Kunjungi FKM UNAIR, Mahasiswa MSU Malaysia Belajar Kasus Tuberculosis di Indonesia dan Meriahkan Cultural Performance

UNAIR NEWS – International Medical School, Management and Science University (MSU) kunjungi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Senin (16/4/2019). Kegiatan student visit tersebut dilakukan untuk mengisi kerjasama antara kedua belah universitas yang telah berjalan sejak tahun 2018. Setidaknya, terdapat dua puluh dua mahasiswa MSU yang datang ditemani oleh dua dosen pendamping.

Pada kunjungan tersebut, secara spesifik delegasi dari MSU belajar terkait dengan Pulmonary Tuberculosis to END TB : Case Study in Indonesia bersama dr. M. Atoillah Isfandiari, M.Kes, dosen FKM UNAIR. Sementara Dr. Nur Ezza Fazleen Mohd Fathil, dosen pendamping dari MSU berkesempatan untuk memberikan kuliah dengan topik yang sama mengambil studi kasus di Malaysia kepada mahasiswa FKM UNAIR semester empat. Topik tersebut diambil berkenaan dengan diperingatinya Hari Tuberculosis Sedunia pada (24/3/2019) lalu.

Puncak kegiatan itu diisi dengan cultural performance dimana kedua belah pihak saling menampilkan kebudayan masing-masing. Beberapa delegasi dari MSU menampilkan dua tarian dan ditutup dengan flash mob. Sementara perwakilan dari FKM UNAIR menampilkan seni pencak silat dan tarian Sparkling Surabaya.

Dr. dr. Santi Martini, M.Kes, Wakil Dekan I FKM UNAIR menjelaskan bahwa kerjasama antara kedua universitas sudah terjadi sejak tahun 2018. Pada tahun kedua ini, beberapa kegiatan untuk mengisi kerjasama tersebut ialah student visit dan pertukaran pelajar.

“Terdapat 15 mahasiswa MSU akan datang kembali kesini sekitar bulan Juli atau Agustus. Dan kami juga akan mengirimkan sekitar 15 mahasiswa untuk belajar disana (MSU, red) juga,” jelas Dr. Santi.

Selain kegiatan akademik, untuk mengisi kerjasama antar kedua universitas, Dr. Santi berharap untuk bisa melakukan join riset dengan MSU. Dan jika memungkinkan, kerjasama tersebut bisa mencapai join supervision atau bahkan double degree.

“Semoga dengan kegiatan ini semakin menari minat mahasiswa kita untuk belajar di MSU dan sebaliknya. Juga harapannya, kegiatan yang sifatnya internasional ini bisa lebih banyak lagi diadakan di UNAIR khususnya di FKM UNAIR untuk mendukungn 500 WCU UNAIR,” tambahnya. (*)

 

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Khefti Al Mawalia




REKTOR UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., saat menyampaikan progress terbaru program WCU di Ruang 301, Lantai 3, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, pada Kamis (18/4/2019). (Foto: Agus Irwanto)

Diskusi dengan Pimpinan, UNAIR dan Kemristek Dikti Bahas Program WCU

UNAIR NEWS – Menjelang pengumuman terbaru QS ranking dipublikasikan pada 31 Mei, Universitas Airlangga bersama Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemristek Dikti) melakukan sinergisitas dan progress monitoring program World Class University (WCU) pada Kamis (18/4/2019). Bertajuk Presentasi WCU 2019 dan Diskusi dengan Pimpinan Univesitas Airlangga tentang Leadership Commitment Program WCU, pertemuan itu digelar di Ruang 301, Lantai 3, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR.

Hadir seluruh jajaran pimpinan UNAIR bersama dengan lima perwakilan Kemristek Dikti. Yakni, Prof. Hermawan K. Dipojono; Prof Dr. dr. Idrus Paturusi; Nining Setyawati, Kasubdit Penilaian Kinerja Kemristek Dikti); Dwi Warni Untiawati; dan Rizqi Arif Wicaksono.

Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., dalam paparan pembukanya menyampaikan sejumlah progress terbaru program WCU. Seluruh dekan UNAIR beserta jajaran sivitas di tingkat fakultas, lanjut Prof Nasih, berkomitmen penuh terhadap program WCU.

Karena itu, upaya-upaya berupa kebijakan akademik maupun non-akademik di tingkat fakultas diarahkan pada langkah-langkah internasionalisasi. Di antaranya melalui program internasionalisai akreditasi program studi.

”Terbaru, ASIC (Accreditation for International Schools, Colleges, and Universities, Red) melakukan akreditasi ke 13 program studi di FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) dan FIB (Fakultas Ilmu Budaya),” ujarnya.

Visitasi ASIC itu kian menambah panjang daftar badan akreditasi internasional yang terlibat dalam program internasionalisasi UNAIR. Sebelumnya, ASIIC (Accreditation Agency for Degree Programs in Engineering, Informatics/Computer Science, the Natural Sciences and Mathematics) menggelar akreditasi pada sejumlah program di FST (Fakultas Sains dan Teknologi).

”Komitmen mewujudkan program World Class University terus didorong seluruh jajaran di UNAIR. Semua jajaran diajak berkontribusi, sampai dengan para dosen,” sebutnya.

Memulai program WCU pada 2016, Prof. Dr. Nasih mengungkap progress UNAIR cukup baik. Fokus langkah-langkah itu benar diwujudkan pada 2017 dan 2018. Hasilnya, sejumlah indikator penilaian meningkat. Salah satunya, jumlah publikasi di Jurnal yang terindeks Scopus.

Sementara itu, Prof. Hermawan dalam paparannya menunjukkan sejumlah data-data capaian program WCU di sejumlah kampus dunia dan kampus Indonesia. Dalam kriteria academic reputation, capaian UNAIR lebih baik. Yakni, UNAIR pada angka 17.0, sementara dua kampus dunia yang dibandingkan pad 15.9 dan 7.7.

”Lalu, pada employer reputation perbandingannya tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Meski demikian, data progress capaian UNAIR yang ditunjukkan memiliki progress yang cukup baik. Karena itu, target menuju Top 500 dunia diharapkan dapat terealisasi melalui langkah-langkah yang baik itu. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i




KPLA FK UNAIR Raih Meridien Cup VIII 2019

UNAIR NEWS – Kelompok Pengkaji Lingkungan Aesculap Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (KPLA FK UNAIR) berhasil meraih juara 3 pada kompetisi Meridien Cup VIII 2019 di Jakarta pada Minggu (14/4/2019). Lomba bertaraf nasional itu diadakan oleh Tim Bantuan Medis Muhammadiyah Medical Response Team in Disaster and Human Being (TBM Meridien) FK Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Perolehan juara tersebut diperoleh dari cabang kompetisi Medical Competition of Emergency and Traumatologi (MCET). Delegasi cabang kompetisi itu terdiri dari Margareth Ayu Caroline, Fariza Nur Aini, dan M. Helmi Imaduddin.

Berbagi pengalamannya, Margareth Ayu Caroline menceritakan bahwa sebelumnya tiap delegasi sempat mendapatkan workshop. Saat lomba berlangsung ia juga sempat memecahkan alat yang digunakan untuk mengikuti lomba lantaran merasa canggung.

Perasaan canggung itu disebabkan oleh materi yang diajarkan saat workshop tidak sama dengan materi yang diperlombakan. Bermodalkan percaya diri, tim berusaha menyelesaikan kompetisi itu.

“Awalnya kamu salah, pada akhirnya kamu mengerti dan mengerjakannya dengan benar, sayangnya kamu mecahin barang. Waduh, aku mau nangis,” ungkap salah satu juri dalam lomba tersebut.

Foto bersama delegasi KPLA FK UNAIR di UMJ pada Minggu (14/4/2019). (Foto: istimewa)

Dari berbagai pengalaman itu, Caroline sangat bersyukur dapat lolos dan menjuarai Meridien Cup. Bukan hanya lomba, berbagai evaluasi dari juri memotivasinya untuk mengembangkan KPLA.

Pengembangan itu meliputi kaderisasi medis KPLA dengan mengkaji kurikulum medis. Pengkajian tersebut dilakukan bersama senior untuk meng-upgrade ilmu.

Kemudian ia berencana untuk turun langsung dalam peristiwa terjadinya bencana alam. Berbeda dengan tahun lalu saat KPLA membantu bencana di lombok, tahun ini KPLA akan bekerjasama dengan Rumah Sakit Apung Kesatria Airlangga.

Selain itu, hadiah yang diperoleh digunakan untuk membeli alat-alat medis kesatuan kebencanaan. Selain itu, alat itu akan digunakan untuk latihan dan job medis.

“Menurutku yang menarik dari lomba kemarin itu karakter FK UNAIR, khusunya KPLA,” jelasnya.

Melihat KPLA yang menyempatkan bercanda sedangkan kelompok lain sibuk belajar dan mengatur strategi bahkan di waktu istirahat. KPLA mendapatkan apresiasi dari kelompok lainnya karena berhasil memasuki babak final dan memperoleh juara.

“Kita sudah latihan dan belajar banyak sebelumnya, hari-H kita have fun aja,” imbuhnya.(*)

 

Penulis : Mu’ammarin Rosikhuna Ilma

Editor : Khefti Al Mawalia




Pantau Progres PKM Lolos Pendanaan 2019, UNAIR dan Garuda Sakti Gelar Regular Meeting 1

UNAIR NEWS – Pelaksanaan implementasi PKM merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh tim yang lolos tahap pendanaan Dikti. Tahun 2019 ada 37 tim PKM Universitas Airlangga (UNAIR) yang lolos tahap pendanaan.

Memasuki bulan pertama pelaksanaan PKM, tim yang lolos pendanaan diberikan ruang untuk menghadiri Regular Meeting (RM) 1 atau berupa monitoring dan evaluasi internal. Hal itu ditujukan untuk memantau, melaporkan progres dan juga berkonsultasi dengan dosen pembimbing atau Tim Pendamping Kemahasiswaan (TPK).

Acara itu berlangsung pada Selasa (16/4/2019) di Aula Kahuripan Lantai 3 Gedung Rektorat Kampus C UNAIR. Dihadiri oleh seluruh tim PKM UNAIR yang lolos dan juga dosen pembimbing serta TPK.

Julyana selaku ketua divisi PKM Garuda Sakti UNAIR menjelaskan bahwa RM 1 bertujuan untuk memantau perkembangan proses pelaksanaan PKM dalam memberikan arahan dan juga motivasi pada tim yang lolos pendanaan.

“Hari ini seluruh tim PKM yang didanai datang semua dan mereka sangat antusias untuk melaporkan progresnya. Hal tersebut harus mereka pertahankan sampai akhir, karena proses pelaksanaan PKM memakan waktu yang Panjang. Harapan yang kita bawa dengan diadakannya kegiatan ini dapat memantau dengan baik ke-37 tim yang lolos dan bisa mengantar mereka menuju PIMNAS 32,” pungkasnya.

Akhmad Afifudin Al-Anshori peraih medali emas pada PIMNAS 31 di bidang PKM-T, tahun ini kembali lolos pendanaan pada bidang PKM-PE. Afif sapaan akrabnya, memberikan sedikit tips bagaimana membuat proposal yang bagus. Menurutnya dalam pembuatan proposal PKM, dibutuhkan kepekaan pada mahasiswa terhadap keadaan di sekitar. Berbagai permasalahan harus dapat dianalisis untuk mendapatkan inovasi baru yang dapat dituliskan untuk proposal PKM.

“Selain hal itu, yang perlu diperhatikan ialah perihal penggunaan literatur terbaru dan juga ketelitian pada syarat administrasi proposal. Karena hal itu merupakan kunci agar proposal kita mendapat nilai bagus dan bisa lolos tahap pendanaan,” tambahnya.

Perlu diketahui, RM merupakan tahapan evaluasi internal UNAIR dan juga sebagai pemantau progress pelaksanaan PKM. Kegiatan itu dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali selama proses pelaksanaan PKM. Selain itu juga dilakukan pemantauan dan bimbingan yang terstruktur guna menghindari kesalahan seminimal mungkin dalam pelaksanaan PKM. (*)

 

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor : Khefti Al Mawalia




FH UNAIR Wakili Indonesia Raih Peringkat 13 Besar di Washington

UNAIR NEWS – Di tingkat internasional, prestasi membanggakan datang dari tim Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) mewakili Indonesia di ajang Philip C. Jessup International Law Moot Court Competition 2019 pada (31/3/2019) – (7/4/2019) di Washintong D.C Amerika Serikat. TIM FH UNAIR mencapai peringkat 13 besar dari 130 negara dari seluruh dunia. Prestasi itu merupakan pencapaian luar biasa yang diraih FH UNAIR yang baru saja mengikuti kompetisi JESSUP tingkat internasional untuk kali kedua.

Dr. Intan Soeparna sebagai pelatih tim JESSUP FH UNAIR menjelaskan Phillip C. Jessup International Law Moot Court  Competition merupakan lomba peradilan semu internasional terbesar di dunia. Kompetisi tahunan tersebut diikuti lebih dari 680 universitas dari seluruh dunia dan terdapat seleksi nasional sebelum mewakili negara ke tingkat internasional.

“Dengan Kasus moot court tahun ini ialah “Perebutan Sumber Daya Alam oleh Dua Negara”.  Pada Preliminary Round, Team Jessup Unair berhasil mengalahkan tim dari Albania, Iran, China dan Chile dengan skor tertinggi. Tim Unair kemudian maju ke babak 32 besar dan berhasil mengalahkan tim dari Australia (universitas Queensland) yg merupakan team pemenang tahun lalu,” jelasnya.

“Pada babak 16 besar “Octo – final rounds”, tim UNAIR  berhadapan dengan tim Amerika (Yale University) dan harus menerima kekalahan tidak dapat melanjutkan ke babak berikut. Dan Untuk pertama kalinya, tim Unair masuk 16 besar dan menduduki ranking ke 13 dari 130 negara,” tambahnya.

Delegasi UNAIR yang berlomba di JESSUP 2019 terdiri dari empat mahasiswa Regine Wiranata (2016) Megawati Widjaja (2016), Shofy Suma Nisrina (2016), Thesalonica Shinta (2017) dan Dr. Intan Soeparna sebagai pelatih.  Dalam kompetisi tersebut, UNAIR mewakili Indonesia dua kali berturut-turut pada tingkat internasional.

Perlu diketahui, kompetisi itu diselenggarakan oleh International Law Students’ Association (ILSA) yang terdiri atas dua tahap, yakni National Rounds dan International Rounds. Tahap National Rounds Indonesia tahun ini dilaksanakan pada tanggal 2-3 Februari 2019. Dimana pada tahap nasional,  tim Universitas Airlangga  dan Universitas Indonesia (UI)  mewakili Indonesia berkompetisi di JESSUP putaran internasional.

“Harapan dari tim UNAIR untuk tahun berikutnya, tim unair dapat meningkatkan rangking lagi,“ ungkap Dr Intan. (*)

 

Penulis : Alicia Juanita

Editor : Khefti Al Mawalia




Tarik Antusiasme Mahasiswa, Dekan Cup Vokasi Perlombakan E Sports

UNAIR NEWS – Antusiasme masyarakat utamanya mahasiswa dalam bidang E Spotrs menjadi alasan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Vokasi (FV) Universita Airlangga (UNAIR) memasukkan E Sports ke dalam cabang perlombaan pada Dekan Cup FV 2019. Hal tersebut disampaikan Rifqi Abiyyu G selaku ketua pelaksana kegiatan Dekan Cup FV pada acara opening ceremony Dekan Cup FV di Aula FV UNAIR (15/4/19).

Tag-line yang kami usung pada kegiatan Dekan Cup ini adalah show you progress. Jadi kami ingin menghadirkan sesuatu yang memiliki progres ke depannya. Selain itu kami juga menyesuaikan perkembangan zaman dimana saat ini E Sports merupakan salah satu olah raga yang diminati kalangan melenial,” ungkap Abiyyu.

Dalam Dekan Cup kali ini, BEM FV memperlombakan 3 jenis E Sports. Di antaranya, Mobile Legends, Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG), dan Pro Evolution Soccer (PES). Ketiga permainan tersebut memiliki peminat yang sangat besar dari kalangan mahasiswa FV UNAIR. Hal itu terlihat dari banyaknya pendaftar yang mendaftarkan lebih dari satu tim.

“Karena banyaknya tim yang mendaftar, kami selaku penyelenggara menyiapkan sumber daya manusia yang mumpuni dalam bidang E Sports. Di sisi lain kami memilih seorang penanggung jawab yang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam bidang ini. Harapannya, E Sports ini dapat menjadi cabang olahraga yang bergengsi selain futsal, voli, dan tenis meja,” imbuhnya.

Pada akhir wawancara, Aditya Nurjulian yang menjabat sebagai ketua BEM FV UNAIR menjelaskan bahwa tujuan utama diadakan Dekan Cup ini adalah untuk memupuk rasa persatuan antar mahasiwa, utamanya mahasiswa FV UNAIR.

“Dekan Cup ini merupakan acara untuk merekatkan antara satu himpunan mahasiswa (Hima) satu dengan yang lain. Jangan jadikan kegiatan ini sebagai ajang adu gengsi. Karena kembali ke tujuan awal, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memupuk rasa kekeluargaan antar Hima,” terang Aditya.

“Kemenangan itu suatu hal yang perlu diraih, namun sportifitas merupakan hal yang utama dalam suatu pertandingan,” tambahnya. (*)

Penulis: Faisal Dika Utama

Editor  : Binti Q Masruroh




Pesona Duniawi

Pada senja kesumba

Aku bersenandika di puncak ancala.

Menyaksikan debur ombak bergelombang menuju bibir pantai.

Menggulung indah layaknya merempuh musuh.

Seakan dengan serentak menantang siapapun yang coba mendekat.

 

Lalu di atas petala aku bergumam.

Sungguh sang antari begitu hebat menciptakan debur.

Sebagai visualisasi tameng dan penutup loka.

Dari jahanamnya para manusia cendala.

Dan para sengkuni yang ingin merampas permata laut.

 

Mereka adalah jiwa yang getir karena ketamakannya.

Hatinya telah tertutup halimun nafsu sesaat.

Oleh pesona duniawi yang semu.

Sekalipun seluruh samudra telah berhasil mereka selami.

Dan mereka rampas seluruh harta laut.

 

Pada akhirnya mereka tak akan pernah mencapai puncak kepuasan.

Mereka hanyalah pendamba emas yang menuai kecemasan.

Mereka adalah jiwa nista.

Terbelenggu oleh daya pikat mayapada yang maya.

 

Karena letak sang permata sesungguhnya ada di dalam hati.

Hati yang tak hanyut dengan gemerlap dunia.

Namun damai bersama kesahajaan

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

 




FINALIS campus ambassador bersama pemateri tabel manner, Sukir Kadek usai kegiatan. (Foto: Istimewa)

Mengintip Keseruan Pra Karantina Finalis Campus Ambassador PSDKU Banyuwangi

UNAIR NEWS – Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga memiliki Komunitas Minat dan Bakat (Komikat) khusus untuk pengembangan diri, yaitu Munwa Pribadi. Munwa Pribadi merupakan singkatan dari Komunitas Mahasiswa Pengembangan Diri dan Kepribadian.

Tahun ini, kembali Munwa Pribadi menggelar ajang pencarian bakat untuk mahasiswa dan mahasiswi PSDKU bertajuk “Campus Ambassador”. Kegiatan itu merupakan rangkaian dari peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh Komikat Munwa Pribadi.

Pemilihan campus ambassador diikuti oleh perwakilan dari seluruh fakultas yang ada di PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi. Setelah melalui seleksi yang ketat, puncaknya pada tanggal 19 Maret 2019 diumumkan 12 finalis yang berhasil lolos.

Ditemui UNAIR NEWS pada (13/4), Rista Meilia Pratiwi selaku ketua pelaksana menjelaskan rangkaian acara dan pembekalan materi yang akan didapatkan oleh ke-12 finalis campus ambassador. Selain table manner, jelasnya, finalis juga dibekali tentang materi seputar UNAIR, public speaking, serta beauty and handsome class.

 “Nantinya campus ambassador yang terpilih akan menjadi perwakilan PSDKU Universitas Airlangga pada berbagai acara di luar kampus. Tentunya mereka sangat perlu dibekali materi-materi yang menunjang intelektualitasnya,” jelas mahasiswa yang akrab disapa Rista tersebut.

Sebelum malam penobatan berlangsung, ke-12 finalis terlebih dahulu mengikuti pra karantina. Pra karantina dilaksanakan di salah satu cafe and resto di Banyuwang. Pada pra karantina kali ini, lanjutnya, finalis berkesempatan mendapatkan materi tentang table manner. Materi disampaikan oleh salah satu speaker kepribadian di Banyuwangi, Sukir Kadek.

Mengenai materi, imbuh Rista, peserta diberikan materi seputar table manner ala negara Perancis, seperti tata cara memakan makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Selain itu, tata cara memegang gelas yang baik hingga cara meminum minuman melalui gelas yang berbeda juga disampaikan.

“Antusiasme finalis sangat tinggi terhadap materi yang diberikan. Hal ini terlihat pada saat pemaparan materi finalis banyak mengajukan pertanyaan kepada pemateri,” tandasnya.

Pada akhir, Rista juga mengatakan bahwa kegiatan pra karantina tersebut ditutup dengan penyampaian cara pembuatan napkin (serbet makan). Setelah penyampaian materi berakhir, finalis berkesempatan menunjukkan kemahirannya membuat napkin.

“Dengan adanya campus ambassador dihapkan menjadi ajang branding kampus PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi sehingga semakin eksis diluar,” tutup mahasiswa semester VI Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut.

Penulis: Dian Putri Apriliani

Editor: Nuri Hermawan




Semangat dan Kebulatan Tekad Antarkan Riyantita ke Mesir

UNAIR NEWS – Mengikuti student exchange atau pertukaran pelajar adalah sebuah mimpi dan kesempatan besar bagi mahasiswa. Tak terkecuali bagi Riyantita Tunjung, satu dari sekian mahasiswa Universitas Airlangga yang berkesempatan menjadi salah satu peserta student exchange. Menghabiskan 25 hari di Mesir, Riyantita membagikan kisahnya pada tim UNAIR NEWS.

Riyantita mengikuti pertukaran mahasiswa lewat program dari International Pharmaceutical Students Federation (IPSF). Melalui program ini, ia berkesempatan untuk menimba ilmu kefarmasian di Imbabah Hospital dan Pharma International Pharmaceutical Industries (PICO).

Mahasiswi Fakultas Farmasi angkatan 2014 itu memilih Mesir sebagai destinasinya bukan tanpa alasan. Selain karena industri farmasi yang sudah berstandar internasional, Mesir juga memiliki segudang sejarah dan budaya yang menarik. Hal itulah yang memantapkan niat Riyantita mendaftarkan diri pada program exchange kali ini.

“Mesir sangat identik dengan sejarah, mulai dari piramida, mumi, dan lain-lain. Jadi selain ingin belajar tentang ilmu kefarmasian, saya juga ingin belajar tentang sejarah Mesir yang terkenal itu,” ujarnya.

Di Mesir, Riyantita mengaku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, terutama dalam hal farmasi. Ia juga bisa ikut merasakan bagaimana rasanya bekerja sebagai farmasis di industri dan rumah sakit.

“Di Imbabah Hospital saya belajar banyak mengenai peranan seorang farmasis di rumah sakit. Mulai dari melakukan kunjungan ke setiap pasien, hingga memastikan ketersediaan obat di gudang dan instalasi,” tuturnya.

“Untuk di Industri, saya diajak tour melihat setiap proses yang ada di sana. Saya mendapat banyak ilmu mengenai industri farmasi, mulai dari tahap produksi, hingga metode marketing-nya. Saya juga sempat ikut melakukan sosialisasi produk ke beberapa tempat,” lanjutnya.

Tak hanya pengetahuan seputar farmasi yang membuat Riyantita terkesan. Ada banyak hal unik tentang Mesir yang sulit dilupakan. Salah satunya adalah rasa toleransi dan nasionalisme tinggi yang dimiliki oleh masyarakatnya.

“Hal yang berkesan dari Mesir adalah rasa toleransi yang sangat tinggi antar umat beragama. Mereka sangat menghormati satu sama lain. Masyarakat di sana juga sangat mengapresiasi prestasi yang dibuat oleh warga negaranya,” kenangnya.

Tak hanya berbagi pengalaman, Riyantita juga mengajak para mahasiswa lain untuk mengikuti jejaknya. Baginya, tak ada yang tak mungkin selama mau berusaha dan berdoa.

“Untuk teman-teman yang lain, jangan menyerah. Terus berusaha, terus berdoa, pasti Allah memberikan jalan,” tutupnya. (*)

Penulis : Sukma Cindra Pratiwi

Editor : Binti Q. Masruroh




IMPhO sukses

IMPhO III-2019 FK UNAIR Raih Sukses, UI Pertahankan Gelar

UNAIR NEWS – Sukses penyelenggaraan olimpiade nasional bidang fisiologi, yakni Indonesian Medical Physiology Olympiad  (IMPhO) berhasil diukir oleh Departemen Ilmu Faal, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 13-14 April 2019. Dalam IMPhO III ini, tim mahasiswa FK Universitas Indonesia (UI) berhasil mempertahankan gelar juara.

Bahkan dua tim UI yang dikirim juga menguasai kompetisi ini. Satu tim lainnya menjadi juara II, sedang juara III disabet rumah FK UNAIR. Komposisi juara tahun ini sama persis dengan hasil IMPhO I/2017. Sedang IMPhO II juara I oleh UI dan juara II UNAIR. Berarti mahasiswa UI membuat heatrick.

Termasuk kategori sukses disini adalah meningkatnya jumlah peserta. Pada IMPhO II/2018 diikuti oleh 35 tim dari 22 universitas (FK) di Indonesia, dalam IMPhO III/2019 ini diikuti 49 tim dari 34 universitas berbeda di Indonesia. Satu tim terdiri 3 orang mahasiswa.

Dengan suksesnya tiga kali penyelenggaraan IMPhO di FK UNAIR ini, Wakil Dekan II FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) berharap tahun-tahun selanjutnya bisa menggelar acara serupa tingkat internasional. Dengan demikian, IMPhO di UNAIR ini bisa berkontribusi sebagai persiapan tim Indonesia melangkah ke jenjang lebih tinggi, dimana International Medical Physiology Olimpiad juga akan diselenggarakan sekitar bulan Juli atau September 2019 ini di UI.

”Dalam sambutan tadi, sudah saya sampaikan kalau bisa tahun depan kita menjadi tuan rumah untuk olimpiade internasional itu. Pimpinan akan selalu men-support apapun itu asal untuk kemajuan FK khususnya dan UNAIR umumnya,” tandas Prof. BUS, sapaan akrab Prof. Budi Santoso.

Ilmu fisiologi ini dikatakan sangat penting karena merupakan merupakan basic (dasar) dari ilmu kedokteran. Untuk itu, lanjut Prof. BUS, pimpinan akan mendukungnya. Apalagi acara semacam ini tidak saja penting secara keilmuan, tetapi juga sangat penting bagi mahasiswa, dimana pemahaman akan ragam penyakit juga menjadi sangat penting.

”Saat ini IMPhO masih tingkat nasional, tapi kita berharap nanti akan makin dikenal dan bertarap internasional seperti Medspin (Medical Science and Application Competition) yang untuk siswa-siswa SMA yang juga dilaksanakan oleh FK UNAIR,” kata Prof. BUS.

Dalam pembukaan IMPhO III/2019 ini, selain dibuka resmi oleh Wakil Dekan II FK UNAIR Prof. Budi Santoso juga dihadiri quist master dan founder IMPhO Prof. Cheng Hwee Ming dari Malaysia.

Dalam sambutan singkatnya, Prof. Cheng Hwee Ming mengakui bahwa peserta IMPhO di UNAIR ini luar biasa banyaknya. Terbukti pesertanya meningkat daripada tahun lalu. Karena itu ia berharap agar IMPhO ini terus dapat diselenggarakan setiap tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Sementara Ketua Panitia, Chabib Fachry Albab menjelaskan, tahun ketiga ini IMPhO diikuti 49 tim dari 34 universitas yang berbeda dari berbagai daerah di Indonesia, dimana ada beberapa FK yang mengirimkan lebih dari satu tim. Namun peserta dari luar negeri belum ada.

”Kompetisi ini merupakan bagian dari bagaimana kita sebagai mahasiswa kedokteran yang harus selalu aware dengan ilmu fisiologi, karena ini merupakan dasar dari ilmu kedokteran. Jadi tidak berlebihan kalau ada pepatah yang menyatakan bahwa ‘Fisiologi hari ini, kedokteran esok harinya’ (physiology to day, medicine tomorrow). Jadi ini basic-nya ilmu kedokteran untuk memahami patofisiologi dan ilmu-ilmu dasar kedokteran lainnya,” kata Chafa, panggilan akrabnya.

Chafa berharap kepada peserta, hendaknya lebih perduli atau meningkatkan kesadaran akan pentingnya dasar-dasar ilmu kedokteran, salah satunya ilmu faal dan kalau bisa merembet ke ilmu-ilmu yang lainnya seperti biokimia, patologi anatomi, dsb.

”Saya mengamini apa yang disampaikan Prof. BUS kalau bisa kita tahun depan meningkatkan lomba ke jenjang yang lebih tinggi, internasional,” kata Chafa. (*)

Penulis : Bambang Bes