Fakultas Farmasi UNAIR Jajaki Kerjasama dengan Manchester University UK

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Moh. Nasih beserta jajaran pimpinan berkomitmen untuk menindaklanjuti kerjasama dengan Manchester University UK melalui kontribusi Diaspora yang diundang oleh Kemenristek-Dikti dalam Symposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018 yaitu Prof. Gindo Tampubolon.

Usai memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa Fakultas Farmasi (FF), Rabu (15/8), Prof Gindo yang merupakan peneliti di University of Manchester bersilaturahmi kepada rektor UNAIR. Dari pertemuan itulah, rektor berkomitmen untuk melakukan kerjasama.

“Prof Gindo sebelumnya sudah join riset dengan Universitas Brawijaya, saat ini UNAIR melalui Fakultas Farmasi berencana melibatkan Apoteker atau bidang riset kefarmasian. Untuk itu kami ingin melakukan kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran UNAIR dan RS. Dr. Soetomo, Surabaya,” ujar Wakil Dekan III FF Dewi Melani Hariyadi, S.Si., M.Phil., Ph.D, Apt.

Dalam join riset ini, FF akan melibatkan tim dari Departemen Farmasi Komunitas dan Ikatan Apoteker Indonesia cabang Malang/Jawa Timur.

Dengan University of Manchester UK ini, FF terhitung pertama kalinya merintis. Sebelumnya, kerjasama FF dengan mitra luar negeri lebih banyak di tingkat Asia. Seperti kerjasama dengan Auburn University, USA; Osaka University, Jepang; Hiroshima University, National Chiayi University, Taiwan; Naresuan University, Thailand, dan beberapa perguruan tinggi lain.

“Tadinya belum ada (kerjasama riset, Red) yang intensif ke UK. Sehingga nantinya kerja sama diharapkan tidak hanya tingkat Asia, tapi menambah jumlah aktivitas kerjasama di Amerika, Inggris dan negara-negara di Eropa,” terang Dewi Melani.

Semua output program itu, lanjutnya, diharapkan bisa menunjang capaian FF, dan UNAIR untuk mencapai ranking World Class University peringkat 500 besar dunia.

Saat ini, FF UNAIR akan menindaklanjuti diskusi dengan FK UNAIR – RS. Dr. Soetomo dan Tim FFUA. Tim Departemen Farmasi Komunitas akan menelaah bahan riset yaitu penyusunan kuesioner, dengan jumlah target sebanyak 20.000 responden.

Selain join riset dengan UK, output kerjasama ke depan yang dapat terjalin adalah join publikasi, mahasiswa Ph.D, dan program short course untuk mahasiswa maupun staf. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh




GenCorps FKp UNAIR Terjun Langsung Bantu Korban Gempa Lombok

UNAIR NEWS – Tim Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga dari organisasi mahasiswa GenCorps (Green Nursing Corps) dan Ketua BEM FKp berangkat ke Lombok untuk menjadi relawan medis. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai tanggal 14-19 Agustus. Selama di Lombok, tim dari FKp menetap di posko induk IKA-UA (Ikatan Alumni Universitas Airlangga) yang berlokasi di Bangsal, Pemenang, Lombok Utara.

Segala persiapan sebelum keberangkatan sudah dilaukan jauh-jauh hari. Di antaranya, penggalangan dana gabungan yang terkumpul kurang lebih Rp. 40 juta rupiah. Dana tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan logistik korban, seperti beras, susu, mie instan. Termasuk juga kebutuhan lain seperti terpal, selimut, tenda, dan tempat tidur sementara.

Selain itu, dana juga digunakan untuk membeli kebutuhan obat-obatan ringan, seperti Ranitidin, Betadine, Vitamin C, Vitamin B-Complex, dan lain-lain. Semua bantuan yang terkumpul sudah dikirimkan lebih dahulu pada hari Minggu, (12/8) melalui jalur darat.

Selama kegiatan, tim dari FKp bekerjasama dan berkoordinasi dengan pihak Mahagana UNAIR dan Rumah Sakit Terapung UNAIR. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh tim dari FKp di antaranya yaitu menyalurkan bantuan logistik ke posko induk IKA-UA yang kemudian didistribusikan untuk para korban.

Selain memberikan bantuan berupa logistik, tim dari FKp juga memberikan trauma healing dengan target utama yaitu anak-anak. Trauma healing bertujuan membantu melupakan memori buruk anak-anak terhadap bencana gempa yang terjadi dan memperbaiki memori mereka dengan memberikan memori dan suasana yang menyenangkan anak-anak.

Terhitung sampai Senin siang (13/8), gempa masih terjadi sehingga masyarakat tidak diperbolehkan untuk kembali ke rumah masing-masing. Sebab dikhawatirkan akan terjadi gempa susulan.

Kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan dari bencana gempa juga memicu terjadinya bencana sosial, seperti penjarahan karena kurang meratanya bantuan yang diberikan. Hal inilah yang kemudian membuat tim dari FKp tergerak untuk terjun langsung membantu meringankan beban korban di sana dengan memberikan bantuan dan pengobatan, baik secara fisik maupun psikis.

“Sebagai ketua GenCorps, saya harap GenCorps sebagai pelopor organisasi di bidang sosial bisa memberikan dorongan, khususnya kepada warga FKp agar lebih peka lagi terhadap lingkungan dan konflik-konflik yang terjadi di luar sana,” ucap Ferly, ketua umum GenCorps FKp UNAIR.

“Di sisi lain saya harap dengan adanya kegiatan ini bisa memupuk rasa peduli dalam hal kemanusiaan kepada mahasiswa FKp. Karena kita adalah calon perawat, dan menurut saya itu penting,” tambahnya.

Tim GenCorps yang berangkat ke Lombok yaitu Ferly, Tirta, dan Fahri, beserta Nopen selaku Ketua BEM FKp UNAIR.

Dengan adanya bantuan ini semoga bisa mengurangi beban saudara kita yang ada di Lombok. Sekecil apapun bantuan yang kita berikan sangat berarti bagi saudara kita. Bukan banyak atau mewahnya bantuan yang kita berikan, namun rasa kepeduliaan kitalah yang bisa mengobati luka mereka. (*)

Penulis: Yenny Paramitha dan Annisa

Editor: Binti Q. Masruroh




Pesan Hadapi Revolusi Industri 4.0 untuk Civitas Akademika UNAIR Banyuwangi

UNAIR NEWS – Dirgahayu kemerdekaan Negara Indonesia yang ke-73 tahun dengan  tema “Kerja Kita Prestasi Bangsa”, berhasil memeriahkan dan menambah semangat masyarakat Indonesia dalam memperingatinya, tidak terkecuali civitas akademika PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi.

Upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 yang dilaksanakan di halaman kampus PSDKU UNAIR Banyuwangi tersebut berlangsung dengan khidmat. Upacara tersebut dihadiri oleh Prof. Dr. Suryanto, M.Si., selaku koordinator PSDKU UNAIR Banyuwangi, dosen pengajar, karyawan kampus, dan juga mahasiswa angkatan 2015 – 2017.

Dalam amanatnya, Prof. Suryanto membacakan sambutan tertulis dari kemenristek dikti yang berisi, bahwa Indonesia telah mampu mengatasi stabilitas politik, memenangi berbagai ajang Internasional, seperti juara dunia lari 100 m, menciptakan mobil berbahan bakar plastik, serta Indonesia juga sudah berhasil menyelesaikan berbagai tantangan. Sambutan dari kemenristek dikti juga menegaskan bahwa Indonesia harus mampu menyelesaikan Revolusi Industri 4.0 saat ini.

“Revolusi industri 4.0 harus kita terapkan, sebagai kaum akademisi kita bisa memperkuat berbagai literasi yang ada, seperti memperkuat literasi lama, mulai dari literasi tulis, matematika, biologi, dan sebagainya. Selain itu, kita juga harus tetap memanfaatkan literasi-literasi baru untuk mendukung dan memperkuat literasi lama yang telah ada,” ujar Prof. Suryanto.

Selanjutnya, Prof. Suryanto juga menegaskan bahwa sebagai kaum akademisi harus mampu melakukan pengembangan dan inovasi untuk melancarkan pelaksanaan Revolusi Industri 4.0 dengan cara memanfaatkan literasi atau teori yang telah ada sebelumnya, namun  tetap didukung dengan literasi terbaru untuk memperkuat unsur pengembangan dan inovasinya.

“Sebagai warga PSDKU UNAIR Banyuwangi, saya berharap kita mampu membantu Indonesia untuk menjadi negara yang berdaya saing tinggi, serta negara yang berhasil menyelesaikan cita-citanya. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan nilai kepemimpinan kita, nilai kerjasama tim kita, dan juga jiwa enterpreneurship kita,” pungkasnya.

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan




Kembali ke Kampusnya, Dosen FH UNAIR Bertukar Buku di The University of Sydney

 

UNAIR NEWS – Setelah sebelumnya memberikan kuliah tamu di University of New South Wales (UNSW) Law School pada Rabu (15/8), Iman Prihandono, Ph.D berkunjung ke The University of Sydney. Di tempat itu pula, Iman pernah menempuh pendidikan master of laws (LL.M). Sejak Iman meninggalkan kampus itu pada 2007, Sydney Law School telah banyak berkembang.

Dalam kesempatan kunjungnnya, Iman menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan Professor Simon Butt, pakar hukum konstitusi dan perundang-undangan Indonesia. Simon telah menulis banyak buku dan artikel tentang perkembangan dan permasalahan hukum di Indonesia. Di antara artikel jurnal yang terakhir adalah ”The function of judicial dissent in Indonesia’s Constitutional Court”, Constitutional Review (2018).

Iman dan Simon berdiskusi mengenai perkembangan Hukum Perdata Internasional (International Private Law) di Indonesia. Menurut Simon, perkembangan HPI (hukum perdata internasional) di Indonesia sangat lambat. Pengadilan hampir tidak menghasilkan prinsip-prinsip yang baru. Demikian juga akademisi sangat jarang menulis perkembangan HPI di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Iman berpendapat bahwa semakin tingginya perdagangan dan investasi internasional, maka sengketa yang melibatkan subjek dan objek hukum asing akan semakin meningkat. Dalam kasus-kasus pelanggaran HAM oleh Korporasi Multinasional di Indonesia, misalnya, sering pihak-pihak yang terkait dengan pelanggaran tersebut berada di luar negeri.

Keduanya sepakat bahwa perkembangan prinsip-prinsip baru dalam HPI Indonesia sangat diperlukan. Salah satu topik yang masih menjadi permasalahan rumit dalam HPI Indonesia adalah pengakuan terhadap putusan pengadilan asing. Ke depan, Simon dan Iman akan berusaha untuk melakukan penelitian bersama mengenai topik tersebut.

Sebelum mengakhiri pertemuan, keduanya saling bertukar buku masing-masing. Simon memberikan bukunya The Constitutional Court and Democracy in Indonesia, Brill (2015). Begitu pun sebaliknya, Iman memberikan bukunya Tanggungjawab Korporasi Multinasional dalam Hukum HAM Internasional, AUP (2015).

Pada Oktober 2018, Simon berencana mengunjungi Fakultas Hukum (FH) UNAIR untuk memberikan kuliah tamu. Dan, sekaligus melakukan peluncuran bukunya yang terbaru. (*)

 

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Rayakan HUT Ke-73 RI, Urban Care dan Komunitas di Surabaya Tanam Mangrove

UNAIR NEWS – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah kolaborasi antar komunitas di Surabaya untuk mengadakan upacara bendera dan penanaman bibit mangrove di pinggir laut.

Bertempat di kawasan Wonowisata Bintang Mangrove Gunung Anyar Tambak Surabaya pada Sabtu (18/8), kegiatan tersebut diinisiasi Sekolah Sungai Urban Care, Wonowisata Bintang Mangrove, PLN Peduli, Forkada, dan Kampung Dolanan. Kegiatan itu diikuti 51 peserta dengan sembilan perahu sebagai transportasinya.

Komunitas Urban Care bersama dengan pihak dan komunitas lain ikut terjun dengan mengawal peserta menyusuri sungai dari dermaga Wonowisata Bintang Mangrove. Bahkan sampai ke muara Pos Pantau PLN Peduli.

Selama perjalanan, peserta disuguhi panorama keindahan alam yang masih asri. Sejumlah burung kuntul dan monyet juga bisa ditemukan di hamparan hutan mangrove.

Setelah sampai, peserta melakukan upacara bendera yang dipandu komandan peleton setiap kapal. Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Wira Buana Yudha, perwakilan Karang Taruna Gunung Anyar Tambak. Dia menekankan masyarakat, khususnya generasi muda, lebih peduli dengan lingkungan.

”Kebetulan momennya pas. Jadi, kita bisa merayakan upacara kemerdekaan (Republik Indonesia, Red) dengan menanam bibit mangrove. Jadi, nasionalisme dapat, lingkungannya juga dapat,” katanya.

Seusai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman bibit mangrove di sekitar pos Pantau PLN Peduli. Perwakilan Urban Care turut menanam bibit mangrove tersebut. Bibit yang terikat dengan bambu ditancap-tancapkan ke lumpur dan ditanam dengan garis lurus mengikuti garis aliran air.

Sementara itu, Fuad Fahmi Hasan selaku salah seorang pendiri Urban Care, menjelaskan bahwa Urban Care adalah komunitas yang didirikan beberapa alumni UNAIR. Komunitas itu peduli terhadap masalah kemiskinan, dan kampung kumuh dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat.

Perlu diketahui, Sekolah Sungai menjadi salah satu program utama di antara tiga project Urban Care. Selain Dampingan Distren Kali Jagir dan Kampung Juang, ada sekolah lingkungan yang bekerja sama dengan PLN Peduli. Khususnya untuk mendorong masyarakat sadar pada potensi dan permasalahan di sekitar Gunung Anyar Tambak.

”Kalau potensi kita bersama warga adalah mengelola Wonowisata Bintang Mangrove sebagai lahan wisata. Kalau permasalahannya, mendirikan Bank Sampah untuk mengurangi dan mengolah sampah di sekitaran lingkungan Gunung Anyar Tambak (Surabaya, Red),” tutur alumnus mahasiswa Jurusan Manajemen FEB UNAIR tersebut. (*)

 

Penulis: Fariz Ilham R

Editor: Feri Fenoria




Peran Mahasiswa untuk Mengisi Kemerdekaan RI

UNAIR NEWS – 73 tahun sudah Indonesia merdeka. Bangsa Indonesia tidak lagi harus berdarah darah untuk melawan penjajah guna mensejahterakan dirinya. Namun, sebagai pemuda, pergerakan – pergerakan untuk Indonesia yang lebih baik harus tetap dilakukan. Mengenai peran mahasiswa untuk mengisi kemerdekaan RI, Galuh Teja Sakti, Presiden BEM Universitas Airlangga menjelaskan, untuk mengisi dan memperingati kemerdekaan RI yang telah berusia 73 tahun ini, mahasiswa harus mampu mengilhami nilai dasar perjuangan pemuda kita dulu yang dengan berani memaksa Ir. Soekarno dan Moh. Hatta untuk mempercepat proklamasi.

“Hal yang harus kita ilhami pada saat ini ialah kita harus mampu mengimplementasikan nilai dasar perjuangan tersebut. Pertama adalah tekat, kemudian pendidikan, keberanian, gotong royong dan kecintaan terhadap Indonesia yang kekal dan abadi. Dengan seperti itu, Indonesia akan menjadi negara yang adil dan lebih beradab,” jelas Mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

Selain itu, menanggapi isu radikalisme yang sempat terjadi di UNAIR, mahasiswa yang kerap dipanggil Teja tersebut merasa bahwa radikalisme yang tepat untuk disematkan untuk UNAIR bukanlah radikalisme seperti rilis dari BNPT, melalinkan radikalisme dalam hal positif. Radikalisme positif dalam pendidikan dan pengembangan profesi.

“Radikalisme nyata saat ini di bumi Airlangga ialah radikalisme positif. Radikalisme positif dalam pendidikan dan radikalisme positif dalam mengembangkan profesi maupun bakat dan minat,” ucapnya.

Hal tersebut, menurut Teja, pada saat ini UNAIR terus berbenah untuk mewujudkan cita cita bangsa yang tentunya tidak bertentangan dengan peraturan perundang undangan. Meskipun begitu, imbuhnya, guna membangun iklim nasionalisme yang kuat di UNAIR sehingga tidak terjadi isu serupa, maka mahasiswa harus mampu untuk mengembalikan rasa cinta dan bangga kepada kampus.

“Dan kontribusi tersebut akan membuat Airlangga satu tekat dan satu tujuan untuk mewujudkan cita-cita global dan cita akan nasionalisme bangsa ini,” lanjut Teja.

Pada momen peringatan sudah 73 tahun RI, Teja berharap, seluruh mahasiswa UNAIR mampu menampik untuk tidak terus menjadi agent of change. Akan tetapi pemuda-pemuda Indonesia harus memjadi pemimpin perubahan bangsa ini (leader of change).

Sehingga seluruh mahasiswa dapat menjadi seorang tokoh yang mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang lebih berkeadilan dan beradab,” pungkasnya.

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan




Dapat Hibah dari Pemprov Jatim, UNAIR Siap Bangun Asrama Baru di Area Kampus C

UNAIR NEWS – Sebagai salah satu kampus terbesar di Indonesia, Universitas Airlangga memilki ribuan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan ratusan mahasiswa asing dari berbagai dunia yang melakukan studi. Untuk memberikan fasilitas tempat tinggal yang layak, UNAIR mendapatkan hibah dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebesar 75 Milyar untuk membangun asrama baru di area Kampus C UNAIR.  Pembangunan itu dimulai dengan acara Ground Breaking Airlangga Dormitory yang laksanakan pada Senin (20/8).

Pada kesempatan itu, hadir langsung Gubernur Jawa Timur Dr. Soekarwo bersama jajaran pimpinan pemerintah provinsi dan hadir pula Rektor UNAIR Prof. Moh. Nasih bersama jajaran pimpinan di lingkungan UNAIR. Dalam sambutannya, gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo tersebut menyampaikan bahwa awalnya anggaran yang digunakan membangun asrama merupakan anggaran untuk membeli lahan 100 hektar di area Kampus D.

“Karena ada beberapa kendala, anggaran tersebut akhirnya dialihkan untuk pembangunan asrama di area Kampus C UNAIR ini,” jelasnya.

Mengenai fungsi ke depan, Pakde Karwo mengatakan bahwa pembangunan asrama baru bertujuan sebagai wadah membentuk kualitas SDM yang berkarakter. Selain itu, asrama juga bisa menjadi salah satu sarana untuk menangani berbagai masalah yang menyangkut insan pendidikan di Jawa Timur.

“Asrama ini juga bakal menjadi salah satu sarana untuk membina dan memelihara jiwa mahasiswa yang bisa memelihara kultur jawa timur yang kuat. Karena semakin kuat dan melangkah menuju global, imbuhnya, kultur kedaerahan itu harus kuat,” paparnya.

Pada akhir, Pakde Karwo juga berharap bahwa di asrama itu nantinya tetap ada wawasan untuk pendalaman agama dan mengaji baik secara sorogan maupun klasikal.

“Saya kira cara-cara seperti itu bisa untuk mereduksi paham radikal,” tandas alumnus Fakultas Hukum UNAIR itu.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Rektor UNAIR Prof. Nasih mengatakan bahwa dengan adanya satu asrama baru untuk mahasiswa yang akan dibangun itu, kebutuhan fasilitas tempat tinggal sudah memenuhi 25% dari total mahasiswa baru.

“Ya, kalau dijumlah dengan dua asrama yang sudah ada dan ditambah yang baru ini nantinya, kita bisa memenuhi 25% kebutuhan tempat tinggal untuk mahasiswa,” jelasnya.

Gedung asrama baru yang dibangun di lahan persawahan Kampus C UNAIR itu, menurut Prof. Nasih diharapkan dapat selesai pada Maret 2019 untuk tower pertama. Sedangkan untuk tower kedua dan selanjutnya, diharapkan bisa dilakukan proses pengerjaannya pada tahun 2020.

“Nantinya, gedung 11 lantai itu akan menyediakan berbagai fasilitas sebagaimana asrama pada umumnya. Tower pertama akan terdapat 206 kamar dengan kemungkinan besar akan diperuntukkan untuk mahasiswa baru putri. Hal itu mengingat jumlah mahasiswa baru perempuan lebih banyak,” paparnya.

Tidak hanya untuk mahasiswa dalam negeri, imbunya, nantinya asarama baru tersebut juga diperuntukkan untuk mahasiswa internasional yang sedang studi di UNAIR. Pada akhir, Prof. Nasih kembali menegaskan bahwa nantinya mahasiswa yang tinggal dalam asrama akan mendapatkan pendidikan dan pendalaman karakter.

“Dengan begitu diharapkan, akan terciptanya lulusan yang memiliki kualitas unggul dan baik,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




Angkat “Barbie” di Tiga Cerpen, Dosen Sasindo UNAIR Juarai Kritik Sastra Jawa Timur

UNAIR NEWS – Perhatian terhadap tumbuh kembangnya kritik sastra dewasa ini tidak berbanding lurus dengan karya sastra. Alasan mendasar itulah yang membuat Bramantio S.S., M.Hum., Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga menuliskan kritik sastra di majalah Suluk yang sudah diterbitkan pada 2012.

Dari kritik sastra tersebut, Bramantio berhasil menyabet juara I kritik sastra yang diselenggarakan  Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) 2018. Penyerahan penghargaan itudigelar di Gedung Cak Durasim Surabaya Selasa, (14/8).

Sebelum melakukan kritik sastra itu, Bramantio membaca cerpen periode 2000-an. Dia membaca cerpen Barbie karya Clara Ng, Bercinta dengan Barbie karya Eka Kurniawan, dan Barbie dan Monik karya Teguh Winarsho.

Menurut Bram, sapaan akrabnya, ketiganya memiliki struktur penceritaan yang menggambarkan Barbie dengan kesempurnaan yang tidak mungkin disamai perempuan mana pun. Sebab, itu menjelaskan perempuan yang dipandang sebagai sosok ideal, artifisial, dan fisikal yang mengalahkan perempuan riil, nyata.

Dosen yang menyukai karya Ayu Utami, Dewi Lestari, dan Eka Kurniawan tersebut menerangkan bagaimana melakukan kritik sastra. Yakni, dengan membaca karya sastra, khususnya cerita pendek (cerpen).

”Semakin sering teks kita baca (cerpen, Red), interpretasi akan semakin kuat. Jadi, kita punya karakter dan punya cara tersendiri untuk melakukan kritik sastra sesuai dengan strukturnya” terangnya.

”Dan yang terakhir, menyiapkan buku atau karya untuk dikritik. Saya pilih karya yang tidak habis dalam satu kali baca. Kemudian, jika menimbulkan pertanyaan, saya cari maknanya, ideologi apa yang diusung. Setelah saya tahu, saya akan menuliskannya,” tambahnya.

Terakhir, Bramantio berharap apa yang dilakukan Dewan Kesenian Jawa Timur bisa menumbuhkembangkan apresiasi kepada penulis atau kritikus sastra. Khususnya di lingkungan kampus FIB UNAIR. (*)

 

Penulis: Fariz Ilham R

Editor: Feri Fenoria




Mahasiswa FPK Juara III Kompetisi Rencana Bisnis

UNAIR NEWS – Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-73 RI dapat dilakukan melalui beragam cara. Salah satunya, keikutsertaan dalam kompetisi bisnis. Dua mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga berhasil meraih juara III kompetisi rencana bisnis yang diselenggarakan pada 17 – 18 Agustus 2018 oleh Jaringan Bisnis Indonesia. Keduanya adalah Nanang Ardianto dan Sutra Mahardika.

Tim yang diketuai oleh Nanang ini berhasil menyisihkan puluhan ide bisnis dalam kompetisi yang diikuti oleh siswa dan mahasiswa seluruh Indonesia.

“Peserta lain memiliki ide bisnis yang dijalankan, beragam dan menarik. Namun, kebanyakan merupakan bisnis kuliner. Sedangkan kami tetap yakin akan keunggulan produk kami sendiri berupa jasa,” kata Sutra, salah satu anggota tim.

“Hanya sedikit kado HUT Kemerdekaan RI ini yang dapat kami persembahkan untuk kampus kebanggan,” tambah Sutra.

Dalam kompetisi itu, Nanang dan Sutra mengangkat ide bisnis mengenai Aquaponic Store, yakni jasa desain, rakit, dan konsultan sistem akuaponik yang belum banyak dikembangkan.

“Ide ini kami ambil karena sistem akuaponik dapat menekan angka penggunaan lahan secara efisien dan hemat air di wilayah perkotaan seperti Surabaya. Sistem ini menggabungkan pemeliharaan dua komoditas produk pertanian dan perikanan sekaligus,” jelas Nanang.

Proses keikutsertaan kompetisi diawali dengan mengumpulkan proposal. Dari keseluruhan peserta, diambil 15 ide karya terbaik sebagai finalis. Selesai tahap ini, peserta diharuskan mengikuti workshop di hari pertama, kemudian melakukan presentasi dihadapan para juri mengenai ide bisnis yang diikutsertakan.

Setelah rangkaian proses terlalui, tiba pada sesi pengumuman 3 peserta terbaik di akhir kegiatan pada Sabtu (18/8) malam. Juara pertama dan kedua masing-masing berasal dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur dan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Sedangkan, peringkat ketiga adalah tim dari UNAIR.

“Semoga makin banyak mahasiswa, khususnya dari FPK, yang membuat ide bisnis kreatif seperti ini. Melihat potensi bidang perikanan dan kelautan, baik dari dasar keilmuan hingga pengembangan pengelolaan sumberdaya pun masih cukup banyak,” terang Nanang.

“Semoga ide bisnis kami dapat terus berlanjut dan tercipta bibit-bibit wirausahawan baru,” tambahnya. (*)

Editor: Binti Q. Masruroh




Fakultas Vokasi Siapkan Mahasiswa Baru Hadapi Globalisasi

UNAIR NEWS – Saat ini dunia tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0, ditandai dengan munculnya robot pintar, super komputer, serta neuroteknologi. Pada masa ini, faktor kecepatan dan penguasaan teknologi internet mampu mengantarkan siapapun menjadi ‘pemenang’ dalam berbagai aspek, mulai ekonomi hingga politik.

Kini telah bermunculan banyak perusahaan online (daring, dalam jaringan) yang bahkan tidak memiliki kantor namun mampu menguasai pasar. Perusahaan dengan ribuan karyawan bisa dengan mudah gulung tikar karena kurang bisa bersaing dengan perusahaan daring.

Begitu kiranya alasan yang melatarbelakangi digelarnya kuliah tamu yang menjadi rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) di Fakultas Vokasi. PKKMB Fakultas Vokasi diikuti sebanyak 1.354 mahasiswa baru, bertempat di Airlangga Convention Center, Kampus C UNAIR Kamis (9/8), dan dibuka oleh Dekan Fakultas Vokasi Prof. Dr. Widi Hidayat, M.Si.

Sebagai calon praktisi di masing-masing bidang, mahasiswa diploma 3 dan diploma 4 UNAIR diharapkan siap dan mampu menghadapi arus revolusi industri yang mempengharuhi berbagai aspek. Tak jauh berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri keempat juga sama pentingnya. Secara umum, revolusi industri adalah ketika kemajuan teknologi yang besar disertai dengan perubahan sosial ekonomi dan budaya yang signifikan.

Dalam kesempatan itu, PKKMB Fakultas Vokasi mendatangkan tiga pembicara utama yang berkompeten di masing-masing bidang. Pembicara pertama ialah Ir. Hotma Prawoto, MT yang merupakan dosen serta peneliti senior Sekolah Vokasi UGM. Hotma adalah Dekan Sekolah Vokasi UGM pertama. Kuliah tamu pertama dimoderatori oleh Wakil Dekan I Fakultas Vokasi Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si.

Dalam kesempatan itu, Hotma menyampaikan tentang peran pendidikan vokasi dan teaching industry dalam memperkokoh kemandirian bangsa. Hotma mengatakan, pola pikir sangat mempengaruhi kemajuan suatu  peradaban. Ia menganalogikan sesuatu terlihat sangat hebat hanya karena pikiran kita. Yang artinya, hebat tidaknya sesuatu bergantung pada bagimana sudut padang kita melihat lalu menginstruksi otak agar menyampaikan pesan pada diri kita.

Hotma mengatakan, Indonesia sangat membutuhkan human resources yang bermental pemberani dan berkualitas untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Menurutnya, mahasiswa fakultas vokasi sangat berpeluang besar dalam hal ini, melihat pendidikan vokasi menitik beratkan pada praktik yang artinya softskill sangat diperlukan.

“Menjadi mahasiswa vokasi bukan akhir dari sebuah pilihan menempuh penididikan tinggi, tetapi mahasiswa vokasi adalah awal dari lahirnya praktisi hebat yang akan mengukir sejarah baru dalam peradaban bangsa Indonesia dan men-support kemandirian bangsa Indonesia,” tekan Ir.Hotma dalam kuliah tamunya.

Pembicara kedua adalah Nia Niscaya, S.H , MBA Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata RI. Kuliah tamu sesi dua ini dimoderatori oleh ketua Departemen Bisnis Dr. Endah Sri Nurhidayati, M.Si. Dalam kuliah tamunya, Nia menjelaskan tentang perlunya strategi pemasaran pariwisata guna menyongsong Revolusi Industri 4.0.

Perlu diketahui, saat ini industri pariwisata menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia, ketika sektor komoditas andalan perekonomian nasional semakin terbatas produksinya diakibatkan melambatnya perekonomian global. Perkembangan ICT (Information and Communication Technology) adalah konseksuensi dari globalisasi yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu Indonesia harus mampu memanfaatkan perkembangan ICT untuk mendukung perkembangan pariwisata. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan pariwisata di Era Revolusi Industri 4.0, khususnya sumbet daya alam (natural) dan budaya (cultural).

Pembicara yang merupakan alumnus Fakultas Hukum UNAIR ini menambahkan, sebagai seorang mahasiswa yang dididik untuk menjadi praktisi profesional harus mampu membedakan mana yang urgent dan mana yang lebih important. Semua harus serba terukur dalam hal managemen waktu maupun diri dalam pengambilan keputusan, serta harus terbiasa membuat timeline dan to do list dalam berbagai kegiatan.

“Yang terpenting bukan besar mengalahkan yang kecil, tetapi cepat mengalahkan si lamban. Dan sebagai penunjang, kalian wajib menguasai berbagai bahasa asing sebagai penunjang,” pesan Nia Niscaya pada mahasiswa baru FV UNAIR.

Untuk mendukung pengembangan pariwisata era 4.0, mahasiswa dapat berperan sebagai humas. Caranya, dengan membagi (share)atraksi wisata, aksesibilitas, dan amenitas yang positif. Sementara yang negatif dapat dilaporkan kepada instansi terkait. Hal tersebut sebagai bentuk dukungan pada pengembangan pariwisata melalui tagline Wonderful Indonesia.

Pembicara terakhir, seorang pelopor generasi Nusantara  yang merupakan Dosen di London School of Public Relation, Jakarta. Ialah Muhammad Hidayat, dosen yang juga aktif di bidang pengabdian masyarakat. Ia mengupas tentang Socialpreneurship menuju kemandirian bangsa Indonesia.

Sebagai bentuk kepedulian sosial, socialpreneurship mendidik generasi muda untuk peka terhadap masalah sosial. Diharapkan generasi baru Fakultas Vokasi UNAIR mampu membangun jiwa entrepreneurship guna menjadi bagian dari agent of change serta membantu perekonomian negara.

“Semua hal berawal dari sebuah mimpi. Hal kecil akan memberikan impact yang sangat besar apabila kita melakukannya dengan sunguh-sunguh. Semangat dan optimisme harus dimiliki Indonesia untuk membangun bangsa yang lebih baik di masa Revolusi Industri 4.0. Mari bersama memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun bangsa melalui socialpreneuship,” tegas Muhammad Hidayat dalam materi kuliah tamunya. (*)

Penulis : Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor : Binti Q. Masruroh