Dapat Dana Hibah Atas Aplikasi Komunikasi Anak dengan Autisme

UNAIR NEWS – Atas hasil pemikirannya yang diaplikasikan menjadi model belajar, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga mendapatkan dana hibah. Pendanaan yang diberikan oleh Australia Award’s Indonesia itu diberikan kepada Margaretha, S.Psi., P.G.Dip.Psych., M.Sc., atas proposal yang ia ajukan. Programnya, membuat aplikasi untuk membantu komunikasi anak autis.

Skema Hibah Alumni ini bertujuan mendukung alumni lulusan perguruan tinggi di Australia. Salah satu tujuan dari program yang digagas oleh Australia Award’s Indonesia ini adalah memperkuat hubungan antara Indonesia dan Australia.

Margaretha yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Global Networking and Communication Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR merupakan alumnus University of Newcastle, Australia. Dari skema dana hibah itu, Margaretha memperoleh pendanaan sebesar AUD 10.000 atau setara dengan 105 juta rupiah.

Sebagai salah satu tim konsultan pengembangan identifikasi dan intervensi dini anak autisme Jawa Timur yang pernah mengikuti pelatihan di Perth, Margaretha ingin menerapkan pengetahuannya dengan membantu 4 resourse center di Jawa Timur. Di sela prakteknya, Margaretha menemukan sesuatu yang dirasa dibutuhkan.

“Sambil saya dan teman-teman praktek melatih, ternyata ada kebutuhan. Kami biasanya mencetak terus melaminating alat bantu visual satu-satu. Tetapi karena semakin banyak, bukunya menjadi semakin tebal. Akan lebih praktis jika menggunakan aplikasi,” ujarnya.

Berangkat dari permasalahan itulah, Margaretha akhirnya membuat proyek dengan judul Pengembangan Program Media Komunikasi Visual Anak (MIKA) Sebagai Alat Bantu Belajar Komunikasi pada Anak Autisme dengan Autisme dan Anak dengan Daya Komunikaasi atau Cacat Komunikasi untuk diikutkan seleksi skema hibah alumni. Setelah melalui beberapa tahapan, akhirnya proyek tersebut dinilai layak untuk diberikan dana hibah.

“Alatnya itu seperti aplikasi, membuat software yang mana berisi visual atau gambar yang di bawahnya terdapat kata-kata. Sebagai alat bantu visual, aplikasi tersebut digunakan untuk menyampaikan infomasi. Hal itu diperlukan karena pendekatan atau  komunikasi visual itu lebih mudah dipahami oleh anak dengan autisme. Karena mereka cara berpikirnya visual,” papar Margaretha.

Orang normal yang berbicara tanpa visual, lanjut Margaretha, lebih sulit untuk dipahami oleh anak dengan autisme. Misalnya, ketika memberi instruksi makan. Pemanfaatan aplikasi buatan Margaretha dapat menghasilkan suara, gambar, dan tulisan yang akan lebih memudahkan anak dengan autisme.

“Nanti ini MIKA-nya level 1. Jadi lebih ke hal-hal yang dasar sampai ke komunkasi menjalin dialog. Bisa juga untuk menyusun kalimat,” ujarnya saat ditanya mengenai gambaran proyek aplikasi miliknya.

Melalui aplikasi ini, Margaretha berharap dapat menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya anak dengan autisme. Aplikasi ini nantinya dapat digunakan oleh anak-anak berkebutuhan khusus beserta keluarganya. Selain itu, dapat pula digunakan di pusat terapi atau pusat pendidikan.

“Saya berusaha agar alat ini benar-benar dapat dipakai. Bukan hanya berdasarkan teoritis tetapi juga praktis,” terang Margaretha. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




Paquita, Wakil 1 Ning Surabaya 2018: Cintai Surabaya, Rek!

UNAIR NEWS – Setelah sempat sekali mencoba maju dalam ajang Cak & Ning, akhirnya di tahun 2018 kerja keras Paquita terbayarkan. 11 Mei 2018 adalah hari bersejarah bagi dara ayu pemilik nama lengkap Paquita Maharani Leksono. Ia terpilih sebagai Wakil 1 Ning Surabaya 2018 sekaligus Ning Favorit 2018.

Di tengah kesibukan kuliah dan organisasi, mahasiswi semester 2 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) ini tetap dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dalam kesempatan wawancara, Paquita menjelaskan bahwa ia memiliki keinginan besar untuk dapat memajukan dan memberikan perubahan positif untuk Surabaya.

“Lewat kesempatan ini saya memiliki langkah ke depan untuk berkontribusi memajukan Kota Surabaya,” imbuhnya.

Paquita juga menjelaskan bahwa kompetisi pemilihan Cak & Ning Kota Surabaya adalah kompetisi yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya. Kompetisi yang berlangsung tiap tahun ini bertujuan mencari bibit muda yang tulus ingin mengabdi untuk Kota Surabaya. Ia mengatakan, pemilihan ini bukan sekadar ajang beauty pageant.

Cak & Ning yang telah terpilih akan mendapat kesempatan menjadi duta Kota Surabaya. Mereka akan banyak terlibat dalam beberapa kegiatan protokoler kenegaraan serta mengawal international guest yang berkunjung ke Surabaya.

Sebagai duta pariwisata, Cak & Ning memiliki andil besar dalam kegiatan Surabaya Shopping and Culinary Track. Sebagai representatif anak muda Surabaya, Cak & Ning juga mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang bertujuan untuk memajukan kehidupan warga Kota Surabaya.

Keberhasilan Paquita ini menambah deretan mahasiswa FKG UNAIR yang berprestasi. Selain brilian di kampus, beberapa mahasiswa juga berjaya di ajang beauty peagent. Di antaranya Naomi di ajang Miss Indonesia, Ratna Nurlia sebagai perwakilan Putri Indonesia, dan Putu Ferbika Mitamadela serta Wes Kaolini di kompetisi Cak & Ning. (*)

Penulis: Nadiyya Nurul Nuha

Editor: Binti Q. Masruroh




Setelah Myanmar, Irwanto Kembali Jadi Dokter Volunteer di India

UNAIR NEWS – Berniat ingin membantu meringankan penderitaan para bocah penderita bibir sumbing, Dr. Irwanto dr., Sp.A(K) kembali tergerak menjadi dokter volunteer di negeri orang. Irwanto kembali menerima tawaran Smile Asia Foundation untuk bergabung menjadi dokter volunteer. Bukan lagi di Myanmar, melainkan di India.

Kegiatan pengabdian masyarakat berupa operasi bibir sumbing gratis ini berlangsung tanggal 20-25 Mei 2018 di Mahendra Mohan Choudhury Hospital, Panbazar, Guwahati, India. Kegiatan sosial ini didukung sepenuhnya oleh Guwahati Comprehensive Cleft Care Centre Mission Smile yang khusus bergerak memberikan penanganan medis untuk anak-anak penderita bibir sumbing.

Irwanto menjadi satu-satunya tenaga medis dari Indonesia yang bergabung bersama puluhan tenaga medis lain dari sejumlah negara.

Tim dokter ini merupakan gabungan dari beberapa perawat, dokter bedah plastik, dokter anastesi dari USA, Jepang, Kamboja, Singapura, Malaysia, serta dua dokter anak dari India. Mereka bekerjasama menangani operasi 100 pasien anak bibir sumbing dalam waktu lima hari.

Berpuasa selama 15 jam tak menghalangi Irwanto untuk tetap semangat menjalani aktivitas sosial. Di sana ia bertugas melakukan skrining seluruh pasien mana saja yang layak dioperasi, sekaligus bertanggung jawab atas proses pengobatan pasca operasi.

Proses pemulihan pasien menjadi lebih mudah karena rumah sakit tempat berlangsungnya operasi bibir sumbing ini juga dilengkapi dengan fasilitas berupa terapi komprehensif. Mulai dari skrining sebelum operasi dan pasca operasi. Termasuk, pemberian nutrisi dan terapi wicara pasca operasi dalam satu gedung.

Volunteer di Myanmar dan Jepang

Ini bukan kali pertama Irwanto menjadi dokter volunteer. Tahun 2017, penerima penghargaan Global Travel Award by Bill and Melinda Gates 2015 ini pernah bergabung dalam kegiatan serupa di Myanmar.

Bersama tim medis dari sejumlah negara, ia melakukan skrining puluhan pasien anak bibir sumbing di Women and Children’s Special Hospital in Taunggyi, Shan State, Myanmar.

Irwanto juga pernah menjadi dokter volunteer di Jepang pada tahun 2013. Saat itu, pria kelahiran 27 Februari 1967 ini bekerjasama dengan Kobe University menggelar penyuluhan penanganan korban gempa untuk anak-anak disabilitas.

Baginya, kesempatan menjadi dokter volunteer memberinya banyak pengalaman berharga. Salah satunya bisa merasakan pengalaman membangun semangat dan kekompakan bersama tim dokter lintas negara selama menangani ratusan pasien dalam hitungan hari.

Kesempatan menjadi dokter volunteer di negeri orang juga menjadi pembuktian bahwa ternyata kompetensi dokter Indonesia diakui negara lain.

“Ini bukan hal mudah, karena harus memenuhi kualifikasi yang cukup ketat,” ungkap wisudawan terbaik UNAIR tahun 2013 ini.

Dalam kesempatan berikutnya, Irwanto bahkan tak menolak jika harus diajak bergabung kembali menjadi dokter volunteer. “Rencananya bisa ke Bangladesh, Mongolia, dan Bhutan. Tergantung kebutuhan,” ujarnya. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Melayani dengan Hati, Kunci Kekuatan Prof. Mieke Sang Srikandi DVI UNAIR

UNAIR NEWS – Dokter gigi seringkali diidentikkan dengan stereotip profesi medik yang “bermain” di wilayah clean, rapih, tertata, sophisticated, dan terkesan mahal. Di samping itu, hingga saat tulisan ini dibuat, dari sejumlah fakultas dan program studi kedokteran gigi yang tersebar di seluruh Indonesia, proporsi antara dokter gigi lulusan antara pria dan wanita masih didominasi oleh dokter gigi wanita. Sehingga pada literasi awam, seringkali muncul paradigma salah yang diungkapkan secara tidak langsung, stereotip tersebut dilekatkan kepada para dokter gigi wanita.

Prof., Dr. Mieke Sylvia Margaretha Amiatun Ruth, drg., MS., Sp.Ort(K), sang guru besar Odontologi Forensik (Forensic Dentistry) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga secara membanggakan membuktikan bahwa dokter gigi wanita Indonesia tidak seperti itu.

Prof. Mieke, panggilan akrabnya, adalah salah satu narasumber dan expert bidang forensik yang sudah banyak berkecimpung di bidang identifikasi jenazah korban bencana atau kasus kriminalitas bertahun-tahun lamanya.

Berkat kepiawaian, komitmen, dan rasa kemanusiaan tinggi yang ia miliki, banyak kasus dengan korban banyak yang membutuhkan analisis identifikasi forensik mendalam. Seperti kasus penerbangan jatuh, bencana alam, hingga kriminalitas teror seperti yang baru-baru ini melanda Kota Surabaya berhasil ia tangani dengan baik. Bahkan, lebih cepat dari yang sedianya diperkirakan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) gabungan.

Ditemui di sela-sela tugasnya dalam identifikasi korban dan pelaku bom gereja Kota Surabaya, Senin (14/5), Prof. Mieke menuturkan keprihatinannya sebagai warga Kota Surabaya.

“Saya pribadi merasa terkejut dan kecewa sebagai warga Surabaya saat mendengar ada peristiwa ini. Saya sudah sampai berpikir, ini pasti banyak korban tidak berdosa yang terkena imbas,” tuturnya dengan raut wajah sedih.

Profesor kedokteran gigi forensik  yang turut tercatat sebagai salah satu identifikator pada proses identifikasi jenasah korban Air Asia Q Z8501 Air Asia tahun 2015 lalu ini secara tegas menyampaikan, perasaan subjektif seorang manusia -khususnya dokter- tidak boleh sampai mengalahkan rasa kemanusiaan yang muncul saat ada bencana luar biasa. Sepertihalnya kasus bom di Kota Surabaya ini.

“Terus terang pada saat saya dengar ada korban berjatuhan, saya langsung mengkondisikan perasaan bahwa saya harus bantu negara dan para keluarga yang menunggu dengan cemas. Apakah ada anggota keluarga atau warga yang menjadi korban? Itu yang menguatkan saya,” papar Prof. Mieke.

Prof. Mieke yang tercatat sebagai salah satu anggota International Organization for Forensic Odonto-Stomatology (IOFOS) ini memiliki riwayat panjang dalam upayanya memasyarakatkan peranan pencatatan data ante-mortem (sebelum meninggal, Red). Upaya ini sebagai langkah partisipatif dan komitmennya membantu masyarakat.

Beberapa yang terkini seperti penyelenggaraan program pengabdian masyarakat di Kabupaten Probolinggo (2014) dan Kabupaten Pasuruan (2015) lalu dengan tema “Pelatihan Pengisian Personal Medical Record sebagai Upaya Pengumpulan Data Antemortem pada Aparat Desa dan Kader Kesehatan.

“Bayangkan jika semua warga memiliki catatan terkait kondisi gigi dan morfologi wajah dari keluarganya secara mandiri sejak dini, dituntun dan dipandu oleh dokter gigi setempat, maka bilamana kelak terjadi bencana yang tentunya tidak kita inginkan bersama, proses identifikasi keluarga akan lebih cepat dan mudah. Bukan karena tim DVI-nya saja, tapi partisipasi keluarga juga berperan,” ungkap Prof. Mieke.

Peristiwa bom di Kota Surabaya lalu menyisakan pesan kuat dari Prof. Mieke kepada para generasi muda dokter gigi di seluruh Indonesia.

“Peran dokter gigi itu luas. Salah satunya dalam membantu negara dan masyarakat di situasi yang tidak nyaman bagi semua orang, seperti tragedi ini (teror bom di Surabaya, Red). Entah yang kita identifikasi ini pelaku korban, rasakan di hati bahwa pada saat mereka masih hidup, pasti juga memiliki konflik batinnya masing-masing. Jangan bedakan antara korban atau pelaku pada saat kita bertugas,” pungkasnya. (*)

Penulis: Gilang Rasuna

Editor: Binti Q. Masruroh




Farid Rasyidi, Gigs Creator dari FH UNAIR

UNAIR NEWS – Gigs Creator merupakan istilah baru yang ditujukan kepada seorang penyedia  jasa untuk suatu  acara. Jika diperhatikan lebih dalam, sebenarnya gigs creator tak ubahnya seperti event organizer (EO). Hanya saja, ruang lingkup atau skala yang menjadi pembeda antar keduanya. Jika EO familiar dengan acara-acara besar, maka gigs creator lebih ke acara-acara yang lebih kecil.

Farid Rasyidi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga sedang serius menekuni profesi gigs creator ini. Mahasiswa semester 8 ini sudah sering mengadakan berbagai acara, mulai dari yang sifatnya komersil hingga yang volunteer.

Ilustrasi

Dalam waktu dekat, Farid akan menyelenggarakan sebuah acara dengan tujuan mewadahi para anak muda khususnya Jawa Timur yang memiliki passion di dunia industri kreatif. Acara yang diberi nama Beranda Kolektif ini terselenggara atas kerjasama dengan berbagai komunitas, content creator, serta pelaku industri.

“Beranda kolektif ini awal mulanya dari kegelisahan teman-teman sekitar seperti komunitas dan pelaku industri kreatif yang kurang mendapat perhatian dan wadah untuk mengembangkan potensi kegiatan mereka,” ungkap Farid.

“Nah, akhirnya muncul ide untuk membuat acara dengan bekerjasama dan berkolaborasi dengan komunitas, content creator, dan pelaku indrustri kreatif itu sendiri. Gunanya, untuk mewadahi mereka dan memajukan berbagai hal yang mereka dapat lakukan agar tidak kalah dengan daerah-daerah lain yang lebih besar dan lebih maju,” tutur mahasiswa agkatan 2014 itu.

Beranda Kolektif rencananya akan diselenggarakan pada Sabtu (12/5) mendatang di Omah Jaman Now, Jl. Bali No.24, Kota Surabaya. Dalam acara tersebut, akan ada berbagai kegiatan yang telah dipersiapkan. Seperti dekorasi dari komuitas Sudutkelas, workshop fotografi yang diisi oleh Wirasakti Setyawan, serta workshop drawing dan painting di atas media totebag dari komunitas Drawing Party Club.

“Sudah lama sih aku jadi gigs creator di event-event. Cuma biasanya kan sifatnya komersil. Sedangkan kali ini aku bikin gigs untuk memfasilitasi teman-teman. Ga ada biaya sedikit pun alias free. Untuk menyelenggarakan dulu pernah jadi volunteer gitu, tapi untuk sekarang ini event perdana yang aku create sendiri. Cuma tetep aku butuh tim,” ujarya.

Meski Beranda Kolektif baru pertama diselenggarakan, namun Farid mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan alan diadakan volume 2 jika memang respon dari masyarakat positif. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




Kalahkan UGM dan UNPAD, Raih Juara 1 Esai Bidikmisi Nasional

UNAIR NEWS – Mahasiswa S1 Universitas Airlangga Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok  meraih juara I dalam lomba esai nasional Kamakarya yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, 29 April 2018. Lomba ini diikuti oleh puluhan mahasiswa penerima bantuan biaya pendidikan Bidikmisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Melalui tema lomba tentang pentingnya kesadaran bisnis di era digital, Wahyu menulis esai dengan judul Geoekonomi Digital, Revolusi Industri 4.0, dan Masa Depan Mahasiswa.

Setelah melalui berbagai proses, Wahyu berhasil meraih juara 1, mengalahkan mahasiswa dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung, yang meraih juara III dengan mengangkat bisnis sadar digital, dan mahasiswa UGM yang meraih juara II dengan membahas sociopreneurship.

“Saya menyorot tentang kontribusi yang dapat disumbangkan oleh mahasiswa ketika revolusi industri 4.0, geoekonomi digital, dan bonus demografi. Soalnya memiliki urgensi yang lebih dan perlu untuk disampaikan,” terang Wahyu kepada UNAIR NEWS usai ditetapkan sebagai juara 1.

Tujuan utama diadakannya lomba itu, lanjut Wahyu, memberi ruang kepada mahasiswa Bidikmisi untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara melalui karya.

Melalui lomba itu, mahasiswa prodi Fisika ini mengaku mendapat pencerahan dari para pembicara dalam seminar yang diselenggarakan. Pembicara dalam seminar itu merupakan tokoh start up nasional.

“Saya semakin menyadari bahwa bangsa ini besar dan masih buta akan kebesarannya. Dan yang paling penting, dari even ini kembali saya membuktikan bahwa menulis tema-tema sosial tidak hanya milik orang-orang sosial. Karena orang sains-pun punya tanggung jawab akan hal itu,” pungkas Wahyu yang akhir Januari lalu meraih juara I karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPI) di Turki. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh




Pegang Pesan Orang Tua dan Terinspirasi “Melampaui Batas”

UNAIR NEWS – Berasal dari desa tak lantas membuat Andre Pupung Darmawan berhenti berjuang mengukir prestasi. Lelaki asal Dusun Pesenggrahan, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, itu merupakan mahasiswa jurusan Ekonomi Islam (Ekis), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga (UNAIR), angkatan 2017.

“Saya terinspirasi buku Melampaui Batas yang menceritakan tiga anak desa dari keluarga tidak mampu bisa kuliah di universitas favorit,” ujar laki-laki kelahiran Banjarnegara, 13 Agustus 1999, tersebut.

Andre memiliki minat yang cukup besar dalam bidang karya tulis ilmiah, esai, dan olahraga. Berbagai perlombaan, baik tingkat nasional maupun internasional, oleh perguruan tinggi sering diikutinya.

Pada semester I dan II saja, Andre berhasil meraih enam prestasi tingkat provinsi dan nasional. Yakni, juara I Essay Plasma Event 2017 di Politeknik Negeri Madiun (PNM); juara I Eureka Leader Fest 2018 di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED); juara I lomba Essay The Battle of Creatity BEM KM Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sriwijaya (UNSRI) 2018; harapan I dan II Esai Mahasiswa Tingkat Nasional MOTOGE 2018; dan Harapan III Karya Tulis Ilmiah Dinas Kehutanan Jawa Timur 2017.

“Saya berharap menjadi mawapres (Mahasiswa prestasi, Red), juara PIMNAS, dan mencapai 30 prestasi nasional,” ungkapnya.

Keaktifan Andre terjun dalam perlombaan bermula sejak duduk di bangku SMP. Yakni, dengan lomba cerpen. Termasuk karya tulis ilmiah. Soal capaiannya kini, Andre berpegang teguh dengan pesan orang tua dan kakaknya.

“Belajar yang benar. Kalau hasilnya jelek, belajarnya berati kurang benar,” tutur Andre mengulangi pesan orang tuanya.

“Tidak adanya jadwal (kuliah, Red), kalau bisa baca. On time walau yang lain tidak. Sesuai dengan jadwal yang ada. Selain itu, menarget bisa membuat satu karya dalam seminggu. Dikerjakan pada Sabtu atau Minggu,” imbuh Andre.

Perpustakaan, terutama ruang thesis dan skripsi, menjadi tempat favorit Andre. Bagi dia, selain nyaman, banyak referensi yang dapat dibaca untuk memperkaya wawasan, juga lomba karya ilmiah.

Andre menyampaikan, keterbatasan dalam bentuk apa pun hendaknya tak menghentikan langkah untuk berprestasi. Selain itu, berbagai kesempatan yang muncul mesti dimanfaatkan dengan baik.

“Jadilah orang yang cerdas. Sebab, orang cerdas bisa menyelesaikan masalah walau masalah itu belum pernah dihadapinya,” sebutnya. (*)

Penulis: Rolista Oktavia

Editor: Feri Fenoria




Dosen UMM Raditya Weka Nugraheni Lulus Terbaik S2 Fak Farmasi UNAIR

UNAIR NEWS – Usaha yang dilakukan Raditya Weka Nugraheni selama menempuh perkuliahan, mendapatkan hadiah yang spesial. Perempuan dengan panggilan Dita ini meraih gelar wisudawan terbaik program Magister (S2) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, pada wisuda periode Maret 2018. Ia meraih IPK 3,85.

Penyuka pelajaran kimia dan biologi ini pada topik penelitian tesisnya mengembangkan penelitian dosen pembimbingnya, Helmy Yusuf, M.Sc., Apt., Ph.D., yang kemudian disempurnakan lagi.

“Penelitian ini merancang formula prototype untuk sediaan vaksin kering. Hal itu karena sediaan obat dalam keadaan cair akan terdegradasi ketika terkena air dan rusak pada suhu tinggi,” paparnya.

Setelah menyelesaikan penelitiannya Dita ditarget untuk publikasi jurnal ilmiah internasional. Ini yang dirasa Dita sulit, karena belum terbiasanya menulis dalam bahasa Inggris, jadi banyak revisi. Selain itu, dalam publikasi penelitian itu harus punya novelty (kebaruan) dan data yang tervalidasi. Hasil usahanya terbayar terhitung 6 bulan sejak submission hingga publication.

“Saya rasa semua itu tantangan yang dialami bagi semua mahasiswa Pascasarjana. Alhamdulillah akhirnya naskah dapat dipublikasi di jurnal terindeks scopus berkat bantuan Pak Helmy Yusuf dan Pak Dr. Dwi Setyawan, Apt,” tambah Dita.

Dita kini sedang menjalani sebagai tenaga pengajar di Departemen Farmasetika, Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berharap, tesis dan jurnalnya yang telah terunggah ini dapat meningkatkan mutu produk, menekan biaya penyimpanan, dan memproduksi vaksin dapat ditekan.

“Prinsip yang saya pegang, ya belajar bukan hanya untuk berprestasi diri sendiri, tapi lebih dari itu belajar itu harus ada kemanfaatan yang dirasakan oleh orang banyak,” pungkasnya. (*)

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor : Nuri Hermawan




Kerja Keras Antarkan Airin Gondokusumo Lulus Terbaik S1 FH UNAIR

UNAIR NEWS Airin Gondokusumo, mahasiswa kelahiran 9 Februari 1996 itu patut berbangga lantaran dirinya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik program studi S1 Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga. Hal itu tak lepas dari jerih payahnya dalam kuliah tiga setengah tahun, dan meraih IPK hampir sempurna; 3,95.

Dalam skripsinya berjudul “Perbandingan Karakteristik Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi (Financial Technology Peer to Peer Lending) dengan Perbankan”, Airin mengulas karakteristik perbankan dengan Fintech P2PL. Kemudian dibandingkan untuk ditemukan persamaan dan perbedaan antar keduanya.

“Saya memilih judul itu karena Financial Technology Peer to Peer Lending (Fintech P2PL) merupakan salah satu produk finansial teknologi yang jarang dibahas, khususnya dari segi hukum, padahal di Indonesia Fintech P2PL sedang berkembang,” ujar Airin, saksi ahli terbaik pada kompetisi Internal Moot Court FH UNAIR (2015) ini.

Alumnus SMA Gloria 1 ini ternyata juga berprofesi sebagai guru kimia pada salah satu Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Surabaya. Meski kuliah jurusan hukum yang notabane ilmu social, namun Airin juga gemar mempelajari mata pelajaran kimia yang merupakan salah satu basic ilmu sains.

“Dulu saya murid dalam LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) tersebut, kemudian setelah lulus SMA saya ditawari menjadi guru les di LBB itu. Karena saya suka pelajaran kimia, saya terima tawaran itu. Pendapatan di les juga bisa menambah uang jajan, dan saya mulai jadi guru les dari semester 1 hingga sekarang,” tuturnya.

Selama perkuliahan, tidak jarang ia merasa jenuh dan lelah karena kegiatan yang tidak hanya belajar, tetapi juga mengajar. Namun hal itu dapat diatasi lantaran dirinya merasa bahwa hal itu menjadi persoalan yang lumrah.

Kini, Airin mencoba mencari informasi terkait jenjang S2 maupun informasi kerja. Kalau pun Airin ternyata diterima kerja terlebih dahulu dirinya tetap berkomitmen untuk tetap melanjutkan ke program Magister (S2) meski harus menunggu satu atau dua tahun kemudian. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan




Fokus Kuliah dan Berdoa, Ayune Rosfina Lulus Terbaik FST UNAIR

UNAIR NEWS – Mengakui tidak banyak kendala dalam menghadapi selama kuliah, Ayune Rosfiana, akhirnya berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik jenjang S1 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga. Ia berhasil meraih IPK 3,70.

Namun mengaku bukan sama sekali tanpa hambatan, misalnya sulit membagi waktu saat banyak tugas dari kampus, dan sulit beradaptasi waktu dengan lingkungan. Namun dengan niatan yang keras, Ayu dapat mengatasinya.

“Pada saat terjadi kendala, yang perlu dilakukan adalah mengingat lagi apa tujuan awal kami kuliah dan berapa banyak tenaga, waktu, biaya serta perjuangan yang sudah dikeluarkan untuk sampai pada saat ini, sehingga kita akan semangat lagi untuk menjalani aktivitas kuliah,” ungkapnya saat ditanya alasannya.

Aktivitas yang ditempuh Ayune selama kuliah cenderung berfokus pada aktivitas akademik.  “Ada beberapa kegiatan kepanitiaan dan seminar yang sering saya ikuti,” akunya.

Kefokusannya pada dunia akademis pun turut mendasari penulisan skripsinya. Dijelaskan bahwa skripsinya tidak lepas dari ketertarikannya dalam mengembangkan konsep.

“Alasan saya memilih topik tersebut karena saya tertarik untuk mengembangkan konsep dimensi matrik kuat, sehingga dalam skripsi tersebut dibangun definisi dimensi metrik kuat lokal pada graf dan beberapa teorema yang berkaitan dengan dimensi metrik kuat lokal pada graf,” katanya, tanpa menjelaskan maknanya.

Setelah lulus, Ayune berencana untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmunya, juga mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang pascasarjana. Dia berpesan agar mahasiswa dapat memanfaatkan waktunya dengan baik. Berdoa, baginya, adalah keharusan.

“Selalu berdo’a kepada Allah SWT dan meminta doa restu orang tua agar diberikan yang terbaik,” tambah Ayune. (*)

Penulis : Moh Alfarizqy

Editor : Feri Fenoria.