Tim Atlet Denali Bertemu Pendiri Wanala

UNAIR NEWS – Sebelum menuju Amerika Serikat untuk mendaki Gunung Mc. Kinley, tim atlet beserta anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga menyambangi alumni. Pertemuan itu dilakukan di Jakarta pada Minggu (14/5) lalu.

Muhammad Faishal Tamimi, ketua ekspedisi sekaligus atlet Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX), mengatakan para alumnus merupakan penoreh sejarah yang melahirkan UKM Wanala pada 43 tahun lalu.

Pertemuan dengan para senior memberikan kesan tersendiri bagi tim Wanala. Perbedaan umur, generasi, zaman, teknologi, maupun pergaulan memang sudah terpaut jauh. Namun, pertemuan antara para senior dan junior seakan melipat jarak perbedaan.

“Sebelumnya pada waktu upacara pemberangkatan 8 Mei, kami bertemu dengan pendiri organisasi mas Machsus. Sudah 43 tahun umur Wanala saat ini, dan sudah 43 tahun pula perbedaan generasi yang terlewati. Namun, beliau tetap bangga mengenakan identitas jaket oranye khas Wanala UNAIR,” tambah Faishal.

Dalam pertemuan tersebut, hadir pula alumnus Wanala dari berbagai angkatan. Selain Machsus, ada pula Ibnu Purna, Dwi Sulistyo Cahyo, dan Rudy. Para alumnus tersebut berbagi motivasi dan cerita kepada para atlet dan anggota Wanala lainnya.

“Di sinilah kalian berproses, di Wanala semuanya saya dapatkan, jika kalian bersungguh-sungguh berorganisasi nanti akan kalian rasakan efeknya seperti yang sudah kami lalui. Berhati-hatilah ketika mendaki Denali nanti sebab cuaca di sana saat ini sedang tidak dapat diprediksi,” tutur Rudy.

Selain itu, para alumnus juga berharap agar kekeluargaan antar anggota dan senior tak pernah putus. Di samping mempererat silaturahim, kerekatan antar anggota dan senior dapat dimanfaatkan untuk transfer ilmu.

“Kami ini selaku ALB (anggota luar biasa), meskipun sudah tidak berkecimpung lagi, namun masih terbuka untuk transfer ilmu supaya tidak putus dalam satu generasi,” terang Dwi.

Pertemuan antara alumni dan anggota UKM Wanala terjadi selang dua hari usai upacara pelepasan. Sembilan anggota tim ekspedisi berangkat menuju Jakarta pada Rabu (10/5). Selama di Jakarta, tim ekspedisi bertemu dengan para alumnus, melakukan berbagai cek peralatan, dan pembinaan jasmani.

Setelah selama lima hari berada di Jakarta, pada Selasa (16/5) malam, tim atlet AIDeX dijadwalkan bertolak ke Bandara Anchorage, Alaska, untuk mempersiapkan diri dan mendaki gunung setinggi 20.000 kaki itu.

Denali bukanlah puncak pertama yang didaki oleh anggota UKM Wanala. Empat dari tujuh puncak tertinggi yang telah tim digapai adalah Puncak Cartens, Gunung Jaya Wijaya (Indonesia/1994), Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus (Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013).

Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits mereka.

Penulis: Wahyu Nur Wahid (anggota tim AIDeX)

Editor: Defrina Sukma S




Alumnus FK Ini Presentasi Riset Vaksin Tuberkulosis di 20 Negara

UNAIR NEWS – Tingginya angka prevalensi penyakit tuberkulosis, mendorong sejumlah negara untuk mengembangkan riset vaksin tuberkulosis. Salah satu pengembang riset vaksin itu adalah Satria Arief Wibowo, alumnus S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, yang kini menempuh studi doktor di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Dalam perkembangannya hingga saat ini, penelitiannya mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Pada tahun pertama dan tahun kedua studi doktor, ia menguji coba kandidat vaksin pada hewan coba. Masuk ke tahun ketiga, Satria bersama tim peneliti lainnya sedang berkonsentrasi melakukan uji coba pada manusia. Bulan Maret 2017 lalu, ia memulai uji klinis pada manusia di Rumania.

“Tim kami banyak berkolaborasi dengan negara-negara Eropa Timur seperti Romania, Belarussia, dan Lithuania, di mana jumlah penderita TB masih tinggi,” ungkapnya.

Satria fokus mengembangkan strategi vaksinasi terapeutik untuk TB. Strategi ini bekerja dengan cara menggabungkan antara vaksinasi dengan pengobatan. Kombinasi ini diharapkan dapat memperpendek masa terapi dan meningkatkan angka kesembuhan pada penderita TB baik untuk dewasa maupun anak-anak.

Dari hasil pengamatannya sejauh ini, secara umum  vaksin TB memerlukan strategi khusus karena Mycobacterium tuberculosis sebagai kuman penyebab TB merupakan organisme intraseluler sehingga cell-mediated immunity lebih berperan dibandingkan respons berbasis antibodi.

“Kuman TB memiliki kemampuan untuk menjadi dorman atau dikenal dengan kuman TB persisters. Sehingga dalam kandidat vaksin yang diujicobakan, kami mengembangkan latency antigens agar kuman TB persisters tersebut dapat dikenali oleh sistem imun dan tertanggulangi secara paripurna,” ungkap Satria.

Rencananya, penelitian ini akan dilangsungkan hingga medio tahun 2018 dan akan menjadi bagian akhir untuk disertasi program doktoral yang saat ini sedang ia tuntaskan.

Menjalin relasi dengan peneliti di negara lain

Kegiatan penelitiannya ini dilibatkan bersama sejumlah mahasiswa program pendidikan dokter  spesialis anak dan mahasiswa kedokteran. Satria menjadi peneliti termuda satu-satunya dari Asia Tenggara.

Selain itu, Satria juga telah berkeliling ke 26 negara di Eropa dan Afrika untuk penelitian, presentasi hasil riset di sejumlah kongres dan menjalin relasi dengan sejawat peneliti. Hasil riset yang pernah dipresentasikan di antaranya adalah “New Approaches to Vaccines for Tropical Diseases” dalam kongres Keystone Symposia di Afrika Selatan yang didanai Bill and Melinda Gates Foundation pada Mei tahun 2016.

Dalam kongres yang dihadiri delegasi dari 50 negara tersebut, Satria menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia.

Selain di Afrika Selatan, Satria juga pernah mempresentasikan risetnya di hadapan ratusan peneliti dunia dalam Congress 47th World Conference of International Union against Tuberculosis” di Liverpool, Inggris Raya, pada Oktober 2016 lalu.

“Saya bersyukur dapat  terlibat dalam riset berskala internasional semacam ini. Hal yang dapat saya pelajari di sini adalah dokter sebagai klinisi sebenarnya tidak sebatas berkutat menangani pasien di rumah sakit saja. Dokter sebenarnya punya kesempatan untuk aktif terlibat di dalam aktivitas riset. Tujuannya untuk menghasilkan inovasi pengobatan demi kepentingan pasien,” ungkapnya.

Jauh sebelumnya, Satria menempuh studi S-1 Pendidikan Dokter FK UNAIR dan menjadi dokter umum pada Maret 2014. Pada saat itu, usianya baru menginjak 21 tahun.

Alumnus SMPN 1 dan SMAN 5 Surabaya tersebut masuk FK UNAIR melalui jalur prestasi atau sekarang disebut SNMPTN pada tahun 2008. Saat itu, usianya masih 15 tahun. Bisa dibayangkan, saat usianya 15 tahun yang seharusnya masih duduk di kelas I SMA, namun Satria sudah menjadi mahasiswa kedokteran.

Setelah lulus sarjana kedokteran, Satria mencoba meraih beasiswa doktor di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Berkat rekomendasi Profesor Tjip S. Van Der Erf, seorang ahli penyakit infeksi, dan setelah melalui proses wawancara melalui Skype dengan pihak London School of Hygiene and Tropical Medicine, Satria  akhirnya diterima menjadi mahasiswa doktor dengan beasiswa meskipun belum mempunyai gelar master.

“Saya bersyukur, di usia 24 ini saya telah berkesempatan untuk mengunjungi total 35 negara-negara di dunia ini. Mengunjungi banyak negara-negara di dunia telah membuka mata saya, akan keberagaman sistem nilai, sosial, maupun budaya yang turut berpengaruh dalam sistem pelayanan kesehatan dan kemajuan riset di suatu negara,” ungkap Satria yang pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FK UNAIR tahun 2012.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S




Ratih Pusparini, Alumnus Pembawa Misi Perdamaian di Negara Konflik

UNAIR NEWS – Menjadi perempuan pertama Indonesia yang dikirim ke medan perang sebagai pasukan keamanan menjadi salah satu kebanggaan tersendiri baginya. Ia merasa senang ketika ditunjuk oleh atasannya di Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk diterjunkan langsung di daerah yang penuh pergolakan.

Ia adalah Ratih Pusparini, alumnus S-1 Sastra Inggris Universitas Airlangga tahun 1994 yang bertugas sebagai pembawa misi perdamaian di negara konflik. Meski sudah empat tahun berselang, pengalaman yang ia dapatkan usai bertugas di negara konflik masih begitu jelas tersimpan dalam ingatannya. Tentang bagaimana peperangan antar suku, patroli tentara, dan bunyi timah panas yang berdesing di indera pendengarnya setiap hari.

Tahun 2008 menjadi tahun bersejarah dalam karirnya. Pada tahun itu, Ratih pertama kali mengemban tugas sebagai military observer misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Demokratik Kongo. Ratih bercerita, suasana politik di Kongo kala itu amat dinamis. Penuh ketidakpastian.

“Masih banyak pertempuran antar suku, antar kelompok-kelompok pemberontak yang tidak hanya berasal dari Kongo tapi juga dari negara-negara di sekitarnya, seperti dari Uganda, Rwanda dan Republik Afrika Tengah. Kami pernah harus tinggal di rumah selama tiga hari tidak diijinkan beraktivitas di luar pagar karena keamanan yang tidak terjamin,” kisah perwira TNI Angkatan Udara itu.

Pada bulan Maret tahun 2012, ia kembali mendapatkan tugas ke Lebanon. Ia menjadi perwira siaga yang memonitor jalannya operasional United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Selang satu bulan berjalan, pada bulan April, ia mendapat perintah dari Mabes TNI untuk bergabung dengan tim aju di Suriah sebagai military observer dan staf operasi di Markas Besar United Nations Supervision Mission in Syria (UNSMIS).

Namun, Ratih tak lama berada di Suriah, negeri yang kini diguncang keberadaan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Misinya diakhiri pada tiga bulan kemudian karena berbahaya bagi keselamatan pembawa misi perdamaian.

Ia pun kembali ke Lebanon pada bulan September 2012 sebagai Shift Chief Joint Operation Centre UNIFIL. Kali ini, misinya berlangsung selama satu tahun. Di awal penugasan, suasana Lebanon cukup kondusif. Namun, sekitar awal tahun 2013, kontak senjata sempat terjadi di beberapa tempat karena iklim politik di negara tetangganya, Suriah, juga memanas.

Perempuan, agen perdamaian dunia

Mendapatkan mandat sebagai salah satu perempuan militer pertama yang ditugaskan ke negara bertikai menjadi tanggung jawab yang tak mudah bagi Ratih yang kini berpangkat letnan kolonel. Ia merasa bahwa tanggung jawab ini perlu ditunjukkan melalui reputasi yang baik kepada pimpinan, senior, dan junior.

Di penugasan pertamanya di Kongo dan Suriah, ‘hanya’ sekitar 20 perempuan militer yang bertugas. Para perempuan itu berasal dari Indonesia (2 orang), Tiongkok, Afrika Selatan, India, Ghana, Kanada, Malawi, dan Uruguay. Lainnya adalah laki-laki militer yang jumlahnya mencapai 17 ribu pasukan berseragam militer, polisi, dan staf sipil.

Namun, perihal perdamaian, persatuan dan kesatuan adalah tanggung jawab seluruh anak bangsa. Tak pandang laki-laki dan perempuan. Meski demikian, perempuan kelahiran Denpasar 48 tahun lalu ini memandang bahwa perempuan bisa dijadikan agen perdamaian di berbagai wilayah konflik.

“Kita butuh kepercayaan dari mitra kerja kita yang notabene adalah lelaki. Mereka perlu memandang bahwa perempuan pun mampu melaksanakan tugas yang sama dengan yang mereka kerjakan karena sebelum para perempuan diberangkatkan dalam misi, mereka menjalani berbagai pelatihan dan persiapan yang memadai,” tegas Ratih yang semasa kuliah mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Merpati Putih.

Sejak menjalani misi perdamaian di wilayah bertikai, Ratih yang juga peraih gelar master di Universitas Monash, Australia, diganjar penghargaan Women of Change dari Pemerintah Amerika Serikat tahun 2013. Penghargaan tersebut diberikan bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional saat ia menjalani misi di Lebanon. Ia juga mendapat tanda kehormatan berupa The United Nations (UN) Medal, UN Medal Syria, dan UN Peacekeeping Medal in Lebanon.

Ratih yang menamatkan sekolah dasar hingga menengah atas di Jakarta itu terus melantangkan suaranya hingga ke tingkat forum PBB. Pada akhir Februari 2017 lalu, Ratih bersama Kristin Lund (mayor jenderal asal Norwegia yang juga komandan misi perdamaian PBB) berbicara dalam sesi forum United Nations Special Committee for Peacekeeping Operations di New York.

Dalam forum itu, ia menyampaikan enam pokok pikiran mengenai keterlibatan perempuan dalam misi perdamaian PBB. “PBB harus membuat langkah-langkah afirmatif untuk menambah jumlah perempuan dalam misi PBB. Perlu ada perubahan kebijakan pro perempuan, dan reformasi budaya dan mindset,” cerita Ratih.

Adequate resources (sumber daya yang memadai) untuk meningkatkan peran perempuan dalam misi pemeliharan perdamaian, dan perlunya gender advisory network yang berisikan perempuan-perempuan pengambil keputusan untuk memastikan perspektif gender di semua tingkatan. Selain itu, perlu adanya penugasan perempuan di luar feminine duties seperti medis, logistik, dan administratif,” imbuh Ratih yang kini menjabat sebagai Kepala Sub Departemen Bahasa, Departemen Akademika, Akademi Angkatan Udara.

Ratih lantas bercerita, bahwa kesempatan perempuan untuk menjadi pembawa misi perdamaian sebenarnya terbuka lebar. Perempuan haruslah memiliki kondisi fisik dan mental yang baik, mampu berbahasa asing, dan kemandirian. Ada pula proses seleksi yang harus diikuti dan dilaksanakan terpusat di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

“Peluang terbuka lebar bagi perempuan untuk bergabung dalam misi perdamaian PBB. Tak hanya militer dan polisi, warga sipil pun bisa bergabung. Kita punya banyak relawan PBB perempuan di berbagai misi. Kita punya banyak perempuan TNI dalam misi di Lebanon dan Sudan,” tutur Ratih.

Secara pribadi, ia pun berharap agar perempuan diberi kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam perdamaian dunia. Ia mengatakan, secara perlahan namun pasti, dunia akan menjadi kuat dan damai.

Terkait dengan almamaternya, Ratih menuturkan bahwa keberhasilan UNAIR bertumpu pada sivitas akademika. “Kita harus punya kepedulian yang tinggi dari semua pihak. Baik itu rektorat, dekanat, dan mahasiswa. Ini untuk mendukung keberhasilan UNAIR menuju world class university,” pesannya.

“Good luck, UNAIR!” pungkasnya.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor    : Binti Q. Masruroh




Berawal Dari Bimbel Hingga Mendirikan Rumah Sakit

UNAIR NEWS – Disela kemeriahan reuni akbar yang digelar oleh Alumni Farmasi Airlangga Surabaya (ALFAS) Sabtu malam (11/3), tim UNAIR NEWS bertemu dengan salah satu alumni yang sukses meniti karir dalam mendirikan Rumah Sakit Dian Husada di Mojokerto. Ialah Drs. Sugeng Wijono, Apt., alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga angkatan tahun 1978.

Dalam reuni yang dilangsungkan di Salt Resto Semarang, Sugeng sapaan akrab bapak dua anak tersebut menjelaskan, jauh sebelum RS. Dian Husada berdiri, ia bersama rekan-rekannya mendirikan sebuah lembaga belajar.

“Semua ini berawal dari bimbingan belajar yang saya dirikan bersama Prof. Djoko Agus Purwanto. Setelah Prof. Djoko fokus jadi dosen, saya lanjutkan bimbel hingga tahun 1996,” terang Sugeng.

Tekad Sugeng tidak berhenti sampai di situ. Kepekaannya dalam melihat kondisi masyarakat membuatnya terus berupaya memberikan suatu hal yang bisa dimanfaatkan secara bersama. Tahun 2007, Sugeng berniat membeli lahan di daerah Sooko, Mojokerto. Lahan itulah yang kemudian dibangun RS. Dian Husada.

“Saya mulai merintis RS itu tahun 2007. Saya beli lahan dulu. Kemudian tahun 2010 RS mulai kami bangun sampai tahun 2016. Kemudian awal tahun 2017 baru saja diresmikan,” paparnya.

Laki-laki kelahiran Mojokerto, 10 Maret 1958 itu menjelaskan, banyak tantangan yang ia hadapi selama mendirikan lembaga pendidikan hingga rumah sakit. Namun, tekad pengabidan dan niat untuk bisa menjadi manusia yang bermanfaat menjadi salah satu alasan kuat Sugeng bisa bertahan hingga saat ini.

“Tantangannya banyak sekali, terutama materi. Untuk hal pendanaan, pembangunan RS memang sulit sekali seperti dalam proses pembangunan dan pengadaan alat kesehatan,” cerita Sugeng.

“Kalau bilang RS, ini bukan untuk bisnis, tapi lebih dari itu adalah bentuk pengabdian dan bermanfaat untuk orang lain. Ini juga memang kewajiban, saya tidak berandai apakah untung tidaknya, yang penting manfaatnya,” tambahnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Binti Q. Masruroh




Reuni Akbar Alumni Farmasi, Terapkan Falsafah Sapu Lidi

UNAIR NEWS – “Kita ini harus menerapkan falsafah sapu lidi”. Itulah pernyataan yang dilontarkan oleh perwakilan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Airlangga (PP IKA-UA) Dr. Suko Hardjono, MS., Apt., pada saat menghadiri reuni akbar IKA Fakultas Farmasi di Semarang, Sabtu (11/3).

Di hadapan peserta alumni yang tergabung dalam Alumni Farmasi Airlangga Surabaya (ALFAS), Suko juga menjelaskan peran IKA baik di pusat, wilayah, maupun cabang. Suko meminta kepada para alumnus agar tetap menjalin hubungan baik dengan kolega lainnya, meski berbeda fakultas dan berbeda bidang keilmuan.

“Lidi itu kalau cuma satu kan tidak ada gunanya, tapi ketika bersatu bisa digunakan untuk banyak hal. Nah reuni ini semoga bisa demikian, menyatukan kita untuk melakukan banyak hal. Pengurus pusat bangga dengan kekompakan ALFAS,” terangnya dalam acara yang dihadiri alumnus FF tahun 1963-2002.

Untuk menjaga dan mengembangkan jaringan antar alumni, Suko juga menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengembangkan IKA di berbagai wilayah dan cabang. Selain itu, ke depan pihaknya juga akan mengadakan kongres IKA-UA yang akan menghadirkan berbagai alumni dari lintas generasi.

Insya Allah tanggal 15 April nanti kita akan gelar kongres IKA. Saya berharap teman-teman di daerah bisa mendukung IKA pusat maupun wilayah masing-masing,” papar Suko yang juga pengajar FF.

Senada dengan Suko, perwakilan IKA-UA Provinsi Jawa Tengah M. Sadikin mengatakan bahwa kekompakan alumni sangat dibutuhkan. Di dalam dunia kerja, misalnya, Sadikin menjelaskan bahwa ia kerap melibatkan tenaga dan bantuan alumni diluar keilmuannya.

“Di sini (jateng, red) IKA saling membantu. Kita sudah waktunya saling untuk terus sinergi. Kalau tidak, bisa kalah dengan kampus yang lain. Kita juga harus berkarya sampai mati,” terang alumnus angkatan tahun 1974 tersebut.

Selain kekompakan, ada satu hal penting yang menjadi pembahasan dalam reuni akbar lintas angkatan tersebut, yakni kas alumni. Drs. Suharno, Apt., selaku Sekretaris Jenderal IKA-FF UNAIR mengatakan bahwa keberadaan kas tidak hanya untuk kebutuhan alumni saja. Dana kas yang ada bisa digunakan untuk membantu riset mahasiswa FF yang masih studi dan juga membantu mahasiswa saat mengikuti perlombaan di luar negeri.

“Kemarin ada mahasiswa yang ke Jepang, Alhamdulillah alumni bisa membantu. Saya berharap untuk kas alumni ini tidak hanya bersumber dari iuran, tapi bisa dari usaha bersama yang kita lakukan,” tegas Suharno.

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Defrina Sukma S




“ALFAS” Gelar Reuni Akbar di Semarang

UNAIR NEWS – Ikatan Alumni Fakultas Farmasi (IKA-FF) Universitas Airlangga atau yang sering disebut Alumni Farmasi Airlangga Surabaya (ALFAS), menggelar reuni akbar lintas angkatan di Semarang, Jawa Tengah. Pada reuni yang digelar Sabtu malam (11/3), hadir lebih dari dua ratus alumni yang berasal dari angkatan pertama tahun 1963 hingga angkatan tahun 2002. Acara yang digelar di Salt Resto Semarang itu dipandu langsung oleh Drs. Suharno, Apt., selaku Sekretaris Jenderal IKA-FF UNAIR.

“Jadi ALFAS ini memang nama untuk IKA fakultas kami, biar unik dan beda dengan yang lainnya,” terang Suharno sesaat sebelum acara dimulai.

Suharno yang juga alumni angkatan tahun 1978 tersebut menjelaskan, reuni akbar kali ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen dan silaturahmi semata. Lebih dari itu, mantan direktur PT. Kimia Farma tersebut mengatakan, pihaknya ingin mengajak seluruh alumni yang hadir untuk menggagas suatu hal yang nantinya bisa dimanfaatkan bersama, terkhusus untuk dunia industri farmasi.

“Dalam acara ini akan saya kenalkan sebuah badan konsultan di bidang farmasi yang bernama Global ALFAS Solusindo,” jelasnya.

Menambahkan pernyataan Suharno, Ketua Harian IKA-FF UNAIR Dr. Retna Sari, M.Sc., Apt., mengatakan, dengan kegiatan seperti ini, ALFAS diharapkan semakin kompak. Meski banyak pimpinan tidak bisa hadir oleh sebab waktu yang bersamaan dengan acara wisuda, hal itu tidak menjadi masalah baginya.

Dalam sambutannya Retna menegaskan, peran alumni sangat penting untuk turut serta mengembangkan almamater.

“Kami butuh masukan untuk perjuangan fakultas. Tahun depan kita sudah memasuki 55 tahun pendidikan farmasi di UNAIR. Artinya, kita memasuki lustrum ke 11. Mari bersama-sama menyongsong lustrum ke depan dengan gagasan yang baik untuk almamater,” papar Retna.

Selain dibuka dengan ramah tamah dan sambutan, dalam acara tersebut juga diisii dengan berbagai penampilan dari perwakilan tiap angkatan. Mulai adu unjuk suara, berfoto, hingga berjoget bersama.

Terakhir, acara ditutup dengan pemberian piala bergilir kepada angkatan yang menampilkan kreatifitas paling baik, dan tentunya, angakatan yang paling kompak. Selain itu, acara juga dipungkasi dengan pemaparan dari Bagus Dwi Prasetiyo, S.Psi., selaku staf Wakil Rektor IV. Dalam pemaparannya, Bagus memperkenalkan web baru alumni dan memberikan arahan untuk mengisi database alumni.

“Saya harap alumni yang hadiri di sini bisa mengisi database alumni di laman berikut http://alumni.unair.ac.id/site/menu/show/166/database-alumni.html ,” jelasnya.(*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor   : Binti Q. Masruroh




Semua Alumni UNAIR Dihimbau Segera ‘Update’ Data di Web IKA

free instagram followermake up wisudamake up jogjamake up prewedding jogjamake up wedding jogjamake up pengantin jogjaprewedding jogjaprewedding yogyakartaberita indonesiayogyakarta wooden craft



Akmal: Prof. Hatta Ali Representasi Pengabdian Almamater Tercinta UNAIR untuk Bangsa

free instagram followermake up wisudamake up jogjamake up prewedding jogjamake up wedding jogjamake up pengantin jogjaprewedding jogjaprewedding yogyakartaberita indonesiayogyakarta wooden craft



Eva Kusuma Sundari, Dari Akademik ke Meja Politik

UNAIR NEWS – Dunia politik memang penuh taktik. Selain beragam partai yang menjadi salah satu gawang arena, berbagai latar belakang agama, suku, dan pendidikan juga turut menjadi keberagaman yang mengisi ramainya dunia politik. Keberagaman latar belakang pula yang menjadi pijakan setiap politisi dalam mengambil kebijakan. Latar belakang pendidikan yang kuat misalnya, akan menentukan arah kebijakan berdasarkan riset dan data yang kuat di lapangan.

Hal itulah yang kini diterapkan oleh politikus jebolan Universitas Airlangga Eva Kusuma Sundari, berangkat dari rahim akademisi, Eva yang sempat menjajaki dunia akademisi dengan menjadi dosen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menyatakan, setiap kebijakan yang ia ambil selalu berangkat dari data dan riset lapangan.

“Karena mengelola keputusan publik, harus dibekali rasionalitas, riset, dan data. DPR harusnya seperti itu, bukan emosi, suka tidak suka, baik buruk, tapi juga berangkat dari data. Agar mengambil keputusannya tidak ngawur,” terang Eva saat berkunjung ke UNAIR awal bulan Februari.

Eva yang juga menjadi komisi XI DPR RI menuturkan, latar belakang pendidikan yang baik sangat memiliki peran yang penting di parlemen. Selain kekuatan pada riset dan data, baginya politisi dengan pendidikan yang baik juga akan menjunjung moralitas yang baik pula. Selain itu, pola pikir rasional akademisi sangat menentukan arah kebijakan yang akan diterapkan.

“Saya pikir penting, karena akademisi moralitasnya harus publik, bukan maunya golongan. Rasional jangan emosional. Kebijakan publik yang diambil dari rasionalitas bakal bagus,” imbuh Eva.

Perempuan asal Nganjuk tersebut juga mengaku bangga terhadap almamaternya. Eva juga bertutur bahwa banyak pengalaman berharga yang ia dapatkan selama melakoni studi di program studi S-1 Ekonomi Pembangunan. Semasa kuliah, Eva aktif berorganisasi. Ia pernah menjadi pengurus senat akademik (Badan Eksekutif Mahasiswa, red), dan menggagas berdirinya gugus depan pramuka di UNAIR.

“Terima kasih buat UNAIR yang telah mendidik saya hingga bisa seperti sekarang ini,” pungkas Eva bangga.

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Defrina Sukma S




Berharap IKA-FPK Berperan Menunjang Capaian Almamater

UNAIR NEWS – Pengurus Ikatan Alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan (IKA-FPK) Universitas Airlangga periode 2016-2020, dilantik oleh Sekretaris II Pengurus Pusat IKA Universitas Airlangga, di Lantai V Gedung FPK UNAIR, Minggu (12/2). Hadir dalam acara tersebut antara lain Wakil Rektor IV Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., M.Sc., Dekan FPK Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., MP., Ketua IKA-UA Wilayah Jatim Dr. Hendy Hendarto, dr., Sp.OG., Wakil Dekan FPK, dan beberapa pengurus PP IKA-UA dan IKA-UA Jatim.

Dalam Surat Keputusan PP IKA-UA Nomor 008/SK/PP-IKA UA/X/2016 tersebut, IKA-FPK periode 2016-2020 ini dipimpin oleh Arief Syaifurrisal, Wakil ketua Annur Ahadi Abdillah. Sekretaris Niko Pradipta, wakil sekretaris Okky Hermawan. Bendara Almira Fardani Lahay, dan wakil bendahara Galuh Ajeng Kusumaningrum.

Selain kepengurusan inti juga dilengkapi dengan enam bidang, yaitu bidang Hubungan Alumni, bidang media, bidang jaringan ilmuwan dan akademis, bidang jaringan pengusaha, bidang jaringan birokrasi, dan bidang jaringan professional.

Dalam sambutannya, Dekan FPK Prof. Mirni Lamid mengatakan sangat menaruh harapan kepada pengurus IKA-FPK UNAIR yang usianya rata-rata masih relatif muda ini, terutama dalam melakukan pendataan alumni yang tersebar dimana-mana. Selain itu juga untuk mendorong alumni melakukan update data. Dengan support pengurus sebelumnya dan bimbingan PP IKA-UA, ia yakin pekerjaan cukup berat yang membutuhkan ketelatenan ini bisa terlaksana.

”Fakultas akan men-support untuk tugas-tugas ini, termasuk update data alumni secara baik, sehingga diharapkan bisa memberi kontribusi signifikan bagi FPK. Selamat bekerja, mari rapatkan barisan untu berkarya di masyarakat dan untuk almamater,” kata Prof. Mirni Lamid.

Sekretaris II PP IKA-UA Cak Budi Widajanto dalam sambutannya antara lain mengatakan, menjadi pengurus IKA merupakan kerja sosial dan pengabdian tanpa pamrih. Sehingga akan merasa berat jika tanpa disertai keterpanggilan jiwa untuk berorganisasi. Kepada pengurus IKA-FPK yang relatif masih muda ini, rata-rata usianya masih dibawah 40 tahun, Cak Budi yakin dan optimis laju organisasi IKA-FPK akan lebih cepat.

PENGURUS IKA-FPK mendapat ucapan selamat dari Wakil Rektor IV UNAIR dan pengurus PP IKA dan IKA-UA Jatim. (Foto: Bambang Bes)

”IKA fakultas yang lain setelah pelantikan baru beberapa minggu kemudian mengadakan rapat kerja. Tetapi IKA-FKP ini setelah dilantik langsung mengadakan Raker. Ini saja lebih banter dari yang pernah saya alami di IKA-FE tahun 2007 lalu,” kata alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR ini.

Didepan para pengurus baru IKA-FPK, Sekretaris II PP IKA-UA itu juga memperkenalkan para aktivis IKA yang hadir. Mereka itu baik dari Pengurus Pusat IKA-UA antara lain Cak Amang Rofii, serta Pengurus IKA-UA Wilayah Jawa Timur. Bahkan juga hadir perwakilan IKA-UA Kabupaten Madiun.

Sedangkan Wakil Rektor IV Universitas Airlangga, Junaidi Khotib, juga menyatakan optimistis terhadap pengurus IKA-FPK yang masih relatif muda ini, seraya berharap empat tahun kedepan mampu menunjukkan kontribusi nyata untuk memberi manfaat seluas-luasnya terhadap kemanusiaan. Tentu saja melalui karyanya yang dibangun berdasarkan kompetensi para alumni.

”Yang jelas, antara universitas dengan alumni itu tidak bisa dipisahkan. Untuk urusan wilayah akademik memang kampuslah tempatnya, tetapi untuk urusan universitas di masyarakat maka pada alumninyalah tempatnya. Jadi keduanya tidak bisa dipisahkan. Ada suatu hal di mana kita bekerja untuk universitas, dan ada suatu hal saat kita bekerja untuk ikatan alumni,” kata Junaidi Khotib.

Warek IV juga berharap alumni mampu berkontribusi terhadap capaian universitas tahun 2020 nanti di mana UNAIR diharapkan pemerintah mampu menembus peringkat 500 besar dunia. Untuk itulah peran alumni dalam berkarya di masyarakat sangat besar untuk menunjang target tersebut. (*)

Penulis: Bambang Bes