Alumni UNAIR Selamatkan TKW yang Hilang 18 Tahun

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) terus mencetak lulusan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satu alumni yang memberikan sumbangsih itu adalah Anisa Farida, alumnus program studi Sastra Inggris tahun 2003 yang telah memberikan kontribusi bagi negaranya.

Anisa yang kini bekerja sebagai konsuler di Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di London itu telah berhasil menyelamatkan tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ialah Parinah (50) TKW yang hilang kontak selama 18 tahun karena disekap oleh majikannya.

Anisa mengatakan, KBRI London menerima berita resmi permintaan bantuan untuk memulangkan yang bersangkutan kembali ke Indonesia pada tanggal 1 Maret 2018, atas dasar 2 surat dari Parinah, yaitu pada tanggal 5 Maret 2005 dan 28 Januari 2018. Selain kedua surat tersebut, pihak keluarga tidak dapat berhubungan dengan Parinah sama sekali.

Setelah melalui berbagai proses, tepatnya 5 April lalu, kepolisian Brighton berhasil mengeluarkan Parinah dari rumah majikan. Pihak kepolisian juga menahan majikan dan keluarga yang berjumlah 4 orang atas dugaan tindak perbudakan modern.

“Sudah menjadi tugas kami sebagai perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri untuk melindungi warga negara Indonesia (WNI),” ujarnya.

Mengenai kronologi penyelamatan, mulanya, Anisa berusaha menghubungi pihak berwenang dan meminta mengambil Parinah dari sekapan majikannya. Selain itu, pihaknya juga turut memastikan bahwa Parinah pulang dengan selamat sampai kepada keluarganya kembali.

Anisa (lima dari kiri) usai acara internal di KBRI London yang membahas pernikahan campur (WNI dan WNA). (Dok. Pribadi)

“Ke depan kami akan memastikan pemenuhan hak-hak Parinah secara tuntas sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Anisa mengaku tidak menemukan hambatan yang berarti dalam proses penyelamatan Parinah. Meskipun awalnya, saat menghubungi hingga dua kali pembicaraan, majikan mengaku tidak ada Parinah di rumahnya. Dalam proses penyelamatan itu, lanjutnya, pihak kepolisian setempat sangat kooperatif. Setelah Anisa meminta penyelamatan Parinah, pihak kepolisian langsung bertindak dengan cepat.

“Segala macam bentuk perbudakan modern adalah kejahatan serius di Inggris. Hal ini dikuatkan dengan Modern Slavery Act yang disahkan pada tahun 2015. Kepolisian Brighton menegaskan keseriusan untuk penyelesaian kasus ini. Hak-hak Sdri. Parinah yang belum terpenuhi setelah bekerja selama 18 tahun di Inggris akan dilimpahkan ke Pengadilan untuk memperoleh kompensasi,” tambahnya.

Atas keberhasilan menyelamatkan TKW asal Banyumas itu, Anisa mengaku lega dan bahagia. Usahanya selama ini berhasil dan Parinah akhirnya dapat pulang setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu dengan keluarga.

BANGGA. Anisa (kanan) bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. (Dok. Pribadi)

Terakhir, Anisa memiliki harapan untuk seluruh civitas akademika UNIAR, utamanya alumni, agar terus berkontribusi terhadap bangsa dan negara dalam bentuk apapun.

“Alumni UNAIR tersebar luas tidak hanya di Indonesia saja namun juga di berbagai negara. Semoga UNAIR dapat menggali potensi-potensi alumni untuk turut mengembangkan UNAIR dan memajukan bangsa dan negara,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib

Editor: Binti Q. Masruroh




Sertifikat Akreditasi Internasional ASIIN 5 Prodi UNAIR Terbit

UNAIR NEWS – Kabar baik datang dari Badan Penjaminan Mutu (BPM) Universitas Airlangga (UNAIR). Sertifikat akreditasi internasional ASIIN (Accreditation Agency for Degree Programs in Engineering, Informatics/Computer Science, the Natural Sciences and Mathematics) untuk lima program studi (prodi) UNAIR terbit.

Badan akreditasi kredibel bidang teknik atau science dari Jerman itu mengeluarkan sertifikat tersebut pada April 2018. Khususnya kepada prodi Pendidikan Apoteker, Biologi, Kimia, Matematika, dan Fisika UNAIR.

Sertifikat tersebut diterbitkan kepada prodi yang memenuhi persyaratan akademis dan kehidupan profesional di setiap disiplin pada tingkat pendidikan tinggi. Selain itu, penghargaan itu didasarkan pada standar subjek yang berorientasi pada hasil belajar yang diselaraskan dengan Kerangka Kualifikasi Eropa dan “Standar dan Pedoman Eropa”.

Penanggung Jawab Program Akreditasi ASIIN sekaligus Sekretaris BPM UNAIR Helmy Yusuf, S.Si., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa proses program akreditasi internasional ASIIN tersebut dimulai pada Desember 2016. Yakni, diawali dengan kunjungan ke ASIIN di Jerman.

”Dari situ, terpilih pimpinan fakultas yang menyatakan sanggup mengajukan prodinya untuk akreditasi ASIIN,” ujarnya saat ditemui UNAIR NEWS pada Rabu (25/4). ”Ketika itu, ada dua fakultas. Fakultas Farmasi satu prodi, serta Fakultas Sains dan Teknologi ada empat prodi,” imbuhnya.

Menurut Helmy, dalam ASIIN itu, karena unik jika dibandingkan dengan yang lain, prosesnya bisa disebut sebagai akreditasi subjek spesifik. Artinya, spesifik terhadap bidang tertentu.

”Jadi, biologi, spesifik biologi. Kimia, ya kimia. Fisika, ya fisika. Tidak berkonsep holistik seperti BAN-PT yang semua secara umum,” sebutnya.

”Sehingga, kalau di ASIIN, yang menjadi titik fokus adalah di subtansi pembelajaran, kompetensi lulusannya, dan seterusnya. Jadi, seorang fisikawan berstandar dunia itu seperti apa. Seorang chemist (Ahli kimia, Red) dunia itu bagaimana. Dan yang lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua BPM UNAIR Prof. Dr. Sukardiman MS., Apt., mengungkapkan bahwa ketercapaian akreditasi tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang mudah. Banyak indikator ketat yang mesti dipenuhi. Terutama, lanjut dia, yang paling mononjol adalah terkait dengan Learning outcome prodi.

”Itu memang paling menonjol (Learning outcome, Red). Itu di setiap prodi mesti spesifik. Khususnya didukung dengan kurikulum yang memadai,” katanya. ”Jadi, pada intinya, bagaimana kurikulum mampu membentuk lulusan-lulusan yang sesuai dengan standardisasi ASIIN,” imbuhnya.

Yang juga menjadi penting, terang Prof. Sukardiman, adalah perihal tata kelola prodi serta sarana pra-sarana. Khususnya soal perbandingan jumlah instrumen pendukung pendidikan dengan jumlah mahasiswa.

”Poin yang ditekankan di sini adalah bagaimana efektifitas pendidikan berjalan mesti baik dalam menyiapkan lulusan. Terutama pada prodi yang sangat menuntut pada kompetensi keahlian, skill, atau praktik,” tuturnya.

Prof. Sukardiman melanjutkan, momentum ketercapaian akreditasi tersebut mesti dimanfaatkan dengan baik. Khususnya dalam upaya menciptakan iklim upaya peningkatan kualitas setiap prodi. Di sisi lain, momentum itu menjadi titik balik peningkatan reputasi UNAIR di kancah internasional.

”Ini (Akreditasi internasional, Red) mampu mendorong prodi lain untuk megikuti jejak yang telah tersertifikasi. Ini sesuai dengan proyeksi, terdapat empat prodi yang bakal menyusul,” ujarnya.

”Selain itu, diharapkan iklim ini (peningkatan akreditasi) terus dijaga serta bergerak ke target rekognisi, terutama internasional. Ke depan, target ada akreditasi Abest untuk seluruh fakultas dan prodi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan totalnya delapan. Ada APHEA (Akreditasi internasional FKM) untuk FKM,” tambahnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Binti Q. Masruroh




Apa yang Mesti Dipersiapkan Sebelum Donor Darah?

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari bentuk pengabdian kepada masyarakat, BEM Fakultas Hukum Universitas Airlangga menyelenggarakan donor darah. Donor darah ini menjadi kegiatan yang sering diadakan mahasiswa dari lintas fakultas dan jurusan di UNAIR.

Dalam donor darah yang berlangsung di Faculty Club, Gedung A FH UNAIR, Selasa (24/4) kemarin, beberapa calon pendonor tak dapat melangsungkan donor darah karena kurang memenuhi persyaratan. Lantas, apa saja syarat donor darah yang bisa dipersiapkan sebelum seseorang melakukan donor?

Beberapa persyaratan itu antara lain, memiliki berat badan minimal 45 kg; kadar hemoglobin minimal 12,5 g/dl dan maksimal 17,0 g/dl; tidak dalam pengaruh vaksin; serta tidak dalam keadaan setelah operasi besar (setelah 1 tahun) maupun operasi kecil (setelah 6 bulan).

Seringnya, seseorang memiliki kadar hemoglobin yang rendah sehingga terhalang untuk melakukan donor darah. Untuk meningkatkan kadar hemoglobin, beberapa hal dapat dilakukan. Seperti, mengkonsumsi makanan kaya zat besi, meningkatkan asupan vitamin C, mengkonsumsi asam folat, serta makan buah bit dan apel.

Sementara itu, ada banyak manfaat yang didapat usai seseorang melakukan donor darah. Donor darah dapat menjaga kesehatan jantung dan membuat darah mengalir lebih lancar, meningkatkan produksi sel darah merah, mencegah kelebihan zat besi, serta meningkatkan aktivitas antioksidan dalam tubuh. Bagi pendonor, donor darah dapat berguna untuk menunjang kesehatan tubuh.

Selain itu, yang jelas, donor darah dapat membantu menyelamatkan hidup pasien yang membutuhkan bantuan darah.

Kegiatan yang bekerjasama dengan PMI Surabaya ini mendapat respon positif dari sivitas FH UNAIR. Putera selaku Menteri Pengmas BEM FH UNAIR mengatakan, kegiatan donor darah yang berlangsung tidak untuk memperingati suatu hal. Namun, murni sebagai aksi nyata dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk aksi nyata dalam pengabdian. Kita kan juga sering mendengar berita bahwa PMI kekurangan stok darah. Maka dari itu program kerja ini bertujuan untuk membantu dan selalu mendukung PMI dalam membantu masyarakat yang membutuhkan darah,” tuturnya.

Selain donor darah, program kerja Kementerian Pengmas BEM FH UNAIR antara lain Sekolah Hebat, Pengmas Berbagi, donasi bencana, dan abdi desa. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




AUBMO Tanamkan Rasa Kekeluargaan dan Profesionalitas Anggota

UNAIR NEWS – Untuk menginternalisasi nilai-nilai di AUBMO di mana di dalamnya terdapat marwah AUBMO, yaitu organisasi yang berlandas kekeluargaan dan profesionalitas, Kementerian Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) mengadakan kegiatan upgrading. Kegiatan untuk seluruh pengurus AUBMO 2018 itu dilaksanakan pada Jumat–Sabtu (20–22/4) di Villa Wahyu Pace, Mojokerto.

Ismi Choirunnisa Prihatini selaku penanggung jawab kegiatan tersebut menyatakan bahwa tujuan kegiatan itu adalah merekatkan antar pengurus sehingga dapat lebih mengenal dan akrab. Selanjutnya, akan tercipta komunikasi yang baik antar pengurus.

“Dengan terbentuknya hubungan dan komunikasi yang baik, diharapkan antar pengurus AUBMO dapat bersinergi dengan baik untuk melaksanakan program kerja yang sudah disepakati bersama,” tambahnya.

Ismi, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa upgrading 1 AUBMO itu bertujuan sesuai dengan tema kegiatan tersebut, yaitu “Rapatkan Barisan untuk Nyalakan Lentera AUBMO”. Harapanya, kegiatan itu menjadi titik awal pengurus untuk menyalakan lentera untuk menjalankan kepengurusan AUBMO setahun ke depan.

Selain meningkatkan rasa kekeluargaan, kegiatan yang dihadiri 64 pengurus AUBMO 2018 tersebut bertujuan menumbuhkan sikap profesionalisme anggota. Turut hadir dewan pertimbangan organisasi (DPO) untuk memberikan wawasan mengenai AUBMO.

Menurut Irsyad Qoriin selaku ketua AUBMO 2016, AUBMO adalah organisasi yang tidak akan melupakan para pendahulunya. Terbukti, jika AUBMO mengadakan musyawarah, para tetuanya turut diundang.

“AUBMO tidak seperti organisasi di luar. DPO akan selalu siap dimintai pertimbangan oleh pengurus saat ini,” ucapnya.

Sementara itu, Ismi menambahkan bahwa dengan adanya beberapa permainan, para peserta bisa mendapatkan makna kerja sama, tidak mudah terpengaruh musuh, dan komunikasi yang baik. Di samping itu, permainan tersebut memiliki esensi ke-AUBMO-an.

“Saya berharap, saling mengenal antar sesama pengurus dapat memiliki hubungan kekeluargaan yang erat tetap memperhatikan sisi profesionalitas. Selain itu, dengan kegiatan upgrading ini, antar pengurus tidak lagi sungkan dan canggung. Terutama lintas kementerian yang intensitas komunikasinya kurang,” pungkasnya. (*)

Penulis: Moh. Najib Rahman

Editor: Feri Fenoria




Simpan ‘Benih’ dengan Teknik Sperm Freezing

UNAIR NEWSTahun 2015 lalu, seorang bayi laki-laki bernama Xavier Powell terlahir dari pasutri asal Australia melalui proses bayi tabung. Yang menarik, sperma yang digunakan adalah milik ayah Xavier sendiri yang telah dibekukan selama 23 tahun .

Seperti dilansir www.health.detik.com, ayah kandung Xavier bernama Alex telah lama menyimpan sampel spermanya menggunakan metode sperm freezing di sebuah bank sperma. Ini disebabkan karena sejak berusia 15 tahun, Alex didiagnosis menderita limfoma hodgkin, kanker yang menyerang sistem limpanya.

Karena khawatir proses kemoterapi akan merusak sel-sel sperma dan membuatnya mandul, maka atas permintaan sang ibu, Alex ‘menyelamatkan’ benih spermanya menggunakan metode sperm freezing. Metode ini mampu menjaga kualitas sperma bahkan hingga puluhan tahun. Alhasil,  dari pernikahan Alex bersama istrinya, lahirlah Xavier yang kemudian dinobatkan sebagai bayi yang lahir dari sperma tertua di dunia.

Kisah Alex bisa jadi mewakili keberhasilan penyimpanan sperma menggunakan teknik sperm freezing yang diterima sebagai sebuah metode untuk membantu orang yang mendambakan keturunan namun terhalang oleh kondisi medis. Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut ahli andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) dr. Aucky Hinting, Ph.D, Sp.And teknik sperm freezing belum sepenuhnya tersosialisasi secara luas ke masyarakat.

Seperti diketahui, sperm freezing telah lama dikenal sebagai teknik penyimpanan sel sperma ke dalam nitrogen cair kemudian dibekukan pada suhu minus 196 derajat Celcius.

Proses pembekuan ini menghentikan seluruh reaksi kimia di dalam cairan sperma. Sehingga sel sperma dapat bertahan lama. Dengan teknik ini, maka sampel sperma dapat disimpan selama puluhan tahun tanpa batasan waktu penyimpanan. Pada saat diperlukan, sampal sperma dapat ‘dicairkan’ kembali dan siap digunakan dalam prosedur bayi tabung.

Karakteristik cairan sperma memiliki sitoplasma yang sedikit sehingga relatif mudah dibekukan dan sedikit membentuk kristal. Karena itu, meskipun dibekukan selama bertahun-tahun, selnya akan tetap hidup dan tidak rusak.

Sebagai seorang ahli androlog, Aucky merasa teknik ini memudahkan seseorang dalam menjaga fertilitasnya.Terlebih bagi yang terkendala kondisi medis, seperti yang dialami Alex. Atau dalam kasus lain, membantu pasien kanker atau tumor testis yang harus menjalani kemoterapi bahkan operasi pengangkatan tumor. Teknik ini juga bisa ‘menyelamatkan’ fertilitas pria yang masih lajang namun harus menjalani kemoterapi.

“Ketika kesuburan seseorang menurun akibat proses kemoterapi atau pengobatan jangka panjang, maka dengan menyimpan benih sejak awal, setidaknya dia masih punya cadangan sperma yang dapat dimanfaatkan kembali, meskipun kenyataannya kualitas sperma di dalam tubuhnya sudah menurun,” ungkapnya.

Menurut Aucky, sebelum pasien menjalani operasi, ada baiknya seorang dokter menawarkan solusi penyimpanan sampal sperma kepada pasien. Sayangnya, hal tersebut masih terkendala beberapa faktor.

“Ada beberapa rumah sakit yang belum menetapkan prosedur sperm freezing ini kepada pasien kemoterapi. Teknik ini juga belum dipahami secara luas oleh tenaga medis, karena kurangnya sosialisasi di kalangan dokter maupun masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, biaya penitipan sperma ini juga relatif mahal. Untuk harga awal penitipan selama satu tahun pertama, user dikenai biaya titip sekitar Rp 2,5 juta. Di tahun berikutnya, dikenai biaya perawatan sebesar Rp 1 juta setiap tahun.

Faktor psikologis pasien juga sangat berperan. Mayoritas penderita kanker atau sakit lainnya lebih fokus mengupayakan kesembuhan dirinya, dan mengabaikan kepentingan yang lain.

“Pasien kalau uda mau kemoterapi kan biasanya udah nggak mikir mau punya anak, mereka lebih fokus untuk pengobatan dirinya sendiri. Dan ketika sudah sembuh, baru kepikiran kepingin punya anak, sementara kesuburannya sudah menurun,” ungkapnya.

Teknik sperm freezing juga dapat membantu seseorang yang mengalami buntu pada saluran spermanya. Atau dengan istilah lain, seseorang dengan sperma ‘nol’. Dalam kondisi tersebut, jumlah sperma yang dihasilkan hanya sedikit sehingga pada akhirnya sulit membuahi sel telur.

Dengan menggunakan teknik sperm freezing, maka akan dilakukan biopsi testis, diagnosis, pemeriksaan, pengambilan sperma, kemudian dibekukan. Jika sewaktu-waktu diperlukan, maka sampel sperma ini akan dicairkan dan disuntikkan ke sel telur sebagaimana proses bayi tabung.

“Kalau dulu orang yang spermanya ‘nol’ dikira mandul, nggak bisa punya anak. Namun sekarang dengan bantuan teknologi bisa diupayakan melalui bayi tabung,” ungkapnya.

Di luar negeri, penyimpanan sperma ditempatkan pada sebuah bank sperma. Namun, seiring berjalannya waktu, pencari donor sperma melalui bank sperma perlahan menurun. Hanya beberapa negara yang masih mengizinkan adanya praktek donor sperma.

Saat ini, mayoritas pasangan yang menginginkan momongan cenderung beralih pada teknik sperm freezing sebelum memulai sebuah prosedur bayi tabung. Sehingga benih yang ditanam dalam rahim bukan lagi dari benih pendonor sperma milik orang lain, melainkan dari pasangannya sendiri.

Di Indonesia, bank sperma jelas tidak diperbolehkan. Namun Prof Aucky menekankan pemanfaatan teknik sperm freezing ini lebih diarahkan untuk menyelamatkan fertilitas seseorang agar tetap memiliki keturunan sekalipun terkendala kondisi medis.

“Saya berharap, teknik ini dapat tersosialisasi lebih luas lagi. Sehingga terbuka wawasan dan harapan bagi siapapun yang ingin memiliki keturunan, sekalipun kesuburannya terancam akibat kemoterapi dan pengobatan jangka panjang yang dijalaniya,” tuturnya. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




UKM Bridge UNAIR Raih Juara 1 Kompetisi Se-Asia Pasifik

UNAIR NEWS – Salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada Universitas Airlangga (UNAIR) kembali meraih prestasi. Kemenangan itu berasal dari UKM Bridge yang meraih Juara 1 beregu dalam kompetisi Asia Pacific Bridge Federation Open Youth Championship 2018 dikategori Yunior U-26.

Kompetisi dengan cakupan peserta se-Asia Pasifik itu diselenggarakan oleh APBF (Asia Pacific Bridge Federation) yang dibantu GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia) sebagai tuan rumah. Kompetisi berlangsung di Wisma Kinasih, Bogor pada tanggal 13-20 April 2018.

Prestasi membanggakan itu diraih oleh enam anggota tim. Empat anggota asal UNAIR, dan dua lainnya gabungan atlet junior Jatim. Mahasiswa asal UNAIR antara lain Restu Narendra (mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan), Reza R. (mahasiswa Fakultas Keperawatan), Fatur R. (mahasiswa Fakultas Keperawatan), dan Stefanus Endras Wijayanto (mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi).

Stefanus menegaskan, kemungkina juara akan sangat kecil jika minim latihan. Untuk mempersiapkan kompetisi itu, lanjutnya, latihan dilakukan selama dua bulan lamanya. Dalam dua bulan para anggota rutin melakukan latihan dua kali seminggu.

“Intensif latihan dua kali seminggu. Satu kali di weekday dan satu kali di weekend. Dilakukan dengan tatap muka, pemberian teori, dan praktik secara team match,” terang Stefanus.

Sebelum kompetisi berlangsung, lanjut Stefanus, tim sempat mengikuti Piala Walikota Surabaya dan Ubaya Cup pada bulan Maret lalu. “Sebagai ajang pemanasan,” jelas Stefanus.

Tak hanya itu, tim juga melakukan latihan secara online seminggu sekali dengan menggunakan aplikasi Bridge Base Online dan mengikuti turnamen online.

Dengan latihan yang intensif, dari awal, mereka sudah menarget mendapatkan juara 1. “Puji Tuhan target itu tercapai,” lanjutnya.

Stefanus melanjutkan, babak penyisihan kompetisi berjalan normal dan lancar. Namun setelah masuk babak semifinal yang berlangsung Kamis (19/04), ketegangan lebih sering muncul. Meski demikian, masing-masing anggota tim menunjukkan performa terbaik mereka.

“Lawan paling sulit dihadapi adaah China dan Hong Kong. Kami bertemu di semifinal. Sebelumnya di babak penyisihan, China dan Hong Kong di peringkat satu, sedangkan UNAIR peringkat 4. Sempat kalah di segmen 1 dan 2, tapi kami bangkit di segmen 3,” terang Stefanus.

Stefanus berharap, melalui kemenangan ini akan banyak mahasiswa yang bergabung di UKM Bridge. Ia juga berharap, prestasi mahasiswa yang tergabung dalam UKM Bridge dapat memicu semangat mahasiswa lain untuk juga mengharumkan nama UNAIR, baik di kancah nasional maupun internasional. (*)

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor: Binti Q. Masruroh




PR Perempuan Masa Kini

UNAIR NEWS – Telah lebih dari satu abad sosok perempuan bernama Kartini, pelopor kebangkitan perempuan, berjuang untuk emansipasi wanita di Indonesia. Meski telah berabad lamanya, pemikiran-pemikiran Kartini tetap relevan hingga kini. Dalam rentan waktu itu, banyak pekerjaan rumah (PR) yang telah tuntas. Namun, ada juga yang belum terselesaikan.

Dalam acara Gelar Inovasi Guru Besar yang dilaksanakan di Kampus C Universitas Airlangga (UNAIR), Selasa (24/4) profesor bidang sosiologi gender Prof. Emy Susanti membahas kembali tentang pokok pemikiran Kartini dalam mengangkat derajat perempuan. Baik yang sudah maupun yang belum tercapai.

Pemikiran itu terdiri dalam tiga pokok. Pertama, memerangi kebodohan dengan cara bersekolah, berpendidikan, dan memiliki ketrampilan. Kedua, memerangi kemiskinan dengan cara berkontribusi secara sosial dan ekonomi. Ketiga, memerangi ketidakadilan pada perempuan dengan cara menentang poligami, perjodohan paksa, dan pingitan.

“Saat ini dua hal sudah beres, perempuan berpendidikan dan berkontribusi secara sosial. Poin ketiga belum. Dan, itu yang juga terus diperjuangkan Pusat Studi dan Gender UNAIR,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Emy juga menyoroti bidang domestik dan publik yang tidak dapat seratus persen dipisahkan. Keduanya, menurut dia, bisa dikerjakan secara bersamaan.

“Memilih untuk melakukan pekerjaan domestik atau berkarir, itu hanya streotipe pikiran yang diwariskan kepada kita sejak dulu. Misalnya, memasak. Memasak adalah sebuah keahlian dan profesi, tidak harus perempuan,” katanya. “Apalagi jaman sekarang. Laki-laki bisa masuk sektor domestik. Sebaliknya, perempuan masuk sektor publik,” tambah perempuan yang menjadi satu-satunya guru besar sosiologi gender di Indonesia itu.

Menurut dia, saat ini yang terjadi di Indonesia, perempuan sudah jauh lebih maju dan mudah hidupnya. Ingin berpendidikan tinggi bisa. Memilih berwirausaha bisa. Membela ketidakadilan gender juga bisa. Kemajuan teknologi memungkinkan semuanya bisa dikerjakan di rumah. Karena itu, lanjut Emy, perempuan bisa berpartisipasi dalam bidang apa pun.

Pada era milenial ini, lanjut dia, katakteristik yang paling menonjol yang terjadi dalam masyarakat adalah confident, high expectation dan achievement oriented.

“PR kita adalah laki-laki sebaiknya mengikuti perkembangan ini. Tidak mengungkung perempuan pada sektor domestik saja. Perempuan tidak dihambat untuk bekerja, tapi tetap dibebani pekerjaan dan tugas-tugas domestik. Laki-laki memang harus ikut menyelesaikan,” ujar Ketua Asosiasi Pusat Studi Wanita atau Gender dan Anak Indonesia (ASWGI) itu.

Ketua program studi S2 Sosiologi FISIP itu menambahkan, semua diskusi tentang kesetaraan perempuan seyogyanya tidak hanya diikuti oleh perempuan. Laki-laki juga harus turut serta. Dalam diskursus itu, partisipasi antara perempuan dan laki-laki haruslah berimbang. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria




KPPU Beri Kuliah Umum Mahasiswa Fakultas Hukum

UNAIR NEWS – Pasal 36 ayat 2 UU No 20 Tahun 2008 mengamanatkan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) sebagai lembaga yang dibentuk dan bertugas untuk mengawasi persaingan usaha. Hal itu sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan untuk melakukan pegawasan pelaksanaan kemitraan yang diatur secara tertib dan teratur.

Tujuan pengawasan kemitraan, antara lain, mewujudkan kemitraan, baik antar-UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) maupun UMKM dengan usaha besar serta mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha, baik antar-UMKM maupun antara UMKM dan usaha besar. Juga, tujuannya adalah mengembangkan kerja sama untuk meningkatkan posisi tawar UMKM.

Pada Senin (23/4), KPPU memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) yang mengambil mata kuliah hukum persaingan usaha. Hadir dua pemateri, yaitu Kamser Lumbanradja (Komisioner KPPU 2012–2017) dan Romi Pradana Aryo (Perwakilan KPPU KPD Surabaya). Kuliah umum di Aula Pancasila tersebut dipimpin Ria Setyawati selaku dosen pengampu mata kuliah hukum persaingan usaha.

Kamser menyatakan, kemitraan terdiri atas empat prinsip. Yakni, saling memerlukan, saling memercayai, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.

Selain itu, untuk perjanjian kemitraan yang sehat, lanjut dia, minimal memuat lima ketentuan. Yaitu, kegiatan usaha, hak dan kewajiban masing-masing pihak, bentuk pengembangan, jangka waktu, serta penyelesaian perselisihan.

”Kemitraan itu harus saling menguntungkan. Namun, dalam praktiknya, kebanyakan pelaku usaha kecil tidak memperoleh untung sebesar para pelaku usaha besar,” ujarnya.

Selanjutnya, Yanuar menjelaskan mengenai posisi dominan. Sebagaimana dalam pasal 1 UU 5/1999, posisi dominan adalah keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitannya dengan pangsa pasar yang dikuasai. Atau, pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi di antara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau penjualan, serta kemampuannya untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu.

Para mahasiswa sangat antusias mengikuti kuliah umum tersebut. Mereka mengakui bahwa dalam persaingan usaha, KPPU memiliki peran yang cukup penting sehingga ketika memaparkan suatu poinnya sangat detail.

“KPPU ini kan memang mengurusi persaingan usaha ya. Jadi, sangat senang bisa mengikuti kuliah umum ini. KPPU memang sangat berpengalaman dalam kasus-kasus persaingan usaha sehingga apa yang disampaikan sangat jelas bagi kami,” tutur Ido, salah seorang mahasiswa. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria




Diskusi Gubes UNAIR Soal Peran Perempuan Era Milenial

UNAIR NEWS – Dua guru besar (gubes) perempuan dari lintas bidang ilmu di Universitas Airlangga menggelar diskusi bertema perempuan dalam acara Gelar Inovasi Guru Besar pada Selasa (24/4). Tepatnya dalam peringatan nuansa Hari Kartini pada April 2018. Peran wanita menjadi bahasan utama yang diungkap dua gubes UNAIR.

Dua gubes itu adalah Prof. Dr. Anis Eliyana, SE., M.Si., Gubes dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Paparan kedua gubes dimoderatori oleh Nisful Laila, S.E., M.Com.

Wakil Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR Dr. Imron Mawardi, SP., M.Si., mewakili rektor dalam sambutannya menjelaskan bahwa kini peran perempuan dalam berbagai ranah kehidupan begitu kentara. Yang terbaru, katanya, berdasarkan pengumuman hasil SNMPTN 2018, sebanyak 83,35 persen yang diterima kuliah di UNAIR adalah perempuan.

”Saat ini perempuan memang luar biasa. Kalau kita bisa lihat lagi, saat wisuda, wisudawan terbaik juga didominasi perempuan,” katanya.

Soal pemilihan tema tersebut, selain berkaitan dengan momentum Hari Kartini, laju perkembangan sosial kemasyarakatan yang begitu cepat turut memberikan dampak terhadap tema keperempuanan. Terutama berkaitan dengan kesamaan gender.

Karena itu, bahasan terkait perempuan selalu menarik dan penting. Khususnya dikaitkan dengan tema sosial dan ekonomi. Meski salah seorang pembicara tidak bisa hadir karena suatu hal, yakni Prof. Dr. Merriyana Adriani, SKM., M.Kes., dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), diskusi di Aula Amerta, Lantai 4, Gedung Manajemen UNAIR, oleh dua pembicara lainnya berjalan dengan semarak.

Dalam diskusi itu, Prof. Anis membahas permasalah terkait dengan bidang ekonomi. Khususnya entrepreneur sebagai peran perempuan dalam era milenial. Menurut dia, kemunculan isu datangnya era revolusi industri 4.0 bukan menjadi ketakutan untuk perempuan. Justru hal itu mesti dimanfaatkan dengan baik.

”Mengingat, perkembangan e-commerce sebagai bagian dari revolusi indutri 4.0 di Indonesia tertinggi di dunia,” sebutnya.

Di sisi lain, dalam kesempatan tersebut, Prof. Emy membahas kembali tentang pokok pemikiran Kartini dalam mengangkat derajat perempuan. Pemikiran itu terdiri dalam tiga pokok. Pertama, memerangi kebodohan, dengan cara sekolah, berpendidikan, dan memiliki ketrampilan. Kedua memerangi kemiskinan dengan cara berkontribusi secara sosial dan ekonomi. Ketiga, memerangi ketidakadilan pada perempuan, dengan cara menentang poligami, perjodohan paksa, dan pingitan.

“Saat ini dua hal sudah beres, perempuan berpendidikan dan berkontribusi secara sosial. Poin ketiga belum. Dan itu yang juga terus diperjuangkan pusat studi dan gender UNAIR,” terangnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Binti Q. Masruroh




AUBMO UNAIR Banyuwangi Gelar ”Ngaos Sareng Lare Bidik Misi”

UNAIR NEWS – Organisasi Mahasiswa Bidikmisi Universitas Airlangga (AUBMO) PSDKU di Banyuwangi kembali mengadakan kegiatan sosial. Kali ini kegiatan tersebut bertajuk Ngaos Sareng Lare Bidikmisi. Bertema ”Belajar Sambil Berbagi Satu Huruf Guna Abadi”, kegiatan itu digelar pada Kamis (19/4).

Ngaos Sareng Lare Bidik Misi dibuka oleh Muhammad Fauzizarkasi, ketua AUBMO PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Kegiatan tersebut melibatkan panitia dan volunteer dari mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi.

Total ada 20 mahasiswa yang turut serta. Mereka bekerja sama dengan takmir masjid, pengajar ngaji, serta ketua RT setempat. Kegiatan itu digelar di TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) Al Hafidz Perum Sobo Indah Banyuwangi. Pesertanya adalah santri dan santriwati TPQ tersebut. Yakni, mencapai 40 anak.

Menurut Koordinator Divisi Pengabdian Masyarakat (Pengmas) AUBMO PSDKU UNAIR di Banyuwangi Hayunda Fajri Solihah, kegiatan itu merupakan proker (program kerja) pertama dari divisi pengmas.

”Alhamdulillah, kegiatan tersebut berjalan dengan lancar,” ungkapnya.

Para santri sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka sangat senang atas kehadiran para panitia dan volunteer. Sebab, para panitia dan volunteer ikut belajar bersama dan mendampingi para santri saat mengaji.

“Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan sosial kemasyarakatan dengan sasaran para santriwan dan santriwati TPQ Al Hafidz Perum Sobo Indah Banyuwangi,” ujar Hyunda.

Selain sebagai pengabdian, kegiatan tersebut terselengara atas permintaan pihak TPQ karena minimnya jumlah sumber daya manusia (SDM) di sana. Mengingat, jumlah santri di TPQ tersebut lumayan banyak. Akibatnya, proses belajar belum dapat dimaksimalkan.

”Karena itu, harapannya dengan adanya kegiatan ini, permasalahan itu mampu sedikit demi sedikit diselesaikan. Sekaligus, program pengabdian tersebut menjadi ladang amal bagi mahasiswa bidikmisi untuk menularkan ilmu agama dan ngaji mereka,” ujarnya.

”Selain itu, kami berharap kegiatan ini dapat berlanjut sampai pada periode kepengurusan berikutnya,” imbuhnya. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria