Dua Lulusan Terbaik FKG Raih IPK 3.96

UNAIR NEWS – Sebanyak 31 dokter gigi (drg) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga diambil sumpah di Graha BIK-IPTEKDOK pada Rabu pagi (17/01). Hal itu menandai para mahasiswa FKG tersebut siap berkiprah dan mengabdi untuk masyarakat serta kemanusiaan.

Selain ke-31 dokter gigi disumpah, dalam prosesi itu, turut diumumkan peraih predikat lulusan terbaik FKG. Penganugerahan tersebut dipimpin langsung oleh dekan FKG Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes dan disaksikan oleh para orang tua dokter gigi baru.

”Sekaligus hari ini akan diumumkan lulusan terbaik FKG periode kali ini. Kedua mahasiswa berhasil meraih IPK (indeks prestasi komulatif, Red) di atas 3.5,” tutur Dr. R. Darmawan dalam sambutannya.

Dengan IPK 3.96, drg. Yunira Rosandita dan drg. Alit Rahma Estu didaulat menjadi lulusan terbaik FKG. Dua perempuan itu berhasil memenuhi kriteria kelulusan dokter gigi terbaik. Yakni, lulus tepat waktu serta menyelesaikan setiap stase, bagian-bagian pembelajaran, dengan IPK di atas 3,9.

“Setiap mata kuliah yang diberikan dipelajari sebaik-baiknya. Agar, mendapatkan nilai terbaik di setiap mata kuliah,” tutur Yunira perihal kunci capaiannya itu.

Perempuan kelahiran 13 Juni 1994 tersebut mengungkapkan, rajin dan mandiri sudah menjadi tuntutan untuk pendidikan profesi. Terutama agar mampu lulus tepat waktu.

”Ketika ada pasien, penyelesaiannya mesti saat itu juga. Jangan menunda waktu. Sebab, jatah di stase tersebut tiga bulan yang akhirnya membuat diri sendiri malas,” saran Yunira dan Alit untuk mahasiswa profesi.

Yunira menyarankan jangan mengulang beberapa stase dan menggunakan jalur cari pasien yang ilegal. Lebih baik dengan kenalan dan kemauan untuk mencari pasien sendiri.

”Selain itu, selalu bangun komunikasi yang baik dengan pasien untuk encourage mereka agar mengikuti seluruh perawatan dan mau berbagi ilmu,” sebutnya.

Menurut dia, juga diperlukan upaya membangun lingkungan yang saling support. Yang tidak lupa, bentengi diri dari pergaulan yang negatif seperti yang memicu kemalasan. Kemauan dan niat menjadi syarat utama untuk lulus lebih cepat.

”Membaca literatur dan browsing membantu dalam memperdalam informasi kasus. Review yang sudah dilewati seharian. Termasuk cari tahu kesulitan yang dialami, lalu belajar dengan senior dan dosen yang lebih berpengalaman,” ungkapnya.

Sementara itu, Alit menambahkan bahwa mengatur waktu sangat penting, baik untuk diri sendiri, pasien, maupun dosen. Pembagian secara detail setiap prioritas untuk waktu yang tersedia sangat diperlukan.

”Mengatur diri sendiri, kapan mengerjakan pasien ini, lalu follow-up pasien yang dirawat, dan jam belajar untuk mempersiapkan materi berdiskusi dengan dosen,” kata perempuan yang lahir pada 20 Oktober 1993 tersebut.

lulusan terbaik
Alit Rahma Estu, drg saat diberikan penghargaan oleh dekan FKG pada (17/1). (Foto: Feri Fenoria)

Perihal kesan selama menempuh pendidikan, lanjut alumnus SMAN 2 Nganjuk tersebut, salah satunya adalah dapat berkenalan dengan orang baru dan dosen. Juga, adanya pasien yang tidak sesuai dengan harapan untuk mengikuti perawatan selama di klinik.

”Setelah berhasil meraih gelar ini, tantangan terbesar sudah menunggu di depan. Kasus-kasus di luar klinik lebih banyak dan luas sehingga peran alumni sangat dibutuhkan untuk saling bertukar pikiran,” ujarnya.

Ke depan, dua lulusan terbaik tersebut mencari pengalaman terlebih dahulu dengan bekerja di klinik dan mengikuti seminar atau hands-on. Selanjutnya, mengambil spesialisasi menjadi target keduanya.

Penulis: Shantya Hermanto/ Gilang R. Sabdho Wening

Editor: Feri Fenoria




Perpustakaan Kampus C UNAIR Kian Nyaman dan Lengkap

UNAIR NEWS – Menyongsong target world class university (WCU) pada 2020, Universitas Airlangga terus melakukan program persiapan, baik fisik maupun nonfisik. Salah satunya adalah menyiapkan fasilitas kebutuhan dasar mahasiswa yang terbaik dalam mendukung proses pendidikan. Yakni, menyediakan perpustakaan yang representatif dan nyaman sekaligus memiliki koleksi buku yang lengkap.

Bertempat di halaman depan gedung yang teranyar, Perpustakaan Kampus C UNAIR yang baru diresmikan langsung oleh Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., Ph.D., FINASIM pada Jum’at (19/1). Turut mendampingi dalam peresmian tersebut adalah Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., dan Kepala Perpustakaan UNAIR Prof. Dr. I Made Narsa, SE., M.Si., Ak. CA.

Pemotongan pita yang disaksikan para jajaran pegawai perpustakaan beserta perwakilan mahasiswa menjadi penanda dibukanya fasilitas baru itu. Sebelumnya, Perpustakaan Kampus C berada pada posisi menyatu dengan gedung kantor manajemen UNAIR, kini memiliki gedung sendiri di sebelah selatan bangunan yang dulu.

perpustakaan
Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., (kiri); Kepala Perpustakaan UNAIR Prof. Dr. I Made Narsa, SE., M.Si., Ak. CA. (kanan); dan Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., Ph.D., FINASIM., setelah meninjau gedung Perpustakaan Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)

”Perpustakaan yang baru ini terdiri atas dua lantai. Lantai 1 berisi koleksi buku, baik koleksi umum dan khusus, maupun karya ilmiah. Selanjutnya, lantai 2 ditujukan untuk ruang diskusi dan membaca. Ada pula ruang khusus untuk mencari e-book,” jelas Prof. I Made saat ditemui UNAIR NEWS.

Prof. I Made menyampaikan, mahasiswa UNAIR mesti aktif mengoptimalkan fasilitas pendidikan, perpustakaan, yang ada. Sebab, perlu diketahui, dalam era digital seperti saat ini, secara jumlah, Perpustakaan UNAIR masuk dalam tiga besar pengoleksi e-book terbanyak se-Indonesia.

”Kita (UNAIR, Red) berada di bawah UI dan UGM. Inilah yang mesti dimanfaatkan,” ujarnya.

Dalam segi jumlah buku, lanjut Prof. I Made, koleksi Perpustakaan UNAIR mencapai 200.000 buku. Ada 10.000 e-book. Dan, terdapat jutaan jurnal. Seluruhnya tersebar di tiga kampus, baik Kampus A, B, maupun C.

”Untuk jamnya, Perpustakaan UNAIR buka hingga pukul 22.00 pada Senin sampai Jum’at. Sabtu juga buka,” sebutnya.

Menambahkan pernyataan Prof. I Made, Drs. Koko berpesan kepada mahasiswa untuk lebih dekat dengan buku. Banyak hal yang bisa didapatkan mahasiswa dari buku.

”Orang biasa bukan berarti tidak bisa menjadi apa-apa. Dengan buku, semuanya bisa menjadi siapa-siapa,” katanya.

Pada akhir, Prof. Djoko menyampaikan bahwa peresmian itu merupakan bagian dari komitmen UNAIR dalam upaya peningkatan kualitas civitas akademika, khususnya mahasiswa. Terutama dalam mempersiapkan lulusan yang mampu mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan baik.

”Sekaligus ini adalah upaya rekognisi internasional UNAIR dengan fasilitas yang memadai,” ungkapnya.

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Binti Q. Masruroh




Mantan Wartawan ’Surabaya Post’ Raih Gelar Doktor di FISIP UNAIR

 

UNAIR NEWS – Dewasa ini, independensi jurnalistik sedang mengalami ujian hebat. Idealisme untuk mempertahankan api jurnalistik, dalam praktiknya, banyak yang goyah akibat tergerus gempuran dunia lain, yaitu tekanan ekonomi (komersialisasi). Akibatnya jurnalistik dan praktik jurnalistik menghadapi dilematis hebat.

Itulah antara lain benang-merah yang bisa disimpulkan dari paparan disertasi Nanang Krisdinanto, Drs., M.Si., berjudul ”Runtuh dari Dalam, Tekanan Komersialisasi terhadap Pagar Api Jurnalistik di Indonesia”. Disertasi itu disusun dibawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Hotman Siahaan, Drs., dan Co-Promotor Prof. Rachmah Ida, Dra., M.Com., Ph.D.

Berhasil mempertahankan disertasinya, baik dalam ujian tertutup dan ujian terbuka hari Selasa (16/1/2018), mengantarkan promovendus Nanang Krisdinanto meraih gelar Doktor Ilmu Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga.

Mantan wartawan Harian Sore Surabaya Post ini lulus dengan predikat Dengan Pujian. Ia merupakan Doktor ke-204 Prodi S3 Ilmu Sosial FISIP UNAIR. Promovendus lulus S1 dari Prodi Politik di FISIP UNAIR. Demikian juga S2-nya dari Program Ilmu Komunikasi dan Studi Media, juga di FISIP UNAIR.

Menjawab tim penguji dalam Ujian Terbuka di Ruang Adi Sukadana FISIP UNAIR yang dipimpin Dekan FISIP Dr. Drs. Falih Suaedi, M.Si, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mandala itu menjelaskan, goyahnya usaha mempertahankan api jurnalistik itu membuat  para jurnalis –baik sukarela atau “terpaksa” secara sistematis dan masif bisa ”meruntuhnya dari dalam” ruang redaksi sendiri.

Mengapa, karena seakan menjadi sesuatu yang tidak terdiskusikan bahwa dalam gagasan jurnalistik, doksa jurnalistik yang kredibilitasnya dijaga oleh ortodoksa (pemisahan ruang redaksi dan ruang bisnis), mendapat tantangan dari heterodoksa yang menyinergikan antara ruang redaksi dan ruang bisnis.

Dalam penelitiannya, Nanang mengungkap, tidak sedikit jurnalis yang kompromistis dengan komersialisasi, sehingga mengesampingkan api jurnalistik (kepentingan publik). Hadirnya rezim komersial ini membuat posisi iklan menjadi penting dalam struktur pendapatan media, bahkan akan menentukan keberlanjutan hidup surat kabar.

Bagi pemasang iklan, hal itu akan menjadi satu metafor yang disebut ”advertisers muscle”. Metafor ini bisa memiliki kekuatan untuk mendikte, mengontrol, dan memengaruhi praktik jurnalistik. Hasil penelitian promovendus ini diakui oleh sebagian besar redaksi surat kabar bahwa advertisers muscle ini membahayakan, bahkan akan menghancurkan pagar api jurnalistik dari dalam (redaksi).

”Dengan kata lain, pagar api jurnalistik diletakkan pada posisi diametral antara ‘hidup dan mati’. Mengembangkan gagasan yang oposisional bahwa mempertahankan pagar api jurnalistik berarti kematian surat kabar, sedangkan menerabas pagar api jurnalistik berarti keselamatan surat kabat,” tandas Nanang, bapak seorang putera ini.

Atas temuan-temuan faktual dalam penelitian itu, Nanang mengkhawatirkan keberlangsungan (masa depan) jurnalistik. Hal itu tidak lain karena terjadinya berubahan doksa jurnalistik. Inilah yang menggoyahkan profesionalisme wartawan dalam melakukan praktik jurnalistik, atau yang selama ini bertumpu pada etika jurnalistik dan menjaga pentingnya independensi jurnalistik untuk kepentingan publik.

”Dengan hadirnya kompromistis membuat posisi heterodoksa jurnalistik semakin menguat. Sebaliknya ortodoksa jurnalistik terus melemah. Jika ini yang menguat, maka suatu saat heterodoksa jurnalistik akan menjadi doksa jurnalistik. Artinya penerabasan pagar api jurnalistik akan dianggap praktik jurnalistik yang sah, normal, benar, dan diterima dengan tanpa perlu dipertanyakan,” kata Nanang.

Kondisi seperti itu, dalam waktu pendek bisa menguntungkan kalkulasi industri media, sebab ada keuntungan yang diraih dari iklan. Namun dalam jangka panjang akan merugikan karena media bisa kehilangan kepercayaan dari publik akibat kepentingannya diabaikan. Karena itu Nanang Krisdinanto berharap dunia persuratkabaran kembali menegakkan pagar api jurnalistik dan menjaga antara ruang redaksi dengan ruang bisnis. (*)

Penulis : Bambang Bes




Sambut SNMPTN 2018, Ribuan Siswa Padati Stan UNAIR

UNAIR NEWS – Stan Universitas Airlangga ramai dipadati pelajar SMA dalam acara “Campus Expo” yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) SMA se-Surabaya, Kamis (18/1). Campus Expo yang dilaksanakan di DBL Arena, Graha Pena, Kota Surabaya ini dihadiri oleh seluruh pelajar SMA di Kota Surabaya.

Seperti dijelaskan M. Imron selaku ketua MGBK Kota Surabaya, pameran pendidikan ini diadakan untuk memenuhi layanan informasi anak didik, terutama mereka yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

“Dengan diadakan campus expo ini diharapkan mereka mendapatkan cukup informasi tentang perguruan tinggi yang akan dituju,” ujar Imron.

Selain UNAIR, ada 55 perguruan tinggi lain yang mengikuti pameran. Perguruan tinggi itu bukan hanya dari wilayah Jawa Timur, namun juga dari daerah lain. Seperti Universitas Trisakti, Jakarta dan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Meskipun diperuntukkan bagi siswa SMA, namun dalam pameran itu ada juga siswa SMK yang datang untuk menggali berbagai informasi seputar perguruan tinggi.

“Pengunjung pameran merupakan semua siswa SMA se-Surabaya, bahkan ada juga sebagian yang dari SMK,” tambah Imron menjelaskan.

Mewakili UNAIR, Thia Aminah Rahmawati, S.Pi selaku staf Pusat Informasi dan Humas  mengatakan, sebagian dari para pengunjung bertanya seputar pilihan program studi lintas jurusan pada jalur SNMPTN, biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa kuliah di UNAIR, berapa passing grade setiap jurusan, serta prospek kerja usai lulus kuliah nantinya.

“UNAIR tidak memasang passing grade, yang ada keketatan. Misal prodi Pendidikan Dokter untuk jalur SNMPTN sebesar 20,40. Artinya, 1 anak bersaing dengan 20 peserta. Pada prodi Manajemen, keketatan sebesar 21,97 atau 22. Artinya, 1 anak bersaing dengan 22 peserta,” ujar Thia.

Evika Aisyah siswa dari SMA 10 Surabaya misalnya. Rela mengantri di belakang puluhan pengunjung lain untuk memperoleh informasi cara masuk prodi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, sebagai prodi impiannya. Ia mengatakan, pameran ini sangat berguna bagi siswa SMA. Mengingat, mulai 21 Februari nanti sudah dibuka pendaftaran masuk perguruan tinggi untuk jalur SNMPTN.

“Pameran ini berguna sekali, sehingga saya mengetahui daya tampung dan tingkat persaingan masuk FKG UNAIR,” ujar Evika.

Sementara itu, selain mengikuti Campus Expo dalam beberapa kesempatan, UNAIR juga menerima kunjungan bagi sekolah yang ingin berkunjung langsung ke UNAIR. Di hari yang sama, UNAIR menerima kunjungan dari SMAN 11 Surabaya dan SMAN 1 Manyar, Gresik. (*)

Penulis: Agus Irwanto dan Binti Q. Masruroh

Editor: Nuri Hermawan




Lima Program Studi di UNAIR yang Paling Diminati

UNAIR NEWS – Bagi siswa SMA sederajat yang akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, mempertimbangkan dengan baik dan matang-matang dalam memilih program studi merupakan hal yang wajib. Tidak sekadar bermodal pada kemampuan dan kemauan saja, dalam memilih program studi, melihat peluang dan persaingan juga menjadi pertimbangan tersendiri. Pasalnya, dengan melihat jumlah pesaing pada program studi yang akan dipilih, siswa diharapkan bisa mempersiapkan banyak hal. Terlebih jika program studi yang dipilih menjadi impian dan rebutan banyak orang.

Kali ini UNAIR NEWS akan menyajikan data lima program studi di Universitas Airlangga dengan peminat paling banyak pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun lalu, 2017. Berdasar data yang didapat dari Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) UNAIR, rata-rata peminat dari lima program studi itu menembus pada angka ribuan.

Pada kelompok saintek (Sains dan teknologi), Pendidikan Dokter UNAIR menjadi program studi pertama yang paling tinggi peminatnya, yakni 1775 orang. Sementara itu, pada kelompok soshum (sosial dan humaniora), Manajemen UNAIR tercatat sebagai program studi yang mampu memikat peserta hingga 2219 peminat. Berikut adalah grafis lima program studi di UNAIR yang paling banyak diminati pada SNMPTN tahun 2017.

Grafis: Feri Fenoria

Penulis: Nuri Hermawan

 




UNAIR Perkuat Kerja Sama Indonesia-Taiwan Bidang Pendidikan Tinggi

UNAIR NEWS – Terpilih menjadi kantor Indonesian-Taiwan Education Center untuk wilayah Surabaya, bahkan Jawa Timur, Universitas Airlangga terus menggelar program penguatan kerja sama antara Indonesia dan Taiwan di bidang pendidikan tinggi. Salah satunya melalui program Mandarin Chinese Teacher Training Workshop pada Kamis–Sabtu (18–20/1).

Bertempat di Ruang 302, Lantai 3, Kantor Manajemen UNAIR, workshop tersebut dikuti 15 peserta dari berbagai wilayah. Bukan hanya Jawa Timur, ada pula yang berasal dari Bali. Hadir pula dalam workshop itu adalah Asst. Prof. Shiao-Yuh Chou dari Asia University dan Assoc. Prof. Chen-Huei Wu dari National Tsing Hua University Taiwan.

Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si., selaku direktur eksekutif Airlangga Global Engagement (AGE) yang mewakili rektor UNAIR menyatakan, program itu merupakan langkah awal atau memulai penguatan kerja sama Indonesia dan Taiwan. Artinya, workshop tersebut bakal ditindaklanjuti dengan program lainnya.

”Dalam langkah awal ini, workshop-nya masih menyasar guru bahasa Mandarin. Selanjutnya berganti untuk para mahasiswa,” ujarnya. ”Ke depan kegiatan semacam ini akan memudahkan mahasiswa untuk belajar bahasa Mandarin,” imbuhnya saat ditemui UNAIR NEWS.

Sementara itu, menurut Prof. Nyoman, keberadaan kantor Indonesian-Taiwan Education Center di UNAIR, terutama program kerja sama serupa workshop tersebut, menjadi peluang yang sangat baik bagi UNAIR. Yakni, dalam hal pengembangan pendidikan tinggi yang berkaitan dengan Taiwan.

”Juga, keberadaanya mampu mengembangkan kemampuan penguasaan bahasa Mandarin sebagai salah satu bahasa internasional di lingkungan UNAIR,” imbuhnya. ”Artinya, mahasiswa kita (UNAIR, Red) bisa belajar bahasa Mandarin lebih mudah,” imbuhnya.

Menjadi salah satu bahasa internasional yang diakui, lanjut Prof. Nyoman, bahasa Mandarin berpeluang mengangkat daya saing mahasiswa dalam berkarir di dunia global. Sebab, globalisasi bukan hal yang bisa dihindari. Persaingan terbuka antarnegara jelas bakal terjadi.

”Dengan kemampuan penguasan bahasa internasional, selain bahasa Inggris, bahasa Mandarin bakal mengangkat dan membuat daya saing mahasiswa menjadi lebih baik. Terutama untuk masuk dunia kerja yang bersifat global,” jelasnya.

Pada akhir, menurut Prof. Nyoman, tindak lanjut program tersebut direncanakan digelar pada Februari. Yakni, program workshop untuk para mahasiswa UNAIR.

”Mudah-mudahan Februari dapat terlaksana. Bahkan, ke depan bisa pula orentasinya untuk para masyarakat di Surabaya, juga Jawa Timur,” ujarnya.

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan




Pemenang PIM UNAIR Diharapkan Siap Menuju Level Berikutnya

UNAIR NEWS – Hasil Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) Universitas Airlangga tahun 2017, pada hari Rabu (17/1) kemarin diumumkan. Pengumuman tersebut berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Airlangga Nomor 1972/UN3/2017 tertanggal 5 Desember 2017.

Dalam acara pengumuman yang diselenggarakan oleh Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) UNAIR, semua mahasiswa pemenangnya diundang semua, di Rusang Sidang Utama Rektorat UNAIR. Dalam acara ini yang dihadiri Direktur Kemahasiswaan Dr. M. Hadi Shubhan, SH., MH., CN., serta para dosen pembina kemahasiswaan.

Kepada para mahasiswa pemenang PIM, saat itu juga diberikan wejangan atau pembekalan dan petunjuk teknis serta motivasi bagaimana berproses untuk menuju kegiatan selanjutnya. Wejangan itu disampaikan oleh Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM.

PIM yang diumumkan ini baik untuk nomor Lomba Debat Bahasa Inggris, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres), serta Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON-MIPA). Semua tingkat Universitas Airlangga.

Inti dari pengarahan Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, antara lain menjelaskan bahwa para pemenang adalah orang-orang terpilih yang memenangkan kompetisi itu. Karena ini masih di tingkat internal UNAIR dan diharapkan akan maju ke level yang lebih tinggi, maka hendaknya para calon “duta UNAIR” itu bisa mempersiapkan diri secara lebih baik.

”Kemenangan itu hadiah dari Allah SWT. Tetapi yang diberi kemenangan, biasanya mereka yang telah melewati proses lebih siap, lebih pandai, lebih matang dengan cara dan sistem yang benar. Jadi tidak bisa lepat dari maturitas (kematangan, kedewasaan – Red). Misalnya yang 100 kali berlatih secara benar tentu lebih teruji dari pada yang berlatih hanya 10 kali,” demikian Prof. Djoko Santoso.

Setelah pengumuman pemenang PIM ini, Prof. Djoko berharap kepada para pemenangnya segera berlatih mempersiapkan diri lebih baik dari yang sudah dijalani. Universitas akan memfasilitasi dan membimbing agar dalam kompetisi nanti meraih yang terbaik, sehingga akan turut menunjang reputasi lembaga universitas.

Secara individu bagi mahasiswa, reputasi tersebut juga sebagai capital (modal) untuk berbuat lebih lanjut kedepan setelah lulus. Karena itulah dalam latihan, belajar, berproses diri, dikenalkan bagaimana cara melangkah yang baik dan benar, cara menyelesaikan pekerjaan, cara menyelesaikan masalah, dan sebagainya secara terprogram dan terencana baik.

Planning yang bagus; bagaimana peluangnya, apa kendalanya, dananya bagaimana, dsb. Siapkan maturitas mental lebih baik, berusaha keras, dan tidak takabur. Jika sudah demikian, InsyaAllah juara itu tinggal menunggu waktu, ini untuk untuk di semua lomba,” demikian wejangan Prof. Djoko Santoso.

Direktur Kemahasiswaan UNAIR Dr. M. Hadi Shubhan menambahkan, bila mahasiswa meraih prestasi menjadi juara di suatu kompetisi, maka pada saat wisuda nanti diusulkan menjadi Wisudawan Berprestasi. Ini satu predikat membanggakan selain Wisudawan Terbaik yang dinilai dari sisi akademik.

”Itu baik pada kompetisi PIMNAS, Mawapres, ON-MIPA, debat bahasa, pekan ilmiah, dsb,” kata Hadi Shubhan. (*)

Penulis : Bambang Bes




Pemenang Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) Universitas Airlangga Tahun 2017

UNAIR NEWS – Sebanyak 51 mahasiswa tercatat keluar sebagai pemenang Pekan Ilmiah mahasiswa (PIM) Tingkat Universitas Airlangga tahun 2017. Pengumuman tersebut berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Airlangga Nomor 1972/UN3/2017 tertanggal 5 Desember 2017. Kepada para pemenang juga diberikan penghargaan dan hadiah.

”Penghargaan kepada pemenang Pekan Ilmiah Mahasiswa Universitas Airlangga 2017 dalam bentuk sertifikat pemenang dan uang pembinaan masing-masing Rp 1 juta,” demikian antara lain keputusan kedua dalam SK ini.

Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) Universitas Airlangga 2017 ini antara lain Lomba Debat Bahasa Inggris, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Program Sarjana Semester V, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Program Diploma Semester V, Seleksi Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON-MIPA) Bidang Matematika, ON-MIPA Bidang Fisika, ON-MIPA Bidang Kimia, dan ON-MIPA Bidang Biologi.

Sebanyak tujuh orang dinyatakan sebagai pemenang Lomba Debat Bahasa Inggris, yaitu dua orang sebagai Juara I amsing-masing Auly Nahdyan Mafaza dan Annida Aqilla Putri (Fakultas Hukum). Juata II dimenangkan Fara Suehanna Binti Mohd Safani dan Shaun Timothy Adut Benjamin (Fakultas Kedokteran Hewan). Sedang Juara III dimenangkan oleh Alfisar Shidqi bersama Achmad Fadli (Fakultas Kedokteran). Kemudian Fara Suehanna Binti Mohd Safani (FKH) sekaligus menjabet predikat sebagai Best Speaker.

Pemenang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Program Sarjana Semester V: Juara I diraih oleh Muhammad Reza Affandi (Fakultas Kedokteran), Juara II Citi Rahmati Serfiyani (Fakultas Hukum), dan Juara III disabet oleh Nizzah Amalia Subchan (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/FISIP).

Sedangkan pemenang dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Program Diploma Semester V adalah hanya Alifatus Wahyu Nur Ma’rifah (Fakultas Vokasi) sebagai juara I.

Sepuluh pemenang ON-MIPA Bidang Matematika adalah; Benny iswanto (Fak Kedokteran), dan sembilan mahasiswa dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yaitu Muhammad hafiruddin, Eka Nur Rahmawati, Rivanzander Irawan, Bidayatul Mas’ulah, Fadil Muhammad, Ninda Ayu Puspita R, Alan Nuari, Zacky Mohammad Azizy, dan Jasmine Qoishum Zihni El-Wahyu.

Pemenang ON-MIPA Bidang Fisika: juga sepuluh orang, yaitu Fiki Muhammad Ridho (Fakultas Kedokteran Gigi). Kemudian masing-masing dari FST adalah Andri Wahyudianto, Syahrul Munir, Beni Hamdani, Binti Musyaropah, Siti Khoiriyatul U, S Eka Putra P, Ananto Ari P, Moh Fajar F.P. Satu lagi, Bagas Saktiadji E dari Fakultas Keperawatan.

Pemenang ON-MIPA Bidang Kimia: Nendo Reza Pratama (Fakultas Kedokteran), Muhammad Ilham Rayyan Nafi’ (Fakultas Farmasi). Delapan lainnya dari FST yaitu Sri Wahyuni, Dimas Noor Asy’ari, Brilliana Via Safitri, Umrotul Furghoniyyah, Putri Indrawasih, Irfansyah Rais Sitorus, Ginsha Zakatina Rahman, M. Dhimas Adiputra.

Pemenang OM-MIPA Bidang Biologi: Lima orang dari Fakultas Kedokteran, yaitu Ayik R.J, Puguh Oktavian, M. Iqbal Mubarok, Ihsan F.R, Agnesia A. Kemudian Dimas Rudianto F (Fakultas Kedokteran Gigi), Brilian Ratnawati (FST), Rizki W (FST), Syariar (FST), dan Meirina N.A (Fakultas Keperawatan). (*)

Penulis : Bambang Bes




Dokter Gigi Diminta Jaga Tradisi Luhur Profesi

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga kembali menggelar pelantikan dan pengambilan sumpah dokter gigi. Sebanyak 43 dokter gigi dari FKG UNAIR, dilantik dan diambil sumpah di Graha BIK-IPTEKDOK Fakultas Kedokteran (FK) pada Rabu siang (17/1). Mereka terdiri atas 31 dokter gigi dan 12 dokter gigi spesialis.

Pada acara tersebut, M. Choirul Umam Nurmalik selaku perwakilan dokter gigi baru dalam sambutannya mengajak rekan seperjuangan untuk menyampaikan terima kasih kepada orang tua masing-masing. Tanpa dukungan, doa, dan arahan mereka, lanjut dia, hari ini mungkin tak dapat menjadi dokter gigi baru.

“Selain itu, terima kasih turut disampaikan kepada guru-guru kami. Maafkan bila selama ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan,” tuturnya. ”Inilah awal perjuangan kami,” imbuhnya.

Sementara itu, mewakili dokter gigi spesialis baru, Drg Nugroho setyawan Sp. BM yang juga berasal dari Angkatan Darat juga bertutur senada. Rangkaian kata terima kasih kepada semua yang telah berjasa terus ia ucapkan.  Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UNAIR, Prof. R. Coen Pramono D,drg., SU., Sp.BM(K). yang juga ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) mengatakan bahwa pengambilan sumpah merupakan bentuk perjanjian yang nyata untuk melakukan pengabdian.

“Sumpah ini merupakan janji kita semua untuk turut serta mengabdikan diri demi kemaslahatan umat,” jelasnya.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Dekan FKG UNAIR Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes. Dalam sambutannya, Darmawan menyatakan bahwa ke-43 dokter gigi yang diambil sumpah menambah jumlah dokter gigi dari FKG UNAIR yang bakal berkiprah di masyarakat. Sejak dimulai pendidikan dokter gigi pada 1927, lanjut dia, kini totalnya mencapai 5.319 orang yang sudah disumpah.

”Kiprah FKG sudah sampai 90 tahun,” ujarnya.

Kemudian, mewakili Rektor UNAIR, Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., selaku Wakil Rektor IV mengatakan, ke depan dokter gigi baru dan spesialis harus mampu melakukan pengabdian dengan mengedepankan etika profesi dan kemanusian.

“Saya harap saudara sekalian bisa menjaga tradisi luhur profesi dan selalu menjaga nama baik almamater,” tandasnya.

 

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan




Kata Mereka, Saat Kembali Mengabdi dan Kenalkan UNAIR di SMA

UNAIR NEWS – Musim liburan menjadi ajang bagi Ksatria Airlangga untuk kembali ke almamater lama. Melakukan pengabdian dengan mengenalkan Universitas Airlangga dan memberikan arahan adik angkatan untuk menatap masa depan. Berikut adalah kesan mereka, Ksatria Airlangga saat kembali menengok almamater yang selama 3 tahun menjadi tempat menempa diri.

“Berbagi tidak harus dengan harta tetapi bisa juga dengan ilmu dan pengalaman. Saya merasa sangat senang bisa berbagi sedikit ilmu dan pengalaman saya kepada adik angkatan agar mereka bisa lebih bersemangat dan menjadi orang yang sukses.”

  • Cindra Andini, Bojonegoro

“Bertemu dengan adik-adik SMA dan bisa berbagi pengalaman yang kita punya merupakan kesenangan tersendiri, karena dengan begitu kita dapat menjadi motivator tak langsung untuk mereka agar tetap berusaha mencapai apa yang mereka inginkan.”

  • Ristiana Wira Hariyanti, Kebumen

“Sosialisasi merupakan wadah untuk memberikan informasi kepada siswa/siswi SMA sederajat yang tidak tahu menahu tentang UNAIR atau Bidikmisi. Terutama sekolah-sekolah terpencil yang jauh akan informasi yang bisa didapat oleh siswa yang ingin melanjutkan pendidikannya dan tidak mampu secara ekonomi. Hal tersebut kita lakukan sebagai cara pengabdian kita kepada UNAIR dan Bidikmisi.”

  • Elma Yuliana, Tuban

“Menjadi bagian dari perantara harapan penerus bangsa adalah sebuah kehormatan. Dari sederet aktivitas dan tanggung jawab yang saya emban ini saat ini, rasanya tidak adil jika tidak meluangkan waktu untuk mereka. Seakan-akan kita hanya memikirkan diri sendiri dan acuh dengan orang lain. Jangan pernah lelah mengabdi untuk masa depan yang lebih baik. Salam meraih asa!”

  • Shamsul Arif, Jombang

“Berkunjung kembali ke almamater yang mendidikku selama 3 tahun membuatku mengerti apa arti berbagi ilmu dan bagaimana capeknya perjuangan ngomong dari pagi sampai sore. Tapi bagiku itu suatu hal yang indah dan menyenangkan karena aku bisa berbagi ilmu dan pengalamanku.”

  • Isna Sari, Jepara

 

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan