Pianis Muda Lulusan UNAIR Raih Sambutan Hangat Ratu Eropa

UNAIR NEWS – Enam tahun terakhir menjadi salah satu bagian terbaik hidup Felix Justin. Ia memilih untuk sedikit melepas ilmu obat­-obatannya dan membiarkan musik klasik mengalir di tubuhnya. Felix adalah anak muda yang berani memilih untuk berkarya sesuai kegemarannya.

Felix bukan tak mencintai ilmu farmasi. Pada tahun 2003, Felix mulai berkuliah S-1 Pendidikan Apoteker selama empat tahun. Prestasi akademiknya bersinar. Ia pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga pada tahun 2005.

Selama itu, Felix merupakan mahasiswa yang tekun. Ia mengikuti kelas dari pagi sampai sore. Pulang kuliah, ia lantas menyiapkan materi-materi perkuliahan untuk keesokan harinya. Sembari berkuliah, Felix menyibukkan diri dengan organisasi. Ia bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi.

Tahun pertama dan kedua kuliahnya berhasil dilalui dengan mulus. Pada tahun ketiga hingga keempat, ia mengaku sempat ‘tergoda’ dengan kesibukan lain. Minat dan bakatnya dalam bermain piano mulai tercium pihak kampus dan eksternal. Felix mulai banyak menerima undangan untuk unjuk kebolehan memainkan tuts-tuts berwarna hitam putih di hadapan penonton.

“Saya banyak diminta tolong untuk mengiringi paduan suara Fakultas Farmasi dan banyak juga tawaran dari luar. Selain itu, di tahun ketiga, saya juga les privat mengajar piano,” tutur Felix.

Hatinya kian terpanggil oleh musik. Namun, Felix merasa perkuliahan yang telah ia jalani harus dituntaskan. Orang tuanya bahkan sempat memberi peringatan. Felix diijinkan bermusik tetapi harus lulus kuliah tepat waktu. Mendengar itu, lelaki berkacamata itu pun langsung tancap gas untuk menyelesaikan kuliah sarjana dan meneruskan profesi.

Selepas lulus dari UNAIR, musik kian membisiki dan memenuhi pikirannya. Meski menyandang gelar sarjana farmasi dan apoteker, ia mengikuti rekrutmen guru piano di sebuah lembaga kursus ternama. Felix berhasil diterima dan jabatannya dipromosikan beberapa bulan kemudian.

Mengulang kuliah di Belanda

Ketertarikannya terhadap musik beraliran klasik bertambah besar. Dengan dukungan dari orang tua, Felix membangun karir musiknya dari pendidikan musik secara formal. Felix memilih Universitas Utrecht di Belanda sebagai tempat studinya.

“Ortu (orang tua) bilang kalau saya harus kuliah lagi jika ingin menekuni musik. Saya pikir waktu itu sudah enak (bekerja), ngapain harus kuliah lagi. Akhirnya, saya belajar lagi di Utrecht untuk menambah pengetahuan akademik. Saya merasa enjoy ketika berkuliah di sana,” cerita alumnus S-1 Classical Piano Performance and Music Education Universitas Utrecht.

Ia terus menunjukkan totalitasnya dalam bermusik. Felix tak mau kalah dengan teman-teman kuliah S-1 yang berusia jauh di bawahnya. Setiap harinya, Felix menghabiskan sepertiga harinya guna mengasah otak kanan dan jari jemarinya dalam bermain piano. Waktu latihan ini sengaja ia sisihkan di luar jam perkuliahan.

“Kalau anak piano latihan harus tujuh sampai delapan jam per hari di luar apalagi usia saya nggak muda lagi. Pentiumnya agak terlambat,” kisahnya seraya tertawa.

Usai lulus S-1, Felix langsung melanjutkan kuliah S-2 Classical Piano Solo Performance di universitas yang sama di tahun 2014. Di akhir kuliahnya, ia berhasil lulus dengan nilai sempurna. Sebuah penghargaan yang jarang diperoleh bagi mahasiswa di jurusan yang sama.

Kebanggaannya tak sampai di situ. Selama kuliah di Utrecht, Felix juga berhasil mendapatkan pelajaran musik dari pianis favoritnya Elisabeth Leonskaja.

Sang ratu dibuat kagum                                    

Di kota yang terletak 43 kilometer dari Amsterdam, Felix tak hanya mengenyam pendidikan tetapi juga berhasil merengkuh pengalaman profesional dan kehidupan. Sebagai mahasiswa piano di Utrecht, ia sering mengisi konser musik yang sering diadakan di kantor pemerintahan wilayahnya.

Rutinitas mengisi konser di walikota berbuah manis di sepanjang karir bermusiknya. Penerima beasiswa Erasmus Exchange Programme tahun 2015 di Royal College of Music London itu ditawari tampil bermain piano di hadapan orang nomor satu Belanda Ratu Beatrix dan Belgia Ratu Mathilda. Keduanya merupakan penikmat musik klasik yang kebetulan berkunjung ke Utrecht di penghujung tahun 2016.

Felix sempat merasa deg-degan. Sebelum tampil, ia diajak berbincang sejenak oleh kedua ratu. Beruntungnya, percakapan pra acara itu mampu mencairkan suasana hatinya. Di panggung, Felix berhasil tampil maksimal. Alhasil, permainan jari Felix di atas tuts piano menuai raut wajah gembira dari kedua ratu.

“Saya memainkan dua lagu dan sambutan mereka sangat positif. Itu terlihat dari raut wajahnya,” cerita Felix bangga.

Tak hanya Belanda yang juga dibuat kagum oleh Felix. Beberapa bulan lalu, Felix didapuk untuk mengiringi permainan musik klasik yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif di Jakarta. Di acara Konserto Piano Ketiga, Felix menjadi pemain piano tunggal bersama Jakarta City Phillarmonic. Felix bersama Jakarta City Phillarmonic memperoleh tepukan panjang yang hangat dari penonton.

Penunjukan Felix sebagai solois piano bukan tanpa alasan. Lagu gubahan Sergei Prokofiev yang ia mainkan dalam konser tersebut serupa dengan lagu yang ia bawakan saat ujian master di Utrecht.

Setelah enam tahun menempa diri dengan pendidikan musik, kini Felix ingin terbang bebas. Ia masih ingin berbagi kreativitasnya dalam bermusik di luar statusnya sebagai mahasiswa.

“Yang terpenting adalah membagikan musik kepada orang lain. Harapannya, orang lain bisa menikmati musik yang saya mainkan,” ujar Felix yang bulan Oktober nanti terlibat dalam konser di Amsterdam bersama penyanyi sopran Charlotte Houberg.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Nuri Hermawan




RS Terapung ’Ksatria Airlangga’ Dilayarkan Perdana dari Makassar Menuju Surabaya

UNAIR NEWS – Alumni Universitas Airlangga mengukir sejarah baru. Selangkah lagi akan benar-benar memiliki kapal yang berfungsi sebagai Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga” dan akan melayani kesehatan masyarakat di pulau-pulau terluar dan terpencil.

Sebuah kapal phinisi sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter itu, yang dibangun di sebuah galangan phinisi di Kec. Galesong, Kab. Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/9) pagi sudah resmi dilayarkan dan meluncur lancar menuju Kota Surabaya. Di sebuah dermaga di kawasan Tanjung Perak, Surabaya, disanalah kemudian kapal akan dilengkapi dengan peralatan medisnya.

”Mohon doa restunya, pada pagi hari ini (Sabtu 9 September 2017), RS Terapung Ksatria Airlangga akan diluncurkan berlayar dari Makassar ke Surabaya. Semoga pelayaran berjalan dengan lancar untuk menunjukkan bakti Alumni kepada Universitas Airlangga,” tulis Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes., Pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga, yayasan yang akan pengelola RST “Ksatria Airlangga”. Di kapal itu juga tampak Herni Suprapti, bendahara yayasan Ksatria Medika Airlangga.

Koordinator Staf Dekanat FK UNAIR itu, berada di Galesong, Takalar, mengikuti peluncuran perdana kapal RST yang awalnya diinisiasi oleh sejawat dokter alumni FK UNAIR ini. Kapal diluncurkan dari sebuah dermaga di Galesong, setelah sekitar satu bulan dilakukan uji coba layar di perairan sekitar kawasan produksi kapal khas Bugis itu. Seperti dirancang pada awalnya, RST ini akan menelan biaya sekitar Rp 5 milyar, separuh lebih merupakan biaya pembuatan kapalnya.

Dr. Gadis Meinar membenarkan bahwa sebagai alumni hendaknya berbangga, karena berhasil membangun RST “Ksatria Airlangga” yang pembuatan kapalnya sudah selesai. Selain itu, katanya, ini merupakan RST pertama di dunia yang dimiliki oleh alumni perguruan tinggi yang akan digunakan untuk membaktikan diri pada pelayanan kesehatan dan pengabdian masyarakat di daerah-daerah terpencil di kepulauan Indonesia.

terapung
SUASANA peresmian peluncuran kapal RST “Ksatria Airlangga”. Tampak ada dr. Herni Suprapti, M.Kes (kedua dari kiri), Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes., dan dr. Agus Haryanto, SpB (ketiga dan kedua dari kanan). (Foto: Istimewa)

Ikhwal uji coba dan peluncuran ini juga dibenarkan oleh Agus Hariyanto, dr., SpB., alumni FK UNAIR penggagas ide awal RST ini. Ia yang berdinas di kawasan kepulauan di Maluku Utara itu rajin menengok proses pembuatan kapal ini ke Makassar. Dalam perlayaran perdana menuju Surabaya ini pun, dokter spesialis bedah itu juga terlihat ada di geladak kapal itu bersama para aparat keamanan setempat.

”Saya tidak berani memberi perkiraan berapa lama dan kapan sampai di Surabaya, nanti saja saya kabari,” kata Agus Hariyanto, alumni PPDS FK UNAIR tahun 2006 ini.

Dalam dialog melalui chatt dengan unair.news sebelum ini, Agus Harianto juga mengabarkan sedang menyusun rancangan program pelayaran kapal RST ini untuk sepanjang tahun 2018. ”Unair Goes to Island,” tulisnya.

Ia berharap selain pelayanan untuk pengabdian medis, juga hendaknya sekaligus bsia dimanfaatkan untuk bikin observational research dengan goal memiliki data base tentang kesehatan maritim di pulau-pulau di Provinsi Jawa Timur.

”Saya kira ini sangat terbuka bagi adik-adik peneliti untuk bergabung mengerjakan riset itu, atau bikin riset sendiri dengan mengikuti pelayaran kapal RST ini,” tambahnya. (*)

Penulis: Bambang Bes




Piyu: Musik adalah Penolong Saya

UNAIR NEWS – Mengawali karir pada tahun 1997, Satriyo Yudi Wahono yang akrab disapa Piyu masih terus menunjukkan taring bermusiknya. Sampai kini, setiap tahunnya, Piyu yang tenar sebagai penggawa grup musik Padi, berkomitmen untuk menghasilkan karya-karya yang memanjakan penikmat musik.

Di awal tahun 1997, Piyu bersama rekan-rekannya di Padi mulai sukses menggetarkan hati dan telinga para pendengar melalui rilisan album Lain Dunia. Lagu-lagunya, seperti “Mahadewi” dan “Begitu Indah”, tak lekang digerus masa.

Selang empat tahun, pada 2001, album Sesuatu yang Tertunda dirilis. Piyu masih saja berhasil membius pendengar musik melalui rangkaian lirik lagu dan irama musik yang tak kalah ‘menyayat’ benak sanubari. Lagu-lagunya, seperti “Kasih Tak Sampai” dan “Semua Tak Sama”, juga masih indah untuk terus dilantunkan hingga kini.

Tiga album selanjutnya, Save My Soul (2003), Padi (2005), dan Tak Hanya Diam (2007), juga berhasil mengorbit dan meramaikan kancah industri musik Indonesia. Di tahun 2011, kompilasi lagu-lagu grup musik Padi menjadi petanda perjalanan musik mereka berakhir.

Berakhirnya kebersamaan bukan berarti karir musik Piyu menemui ujung jalan. Ia justru kian membuktikan bahwa musik adalah jalan hidupnya.

“Buat saya, bermusik adalah salah satu tool atau jembatan yang bisa menjadi jalan hidup saya. Kenapa pengin di musik? Ya, saya nggak tahu, yang jelas saya ingin mencoba saja. Saya harus mencoba sampai entah itu berhasil atau gagal,” tutur musisi berusia 44 tahun itu.

Piyu, yang pernah menjadi mahasiswa S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis tahun angkatan 1990, benar. Ia membuktikan bahwa dirinya masih bisa eksis. Prinsipnya, tak berhenti mengeluarkan karya.

“Jadi, saya harus konsisten. Paling tidak, saya harus mengeluarkan karya setiap tahun. Entah itu buku atau film,” tutur penulis biografi “Life, Passion, Dreams, and His Legacy”.

Pada tahun 2014, ia bertanggung jawab sebagai penata musik pada film “Aku Cinta Kamu”. Tahun 2016, ia merilis album Best Cuts of Piyu.

Dalam album terbarunya, Piyu mendaur ulang lagu-lagunya terdahulu untuk dinyanyikan para penyanyi kekinian. Album Best Cuts of Piyu, pada Oktober 2016, mendapatkan penghargaan Triple Platinum setelah berhasil terjual 150ribu kopi.

“Tahun 2017, masih berancang-ancang. Kemarin tanggal 1 (Agustus), saya rilis single (lagu) lagi sama Alex X-Factor. Terus saja. Bulan depan project film di SCTV. Terus akhir tahun ini, insya Allah saya produksi film Sesuatu yang Indah. Gitu aja sih prosesnya berkarya,” imbuh Piyu.

Musik adalah penolong

Ia menyadari bahwa musik telah menjadi kegemarannya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia mulai iseng bermain alat musik bersama kawan-kawannya. Duduk di bangku sekolah menengah pertama, Piyu belajar bermain gitar dan membentuk grup musik di saat dirinya berseragam putih abu-abu.

Sejak bermain gitar itulah, ia mulai belajar menciptakan lagu. Mengarang lirik-lirik puitis dan menggubahnya dengan nada-nada yang pas. Pengalaman pribadi dan daya imajinasi yang kuat menjadi kunci betapa lagu-lagunya masih diminati hingga kini.

Karir bermusik lelaki kelahiran 15 Juli 1973 itu tak langsung sukses mengorbit seperti sejak dua dasawarsa lalu. Masuk kuliah di UNAIR pada tahun 1990, Piyu berhasil lulus pada tahun 1996. Sesaat sebelum lulus, Piyu merantau ke Jakarta. Ia bekerja serabutan dengan menjadi teknisi di bengkel.

“Tapi, saya nggak menghasilkan apa-apa. Saya kembali dan menyelesaikan kuliah. Saya selesaikan skripsi baru saya wisuda,” ceritanya.

Selama kuliah, Piyu juga menyibukkan diri dengan menjadi panitia acara-acara musik (event organizer). Di waktu senggang, Piyu menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya.

Setelah sempat ‘keluar’ dari jalur musik, Piyu akhirnya kembali menekuni hobinya. Ia mulai membentuk grup musik Padi dan menelurkan karya-karya terbaiknya. Konsistensi mengeluarkan karya dan bekerja sesuai minat bakat menjadi prinsip utamanya. Ia berpikir, bagaimana caranya agar dirinya bisa menciptakan musik yang tak gampang dilupakan.

“Saya seriusin (musik) karena passion saya di sana (musik). Itu berhasil. Musik berhasil memperbaiki hidup saya. Saya nggak mau bikin lagu yang asal ngetop saja,” pungkas Piyu.

Dari bermusik lah, ia berhasil membentuk grup musik Padi, lalu menjadi produser yang mengorbitkan nama-nama baru di belantika musik, menjadi penyanyi solo, mengisi latar musik dalam sebuah film maupun sinetron, hingga menulis buku. Semuanya tentang musik.

Jatuh bangun juga pernah ia rasakan. Namun, lagi-lagi, musik berhasil ‘menolong’ hidupnya.

“Musik yang memberi saya nafkah. Musik yang memberi saya rejeki. Ketika saya tinggalkan, alam semesta ini seolah menolak. Banyak sekali kegagalan. Pada saat yang bersamaan juga, musik lah yang menolong saya. Saatnya saya bergerak lagi. Saya reborn (lahir kembali),” kata penulis novel Sesuatu Yang Indah mantap.

Meski bermusik telah memberinya asam manis dalam kehidupan dirinya, Piyu tetap ingin terus berkarya. Ayah tiga anak itu masih ingin membangun sebuah museum musik yang menceritakan tentang perjalanan karir grup musik Padi. Tak berhenti di situ. Gitaris asal Surabaya juga ingin membuat wahana bagi orang-orang yang ingin berkarya di jalur musik.

Kepada generasi muda khususnya mahasiswa UNAIR, Piyu berpesan agar mereka memiliki impian besar. Agar impian terwujud, mereka harus membuat target jangka pendek.

“Kita memang tidak tahu masa depan kita bagaimana, tapi kita punya garis-garis yang menentukan di mana posisi kita sekarang. Oh jadi ketika saya ada di sini, maka masa depan nanti begini. Intinya, kita harus tahu lima tahun ke depan harus jadi apa,” ucap Piyu.

Penulis: Defrina Sukma S




Bertabur Professor, IKA-UA Sulawesi Selatan Diharap Melebihi Kiprah IKA Pusat

UNAIR NEWS – Tradisi Universitas Airlangga bahwa disela kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dimana pun, dengan mengadakan temu alumni, juga dilakukan di Makassar, Sulawesi Selatan, tempat PIMNAS ke-30/2017 dilaksanakan. Bertempat di Hotel Aston Makassar, Selasa (22/8) malam dilaksanakan Temu Alumni dan Pelantikan Pengurus Wilayah IKA UA Sulawesi Selatan periode 2017-2021.

Satu hal yang menarik, dalam Surat Keputusan PP IKA-UA Nomor 007/PP IKA UA/SK VIII/2017 tanggal 16 Agustus 2017 itu, dari 62 orang alumni UNAIR yang menjadi pengurus IKA-UA Wilayah Sulawesi Selatan, sebanyak 30 orang atau hampir 50% diantaranya bergelar professor (Guru Besar), serta tidak seorang pun yang bergelar sarjana (S1). Jadi minimal S-2 dan atau dokter spesialis. Pelantikan pengurus ini dilakukan Sekjen PP IKA-UA Dr. Budi Widayanto, Drs.Ec., MP., yang mewakili Ketua Umum PP IKA-UA yang berhalangan hadir.

Komposisi kepengurusan yang sedemikian “wah” karena bertabur Professor itu, juga diakui oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Moh Nasih, MT., SE., Ak., MCA., bahwa kekuatannya melebihi susunan pengurus PP IKA-UA. Karena itu diharapkan kekuatannya pun melebihi kiprah IKA-UA Pusat, karena dengan menjadi yang terbaik dalam pengabdian di berbagai tempat dan professinya, inilah kunci dalam berkontribusi terhadap nama baik almamater.

Rektor menyampaikan hal itu karena capaian produk UNAIR (alumni) berdasarkan penilaian internasional, sudah melebihi dari peringkat UNAIR (istitusinya) pada pemeringkatan cersi Dikti. Peringkat UNAIR terbaru versi Dikti berada di ranking tujuh, tetapi Academic Reputation UNAIR menduduki peringkat keempat.

”Itu artinya kita efisien secara luar biasa, sebab dari instansi berperingkat tujuh bisa menghasilkan output berperingkat empat. Karena itu marilah prestasi demikian ini kita lanjutkan,” kata Rektor Prof. Moh Nasih.

Rektor juga berpesan, para alumni untuk tidak malu dan segan-segan mencantumkan dalam database curiculum vitae di instansi atau perusahaan tempat bekerjanya untuk menulis sebagai alumni Universitas Airlangga, terutama pada data di website-nya. Apalagi jika alumni tersebut juga mencantumkan data prestasinya, maka hal-hal seperti itulah yang bisa berkontribusi menunjang target UNAIR untuk masuk 500 world class university (WCU) sebagaimana digadang-gadang oleh Kemenristekdikti.

Sementara itu Sekjen PP IKA UNAIR, Dr. Budi Widajanto, SE., Ak., MP., dalam sambutannya berharap agar segera melaksanakan rapat kerja untuk menyusun program kerja. Ini dimaksudkan agar tidak kehilangan momentum selepas pelantikan pengurus ini.

“Dalam menyusun program kerja hendaknya berpegang pada prinsip-prinsip, antara lain validasi organisasi, pengembangan karier, dan kerjasama almamater dengan lembaga lain. Selain itu mulai dari PP hingga Wilayah, Cabang, dan IKA Fakultas sepakat untuk mendukung upaya almamater dalam meraih target 500 dunia, yang sekarang masih di peringkat 700,” kata Budi Widayanto.

DALAM acara ini Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih dan Sekjen PP IKA-UA Budi Widayanto mendapat kehormatan sebagai “Warga Bugis” yang ditandai pengenaan busana adat Bugis. (Foto: Bambang Bes)

Gayung bersambut, Ketua IKA-UA Wilayah Sulsel, Prof. Dr. H. Heri Tahir, SH., MH., menyambut baik arahan PP IKA-UA. Pihaknya ingin senantiasa menjalin hubungan komunikasi yang produktif dengan IKA Pusat, karena pihaknya tidak ingin terjadi sesuatu yang stagnan sehingga bisa mengganggu pencapaian dan realisasi program kerja.

”Pengurus IKA UA Sulsel ini tidak beda jauh dengan PP-UA kok. Bedanya mungkin karena pengurus IKA-UA Sulsel ini lebih banyak yang berprofessi sebagai pendidik (dosen), namun juga banyak yang berprofessi lain seperti notaris dan di bidang kesehatan,” kata Prof. Heri Tohir.

Dalam susunan pengurus IKA-UA Sulawesi Selatan periode 2017-2021, pada jabatan Dewan Penasihat, dari 12 orang terdapat sepuluh diantaranya professor. Demikian juga Dewan Pakar, dari 13 alumni yang terpilih, sepuluh diantaranya professor. Kemudian enam professor sebagai pengurus harian dan empat professor pada kepengurusan bidang.

Selain Prof. Dr. H. Heri Tohir, SH, MH sebagai Ketua, juga dibantu Wakil Ketua I Prof. Dr. Muh Ali Lakatu, SE., MS., Wakil ketua II Prof. Dr. Syahnur Said, SE, MS., Wakil Ketua III Prof. Dr. Abd Rahman, SH, MH. Sekretaris: Dr. H. Nukrawi Nawir, M.Kes., AIFO., Wakil Sekretaris I Dra. Hj. Herlina Sukawati, M.Si., Wakil Sekretaris II Birkah Latif, Sh., MH., LLM., Wakil Sekretaris III Dr. Indirawaty, SPd., S.Kep.NS., M.Kes. Sedang Bendahara dijabat oleh Prof. Dr. drg. Herlina Yusuf, M.Kes., Wakil Bendahara I Prof. Dr. Hj. Hasmiaty, M.Kes., Wk Bendahara II Dr. Nurfaidah Said, SH., MH., M.Si, dan Wk Bendahara III Dr. Ir. Hikmawaty Mas’ud, M.Kes.

Kemudian juga dilengkapi bidang-bidang, yaitu Bidang Kajian dan Kebijakan Publik, Bidang Kajian Internasional dan Pemberdayaan Alumni, Bidang Usaha Kreatif dan Penggalangan Dana, Bidang Kemitraan dan Hubungan Antar-lembaga, Bidang Pengembangan dan Kerjasama Almamater, Bidang Pengembangan Organisasi dan Alumni, Bidang Pengabdian Masyarakat dan Penanggulangan Bencana, Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Karier Alumni, Bidang Publikasi, Dokumentasi dan Humas., serta Bidang Jejaring dan Database Alumni. (*)

Penulis: Bambang Bes




Robert James Bintaryo, Alumnus Manajemen Jadi Kepala KDEI Taiwan

UNAIR NEWS – Robert James Bintaryo merupakan alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga. Kini menjadi Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) Taipei. Ia merupakan lulusan Manajemen tahun 1986.

Robert merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Lulus dari SMAN 5 Surabaya pada tahun 1979, pria kelahiran Malang ini sempat gagal masuk UNAIR. Robert kemudian berkuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya.

Tahun berikutnya, Robert mencoba lagi mengikuti seleksi masuk UNAIR dan diterima di Jurusan Manajemen yang menjadi pilihan pertamanya.

“Sampai saat ini saya masih hafal nomor identitas mahasiswa saya,” ungkap lelaki kelahiran 2 September 1959 itu bangga.

Saat Robert mulai berkuliah, orangtuanya pensiun. Ia dan saudara-saudaranya yang menempuh pendidikan tinggi pada waktu yang sama, harus memahami kondisi keuangan keluarga. Robert yang suka menikmati musik, bersama teman-temannya sering mengadakan acara bermusik untuk mendapatkan uang tambahan.

“Sering bikin acara siaran di TVRI. Saya sendiri nggak bisa main musik, tapi teman-teman saya yang main. Jadi, kita punya semacam event organizer musik. Saat itu bisa masuk TVRI itu sudah senang sekali rasanya,” kenangnya.

Skripsinya tentang produk pakan ternak sebuah perusahaan pakan ternak di Jawa Timur mengantarkannya lulus menjadi sarjana ekonomi pada tahun 1986. Setelah lulus, Robert sempat bekerja di perusahaan asuransi di Jakarta. Dua tahun kemudian ia mengikuti seleksi dan lolos menjadi PNS di Kementerian Perindustrian dan Pedagangan (Kemenrindag) pada saat itu.

Dapat Beasiswa Kuliah di Inggris

Saat menjadi PNS di Kemenrindag, Robert mendapatkan beasiswa untuk studi di Inggris selama dua tahun. Robert mengambil Diploma Business Administration di Cardiff Business School, Cardiff,  pada tahun pertama dan melanjutkan Master of Business Administration di Hull University, Hull, pada tahun kedua.

“Alhamdulillah tesis saya dipilih oleh professor untuk disidangkan beliau. Jadi, saya tidak perlu maju sidang,” paparnya.

Pengalaman bersama TKI

Sebelum memimpin KDEI, Robert telah memiliki banyak pengalaman memimpin. Ia pernah menjadi Atase Perdagangan Belgia/Uni Eropa (2005 – 2009), Kepala Bagian Bantuan Luar Negeri Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian Perdagangan (2009), Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis Direktorat Jenderal (Ditjen) Perdagangan Dalam Negeri (2014 – 2016), serta Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Ditjen Perdagangan Dalam Negeri (2016).

Berbekal pengalamannya memimpin organisasi, menjadi atase, dan berbaur dengan masyarakat, Robert memimpin KDEI Taipei yang terdiri dari beragam divisi seperti imigrasi, perdagangan, perindustrian, investasi, ketenagakerjaan, serta pelayanan dan perlindungan WNI.

Pelayanan dan perlindungan WNI menjadi tantangan tersendiri bagi Robert. Pasalnya, jumlah Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan sendiri pada tahun 2016 telah mencapai 253 ribu atau 1 persen dari total populasi Taiwan, dan ada 5000 pelajar Indonesia di Taiwan.

Sering kali ia terjun langsung ke lapangan untuk memantau para TKI yang bermasalah, mengunjungi TKI yang sakit, mengadakan buka bersama para TKI, hingga bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk mengadakan acara hiburan bagi para TKI.

Menurut penghobi renang ini, kunci keberhasilannya adalah mampu menjaga kepercayaan, jejaring, dan mau terjun ke masyarakat.

“Saya punya banyak teman. Tanpa bantuan teman-teman rasanya saya tidak bisa seperti ini. Selain itu juga menjaga kepercayaan yang sudah diberikan,” paparnya.

Harapan untuk UNAIR

Sebagai alumnus UNAIR, Robert berpesan untuk para mahasiswa dan alumni, agar kita ingat bahwa negara membutuhkan kontribusi kita.

“Perhatikan masyarakat bawah, agar kontribusi kita untuk negara bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” papar Robert.

Robert berharap, dengan kualitas pendidikan yang dimiliki UNAIR, serta dukungan para alumni, UNAIR bisa mengejar rangking dunia. “Kita sudah punya tokoh-tokoh yang diperhitungkan. Tinggal kita tingkatkan lagi, dan terus menjaga kualitas,” ungkap Robert.

Kakak dan adik Robert juga alumnus UNAIR. Kakaknya seorang dokter gigi, dan adiknya dokter wanita spesialis bedah tulang pertama di Indonesia, dr. Yvonne Sarah Bintaryo. (*)

Penulis: Inda Karsunawati (alumnus Fisika UNAIR dan kandidat Master Teknobiomedik di National Taiwan University of Science and Technology, reporter Warta UNAIR)

Editor: Defrina Sukma S

 




Alumni FEB Bersinergi Dukung UNAIR Jadi Perguruan Tinggi Berkelas Dunia

UNAIR NEWS – Para alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga dari berbagai tahun angkatan melebur dalam ikatan keakraban.

Bagaimana tidak, para alumnus tersebut hadir dalam puncak acara Gala Dinner Dies Natalis ke-56 FEB UNAIR yang digelar di Empire Palace Surabaya, Jumat (11/8).

Perwakilan tahun angkatan ’85, Djoko Susanto, bercerita tentang masa-masa kuliahnya dulu. Pada saat itu, ada banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang mewadahi minat dan bakat bidang olahraga seperti liga mahasiswa sepak bola.

Di akhir prakatanya, Djoko berharap agar Ikatan Alumni FEB (IKAFE) dapat semakin erat dan berkontribusi dalam mendukung UNAIR menuju perguruan tinggi berkelas dunia.

“Semoga IKAFE tetap satu untuk mendukung UNAIR sebagai world class university (perguruan tinggi berkelas dunia),” tutur Djoko.

Dekan FEB UNAIR Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak, mengaku merasa sedikit deg-degan ketika memberikan kata sambutan di depan para alumnus dan sivitas akademika.

“Saya belum pernah merasa deg-degan seperti ini karena kedatangan para senior, guru besar, dan alumnus. Ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis ke-56 FEB UNAIR dan kita berkumpul jadi satu dalam acara Gala Dinner,” aku Dian.

Dian menerangkan, Dies Natalis ke-56 FEB UNAIR sudah dimeriahkan dengan berbagai acara. Di antaranya adalah silaturahmi antara siswa dan guru sekolah menengah atas di FEB UNAIR, sejumlah seminar nasional dan internasional, senam pagi bersama, talkshow bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti, dan Gala Dinner.

“Kami tetap dan terus mengharapkan dukungan dari ikatan alumni untuk membangun budaya akademik khususnya menuju world class university (perguruan tinggi berkelas dunia). Tetaplah bersilaturrahmi dan saling mendukung,” pesan Dekan FEB UNAIR.

Acara makan malam tersebut dimeriahkan oleh pemutaran profil para guru besar, pemberian penghargaan kepada dosen dan mahasiswa berprestasi, hiburan berupa musik akustik hingga penampilan dari jebolan FEB UNAIR yang juga musisi nasional, Ari Lasso.

Di sela-sela aksi panggungnya, musisi Ari Lasso yang pernah menjadi mahasiswa Program Studi S-1 Manajemen juga mendukung UNAIR untuk menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.

“Fakultas Ekonomi (sebelum berubah menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis) punya sejarah kuat dalam kehidupan saya. Kalau tidak salah, saya tadi dengar bahwa Fakultas Ekonomi dan UNAIR pengin menjadi 500 kampus terbaik di dunia. Semoga mimpi-mimpinya tercapai dan mari kita terbang tinggi seperti elang,” ujar Ari Lasso.

Penulis: Defrina Sukma S




IKA FISIP Unair Gaet Dua Tokoh Nasional Jadi Penasihat

UNAIR NEWS – Ikatan Alumni FISIP Universitas Airlangga (IKA FISIP UNAIR) menggelar pelantikan di  TS Suites Hotel Surabaya, Sabtu (29/7). Organisasi yang menaungi alumni FISIP ini juga menggaet dua tokoh nasional untuk menjadi penasihatnya.

Kedua tokoh tersebut adalah Khofifah Indar Parawansa  (Menteri Sosial) dan Arif Budiman (Ketua KPU Pusat). Pelantikan pengurus Ika FISIP UNAIR dilakukan  oleh Pengurus Pusat (PP) IKA. Selepas pelantikan, seluruh pengurus langsung melakukan rapat kerja.

Berbeda dengan kepengurusan sebelumnya, pada masa kepengurusan periode 2017-2021 ini, Ketua Ika FISIP UNAIR Drs  Andik Fadjar Tjahjono, M.Si. menggerakan seluruh pengurus agar memiliki komitmen yang sama untuk lebih banyak melakukan aksi nyata. Bukan sekadar banyak aksi, tapi harus aksi yang bermanfaat dan diketahui masyarakat luas.

“Saya dan seluruh pengurus Ika FISIP UNAIR akan bekerja keras mewujudkan komitmen bahwa organisasi ini harus bermanfaat bagi alumni, bagi warga kampus, dan bagi masyarakat luas,”  tegas alumni Ilmu Politik angkatan 1985 ini.

Untuk mewujudkan itu, lanjut Andik, demikian ia akrab dipanggil, komposisi pengurus berasal dari semua program studi di FISIP. Mereka berasal dari  berbagai angkatan dan memiliki kemampuan sesuai bidang yang dibutuhkan.

“Kepengurusan kali ini tidak didominasi dari satu program studi tertentu atau angkatan tertentu,” lanjut ketua Ika FISIP UNAIR yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan, Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur. Bahkan, bukan hanya alumni S-1 saja, alumni dari S-2 dan S-3 juga dilibatkan sebagai pengurus Ika FISIP UNAIR ini.

Meski baru dilantik Sabtu (29/7), Ika FISIP UNAIR telah melakukan berbagai kegiatan. Terutama untuk bidang kerjasama, bidang penguatan ekonomi dan kewirausahaan,  bidang kajian dan pengembangan, bidang sosial, serta bidang seni budaya dan pariwisata.

Ada satu hal menarik lainnya dari Ika  FISIP ini, yaitu salam khas “Pokok’e FISIP”. Salam ini lahir dari sebuah proses internalisasi yang lama. Melalui pengalaman kuliah dan berorganisasi dari para pengurus ketika menempuh studi di FISIP UNAIR.

Menurut Sekretaris Ika FISIP UNAIR, Awan Tjatur Perkasa,  ini merupakan dinamika kehidupan mahasiswa FISIP yang diwarnai dengan tradisi berdialektika, berteori, hingga beraksi dalam gerakan-gerakan.

“Hal ini membentuk karakter alumni  yang kukuh dalam argumentasi, berpikir sebelum beraksi, memiliki kekuatan dalam bertoleransi, serta memiliki penghargaan tinggi terhadap perbedaan,” ucapnya.

Salam “Pokok’e FISIP” ini adalah refleksi dari ke-aku-an alumni, bukan ego tapi lebih pada rasa bangga menjadi alumni FISIP.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan I FISIP UNAIR Prof Budi Prasetyo mengatakan, pihaknya akan segera menyinergikan alumni dengan mahasiswa. Salah satunya adalah menggelar kuliah tamu dari alumni. “Kuliah tamu diadakan tiap semester. Jadi tiap program studi masing-masing ada agenda kuliah tamu dari alumni,” ujarnya.

Dia berharap banyak pada alumni FISIP untuk terlibat langsung maupun tak langsung dalam kegiatan akademik. Termasuk pula dalam rencana redesain kurikulum.

Pengurus Ika FISIP Unair dilantik oleh Ketua V Pengurus Pusat (PP) Ika UNAIR Koko Srimulyo. Koko yang alumnus FISIP ini ingin agar alumni yang ikut raker bisa menghasilkan output yang bermanfaat bagi alumni, masyarakat, dan kampus.(*)

Penulis : Ketua Bidang Humas Ika FISIP UNAIR Zainal Abidin Achmad
Editor : Binti Quryotul




Elvira Devinamira Belajar Kegigihan dan Ketekunan

UNAIR NEWS – Elvira Devinamira tercatat sebagai wisudawan berprestasi Universitas Airlangga periode Juli 2017. Keberhasilannya itu merupakan akumulasi sederet prestasi yang dicapainya selama menjadi mahasiswa Ilmu Hukum sejak tahun 2010.

Elvira dinobatkan sebagai alumnus bersama dengan 1.141 wisudawan lainnya oleh Rektor UNAIR, Sabtu (15/7). Ia tak dapat menyembunyikan paras ayunya yang diselimuti senyum kebahagiaan.

The day has finally come. This is gonna be the start of the new chapter in my life (Hari yang ditunggu akhirnya datang. Pencapaian ini akan menjadi awal baru dalam hidupku),” ungkap lulusan Fakultas Hukum.

Sepulang ke Indonesia, popularitasnya mencuat. Kegiatannya kian padat. Sejak menjadi Puteri Indonesia 2014, gadis bertubuh semampai ini memilih cuti selama dua tahun dan berhijrah ke Jakarta. Namun, menyelesaikan kuliah S-1 adalah sebuah keharusan.

“Di keluarga kami, aturan soal pendidikan itu penting. Mama selalu menekankan untuk bisa menyelesaikan hingga pada tingkatan sarjana yang walaupun nantinya akan kembali bekerja,” ucap penyandang gelar sarjana hukum ketika ditemui usai prosesi wisuda di Airlangga Convention Center.

Sejak tahun 2016, perempuan kelahiran 28 Juni 1993 bolak balik Jakarta-Surabaya untuk menyelesaikan kuliah dan menjalani rutinitasnya sebagai artis.

”Hampir dua kali seminggu, saya bahkan memilih first flight (penerbangan pertama) demi untuk mengejar kelas pagi. Itu rasanya membuat saya banyak belajar akan penting kegigihan dan ketekunan,” ucap Elvira.

Namun, perempuan ini mampu membuktikan bahwa keinginannya untuk menuntaskan studi jauh lebih besar daripada rintangan yang harus ia hadapi.

“Kata orang, mendapatkan keduanya yang kita inginkan itu tidak mungkin. Namun itu tidak bagi saya. Keinginan itu bisa terwujud ketika kita teguh dan gigih untuk mendapatkannya,” tegas perempuan yang suka traveling dan bermain piano.

Pengalaman mengesankan

Pengalaman studi Elvira selama di UNAIR cukup berwarna. Ia aktif di Association Law Student in Asia (ALSA). Tahun 2012, ia berhasil mengikuti ajang Harvard National Model United Nations di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

“Kunjungan itu merupakan kunjungan pertama saya ke Amerika Serikat dan untuk kali pertama juga mengunjungi Harvard University,” tutur Elvira kepada UNAIR News.

Duduk di samping Elvira, Rektor UNAIR Prof. Dr. Mochammad Nasih menyambut gembira atas kelulusannya.

“Sebagai mahasiswa berprestasi, kami patut bangga Elvira resmi menjadi alumnus UNAIR. Semoga UNAIR bisa terus menelurkan individu-individu yang berprestasi,” harapnya.

Selanjutnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini memaparkan bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam mengembangkan masyarakat. Menurutnya, kualitas pikiran bisa menjadi nilai tambah seseorang.

“Saya berharap ke depan Elvira bisa terus berprestasi agar bisa membanggakan keluarga hingga bangsa. Ketenaran itu jangan dikontribusikan ke hal-hal yang negatif,” pesan Rektor.

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Defrina Sukma S




Tim Atlet Denali Bertemu Pendiri Wanala

UNAIR NEWS – Sebelum menuju Amerika Serikat untuk mendaki Gunung Mc. Kinley, tim atlet beserta anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga menyambangi alumni. Pertemuan itu dilakukan di Jakarta pada Minggu (14/5) lalu.

Muhammad Faishal Tamimi, ketua ekspedisi sekaligus atlet Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX), mengatakan para alumnus merupakan penoreh sejarah yang melahirkan UKM Wanala pada 43 tahun lalu.

Pertemuan dengan para senior memberikan kesan tersendiri bagi tim Wanala. Perbedaan umur, generasi, zaman, teknologi, maupun pergaulan memang sudah terpaut jauh. Namun, pertemuan antara para senior dan junior seakan melipat jarak perbedaan.

“Sebelumnya pada waktu upacara pemberangkatan 8 Mei, kami bertemu dengan pendiri organisasi mas Machsus. Sudah 43 tahun umur Wanala saat ini, dan sudah 43 tahun pula perbedaan generasi yang terlewati. Namun, beliau tetap bangga mengenakan identitas jaket oranye khas Wanala UNAIR,” tambah Faishal.

Dalam pertemuan tersebut, hadir pula alumnus Wanala dari berbagai angkatan. Selain Machsus, ada pula Ibnu Purna, Dwi Sulistyo Cahyo, dan Rudy. Para alumnus tersebut berbagi motivasi dan cerita kepada para atlet dan anggota Wanala lainnya.

“Di sinilah kalian berproses, di Wanala semuanya saya dapatkan, jika kalian bersungguh-sungguh berorganisasi nanti akan kalian rasakan efeknya seperti yang sudah kami lalui. Berhati-hatilah ketika mendaki Denali nanti sebab cuaca di sana saat ini sedang tidak dapat diprediksi,” tutur Rudy.

Selain itu, para alumnus juga berharap agar kekeluargaan antar anggota dan senior tak pernah putus. Di samping mempererat silaturahim, kerekatan antar anggota dan senior dapat dimanfaatkan untuk transfer ilmu.

“Kami ini selaku ALB (anggota luar biasa), meskipun sudah tidak berkecimpung lagi, namun masih terbuka untuk transfer ilmu supaya tidak putus dalam satu generasi,” terang Dwi.

Pertemuan antara alumni dan anggota UKM Wanala terjadi selang dua hari usai upacara pelepasan. Sembilan anggota tim ekspedisi berangkat menuju Jakarta pada Rabu (10/5). Selama di Jakarta, tim ekspedisi bertemu dengan para alumnus, melakukan berbagai cek peralatan, dan pembinaan jasmani.

Setelah selama lima hari berada di Jakarta, pada Selasa (16/5) malam, tim atlet AIDeX dijadwalkan bertolak ke Bandara Anchorage, Alaska, untuk mempersiapkan diri dan mendaki gunung setinggi 20.000 kaki itu.

Denali bukanlah puncak pertama yang didaki oleh anggota UKM Wanala. Empat dari tujuh puncak tertinggi yang telah tim digapai adalah Puncak Cartens, Gunung Jaya Wijaya (Indonesia/1994), Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus (Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013).

Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits mereka.

Penulis: Wahyu Nur Wahid (anggota tim AIDeX)

Editor: Defrina Sukma S




Alumnus FK Ini Presentasi Riset Vaksin Tuberkulosis di 20 Negara

UNAIR NEWS – Tingginya angka prevalensi penyakit tuberkulosis, mendorong sejumlah negara untuk mengembangkan riset vaksin tuberkulosis. Salah satu pengembang riset vaksin itu adalah Satria Arief Wibowo, alumnus S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, yang kini menempuh studi doktor di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Dalam perkembangannya hingga saat ini, penelitiannya mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Pada tahun pertama dan tahun kedua studi doktor, ia menguji coba kandidat vaksin pada hewan coba. Masuk ke tahun ketiga, Satria bersama tim peneliti lainnya sedang berkonsentrasi melakukan uji coba pada manusia. Bulan Maret 2017 lalu, ia memulai uji klinis pada manusia di Rumania.

“Tim kami banyak berkolaborasi dengan negara-negara Eropa Timur seperti Romania, Belarussia, dan Lithuania, di mana jumlah penderita TB masih tinggi,” ungkapnya.

Satria fokus mengembangkan strategi vaksinasi terapeutik untuk TB. Strategi ini bekerja dengan cara menggabungkan antara vaksinasi dengan pengobatan. Kombinasi ini diharapkan dapat memperpendek masa terapi dan meningkatkan angka kesembuhan pada penderita TB baik untuk dewasa maupun anak-anak.

Dari hasil pengamatannya sejauh ini, secara umum  vaksin TB memerlukan strategi khusus karena Mycobacterium tuberculosis sebagai kuman penyebab TB merupakan organisme intraseluler sehingga cell-mediated immunity lebih berperan dibandingkan respons berbasis antibodi.

“Kuman TB memiliki kemampuan untuk menjadi dorman atau dikenal dengan kuman TB persisters. Sehingga dalam kandidat vaksin yang diujicobakan, kami mengembangkan latency antigens agar kuman TB persisters tersebut dapat dikenali oleh sistem imun dan tertanggulangi secara paripurna,” ungkap Satria.

Rencananya, penelitian ini akan dilangsungkan hingga medio tahun 2018 dan akan menjadi bagian akhir untuk disertasi program doktoral yang saat ini sedang ia tuntaskan.

Menjalin relasi dengan peneliti di negara lain

Kegiatan penelitiannya ini dilibatkan bersama sejumlah mahasiswa program pendidikan dokter  spesialis anak dan mahasiswa kedokteran. Satria menjadi peneliti termuda satu-satunya dari Asia Tenggara.

Selain itu, Satria juga telah berkeliling ke 26 negara di Eropa dan Afrika untuk penelitian, presentasi hasil riset di sejumlah kongres dan menjalin relasi dengan sejawat peneliti. Hasil riset yang pernah dipresentasikan di antaranya adalah “New Approaches to Vaccines for Tropical Diseases” dalam kongres Keystone Symposia di Afrika Selatan yang didanai Bill and Melinda Gates Foundation pada Mei tahun 2016.

Dalam kongres yang dihadiri delegasi dari 50 negara tersebut, Satria menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia.

Selain di Afrika Selatan, Satria juga pernah mempresentasikan risetnya di hadapan ratusan peneliti dunia dalam Congress 47th World Conference of International Union against Tuberculosis” di Liverpool, Inggris Raya, pada Oktober 2016 lalu.

“Saya bersyukur dapat  terlibat dalam riset berskala internasional semacam ini. Hal yang dapat saya pelajari di sini adalah dokter sebagai klinisi sebenarnya tidak sebatas berkutat menangani pasien di rumah sakit saja. Dokter sebenarnya punya kesempatan untuk aktif terlibat di dalam aktivitas riset. Tujuannya untuk menghasilkan inovasi pengobatan demi kepentingan pasien,” ungkapnya.

Jauh sebelumnya, Satria menempuh studi S-1 Pendidikan Dokter FK UNAIR dan menjadi dokter umum pada Maret 2014. Pada saat itu, usianya baru menginjak 21 tahun.

Alumnus SMPN 1 dan SMAN 5 Surabaya tersebut masuk FK UNAIR melalui jalur prestasi atau sekarang disebut SNMPTN pada tahun 2008. Saat itu, usianya masih 15 tahun. Bisa dibayangkan, saat usianya 15 tahun yang seharusnya masih duduk di kelas I SMA, namun Satria sudah menjadi mahasiswa kedokteran.

Setelah lulus sarjana kedokteran, Satria mencoba meraih beasiswa doktor di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Berkat rekomendasi Profesor Tjip S. Van Der Erf, seorang ahli penyakit infeksi, dan setelah melalui proses wawancara melalui Skype dengan pihak London School of Hygiene and Tropical Medicine, Satria  akhirnya diterima menjadi mahasiswa doktor dengan beasiswa meskipun belum mempunyai gelar master.

“Saya bersyukur, di usia 24 ini saya telah berkesempatan untuk mengunjungi total 35 negara-negara di dunia ini. Mengunjungi banyak negara-negara di dunia telah membuka mata saya, akan keberagaman sistem nilai, sosial, maupun budaya yang turut berpengaruh dalam sistem pelayanan kesehatan dan kemajuan riset di suatu negara,” ungkap Satria yang pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FK UNAIR tahun 2012.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S