Andreas Gunawan, Alumnus Pertama FE UNAIR ’62 ”Nyambangi Kampoes”

UNAIR NEWS – Reuni kecil-kecilan, dihadiri 14 alumni sepuh Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, berlangsung di sebuah Resto di Surabaya, Sabtu (21/4). Lebih tepatnya, kumpul-kumpul itu menyambut Drs. Andreas Gunawan (82) atau Liem Tiauw Gwan yang lagi ”sambang kampoeng”. Ia adalah mahasiswa angkatan pertama Perguruan Tinggi Ekonomi Surabaya (PTES), cikal bakal FE UNAIR, dan alumni pertama FE UNAIR tahun 1962. Kini Andreas bermukim di USA.

Pertemuan gayeng itu juga dihadiri Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak. Tokoh alumni FE yang hadir antara lain Prof. Arsono Laksmana, Drs. Ec. Sugiat, Drs. Ec. Mashariono, MBA., H.M. Djoewaeni (Lawang), Koentjoro Koesnoeljakin (Jakarta), Jan J. Legawa, Budi Setiorahardjo, Eddy Purnomo, M. Pribadi Arqam, Sri Subekti dan Fransisca (Hwa Tje).

Bertemu dengan kawan-kawan lama, mereka saling mengungkapkan kenangan masa lalu saat mereka aktif sebagai mahasiswa dan aktivis kampus. Mereka saling aktif bicara masa lalunya, ada yang menelepon kawan yang tidak bisa datang, dsb., yang dilaksanakan sambil makan siang bersama.

Mengutip buku “Melangkah Di Tahun Emas, 50 Tahun Universitas Airlangga” (2004), PTES adalah cikal-bakal FE UNAIR (kini FEB). Yayasan PTES (YPTES) sebagai pendirinya, dibentuk pada 1 Januari 1954. Setelah berproses, akhirnya PTES diresmikan 15 September 1954. Lalu pada 17 November 1957 dijalin kerjasama antara PTES dengan FE Universitas Indonesia.

Pada saat YPTES diresmikan itu, sebenarnya pengurus sudah mengajukan permohonan kepada Presiden agar PTES digabungkan ke dalam Universitas Airlangga (dijadikan negeri). Akan tetapi terkendala beberapa faktor, diantaranya saat itu belum ada Undang-Undang Perguruan Tinggi.

Dalam perjuangan selanjutnya, cita-cita PTES akhirnya terwujud bersama keluarnya SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 31/1961 tanggal 8 Agustus 1961 yang menetapkan sejak 1 September 1961 PTES resmi berubah menjadi Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.

andreas gunawan
ANDREAS Gunawan, duduk nomor tiga dari kiri, dan sahabat-sahabatnya di FE UNAIR, di sebuah resto di kawasan Manyar Surabaya, Sabtu (21/4). (Foto: Bambang Bes)

”Saya masuk kuliah itu masih di PTES tahun 1954. Tetapi ketika lulus tahun 1962, PTES sudah berubah menjadi FE UNAIR. Jadi tidak salah kalau menyebut angkatan saya itu alumni pertama FE UNAIR,” kata Andreas Gunawan kepada news.unair.

Setelah lulus tahun 1962, karena saat itu ketersediaan dosen masih terbatas, Andreas langsung diberi surat tugas untuk mengajar di FE. Ia mengajar Cost Accounting. Namun sambil mengajar itu ia juga diangkat sebagai koordinator fakultas. Tetapi ketika terjadi “rame-rame” (istilah Andreas untuk kasus politik tahun 1964-1965), ia tidak serujuk dengan dosen “drop-dropan” dari luar yang berhaluan kiri. Andreas yang pro-mahasiswa banyak “mengganggu” kelompok yang kekiri-kirian itu.

”Saya dan mahasiswa tidak rela ada komunis di Indonesia, jadi kami bekerjasama dengan mahasiswa dan melawan,” kata Andreas, arek Suroboyo dengan semangatnya yang masih tampak. Padahal disatu sisi pemerintah tak ingin kelangsungan pendidikan itu terganggu. Kementerian Perguruan Tinggi pun tak berani mengeluarkan Andreas, takut kalau mahasiswa bergolak. Akhirnya memilih “memisahkan” Andreas dengan disekolahkan ke Amerika Serikat.

Ketika sudah kuliah pada prodi marketing jenjang Master, Yale University, hati Andreas tetap tidak bisa tenang karena gejolak “rame-rame” di Surabaya itu. Tanpa seijin pemerintah, akhirnya Andreas pulang ke Surabaya untuk membantu pergerakan, walau diakui saat itu ia salah tafsir.

”Kalau hanya di AS kan saya tidak terlibat, padahal saya ingin terlibat. Jadi ya pulang. Tapi lama-lama kementerian juga tahu dan saya diminta kembali lagi ke AS,” kisahnya.

Di AS Andreas kuliah beneran. Memang sempat pindah dari Yale University ke Ohio University. Gara-garanya, dosen terbaik marketing di Yale itu pindah ke Ohio, jadi Andrean mengikutinya. Kendati demikian, karena di Surabaya “rame-rame” tidak juga reda, akhirnya Andreas pulang ke Indonesia, tidak menyelesaikan Program Masternya.

Di Surabaya Andreas kembali mengajar. Dalam suatu hari ia sempat “diculik” oleh sahabatnya, Djoewaeni, aktivis HMI, agar tidak membuka fakultas, karena Andreas yang membawa kunci gedung, sehingga kegiatan dosen “kekiri-kirian” itu gagal.

Dalam perjalanan waktu, setelah gejolak reda, tahun 1965-1967 Andreas atau Drs. Liem Tiauw Gwan diangkat jadi Asisten Dekan Bidang Akademik. Saat itu Dekan FE UNAIR dijabat Prof. Drs. Ec. Miendrowo Prawirodjoemeno. Setelah 1967 ia kembali jadi dosen biasa. Tetapi karena penghasilan saat itu tidak cukup, ia mula-mula nyambi bekerja mengurus perusahaan milik orang.

Setelah berpengalaman, sambil terus mengajar di FE, ia berhasil mendirikan perusahaan sendiri. Kiprah yang lain, Andreas membantu pembukaan FE Universitas Widya Mandala dan FE Universitas Wijaya Kusuma (UWK). Bahkan juga diangkat sebagai dekan yang pertama, baik di WM dan UWK.

Memutuskan untuk bermukin di AS, ia akui terhitung belum lama, baru sejak 1998. Sebenarnya ia enggan pindah ke AS, tetapi karena tiga anaknya sekolah disana dan Andreas pernah sakit kanker parah, sehingga anaknya kerepotan dalam merawat, akhirnya Andreas menyerah untuk diboyong ke Negeri Paman Sam itu, sampai saat ini. Tetapi setiap dua tahun ia selalu poelang kampoeng.

”Di AS saya nggak ada aktivitas kerja. Ya semata senang-senang, jalan-jalan olahraga, neruskan hoby fotografi, bikin mebel tetapi tidak untuk usaha. Santai saja dengan anak-anak,” katanya.

Ditanya kiat kebugarannya dimana Andreas masih tampak enerjik? Ia mengaku hanya olahraga rutin berjalan setiap hari. ”Saya tidak diet. Juga tidak minum obat, minum vitamin pun tidak. Pantangan makan tidak ada. Rahasianya hanyalah pikiran tenang. Itu saja,” tambahnya.

Dimintai masukan dan harapannya? Andreas berharap UNAIR semakin maju dan mengedepankan teknologi baru, serta bisa memenuhi harapan masuk 500 dunia. Walau, sejatinya ia bukan orang yang terlalu mementingkan peringkat, karena Indonesia ini masih butuh tenaga yang berkualitas dan siap bekerja. Jika itu bisa disuplay UNAIR sudah sangat bagus, katanya. (*)

Penulis : Bambang Bes




RS Terapung ’Ksatria Airlangga’ Telah Layani 2.000 Lebih Pasien

UNAIR NEWS – Ucapan syukur alhamdulillah disampaikan Drs. Ec. Hariyanto Basoeni, Ketua Umum IKA Universitas Airlangga, usai menyaksikan bakti sosial Rumah Sakit Terapung (RST) ”Ksatria Airlangga” yang senantiasa mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Tercatat hingga saat ini sudah melayani 2.000-an pasien. Hal itu tercatat sejak baksos di Bawean (Oktober  2017), di pulau Kangean (November 2017), dan terbaru di Pelabuhan Kalimas Surabaya (11/3/2018) lalu.

”Kami sebagai alumni UNAIR selalu bersyukur bahwa sambutannya luar biasa. Yang di Kalimas itu saja tak kurang 600 orang mengantre pelayanan RST. Mereka para warga sekitar pelabuhan, anak buah kapal yang belum berlayar, dan petugas pelabuhan,” kata Hariyanto Basoeni, kemarin. Beberapa pengemudi transportasi online juga ikut antre.

Dalam baksos RST “Ksatria Airlangga” di Kalimas itu juga hadir Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt., Ka Dinkes Jatim Dr. dr. Kohar Hari Santoso, Sp.An. KIC.KAP., Sekretaris Yayasan Ksatria Medica Airlangga (YKMA/pengelola operasional RST) Dr. Suwaspodo Henry Wibowo, Sp.An., MARS sebagai penanggungjawab baksos, Ketua IKA Fakultas Kedokteran UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG., Ketua IKA-UA Jatim Dr. Hendy Hendarto, Sp.OG., pengurus dan staf YKMA lainnya.

rs terapung
PENGURUS YKMA dan alumni UNAIR berfoto bersama diatas geladak kapal RST di Pelabuhan Kalimas, Minggu (11/3). (Foto: Helda Budiyanti/YKMA)

Disampaikan lagi oleh Pak Har, sapaan akrabnya, RST “Ksatria Airlangga” ini diinisiasi oleh sejawat dokter alumni FK UNAIR. Lalu dibangun bersama Ikatan Alumni UNAIR lainnya, dan memang diperuntukan pengabdian kepada masyarakat, terutama masyarakat yang selama ini masih sulit meraih jangkauan layanan kesehatan yang memadai. Misalnya masyarakat di kepulauan terpencil dan terluar di Indonesia.

”RS Terapung UNAIR ini kami hadirkan untuk membantu dan melengkapi layanan kesehatan dari pemerintah, dengan layanan yang bisa kami jangkau. Karena itu kami berterima kasih kepada instansi, lembaga, organisasi dan donatur yang selama ini ikut bergabung membantu kami,” tambah Ketua IKA UNAIR itu.

Bahkan, RST “Ksatria Airlangga” sudah diminta oleh Kementerian Kesehatan RI untuk bisa hadir dan memberikan baksosnya di Papua, khususnya memberi layanan masyarakat Asmat. Namun, kemungkinan hal itu akan dilakukan setelah memenuhi permintaan masyarakat di Pulau Sapeken Kabupaten Sumenep dan kepulauan terluar lain di Jatim.

”Karena itu kami mohon doa dan dukungan teman-teman pers dan semua pihak, agar RST ini mampu melaksanakan visi dan misi kemanusiaannya untuk masyarakat Indonesia,” kata Pak  Har, alumni Fakultas Ekonomi UNAIR ini.

Sekretaris YKMA sekaligus penanggungjawab baksos, dr. Suwaspodo Henry Wibowo, menjelaskan, hingga saat ini RST sudah dilengkapi fasilitas medis yang cukup memadai. Ada ruang operasi/bedah dasar, ruang dan alat operasi mata, pelayanan obat, bahkan ruang perawatan sementara pasien.

Pada RST juga dilayani oleh para dokter spesialis yang diperlukan dalam suatu operasi. Misalnya dokter spesialis Bedah (Sp.B), Spesialis mata (Sp.M), spesialis kebidanan dan kandungan (Sp.OG), spesialis anastesi (Sp.An), spesialis anak (Sp.A), dan spesialis penyakit dalam (Sp.PD).

rs terapung
DIANTARA warga sedang menjalani pemeriksaan awal di Pelabuhan Kalimas. (Foto: Helda Budiyanti/YKMA)

MELAYANI 2.000-AN PASIEN

Sehingga pertengah Maret 2018 ini, RS Terapung “Ksatria Airlangga” UNAIR setidaknya sudah melayani 2.099 orang pasien. Dirinci Dr. Henry sesuai data administrasi di YKMA, pada baksos di Bawean melayani 449 pasien, di Pulau Kangean melayani 1.050 pasien, dan di pelabuhan Kalimas kemarin 600-an pasien.

Di Bawean, dari 449 pasien, 59 diantaranya pasien dengan operasi pembedahan dan 43 orang operasi (mata) katarak. Di Pulau Kangean hampir tiga kalinya, yakni 1.050 pasien. Dari ribuan pasien itu, terdapat 65 pasien yang harus dioperasi/bedah, tiga diantaranya operasi caesar, 137 pasien operasi mata katarak, dan sisanya pelayanan kesehatan yang lain.

Seperti sudah diberitakan news.unair.ac.id., RST menggunakan jenis kapal Phinisi (kapal khas Bugis) dibangun di galangan Galesong, Kab. Takalar, Sulsel. Kapal seukuran 27 x 7,5 meter ini memang agar bisa berlabuh di pelabuhan/pendaratan rakyat di pulau-pulau kecil dan terluar.

Kendati demikian RST mampu mengarungi samudera luas. Sebagai bukti, dalam pelayaran perdana dari Makassar menuju Gresik (pelabuhan Surabaya saat itu penuh – red), hanya ditempuh selama tiga hari/malam.

Padahal, kapten kapal Mudasir, belum berani memacu RST dengan kecepatan penuh, karena mesinnya masih baru (inreyen) atau masa break-in. Jadi hanya dipacu 70% saja, atau antara 9 hingga 11 knot/jam. Dalam perjalanan menuju Surabaya itu berbekal 4.000 liter solar, tetapi sesampai di Gresik masih tersisa 1.000 liter. (*)

Penulis : Bambang Bes




IKA-UA dan BRI Perluas Gerakan Nasional Non Tunai dengan ’BRIZZI Co Branding’

UNAIR NEWS – Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) dipilih dan dipercaya oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dalam mengawali upaya memasyarakatkan penggunaan uang elektronik BRIZZI Co Branding dengan perkumpulan alumni perguruan tinggi.

Akselerasi program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) atau cashless society yang dicanangkan pemerintah ini, ditandai dengan penandatanganan MoU antara IKA UNAIR dengan Bank BRI, di XXI Lounge, Plaza Senayan lantai 4, Jl. Asia Afrika Lot 18, Senayan Jakarta, Jumat (2/2) malam. Dalam penandatanganan perjanjian itu, Bank BRI diwakili Direktur Kredit Menengah, Korporasi dan BUMN Kuswiyoto, sedang IKA-UNAIR diwakili Ketua Umum PP Drs. Ec. Haryanto Basoeni.

Tampak hadir dalam acara ini antara lain Direktur Konsumer Bank BRI Handayani, Dewan Komisaris OJK Ahmad Hidayat, Direktur Utama Humpuss Intermoda Transportasi Dr. Theo Lekatompessy, SE, MBA, LLM, Ketua IKA-UA Wilayah DKI Jakarta H. Dwi Wahyudi, SE., MBA yang juga Direktur Indonesia Exim Bank dan Alumni FEB UA 87; Sekretaris IKA-UA DKI yang juga Direktur PEFINDO H. Hari Purnomo, SE., MBA., dan segenap pengurus PP IKA-UA antara lain Ahmad Cholis Hamzah, Edy Utomo, Pribadi Archam, dan lain-lainnya.

Dalam keterangannya, Direktur Konsumer BRI Handayani menjelaskan kerjasama dengan IKA UNAIR ini dirancang sejak tahun 2017, untuk memberikan fungsi Kartu IKA-UA sekaligus sebagai uang elektronik. Sehingga kartu IKA-UA yang sebelumnya hanya bersifat identitas keanggotaan, sekarang bisa berfungai sebagai uang elektronik dan bisa digunakan untuk bertransaksi. Misalnya membayar jasa tol, angkutan umum di Jakarta (Trans Jakarta), commuter line, dan transaksi lain di merchant-merchant rekanan BRI.

”Komitmen BRI dengan menggandeng Ikatan Alumni Universitas Airlangga mengenai penggunaan uang elektronik BRIZZI Co Branding ini, sebagai upaya awal kami merangkul perkumpulan eks civitas akademik lainnya dalam penggunaan uang elektonik ini,” tambah Handayani, yang Jumat pagi sebelumnya juga menandatangani MoU dengan Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI).

Ia berharap alumni UNAIR yang lebih dari 100 ribu orang itu segera memiliki kartu IKA-UA berfasilitas uang elektronik BRIZZI. Desain kartunya pun, dinilai membanggakan, karena bergambar Kapal Rumah Sakit Terapung ”Ksatria Airlangga”.

IKAUA BRI
SEUSAI penandatanganan MoU, segenap pengurus IKA UNAIR dan pejabat PT Bank BRI (Persero) Tbk berfoto bersama dengan menunjukkan suvenir Bank BRI. (Foto: Pribadi Diar)

Kapal RST “Ksatria Airlangga” ini merupakan satu bentuk kontribusi IKA UNAIR untuk Indonesia dalam pelayanan kesehatan ke pulau-pulau terpencil dan terluar Indonesia. Di dalam kartu tersebut juga terdapat tulisan ”Airlangga Mengarungi Samudra, Menyelamatkan Anak Bangsa.”

Ketua IKA-UA Wilayah DKI Jakarta, Dwi Wahyudi juga berharap kerjasama dengan BRI ini sebagai langkah awal dalam menjalin kerjasama dengan lainnya dalam upaya membantu mewujudkan cita-cita Universitas Airlangga dan BRI. Ia optimistis 100 ribu alumni UNAIR di berbagai daerah akan mendukung program cashless society atau Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) ini.

Sementara Ketua IKA UNAIR Haryanto Basoeni juga menyambut baik dan sangat positif kerja sama ini. Pihaknya berharap bisa bersama-sama memajukan lembaga, berkembang bersama dan saling bersinergi, mensukseskan program GNNT. Apalagi dari IKA UNAIR sendiri mencapai ratusan ribu anggotanya, berharap bisa bersinergi membantu penggunaan kartu BRIZZI yang ditargetkan tahun ini bertambah 2,5 juta kartu seperti dikatakan Handayani, Direktur Konsumer Bank BRI. (*)

Penulis: Bambang Bes




Travelplanner “Go Far Way”, Jadikan Hobi Jalan Profesi

UNAIR NEWS – Salah satu alumnus Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia ini punya hobi berkelana. Lelaki bernama Rizal Rakhmat Dwianto tersebut bertekad untuk menjadi travelplanner kelas dunia. Selama ini, lelaki yang mengecap bangku kuliah di rentang 2007 hingga 2011 ini sudah melakukan banyak perjalanan baik di dalam maupun di luar negeri.

“Kecuali, pas kerja jadi wartawan harian dan tidak dapat libur akhir pekan. Kalau sudah begitu, saya ke luar kotanya pas hari libur. Meskipun hanya sehari, saya upayakan bisa travelling,” ungkap wartawan Jawa Pos di sekitar tahun 2011 hingga 2014 tersebut.

Saat masih belum lulus kuliah pun, Rizal sudah menjajal kota-kota di Asia Tenggara. Mulai Singapura, Kuala Lumpur, Johor, Ho Chi Minh, Bangkok, dan lain sebagainya. Melalui sebuah situs pertemanan para pengelana di seluruh dunia, Couchsurfing, dia memantapkan diri untuk mengikuti jalan hobi, menjadikan hobi sebagai jalur profesi. Betapa menyenangkan!

Dengan menjadi pengelana, Rizal memiliki banyak teman lintas negara dengan beraneka budaya. Adapun negara-negara yang pernah disinggahinya antara lain, Tiongkok, India, Nepal, Oman, Turki, Norwegia, Denmark, Jerman, Austria, dan Italia. Di tiap negara, Rizal berupa untuk melihat suasana di sekitar dan menikmati kearifan lokal yang ada. Dia mengaku senang menyaksikan kondisi sosial di semua belahan dunia.

“Ada beberapa kawan yang kalau backpacking, maunya mencari tempat mesum atau tempat mabuk-mabukan. Saya pikir, sebagai orang Indonesia, hal itu tidak bagus. Alhamdulillah, saya tidak seperti itu,” ungkap lelaki yang pernah menjadi asisten dosen untuk mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia dan Ilmu Sosial Budaya Dasar di FST, FKM, serta FEB tersebut.

Yang menarik, alumnus SMPN 1 Mojosari juga berhasil merintis cita-citanya untuk memiliki profesi yang sesuai dengan hobi. Tampaknya, profesi inilah yang akan digelutinya sepenuh hati. Yakni, menjadi seorang travel planner atau perencana perjalanan. Sekaligus, menjadi guide atau pembimbing perjalanan.

“Saya mendirikan start up Go Far Way. Melalui website www.gofarway.com. Mereka yang ingin berpetualang, bisa bergabung bersama saya. Pasti mereka dapat pengelaman menyenangkan,” ungkap dia mencuri kesempatan untuk promosi.

Rizal mengutarakan, awal Oktober lalu, dia mengajak satu rombongan ke Annapurna. Bila berjalan sesuai rencana, tahun depan akan ada perjalanan lain ke lokasi itu. Tidak menutup kemungkinan, bakal banyak rute lain lagi.

“Pasti nanti akan berkembang. Saya suka bidang ini,” ujar salah satu pembicara dalam  acara TEDx Tugu Pahlawan 2016 tersebut. (*)




IKA UNAIR Sukses Gelar Pembukaan Perdagangan Saham di BEI

UNAIR NEWS – Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UA) Wilayah DKI Jakarta berhasil melaksanakan pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (7/11) kemarin. Bertempat di Main Hall perdagangan saham BEI, Menteri ESDM Ignasius Jonan, yang juga alumni FE UNAIR, bersama Ketua Dewan Penasihat IKA-UA Theo Lekatompessy, Anggota Dewan Komisioner dan Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Hidayat, dan Anggota DPR-RI Eva Kusumasundari (juga alumni UNAIR) menekan tombol sirine, sebagai tanda pembukaan perdagangan saham di BEI.

”Alhamdulillah, kurang lebih 200 alumni UNAIR hadir dalam acara Pembukaan Perdagangan Saham di BEI, kemarin,” kata Hari Purnomo, pengurus IKA-UA yang juga sebagai Direktur Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo) kepada unair.news.

Diantara pejabat dan ratusan alumni UNAIR itu, diantaranya ada Wakil Rektor II Dr. Muhammad Madyan, SE., M.Si., M.Fin., Wakil Rektor IV Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt., Sekretaris Universitas Airlangga Drs. Koko Srimulyo, M.Si., Dekan Fakultas Vokasi Prof. Dr. H. Widi Hidayat, M.Si., Ak., dan undangan lain sebagai pelaku pasar modal.

Menurut Hari Purnomo, dalam pembukaan perdagangan saham di BEI (dulu namanya BEJ – Bursa Efek Jakarta – Red) biasanya dilakukan oleh Presiden, Wakil Presiden, Menteri, dan atau Direktur Utama Emiten, termasuk jika ada emiten (perusahaan yang go public) baru yang melakukan IPO (Initial Public Offering).

”Nah, IKA-UA DKI berupaya melakukan breakthrough dengan melakukan pembukaan perdagangan saham di BEI, dengan harapan meningkatkan exposure UNAIR baik secara nasional maupun internasional yang pada gilirannya mampu meningkatkan branding UNAIR,” tuturnya.

saham
DIANTARA yang hadir dalam pembukaan perdagangan saham di BEI, Selasa (7/11). Sebagian besar para alumni UNAIR. (Foto: Dok IKA-UA)

Usai menekan tombol pembukaan pedagangan di BEI, dalam kesempatan itu Menteri ESDM Ignasius Jonan juga menginformasikan bahwa ia sedang mendorong beberapa perusahaan di sektor energi dan pertambangan untuk juga mencatatkan saham (listing) di bursa efek ini. Karena menurutnya, masih banyak perusahaan sektor energi dan pertambangan yang sangat baik jika bisa go public.

”Dengan listing di bursa maka transparansi perusahaan itu akan makin meningkat, sekaligus akan mendorong laju perekonomian nasional. Sebab total industri energi dan pertambangan yang sekitar Rp 2.000 triliun, sudah mewakili antara 17-18% terhadap Gross Domestic Product (GDP) nasional,” jelas Jonan, yang juga anggota MWA (Majelis Wali Amanat) Universitas Airlangga ini.

Ia lantas ”menyentil” dan menyebut perusahaan dimaksud yang dinilai sudah layak masuk bursa efek. Diantaranya adalah Pertamina, Perusahaan Listrik Negara (PLN), SKK Migas, PN Aneka Tambang, Bukit Asam, bahkan juga Freeport Indonesia.

”Karena dari semua perusahaan di Indonesia, belum ada yang topline sales-nya melebihi Pertamina. Seandainya pendapatan dari perbankan itu sekaligus digabungkan, topline sales Pertamina masih diatas, yaitu mencapai Rp 700 triliun sampai Rp 800 triliun per tahun. Sedangkan PLN topline sales-nya antara Rp 300 sampai Rp 350 triliun,” kata Ignasius Jonan. (*)

Penulis: Bambang Bes




Alumnus Ilmu Komunikasi UNAIR Juara Go-Video 2017

UNAIR NEWS – Para alumni kampus Airlangga kembali mengukir prestasi membanggakan. Kali ini, melalui karya berupa film dokumenter. Film berjudul “Wise and Sunrise” besutan Aditya Suwardi (Sutradara, Ilmu Komunikasi 2011) dan As’ad Aswin (Eksekutif Produser, Ilmu Komunikasi 2012) itu sukses menjadi “Best Documenter” dalam ajang Go-Video Competition 2017 yang dihelat oleh Go-Jek.

“Kru film juga banyak yang dari Ilmu Komunikasi UNAIR,” kata As’ad Jum’at malam lalu (3/11).

Mereka antara lain, Rizki Zulkifli (2011), Bayu Aditya (2012), Benediktus Andre (2014), Goyco Faza Ghafara (2011). Mereka semua sudah lulus, kecuali Andre. Atas raihan di event bertajuk #hidup tanpa batas itu, mereka mendapat hadiah sebesar Rp 100 juta rupiah.

Saat ditanya apa rahasia kemenangan itu, As’ad mengutarakan, kuncinya adalah kegi gihan. Juga, kerjasama. “Jangan takut memulai, jangan takut jelek, jangan takut bersaing,” tegas As’ad.

“Wise and Sunrise” berkisah tentang dua pengemudi Go-Jek bernama Arif, yang dalam bahasa Inggris berarti Wise, dan Fajar, yang dalam bahasa Inggris berarti Sunrise.

Arif Fahrozi adalah seorang seniman serba bisa. Selain penari Gatot Kaca yang kerap diundang dalam acara pernikahan, ayah tiga anak tersebut juga instruktur senam, guru ngaji, peniup terompet, seniman, dan pembawa acara dalam prosesi Jawa. Sedangkan Fajar Nugroho merupakan seorang ahli herbal dan akupunktur. Mereka berkenalan karena sama-sama berstatus mitra Go-Jek.

Tak hanya berkenalan, mereka lantas saling belajar satu sama lain. Arif belajar jadi akupunktur dari Fajar, sedangkan Fajar belajar jadi pembawa acara prosesi Jawa dari Arif.

“Wise and Sunrise” dipilih menjadi pemenang melalui sejumlah tahap dan seleksi ketat. Para juri yang memutuskan bukanlah orang-orang sembarangan. Pengumuman dilaksanakan pada Rabu malam (1/11) di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail Kuningan, Jakarta Selatan.

Tidak mudah bagi para juri untuk menetapkan para pemenangnya. Di antara mereka bahkan telah terjadi perdebatan sengit sebelum mengambil sebuah kesepakatan. Hal itu disebabkan ada juri yang menginginkan video yang satu menjadi pemenang, ada juga yang menginginkan video lain yang menjadi pemenang.

Dewan juri pada kompetisi ini terdiri atas Chief Marketing Officer (CMO) GO-JEK Indonesia Piotr Jakubowski, Riri Riza (sutradara), Chelsea Islan (aktris), Reza Rahadian (aktor), Mira Lesmana (sutradara), Anggy Umbara (sutradara), dan Mikey Moran (DJ).

Selain kategori dokumenter, kompetisi ini juga melombalan kategori animasi, drama, komedi, dan musik. Juga, memberikan penghargaan Student Reward berhadiah DJI Spark Drone dan apresiasi bagi “Best Picture”. (*)




Pianis Muda Lulusan UNAIR Raih Sambutan Hangat Ratu Eropa

UNAIR NEWS – Enam tahun terakhir menjadi salah satu bagian terbaik hidup Felix Justin. Ia memilih untuk sedikit melepas ilmu obat­-obatannya dan membiarkan musik klasik mengalir di tubuhnya. Felix adalah anak muda yang berani memilih untuk berkarya sesuai kegemarannya.

Felix bukan tak mencintai ilmu farmasi. Pada tahun 2003, Felix mulai berkuliah S-1 Pendidikan Apoteker selama empat tahun. Prestasi akademiknya bersinar. Ia pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga pada tahun 2005.

Selama itu, Felix merupakan mahasiswa yang tekun. Ia mengikuti kelas dari pagi sampai sore. Pulang kuliah, ia lantas menyiapkan materi-materi perkuliahan untuk keesokan harinya. Sembari berkuliah, Felix menyibukkan diri dengan organisasi. Ia bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi.

Tahun pertama dan kedua kuliahnya berhasil dilalui dengan mulus. Pada tahun ketiga hingga keempat, ia mengaku sempat ‘tergoda’ dengan kesibukan lain. Minat dan bakatnya dalam bermain piano mulai tercium pihak kampus dan eksternal. Felix mulai banyak menerima undangan untuk unjuk kebolehan memainkan tuts-tuts berwarna hitam putih di hadapan penonton.

“Saya banyak diminta tolong untuk mengiringi paduan suara Fakultas Farmasi dan banyak juga tawaran dari luar. Selain itu, di tahun ketiga, saya juga les privat mengajar piano,” tutur Felix.

Hatinya kian terpanggil oleh musik. Namun, Felix merasa perkuliahan yang telah ia jalani harus dituntaskan. Orang tuanya bahkan sempat memberi peringatan. Felix diijinkan bermusik tetapi harus lulus kuliah tepat waktu. Mendengar itu, lelaki berkacamata itu pun langsung tancap gas untuk menyelesaikan kuliah sarjana dan meneruskan profesi.

Selepas lulus dari UNAIR, musik kian membisiki dan memenuhi pikirannya. Meski menyandang gelar sarjana farmasi dan apoteker, ia mengikuti rekrutmen guru piano di sebuah lembaga kursus ternama. Felix berhasil diterima dan jabatannya dipromosikan beberapa bulan kemudian.

Mengulang kuliah di Belanda

Ketertarikannya terhadap musik beraliran klasik bertambah besar. Dengan dukungan dari orang tua, Felix membangun karir musiknya dari pendidikan musik secara formal. Felix memilih Universitas Utrecht di Belanda sebagai tempat studinya.

“Ortu (orang tua) bilang kalau saya harus kuliah lagi jika ingin menekuni musik. Saya pikir waktu itu sudah enak (bekerja), ngapain harus kuliah lagi. Akhirnya, saya belajar lagi di Utrecht untuk menambah pengetahuan akademik. Saya merasa enjoy ketika berkuliah di sana,” cerita alumnus S-1 Classical Piano Performance and Music Education Universitas Utrecht.

Ia terus menunjukkan totalitasnya dalam bermusik. Felix tak mau kalah dengan teman-teman kuliah S-1 yang berusia jauh di bawahnya. Setiap harinya, Felix menghabiskan sepertiga harinya guna mengasah otak kanan dan jari jemarinya dalam bermain piano. Waktu latihan ini sengaja ia sisihkan di luar jam perkuliahan.

“Kalau anak piano latihan harus tujuh sampai delapan jam per hari di luar apalagi usia saya nggak muda lagi. Pentiumnya agak terlambat,” kisahnya seraya tertawa.

Usai lulus S-1, Felix langsung melanjutkan kuliah S-2 Classical Piano Solo Performance di universitas yang sama di tahun 2014. Di akhir kuliahnya, ia berhasil lulus dengan nilai sempurna. Sebuah penghargaan yang jarang diperoleh bagi mahasiswa di jurusan yang sama.

Kebanggaannya tak sampai di situ. Selama kuliah di Utrecht, Felix juga berhasil mendapatkan pelajaran musik dari pianis favoritnya Elisabeth Leonskaja.

Sang ratu dibuat kagum                                    

Di kota yang terletak 43 kilometer dari Amsterdam, Felix tak hanya mengenyam pendidikan tetapi juga berhasil merengkuh pengalaman profesional dan kehidupan. Sebagai mahasiswa piano di Utrecht, ia sering mengisi konser musik yang sering diadakan di kantor pemerintahan wilayahnya.

Rutinitas mengisi konser di walikota berbuah manis di sepanjang karir bermusiknya. Penerima beasiswa Erasmus Exchange Programme tahun 2015 di Royal College of Music London itu ditawari tampil bermain piano di hadapan orang nomor satu Belanda Ratu Beatrix dan Belgia Ratu Mathilda. Keduanya merupakan penikmat musik klasik yang kebetulan berkunjung ke Utrecht di penghujung tahun 2016.

Felix sempat merasa deg-degan. Sebelum tampil, ia diajak berbincang sejenak oleh kedua ratu. Beruntungnya, percakapan pra acara itu mampu mencairkan suasana hatinya. Di panggung, Felix berhasil tampil maksimal. Alhasil, permainan jari Felix di atas tuts piano menuai raut wajah gembira dari kedua ratu.

“Saya memainkan dua lagu dan sambutan mereka sangat positif. Itu terlihat dari raut wajahnya,” cerita Felix bangga.

Tak hanya Belanda yang juga dibuat kagum oleh Felix. Beberapa bulan lalu, Felix didapuk untuk mengiringi permainan musik klasik yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif di Jakarta. Di acara Konserto Piano Ketiga, Felix menjadi pemain piano tunggal bersama Jakarta City Phillarmonic. Felix bersama Jakarta City Phillarmonic memperoleh tepukan panjang yang hangat dari penonton.

Penunjukan Felix sebagai solois piano bukan tanpa alasan. Lagu gubahan Sergei Prokofiev yang ia mainkan dalam konser tersebut serupa dengan lagu yang ia bawakan saat ujian master di Utrecht.

Setelah enam tahun menempa diri dengan pendidikan musik, kini Felix ingin terbang bebas. Ia masih ingin berbagi kreativitasnya dalam bermusik di luar statusnya sebagai mahasiswa.

“Yang terpenting adalah membagikan musik kepada orang lain. Harapannya, orang lain bisa menikmati musik yang saya mainkan,” ujar Felix yang bulan Oktober nanti terlibat dalam konser di Amsterdam bersama penyanyi sopran Charlotte Houberg.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Nuri Hermawan




RS Terapung ’Ksatria Airlangga’ Dilayarkan Perdana dari Makassar Menuju Surabaya

UNAIR NEWS – Alumni Universitas Airlangga mengukir sejarah baru. Selangkah lagi akan benar-benar memiliki kapal yang berfungsi sebagai Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga” dan akan melayani kesehatan masyarakat di pulau-pulau terluar dan terpencil.

Sebuah kapal phinisi sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter itu, yang dibangun di sebuah galangan phinisi di Kec. Galesong, Kab. Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/9) pagi sudah resmi dilayarkan dan meluncur lancar menuju Kota Surabaya. Di sebuah dermaga di kawasan Tanjung Perak, Surabaya, disanalah kemudian kapal akan dilengkapi dengan peralatan medisnya.

”Mohon doa restunya, pada pagi hari ini (Sabtu 9 September 2017), RS Terapung Ksatria Airlangga akan diluncurkan berlayar dari Makassar ke Surabaya. Semoga pelayaran berjalan dengan lancar untuk menunjukkan bakti Alumni kepada Universitas Airlangga,” tulis Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes., Pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga, yayasan yang akan pengelola RST “Ksatria Airlangga”. Di kapal itu juga tampak Herni Suprapti, bendahara yayasan Ksatria Medika Airlangga.

Koordinator Staf Dekanat FK UNAIR itu, berada di Galesong, Takalar, mengikuti peluncuran perdana kapal RST yang awalnya diinisiasi oleh sejawat dokter alumni FK UNAIR ini. Kapal diluncurkan dari sebuah dermaga di Galesong, setelah sekitar satu bulan dilakukan uji coba layar di perairan sekitar kawasan produksi kapal khas Bugis itu. Seperti dirancang pada awalnya, RST ini akan menelan biaya sekitar Rp 5 milyar, separuh lebih merupakan biaya pembuatan kapalnya.

Dr. Gadis Meinar membenarkan bahwa sebagai alumni hendaknya berbangga, karena berhasil membangun RST “Ksatria Airlangga” yang pembuatan kapalnya sudah selesai. Selain itu, katanya, ini merupakan RST pertama di dunia yang dimiliki oleh alumni perguruan tinggi yang akan digunakan untuk membaktikan diri pada pelayanan kesehatan dan pengabdian masyarakat di daerah-daerah terpencil di kepulauan Indonesia.

terapung
SUASANA peresmian peluncuran kapal RST “Ksatria Airlangga”. Tampak ada dr. Herni Suprapti, M.Kes (kedua dari kiri), Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes., dan dr. Agus Haryanto, SpB (ketiga dan kedua dari kanan). (Foto: Istimewa)

Ikhwal uji coba dan peluncuran ini juga dibenarkan oleh Agus Hariyanto, dr., SpB., alumni FK UNAIR penggagas ide awal RST ini. Ia yang berdinas di kawasan kepulauan di Maluku Utara itu rajin menengok proses pembuatan kapal ini ke Makassar. Dalam perlayaran perdana menuju Surabaya ini pun, dokter spesialis bedah itu juga terlihat ada di geladak kapal itu bersama para aparat keamanan setempat.

”Saya tidak berani memberi perkiraan berapa lama dan kapan sampai di Surabaya, nanti saja saya kabari,” kata Agus Hariyanto, alumni PPDS FK UNAIR tahun 2006 ini.

Dalam dialog melalui chatt dengan unair.news sebelum ini, Agus Harianto juga mengabarkan sedang menyusun rancangan program pelayaran kapal RST ini untuk sepanjang tahun 2018. ”Unair Goes to Island,” tulisnya.

Ia berharap selain pelayanan untuk pengabdian medis, juga hendaknya sekaligus bsia dimanfaatkan untuk bikin observational research dengan goal memiliki data base tentang kesehatan maritim di pulau-pulau di Provinsi Jawa Timur.

”Saya kira ini sangat terbuka bagi adik-adik peneliti untuk bergabung mengerjakan riset itu, atau bikin riset sendiri dengan mengikuti pelayaran kapal RST ini,” tambahnya. (*)

Penulis: Bambang Bes




Piyu: Musik adalah Penolong Saya

UNAIR NEWS – Mengawali karir pada tahun 1997, Satriyo Yudi Wahono yang akrab disapa Piyu masih terus menunjukkan taring bermusiknya. Sampai kini, setiap tahunnya, Piyu yang tenar sebagai penggawa grup musik Padi, berkomitmen untuk menghasilkan karya-karya yang memanjakan penikmat musik.

Di awal tahun 1997, Piyu bersama rekan-rekannya di Padi mulai sukses menggetarkan hati dan telinga para pendengar melalui rilisan album Lain Dunia. Lagu-lagunya, seperti “Mahadewi” dan “Begitu Indah”, tak lekang digerus masa.

Selang empat tahun, pada 2001, album Sesuatu yang Tertunda dirilis. Piyu masih saja berhasil membius pendengar musik melalui rangkaian lirik lagu dan irama musik yang tak kalah ‘menyayat’ benak sanubari. Lagu-lagunya, seperti “Kasih Tak Sampai” dan “Semua Tak Sama”, juga masih indah untuk terus dilantunkan hingga kini.

Tiga album selanjutnya, Save My Soul (2003), Padi (2005), dan Tak Hanya Diam (2007), juga berhasil mengorbit dan meramaikan kancah industri musik Indonesia. Di tahun 2011, kompilasi lagu-lagu grup musik Padi menjadi petanda perjalanan musik mereka berakhir.

Berakhirnya kebersamaan bukan berarti karir musik Piyu menemui ujung jalan. Ia justru kian membuktikan bahwa musik adalah jalan hidupnya.

“Buat saya, bermusik adalah salah satu tool atau jembatan yang bisa menjadi jalan hidup saya. Kenapa pengin di musik? Ya, saya nggak tahu, yang jelas saya ingin mencoba saja. Saya harus mencoba sampai entah itu berhasil atau gagal,” tutur musisi berusia 44 tahun itu.

Piyu, yang pernah menjadi mahasiswa S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis tahun angkatan 1990, benar. Ia membuktikan bahwa dirinya masih bisa eksis. Prinsipnya, tak berhenti mengeluarkan karya.

“Jadi, saya harus konsisten. Paling tidak, saya harus mengeluarkan karya setiap tahun. Entah itu buku atau film,” tutur penulis biografi “Life, Passion, Dreams, and His Legacy”.

Pada tahun 2014, ia bertanggung jawab sebagai penata musik pada film “Aku Cinta Kamu”. Tahun 2016, ia merilis album Best Cuts of Piyu.

Dalam album terbarunya, Piyu mendaur ulang lagu-lagunya terdahulu untuk dinyanyikan para penyanyi kekinian. Album Best Cuts of Piyu, pada Oktober 2016, mendapatkan penghargaan Triple Platinum setelah berhasil terjual 150ribu kopi.

“Tahun 2017, masih berancang-ancang. Kemarin tanggal 1 (Agustus), saya rilis single (lagu) lagi sama Alex X-Factor. Terus saja. Bulan depan project film di SCTV. Terus akhir tahun ini, insya Allah saya produksi film Sesuatu yang Indah. Gitu aja sih prosesnya berkarya,” imbuh Piyu.

Musik adalah penolong

Ia menyadari bahwa musik telah menjadi kegemarannya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia mulai iseng bermain alat musik bersama kawan-kawannya. Duduk di bangku sekolah menengah pertama, Piyu belajar bermain gitar dan membentuk grup musik di saat dirinya berseragam putih abu-abu.

Sejak bermain gitar itulah, ia mulai belajar menciptakan lagu. Mengarang lirik-lirik puitis dan menggubahnya dengan nada-nada yang pas. Pengalaman pribadi dan daya imajinasi yang kuat menjadi kunci betapa lagu-lagunya masih diminati hingga kini.

Karir bermusik lelaki kelahiran 15 Juli 1973 itu tak langsung sukses mengorbit seperti sejak dua dasawarsa lalu. Masuk kuliah di UNAIR pada tahun 1990, Piyu berhasil lulus pada tahun 1996. Sesaat sebelum lulus, Piyu merantau ke Jakarta. Ia bekerja serabutan dengan menjadi teknisi di bengkel.

“Tapi, saya nggak menghasilkan apa-apa. Saya kembali dan menyelesaikan kuliah. Saya selesaikan skripsi baru saya wisuda,” ceritanya.

Selama kuliah, Piyu juga menyibukkan diri dengan menjadi panitia acara-acara musik (event organizer). Di waktu senggang, Piyu menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya.

Setelah sempat ‘keluar’ dari jalur musik, Piyu akhirnya kembali menekuni hobinya. Ia mulai membentuk grup musik Padi dan menelurkan karya-karya terbaiknya. Konsistensi mengeluarkan karya dan bekerja sesuai minat bakat menjadi prinsip utamanya. Ia berpikir, bagaimana caranya agar dirinya bisa menciptakan musik yang tak gampang dilupakan.

“Saya seriusin (musik) karena passion saya di sana (musik). Itu berhasil. Musik berhasil memperbaiki hidup saya. Saya nggak mau bikin lagu yang asal ngetop saja,” pungkas Piyu.

Dari bermusik lah, ia berhasil membentuk grup musik Padi, lalu menjadi produser yang mengorbitkan nama-nama baru di belantika musik, menjadi penyanyi solo, mengisi latar musik dalam sebuah film maupun sinetron, hingga menulis buku. Semuanya tentang musik.

Jatuh bangun juga pernah ia rasakan. Namun, lagi-lagi, musik berhasil ‘menolong’ hidupnya.

“Musik yang memberi saya nafkah. Musik yang memberi saya rejeki. Ketika saya tinggalkan, alam semesta ini seolah menolak. Banyak sekali kegagalan. Pada saat yang bersamaan juga, musik lah yang menolong saya. Saatnya saya bergerak lagi. Saya reborn (lahir kembali),” kata penulis novel Sesuatu Yang Indah mantap.

Meski bermusik telah memberinya asam manis dalam kehidupan dirinya, Piyu tetap ingin terus berkarya. Ayah tiga anak itu masih ingin membangun sebuah museum musik yang menceritakan tentang perjalanan karir grup musik Padi. Tak berhenti di situ. Gitaris asal Surabaya juga ingin membuat wahana bagi orang-orang yang ingin berkarya di jalur musik.

Kepada generasi muda khususnya mahasiswa UNAIR, Piyu berpesan agar mereka memiliki impian besar. Agar impian terwujud, mereka harus membuat target jangka pendek.

“Kita memang tidak tahu masa depan kita bagaimana, tapi kita punya garis-garis yang menentukan di mana posisi kita sekarang. Oh jadi ketika saya ada di sini, maka masa depan nanti begini. Intinya, kita harus tahu lima tahun ke depan harus jadi apa,” ucap Piyu.

Penulis: Defrina Sukma S




Bertabur Professor, IKA-UA Sulawesi Selatan Diharap Melebihi Kiprah IKA Pusat

UNAIR NEWS – Tradisi Universitas Airlangga bahwa disela kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dimana pun, dengan mengadakan temu alumni, juga dilakukan di Makassar, Sulawesi Selatan, tempat PIMNAS ke-30/2017 dilaksanakan. Bertempat di Hotel Aston Makassar, Selasa (22/8) malam dilaksanakan Temu Alumni dan Pelantikan Pengurus Wilayah IKA UA Sulawesi Selatan periode 2017-2021.

Satu hal yang menarik, dalam Surat Keputusan PP IKA-UA Nomor 007/PP IKA UA/SK VIII/2017 tanggal 16 Agustus 2017 itu, dari 62 orang alumni UNAIR yang menjadi pengurus IKA-UA Wilayah Sulawesi Selatan, sebanyak 30 orang atau hampir 50% diantaranya bergelar professor (Guru Besar), serta tidak seorang pun yang bergelar sarjana (S1). Jadi minimal S-2 dan atau dokter spesialis. Pelantikan pengurus ini dilakukan Sekjen PP IKA-UA Dr. Budi Widayanto, Drs.Ec., MP., yang mewakili Ketua Umum PP IKA-UA yang berhalangan hadir.

Komposisi kepengurusan yang sedemikian “wah” karena bertabur Professor itu, juga diakui oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Moh Nasih, MT., SE., Ak., MCA., bahwa kekuatannya melebihi susunan pengurus PP IKA-UA. Karena itu diharapkan kekuatannya pun melebihi kiprah IKA-UA Pusat, karena dengan menjadi yang terbaik dalam pengabdian di berbagai tempat dan professinya, inilah kunci dalam berkontribusi terhadap nama baik almamater.

Rektor menyampaikan hal itu karena capaian produk UNAIR (alumni) berdasarkan penilaian internasional, sudah melebihi dari peringkat UNAIR (istitusinya) pada pemeringkatan cersi Dikti. Peringkat UNAIR terbaru versi Dikti berada di ranking tujuh, tetapi Academic Reputation UNAIR menduduki peringkat keempat.

”Itu artinya kita efisien secara luar biasa, sebab dari instansi berperingkat tujuh bisa menghasilkan output berperingkat empat. Karena itu marilah prestasi demikian ini kita lanjutkan,” kata Rektor Prof. Moh Nasih.

Rektor juga berpesan, para alumni untuk tidak malu dan segan-segan mencantumkan dalam database curiculum vitae di instansi atau perusahaan tempat bekerjanya untuk menulis sebagai alumni Universitas Airlangga, terutama pada data di website-nya. Apalagi jika alumni tersebut juga mencantumkan data prestasinya, maka hal-hal seperti itulah yang bisa berkontribusi menunjang target UNAIR untuk masuk 500 world class university (WCU) sebagaimana digadang-gadang oleh Kemenristekdikti.

Sementara itu Sekjen PP IKA UNAIR, Dr. Budi Widajanto, SE., Ak., MP., dalam sambutannya berharap agar segera melaksanakan rapat kerja untuk menyusun program kerja. Ini dimaksudkan agar tidak kehilangan momentum selepas pelantikan pengurus ini.

“Dalam menyusun program kerja hendaknya berpegang pada prinsip-prinsip, antara lain validasi organisasi, pengembangan karier, dan kerjasama almamater dengan lembaga lain. Selain itu mulai dari PP hingga Wilayah, Cabang, dan IKA Fakultas sepakat untuk mendukung upaya almamater dalam meraih target 500 dunia, yang sekarang masih di peringkat 700,” kata Budi Widayanto.

DALAM acara ini Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih dan Sekjen PP IKA-UA Budi Widayanto mendapat kehormatan sebagai “Warga Bugis” yang ditandai pengenaan busana adat Bugis. (Foto: Bambang Bes)

Gayung bersambut, Ketua IKA-UA Wilayah Sulsel, Prof. Dr. H. Heri Tahir, SH., MH., menyambut baik arahan PP IKA-UA. Pihaknya ingin senantiasa menjalin hubungan komunikasi yang produktif dengan IKA Pusat, karena pihaknya tidak ingin terjadi sesuatu yang stagnan sehingga bisa mengganggu pencapaian dan realisasi program kerja.

”Pengurus IKA UA Sulsel ini tidak beda jauh dengan PP-UA kok. Bedanya mungkin karena pengurus IKA-UA Sulsel ini lebih banyak yang berprofessi sebagai pendidik (dosen), namun juga banyak yang berprofessi lain seperti notaris dan di bidang kesehatan,” kata Prof. Heri Tohir.

Dalam susunan pengurus IKA-UA Sulawesi Selatan periode 2017-2021, pada jabatan Dewan Penasihat, dari 12 orang terdapat sepuluh diantaranya professor. Demikian juga Dewan Pakar, dari 13 alumni yang terpilih, sepuluh diantaranya professor. Kemudian enam professor sebagai pengurus harian dan empat professor pada kepengurusan bidang.

Selain Prof. Dr. H. Heri Tohir, SH, MH sebagai Ketua, juga dibantu Wakil Ketua I Prof. Dr. Muh Ali Lakatu, SE., MS., Wakil ketua II Prof. Dr. Syahnur Said, SE, MS., Wakil Ketua III Prof. Dr. Abd Rahman, SH, MH. Sekretaris: Dr. H. Nukrawi Nawir, M.Kes., AIFO., Wakil Sekretaris I Dra. Hj. Herlina Sukawati, M.Si., Wakil Sekretaris II Birkah Latif, Sh., MH., LLM., Wakil Sekretaris III Dr. Indirawaty, SPd., S.Kep.NS., M.Kes. Sedang Bendahara dijabat oleh Prof. Dr. drg. Herlina Yusuf, M.Kes., Wakil Bendahara I Prof. Dr. Hj. Hasmiaty, M.Kes., Wk Bendahara II Dr. Nurfaidah Said, SH., MH., M.Si, dan Wk Bendahara III Dr. Ir. Hikmawaty Mas’ud, M.Kes.

Kemudian juga dilengkapi bidang-bidang, yaitu Bidang Kajian dan Kebijakan Publik, Bidang Kajian Internasional dan Pemberdayaan Alumni, Bidang Usaha Kreatif dan Penggalangan Dana, Bidang Kemitraan dan Hubungan Antar-lembaga, Bidang Pengembangan dan Kerjasama Almamater, Bidang Pengembangan Organisasi dan Alumni, Bidang Pengabdian Masyarakat dan Penanggulangan Bencana, Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Karier Alumni, Bidang Publikasi, Dokumentasi dan Humas., serta Bidang Jejaring dan Database Alumni. (*)

Penulis: Bambang Bes