UNAIR Raih Anugerah Perguruan Tinggi Terbaik 1 Pengelola Kemahasiswaan

UNAIR NEWS – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) memberikan anugerah kepada Universitas Airlangga (UNAIR) atas prestasi dalam hal kemahasiswaan. UNAIR meraih anugerah sebagai perguruan tinggi Terbaik 1 Pengelola Kemahasiswaan kategori non lomba.

Penganugerahan itu diberikan pada Jumat malam (14/12) bertempat di Gedung D Lantai 2 Kemenristekdikti, Jakarta. UNAIR menjadi perguruan tinggi Terbaik 1, dan mengalahkan Universitas Telkom (Terbaik 2) dan Institut Teknologi Bandung (Terbaik 3).

Anugerah kemahasiswaan itu diberikan berdasarkan evaluasi Kemenristekdikti yang dilakukan sepanjang tahun 2018. UNAIR menjadi perguruan tinggi Terbaik 1 di antara tak kurang dari empat ribu perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan UNAIR Dr. M. Hadi Subhan mengatakan, ada empat komponen yang dinilai oleh Kemenristekdikti atas penganugerahan itu. Pertama, pengelolaan organisasi mahasiswa, meliputi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM), Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Kedua, lanjut Hadi, kondusifitas dinamika kemahasiswaan. “Sering demo apa tidak, misalnya. Artinya, mampu menjaga kondusifitas mahasiswa di lingkungan kampus,” papar Hadi.

Ketiga, pengelolaan kegiatan kemahasiswaan. Sebagai contoh, keikutsertaan mahasiswa UNAIR dalam hal lomba-lomba yang diselenggarakan perguruan tinggi di Indonesia, juga kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang digagas oleh mahasiswa UNAIR sendiri. Sementara komponen penilaian keempat adalah tata laksana bidang kemahasiswaan.

Hadi mengungkapkan, manajemen kegiatan kemahasiswaan di UNAIR memang dikelola dengan baik. Dikatakan Hadi, saat dilakukan peninjauan Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) beberapa waktu lalu, dikatakan bahwa UNAIR adalah satu-satunya perguruan tinggi yang memiliki kegiatan kemahasiswaan terpusat dan terorganisir.

“UKM kita ada 42 UKM. Waktu APT meninnjau, UNAIR satu-satunya perguruan tinggi yang punya kegiatan terpusat dan terorganisir. Yaitu di student center,” ujar Hadi.

“Keterbukaan dan dialog terus menerus dilakukan dengan kemahasiswaan. Sehingga ketika ada masalah pada mahasiswa, jalan tidak buntu. Kita fasilitasi jalur komunikasi,” tambahnya.

Selain menjalin komunikasi yang intens dengan mahasiswa, UNAIR melalui Direktorat Kemahasiswaan juga menyediakan sarana prasarana dan pendanaan untuk seluruh kegiatan kemahasiswaan. Sehingga, kegiatan-kegiatan mahasiswa tidak mandek, tentu dengan pemberian dana yang proporsional.

Atas diraihnya penghargaan dari Kemristekdikti ini, Hadi berharap pelayanan yang diberikan UNAIR kepada mahasiswa terus meningkat. Sehingga, dengan pelayanan yang baik, prestasi mahasiswa semakin baik. Prestasi mahasiswa yang baik akan membawa nama baik UNAIR di masyarakat. Prestasi-prestasi mahasiswa ini juga lah yang mendukung UNAIR menuju World Class University.

Sementara itu, atas diraihnya penghargaan ini, Ketua BEM UNAIR Galuh Teja Sakti berharap Direktorat Kemahasiswaan UNAIR bisa terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan yang berorientasi pada mahasiswa. Sekaligus, membangun sistem pelayanan yang inklusif. Sehingga bisa menerima aspirasi dan harapan dari mahasiswa.

“Semoga ke depan dirmawa (Direktorat Kemahasiswaan, Red) semakin mengakomodir minat, bakat, dan prestasi mahasiswa UNAIR, sehingga bukan tidak mungkin capaian-capaian lain akan kita raih. Selamat atas capaian ini, dan selamat atas keberanian kita untuk menyalakan nyali dan menyatakan kerja,” papar Teja. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh




Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib Ph.D., saat memberikan papara dihadapan puluhan alumni di Jakarta. (Foto: Nuri Hermawan)

Gathering Alumni, Warek IV: 7 Menit Anda Sangat Berarti untuk Almamater

UNAIR NEWS – Berbagai arah kebijakan dan gebrakkan untuk menjadi bagian dari kampus 500 dunia terus dilakukan oleh civitas akademika Universitas Airlangga. Kali ini, upaya itu diwujudkan dalam gelaran “Gathering Vote UNAIR Peningkatan Employer Reputation Menuju 500 World Class University.

Bertempat di Hotel Manhattan Jakarta pada Sabtu (15/12), acara yang dihadiri oleh puluhan alumni yang berkiprah di berbagai bidang itu membahas peran seluruh alumni untuk turut bahu-membahu mempercepat langkah UNAIR menjadi bagian dari 500 kampus besar dunia.

Hadir mewakili rektor, Wakil Rektor IV Junaidi Khotib Ph.D., dalam sambutan dan arahannya mengatakan bahwa acara mengumpulkan dan melibatkan para alumni seperti saat ini dilakukan oleh seluruh pimpinan UNAIR dan berbagai pihak yang berada di berbagai daerah.

“Hal demikian ini dilakukan untuk memberikan gambaran kepada seluruh alumni yang hadir tentang langkah UNAIR agar masuk 500 top dunia. Pasalnya, alumni juga memiliki peran penting untuk mendukung langkah UNAIR menjadi bagian kampus top di dunia,” jelasnya.

Langkah yang dilakukan oleh alumni, jelasnya, bisa dilakukan dengan memberikan vote for UNAIR melalui e-mail yang dikirimkan oleh pihak QS WUR sebagai lembaga perankingan yang diikuti oleh UNAIR.

Vote for UNAIR tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya sekitar tujuh menit saja, tapi hal itu sangat berarti dan memberikan nafas bagi almamater untuk ke depannya,” tandasnya.

Doktoral jebolan negeri sakura itu juga menjelaskan bahwa vote for UNAIR oleh alumni UNAIR dapat dilakukan dengan membalas e-mail dari QS WUR. Upaya itu, tandasnya, memiliki poin sebesar 10% dalam perankingan QS WUR.

“Meski hanya 10%, hal itu sangat membantu memberikan poin nilai tambahan bagi penilaian UNAIR,” imbuhnya.

Junaidi juga mengatakan bahwa saat ini, UNAIR masih dalam posisi 751 dunia. Dengan Employer Reputation sebagai salah satu indikator yang bisa diperankan oleh alumni, saat ini, tengah masuk posisi 501 dunia.

“Tinggal selanglah, poin yang menjadi bagian penting dari alumni ini bisa mencapai pada 500 dunia. Untuk itu, mari para alumni bisa berperan aktif untuk bersama mewujudkan UNAIR 500 dunia,” tuturnya.

Pada akhir, Junaidi kembali menegaskan bahwa upaya untuk melangkah menjadi 500 dunia merupakan bagian dari usaha untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap kualitas UNAIR dan kualitas lulusan UNAIR.

“Jika reputasi kita dimata dunia bagus, maka publik tidak akan ragu untuk menjadikan lulusan UNAIR sebagai bagian dari perubahan di berbagai instansi,” pungkasnya.

 

Penulis: Nuri Hermawan




Peringati Maulid Nabi, UNAIR adakan Safari di Tiga Kampus

UNAIR NEWS – Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun ini acara maulid nabi di Universitas Airlangga dikemas dengan konsep safari dari kampus A, B, dan C. Selain itu, tema yang dipilih untuk masing-masing kampus merupakan tema yang juga berkelanjutan.

Di kampus A, tema yang dipilih adalah Falyafrahu, Kegembiraan Umat Manusia Menyambut Kehadiran Sang Rahmat bagi Semesta. Kemudian di kampus B, Fa’tabiru, Samudra Hikmah dan Pelajaran dalam Kehidupan Sang Manusia Pilihan. Dan puncaknya, Rabu (12/12) mengambil tema Fattabi’uni, Menggapai Cinta Allah dengan Meniti Jalan Sang Kekasih.

Ustaz Afri Andiarto atau yang biasa disapa Ustaz Afri, pembina remaja masjid Ulul Azmi, menjelaskan, kegiatan safari merupakan salah satu upaya untuk meneguhkan motto UNAIR yaitu Excellence with Morality.

“Kegiatan ini difungsikan sebagai upaya peneguhan motto kampus kita, khususnya  mahasiswa muslim UNAIR. Karena kalau kita berbicara tentang morality, maka Rasulullah-lah teladan terbaik kita sebagai umat muslim,” jelas ustaz Afri.

Siti Mariya Ulfa atau yang akrab disapa Mariya, salah satu pengurus masjid Ulul Azmi, menjelaskan, tujuan utama diadakan kegiatan tersebut adalah untuk memperingati bulan mulia, bulan kelahiran Rosulullah Shalallahu ’alaihi Wasallam. Selain itu juga untuk menjaga sinergi antar kampus.

“Dengan diadakan safari di 3 kampus UNAIR secara bergiliran agar sinergi antar kampus semakin kuat,” jelas Mariya.

Untuk safari di kampus A diawali dengan pembacaan maulid diba’. Kemudian, dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah oleh Prof. Dr. Ir. Abdullah Shahab, M.Sc. Sementara di kampus B, diawali dengan festival sholawat yang diikuti oleh perwakilan pecinta sholawat di setiap fakultas di Kampus B.

Untuk safari maulid di kampus B, kegiatan diisi dengan festival sholawat oleh perwakilan pecinta sholawat di setiap fakultas di Kampus B dan juga dipandu oleh UKM Seni Religi UNAIR. Setelah itu, dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah oleh ustaz Atho’ Maftuh dan diakhiri dengan ramah tamah berupa makan bersama untuk mempererat silaturahim para jamaah.

Sementara di Kampus C, materi diisi oleh Habib Novel Alaydrus dan Habib Muhammad bin Anies, serta dipandu oleh M. Fairuzzudin Z.

Alhamdulullah acara kemarin dihadiri oleh para mahasiswa UNAIR maupun non-UNAIR dan juga masyarakat umum,” ucap Mariya.

Jamaah yang hadir tetap mengikuti dari awal hingga acara selesai. Pembacaan maulid diba’ yang syahdu membawa jamaah kepada perjalanan Rosulullah, disusul mauidhoh hasanah dari pemateri yang memberikan pelajaran terkait makna maulid yang sebenarnya.

“Mengingat kegiatan Maulid ini ada di pekan ujian akhir mahasiswa (UAS), tetapi jamaah yang hadir justru di luar ekspektasi dari panitia,” terang Mariya.

Ke depan, panitia berharap dengan peringatan maulid ini jamaah dapat semakin mengenal sosok yang selama ini dijadikan teladan umat islam. Dengan semakin mengenal beliau, maka kemudian semakin besar rasa cinta kita kepada Rosulullah. Dan buah dari cinta itu sendiri adalah mengikuti jalan yang dicinta.

“Selain itu, dengan kegiatan yang merger antar kampus ini, harapannya semakin besar sinergi antar kampus. Utamanya dalam hal keagamaan, kebaikan,” pungkas Mariya. (*)

Penulis  : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh




KPK Gandeng UNAIR Gelar Diskusi Tekan Angka Korupsi

UNAIR NEWS – Untuk bisa menduduki posisi jabatan tertentu, partai politik/walikota/presiden, atau calon pejabat lainnya harus mengeluarkan uang yang tak sedikit. Mulai dari pendaftaran, kampanye, dan proses-proses lainnya. Partai politik juga harus menjalankan kaderisasi, program kerja, dan kegiatan parpol yang mengeluarkan banyak uang.

Seseorang yang mau nyalon tanpa politik uang saja sudah keluar banyak uang. Sehingga, kebanyakan parpol di Indonesia memikirkan, pertama, bagaimana mereka terpilih kembali; dan kedua bagaimana mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Hal itu yang menjadi salah satu penyebab pejabat melakukan korupsi dalam menjalankan amanah jabatannya.

Oleh sebab itu, diperlukan manajemen dan sistem yang logis untuk mencegah terjadinya tindakan korupsi yang banyak dilakukan oleh pejabat-pejabat di Indonesia.

Membahas hal itu, Komisi Pemberantasan Korupsi menggandeng Universitas Airlangga menggelar diskusi publik pencegahan korupsi di sektor politik. Diskusi publik itu dilaksanakan di Aula Amerta Universitas Airlangga pada Kamis (13/12). Diskusi publik turut dihadiri oleh perwakilan Bawaslu, KPUD, dosen, partai politik, dan mahasiswa.

Diskusi publik itu mengundang pembicara antara lain Moch. Nurhasim S.IP., M.Si (peneliti utama di Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)), Prof. Kacung Marijan (FISIP UNAIR), Taufik Rachman, Ph.D, (FH UNAIR), Dr. Dwi Windyastuti (FISIP UNAIR), dan dimoderatori oleh Iqbal Felisiano., S.H., LL.M.

Giri Suprapdiono selaku direktur pendidikan dan pelayanan masyarakat KPK hadir memberikan sambutan. Ia mengatakan bahwa diperlukan apresiasi kepada pejabat publik dengan memberikan gaji yang logis sehingga mereka dapat menjaga integritas. Seperti di KPK misalnya.

“KPK tidak mau dijadikan sebagai PNS. Gaji penyidik KPK minimal 20juta. Sehingga kami terus berupaya untuk menjaga integritas dan profesional,” papar Giri Suprapdiono.

“Diperlukan manajemen yang logis terutama terkait masalah keuangan untuk mengelola parpol,” tambahnya.

Sementara itu Moch. Nurhasim mengatakan terdapat empat persoalan integritas partai politik. Keempat persoalan itu adalah ketiadaan standar etik partai, tantangan demokrasi internal, problematika pendanaan parpol, dan problematika kaderisasi & rekrutmen.

Saat ini, KPK, LIPI, dan sejumlah partai politik menyepakati adanya SIPP (Sistem Integritas Partai Politik). SIPP menjadi seperangkat kebijakan yang dibangun oleh parpol dan disepakati secara kolektif sebagai standar integritas yang harus dipatuhi oleh seluruh kader partai.

Dikatakan Nurhasim, SIPP mengamanatkan pelaksanaan sistem integritas yang dapat diinternalisasikan pada setiap partai politik.

“SIPP menjadi satu kesatuan kebijakan yang disepakati secara kolektif sebagai standar integritas oleh seluruh kader parpol dalam pelaksanaan fungsi pokok parpol,” terang Nurhasim.

Ada beberapa keuntungan pengaplikasian SIPP. Antara lain, menghasilkan calon pemimpin berintegritas, meminimalkan risiko korupsi politik dan penyalahgunaan kekuasaan, dan menghasilkan tata kelola keuangan yg transparan dan akuntabel.

Diskusi publik ini ditutup dengan pembacaan kesimpulan oleh moderator. Diskusi publik ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Anti Korupsi sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini mengambil tema politik. (*)

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Binti Q. Masruroh




Lembaran Baru Academic Health System, UNAIR Lakukan Evaluasi dan Perumusan Program

UNAIR NEWS –  Problematika yang mencuat saat ini bukan hanya datang dari negara berkembang melainkan dari negara maju. Dekade ini, negara berkembang memiliki masalah pada ketertinggalan pendidikan, pertumbuhan ekonomi tidak stabil, rendahnya sanitasi, serta tidak meratanya layanan kesehatan.

Sedangkan kini negara maju ikut diliputi kesenjangan akses perawatan yang tidak memuaskan. Sangat bertolakbelakang dengan biaya perawatan yang fantastis. Ditambah lagi, kontinuitas pelayanan tidak merata di seluruh lapisan masyarakat.

Kondisi itu menggerakkan Universitas Airlangga melakukan upaya transformasi bertajuk Academic Health System (AHS). AHS berfokus pada sistem organisasi, layanan perawatan, dan penerapan teknologi baru. AHS secara luas mengintegrasikan sistem pendidikan dan sistem kesehatan, sehingga dapat menelurkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas.

Sejalan dengan itu, UNAIR membentuk rencana strategis yang disusun dalam empat pilar, antara lain academic excellence, research excellence, community services excellence, dan university holding excellence.

Menjelang pergantian tahun, UNAIR menyelenggarakan Workshop bertajuk “Evaluasi Capaian AHS 2018 dan Perumusan Program Rencana Implementasi 2019” di Ruang 10 Nopember, lantai 3, Hotel Santika, pada Kamis (13/12).

Workshop itu akan di laksanakan selama 2 hari. Hari pertama bahasan dikhususkan pada pemaparan evaluasi capaian piloting AHS, refleksi implementasi AHS, diskusi rencana pengembangan AHS UNAIR tahun 2019, pemaparan dan perumusan strategi implementasi modul pembelajaran praktik kolaborasi interprofesi di pelayanan geriatri oleh tim IPE. Sementara hari kedua workshop akan membahas pengelolaan terpadu pasien geriatrik berbasis Patient-Centered Care.

“Proses ini melibatkan civitas akademika dalam bidang kedokteran dan kesehatan lain dengan institusi yang terkait seperti rumah sakit, puskesmas, dinkes, dan masyarakat,” papar Wakil Rektor IV, Junaidi Khotib, M. Kes, PhD, Apt dalam sesi materi workshop.

Junaidi Khotib berujar bahwa koordinasi fakultas (kelompok kesehatan di berbagai bidang) dengan pemerintah dan masyarakat akan menciptakan best community development dalam pelayanan kesehatan. Selain itu, tersedianya profiling komprehensif dalam kesehatan sangat bermanfaat bagi penetapan kebijakan dan upaya peningkatan kesejahteraan.

Tim Pokjanas Prof. dr. Irawan Yusuf, MD, Ph. D dan Dr. dr. H. Slamet Riyadi Yuwono, DTM & H, MARS. M.Kes juga memberi arahan terkait AHS, bahwa rancangan AHS mengharuskan pengembangan sebuah jaringan kuat melaui aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi dan melibatkan berbagai lembaga. AHS UNAIR harus berperan sebagai provider of last resort.

Selanjutnya, Ketua AHS Prof. Dr. dr. Soetojo, SpU (K) mengatakan UNAIR sebagai salah satu pilot project bersama universitas ternama, UNHAS, UI, UGM, dan UNPAD akan terus meningkatkan pelayanan mutu kesehatan di Indonesia.

“Keberhasilan AHS harus dibarengi dengan sistem koordinasi epik bersama para stakeholder,” pungkas Prof. Dr. dr. Soetojo. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




RS UNAIR Ajak Masyarakat Dukung ODHA

UNAIR NEWS – Bila mendengar kata Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), tentu tidak lepas dari stigma negatif masyarakat yang mendoktrin bahwa itu adalah penyakit aib. Belakangan ini, masalah HIV/AIDS tidak melulu persoalan medis namun juga masalah sosial. Tidak ada dukungan untuk penderita, respon masyarakat cenderung mengucilkan dan mencaci ODHA.

Karena tekanan sosial itulah banyak penderita terkesan menyembunyikan penyakit yang selama ini menyerang tubuhnya. Sedikit sekali pasien HIV/AIDS yang berani berterus terang.

Dilatar belakangi oleh permasalahan tersebut, juga bertepatan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember, RS UNAIR menggelar seminar bertema “Berani dan Sehat Menghadapi HIV/AIDS”. Seminar dilaksanakan di Aula Dharmawangsa Lantai 8 RS UNAIR pada Rabu (12/12).

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp. PD, K-PTI FINASIM selaku Direktur RS UNAIR menuturkan bahwa penderita HIV/AIDS tidak perlu gusar apalagi takut mendapat diskriminasi. Seseorang yang berisiko terinfeksi HIV/AIDS harus berani memeriksakan diri. Apalagi bagi penderita HIV/AIDS disarankan taat melakukan pengobatan.

Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Arumi Bachsin, istri Emil Elestianto Dardak (mantan Bupati Trenggalek, Wakil Gubernur Jatim terpilih tahun 2019) menuturkan bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Trenggalek menduduki peringkat 3 di Jawa Timur. Namun, akibat budaya timur yang sulit menerima sesuatu berbau seksualitas, banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri ke dokter.

“Saya sangat mengapresiasi seminar HIV/AIDS ini karena bisa membuka pikiran masyarakat tentang persepsi negatif HIV/AIDS yang tidak semuanya benar,” lanjutnya.

Di sela-sela acara dilakukan penandatangan kerjasama antar RS UNAIR dan PT. Nusantara Medika Utama. Sebagai mitra kerja, PT Nusantara Medika nantinya bakal memberi pelayanan kesehatan secara profesional.

Penandatangan kerjasama antar RS UNAIR dan PT. Nusantara Medika Utama. (Foto: Tunjung Senja Widuri)

Acara dilanjutkan dengan sesi materi yang disampaikan oleh dr. Daniek S., M.Kes selaku Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular di Dinas Kesehatan Surabaya dan dr., Tri Pudyasmarawati, Sp. PD selaku dosen Fakultas Kedokteran UNAIR.

Dalam kesempatan itu dr. Daniek menyampaikan materi pencegahan penyakit HIV/AIDS dan peminimalisiran meluasnya penyakit HIV/AIDS, utamanya pada usia produktif.

“Di Surabaya angka usia produktif mencapai angka 50 persen. Sehingga perlu pengawasan dan penanganan lebih intens,” tambah dr. Daniek.

Sesi materi diakhiri oleh dr., Tri Pudyasmarawati, Sp. PD dengan materi “Penatalaksanaan Sindroma Wasting pada infeksi HIV/AIDS”.  Ia menjelaskan bahwa Sindroma Wasting erat kaitannya dengan mortalitas. Sindroma Wasting merupakan kondidsi khas yang timbul pada AIDS berupa penurunan berat badan, demam, diare, kelemahan berkepanjangan. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




KETUA Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR Dr. Suko Widodo (tengah) dan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur Irjen. Pol. Drs. Lucky Hermawan saat berbincang dengan salah seorang peserta Dialog Kebangsaan Peran Generasi Milenial Dalam Menjaga dan Merawat NKRI pada Kamis (13/12) di Aula Mahameru Mapolda Jatim. (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR dan Polda Jatim Ajak Osis Se-Jatim Lawan Hoax

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga melalui Pusat Informasi dan Humas bekerja sama dengan Humas Polda (Kepolisian Daerah) Jawa Timur mengajak anggota OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) se-Jawa Timur turut menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan melawan hoax (berita bohong). Imbauan dan komitmen tersebut disuarakan dalam dalam kegiatan bertajuk Dialog Kebangsaan Peran Generasi Milenial Dalam Menjaga dan Merawat NKRI pada Kamis (13/12) di Aula Mahameru Mapolda Jatim.

Hadir dalam dialog kebangsaan tersebut pengurus OSIS SMA dan SMK dari 17 kota serta kabupaten se-Jawa Timur. Mulai Surabaya, Pasuruan, Madiun, Nganjuk, Kediri, sampai Probolinggo. Total peserta yang hadir mencapai 650 siswa-siswi.

Kegiatan berbalut pameran aktivitas kepolisian itu dipandu langsung oleh Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR Dr. Suko Widodo. Sebelum kegiatan dimulai, di luar ruangan, terdapat pameran dari Badan Reserse Kriminal (Bareskrim), Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam), Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam), polisi air (polair), Korps Lalu Lintas (Korlantas), dan Korps Brigade Mobil (Brimob).

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur Irjen. Pol. Drs. Lucky Hermawan dalam sambutannya menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki potensi yang besar terkait generasi muda usia SMA. Tepatnya saat ini, mereka tergolong dalam kategori generasi millennial.

”Yakni, generasi yang lahir pada kondisi sosial yang sudah sangat dekat dengan teknologi informasi. Saya mengakui bahwa kalian pasti lebih pandai menggunakan teknologi daripada saya. Banyak foto yang menjadi lebih bagus, cantik dan ganteng karena adanya sebuah aplikasi khusus,” ungkapnya.

Karena itu, Lucky mengimbau para generasi milenial, tepatnya remaja-remaja usia SMA, aktif pula dalam dunia nyata. Artinya, meski sangat dekat dengan interaksi dan komunikasi berbasis digital melalui media sosial, mereka tetap diharapkan memiliki sikap kepekaan terhadap lingkungan dan bangsa Indonesia. Khususnya menjaga keutuhan NKRI melalui perlawanan terhadap hoax.

”Persebaran informasi yang cepat di dalam media sosial membutuhkan verifikasi dan pengecekkan. Itulah yang perlu dilakukan para generasi muda. Tidak termakan isu tertentu,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr Suko dalam dialog kebangsaan tersebut mengundang sejumlah siswa perwakilan dari 17 kota dan kabupaten yang hadir untuk mengemukakan pendapatnya terkait dengan wujud cinta mereka terhadap NKRI. Ada yang mengungkapkan bahwa kecintaan remaja terhadap bangsa bisa diwujudkan dalam bentuk kedisiplinan dan belajar dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, ada pendapat yang lain bahwa kecintaan itu dapat diwujudkan dalam bentuk toleransi dan menghargai perbedaan dalam lingkup terdekat karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragam.

Pada akhir dialog, Seno Bagaskoro, salah seorang siswa SMAN 5 Surabaya, yang mewakili peserta mengajak segenap remaja untuk merealisasikan kecintaan terhadap bangsa secara nyata. Bukan hanya sekadar pada slogan-slogan cinta Indonesia.

”Banyak di antara kita belum begitu tahu secara jelas bagaimana mengekspresikan kecintaan kita terhadap bangsa Indoensia. Berteriak saja tidak cukup,” ungkapnya.

”Inilah saatnya kita mewujudkan kecintaan itu melalui keaktifan kita bersama dengan polisi, menjadi mitra polisi, menangkal isu-isu yang dapat merongrong keutuhan NKRI. Karena, kitalah, saya dan teman-teman yang lain, yang dekat dengan media sosial. Itulah yang bisa kita lakukan,” imbuhnya disambut tepuk tangan yang eriah dari para peserta yang lain.

SESI foto bersama peserta Dialog Kebangsaan Peran Generasi Milenial Dalam Menjaga dan Merawat NKRI bersama jajaran pimpinan Polda Jatim pada Kamis (13/12) di Halaman Mapolda Jatim. (Foto: Agus Irwanto)
SESI foto bersama peserta Dialog Kebangsaan Peran Generasi Milenial Dalam Menjaga dan Merawat NKRI bersama jajaran pimpinan Polda Jatim pada Kamis (13/12) di Halaman Mapolda Jatim. (Foto: Agus Irwanto)

Mengakhiri komitmen itu, Dr Suko mengajak sekaligus mengimbau para remaja untuk aktif bermedia sosial secara sehat dan positif. Khususnya sebagai bentuk kecintaan, kebanggan, dan turut menjaga NKRI. Sebab, para remaja begitu dekat dengan media sosial. Menjelang tahun politik, begitu banyak beredar postingan yang kurang konstruktif seperti SARA, intoleran, dan hoax. Karena itu, para remaja, terutama pengurus OSIS, dapat menjadi agen di lingkungan terdekat dalam menangkal berita bohong dan ujaran kebencian itu.

Perlu diketahui, pada akhir dialog, turut digelar deklarasi Ikrar Cinta Bangsa oleh para pengurus OSIS yang hadir. Di antaranya berisi soal komitmen para anak muda  Jawa Timur menjaga persaudaraan. Juga berpegang teguh pada ideologi Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Khususnya komitmen menjga keutuhan NKRI. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria




RS UNAIR Resmikan Layanan Kecantikan

UNAIR NEWS – Rumah Sakit Universitas Airlangga meresmikan layanan baru Airlangga Aesthetic Center pada Rabu (12/12). Peresmian Airlangga Aesthetic Center ini menjadi salah satu bentuk pelayanan untuk masyarakat berkaitan dengan estetika atau kecantikan. Airlangga Aesthetic Center diresmikan langsung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Sarana dan Prasarana, Ir. Sofwan Effendy MBA.

Airlangga Aesthetic Center dibuka di selasar Lantai 1 RS UNAIR, Kampus C UNAIR. Pembukaan Airlangga Aesthetic Center ini menjadi bagian dari pelayanan RS UNAIR yang aman dan ilmiah karena alat-alat yang digunakan sudah terdaftar BPOM.

Direktur RSUA Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp. PD, K-PTI FINASIM menyatakan RSUA memiliki visi menjadi rumah sakit pendidikan terkemuka di tingkat nasional dan internasional dalam pemberian paripurna, pendidikan, dan penelitian di bidang kesehatan.

RS UNAIR tercatat sebagai RS PTN yang mencetak sejarah sebagai pelopor pendiri Aesthetic Center pertama di Indonesia. Setelah sebelumnya hanya rumah sakit swasta yang membuka pelayanan di bidang kecantikan.

“Diresmikannya Airlangga Aesthetic Center ini adalah bagian dari upaya memberikan pelayanan prima untuk masyarakat, utamanya berkaitan dengan kecantikan dan kesehatan,” ujar Prof Nasron.

Dalam kesempatan itu, Arumi Bachsin turut diundang ikut meresmikan Airlangga Aesthetic Center. Istri Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih sekaligus ketua PKK Jawa Timur ini menjadi ikon kecantikan di wilayah Jawa Timur. Dalam sambutannya, Arumi menyatakan perasaan bangganya dapat diundang di acara ini.

“Dewasa ini, masyarakat mulai dari kalangan muda hingga dewasa sudah mulai perhatian dengan kecantikan diri sendiri. Sehingga, diresmikannya Airlangga Aesthetic Center akan berbuah baik bila RS UNAIR mengambil keputusan menekuni bidang kecantikan dan perawatan,” paparnya.

Di akhir acara dilakukan kunjungan lapangan di unit Airlangga Aesthetic Center, meliputi Dental Aesthetic, Varises Clinic, dan Stem Cell.

Dental Aesthetic nantinya melayani pasien bila memiliki masalah kecantikan gigi. Misalnya gigi kurang rapi atau renggang dapat dirapikan, juga melayani pemasangan gigi kelinci.

Varises Clinic melayani pasien yang menderita penyakit varises. Gejala varises sendiri ialah membesarnya pembuluh darah di wilayah kaki, sehingga hal itu bisa mengurangi estetika tubuh pasien.

Sementara Stem Cell lebih berperan dalam perbaikan jaringan yang mati atau terluka. Bila dikaitkan dengan kecantikan, Stem Cell mampu meregenerasi kulit yang telah menua digantikan dengan sel kulit baru (sel punca), membuat kulit tampak lebih muda.

Usai peresmian Airlangga Aesthetic Center, acara dilanjutkan dengan seminar Hari AIDS Sedunia dengan tema Berani dan Sehat Menghadapi HIV/AIDS. Seminar Peringatan Hari AIDS Sedunia berlangsung di Aula Dharmawangsa Lantai 8 RS UNAIR pada hari yang sama. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




REKTOR UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih SE., M.T., Ak., CMA., (dua dari kanan) hadir sebagai Co-Chair dalam Rapat JWG (Joint Working Group) Sister State Australia Barat-Jawa Timur di Perth pada Senin (10/12). (Foto: Istimewa)

Rektor UNAIR Jadi Co-Chair Rapat Kerja Sama Australia Barat-Jawa Timur

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga terus mendorong kolaborasi dan kerja sama lintas negara dengan universitas-universitas terbaik, juga pihak pemerintah, di dunia. Baik dengan kawasan, Asia, Eropa, Timur Tengah, maupun kawasan Australia. Salah satunya disepakati UNAIR bersama pemerintah Jawa Timur dengan Australia Barat pada awal Desember 2018.

Dalam rangka wujud implementasi kerja sama Sister State antara Pemerintah Australia Barat dan Provinsi Jawa Timur, Delegasi Universitas Airlangga dan Provinsi Jawa Timur melaksanakan rapat strategi dengan delegasi Pemerintah Australia Barat pada Senin, 10 Desember 2018. Kerja sama yang disepakati itu bertajuk Western Australia East Java Universities Consortium (WAEJUC).

Kerja sama yang terjalin tersebut melibatkan 10 PTN (perguruan tinggi negeri) di Jawa Timur dengan 5 universitas di Australia Barat. Universitas dari Australia Barat itu meliputi University of Western Australia, Murdoch University, Edith Cowan University, Curtin University, dan Notredame University.

Pertemuan yang dilaksanakan di Perth itu dibuka oleh Direktur Eksekutif Departemen JTSI (Jobs, Tourism, Science, & Innovation), Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Perth, Australia. Sementara itu, Universitas Airlangga hadir dalam pertemuan tersebut sebagai co-chair yang mewakili 10 PTN di Jawa Timur. Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih SE., M.T., Ak., CMA., hadir langsung dalam pertemuan tersebut.

Terkait dengan pertemuan itu, Prof Nasih menyampaikan bahwa partisipasi Universitas Airlangga dalam rapat strategi tersebut berfokus pada kerja sama di bidang riset, pengembangan sumber daya manusia, dan kesejahteraan sosial. Pembahasan mengenai pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkait pendidikan tinggi turut disampaikan oleh rektor Universitas Airlangga.

”Universitas Airlangga terus mendorong upaya kerja sama dan kolaborasi dengan semua pihak sebagai upaya bersama-sama mengembangkan sumber daya manusia melalui penyediaan pendidikan tinggi yang baik. Terutama dengan pengembangan bidang riset,” ujarnya.

RAPAT strategi dengan delegasi Pemerintah Australia Barat pada Senin (10/12) yang bertajuk Western Australia East Java Universities Consortium (WAEJUC). (Foto: Istimewa)
RAPAT strategi dengan delegasi Pemerintah Australia Barat pada Senin (10/12) yang bertajuk Western Australia East Java Universities Consortium (WAEJUC). (Foto: Istimewa)

Perlu diketahui, di samping itu, ada pula pembahasan mengenai pendidikan inklusif yang disampaikan oleh kepala Divisi Jejaring Global dan Komunikasi, Airlangga Global Engagement. Sedangkan, pembahasan mengenai kesejahteraan sosial memusatkan pada pembaharuan kontrak antara Autism Association of Western Australia dengan beberapa pihak dari Kota Surabaya. Termasuk di dalamnya adalah Universitas Airlangga pada tahun 2019.

Upaya semacam itu bakal terus didorong UNAIR. Mengingat, UNAIR sebagai world class university yang tengah menarget capaian masuk jajaran 500 top world class university pada 2020. Selain itu, UNAIR sebagai salah satu kampus terbaik Indonesia memiliki amanah mewujudkan kualitas pendidikan yang setara dan mampu berkiprah di kancah dunia. (*)

 

Penulis: Mustagfiroh Yusuf/ Feri Fenoria




Iman Prihandono, Ph.D menjadi pembicara pada Workshop Advokasi Bisnis dan HAM di Jakarta. (Foto: Istimewa)

Menyoal Pelanggaran HAM oleh Korporasi dalam Workshop Advokasi Bisnis dan HAM

UNAIR NEWS – Dua organisasi masyarakat sipil yang mendorong penghormatan hukum dan HAM di Indonesia, Tifa Foundation dan Elsam (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat), baru saja mengadakan Workshop Advokasi Bisnis dan HAM pada Jumat (6/11) dan Sabtu (7/11). Acara yang diselenggarakan di Hotel Ashley Jakarta tersebut mengundang Ketua Departemen Hukum Internasional Fakultas Hukum UNAIR, Iman Prihandono, Ph.D, sebagai narasumber. Selain Iman, hadir pula Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik serta perwakilan dari Direktorat HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya menyusun strategi advokasi oleh kelompok masyarakat sipil di Indonesia dalam isu bisnis dan HAM.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 2011, Dewan HAM PBB telah menyetujui resolusi Panduan PBB tentang Bisnis dan HAM (United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights/UNGPs). Panduan ini memberikan pedoman bagaimana pelanggaran HAM dalam kegiatan usaha korporasi dapat dikurangi dan dihindari. UNGPs mendorong pelaksanaan tiga pilar yaitu, protect, respect, dan remedy. UNGPs telah banyak memberikan pedoman bagi penyusunan legislasi oleh negara, misalnya Dodd Frank Act di Amerika Serikat; Modern Slavery Act di Inggris, dan Undang-Undang Duty of Care di Perancis. Semua aturan ini mewajibkan pelaporan dan audit HAM oleh perusahaan untuk mencegah pelanggaran HAM di operasi usahanya.

Namun pada saat yang sama beberapa negara berkembang termasuk Indonesia, mendukung penyusunan perjanjian internasional yang mengikat untuk memastikan korban pelanggaran HAM oleh korporasi mendapatkan pemulihan yang efektif. Pada Juni 2018, Ekuador sebagai ketua kelompok kerja penyusunan, mengeluarkan Rancangan Instrumen Mengikat Bisnis dan HAM. Keluarnya rancangan ini rupanya dapat mengubah strategi advokasi HAM dalam kegiatan usaha korporasi.

Menurut Iman, belum diakuinya korporasi sebagai subyek dalam hukum internasional membuat korporasi tunduk pada hukum nasional. Saat ini belum ada instrumen hukum HAM internasional yang memberikan kewajiban langsung kepada korporasi untuk menghormati HAM.

“Karena tidak dimilikinya international legal personality oleh korporasi, maka penghormatan HAM oleh bisnis dilakukan melalui tiga cara. Pertama, instrumen sukarela yang dibentuk oleh korporasi. kedua, instrumen semi-mengikat yang dibuat oleh negara atau organisasi internasional. Ketiga, hukum nasional masing-masing negara,” sebutnya.

Lahirnya rancangan instrumen mengikat (Legally Binding Instrument/LBI) dapat memberikan harapan yang baik bagi korban dalam mendapatkan akses kepada keadilan.

“Meskipun LBI tidak memberikan legal personality kepada korporasi, namun LBI memastikan pengadilan di negara asal korporasi dan pengadilan negara di mana korporasi menjalankan bisnisnya untuk memiliki yurisdiksi memeriksa perkara pelanggaran HAM oleh korporasi,” jelas Iman.

Sementara itu, Ahmad Taufan Damanik, menekankan bahwa korporasi akan terus menjadi aktor non-negara yang paling banyak dilaporkan sebagai pelanggar HAM. Oleh karena itu strategi advokasi perlu dilakukan melalui berbagai mekanisme, baik pengadilan, mediasi maupun cara lainnya yang tersedia.

Perwakilan Direktorat HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan, saat ini Indonesia turut terlibat aktif dalam penyusunan LBI. Di kawasan ASEAN, Indonesia bersama dengan Malaysia ikut dalam perundingan-perundingan isu bisnis dan HAM. Sebab, keduanya memiliki kesamaan dalam isu HAM oleh bisnis. Diantaranya, buruh migran, perdagangan orang, perbudakan, dan kelapa sawit.

Sebagai penutup, Iman menambahkan bahwa UNGPs dan LBI tidak perlu dibenturkan satu sama lain. Keduanya menyediakan jalan bagi penghormatan HAM dalam usaha bisnis oleh korporasi.

“Semua pihak, termasuk pemerintah, kelompok masyarakat sipil, pelaku bisnis, masyarakat terdampak dan akademisi harus duduk bersama memastikan pengormatan HAM oleh korporasi,” tuturnya.

 

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Nuri Hermawan