Ubah Tempe Menjes Lebih Punya Nilai Ekonomi

UNAIR NEWS – Tempe menjes bagi sebagian orang dianggap sebagai makanan kuno dan ndeso. Namun ditangan lima orang mahasiswa D3 Perpajakan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga ini, tempe menjes disulap menjadi camilan khas kekinian.

Kelompok PKM Kewirausahaan (PKM-K) yang terdiri dari Rr. Wibsa Adelia Augie, Beka Ratu, Eryl Hayattul Umma, Anggi Nur’aini Ikawati, dan Reviandy Ardiyanto ini membuat varian jajanan populer risoles yang dikombinasikan dengan isian tempe menjes.

“Tempe menjes sebenarnya makanan yang berasal dari fermentasi ampas tahu. Belum banyak yang mengetahui manfaat dari tempe menjes, padahal tempe menjes mengandung protein sebanyak 4% dan serat kasar 30.4%. Serat kasar inilah yang bermanfaat untuk melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit,” terang  Anggi salah satu anggota tim.

Menambahkan pernyataan Anggi, ketua tim Adelia Augie mengungkapkan bahwa ide membuat risoles menjes berawal dari kurangnya diversifikasi dari produk risoles yang membuat penggemar kuliner mulai mencari varian yang baru. Alasan tempe menjes dipilih sebagai pilihan untuk menjadi varian baru risoles adalah nilai gizi dan harganya yang murah.

“Hal ini sangat potensial untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi,” jelas Adelia.

Risoles menjes produknya dan tim yang diberi nama “Rolljess” ini memiliki pangsa pasar yang luas. Karena harga yang terjangkau, 1 pack “Rolljess” yang berisi dua biji risoles dijual dengan harga Rp. 6000,-.  Selain itu didukung dengan kemasan yang modern, risoles menjes mampu menarik minat konsumen.

“Jangkauan produk kami sudah merata di Jawa Timur. Kemarin ada konsumen yang memesan dari Banyuwangi, Madura, Surabaya, Lamongan, Tuban, Sidoarjo, Pasuruan. Bahkan ada yang dari Nusa Tenggara Timur,”tuturnya

Untuk promosi, Adelia menjelaskan bahwa “Rolljess” dipromosikan menggunakan media sosial seperti Instagram dan Line.

“Memang produk risoles dipasaran sudah banyak, namun yang menggunakan isian tempe menjes belum ada. Kami yakin program kewirausahaan risoles menjes ini akan mampu menjadi suatu usaha yang terjamin keberlangsungannya,” pungkasnya.

Editor: Nuri Hermawan




Lebaran, Dari Petasan Bambu Hingga Tradisi Prepegan

UNAIR NEWS – Hari raya Idulfitri atau yang lebih akrab dengan istilah lebaran seperti menjadi hadiah dari Tuhan. Setelah satu bulan penuh menjalankan puasa dengan semua aturan-aturannya, lebaran menjadi satu momen puncak umat manusia untuk menyempurnakan ibadah puasa yang telah ditunaikan.

Mengenai hal-hal indah seputar lebaran, UNAIR NEWS berhasil menemui Direktur SDM Universitas Airlangga, Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum. Purnawan yang juga dosen Ilmu Sejarah UNAIR tersebut bertutur bahwa lebaran merupakan bentuk kembalinya manusia kepada fitrahnya, yakni kesucian.

“Setelah setahun dalam hidup kita yang banyak kesalahan. Nah ini ada upaya membersihkan selama bulan Ramadan. Dalam bulan ini ada upaya membersihkan hati kita, ada perenungan. Jadi pada Idulfitri ada batin yang bersih untuk hidup selanjutnya dan ke depan harus jauh lebih baik. Dan kesalahan yang sudah lalu tidak berulang,” paparnya.

Purnawan pun juga berkisah, mengenai hal-hal unik yang pernah ia alami selama menyambut lebaran hingga lebaran tiba. Mudik salah satunya. Pria asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini rutin mudik ke kampung halaman tiap tahun. Meski sibuk dengan berbagai urusan, mudik baginya merupakan suatu hal wajib yang harus dilakukan untuk menyambut lebaran.

“Biasanya saya mudik juga sudah mepet hari raya. Jadi semua pekerjaan sudah selesai dan memasuki hari libur malamnya saya pulang. Berangkat tengah malam, jam satu dini hari biasanya, bawa bekal untuk sahur sekalian. Itu tradisi kami,” paparnya.

Mengenai kenangan lebaran sewaktu kecil, Purnawan menceritakan hal yang tidak bisa dilupakan saat masih hidup di kampung halaman. Satu hal yang selalu ia ingat adalah petasan bambu. Baginya, tradisi membunyikan petasan bambu yang populer di kampungnya saat ia kecil, kini semua telah berubah.

“Tradisi membunyikan petasan bambu saat akhir puasa itu yang sekarang tidak ada lagi, sejak ada larangan petasan-petasan mungkin ya,” kata Purnawan.

Prepegan

Selanjutnya, Purnawan berkisah, ada satu tradisi yang hingga kini masih terpelihara. Ialah prepegan, tradisi belanja ke pasar tradisional secara beramai-ramai di akhir puasa. Mengenai prepegan, Purnawan punya kisah unik. Sewaktu kecil, ia bersama teman-temannya selalu ikut tradisi tersebut, meski tidak banyak membeli keperluan, baginya melihat barang-barang unik yang hanya dijajakan saat prepegan merupakan kesenangan tersendiri.

“Waktu saya kecil, banyak dagangan yang muncul tiba-tiba. Yang saya ingat saya membeli minyak rambut, dan itu dijual dengan murah. Dagangan unik mereka yang datang dari luar kota itu menarik bagi kami untuk sekedar melihat,” terangnya.

Selain itu, satu hal unik dari tradisi prepegan adalah ulah anak-anak yang sering nongkrong di pinggir jalan dan melihat orang yang beli barang aneh-aneh untuk kemudian dikata-katai.

“Jadi orang-orang yang lewat itu kami kata-katain. Nah yang satu ini yang sudah mulai hilang, anak-anak kecil tidak begitu tertarik. Kalau dulu ini tradisi yang selalu kami tunggu,” kenangnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Binti Q. Masruroh




Lebaran Adalah Keniscayaan untuk Berkumpul dengan Orang Tercinta

UNAIR NEWS – Lebaran selalu membawa cerita dan kesan yang ditunggu-tunggu. Momen lebaran menjadi waktu yang tepat untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Berlebaran di kampung halaman bersama orang yang dicintai akan menambah riuh suasana lebaran.
Seperti halnya Wakil Rektor I Universitas Airlangga Prof Djoko Santoso yang selalu menyempatkan menemui kedua orang tuanya di Jombang, Jawa Timur. Baginya, lebaran sesungguhnya ialah mengingat kembali kepada sang Khalik agar selama perjalanan hidup selalu menjaga fitrah.
“Orang tua selalu mengingatkan akan sejarah, bahwa apa yang kita dapat sekarang ini tidak lepas dari peran orang tua kita,” ucap Prof. Djoko.
Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAIR ini mengatakan bahwa banyak keterlibatan orang baik yang telah mengantarkan dirinya hingga pada posisi sekarang, terutama kedua orang tua. Ke depan, ia berusaha untuk bisa menjadi suritaladan bagi generasi mendatang.
“Ketikan lebaran tiba, kita telah diberi hidayah sebulan. Artinya tidak hanya berpuasa fisik namun bisa mengendalikan semua hawa nafsu. Pada titik itu manusia seperti terlahir kembali,” ungkapnya.
Meski telah mengemban berbagai amanah dan posisi penting, Prof. Djoko merasa bahwa saat ini dirinya masih belum bisa berbuat banyak. Akan tetapi, ia selalu berusaha untuk berbuat lebih banyak. Untuk itu, ia juga membutuhkan dukungan berbagai pihak agar kerjakeras universitas dapat bermanfaat untuk kepentingan bangsa dan negara.
“Selama sebulan menjalani ibadah puasa yang diakhiri dengan sholat Idulfitri, kita telah diberi keniscayaan. Maka kita harus selalu saling mengingat dan saling menguatkan bahwa kita ini manusia lemah,” papar Djoko.
Sebagai bangsa yang penuh dengan keberagaman, adalah pilihan yang harus ditempuh dalam menunjukkan Indonesia sebagai negara besar. Prof. Djoko menambahkan, dengan mengedepankan cinta kasih insyallah akan memberi kontribusi besar terhadap kemajuan bangsa.
“Semoga para pemimpin selalu diberi hidayah dalam menggerakkan pemerintahan menujuh ke arah yang lebih baik lagi. Bagi UNAIR, pada tahun 2020, UNAIR bisa masuk 500 World Class University sehingga bisa membawa Indonesia pada kancah internasional,” ucap Prof. Djoko. (*)
Penulis : Helmy Rafsanjani
Editor : Binti Q. Masruroh




Berhasil Mendaki Denali, Tim AIDeX Tiba di Tanah Air

UNAIR NEWS – Setelah berhasil mengharumkan nama Indonesia di puncak setinggi 6.194 meter di atas permukaan laut, tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Wanala Universitas Airlangga tiba di Surabaya, Senin (26/6).

Kedatangan tim atlet AIDeX yang beranggotakan Muhammad Faishal Tamimi (mahasiswa Fakultas Vokasi/2011), Mochammad Roby Yahya (mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan/2011), dan Yasak (alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) di Bandar Udara Juanda disambut hangat oleh para senior Wanala dan sivitas akademika UNAIR.

“Denali ini benar-benar susah (untuk didaki). Mulai prediksi cuaca, kita menghadapi medan salju, gletser. Susah dan berbahaya. Alhamdulillah, misi tercapai. Kami bisa mengibarkan bendera Merah Putih dan bendera Wanala,” ungkap Faishal ketika diwawancarai UNAIR News sesaat setelah tiba di gerbang kedatangan Terminal Dua Bandara Juanda.

Ketiga atlet AIDeX tersebut tak bisa menyembunyikan rasa haru sekaligus bangga ketika berhasil menjejakkan kaki di Tanah Air. Perasaan tersebut tak bisa dilepaskan dari perjuangan mereka dalam menyelesaikan pendakian Denali.

Faishal menuturkan, pendakian di Denali adalah pengalaman pertama bagi ia dan Roby dalam mendaki gunung es. Sedangkan, bagi Yasak, Denali adalah gunung es kedua yang berhasil didaki selain Elbrus (Rusia) pada tahun 2011 lalu.

Menurut Faishal yang juga ketua ekspedisi AIDeX, Denali memiliki medan yang cukup sulit dan berbahaya. Ia mengatakan, sejak di area base camp, Denali ditutupi dengan salju.

“Benar-benar gunung es, mulai dari es yang keras, lebur bisa diinjak sampai setinggi paha orang dewasa. Belum lagi ditambah cuaca seperti angin, blizzard, dan whiteout putih semua sampai nggak kelihatan apa-apa,” tutur mahasiswa Program Studi D-3 Otomasi dan Sistem Instrumentasi.

Pendakian di Gunung Denali oleh tim AIDeX selesai tepat waktu. Hal tersebut diungkapkan oleh manajer tim AIDeX Wahyu Nur Wahid ketika diwawancarai. Sejak awal, tim ekspedisi telah menghitung estimasi pendakian Gunung Denali selama 23 hari.

“Ketika berangkat itu estimasi 16 hari. Kita alokasikan ada empat hari cadangan untuk jaga-jaga. Selain itu, rata-rata lama pendakian di Denali biasanya memang 20–23 hari,” ujar Wahyu.

Wahyu menambahkan, pendakian Denali oleh tim AIDeX juga dinilai berhasil mengingat selama satu bulan terakhir, ada dua pendaki yang meninggal saat mendaki gunung tertinggi di belahan bumi utara.

Menurut data yang dirilis oleh Denali National Park Service tanggal 19 Juni 2017 waktu setempat, sebanyak 1.176 orang mendaki gunung yang berlokasi di Alaska pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut, sebanyak 723 orang berhasil menyelesaikan pendakian, 223 orang berhasil mencapai puncak, dan 500 orang yang gagal mencapai puncak Mc. Kinley.

Ketua UKM Wanala Gangga Pamadya Bagaskara yang turut datang menyambut kedatangan para atlet AIDeX menuturkan tentang rencana pendakian selanjutnya. Pihaknya menargetkan, misi pendakian tujuh puncak tertinggi di masing-masing benua akan berakhir pada tahun 2022 atau tepat pada ulang tahun Wanala ke-50.

Berikutnya, mereka akan menyusun rencana pendakian ke puncak Vinson Massif di Kutub Selatan dan Everest di Nepal.

Usai tiba di Surabaya, ketiga atlet AIDeX akan menjalani pemeriksaan kesehatan fisik dan mental di Rumah Sakit UNAIR. Selain itu, keberhasilan para atlet AIDeX dalam melambungkan nama UNAIR dan Indonesia yang didukung PT. Pegadaian Persero dan PT. PP Properti, akan disambut secara resmi oleh Rektor dalam upacara penyambutan yang akan dilangsungkan pada bulan Juli.

Denali bukanlah puncak pertama yang berhasil didaki oleh anggota UKM Wanala. Empat dari puncak tertinggi yang telah digapai oleh Wanala adalah Puncak Carztenz Pyramid (Indonesia/1994), Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus (Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013).

Penulis: Defrina Sukma S




Inilah Empat Makna Lebaran dalam Budaya Jawa

UNAIR NEWS – Usai menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh, umat Islam merayakan kemenangan dalam momen Idul Fitri yang jatuh tanggal 25–26 Juni. Pengajar mata kuliah Filsafat Ilmu, Listiyono Santoso, M.Hum., mengungkapkan makna di balik nama Idul Fitri yang disebut Lebaran oleh masyarakat Jawa.

Menurut Listiyono, lebaran bukanlah sekadar penanda akhirnya kewajiban berpuasa di Bulan Ramadan melainkan suatu kondisi pintu ampunan yang terbuka lebar dari Allah setelah umat Islam menuntaskan kewajiban puasa.

Makna Lebaran tak dapat dipisahkan dengan bakdo kupat atau ngaku lepat (mengakui kesalahan). Tidak hanya pada Allah melainkan juga sesama umat manusia. Selain itu, Lebaran juga bermakna laku papat (empat tindakan) yang dilakukan masyarakat usai Ramadan.

“Pertama, lebaran bermakna selesai atau terbukanya ampunan. Kedua, luberan yang bermakna meluber atau melimpah. Luberan ini merupakan simbol ajaran bersedekah untuk kaum papa. Pengeluaran zakat fitrah menjelang Lebaran juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia,” tutur Listiyono.

Makna lainnya adalah leburan yakni melebur kesalahan dengan saling memaafkan atas segala kesalahan. Terakhir, laburan sebagai simbol manusia untuk selalu menjaga kesucian dan kebersihan.

Selain itu, masyarakat Jawa juga sering menyebut Lebaran dengan istilah riyaya (hari raya) yang dimaknai sebagai hari kemenangan. Kata “raya” dalam perayaan merujuk istilah peristiwa kemenangan umat Islam selama satu bulan penuh mengalahkan berbagai hawa nafsu dan menahan diri.

Riyaya itu bermakna hari kemenangan bagi umat Islam, bukan mengalahkan musuh di luar dirinya, melainkan musuh di dalam dirinya sendiri, yakni hawa nafsu. Selain itu, orang Jawa juga sering menggunakan istilah ba’da untuk menyebut hari raya. Ba’da bermakna sesudah atau fase setelah menjalankan ibadah puasa yang membuat manusia mendapatkan rahmat-Nya, ampunan-Nya sehingga terbebaskan dari siksa api neraka,” tutur Listiyono saat diwawancarai.

Secara substantif, hari kemenangan hanyalah dimiliki oleh umat Islam yang menjalankan ibadah puasa dengan menahan makan dan minum, menahan keinginan-keinginan yang bisa membatalkan puasa serta mengurangi pahala puasa.

“Idul fitri kan bermakna kembali kepada kesucian, sebagaimana bayi yang baru lahir dalam keadaan suci tanpa kesalahan. Kembali fitri karena segenap dosa-dosanya yang telah lalu diampuni Allah SWT. Indikator diampuni dosanya adalah perilaku kesehariannya justru menunjukkan peningkatan kualitas iman dan takwa kepada Allah. Disebut meningkat, karena kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah lebih baik dari sebelumnya,” terang penulis buku Epistemologi Kiri.

Penulis: Ainul Fitriyah

Editor: Defrina Sukma S




Rektor: Setiap Mudik Selalu Mampir ke Warung Pojok

UNAIR NEWS – Terhitung 32 tahun lamanya sejak menjadi mahasiswa program sarjana di Universitas Airlangga, Prof Moh Nasih nyaris selalu melaksanakan salat Idulfitri di masjid UNAIR. Kini, setelah dua tahun menjabat sebagai rektor, kebiasaan itu tak pernah berubah.

Kepada UNAIR NEWS Nasih bercerita perihal kebiasaan dirinya dan keluarga dalam menyambut hari kemenangan. Tahun ini seperti juga tahun sebelumnya, usai salat Ied di Masjud Ulul Azmi Kampus C UNAIR, Nasih bersilaturahmi kepada rekan-rekan maupun senior yang juga menjalankan salat di masjid UNAIR.

Seperti biasa, setelah itu ia beserta keluarga bersilaturahmi ke kediaman orangtua di Gresik dan dilanjutkan rumah mertua di Sragen.

Ada warung makan langganan yang selalu menjadi jujugan ia dan keluarga saat perjalanan menuju Sragen. Warung Pojok, Jombang, adalah warung yang tak pernah absen ia kunjungi setiap kali mudik.

“Kalau lagi jalan ke arah barat, biasanmya mampir di Warung Pojok, Jombang. Itu tempat favorit sejak dulu kala,” ungkap Nasih.

Dalam suasana Idulfitri, jalanan macet nampaknya adalah hal yang tak terelakkan lagi. Namun hal ini tidak menjadikan Nasih banyak mengeluh.

“Kita pernah perjalanan Surabaya – Sragen nyetir 12 jam macet, padahal normalnya enam jam. Kita nikmati saja. Ya senang-senang saja,” ungkapnya.

Hikmah puasa

“Tentu, Allah SWT tidak memerintahkan sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada maksud. Begitu pula dengan ramadan. Ada tujuan dan makna yang dirasakan, baik bersifat individu maupun kolektif,” ujar Nasih memberi makna hikmah dari puasa ramadan selama sebulan penuh.

Bagi Nasih, secara individu puasa memberi pengajaran kepada manusia untuk bisa menahan hawa nafsu. Sedangkan secara klektif, ramadan memberi pelajaran untuk membangun masyarakat yang madani, muttaqin, adil, dan beradab. Dalam lingkungan kampus, paling tidak, tercipta masyarakat UNAIR yang berkeadilan.

Bagi Nasih, Idulfitri bukan sekadar dirayakan, namun juga direnungkan. Kewajiban membayar zakat fitrah setelah ramadan berakhir juga merupakan bagian dari hikmah puasa. Artinya, manusia harus benar-benar merasakan dan menikmati kehidupan secara bersama-sama.

“Merasa punya kecukupan untuk makan lebih dari satu hari di bulan syawal, kita wajib untuk membayar zakat. Artinya kita harus banyak melakukan retriubusi terkait dengan kekayaan yang kita miliki pada sesama umat manusia. Sehingga semua kalangan masy bisa menikmati hidup ini dengan damai dan layak,” ungkap Nasih. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh




Direktur RSUA: Idulfitri Kembali pada Fitrahnya Manusia

“Manusia itu kembali pada fitranya, yaitu bersih dan suci yang ditugaskan untuk beribadah. Salah satu ibadah yang wajib adalah puasa ramadan. Bulan ramadan dibagikan menjadi tiga kelompok. Sepuluh hari pertama adalah hari yang penuh rahmat, sepuluh hari kedua mendapatkan pengampunan, dan sepuluh hari ketiga adalah upaya pembebasan dari api neraka,” papar Prof. Nasron, Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga.

Baginya, Idulfitri dimaknai sebagai kembali ke fitrah. Budaya Idulfitri dijadikan sebagai silaturahmi dengan sanak keluarga. Di Indonesia, budaya lebaran masih konsisten di tengah arus globalisi.

“Fenomena mudik telah menjadi hal yang wajib di Indonesia dengan negara muslim terbesar di dunia. Ini bagus dalam gegap gempita di era keterbukaan untuk terus mempertahankan identitas bangsa,” ucap Nasron.

Sebagai manusia yang kembali fitrah, Nasron mengatakan bahwa telah menjadi hakikat bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk yang unggul dibandingkan mahluk lain. Manusia yang dibekali dengan hati, jiwa, pemikiran, dan otak harusnya bisa mengingat akan hidup sesuai fitrahnya. Dikaruniahi hati dan jiwa harus bisa membawa pada positive feeling, sedangkan pemikiran dan otak akan membawa pada positive thinking.

Nasron menambahkan, hal inilah yang bisa dijadikan manusia untuk dikombinasi menjadi positive action. Maksudnya, agar manusia bisa membangun serta mengkondisikan kebaikan antar sesama dengan tujuan untuk kemaslahatan umat.

Bisa menjalankan ibadah puasa menjadikan Nasron manusia yang penuh rasa syukur. “Bahaginya bisa mencicipi makanan-makanan yang khas unutk lebaran, seperti opor yang jarang ditemukan di hari biasa. Ini memberi kebahagian tersendiri, yang walaupun seusia saya sudah harus membatasi,” lanjutnya.

Diamanahi sebagai Direktur RSUA, tentu Nasron memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan masyarakat akan sarana kesehatan. Hal ini menjadikannya pribadi yang menomorsatukan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan masyarakat, dibanding dengan kepentingannya pribadi.

“Masyarakat sakit jauh lebih penting tanpa mengurangi makna dari keluarga. Mengemban amanah Direktur Rumah Sakit, juga untuk karyawan yang dibiarkan lembur tanpa kehadiran saya, ini masih dalam ranah tanggungjawab saya sebagai Direktur RSUA. Sebagai konsekuensi logis harus ada skala prioritas,” ungkapnya. (*)

Penulis : Helmy Rafsanjani

Editor : Binti Q. Masruroh




Tim Paduan Suara UNAIR Sabet Gelar Juara di Austria

UNAIR NEWS – Tim Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Universitas Airlangga (PSUA) berhasil menyabet gelar juara I dalam ajang The 3rd International Choral Competition yang digelar di Baiden, Austria, pada 22-25 Juni waktu setempat.

“Senang sekali. Ini pertama kalinya bagi tim PSUA menang di kompetisi internasional dengan lagu-lagu klasik. Kami membawakan lagu-lagu klasik dan kami berhasil mengalahkan tim dari Eropa yang jelas rajanya lagu klasik. Kami menang dengan poin hampir sempurna senilai 97 dari 100,” tutur Ronald Moses, Ketua UKM PSUA.

Kemenangan tersebut berhasil diraih setelah tim PSUA menyisihkan lawan-lawannya dalam rangkaian proses kompetisi di Austria.

Tim PSUA merupakan satu-satunya tim asal Indonesia yang berhasil menembus babak final bersama tujuh tim lainnya dari berbagai negara.

Setelah dinyatakan unggul dari seluruh kategori penilaian, tim PSUA berhasil menembus babak Grand Prix bersama empat tim lainnya.

“Persaingannya ketat sekali karena salah satu lawan yang kami bilang paling sulit justru tidak masuk babak Grand Prix. Hasil keputusan tersebut cukup mengagetkan sekaligus membuat kami berdebar-debar,” tutur Moses, sapaan akrab mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu.

Dalam kompetisi tersebut, tim PSUA menyanyikan sebanyak delapan lagu yang terdiri dari berbagai bahasa. Diantaranya berjudul Vezzosi Augelli, All Than Can Breathe, Dieu! Qu’il La Fait Bon Regarder, Contrition, Ave Maria, Trotz Dem Alten Draehen, Salve Regina, dan Ave Regina.

Para juri menyampaikan apresiasinya setelah tim yang beranggotakan 39 penyanyi dan 1 konduktor berhasil memuaskan telinga penikmat musik pada kompetisi yang digelar di sebuah gereja di Baden.

“Juri sempat bertanya kepada konduktor kami “apakah ada penyanyi profesional di tim Anda?”. Juri-juri merasa kaget setelah mengetahui bahwa kami ternyata mahasiswa biasa yang bukan berasal dari jurusan musik dan bukan penyanyi profesional,” imbuh mahasiswa Program Studi S-1 Manajemen itu.

Bersamaan dengan gelar juara yang berhasil disabet oleh tim PSUA, tim yang terbentuk tanggal 28 September 1971 tersebut juga berhasil membawa pulang dua penghargaan kategori terbaik lainnya. Yakni, predikat “Best Interpretation of a Choral Piece composed after the Year 2000”, dan “Audience Award”.

Selain itu, tim PSUA yang bersaing ketat dengan tim paduan suara Universitas Santo Thomas Filiphina, secara seri meraih predikat gelar juara utama “1st Gold Superior”.

Kemenangan pada ajang kompetisi internasional bukanlah hal baru bagi tim PSUA. Tim yang memiliki jargon “Viva La Musica” tersebut pernah memenangkan kompetisi The 14th International Choir Festival Tallinn tahun 2015 sebagai peraih juara IV kategori Mixed Choir, juara III kategori Early Music, dan juara I kategori Folksong Choir.

Selain itu, mereka juga berhasil meraih penghargaan di International Warsaw Choir Festival tahun 2012, dan Praga Cantat 24th International Choir Competition di Praha tahun 2010.

Penulis: Defrina Sukma S




Wakil Rektor Empat Cerita Pengalaman Menarik Saat Mudik

UNAIR NEWS – Hari Raya Idul Fitri merupakan momen untuk bersilaturahmi bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Tak terkecuali bagi Wakil Rektor IV bidang kerjasama bisnis dan alumni, Junaidi Khotib, Ph.D.

Bagi pengajar Fakultas Farmasi yang akrab disapa Junaidi, momen lebaran selalu ia manfaatkan untuk pulang ke kampung halamannya di Jombang. Dari sederet pengalaman mudiknya, Junaidi pernah memiliki cerita menarik saat ia mudik ke kampung halaman ketika masa kuliah.

Junaidi bercerita, dirinya baru bisa pulang ke kampung halaman untuk merayakan lebaran pada saat malam takbiran. Pasalnya, ia harus mengikuti kegiatan kuliahnya yang padat dengan praktikum. Maklum, Junaidi adalah alumnus tempatnya ia mengajar sekarang.

Setelah kegiatan praktikumnya selesai pada malam hari, ia langsung mencari bis antarkota untuk mengantarkan dirinya pulang ke kampung asal.

Namun, ia terkadang harus bersikap ‘nakal’ kepada kenek bis. Pasalnya, meski bis antarkota yang ia tumpangi searah menuju Jombang, Junaidi kerapkali ditolak oleh kenek bis karena jarak tempuhnya yang terlampau dekat dari Surabaya.

“Waktu itu, saat bisnya ramai, mereka malah nggak mau dengan yang jarak dekat. Ketika mau naik bis, saya bilang kalau tujuan mudik saya ke tempat yang lebih jauh, tapi ketika mau membayar, saya bilang turun di Jombang,” kenangnya sambil tertawa.

Menurut Junaidi, mudik adalah sebuah aktivitas budaya yang biasa dilakukan sebagian besar masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga. Oleh sebab itu, tak jarang sebagian kalangan rela menghabiskan waktunya di jalan sekaligus merogoh kantong yang dalam untuk bersilaturahmi bersama keluarga.

Demi alasan yang sama, Junaidi tetap melakoni kebiasaan mudik itu hingga sekarang. Bedanya dengan masa kuliah, Junaidi mudik ke Jombang bersama keluarga kecilnya setelah bersilaturahmi dengan pihak keluarga istri di Surabaya.

Saat berkumpul bersama keluarga, ia melepaskan diri sejenak dari rutinitas sehari-harinya di kampus. Bersama keluarga besar, lelaki berusia 47 tahun itu saling berbagi cerita hingga menyantap makanan favoritnya, opor ayam.

“Kita bertemu dengan famili yang selama ini sama-sama sibuk di waktu yang berbahagia. Pekerjaan tentu kita lepaskan semua. Kita bisa merasakan bahwa keluarga itu begitu damai dan bersama. Kita menjadi pribadi yang apa adanya. Kita saling bercerita, menasehati, dan berbagi pengalaman,” kisah anak ketiga dari lima bersaudara.

Bagi pakar Farmasi Klinis, momen Idul Fitri dan Ramadan merupakan sebuah ruang dan waktu bagi manusia untuk berintrospeksi diri. Lelaki kelahiran 22 Oktober 1970 itu menambahkan, kualitas diri usai beribadah selama bulan Ramadan haruslah meningkat dari aspek hubungan manusia dengan Tuhan, serta hubungan antara manusia dengan manusia.

“Termasuk hubungan dengan saudara dan rekan kerja. Kita harus menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan dan Idul Fitri,” pungkasnya.

Penulis: Defrina Sukma S




Ahmad Khalid, Sempat Merasa Kesepian Ketika Hari Raya Tiba

UNAIR NEWS – Hari Raya Idul Fitri merupakan hari besar bagi umat Islam khususnya di Indonesia yang merupakan negara berpopulasi muslim terbesar di dunia. Momen Idul Fitri biasanya digunakan sebagai ajang silaturahmi keluarga besar dan makan bersama. Namun keadaan ini berbeda dengan Ahmad Khalid.

Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga ini sudah lima tahun merayakan Idul Fitri di Surabaya seorang diri. Khalid bercerita, dirinya selalu merasa kesusahan jika hari raya tiba. Pasalnya, ia kesusahan untuk mencari makan.

“Sangat sepi sekali. Semua orang mudik, saya bingung cari makan, semuanya tutup. Saya cuma ditemani suara tikus-tikus di depan rumah kos saya,” cerita Khalid sambil tertawa.

Selama ia terpisah jarak dengan keluarga, Khalid menghubungi keluarganya di Palestina melalui sambungan telepon. Melalui panggilan suara itulah, penerima Beasiswa Unggulan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bertukar cerita dan salam dengan sanak keluarganya.

Tak berbeda

Khalid mengatakan, perayaan Idul Fitri di negaranya dan Indonesia tak berbeda. Warga kota Bani Na’im, Palestina, tersebut bercerita, bahwa Idul Fitri dimanfaatkan sebagai momen silaturahmi bersama keluarga besar. Saat Idul Fitri, semua keluarga besar saling menyapa dan bercerita satu sama lain.

“Saat berkumpul, biasanya kita makan kue dan minum kopi. Makanan tradisional yang disajikan di sana sewaktu Idul Fitri yakni Mamool (sejenis kukis) dan juga ada kopi Arabica untuk keluarga. Saya sangat rindu suasana itu, nikmat bersama keluargaku memang terpenting,” kisah mahasiswa FKG UNAIR.

Ditanya mengenai makanan Indonesia, Khalid mengaku meskipun sudah hampir lima tahun berada di Indonesia ia belum sepenuhnya menikmati makanan Indonesia.

“Orang-orang di sini biasanya kalau sahur atau buka kalau tanpa nasi biasanya kurang puas, tapi disana sebenarnya dengan kurma dan air putih saja cukup,” jelasnya.

Ia lantas berharap, dirinya segera menyelesaikan studi dan kembali ke tanah airnya untuk berkumpul dengan keluarga yang ia rindukan.

Penulis: Faridah Hari

Editor: Defrina Sukma S