Cintai Ususmu, Sebelum Kanker Mengintaimu

UNAIR NEWS – Data GOBOCAN WHO tahun 2012 menyebutkan bahwa kanker usus atau dalam istilah medis disebut kanker Kolorektal menjadi penyebab kematian nomor 4 dari semua jenis kanker. Setiap tahun, diperkirakan ada 608.000 orang meninggal akibat kanker usus. Sementara di Indonesia, penyakit ini menduduki peringkat ketujuh penyebab kematian.

Menanggapi hal itu, Dokter Ahli Bedah Disgestif FK UNAIR-RSUD dr. Soetomo Dr. Vicky Sumarki Budipramana, dr., Sp.B-KBD mengungkapkan, jumlah penderita kanker usus semakin bertambah setiap tahun. Ancaman penyakit yang satu ini mendera kaum remaja, anak-anak, dan dewasa.

“Sampai sekarang, belum diketahui pasti apa penyebab sebenarnya. Kemungkinan ada beberapa faktor pemicu terjadinya kanker usus. Bisa karena faktor usia, pola makan yang tidak sehat, hingga faktor keturunan,” ungkapnya.

Mengenai pola makan yang tidak sehat, Vicky mengatakan bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan berlemak dan berpengawet dapat mencetus risiko kanker usus. Meski demikian, bukan berarti harus melarang diri untuk makan-makanan berlemak. Pasalnya, lemak juga tetap dibutuhkan oleh tubuh untuk kelangsungan metabolisme. Untuk itu,  Vicky menyarankan agar dalam mengonsumsi lemak harus dibatasi dan dimbangi dengan konsumsi sayur-sayuran dan buah.

Gejala-gejala

Selanjutnya, untuk mengidentifikasi kanker usus, Vicky mengatakan bahwa jauh sebelum menjadi kanker, tubuh sebenarnya telah memberikan sinyal. Mulai dari yang sederhana, seperti kesulitan buang air besar.

“Selama kita dapat menjaga konsistensi BAB, tanpa sering mengalami sembelit, maka kemungkinan kondisi pencernaan masih aman. Namun jika sebaliknya, BAB jarang, sering sembelit, dan pada akhirnya mengalami BAB berdarah, maka patut diwaspadai,” paparnya.

Vicky juga menegaskan bahwa proses terjadinya kanker usus menjadi kanker ganas memerlukan waktu bertahun-tahun. Sayang, menurut Vicky mayoritas penderita mengabaikan gejala-gejala yang dialami sebelumnya.

Gejala kanker usus, tambah Vicky tampaknya serupa dengan ambeien. Sama-sama punya ciri BAB berdarah. Tapi sebenarnya berbeda. Meskipun sama-sama mengalami BAB berdarah, menurut Vicky ambeien tidak menyulitakn proses BAB, sementara kanker usus selalu disertai dengan diare bahkan sembelit.

“Seringkali awam salah menduga dikira BAB berdarah itu ambeien. Sudah diobati ambeien bertahun-tahun tidak kunjung membaik, malah makin parah. Setelah ke dokter dan dilakukan pemeriksaan kolonoskopi, ternyata bukan ambeien, melainkan sudah ada benjolan kanker di usus,” jelasnya.

Mengenai alasan kanker usus bisa membunuh, menurut Vicky, dalam kondisi akut, benjolan kanker mampu menembus dinding usus lalu menyebar hingga ke pembuluh darah, kelenjar, dan beberapa organ vital seperti paru-paru, hati, kandung kemih, bahkan rahim.

“Bayangkan saja, apa jadinya ketika sel kanker sudah menyebar kemana-mana? Bahaya tentunya,” tegasnya.

Bagi yang terbiasa makan sayur setiap hari, Vicky menyarankan agar mempertahankan kebiasaan itu. Bagi yang jarang makan sayur, maka harus segera ditumbuhkan kesadaran untuk menambahkan serat setiap hari. Sementara itu, bagi yang sama sekali tidak doyan sayur, Vicky mengingatkan agar mempertimbangkan sungguh-sungguh efek dominonya untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh.

“Dari pada uang tabungan dihambur-hamburkan untuk biaya berobat, mending kita belanjakan untuk beli buah dan beberapa ikat sayur segar setiap hari. Anggap saja, makan sayur dan buah setiap hari adalah bentuk investasi kesehatan jangka panjang. Simpel kan?,” pungkasnya.

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor   : Nuri Hermawan




50 Persen Nyeri Haid Berpotensi Endometriosis

NEWS UNAIR – Nyeri haid merupakan gejala menstruasi yang lumrah dialami oleh setiap perempuan. Namun sudah sepatutnya dicurigai apabila nyeri haid dirasa begitu menyiksa.

Nyeri haid yang dirasa ‘tidak wajar’ seringkali dianggap biasa oleh masyarakat pada umumnya. Padahal, bermula dari gejala nyeri haid sebagian besar didiagnosa sebagai endometriosis.

Ketua Departemen Obstetri & Ginekologi FK UNAIR-RSUD Dr.Soetomo Dr. H.Hendy Hendarto, dr., Sp.OG(K) mengatakan, kasus Endometriosis di Surabaya terbilang cukup tinggi. Sebagian besar dari mereka, datang untuk berobat dalam kondisi akut.

Endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui saluran tuba kemudian menempel pada organ kandungan di bagian panggul.

“Hampir 80 persen wanita mengalami regurgitasi haid. Darah haid tetap keluar tapi ternyata di dalamnya darah mengalir masuk,” ungkapnya.

Penumpukkan darah di organ kandungan ini perlahan-lahan mengakibatkan terjadinya inflamasi atau peradangan yang cukup tinggi. Kondisi ini mengakibatkan nyeri haid berlebihan hingga akhirnya  menganggu kesuburan. Endometriosis ditandai dengan dua keluhan, yaitu nyeri haid berlebihan dan infertilitas.

“Ketika nyeri haid tidak mempan dengan obat pereda nyeri, maka patut dicurigai,” ungkapnya.

Hendy mengungkapkan, pasien kerap memeriksakan keluhan nyeri haid karena tidak kunjung membaik setelah mengonsumsi obat pereda nyeri sebelumnya. Malah, kondisinya semakin parah. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata sudah mengalami endometrosiosis stadium tiga hingga empat.

“Endometrosis bisa berpotensi menjadi kista, kalau sudah jadi kista maka sudah masuk grade IV atau berat. Untuk itu penanganannya lebih kompleks. harus diobati dulu, kemudian operasi. Pasca operasi juga masih harus didampingi pengobatannya,” jelasnya.

Hendy telah menangani banyak kasus pasien yang datang berobat ke klinik fertilitas. Umumnya mereka kesulitan memiliki keturunan setelah bertahun-tahun menikah. Setelah dilakukan pemeriksaan laparoskopi, hasilnya 50 persen lebih didiagnosa mengalami endometriosis.

“Pengobatan endometriosis ternyata tidak mudah. Pasien diberi obat-obatan anti nyeri, namun tingkat kekambuhannya tinggi. Jika kondisi parah maka harus operasi. Itu saja masih beresiko kambuh. Resikonya sulit hamil, dan masih mengupayakan bayi tabung,” ungkapnya.

Untuk memperdalam kasus tersebut, Tim dokter Departemen Obstetri & Ginekologi FK UNAIR-RSUD Dr.Soetomo telah banyak melakukan riset. Hingga kini, belum diketahui pasti seperti apa mekanisme endometriosis sehingga menyebabkan nyeri dan infertilitas.

“Masih banyak diperdebatkan dan masih banyak peluang untuk meneliti hal itu,” ungkapnya.

Di luar negeri, diagnosa kasus tersebut terbilang lambat. Sebuah data menyebutkan bahwa diagnosa ketepatan endometriosis di beberapa negara di Eropa mencapai waktu hingga 11 tahun.

“Pasien baru dipastikan endometriosis 11 tahun kemudian setelah dilakukan pemeriksaan melalui operasi. Itu di luar negeri, bagaimana Indonesia?,” ungkanya.

Tak dipungkiri, endomitrosis adalah kasus yang kronis dan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk memastikan diagnosa penyakit tersebut. Hal ini menyebabkan keterlambatan diagnosis. Sehingga ada banyak hal yang perlu diperbaiki untuk menjawab berbagai tantangan dalam penganan kasus tersebut.

Deteksi dini paling mudah adalah mewaspadai bila mengalami nyeri haid berlebihan, nyeri haid semakin parah setelah tidak mempan mengonsumsi obat pereda nyeri. Bila kondisi ini terus berlanjut, maka segera periksakan ke dokter.

“Gejala penyakit ini sulit dikenali, karena bersamaan dengan siklus haid. Untuk itu perlu waspada. Karena wanita dengan nyeri haid 80 persen didiagnosa endometriosis, dan separuhnya mengalami ketidaksuburan,” ungkapnya.

Untuk memastikan diagnosis, maka perlu melakukan pemeriksaan laparoskopi, karena pemeriksaan endometriosis cukup konkret. Dalam kasus ringan grade 1 maupun 2, diagnosa seringkali tidak menunjukkan gambaran diagnosa. Mengingat, pada level ringan tidak terlihat adanya penampakkan yang patut dicurigai.

“Dengan pemeriksaan USG saja masih tidak terlihat apa-apa. Baru bisa didiagnosa kalau sudah muncul kista,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Binti Q. Masruroh




Tips Lolos ELPT. Begini caranya …

UNAIR NEWS – Persaingan secara global ke depan akan bergerak semakin cepat. Untuk menghadapi itu semua, mahasiswa juga harus dibekali dengan kemampuan bahasa asing yang baik, khususnya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.

Beberapa perguruan tinggi negeri mengharuskan mahasiswanya untuk lolos Test of English as a Foreign Language (TOEFL) atau English Language Profiency Test (ELPT) sebagai media pengukur kemampuan berbahasa Inggris dengan skor yang telah ditentukan, tak terkecuali Universitas Airlangga.

Namun pada kenyataannya, TOEFL atau ELPT masih menjadi momok bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan perkuliahan mereka. UNAIR sendiri telah menentukan skor minimal TOEFL untuk jenjang S-1 yakni sebesar 450, kecuali 550 untuk prodi Sastra Inggris, dan 500 untuk jenjang S-2 dan S-3.

Berikut hasil wawancara dengan Sidarta Prassetyo, S.S., M.A. TESOL dosen prodi D-3 Bahasa Inggris Fakultas Vokasi UNAIR mengenai tips yang bisa diaplikasikan untuk mempersiapkan TOEFL ataupun ELPT bagi mahasiswa.

  1. Pahami kelemahan

Lolos tes ELPT di UNAIR tidak hanya sebagai syarat wisuda, namun juga ketika mahasiswa sudah terdaftar menjadi mahasiswa baru. Para mahasiswa baru diharuskan untuk mengikuti ELPT guna mengukur kemapuan berbahasa Inggris mereka. Dari skor inilah, mahasiswa  bisa melihat kelemahan ELPT pada diri masing masing, baik pada kategori listening (mendengar), grammar (struktur kalimat) maupun reading (membaca).

Setelah mengetahui kelemahan, mahasiswa harus berlatih soal pada kategori yang lemah. Misalnya lemah pada grammar, maka harus perbanyak berlatih soal ELPT grammar. Durasi kuliah selama empat tahun memungkinkan mahasiswa untuk terus berlatih demi mencapai tes TOEFL yang sempurna. Tidak ada kata rugi dalam belajar TOEFL/ELPT.

  1. Niat dan motivasi diri sendiri

Hal yang paling penting dalam melakukan segala sesuatu memang niat. Sidarta berpendapat bahwa jika seorang mahasiswa tidak memiliki niat untuk mengerjakan ELPT dari awal, hingga di ujung kuliahnya pun nanti akan begitu. Maka dari itu, niat dibutuhkan untuk memulai belajar ELPT.

  1. Perhitungan target melalui Conversion Table

Pada buku pembelajaran ELPT yang dibuat oleh Pusat Bahasa UNAIR, di halaman paling depan terdapat score conversion table dimana mahasiswa dapat mengetahui jumlah nilai benar dan bobot nilai benar dari masing section yang diujikan di tes TOEFL/ELPT. Dari sini, mahasiswa mendapat gambaran berapa jumlah soal yang harus benar untuk mendapatkan skor yang diinginkan, dan, kemudian, menentukan jenis soal mana saja yang harus diprioritaskan dalam pengerjaan karena terkadang untuk mendapatkan skor 450 mahasiswa hanya perlu menjawab benar kurang lebih 50% saja dari seluruh soal di masing-masing section.

  1. Berlatih

Berlatih adalah cara paling penting dalam belajar ELPT. Luangkanlah waktu 2- 3 jam untuk belajar ELPT melalui buku latihan maupun internet. Banyak contoh soal ELPT di internet yang bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma. Tak jarang, bahkan di sana juga terdapat soal latihan serta pembahasan.

UNAIR secara periodik menyelenggarakan pelatihan ELPT dan TRY OUT secara gratis yang bisa diiikuti mahasiswa. Untuk itu, mahasiswa dihimbau sering melihat laman resmi Pusat Bahasa ataupun mencari informasi tersebut langsung ke Pusat Bahasa di Kampus B UNAIR.

Sidarta mengatakan, untuk belajar listening ELPT sebaiknya mempelajari khusus listening comprehension yang memang dirancang untuk TOEFL/ELPT. Di bagian ini terdapat 3 (tiga) bagian dengan karakter yang berbeda. Misalnya, Part A yang berisi 30 (tiga puluh) dialog pendek yang langsung diikuti oleh pertanyaan. Hampir sebagian besar soal di section ini berupa pemahaman, bukan dictation. Sehingga, ‘menangkap’ setiap kata atau bunyi yang diperdengarkan saja belum cukup karena tahap berikutnya adalah mahasiswa harus mampu memahami dan, kemudian, memilih jawaban yang biasanya berisi sinonim dari kata atau frasa yang telah diperdengarkan. Demikian pula di Grammar Section, ada dua pola pertanyaan yang disajikan di section ini dan Mahasiswa harus tahu perbedaan dan cara menjawabnya karena ada hubungannya dengan time management. 40 soal grammar harus diselesaikan dalam waktu 25 menit, dimana masing-masing soal membutuhkan waktu sekitar 37,5 detik atau setengah menitan.

“Kumpulkan sebanyak-banyaknya pengetahuan grammar anda sebagai bekal mengerjakan ELPT. Untuk reading, anda hanya harus belajar bagaimana membaca cepat dan menemukan poin bacaan. Mulailah belajar mengumpulkan kosakata-kosakata yang jarang anda ketahui dan mulai mengingat,” ujar Sidarta.

  1. Metode Belajar

Ketika belajar sendiri maupun berkelompok, biasanya mahasiswa akan terbawa dengan suasana santai tanpa tekanan. Nah, cobalah untuk mulai belajar di bawah tekanan dengan cara beri batas waktu untuk setiap pengerjaan soal. Serta, beri minimum skor pada latihan ketika belajar. Ini merupakan bentuk simulasi ketika berada di ruangan tes ELPT nanti. Jadi, dengan metode belajar tersebut, mahasiswa tidak merasa kaget dan panik dengan keadaan waktu tes ELPT yang sebenarnya.

Waktu Tes

  • Usahakan datang 30 hingga 15 menit sebelum tes tiba untuk bisa beradaptasi dengan ruangan tes
  • Siapkan semua perlengkapan, mulai dari alat tulis, penghapus, hingga nomor tes. Sediakan juga alat tulis cadangan jika sewaktu-waktu di tengah jalan pensil terputus
  • Tenangkan diri dan berdoa
  • Atur konsentrasi, usahakan semangat jangan menurun. Jaga kestabilan kosentrasi untuk menjawab soal hingga selesai.
  • Saat tiba pada kategori listening, perhatikan seksama conversation antara dua orang maupun single lecture. Jangan tergesa, dengarkan perintah pada conversation
  • Grammar, kategori ini memang dirasa paling sulit. Namun yang pertama harus dilakukan adalah analisis kalimat, tentukan subjek, predikat, dan objek kalimat. Subjek dan predikat tidak selalu terangkai dalam satu rangkaian, tetapi bisa terpisah. Analisa tenses dan juga pola kalimat. Untuk itu, sangat penting untuk memperkaya pengetahuan gramatikal bahasa Inggris.
  • Reading, merupakan bagian terakhir ELPT. Sebagian besar mahasiswa mengalami penurunan semangat pada babak ini karena sudah terkuras di sesi pertama dan kedua. Namun, reading juga membutuhkan kosentrasi lebih.

“Jangan terpengaruh oleh panjang pendek dari sebuah bacaan, karena itu tidak mempengaruhi mudah sulitnya jawaban. Lakukanlah baca cepat pada sesi ini, jangan terlena untuk membaca hingga memahami arti benar-benar karena akan menguras banyak waktu,” ujar Sidarta.

Pada sesi reading, biasanya pertanyaan tentang  main idea menghabiskan waktu pengerjaan paling banyak karena adakalanya mahasiswa harus membaca semuanya hanya untuk satu soal saja. Sebaiknya, pada sesi ini mulai mengerjakan pertanyaan yang paling mudah dan paling cepat untuk dikerjakan seperti pertanyaan “reference” dan juga mencari synonym kata yang tidak mengharuskan membaca semua kembali. Ini dapat membantu anda mengisi poin-poin pada kategori reading dan, yang lebih penting, mengetahui jenis-jenis pertanyaan dalam reading akan berkontribusi besar terhadap pengelolaan waktu pengerjaan.

Jika waktu masih tersisa, gunakan untuk meneliti kembali jawaban tes. Usahakan jawaban sesuai target yang dibuat. Tidak ada pengurangan nilai jika ada jawaban salah, jadi pastikan semua kolom jawaban terisi. Siapa tahu anda beruntung dan jawaban yang anda pilih benar. Kalau salah, paling tidak anda sudah mencoba untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Berikut tadi adalah beberapa tips dan trik yang bisa kami bagi untuk anda. Durasi kuliah yang cukup panjang bisa anda gunakan sebaik-baiknya untuk belajar ELPT. Jangan menunggu waktu mendekati kelulusan baru mengurus segalanya. Karena belajar membutuhkan proses, proses juga tak akan mengkhianati usaha. (*)

Penulis : Faridah Hariyani

Editor : Binti Q. Masruroh




Inilah Ciri Orang yang Bekerja Sesuai Kegemaran

UNAIR NEWS – Hampir setiap orang pernah mengalami kebingungan dalam hidup. Termasuk para kawula muda. Sering kali, mereka dihadapkan pada pertimbangan sekaligus pilihan dalam menjalani kegiatan sesuai kegemaran.

Tapi, ada tanda-tanda yang bisa dirasakan ketika seseorang melakoni aktivitas yang sesuai dengan kegemarannya. Mentor profesional sekaligus dosen Syafril Riza memaparkan ciri-ciri tentang orang yang sudah bekerja sesuai kegemarannya di acara seminar “Apakah Pilihanku Salah?”, Sabtu (16/9), di Aula Kahuripan Kantor Manajemen Kampus C.

Ciri pertama yang diutarakan Syafril adalah mengalirnya rasa semangat ketika mengawali hari. “Orang yang bekerja sesuai passion-nya (kegemaran), dia pasti akan semangat memulai hari. Dia akan datang menyapa semua temannya dengan semangat,” terang Syafril di acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa D-3 Manajemen Perhotelan.

Ciri kedua yang tampak  adalah kemampuan mengendalikan emosi. Karena rasa semangat dan senang akan terus dirasakan oleh seseorang yang bekerja sesuai passion.

“Ini sekadar tips buat kamu yang belum menikah. Carilah pasangan yang bekerja atau berbisnis sesuai passion. Kalau dia berbisnis atau bekerja tidak sesuai passion, ketika dia pulang bekerja, dia hanya mengucapkan sumpah serapah,” imbuh Syafril seraya disambut gelak tawa peserta seminar.

Petanda ketiga yang dipaparkan Syafril adalah keberanian untuk mengambil risiko. Syafril yang hobi bermain bola basket menuturkan bahwa pekerja yang memiliki bidang yang selaras dengan kegemaran akan merasa tertantang untuk menjajal hal-hal baru.

Selain itu, hal yang tampak dari orang yang bekerja sesuai passion adalah totalitas dalam mengikuti aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Syafril tak menampik bahwa menemukan kegemaran merupakan proses yang membutuhkan waktu. Ia mengaku, dirinya sempat ingin menjadi pegawai bank karena ingin berdandan rapi dan keren. Namun, keinginannya itu mendadak sirna ketika ditawari menjadi guru.

“Saya ditawari jadi guru ekstrakurikuler KIR (karya ilmiah remaja). Ternyata, saya suka. Saya senang jadi pusat perhatian dan sharing pengalaman. Sempat terjadi pertarungan batin. Tapi, pesan saya, carilah dan coba hal-hal baru sampai kamu menemukan passion,” kisahnya.

Syafril yang juga sering mengisi acara pelatihan sejenis di tempat lain juga sempat merasa bosan dengan kegemarannya yang menjadi rutinitas. Jika itu terjadi, penggemar drama Korea biasanya memilih untuk rehat sejenak dari rutinitas dengan melakukan kegiatan santai seperti jalan-jalan maupun wisata kuliner.

Di akhir perbincangannya dengan para peserta, ia berpesan agar mereka menjalani hidup dengan rasa optimis namun realistis. Berpikir positif memang diperlukan tetapi harus diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan matang.

Penulis: Defrina Sukma S




Perencanaan Keuangan Sesuai Kebutuhan Prioritas

UNAIR NEWS – Setiap keluarga pasti memiliki perencanaan keuangan untuk mengelola pengeluaran dan pemasukan. Seperti yang diungkapkan Dr. Nurul Istifadah, S.E., M.Si, dosen Ekonomi Pembangunan, Universitas Airlangga, bahwa perencanaan keuangan sama seperti perencanaan anggaran pemerintah.

Nurul menjelaskan, perlu perencanaan keuangan dari hulu ke hilir, yaitu mulai dari kebutuhan sekarang hingga masa depan. Dalam mengelola pegeluaran, ia selalu menerapkan perencanaan terpadu dengan menulis semua kebutuhan, kemudian disesuaikan dengan potensi pemasukan.

“Semua kebutuhan saya tulis setiap bulan. Tapi belum tentu saya realisasikan semua. Hal ini harus disesuaikan dengan potensi penerimaan. Apabila pengeluaran berlebih, maka harus ada kebutuhan yang ditunda,” jelas Nurul.

Menurut Nurul, setiap keluarga memiliki prinsip yang berbeda-beda. Untuk keluarga yang sangat rigid dan kaku dalam pengelolaan, dapat menggunakan metode amplop-amplop. Dimana setiap anggaran kebutuhan disisihkan sesuai dengan keperluan. Misalnya, amplop untuk pendidikan, kebutuhan makan, hingga kebutuhan mendadak.

Prinsip mendahulukan kebutuhan dari pada keinginan membuat pengeluaran selalu stabil dari waktu ke waktu. Di bulan ramadan ini, Nurul mengaku tidak ada peningkatan pengeluaran, malah terjadi penurunan. Hal ini disebabkan karena pola konsumsi yang stabil. Artinya, ia tidak menjadikan bulan ramadan sebagai momentum untuk membeli seluruh keinginan.

“Di keluarga saya tidak ada takjil. Sebagaimana hari-hari biasanya, anak saya berbuka dengan minum susu atau teh. Kita selalu berangkat dari ajaran Rasulullah untuk tidak berlebihan,” kata Nurul.

Selain mengelola kebutuhan, Nurul juga mengajarkan keluarganya menyisihkan uang untuk masa depan, seperti tabungan anak atau investasi. Investasi yang ia pilih adalah tanah dan apartemen. Selain nilainya tinggi, tanah dan apartemen memiliki potensi penerimaan setiap bulannya.

“Tidak ada prosentase khusus untuk menabung, namun disesuaikan dengan pendapatan saja,” tambahnya.

Proyeksi kebutuhan masa depan juga ia rencanakan sedini mungkin, seperti asuransi pendidikan hingga kesehatan. Hal ini sangat perlu, sebab kehidupan selalu memiliki dinamika, sehingga persiapan dan perencanaan itu menjadi solusi andalan.

Tak hanya itu, Nurul mengatakan, kebutuhan hiburan seperti makan dan berlibur harus dianggarkan dengan menyesuaikan kebutuhan utama.

“Contohnya ketika lebaran seperti ini, keluarga saya selalu jalan-jalan dan berlibur. Namun, kita harus mengetahui batas anggaran yang kita miliki. Artinya, tidak melakukan pembelian untuk hal-hal yang tidak dibutuhkan. Dan peran ibu memiliki andil besar dalam menjaga perencanaan sesuai dengan realisasi,” tutupnya kepada UNAIR NEWS. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor    : Binti Q. Masruroh




Agar Terhindar Dehidrasi Saat Puasa

UNAIR NEWS – Berpuasa berarti menahan haus dan lapar dengan resiko dehidrasi sangat besar. Sebagian orang berpotensi mengalami dehidrasi saat berpuasa. Hal itu wajar saja, pasalnya orang yang berpuasa tidak mendapat asupan cairan selama sekitar 13 jam.

Mengingat kebutuhan air yang dibutuhkan oleh tubuh per hari rata-rata enam hingga delapan gelas air. Selama puasa, pemenuhan kebutuhan cairan ini harus dioptimalkan pada saat sahur dan berbuka.

Menurut  Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM.,  minuman yang paling tepat untuk merehidrasi tubuh adalah air putih. Hanya saja, tidak sedikit orang yang lebih memilih berbuka dengan minuman dengan rasa, seperti teh atau kopi.

Kebutuhan air dalam tubuh per hari dianjurkan 2 liter yang nantinya akan dikeluarkan lewat kencing, keringat, dan tinja. Djoko yang juga wakil rektor I UNAIR ini menganalogikan dengan tidur manusia yang menghabiskan waktu sekitar 8 jam per hari. Hal ini membuat tubuh tidak akan mengkonsumsi air dan minum selama delapan jam.

“Jika kebutuhan tidur manusia tercukupi, tubuh akan terasa fit. Sama halnya dengan berpuasa yang memakan waktu hingga 13 jam per hari. Badan akan terhindar dari dehidrasi jika kebutuhan  minum dari waktu maghrib sampai sahur dipenuhi,” ucapnya.

Joko juga menegaskan bahwa dehidrasi merupakan suatu kondisi tubuh yang mengalami kekurangan cairan dan pada beberapa kondisi tubuh juga kekurangan elektrolit. Dehidrasi juga terjadi ketika jumlah cairan yang diasup lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah cairan yang dikeluarkan oleh tubuh.

“Perlu diingat bahwa kelebihan minum air akan bermasalah jika mengalami problem jantung lelah atau ginjalnya macet. Menggantikan camilan tak sehat dengan buah-buahan segar dapat dipilih untuk memenuhi kebutuhan air dalam tubuh. Seperti semangka, pepaya, melon, dan lain sebagainya yang berserat, bergizi, dan kaya air,” paparnya.

Selanjutnya, pentingnya makan sayuran-sayuran saat sahur dapat membantu terhindar dari dehidrasi. Komposisi air dalam tubuhnya orang dewasa lebih besar, sehingga kehilangan air akan berdampak signifikan.

“Minumlah air yang cukup saat berbuka maupun sahur. Terakhir, mengurangi aktivitas berlebihan akan jauh lebih baik untuk bisa menjalankan puasa hingga adzan tiba. Selamat berpuasa,” pungkas Djoko.

Penulis : Helmy Rafsanjani

Editor  : Nuri Hermawan




Tak Perlu Diet Ketat, Atur Berat Badan dengan Memperhatikan Asupan Makanan

UNAIR NEWS – Beberapa waktu yang lalu, tersiar kabar meninggalnya Putri Indonesia Maluku 2016. Dari pemeriksaan medis, kabar duka tersebut muncul akibat sang putri yang terkena asam lambung. Kejadian ini cukup mengejutkan, karena ternyata, asam lambung bisa bearkibat fatal hingga menyebabkan kematian. Kejadian ini menyadarkan kembali akan pentingnya pola makan dan asupan makanan yang masuk dalam tubuh.

Orang-orang yang memiliki kesibukan tinggi biasanya rawan terkena asam lambung. Bisa juga, orang-orang yang menginginkan bentuk badan yang ideal namun kurang memerhatikan pola makan.

Ketua Departemen Gizi Kesehatan Dr. Annis Catur Adi, Ir., M.Si, UNAIR menuturkan sebab-sebab naiknya asam lambung. Biasanya, asam lambung naik karena kondisi lambung yang sangat asam. Kondisi ini memicu keluarnya getah HCl yang akan melukai lambung. Jika sudah demikian, biasanya yang bersangkutan akan merasakan sakit perut yang teramat sakit.

“Biasanya itu terjadi pada orang yang diet terlalu ketat. Bisa jadi dia takut ada penambahan berat badan. Karena padatnya acara, tuntutan penampilan dengan berat badan ideal, lupa makan dan minum, pola makan menjadi tidak terkontrol,” ujar Annis seusai senam bersama yang berlangsung di FKM, Jumat (27/1).

Apa yang menyebabkan asam lambung naik?

Annis mengatakan, pola makan yang tidak teratur dan asupan makanan ke dalam perut yang terlalu ekstrim dapat memicu naiknya asam lambung. Asupan makanan terlalu ekstrim ini disebabkan makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam.

“Mengkonsumsi makanan yang sangat ekstrim, bisa jadi sangat pedas atau sangat asam, itu akan memicu lambung mengeluarkan HCl (asam klorida) yang sangat tinggi,” ujar Annis.

Annis mengatakan, boleh saja mengkonsumsi makanan ekstra pedas atau asam. Asalkan, tidak dalam keadaan perut kosong belum terisi makanan ataupun minuman sama-sekali. Sebab, asam klorida akan langsung naik luar biasa, menjadikan luka lambung yang parah. Kalau sudah luka, akan sulit untuk benar-benar sembuh.

“Paling tidak minum, lah. Karena dengan minum, mengurangi asam lambung. Air putih akan lebih bagus. Itu akan menetralisir,” ujarnya.

Cukup mengatur pola dan asupan makanan

Orang-orang yang menginginkan bentuk badan ideal, biasanya melakukan diet ketat dengan tidak memerhatikan asupan gizi untuk memenuhi kebutuhan tubuh mereka. Padahal, untuk menjaga berat badan, orang tidak harus melakukan diet ketat dengan mengorbankan kesehatan. Cukup dengan menjaga pola makan dan memerhatikan asupan makanan yang masuk.

“Kuncinya menyeimbangkan yang masuk dan yang keluar. Kalau ingin makan enak, yang keluar ya banyak, ya harus mau olahraga. Kalau ga mau olahraga kenceng, ya makan harus diantur. Sebenarnya kuncinya satu, makan secukupnya, teratur, dan perhatikan jenis makanannya,” kata Annis.

Annis memberi contoh, dalam satu piring makan, harus berisi menu yang berwarna. Semakin menu berwarna dan variatif, akan semakin bagus untuk asupan tubuh. Paling tidak dalam satu piring, sepertiga piring masing-masing berisi nasi, sayur, dan lauk.

“Itulah yang disebut piring sehat. Buatlah piring itu berwarna. Selama ini kan warna putih yang lebih dominan. Semakin berwarna piringnya, itu semakin menyehatkan. Tidak perlu hitung sekian kalori sekian kalori,” ungkapnya.

Jika seseorang tidak menyukai sayur misalnya, ia bisa mengganti menu makanan dengan memperbanyak buah. Buah segar akan lebih bagus. Jika ia tak juga menyukai buah, ia bisa menggantinya dengan konsumsi jus.

“Kalau memang ga suka sayur pilihlah buah. Kalau ga suka buah segar, buatlah jus. Hidup sehat sesuai dengan kesukaan. Jangan merasa hidup sehat dengan terpaksa. Kalau kita melakukan hidup sehat dengan fun, maka kita akan merasakan sendiri manfaatnya,” ungkapnya.

Annis menambahkan, hidup sehat bisa dimulai dengan membiasakan olahraga dan sarapan setiap pagi. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor    : Nuri Hermawan




Inilah Pertolongan Pertama pada Orang yang Mendadak Pingsan

UNAIR NEWS – Keadaan gawat darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi sewaktu-waktu, tak pandang kelompok maupun tempat. Oleh karena itu, siapapun –termasuk masyarakat awam– hendaknya mengetahui dan bisa melakukan bantuan hidup dasar (BHD) atau basic life support (BLS).

BHD merupakan pertolongan pertama pada pasien dalam kondisi tidak sadar. Kondisi ini bisa menimpa pasien yang mengalami kecelakaan, serangan jantung, komplikasi penyakit, maupun keadaan lainnya yang mengakibatkan pasien kehilangan kesadaran.

Menurut dokter spesialis anestesiologi dan reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prananda Surya Airlangga, M.Kes., dr., Sp.An (K), ada dua langkah yang sebaiknya dilakukan oleh masyarakat awam untuk menyelamatkan nyawa dalam kondisi gawat darurat.

Berikut langkah-langkah yang perlu diketahui oleh masyarakat awam dalam memberikan BHD kepada pasien:

  1. Cek kondisi pernapasan

Untuk mengetahui apakah dia tersebut sadar atau tidak, sebaiknya cek terlebih dahulu hela pernapasan pasien. Para penolong bisa menaruh jari telunjuk di lubang hidung penderita untuk mengetahui kondisi pernapasan.

  1. Cari bala pertolongan

Apabila pasien memang tidak bernapas, maka si penolong disarankan mencari bala pertolongan. Si penolong bisa mengaktifkan alarm bahaya, atau sekadar berteriak minta tolong kepada orang-orang sekitar. Selain itu, segera hubungi petugas medis atau fasilitas kesehatan.

“Salah satu langkah awalnya adalah minta tolong atau mengaktifkan alarm bahaya sehingga orang lain juga bisa membantu. Ketika ada orang yang tidak sadar maka kita minta tolong. Mari kita tolong orang itu bersama-sama, jadi nggak bisa sendirian,” tutur dokter Prananda.

  1. Lakukan pijat jantung

Bila memang pasien diketahui tidak bernapas, maka segera lakukan pijat jantung. Pijat jantung dilakukan semampunya oleh si penolong. Apabila si penolong tidak sendiri, maka pijat jantung bisa dilakukan secara bergantian dengan orang lain.

“Kita bantu dia untuk menjadi sedikit lebih sadar atau sadar. Sehingga, jantung kembali berdenyut. Harapannya, mampu memompa agar paru-paru mendapatkan oksigen, dipompa ke jantung, jantung kembali berdenyut sehingga sirkulasi dalam tubuh kembali berjalan, sehingga otak dan segala macam mendapatkan aliran darah,” tutur dokter yang juga penggagas BLS Community Surabaya itu.

Selain itu, bila dimungkinkan, pijat jantung terus dilakukan sampai tenaga medis datang untuk menolong korban. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor    : Binti Q. Masruroh




Hal-Hal yang dapat Mengurangi Potensi Kerugian saat Kebakaran

UNAIR NEWS – Saat terjadi kebakaran, kerugian pasti diderita. Namun, semua itu bisa diminimalkan, bila paham dan sadar penanganan bencana sejak dini. Memang, lebih baik mencegah daripada mengobati. Namun, saat kebakaran benar-benar terjadi, yang mesti dilakukan adalah sebisa mungkin mereduksi potensi kerugian .

Artikel ini dirangkum dari wawancara tim UNAIR News dengan Dr. drg. Setya Haksama, M.Kes, dosen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR. Berikut beberapa tips yang perlu diketahui:

  1. Pahami arah dan jalur evakuasi

Tiap gedung, sudah seharusnya memiliki standar K3 ( Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Dalam standar tersebut, ada kewajiban untuk memberi petunjuk arah jalur evakuasi bila terjadi bencana. Termasuk, bila terjadi kebakaran.

Umumnya, petunjuk itu didominasi warna hijau, sehingga gampang terlihat. Perhatikanlah petunjuk arah di gedung kita. Di mana exit door darurat kalau ada bencana, mesti diingat-ingat keberadaannya.

Sampai pada arah “Titik Kumpul Evakuasi” yang umumnya berada di tanah lapang. Yakinlah, tulisan atau petunjuk itu bukan sebuah pajangan. Semua itu dibuat untuk diketahui semua orang yang ada di gedung. Bila orang-orang sudah tahu ke mana mesti pergi saat bencana kebakaran datang, kepanikan dapat diminimalkan.  

  1. Ketahui cara menggunakan Alat Pemadam Kebakaran

Jangan berpikir bahwa alat pemadam kebakaran hanya domain petugas keamanan atau security. Semua orang di dalam gedung, perlu tahu cara penggunaannya. Sebab, tidak ada yang tahu pasti di mana titik sumber api bila bencana sudah datang. Tidak ada yang tahu juga, siapa orang yang paling dekat sehingga bisa dengan cepat memadamkannya.

Bayangkan, bila semua orang di dalam gedung tahu cara memadamkan api dengan alat yang sudah disediakan, tatkala seseorang tahu ada bahaya api, dia bisa langsung mengoperasikannya. Api tak sempat membesar dan membuat banyak kerugian.

Sekali lagi, alat kebakaran berupa tabung-tabung warna merah itu bukan pajangan. Tak ada salahnya, kita mengetahui cara kerjanya.

  1. Sebisa mungkin cegah kebakaran

Seperti yang sudah disampaikan di atas, mencegah lebih baik daripada mengobati. Selagi bisa, cegahlah kebakaran. Jangan meremehkan potensi bencana kebakaran yang ada di kantor atau gedung kita.

Misalnya, yang terkait dengan korsleting listrik. Jangan menumpuk steker atau colokan listrik terlalu banyak pada satu sumber listrik. Gunakan material listrik seperti kabel, sakelar, stop kontak, steker yang telah terjamin kualitasnya dan berlabel SNI (Standar Nasional Indonesia). Gunakan pemutus arus listrik (sekering) yang sesuai dengan daya tersambung, jangan dilebihkan atau dikurangi.(*)

Penulis: Rio F. Rachman
Editor : Dilan Salsabila




Tips Menembus Seminar dan Publikasi Internasional

UNAIR NEWS – Mengikuti seminar bertaraf internasional merupakan kebanggaan tersendiri bagi kalangan akademisi, baik mahasiswa maupun dosen. Terlebih, bagi mereka yang berstatus staf pengajar. Partisipasi di event akademik berstandar internasional merupakan nilai plus.

Meski demikian, untuk menggapainya diperlukan kerja keras. Sebab, kompetisi yang ada didalamnya tentulah kental, tidak sembarang orang bisa menembusnya.

“Untuk menempatkan diri dalam seminar internasional, seseorang mesti lebih dulu mengirimkan abstrak penelitian atau konsep pemikiran sebagai persyaratan,” kata Dekan FIB Diah Ariani Arimbi SS., MA., PhD.

Perempuan yang menuntaskan program magister di Amerika Serikat ini mengutarakan, abstrak biasanya terdiri dari sekitar 200 hingga 400 kata. Bergantung pada ketentuan dalam pendaftaran seminar tersebut. Nah, pengirim abstrak harus pandai dalam mengolah kalimat. Tujuannya, memampatkan ide yang ingin dicetuskan. Dalam abstrak, terdapat elemen-elemen penting dalam karya yang akan dipresentasikan. Seperti argumen yang jelas, metodologi, hingga hasil yang diperoleh.

Yang harus diingat, kata dosen yang mengambil gelar doktor di Autralia ini, bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris khusus untuk penulisan akademik. Panitia seminar biasanya cukup saklek tentang ini. Untuk bisa memahami bahasa yang dimaksud, ada banyak literatur yang dapat dipelajari. Ada begitu jamak link-link internet yang menyediakan informasi tentang ini.

Pengetahuan tentang bahasa Inggris khusus penulisan akademik juga mesti dimiliki oleh seseorang yang ingin masuk dalam publikasi internasional. Untuk yang satu ini, calon penulis publikasi internasional harus menyiapkan lebih banyak hal. Misalnya, karya yang lengkap (tidak hanya abstrak) dan memiliki unsur kebaruan.

“Biasanya, reviewer di level internasional itu sangat mempertimbangkan suatu isu yang dinamis di masyarakat,” kata Diah.

Misalnya, ada satu isu yang sudah dibahas oleh sejumlah peneliti. Nah, peneliti baru yang ingin karyanya dimuat dalam publikasi internasional, harus mempertimbangkan riset-riset yang sudah ada dan mengisi lubang atau space kosong yang belum terbahas detail oleh peneliti sebelumnya. Dinamika penelitian perlu dijabarkan dengan lebih komplit.

Di tempat terpisah, Prof. Dr. Achmad Syahrani, Apt., MS mengungkapkan, publikasi internasional bukan merupakan hal yang mustahil diraih. Kuncinya adalah banyak-banyak membaca dan melakukan penelitian. Wawasan luas seputar topik yang lagi berkembang di dunia sangat diperlukan.

“Jangan biarkan diri larut dalam rutinitas sehari-hari yang monoton tanpa penambahan pengetahuan akan dunia luar,” ujar penulis tak kurang dari 31 publikasi internasional ini. (*)

Penulis: Rio F. Rachman
Editor    : Binti Q. Masruroh