Mahasiswa Thailand Berkisah tentang Puasa di Indonesia

UNAIR NEWS – Sebagai seorang muslim, puasa di bulan Ramadan merupakan sebuah kewajiban. Selain menjadi kewajiban yang datang di setiap tahunnya, momen Ramadan nyatanya mampu meninggalkan jejak kisah.

Kali ini, UNAIR NEWS berhasil menggali sedikit kisah dari salah satu mahasiswa program Academic Mobility Exchange for Undergraduate at Airlangga (AMERTA). Mahasiswa Universitas Chulalongkorn, Amin Muhammad Musa, berkisah mengenai pengalaman perdana menjalankan ibadah puasa Ramadan di Indonesia.

Berada di negara yang masih satu kawasan di ASEAN, bagi mahasiswa yang akrab disapa Amin, perbedaan puasa memang tidak begitu mencolok.

“Bedanya tidak begitu mencolok karena di tempat saya juga ada tarawih berjamaah, buka bersama, hanya saja di sini waktunya lebih awal,” terang Amin. “Kalau di sana, kami baru baru buka puasa itu pukul 18.40,” imbuh Amin.

Perihal makanan, Amin juga berkisah bahwa menyantap hidangan di Indonesia tidak begitu menjadi beban. Selain tidak berbeda dengan Thailand, pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadan, Amin memilih memasak di kos bersama teman-temannya untuk santap buka puasa dan sahur.

“Ini memang pertama kali saya puasa di Indonesia. Untuk makanan memang tidak ada beban, karena tidak begitu jauh dengan yang ada di negara kami. Selama puasa ini saya juga sering masak dengan teman saya di kos,” jelasnya.

Mengenai hal-hal yang dirindukan, Amin mengaku menikmati puasa dengan keluarga adalah hal yang kini tidak bisa dirasakan. Meski demikian Amin mengaku bersyukur, selama berpuasa di Indonesia, ia bisa lebih maksimal dalam melakukan ibadah membaca Alquran.

“Ramadan kali ini, syukur Alhamdulillah bisa membaca Alquran lebih rutin, dibanding tahun kemarin yang terlalu sibuk dengan urusan kuliah,” kenang Amin.

Untuk mengisi hari-hari Ramadan selanjutnya, Amin mengaku berencana bakal berkunjung ke beberapa masjid di Surabaya untuk menikmati suasan berbuka dan tarawih bersama.

“Ini kan masih 10 hari pertama puasa, jadi belum bisa menelusuri beberapa masjid di Surabaya, nanti Insya Allah tidak menutup kemungkinan bakal ke masjid-masjid di Surabaya untuk tarawih atau pun buka puasa,” jelasnya. “Untuk rakaat tarawih hampir sama lah, ada yang 20 dan 8,” imbuh Amin.

Ditanya mengenai makna Ramadan di akhir wawancara, mahasiswa asal Patani, Thailand selatan tersebut mengatakan, Ramadan itu adalah kesetaraan. Pasalnya, bagi Amin, saat Ramadan datang orang kaya dan miskin semua bisa membaur, baik saat berbuka puasa atau menjalankan ibadah yang lainnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Defrina Sukma S




Obsesi Calon Dokter Menjadi Seorang Barista

UNAIR NEWS – Mayoritas orang berfikiran jika kopi hitam identik dengan rasa yang pahit. Agar tetap bisa dinikmati, gula seringkali dicampurkan untuk menetralisir rasa. Namun dunia kopi tidak melulu soal manis dan pahit. Semua tergantung dari keterampilan meracik dan selektif dalam memilih biji kopi.

Di tangan Adantio Rashid Santoso, secangkir kopi hitam ternyata dapat dinikmati tanpa harus menambahkan gula di dalamnya. Kemampuan meracik kopi ini perlahan ia kuasai usai mengikuti sebuah course di Jakarta tahun lalu.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAIR ini tidak hanya bercita-cita menjadi seorang dokter saja. Pria berusia 23 tahun ini ternyata juga terobsesi ingin menjadi seorang barista. Meskipun berseberangan dengan dunia dokter yang digelutinya saat ini, namun sebagai seorang ‘coffee lover’, Adantio membulatkan tekadnya untuk berbisnis kopi.

Mulanya, Adantio berfikir bagaimana caranya agar bisa menghasilkan pendapatan dari hobinya tersebut. Setelah sebulan mengikuti sebuah kursus di Jakarta, Tio sapaan karibnya, memberanikan diri mengawali sebuah bisnis. Bersama Muhammad Nanda Firdaus, keduanya menjajal peruntungan dengan membuka sebuah kedai kopi yang berlokasi di Café Museum Pendidikan Dokter FK UNAIR.

“Tadinya mikir, jadi dokter masih lama. Akhirnya, saya coba nyambi jualan kopi buat nambah-nambah pemasukan. Karena saya kepingin sekali mandiri. Pinginnya nanti waktu daftar dokter spesialis pakai uang sendiri. Nikah juga pakai uang sendiri. Tidak ingin lagi membebani orang tua,” ungkapnya.

Awal menjalani bisnis kedai kopi, Tio hanya bermodal alat penggiling kopi manual. Berulangkali ia mencoba bereksperimen meracik kopi untuk dikonsumsi sendiri. Sampai akhirnya ia menjual kopi buatannya kepada teman satu kos. Produk kopi pertama yang ia jual yaitu cold brew coffee atau kopi hitam yang digiling lalu direndam dalam air dingin semalaman dalam kemasan botol.

“Saya coba tawarkan ke teman-teman sesama pecinta kopi. Untuk pengenalan, saya bagi-bagikan kopi secara gratis. Itung-itung promosi sekalian menampung ide dan masukan juga dari teman-teman,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Tio kemudian mendapat tawaran dari Nanda yang kala itu menjabat sebagai Ketua Bursa Aesculap FK UNAIR untuk membuka stand kopi di Student Center yang tak lain adalah ‘base camp’ tempat mahasiswa kedokteran biasa berkumpul.

Dalam waktu yang cukup singkat, cold brew coffee buatannya pun mulai populer di kalangan mahasiswa. Meskipun pada saat itu produk kopinya belum punya nama, namun Tio gencar memperkenalkan produk kopinya dengan mengikuti berbagai acara pop up market yang biasa diselenggarakan di mal-mal maupun di fakultas lain.

Sebulan kemudian, tawaran untuk join bisnis datang dari pengelola Museum Cafe FK UNAIR. Tak ingin menyia-nyiakan peluang, keduanya menerima tawaran untuk membuka kedai kopi di cafe yang diresmikan pada 21 Agustus 2016 lalu.

Bersama dukungan Pengurus Satuan Usaha Akademik (SUA) FK UNAIR, Tio dan Nanda berkomitmen mengembangkan Café Museum itu bersama-sama, dan menamai kedainya dengan nama ‘Caffeink’.

“Supaya cafenya makin rame, jadi setelah mengunjungi museum pendidikan dokter, para tamu bisa menikmati kopi sambil duduk dan ngobrol santai,” ungkapnya.

Dari hasil penjualan serta keuletan mengelola uang modal, Tio perlahan mulai membeli beberapa peralatan baru, mulai dari peralatan manual hingga elektrik. Tak tanggung-tanggung, ia membeli peralatan dari yang seharga 250 ribu rupiah hingga 30 juta rupiah. Hal itu ia lakukan demi perkembangan produk kopi miliknya.

“Kami ingin menyajikan berbagai variasi kopi. Tidak melulu manual brewing saja, tapi juga espresso, dan lain sebagainya. Kalau pakai manual terus capek. Makanya kami beli alatnya yang elektrik. Sehingga lebih efektif dan efisien waktu,” ungkapnya.

Selain didukung dengan peralatan yang mumpuni, pemilihan biji kopi juga amat mempengaruhi kualitas dari rasa kopi yang disajikan. Dalam penyajiannya, Tio memakai biji kopi Arabica, tanpa menggunakan biji kopi robusta sedikitpun.

“Kami ingin memperkenalkan ke khalayak luas bahwa nggak selamanya kopi itu pahit. Kopi hitam bisa kami sajikan tanpa gula dan tanpa meninggalkan rasa pahit di lidah. Ini karena kami selektif dalam memilih biji kopi. Roasting profilnya tidak pakai yang dark atau gosong, karena kita nggak ingin kopinya pahit,” jelasnya.

Caffeink dan Koas

Meskipun memilih serius menggeluti usaha kopi, bukan berarti Tio melupakan cita-citanya menjadi seorang dokter. Caffeink dan pendidikan dokternya saat ini adalah dua prioritas utama di kehidupan pria kelahiran Arizona, Amerika Serikat ini.

Saat ini, Tio baru saja menyelesaikan pendidikan koas (co-assistant) sebagai dokter muda. Kini ia juga sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang akan berlangsung pada bulan September mendatang.

Karena sudah konsisten membuka kedai kopi setiap hari Senin sampai Jumat pukul 13.00-17.00 WIB, maka itu menjadi tantangan tersendiri baginya untuk pandai-pandai membagi waktu ntara kuliah dan jaga kedai.

“Abis jaga di rumah sakit, setelah itu jaga warung sampai sore. Disela-sela itu juga disambi belajar,” ungkapnya.

Selangkah lagi, Tio akan mengantongi gelar dokter. Setelah lulus, ia berencana melanjutkan pendidikan dokter spesialis dan mengembangkan sebuah penelitian yang menggabungkan antara efek cafein dari kopi terhadap kesehatan.

“Di sebuah jurnal kesehatan disebutkan, konsumsi kopi tanpa pemanis ternyata lebih sehat dibanding minum kopi pakai gula. Ini pula yang menginspirasi Caffeink untuk bisa menyajikan kopi tanpa gula dan tanpa rasa pahit,” ungkapnya.

Berdasarkan studi dan pengalaman yang ia dapatkan, ada keterkaitan antara efek kafein dari biji kopi terhadap peningkatan kualitas olahraga seorang atlet.

“Dalam penelitian ini saya coba kerja sama juga dengan mahasiswa S-1 maupun mahasiswa S-2 dari Ilmu Kesehatan Olahraga FK UNAIR,” ungkapnya.

Menurut Tio, kesibukan yang ia jalani saat ini sebenarnya saling berkaitan. Di satu sisi, Tio dapat mengeksplor lebih banyak dunia kopi melalui bisnisnya. Namun di lain sisi, ia sekaligus dapat meneliti dampak positif dari kafein untuk kesehatan.

Dalam berwirausaha, selalu ada mimpi dan target pencapaian. Begitupula dengan bisnis kedai kopi milik Tio. Ia dan Nanda berencana mengembangkan usaha dengan membuka cabang Caffeink di RSUD Dr. Soetomo dan RS UNAIR.

“Dokter mana sih yang nggak butuh ngopi? Kalau dokter sedang jaga tengah malam misalnya, pasti yang dicari kopi. Semoga mimpi kami dapat terwujud,” ungkapnya. (*)

Penulis: Sefya Hayu

Editor: Binti Q. Masruroh




Novita, Putri Tukul Arwana Ingin Belajar tentang Masyarakat di UNAIR

UNAIR NEWS – Berbekal nama besar sang ayah yang menjadi tokoh publik, mestinya bisa membuat Novita Eka Afriana memiliki kesempatan yang besar untuk melenggang ke industri hiburan. Namun tidak bagi putri sulung Tukul Riyanto atau yang lebih dikenal dengan nama Tukul Arwana ini.

Vita, sapaan karib Novita Eka Afriana, berhasil diterima melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), di Universitas Airlangga. Vita mengambil program studi S-1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Gadis yang baru merayakan ulang tahun ke-17 ini mengaku, tidak ada campur tangan ayah dalam proses pendaftarannya di UNAIR. Ia berhasil diterima melalui jalur SNMPTN dengan nilai rata-rata rapor yang ia raih selama belajar di bangku SMA.

“Enggak ada campur tangan ayah. Mereka semua (keluarga, -red) support, sih. Walau sebenarnya mereka mau aku di Jakarta,” ujar Vita berkisah tentang dukungan keluarga terhadap studinya.

Nampaknya, keinginan Vita untuk melanjutkan studi dan memperluas jejaring pertemanan begitu besar. Ia akhirnya memilih UNAIR sebagai tempat untuk melanjutkan studi.

“Aku bilang ke keluarga kalau ini kesempatan yang bagus untuk aku punya pengalaman dan mencari pertemanan yang luas bukan hanya di Jakarta,” tambah lulusan SMAN 6 Jakarta.

Dalam memilih jalan hidup, Tukul nampaknya membebaskan keinginan putri sulungnya itu. Ia memberikan fasilitas yang dibutuhkan putrinya dalam hal belajar serta pengembangan diri.

“Ayah dukung aku untuk selalu belajar. Jadi aku ikut les bimbel (bimbingan belajar) di luar, dan dia dukung banget aku ambil Sosiologi. Katanya, dengan studi di Sosiologi, aku bisa belajar tentang masyarakat dan kebudayaan secara luas,” papar gadis yang memiliki hobi travelling (berwisata) dan boxing (tinju) ini.

Meskipun mengantongi nama Tukul yang populer di industri hiburan, Vita mengaku saat ini belum memiliki keinginan untuk mengikuti jejak sang ayah. Ia tertarik untuk tekun belajar melalui program studi Sosiologi.

“Aku nggak begitu tertarik sih untuk terjun ke dunia entertainment. Aku pengin beda sama ayah. Mungkin suatu saat nanti mungkin saja,” ujar perempuan kelahiran 21 Agustus 1999.

Saat ini, sambil menunggu jalannya perkuliahan, Vita masih menghabiskan waktu di Jakarta. Ia juga tertarik untuk memperdalam kemampuan Bahasa Inggris dengan mengikuti kursus. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Shafa Prasita, Mahasiswa Baru FKG UNAIR Berusia 15 Tahun

UNAIR NEWS – Shafa Prasita, calon mahasiswa baru (camaba) yang diterima di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga merupakan salah satu camaba termuda UNAIR yang diterima melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Ia dinyatakan diterima di FKG UNAIR pada usia 15 tahun.

Shafa, sapaan akrabnya, telah mengikuti percepatan belajar (program akselerasi) sejak duduk di bangku SMP. Akunya, ia cukup mengalami kesulitan waktu SMP. Namun demikian, ia mampu lulus percepatan belajar dengan prestasi yang patut diacungi jempol.

“Dari SMP sudah mengikuti program akselerasi. Kesulitan sih enggak terlalu. Paling ya waktu SMP itu. Karena program akselerasi waktu aku SMP baru dibuka pertama kali,” kenang alumnus SMPN I Sedati itu.

Uniknya, di waktu senggang, meski terhitung memiliki prestasi bidang akademik yang unggul, gadis kelahiran 21 Mei 2001 ini memiliki hobi membaca novel. Hobi ini bermula ketika kedua orangtuanya gemar membelikannya buku bacaan ketika Shafa kecil.

“Pada saat saya kecil, saya sering dibelikan buku cerita Kecil Kecil Punya Karya. Mulai dari situ saya senang sekali dengan membaca,” kenangnya.

Ada beberapa novel favorit Shafa, mulai bertema komedi hingga romantis. Tere Liye adalah penulis favoritnya.

“Apapun buku karya Tere Liye paling suka sampai sekarang. Apalagi yang judulnya Hujan. Kalau nganggur, ya, baca buku,” ucap gadis yang sempat mengikuti ektrakurikuler paduan suara ketika sekolah.

Kepada UNAIR News Shafa mengaku, kedua orangtua sangat mendukung segala cita-citanya. Salah satu dukungan itu, selain doa, adalah upaya menyediaan segala fasilitas dalam hal belajar.

“Orangtua sangat mendukung. Disediain apapun yang dimau untuk fasilitas belajar. Didorong untuk terus belajar dan tidak kalah dengan yang lain. Awalnya pengin masuk Fakultas Kedokteran (FK). Tapi masuk FKG. Ortu terserah maunya kemana,” pungkas putri dari pasangan Nanang Prasetiyono dan Zafnita ini.

“Karena sudah niat dari awal, jadi bikin jadwal. Tahu kapan kita belajar, dan tau kapan kita pergi untuk main dan berkumpul bersama keluarga. Percaya deh, hasil tidak akan mengkhianati usaha,” pungkasnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Zamzam Multazam, Mahasiswa Termuda Jalur SNMPTN Berusia 15 Tahun

UNAIR NEWS – Chaq El Chaq Zamzam Multazam, mahasiswa baru termuda Universitas Airlangga ini baru saja menyelesaikan proses administrasi registrasi ulang, Kamis (18/9). Ditemani kedua orang tuanya, ia berkisah tentang perjalanan menimba ilmu dan cita-citanya.

Zamzam, sapaan akrabnya, yang baru berusia 15 tahun berhasil diterima di Program Studi S-1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran, melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

Sejak kecil, Zamzam yang memiliki dua saudara kandung sudah menorehkan banyak prestasi. Di bangku taman kanak-kanak, ia pernah menjuarai lomba bercerita tentang pengalaman pribadi. Di tingkat sekolah dasar, Zamzam berhasil mewakili negara Indonesia pada olimpiade matematika yang saat itu berlangsung di Filiphina.

Saat menginjak kelas X sekolah menengah atas, ia mengikuti ekstrakurikuler karya ilmiah remaja. Hasil karya ilmiahnya diapresiasi oleh Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia karena dianggap memiliki gagasan terunik mengenai penyakit tuberculosis (TB).

“Saat itu saya sering konsultasi dengan bapak. TBC merupakan penyakit menular tiap tahun bertambah terus. Dari kesukaan saya terhadap pelajaran Matematika, saya berusaha menjawab permasalahan itu,” tutur Zamzam.

Mahasiswa baru itu menciptakan rumus pemodelan matematika untuk mengkalkulasi jumlah penderita penyakit TB di Lamongan. Dengan pemodelan tersebut, pemangku kebijakan bisa memonitor jumlah penderita, angka kesembuhan, dan sebagainya.

“Nantinya bisa diambil langkah preventif sehingga tren penderita TB ini akan menurun dan bisa mendekati nol,” ucap pelajar lulusan SMAN 2 Lamongan.

Berbagai raihan prestasi yang diraih Zamzam tak lepas dari peran orang tua. “Peran orang tua sangat besar. Ibu membacakan Surat Yasin saat saya mengikuti tes seleksi. Apa yang saya capai tidak lepas dari doa kedua orang tua saya,” terang remaja kelahiran 2 Oktober 2001.

Ayah Zamzam, Suadi Rachman, menambahkan bahwa belajar dan berdoa adalah satu kunci dalam meraih sesuatu. “Tidak boleh takut dan tidak boleh malu jadi orang desa. Selalu percaya diri dan menjaga semangat,” pesan Suadi kepada anaknya.

Zamzam ingin agar cita-citanya menjadi seorang dokter bisa tercapai. Keinginan untuk bisa membantu sesama yang membutuhkan menjadi landasan dirinya dalam memilih prodi pendidikan dokter.

“Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang banyak. Itu akan jauh lebih baik,” ucap Zamzam yang juga peraih nilai ujian nasional tertinggi di Kabupaten Lamongan 2017.

“Pencapaian tertinggi tidak akan ada, karena pasti akan ada yang lebih tinggi. Untuk itulah, kita tidak boleh cepat merasa puas,” pungkasnya.

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Defrina Sukma S




Pakar Akuntansi Publik Berpulang

UNAIR NEWS – Suasana duka mengiringi kepergian akademisi sekaligus praktisi akuntansi, Drs. Ec. Edi Subyakto, Ak., M.Si. Salah satu dosen senior Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga tersebut berpulang pada usia ke-69 tahun.

Almarhum yang dikenal ramah dan cerdas ini meninggal pada usia ke-69  tahun. Edi, sapaan akrabnya, meninggal dunia pada Senin (15/5) sekitar pukul 23.55 di Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru.

Saat dijenguk kolega dosen Departemen Akuntansi beberapa hari sebelumnya, kondisi almarhum sudah dibius untuk mengurangi rasa sakit. “Pada hari Minggu, saya menjenguk almarhum. Kondisinya sudah dibius dan tidak menyangka almarhum akan berpulang secepat ini,” kata Drs. Agus Widodo Mardijuwono, M.Si., Ak.

Agus mengaku kehilangan sosok teman terbaiknya. Baginya, almarhum adalah teman yang baik, bersahabat, senang menolong, dan tidak pernah marah. Karakter khas mendiang yang mudah berbagi sudah ditanamkan sejak dulu, bahkan sejak masih menjadi mahasiswa.

“Sejak kami masih kuliah, kami bersama-sama mengajarkan dan menularkan ilmu kepada adik-adik tingkat yang membutuhkan,” tutur Agus yang juga Ketua Departemen Akuntansi.

Semasa hidup, almarhum dikenal sabar dalam membimbing mahasiswa-mahasiswanya. Sekitar tahun 1980, almarhum bersama Agus aktif menjadi tentor. Meskipun harus datang ke rumah-rumah dengan mengendarai motor, semangat yang tinggi untuk menyebarkan ilmu pengetahuan tidak menyurutkan niat almarhum untuk mencerdaskan bangsa.

Setelah lulus dari UNAIR dan menjadi dosen, almarhum tidak berhenti untuk mengembangkan potensi diri sebagai seorang akuntan, yaitu dengan menjadi praktisi sebagai akuntan publik. Ikhwal tersebut membuat almarhum dikenal sebagai akuntan yang luar biasa.

“Sebagaimana seorang dokter, seorang akuntan akan terasa manfaatnya ketika dapat menjadi praktisi di lapangan,” jelas Agus.

Dalam karirnya, Edy menjadi pengajar mata kuliah audit dan akuntansi keuangan sekaligus praktisi. Almarhum juga pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi D-3 Akuntansi dan Ketua Pusat Pengembangan Akuntansi FEB UNAIR. Di sisi lain, almarhum dikenal sosok ayah tauladan. Almarhum meninggalkan enam putra dan putri yang sebagian besar sudah sukses meniti karirnya.

Almarhum kini telah berpulang. Keluarga, sahabat, kolega, dan mahasiswa-mahasiswa terpaku kelu mendengar salah satu putra bangsa mendadak dipanggil-Nya pulang.

Selamat jalan Drs. Ec. Edi Subyakto, Ak. Msi, pahala untukmu akan terus mengalir lewat ilmu dan mahasiswa yang senantiasa berguna bagi nusa dan bangsa.

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S




Prof. Coen, Guru Besar FKG yang Kaya Penelitian dan Prestasi

UNAIR NEWS – Prof. R.M Coen Pramono menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga, pada tahun 1978. Pada tahun 1984, Prof. Coen menuntaskan pendidikan magister kesehatan gigi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pendidikan spesialis bedah mulut dan maksilofasial juga ia tuntaskan di UGM.

Dia yang kini menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut UNAIR itu memiliki sejumlah penelitian yang terpublikasi pada jurnal internasional bereputasi dan puluhan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal nasional bereputasi.

Penelitian yang telah terpublikasikan secara internasional antara lain, “Mandibular reconstruction using non-vascularized autogenous bone graft applied in decorticated cortical bone” pada tahun 2011, “The Osteogenic Capacity of Human Amniotic Membrane Mesenchymal Stem Cell (Hamsc) and Potential for Application in Maxillofacial Bone Regeneration in Vitro Study” pada tahun 2014, dan “Healing Mechanism and Osteogenic Capacity of Bovine Bone Mineral – Human Amniotic Mesenchymal Stem Cell and Autogenous Bone Graft in Critical Size Mandibular Defect” pada tahun 2015.

Sedangkan, penelitian yang terpublikasi pada jurnal nasional bereputasi antara lain “Cytotoxicity difference  of 316L stainless steel and titanium reconstruction plate” pada tahun 2011, “Effect of soybean extract after tooth extraction on osteoblast numbers” pada tahun 2011, dan “Degrees of chitosan deacetylation from white shrimp shell waste as dental biomaterials” pada tahun 2012.

Prof. Coen memiliki dua paten alat operasi rahang. Yaitu, plat rekonstruksi rahang yang pemotongannya tanpa melibatkan sendi mandibula, dan plat rekonstruksi rahang yang pemotongannya melibatkan sendi mandibula.

Guru Besar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG itu sudah menerbitkan empat buku yaitu “Kista Odontogen dan Non Odontogen” pada tahun 2006, “Odontektomi dengan Metode Split Technique” pada tahun 2006, “Penuntun Praktik Kerja Profesi Dokter Gigi” pada tahun 2014, dan “Penuntun Kepaniteraan Klinik Pendidikan Profesi” pada tahun 2015. (*)

Editor: Nuri Hermawan

 




Dokter Lukman Hakim dan Semangat Mengembangkan Teknologi “Stem Cell”

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) tidak pernah miskin inovasi. Para peneliti dari kampus ini pun terus bermunculan. Regenerasi berjalan dengan baik dan melahirkan peneliti yang berkompetensi. Salah satunya, dokter Lukman Hakim, MD, MHA, Ph.D (Urol).

Dosen dan peneliti di bidang stem cell ini telah banyak berkiprah di level global. Selain pernah mengenyam pendidikan maupun pelatihan di luar negeri, tak sedikit karya ilmiahnya yang menghiasi jurnal internasional. Tak hanya itu, pria yang aktif di sejumlah asosiasi tingtkat Asia Pasific ini juga tercatat sebagai reviewer di sejumlah jurnal. Baik terbitan Indonesia, maupun negara lain. Antara lain, di British Journal of Urology International (BJUI), Urologia Internasionalis Journal (Swiss), SQU Med Oman Journal (Oman), BMC Journal (Inggris), dan seterusnya.

Disinggung soal peranan stem cell bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia kedokteran dan kesehatan, Lukman menyatakan, metode dan teknologi ini tidak hanya buat pengobatan. Lebih dari itu, stem cell bisa dipakai untuk pencegahan. Misalnya, untuk mencegah terjadinya efek negatif yang menjalar dan lebih besar dalam fase pengobatan atau perawatan pasien.

Indonesia, dan UNAIR, memiliki sumber daya untuk terus mengembangkan stem cell. Fasilitas yang ada sudah mencukupi. Kalau pun ada yang belum komplit, akses untuk melengkapinya cenderung gampang. “Kalau sumber daya manusia, saya yakin sudah punya,” papar dia. Apalagi, permintaan terhadap teknologi ini juga selalu ada. Jumlah pasien yang membutuhkannya tak pernah habis.

Saat ini pemerintah Indonesia mendukung terbentuknya Komite Sel Punca Nasional. Sel punca, adalah nama lain dari stem cell. Komite Sel Punca Nasional telah membuat kebijakan bahwa Indonesia terbuka terhadap aplikasi stem cells sebagai bagian help tourism. Komite Sel Punca Nasional memberi kesempatan untuk pengaplikasian stem cells di klinik-klinik yang sudah mengantongi izin.

Stem cells memunyai karakter “magic”. Ia belum berdiferensiasi (undifferentiated), mampu memerbanyak diri sendiri (Self Renewal), dapat berdiferensiasi menjadi lebih dari satu jenis sel (Multipoten/Pluripoten). Karakteristik dan kemampuan itu membuatnya unggul. “Proses penyembuhan terjadi karena sel-sel normal membelah diri yang dikenal dengan istilah healing process. Proses penyembuhan ini dapat dipercepat oleh stem cells,” ujar Lukman. (*)

Editor: Nuri Hermawan

 




Gagas Metode Penentuan Jenis Kelamin Burung

UNAIR NEWS – Eduardus Bimo Aksono H. (Dr., M.Kes., drh.) adalah dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) yang selama ini menjadi peneliti di Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC). Dia bersama tim peneliti di TDDC, yang merupakan bagian dari Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR, tak pernah henti membuat terobosan yang aplikatif  di masyarakat. Mereka selalu menyerap persoalan di akar rumput dalam segala bidang, lantas menciptakan solusi kongkret.

Salah satu karya Bimo dan kawan-kawan adalah pencetusan metode untuk melihat jenis kelamin pada unggas monomorfik (hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologi). Setelah melakukan riset di rentang 2012-2014, TDDC sanggup memastikan, apakah seekor unggas berjenis betina atau jantan, hanya dengan mengamati sampel bulu.

Bimo menjelaskan, riset tersebut berawal dari diskusinya dengan seorang peternak burung Cucak Rawa asal Wisma Mukti Sukolilo bernama Gunawan. Waktu itu, Gunawan mengeluhkan soal sulitnya mengetahui jenis kelamin burung. Kendala itu berimbas pada kesukaran mengawinkan pasangan. Yang kemudian berimplikasi pada kerumitan dalam upaya pengembangbiakan. Problem ini, kata Gunawan, tidak hanya menjadi masalah dirinya sendiri. Namun juga, menjadi persoalan bagi seluruh peternak Cucak Rawa.

Dari hasil obrolan itu, kata Bimo, tim TDDC UNAIR bergerak untuk melakukan penelitian. Selain pengamatan lapangan, dibutuhkan pula pencarian sampel dari burung sebagai bahan untuk diamati di laboratorium. Awalnya, sempat terpikir untuk mengambil sampel DNA dari darah. Namun, burung Cucak Rawa rentan stress. Pengambilan darah bisa menyebabkan mereka tertekan bahkan tak mustahil lekas mati.

Akhirnya, diputuskan untuk mengambil sampel berupa bulu. Dengan pertimbangan, gampang didapatkan dan relatif tidak mengganggu burung. Karena, bisa diperoleh dari jatuhan bulu di sekitar burung. Yang terpenting, di ujung bulu terdapat Kalamus yang mengandung kromosom pembawa jenis kelamin.

Sampel itu kemudian dibawa ke laboratorium untuk diamati dengan metode PCR (kependekan dari istilah bahasa Inggris polymerase chain reaction), yang merupakan suatu teknik atau metode perbanyakan (replikasi) DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme. Dari sejumlah tahap pengamatan sampel kromosom yang dilakukan di TDDC bakal tampak jenis kelamin burung. Tak hanya Cucak Rawa, metode ini juga bisa melihat jenis kelamin pada unggas monomorfik (hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologi) lainnya.

“Dari bulu itu, kami akan melihat kromosom. Kalau kromosomnya heterozigot  berarti betina. Jika kromosomnya homozigot berarti jantan,” kata pria yang juga menjabat sebagai Sekretars Pusat Informasi dan Humas UNAIR tersebut.

Pengembangan teknologi yang diinisiasi oleh UNAIR itu sudah sukses menerobos banyak mitos. Selama ini, penentuan jenis kelamin Cucak Rawa sekadar mengacu pada kebiasaan. Misalnya, ada yang bilang kalau kepala burung besar, maka ia jantan. Atau, jika buntutnya pendek, ia betina. Perspektif itu nyaris seratus persen salah. Mungkin, kata Gunawan, yang paling mendekati benar hanya soal suara. Ada perbedaan suara antara burung jantan dan betina.

Persoalannya, suara itu hanya dapat dideteksi oleh orang yang sudah lama bergelut di bidang ini. Problem kembali bertambah karena suara tersebut hanya terdengar saat burung birahi. Yang jadi masalah, ada burung jantan yang suka ikut-ikut suara betina. Jadi, telaah melalui aspek suara ini cukup rumit.

Nah, ketidaksanggupan untuk menentukan jenis kelamin burung ini memiliki imbas turunan yang beragam. Mitos-mitos yang tak dapat dipertanggungjawabkan pun makin mengemuka. Contohnya, ada yang mengatakan kalau burung Cucak Rawa sulit diternak, gampang stress dan lain sebagainya.

Padahal, kunci sukses ternak Cucak Rawa itu adalah mengetahui jenis kelamin. Kalau sudah dapat jenis kelamin, akan lebih mudah menjodohkan. Keuntungan ekonomisnya jadi jelas dan bisa diukur. Nah, di luar sana banyak yang masih pakai pendekatan tebak-tebakan. Jadi, satu kandang itu bisa diisi burung-burung homo atau lesbi. Otomatis tidak bisa bertelur dan berkembang biak.

Bimo mengungkapkan, metode ini sudah terbukti bermanfaat di masyarakat. Dari segi ekonomi, sudah mampu menaikkan nilai jual burung. Dengan demikian, sumbangsih kongkretnya dapat dirasakan langsung bagi peternak atau penghobi burung. Tak hanya di Surabaya, hasil penelitian ini juga sudah dirasakan masyarakat di daerah lain. Misalnya, Blitar, Jakarta, Semarang, dan lain sebagainya. (*)

Editor: Nuri Hermawan

 




Diah Arimbi Ph.D, Konsisten Lakukan Perjuangan Gender Melalui Kajian Sastra

UNAIR NEWS – Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran perempuan begitu sentral. Sayangnya, sejarah tidak mencatat itu dengan apik. Lihatlah deretan nama pahlawan nasional. Dominasi laki-laki begitu kentara. Padahal, tidak mungkin mereka bisa mencapai cita-cita bangsa tanpa dukungan aktif dan totalitas Kaum Hawa.

Apa yang disampaikan di atas sekadar salah satu potret dari banyak gambaran lain tentang belum tercapainya kesetaraan gender di negeri ini. Mungkin, secara regulasi, gagasan ini telah diakomodasi. Namun, pada aplikasi di lapangan, perempuan masih termarginalkan.

“Saya pikir, perjuangan untuk equality and justice masih harus konsisten dijalankan. Melalui kajian sastra, saya ingin menjalankan gender jihad ini,” ungkap Diah Ariani Arimbi S.S., MA., Ph.D., dekan Fakultas Ilmu Budaya yang merupakan salah satu pakar kajian budaya dan sastra UNAIR.

Perjuangan perempuan melalui sastra bukanlah hal baru. Bahkan, langkah ini sudah teruji waktu dan tergolong efektif. Lihatlah RA Kartini yang menyuarakan aspirasinya melalui kata-kata. Bertolak dari fakta itulah, Diah yakin kalau “Gender Jihad” yang diserukannya bakal membuahkan hasil. Meski memang, butuh proses yang panjang.

Peraih gelar doktor dari University of New South Wales ini mengatakan, negara sekelas Amerika yang disebut-sebut mendewakan kesetaraan saja tampaknya belum bisa menerima pemimpin perempuan. Salah satu indikasinya, orang lebih banyak memilih Donald Trump daripada Hillary Clinton. Sedangkan bila ingin berkaca dari luar negeri, agaknya negeri-negeri Skandinavia bisa menjadi contoh kongkret aplikasi kesetaraan gender. Misalnya, di Swedia dan Finlandia.

“Di sana, cuti hamil dan melahirkan tidak hanya untuk perempuan. Tapi juga buat suami. Karena, peran menjaga bayi juga mesti dilakukan utuh oleh laki-laki,” terangnya.

Meskipun belum sepenuhnya tercapai, cita-cita kesetaraan gender di Indonesia relatif menunjukkan tren positif. Betapa tidak, di usianya yang masih 72 tahun, negara ini sudah pernah memiliki presiden perempuan. Pemilihan umum juga sudah melibatkan perempuan secara aktif dengan nilai suara yang sama dengan laki-laki (one man one vote). Sementara di beberapa negara Eropa, untuk mencapai kesamaan ini, butuh waktu yang jauh lebih panjang.

Tapi, “gender jihad” tetap mesti dikobarkan. Betapa tidak, masih ada banyak kekerasan rumah tangga yang korbannya mayoritas perempuan dan anak. Mereka termarginalkan dengan alasan-alasan kultural patriarkis. Yang dalam perjalanannya, justru lebih parah karena perempuan makin jadi korban kapitalisme atau jadi komoditas.

Dalam hal ini, sejumlah perspektif mesti dibenahi. Tidak hanya sudut pandang yang berasal dari laki-laki dan lingkungan. Perempuan sendiri mesti bisa melihat dirinya dengan adil dan tidak termakan mitos kultural. (*)

Editor: Nuri Hermawan