Menyoal Keuntungan dan Risiko Anak Sekolah Terlalu Dini

UNAIR NEWS – Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi si buah hati. Salah satunya adalah dengan menanamkan pendidikan bagi anak sejak usia dini. Pada usia 0-6 tahun, otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Fase ini merupakan masa keemasan bagi tumbuh kembang anak, atau sering disebut sebagai golden age. Pada rentang usia tersebut, kemampuan anak dalam menyerap informasi dan mempelajari hal baru berlangsung cepat.

Maka tak heran, jika saat ini banyak orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak pada usia sedini mungkin. Dengan anggapan, pendidikan formal sejak dini akan membuat anak lebih cerdas dan mampu menyerap ilmu pengetahuan lebih baik dibanding anak-anak lainnya. Terlebih, menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua ketika kelak anak-anaknya mampu menyelesaikan studi dalam usia muda.

Namun, benarkah anggapan tersebut?

Ahli tumbuh kembang anak dari Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dr. Irwanto, dr., Sp.A(K) memberikan jawabannya dalam talkshow Jatim Fair 2018. Talkshow yang berlangsung Rabu (10/10) itu mengupas permasalahan terkait Resiko dan Keuntungan Anak Sekolah Terlalu Dini. Pameran terbesar di Indonesia bagian Timur tersebut menggandeng para praktisi Rumah Sakit Universitas Airlangga untuk membantu memberikan sosialisasi dan edukasi seputar dunia kesehatan kepada masyarakat.

Menyoal problem yang kerap dialami orang tua tentang pendidikan anak, Dr. Irwanto mengatakan bahwa selama ini banyak orang tua yang salah kaprah dalam mendefinisikan pendidikan dini bagi anak. Saat ini, anak-anak usia pra sekolah cenderung mendapat tekanan untuk menelan materi pendidikan formal secara mentah-mentah.

“Yang keliru saat ini adalah banyak anak-anak PAUD, TK justru sudah diberi PR oleh guru. Padahal anak-anak seusia mereka belum layak mendapat tugas rumah. Mereka masih dalam tahap untuk mengenal lingkungannya. Jadi, biarkan mereka bermain menikmati dunianya,” jelasnya.

Dr. Irwanto memaparkan, pada usia 2-3 tahun, kemampuan bicara anak masih belum berkembang secara sempurna, yakni sekitar 50-75 persen. Kemampuan bicara pada anak, rata-rata mencapai tahap sempurna saat mereka menginjak usia empat tahun. Menurutnya, merupakan suatu hal yang wajar jika kemudian anak-anak di usia tersebut belum mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sekolah. Sebab, pada rentang usia tersebut, anak masih dalam tahap pematangan kemampuan bicara.

“Lingkungan pendidikan semacam PAUD dan taman kanak-kanak merupakan media bagi anak untuk belajar bersosialisasi, biarkan mereka menikmati usia bermain sebagaimana mestinya. Jangan dibebani dengan tugas-tugas dan pelajaran berat,” paparnya.

Lebih lanjut, Dr. Irwanto mengatakan, usia ideal anak untuk masuk sekolah dasar adalah usia 6-7 tahun. Namun bukan berarti, di bawah usia tersebut anak dilarang untuk bersekolah.

“Jika memang anak tersebut mampu, silakan saja menyekolahkan anak lebih muda. Asal bukan karena paksaan orang tua, melainkan karena pilihan anak itu sendiri,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Penelitian membuktikan, anak-anak yang bersekolah dengan usia matang cenderung lebih dapat mengelola emosi dan menangkap pelajaran lebih baik dibandingkan anak-anak yang bersekolah di usia terlalu muda.

Meski tak dapat dipungkiri jika terdapat beberapa anak yang terbukti lebih cepat menerima pelajaran di usia lebih muda. Anak-anak semacam ini biasanya memiliki kemampuan atau kecerdasan yang mumpuni di bidang akademik.

Namun, bagi anak-anak yang belum siap secara mental, risiko yang ditimbulkan ketika memaksakan sekolah terlalu dini dapat mengakibatkan kemampuan komunikasi anak menjadi terbatas, anak mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah.

Perkembangan mental yang belum sempurna akan berpotensi terhadap semangat belajar anak. Sehingga, anak akan merasa cepat jenuh dan bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Orang tua yang tidak peka akan hal tersebut, rentan membuat anak mengalami kondisi tertekan.  Sebab, mereka harus menjalani proses belajar mengajar berbasis pendidikan formal yang cenderung menjemukan. Anak yang seharusnya bahagia dan menikmati dunia bermainnya, justru harus dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran yang tak semuanya sesuai dengan usia perkembangannya.

Dr. Irwanto mengimbau kepada orang tua untuk tidak pernah menyamakan atau membandingkan anak satu dengan yang lain. Setiap anak memiliki proses perkembangan dari sisi berpikir, emosi, dan kecerdasan serta sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus bisa memahami karakter serta potensi masing-masing anak, supaya dapat diketahui cara yang tepat untuk menstimulus proses belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




Konsumsi Herbal untuk Antisipasi Mual Usai Kemoterapi

UNAIR NEWS – Mual dan muntah kerap dialami oleh sebagian penderita kanker usai menjalani kemoterapi. Meskipun dianggap sebagai efek samping dari proses pemberian obat anti kanker, namun gejala mual dan muntah sebenarnya memerlukan perhatian khusus. Mengapa?

Mual dan muntah yang dialami oleh penderita kanker pasca kemoterapi sebenarnya dapat memicu stres dan trauma berkepanjangan. Tidak hanya bagi si penderita tapi juga keluarga. Jika tidak diatasi, maka dalam situasi yang kurang nyaman seperti ini akan mendorong penderita berhenti melakukan kemoterapi. Kalau sudah begini, akibatnya proses penyembuhan menjadi tidak maksimal.

Di samping kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh sel kanker, ternyata pemberian obat antikanker juga membawa efek samping, yang dapat memengaruhi kondisi biologis, fisik, psikologis, dan sosial penderita.

Bakti Surarso, dr., Sp. THT-KL(K), FICS mengatakan sekitar 20-30 persen penderita kanker mengalami hal tersebut. Meski tidak bisa dihindari, namun gejala mual dan muntah setelah kemoterapi sebenarnya dapat diantisipasi melalui beberapa cara.

Antara lain, dengan mengonsumsi obat-obatan anti muntah, herbal, akupunktur, hingga melakukan terapi biopsikobehavioral.

Bakti menjelaskan, mual dan muntah yang dirasakan usai kemoterapi digolongkan menjadi tiga berdasar waktu kejadian. Yakni akut, lambat, dan antisipatori. Mual muntah akut terjadi dalam 24 jam pertama setelah kemoterapi. Puncaknya terjadi pada 5-6 jam setelah kemoterapi.

Pada tipe lambat, umumnya terjadi setelah 24 jam pemberian kemoterapi, dan mual muntah tetap dirasakan selama 5-7 hari setelahnya. Sementara mual dan muntah antisipatori terjadi sebelum pemberian kemoterapi.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ada beberapa cara agar mengurangi efek mual dan muntah ketika sebelum maupun sesudah kemoterapi.

Pertama, dengan memberikan obat antimuntah. Beberapa pilihan obat antimuntah yang dapat dikonsumsi antara lain mengandung palanosetron, aprepitant, fosaprepitant, netupitant, lorazepam, karbamazepin, proklorperazin, metoklopramid, deksametason, dan gabapentin.

“Obat-obat tersebut dapat mencegah atau mengurangi mual muntah dengan cara yang berbeda-beda. Sehingga, efek penggunaannya pun menjadi tidak sama,”ungkapnya.

Selain pemberian obat antimuntah, Bakti juga menyarankan pemberian suplemen herbal. Di China, jahe (Zingiber officinale) telah digunakan sebagai obat mual dan kembung sejak abad ke-16. Untuk mengatasi mual muntah, konsumsi jahe disarankan sebelum menjalani kemoterapi.

Jahe telah dipelajari dalam beberapa penelitian dan diketahui bermanfaat untuk mengatasi keluhan mual muntah akibat motion sickness, operasi, dan kehamilan. Pemberian jahe untuk mencegah motion sickness telah direkomendasikan di Eropa.

Bahkan, Food and Drug Association (FDA) Amerika Serikat mengklasifikasikan jahe sebagai substansi yang aman dikomsumsi kurang dari empat gram sehari, bukan sebagai obat.

“Selain jahe, cinnamon bark, peppermint, chamomile, fennel, dan rosewood juga merupakan suplemen herbal yang dapat dikonsumsi untuk mencegah atau mengurangi mual muntah pasca kemoterapi,” jelasnya.

Selain mengonsumsi obat dan herbal, akupunktur ternyata bisa menjadi alternatif yang patut dicoba. Akupuntur telah lama dikenal sebagai pengobatan cina tradisional yang telah ada sejak empat ribu tahun lalu.

Akupuntur dilakukan dengan cara memasukkan jarum pada titik tertentu di tubuh. Titik tempat dimasukkannya jarum memiliki fungsi tertentu, dalam hal ini yang dapat mencegah atau menurunkan mual muntah.

Terakhir bisa dengan terapi biopsikobehavioral. Terapi ini meliputi progressive muscle relaxation (PMR), imajinasi terbimbing, hipnosis, dan latihan. PMR merupakan latihan menegangkan dan melemaskan otot-otot tertentu yang dapat membuat relaks fisik dan mental.

Berbeda dengan PMR, imajinasi terbimbing berusaha meningkatkan konsentrasi pasien terhadap suatu benda, berkaitan dengan pengalaman sensorik. PMR yang dilakukan bersama dengan imajinasi terbimbing mampu menurunkan kemungkinan terjadinya mual muntah selama 4 hari setelah pemberian kemoterapi.

”Hipnosis diri sendiri merupakan teknik membentuk imajinasi sehingga menciptakan rasa baik dan aman. Selain itu, terdapat beberapa latihan aerobik yang bisa diikuti karena mampu menurunkan mual muntah,”ungkapnya.

Seperti diketahui, penyakit kanker merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia, setelah penyakit jantung. (*)

Penulis: Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Mitos dan Fakta Seputar Kesehatan Mata

UNAIR NEWS – Keberagaman mitos seputar penyakit mata memang perlu ditelisik kebenarannya. Fakta di balik sejuta mitos yang terlanjur diyakini masyarakat penting untuk diluruskan. Agar masyarakat memiliki persepsi dan pemahaman yang tepat seputar kesehatan mata dan pengobatannya secara benar.

Meluruskan berbagai mitos seputar kesehatan mata, Prof. Diany Yogiantoro,dr., Sp.M(K), pakar kesehatan mata dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSUD dr. Soetomo – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga berbagi informasinya di sini.

  1. Mitos : Membaca dalam kondisi remang-remang dapat merusak mata

Faktanya, konsensus para ahli mata mengatakan membaca dalam kondisi cahaya sedikit tidak akan merusak mata. Bahkan menurut British Medical Journal diungkapkan bahwa membaca di bawah cahaya rendah tidak akan merusak mata, namun hanya akan menyebabkan terjadinya ketegangan mata.

  1. Mitos : Membaca sambil tiduran menyebabkan rabun jauh atau mata minus

Faktanya, rabun jauh (mata minus) dapat terjadi akibat adanya perubahan kelengkungan kornea, gangguan pada lensa mata, atau karena memanjangnya sumbu bola mata.

Posisi membaca tidak akan berpengaruh dalam memicu timbulnya rabun jauh. Membaca dalam posisi berbaring (tiduran) akan menimbulkan berbagai keluhan mata yang terjadi akibat mata lelah. Seperti mata perih hingga sakit kepala karena saat membaca dalam posisi berbaring tanpa disadari jarak antara mata dengan buku akan menjadi lebih dekat.

Hal ini akan memaksa mata untuk berakomodasi terus menerus agar bayangan jatuh tepat di retina. Mata yang berakomodasi terus menerus akan menjadi cepat lelah sehingga timbul keluhan-keluhan seperti pandangan menjadi buram, mata perih, sakit kepala, dan lain sebagainya. Namun, keluhan keluhan ini hanya bersifat sementara. Dengan mengistirahatkan mata secara teratur maka keluhan-keluhan ini dapat diatasi.

  1. Mitos : Terlalu sering di depan komputer atau sering menonton TV akan merusak mata.

Faktanya, terlalu sering di depan komputer atau menonton TV mengakibatkan mata lebih jarang berkedip. Sehingga mata menjadi kering dan lelah. Cobalah beristirahat sejenak dengan mengalihkan fokus penglihatan atau melihat sesuatu di tempat yang lebih jauh setiap 15-30 menit untuk mengurangi ketegangan mata.

  1. Mitos : Makan Banyak Wortel Dapat Menyembuhkan Rabun Jauh

Faktanya, rabun jauh (mata minus) dalam istilah kedokteran dikenal dengan nama miopia merupakan suatu gangguan penglihatan dimana mata tidak mampu untuk melihat benda yang jaraknya jauh. Sehingga, pandangan menjadi kabur saat melihat benda jauh. Rabun jauh ini dapat terjadi karena adanya perubahan kelengkungan kornea, adanya gangguan pada lensa mata, atau terjadinya pemanjangan sumbu bola mata.

Pemberian wortel dan zat-zat makanan yang kaya akan vitamin A memang terbukti baik bagi kesehatan mata, namun bukan untuk menyembuhkan rabun jauh. Peranan wortel dan vitamin A dalam kesehatan mata adalah untuk mendukung metabolisme sel-sel saraf pada retina serta mencegah dan mengatasi gangguan mata yang terjadi akibat kekurangan vitamin A. Seperti xeroftalmia (mata menjadi kering) atau rabun senja (penglihatan yang terganggu di saat gelap/malam hari).

Karena itu, jika penyebab pandangan kabur/buram adalah defisiensi vitamin A, maka konsumsi banyak wortel dapat membantu mengatasi kelainan mata tersebut, namun jika penyebab pandangan kabur adalah rabun jauh maka sebaiknya diatasi dengan menggunakan kacamata berlensa minus atau lensa kontak. Pada keadaan tertentu, rabun jauh dapat juga diatasi dengan pembedahan pada kornea antara lain keratotomi radial, keratektomi fotorefraktif, Laser Asissted In situ Interlamelar Keratomilieusis (Lasik).

  1. Mitos : Kaca mata harus dipakai terus, kalau tidak akan semakin parah!

Faktanya, kacamata adalah alat bantu penglihatan. Namun pemakaian kacamata tidak memengaruhi kesehatan mata. Penggunaan kacamata tidak berpengaruh pada penambahan ataupun pengurangan minus maupun silindris.

Jika pengguna kacamata melihat tanpa menggunakan kacamata, maka semua benda akan terlihat tidak fokus dan mata akan dipaksa bekerja lebih keras untuk memfokuskan benda tersebut. Mata yang dipaksa bekerja keras dengan berakomodasi terus menerus akan cepat menjadi lelah dan timbul keluhan berupa sakit kepala, mata perih, dan penglihatan kabur.

Namun hal ini tidak akan menimbulkan kerusakan jangka panjang terhadap mata. Kaca mata akan membantu anda untuk melihat dengan lebih baik tanpa mata harus bekerja keras. Dengan menggunakan kacamata, maka penglihatan tidak akan memburuk dengan cepat, namun tidak menggunakan kacamata pun tidak akan merusak mata anda secara permanen.

Kondisi ini hanya bersifat sementara dan tidak akan mengakibatkan kerusakan jangka panjang terhadap mata. Kaca mata akan membantu anda untuk melihat dengan lebih baik tanpa membuat mata harus bekerja keras. Dengan tidak menggunakan kacamata, maka akan membuat mata anda menjadi tidak nyaman. (*)

Naskah : Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Tips dan Trik Raih Beasiswa dari Penerima Beasiswa LPDP

UNAIR NEWS – Sebagai seorang mahasiswa, meraih beasiswa merupakan salah satu impian. Sebab, dengan memperoleh beasiswa, mahasiswa dapat membantu orang tua dalam hal pembebasan biaya kuliah.

Meski demikian, setiap beasiswa memiliki proses dan mekanismenya masing-asing. Banyak sekali beasiswa yang ditawarkan di perguruan tinggi. Mulai dari instansi pemerintah hingga swasta.

Menurut Hudha Abdul, salah seorang pembicara dalam acara Seminar dan Expo Beasiswa (SEMPOA) di Aula Amerta Kampus C UNAIR, ada tiga tahap atau pilihan setelah lulus sarjana. Tiga hal tersebut adalah bekerja, menikah, atau melanjutkan studi.

Bagi sebagian mahasiswa, melanjutkan studi terkadang menjadi suatu keinginan. Namun, itu juga menjadi hambatan lantaran biaya. Hudha menyatakan bahwa, hal itu tidak perlu dikhawatirkan.

Sebab, banyak opsi beasiswa yang sebenarnya ditawarkan pemerintah. Salah satunya adalah beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dalam LPDP, ada dua jalur yang dapat dipilih, yakni umum atau afirmasi.

Memulai persiapan sedini mungkin merupakan salah satu hal yang penting untuk memperoleh beasiswa. Selain itu, mengikuti berbagai kompetisi dan kemampuan public speaking menjadi hal yang perlu diperhatikan. Alur seleksi LPDP meliputi Administrasi, Assessment Online, Essay on The Spot, Leaderless Group Discussion, dan wawancara.

”Bukan hanya itu, harus ada usaha untuk mencapat target. Diperlukan niat. Bukan hanya untuk sekadar mencoba, tapi untuk meraihnya. Pikirkan sesuatu yang positif karena Tuhan mengabulkan prasangka hambanya sebagai umpan,” ujar Hudha.

”Saat wawancara bawa prestasi atau karya yang sudah diraih. Bukan hanya soal piala, medali, dan sebagainya. Bisa juga dengan bentuk kontribusi, misalnya saja dampak positf dari kontribusi langsung yang kita lakukan,” imbuhnya.

Tips dan trik selanjutnya adalah mencintai bidang yang ditekuni dan menjadi berbeda dengan orang lain. Tidak terlalu percaya diri, tapi juga tidak pasif. Selain itu meningkatkan soft skill bahasa secara otodidak dan menjaga konsistensi. (*)

 

 

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifai




Tips Menulis Berita Jurnalistik dari Redaktur Jawa Pos

UNAIR NEWS – “Ingat, kalau para pahlawan berjuang dengan senjata, mahasiswa berjuang dengan penanya.” Demikian ujar Dr. Riesta Primaharinastiti S., Si., M.Si., Apt. Wakil Dekan 1 Fakultas Farmasi Universitas Airlangga membuka seminar jurnalistik Sabtu (1/9). Kalimat itu disusul riuh tepuk tangan dari 250 mahasiswa yang hadir.

Seminar jurnalistik itu mengundang Anda Marzudint redaktur media cetak Jawa Pos dan Becky Subechi koordinator foto Jawa Pos Group (JPG).

“Sebelum menemui narasumber, siapkan pertanyaan yang diperlukan dengan baik dan terperinci. Terpenting, lihatlah suasana hati narasumber dan gunakan kata yang sopan,” papar Anda memberikan tips sebelum memulai wawancara kepada narasumber.

“Menarik itu penting, berita penting itu perlu. Tapi, berita yang enak dibaca lebih diperlukan,” tambah Anda, redaktur halaman Sidoarjo, Gresik, Metropolis Lifestyle, Metropolis Pendidikan, dan For Her.

Selain naskah, pesan berita dapat disampaikan melalui foto pendukung. Foto jurnalistik adalah foto yang mampu menekankan pada pesan. Artinya, jika seseorang menciptakan foto jurnalistik, berarti ia melakukan komunikasi melalui karyanya.

“Bukan hanya manusia yang berbicara, tetapi foto pun bisa berbicara. Karena sebagai fotografer jurnalistik, sebuah objek diperhatikan sebagai subjek,” ujar Becky.

Dalam foto jurnalistik, terdapat tahapan pemotretan dengan subjek, fakta, maupun peristiwa. Sebelum melakukan pengambilan gambar, terlebih dahulu tentukan pesan atau tema foto. Selanjutnya, tentukan point of interest dengan memilih subjek pendukung. Sebelum melakukan eksekusi foto, tentukan teknik fotografinya.

Angle diperlukan dalam pemotretan fotografi jurnalistik. Pertama, posisi high angel untuk memperlihatkan suasana secara utuh. Kedua, posisi low angle untuk memberikan kesan kokoh. Ketiga, posisi normal angle atau eye level untuk menonjolkan detail subjek.

Becky menambahkan, waktu ideal melakukan pemotretan yaitu dengan memanfaatkan cahaya matahari. Pagi hari sekitar pukul 06.00 – 07.30, dan sore hari sekitar pukul 15.30 – 17.00. Dalam sisi pemotretan, lanjut Becky, harus menghindari backlight kecuali untuk silhouette. Perlu diperhatikan, kemampuan blitz menyinari obyek kamera pocket maksimal tiga meter. Lalu, untuk pemotretan suasana ruangan, hindari penggunaan flash. (*)

Penulis : Rolista Dwi Oktavia

Editor: Binti Q. Masruroh




Tips Olah serta Simpan Daging yang Baik dan Benar 

UNAIR NEWS – Hal yang sering diabaikan saat perayaan Idul Adha adalah higienis serta sanitasi dalam pengolahan daging kurban. Bukan hanya kebersihan dari tempat pengolahan, tapi juga kebersihan dan kualitas daging kurban yang diperoleh juga harus diperhatikan.

Penanganan, pengolahan, dan penyimpanan daging kurban harus dilakukan dengan benar dan aman agar tidak menimbulkan gangguan penyakit. Pengolahan daging dengan benar dapat meminimalkan pertumbuhan kuman dan bakteri pada daging.

Mengenai hal itu, UNAIR NEWS merangkum beberapa tips cara mengolah dan menyimpan daging yang sesuai dengan prinsip kesehatan. Yakni, dari paparan narasumber Septa Indra Puspikawati, S.KM., M.PH., dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR). Berikut tipsnya.

1. Memastikan bahwa daging yang diterima dalam keadaan segar dan bersih

Memastikan bahwa daging yang diterima dalam keadaan segar dapat dilakukan dengna melihat warna daging. Pastikan bahwa daging tidak berwarna cokelat gelap dan berlendir. Sebelum dan sesudah memegang daging, pastikan sudah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

”Cuci peralatan sebelum dan sesudah mengolah daging. Gunakan peralatan (misalnya pisau dan telanan, Red) yang berbeda dengan yang digunakan untuk mengolah sayur serta buah. Penggunaan alat secara bersamaan dapat mengakibatkan kontaminasi atau penyebaran bakteri,” tambahnya.

2. Mencuci daging dengan benar

Jika hendak memasak daging beku dari freezer, jangan mencairkan daging dengan air panas. Sebab, itu dapat merusak kandungan gizi dari daging. Taruh daging beku yang masih dalam wadah plastik di bawah aliran air keran suhu normal. Jika sudah empuk, daging baru cuci, tiriskan. Dan, kemudian daging siap untuk diolah.

3. Pastikan suhu tepat

Masak daging dengan suhu yang tepat. Daging yang diperoleh bila dimasak dengan cara digiling, masak dengan suhu minimal 71,1ᵒC. Namun, jika utuh, masak daging dengan suhu minimal 62,8ᵒC.

Suhu pemasakan daging giling lebih tinggi daripada daging utuh. Sebab, kemungkinan bakteri pada daging giling tercampur pada seluruh bagian, tapi daging utuh hanya dipermukaan. Daging utuh, jika sudah matang, jangan langsung dimakan. Namun, daging utuh harus didiamkan kurang lebih tiga menit untuk membunuh bakteri.

Sementara itu, jika memiliki kelebihan daging mentah, cara sebagai berikut bisa diterapkan. Khususnya untuk menjaga kualitas daging.

Jika mendapatkan daging mentah yang hendak disimpan, jangan mencuci daging mentah tersebut dengan air kran. Sebab, hal itu dikhawatirkan dapat mengakibatkan daging terkontaminasi bakteri dari air kran. Akibatnya, daging menjadi lebih mudah busuk.

”Langkah yang dapat dilakukan adalah membuang bagian daging yang kotor tanpa mencucinya dengan air dan cuci daging ketika hendak dimasak saja. Daging tersebut dapat bertahan dengan aman selama tiga hari jika disimpan di kulkas sejuk dengan suhu 1,1 derajat Celcius. Namun, jika ingin menyimpan lebih lama bisa dengan dibekukan di freezer,” tambahnya.

Pembekuan daging di freezer dapat dilakukan dengan suhu mendekati 17,8 derajat Celcius. Jadi, daging dapat bertahan 3–12 bulan, bergantung pada bagian yang disimpan.

Penyimpanan tersebut harus menggunakan wadah yang kedap udara. Termasuk memberi label pada daging. Jadi, Anda mengetahui kapan kali pertama daging tersebut dimasukkan ke kulkas atau freezer.

”Jika mendapat daging 2–4 Kg jangan langsung dimasukkan ke freezer begitu saja. Potong kecil-kecil kemudian masukkan ke plastik ukuran  setengah Kg, baru dimasukkan ke freezer. Ambil satu per satu kantong jika hendak dimasak, bergantung kebutuhan. Selebihnya biarkan tetap di freezer. Jika disimpan seperti ini, daging dapat bertahan disimpan hingga periode satu tahun,” katanya.

”Sebelum dimasukkan ke freezer, biarkan daging di kulkas sejuk dulu selama 4–5 jam. Tujuannya adalah menyesuaikan suhu daging perlahan. Baru kemudian pindahkan ke freezer agar kandungan gizinya tetap terjaga,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

 




Tips Menembus Jurnal International Ala Dosen FISIP UNAIR

UNAIR NEWS – Menulis artikel ilmiah dan diterbitkan di jurnal bereputasi menjadi salah satu kewajiban yang harus ditempuh dosen dan mahasiswa. Namun, tak semua dosen dan mahasiswa memahami bahwa setiap jurnal memiliki karakteristik yang berbeda.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dr. Rahma Sugihartati, M.Si membagikan tips menulis artikel ilmiah dan membus jurnal bereputasi. Rahma, sapaan karibnya, tercatat ada belasan artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal ilmiah bereputasi baik nasional maupun internasional.

Pertama, penulis harus memiliki bahan sebagai sumber tulisan untuk menyusun draft. Jika sudah yakin, penulis dapat langsung menulis draft artikel. Namun jika belum yakin akan kebaruan temuan, disarankan agar penulis memilih jurnal Q3 atau Q4 dengan menentukan jenis manuskrip yang akan ditulis.

Kedua, memilah jurnal yang tepat dengan menggunakan layanan seperti http://journalfinder.elsevier.com/ .

“Kualitas jurnal mampu dilihat dari Impact factor. Jika impact factor sebuah jurnal adalah 1, maka berarti rata-rata setiap artikel yang diterbitkan oleh jurnal tersebut dikutip sekali dalam dua tahun terakhir. Dengan rumus, semakin besar skor impact factor, semakin berkualitas sebuah jurnal,” kata Rahma Sugihartati yang juga dosen program studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP UNAIR.

Ketiga, buka halaman web dari jurnal yang telah dipilih dan dipelajari. Pedoman untuk penulis dapat dilihat pada kolom Author guideline. Tidak lupa, perhatikan gramatika bahasa Inggris sebelum men-submit.

“Proses submit ikuti petunjuk dalam halaman web jurnal yang dituju. Buatlah a good impression dari judul dan abstrak. Perlu diingat, judul harus meringkas tema utama artikel dan mencerminkan kontribusi untuk teori,” tandasnya.

Kemudian, menunggu respon setelah proses submit. Artikel yang dikirim akan diseleksi awal oleh review manage. Jika telah keluar respon under review, maka peluang yang ada 50%. Dan artikel yang memiliki ‘masa depan’ akan dikirim ke reviewer untuk mendapatkan komentar.

Proses akhir, merevisi artikel. Editor jurnal akan memberikan kesempatan untuk Revise and re-submit atas dasar rekomendasi, saran, atau kritik dari reviewer. Untuk resubmission artikel yang telah direvisi tidak boleh melebihi batas waktu yang telah ditentukan.

“Proses revisi – resubmitreview – revisi – resubmit, bisa lebih dari 1 putaran. Dan setelah merevisi artikel sesuai saran reviewer, sebaiknya dibuat daftar komentar dan revisi dalam bentuk tabel atau sesuai permintaan editor,” tambahnya.

Terus belajar, tanpa mengenal letih dengan penuh kesabaran untuk hasil yang memuaskan. Good luck! (*)

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Binti Q. Masruroh




Tips bagi Mahasiswa Baru untuk Optimalkan Potensi dari Mawapres UNAIR 2018, Reza Affandi

UNAIR NEWS – Thomas Alfa Edison pernah berkata “Persiapan hari ini menentukan prestasi dimasa depan”. Sebagai mahasiswa baru, penting sekali untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin diawal menjalani kehidupan perkuliahan untuk masa depan yang lebih baik. Berikut tips untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa baru dari Mohamad Reza Affandi, Mahasiswa Pendidikan Dokter 2015 sekaligus Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Airlangga (UNAIR) 2018.

Memahami diri Sendiri

Memahami diri sendiri mulai dari kekuatan, kelemahan, potensi maupun ancaman. Menurut pengalaman dari Reza, hal tersebut dapat diketahui dengan cara aktif mengikuti kegiatan organisasi apaun yang disukai, mengikuti tes minat dan bakat, maupun meminta pendapat orang tua.

“Dulu saya ikut hampir seluruh organisasi di kampus karena memang benar-benar tidak mengetahui minat dan bakat yang sesungguhnya. Namun perlahan organisasi yang tidak saya sukai, kemudian tersingkir ditahun kedua. Ini bukan soal buang-buang waktu, menurut saya justru investasi waktu untuk benar benar menggali minat, bakat, kelemahan, dan kelebihan diri seutuhnya. Bisa jadi kita multitalenta sehingga kita bertahan di dua atau tiga organisasi,” jelas Reza membagikan pengalamannya.

Membuat Rencana dengan Baik

Menurut Reza, perencanaan dapat dimulai dari perencanaan jangka panjang, yaitu satu tahun, empat tahun, sepuluh tahun, dua lima tahun, dan seterusnya. Untuk kemudian diperinci ke bulan, minggu, sampai hari.

“Saya melakukan perencanaan jangka pendek dan panjang. Pertama saya tentukan ingin menjadi apa untuk saat ini, harus jelas dan terukur. Saya memimpikan menjadi orang yang besar, hebat, dan memiliki dampak kepada orang lain. Berhubung jurusan saya kedokteran, ilmu saya sudah dapat diaplikasikan di masyarakat. Namun, saya ingin lebih. Saya memutuskan bercita-cita menjadi dokter spesialis penyakit dalam sekaligus berkarier di birokrasi pengendalian penyakit tidak menular (misalnya menteri kesehatan) Kemudian jangka pendeknya saya bagi perbulan, per minggu, dan per hari.. saya menuliskan jadwal saya tersebut di Google Calendar,” jelas Reza.

Mengenali Cara Belajar

Di perkuliahan, jelas Reza, jika mahasiswa tidak mengenali cara belajar yang cocok, maka belajar akan terasa sangat membosankan, waktu akan terbuang untuk belajar dan hanya mengandalkan hafalan. Sehingga, potensi diri tidak akan termaksimalkan.

“Di kedokteran, jujur saya melihat cara belajar harus diubah total dari belajar D-1 menjadi dicicil, dari hafalan menjadi pemahaman, strategi mengerjakan soal-soal dan seterusnya. Saya perlu waktu hampir satu tahun untuk menyesuaikan diri, mulai dari cara belajar, dan mengatur kesibukan,” terangnya.

Rajin Membaca Buku Favorit Non – Fiksi

Menurut Reza, membaca buku non fiksi sebanyak mungkin dapat berguna untuk meningkatkan wawasan diluar jurusan yang diambil selama masa perkuliahan. Sebagai alternatif lain, bagi mahasiswa yang tidak menyukai buku, Reza menyarankan untuk menyisipkan sebagian waktu guna menonton video produktif di YouTube.

Buat Lingkungan yang Positif

Reza meyakini bahwa di dunia ini terdapat dua tipe teman. Yaitu teman yang toksik dan teman yang produktif. Teman yang toksik adalah mereka yang memiliki karakter sangat berbeda dengan kita, dan selalu mengarahkan kepada hal-hal yang tidak baik. Untuk itu, jauhi teman toksik dan dekati teman yang produktif.

“Saya berusaha untuk bergabung dengan kelompok2 yang baik dan produktif. Dan menjalin komunikasi dengan mereka sesering mungkin. Misalnya: Komunitas, pembinaan beasiswa, asrama keagamaan, mentoring, dan lainnya,” jelas Reza.

Selain itu, bagi mahasiswa yang ingin menjadi mawapres seperti dirinya, Reza berpesan untuk mempersiapkan sejak dini. Mulai mengikuti banyak lomba dan organisasi, serta membangun IPK.

“Hal yang paling penting adalah istiqomah. Dalam hal ini, persisten dikeinginan tersebut,” pungkas Reza.

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan




Inilah Empat Tips Memilih Hewan Kurban yang Baik

UNAIR NEWS – Tanggal 10 Dzulhijjah atau tepat pada tanggal 22 Agustus 2018 mendatang merupakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban. Idul Kurban merupakan suatu perayaan yang memberikan makna yang luas bagi umat Muslim. Yang mana, umat Muslim disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Salah satu syarat terpenting dalam melaksankan ibadah kurban adalah memberikan hewan kurban yang sah berdasarkan syariat Islam dengan kualitas yang baik. Mengenai hal itu, UNAIR NEWS merangkum tips memilih hewan kurban yang baik sesuai dengan syariat Islam. Nara sumber topik ini adalah Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si yang menjabat sebagai ketua Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR).

  1. Batas Minimal Umur Hewan

Aspek yang mendasari pemilihan hewan kurban yang baik pertama adalah mengenai umur hewan kurban. Hewan kurban yang sah untuk dikurbankan seperti kambing dan domba harus sudah memenuhi umur satu tahun. Sedangkan sapi dan kerbau harus sudah genap dua tahun.

“Cara lain untuk mengetahui adalah dengan melihat gigi hewan. Hewan yang sah ditandai dengan adanya pergantian gigi, yaitu bila dua gigi susu bagian depan sudah tanggal,” jelasnya.

2. Bentuk Tubuh Hewan

Aspek yang kedua ialah bentuk tubuh yang serasi dan tidak cacat. Hewan yang akan dikurbankan harus diperhatikan panjang tubuh, tinggi tubuh, keserasian, dan tidak cacat. Dikatakan serasi jika hewan tersebut standar atau normal. Selain itu, tulang punggung hewan kurban relatif rata atau lurus, tanduknya seimbang, dan kakinya simetris.

“Ciri-ciri yang lain ialah postur tubuh hewan tersebut ideal dengan kombinasi perut, kaki depan dan belakang, kepala, serta leher,” tambahnya.

3. Kesehatan Hewan

Aspek yang ketiga ialah kesehatan hewan. Ciri-ciri hewan yang sehat secara fisik yaitu hewan aktif dan reaktif ketika didekati oleh seseorang. Hewan yang sehat akan lincah, kuat, bersemangat, tidak pincang, tidak gelisah, dan selera makannya bagus.

Lebih lanjut, hewan yang sehat juga memiliki rambut halus yang mengkilap dan tidak mudah rontok. Rambut juga tidak berdiri dan tidak mengalami perubahan warna. Di permukaan kulit hewan juga terbebas dari parasit kulit seperti tungau, caplak, kutu, dan sebagainya.

“Perlu diperhatikan, jika kulit hewan terlihat kusam dan badannya kurus berarti menandakan hewan tersebut mengalami cacingan,” tambahnya.

Sedangkan penyakit yang sering terjadi pada hewan kurban ialah kelelahan yang bisa terjadi akibat proses distribusi. Hewan kurban juga sering mengalami diare dan penyakit demam tiga hari atau BOVINE Ephemeral Fever (BEF). Serta, bebas dari kudis yang mayoritas berasal dari tempat tinggal awal hewan.

4. Persentase Berat Hewan

Aspek yang terakhir ialah persentase berat karkas. Karkas adalah bagian dari ternak setelah disembelih yang terdiri dari daging dan tulang, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Karkas dihitung berdasarkan berat hewan saat masih hidup. Sebagai acuan, sapi PO (Peranakan Ongole) harus memiliki berat karkas 40-45 persen, sapi Bali 52-55 persen, sapi Madura 46-48 persen, sapi peranakan limousin 52 persen, dan sapi peranakan simental 51 persen. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




Tips Menulis dari Wahyu Syafi’ul Mubarok, Sang Langganan Juara LKTI

UNAIR NEWS – Siapa yang tak mengenal sosok mahasiswa prodi Fisika 2016 satu ini. Namanya kerap mewarnai media massa kampus hingga surat kabar nasional berkat sederet prestasi yang membanggakan.

Ialah Mohammad Wahyu Syafi’ul Mubarok. Mahasiswa yang juga menyandang gelar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Sains dan Teknologi 2017 itu telah menghabiskan banyak waktunya untuk menuangkan ide dalam tulisan.

Terbukti, sejumlah karya yang ditulisnya berhasil mengantarkan Wahyu menjemput impian. Dari tulisannya pula, dia dapat mewujudkan asanya menjejakkan kaki hingga ke negeri orang, Turki.

Pada sela kesibukannya yang padat, Wahyu tak pernah meluputkan waktu untuk terus produktif dan berkarya. Mahasiswa yang rajin mengikuti kompetisi tersebut telah menerbitkan tak kurang dari lima judul buku beserta puluhan karya dalam bentuk antologi dan esai. Terakhir, dia baru saja mengukir namanya sebagai juara I LKTIN di Universitas Brawijaya bersama dua rekannya beberapa waktu lalu.

Atas banyaknya capaian berkat hobi sekaligus bakatnya itu, tentu banyak yang ingin tahu apa rahasia Wahyu dalam menulis. Jika Anda salah satunya, berikut kami bocorkan tips dan trik menulis dari Wahyu, sang penulis muda dari UNAIR.

Tips menulis

Menurut Wahyu, terdapat tiga rahasia yang digunakan para penulis besar. Rahasia yang pertama adalah menulis, rahasia kedua adalah menulis, dan yang ketiga adalah menulis. Ia mengibaratkan menulis seperti halnya belajar naik sepeda.

”Yang dibutuhkan adalah praktik. Semakin banyak praktik, Anda akan semakin ahli. Jangan terlalu banyak teori, menulis dulu yang banyak, evaluasi kemudian. Sebab, orang bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik,” terangnya.

Trik agar Tulisan Lolos Seleksi

Saat ditanya apakah ada kiat khusus agar tulisan lolos seleksi dan lomba, Wahyu mengaku tak punya trik tertentu. Ia beranggapan jika sebenarnya tulisan atau naskah memiliki takdir masing-masing. ”Dalam artian, ketika naskah tersebut klop dengan dewan jurinya, pasti lolos. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk terus mencoba dan banyak ikut kompetisi,” ucapnya.

Hal tersebut berguna untuk mengetahui dan mengukur seberapa layak naskah yang ditulis. Secara tidak langsung. Keberanian itu juga berperan membangun kepercayaan diri.

”Dan, yang paling penting, jangan lupa berdoa,” imbuhnya.

Kendala menulis

Menurut Wahyu, kendala paling umum yang menghalangi seseorang untuk menulis adalah rasa malas untuk memulai. Kesibukan sering dijadikan alasan sehingga tidak pernah ada waktu untuk menulis. Padahal, yang bersangkutan bercita-cita menjadi penulis. Selain itu, sering banyak orang yang patah semangat ketika karyanya ditolak atau gugur dalam perlombaan.

”Padahal, upaya JK Rowling untuk menjadikan buku Harry Potter meledak di dunia pun harus mengalami penolakan lebih dari sepuluh kali,” katanya.

Sementara itu, kendala di bidang menulis karya ilmiah, lanjut dia, beberapa orang cenderung terlampau puas dengan hasil yang didapat. Jadi, mereka enggan untuk mencoba lagi.

”Tentu, ini akan mengerdilkan kemampuan critical thinking itu sendiri. Sebab, menulis adalah merawat ingatan dan mengonversinya menjadi sebuah kebermanfaatan,” sebutnya.

Cara mengatasi

Semua berangkat dari niat dan keinginan masing-masing. Semakin kuat dan besar misi yang dibawa, semangat seseorang itu untuk menulis semakin kuat. Orang-orang hebat dulunya adalah amatiran yang berani mencoba dan berusaha.

”Kalau saya sendiri, ketika tulisan saya belum juga rampung, saya memotivasi diri sendiri bahwa tulisanmu ditunggu umat. Idemu layak untuk menolong problematika bangsa. Papermu dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan bermartabat,” jelasnya.

Wahyu menambahkan lingkungan yang mendukung semangat literasi juga diperlukan. Dia menyarankan untuk bergabung dengan komunitas atau organisasi kepenulisan. Hal itu bertujuan menjaga daya dan semangat menulis.

Pada akhir, Wahyu berpesan kepada teman-teman mahasiswa tidak merasa minder dengan anggapan tulisan jelek atau tidak bermutu. Menurut dia, yang menjadi masalah adalah tulisan itu belum menemukan pembaca yang tepat. Atau dalam penulisan ilmiah, ide yang belum lolos bukan berarti tidak layak. Jadi, masih dibutuhkan pengembangan lagi.

”Sebagai contoh, ide saya terkait uji nuklir pernah saya kirim ke PKM-GT, tapi nggak lolos. Akhirnya saya rombak dan saya kirim ke PPI (Persatuan Pelajar Indonesia, Red) Turki. Alhamdulillah lolos dan diundang ke sana,” ungkapnya, lantas tersenyum.

”Intinya, jangan berhenti menulis. Sebab, tulisan adalah jangkar peradaban. Jadi, warnai hidup kita dengan tulisan. Sebab, kita tidak akan tahu tulisan kita yang mana yang akan mengubah sejarah,” pungkasnya.

Jadi, tak ada alasan lagi untuk takut menulis kan?

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’i