Penyerahan cinderamata miniatur RS Terapung seusai penandatanganan MoU. (Foto: Istimewa)

Satu Tahun Bakti Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga untuk Indonesia

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR bersama dengan Yayasan Ksatria Medika Airlangga menggelar peringatan satu tahun berjalannya program Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) pada Sabtu (9/2). Acara bertajuk “Setahun Bakti Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga” tersebut diselenggarakan di Aula Fakultas Kedokteran Kampus A UNAIR dengan mengundang semua pihak yang telah terlibat dan  membantu RSTKA.

Dalam acara tersebut juga berlangsung penandatanganan MoU antara Dekan FK UNAIR, IKA-UA, RSUD Dr. Soetomo, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Yayasan Ksatria Medika Airlangga untuk bisa bersinergis melaksanakan kegiatan RSTKA selanjutnya. Selain itu, ada pula prosesi pemberian tali asih penghargaan dari FK UNAIR kepada 10 orang yang mewakili relawan bakti selama kurun waktu 2017-2018, pemaparan laporan refleksi kegiatan kapal RSTKA, penyampaian testimoni para relawan bakti Ksatria, serta penyampian rencana kegiatan RSTKA tahun 2019.

Kapal pinisi sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter yang dibangun di Galesong, Sulawesi Selatan tersebut pertama kali berlayar pada 9 September 2017. Selama satu tahun berjalan, RSTKA UNAIR telah mengunjungi 22 pulau, menangani 1.532 pasien bedah dan 11.482 pasien pelayanan kesehatan dasar dan spesialistik.

Ketua Yayasan Ksatria Medika Airlangga, Dr. Christiyogo Sumartono, dr., Sp.AnKAR mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan program RSTKA untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil di Indonesia.

“Kami semua pengurus yayasan RSTKA merasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Karena sejak awal melaksanakan program ini kami kesulitan pendanaan. Semangat dan energi pengelola tidak boleh padam karena kita akan membuktikan cemoohan orang yang pesimis bahwa program ksatria tidak berlangsung lama,” ungkapnya.

Dirinya turut berbagi sedikit cerita selama mengunjungi beberapa pulau yang disinggahi. Baginya masing-masing pulau tempat RSTKA melakukan bakti memiliki kesan tersendiri.

“Di Pulau Bawean kita mengawali membuka Rumah Sakit Bawean, di Pulau Sapeken telah lahir bayi pertama di kapal, di Sungai Kalimas, masyarakat jadi tahu ada RS Terapung, di Lombok membantu korban gempa. Semua stakeholder kesehatan terheran-heran ada kapal ‘imut’ bisa bantu bencana, di Palu kita bisa menyumbang 70 kapal kecil pencari ikan beserta motor dan jaringnya, serta bangun TPI dan WC umum,” terangnya.

Ke depan, RSTKA juga akan membantu menyukseskan program 100 hari kerja dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Parawansa untuk melayani 3 pulau di Kabupaten Sumenep serta pulau-pulau lain. Untuk itu, para relawan akan melakukan survei terlebih dahulu serta menjalin kerjasama dengan stakeholder setempat.

Selain itu, Christiyogo berharap impian untuk merealisasikan armada kedua RST dapat segera terwujud.

“Harapan Yayasan Ksatria, insya’allah atas dukungan semua donatur dan keluarga besar UNAIR serta mimpi Pak Rektor, Prof. Nasih, kita akan membuat kapal kedua atau armada kedua, bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember,” pungkasnya.

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Nuri Hermawan




Pengurus IKA UA usai melangsungkan Rapat Kerja Terbatas (Foto: Istimewa)

Rapat Kerja Terbatas IKA UA, Siap Akselerasi Program Kerja Setahun ke Depan

UNAIR NEWS – Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) terus membuat program kerja yang unggul demi kemajuan Universitas Airlangga. Hal itu dibuktikan dengan dilaksanakannya Rapat Kerja Terbatas Pengurus Pusat (PP) Ikatan Alumni Universitas Airlangga yang diselenggarakan pada Sabtu, (9/2).

Bertempat di Hotel Novotel Surabaya, Rapat Kerja Terbatas itu turut dihadiri oleh para pimpinan PP IKA UA. Di antaranya Drs. Ec. Haryanto Basoeni selaku Ketua Umum PP IKA UA, Dr. H. Akmal Boedianto, S.H., M.Si., Ketua I PP IKA UA, Dr. dr. Pudjo Hartono, Sp.OG., Ketua II PP IKA UA, Dr. M. Budi Widajanto, Drs. Ec., M.P., Sekretaris Jenderal PP IKA UA, dan Prof. Dr. Suko Hardjono, Drs., Apt., M.S., selaku Dewantim PP IKA UA.

Dimas Agung Trisliatanto, S. IIP., M.PSDM, Sekretaris IKA PASCA UA 2018-2022 mengatakan, rapat kerja terbatas itu sangat luar biasa. Hal tersebut dikarenakan sinergitas akselerasi dari program kerja setiap departemen dikoordinasikan dengan saksama.

Dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP IKA UA, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi program kerja PP IKA UA tahun 2018-2019. Selain itu, pada kesempatan tersebut juga diadakan diskusi mengenai program kerja tahun 2019-2020.

“Pada kesempatan ini lebih difokuskan pada evaluasi dan monitoring program kerja tahun 2018-2019 dan koordinasi pelaksanaan program kerja tahun 2019-2020,” jelasnya.

Dimas menuturkan, pelaksanaan hari ulang tahun (HUT) IKA UA ke-47 menjadi program yang diunggulkan pada tahun ini. Peringatan tersebut akan diselenggarakan secara besar-besaran dan bersinergi dengan Dies Natalis Universitas Airlangga.

Rapat Kerja Terbatas PP IKA UA tersebut dihadiri lebih dari 40 orang mulai dari pengurus PP IKA UA, IKA UA Wilayah, IKA UA Cabang, hingga IKA UA Komisariat Fakultas yang akan saling berafiliasi dalam menjalankan program kerja untuk tahun 2019-2020.

“Harapan saya adalah agar organisasi IKA UA ini lebih berkontribusi aktif dalam memajukan almamater Universitas Airlangga dan mengembangkan organisasi kealumnian IKA UA di wilayah dan cabang di Indonesia dan berbagai penjuru dunia sesuai dengan amanah “Satya Bhakti Amerta”,” tutupnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




Alumni Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR Laksma TNI drg. R.A. Nara Lelyana, M.Kes drg. Nora Lelyana, MH.Kes. saat, Memberikan Paparan. (Foto: Nuri Hermawan)

FGD Alumni, Kampus Harus Mampu Kenali Kemampuan Calon Lulusan Saat Studi

UNAIR NEWS – Guna meningkatkan kualitas lulusan Universitas Airlangga, terlebih dalam menghadapi era industri 4.0, Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) UNAIR menggelar Focus Group Discussion dengan beberapa alumni yang bergerak di berbagai bidang. FGD dengan tema “Pemetaan Kebutuhan Soft Skills bagi Calon Lulusan UNAIR Menghadapi Era Industri 4.0” berlangsung di Graha STR Jakarta pada Sabtu (9/2).

FGD yang dipandu langsung oleh alumni Fisika UNAIR Aris Winarno yang kini menjabat sebagai HR Director PT Philips Indonesia tersebut, dihadiri alumni yang berkecimpung mulai di bidang industri, kesehatan, pertambangan, perbankan, pemerintahan, militer, BUMN, hingga perusahaan start up. Dalam paparan pembuka diskusi, Aris sapaan akrabnya mengatakan bahwa pada awal penerimaan tenaga kerja baru, industrinya memang kerap dibingungkan mendapatkan kualitas lulusan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan bagus.

“Untuk itu kami kerap mengambil lulusan terbaik di kampus-kampus sebelum mereka (lulusan, -red) diwisuda,” jelasnya.

Direktur Pendidikan UNAIR Prof. Bambang Sektiari L (depan tengah) bersama para alumni seusai FGD. (Foto: Nuri Hermawan)
Direktur Pendidikan UNAIR Prof. Bambang Sektiari L (depan tengah) bersama para alumni seusai FGD. (Foto: Nuri Hermawan)

Menyinggung mengenai calon lulusan yang berkualitas, Aris memaparkan bahwa lulusan yang berkualitas harus memiliki berbagai keahlian. Seperti kemampuan komunikasi, disiplin, memiliki jiwa pembelajar, bagus dalam kerja tim, kemampuan kepemimpinan, dan kemampuan dalam bernegoisasi.

“Untuk itu, dalam dikusi ini harus menghasilkan berbagai bahasan yang bisa menjadi dasar kebijakan dan strategi universitas dalam menyiapkan lulusan ke depannya,” ungkapnya.

Menanggapi pernyataan pembuka pemandu diskusi, Binafita Merianti alumni Fakultas Psikologi UNAIR yang bekerja di salah satu perusahaan properti ternama di Indonesia menuturkan, banyak kriteria yang berbeda dan beragam sangat dibutuhkan oleh dunia industri properti. Menurutnya, bekal lulusan yang memiliki energi, bisa mengerjakan banyak hal, dan memiliki inisiatif sangat dibutuhkan.

Dari bidang militer, alumni Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR Laksma TNI drg. Nora Lelyana, MH.Kes., memberikan paparan yang berbeda. Menurutnya, selama menjabat di dunia militer, awalnya, Nora sangat menyayangkan karena lulusan UNAIR yang sangat jarang. Hal itu bukan tanpa sebab, lanjutnya, hal itu mengingat keterlibatan alumni memang masih minim. Namun, usai Nora kerap menjalin komunikasi, dalam dua tahun terkahir lulusan UNAIR sudah mulai banyak.

“Yang lulusan cumlaude kami tarik kemarin waktu ada tes,” tandasnya. “ Mengenai skills, dalam dunia militer, mungkin berbeda dengan yang lainnya. Dalam militer tidak membutuhkan lulusan yang memiliki kepercayaan tinggi di awal, tapi di militer membutuhkan proses untuk dibentuk dan menjadi percaya diri sebagai tentara,” imbuhnya.

Selanjutnya, dari bidang kesehatan, alumni Fakultas Kedokteran UNAIR dr. Imran Pambudi, MPHM., menuturkan bahwa secara keseluruhan hal-hal yang diinginkan dunia kerja secara keseluruhan hampir sama dipaparkan oleh puluhan alumni yang hadir. Namun ada beberapa hal yang memang perlu diperhatikan. Jaringan dan selalu update dengan teknologi, misalnya.

Kepala Subdirektorat Tuberkolosis Kementerian Kesehatan RI tersebut juga menambahkan bahwa ada empat hal penting yang perlu diperhatikan setiap lulusan. Mulai dari sikap tahu tentang pelanggan, kemampuan komunikasi, sikap responsif dan tanggap, serta sensitifitas terhadap data.

“Namun, yang terpenting untuk menyiapkan hal itu, universitas harus mampu mengenali bakat lulusan dan menyadarkan bahwa lulusan ini pas jadi pegawai atau entrepeneur. Jadi mahasiswa sudah tahu arah bakatnya kemana dan setelah lulus bisa tahu akan dimana mereka berkarya,” jelasnya. “Untuk itu, sejak kuliah harus sudah disiapkan,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




Ketua PPKK UNAIR Dr. Elly Munadziroh drg., MS., saat memberikan sambutan pembuka diskusi. (Foto: Nuri Hermawan)

PPKK Gandeng Alumni Petakan Kebutuhan Soft Skills Calon Lulusan UNAIR

UNAIR NEWS – Alumni menjadi salah satu aset yang memiliki peran penting bagi sebuah lembaga ataupun institusi pendidikan tinggi. Peran itu, mulai dari mengembangkan kualitas pendidikan kampus, sarana dan prasarana kampus, hingga turut membantu meningkatkan kualitas lulusan. Untuk merespon hal tersebut, Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) Universitas Airlangga menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pemetaan Kebutuhan Soft Skills bagi Calon Lulusan UNAIR Menghadapi Era Industri 4.0”.

Bertempat di Graha STR Jakarta pada Sabtu (9/2), untuk mendiskusikan tema tersebut, PPKK UNAIR mengundang alumni yang berkiprah di dunia industri, pendidikan, BUMN, kesehatan, perbankan, pemerintahan dan berbagai alumni yang bergerak di bidang lainnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua PPKK UNAIR Dr. Elly Munadziroh drg., MS., mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk respon tentang data masa tunggu lulusan UNAIR untuk mendapat pekerjaan yang semakin panjang. Menurutnya, akhir-akhir ini masa tunggu lulusan UNAIR sudah mencapai empat hingga lima bulan.

“Padahal, dulu masa tunggu lulusan kita hanya berkisar diangka tiga bulan,” tandasnya. “Untuk itu, kami harap dengan adanya diskusi ini, nantinya bisa memberikan solusi agar masa tunggu lulusan kita bisa lebih cepat. Terlebih bagi lulusan dari program studi non profesi,” imbuhnya.

Menanggapi pernyataan itu,  Direktur Pendidikan UNAIR Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, DEA, DVM., mengatakan bahwa alumni memang memegang peran penting untuk turut membantu membangun kualitas almamater. Baik dari segi pengembangan kurikulum pendidikan maupun meningkatkan kualitas lulusan.

“Dengan diskusi ini, mari bersama-sama kita memperbaiki kualitas pendidikan dan kualitas lulusan alumni kita,” harapnya.

Dalam paparan sebelum diskusi, Prof. Bambang menegaskan bahwa dimanapun berada, lulusan UNAIR harus mampu menerapkan motto excellence with morality dan memiliki daya saing tinggi. Pasalnya, hal itu menjadi sebuah modal utama lulusan agar lebih siap saat terjun di dunia pekerjaan.

“Untuk itu, kami sangat menunggu peran alumni yang ada disini untuk memberikan masukan mengenai pola-pola seperti apa yang sekiranya bisa diterapkan di UNAIR,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




evaluasi RSTKA

RST ‘Ksatria Airlangga’ Akan Lakukan Evaluasi, Berharap 2019 Lebih Baik

UNAIR NEWS – Sampai akhir tahun 2018 ini, kapal Rumah Sakit Terapung ”Ksatria Airlangga” (RSTKA) sandar di Pelabuhan Kalimas V, Tanjung Perak, Surabaya. Kapal phinisi selebar 7,2 meter dan panjang 17 meter ini harus ”istirahat” sementara setelah mengakhiri bakti kemanusiaan selama satu tahun di berbagai kepulauan di Indonesia Timur.

Bakti kemanusiaan kesehatan itu dalam tahun 2018 ini berakhir Minggu (9/12) lalu, ketika kapal RSTKA tiba dari bakti kesehatan yang terakhir di tiga pulau di wilayah Kab. Sumenep: yaitu Pulau Kangayan, Raas, dan pulau Sapudi.

”Setelah ini kami akan melakukan evaluasi secara menyeluruh, baik secara teknis operasional kapal maupun program yang telah kita laksanakan selama setahun lebih ini,” demikian Dr. Christrijogo Sumartono, dr., Sp.An.KAR., Ketua Yayasan Medika Ksatria Airlangga (YKMA).

Hal itu disampaikan ketika tasyakuran sederhana di atas kapal, sambil menyambut kedatangan tim relawan RSTKA dari Sapudi. Sebuah nasi tumpeng dengan segala ragam lauknya atau uba rampe, siang itu menyambut tim relawan yang dipimpin oleh Direktur RSTKA Dr. Agus Harianto, Sp.B sekaligus makan siang crew. Pada saat itu kapal masih sandar di Pelabuhan Kalimas depan Kantor Syahbandar Tanjungperak.

TERCATAT 1.500 lebih masyarakat di Pulau Sapudi mengantre pelayanan RSTKA, yang pendaftaran dan skreningnya dilakukan di Puskesmas Gayam (di Sapudi), terbanyak pasien keluhan mata. (Foto: Bambang Bes)

Hadir saat itu Ketua IKA UNAIR Drs. Ec. H. Haryanto Basoeni, Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K), Amir Amiruddin dari Investree, Agus Widiastono pengurus IKA UNAIR, Sekretaris YKMA Dr. Suwaspodo Henry Wibowo, Sp.And., MARS bersama pengurus YKMA lainnya. Di forum selamatan inilah Direktur RSTKA juga mengisahkan sekilas suka-duka yang dijalaninya bersama tim.

Seperti diketahui, kapal RSTKA ini diresmikan pada 10 November 2017, tepat pada Dies Natalis Universitas Airlangga ke-63. Sebelum diresmikan bahkan RSTKA sudah mendahului melaksanakan baksos ke Pulau Bawean (Oktober 2017). Kemudian setelah diresmikan, berturut-turut melakukan visi-misinya ke Pulau Kangean (November 2017), baksos masyarakat sekitar Pelabuhan Kalimas Surabaya (11/3/2018), kemudian lanjut baksos di Pulau Sapeken.

evaluasi rstka
PELAYANAN kesehatan dari kapal RSTKA untuk masyarakat Pulau Raas dilaksanakan di Puskesmas setempat dan di Pelabuhan Raas. (Foto: Bambang Bes)

Ketika awal Agustus 2018 terjadi gempa di Lombok, RSTKA segera menuju kawasan bencana di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Setelah Lombok bisa ditinggalkan, tim RSTKA bergeser ke NTT, tetapi baru melayani masyarakat di Pulau Nusa Penida dan Alor, tiba-tiba Kota Palu (Sulawesi Tengah) dan sekitarnya diguncang gempa tsunami dan likuifaksi.

Dari Alor kapal RSTKA kemudian meluncur ke Palu, padahal rencana semula setelah dari NTT itu kapal akan menuju Ambon dan Maluku. Tetapi karena ada musibah di Palu, tim relawan RSTKA mendahulukan layanan pertolongan bagi masyarakat korban bencana di Palu.

Setelah suasana kota Palu dan Donggala pasca-bencana bisa ditinggalkan, tim relawan RSTKA melanjutkan misinya untuk masyarakat sekitar Maluku. Kapal rumah sakit nomaden yang diinisiasi sejawat alumni FK dan kemudian diopesionalkan oleh IKA UNAIR ini, merapat di pelabuhan Ambon pada 26 Oktober.

Dua hari kemudian, (28/10) melayani masyarakat Pulau Moa. Kemudian secara beruntun memberikan layanan kesehatan gratis antara lain di Pulau Masela 29 Oktober, Pulau Babar (30-31 Oktober), Pulau Sermata 1 November, di Pulau Luang Timur 2 November, di Pulau Luang Barat 3 November, di Pulau Lakor 5 November.

DIREKTUR RSTKA melakukan koordinasi bersama dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan tim di ruang operasi sebelum melakukan kegiatan di kapal RSTKA. (Foto: Bambang Bes)

Tanggal 6-8 November kembali ke Pulau Moa, diteruskan ke Pulau Leti 9 November, Pulau Kisar (10-12 November), Pulau Wetar (13-14 November), dan Pulau Lirang pada 16-17 November 2018.

Setelah itu menuju Sulawesi Tenggara untuk melayani masyarakat di Pulau Wakatobi tanggal 21-23 November 2018. Dari Wakatobi, RSTKA menuju kepulauan di kawasan Sumenep. Pertama melayani masyarakat Pulau Kangean (Kangayan) 28 November hingga 1 Desember, lalu bergeser ke tetangganya di Pulau Raas (3-5 Desember), dan terakhir di Pulau Sapudi (6-8 Desember 2018). Dan, pada hari Minggu tanggal 9 Desember 2018 tim relawan RST-KA tiba kembali di Kota Surabaya.

”Kami berharap untuk program tahun depan akan lebih baik lagi setelah misi tahun yang pertama ini kita evaluasi,” kata dr. Christrijogo Sumartono, KetuaYKMA. (*)

Penulis: Bambang Bes




defile FK

Sejawat Angkatan NIAS Meriahkan Defile Alumni FK UNAIR, 43 Tim Ambil Bagian

UNAIR NEWS – Hari Minggu pagi 11 November 2018 lalu, halaman kampus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) hingar-bingar penuh warna dalam beragam atraksi dan busana. Pada hari itulah rangkaian kemeriahan peringatan Dies Natalis FK UNAIR ke-105 diselenggarakan “Defile Alumni”. Inilah tradisi Ikatan Alumni FK setiap memperingati dies natalisnya.

Menurut Ketua IKA FK UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG(K), defile tahunan kali ini jauh lebih ramai, lebih berwarna, dan tentunya lebih meriah dibandingkan pelaksanaan defile sebelumnya. Namun wilayah defilenya masih kalah dengan yang dilaksanakan pada dies natalis fenomenal tahun 2013 saat “Seabat FK UNAIR”. Saat itu defile juga dilakukan di “Taman Surya” Pemkot Surabaya.

Suwaspodo Henry Wibowo, dr., Sp.And., MARS., panitia seksi defile, menjelaskan, tahun ini 43 angkatan alumni FK UNAIR ambil bagian memeriahkan. Angkatan paling senior tahun 1952 (masih alumni angkatan NIAS). Dilihat dari riwayatnya, FK UNAIR memang berawal dari sekolah kedokteran Netherlands Indische Artsen Schools (NIAS) yang didirikan Belanda tahun 1913. Jadi hingga kini sudah berusia 105 tahun.

defile FK
ALUMNI FK Unair angkatan 1968 dengan tema tradisional, atraksi-atraksinya meraih juara III “Defile Alumni” 2018. (Foto: Bambang Bes)

Dekan FK UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K), sejak acara dimulai pukul 07.30, Guru Besar Ilmu Urologi FK UNAIR ini tak beranjak dari tempatnya menyaksikan. Dilakukan tidak sambil duduk di kursi, tetapi sambil berdiri dan wira-wiri di sekitar panggung penjurian. Sesekali ikut berdendang, berlenggang, dan menyanyi bersama sejawat alumni yang saat itu timnya dinilai.

”Kemeriahan seperti ini bisa terjadi karena semua alumni punya tekad dan semangat sama, yaitu kompak untuk memajukan almamaternya. Dengan alasan itu maka mereka akan kompak terus. Mulai angkatan 1951 sampai yang termuda akan begitu, rukun, guyup dan semangat tinggi,” katanya. “Dan, modal utama menjadi dokter memang begitu. Tidak boleh saling menyalahkan, dan semua harus cerdas dalam belajar untuk terus berinovasi,” tambah Prof. Soetojo.

Baik Prof. Soetojo dan Dr. Pudjo Hartono mengakui bahwa sukses rutinitas defile alumni FK ini karena faktor kemandirian kelompok angkatan. Menurut Dekan, hal demikian itu karena adanya tuntutan untuk mandiri, inovatif, kreatif, dan unggul di tingkat nasional dan internasional.

defile fk
ANGKATAN tahun 1971 dengan tema busana dan kesenian nasional. (Foto: Bambang Bes)

”Dari tuntutan itu membuat jiwanya bersemangat dan mandiri. Selain itu kalau mengandalkan anggaran fakultas atau universitas, jelas sulit terjadi. Karena semangat dan kekompakan itu sehingga hal-hal yang membuat mereka senang, maka sesuatunya tidak dipikirkan. Demi nilai-nilai kekompakan dan semangat itu mereka tidak menghitung-hitung,” kata Prof. Soetojo.

Dr. Pudjo menambahkan, kekompakan dan antusiasme kebersamaan itu menunjukkan sebuah tekad bahwa kita, alumni, ingin maju bersama almamaternya. Yang jelas, tambahnya, semua bergerak secara luar biasa.

”Ini saya kira kekuatan kita itu. Dan hikmahnya kalau kita akan selalu ingin menjaga nama baik, ingin berprestasi dan kita sukses, maka ujung-ujungnya nanti yang diuntungkan ya masyrakat. Jadi apapun yang kita kerjakan disini, dan prestasi ini, semua untuk masyarakat,” kata Dr. Pudjo, Ketua IKA-FK.

Ia berharap akan terus seperti ini, baik yang di Surabaya dan yang di seluruh Indonesia akan selalu membawa nama baik almamater. Artinya, setiap alumni melangkahkan jejak, berkiprah, maka kita akan selalu ingat bahwa membawa nama baik Airlangga, jadi harus selalu menunjukkan prestasi untuk bangsa dan negara. “Itu saya kira,” tandasnya.

Dalam defile kemarin dibagi dua kelompok. Kelompok alumni sebelum angkatan ’70, rutenya diperpendek. Keluar dari pintu keluar di sisi kiri halaman FK, belok kanan masuk ke jalan raya dan berjalan melawan arus untuk masuk melalui pintu utama kampus FK. Di sisi luar Aula FK itulah penjurian dilaksanakan oleh tim.

defile fk
ANGKATAN 1979 berdefile dengan mengangkat tema busana khas Papua. (Foto: Bambang Bes)

Sedangkan sejawat angkatan setelah 1970 rutenya lebih jauh. Dari pintu keluar halaman FK, belok kiri, sesampai di traffic light Jl. Karang Menjangan langsung putar balik dan berjalan di sisi Jl. Prof. Dr. Moestopo (sisi depan RSU Dr. Soetomo). Kemudian setelah traffic light dekat kampus FKG, defile putar balik dan memasuk kampus FK melalui pintu utama.

Beragam gaya dan penampilan dipertunjukkan. Ada yang mengambil tema “djadoel” (djaman doeloe), tradisional, kekinian dengan boneka-boneka dan aneka busana, satire dengan joke-joke tertentu, menampilkan replika perahu RS Terapung “Ksatria Airlangga” dsb. Seusai dinilai, peserta bebas memilih konsumsi makan siang yang disediakan dengan berbagai menu.

Dari 43 peserta defile alumni FK tahun 2018 ini, tim juri memilih Juara I Tim defile Angkatan 1984. Juara II defile angkatan tahun 2006, dan Juara III angkatan tahun 1968. Sedangkan Juara Favorit terpilih tim defile gabungan angkatan tahun 1952-1962. (*)

Penulis : Bambang Bes




kampung kajoetangan

IKA-UA Malang Raya Baksos Kesehatan di “Kampoeng Heritage Kajoetangan” Kota Malang

UNAIR NEWS – Dalam rangka turut memeriahkan peringatan Dies Natalis Universitas Airlangga yang ke 64, Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UA) Cabang Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) mengadakan bakti sosial (baksos) di “Kampoeng Haritage Kajoetangan”, destinasi wisata yang dibangun di Kelurahan Kauman di Kota Malang.

”Kami mengadakan baksos tersebut pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2018, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Kami bekerjasama dengan tim pengelola Kampoeng Haritage Kajoetangan tersebut sambil mempromosikan kampung wisata tersebut yang hingga kini sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan,” kata Mursyidah, pengurus IKA-UA Malang Raya yang juga panitia baksos kepada unair.news.

Wujud pengabdian IKA-UA Malang Raya kepada masyarakat di kampung Kayutangan ini, antara lain pengobatan gratis yang dilaksanakan sekaligus dengan penyuluhan kesehatan gigi oleh dokter gigi alumni FKG UNAIR.

kampung kajoetangan
PAPAN penunjuk “Selamat Datang” ke arena “Kampoeng Heritage Kajoetangan” di Kota Malang. (Foto: Dok IKA-UA Malang)

Sebanyak 40 orang anggota IKA-UA Cabang Malang Raya turut ambil bagian dalam partisipasi baksos ini. Mereka lulusan yang berasal dari berbagai fakultas di Universitas Airlangga, tetapi dalam baksos kali ini yang banyak hadir para alumni Fakultas Farmasi, yakni mencapai 20 orang.

Kemudian juga disediakan berbagai konsultasi, baik mengenai pentingnya gizi, persoalan psikologi, spiritual, juga konsultasi tentang kesehatan gigi itu sendiri. Penyuluhan kesehatan gigi tersebut sasarannya untuk anak-anak usia Sekolah Dasar, yang diikuti sebanyak 30 anak.

”Kami juga sekaligus menyediakan obat-obatannya. Semua laris manis,” tambah Ibu Mursyidah dalam penjelasannya via WhatsApp.

Selain pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, IKA-UA Cabang Malang Raya juga menyediakan pemeriksaan laboratorium sederhana. Pemeriksaan lan sederhana yang dimaksudkan adalah pemeriksaan dengan menggunakan alat sederhana, misalnya pemeriksaan gula darah, asam urat, dan kolesterol.

”Tercatat keseluruhan ada sebanyak 178 orang memanfaatkan baksos ini, sedangkan keluhan paling banyak adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), kemudian hipertensi (HT) dan linu-linu sakit sendi,” tambah Mursyidah.

kampung kajoetangan
PESERTA baksos di Kampoeng Heritage Kajoetangan, Kota Malang. Berasal dari lulusan berbagai fakultas di UANIR. (Foto: Dok IKA-UA Malang)

Ditambahkan juga, bahwa selain baksos pemeriksaan kesehatan, diantara anggota IKA-UA di malang Raya juga melakukan talk show melalui sebuah Radio FM. Tujuan talk-show ini antara lain untuk membantu mengenalkan UNAIR secara lebih luas kepada masyarakat.

”Dalam talk show ini sudah tentu diisi oleh tenaga-tenaga yang berkompeten di bidangnya, baik itu dokter, dokter hewan, apoteker, dan psikolog lulusan Universitas Airlangga yang menjalankan professinya di Malang,” katanya.

Selain baksos pemeriksaan kesehatan dan talk-show juga ada satu yang sifatnya permanen, yakni membantu membangunkan sebuah “gate” di Kampoeng Haritage Kajoetangan. Sehingga bangunan semacam tugu “prasasti” ini sekaligus sebagai petunjuk penegas keberadaan destinasi wisata ini yang mudah dilihat oleh khalayak wisatawan. (*)

Penulis: Bambang Bes




bakti palu

RS Ksatria Airlangga Lanjutkan Bakti Kemanusiaan di Palu, Sepekan Layani Ratusan Pasien

UNAIR NEWS – Satu bulan pasca bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Donggala dan Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, penanganan krisis kesehatan oleh Rumah Sakit Ksatria Airlangga (RSKA) masih terus berlanjut. RS yang digawangi sejawat dokter alumni FK UNAIR dan relawan dari sivitas yang lain, dalam sepekan kemarin, yaitu Senin (21/10) hingga Jumat (26/10) setidaknya melayani 400 lebih pasien.

Jumlah tersebut diperkirakan akan lebih banyak lagi jika penyampaian informasi adanya pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada masyarakat, dapat dilaksanakan secara baik dan normal. Tetapi realitanya terkendala karena keterbatasan sarana.

Para pasien tersebut mayoritas masyarakat setempat yang selamat dari peristiwa 28 September 2018 lalu. Mereka merupakan pasien berobat/perawatan lanjutan, pasien berobat jalan, dan atau pasien baru dampak dari musibah tersebut. Hal tersebut dibenarkan oleh Suwaspodo Henry Wibowo, dr., Sp.And., MARS., Sekretaris Yayasan Ksatria Medika Airlangga (YKMA), Minggu (21/10).

Seperti diberitakan, kendatipun kapal Rumah Sakit Terapung “Ksatria Airlangga” (RST-KA) sejak Kamis (18/10) sudah dipindah bakti kemanusiaannya dari Donggala menuju Maluku, namun bantuan kesehatan untuk korban bencana di Palu dari sivitas Universitas Airlangga masih berlanjut melalui RS lapangan di sekitar Donggala.

bakti palu
TRAUMA Healing dilaksanakan oleh relawan UNAIR terhadap anak-anak korban bencana di Donggala, tepatnya di lokasi dekat penampungan pengungsi. (Foto: Dok RSTKA)

Dihimpun dari laporan harian Tim RS Ksatria Airlangga yang dilakukan dr. Intan, dr. Ragil, dr. Winni, dr. Nita,  dr Monica, dan dr Aga, pelayanan kesehatan tersebut diberikan di Posko Kesehatan Pengungsi di Lapangan Batusuya, di Desa Sigi, Desa Saliru, Desa Saloya, Poskesdes Kaliburu, serta trauma healing di Desa Seliru.

”Kalau di rata-rata setiap hari Tim RSKA  melayani sekitar 60 pasien dari berbagai macam keluhan sakit,” tambah dr. Henry.

Salam satu contoh pada pelayanan di Posko Pengungsian di lapangan Batusuya, dr. Intan mencatat hari Minggu (21/10) lalu itu terdapat 51 pasien. Dominasi pasien memang orang dewasa, tetapi juga ada pasien anak-anak, balita, remaja dan lansia.

Keluhan/gangguan kesehatan masyarakat yang dicatat dari berbagai pos layanan kesehatan itu, paling banyak adalah Mialgia atau yang populer disebut nyeri otot, badan terasa pegal-pegal yang diduga akibat aktivitas pasca-bencana. Setidaknya terdapat sekitar 20% merupakan pasien dengan keluhan mialgia.

Selain mialgia, lima besar keluhan yang lain antara lain ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), HT (hipertensi), dyspepsia atau maag (gangguan perasaan nyeri pada saluran pencernaan atas), gastritis (radang lambung/asam lambung), gangguan pencernaan, dermatitis (peradangan kulit), dsb.

bakti palu
RELAWAN Mahagana UNAIR sebagai instruktur senam untuk memberikan upaya kesehatan untuk masyarakat Donggala, korban bencana. (Foto: Dok RST-KA)

Berbagai pemeriksaan dan usaha pengobatan lantas diberikan oleh relawan Tim RS Ksatria Airlangga yang terdiri dari dokter Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, perawat, psikolog dan ahli farmasi UNAIR, serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan UKM Mahagana UNAIR. Misalnya melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat, pemberian tambahan gizi, edukasi dan sosialisasi, senam bersama untuk orang dewasa di pengungsian, serta trauma healing untuk anak-anak.

Satu hal tentang kendala yang ditemui, antara lain keterbatasan sarana laboratorium sehingga memperlambat pemeriksaan. Selain itu juga keterbatasan sarana transportasi yang sedikit banyak juga menghambat upaya relawan UNAIR dalam usahanya melakukan motivasi pemulihan ekonomi bagi nelayan, karena jarak yang harus ditempuh relatif jauh. Selain itu ada lokasi Poskesdes yang jauh dan medannya susah dijangkau, kemudian kelengkapan ATK pelayanan yang terbatas, kesulitas mendapatkan obat-obat kulit, serta ada pasien yang seharusnya dirujuk tetapi ia menolak. (*)

Penulis: Bambang Bes




RST Ambon

Tinggalkan Donggala, RST ”Ksatria Airlangga” Lanjutkan Misi Kemanusiaan di Ambon

UNAIR NEWS – Tepat pukul 12.00 WITA, Kamis (18/10) kemarin, dibawah komando Kapten Kapal Almudatsir, kapal Rumah Sakit Terapung “Ksatria Airlangga” (RST-KA) menarik jangkar untuk bertolak menuju Ambon. Meski bergeser, bantuan kesehatan untuk korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala dari RST-KA dan sivitas Universitas Airlangga masih berlanjut dalam RS lapangan di Donggala, lengkap dengan dokter dan paramedisnya.

”Tetapi di Donggala masih ada posko Ksatria Airlangga dengan tim darat. Jadi masih melayani pasien korban bencana, termasuk untuk trauma healing. Bahkan tim UKM Mahagana UNAIR juga akan bergabung di tim darat, mulai besok (Jumat 19/10 ini, red),” kata Suwaspodo Henry Wibowo, dr., Sp.And., MARS., Sekretaris Yayasan Ksatria Medika Airlangga (YKMA), pengelola RST-KA, kepada unair.news, Kamis (18/10) malam.

Seperti diketahui, ketika terjadi bencana mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, kapal RST-KA sedang melaksanakan bakti kemanusiaan di Pulau Alor (NTT). Dari rencana selanjutnya di Maluku, akhirnya seketika kapal dikirim ke Palu. Berangkat dari Alor Minggu (30/9), dan sampai di Makassar, Senin (1/10).

Namun karena cuaca buruk, Kesyahbandaran setempat baru mengijinkan RST-KA berlayar menuju Palu hari Rabu (3/10), dankapal dengan selamat tiba di pelabuhan Pontolan, Palu, hari Jumat (5/10) Subuh. Tetapi karena di Palu sudah ada RST KRI dr. Soeharso, maka bakti kemanusiaan RST-KA diarahkan ke Donggala, dan merapat di Pelabuhan Donggala 90 menit kemudian. Pada hari Sabtu (6/10) tim RST-KA dipimpin Direkturnya, Dr. Agus Haryanto, Sp.B sudah memberikan pelayanan medis kepada para korban bencana di Donggala.

Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) juga membenarkan bahwa bakti kemanusiaan dari fasilitas yang dihadirkan oleh alumni UNAIR ini akan bergeser ke Maluku, kemudian dilanjutkan ke Wakatobi, dan akan berakhir di Kepulauan Madura.

”Luar biasa. Selamat jalan Kapten Almudatsir,” kata Prof. Budi Santoso menyampaikan ucapan selamat setelah mengetahui kapal RST-KA melanjutkan tugas kemanusiaan ke Ambon dan Maluku.

Dr. Henri Suwaspodo menambahkan dengan merinci jadwal pelayaran dan pelayanan kemanusiaan RST-KA untuk tahap II. Kapal akan berlabuh di pelabuhan Kota Ambon pada tanggal 26 Oktober. Dua hari kemudian, (28/10) melayani masyarakat Pulau Moa.

Kemudian berturut-turut melayani bantuan kesehatan masyarakat di kepulauan terpencil. Antara lain di Pulau Masela 29 Oktober, di Pulau Babar (30-31 Oktober), Pulau Sermata 1 November, di Pulau Luang Timur 2 November, di Pulau Luang Barat 3 November, di Pulau Lakor 5 November. Tanggal 6-8 November kembali ke Pulau Moa, diteruskan ke Pulau Leti 9 November, Pulau Kisar (10-12 November), Pulau Wetar (13-14 November), dan Pulau Lirang pada 16-17 November 2018.

”Setelah itu menuju ke Sulawesi Tenggara untuk bakti serupa di Pulau Wakatobi pada tanggal 21-23 November 2018,” tambah dr. Henri, panggilan akrabnya.

Setelah dari Wakatobi, tim kesehatan RST Ksatria Airlangga akan menuju Kepulauan Madura, di Jawa Timur. Dijadwalkan melayani masyarakat Pulau Kangean (Kangayan) pada 28 November hingga 1 Desember. Kemudian Pulau Raas (3-5 Desember), dan ke Pulau Sapudi pada 6-8 Desember 2018. Setelah itu RST-KA kembali ke Surabaya.

UCAPAN SELAMAT

Dikutip dari grup WhatsApp “Bhakti RST untuk Palu-Donggala”, pengabdian Tim RST-KA banyak menuai pujian. Tim Posko Kesehatan untuk korban bencana di Palu dan Donggala juga banyak yang menyampaikan selamat jalan menuju pengabdian selanjutnya disertai ucapan terima kasih.

”Selamat jalan Dr. Agus (maksudnya Dr. Agus Haryanto, Sp.B) dan Tim, semoga Tuhan selalu menyertai setiap langkah dan pelayanan di daerah-daerah yang membutuhkan, sehingga bisa menjadi berkat bagi sesama,” kata Ferdinandus di GWA tersebut.

Dr. Dian Islami, dari Posko Kesehatan di Palu juga menyampaikan ucapan selamat dan terima kasihnya atas darma-bakti RST Ksatria Airlangga. ”Terima kasih atas darma bakti RST Ksatria Airlangga di setiap event kemanusiaan. Semoga semua sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT,” tulis Dian Islami.

”Selamat berlayar kapten dan ABK RST-KA, hati-hati di perjalanan Capt, sampai bertemu lagi di Ambon,” tulis dr. Agus Haryanto, alumni FK UNAIR angkatan 1985 ini.

Ketua Ikatan Alumni FK UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG(K) juga menyampaikan ucapan selamat. ”Selamat jalan captain Mudatsir beserta para sahabat awak kapal RST-KA, semoga selalu diberikan kemudahan selama perjalanan sampai di Ambon,” kata dr. Pudjo Hartono.

”Selamat berlayar ya Kapten dan teman-teman ABK RST-KA. Jangan ngebut-ngebut ya, yang terpenting selamat,” tambah Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes., pengawas pada YKMA.

Melalui tulisannya dalam GWA itu juga, Kapten Kapal RST-KA, Almudatsir, juga membalas ucapan-ucapan dari para sahabat di Grup WA.

”Alhamdulillah, terima kasih Bapak Prof. (Prof. Budi Santoso – red). Insya Allah kecepatannya standar saja, dokter. Amiin-amin untuk semua ucapannya,” kata Almudatsir dalam membalas ucapan melalui GWA tadi. (*)

Penulis: Bambang Bes




IKA UA

PP IKA UA Lantik Pengurus Wilayah Jawa Tengah

UNAIR NEWS – Usai melantik pengurus wilayah di berbagai daerah, kali ini Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Airlangga (PP IKA UA) melantik Pengurus IKA UA Wilayah Jawa Tengah. Bertempat di Grand Arkenso Parkview Hotel Semarang (13/10), acara pelantikan tersebut juga dikemas dengan acara temu alumni.

Hadir mewakili Rektor UNAIR Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., selaku Wakil Rektor II. Dalam sambutannya, Madyan menyampaikan bahwa pelantikan alumni menjadi momen untuk menguatkan peran alumni bagi almamater dan bangsa. Tidak lupa, Madyan juga menyinggung upaya UNAIR untuk menjadi 500 besar kampus kelas dunia. Untuk itu, berbagai langkah dan gebrakkan yang dilakukan butuh dukungan penuh dari seluruh alumni.

“Tentu, segala upaya dan ikhtiar yang dilakukan oleh kami, yang kini berada di kampus, perlu adanya masukan, perlu sebuah dukungan dan perlunya sebuah dorongan dari rekan-rekan alumni sekalian. Baik dukungan berupa gagasan, pemikiran, dan dukungan dalam bentuk apapun,” ujarnya.

Sementara itu, menambahkan pernyataan Wakil Rektor II, Dr. Muhammad Taufiqy S., Sp.OG(K)., selaku Ketua Umum IKA UA Wilayah Jawa Tengah mengatakan bahwa setelah tahapan pelantikan ini, pihaknya akan melakukan berbagai kegiatan. Menurutnya, pertama kali yang akan dilakukan adalah konsolidasi ke intern pengurus. Pasalnya, karena tidak semua pengurus yang dilantik sudah memahami karakter satu dengan yang lain.

“Oleh karena itu, kita perlu sebuah kegiatan semacam konferensi pengurus untuk membuat rencana jangka panjang. Dan kami berharap semua pengurus bisa memiliki rencana dan langkah kerja yang nanti akan kita rumuskan selama lima tahun ke depan,” jelasnya.

Selain kebijakan dan rencana tersebut, pihaknya juga akan berupaya melakukan validasi data anggota alumni. Selanjutnya, imbuhnya, penting untuk mengenalkan IKA UA Wilayah Jawa Tengah ini di tengah masyarakat. Hal itu, menurutnya akan dikemas dengan bakti sosial.

“Dan yang terpenting dari semua itu adalah monitoring dari setiap program kerja yang kita lakukan. Tidak hanya itu, kami berharap bagi pengurus dan anggota penting untuk memeiliki rasa dari organisasi. Semoga organisasi ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi tapi ke depan bisa menjadi sebuah wadah yang memiliki nilai ekonomi dan yang lain,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan