Kongres FPTVI di UNAIR, Pakde Karwo Dukung Penuh Kebijakan Pendidikan Vokasi

UNAIR NEWS – Guna menanggapi perubahan global, Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) kembali menyelenggarakan kongres tahunan. Kali ini Universitas Airlangga menjadi tuan rumah Kongres Ke-V yang mengusung tema “Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Dalam forum tersebut menghadirkan tiga pembicara utama. Ialah Dr. H. Soekarwo, S.H., M.H., selaku Gubernur Jawa Timur, Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, MEM., selaku Deputi IV Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, dan Denni Puspa Purbasari, S.E., M.Sc., Ph.D., selaku Deputi III Staf Kepresidenan Republik Indonesia.

Sebagai pembicara utama Gubernur Jawa Timur yang akrab disapa Pakde Karwo itu menyampaikan berbagai hal mengenai dinamika pendidikan vokasional di Jawa Timur. Menurutnya, laju pertumbuhan penduduk yang rendah di Jawa Timur mengindikasikan nilai produksi kerja yang lebih tinggi. Soekarwo juga mengatakan pentingnya memetakan jumlah tenaga kerja dari pendidikan vokasional di Jawa Timur guna menentukan strategi terhadap pendidikan vokasi. Menyinggu tentang bonus demografi, Pakde Karwo mengatakan bahwa pemanfaatan penduduk di usia produktif harus digerakkan lebih cepat.

“Untuk berbagai kebijakan yang tepat telah mengubah kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur dengan jumlah tenaga kerja yang berasal dari pendidikan vokasi mengalami kenaikan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, kebijakan untuk pembangunan SDM berdaya saing dan mengoptimalkan pendidikan vokasi di tingkat SMK sudah dimulai sejak tahun 2015. Hal itu diwujudkan dalam kebijakan Dual Track Strategy dengan pendidikan non formal melalui SKM Mini, Balai Latihan Kerja, dan Madrasah Diniah.

Namun, imbuh Soekarwo, hal itu tidak cukup jika masalah kesehatan tidak terselesaikan. Untuk itu, penanganan kesehatan dan gizi terus diupayakan agar segera teratasi. Karena kualitas kesehatan juga menentukan kualitas pendidikan kita. Mengenai kebijakan Dual Track Strategy Pengembangan Pendidikan. Dicontohkan Pendidikan Non Formal SMK MINI yang dikerjasamakan dengan Jerman dan pengembangan BLK yang berstandar internasional.

“Dalam Pendidikan Formal, Dual Track Strategy berjalan antara SMK dengan Industri, SMK dengan PTN, SMK dengan mitra di luar negeri, 1 SMK Rujukan dengan 5 SMK Swasta,  dan Ekstra Kurikuler di MA,” ungkapnya.

Sementara kebijakan Double Track di Kurikuler SMA dan MA, siswa dibekali ketrampilan seperti Multimedia, Teknik Elektro, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Listrik, Tata Boga, Tata Busana, dan Kecantikan.

Dari kebijakan yang telah dipaparkan oleh Pakde Karwo, Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Universitas Airlangga dan Ketua Komisi Program Studi Sejenis FPTVI Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si (UNAIR), mengatakan bahwa dalam forum itu merupakan perjuangan FPTVI untuk berjuang bersama agar pendidikan vokasi di Universitas, sekolah tinggi dan akademik (UNISTA) mampu mencetak lulusan terampil di industri dan masyarakat.

“Menurut UU 12 tahun 2012 pasal 16, Pendidikan  vokasi  merupakan  Pendidikan  Tinggi program diploma (Diploma 3 maupun Diploma 4/ Sarjana Terapan) yang menyiapkan mahasiswa  untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan,” jelasnya.

Usai paparan, agenda dilanjutkan dengan peluncuran serta sosialisasi “Asosiasi Ahli dan Dosen Ilmu Terapan Indonesia (A2DITI)”, sebuah wadah kegiatan bagi dosen Vokasi anggota FPTVI dan pelaku Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kemudian juga dilanjutkan dengan agenda sidang perbidang dan diteruskan dengan Sidang Pleno.

Penulis: Nuri Hermawan




BEM FKM Latih Warga Asem Jajar Membuat Ecobrick

UNAIR NEWS – Peningkatan keterampilan ibu-ibu dan mengubah mindset masyarakat bahwa sampah plastik tidak selalu menjadi sumber masalah sangat diperlukan. Khususnya menekankan bahwa sampah plastik  bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu barang yang berguna.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga melalui Departemen Pengabdian Masyarakat mengadakan pelatihan pembuatan Ecobrick di Asem Jajar, Kelurahan Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya. Tepatnya di RT 9 dan RT 10 pada Minggu (14/10).

Ketua Pelaksana kegiatan tersebut Eka Fitria Sari menjelaskan, ecobrick merupakan salah satu teknik mengolah sampah plastik yang baru. Istilah harfiahnya adalah bata ramah lingkungan. Cara pembuatannya yaitu dengan memenuhi volume sebuah botol plastik 150 ml dengan sampah plastik hingga botol plastik tersebut mengeras menyerupai bata.

”Alasan kami memilih ecobrick awalnya karena ada salah seorang panitia kami yang memperkenalkan. Lalu, kami mencoba melakukan survey dengan kuisioner dan ternyata 100 persen warga di sana belum ada yang tau apa itu ecobrick,” jelas perempuan yang akrab disapa Eka itu.

Eka menambahkan, dirinya melihat ecobrick tersebut akan berpotensi baik di sana. Sebab, warga sudah menjalankan bank sampah.

SATU kelompok warga berfoto bersam seusai berhasil menyelesaikan pelatihan. (Foto: Istimewa)
SATU kelompok warga berfoto bersam seusai berhasil menyelesaikan pelatihan. (Foto: Istimewa)

Menurut Eka, di setiap akhir penimbangan bank sampah, terdapat sampah plastik yang tidak laku di jual. Misalnya, kresek, bungkus mie, snack,  dan sabun cuci, serta sampah plastik sejenis. Dari pengamatan tersebut, dia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan ide ecobrick menjadi sebuah acara.

”Jumlah ecobrick yang berhasil terkumpulkan hari ini dari ibu-ibu RT 9 dan RT 10. Ada 59 botol ecobrick yang beratnya bervariasi, berkisar antara 300 sampai 800 gram,” ujar mahasiswi FKM angkatan 2016 tersebut.

Setelah melakukan sosialisasi terkait ecobrick, sesuai dengan kesepakatan bersama, hasil dari ecobrick buatan ibu-ibu tersebut kemudian dibuat menjadi meja. Kegiatan pembuatan meja itu dilakukan di puskesmas pembantu di RT 10.

”Setelah sambutan dan sebelum praktik pembuatan meja, kita menayangkan video tentang cara membuatnya. Ada sedikit penjelasan, lalu dilanjutkan dengan praktik yang kurang lebih satu jam waktunya,” ungkap Eka.

Menurut Eka, panitia tidak menyangka bahwa ternyata antusiasme masyarakat (ibu-ibu peserta kegiatan) lebih tinggi jika dibandingkan dengan ekspektasi. Sebab, sebelumnya panitia menyediakan ecobrick yang dibuat panitia sendiri sebagaia antisipasi bila jumlah yang terkumpul dari warga tidak sampai 16 (syarat untuk bisa membuat meja). Ternyata malah lebih. Bahkan, berat setiap ecobricknya hingga mencapai 700 sampai 800 gram.

”Padahal awalnya kami kira cuma 500an gram maksimal. Selain itu, waktu praktiknya tadi ibunya semangat banget. Sudah langsung dilakukan dan hasilnya rapi, sesuai dengan harapan kami. Bahkan salah seorang warga ada yang ikutan joget-joget ngikuti lagu yang diputar, saking senangnya sudah selesai duluan mejanya,” jelas Eka.

Eka berharap, setelah acara tersebut dilangsungkan, masyarakat dapat mengambil ilmu dan mempraktikkan keterampilan yang diberikan. Terutama mereka mampu melakukanya secara mandiri dan berkelanjutan meski tanpa campur tangan dari panitia. (*)

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Feri Fenoria




Kemloko Jadi Desa Binaan Sastra Indonesia UNAIR

UNAIR NEWS – Praktik Kuliah Lapangan atau PKL diikuti sebanyak 30 mahasiswa dari program studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Tahun 2018 ini memasuki tahun kelima dilaksanakannya PLK dan pengmas di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia menjadi perintis desa binaan sejak tahun 2013, program studi pertama di FIB yg memiliki desa binaan. Setiap tahunnya, dilakukan PKL oleh mahasiswa di Desa Kemloko melalui mata kuliah folklore. Di sela-sela PKL diadakan pengabdian masyarakat oleh dosen.

Kali ini, pengabdian masyarakat dilakukan dalam bentuk pelatihan macapat Serat Ambiya yang ditujukan kepada anak-anak SD desa setempat. Dan juga sosialisasi teater candi Penataran. Pada pengmas tahun sebelumnya, terdapat pertunjukan sekaligus sosialisasi macapat dan Reog Bulkio sebagai warisan budaya asli Desa Kemloko.

Berbeda dari sebelumnya, pada PKL kali ini terdapat pengenalan ‘teater Penataran’. Pada Jumat (12/10) mahasiswa berkunjung ke kompleks candi Penataran dan melihat relief yang terdapat di dinding candi.

Melalui guide yang menjelaskan tentang relief candi, diharapkan mahasiswa dapat memiliki gambaran tentang isi cerita yang terdapat di dalamnya. Bukan hanya memahami isi cerita, namun dapat menarasikannya ke dalam naskah drama yang dapat dipentaskan menjadi sebuah pertunjukan teater.

Hingga PKL ini dilaksanakan, sudah dibuat naskah drama oleh Yus Winarko, seorang dalang asal desa setempat, sekaligus seorang guru SD dan pelaku seni. Naskah drama tersebut bercerita tentang Sri Tanjung, salah satu dari tujuh cerita yang diukir sebagai relief di dinding candi.

Ke depan, jika naskah drama ini sudah jadi, bisa dimainkan oleh anak-anak di Desa Kemloko sebagai pertunjukan dalam beberapa event desa yang digelar. Sehingga, cerita dari relief candi di Penataran dapat dengan mudah dipahami masyarakat karena divisualisasikan dalam bentuk pertunjukan.

Pada PKL hari kedua, Sabtu (13/10), mahasiswa diajari untuk menjadi local guide. Fungsinya, membantu para wisatawan untuk mencari tahu tempat dan fasilitas yang ada di Kemloko. Sehingga, mahasiswa dapat sekaligus mempromosikan Desa Kemloko melalui aplikasi Google Map.

Selain itu, sebagai desa binaan, Desa Kemloko juga dimanfaatkan oleh FIB menjadi tempat KKN mahasiswa asing. Seperti yang sudah memasuki batch ketiga yaitu KKN mahasiswa dari Brunei Darussalam.

“Sebagai mata kuliah, folklore bisa dipakai generasi sekarang agar lebih tahu tradisi yang kita (masyarakat, Red) miliki. Sementara orang asing sangat antusias dengan tradisi kita,” ujar pengampu mata kuliah folklor Dr. Trisna Kumalah Satya Dewi.

Sementara itu, Drs. Tubiyono, M.Si yang juga pengampu mata kuliah folklore berharap, ke depan Desa Kemloko menjadi desa wisata yang terintegrasi.

“Melalui PKL ini mudah-mudahan perguruan tinggi bisa menginspirasi. Ke depan harapannya Kemloko menjadi salah satu komunitas wisata yang terintegrasi, antara makam Bung Karno, candi Penataran, serta Kemloko sebagai desa binaan FIB. Sehingga PKL dan pengmas ini menjadi kontribusi positif untuk pemberdayaan masyarakat melalui wisata budaya,” terang Tubiyono.

Salah seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Leonardo Hartono mengapresiasi PKL kali ini.

“Ada banyak hal baru yang saya temukan dalam PKL ini, salah satunya adalah tentang Reog Bulkiyo dan cerita yang melatar belakangi munculnya Reog Bulkiyo. Harapanya, akan lebih banyak daerah lain yang meniru Desa Kemloko dan melestarikan budaya setempat dengan mengembangkan desa-desa wisata budaya. Agar masyarakat tidak hanya mengenal wisata yang terlihat secara fisik namun juga warisan budayanya,” terang Leo, sapaan karibnya. (*)

Penulis: Binti. Q. Masruroh




Sinau Aksara Jawa Kuna di Rumah Kebudayaan UNAIR

UNAIR NEWS – Aksara Jawa merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia yang patut dilestarikan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, aksara Jawa semakin ditinggalkan. Bahkan tidak sedikit kawula muda yang lebih tertarik mempelajari aksara asing seperti Korea dan Jepang daripada Aksara Jawa yang merupakan produk budaya lokal sendiri.

Melihat keresahan itu, mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerjasama dengan Komunitas Tapak Jejak Kerajaan menyelenggarakan acara bertajuk Sinau Aksara Jawa Kuno (Sinjakun) di Rumah Kebudayaan UNAIR, Minggu (7/10).

Dalam acara tersebut, turut diundang narasumber Gunawan A. Sambodo lulusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai pembicara. Dia menjelaskan bahwa selain aksara Pallawa, di Nusantara juga terdapat Aksara Kawi atau Jawa Kuno yang sebagian besar digunakan dalam prasasti masa kerajaan Hindu-Buddha.

“Namun sayangnya, aksara Jawa Kuna sekarang dapat dikatakan sebagai aksara mati karena sudah tidak digunakan lagi,” terangnya dalam pemaparan.

Dalam forum itu juga, Gunawan yang akrab disapa Mbah Gun, menjelaskan mengenai aksara Jawa Kuno seperti bentuk-bentuk aksara Jawa Kuna, cara membacanya, prasasti-prasasti yang ditemukan di masa Mataram Kuna, sampai diskusi-diskusi tentang masyarakat Jawa Kuna.

Andri Setyo Nugroho selaku panitia pelaksana mengatakan, dengan diadakannya kegiatan ini, masyarakat, khususnya generasi muda, bersedia kembali untuk meng-uri-uri (menggali, red) budaya Jawa.

“Dengan adanya acara ini, tentunya dapat menambah minat para remaja terhadap aksara Jawa Kuna. Selain itu, adanya acara ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan kepada mereka tentang sejarah masyarakat Jawa, yang justru jarang diajarkan di bangku sekolah,” terang mahasiswa ilmu sejarah itu.

“Setelah itu, kami berharap para remaja akan melakukan kegiatan-kegiatan positif yang bertujuan untuk melestarian kebudayaan dan benda-benda hasil kebudayaan masa lampau, khususnya di era Hindu-Buddha,” tambahnya.

Setelah di UNAIR, acara Sinjakun akan diselenggarakan secara rutin di beberapa wilayah di Jawa Timur, salah satunya di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, setiap satu kali dalam sebulan. Biasanya dalam pertemuan itu, peserta bisa diajak untuk praktik langsung membaca inskripsi atau prasasti dalam sebuah situs kuno. (*)

Penulis                 : Fariz Ilham Rosyidi

Editor                    : Binti Q. Masruroh




Dengan Puskesmas Pacarkeling, Mahasiswa Psikologi Berikan Ilmu Sehat Jiwa ke Remaja

UNAIR NEWS – Masih memperingati Hari Kesehatan Jiwa, Mahasiswa Magister Psikologi kelompok peminatan jiwa melakukan pengabdian masyarakat pada Minggu (13/10). Bertajuk ABG Jaman Now Anti Galau, Achmad Syamsyudin selaku ketua kegiatan, bersama teman-temannya, kelompok M11, mempunyai misi membangun remaja yang sehat jiwa dan raga.

Acara di Taman Mundu itu bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Pacar Keling, Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Dr Hanik Endang Nihayati, S. Kep., Ns., M. Kes., pemerhati remaja Pacar Keling sekaligus Dosen FKP UNAIR.

”Hari ini sangat spesial, adik-adik akan dikasih motivasi oleh kakak-kakak magister serta bisa bertanya tentang masalah-masalah yang dialami,” tutur Hanik.

Sementara itu, Moh Jufriyanto, pemateri utama, membandingkan dua gambar. Yakni, antara gambar orang menangis dan orang yang tampak bahagia. Jufri kemudian bertanya kepada remaja di sana. Apa yang terjadi pada dua gambar itu.

Pertanyaan tersebut ditanggapi antusias oleh remaja dari berbagai sekolah itu. Tanggapan yang muncul pada orang menangis beragam. Ada yang menganggapnya ungkapan sedih, ada masalah, stres, depresi, sampai sebagai pelampiasan kesalahan yang dilakukan.

”Sebenarnya kesedihan yang berlarut-larutlah yang menjadi problem. Kalau ada masalah, kita harus mencari solusinya dan mengekspresikan dengan cara positif dan kreatif,” ucap Jufriyanto.

Respons orang terhadap hal tersebutlah yang menentukan orang itu sehat jiwa atau tidak. Jufriyanto menambahkan, orang yang sehat jiwa itu punya perasaan yang sehat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan atau masalah hidup. Bukan menghindari atau lari, tapi dihadapi dan diselesaikan.

Bukan hanya itu, sepanjang materi para remaja tersebut diterangkan kriteria orang sehat jiwa. Apa itu gangguan mental, gejala dan faktor yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan mental. Termasuk tips-tips bagaimana menjadi remaja anti galau.

Setelah materi tersampaikan, ada hal menarik yang telah dilakukan remaja dari hasil program di Puskesmas Pacarkeling itu. Para remaja tersebut telah menerbitkan buku bersama, berisi kumpulan karya yang mereka buat. Buku tersebut di-launching pada kegiatan hari itu.

Pada akhir, Hanik berharap, setelah materi disampaikan, para remaja harus menyebarkan apa yang mereka dapat. ”Adik-adik di sini harus semangat. Tidak boleh bermalas-malasan pada acara ini. Sebab, setelah di sekolah, ilmu ini harus disebarkan dan juga mengajak Lagi teman-teman untuk ikut kegiatan Posyandu Remaja,” tutur Hanik. (*)

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria




Museum Etnografi FISIP UNAIR Raih Penghargaan Museum Terunik

UNAIR NEWS – Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP Universitas Airlangga mendapat penghargaan bergengsi tingkat nasional. Penghargaan itu berupa Anugerah Purwakalagrha Indonesia Museum Awards  2018. Bersama 435 museum yang lain, Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian UNAIR menjadi satu-satunya museum terunik di Indonesia.

Mengenai hal itu, Kepala Museum Etonografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR, Toetik Koesbardiati, Ph.D, mengatakan penghargaan itu merupakan sebuah prestasi yang tidak ia duga. Hanya saja, selama tiga tahun terkahir, Komunitas Jelajah sebagai penyelenggara mengamati proses perkembangan dan berbagai inovasi  yang dilakukan oleh Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR.

Pemberian pengahargaan itu, menurutnya, tidak lain merupakan bagian dari berbagai upaya dan inovasi yang dilakukan oleh seluruh pihak Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR. Baginya, museum tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi dan rekreasi.

“Lebih dari itu, satu hal terpenting yang menjadi unggulan dari Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR adalah menghidupkan fungsi museum sebagai wahana untuk riset atau penelitian,” jelasnya.

Ditanya mengenai alasan memilih objek kematian sebagai salah satu hal yang diunggulkan dari Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR, Toetik mengtakan bahwa kematian merupakan siklus hidup yang dekat dengan manusia. Walaupun di masyarakat kematian cukup ditakuti dan jarang dibicarakan, kematian merupakan hal yang paling penting dipikirkan oleh manusia.

Tidak hanya itu, baginya kematian juga memiliki keterkaitan yang erat dengan beragam budaya yang dalam hal itu juga menyangkut banyak aspek. Hal itulah yang menjadikan kematian merupakan sebuah objek yang sangat layak untuk diteliti guna memberikan edukasi kepada publik.

“Dalam kematian, akan banyak hal yang berpengaruh. Baik sektor ekonomi, sosial, dan budaya itu sendiri. Di Indonesia, budaya dalam proses kematian memiliki keunikan dan keberagaman yang luar biasa. Dan hal itu, masih belum banyak dikaji dan didalami,” ungkapnya.

Toetik mencontohkan, upacara kematian di Toraja misalnya, kematian bisa menjadi suatu hal untuk mengukur tinggi rendahnya strata sosial seseorang di masyarakat. Hal serupa juga terjadi di upacara Ngaben yang dilakukan masyarakat Bali.

Mengenai langkah selanjutnya, Toetik mengatakan bahwa ke depan Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR akan terus melakukan berbagai inovasi dan gebrakkan untuk terus mendalami beragam proses budaya kematian yang ada di Indonesia.

Apresiasi dari Rektor

Mengenai prestasi yang membanggakan itu, Rektor UNAIR Prof. Nasih mengatakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi prestasi yang telah dicapai oleh Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR. Mengenai capaian itu, Prof. Nasih berharap agar semua program studi yang ada di lingkungan UNAIR memiliki berbagai keunikan dan program yang khas seperti yang dimiliki oleh Program Studi Antropologi dengan mengelola Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR.

“Hal dan prestasi yang telah dicapai FISIP itu hendaknya menjadi inspirasi bagi fakultas dan prodi yang lainnya,” tandasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




BEM Psi Peringati Hari Kesehatan Mental Dunia dengan Talkshow

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari rangkaian acara Pekan Kesehatan Mental bertajuk Atmalexia (Atma: Jiwa, Lexi: sehat) untuk memperingati World Mental Health Day pada Rabu (10/10), BEM Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Ibunda.id dan Menjadi Manusia mengadakan talkshow pada Sabtu (13/10). Selain talkshow, dilaksanakan pelatihan Psycological First Aid oleh Lisyo Yuwanto, psikolog klinis sekaligus praktisi psychological first aid. Art Exhibition terdiri atas dark room, screen room, wall of thoughts, visual room, dan music theraphy.

Talkshow seputar kesehatan mental tersebut dibagi menjadi empat sesi dengan topik yang berbeda. Sesi pertama dibuka Andrea Gunawan (Independent Image Consultant and Date Coach) dan Linda Setiawati, M.Psi., Psikolog (psikolog klinis personal growth) yang membahas mengenai toxic relationship. Selanjutnya, sesi kedua oleh Adjie Santosoputro (praktisi emotional healing) dan Atika Dian Ariana, S.Psi., M.Sc (psikolog klinis dan kesehatan mental) membahas How to Respect Others in Social Media.

Sesi berikutnya diisi Alvi Syahrin (penulis) dan Linda Setiawati, M.Psi., psikolog (psikolog klinis personal growth) membahas mengenai learn to rest not to quit. Serta, ulasan ditutup dr. Jiemi Ardian (mental health professionals) dan Octian Anugeraha (founder of SINGYOURMIND.com) membahas How Can We Find the One.

Desi Putri Pertiwi atau akrab dipanggil Tiwi, penanggung jawab pelaksana kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa kali ini BEM FPsi UNAIR menggandeng Ibunda.id serta Menjadi Manusia. Menjadi manusia merupakan platform yang concern dengan kesehatan mental.

Atas kolaborasi tersebut, Tiwi percaya apapun yang baik melalui sosial media dan salah satunya adalah perayaan hari kesehatan mental dunia dapat menarik teman-teman semua. Khususnya kaum milenials untuk sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental setiap individu.

”Dalam kegiatan talkshow ini, kami mengajak dan mengedukasi masyarakat untuk menjadi individu yang sadar akan pentingnya kesehatan mental dengan gaya yang lebih kasual dan lebih disukai millenials,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Tiwi, art exhibition merupakan pameran yang menggabungkan unsur seni dan ilmu psikologi. Terdapat beberapa metode psikologi melalui sarana refleksi diri. Misalnya, melalui dark room. Pengunjung dapat mengekspresikan perasaan mereka dengan cara berteriak atau melemparkan cat.

Lalu, Visual room yang dikelilingi kutipan tentang kesehatan mental serta beberapa karya seni visual lainnya. Ada screen room. Ruang dilakukannya pemutaran film pendek tentang kesehatan mental.

Music Theraphy, yaitu ruangan yang memiliki lima kategori suara yang berbeda seperti musik instrumen terapi untuk pengidap schizophrenia. Dan terakhir adalah release room untuk terapi melepas energi negatif dalam diri individu.

Art exhibition dan curhat corner menjadi tempat mengurangi dan melepas masalah yang ada dengan berani bercerita. Lebih kepada, untuk berani bercerita. Sebab, ketika sudah sadar, individu akan lebih bisa menyadari ketika dirinya merasa berbeda atau sedang tidak baik-baik saja sehingga bisa menjaga kesehatan mental sendiri,” katanya.

”Selain itu, wall of thoughts, pengunjung dapat berbagi cerita dengan menuliskannya di dinding tersebut,” imbuhnya.

Tiwi berharap acara tersebut dapat memberikan edukasi kepada teman-teman di luar. Membantu mereka menjaga kesehatan mental diri. Dan, ketika sudah bisa menjaga kesehatan mental diri, mereka bisa menjadi agen untuk mengingatkan atau mengedukasi pentingnya kesehatan mental kepada masyarakat sekitar dengan tidak mengenyampingkan kesehatan diri sendiri. (*)

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Feri Fenoria




Dua Mahasiswa FIB Ikuti Riset Kuliner LIPI di Wonogiri

UNAIR NEWS – Fajri Kurnia Larasanty dan Isnaini Nur Amalina, Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) berkesempatan mengikuti riset kuliner yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Direktorat Riset dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Acara riset kuliner itu berlangsung di Dusun Songputri Desa Sindukarto Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri pada Jum’at-Minggu (5-7/10).

Acara itu berajuk “Bimbingan Teknis Pendataan Kekayaan Kuliner Tradisional secara Partisipatif untuk Pengembangan Riset Industri Kreatif bidang Kuliner Pada Enam Wilayah Bandung, Wonogiri, Pontianak, Makassar, Palembang, dan Ternate”. Acara ini diadakan dengan tujuan menggali kekayaan kuliner Indonesia dengan cara memantik industri kreatif kuliner agar dapat menggerakkan ekonomi secara produktif dan massal.

Kegiatan penelitian itu berisi tentang serangkaian acara seperti makan bersama rakyat, pemetaan kekayaan kodefikasi data kuliner, sistem mimetik data kuliner, pencatatan kuliner tradisional, serta kunjungan ke pasar tradisional.

Fajri Kurnia Larasanty (kiri) dan Isnaini Nur Amalina (kanan) mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Universitas Airlangga yang mengikuti penelitian kuliner LIPI dan BEKRAF di Kabupaten Wonogiri (Dok. Pribadi)

Fajri Menuturkan, selama kegiatan di Wonogiri dirinya harus tinggal di rumah penduduk (live in). Dia melakukan wawancara setiap proses pengolahan dan penyajian makanan dan mencatat setiap jenis makanan yang ada.

“Dari (kegiatan, Red) itu, saya mengetahui makanan-makanan tradisional seperti Cabuk (makanan yang terbuat dari biji Wijen, Red), Sambel Walang Sangit (sambal belalang, Red), dan Gablok (sejenis lontong santan, Red),” terangnya.

Selepas penelitian, data kuliner sebanyak minimal 3.000 item yang mencakup makanan pokok, lauk-pauk, kue atau jajanan, minuman, dan sambal-sambalan dapat terinput dan menjadi buku eksiklopedia kuliner Indonesia.

“Harapan saya setelah diselenggarakannya acara ini adalah berkembangnya industri kreatif yang mengangkat kuliner tradisional Indonesia dan tidak ada lagi anggapan bahwa kuliner tradisional itu adalah jajanan ndeso. Sehingga, orang tidak malu untuk menyantap atau membelinya,” tutup mahasiswa asal Mojokerto itu. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Binti Q. Masruroh




Menyoal Keuntungan dan Risiko Anak Sekolah Terlalu Dini

UNAIR NEWS – Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi si buah hati. Salah satunya adalah dengan menanamkan pendidikan bagi anak sejak usia dini. Pada usia 0-6 tahun, otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Fase ini merupakan masa keemasan bagi tumbuh kembang anak, atau sering disebut sebagai golden age. Pada rentang usia tersebut, kemampuan anak dalam menyerap informasi dan mempelajari hal baru berlangsung cepat.

Maka tak heran, jika saat ini banyak orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak pada usia sedini mungkin. Dengan anggapan, pendidikan formal sejak dini akan membuat anak lebih cerdas dan mampu menyerap ilmu pengetahuan lebih baik dibanding anak-anak lainnya. Terlebih, menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua ketika kelak anak-anaknya mampu menyelesaikan studi dalam usia muda.

Namun, benarkah anggapan tersebut?

Ahli tumbuh kembang anak dari Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dr. Irwanto, dr., Sp.A(K) memberikan jawabannya dalam talkshow Jatim Fair 2018. Talkshow yang berlangsung Rabu (10/10) itu mengupas permasalahan terkait Resiko dan Keuntungan Anak Sekolah Terlalu Dini. Pameran terbesar di Indonesia bagian Timur tersebut menggandeng para praktisi Rumah Sakit Universitas Airlangga untuk membantu memberikan sosialisasi dan edukasi seputar dunia kesehatan kepada masyarakat.

Menyoal problem yang kerap dialami orang tua tentang pendidikan anak, Dr. Irwanto mengatakan bahwa selama ini banyak orang tua yang salah kaprah dalam mendefinisikan pendidikan dini bagi anak. Saat ini, anak-anak usia pra sekolah cenderung mendapat tekanan untuk menelan materi pendidikan formal secara mentah-mentah.

“Yang keliru saat ini adalah banyak anak-anak PAUD, TK justru sudah diberi PR oleh guru. Padahal anak-anak seusia mereka belum layak mendapat tugas rumah. Mereka masih dalam tahap untuk mengenal lingkungannya. Jadi, biarkan mereka bermain menikmati dunianya,” jelasnya.

Dr. Irwanto memaparkan, pada usia 2-3 tahun, kemampuan bicara anak masih belum berkembang secara sempurna, yakni sekitar 50-75 persen. Kemampuan bicara pada anak, rata-rata mencapai tahap sempurna saat mereka menginjak usia empat tahun. Menurutnya, merupakan suatu hal yang wajar jika kemudian anak-anak di usia tersebut belum mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sekolah. Sebab, pada rentang usia tersebut, anak masih dalam tahap pematangan kemampuan bicara.

“Lingkungan pendidikan semacam PAUD dan taman kanak-kanak merupakan media bagi anak untuk belajar bersosialisasi, biarkan mereka menikmati usia bermain sebagaimana mestinya. Jangan dibebani dengan tugas-tugas dan pelajaran berat,” paparnya.

Lebih lanjut, Dr. Irwanto mengatakan, usia ideal anak untuk masuk sekolah dasar adalah usia 6-7 tahun. Namun bukan berarti, di bawah usia tersebut anak dilarang untuk bersekolah.

“Jika memang anak tersebut mampu, silakan saja menyekolahkan anak lebih muda. Asal bukan karena paksaan orang tua, melainkan karena pilihan anak itu sendiri,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Penelitian membuktikan, anak-anak yang bersekolah dengan usia matang cenderung lebih dapat mengelola emosi dan menangkap pelajaran lebih baik dibandingkan anak-anak yang bersekolah di usia terlalu muda.

Meski tak dapat dipungkiri jika terdapat beberapa anak yang terbukti lebih cepat menerima pelajaran di usia lebih muda. Anak-anak semacam ini biasanya memiliki kemampuan atau kecerdasan yang mumpuni di bidang akademik.

Namun, bagi anak-anak yang belum siap secara mental, risiko yang ditimbulkan ketika memaksakan sekolah terlalu dini dapat mengakibatkan kemampuan komunikasi anak menjadi terbatas, anak mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah.

Perkembangan mental yang belum sempurna akan berpotensi terhadap semangat belajar anak. Sehingga, anak akan merasa cepat jenuh dan bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Orang tua yang tidak peka akan hal tersebut, rentan membuat anak mengalami kondisi tertekan.  Sebab, mereka harus menjalani proses belajar mengajar berbasis pendidikan formal yang cenderung menjemukan. Anak yang seharusnya bahagia dan menikmati dunia bermainnya, justru harus dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran yang tak semuanya sesuai dengan usia perkembangannya.

Dr. Irwanto mengimbau kepada orang tua untuk tidak pernah menyamakan atau membandingkan anak satu dengan yang lain. Setiap anak memiliki proses perkembangan dari sisi berpikir, emosi, dan kecerdasan serta sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus bisa memahami karakter serta potensi masing-masing anak, supaya dapat diketahui cara yang tepat untuk menstimulus proses belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




Kembangkan Kurikulum Pendidikan Anak Tunagrahita, Tiga Mahasiswa Psikologi Raih Juara II LKTI

UNAIR NEWS –  Tiga mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil raih juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional bertajuk Social Article Competition (SCARCE) yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang pada Kamis (11/10).  Usai dinyatakan lolos seleksi paper pada Sabtu (6/10), tim yang beranggotakan Krisna Mukti Prabowo, Candra Kusumawati, dan Rosyta Nur Azizah tersebut, berhasil melaju ke tahap presentasi.

Mereka menyusun karya tulis ilmiah yang berjudul, SINTAC (Sensory Integration Activity) sebagai Media Peningkatan SWISS (Spelling and Writing Skills) bagi Murid Tunagrahita.

Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri  4 Krebet, sebuah institusi pendidikan inklusi yang berada di Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo.

Krisna, selaku ketua tim menerangkan, latar belakang masalah dari penelitian yang mereka angkat  adalah belum adanya tenaga pengajar yang memiliki kompetensi khusus untuk mendampingi proses pembelajaran siswa tunagrahita di sekolah tersebut. Bahkan, terdapat beberapa siswa yang belum  mengenal huruf dengan baik, meski telah menginjak kelas 4-5 SD.

“Guru di sana belum ada yang memiliki latar pendidikan luar biasa maupun psikologi, sehingga pengembangan media pembelajaran khusus bagi murid tunagrahita tidak ada. Hal ini, pastinya akan menghambat kegiatan akademik mereka di sekolah,” terangnya.

Ia mengatakan, penelitian tersebut bertujuan untuk menyusun modul pembelajaran yang dapat digunakan bagi guru-guru di sana secara mandiri, tanpa harus dilakukan pendampingan terus menerus ke depannya.

“Kami ingin penelitian ini bermanfaat bagi pendidikan inklusi. Hitung-hitung, selain penelitian, juga ada unsur pengabdian,” imbuhnya.

Gayung bersambut, modul yang mereka usulkan mendapat apresiasi dan respon positif dari pihak sekolah. Dalam implementasinya, terdapat tujuh aktivitas yang dirancang untuk membantu siswa tunagrahita mengenal huruf abjad dan angka. Diantaranya, temukan harta karun, fragmen, kartu cerdas, jembatan pesan, warna, mikro lego, dan finger painting.

Adanya modul tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sensor integrasi pada anak tunagrahita, yang diperlukan dalam proses membaca dan menulis. Selain itu, modul juga dapat membantu guru untuk memberikan cara pengajaran yang sesuai dengan daya tangkap murid tunagrahita.

“Kami memberikan pendampingan terlebih dahulu untuk edukasi dan praktik modul. Setelah guru-guru di sana sudah menguasai peta konsep dan praktik, kami melakukan hibah modul,” lanjut Krisna.

Krisna mengungkapkan, saat ini, modul yang dicanangkan timnya telah diaplikasikan secara mandiri oleh pihak sekolah SDN 4 Krebet. Terlebih, modul tersebut juga dipublikasikan melalui forum-forum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di wilayah setempat.

Sementara itu, Rosyta Nur Azizah menambahkan, karya tulis tersebut merupakan kelanjutan dari karya PKM yang mereka susun beberapa waktu lalu. Meski belum lolos untuk didanai Kemenristekdikti, mereka mengambil insiatif untuk mengembangkan dan memperbaiki gagasan program untuk diajukan pada ajang karya tulis ilmiah lainnya.

Ikhtiar Krisna dan kawan-kawan membuahkan hasil. Inovasi yang mereka suguhkan tak hanya berhasil mengantar tim membawa pulang piala kejuaraan, namun juga sukses memberi kontribusi nyata bagi kurikulum pendidikan anak berkebutuhan khusus di Indonesia. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh