Kemenristekdikti Tutup Resmi POMNAS XV, Sampai Jumpa di Jakarta 2019

UNAIR NEWS Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti)  Prof. Dr. Mohammad Nasir secara resmi menutup Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XV 2017, di GOR Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km 5, Tamalanrea, Kota Makassar, Sabtu (21/10).

Pesta olahraga antar-mahasiswa Indonesia durasi dua tahunan ini dilaksanakan Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI). Tahun ini, POMNAS yang mengusung tema ”Kebersamaan dan Keberagaman dalam Pembinaan Olahraga Mahasiswa untuk Meraih Prestasi” ini mempertandingkan 14 cabang olahraga (cabor). Diikuti 2.645 atlet dan 1.096 official dari 33 kontingen BAPOMI se-Indonesia.

”Dengan mengucap syukur alhamdulillah, Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XV dengan resmi berakhir dan saya tutup,” kata Kemenristekdikti Prof. M. Nasir, mengakhiri sambutannya dalam penutupan POMNAS di Kota ”Anging Mamiri” ini. Turut hadir bersama menteri kemarin antara lain Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Prof. Intan Ahmad, PhD dan Kordinator Kopertis Wilayah IX Sulsel Prof. Dr. Ir. Andi Niartiningsih, MP.

Dikatakan Prof. M. Nasir, keberhasilan POMNAS di Makassar ini merupakan kelanjutan keberhasilan serupa dari dua acara bertaraf nasional sebelumnya, yaitu peringatan Harteknas (Hari Teknologi Nasional) dan PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) September lalu.

Kemenristekdikti menyatakan bangga bahwa melalui kegiatan POMNAS ini berarti perguruan tinggi andil berkontribusi melahirkan atlet-atlet nasional. Selain juga menjadi ajang silaturahmi antar-insan olahraga dari kalangan perguruan tinggi, sehingga sebagai wahana untuk membangun soliditas dan kohesivitas anak bangsa dari seluruh tanah air.

”Kita berharap, dari kegiatan seperti ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi kehidupan sosial yang lebih harmonis,” kata Prof. Moh Nasir.

Mengutip keterangan pers Kemenristekdikti, diterangkan POMNAS merupakan bagian dari sistem kompetensi olahraga mahasiswa, selain juga sebagai ajang penyelenggaraan olahraga yang dilaksanakan secara multi-event tingkat nasional dua tahunan yang dilaksanakan oleh BAPOMI.

”Kita akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kami berharap ada diantara atlet-atlet POMNAS ini yang turut bertanding membela Indonesia,” kata Prof. M. Nasir.

Kemenristekditi dan juga Rektor Unhas Prof. Dwia Aris Tina Pulubuhu disela sambutannya mengucaokan selamat kepada BAPOMI DKI Jakarta yang berhasil mempertahankan gelar juara umum POMNAS XIV yang diraih di Aceh 2015. Tahun ini DKI mendulang 51 medali emas, 32 perak, dan 35 perunggu (51-32-35).

tutup pomnas
SEBAGIAN atlet BAPOMI Jatim menjelang defile penutupan POMNAS XV-2017, di GOR Unhas, Sabtu (21/10). (Foto: Bambang Bes)

Selain sebagai juara umum, BAPOMI DKI Jakarta juga memenangkan sebagai calon tuan rumah POMNAS XVI/2019. DKI mengalahkan BAPOMI Bangka Belitung, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah yang sama-sama berminat menjadi tuan rumah POMNAS tahun 2019.

Urutan hingga lima besar peraih medali dalam POMNAS XV ini adalah Jawa Barat (27 – 24 – 31), tuan rumah Sulawesi Selatan (26 – 16 – 22), Jawa Tengah (13 – 16 – 32), dan Jawa Timur meraih 12 medali emas, 26 perak dan 28 medali perunggu.

Khusus kontingen BAPOMI Jawa Timur dibawah kepemimpinan Ketua Umum Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH FINASIM (Wakil Rektor I UNAIR) menerjunkan sekitar 190 atlet. Tim Jatim dipimpin komandan kontingen Dr. Edy Mintarto, M.Kes.

Lima besar penyumbang atlet mahasiswa Jatim adalah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Airlangga. (*)

Penulis : Bambang Bes

 




Sering Dikunjungi, BEM FH Mendapat Banyak Pengalaman dan Informasi Baru

UNAIR NEWS – Setelah BEM Fakultas Hukum (FH) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Jatim; BEM Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITS; dan BEM FH, UB, kini giliran Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), mendatangi FH Universitas Airlangga, Selasa (17/10). Tidak berbeda jauh dengan kunjungan sebelumnya, Dema FSH UINSA datang dalam rangka diskusi mengenai organisasi.

Wakil Presiden BEM FH UNAIR M. Husen Azis menyatakan, pihaknya selalu menerima siapa pun dengan tangan terbuka bila ada kunjungan dari BEM universitas yang lain. Beberapa kali dikunjungi, mahasiswa semester akhir itu mengakui bahwa BEM FH mendapat banyak pengalaman dan informasi baru.

”Kami dari BEM FH UNAIR sangat senang dan bangga karena dikunjungi kawan-kawan BEM lain. Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih karena mendapat banyak kawan, pengalaman, dan informasi baru dari pertemuan ini. Selain itu, kami mempererat silaturahmi antarmahasiswa seperjuangan,” tuturnya.

Dalam kunjungan tersebut, agenda pertamanya adalah pemaparan struktur organisasi Kabinet Gotong Royong BEM FH UNAIR serta tupoksi setiap kementerian. BEM FH UNAIR memiliki lima badan pengurus harian yang terdiri atas presiden dan wakil presiden BEM, sekretaris 1 serta 2, dan bendahara. Selanjutnya, di dalamnya, terdapat delapan kementerian, antara lain, kajian strategi, pemuda dan olahraga, seni budaya, serta PSDM.

Agenda berikutnya, pemaparan dari Dema FSH UINSA mengenai struktur kepengurusan dan manajemen organisasi mereka. Terdapat beberapa hal yang membuat Dema FSH UINSA berbeda dibanding BEM lainnya. Yakni, adanya departemen pertahanan dan hukum.

“Struktur organisasinya kurang lebih sama. Namun, yang menarik dari mereka adalah adanya departemen pertahanan dan hukum yang bertugas mengawal serta menemani kemana pun presiden dema melaksanakan tugasnya. Selain itu, mereka memiliki intel yang ditugasi mencari informasi dan isu di kampus,” jelas Azis saat ditanyai soal perbedaan struktur. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria




63 Tahun UNAIR, Membaur Bareng Warga dari Bakar Ikan Hingga Balap Merpati

UNAIR NEWS – Indonesia Adil dan Beradab menjadi tema besar peringatan 63 Tahun Universitas Airlangga yang bakal jatun pada 10 November mendatang. Meski puncak Dies Natalis masih bulan depan, semarak kemeriahan sudah bisa dirasakan. Salah satunya dengan peringatan Minggu Sehat Ceria yang dilangsungkan pada hari Minggu (22/10).

Ditanya mengenai tema Dies Natalis yang sama dengan tahun sebelumnya, Prof. Moh. Nasih selaku Rektor UNAIR mengatakan bahwa hal ini menjadi salah satu bukti keberadaan UNAIR yang diharapkan bisa berkontribusi mewujudkan Indonesia yang berkeadilan dan beradab.

“Paling tidak untuk lima tahun ke depan tema kita akan berkutat pada hal yang sama. Ini memang menjadi bukti bahwa fungsi dari perguruan tinggi juga mengarah ke situ,” jelasnya.

Beragam Lomba

Mengenai berbagai lomba yang dihelat, utamanya lomba Merpati Balap, Nasih mengatakan bahwa hal ini adalah bentuk upaya melestarikan berbagai perlombaan tradisional. Selain agar tidak punah oleh kemajuan teknologi, bagi Nasih lomba ini bisa menjadi salah satu upaya untuk memelihara tradisi yang sudah ada.

“Terkait lomba memang kita mencoba banyak hal yang sifatnya tradisional dan kita harus rawat hal itu agar tidak punah,” tandas Nasih.

Senada dengan Nasih, Drs. Koko Srimulyo M.Si., selaku Sekretaris Universitas mengatakan bahwa berbagai kegiatan lomba dalam satu bingkai Minggu Sehat Ceria ini merupakan wahana untuk semakin menyatukan civitas akademika dengan warga masyarakat.

“Ini adalah sarana bagi UNAIR agar semakin dekat dengan masyarakat. Saya berharap semoga acara yang seperti ini bisa terus berlangsung,” terang Koko.

Ditemui disela kegiatan Minggu Sehat Ceria yang begitu meriah, Dr. Nurul Hartini selaku ketua panitia mengatakan, alasan memadukan beragam kegiatan lomba menjadi satu bingkai acara adalah untuk membumikan semarak Dies Natalis. Selain itu, bagi Nurul dengan kegiatan yang dibingkai dalam satu acara bisa menjadikan kerekatan antara civitas dan warga semakin terjalin.

“Kegiatan yang kami padukan ini semoga bisa menjadi ajang tali silaturahim dan merekatkan civitas dengan masyarakat. Harapannya agar mereka merasa memiliki UNAIR,” papar Nurul.

Nurul juga mengaku bahwa kesuksesan semarak lomba mulai senam, bakar ikan, balap merpati, serta berbagai rangkaian kegiatan lainnya merupakan hasil kerja bersama.

“Kunci untuk bekerja dengan acara yang beragam adalah di koordinasi. Jadi kalau ditanya hari ini keberhasilan siapa, ini keberhasilan bersama,” tandasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor   : Helmy Rafsanjani




Gagasan Rumah Pancasila oleh Tiga Mahasiswa UNAIR

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga mengembangkan gagasan ‘Rumah Pancasila’ dan mengikutsertakannya dalam lomba yang diadakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Gagasan itu muncul atas respon kepedulian mereka terhadap isu SARA yang banyak bergulir di masyarakat akhir-akhir ini.

Ketiga mahasiswa itu adalah Achmad Maralda Ainin Ghifari mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Niko Rokhman Syahputra mahasiswa Fakultas Vokasi, dan Gita Kurnia Widiastutik mahasiswa Fakultas Keperawatan. Mereka terpilih dalam 20 besar finalis yang mempresentasikan gagasan tersebut di Bekasi pada akhir September lalu.

Ketiganya ditunjuk untuk mempresentasikan gagasan ‘Rumah Pancasila’ dalam diskusi acara Study Excursie di Trawas, Mojokerto, Sabtu (21/10).

Dalam gagasan yang mereka buat, ‘Rumah Pancasila’ merupakan lembaga bagi masyarakat Indonesia untuk memahami kembali Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara. Sasaran kader ‘Rumah Pancasila’ adalah para karang taruna di desa-desa yang ada di setiap daerah di Indonesia.

Untuk menjalankan gagasan ini, mulanya para karang taruna dilatih oleh pihak tekait di pemerintahan yang mengemban amanah dalam bidang pengamalan Pancasila. Untuk menjamin bahwa kader telah memenuhi persyaratan, pelatihan tersebut menggunakan metode 4M, yakni menghafal, memahami, menerapkan, dan menyebarkan.

Indikator keberhasilan terletak pada 45 butir Pancasila yang tertuang dalam Tap MPR no. 1/MPR/2003. Kader inilah yang nantinya menyebarkan ilmu yang mereka kepada masyarakat.

“’Rumah Pancasila’ menjadi rumah bagi masyarakat Indonesia untuk kembali memahami dan menerapkan Pancasila sebagai sebuah ideologi,” ujar Aldo.

Mulanya, ketiga mahasiswa itu minder untuk mengikuti lomba dengan nama Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa. Terlebih, ketiganya adalah mahasiswa dengan jurusan kesehatan. Namun, dukungan muncul dari banyak pihak, salah satunya Dr. Listiyono Santoso, M.Hum yang berperan sebagai dosen pembimbing.

“Mulanya kami minder karena dari kesehatan. Namun Pak Lis bilang bahwa pancasila harusnya jadi bahasan semua mahasiswa, bukan hanya FISIP dan Hukum. Kalau hanya milik mereka, berarti Pancasila bukan menjadi dasar negara,” ujar Aldo.

Meskipun gagasan mereka berhenti menjadi 20 besar finalis, namun ketiganya memiliki harapan besar agar ‘Rumah Pancasila’ dapat diimplementasikan sebagai sebuah lembaga yang berperan di masyarakat. Ketiganya mengaku, gagasan ‘Rumah Pancasila’ masih jauh dari hitungan sempurna. Untuk itu, mereka terbuka terhadap kritik dan saran agar gagasan ‘Rumah Pancasila’ menjadi model yang lebih baik.

“Nggak papa nggak menang, asalkan suatu saat bisa direalisasikan. Karena kami rasa ini sangat penting sekali. Mengingat isu-isu SARA banyak bermunculan di Indonesia,” ujar Gita. (*)

Penulis : Binti Quryatul M

Editor : Nuri Hermawan




Implementasi Nilai Pancasila Melalui Study Excursie

UNAIR NEWS – Direktur Pendidikan Universitas Airlangga Prof. Bambang Sektiari melepas 288 mahasiswa dari seluruh fakultas untuk mengikuti study excursie, Sabtu (21/10). Berbeda dengan tahun sebelumnya, study excursie dengan tema Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Kampus tahun ini dilaksanakan di Trawas, Mojokerto.

Prof. Bambang dalam sambutannya sebelum melepas mahasiswa berharap, seusai acara study excuersie yang akan berlangsung dua hari itu, mahasiswa dapat mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Mudah-mudahan setelah mengikuti study excursie mahasiswa bisa membawa nuansa Pancasila di kampus maupun di masyarakat, bukan hanya untuk dirinya sendiri,” ujar Prof. Bambang.

Study excursie yang outputnya berupa implementasi nilai-nilai Pancasila itu, para peserta mendapatkan materi langsung dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Mereka adalah Prof. Haryono dan Drs. Bambang Budiono, M.Si.

Study excursie ini berada langsung di bawah Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU). Ketua MKWU Dr. Listiyono Santoso, M.Hum dalam sambutannya sebelum pemberian materi oleh narasumber  mengatakan, semua mahasiswa UNAIR jurusan apapun harus memiliki karakter yang sama. Untuk itu, mereka mengikuti sudy excursie ini agar mandat kampus sebagai lembaga yang mendidik mahasiswa memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat terwujud.

“Kalau lulus dari UNAIR tapi masih memiliki sikap rasis, berarti ada masalah serius dalam pembelajarannya di kampus,” ujar Listiyono.

Nilai-nilai Pancasila itu dikatakan Listiyono harus tercermin dalam norma-norma. Norma-norma tidak cukup diajarkan dalam bangku perkuliahan, namun harus diwujudkan dalam perilaku bermasyarakat.

Berfikir Radikal

Sementara itu, kepada seluruh peserta Bambang Budiono menganjurkan agar mereka menjadi mahasiswa yang radikal. Radikal yang dimaksud adalah mahasiswa mampu membongkar sebuah pemikiran hingga ke akar-akarnya.

“Kalau tidak berpikir radikal, tidak akan berinovasi dan menemukan hal-hal baru. Yang tidak boleh adalah radikal berbasis SARA,” ujar Bambang.

Dalam sesi diskusi, Haryono berharap para peserta dapat menjadi kelompok pemuda yang kreatif, serta pemuda yang mampu menyikapi segala perbedaan. Sebab, Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah wujud dari segala perbedaan masyarakat Indonesia yang mampu dipersatukan.

“Ketika bangsa lain sudah berbicara tentang kemungkinan manusia hidup di Mars dan planet lain, kita masih sikut-sikutan tentang SARA. Saya berharap, adik-adik muda ini dapat menjadi kelompok-kelompok kecil yang kreatif, melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang baru,” papar Haryanto.

Rangkaian study excursie pada siang hari usai materi dilanjutkan dengan sesi berpikir kritis dengan metode THINK, Total Recall, Habits, Inquiry, News Ideas and Creativity, dan Knowing How You Think. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor  : Nuri Hermawan




Jawa Timur Tetap Kekuatan Kelima POMNAS 2017, Kempo Ukir Sejarah

UNAIR NEWS – Kontingen Jawa Timur harus rela tetap berada di ranking kelima, atau lima besar dari 34 Tim BAPOMI Provinsi se-Indonesia yang mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XV, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dalam pertandingan di hari terakhir, Jumat (20/10) kemarin, Jatim yang berangkat dengan kekuatan apa adanya, artinya bukan atlet mahasiswa terbaik di Jatim, masih sanggup berada di lima besar dengan meraih 12 medali emas, 26 medali perak, dan 28 perunggu. Pesaing ketatnya adalah Jawa Tengan, meraih medali 13 emas, 16 perak, dan 32 perunggu.

”Seandainya di hari terakhir sebanyak lima cabor yang menempatkan atlet Jatim di final dan berbuah emas, Jatim akan mengungguli Jateng. Tetapi ternyata di basket, baik putera dan puteri hanya meraih perak, demikian juga voli indoor untuk nomor puteri,” kata Drs. Hany Natawidjana, penasihat Kontingen BAPOMI Jatim.

Sedangkan kontingen DKI Jakarta masih yang terkuat di arena POMNAS. DKI memperoleh 51 emas, 32 perak dan 35 medali perunggu. Disusul di urutan kedua Jabar yang menurunkan sebagian besar atlet mahasiswa eks PON 2017, meraih 26 medali emas, 24 perak, dan 31 perunggu. Tuan rumah Sulawesi Selatan membuat kejutan dengan segenap rekadayanya berada di posisi ketiga dengan 26 emas, 12 perak, dan 21 perunggu.

ukir sejarah
TIM basket puteri usai menerima medali dalam UPP hari Jumat (20/10) petang. (Foto: Bambang Bes)

Pada hari terakhir kemarin Jatim hanya menambah dua medali emas, melalui nomor Randori puteri kelas 50 cabor kempo atas nama Lyoba Seila Perada Usen, serta cabor sepak takraw di nomor ganda puteri (dua pemain).

”Alhamdulillah, kami sangat mensyukuri hasil ini, dimana tahun ini merupakan keikutsertaan Kempo Jatim yang pertama kali dan langsung memperoleh 1 medali emas, 1 perak dan 3 perunggu. Ini sejarah baru,” kata Cuk Prasetyo, pelatih Kempo Jatim.

Sedang di final cabor voli puteri, Jatim dikalahkan DKI Jakarta, sedang di nomor voli putera Jatim meraih perunggu setelah mengalahkan Banten. Dari matras kempo juga menghasilkan medali perak di nomor embu berpasangan putera dan tiga perunggu nomor randori putera 50 dan 55, serta embu berpasangan putera.

Di final cabor basket, tim puteri Jatim yang diperkuat beberapa mahasiswa UNAIR, dikalahkan DKI Jakarta. Sedangkan di nomor basket putera, Jatim mengulang prestasi dua tahun lalu di Banda Aceh, yaitu meraih medali perak. Jika di POMNAS XIV lalu kalah dari DKI, tahun 2017 ini kalah dari tetangga DKI, yaitu BAPOMI Provinsi Banten. Jatim kalah dengan skor 79-63.

“Raihan Sulsel ini merupakan sebuah prestasi, sebab di POMNAS 2015 lalu di Aceh, Sulsel hanya mampu mengumpulkan 6 emas, 8 perak dan 7 perunggu dan finish di peringkat ke-6,” tulis di website resmi POMNAS 2017. (*)

Penulis: Bambang Bes




Pertama, PIPS UNAIR Ajak Dosen Magang Peduli Lingkungan

UNAIR NEWS – Pusat Inovasi Pembelajaran dan Sertifikasi Universitas Airlangga menggelar pengabdian masyarakat bersama puluhan dosen magang Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi. Acara pengmas bertajuk peduli lingkungan itu dilangsungkan di Ekowisata Mangrove Surabaya, Jumat (20/10).

Usai melakukan kegiatan peduli lingkungan dengan membersihkan area Ekowisata Mangrove dari berbagai jenis sampah, Yuni Sari Amalia, S.S., MA., selaku ketua PIPS UNAIR mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan panggilan jiwa. Bagi perempuan yang akrab disapa Yuni itu, kebersihan lingkungan merupakan hal penting, terlebih jika hal itu menyangkut lokasi wisata dan tempat ekosistem alam.

“Secara personal saya memang peduli dengan lingkungan, utamanya terkait sampah. Ini yang menjadi keprihatinan saya saat melihat lautan sampah di sini,” terangnya.

Meski sederhana, kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh PIPS bersama dosen magang itu bagi Yuni merupakan langkah kecil yang bisa memberikan dampak yang besar. Pasalnya, Yuni bertekad bahwa ke depan akan ada gerakan-gerakan serupa yang konsen pada kebersihan lingkungan.

“Meski membersihkan sampah yang besar itu harus berkolaborasi dengan pihak-pihak yang lebih luas, tapi ini langkah kecil kami dengan menggandeng dosen magang agar kegiatan ini ke depan bisa menjadi gerakan yang lebih baik,” paparnya.

Mengenai langkah ke depan, Yuni berharap bahwa dosen magang yang belajar di UNAIR bisa mengaplikasikan berbagai ilmu yang di dapat di UNAIR termasuk rasa kepedulian terhadap lingkungan. Tidak hanya itu, Yuni juga ingin jika suatu saat pihak pengelola wisata bisa menjadi wisata pengmas menjadi salah satu cara untuk mengajak wisatawan peduli dan cinya pada lingkungan.

“Selain itu, meski sudah ada perhatian dari pemerintah, saya harap perhatian lebih tetap diberikan untuk daerah-daerah seperti di kawasan mangrove,” tandasnya.

Yuni juga ingin bahwa kegiatan serupa bisa melibatkan dosen dan mahasiswa UNAIR. Selanjutnya, seusai salat jumat, Yuni bersama rombongan bakal menuju ke bank sampah di kawasan Mangrove di Gunung Anyar, Surabaya.

“Kami bakal belajar dengan salah satu tokoh penggerak bank sampah yang sudah sukses dan menjadi inspirasi nasional. Selanjutnya, dosen magang kami juga mengajar kepada anak-anak di sekitar bank sampah,” terang Yuni. “Jadi saling terkait, kita diberi ilmu, kita juga memberikan ilmu,” pungkas Yuni. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor :  Binti Q. Masruroh




Antara UU ITE dan Kebebasan Berekspresi di Era Saat Ini

UNAIR NEWS – Adanya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) rupanya tidak sepenuhnya membawa dampak positif dalam dinamika komunikasi dan informasi. Pasalnya, UU ITE tidak jarang dijadikan ‘alat’ untuk bermain politik maupun merugikan orang lain. UU yang seharusnya menjadi perlindungan ini justru banyak mengandung pasal karet yang keberadaannya dimanfaatkan oleh oknum-oknum untuk menjebloskan orang lain ke dalam jeruji besi.

Adanya sanksi pidana dalam UU ITE nampaknya tidak diamini oleh salah satu dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga Dr. Herlambang Perdana Wiratraman. Melalui diskusi media yang bertajuk “Journalism Is Not a Crime” yang diadakan pada Kamis, (19/10) Herlambang mengatakan bahwa ada lima alasan mengapa dirinya tidak menyetujui pidana pers diberlakukan bagi kegiatan jurnalistik.

“Saya memiliki lima alasan mengapa saya tidak menyetujui pidana pers diberlakukan bagi kegiatan jurnalistik. Pertama judicial precedent (Putusan Kasasi MA), kedua perkembangan hukum kebebasan ekspresi negara, ketiga rekomendasi PBB, keempat ketidakakurasian dan ketidakmanfaatan penggunaan pemidanaan pers (sosiologi hukum, sejarah hukum), dan kelima arah pembangunan hukum Indonesia (Dewan Pers, BPHN, SEMA 2008),” tutur Herlambang.

Sejalan dengan Herlambang, jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengatakan bahwa amandeman terakhir UU ITE ini masih belum maksimal karena berbagai persoalan belum dapat dipecahkan.

“Sebagai sebuah refleksi, amandemen UU ITE kemarin tidak cukup karena tidak menjawab permasalahan yang ada. Hari ini kita memang tidak berhadapan dengan rezim yang mengekang kebebasan berekspresi seperti masa orde baru. Tetapi secara tidak langsung, kita sedang berhadapan dengan hal-hal yang mengarah ke situ. Misalnya ketika polisi membubarkan diskusi yang sedang berjalan,” ungkap Dandhy.

Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan Prof. Henry Subiakto. Ia memaparkan mengenai isu-isu krusial UU ITE sekaligus tren masyarakat mengakses internet yang semakin lama semakin banyak.

“UU ITE adalah payung hukum aktivitas di dunia maya. Adanya UU ITE merupakan extensi norma dunia nyata ke dunia maya. Sehingga, apa yang dilarang di dunia nyata maka dilarang pula di dunia maya,” ujar staf ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika bidang hukum tersebut. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Binti Q. Masruroh




Belajar Sastra Membuat Sri Ratnawati Belajar Realita Kehidupan

UNAIR NEWS – “Rasa bahasa yang hadir pada karya sastra selama ini sering menghipnotis pembaca-pembacanya. Rekam jejak sejarah yang dimunculkan dalam karya fiksi membuat orang lain paham tentang apa yang telah terjadi pada masa lampau,” begitulah penuturan Sri Ratnawati, dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga saat menjelaskan betapa pentingnya seseorang untuk belajar sastra.

Ratna sapaan karibnya adalah salah satu dosen di FIB yang begitu cinta dengan sastra. Baginya, sastra adalah representasi kehidupan di dunia ini. Apapun yang terjadi pada kehidupan manusia, telah digambarkan jelas dalam karya sastra.

Menurut dosen yang pernah menerbitakn jurnal ilmiah dengan judul Dialektika Hindu-Jawa Islam dalam Serat Mi’raj ini, jika menyinggung perihal sastra, maka perlu untuk diketahui bahwa akan ada sebuah karya dimana sastra mengemas tiga budaya dalam satu wadah, karya itu adalah sastra pesisiran. Akan didapatkan budaya Hindu, Jawa, dan Islam di dalamnya.

Proses penyiaran Islam yang dilakukan di masa silam salah satunya melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Ratna menuturkan, melalui karya-karya sastra pesisiran, penyebaran agama Islam menjadi lebih efektif.

“Apalagi sastra pesisiran lebih kepada membungkus Islam dengan tradisi sebelumnya,” tambah Ratna.

Saat diwawancarai, dosen asal Madura ini mengatakan bahwa Islam bukanlah anti tradisi, tetapi lebih pada toleransi terhadap tradisi yang hadir sebelum Islam datang. Tentu, adaptasi tradisi itu dengan menggunakan gaya-gaya yang baru.

Dikatakan Ratna, tokoh yang ditulis dalam sastra pesisiran sudah mengarah pada nama-nama Islam. Namun, beberapa masih menyinggung tradisi Hindu dan Budha. Misalnya, nama dewa dan dewi, tokoh khayangan, dan tradisi yang lainnya. Oleh karena itu sastra pesisiran adalah salah satu alat yang digunakan untuk merepresentasikan orang-orang zaman dahulu dalam hal toleransi terhadap sesama.

“Terlihat jelas, orang terdahulu lebih luwes pandangannya terhadap dunia luar dibandingkan orang-orang modern sekarang ini,” tutur dosen yang sedang melakukan penelitian mengenai dongeng Madura ini.

Ratna menambahkan, saat Islam mulai mewarnai agama di Nusantara, tradisi Hindu-Budha tidak serta merta langsung dihapuskan. Namun tetap dibungkus dengan apik agar Islam dapat lebih mudah disebarkan dan diterima oleh masyarakat umum.

“Islam tidak pernah menafikkan tradisi yang lebih tua. Sejarah semacam ini perlu dipelajari oleh setiap orang, tidak hanya orang-orang yang bergelumit di bidang budaya saja, agar setiap pribadi mampu menghargai setiap perbedaan yang ada di muka bumi ini,” ujar Ratna.

“Sastra itu tidak pernah berbohong. Apapun yang dituliskan itu adalah riil. Walaupun memang sastra dikemas dalam bentuk fiksi, namun berangkatnya dari realitas,” tambah Ratna.

Ratna berujar, sastra pesisiran tidak membicarakan hitam putih atau benar dan salah. Namun, sastra ini menggambarkan bagaimana konsekuensi bagi orang baik dan orang jahat, maupun perbuatan benar dan salah.

Sebagai seorang akademisi, Ratna memiliki harapan kepada masyarakat umum, khususnya kalangan pemuda, agar lebih mencintai sastra. Karena dari sastra, dunia dapat dilihat dalam sekejap.

“Sastra selalu memberikan pelajaran moral untuk bekal hidup, serta memberi tahu kita bagaimana orang-orang terdahulu dalam mengatasi masalah dengan tidak emosional,” tandas Ratna diakhir wawancara. (*)

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor : Binti Q. Masruroh




Kunjungi Kejaksaan Negeri Surabaya untuk Kembangkan Pengetahuan

UNAIR NEWS – Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Semi Otonom (BSO) Forum Studi Bisnis (FSB) Fakultas Hukum Universitas Airlangga, mengadakan kunjungan ke Kejaksaan Negeri Surabaya, Selasa (17/10). Kunjungan ke Kantor Kejaksaan Negeri Surabaya tersebut dilakukan guna lebih mengenal jaksa sebagai pengacara negara.

Kunjungan bertema “Mengenal Peran Kejaksaan dalam Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara” ini diikuti tidak kurang dari 35 mahasiswa yang merupakan anggota FSB maupun luar FSB.

“Kita sengaja melakukan kunjungan di kejaksaan karena kita ingin memperkenalkan bahwa kejaksaan tidak hanya berkutat mengenai pidana tetapi juga perdata dan juga tata usaha negara. Selain itu, FSB yang bergerak dalam bidang hukum bisnis tidak membatasi anggotanya untuk belajar mengenai perdata saja,” ujar Firyal Iqbal selaku ketua panitia.

Selanjutnya, Iqbal juga mengatakan bahwa kunjungan ke Kejaksaan Negeri Surabaya merupakan kali pertama diadakan. Namun, bersama rekan-rekannya ia pernah berkunjung ke instansi lain seperti company visit ke PT. Petrokimia Gresik serta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Selain itu, anggota FSB juga berkunjung ke universitas lain untuk menghadiri undangan legal discussion maupun kuliah tamu seperti di Univesitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Indonesia.

Kedatangan mahasiswa ke Kejaksaan Negeri Surabaya disambut oleh Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya Didik Farkhan Alisyahdi S.H., M.H, dan Sidharta Praditya Revinda Putra S.H.,M.H, selaku salah satu Pengacara Negara. Keduanya banyak memberikan wawasan kepada mahasiswa melalui materi-materi yang diberikan.

Pada kesempatan ini Sidharta menyampaiakan tugas dan wewenang Kejaksaan RI, lingkup bidang perdata dan TUN, Prosedur menggunakan Jasa Jaksa Pengacara Negara (JPN), serta etika JPN dalam beracara.

“Untuk dapat menggunakan jasa JPN, Negara atau Pemerintah atau BUMN maupun BUMD mengajukan permintaan secara tertulis kepada Kejaksaan untuk memberikan bantuan hukum, pertimbangan hukum, dan tindakan hukum lain. Khusus untuk anggota masyarakat dapat mengajukan permintaan secara tertulis atau lisan untuk memberikan pelayanan hukum di bidang perdata dan TUN. Permohonan tersebut disertai surat kuasa khusus (SKK) sebagai dasar hukum bagi JPN bertindak untuk dan atas nama pemohon sebagai pemberi kuasa,” ujar Sidharta.

Selain itu, Didik juga memberikan gambaran mengenai syarat dan prosedur pendaftaran jaksa yang membuat mahasiswa sangat antusias. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan