Bagaimana Memberikan Pertolongan Pertama pada Anak Tersedak?

UNAIR NEWS – Guna menerapkan materi yang didapat di kampus secara  langsung kepada masyarakat atau Project Based Learning (PjBL), mahasiswa Pendidikan Ners 2015 adakan penyuluhan dan simulasi pertolongan pertama anak tersedak. Kegiatan itu ditujukan untuk orang tua dan guru di TK Bina Tunas Bangsa Surabaya yang berjumlah kurang lebih 40 orang.

Diwawancarai UNAIR NEWS pada Selasa, (27/11) Farhan Ardiansyah menuturkan tujuan kegiatan itu adalah meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku mengenai pertolongan pertama pada anak tersedak. Tersedak merupakan kondisi kegawatan yang harus segera mendapatkan pertolongan.

“Kami menggunakan metode simulasi dan penyuluhan agar orang tua dan guru TK lebih mudah memahami bagaimana pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap pertolongan pertama pada anak tersedak,” tambahnya.

Mahasiswa pendidikan Ners angkatan 2015 tersebut mengatakan, tindakan pertolongan pertama pada anak tersedak masih terjadi kesalahpahaman. Seringkali orang tua memberi minum dengan harapan dapat mendorong benda asing masuk ke dalam lambung. Hal itu lanjutnya, tidak dianjurkan karena berisiko masuk ke dalam jalan nafas.

“Apabila tidak segera mendapatkan pertolongan pertama dengan benar, benda asing yang tidak segera dikeluarkan akan masuk ke jalan nafas,” tambahnya.

Farhan menuturkan, batuk dan muntah sebagai reaksi tubuh untuk mengeluarkan benda yang tersangkut, sebagian masuk ke paru-paru, yang dapat menimbulkan pneumonia. Selain itu, tersedak dapat mengakibatkan sumbatan pada jalan nafas yang menghambat otak mendapatkan oksigen atau disebut hipoksia. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami kejadian tersedak dan pertolongan pertama yang dapat diberikan dengan benar.

Cara yang benar, lanjut Farhan, harus ditentukan terlebih dahulu jenis sumbatannya. Caranya yaitu dengan menyuruh anak yang tersedak untuk batuk. Jika bisa batuk, maka anak tersebut disuruh untuk membatukkan agar makanan yang tersangkut bisa keluar. Namun jika tidak bisa dan dalam kondisi sadar, bisa dilakukan Heimlich manuver atau dengan metode 5-5. Yaitu lima kali back blow dan lima kali Heimlich manuver.

“Sesuai sama jargon kita. “Tersedak? Ingat 3T. Tetap tenang, tepuk-tepuk, tekan”,” tambahnya.

Farhan melanjutkan, jika anak tersebut dalam kondisi tidak sadar, dianjurkan untuk segera melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dengan titik tumpu di setengah bawah taju pedang. Namun, jika dalam kondisi seorang diri bisa dilakukan satu siklus RJP dan menghubungi 112.

“Peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Respon dan pemaham peserta mengenai materi yang telah diberikan sangat baik dibuktikan dengan peningkatan nilai dari pre test dan post test,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




EMIL Dardak saat menyampaikan keynote speech dalam event Millenials Peace Festival di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen Kampus C Univeritas Airlangga. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)

Generasi Milenial yang Cinta Damai ala Emil Dardak

UNAIR NEWS – Siapa yang tidak suka damai? Semua orang di muka bumi ini pasti suka dan cinta pada kedamaian. Tidakkah semua orang sangat membenci kekerasan, ketidakadilan, kebencian, dan ketidakdamaian?

Namun, tidak sedikit ungkapan kecintaan itu berhenti pada pernyataan-pernyataan yang normatif. Ungkapan yang tidak diikuti dengan aplikasi yang benar-benar berdampak dan berwujud pada pembentukan iklim damai di lingkungan sekitar atau terdekat mereka.

Emil Dardak saat menyampaikan keynote speech dalam event Millenials Peace Festival di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen Kampus C Univeritas Airlangga, memberikan sejumlah tips dan cara generasi millenial bersikap dan memupuk cinta damai itu. Mengingat, generasi millennial aktif dalam dunia virtual di media sosial sebagai buah dari kemajuan teknologi dalam berinteraksi terhadap sesama.

”Di antara kita, banyak yang menyatakan bahwa suka dan cinta damai. Ada berupa ujaran langsung, status, atau yang lain. Tapi, mereka juga dengan mudah nyinyir di media sosial,” ujarnya.

”Apakah ini juga bagian dari bentuk dan ekspresi cinta damai itu?” imbuhnya.

Menurut Emil, ujaran kebencian berupa nyinyir dan menghujat akhir-akhir ini begitu banyak beredar di media sosial. Terlebih, pengguna media sosial didominasi oleh kalangan anak muda atau generasi millennial. Topik-topik perbedaan pendangan menjadi penyebab maraknya ujaran kebencian beredar di media sosial.

Kenyataan tersebut, lanjut Emil, bisa berdampak serius pada kemudian hari. Mengingat, Indonesia merupakan negara yang beragam. Baik suku, agama, maupun ras.

Mulai dari Ber-comment

Emil menjelaskan, upaya menebarkan virus cinta damai itu bisa dilakukan dari hal-hal yang sangat kecil, sepele, dan terdekat. Misalnya, membiasakan diri untuk tidak mudah terpancing dan berkomentar negatif kepada siapa pun serta terhadap apa pun. Terutama di dalam dunia internet semacam media sosial saat memberikan komentar.

”Ini menjadi rahasia umum, bahwa mau tidur dan bangun tidur, hal yang kali pertama dicari generasi millennial adalah smartphone,” sebutnya.

”Ibaratnya, nggak ada sinyal kayak nggak ada oksigen. Jadi, sikap cinta damai itu, dimulai dari cara kalian berinternet dan bermedia sosial,” tambahnya.

Tindakan-tindakan yang sederhana semacam itu, lanjut Emil, menjadi kunci untuk memberikan dampak pada kedamaian yang lebih besar, yaitu perdamaian dunia. Selain itu, generasi millennial mesti memeiliki komitmen untuk membangun perdamaian itu melalui internet. Terutama dalam upaya mengurangi praktik ujaran kebencian.

”Kita harus punya komitmen. Kita harus care dengan yang ada di dekat kita,” tuturnya.

”Saat konek ke internet. Nitijen harus mengakkan etikat yang baik, tapi juga terbuka dengan perbedaan apa pun. Selain itu, peka terhdap gejolak intoleran di internet untuk berkomitmen menguranginya. Kita juga aktif memerangi citra buruk masyarakat kita (Indonesia, Red) yang dibangun netijen. Saatnya sailnet majority bangkit menebar virus kedamaian,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifai




RENO Albra memegang sertifikat setelah menyelesaikan program YSEALI selama 5 minggu di Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)

Mau lolos YSEALi-Academic Fellowship? Berikut Triknya dari Penerima

UNAIR NEWS – Setiap kesuksesan seseorang tentu punya cerita dibaliknya. Entah itu tentang seberapa kali banyak dia harus mencoba dan seberapa lama dia harus bertahan. Setelah bercerita tentang pengalamannya mengikuti program Young South East Asia Leadership Initiative (YSEALI), Academic Fellowship- Economic Development, kali ini Reno Albra sedikit bercerita dan memberikan tips-trik tentang bagaimana dirinya bisa lolos di program itu.

Reno menjelaskan, program yang diinisiasi oleh Presiden Barack Obama untuk menjalin hubungan dengan ASEAN tersebut sangat kompetitif. Pasalnya, hingga lebih dari 1000 pendaftar, yang diterima hanya delapan orang. Selain itu, YSEALI tidak java-centric oleh karenanya distribusinya dari Aceh hingga Papua untuk delapan kursi.

”Latar belakang pendidikan pendaftar juga berbeda-beda. Ada pendaftar yang sudah lulus S2. Pengalaman pendaftar tak bisa dipandang sebelah mata. Saking semangat juangnya tinggi, ada yang mencoba hingga tujuh kali,” terang Reno.

Ada tiga yang harus dilalui untuk lolos di program itu dan menerima beasiswa penuh. Administrative screening, pembuatan essay, dan deep interview. Dalam tahap administrative screening, peserta akan mengisi pertanyaan-pertanyaan yang disajikan dan jenis pertanyaannya adalah berkenaan dengan biodata, attraction, dan essay.

Sedangkan tahap interview, beberapa menggunakan video, tapi setiap tahun bisa berbeda-beda. Interviewer akan langsung dengan pihak konjen atau kedubes dan Amerika Serikat,” ucap Reno.

Dalam interview ini, Reno mengungkapkan bahwa Interviewer akan menanyakan apa yang sudah dikerjakan sampai sekarang dan apa rencana jangka panjang mereka. Jadi, orang tidak bisa visioner terhadap dirinya akan menjadi cukup susah untuk diterima.

Hal itulah yang tampak pada seorang Reno Albra. Dia mengaku konsisten mencoba hingga lima kali sejak maba (mahasiswa baru). Meski setelah empat kali gagal mencoba dan sempat ragu mencoba yang kelima, dia tetap yakin dan berprasangka baik.

”Saya yakin bahwa Allah selalu bersama prasangka hamba-Nya. Jadilah saya mencoba yang kelima dan diterima,” tutur Head of Director komunitas Lingkar Sinergi Batch 2 itu.

Reno menerangkan bahwa pergi ke Amerika tidak dirinya pandang menjadi tujuannya. Dia melihat Amerika Serikat sebagai salah satu anak tangga yang dibutuhkan untuk mengejar impian besarnya.

Sedikit pesan Reno untuk Ksatria Airlangga lainnya. Banyak di antara mereka yang hanya ingin keluar negeri. Hanya sedikit mereka yang mengetahui mengapa mereka harus keluar negeri. Milikilah gambaran besar dalam hidup setelah itu tentukan jalan-jalan untuk menujunya.

”Bisa jadi keluar negeri adalah batu setapak yang kamu butuhkan untuk mencapai impian itu. But first, think about why,” tutur Reno  pada akhir perbincangan. (*)

 

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria




Tips Menembus Lolos Tes ELPT

UNAIR NEWS – Lolos tes English Language Proficiency Test atau ELPT dengan skor minimal 450 merupakan salah satu syarat wajib yang harus ditempuh mahasiswa Universitas Airlangga sebelum yudisium. Namun dalam prosesnya, mahasiswa seringkali mengalami kesulitan untuk mencapai skor minimum. Sehingga hal ini dikhawatirkan dapat menghambat proses menuju yudisium.

Himpunan mahasiswa kesehatan masyarakat (B-PHA) PSDKU UNAIR di Banyuwangi membantu memberikan solusi bagi mahasiswa melalui kuliah tamu. Kuliah tamu bertajuk Tips & Trik: How to Get a ELPT skor>450 berlangsung, Senin (30/10). Hadir sebagai nara sumber dari kuliah tamu itu Wahyudi, pemateri dari International Education Consultant.

“ELPT itu mudah jika kalian terbiasa untuk berlatih,” ujar Wahyudi yang juga alumnus D3 Bahasa Inggris UNAIR.

Kuliah tamu sore hari itu berhasil membuka wawasan mahasiswa untuk menyelesaikan kesulitan yang dihadapi ketika mengerjakan soal-soal dalam  tes ELPT.

Wahyudi mengungkapkan, tips pertama mengerjakan ELPT adalah pahami perintah dari masing-masing sections. Pertama, pada learning sections, perhatikan kalimat yang diucapkan oleh pembicara kedua. Dengarkan dengarkan dengan baik.

“Pada sesi ini, mendengarkan film berbahasa Inggris dengan teks bahasa inggris tertera dilayar merupakan metode yang sangat baik untuk berlatih,” jelas Wahyu.

Tips kedua, pada sesi menemukan susunan kalimat yang salah, perhatikan dahulu subjek dan predikat.

“Sering sekali pada sesi ini kesalahan dibuat pada bagian verb dan subject. Mau tak mau memahami tenses adalah  hal wajib untuk menyelesaikan section ini,” sebut Wahyu.

Tips ketiga pada reading sections, baca terlebih dahulu pertanyaannya. Baru baca teks reading dengan teknik baca cepat sekilas.

“Baca pertanyaan terlebih dahulu membuatmu menyimpan waktu untuk pengerjaan soal selanjutnya,” tambah Wahyu.

Dirasa belum cukup, Nadia Reza mahasiswa semester tiga sekaligus peserta kegiatan berharap, kegiatan semacam ini bisa diadakan secara lebih intensif.

“Pelatihan ELPT sangat diperlukan. Tidak bisa hanya sekali. Harapannya bisa lebih sering dan bertahap,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Meirina Hapsah koor divisi intelektual application menjelaskan bahwa B-PHA UNAIR telah bekerjasama dengan Desy Education. Salah satu lembaga bimbingan belajar bahasa Inggris yang memberikan program ELPT untuk mahasiswa.

“Kami telah bekerjasama dengan Desy Education untuk memudahkan mahasiswa FKM UNAIR Banyuwangi untuk mendapatkan pelatihan ELPT dengan paket hemat,” papar Meirina. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Binti Q. Masruroh




Ilustrasi: www.kompas.com

Amankah MSG Dikonsumsi? Ini Penjelasannya

UNAIR NEWSMSG (Monosodium glutamate) atau yang biasa disebut micin merupakan bumbu penyedap makanan yang sudah lama beredar luas. Wujud MSG berupa garam, ditemukan kali pertama oleh profesor kimia Universitas Tokyo, Kikunea Ikeda. MSG dianggap sebagai garam paling stabil yang mampu memberikan rasa umami (gurih dan lezat) pada makanan.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai membuat asumsi bahwa MSG dapat merusak otak dan berpengaruh terhadap penurunan intelegensi. Bahkan, dikenal pula istilah generasi micin berupa penggambaran perilaku orang zaman now yang tidak jelas.

Micin sering dikambinghitamkan oleh masyarakat luas sebagai dalang di balik ketidakwarasan sikap generasi muda yang melakukan tidakan tanpa berpikir. Padahal, asumsi masyarakat tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya.

MSG sejatinya adalah bahan tambahan pangan yang sengaja disisipkan untuk meningkatkan selera makan. Bila dikaji lebih dalam, MSG tersusun dari natrium dan glutamat yang merupakan bagian dari protein (asam amino non esensial). Dua zat tersebut tidak membahayakan tubuh apalagi menyebaban kebodohan. Pada proses pembuatannya, MSG dihasilkan melalui proses fermentasi alami dari gula tebu, gula bit, dan gula jagung.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengklaim bahwa MSG aman dikonsumsi. Hal itu berdasar pada hasil pengujian laboratorium yang dilakukan WHO. WHO sama sekali tidak melarang peredaran penyedap rasa. MSG sendiri juga telah memiliki ijin edar dari BPOM. Hal itu menandakan MSG layak konsumsi.

Namun, ada beberapa orang yang memiliki hipersensitivitas terhadap MSG. Mereka bisa mengalami gatal, kemerahan di kulit, sesak, atau reaksi alergi lainnya. Hal terpenting, sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan efek berbahaya MSG terhadap otak. Berbagai badan kesehatan di seluruh dunia sepakat, MSG aman dikonsumsi selama tidak berlebihan.

”Kuncinya adalah makan dengan porsi tepat. MSG standarnya dikonsumsi 3 gram per hari. Kalau makan MSG sampai 30 gram ya masalah,” ujar Dr. Ir. Annis Catur Adi, M. Si., dalam seminar gizi di , Kampus C Universitas Airlangga beberapa waktu lalu. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria




Sebab Sastra Tak Sekadar Bercerita

UNAIR NEWS – Sastra memang selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan dikaji. Mengupas persoalan sastra seolah tiada habisnya. Mulai dari unsur intrinsik hingga ekstrinsik karya. Sastra yang bersifat universal, tak hanya menjadi milik sebagian orang. Sebab, bersastra atau bercerita dibutuhkan oleh semua orang dari berbagai lintas bidang dan latar belakang.

Secara kodrati, manusia adalah makhluk bersastra. Manusia selalu membutuhkan piranti dan teman untuk mengungkapkan apa yang ada di kepala dan lubuk hatinya.

Setiap manusia berhak untuk berkarya, termasuk menulis sastra. Untuk menghasilkan karya sastra yang baik, terdapat poin-poin yang harus diperhatikan dan dipenuhi oleh seorang penulis. Guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Prof., Dr., Drs., Ida Bagus Putera Manuaba, M.Hum menyebutkan, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan saat menulis sastra.

“Yang pertama adalah memunculkan ide dalam sebuah tulisan. Sesorang harus peka terhadap apa saja, lingkungan, masalah sosial yang ada di sekitar dan kehidupan. Untuk menjadi seorang pengarang itu harus care,” sebutnya.

Menurutnya, untuk memperoleh ide menulis, seseorang harus perhatian pada apa yang menjadi masalah. Kepekaan penulis terhadap problem di sekitar, akan membuatnya kian mudah menangkap ide yang kemudian disulap dalam bentuk narasi fiksi.

“Karena pada dasarnya, pengarang itu adalah manusia budaya, manusia yang berpikir, berpikir tentang masyarakatnya. Jika ada masalah, maka dia berpikir tentang solusi,” imbuhnya.

Kedua, adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis bukan sekadar bakat alamiah. Keterampilan menulis perlu diasah. Siapapun akan mahir menulis jika terus berlatih.

“Selain itu, penulis perlu banyak membaca. Semakin banyak membaca makin ia akan makin terinspirasi untuk menulis. Tahu konversi bahasa puisi, prosa, tahu cara menarasikan supaya karyanya memenuhi syarat sebagai sebuah karya sastra,” terang Prof. Putera.

Kriteria Karya Sastra Bermutu

Menurut Prof. Putera, suatu karya sastra dikatakan bermutu jika karya tersebut merupakan satu keutuhan, koheren, dapat dilihat dari segi estetik dan ekstra estetik.

“Misal estetik itu bagaimana cara menulis, keindahan bahasa, kepaduan bahasa, persoalan bahasa, penggunaan analogi. Sedangkan ekstra esetetik berkaitan dengan konten yang diceritakan. Apakah karya tersebut merupakan imajinasi semata atau terlahir dari sebuah pengamatan, pengalaman, berisi perenungan yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Kehadiran karya sastra memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat. Lebih lanjut, Prof. Putera mengatakan, sebuah karya sastra yang baik harus dapat memberi kontribusi kepada masyarakat, meskipun kontribusi itu tidak dirasakan secara frontal.

“Semisal karya Pram, yang membuat fenomenal dan selalu menarik untuk dibaca, karena dia menulis tidak sekadar menulis. Karya yang lahir sebagai respon dari masyarakatnya. Terlahir dari suatu kausal. Wujudnya memang berupa karya sastra, tapi ia bicara tentang satu kondisi negara di masa itu dengan semangat humanisnya. Sebab pada masa itu di masyarakat banyak terjadi pendegradasian kemanusiaan. Itu yang membuat karyanya hidup sekali,” pungkasnya. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




PEMBICARA Retno Chatulistiani memberikan paparan materi MSG dalam Seminar dan Demo Masak pada Sabtu, (20/10). (Foto: Istimewa)

Begini Kata Ahli soal MSG Bikin Bodoh

UNAIR NEWS – Pengetahuan masyarakat terkait penggunaan Monosodium Glutamat (MSG) masih terbatas. Banyak asumsi yang tersebar bahwa MSG memberikan dampak buruk. Salah satunya mengganggu kesehatan otak.

Mitos yang berkembang di masyarakat adalah mengonsumsi MSG bisa membuat bodoh, alergi, hingga Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Melihat kondisi itu, Program Studi (Prodi) Ilmu GIZI Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, PERGIZI PANGAN Jatim, dan Linisehat mengadakan Seminar dan Demo Masak pada Sabtu, (20/10). Seminar yang bekerja sama dengan Ajinomoto itu berlangsung di Aula Kahuripan Lantai 3, Gedung Rektorat, Kampus C UNAIR. Tema “Mutu dan Keamanan Pangan serta Fakta Ilmiah MSG” dipilih dalam seminar tersebut.

Tema itu dipilih karena seminar bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dan akademisi terkait pesan keamanan penggunaan MSG dan pengolahan pangan yang aman. Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber. Yakni, Dra. Retno Chatulistiani, P, Apt. dan Dr. Ir Annis Catur Adi, MSi.

Paparan materi pertama disampaikan Retno Chatulistiani. Khususnya materi soal ”Hoaks Pangan dan Penanganannya”. Retno menekankan bahwa berita hoaks pangan yang beredar di masyarakat bisa ditangani dengan tidak langsung percaya dan menyebarkan berita tersebut.

”MSG sejatinya adalah Bahan Tambahan Pangan (BTP). Di mana pengonsumsiannya aman asal tidak berlebihan,” ungkap Retno selaku kepala Bidang Informasi dan Komunikasi BPOM Surabaya.

Menurut Retno, yang terpenting konsumsi BTP seperti MSG harus sesuai dengan peraturan BPOM.  Masyarakat diharapkan sangat jeli dalam memilih produk makanan. Retno menyarankan masyarakat mengonsumsi makananan yang sudah punya ijin edar untuk menjamin keamanan produk tersebut.

Sementara itu, sesi materi kedua dijelaskan Dr. Ir Annis Catur Adi, MSi selaku ketua DPD PERGIZI PANGAN Jatim dan ketua Gizi Kesehatan UNAIR. Dia memaparkan materi tentang ”Mitos dan Fakta Ilmiah MSG”. Annis Catur menjelaskan bahwa BPOM dan WHO sudah mengklaim jika MSG aman untuk dikonsumsi.

”MSG dibuat berdasar prosedur yang sudah terstandardisasi. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir. MSG juga tidak menimbulkan penambahan intake energy,” lanjutnya.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa MSG bersifat self limiting. Yakni, penambahan MSG berlebihan menimbulkan rasa tidak enak.

Pada akhir, kegiatan dilanjutkan dengan demo masak bersama Chef Yunita Princess. Yakni, demo memasak yang bertajuk ”Jajanan Enak, Aman, dan Sehat“. Terdapat dua menu yang disajikan, yaitu Patel Krispy dan Kroket Kacang Merah. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria




Menyoal Keuntungan dan Risiko Anak Sekolah Terlalu Dini

UNAIR NEWS – Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi si buah hati. Salah satunya adalah dengan menanamkan pendidikan bagi anak sejak usia dini. Pada usia 0-6 tahun, otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Fase ini merupakan masa keemasan bagi tumbuh kembang anak, atau sering disebut sebagai golden age. Pada rentang usia tersebut, kemampuan anak dalam menyerap informasi dan mempelajari hal baru berlangsung cepat.

Maka tak heran, jika saat ini banyak orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak pada usia sedini mungkin. Dengan anggapan, pendidikan formal sejak dini akan membuat anak lebih cerdas dan mampu menyerap ilmu pengetahuan lebih baik dibanding anak-anak lainnya. Terlebih, menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua ketika kelak anak-anaknya mampu menyelesaikan studi dalam usia muda.

Namun, benarkah anggapan tersebut?

Ahli tumbuh kembang anak dari Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dr. Irwanto, dr., Sp.A(K) memberikan jawabannya dalam talkshow Jatim Fair 2018. Talkshow yang berlangsung Rabu (10/10) itu mengupas permasalahan terkait Resiko dan Keuntungan Anak Sekolah Terlalu Dini. Pameran terbesar di Indonesia bagian Timur tersebut menggandeng para praktisi Rumah Sakit Universitas Airlangga untuk membantu memberikan sosialisasi dan edukasi seputar dunia kesehatan kepada masyarakat.

Menyoal problem yang kerap dialami orang tua tentang pendidikan anak, Dr. Irwanto mengatakan bahwa selama ini banyak orang tua yang salah kaprah dalam mendefinisikan pendidikan dini bagi anak. Saat ini, anak-anak usia pra sekolah cenderung mendapat tekanan untuk menelan materi pendidikan formal secara mentah-mentah.

“Yang keliru saat ini adalah banyak anak-anak PAUD, TK justru sudah diberi PR oleh guru. Padahal anak-anak seusia mereka belum layak mendapat tugas rumah. Mereka masih dalam tahap untuk mengenal lingkungannya. Jadi, biarkan mereka bermain menikmati dunianya,” jelasnya.

Dr. Irwanto memaparkan, pada usia 2-3 tahun, kemampuan bicara anak masih belum berkembang secara sempurna, yakni sekitar 50-75 persen. Kemampuan bicara pada anak, rata-rata mencapai tahap sempurna saat mereka menginjak usia empat tahun. Menurutnya, merupakan suatu hal yang wajar jika kemudian anak-anak di usia tersebut belum mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sekolah. Sebab, pada rentang usia tersebut, anak masih dalam tahap pematangan kemampuan bicara.

“Lingkungan pendidikan semacam PAUD dan taman kanak-kanak merupakan media bagi anak untuk belajar bersosialisasi, biarkan mereka menikmati usia bermain sebagaimana mestinya. Jangan dibebani dengan tugas-tugas dan pelajaran berat,” paparnya.

Lebih lanjut, Dr. Irwanto mengatakan, usia ideal anak untuk masuk sekolah dasar adalah usia 6-7 tahun. Namun bukan berarti, di bawah usia tersebut anak dilarang untuk bersekolah.

“Jika memang anak tersebut mampu, silakan saja menyekolahkan anak lebih muda. Asal bukan karena paksaan orang tua, melainkan karena pilihan anak itu sendiri,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Penelitian membuktikan, anak-anak yang bersekolah dengan usia matang cenderung lebih dapat mengelola emosi dan menangkap pelajaran lebih baik dibandingkan anak-anak yang bersekolah di usia terlalu muda.

Meski tak dapat dipungkiri jika terdapat beberapa anak yang terbukti lebih cepat menerima pelajaran di usia lebih muda. Anak-anak semacam ini biasanya memiliki kemampuan atau kecerdasan yang mumpuni di bidang akademik.

Namun, bagi anak-anak yang belum siap secara mental, risiko yang ditimbulkan ketika memaksakan sekolah terlalu dini dapat mengakibatkan kemampuan komunikasi anak menjadi terbatas, anak mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah.

Perkembangan mental yang belum sempurna akan berpotensi terhadap semangat belajar anak. Sehingga, anak akan merasa cepat jenuh dan bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Orang tua yang tidak peka akan hal tersebut, rentan membuat anak mengalami kondisi tertekan.  Sebab, mereka harus menjalani proses belajar mengajar berbasis pendidikan formal yang cenderung menjemukan. Anak yang seharusnya bahagia dan menikmati dunia bermainnya, justru harus dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran yang tak semuanya sesuai dengan usia perkembangannya.

Dr. Irwanto mengimbau kepada orang tua untuk tidak pernah menyamakan atau membandingkan anak satu dengan yang lain. Setiap anak memiliki proses perkembangan dari sisi berpikir, emosi, dan kecerdasan serta sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus bisa memahami karakter serta potensi masing-masing anak, supaya dapat diketahui cara yang tepat untuk menstimulus proses belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




Konsumsi Herbal untuk Antisipasi Mual Usai Kemoterapi

UNAIR NEWS – Mual dan muntah kerap dialami oleh sebagian penderita kanker usai menjalani kemoterapi. Meskipun dianggap sebagai efek samping dari proses pemberian obat anti kanker, namun gejala mual dan muntah sebenarnya memerlukan perhatian khusus. Mengapa?

Mual dan muntah yang dialami oleh penderita kanker pasca kemoterapi sebenarnya dapat memicu stres dan trauma berkepanjangan. Tidak hanya bagi si penderita tapi juga keluarga. Jika tidak diatasi, maka dalam situasi yang kurang nyaman seperti ini akan mendorong penderita berhenti melakukan kemoterapi. Kalau sudah begini, akibatnya proses penyembuhan menjadi tidak maksimal.

Di samping kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh sel kanker, ternyata pemberian obat antikanker juga membawa efek samping, yang dapat memengaruhi kondisi biologis, fisik, psikologis, dan sosial penderita.

Bakti Surarso, dr., Sp. THT-KL(K), FICS mengatakan sekitar 20-30 persen penderita kanker mengalami hal tersebut. Meski tidak bisa dihindari, namun gejala mual dan muntah setelah kemoterapi sebenarnya dapat diantisipasi melalui beberapa cara.

Antara lain, dengan mengonsumsi obat-obatan anti muntah, herbal, akupunktur, hingga melakukan terapi biopsikobehavioral.

Bakti menjelaskan, mual dan muntah yang dirasakan usai kemoterapi digolongkan menjadi tiga berdasar waktu kejadian. Yakni akut, lambat, dan antisipatori. Mual muntah akut terjadi dalam 24 jam pertama setelah kemoterapi. Puncaknya terjadi pada 5-6 jam setelah kemoterapi.

Pada tipe lambat, umumnya terjadi setelah 24 jam pemberian kemoterapi, dan mual muntah tetap dirasakan selama 5-7 hari setelahnya. Sementara mual dan muntah antisipatori terjadi sebelum pemberian kemoterapi.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ada beberapa cara agar mengurangi efek mual dan muntah ketika sebelum maupun sesudah kemoterapi.

Pertama, dengan memberikan obat antimuntah. Beberapa pilihan obat antimuntah yang dapat dikonsumsi antara lain mengandung palanosetron, aprepitant, fosaprepitant, netupitant, lorazepam, karbamazepin, proklorperazin, metoklopramid, deksametason, dan gabapentin.

“Obat-obat tersebut dapat mencegah atau mengurangi mual muntah dengan cara yang berbeda-beda. Sehingga, efek penggunaannya pun menjadi tidak sama,”ungkapnya.

Selain pemberian obat antimuntah, Bakti juga menyarankan pemberian suplemen herbal. Di China, jahe (Zingiber officinale) telah digunakan sebagai obat mual dan kembung sejak abad ke-16. Untuk mengatasi mual muntah, konsumsi jahe disarankan sebelum menjalani kemoterapi.

Jahe telah dipelajari dalam beberapa penelitian dan diketahui bermanfaat untuk mengatasi keluhan mual muntah akibat motion sickness, operasi, dan kehamilan. Pemberian jahe untuk mencegah motion sickness telah direkomendasikan di Eropa.

Bahkan, Food and Drug Association (FDA) Amerika Serikat mengklasifikasikan jahe sebagai substansi yang aman dikomsumsi kurang dari empat gram sehari, bukan sebagai obat.

“Selain jahe, cinnamon bark, peppermint, chamomile, fennel, dan rosewood juga merupakan suplemen herbal yang dapat dikonsumsi untuk mencegah atau mengurangi mual muntah pasca kemoterapi,” jelasnya.

Selain mengonsumsi obat dan herbal, akupunktur ternyata bisa menjadi alternatif yang patut dicoba. Akupuntur telah lama dikenal sebagai pengobatan cina tradisional yang telah ada sejak empat ribu tahun lalu.

Akupuntur dilakukan dengan cara memasukkan jarum pada titik tertentu di tubuh. Titik tempat dimasukkannya jarum memiliki fungsi tertentu, dalam hal ini yang dapat mencegah atau menurunkan mual muntah.

Terakhir bisa dengan terapi biopsikobehavioral. Terapi ini meliputi progressive muscle relaxation (PMR), imajinasi terbimbing, hipnosis, dan latihan. PMR merupakan latihan menegangkan dan melemaskan otot-otot tertentu yang dapat membuat relaks fisik dan mental.

Berbeda dengan PMR, imajinasi terbimbing berusaha meningkatkan konsentrasi pasien terhadap suatu benda, berkaitan dengan pengalaman sensorik. PMR yang dilakukan bersama dengan imajinasi terbimbing mampu menurunkan kemungkinan terjadinya mual muntah selama 4 hari setelah pemberian kemoterapi.

”Hipnosis diri sendiri merupakan teknik membentuk imajinasi sehingga menciptakan rasa baik dan aman. Selain itu, terdapat beberapa latihan aerobik yang bisa diikuti karena mampu menurunkan mual muntah,”ungkapnya.

Seperti diketahui, penyakit kanker merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia, setelah penyakit jantung. (*)

Penulis: Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Mitos dan Fakta Seputar Kesehatan Mata

UNAIR NEWS – Keberagaman mitos seputar penyakit mata memang perlu ditelisik kebenarannya. Fakta di balik sejuta mitos yang terlanjur diyakini masyarakat penting untuk diluruskan. Agar masyarakat memiliki persepsi dan pemahaman yang tepat seputar kesehatan mata dan pengobatannya secara benar.

Meluruskan berbagai mitos seputar kesehatan mata, Prof. Diany Yogiantoro,dr., Sp.M(K), pakar kesehatan mata dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSUD dr. Soetomo – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga berbagi informasinya di sini.

  1. Mitos : Membaca dalam kondisi remang-remang dapat merusak mata

Faktanya, konsensus para ahli mata mengatakan membaca dalam kondisi cahaya sedikit tidak akan merusak mata. Bahkan menurut British Medical Journal diungkapkan bahwa membaca di bawah cahaya rendah tidak akan merusak mata, namun hanya akan menyebabkan terjadinya ketegangan mata.

  1. Mitos : Membaca sambil tiduran menyebabkan rabun jauh atau mata minus

Faktanya, rabun jauh (mata minus) dapat terjadi akibat adanya perubahan kelengkungan kornea, gangguan pada lensa mata, atau karena memanjangnya sumbu bola mata.

Posisi membaca tidak akan berpengaruh dalam memicu timbulnya rabun jauh. Membaca dalam posisi berbaring (tiduran) akan menimbulkan berbagai keluhan mata yang terjadi akibat mata lelah. Seperti mata perih hingga sakit kepala karena saat membaca dalam posisi berbaring tanpa disadari jarak antara mata dengan buku akan menjadi lebih dekat.

Hal ini akan memaksa mata untuk berakomodasi terus menerus agar bayangan jatuh tepat di retina. Mata yang berakomodasi terus menerus akan menjadi cepat lelah sehingga timbul keluhan-keluhan seperti pandangan menjadi buram, mata perih, sakit kepala, dan lain sebagainya. Namun, keluhan keluhan ini hanya bersifat sementara. Dengan mengistirahatkan mata secara teratur maka keluhan-keluhan ini dapat diatasi.

  1. Mitos : Terlalu sering di depan komputer atau sering menonton TV akan merusak mata.

Faktanya, terlalu sering di depan komputer atau menonton TV mengakibatkan mata lebih jarang berkedip. Sehingga mata menjadi kering dan lelah. Cobalah beristirahat sejenak dengan mengalihkan fokus penglihatan atau melihat sesuatu di tempat yang lebih jauh setiap 15-30 menit untuk mengurangi ketegangan mata.

  1. Mitos : Makan Banyak Wortel Dapat Menyembuhkan Rabun Jauh

Faktanya, rabun jauh (mata minus) dalam istilah kedokteran dikenal dengan nama miopia merupakan suatu gangguan penglihatan dimana mata tidak mampu untuk melihat benda yang jaraknya jauh. Sehingga, pandangan menjadi kabur saat melihat benda jauh. Rabun jauh ini dapat terjadi karena adanya perubahan kelengkungan kornea, adanya gangguan pada lensa mata, atau terjadinya pemanjangan sumbu bola mata.

Pemberian wortel dan zat-zat makanan yang kaya akan vitamin A memang terbukti baik bagi kesehatan mata, namun bukan untuk menyembuhkan rabun jauh. Peranan wortel dan vitamin A dalam kesehatan mata adalah untuk mendukung metabolisme sel-sel saraf pada retina serta mencegah dan mengatasi gangguan mata yang terjadi akibat kekurangan vitamin A. Seperti xeroftalmia (mata menjadi kering) atau rabun senja (penglihatan yang terganggu di saat gelap/malam hari).

Karena itu, jika penyebab pandangan kabur/buram adalah defisiensi vitamin A, maka konsumsi banyak wortel dapat membantu mengatasi kelainan mata tersebut, namun jika penyebab pandangan kabur adalah rabun jauh maka sebaiknya diatasi dengan menggunakan kacamata berlensa minus atau lensa kontak. Pada keadaan tertentu, rabun jauh dapat juga diatasi dengan pembedahan pada kornea antara lain keratotomi radial, keratektomi fotorefraktif, Laser Asissted In situ Interlamelar Keratomilieusis (Lasik).

  1. Mitos : Kaca mata harus dipakai terus, kalau tidak akan semakin parah!

Faktanya, kacamata adalah alat bantu penglihatan. Namun pemakaian kacamata tidak memengaruhi kesehatan mata. Penggunaan kacamata tidak berpengaruh pada penambahan ataupun pengurangan minus maupun silindris.

Jika pengguna kacamata melihat tanpa menggunakan kacamata, maka semua benda akan terlihat tidak fokus dan mata akan dipaksa bekerja lebih keras untuk memfokuskan benda tersebut. Mata yang dipaksa bekerja keras dengan berakomodasi terus menerus akan cepat menjadi lelah dan timbul keluhan berupa sakit kepala, mata perih, dan penglihatan kabur.

Namun hal ini tidak akan menimbulkan kerusakan jangka panjang terhadap mata. Kaca mata akan membantu anda untuk melihat dengan lebih baik tanpa mata harus bekerja keras. Dengan menggunakan kacamata, maka penglihatan tidak akan memburuk dengan cepat, namun tidak menggunakan kacamata pun tidak akan merusak mata anda secara permanen.

Kondisi ini hanya bersifat sementara dan tidak akan mengakibatkan kerusakan jangka panjang terhadap mata. Kaca mata akan membantu anda untuk melihat dengan lebih baik tanpa membuat mata harus bekerja keras. Dengan tidak menggunakan kacamata, maka akan membuat mata anda menjadi tidak nyaman. (*)

Naskah : Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh