BPN Gresik dan FH Kerjasama Program Pelayanan Pertanahan Terpadu

UNAIR NEWS – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Gresik meluncurkan program pelayanan pertanahan terpadu pada Minggu lalu (10/1). Program ini dilatarbelakangi adanya kesulitan dalam proses pendaftaran tanah. Sebab, kerap terjadi perbedaan data dalam beberapa peta tanah yang  dimiliki oleh desa dengan yang dimiliki oleh Kantor Pertanahan. Program ini bersemangat sinergitas. Langkah awal yang akan diambil adalah membuat kebijakan satu peta (one map policy) yang berbasis desa.

Program ini diresmikan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan di Desa Wotan Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik. “Adanya kebijakan satu peta menjadikan layanan pertanahan makin efisien, berkepastian hukum dan menghindari mis-persepsi,” kata Ferry yang mengapresiasi gagasan tersebut.

BPN dan Pemkab Gresik menggandeng Fakultas Hukum (FH) UNAIR untuk mengkaji segala aspek hukum dalam program anyar ini.  Tujuannya, bersama-sama melakukan review atas aspek-aspek hukum untuk mendukung kebijakan ini. Juga, menghasilkan produk-produk hukum yang mendukung layanan tersebut. Pejabat Bupati  Gresik, Akmal Budianto, menyambut positif kerjasama dengan FH UNAIR. “Program ini butuh perangkat hukum yang bisa memudahkan dan memberikan kepastian kepada aparatur desa dalam layanan pertanahan,” kata dia. (*)

Penulis : FH UNAIR
Editor: Rio F. Rachman




Peserta Dentine Membludak, Jadi Sarana Peningkatan Kualitas Input FKG

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (BEM FKG) UNAIR menyeleggarakan Dentistry Intellectual Challenge (Dentine). Gelaran tahunan yang sudah dilaksanakan tujuh kali ini adalah lomba nasional kemampuan dasar di bidang kedokteran gigi bagi siswa-siswi SMA.

Rangkaian acara Dentine dilaksanakan di lingkungan kampus UNAIR sejak 18 Januari hingga 21 Februari 2016 mendatang. Dua cabang utama yang dipertandingkan adalah penulisan esai dan Olimpiade kedokteran gigi. Khusus tahun 2016 ini, cabang lomba diperkaya. Ada tiga lomba tambahan. Yakni, futsal, basket dan desain grafis.
Ketua Dentine 2016 Rahmad Rifqi Fahreza (FKG 2013) mengatakan, tujuan dari acara tahunan yang sudah dimulai sejak tahun 2009 ini adalah menarik minat calon mahasiswa dari SMA seluruh Indonesia. Diharapkan, terjadi peningkatan kualitas input FKG UNAIR di tahun 2016. Sebab, ajang ini dipastikan memiliki banyak unsur pengetahuan di bidang kedokteran gigi.

Di luar dugaan, jumlah peserta Dentine 2016 membludak dan melebihi target yang ditetapkan panitia. Dari 1.200 tim yang tercatat mengikuti cabang olimpide kedokteran gigi pada Dentine 2015, meningkat hingga 2.100 tim pada Dentine 2016.
Cabang esai yang diikuti oleh 240 tim. Sebagai cabang baru yang diperlombakan pada Dentine 2016, lomba Desain grafis diikuti oleh 95 orang, kompetisi basket 48 tim dan futsal 16 tim.

Suasana lomba dalam ajang Dentine 2016 (foto: humas FKG)
Suasana lomba dalam ajang Dentine 2016 (foto: humas FKG)

Penyisihan olimpiade kedokteran gigi akan dilaksanakan di 18 kota besar di Indonesia pada 14 Februari. Semifinal dan grand final Nasioanl akan diseleggarakan pada tanggal 20 dan 21 februari 2016 mendatang.

Dentine 2016 mendapatkan perhatian dari seluruh civitas akademika. Termasuk, pimpinan FKG UNAIR. “Saya sangat mengapresiasi BEM FKG. Angka 2.000 sudah menyamai prestasi acara yang sama yang diadakan oleh BEM FK. Kalau FK hanya olimpiade kedokteran saja, maka panitia Dentine 2016 berhasil menambah cabang lomba olahraga dan desain grafis. ” ujar Dekan FKG, Dr. R. Darmawan Setijanto, drg, M.Kes. (*)

Penulis : Humas FKG
Editor: Rio F. Rachman




Bahas Tantangan di Era Digital, Ilmu Komunikasi UNAIR Gelar Seminar Nasional

UNAIR NEWS – Berdasarkan data lembaga riset pasar asal Amerika, e-Marketer pada 2014, pengguna internet (netter) di Indonesia mencapai 87,3 juta orang. Selanjutnya, dalam tabel 25 ranking netter dunia dalam prediksi 2013–2018 oleh e-Marketer, Indonesia menempati urutan keenam pengguna internet terbanyak. Bahkan, pada 2018, perkiraan jumlah penggunanya menembus angka 123,0 juta orang.

Indonesia berada empat tingkat di bawah China yang menjadi pemuncak dengan jumlah pengguna internet terbanyak, yakni pada 2018 diperkirakan mencapai 777,0 juta orang. Dari survei itu, ke depan diperkirakan pola interaksi dan dinamika sosial masyarakat Indonesia, bahkan dunia, terpusat pada media sosial. Terutama kebergantungan kehidupannya pada teknologi digital.

Pergeseran atau perubahan tersebut bakal turut memengaruhi pola-pola interaksi di berbagai bidang sosial. Termasuk di ranah pendidikan tinggi, khususnya bidang ilmu komunikasi. Terutama sebagai lingkungan akademis yang bertujuan menumbuhkan peradaban manusia.

Merespons fenomena tersebut, Universitas Airlangga melalui Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menggelar seminar nasional komunikasi pada Rabu (14/2). Tema yang diangkat adalah ”Ilmu Komunikasi Indonesia Menghadapi Tantangan Global Pendidikan Tinggi Komunikasi pada Era Digitalisasi Teknologi.”

Bertempat di Hotel Santika Premiere Surabaya, seminar itu menghadirkan enam pembicara dari perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Pada sesi pertama menghadirkan Prof. Hafied Cangara (Universitas Hasanudin/Unhas); Prof. Ilya Sunarwinadi (Universitas Indonesia/UI); dan Prof. Widodo Muktiyo (Universitas Negeri Surakarta/UNS). Kemudian pada sesi kedua ada Dr. Eny Maryani (Universitas Padjajaran/Unpad); Dr. Hermin Indah Wahyuni (Universitas Gadjah Mada/UGM); dan Ratih Puspa, Ph.D., (UNAIR).

Dalam seminar itu, sesi pertama dipimpin langsung oleh Dr. Suko Widodo, M.Si, sebagai moderator.  Pada sesi kedua Irfan Wahyudi, Ph.D yang memandu diskusi.

”Ini merupakan program pertama tahun ini, sekaligus menjadi bagian program agenda tahunan kelompok PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang menyelengarakan pendidikan ilmu komunikasi. UNAIR tuan rumahnya,” ujar Kepala Departemen Ilmu Komunikasi UNAIR Dr. Yayan Sakti Suryandaru, S.Sos., M.A., saat ditemui UNAIR NEWS.

Seminar tersebut digelar sebagai upaya diskusi langkah-langkah strategis jurusan ilmu komunikasi terhadap pergeseran sosial saat ini. Selain itu agar memberikan wawasan dan pandangan kepada pengelola pendidikan tinggi ilmu komunikasi. Pada akhirnya, rumusan bersama tentang wajah pendidikan ilmu komunikasi mampu dihasilkan.

”Karena itu, program ini digelar. Bukan hanya diskusi dan rapat, tetapi inilah yang pada akhirnya menjadi suplemen untuk menghadapi gejala perubahan tersebut,” imbuh Yayan.

Perlu Responsif

Yayan mengakui bahwa pergerakan dunia, terutama masuknya era digitalisasi, membuat bidang-bidang kehidupan berubah dengan sangat cepat. Karena itu, jurusan ilmu komunikasi mesti mempunyai daya reaksi dan responsif yang tinggi.

”Diantaranya dengan membuat penyesuaian-penyesuaian yang berhubungan dengan pendidikan. Juga perlu evaluasi-evaluasi dan revisi. Kurikulum, sistem, kualitas pengajar (dosen) dan motivasi mahasiswa harus mulai diubah. Diadaptasikan,” tuturnya.

Dengan demikian, untuk menumbuhkan daya responsif tersebut, diperlukan dialog atau diskusi antar kampus. Tawaran-tawaran yang bisa diterapkan atau disesuaikan di setiap PTN bisa dibandingkan, lalu dipilih.

”Karena itu, kita memerlukan masukan-masukan dari PTN lain. Juga banyak di institusi perguruan tinggi yang yang memiliki suatu keunggulan. Sedang di sini punya keunggulan apa. Itulah yang diinginkan. Sharing dan bertukar pengalaman serta masukan dari mahasiswa,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Yayan, jurusan ilmu komunikasi sering kurang cepat menyampaikan masukan, kritikan, dan respons terhadap situasi kekinian yang terjadi di masyarakat. Baik secara nasional maupun global.

”Karena itu, kami ingin lebih intens, orang-orang komunikasi dan asosiasi-asosiasi sarjana komunikasi lebih cerdas dalam mereaksi yang terjadi secara lokal, nasional, dan global,” tambahnya.

Yayan berharap ilmu komunikasi yang merupakan ilmu praktis dan ilmu murni, mampu terus berkontribusi. Luasnya cakupan keilmuan sekaligus besarnya peminat di bidang ini juga jangan sampai membuat lalai orang-orangnya. Terutama soal kiprahnya di bidang kemanusiaan.

”Justru dengan kondisi seperti saat ini jurusan ilmu komuniksai harus lebih banyak berkontribusi bagi kemanusiaan,” kata Yayan Sakti S. (*)

Penulis : Feri Fenoria

Editor : Bambang Bes.




Psikologi UNAIR Ajak Mahasiswa Ikuti Program Student Exchange

UNAIR NEWS – Dalam rangka memperkenalkan program pertukaran pelajar ke luar negeri, Fakultas Psikologi UNAIR mengadakan acara Talkshow STUDENTS GO ABROAD dengan tema “Find out more about exchange program and study abroad opportunity”. Acara yang berlangsung pada Selasa (12/4)  di Aula lantai 3 fakultas Psikologi ini menarik minat banyak peserta dari kalangan mahasiswa, sehingga ruangan dengan kapasitas 200 orang terpenuhi.

Dalam kesempatan tersebut, Margaretha S.Psi, P.G.Dip.Psych., M.sc, menyampaikan motivasinya kepada mahasiswa Psikologi UNAIR agar dapat memiliki keinginan yang kuat untuk ke luar negeri.

“Ke luar negeri itu mudah yang paling penting adalah niat, yang kedua adalah skill bahasa Inggris,” paparnya selaku ketua IOP UNAIR.

Menurutnya, jika memang sudah ada niat dan skill yang dimiliki oleh mahasiswa, tentu keluar negeri untuk pertukaran pelajar bukanlah hal yang sulit dicapai. Pasalnya Fakultas dan Universitas juga akan berusaha untuk memfasilitasi kegiatan seperti ini.

Acara tersebut dilanjutkan dengan talkshow dan sharing pengalaman, hadir sebagai pembicara yaitu Bo Nicolai Van Der Burgt Student Exchange dari  Frontys Hogenschool Jerman dan juga Muhammad Asri Rahim dari Universiti Utara Malaysia.

Selain kedua mahasiswa asing tersebut, acara ini juga mendatangkan mahasiswa Psikologi UNAIR yang telah merasakan pengalaman ke luar negeri diantaranya adalah Indiraprana Katnia Amani, Sukma Rahastri Kanthi, S.Psi yang pernah ke Cina dan Trisha safira dengan pengalamannya ke Thailand, Jepang serta London tahun 2016.

Dari pengalaman ketiga pembicara ini, semuanya sepakat bahwa keinginan untuk ke luar negeri harus ada, setelah itu barulah diwujudkan dengan tindakan.

“Informasi untuk kegiatan ke luar negeri loh banyak dan bertebaran disekitar kita,” tutur Sukma.

“Kita seharusnya bangga, karena Fakultas dan Universitas sangat mendukung, buktinya semua pembiayaan saya dulu sepenuhnya difasilitasi,” imbuh Indira.

Penulis : Akhmad Janni
Editor : Dylan Salsabila




Lewat Kunjungan, Raih Inspirasi dan Impian

UNAIR NEWS Universitas Airlangga memang memiliki kesan tersendiri bagi sebagian orang yang belum pernah datang atau bahkan hanya sekedar tahu dari dunia maya. Anggapan demi anggapan bermunculan, dari bayangan tentang kampus yang besar, bereputasi, dan kiprah alumni yang mewarnai kemajuan bangsa.

Itulah yang dirasakan oleh Jito, S.Pd., selaku perwakilan guru Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Kediri yang berkunjung ke kampus UNAIR. Menurut Jito, selama ini ia hanya bisa mendengar dan melihat reputasi UNAIR melalui dunia maya. Jito bersama 139 peserta didik dan 6 guru pendamping, berkunjung ke UNAIR dengan tujuan mendapatkan informasi profil dan penerimaan mahasiswa baru.

“Setelah mengetahui berbagai kelebihan UNAIR, sudah sepantasnya kami menimba ilmu di UNAIR ini,” jelasnya saat memberikan sambutan.

Ia pun berharap, peserta didik SMAN 5 Kediri bisa memiliki motivasi untuk menjadi bagian dari mahasiswa UNAIR. “Dari tempat dan kampus yang luar biasa ini saya harap anak-anak semua semakin terpacu untuk menjadi mahasiswa UNAIR nanti,” imbuhnya.

Kunjungan dari pelajar dan guru sekolah menengah atas sederajat telah menjadi agenda bulanan Pusat Informasi dan Humas UNAIR. Dalam penerimaan rombongan kunjungan, staf PIH UNAIR akan memberikan informasi profil tentang UNAIR, sedangkan staf Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) akan memberikan informasi seputar jalur seleksi masuk UNAIR. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Defrina Sukma S




Raih Juara III Kompetisi Kedokteran Gigi di Purwokerto

UNAIR NEWS – Produkif dalam berkarya tidak hanya dapat dilakukan dihari efektif kuliah. Di hari libur pun, produktivitas dapat terus ditingkatkan. Begitu juga dengan tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR).

Di bawah arahan dosen pembimbing Dr. Retno Pudji Rahayu, drg., M.Kes, tim yang beranggotakan Aulia Nur Layli, Aisyah Rachmadani Putri, dan Rizkia P Anggraeni berhasil meraih juara 3 dalam ajang Soedirman Dental Scientific Meeting 2018. Kompetisi berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Sabtu (14/7) lalu.

Tim yang diketuai oleh Aulia ini berhasil menyisihkan puluhan artkel ilmiah dalam kompetisi yang diikuti oleh mahasiswa kedokteran gigi seluruh Indonesia.

“Antusiasme peserta untuk pelaksanaan lomba yang diadakan saat liburan dan pekan ujian cukup tinggi. Ini merupakan pengalaman tersendiri bagi saya, presentasi lomba di saat minggu liburan,” kata Aisyah, salah satu anggota tim.

Dalam kompetisi itu, Aisyah bersama tim mengangkat tema mengenai stem cell. Lebih spesifik, tentang pengaplikasian treatment tumor jinak di rongga mulut.

“Tema ini kami ambil dengan latar bekakang beberapa referensi jurnal ilmiah yang kami baca. Terdapat  insidensi dan prevalensi mengenai tumor jinak di rongga mulut yang cukup tinggi,” jelas gadis yang juga aktif sebagai Kepala Departemen Pendidikan dan Profesi BEM FKG UNAIR.

Proses keikutsertaan kompetisi diawali dengan mengumpulkan abstrak. Dari keseluruhan abstrak, diambil 10 karya terbaik. Kemudian, diranking untuk menentukan finalis yang akan melanjutkan ke tahap pengumpulan poster. Selesai tahap ini, peserta mengumpulkan karya fullpaper untuk dipresentasikan pada puncak acara di FKG Universitas Jenderal Soedirman.

“Semoga makin banyak mahasiswa, khususnya dari FKG, yang membuat karya ilmiah  seperti ini. Melihat dewasa ini problem yang dapat diangkat tentang masalah gigi dan mulut cukup banyak,” terang Aisyah. “Semoga karya kami dapat bermanfaat untuk semua pihak yang membaca” tambahnya. (*)

Penulis : Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor   : Binti Q. Masruroh




PENYERAHAN gelar best speaker ke Rizma Nur Hidayah oleh Dr. M. Hadi Shubhan, S.H., M.H., CN. (Foto: Istimewa)

UKM Penalaran Raih Empat Best Speaker di ICOSDEL MALINDO 2018

UNAIR NEWS – Empat tim delegasi UKM Penalaran raih empat nominasi best speaker dalam acara ICOSDEL MALINDO 2018 (International Conference on Student Development and Leadership Malaysia–Indonesia) pertengahan Juli (16/7). Itu merupakan kegiatan buah kerja sama antara Indonesia dan Malaysia, khususnya antara Universitas Airlangga dan UiTM (Universiti Teknologi MARA).

Farid, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran, menjelaskan bahwa keikutsertaan UKM Penalaran merupakan undangan oleh Direktorat Kemahasiswaan UNAIR. Yakni, sebagai delegasi peserta konferensi Internasional bersama BEM UNAIR dan Duta UNAIR.

”Kami mengirimkan sebelas tim delegasi dengan paper hasil penelitian masing-masing. Tentu sebelum itu dari UKM Penalaran melakukan beberapa pendampingan,” kata Farid.

Persiapannya sekitar tiga minggu dengan melibatkan alumni. Mulai, proses awal, judul, hingga latihan presentasi. Dari persiapan dan bimbingan alumni tersebut, empat tim delegasi yang diketuai Shulkhiatus S; M. Wahyu Syafi’ul; Hilmi Putra Pradana; dan Rizma Nur Hidayah mendapatkan nominasi best speaker.

Rizma, salah seorang ketua tim, mengaku kali pertama mengikuti konferensi. Walau pengalaman pertama, dia melakukan persiapan dengan baik. Rizma membaca paper 2–3 kali untuk lebih paham dan latihan presentasi bersama UKM Penalaran.

Kebiasaanya tampil di depan orang membuat kegugupannya sedikit hilang. Apalagi, urutan presentasinya pertama. Itu cukup membuatnya gugup.

”Saya tidak gugup dan mencoba tenang. Namun, ketika tahu saya presentasi urutan pertama, rasa gugup muncul. Apalagi, ketika error pada pointer, saya sedikit takut. Saya ambil napas panjang untuk menghilangkan itu semua dan percaya bahwa pasti bisa,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, Rizma mengaku perlu memperbaiki public speaking agar penjelasannya lebih tertata dan minim kesalahan saat presentasi. Rasa senang juga dirasakan para delegasi. Sebab, mereka dapat bertemu dengan mahasiswa Malaysia.

Para delegasi bisa belajar banyak dari mereka. Termasuk mengetahui budaya masing-masing. Ternyata kebiasaan serta cara berpakaian memang sedikit berbeda.

Pertemuan delegasi penalaran dengan delegasi UiTM dari Malaysia diharapkan dapat menjadi bahan meningkatkan kemampuan masing-masing. Khususnya soal pengalaman serta menjadi bahan evaluasi selanjutnya.

Pengalaman dan raihan UKM Penalaran sebagai best speaker tersebut juga diharapkan mengantar mahasiswa UNAIR meraih prestasi yang lebih. Baik di kancah nasional maupun internasional. Lebih tepatnya mendukung sekaligus media batu loncatan untuk mengantarkan UNAIR menuju posisi 500 universitas terbaik dunia. (*)

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

 




REKTOR Universitas Airlangga saat memberikan paparan bertemu denganpara orang tua mahasiswa baru 2018. (Foto: Feri Fenoria Rifa'i)

Pimpinan UNAIR Adakan Silaturahmi dengan Orang Tua Mahasiswa Baru 2018

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh Nasih mengadakan forum pimpinan UNAIR bersama orang tua mahasiswa baru tahun 2018/2019 pada Jumat (3/8). Silaturahmi itu mengajak orang tua mahasiswa dari 14 fakultas di lingkungan UNAIR.

Dalam acara silaturahmi yang berlangsung di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus C UNAIR itu, rektor mengimbau orang tua menitipkan sepenuhnya pendidikan anak kepada UNAIR. Rektor juga mengimbau mereka tidak terlalu mengekang anak supaya bisa berkembang dan berprestasi lebih luas.

“Yang rumahnya Surabaya, misalnya. Kalau nantinya mau berkegiatan, melanjutkan pendidikan, bahkan mendapat tawaran pekerjaan di luar kota, bahkan luar negeri. Mbok ya jangan digandoli,” terang rektor.

Selain itu, kepada orang tua mahasiswa baru, rektor berpesan untuk dapat memantau perkembangan studi putra putrinya melalui akun cybercampus UNAIR. Melalui akun cybercampus ini, para orang tua dapat melihat langsung seperti apa hasil studi anak.

“Orang tua dapat memantau studi putra putrinya melalui akun cybercampus. Seperti melihat nilai tiap mata kuliah yang diprogram dan berapa IPK-nya,” terang rektor.

Selain itu, melalui e-learning, proses belajar-mengajar antara mahasiswa dan dosen dapat dilakukan di manapun, tidak harus datang ke kampus.

Sementara itu, Imron Rosyidi perwakilan orang tua mahasiswa baru dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas undangan silaturahmi rektor dengan orang tua mahasiswa.

“Kami berkomitmen untuk support apa pun yang dibutuhkan mahasiswa,” terang Imron.

Forum silaturahmi antara pimpinan dan orang tua mahasiswa baru itu akan berlangsung selama empat hari. Terhitung sejak tanggal 3, 6, 7, dan 8 Agustus 2018.

Dalam forum tersebut, UNAIR membuka lebar kesempatan bagi orang tua mahasiswa baru yang ingin memberikan sumbangan pendidikan. Segala bentuk sumbangan yang dikelola Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) akan digunakan untuk memajukan pendidikan mahasiswa UNAIR. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




PARA pembicara berbagi inspirasi dalam talk show Leadership Camp Surabaya. (Foto: Istimewa)

UNAIR Dukung Gerakan Kejar Mimpi Anak Muda melalui Leadership Camp Surabaya

UNAIR NEWSBermimpilah setinggi langit. Jika kamu jatuh, maka kamu akan jatuh di antara bintang-bintang. Kalimat bijak dari presiden pertama Republik Indonesia itu mengajarkan untuk jangan pernah takut bermimpi. Mimpi menjadi awal seseorang menyusun langkah dalam merencanakan dan mencapai tujuan hidup. Tanpa mimpi, tentu seseorang hanya akan menghabiskan waktu tanpa tahu arah yang akan dituju.

Mimpi dan anak muda adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sebab, pada rentang usia tersebut, seseorang mulai mencipta beragam cita dan impian. Namun, rupanya, tak sedikit anak-anak muda yang hilang harapan dan membiarkan mimpinya padam disebabkan berbagai latar belakang dan permasalahan.

Karena itu, sebagai bentuk kepedulian untuk menghidupkan kembali mimpi anak-anak muda, UNAIR bersama komunitas penggagas gerakan Kejar Mimpi menggelar acara Leadership Camp Surabaya pada Sabtu (11/8). Bertempat di Aula Fadjar Kartonagoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), acara tersebut dihadiri ratusan anak muda dari berbagai kota di Jawa Timur.

Kegiatan itu merupakan wujud kontribusi UNAIR dalam mendukung gerakan Kejar Mimpi yang dirintis sejak 2017. Leadership Camp Surabaya merupakan salah satu rangkaian acara dari Kejar Mimpi.

Mengangkat tema ”Creating Breakthruogh for Indonesian Youth”, Leadership Camp kali ini menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif sebagai pembicara. Di antaranya, Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih Emil Elestianto Dardak; Musisi/aktris Maudy Ayunda dan Sandra Dewi; Direktur SDM CIMB Niaga Heidy Lapian; serta dokter sekaligus dosen muda UNAIR Indri Lakhsmi Putri, dr., Sp. BP-RE(KKF).

Para pembicara saling berbagi pengalaman hidup dan usaha mereka dalam mencapai mimpi. dr. Indri, salah satunya. Dia menuturkan perjuangannya menggapai mimpi hingga menjadi seperti sekarang tidaklah mudah. Indri sempat merasakan berbagai kendala selama menempuh pendidikan sebagaimana banyak dirasakan anak-anak muda. Meski begitu, dia membagikan kunci keberhasilannya meraih mimpi.

”Kuncinya, ada dua. Jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. Sering pikiran negatif dalam diri menjadi penghalang untuk mengejar mimpi. Itu yang harus dihindari,” sebutnya.

Cevi Agis, penggagas gerakan Kejar Mimpi sekaligus koordinator acara menjelaskan bahwa Kejar Mimpi merupakan gerakan sosial yang memberikan dukungan kepada anak-anak muda di Indonesia untuk mewujudkan mimpinya. Baik melalui kampanye di media sosial maupun pergelaran acara di beberapa kota di Indonesia. Meski tergolong baru, gerakan tersebut mendapat antusias yang luar biasa dari anak-anak muda.

Dari sekian banyak perguruan tinggi di Jawa Timur, UNAIR menjadi universitas yang terpilih karena reputasinya sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia. Cevi sangat berterima kasih karena UNAIR telah mendukung dan membantu terselenggaranya acara dengan sangat baik.

”Mempertimbangkan sisi prestasi dan lokasinya seperti apa. Jadi, kami memilih UNAIR. Apalagi, setelah kami menghubungi Bu Siwi dari PPKK, ternyata mendapat respons yang sangat baik. Dari pihak kampus appreciate banget. Jadi, bisa menambah value anak-anak UNAIR dan ajang networking juga,” ungkap Cevi.

”Kita ingin lebih banyak lagi anak-anak muda, khususnya di Surabaya, yang terinspirasi gerakan sosial Kejar Mimpi. Kita ingin mendorong anak-anak muda berani bermimpi dan pantang menyerah,” imbuhnya. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




pimnas uny

Kontingen PIMNAS 2018 Universitas Airlangga Usung “Semangat Mataram”

UNAIR NEWS – ”Semangat PIMNAS Mataram” tahun 2013 diusung kembali oleh kontingen Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) Ke-31 Universitas Airlangga yang siap berkompetisi di kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 28 Agustus – 2 September 2018. Dalam PIMNAS Ke-31 tahun 2018 ini UNAIR hanya berangkat dengan 7 tim PKM (Program Kreativitas Mahasiswa).

Semangat itu mencuat di arena upacara Pembekalan Kontingen PIMNAS Universitas Airlangga, yang dipimpin langsung oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., di Lantai 1 Gedung Manajemen UNAIR, Jumat (24/8) pagi.

”Kita kobarkan lagi semangat Mataram, enam medali emas mudah-mudahan bisa kita raih kembali,” tandas Agus Widyantoro, SH., MH., koordinator lapangan kontingen PIMNAS UNAIR.

Seperti diketahui, dalam PIMNAS Ke-26/2013 di Universitas Mataram (Unram) kekuatan kontingen UNAIR hanya di urutan ke-8, yaitu 10 (sepuluh) tim PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Sedang tim lain mencapai belasan PKM hingga terbesar 44 tim PKM. Tetapi UNAIR berhasil menjadi runner-up (juara II) dengan meraih 6 medali emas, 2 perak, dan 2 perunggu (6-2-2).

”Di Mataram, juara umumnya maju dengan 44 tim PKM dan meraih sebelas medali emas, atau potensi menang 25%. Tetapi UNAIR dengan 10 PKM menjadi runner-up dengan enam emas, sehingga prosentase potensi juaranya mencapai 60%,” tambah seorang tim pembina PKM UNAIR menganalisis.

Direktur Kemahasiswaan UNAIR Dr. M. Hadi Shubhan, SH., MH., CN., dalam laporannya pada pembekalan kontingen kemarin, mengakui bahwa dalam beberapa kali mengikuti PIMNAS, UNAIR sering hadir dengan kekuatan kecil. Tetapi tim lain selalu mewaspadai sebagai tim yang sangat potensial menang. Istilah Jawanya; mentes!

”Kita pernah ke PIMNAS dengan enam tim dan hasilnya masuk lima besar. Sekarang dengan tujuh tim PKM, dengan berbagai usaha dan latihan keras yang sudah dijalani, semoga kita bisa bertahan dan minimal juara,” katanya disambut gerr (tawa) peserta upacara.

Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM., ketika memberikan semangat disela latihan pada PKM yang lolos ke PIMNAS, mengatakan bahwa usaha keras, jujur, dan sungguh-sungguh merupakan jalan yang digariskan Allah untuk menuju kemenangan. Dengan demikian jika itu sudah dijalani maka berarti tim PIMNAS UNAIR sudah berada dijalur yang benar.

SALAH satu dari tujuh tim PKM Universitas Airlangga yang lolos maju ke PIMNAS ke-31 di Yogyakarta. (Foto: Bambang Bes)

”Tinggal satu hal lagi, yakni jangan lupa untuk selalu berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa. Jika semua usaha yang terbaik sudah dilaksanakan, Insya Allah juga akan berhasil dengan baik,” kata Prof. Djoko Santoso.

Tujuh PKM yang lolos ke PIMNAS tersebut adalah: di nomor PKM-GT terdapat satu karya berjudul ”NFC (Neo Futuristic City) : Konsep Kota Masa Depan Sebagai Solusi untuk Menghadapi Dampak Urbanisasi Dengan Basis Internet Of Things dan Artificial Intellligence” yang diketuai Anggi Nur’Aini Ikawati.

Di bidang PKM-KC terdapat tiga judul. Yakni “QUSHNADE (Quick and Smart Heart Analyzer Mobile Device) sebagai Deteksi Acute Myocardial Infarction Acute Myocardial Infarction” karya Rahardian Tarunosudirjo, Aji Sapta Pramulen, dan Difa Fanani Ismayanto.

Kemudian PKM-KC judul “I-Turbul: Rancangan Bangun Sistem Monitoring Kolam Budidaya Udang Sistem Tertutup Terintegrasi Berbasis SMS Gate Way sebagai Detektor H2S Akibat Turbulensi” karya Angga Bagus Prasetyo, Ainur Dwiky Setyawan, dan Gita Istiqfarrani. Satu lagi PKM-KC dengan judul ”F-One (Finger Exoskeleton Protable): Alat Bantu Gerak Jari Tangan Berbasis Sinyal Otot Sebagai Rehabilitasi Paska Stroke,” karya Afni Unaizah, Muwaffaq Izaz, dan Adhe Rahmatullah.

Di nomor PKM-T terdapat dua judul, ”B-Steam; Bivalve Steaming, Mesin Pengukus Kerang Berbasis Boiler di Kelompok Nelayan Kerang Sedati, Sidoarjo,” karya Ula Zidni Alfian Ikromah, Maulida Agustina (FPK), Akhmad Afifudin Al-Anshori (FKH), Hilmi Putra Pradana (FST), dan Ningsih Putri Herman (FST).

Satu lagi di bidang PKM-T dengan judul “SADAR DIRI (Smart Automated Detection Software for Diabetic Retinophaty) Berbasis Jaringan Saraf Tiruan di UPT. Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur,” karya Bestia Kumala Wardani, Debrina Rizka Nurrahmah Wida, Nalindra Berliani, dan Nitasya Ayu Alamanda Putri.

Kemudian di bidang PKM-SH terdapat satu judul, yaitu ” Surabaya dan Gejala Sarkasme Pada Produk Makanan,” karya Muh. Fuad Izzatulfikri, Saharani Nurlaila B, dan Khadijah Aufadina. (*)

Penulis : Bambang Bes