Lewat Kunjungan, Raih Inspirasi dan Impian

UNAIR NEWS Universitas Airlangga memang memiliki kesan tersendiri bagi sebagian orang yang belum pernah datang atau bahkan hanya sekedar tahu dari dunia maya. Anggapan demi anggapan bermunculan, dari bayangan tentang kampus yang besar, bereputasi, dan kiprah alumni yang mewarnai kemajuan bangsa.

Itulah yang dirasakan oleh Jito, S.Pd., selaku perwakilan guru Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Kediri yang berkunjung ke kampus UNAIR. Menurut Jito, selama ini ia hanya bisa mendengar dan melihat reputasi UNAIR melalui dunia maya. Jito bersama 139 peserta didik dan 6 guru pendamping, berkunjung ke UNAIR dengan tujuan mendapatkan informasi profil dan penerimaan mahasiswa baru.

“Setelah mengetahui berbagai kelebihan UNAIR, sudah sepantasnya kami menimba ilmu di UNAIR ini,” jelasnya saat memberikan sambutan.

Ia pun berharap, peserta didik SMAN 5 Kediri bisa memiliki motivasi untuk menjadi bagian dari mahasiswa UNAIR. “Dari tempat dan kampus yang luar biasa ini saya harap anak-anak semua semakin terpacu untuk menjadi mahasiswa UNAIR nanti,” imbuhnya.

Kunjungan dari pelajar dan guru sekolah menengah atas sederajat telah menjadi agenda bulanan Pusat Informasi dan Humas UNAIR. Dalam penerimaan rombongan kunjungan, staf PIH UNAIR akan memberikan informasi profil tentang UNAIR, sedangkan staf Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) akan memberikan informasi seputar jalur seleksi masuk UNAIR. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Defrina Sukma S




PROFESOR dari Faculty of Dentistry, Tohoku University, Japan, berbincang dengan peneliti dari FKG UNAIR. (Foto: Istimewa)

Inisiasi Penelitian Kolaborasi, Tim Tohoku University Berikan Workshop

UNAIR NEWS – Semangat Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga semakin kuat. Khususnya dalam bidang penelitian. Menyusul diterimanya beberapa hibah penelitian dari beberapa institusi negara, FKG memperkuat upayanya dengan membuka keran kerja sama di bidang penelitian.

Respons yang baik diberikan Faculty of Dentistry, Tohoku University, Japan. Inisiasi penelitian kolaborasi dibuktikan dengan hadirnya tim ahli dari Tohoku University. Tim memberikan workshop kepada seluruh staf departemen prostodonsia FKG UNAIR. Yakni, workshop soal teknik penelitian.

Saat ditemui humas FKG UNAIR, Kepala Departemen Prostodonsia FKG UNAIR Dr. Nike Hendrijantini, drg., M.Kes., Sp.Pros(K) menyampaikan bahwa tim Tohoku memberikan dua worlshop, yaitu animal perfusion dan Methyl Metacrilat Embeding  (MME). Tim yang hadir itu terdiri atas dua orang. Yakni, Prof. Sasaki, Assoc. Prof. Guang Hong dan Prof. Shimidzu.

“Kedua teknik ini belum ada yang melakukannya di kedokteran gigi seluruh Indonesia. Dengan meningkatnya skill, banyak penelitian yang dapat dilakukan,” ujar Nike.

Dalam wawancara secara terpisah, Prof. Sasaki menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap FKG UNAIR. Sebab, geliat penelitian di FKG UNAIR sudah sangat berkembang.

Profesor bidang prostodonsia yang sekaligus dekan Faculty of Dentistry, Tohoku University, tersebut melihat perubahan yang sangat signifikan dari proses penelitian di FKG UNAIR.

Pada akhir, adjunct professor FKG UNAIR itu mengungkapkan bahwa penelitian kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan banyak jurnal internasional.

”Dan, inisiasi ini akan menjadi awal yang baik pada masa yang akan datang,” tambahnya.

Penulis: Humas FKG

Editor: Feri Fenoria Rifai




Lulusan Terbaik FK, Dedy Syahrizal Diwisuda Bersama Isteri

UNAIR NEWS – Tebersit rasa yang menyenangkan ketika berhasil diwisuda bersama dengan orang tercinta. Itulah yang kini dirasakan oleh Dr. Dedy Syahrizal, dr., M.Kes., yang merupakan wisudawan terbaik jenjang Doktoral Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Dedy berhasil lulus S-3 dari FK UNAIR bersama dengan istrinya dan diwisuda pada September 2016 ini.

“Insya Allah nanti kami sama-sama diwisuda. Senang banget rasanya. Berjuang bersama-sama sambil besarin anak yang juga lahir ketika kami sudah mulai pendidikan di UNAIR. Jadi ini rasanya tidak dapat dipercaya, tapi Alhamdulillah itu berhasil kami lalui,” tutur Dedy berucap syukur ketika dihubungi WARTA UNAIR.

Di FK, Dedy menjalani kuliah pada program studi Ilmu Kedokteran, sedangkan istrinya menjalani kuliah pada prodi Ilmu Kedokteran Dasar di bidang ilmu kedokteran hiperbarik dan penyelaman. Bersama dengan sang isteri, Cut Mustika, dr., M.Si, pada tahun 2015 lalu mereka yang tergabung dalam satu tim berhasil mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan pada program Riset Pembinaan Ilmu Kesehatan dan Teknologi Kedokteran.

Pengajar biokimia di Universitas Syiah Kuala, Aceh, itu berhasil meraih penghargaan atas penelitian yang berjudul “Pengaruh Hyperbaric Oxygen Therapy terhadap Regulasi Endothelial Progenitor Cell pada Mencit Model Endometriosis”.

Saat menyelesaikan kuliah doktoral, Dedy berhasil meraih IPK 3,97. Nilai IPK ini berhasil ia raih usai mempertahankan sidang disertasinya yang berjudul “Progressivity Mechanism of Distress Endometriosis Tissue Through Interaction of MIF, HSP70, Akt, c-Myc and CD44 in Mesenchymal Stem Cell: A Psychoneuroimmunology’s Approach of Stem Cells in Endometriosis Modelled Mice”.

Dalam penelitiannya, Dedy melakukan riset tentang pengaruh faktor distress terhadap penyakit endometriosis. Ia meneliti tentang progresivitas jaringan endometriosis pada penderita yang mengalami distress. Menurutnya, penderita endometriosis sebagian besar mengalami distress karena gejala klinis yang dialami dan juga ancaman infertilitas akibat penyakit tersebut. Apalagi, hal itu diperberat dengan situasi bahwa sampai saat ini pengobatan endometriosis masih bersifat simptomatis dan bukan kausatif.

”Akibatnya, penderita endometriosis mengalami penurunan kualitas hidup akibat proses penyakitnya maupun akibat proses distress yang dialaminya. Saya berpikir, bila faktor distress dapat ditangani, maka selain secara psikis pasien menjadi lebih nyaman, tapi juga secara molekuler pertumbuhan jaringan endometriosis dapat ditekan,” tutur Dedy. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor : Dilan Salsabila




Dollar

Dollar Capai 15.000 Masih Amankah di Indonesia?

UNAIR NEWS – Perekonomian Indonesia memiliki fondasi dan struktur yang kuat dan memiliki investment grade yang sangat andal (Moody’s Baa2, JCR BBB+, dan R&I BBB). Sampai akhir 2017, Indonesia merupakan perekonomian terbesar ke-15 di dunia, tentunya yang paling stabil di antara ekonomi G20, ekonomi ketiga dengan pertumbuhan tertinggi dalam kelompok G20, dan negara ketiga dengan kondisi keuangan yang lebih sehat antara negara G20.

Miguel Angel Esquivias P, berpendapat, nilai tukar sekitar 15,000 adalah tingkat baru yang normal apabila diamati kondisi global. Dengan volatilitas dan uncertainty seperti saat ini, alternatif sentral bank Indonesia tidak banyak, selain meningkat suku bunga untuk menahan investasi dalam negeri, dan mencari investor baru.

“Terdapat efek negatif yang lebih dominan karena langsung, dibandingkan dengan efek positif yang perlu waktu untuk bisa dirasakan. Karena harga barang impor, terutama untuk barang yang memang dibutuhkan dan tidak / belum disediakan dalam negeri,” tandas Miguel Dosen FEB UNAIR saat ditemui UNAIR NEWS pada Jumat (12/10).

Ia menambahkan, efek  negatif akan diperluas untuk impor yang disubsidi oleh pemerintah. Efek yang cukup berat juga muncul ketika utang luar negeri perusahaan atau pemerintah didenominasi dalam mata uang asing. Sedangkan efek positif dapat membantu ekonomi dengan meningkatkan ekspor, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, dan dapat membantu untuk kontrol inflasi.

“Semakin tinggi volatilitas, semakin tinggi risiko dari instrument. Suku bunga akan mengalami tekanan untuk meningkat karena pasar perlu mengkompensasi investor yang mengambil risiko yang lebih besar. Tingkat bunga yang tinggi memperlambat investasi, memberikan tekanan kepada consumer dan produser tentang prospek ke depan, yang bisa menyebabkan perlambatan dalam aktivitas ekonomi,” tegas Miguel kelahiran Amerika Latin.

Volatilitas bisa menyebabkan investment flow ke luar negeri kepada pasar yang lebih aman, dan dapat menyebabkan inestabilitas dalam sistem keuangan dalam negeri.

Miguel memberikan solusi yang sering dicari sentral bank yaitu, menunjukan keseriusan dan ketegasan untuk intervensi dalam pasar ketika terjadi sebuah tekanan di luar fundamental. Bank Sentral telah mengeluarkan beberapa instrument untuk mengurangi capital outflows, instrument untuk menjamin utang luar negeri dalam mata uang asing, instrument untuk menukar devisa dari exporter ke mata uang Rupiah.

Selanjutnya, ia juga menambahkan bahwa terdapat upaya untuk mengurangi impor. Misalnya melalui import tax-, namun kebijakan tersebut kalau tidak diteliti dengan baik bisa merugikan dari pada membantu. Memang pemerintah sudah memiliki sebuah kebijakan campuran  baik dari sisi moneter dan fiskal. Namun, dalam kasus seperti ini belum tentu pasar akan reaksi sesuai dengan harapan pemerintah.

“Walaupun tingkat inflasi saat ini cukup sehat, perlu ditahan upaya-upaya yang dapat mendorong kenaikan harga karena itu bisa menyebabkan kehilangan nilai mata uang Rupiah secara ril yang lebih tajam,” tegasnya.

Tentunya, masyarakat, dunia bisnis, dan akademisi harus dengan kritis tetapi tanpa panik. Perlu menciptakan suasana yang positif, mempercepat proses penyesuaian melalui fokus ekspor dan memperkuat urusan perekonomian domestik.

 

Penulis : Rolista Dwi Oktavia

Editor: Nuri Hermawan




Mr. Alfin Fahdi Firdaus bersama peserta Info Session Gasglow University dengan wajah semangat meraih beasiswa. (Foto: Istimewa)

Adakan Sesi Khusus, AGE Informasikan Pendidikan Glasglow University

UNAIR NEWS Airlangga Global Engagemnet (AGE) mengadakan sesi khusus info untuk mengorek informasi mengenai Universitas Gasglow. Acara pengenalan yang berlangsung pada Selasa (23/10) itu diisi oleh Mr. Alfin Fahdi Firdaus sebagai International Officer (Indonesia) dan International Recrutment & Partnership Relations.

Alfin membuka sesi dengan pertanyaan, “Ada yang tau gak sih Glasglow University itu dimana?” Alasan adanya pertanyaan tersebut sebenarnya cukup simpel. Dia mengakui bahwa banyak audiensnya sebelumnya yang menjawab di United Kingdom. Padahal, universitas yang termasuk pada second oldest university dan termasuk dari 7 ancient university itu terletak di Kota Glasglow, Skotlandia.

“Umurnya tahun ini 567, universitas kita lebih tua dari penemuan pertama Candi Borobudur dan di Indonesia aja masih mikirin perang kekuasaan dulu tahun 1451. Skotlandia malah udah bikin universitas”, tutur Alfin.

Lulusan dari Universitas Glasglow juga tidak main-main. Ada Adam Smith, bapak ekonomi dunia. Ada James Watt, penemu mesin uap, sampai Josef Foster yang penemuannya diaplikasikan sebagai produk pembersih gigi.

Alfian kemudian melanjutkan pada persyaratan dan peluang untuk masuk di Universitas Glasglow. Yang paling pertama adalah nilai IELTS 6,5. Itu nilai minimal dan tidak meminta nilai masimal yaitu 9. Kalau dilihat dari IPK kebanyakan sudah di atas 3.0 sehingga tidak jadi masalah.

”Jadi, sebenarnya dinilai akademik masuk, tapi mungkin masalah di tes IELTS-nya. Stick dinilai itu saja meski ada opsional TOEFL iBT kebijakan sering berubah”, terang Alfin.

Ketika ditanya mengenai Motivation Letter/Personal Statement, Alfin menjawab bahwa yang dilihat dari isinya adalah non-akademik. Yakni, menyangkut alasan mengambil jurusan itu, dampak apa yang diterima negara asal setelah lulus, dan masalah leadership.

”Sebenarnya tidak banyak yang gagal karena Personal Statement,” ujarnya.

Melihat dari sisi biaya hidup, berbeda dengan London yang membutuhkan antara 1200–1600 poundsterling. Di Glasglow cukup 900 poundsterling per bulan. Kalau dihitung selama gelar master diambil, satu tahun, total biaya sekitar 600 juta rupiah.

Tak perlu risau tentang uang. Di sana juga ada beasiswa penuh seperti dari Chevening dan LPDP. Kalau dari universitas sendiri ada, tapi hanya parsial.

”Chevening saingannya internasional, sedangkan LPDP dalam negeri dan diri sendiri kapan mau apply,” kata Alfin.

Mempersiapkan mulai sekarang akan sangat baik. Kesempatan tanpa persiapan akan menjadi kekecewaan. Jadi, sudah siapkah anda masuk di Universitas Glasglow?. (*)

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria




Dr. Sri Sumarmi, SKM., M. Si, peneliti sekaligus dosen Gizi UNAIR saat memberikan paparan dalam seminar Kamis (1/11). (Foto: Istimewa)

Kenali Stunting sebelum Serang Sang Buah Hati

UNAIR NEWS – Indikator ketiga SDG’s dalam mewujudkan pembangunan kesehatan secara global adalah “Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik”. Berdasar The Copenhagen Consensus 2012, para ekonom terkenal dunia menyatakan bahwa strategi paling cerdas memutus lingkar kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara adalah melakukan investasi perbaikan gizi penduduk. Investasi gizi sebanyak $1 mampu meningkatkan kesehatan, pendidikan, sekaligus produktivitas ekonomi suatu negara sejumlah $30.

Dalam pergelaran workshop Program Studi (Prodi) Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga pada Kamis (1/11), dibahas bahwa Investasi gizi harus dimulai sedini mungkin. Sejak seorang bayi masih di dalam rahim ibu hingga lahir ke dunia (masa balita).

Sebab, pada usia tersebut, seorang balita berada pada tahap golden age. Di mana segala sesuatu akan diserap dengan cepat oleh sang balita.

Pada umumnya, para orangtua di Indonesia hanya memperhatikan pertumbuhan balita dari sisi berat badan. Padahal, tinggi badan menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Mereka akan merasa puas apabila anaknya makan dengan lahap dan memiliki badan gemuk. Menurut mereka pula, hal itu menjadi penentu seorang anak berada dalam kategori sehat.

Sebagian besar orang mungkin belum akrab dengan istilah stunting. Stunting adalah kondisi terhambatnya pertumbuhan pada balita yang mengakibatkan tubuhnya lebih pendek daripada anak seusianya.

Fakta miris yang terjadi, menurut WHO, sekitar 182 juta anak di dunia menderita penyakit stunting. Di Indonesia sendiri, terdapat 7,8 juta dari 23 juta balita menderita penyakit yang serupa. Bila dipersentasekan, sebanyak 35,6  persen mengalami penyakit stunting. Padahal, WHO menetapkan batas toleransi stunting maksimal sebanyak 20 persen saja.

Sementara itu, Dr. Sri Sumarmi, SKM., M. Si, peneliti sekaligus dosen Gizi UNAIR menyatakan bahwa stunting sudah tidak bisa ditangani apabila balita memasuki usia dua tahun. Karena itu, para ibu perlu melihat asupan gizi anak, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Mulai hari pertama konsepsi, terbentuk embrio dalam kandungan, hingga buah hati berusia 2 tahun.

Pada dasarnya, kelangsungan hidup dan kesehatan anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ibunya. Penyebab lain stunting adalah sanitasi buruk. Sanitasi buruk berkaitan dengan terjadinya penyakit diare dan infeksi cacing usus (cacingan) secara berulang. Kedua penyakit berperan menyebabkan anak kerdil.

”Hal yang perlu dipersiapan adalah fisik calon ibu dan gizi pra-konsepsi. Gizi pra-konsepsi adalah pemenuhan kebutuhan gizi untuk mempersiapkan kehamilan sehat. Kecukupan gizi diperlukan untuk membuat cadangan makanan sehingga saat memasuki kehamilan ibu terhindar dari risiko kurang gizi dan komplikasi kehamilan,” jelasnya.

Lalu, apa saja gejala penyakit Stunting?

Gejala penyakit stunting sebenarnya sudah bisa teramati sejak sang buah hati lahir. Beberapa gejala yang terjadi, antara lain, anak mengalami pertumbuhan yang lambat sehingga lebih pendek dari anak seusianya. Selain itu, proporsi tubuh cenderung normal, tapi berat badan tidak kunjung naik malah menurun. Lalu, ketika beranjak dewasa, anak perempuan akan mengalami haids terlambat dan mudah terkena penyakit infeksi.

Risiko yang dialami oleh anak penderita stunting adalah mudah lelah, kesulitan belajar karena kemampuan kognitif melemah, risiko mengalami berbagai penyakit kronis saat dewasa, seperti diabetes, jantung koroner, kanker, dan lain-lain. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria




lustrasi: www.keyshotels.com

Tips Liburan Ala Mahasiswa Pariwisata UNAIR  

UNAIR NEWS – Menurut Undang-Undang No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha. Libur semester ganjil yang bertepatan dengan pegantian tahun baru 2019 menjadi salah satu kesempatan tak terlewatkan oleh mahasiswa Universitas Airlangga, termasuk mahasiswa yang lain, untuk menikmati istirahat akhir tahun dari hiruk-pikuk kehidupan perkuliahan yang cukup penat.

Untuk mahasiswa rantau dari luar Kota Surabaya, pulang kampung adalah tips jitu menikmati libur akhir tahun dengan budget 0 rupiah. Namun, aktivitas itu tetap menikmati suasana baru jauh dari hiruk pikuk. Lalu, bagaimana dengan mahasiswa local Surabaya yang ingin menikmati liburan akhir tahun tapi minim budget?. Berikut tim UNAIR NEWS dipandu oleh mahasiswa Program Studi Pariwisata berkesempatan merangkum tips-trik liburan low-budget untuk temani akhir tahun.

Pertama, jika dari awal Anda memang berniat memangkas budget liburan, maka tetapkan komitmen tersebut dari awal. Tujuannya, agar tidak kebinggungan di tengah liburan karena uang tak cukup.

Kedua adalah membuat itinerary atau rencana perjalanan saat merencanakan perjalanan. Itinerary sangat dibutuhkan demi lancarnya agenda traveling. Itinerary mencakup daftar destinasi, jadwal per hari, akomodasi, transportasi, sampai keperluan lain-lain seperti belanja oleh-oleh.

Kemudian untuk mencari penginapan tidak harus mahal. Sebab, akan ada banyak variasi harga menurut fasilitas. Pilihlah yang menurut Anda fasilitas yang paling penting. Hal itu optional jika ada teman yang rumahnya dekat dengan destinasi wisata akan sangat mengurangi pengeluaran Anda dalam penginapan.

”Transportasi adalah hal yang paling tidak bisa dipotong budgetnya. Maka kita harus mencari opsi transportasi yang paling murah dan aman untuk sampai di tempat wisata tujuan,” ujar Anggie, mahasiswi D3 Pariwisata UNAIR.

Menurut Anggie, budget yang paling bisa dipotong adalah makan sebelum berwisata kita bisa juga membawa bekal dari rumah untuk memangkas biaya membeli makanan. Kita harus juga memperhatikan berapa harga tiket masuk setiap tempat wisata. Sebab, hal itu tidak dapat dikurangi dalam budget awal.

Agar lebih produktif dan edukatif meski berlibur, Anggie berpesan untuk memilih lokasi wisata seperti agrowisata seperti Kampung Cokelat Blitar; Kebun Pak Budi Pasuruan, atau Agrokusuma Batu, sebagai pilihan destinasi wisata. Selamat menikmati liburan akhir tahun Ksatria Airlangga dari seluruh penjuru Nusantara…

 

Penulis: Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor: Feri Fenoria




PROF Dr Tanti Handriana, SE., M.Si dalam orasi pengukuhan guru besarnya di Aula Garuda Mukti, Lantai 5, Kantor Manajemen UNAIR, pada Sabtu (26/1/2019). (Foto: Bambang Bes)

Green Marketing dan Buying Behavior Solusi Ekonomi Selamatkan Bumi

UNAIR NEWS – Problem lingkungan akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat. Tepatnya soal meningkatnya jumlah sampah plastik di beberapa negara. Dalam lingkup yang lebih luas, ancaman atas lingkungan di bumi ini terus meningkat.

Ditandai dengan semakin berkurangnya sumber-sumber alam, lapisan ozon yang kian menipis, menyempitnya lahan hutan hujan tropis, serta berkurangnya energi tak terbarukan. Termasuk  meningkatnya polusi udara dan air serta pemasalahan sampah.

Prof Dr Tanti Handriana, SE., M.Si dalam orasi pengukuhan guru besarnya menyampaikan bahwa dalam 50 tahun terakhir, 60 persen ekosistem bumi telah terkuras. Konsumsi sumber daya alam diperkirakan akan meningkat tiga hingga enam kali lipat pada tahun 2050. Sementara itu, populasi diperkirakan akan mencapai lebih dari 9 miliar orang pada 2050.

”Salah satu penyebab kerusakan lingkungan tersebut adalah dari perilaku kita sebagai makhluk hidup,” katanya.

”Yang secara otomatis, kita berperan sebagai konsumen, baik dalam mengonsumsi produk berupa barang maupun produk berupa jasa,” imbuhnya.

Karena itu, ungkap Prof Tanti, memahami perilaku konsumen dirasa sangat penting. Konsep perilaku konsumen dimaknai sebagai proses yang melibatkan individu maupun kelompok. Yakni, dalam memilih, membeli, menggunakan, atau membuang produk, layanan atau pengalaman. Khususnya untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan.

Berbasis pada konsep tersebut, kesadaran masyarakat soal perilaku hijau sangat penting untuk dibangun. Terutama sebagai upaya solusi menghadapi berbagai ancaman terhadap lingkungan. Sangat penting menumbuhkan kesadaran soal perilaku hijau (green behavior), baik mereka (manusia) sebagai konsumen (green buying behavior), maupun bagi para pelaku bisnis (green marketing).

 

Green marketing

Prof Tanti menjelaskan, Green marketing merupakan upaya perusahaan untuk merancang, menentukan harga, mendistribusikan, dan mempromosikan produk dengan cara memperhatikan pada perlindungan lingkungan. Konsep green marketing telah ada setidaknya sejak Hari Bumi pertama diperingati, pada 1970.

”Masalah lingkungan hidup dan permintaan konsumen atas produk hijau sebagai faktor pendorong kebangkitan green marketing,” sebutnya.

Tujuannya adalah di satu sisi untuk mencapai keseimbangan antara tujuan penjualan dan keuntungan sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat serta lingkungan. Green marketing bermanfaat bagi perusahaan selaku penghasil produk. Di antaranya, memastikan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan dan profitabilitas serta menghemat uang dalam jangka panjang.

Perusahaan-perusahaan yang menerapkan green marketing, ungkap Prof Tanti, bakal menghasilkan green product. Yakni, produk yang tidak akan mencemari bumi, tidak merusak sumber daya alam, dan dapat didaur ulang.

”Suatu produk dapat dikatakan sebagi produk ‘hijau’ bila memenuhi kriteria: menghemat air dan energi, mencegah kontribusi polusi terhadap udara, air dan tanah; melindungi kualitas udara dalam ruangan; menggunakan bahan baku yang terbarukan; menghasilkan dampak lingkungan yang kecil; serta diproduksi dengan cara sadar lingkungan,” jelasnya.

 

Green Buying Behavior

Sementara itu, dari sisi konsumen dikenal istilah green buying behavior. Yakni, orang yang menghindari produk yang membahayakan kesehatan konsumen atau pihak lainnya. Juga produk yang mengakibatkan kerusakan yang signifikan terhadap lingkungan selama pembuatan, penggunaan, dan pembuangan, produk.

”Termasuk produk yang menimbulkan pemborosan yang tidak perlu dan produk yang menggunakan bahan yang berasal dari spesies yang terancam punah,” imbuhnya.

Berdasar definisi dari perilaku konsumen, tutur Prof Tanti, green buying behavior adalah mencakup semua tahapan dalam konsumen dalam mengonsumsi sebuah produk (baik barang maupun jasa) yang berorientasi pada lingkungan. Mulai tahap pemilihan produk sampai dengan pembuangan produk.

”Misalnya, akhir-akhir ini kampanye untuk menghentikan penggunaan sedotan plastik semakin digalakkan,” ucapnya.

Berdasar data Divers Clean Action, pemakaian sedotan di Indonesia setiap hari mencapai 93.244.847 batang. Jika dibentangkan, jarak puluhan juta sedotan plastik itu sama dengan lima kali perjalanan pulang pergi Jakarta–Papua.

”Hal ini memicu munculnya ide-ide kreatif mengganti sedotan plastik dengan sedotan berbahan ramah lingkungan,” katanya.

Prof Tanti berharap masyarakat turut aktif melanjutkan budaya baik tersebut, berperilaku hijau. Tepatnya sebagai agen ekonomi sebagai konsumen untuk menjaga bumi dan kerusakan.

”Di sisi lain, konsumen yang belum berperilaku hijau, mari kita mulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita,” ujarnya.

Salah satunya, lanjut Prof Tanti, mematikan lampu saat ke luar ruangan, membawa tas belanjaan sendiri saat berbelanja ke pasar tradisional atau modern (minimarket, supermarket, jugahypermarket). Selain itu menghemat penggunaan air, menggunakan lampu dan alat elektronik yang hemat energi, serta membatasi penggunaan sedotan plastik.

”Dengan demikian, kesadaran konsumen atas green buying behavior dan implementasi konsep green marketing dari pelaku bisnis serta dukungan pemrintah akan menciptakan lingkungan yang lestari dan nyaman. Termasuk menciptkan kehidupan yang sehat bagi makhluk hidup pada umumnya serta terciptanya efisiensi dan profitabiltas bagi para pelaku bisnis,” tuturnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria




sinergi bumn

Inilah Dampak Positif Sinergi BUMN

UNAIR NEWS – Business Week Universitas Airlangga 2017 adalah ajang kompetisi yang diadakan oleh Badan Semi Otonom (BSO) Forum Studi Bisnis (FSB) Fakultas Hukum.

Serangkaian acara telah disiapkan oleh panitia guna mensukseskan acara Business Week tahun ini. Salah satunya adalah mengadakan seminar nasional dengan menggandeng Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan salah satu Dosen FH UNAIR yang berkompeten di bidang hukum perdata.

Seminar yang diadakan pada Kamis (4/5) ini membahas tema “Meningkatkan Integritas KPPU Demi Terciptanya Persaingan Usaha yang Sehat dan Berkompeten”. Pesertanya berasal dari partisipan lomba Business Week, mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR, serta kalangan umum.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Dr. Sukarmi, anggota KPPU. Sukarmi menjelaskan mengenai peran KPPU dalam persaingan usaha yang meliputi tugas dan wewenang KPPU, pendekatan struktur pasar, bentuk-bentuk kegiatan yang dilarang, kartel, serta sinergi BUMN dan persaingan usaha.

“Kartel merupakan kejahatan yang luar biasa. Karena dampak kartel akan seketika dirasakan. Misalnya melonjaknya harga bawang putih. Ketika bawang putih harganya naik, maka pembeli akan merasakan akibat dari kenaikan tersebut. Pelaku usaha dilarang menguasai penerimaan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa,” ungkap Sukarmi.

Materi selanjutnya dijelaskan oleh dosen pengampu Hukum Persaingan Usaha, Ria Setyawati, LL.M. Ria memaparkan peran hukum dalam mengatur persaingan usaha di Indonesia yang meliputi sinergi BUMN dan pegaruhnya dalam persaingan usaha di Indonesia.

“Dampak sinergi BUMN terhadap persaingan usaha adalah terjadinya pemusatan kekuatan pasar, berubahnya struktur pasar, potemsi terjadinya monopoli, potensi adanya barrier to entry bagi pelaku usaha pesaing, dan potensi peniadaan persaingan,” tutur Ria.

Ria mengatakan, ada pula dampak positif sinergi BUMN yakni efisiensi, kontrol dari pemerintah, serta peningkatan APBN dari sektor pajak maupun non pajak.

Seminar yang dimoderatori oleh Kukuh Leksono, LL.M ini mendapat respon positif dari para peserta. Hal itu dapat dilihat dari antusias peserta yang sering mengajukan pertanyaan dan berdiskusi dengan para pemateri.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Defrina Sukma S




unair

Satu Lagi Jurnal UNAIR Terakreditasi Nasional

UNAIR NEWS – Jurnal Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease (IJTID) yang dikelola oleh Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga terakreditasi nasional pada 30 Mei lalu. Jumlah ini menambah daftar jumlah jurnal di UNAIR yang terakreditasi nasional. Dengan demikian, jumlah jurnal di UNAIR yang terakreditasi nasional adalah sejumlah sembilan buah jurnal.

Ditemui UNAIR NEWS Selasa (6/6), Ketua Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah (PPJPI) UNAIR Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes mengatakan, jurnal IJTID telah melalui review dewan juri dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI sejak 31 Maret. Komponen penilaian itu meliputi format penulisan, kualitas substansi artikel, keajekan terbit, tata bahasa, dan masih banyak poin penilaian lain.

Pada mulanya, sejak didirikan tahun 2010, IJTID bertujuan mewadahi hasil riset peneliti-peneliti di ITD agar memiliki wadah untuk melakukan publikasi. Yanti menuturkan, sejak awal terbit IJTID telah menggunakan Open Journal System (OJS). Padahal, lembaga jurnal nasional baru ‘hijrah’ menuju OJS pada 1 April 2016 lalu.

Dengan terakreditasi jurnal ini, Yanti berharap IJTID bisa menjadi alternatif pilihan bagi sivitas akademika UNAIR maupun universitas lain di Indonesia sebagai untuk mendiseminasi karya-karya mereka. Sesuai dengan komitmen awal, menurut Yanti yang juga selaku chief editor IJTID, jurnal ini terus berproses menuju jurnal terindeks internasional, seperti Scopus maupun Thomson.

Setelah terakreditasi nasional, bukan berarti beban tanggungjawab telah selesai. Konsistensi harus bisa ditunjukkan dengan mempertahankan akreditasi setiap lima tahun sekali. Sebab, kata Yanti, beberapa jurnal mengalami penurunan akreditasi karena beberapa sebab. Seperti sebaran penulis yang kurang meluas, kebaruan topik artikel, maupun keajekan untuk terbit tepat waktu.

Yanti menuturkan, IJTID disupport oleh ahli penyakit infeksi di seluruh dunia, baik peneliti maupun pengajar internasional. Artinya, dukungan jejaring IJTID terbilang banyak.

Dengan diakuinya jurnal IJTID, Yanti berharap agar para pengelola jurnal di lingkungan UNAIR turut serta mendorong jurnal-jurnal di UNAIR menuju akreditasi nasional dan internasional. Sebab, PPJPI adalah unit kerja yang membantu memberi akses, informasi, maupun fasilitas kepada unit terkait yang menjadi pengelola jurnal.

“Kami ini supporting unit, karena otoritas tetap berada pada masing-masing pengelola jurnal yang ada di fakultas, dengan memberi pelatihan, pendampingan, sosialisasi pengembangan jurnal, info terkait review, dan lain sebagainya. Sehingga harus ada komitmen dari pengelola jurnal,” imbuh Yanti. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor    : Defrina Sukma S.