Perkuat Silaturahmi dengan Halal bi Halal

UNAIR NEWS – Sebagai umat manusia, salah dalam laku serta tutur kata menjadi hal yang lumrah. Terlebih, sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia yang lain. Dalam kodrat inilah, perlunya saling membuka pintu maaf agar bisa terus menjaga keharmonisan dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Untuk itulah, Universitas Airlangga melangsungkan Halal bi Halal bersama Keluarga Besar Civitas Akademika UNAIR pada Jumat (22/6). Bertempat di hall lantai 1 Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, dalam kesempatan tersebut, ketua senat akademik, rektor beserta jajaran pimpinan di lingkungan kantor manajemen berdiri berjajar menyambut seluruh civitas UNAIR yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan beberapa mitra kerja untuk saling memberikan maaf.

Sebelum melangsungkan kegiatan yang sudah rutin dilakasanakan setiap bulan Syawal itu, Rektor UNAIR Prof. Nasih memberikan sambutan singkat. Dalam paparannya, Prof. Nasih mengatakan bahwa dalam menyambut nikmat Idul Fitri 1439 H, atas nama seluruh pimpinan UNAIR, rektor mengucapkan selamat Idul Fitri.

“Semoga Allah menerima segala amal baik yang sudah dilakukan selama bulan puasa. Dan semoga Allah memberikan kekuatan dan kesehatan selama satu tahun ke depan,” ungkap Prof. Nasih

Selanjutnya, Guru Besar FEB UNAIR itu juga mengatakan bahwa dengan berbekal takwa yang sudah dibina selama menjalankan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, sudah selayaknya setiap pribadi akan menjadi insan yang lebih baik dalam mengarungi kehdiupan ke depan.

Tidak hanya itu, Prof. Nasih juga mengajak seluruh civitas yang sudah bersiap melakukan Halal bi Halal untuk senantiasa bersama-sama membangun almamater tercinta lebih baik.

“Mari kita bersama membangun UNAIR dengan lebih baik lagi ke depannya. Mohon doa dan dukungannya,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




Sweetlips, Penyelamat Bibir Pecah-pecah dari Ekstrak Rumput Laut dan Daun Mint

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga berhasil membuat  inovasi Lipbalm, yaitu pelembab bibir alami yang terbuat dari ekstraksi rumput laut coklat (Sargaasum sp.) dan daun mint (Mentha sp.) yang efektif menyehatkan bibir. Inovasi ini berhasil lolos penilaian Kemenristekdikti, sehingga memperoleh hibah penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2018.

Lima mahasiswa FPK UNAIR tersebut adalah Vivy Hanum Melati sebagai Ketua, dengan anggota Nadya Sindy Anita, Zakiyatussany, Raditya Nanda Wardana, dan Tito Adam Lukmantoro. Mereka menyusun laporan Program Kreativitas Mahasiswa bidan Kewirausahaan (PKMK) ini dengan judul “SWEETLIPS, Inovasi Pelembab Bibir Alami dari Ekstraksi Rumput Laut Coklat (Sargaasum sp.) dan Daun Mint (Mentha sp.) yang Efektif Menyehatkan Bibir.

”Ide tim kami itu berangkat dari pengalaman pribadi,” kata Vivy Hanum Melati, ketua Tim PKMK ketika menjelaskan inovasinya.

Bibir merupakan bagian wajah dengan struktur kulit yang berbeda dari tubuh lainnya, dan karena tidak memiliki kelenjar minyak dan keringat serta stratum korneum-nya sangat tipis, sehingga menyebabkan bibir menjadi lebih mudah kering dan pecah-pecah. Semisal dengan berpuasa dan lebih dari 12 jam tubuh tidak menerima asupan cairan, hal itu dapat mengakibatkan dehidrasi dan berpengaruh pada kelembaban kulit bibir.

Kelembaban bibir semakin diperparah dengan kebiasaan menjilat bibir. Alasannya, air ludah itu mengikat kelembaban bibir, sehingga ketika air ludah menguap maka bibir akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Tentu saja, bagi seseorang yang memiliki mobilitas tinggi dan banyak bertemu orang lain, kondisi tersebut dirasa tidak nyaman dan bisa menggangu penampilan.

”Melihat kondisi demikian itulah kami membuat kreasi pelembab bibir dengan bahan alami dari ekstraksi rumput laut coklat dan daun mint. Karena saat ini konsumsi masyarakat terhadap produk kecantikan berbahan alami, banyak diminati, atau back to nature. Salah satu produk kecantikan yang paling banyak diminati adalah lip balm,” katanya.

Produk lip balm diyakini sebagai alternatif dalam mengatasi permasalahan bibir kering dan pecah-pecah yang dialami sebagian besar remaja. Untuk itu Vivy Dkk memberikan solusi dalam menangani masalah ini dengan produk Sweetlips.

Ditambahkan oleh Nadya Sindy Anita,  sweetlips merupakan lipbalm yang dapat memberikan efek melembabkan dan memperbaiki bibir kering dan pecah-pecah. Hal itu tercapai karena kandungan flavonoid yang sangat kuat pada rumput laut coklat serta vitamin yang tinggi pada daun mint.

Tim PKMK UNAIR ini mengemas Sweetlips dengan kemasan cantik pada botol kecil ukuran 5 gram dengan empat varian aroma yang menyegarkan, yaitu aroma Rose, Red Apple, Green Apple, dan Black Cocoa. Produk ini juga dilengkapi dengan daun mint yang berfungsi menimbulkan sensasi dingin dan menyegarkan pada bibir.

Sweetlips sudah dikenalkan ke masyarakat. Sehingga dalam dua bulan terakhir ini banyak masyarakat sudah menjadi konsumen Sweetlips, baik itu mahasiswa, pelajar SMP/SMA dan masyarakat umum. Penjualan produk ini bahkan sudah merambah banyak daerah di Nusantara, yakni di Surabaya, Gresik, Malang, Blitar, Magetan, Madiun, NTT, Medan, Semarang, hingga Kalimantan.

”Kami sedang berupaya untuk menjalin mitra bisnis dengan toko kecantikan dan memperluas pemasarannya,” tambah Raditya Nanda, anggota Tim PKMK ini.

Vina Agustina, salah satu pengguna lipbalm Sweetlips memberikan testimoninya bahwa produk ini sangat bermanfaat bagi konsumen yang sering mengalami bibir kering dan pecah-pecah.

“Sweetlips memang recommended. Sekali pemakaian sudah ada perubahannya, bibir jadi lebih lembab. Varian romanya juga soft banget dan nyaman dipakai di bibir,” ujarnya. (*)

Editor : Bambang Bes




Mahasiswa UNAIR Inovasikan Kulit Ikan Nila Jadi Pengganti Tulang Rawan Buatan

UNAIR NEWS – Pengapuran sendi atau osteoarthritis masih menjadi momok bagi sebagian masyarakat Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyatakan bahwa 30% masyarakat Indonesia usia 40-60 tahun menderita osteoarthritis. Angka itu meningkat hingga 65% pada masyarakat dengan usia lebih dari 61 tahun.

Tingginya angka penderita gangguan pengapuran sendi itulah yang menginspirasi Ainun Najah, Hana Zahra Aisyah, dan Desi Darmawani, mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, bekerja keras menciptakan alternatif solusi dalam permasalahan tersebut.

Ainun Najah sebagai ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) UNAIR ini, menjelaskan bahwa osteoarthritis merupakan penyakit degeneratif yang disebabkan oleh penipisan tulang rawan.

”Selain karena usia, penyakit ini juga disebabkan oleh tingginya berat badan. Wanita juga memiliki resiko lebih untuk menderita osteoarthritis,” jelasnya.

Selama ini penanganan osteoarthritis dilakukan dengan fisioterapi dan dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Untuk kasus yang lebih parah, dibutuhkan operasi penggantian lutut.

“Solusi yang lebih minimally invasive adalah dengan membuat pengganti tulang rawan yang lebih mudah untuk dimasukkan ke bagian yang sakit. Contohnya dalam bentuk hidrogel, sehingga pengaplikasiannya bisa dilakukan dengan metode injeksi,” tambah Hana Zahra.

Untuk itulah, ketiga mahasiswa jurusan Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR yang tergabung dalam tim PKM-PE ini memanfaatkan kolagen yang terdapat pada kulit ikan nila sebagai salah satu bahan utama pembuatan tulang rawan artifisial berbentuk hidrogel.

”Kami memilih kulit ikan nila sebagai bahan utama karena bahan ini mudah diperoleh dan memiliki harga sangat terjangkau, sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diproduksi secara massal di Indonesia,” ujar tambah Desi Darmawani, anggota tim.

Dibawah bimbingan dosen Djony Izak Rudyardjo, M.Si., penelitian berjudul “Pemanfaatan Kulit Oreochromis niloticus sebagai Bahan Baku Hydrogel Kolagen/PVA untuk Aplikasi Cartilage pada Kasus Osteoarthritis” ini berhasil lolos dan memperoleh dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam PKM 2018. Tentu saja setelah melewati penilaian ketat.

“Kami ingin memberikan harapan bagi penderita osteoarthritis bahwa keterbatasan beraktivitas mereka tidak hanya dapat ditangani oleh pembedahan, namun produktivitas mereka dapat kembali dengan metode yang lebih sederhana dan ekonomis,” tambah Ainun Najah. (*)

Editor : Bambang Bes




Melestarikan Budaya Makan Tanah ’Ampo’, Warisan Leluhur yang Terlupakan

UNAIR NEWS – Mengangkat kembali budaya lama yang semakin dilupakan, yakni geofagi, yaitu  kebiasaan masyarakat dan atau hewan di pedesaan daerah tropis untuk makan tanah di Kabupaten Tuban, Jatim, menarik perhatian Kemenristekdikti untuk memberikan dana hibah penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 kepada tim terdiri tiga mahasiswa Universitas Airlangga.

Tim PKM Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) UNAIR itu adalah Hendra Setiawan (ketua), Calvin Nathan Wijaya, dan Lia Agustina Subagyo, dari Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. Mereka menyusun penelitian dengan judul ”Fenomena Unik Geofagi pada Masyarakat di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban”.

Dijelaskan oleh Hendra Setiawan, kebiasaan geofagi itu umumnya ditemukan pada masyarakat pedesaan di daerah tropis. Di Jawa Timur antara lain bisa ditemukan di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban. Disini, kebiasaan makan tanah yang disebut ampo itu dilakukan  oleh beberapa masyarakat.

Menurut masyarakat setempat, memakan tanah liat yang diolah menjadi ampo, memiliki efek membuat perut menjadi nyaman (rasa enak), dan biasanya wanita yang sedang hamil selalu mencari ampo untuk memenuhi hasrat nyidam-nya.

Dihimpun dari berbagai kisah di masyarakat setempat, awal mula kebiasaan makan ampo pada masyarakat Trowulan di Kab. Tuban ini karena keadaan yang sulit pada kolonial Belanda. Awalnya Tuban sebagai kota pelabuhan merupakan daerah yang sangat kaya. Disini menjadi salah satu jalur pedangangan yang penting pada masa itu. Pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa dan Tiongkok, datang di Tuban.

Penjajahan itu kemudian membawa Tuban menjadi daerah yang sangat sulit akibat sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Masyarakat menjadi hidup dalam garis kemiskinan, kesulitan pangan dan masalah kelaparan. Akhirnya perdagangan dikuasai oleh elit-elit asing, yang tidak jarang menerapkan harga barang sangat mahal, khususnya beras. Keadaan itu membuat masyarakat harus memutar otak dan mencari cara agar dapat bertahan hidup.

Alternatif itu adalah ampo. Ampo pada awalnya dibuat dari endapan lumpur dari air di tepi sungai Bengawan Solo. Endapan lumpur itu merupakan tanah aluvial yang berbahan lempung. Sehingga endapan lumpur halus itu ditunggu dauhulu hingga mengering untuk dapat dimakan.

Namun lambat laun masyarakat disini menemukan tiruan ampo yang dibuat dari endapan air tanah sawah dengan bahan dasar lempung di Desa Bektiharjo. Perbedaannya, tanah lempung yang sudah dikumpulkan itu diolah dahulu dengan cara diasapkan (dengan api).

Hingga saat ini di Tuban tinggal seorang saja produsen ampo yang masih aktif berproduksi, yaitu bernama Sarpik. Ia membuat ampo di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo. Sehari-hari ia membuat ampo dan menjualnya ke pasar.

Menurut Sarpik, ampo memiliki banyak kegunaan, yaitu bisa untuk obati sakit maag, melancarkan pencernaan, untuk wanita hamil yang sedang nyidam, untuk menghilangkan rasa pahit pada daun pepaya, dan untuk sekedar camilan sebagai teman minum kopi.

Selain dikonsumsi, ampo digunakan oleh masyarakat Tuban sebagai salah satu unsur dalam cok bakal yang biasa digunakan sebagai sesajen bagi leluhur dalam perayaan-perayaan tertentu. Ampo dimasukkan dalam salah satu unsur cok bakal  karena masyarakat Tuban percaya bahwa para leluhur dahulu juga suka makan ampo.

MBOK Sarpik menunjukkan bahan-bahan dan sebagian cara membuat ampo.(Foto: Dok PKM-PSH)

Proses Pembuatan Ampo

Cara membuat ampo itu diawali dengan menyiapkan berbagai alat dan bahan yang diperlukan. Peralatan itu antara lain ganden (pemukul), seseh (pengikis), obongan (tungku), hirik (tempat mengasapkan bahan ampo), glangsing (alas yang digunakan untuk membentuk ampo), arit (penggali tanah), jarik (tempat membawa tanah dari sawah). Bahan dasar ampo itu diambil dari tanah sawah hasil galian dengan kedalaman sekitar 20 cm menggunakan arit. Lalu tanah yang  didapat dimasukkan ke dalam jarik.

Tanah sawah tersebut kemudian digelar di sebuah glangsing. Tanah harus dalam kondisi lembab. Jadi bila tanah terlalu kering maka harus diberi air, dan jika terlalu basah harus dijemur. Tanah yang lembab itu kemudian dibentuk hingga berbentuk kotak dan dihaluskan dengan cara dipukul menggunakan ganden. Kemudian tanah yang sudah berbentuk kotak itu didiamkan minimal sehari dan dibungkus plastik agar kelembabannya terjaga.

Setelah didiamkan, tanah berbentuk kotak itu dikikis menggunakan seseh, sehingga berbentuk gulungan. Hasil tanah yang sudah dikikis itu kemudian dimasukkan dalam hirik untuk diasapkan diatas obongan. Pengasapan itu menggunakan api dari kayu bakar selama kurang lebih satu jam. Barulah ampo siap untuk digunakan, baik konsumsi maupun keperluan ritual.

Saat ini banyak generasi muda di Tuban yang sudah tidak mengenali ampo, karena kebiasaan lama ini sudah banyak ditinggalkan. Dalam bertahan hidup masyarakat tidak perlu lagi harus makan tanah (ampo), karena bahan pangan sudah kembali berlimpah. Namun, tentu sangat sayang apabila fenomena yang membudaya ini menjadi punah, sebab ampo sudah menjadi ciri khas bagi masyarakat Tuban, terutama Desa Bektiharjo. Sehingga sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Tuban memberikan perhatian lebih untuk melestarikan budaya tersebut agar tidak punah ditelan kemajuan. (*)

Editor : Bambang Bes




Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu Tentukan Nasib Jawa Timur

NEWS UNAIR – Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni nanti. Ini merupakan pemilihan kepala daerah ketiga bagi Jawa Timur dengan menggunakan sistem pemilihan langsung.

Terkait partisipasi dan pengawasan Pilgub nantinya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Pusat Studi Konstitusi dan Ketatapemerintahan Fakultas Hukum Universitas Airlangga beserta Asosiasi Alumni Program Beasiswa Amerika Indonesia (Alpha-I) Jawa Timur  menyelenggarakan seminar bertajuk “Partisipasi Masyarakat Dalam Mensukseskan Pelaksanaan dan Pengawasan Pada Pilgub Jawa Timur Tahun 2018”.

Bertempat di Aula Boedi Soesetijo (303) Gedung A FH UNAIR. Acara yang dilangsungkan pada awal Juni tersebut menghadirkan tiga narasumber dari masing-masing instansi. Ketiganya adalah Muhammad Arbayanto, S.H., M.H., (Divisi Teknis, KPU Provinsi Jawa Timur), Dr. Radian Salman, S.H., LL.M., (Peneliti Senior Pusat Studi Konstitusi dan Ketatapemerintahan FH UNAIR) dan M. Syaiful Aris, S.H., M.H., LL.M., (Koordinator Alpha-I Jawa Timur).

Seminar yang dipimpin oleh Dri Utari, S.H., LL.M., itu memberikan kesempatan pertama kepada Syaiful Aris untuk menyampaikan materi terkait Peran Masyarakat Mendorog Kualitas Pemilihan Kepala Daerah. Dalam paparannya, Aris Mengatakan bahwa potensi masalah terkait peran masyarakat adalah mengenai legitimasi, biaya tinggi, korupsi, potensi konflik, netralitas aparat, golput, dan penyelesaian sengketa.

“Berdasarkan UU. Nomor 8 Tahun 2015, pasal 157 ayat 3. Perkara perselisihan perolehan suara hasil pemelihan diperiksa dan diadili MK sampai dibentuknya badan peradilan khusus. Hingga saat ini badan tersebut belum ada, sehingga perkara masuknya di MK,” ujar Aris.

Lanjutnya, Aris mengatakan bahwa hal itu akan menambah beban MK. Sehingga dirinya memiliki usulan mengenai desain kelembagaan, yang mana Pengadilan khusus bersifat ad hock dibawah lingkungan peradilan umum dan dibentuk pada wilayah provinsi untuk tahap awalnya. Terkait pembentukannya, maka paling lama 6 bulan sebelum tahap pertama penyelenggaraan dan berakhir 1 tahun setelah tahapan pilkada selesai.

“Mengenai Hakimya nanti dapat terdiri dari hakim karier dan ad hock,” tandasnya.

Dalam proses pemilihan, imbuhnya, KPU tidak menyangkal bahwa akan faktor-faktor yang mempengaruhi tigkat partisipasi pemilih. Misalnya saja faktor teknis seperti individu berdomisili di wilayah A sedangkan Kartu Tanda Penduduknya di wilayah B. akan sulit bagi mereka untuk kembali ke daerahnya hanya untuk memilih.

Meski demikian, adanya seminar ini diharapkan agar para pemilih yang benar-benar siap dan dapat melakukan pemilihan guna menentukan potret Jawa Timur untuk lima tahun kedepan.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Nuri Hermawan




Kurangi Pencemaran, Limbah B3 ’Iron Slag’ Diolah Jadi Batu Bata Ramah Lingkungan

UNAIR NEWS – Di Indonesia, permasalahan pencemaran lingkungan seolah tak ada habisnya, terutama masalah pencemaran limbah beracun dan berbahaya (B3). Salah satu cara mengatasi pencemaran limbah B3 itu dengan konsep green technology menjadikan limbah B3 sebagai bahan baku batu bata tanpa pembakaran. Melalui berbagai pengujian, batu bata dari limbah B3 ini memiliki kualitas standar, murah, praktis, dan ramah lingkungan.

Demikian hasil penelitian tiga mahasiswa prodi Teknik Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, yaitu Sri Eka Dewi F. Sukarelawati, Vindi E. Fatikasari, dan Wildani Mahmudah. Laporan mereka dalam judul “Potensi Limbah B3 Iron Slag Sebagai Bahan Baku Batu Bata dengan Konsep Green Technology”, berhasil lolos seleksi dan memperoleh hibah penelitian Kemenristekdikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 untuk bidang penelitian eksakta (PKMPE).

Penelitian mahasiswa FST UNAIR itu dilakukan berangkat dari aksi long march warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto yang menyuarakan dugaan pencemaran limbah B3 oleh sebuah perusahaan pengolah limbah B3 yang dilapokan kepada gubernur Jawa Timur.

Menurut Sri Eka Dewi FS, ketua tim PKMPE UNAIR ini, limbah B3 merupakan zat sisa suatu usaha/kegiatan yang karena sifat, konsentrasi, dan jumlahnya, baik langsung dan tidak langsung dapat mencemarkan dan merusak lingkungan hidup. Jika tidak dilakukan pengolahan, limbah B3 dapat mengubah kualitas lingkungan. Pengolahan dimaksud adalah proses mengubah jenis, jumlah, dan karakteristik limbah menjadi tidak berbahaya dan tidak beracun.

Teknologi dalam penelitian Sri Eka Dewi Dkk ini adalah stabilisasi-solidifikasi, untuk mengurangi dan menghilangkan karakteristik limbah B3 agar tidak berbahaya. Salah satunya diolah menjadi batu bata yang pembuatannya tidak melalui pembakaran. Sebab pembakaran batu bata menggunakan kayu bakar atau batu bara juga menimbulkan masalah lingkungan tersendiri, yaitu polusi udara akibat timbulnya gas karbondioksida (CO2) yang tidak ramah lingkungan.

Selain polusi udara, pembuatan batu bata tanpa pembakaran dapat mengurangi biaya pembuatannya, tidak berketergantungan dengan cuacanamun menghasilkan produk dengan kualitas standar, murah, praktis dan ramah lingkungan.

Dengan konsep green technology tanpa pembakaran, sehingga dalam pembuatannya dengan penambahan kapur, semen, dan soil hardener powder. Bahan tambahan itu berfungsi untuk pemadatan bata dan mempercepat waktu pengeringan.

Dijelaskan Sri Eka Dewi, penelitian ini merupakan inovasi dari beberapa penelitian sebelumnya yang mengolah limbah B3 iron slag menjadi batako. Selain itu mengolah B3 iron slag menjadi batu bata merah karena pembuatannya lebih mudah dari pada jenis bata lainnya. Selain iron slag juga terdapat bahan sludge kertas sebagai perekat dalam pembuatan batu bata ini.

”Kami sudah melakukan pengujian kualitas atas hasil batu bata ini dengan serangkaian pengujian. Diantaranya uji pandangan luar, uji ukuran dan toleransi, uji kuat tekan, uji garam yang membahayakan, uji kerapatan semu, uji penyerapan air,  dan uji TCLP dengan variasi bahan yang digunakan yaitu campuran antara iron slag, sludge kertas dan bahan pemadat,” kata Sri Eka Dewi, mahasiswi angkatan 2014 ini.

Berdasarkan eksperimen dalam penelitian ini ditemukan tiga variasi terbaik dengan nilai kandungan logam berat Zn yang berbahaya. Setelah proses stabilisasi-solidifikasi ditemukan nilainya dibawah baku mutu berdasarkan ketetapan PP No.101 Tahun 2014.

”Jadi hal ini membuktikan bahwa hasil penelitian PKM-PE kami ini aman untuk dimanfaatkan secara internal oleh pihak penghasil limbah dan pihak pengolah limbah sebagai solusi pengurangan timbunan limbah di landfill,” kata Sri, bangga saat mengakhiri penjelasannya. (*)

Editor : Bambang Bes




Terapi TERROMANTIS Mampu Tingkatkan Motorik Anak Penyandang Autis

UNAIR NEWS – Penyandang autis, selama ini kebanyakan memiliki kekurangan dalam kemampuan motorik. Namun dengan melaksanakan program terapi motorik berwawasan lingkungan menggunakan terrarium dengan metode Leppy (Learn, Play, dan Happy), tim terdiri lima mahasiswa Universitas Airlangga sukses melatihkannya kepada anak autis dan mampu meningkatkan kemampuan memegang, menyusun, mengambil benda, dan meningkatkan konsentrasi yang lain.

”Bantuan kami dalam meningkatkan kemampuan motorik penyandang autis itu kami namankan TERROMANTIS yaitu “Terrarium Motorik Penyandang Autis”, kata Kartika Khoirun Mutmainah, ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) Universitas Airlangga ini.

Berkat keberhasilanya itu, penelitian tim yang beranggotakan Kartika Khoirun Mutmainah (ketua) dan anggota Tiara Prastiana Putri, Eva Rosdiana Dewi, Nokky Farra Fazria, dan Brilian Ratna Wati ini berhasil lolos untuk memperoleh pendanaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam program PKM 2018.

Ditambahkan oleh Kartika, program terapi motorik berwawasan lingkungan untuk anak penyandang autis dengan menggunakan terrarium dengan metode Leppy ini telah dipraktikkan oleh guru di Salsabila Special School (SSS) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sasarannya untuk melatih motorik anak penyandang autis.

”Tim kami sudah melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada guru-guru di SSS agar mereka dapat melatih siswanya yang anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolahnya,” tambah Kartika.

motorik anak
TIM mahasiswa PKMM UNAIR ketika menyosialisasikan program terapi TERROMANTIS kepada guru-guru sekolah berkebutuhan khusus. (Dok PKMM)

Dijelaskan, keunggulan dari program ini adalah selain mampu untuk meningkatkan kemampuan motorik bagi anak penyandang autis, juga dapat meningkatkan wawasan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sebab terrarium yang dibuat dari tumbuhan sukulen yang ditanam dalam wadah transparan ini memiliki manfaat untuk menyerap CO2 (carbon dioksida) di udara dan menghasilkan oksigen yang baik yang berguna untuk lingkungan.

Mengapa demikian? Tambah Kartika, karena sesungguhnya tanggungjawab terhadap lingkungan ini adalah kewajiban seluruh umat manusia. Hal ini juga merupakan cambuk bagi kita, sehingga bila penyandang autis mampu berkontribusi untuk lingkungannya, maka diharapkan semua orang juga dapat melakukan hal yang sama.

”Kami berharap program ini dapat menjadi variasi terapi motorik bagi anak penyandang autis yang dilaksanakan di sekolah berkebutuhan khusus yang manfaatnya dapat terus berlanjut,” imbuh Kartika Dkk berharap. (*)

Editor: Bambang Bes

 




Pemasangan Damar Kurung di Giri Kedaton, Angkat Budaya Lokal di Gresik

UNAIR NEWS – Pemasangan Damar Kurung di sekitar Gresik sebagai sebuah budaya lokal mulai banyak ditinggalkan generasi muda. Namun kehadiran lima mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) berhasil menumbuhkan kembali semangat pemuda Giri Kedaton, yaitu Karang Taruna “Sekar Kedaton” dan siswa-siswi MTs Ma’arif Sidomukti, kembali berkontribusi mengenalkan Situs Giri Kedaton dengan pemasangan damar kurung, sebentuk lampion khas Kabupaten Gresik.

Gebrakan tim PKMM mahasiswa UNAIR yang diketuai Muhammad Ainur Rofiq (FST) dengan anggota Ayu Ummi Maufiroh (FST), Ika Zulkafika Mahmudah (FKp), Muhamad Wahyu Hidayat (FISIP), dan Tia Eka Novianti (FKM) itu, yang dikemas dalam laporan berjudul “KERATON (Kultur Edukasi Giri Kedaton)” ini, berhasil lolos seleksi pendanaan Kemenristek Dikti dalam program PKM 2018.

Inovasi pemasangan kembali Damar Kurung di Situs Giri Kedaton ini juga mendapat bantuan dari founder Damar Kurung Institute, Novan Afandi, untuk menyelenggarakan workshop tentang budaya lokal Damar Kurung. Bahkan, Damar Kurung yang terpasang di Situs Giri Kedaton itu merupakan hasil karya pemuda Sekar Kedaton. Gambarnya menceritakan berbagai kisah kegiatan di bulan Ramadhan. Pemasangan Damar Kurung ini juga tidak lepas dari usaha keras para kader KERATON yakni Kartar Sekar Kedaton dan siswa MTs. Ma’arif Sidomukti yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Peduli Budaya.

“Mewakili Karang Taruna dan pihak MTs. Ma’arif Sidomukti saya sangat bersyukur dengan adanya program PKMM ini. Selain mengajarkan kembali kepada pemuda untuk mengenal sejarah dan budaya, juga mengasah kreatifitas pemuda dalam literasi dan karya seni,” kata Imam Fanani, ketua Kartar Sekar Kedaton yang juga guru di Mts. Ma’arif Sidomukti.

”Kami meresmikan pemasangan Damar Kurung itu pada Sabtu 2 Juni 2018 lalu, tepat pada malam ke-18 Ramadhan 1439-H, ditandai pemotongan pita oleh juru kunci Situs Giri Kedaton, Bapak Mukhtar, serta dihadiri Dosen Pembimbing kami, Ibu Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si,” kata M Ainur Rofiq, Ketua PKMM ini.

Damar Kurung itu dipasang di sepanjang anak tangga jalan menuju Situs Giri Kedaton. Keindahan Damar Kurung di malam hari dari atas bukit menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan wisatawan.

”Alhasil dengan pemasangan itu berhasil menjadikan Situs Giri Kedaton yang biasanya sepi, kini menjadi ramai pengunjung, terutama pada sore hingga malam hari dan Damar Kurung bisa dinikmati keindahannya,” tambah M Ainur Rofiq.

damar kurung
USAI peremian pemasangan Damar Kurung, antara mahasiswa UNAIR dan Kelompok Perduli Budaya di Gresik berfoto bersama dengan Juru Kunci Situs, Mukhtar (tengah). (foto: Dok PKMM)

Menurut Rofiq, berdasarkan hasil diskusi dengan kelompok peduli budaya di Gresik, pemasangan Damar Kurung selain selama bulan Ramadhan juga pada malam-malam tertentu untuk menumbuhkan ciri khas Damar Kurung sebagai daya tarik wisata sejarah.

“Dengan adanya Damar Kurung ini diharapkan dapat menarik pengunjung untuk datang ke Situs Giri Kedaton. Setelah Damar Kurung ini, akan ada launching buku yang berisi cerita dan informasi, buku itu karya Pemuda Kedaton serta display foto dan keterangan yang menjelaskan Situs Giri Kedaton,” tambah Ika, anggota Tim PKMM.

“Harapan kami, masyarakat yang datang kesini bukan hanya rekreasi dan untuk foto, tetapi juga dapat belajar tentang sejarah dan budaya,” kata Ika.

Disela peresmian juga dilanjutkan pemutaran video tembang dolanan peninggalan Sunan Giri dan dolanan tempo doloe yang dilantunkan oleh H. Oemar Zainuddin, seorang budayawan Gresik. Diantara tembang dalam video itu adalah Barisan Terikan Tempe, Duh Sangang Sasi, Arek Cilik Diulang Ngaji, dll.

“Sebagai orang tua, saya berharap masih ada pemuda yang peduli terhadap budaya yang ada, bahkan agar tetap berkembang dan tidak punah. Orang asing saja mau mempelajari budaya kita, jangan sampai kita pemiliknya malah lalai,” kata budayawan yang akrab disapa Pak Noot itu.

Dalam sesi permainan dolanan tempo doloe itu diajarkan oleh pemuda Giri Kedaton kepada anak-anak pengunjung yang mulai ramai berdatangan hingga tengah malam. Dolanan yang dimainkan antara lain Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran yang dulu pernah diajarkan oleh Sunan Giri. (*)

Editor : Bambang Bes

 




Gathering Alumni UNAIR Bersama Kemenlu dan Kemenpar

UNAIR NEWS – Untuk mensinergikan alumni dan universitas dalam mewujudkan 500 perguruan tinggi terbaik dunia, alumni UNAIR mengadakan acara temu alumni. Acara yang disertai dengan buka bersama tersebut dilaksanakan pada Kamis, (31/6), di Restoran ala Ritus, Jalan Pos Nomor 2 Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Sebanyak 32 alumni UNAIR hadir dalam acara tersebut. Turut hadir pula Desra Percaya yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Selain itu, hadir pula Nia Niscaya, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Serta, alumni UNAIR baik angkatan muda maupun angkatan tua.

Dalam kesempatan itu Desra menyambut baik acara temu alumni yang berguna menyambung silaturahim antar alumni. Desra juga mengharapkan bahwa acara tersebut tidak berakhir sampai saat itu saja. “Saya berharap acara ini terlaksana tidak hanya sekali ini saja,” tambahnya.

Di samping itu, Desra juga meminta alumni yang saat ini menjabat sebagai staf di Kemenlu untuk bersedia kembali ke kampus. Hal itu dimaksudkan agar para staf dapat memberikan kuliah kepada mahasiswa di UNAIR terutama bagi mahasiswa jenjang S-3.

“Saya juga meminta staf di Kemenlu untuk bersedia kembali ke kampus guna memberikan kuliah kepada mahasiswa di sana, terlebih yang sudah S3,” tambahnya.

Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2012 itu juga memberikan arahan-arahan kepada alumni muda di Kemenlu untuk bisa berprestasi. Sehubungan dengan World Class University (WCU), Desra akan memberikan data alumni yang sedang bertugas di luar negeri untuk meningkatkan nilai employ reputation.

Selain itu, kurang lebih sama dengan Desra, Nia yang juga merupakan kakak dari Desra mendukung penuh UNAIR untuk masuk 500 besar perguruan tinggi dunia dunia. Nia mengatakan bahwa bersama rekannya Nia siap untuk kembali ke kampus dan memberikan kuliah.

“Saya mendukung penuh UNAIR masuk 500 WCU. Dan saya bersama teman-teman alumni di Kemenpar siap kembali ke kampus untuk memberikan kuliah bagi mahasiswa UNAIR,” jelasnya.

Acara yang berlangsung santai dan guyub tersebut berjalan lancar. Banyak yang sudah merindukan keberlangsungan acara tersebut. Para alumni yang hadir juga berharap acara itu tidak hanya berlangsung sekali saja. Yang mana bisa mempertemukan antara alumni muda dan alumni senior untuk bersilaturahim dan saling berbagi. (*)

Penulis : M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




Pameran Foto Tingkatkan Kepekaan Mahasiswa

UNAIR NEWS  – Mahasiswa Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga menyelenggarakan pameran foto dengan tema ‘Potret pembangunan dan modernisasi Kota Surabaya’.

Sempat terjadi pergantian rencana pada pameran foto ini. Mulanya untuk memperingat Hari Kebangkitan Nasional dan HUT Surabaya ke-725 bersamaan dengan pemerintah kota. Namun urung dilakukan karena sempat terjadi teror bom beberapa waktu yang lalu.

“Akhirnya keputusan dari segenap pihak, pameran tetap dilaksanakan di kampus. Tentu dengan semangat keberanian agar tidak larut dalam ketakutan akibat tragedi teror,” terang Treesya Hulontawa Melahuma, asisten penanggung jawab mata kuliah Antropologi Pembangunan yang diampu Dr., Dra., Pinky Saptandari MA.

Pameran yang dibuka oleh Dekan FISIP, Dr., Drs., Falih Suaedi M.Si bertempat di Gedung A FISIP, Kampus B UNAIR. Berlangsung selama 2 hari, (30-31/05), pameran foto ini bertujuan meningkatkan kepekaan terhadap fenomena pembangunan kota Surabaya.

“Kepekaan itu penting. Tapi dari kegiatan ini daya kreatifitas mahasiswa dalam penyelenggaraan pameran dan penyajian foto-foto yang menarik juga dilatih dan diuji,” tambah Treesya.

Pameran yang di dalamnya juga terdapat perlombaan itu memberi kesempatan minimal 5 foto tiap kelompok. Penataan foto dapat dikreasikan oleh mereka. Perlombaan foto ini mengambil juara 1, 2, dan 3 yang dipilih oleh dewan juri, yaitu Pinky Saptandari, Drs., Pujdio Santoso, M.Sosio, dan Cacha  (fotografer profesional). Selain 3 juara itu, ada juara favorit yang dilihat dari suara terbanyak (voting) dari pengunjung.

Dalam proses penganugerahan, seluruh piagam juara diserahkan oleh Wakil Dekan 1 FISIP Prof. Dr., Drs., Budi Prasetyo M.Si. Serta, seluruh hadiah diberikan oleh Pinky sebagai PJMK sekaligus juri.

Usai penyerahan hadiah oleh Wakil Dekan 1 FISIP Budi Prasetyo (tiga dari kiri) dan PJMK Antropologi Pembangunan Pinky Saptandari (tiga dari kanan) kepada para juara. (Dok. Pribadi)

Dari kegiatan ini, harap Treesya, setiap pengunjung dapat melihat dan mengartikan tiap foto. Untuk mahasiswa Antropologi, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menjelaskan fenomena lewat gambar.

“Harapan saya, kegiatan in dapat dijadikan contoh bagi program studi lain di FISIP. Karena hal semacam ini merupakan penggabungan metode belajar di kelas dengan outdoor learning. Dan ke depan, pameran seperti ini akan diadakan sebagai peringatan Dies natalis FISIP dengan tema yang tematik,” ungkap Falih. (*)

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh