Setelah lulus ia akan segera kembali menjalani hari-harinya bersama keluarga kecilnya di Bali.

Sebagai ibu dua anak yang masih balita, keputusan melanjutkan pendidikan S2 di Surabaya tentu bukan perkara mudah. Konsekuensinya, perempuan kelahiran Denpasar, 6 Desember 1984 ini harus rela LDR-an dengan suami dan anak-anaknya demi fokus menyelesaikan pendidikan.

Ditanya pengalaman berkesan, Eka jadi teringat beberapa pengalaman yang amat berkesan.  Di awal semester, Ia harus melalui drama kehamilan yang mengharuskannya bedrest beberapa minggu.

Ketika masih semester satu, Eka mengalami kehamilan diluar kandungan atau kehamilan ektopik terganggu (KET). Sehingga harus dioperasi dengan pemotongan saluran telur  yang kanan. Dari kejadian tersebut, Eka jadi semakin kekeuh ingin segera menyelesaikan lebih cepat , karena segera ingin menjalani program bayi tabung.

Di tengah perjalanan, tuhan berkehendak lain. Tanpa diduga, awal semester III ia kembali dianugerahi kehamilan. “Di usia kehamilan bulan kedua sempat mengalami flek, sehingga mengharuskan saya bedrest beberapa minggu,” ungkapnya.

Beruntung, kehamilannya bisa bertahan dan kembali melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda. Di semester 4, Eka melahirkan anak keduanya. Namun karena pendidikan masih berlanjut, ia memutuskan kembali LDR-an dengan keluarga. “Berat ninggalin anak balita dan anak bayi saya waktu itu dan harus menyelesaikan thesis,” ungkapnya.

Dua kali “cobaan” itu menajdi pengalaman hidup sangat berharga. Perjuangannya sebagai ibu tidak berhenti sampai disitu. Meskipun berpisah beberapa waktu dengan bayinya, namun Eka tetap memperjuangan ASI untuk Ni Kadek Airin Wahyuni, anak keduanya itu. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Bambang Bes




Sentuhan Karya Mahasiswa FK di Balik Logo Masjid Ulul Azmi UNAIR

UNAIR NEWSMahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Husada Tsalitsa Mardiansyah memiliki skill di bidang seni kaligrafi. Buah karyanya tidak hanya digemari masyarakat lokal, beberapa kali ia bahkan membuatkan pesanan kaligrafi untuk rekanannya dari manca negara, seperti  New York dan Yerusalem.

Salah satu yang membanggakan adalah ketika karya mahasiswa FK UNAIR semester enam ini pernah diapresiasi oleh UNAIR. Ini bermula ketika Husada mengikuti kompetisi pembuatan logo Masjid Ulul Azmi tahun 2016. Setelah mengirimkan proposal logo serta mempresentasikan filosofinya di hadapan juri, Husada akhirnya berhasil memenangkan kompetisi tersebut. Logo buatannya pun terpilih menjadi logo Masjid Ulul Azmi UNAIR.

Dalam pembuatan logo tersebut, pria kelahiran Banyuwangi ini memadukan beberapa huruf kufi dan beberapa style huruf lain sesuai kaidah seni kaligrafi. Bentuk logo masjid tampak menyerupai tetesan air, sebagaimana “Air Amerta” atau air kehidupan abadi yang dipanggul oleh Garuda Mukti.

“Simbol ini melambangkan UNAIR sebagai sumber ilmu yang senantiasa abadi. Ilmu bisa kita peroleh di kampus UNAIR dan masjid ini,” jelasnya.

Ketertarikan pada seni kaligrafi telah dirasakannya sejak kecil. Ketika masih SD, Husada tak segan menawarkan jasa penulisan kaligrafi kepada teman-temannya. Husada antusias membuatkan pesanan kaligrafi di atas kertas warna-warni, meski hanya dibayar 500 Rupiah kala itu.

Dengan semangat, ia terus mengembangkan bakatnya dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) kaligrafi. Berlanjut dari SMP ke SMA, ia mulai memberanikan diri untuk mengomersialkan karyanya. Beberapa kali ia menerima pesanan kaligrafi untuk cover buku dari beberapa penerbit atau pesanan kaligrafi untuk kado. Pesanan lain juga datang dari beberapa komunitas islam dari manca negara.

Awal mula mempelajari teknik penulisan kaligrafi, Husada mengaku belum memahami jika ternyata pembuatan kaligrafi tidak lepas dari hukum serta faedah. Namun seiring berjalannya waktu, skill dan pemahamannya makin terasah.

“Alhamdhulillah sekarang sudah lebih luwes tanpa harus menulis sketsa dengan pensil. Karena reflek tangan sudah terlatih, sehingga lebih mudah menuliskan huruf-huruf kaligrafi dalam proporsi yang pas tanpa mikir-mikir lagi,” ungkapnya.

Selain menggunakan huruf Arab, peraih juara 1 lomba MTQ-M UNAIR tahun 2016 ini juga mengombinasikan karyanya menggunakan huruf Jawa dan beberapa style huruf lainnya. Teknik penulisan juga dikembangkan tidak hanya manual tapi juga digital. Ia bahkan ‘mengawinkan’ konsep kaligrafi kontemporer dengan unsur-unsur modern tanpa mengurangi faedah penulisan kaligrafi.

“Lebih simpel dengan cara digital, dibanding manual. Tapi lebih greget menulis kaligrafi dengan tangan, karena ketika menulis, perasaan dan emosi benar-benar dilibatkan. Sementara digital hanya cukup menata ulang  huruf-huruf yang tersedia. Dan hasilnya tentu berbeda,” ungkapnya.

Meski disibukkan dengan kegiatan kuliah, pria kelahiran Maret 1997 ini tetap meluangkan waktu untuk hobinya. Ada keasyikan tersendiri ketika memainkan ujung pena dan membuat lekukan huruf.

“Buat saya membuat kaligrafi bisa menjadi pengobat dikala sedang dilanda penat,” ungkapnya.

Setiap kali membuatkan pesanan kaligrafi, perlu waktu baginya untuk brainstorming. Panjang kalimat serta tingkat kesulitan pada pembuatan bentuk huruf sangat memengaruhi lamanya proses pembuatan kaligrafi. Proses ini yang kerapkali membuatnya kebingungan membandrol harga.

“Di Indonesia apresiasi untuk seni belum terlalu tinggi, jadi seringnya ‘harga teman’. Sementara orang luar negeri sangat mengapresiasi sebuah seni. Alhamdhulillah kalau yang pesan orang luar bisa dihargai sampai jutaan rupiah,” ungkapnya.

Ke depan, Husada ingin mengembangkan aplikasi seni kaligrafi dalam bentuk stempel kaligrafi yang bersifat personal.

“Menurut saya stempel kaligrafi yang personalized belum ada, umumnya stempel kaligrafi untuk nama lembaga. Kalau ini kan, kita bisa buatkan stempel kaligrafi dengan menggunakan nama seseorang. Unik dan cocok untuk kado,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Yunita Dyah Tak Menyangka Jadi Wisudawan Terbaik S1 Fakultas Farmasi UNAIR

UNAIR NEWS Yunita Dyah Kusumaningrum patut bangga. Pasalnya, mahasiswa asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu sebagai wisudawan terbaik S-1 Pendidikan Apoteker, Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga. Yunita berhasil membukukan IPK 3,77.

Ia mengaku sangat senang dan tidak menyangka akan meraih predikat tersebut. Padahal ketika di semester akhir ia justru jatuh sakit dan memerlukan waktu penyembuhan relatif lama. Ia sakit diperkirakan karena kebiasaan yang dilakukan ketika sedang semangat saat mengerjakan skripsi, misalnya sering melewati jam makan dan istirahat yang kurang. Dampaknya, ia terpaksa menunda pengerjaan skripsinya.

“Saya akui, melihat teman-teman sudah lulus, sementara saya menunda untuk menyelesaikan skripsi dan mengonsumsi obat, tentu cukup berat untuk dijalani. Namun, lama-lama saya berfikir pasti ada hikmah dari kejadian ini. Selagi dalam penyembuhan saya tetap bersemangat menyelesaikan skripsi,” jelasnya.

Tekad Yunita, ia akan mampu mengerjakan skripsinya yang berjudul “Analisis Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Rawat Inap Anak di KSM Ilmu Kesehatan Anak Menggunakan Defined Daily Dose (DDD) yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga. Dalam skripsi itu, ia mencoba menggambarkan kuantitas penggunaan, pola penggunaan, dan tren penggunaan antibiotik pada pasien anak untuk prediksi awal pengunaan antibiotik.

“Prediksi awal itu untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik dan mencegah resistensi dengan metode DDD yang membandingkan pemakaian antibiotik secara berlebihan (overuse), kurang (underuse), atau salah penggunaan (misuse),” paparnya.

Ia berharap hasil skripsinya ini dilanjutkan dengan penelitian evaluasi penggunaan antibiotik yang menggunakan metode Gyssen’s, sehingga penelitian dapat mendukung hal-hal yang telah ia lakukan. Yunita berpesan untuk yang sedang menjelesaikan skripsi agar fokus dalam menyelesaikannya, tetapi juga jaga kesehatan.(*)

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Nuri Hermawan

 




Referensi LN Lecut Muh Dimas Aditya Raih Wisudawan Terbaik S2 FKG UNAIR

UNAIR NEWS – Perjalanan studi sering menghadirkan berbagai pengalaman berkesan. Suka-duka selama menempuh S2 ini juga dirasakan Muhammad Dimas Aditya Ari. Ia terkesan dengan pengalamannya selama mempelajari ilmu yang lebih spesifik dan mendalami penelitian tesis yang lebih kompleks.

Pengalaman lain yang mengesankan ketika mengikuti program Cooperative Laboratory Study Program (COLABS Program) di Faculty of Dentistry, Tohoku University, Maret-April 2017. Di sana, ia melakukan riset kolaborasi dan menghabiskan banyak waktu di laboratorium.

“Ini aktivitas yang belum pernah saya lakukan di Indonesia. Pengalaman ini membuat saya terpacu untuk maju,” kenanga Dimas, peraih IPK 3,87 ini.

Dalam tugas akhir S2-nya, pria kelahiran Lumajang 15 Oktober 1992 ini meneliti biomaterial rekayasa jaringan tulang dan sel punca. Menurutnya, sampai saat ini masih banyak ditemukan kasus kerusakan tulang, maka kebutuhan akan material pengganti tulang masih tinggi.

“Dengan menciptakan sebuah biomaterial scaffold yang memiliki sifat sesuai jaringan tulang dan ditambah dengan sel punca diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan dan pembentukan tulang baru,” katanya.

Ia menyadari perjalanan penelitiannya terbilang panjang dan berliku. Banyak hal yang tidak bisa diprediksi selama penelitian. Tentu saja hal itu memerlukan kesabaran cukup tinggi.

“Seperti menunggu reagen penelitian yang cukup lama, beberapa kali harus mengulang prosedur karena sel yang akan digunakan mati, dan masih banyak lagi cerita yang mewarnai perjalanan studi saya,” kata pria yang pernah mengikuti program akselerasi saat SMP dan SMA ini.

Dimas berkeyakinan, keinginannya menjadi dokter gigi  tak lepas dari dukungan keluarga, bahwa menjadi seorang dokter gigi adalah sebuah pencapaian yang membanggakan. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Nuri Hermawan, Bes




Risi Cicilia, Lulus Terbaik S2 FKH UNAIR dengan IPK Sempurna

UNAIR NEWS – Kebahagiaan sedang direguk oleh Risi Cicilia. Ia ditahbiskan sebagai wisudawan terbaik Prodi Magister (S2) Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, pada wisuda Maret 2018. Ia meraih IPK sempurna, yakni 4,00.

Ia mengangkat topik tesisnya: Identifikasi Bakteri Escherichia Coli Penghasil Extended Spectrum β-Lactamse pada Daging Sapi yang Dijual di Pasar Basah Menggunakan Metode Vitek-2”. Judul itu dipilih karena merupakan salah satu fokus pengembangan ilmu di dunia saat ini.

“Masalah resistansi bakteri terhadap antibiotik telah menjadi permasalahan dunia. Dan, World Health Organization (WHO) sudah menuliskannya di World Health Agenda yang merupakan penetapan visi sepuluh tahun masa depan kesehatan sebagai ancaman kesehatan di dunia,” Jelas Risi.

Salah satu bakteri yang resistan terhadap antibiotik adalah E. Coli yang menghasilkan enzim Extended Spectrum β-Lactamse (ESBL). Enzim dari bakteri gram negatif itu mengakibatkan hampir semua antibiotik jenis β-Lactam seperti Penicillin, Cepalosporin, dan Monobactam Aztreonam tidak mempan. Sementara itu, penelitian Risi berfokus pada E. Coli di daging sapi konsumsi masyarakat.

“Masyarakat yang mengonsumsi daging sapi tercemar E. Coli, terutama yang dapat menghasilkan ESBL, bisa terkena penyakit yang sulit dan lama diobati. Ini bisa menimbulkan komplikasi, bahkan kematian,” terang Risi.

Sampel daging dari lima pasar itu kemudian diisolasi dengan media selektif serta uji biokimiawi. Selanjutnya, resistansi sampel diuji dengan metode disk diffusion dari enam jenis antibiotik, yakni Ampicillin, Cefazolin, Ceftriaxone, Cefotaxime, Ceftazidime, dan Tetracyclin. Jika terdapat resistansi, tahapnya dilanjutkan dengan identifikasi jenis bakteri melalui metode Vitek-2 System. Melewati proses-proses tersebut, Risi bukan tanpa tantangan.

“Biaya yang dikeluarkan tidak kecil. Selain itu proses mendapatkan sampel daging sapi. Jarak pasarnya jauh. Serta, waktu pengambilannya harus sekitar subuh supaya daging masih segar,” katanya.

Risi yang bekerja di Balai Pertanian itu berharap tesisnya mampu menyediakan data sumber penularan bakteri ESBL yang dibutuhkan WHO. Khususnya dari daging sapi, sehingga mampu berkontribusi untuk negeri dan masyarakat. (*)

Penulis : Hilmi Putera Pradana.

Editor : Feri Fenoria.

 




Termotivasi Ortu, Kiki Amalia Rama Sukses Lulus Terbaik FKH UNAIR

UNAIR NEWS – Kiki Amalia Rama terpilih menjadi wisudawan terbaik S1 Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, pada wisuda periode Maret. Ia meraih IPK 3,72. Mahasiswa dengan skripsi berjudul ”Investasi Kutu pada Itik di Desa Kramat, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan” itu merupakan anak terakhir diantara tiga bersaudara.

“Dulu sebelum daftar SNMPTN, aku mencari jurusan yang prospek kerjanya tinggi. Alhamdulillah kemudian ketemu jurusanku yang sekarang. Dan, setelah ngobrol dan berkonsultasi dengan bapak, beliau juga setuju,” tutur Kiki kepada Warta Unair.

Saat menjalani kuliah, Kiki tertarik mengikuti kelompok minat di FKH. Dia mengaku ikut Kelompok Minat Profesi Veteriner Pet and Wild Animal (KMPV PW) serta Kelompok Minat Profesi Veteriner Ternak Besar (KMPV TB).

“Aku ikut KMPV PW karena bercita-cita punya klinik hewan sendiri yang kebanyakan hewan klinik itu rata-rata hewan kecil. Untuk KMPV TB, aku ikuti saran bapak, mendalami ternak besar seperti sapi,” jelasnya.

Perempuan asal Desa Lundang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, itu mengungkapkan bahwa jauhnya kampung halaman dengan tempat ia menuntut ilmu tidak menyurutkan motivasinya untuk belajar. Motivasi terus hadir berkat sosok orang tua yang mendorong selalu tetap maju. Termasuk selalu mewarnai setiap keputusan hidup Kiki.

“Yang selalu memotivasiku saat belajar adalah aku selalu ingat kalau aku harus membanggakan orang tuaku,” ujarnya.

Membanggakan orang tua merupakan sesuatu yang ingin dicapainya. Sebab, sewaktu SMP, ketika dulu pindah sekolah kali pertama dan ikut ulangan harian matematika, hasilnya tidak terlalu bagus.

“Nilainya bener-bener bikin down dan takut orang tuaku kecewa, juga sedih. Sejak itu aku berjanji harus banggain mereka dengan belajar dan dapat nilai bagus. Alhamdulillah keyakinan itu sampai sekarang masih aku pegang,” tutur kiki.

Kesibukannya saat ini mempersiapkan diri untuk pendidikan profesi dokter hewan (PPDH) atau co-assistant setelah wisuda. Rencananya, dia mendaftar perwira karir dan sekolah lagi di luar negeri. (*)

Penulis : Hilmi Putra Perdana

Editor : Feri Fenoria.