Masyarakat Harus Sadar Pentingnya Membayar Pajak

UNAIR NEWS – Memasuki usia kemerdekaan ke-72 tahun Republik Indonesia, mahasiswa Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan, Bisma Brata Atmaja, berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pembayaran pajak.

“Taat pajak berdampak pada segala fasilitas dan layanan umum yang mudah diakses dan cepat penanganannya,” ujar mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat masyarakat malas membayar pajak adalah tingkat kepercayaan masyarakat kepada aparatur negara masih rendah. Salah satunya disebabkan adanya pejabat yang menyelewangkan pajak untuk kepentingan golongan tertentu.

Bagi Bisma, pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan negara adalah menjadikan aturan perundang-undangan dan hukum yang satu arah, bukan tumpang tindih bahkan bertabrakan. Pekerjaan itu pun tetap memiliki berbagai tantangan. Seperti adanya oknum-oknum tertentu yang menunggangi aturan perundang-undangan negara demi meraup keuntungan pribadi maupun kelompok.

Selain soal pembayaran pajak, salah satu bentuk kemerdekaan adalah bebas dari jajahan konten berita serta informasi yang bersifat hoax. Sebab, perolehan informasi yang tidak besar dapat membawa dampak yang cukup besar, seperti perpecahan antar suku, bangsa, agama, dan antar golongan.

Bisma yang juga Ketua Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Airlangga mengatakan peningkatan minat baca adalah salah satu cara agar tidak mudah termakan berita yang bersifat menipu. Tidak hanya membaca artikel-artikel ilmiah, namun juga wawasan umum seputar peristiwa di lingkungan sekitar.

“Sebenarnya yang paling penting agar tidak mudah termakan berita hoax adalah dengan meningkatkan minat baca,” ujarnya kepada UNAIR News.

Selain meningkatkan minat baca, agar tidak mudah termakan berita hoax, Bisma sapaan akrabnya, menganjurkan masyarakat untuk mewaspadai konten-konten informasi yang bersifat provokatif.

“Periksa sumber yang bukan berasal dari media massa yang kredibel, cek kebenaran berita, cek foto dengan penelusuran Google image. Karena seringkali foto yang digunakan untuk provokasi adalah foto lama yang disalahgunakan dengan judul yang dipelintir,” ungkapnya.

“Masyarakat tidak mudah termakan hoax, serta kerukunan dan toleransi dalam kehidupan sosial semakin baik,” imbuhnya.

Meski Indonesia menghadapi banyak permasalahan, mahasiswa ini tetap berharap agar Indonesia tetap tumbuh menjadi negara yang semakin jaya dan kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Wujudkan Indonesia Merdeka dari Hoax

UNAIR NEWS – Perkembangan arus informasi yang sedemikian cepat membawa pengaruh buruk berupa penyebaran informasi yang tak kredibel atau hoax. Pakar komunikasi massa Effendi Gazali menyebutnya sebagai gaya penjajahan baru di bidang teknologi dan budaya.

“Dulu kita melawan penjajahan Belanda dan bangsa-bangsa asing. Imperialisme secara fisik. Sekarang, (Indonesia dijajah) media sosial. Kita merayakan kebebasan bermedia tanpa etika. Tanpa memikirkan akibatnya. Itu adalah penjajahan baru. Imperialisme teknologi dan budaya,” terang Effendi usai menguji disertasi Drs. Suko Widodo, MA, Rabu (16/8).

Selain masalah hoax, Effendi menyebut permasalahan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah ketimpangan ekonomi. Data yang dirilis oleh lembaga-lembaga menyebutkan, harta empat orang terkaya di Indonesia setara dengan harta seratus juta orang miskin.

Ia mengatakan, ketimpangan ekonomi tersebut bukan saja akibat perekonomian saat ini melainkan juga warisan pemerintahan-pemerintahan masa lalu.

Menghadapi kondisi semacam itu, Effendi menghendaki agar segenap warga bisa melawan ketidakadilan ekonomi agar pemerataan kesejahteraan segera tercapai.

“Secara umum Pancasila dan UUD 1945 menginginkan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia, kebangkitan ekonomi kita lawan ketidakadilan ekonomi. Kita bikin itu betul-betul merata semaksimal mungkin,” imbuhnya.

Permasalahan ketiga yang diungkapkan Effendi adalah ambang batas pemilihan presiden sebesar 20 persen.

“Sivitas akademika masih punya tugas untuk menyelesaikan presidential threshold (ambang batas pilpres) 20 persen. Belum ada negara di dunia yang punya presidential threshold jika pelaksanaan pemilunya serentak. Kita masih punya perjuangan untuk meletakkan ketatanegaraan. Suara di pemilu sebelumnya tidak boleh digunakan sembarangan pada pemilu sekarang dan lima tahun kemudian,” tegasnya.

Merespon terhadap banyaknya permasalahan yang diimiliki bangsa Indonesia, penggagas Republik Mimpi ini berharap agar para aktivis secara konsisten menyuarakan kritik-kritiknya pada pemerintah.

“Kita terlalu galak sebagai aktivis pada jaman SBY. Pak rektor, dekan, peneliti, dan mahasiswa, ayo kita suarakan kritik kita secara cerdas. Tidak boleh ada pemerintahan demokratis yang menutup diri pada kritik. Ayo kita sampaikan kritik yang cerdas dan sesuai dengan landasan UUD 1945 dan Pancasila,” ujar Effendi.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor: Rio F. Rachman




Indonesia Harus Sejajar dengan Negara-negara Ekonomi Terkuat

UNAIR NEWS – Ada beragam pemaknaan terhadap kemerdekaan. Dalam peringatan 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, UNAIR News berhasil menemui profesor termuda UNAIR, Prof. Badri Munir Sukoco, Ph.D., Selasa (15/8).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR tersebut mengatakan, kemerdekaan dapat dinilai dari enam aspek yakni ekonomi, pendidikan, keamanan, sosial, budaya dan lingkungan hidup.

“Dalam aspek ekonomi, bisa diartikan dengan meningkatnya GDP per kapita $10,000 dengan ketimpangan yang rendah (kurang dari 0,50). Pada aspek keamanan dengan terjaminnya kehidupan di Indonesia secara aman dan nyaman,” papar Badri.

Dari aspek pendidikan, Badri mengaitkan dengan meningkatnya proporsi penduduk Indonesia yang menjadi creative class dari 7,94 persen tahun 2015 menjadi 20 persen tahun 2030. Untuk bidang sosial, ia menilai bahwa merdeka bisa dikatakan dengan tidak adanya lagi diskriminasi atas nama suku, agama, ras, dan golongan.

Dari aspek budaya, Badri menilai kemerdekaan bisa diwujudkan dengan menerima budaya global secara bijak tanpa kehilangan jati diri bangsa. Sementara itu, pada aspek lingkungan hidup, merdeka diwujudkan dengan mewariskan negara Indonesia ke anak cucu dengan kondisi lingkungan hidup yang lebih baik.

“Enam aspek di atas yang paling mendesak untuk segera dieksekusi,” tegasnya.

Meski keenam aspek harus segera dieksekusi, Badri menjabarkan berbagai tantangan untuk mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Baginya, tantangan tersebut seperti orientasi pemerintah akan keenam hal itu yang belum ada sinkronisasi antara pemerintah pusat, provinsi dan kota/kabupaten.

“Sistem pilkada dan pilpres secara langsung menjadikan sulitnya sinergi antara agenda nasional jangka panjang dan daerah yang jangka pendek untuk mendulang suara,” jelasnya.

Terakhir, meski pekerjaan rumah dan tantangan terus ada, Badri tetap berharap di 72 Tahun Kemerdekaan RI, bangsa ini dimasa depan bisa memiliki kesejajaran dalam keenam aspek dengan negara-negara yang tergabung dalam G-20.

“Kita harus sejajar dengan 20 negara maju secara ekonomi dalam enam aspek hal tersebut,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Defrina Sukma S




Mewujudkan ‘Kemerdekaan’ Pelayanan Kesehatan

UNAIR NEWS – Kemerdekaan dimaknai luas oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U (K), menyeluruh di segala aspek kehidupan masyarakat. Seperti  merdeka dalam menyampaikan ide dan gagasan, merdeka dalam mengenyam pendidikan, hingga merdeka dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas.

“Dengan catatan, kemerdekaan ini tetap berada di dalam koridor aturan  moral agama, Undang-Undang Dasar 1945, dan Pancasila sebagai dasar negara,” ungkapnya.

Dalam aspek pendidikan, Soetojo menilai saat ini semakin terbuka luas kesempatan bagi siapa saja untuk mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi, seperti halnya program bantuan pendidikan Bidikmisi yang berhasil memberikan peluang bagi siapa saja untuk dapat menikmati bangu perkuliahan. Sehingga tak ada lagi yang namanya diskriminasi antara si kaya dengan si miskin, si anak kota dan si anak desa.

Melalui Bidikmisi, Soetojo berharap, program ini tidak hanya untuk jenjang mahasiswa saja, sebisa mungkin program tersebut juga dialokasikan untuk jenjang pendidikan SD sampai SMA.

“Kita berharap makin lama biaya pendidikan bisa semakin murah. Untuk itu pemerintah perlu meningkatkan anggaran pendidikan,” ungkapnya.

Menilik pada permasalahan distribusi tenaga medis yang belum merata di tanah air, Soetojo menilai, memerdekan masyarakat dalam mendapakan pelayanan kesehatan yang berkualitas sangat perlu diperjuangkan. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah perifer atau daerah terpencil. Untuk itu perlu dukungan penuh dari pemerintah agar dapat terwujud pelayanan kesehatan yang terjangkau dan menyeluruh untuk masyarakat di manapun tanpa diskriminasi.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan aspek keamanan, kesejahteraan, serta ketersediaan fasilitas kesehatan. Dengan begitu akan mempermudah para tenaga medis dalam memberikan   pelayanan kesehatan,” ungkapnya.

Selain aspek kuratif, hal yang tak kalah penting menurutnya adalah menggalakkan sosialisasi program preventif atau pencegahan penyakit. Program ini harus disosalisasikan secara masif  kepada masyarakat. Sebab, program pencegahan dinilai lebih efektif dalam menekan angka kejadian suatu penyakit.

“Terapi adalah tindakan terakhir kalau orang sudah terlanjur sakit parah. Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana supaya bisa mencegah agar masyarakat tidak sampai sakit. Tentunya dengan menanamkan kewaspadaan sejak dini,” ungkapnya.

Agar pola kewaspadaan benar-benar bisa dimiliki masyarakat, tentu dokter memerlukan kerjasama dengan pihak tenaga kesehatan puskesmas maupun pera aktif para kader kesehatan. Untuk menjamin keberlanjutan program tersebut, perlu dukungan penuh dari pemerintah.

“Kemerdekaan adalah momentum perjuangan bersama. Dan merdeka yang kita rasakan sekarang tidak lepas dari jasa para pahlawan. Sepatutnya semangat perjuangan mereka dapat menginspirasi  generasi penerus bangsa,” tutupnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor : Binti Q. Masruroh




Yel-Yel Bikin Semarak, Lomba Mahasiswa Asing Bikin Ketawa

UNAIR NEWS – Suasana halaman gedung Rektorat UNAIR terasa begitu ramai Kamis pagi (17/8). Lomba-lomba dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia dihelat dengan meriah. Para sivitas akademika begitu bergairah dan penuh semangat.

Ada lomba yel-yel, sepeda lambat, parikan dan karaoke bahasa Jawa. Lomba yel-yel diikuti semua unit di UNAIR. Para peserta tak segan menampilkan busana yang penuh aksesoris sebagai bentuk totalitas.

Peserta dari  Pusat Informasi dan Humas (PIH), misalnya. Mereka mencoret pipi, memakai wig dan hiasan kepala, serta mengenakan hiasan rumbai-rumbai tali raffia pada pinggang. Mereka menggubah lagu Goyang Bang Jali yang dipopulerkan Denny Cagur menjadi Goyang Merdeka. Tepuk tangan meriah dan sorak sorai bersahutan usai penampilan tim yang memakai busana bernuansa merah maroon tersebut.

Setelah mereka, tampil tim dari Rumah Sakit UNAIR. Mereka membawa tabuh-tabuhan sederhana yang digunakan untuk mengiringi yel-yel. Para penabuh, mengenakan helm khas pagawai konstruksi. Sedangkan busana yang mereka pakai berwarna hijau, yang biasa dikenakan perawat atau dokter yang mengoperasi pasien.

Lomba sepeda lambat tak kalah semarak. Begitu pula, lomba parikan dan karaoke bahasa Jawa yang juga mengundang gelak tawa. Sebab, ada penampil yang bukan berasal dari daerah Jawa. Sehingga saat menyanyikan lagu, logat yang terlontar pun jadi lucu. Misalnya, peserta dari Pusat Informasi dan Humas bernama Helmy Rafsanjani, yang menyanyikan Prau Layar.

Yang tak kalah seru adalah lomba-lomba bagi mahasiswa asing. Airlangga Global Engagement menyelanggarakan lomba makan krupuk, terompah raksasa, dan memasukkan paku dalam botol. “Ini sepertinya mudah. Ternyata sulit juga,” kata salah seorang peserta sesaat setelah dia sukses memasukkan paku dalam botol dan berteriak, “Airlangga!” Kawan-kawan di sekitarnya pun bertepuk tangan dan tertawa.

Peserta lain bernama Lotte Patty mengaku bahagia karena bisa berpartisipasi dalam acara ini. “Ini pengalaman luar biasa. Para warga kampus menghias ruangan mereka dengan nuansa merah putih. Kami juga diajak ikut merayakannya,” kata mahasiswi asal Belanda ini.

“Kami sengaja memakai pakaian olahraga dan melakukan pemanasan laksana seorang atlet. Demi bisa menjadi pemenang dalam lomba terompah raksasa dan makan krupuk,” tambah Thomas Van Scholik, mahasiswa asal Belanda, lantas terkekeh. (*)

Penulis: Rio F. Rachman




Mengisi Kemerdekaan dengan Bersumbangsih Bagi Masyarakat

UNAIR NEWS – Peringatan HUT ke-72 Republik Indonesia dilangsungkan dengan khidmat sekaligus semarak di Universitas Airlangga (UNAIR) Kamis, 17 Agustus 2017. Seperti biasa, rangkaian kegiatan diawali dengan upacara bendera yang diikuti sivitas akademika.

Kemudian, dilanjutkan dengan beragam perlombaan yang diikuti sivitas akademika UNAIR, yakni, staf, dosen, dan seluruh mahasiswa bagi dari dalam maupun luar negeri.

Dalam amanatnya, Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA., berpesan agar semua peserta upacara terus berupaya meningkatkan kualitas diri. Khususnya, di bidang pendidikan. Dengan kemampuan yang terus diasah, sumbangsih pada masyarakat pun bisa maksimal.

“Mari kita isi kemerdekaan dengan terus memberi manfaat bagi sekitar,” ungkap lelaki kelahiran Gresik tersebut.

Dia juga menuturkan, pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, harus dilakukan secara kontinyu dan berkualitas. Sebab, amalan tersebut adalah kewajiban bagi setiap kampus. Di sisi lain, mengisi kemerdekaan bisa dengan bersyukur dan menjadikan perjuangan para pahlawan sebagai inspirasi untuk berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.

Nasih juga menuturkan, pada tahun ini UNAIR memeringati pula Dies Natalis ke-63. Yang tepatnya jatuh pada 10 November 2017 mendatang. Dia berharap, momentum Dies Natalis ini bisa menjadikan para sivitas akademika lebih bersemangat dalam berkarya atau bekerja demi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Muaranya, UNAIR dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Juga, dapat berbicara banyak di level dunia, demi perkembangan ilmu pengetahuan.

Setelah upacara, dilaksanakan lomba-lomba yang beraneka rupa. Gelak tawa mewarnai tiap lomba yang dilaksanakan. Lomba yang dimaksud antara lain, Parikan, Yel-Yel, Karaoke Bahasa Jawa, Sepeda Lambat, dan Make-Up.

Sedangkan khusus mahasiswa asing, diadakan pula sejumlah lomba oleh Airlangga Global Engagement. Lomba bagi mahasiswa asing itu antara lain adalah terompah raksasa, makan krupuk, dan memasukkan paku dalam botol.

Prof. Anwar Ma’ruf, wakil direktur Sekolah Pascasarjana mengaku senang mengikuti event ini. Sebab, ajang ini juga menjadi sarana kumpul-kumpul bagi sivitas akademika. Yang belum saling kenal, bisa kenalan. Yang sudah saling kenal, bisa makin mengakrabkan diri.

“Silaturahmi bisa dilaksanakan melalui kegiatan semacam ini,” papar Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan ini. (*)

Penulis: Rio F. Rachman




Kemerdekaan, Peluang untuk Mengabdi

UNAIR NEWS – “Kemerdekaan merupakan kesempatan yang terbuka lebar bagi kita semua sebagai warga bangsa untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa Indonesia”. Begitulah ungkapan Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., saat ditemui UNAIR News disela jam kerjanya, Rabu (16/8).

Rektor ke-13 UNAIR tersebut mengatakan, nikmat kemerdekaan seluruh warga bangsa bisa terus melakukan darma bakti sesuai kapasitas masing-masing. Dengan kemerdekaan pula, menurut Nasih tercipta peluang untuk menyejahterakan bangsa Indonesia.

“Kalau kita tidak merdeka kita tidak memiliki kesempatan untuk mendarma baktikan untuk bangsa,” tegasnya.

Ditanya makna kemerdekaan yang sesungguhnya, Nasih menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa ini mesti perlu dievaluasi.

“Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Dulu penjajahan bukan dalam arti dijajah Belanda. Awal mula yang datang adalah perusahaan (VOC),” kata Nasih.

Menurut Nasih yang membuat bangsa ini tidak merdeka dalam arti yang sesungguhnya adalah sifat dan sikap setiap individu warga bangsa. Nasih menilai, saat ini bangsa Indonesia tengah dijajah kapitalisme dan materialisme.

“Ini pekerjaan rumah kita. Sepanjang dua hal tersebut masih ada dalam pikiran kita, upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan akan terganggu. Kalau hal itu masih ada dalam diri kita, mana mungkin mau memikirkan orang lain apalagi seluruh warga negara Indonesia,” papar Nasih.

Selanjutnya, Nasih kembali menegaskan, poin yang merusak nasionalisme adalah sikap kapitalisme dan materialisme bukan agama. Bagi Nasih sikap dan pola pikir materialisme, membuat setiap warga bangsa takut mati dan terlalu cinta pada dunia.

“Hal ini kan juga merusak agama dan nasionalisme kita. Dengan takut mati orang takut berjuang. Dulu tidak, para pejuang kita tidak takut mati, makanya berani berjuang,” terang Nasih. “Mari kita hindari dua sikap tersebut,” ajak Nasih.

Di akhir wawancara, Nasih menegaskan bahwa 72 tahun merupakan perjalanan sebuah bangsa yang panjang. Tantangan besar yang masih sering terjadi menurut Nasih adalah minimnya pemimpin yang memiliki visi misi Indonesia yang jauh ke depan.

“Ganti rezim ganti kebijakan. Setiap ganti presiden kadang memiliki visi masing-masing. Bagi saya kita harus punya pegangan teguh pada undang-undang tentang kemana arah tujuan bangsa ini. Jadi siapapun pemimpinnya mempunyai visi dan tujuan yang sama,” papar Nasih mengakhiri.

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Defrina Sukma S




Keberagaman dan Toleransi Telah Membesarkan Indonesia

UNAIR NEWS – Kemerdekaan yang dirasakan oleh rakyat Indonesia sejak tahun 1945, tak sepenuhnya bisa dinikmati oleh warga-warga yang berada di belahan bumi lain. Itulah yang diungkapkan oleh mahasiswa S-3 Ilmu-Ilmu Sosial asal Palestina, Ahmed Muhammad Omar Al-Madani.

Ahmed, sapaan akrabnya, tumbuh di tengah-tengah konflik yang tak kunjung selesai. Ketika kru UNAIR News mencoba bertanya mengenai negara, ia sempat merenung membayangkan peristiwa yang kini terjadi di negaranya.

“Kamu harus bersyukur menjadi warga Indonesia yang baik- baik saja dan rukun di mana-mana,” ungkapnya.

Ahmed beranggapan, negara yang merdeka adalah negara makmur yang mampu menjamin masa depan dan anak cucu nanti. Indonesia bisa dikatakan sudah menjadi negara merdeka karena Indonesia tidak sedang terjajah bangsa lain, perekonomiannya stabil dan juga memiliki sumber daya manusia yang berkualitas demi membentuk masa depan generasi baru.

“Aku belum pernah merasakan kemerdekaan karena selama aku di Gaza aku masih dijajah, di bawah tekanan akan peperangan. Sungguh sangat sedih,” ujarnya. Raut wajahnya tak bisa berbohong. Ia merasa sedih memikirkan keluarganya yang masih bernaung di zona perang.

Selama hampir empat tahun tinggal di Indonesia Ahmed sangat senang dengan kemeriahan perayaan Hari Kemerdekaan. Semua pernak-pernik bernuansa merah dan putih serupa warna bendera Indonesia.

“Di sini seru banget ya! Semua orang tumpah ruah. Ada banyak lomba-lomba yang diikuti dari anak kecil sampai dewasa. Begitu semarak. Semuanya serba merah putih. Sungguh sangat menarik,” imbuh lelaki kelahiran tahun 1981.

Lelaki bertubuh jangkung ini berharap, rakyat Indonesia tetap menjaga keharmonisan agar bangsa ini tetap jadi panutan bangsa lain. Menurutnya, bangsa Indonesia sudah terkenal dengan keberagaman dan toleransi.

“Saya ingin Indonesia sebagai tempat yang nyaman untuk hidup, Indonesia harus menjadi bangsa yang lebih kuat karena orang-orang Indonesia sangat berani sehingga mereka mendapat kemerdekaannya. Jangan sampai masalah kecil saja bisa menghancurkan kerukunan bangsa ini. Indonesia itu hebat,” ujarnya.

Ia juga tak lupa mengucapkan kepada pemerintah Indonesia karena telah memberi kesempatan bagi anak-anak muda Palestina seperti dirinya untuk mendapatkan ilmu yang layak di Indonesia.

Penulis:  Faridah Hari

Editor: Defrina Sukma S




Transportasi Publik Memadai, Tantangan 72 Tahun Indonesia Merdeka

UNAIR NEWS – Perbaikan sarana transportasi publik menjadi tantangan kemerdekaan Indonesia yang telah mencapai 72 tahun ini. Pernyataan itu disampaikan oleh pustakawan teladan Universitas Airlangga tahun 2016 Agung Budi Kristiawan.

Agung sapaan akrabnya, memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan berekspresi tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Kebebasan berekspresi baginya diwujudkan dengan berkarya sesuai bidang minat yang ditekuni.

Memasuki usia kemerdekaan ke-72 tahun, menurut Agung, perbaikan infrastruktur sarana transportasi di Indonesia menjadi pekerjaan rumah yang mesti segera diselesaikan. Sebab, sarana transportasi publik yang memadai berimbas pada energi masyarakat yang tidak akan terkuras dan bisa lebih efektif dalam berkarya dan bekerja.

“Sangat dibutuhkan sarana publik seperti MRT, bus di kota-kota besar seperti Surabaya. Karena macet sudah membuat hidup kita terjajah dan habis energi di jalan,” ungkapnya kepada UNAIR News Rabu (16/8).

Tentu, pembangunan sarana transportasi publik yang memadai memerlukan usaha yang tidak mudah. Misalnya, keinginan itu bisa saja berbenturan dengan pengusaha kendaraan pribadi yang semakin hari semakin mengalami peningkatan pembelian.

“Pembangunan infrastruktur transportasi umum memang susah. Namun bila ingin bertekad memperbaiki lalu lintas yang semrawut ini, tentu bisa dengan aturan dan mewujudkan sarananya dengan baik,” ungkap Juara 3 Pustakawan Teladan Jatim tahun 2010 itu.

Sebagai pustakawan dan masyarakat Indonesia yang tak memiliki kesempatan banyak untuk memberikan berbagai aturan, ia memiliki harapan atas perbaikan transportasi publik ke depan.

Apa peran yang bisa kita dilakukan untuk memperbaiki indonesia? Untuk memperbaiki saranan transportasi publik, salah satunya dengan mempromosikan sarana publik yang memadai ketika menggunakan media sosial. Apalagi saat ini, media sosial menjadi media yang banyak digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Kepada UNAIR, Agung memiliki cita-cita dan harapan agar menjadi institusi pendidik yang mampu menjadi contoh bagi masyarakat agar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan.

“Harusnya di UNAIR ada car free day (hari bebas kendaraan bermotor). Jadi sehari mahasiswa atau karyawan nggak boleh bawa kendaraan pribadi, biar sesekali UNAIR bernafas dengan oksigen, nggak karbon melulu. Harusnya universitas negeri jadi contoh untuk peduli lingkungan,” tuturnya.

Masyarakat umum juga bisa mensosialisasikan peduli lingkungan dengan cara mengurangi bepergian dengan menggunakan kendaraan pribadi. Bus atau kereta api bisa menjadi pilihan alat transportasi untuk mensosialisasikan peduli lingkungan.

Agung optimis, jika ada aturan yang mengikat serta kerjasama dari seluruh masyarakat, transportasi memadai seperti negara-negara besar di dunia bisa dimiliki oleh bangsa Indonesia.

“Singapura bisa, Indonesia pasti bisa mewujudkan sarana transportasi nyaman bagi penduduknya,” tutupnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




FEB Adakan Diskusi Guna Rumuskan Indikator Kesejahteraan

UNAIR NEWS – Guna merumuskan indeks kesejahteraan versi Universitas Airlangga, Fakultas Ekonomi dan Bisnis menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD). Dalam kesempatan ini Prof. Dr. Bambang Tjahjadi, SE., MBA., Ak bersama tim dari UNAIR memaparkan berbagai komponen, mulai dari kriteria penilaian hingga pembobotan.

FGD yang diselenggarakan Senin (14/8) di Aula Tirto ini salah satu usaha dalam memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan bangsa. Selain itu, diadakannya FGD juga bertujuan untuk mendorong universitas menuju peringkat 500 besar dunia.

Dalam upaya menuju ranking 500 besar dunia, UNAIR juga dituntut untuk mampu menumbuhkan kompetisi organisasi-organisasi pemerintahan maupun non pemerintahan. Prof. Bambang menjelaskan, cara ini dilakukan dengan perangkingan organisasi yang nantinya akan mendapat insentif berupa penghargaan.

“Tata kelola organisasi yang baik, pasti memiliki daya saing yang baik pula. Ini sebagai langkah awal agar lebih fokus pada pemerintah daerah. Tidak berhenti pada pemda, melainkan akan berlanjut pada sektor lainnya, seperti industri gula, industri pengolahan, hingga transportasi,” ujar Prof Bambang.

“Upaya ini sangat selaras dengan visi Pusat Tata Kelola dan Daya Saing. Ketika nantinya tata kelola organisasi sudah dalam tataran baik, maka daya saingnya pun akan baik,” tutur guru besar yang diamanahi menjadi Ketua Pusat Tata Kelola dan Daya Saing FEB UNAIR itu.

FGD kali ini dihadiri oleh perwakilan dari pemda, pemprov, media, serta akademisi. Usai FGD, rencananya, tahun ini akan mulai berjalan dengan target utama pemda. Stakeholder yang terlibat dalam program ini meliputi tokoh masyarakat, bupati, dan jajaran pemda. Sedangkan indikator secara umum meliputi sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sektor-sektor lainnya.

Prof. Bambang menambahkan bahwa universitas yang telah melakukan perangkingan semacam ini adalah National University of Singapore (NUS). Namun, perangkingan versi UNAIR kali ini hasilnya akan lebih objektif dan komprehensif karena mencakup kabupaten dan kota. Di samping itu, perankingan menggunakan data primer dan sekunder dari data mikro, seperti SUSENAS.

“Harapan ke depan adalah akan diperoleh perankingan setiap daerah. Kemudian dapat diimplementasikan dalam program-program yang sesuai dengan indikator kesejahteraan masing-masing. Selain itu juga menstimulus pemda untuk berinovasi,” tambahnya. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor : Binti Q. Masruroh