Tips Ikuti Jenjang Master Degree di Singapura Ala Kaplan Edupac

UNAIR NEWS – Dewasa ini pendidikan jenjang Master menjadi sebuah kebutuhan utama yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Persiapan yang dimiliki juga harus sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh kampus tujuan. Apalagi jika ingin kuliah Master di luar negeri yang tentunya menetapkan banyak persyaratan yang harus dipenuhi.

Menyadari hal tersebut, Airlangga Global Engagement (AGE) menggandeng Kaplan Edupac Surabaya mengadakan info session yang berlangsung pada Jum’at (5/4/2019), di Kahuripan 301 Gedung Manajemen Kampus C UNAIR. Acara itu berlangsung dengan tiga materi utama, yakni TOEFL, kehidupan kampus di Singapura, dan how to make a great essay.

Kegiatan itu bertujuan agar mahasiswa UNAIR memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di luar negeri. Sekaligus memotivasi mahasiswa dalam memberikan wawasan mengenai persyaratan dan juga persiapan yang harus dilakukan dari sekarang.

Syarat utama yang harus dipenuhi oleh mahasiswa yakni memiliki kemampuan komunikasi bahasa inggris yang efektif untuk mempermudah mahasiswa melakukan test TOEFL. Oleh sebab itu, mahasiswa sudah seharusnya berlatih dan mengikuti kursus bahasa inggris guna mempersiapkan diri untuk seleksi kelak.

Christian Sutisna salah satu pemateri dari Kaplan yang hadir menyampaikan bahwa kehidupan kampus di Singapura tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Disana juga terdapat kegiatan ekstra yakni organisasi dan forum keluarga mahasiswa Indonesia. Kegiatan itu dapat diikuti oleh semua mahasiswa yang ingin bergabung.

“Di Singapura sistem kontrak tempat tinggal bukan setahun, melainkan dua bulan. Ini memudahkan bagi kalian yang sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Juga terdapat tempa-tempat menarik untuk belajar maupun belanja yang bisa kalian kunjungi disana,” tambahnya.

Selain itu, Mr. Tangkas Priambodo yang juga turut hadir memberikan materi mengenai “How To Make A Great Essay” menerangkan bahwa essay merupakan syarat yang diajukan oleh setiap kampus di luar negeri untuk menyeleksi calon mahasiswanya. Oleh karena itu membuat essay personal merupakan hal yang krusial.

“Ketika kalian membuat essay jangan menggunakan bahasa berbelit yang membingungkan, namun kalian harus mengungkapkan diri kalian dari sisi yang unik dan alasan kalian mendaftar di jurusan yang kalian pilih. Juga jangan memasukkan pernyataan yang tidak penting sekaligus memaksa pihak kampus untuk menerima kalian,” tuturnya.

Perlu diketahui, bahwa melakukan persiapan untuk meraih pascasarjana di luar negeri memang sudah sepantasnya dilakukan oleh mahasiswa. Utamanya belajar menggunakan bahasa inggris yang efektif. (*)

 

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Khefti Al Mawalia




Memaknai Peringatan Hari Air Sedunia

UNAIR NEWS – Perayaan Hari Air Sedunia atau World Water Day diperingati setiap tanggal 22 Maret. Penetapan Hari Air Sedunia bertujuan agar seluruh penduduk dunia menyadari betapa pentingnya air bersih dalam kehidupan mereka. Inisiasi peringatan tersebut diumumkan pertama kalinya pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de JaneiroBrazil. Hasil sidang PBB kemudian menyepakati bahwa Hari Air Sedunia mulai diperingati tahun 1994.

Perayaan Hari Air Sedunia mengangkat tema khusus setiap tahunnya. Kali ini tema yang diusung ialah Water for All, Leaving No One Behind. Dilansir dari Kaltim.tribunnews.com, makna leaving no one behind ialah mengajak siapapun untuk tidak meninggalkan saudara-saudara yang masih kekurangan air bersih. WHO mengatakan 2 miliar penduduk di seluruh dunia masih mengonsumsi air kontaminasi.

Minimnya air bersih menyebabkan para penduduk menggantungkan hidupnya pada air tidak layak konsumsi. Ratusan ribu orang meregang nyawa akibat penggunaan air yang tercemar. Setiap hari mereka harus berjuang mempertahankan hidupnya dengan mati-matian. Tidak selalu mulus, terkadang mereka mendapat diskriminasi saat ingin mengakses air yang mereka perlukan. Oleh karena itu, penduduk yang tertimpa krisis layak memperjuangkan hak hidupnya.

Tema World Water Day pada tahun 2019 mengajak seluruh lapisan masyarakat sebagai penduduk dunia untuk saling peduli terhadap sesame. Utamanya masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Tidak hanya pemerintah, masyarakat lain juga dihimbau untuk ikut menciptakan akses air bersih bagi penduduk di seluruh dunia.

Berikut langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan air:

  1. Melakukan daur ulang barang bekas
    Daur ulang menjadi salah satu langkah efektif untuk menjaga lingkungan bebas sampah. Barang-barang tidak terpakai sering sekali dibuang begitu saja, penumpukan sampah itu bahkan bisa mencemari air sungai dan laut.
  2. Buang sampah B3 pada tempatnya
    Sampah B3 mengandung bahan kimia berbahaya seperti racun limbah B3 yang memiliki pengaruh kronis dan akut. Hal itu akan berakibat buruk jika sampah B3 mencemari sumber air pemukiman penduduk.
  3. Meminimalisir penggunaan bahan kimia
    Menekan penggunaan bahan kimia merupakan langkah solutif untuk melindungi perairan. Ketika larut ke dalam air, bahan kimia dapat menghancurkan ekosistem perairan.
  4. Hemat air
    Gunakan air secukupnya, penggunaan air berlebihan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan kekeringan. Lakukan hal kecil seperti mematikan keran air jika tidak digunakan.
  5. Lakukan penghijauan
    Tumbuhan juga berfungsi sebagai penyaring, melakukan penanaman pohon di sepanjang sungai dapat menjaga saluran air tetap bersih. Tanaman hijau juga bermanfaat menangkal polusi udara, tanah dan air.
  6. Melakukan sosialisasi
    Lakukan sosialisasi air bersih kepada masyarakat. Dewasa ini banyak masyarakat belum sadar pentingnya melestarikan air.

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Khefti Al Mawalia




Mengenal Lebih Dekat Soal Penerbit Mayor

UNAIR NEWS – Agar tulisan dapat dibaca oleh banyak khalayak, penting bagi penulis buku untuk memahami cara publikasi yang tepat. Publikasi dalam konteks ini berfokus pada proses penerbitan buku.

Para penulis dituntut cermat untuk mengenali penerbit. Ciri-ciri penerbit buku yang baik adalah memiliki visi dan misi yang jelas, memiliki jaringan market yang besar, memiliki percetakan sendiri, jujur dalam memberi royalti, dan sebagainya.

Ada 3 macam penerbit buku yang perlu diketahui, yaitu penerbit mayor, indie, dan self publishing. Pada kesempatan kali ini akan diulas sedikit mengenai penerbit buku mayor.

Penerbit mayor banyak diminati oleh para penulis, khususnya penulis pemula karena merupakan penerbit berskala besar atau nasional. Penerbit mayor merupakan penerbit yang dipunyai oleh perusahaan besar. Selain memiliki modal yang besar, biasanya penerbit mayor memiliki percetakan sendiri.

Buku-buku hasil cetakan penerbit mayor dapat dipastikan akan tersebar ke berbagai daerah. Contoh penerbit mayor adalah Gramedia Pustaka Utama, Mizan, Republika, Grasindo, Loka Media, Tiga Serangkai, Bentang Pustaka, Erlangga, Yudhistira, dan lain sebagainya.

Syarat naskah dapat diterima oleh penerbit mayor, yakni,

  1. Naskah harus berkualitas.
    Naskah yang berkualitas akan sangat memengaruhi kualitas pasar juga. Oleh karena itu, para penulis ditekankan untuk menulis naskah sebaik mungkin.
  2. Penuhi syarat-saratnya.
    Penerbit menentukan syarat-syarat kepada penulis ketika akan menerbitkan karya. Penulis sebaiknya memenuhi syarat-syarat itu. Pemenuhan nanti akan dinilai oleh tim penerbit sebagai tingkat keseriusan penulis dalam penerbitan karyanya.

    a. Surat pengantar
    Buat surat pengantar dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada penerbit seputar naskah Anda.
    b. Sabar
    Setelah naskah dikirim, penulis hendaknya sabar menunggu naskah diterbitkan. Karena penerbit biasanya memberikan batasan waktu koreksi naskah. Misalnya, sebulan, tiga bulan, lima bulan, dan seterusnya.

Berikut akan turut dijelaskan pula keunggulan dan kelemahan menerbitkan buku melalu penerbit mayor,

Keunggulan

  1. Biaya percetakan ditanggung penerbit
  2. Jaringan distribusi buku luas
  3. Dianggap sebagai penulis berkualitas oleh para pembaca
  4. Secara otomatis nama penulis akan terpromosi

Kelemahan

  1. Kurang dukungan promosi distribusi ke toko buku terkenal
  2. Naskah yang diterbitkan lumayan banyak
  3. Proses yang dibutuhkan lama
  4. Belum tentu diterima penerbit
  5. Royalti kecil mengingat penulis tidak ikut menanggung biaya apapun.

Utulah rangkuman penulis perihal penerbit mayor. Mudah-mudahan membantu bagi teman-teman yang ingin menerbitkan buku, ya. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




Bagaimana Memberikan Bantuan Hidup Dasar untuk Orang Tak Sadarkan Diri?

UNAIR NEWS – Tahu dan bisa menolong orang lain tentu menjadi hal yang baik untuk dilakukan. Salah satunya dengan bisa melakukan Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar (BHD). Edward Kusuma, dr., M.Kes., Sp.An., KIC menjelaskan bahwa antara hidup dan mati terdapat sebuah masa yang dinamakan mati suri dengan jeda waktu sekitar 10 menit.

“Jeda waktu antara hidup dan mati itulah kesempatan kita untuk melakukan BLS,” tutur Edward.

Dapat melakukan BLS menjadi hal penting karena setiap orang memiliki kesempatan untuk diselamatkan jika orang yang disekitarnya di saat itu dapat melakukannya. Berikut tata cara melakukan BLS untuk menolong korban.

Panggil dan Tepuk Korban Dengan Keras

Tepukan dan panggilan yang keras ditujukan untuk memastikan apakah korban itu benar-benar tidak sadarkan diri atau hanya tertidur. Terkejutnya korban ketika ditepuk dan dipanggil begitu keras merupakan pertanda baik karena itu menandakan korban dalam keadaan bernyawa. Kurang kerasnya tepukan dan panggilan akan mengurangi kualitas pemastian korban.

Panggil Bantuan serta Periksa Napasnya

Setelah tahap pertama tidak berhasil maka memanggil orang lain di sekitar harus dilakukan untuk menghubungi rumah sakit terdekat. Sedangkan kita meneruskan untuk mengecek apakah korban masih bernapas atau tidak. Pengecekan dilakukan dengan menengadahkan kepala korban agar aliran udara lebih mudah masuk sehingga hembusan napas dapat lebih mudah diketahui.

Tekan Dada dan Berikan Napas Buatan

Meskipun korban sudah tidak menghembuskan napas, bisa jadi korban sedang dalam keadaan antara hidup dan mati. Jangan panik. Lakukan penekanan dada dan napas buatan. Penekanan dada dilakukan di bagian tulang dada tengah, push hard and fast, lakukan dengan keras dan cepat setara 100 – 120 kali permenit sebanyak 30 kali. Hitungan dilakukan dengan keras dalam ulangan 10 hitungan selama 3 kali.

Selanjutnya, memberikan napas buatan sebanyak dua kali. Penggunaan kain kasa atau alat lainnya untuk mencegah kontak langsung sangat dianjurkan karena kita tidak tau kesehatan mulut korban.

Setelah menekan dada dan memberinya napas buatan, dilakukan pengecekan apakah korban sudah bernapas. Pengulangan pemberian tekanan dada dan napas buatan dilakukan ketika korban belum bernapas atau sadarkan diri. BLS dihentikan ketika bantuan tenaga ahli yang dipanggil datang.

Life Support for Everyone, Life Support by Everyone. Salah satunya adalah kamu. (*)

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh




Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UNAIR Dr. Dewi Retno Suminar saat berbagi tips pada peserta AEE hari kedua. (Foto: Feri Fenoria R)

Calon Mahasiswa Baru, Inilah Tips Memilih Program Studi

UNAIR NEWS – Hari kedua Airlangga Education Expo (AEE) terus dipadati oleh siswa, guru, dan orang tua siswa yang datang dari berbagai daerah. Salah satu materi yang menarik di hari kedua adalah paparan mengenai tips memilih program studi.

Menanggapi kegalauan peserta dalam menentukan jurusan, Dr. Dewi Retno Suminar atau Dewi selaku wakil dekan III Fakultas Psikologi UNAIR memberikan tips memilih jurusan sesuai minat dan bakat untuk seluruh peserta yang hadir pada AEE hari ke dua pada Sabtu (16/2). Setidaknya, terdapat tiga hal yang perlu untuk diperharikan oleh calon mahasiswa untuk menentukan pilihan.

Bermimpi

“Jangan takut bermimpi!” tegas Dewi.

Sebelum menentukan pilihan, Dewi menganjurkan kepada peserta untuk memiliki mimpi. Setidaknya, peserta sudah memiliki bayangan tentang dirinya sepuluh tahun lagi akan menjadi apa? Atau bekerja dimana? Dan sebagai apa?

Tidak hanya bermimpi. Selanjutnya peserta perlu untuk mulai merancang cara menggapai mimpi tersebut.

Sebagai permisalan, Dewi menjelaskan bahwa bila seseorang ingin menjadi pengusaha maka selanjutnya perlu untuk menguasai ilmu-ilmu tentang wirausaha. Salah satu caranya adalah dengan menjadi mahasiswa di manajemen UNAIR.

Kenali kekuatan diri sendiri

Tips kedua yang diberikan oleh Dewi adalah untuk mengenali kekuatan diri sendiri. Dengan begitu peserat akan mengetahui mereka bagus di bidang apa.

“Sebagai contoh, ketika telah mengetahui kemampuan dirinya, maka seorang anak yang tidak bagus di pelajaran biologi dan kimia namun bagus di pelajaran fisika, tidak akan memilih jurusan kedokteran yang diinginkan ibunya, melainkan akan memilih jurusan lain seperti jurusan teknik yang dia tahu dia mampu sekolah di jurusan tersebut,” jelas Dewi.

Ada beberapa cara untuk mengenali kekuatan diri. Salah satunya adalah dengan melihat nilai pelajaran yang bagus. Karena jika seorang siswa mendapat nilai bagus di suatu pelajaran, artinya siswa tersebut tertarik dan mampu bekerja atau belajar di bidang yang membutuhkan pengetahuan dari pelajaran tersebut.

Selain itu, peserta juga perlu mengetahui bakat lain yang dia miliki seperti daya ingat dan ketekunan. Jika seseorang tidak memiliki daya ingat yang baik, Dewi menyarankan untuk tidak memilih jurusan kedokteran karena belajar di kedokteran membutuhkan daya ingat yang baik. Sebaliknya, jika seseorang tidak tekun, maka sebaiknya tidak memilih jurusan teknik atau jurusan lain yang memerlukan ketekunan tinggi.

“Selain nilai pelajaran, kalian juga bisa mengetahui minat dan bakat kalian dengan mengikuti tes minat dan bakat,” ujar Dewi.

Fokus pada minat diri

Dewi menyarankan kepada peserta untuk tidak masuk ke prodi yang tidak diminati. Karena menurut Dewi, jika seseorang tidak tertarik dengan suatu bidang, maka dia tidak akan memberikan upaya terbainya. Sebaliknya, jika seseorang tertarik pada suatu bidang, maka dia akan mau dan terpacu untuk mencari tahu mengenai bidang tersebut.

“Jangan ikut-ikutan teman,” ucap Dewi mengingatkan.

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan




Menariknya Belajar di Negeri Kangguru

UNAIR NEWS – Program beasiswa diadakan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia dalam meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas. Salah satunya dengan membentuk karakter bangsa yang mempunyai jiwa kepemimpinan tinggi dan memiliki visi menjadi pemimpin bangsa di masa depan.

Saat ini, program beasiswa menjadi begitu beragam baik dalam negeri maupun luar negeri. Pemerintah Indonesia memberi banyak peluang bagi generasi muda untuk mengejar impian dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal ini terbukti dari banyaknya pendidikan di luar negeri yang telah menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia.

Namun menjadi miris, ketika para pemuda Indonesia menjadi minim pengetahuan akan informasi tersebut. Tidak banyak dari mereka yang mengenal program beasiswa luar negeri. Ditambah mereka bingung menentukan negara mana yang memiliki kualitas pendidikan yang baik.

Negara Australia mungkin bisa menjadi salah satu pilihan dalam melanjutkan studi pendidikan. Australia diketahui mempunyai pendidikan tinggi kelas dunia yang tidak jauh dari Indonesia dan tidak semahal yang dibayangkan. Salah satu beasiswa bergengsi Australia yang kini dikenal luas ialah Beasiswa Australia Awards.

(Foto: idntimes.com)

Beasiswa Australia Awards merupakan beasiswa internasional yang menawarkan kesempatan bagi para calon pemimpin Indonesia untuk melakukan studi, penelitian, dan pengembangan keprofesian di Australia. Beasiswa ini mencakup biaya kuliah, biaya perjalanan, dana penunjang pada saat kedatangan, bantuan biaya hidup bulanan, asuransi kesehatan dan perjalanan. Cakupan Australia Awards pun hampir di seluruh wilayah Australia, seperti Australian National University, University of Canberra, Charles Darwin University, CQ University Australia, University of Newcastle, dan lain-lain.

Australia adalah negara yang memiliki kualitas pendidikan yang mumpuni. Berikut 8 fakta seputar pendidikan di Australia :

  1. Fakta menunjukkan bahwa 24% pelajar Indonesia memilih untuk melanjutkan pendidikan di Australia.
  2. 7 dari 100 Universitas teratas dunia berada di Australia.
  3. 6 dari 50 kota pelajar terbaik dunia ada di Australia.
  4. Lebih dari 9000 warga Indonesia sedang belajar di Australia.
  5. Australia memiliki jumlah pelajar internasional tertinggi ketiga di dunia.
  6. Lebih dari 300 bahasa dituturkan di Australia.
  7. 49% warga Australia lahir atau mempunyai orang tua yang lahir di luar negeri.
  8. Biaya kuliah untuk Bachelor of Arts (atau setara dengan sarjana) di 100 Universitas teratas dunia di Australia hanya membayar setengah dari biaya kuliah dari 100 universitas teratas dunia di Amerika.

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Khefti Al Mawalia




Bahasa Mandarin, Pentingkah untuk Dipelajari?

UNAIR NEWS – Bisa berbahasa dan bertutur selain bahasa ibu atau bahasa indonesia dan bahasa Inggris pada abad ke-20 ini memang sudah menjadi suatu kebutuhan untuk kalangan tertentu. Salah satunya Bahasa Mandarin.

UNAIR NEWS berhasil menemui Muhammad A. S. Jawad, alumnus Teknik Lingkungan Universitas Airlangga angkatan 2012 yang sedang melanjutkan pendidikan master di Chung Yuan Christian University (CYCU). Jawad menjelaskan bahwa bahasa ini sangat populer karena pengguna bahasa Mandarin di seluruh dunia sangat banyak.

“Bahasa ini tetap menjadi bahasa penting baik untuk kepentingan bisnis maupun akademis,” tutur Jawad.

Tak hanya itu, meski di awal Jawad belajar bahasa Mandarin untuk memenuhi kebutuhan hidup di negara penuturnya, Taiwan, selanjutnya ia menyadari bahwa dengan perkembangan Tiongkok secara besar-besaran di tahun belakangan ini, serta sejarah kebudayaan yang panjang dan menarik. Kedua hal tersebut membuat Jawad terus mempelajarinya walaupun bahasa ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

“Jelas lebih susah bahasa Mandarin dan sangat jauh berbeda dengan bahasa Indonesia maupun Inggris, karena ada sistem tone/nada,” jelas Jawad.

Jawad menambahkan, untuk dapat membaca sebuah koran atau komik dengan baik, seseorang yang belajar Bahasa Mandarin harus menghafal ribuan huruf, minimal 3.000-5.000 huruf. Perbedaan penggunaan penulisan Bahasa Mandarin juga menambah kesulitannya.

Jawad (paling kanan) bersama 5 mahasiswa yang lain ketika sedang berlibur di Shin Kong Zoo, Taiwan. (Dok. Pribadi)

Dari tulisan, di Taiwan (dan Hongkong) menggunakan huruf Traditional Chinese. Sementara di Tiongkok menggunakan huruf Simplified (aksara yang disederhanakan dengan jumlah goresan lebih sedikit per karakternya). Sedangkan secara lisan, Taiwan dan Tiongkok tidak ada perbedaan.

Dalam mengatasi kesulitan tersebut, ia lebih menitikberatkan dengan kegiatan membaca. Karena dengan bisa membaca belajar secara otodidak atau mandiri di Indonesia tetap bisa dilakukan. Berdasar pengalamannya setelah belajar bahasa Mandarin dari nol, untuk cara belajar hampir sama seperti mempelajari bahasa yang lain.

“Harus mulai dari alfabetnya (Bopomofo), lalu ke nadanya, setelah bisa menguasai makhorijul huruf (untuk bahasa arab) baru masuk ke kalimat-kalimat sederhana,” ungkap Jawad.

Terakhir, Jawad memberi tahu bahwa tips belajar bahasa Mandarin adalah mendedikasikan banyak waktu mempelajarinya, secara aktif seperti berbicara maupun menulis, serta secara pasif dengan membaca dan mendengarkan.

“Yang penting kita bisa benar-benar membiasakan diri dengan Bahasa ini setiap hari”, terang Jawad. (*)

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh




Berkaca dari Masyarakat Taiwan dalam Keseharian

UNAIR NEWS – Mempelajari karakter dan sifat orang lain untuk dibandingkan dengan diri sendiri tentuk tak ada salahnya untuk dilakukan. Bukan untuk mencari siapa yang terbaik ataupun tidak lebih baik tetapi dengan hal tersebut ketika sisi positif yang diambil perbandingan akan membuat perubahan.

Sebab seringkali, motivasi dan semangat muncul saat melihat orang lain lebih baik dari diri sendiri. Cara belajar karakter dan sifat orang dari negari lain, salah satunya adalah melalui kehidupan sehari-hari untuk menjadi koreksi diri. Berikut cara hidup masyarakat Taiwan yang dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Tertib Mengantre

Budaya ini pastinya masih ada di masyarakat Indonesia. Namun, yang patut diberi apresiasi lebih dari negara dengan ibukota Taipe itu adalah mereka mau antre panjang dan rapi berbaris sampai giliran mereka.

Tak jarang, di Taiwan dijumpai deretan panjang barisan orang-orang yang sedang mengantre dari sesuatu yang sangat penting sampai hanya untuk membeli makanan yang enak dan terkenal. Sedikit berbeda di negeri Khatulistiwa ini, meskipun mengantre tetap dilakukan, tetapi ketertiban dan keteraturan sering tidak diperhatikan sehingga kerap kali terjadi gesekan antar pengantre.

  1. Datang Tepat Waktu Sesuai Kesepakatan

Jam Karet. Istilah yang sering didengar di Indonesia untuk waktu kedatangan yang tidak sesuai jam yang dijanjikan di awal. Agaknya Indonesia perlu banyak belajar dengan Taiwan dalam hal ketepatan waktu. Orang-orang di Taiwan menghargai waktu sampai membandingkannya dengan uang.

Ada yang pernah memberi tahu, suatu ketika seseorang datang terlambat sekitar 10 menit sehingga 12 orang lainnya harus menunggunya. Seseorang yang sedang menunggu tersebut memberi tau ke orang yang telat melalui hitungan waktu yang terbuang dengan membandingkan dalam jumlah uang, berapa banyak uang yang terbuang untuk menunggu orang yang terlambat. Tentunya waktu lebih berharga daripada uang.

  1. Membuang Sampah

Masyarakat taiwan terbiasa memisahkan sampah organik dan non-organik. Di tempat makan ataupun tempat umum pasti tersedia 2 jenis tempat sampah untuk memisahkan keduanya. Jenis tempat sampah akan lebih banyak ketika memasuki kawasan akademik seperti kampus.

Hal lain yang menarik adalah truk untuk mengangkut sampah di sana memiliki suara dengan nada khas sepanjang jalan. Nada tersebut menandakan truk sampah telah datang sehingga masyarakat bisa membuang sampah secara mandiri langsung ke truk sampah. Pembuatan sampah yang dipilah dan membuang sampah secara mandiri perlu diteladani dan ditiru.

Mari bersama-sama berkaca dari orang lain untuk memperbaiki diri.

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh




5 Kiat Merawat Buku untuk Para Pecinta Buku

UNAIR NEWS – Memang benar adanya bila buku diibaratkan sebagai jembatan ilmu dan sahabat abadi. Tidak ada yang dapat menampik kebutuhan manusia pada buku. Setiap jenis buku memiliki informasi yang patut diserap, entah novel, cerita bergambar, ensikopledia, biografi, antologi dan lain-lain.

Itulah sebabnya mengapa buku tak pernah bicara namun mampu menutup mulut rapat para manusia di muka bumi. Karena buku memberi informasi secara tepat dan akurat. Namun tetap saja hal itu tergantung pada pemilihan buku yang dibaca.

Sebagai pecinta buku, banyak orang rela menghabiskan uang untuk membeli buku favorit mereka. Akibatnya, rumah mereka bisa saja penuh dengan tumpukan buku bak perpustakaan. Melihat hal itu, para pecandu buku wajib hukumnya untuk merawat buku mereka. Sehingga buku sebagai harta paling berharga bisa terjaga hingga jangka waktu lama, bahkan dapat diturunkan kepada anak-cucu nanti.

Berikut terdapat tips-tips jitu menjaga buku kesayangan supaya tetap awet:

  1. Simpan buku di tempat khusus

Sebaiknya belilah rak atau lemari buku. Bila minim uang, pinjam rak milik tetangga atau teman yang tak terpakai. Karena bila tidak disediakan tempat bisa dipastikan buku akan tercecer dan berpeluang besar untuk rusak.

Pastikan meletakkan rak di tempat terang karena serangga suka membuat sarang di tempat yang minim penerangan. Letakkan rak di tempat yang mudah dijangkau agar mudah dibersihkan. Pastikan pula rak memiliki jalur sirkulasi udara yang lancar agar jamur tidak berkembng biak.

2. Berikan buku perhatian ekstra

Sampullah buku menggunakan plastik tebal dan tidak lengket. Hal yang patut diperhatikan dalam menyampul buku ialah sampul buku menggunakan plastik bening agar cover buku tetap terlihat. Sehingga, bila ingin membaca buku kembali, tidak perlu kesusahan mencarinya. Juga jangan terlalu ketat dalam menyampul buku untuk mengantisipasi cover buku terlipat saat dibuka.

3. Jangan lipat lembaran buku

Gunakan pembatas rak buku dan pembatas buku. Pembatas rak buku berfungsi supaya buku tetap kokoh berdiri dan tidak mudah jatuh. Sedangkan pembatas buku penting sebagai penanda halaman buku yang sudah dibaca.

4. Tertib mengecek ulang buku

Bila terdapat teman yang meminjam buku, usahakan mencatat setiap buku yang dipinjam. Perlu juga untuk membuat perjanjian supaya buku dikembalikan dalam keadaan utuh dan tidak hilang. Cek rak buku secara berkala apakah terjaga kebersihannya, bersihkan rak bila kotor dan berdebu.

5. Jangan membajak buku

Selain melanggar hak cipta, bila buku sering di-foto copy, jilidan buku berpotensi besar untuk rusak. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




Ingin Jadi Relawan? Berikut Hal yang Perlu Diperhatikan!

UNAIR NEWS – Ibu pertiwi sedang berduka. Runtutan peristiwa bencana alam yang terjadi memakan begitu banyak korban jiwa. Sebagai agent of change, gerakan kemanusiaan banyak dilakukan oleh mahasiswa untuk membatu meringankan beban korban bencana.

Tidak hanya dengan mengumpulkan donasi, namun juga ikut terjun langsung ke lokasi terdampak untuk menjadi relawan. Salah satunya adalah diadakannya open recruitment relawan UNAIR untuk terjun ke lokasi terdampak bencana tsunami Selat Sunda.

UNAIR NEWS berhasil menghubungi Dr. Atik Choirul Hidajah dr., M.Kes, ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk berbagi ilmu terkait dunia kerelawanan. Tidak  hanya Atik, UNAIR NEWS juga berhasil menghubungi Hamzah Yasfi Akbar Sholihin atau Hamzah, mahasiswa FKM UNAIR sekaligus anggota Korps Sukarela (KSR) PMI Kota Bogor sejak bulan September 2015.

Hamzah juga menjadi relawan PMI yang mendapat penugasan ke Pandeglang, sejak tanggal 25-29 Desember 2018 lalu.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Menjadi Relawan

Menurut dokter Atik, setidaknya terdapat lima hal yang perlu untuk diperhatikan oleh relawan ketika memutuskan untuk terjun ke lokasi bencana. Yang pertama adalah waktu atau di fase apa relawan akan ke lokasi. Apakah relawan datang ke lokasi pada fase tanggap darurat atau ketika recovery.

“Jika tim datang ke lokasi pada fase recovery, maka aktivitas-aktivitas yang dilakukan nantinya juga harus sesuai seperti pengadaan trauma healing atau perbaikan dan pengadaan sanitasi,” jelas Atik.

Kemudian, kompetensi. Terkait dengan kompetensi yang perlu untuk dimiliki oleh relawan, Atik mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) No. 17 tahun 2011 tentang Pedoman Relawan Penanggulangan Bencana.

Dalam dokumen tersebut, setidaknya terdapat sepuluh kompetensi yang perlu untuk dimiliki oleh relawan. Yaitu pencarian dan penyelamatan, dapur umum, logistik, informasi dan komunikasi, manajemen tempat evakuasi, pengelolaan air, sanitasi dan kesehatan lingkungan, kesehatan pengungsi, penanganan psikososial, standar minimum dalam penanggulangan bencana, serta pengurangan risiko bencana.

“Mahasiswa yang akan terjun ke lokasi bencana setidaknya perlu untuk miliki beberapa dari kompetensi tersebut,” ucapnya.

Tidak hanya itu, relawan juga perlu untuk mengetahui penyakit endemis yang ada di lokasi. Sebagai contoh bencana gempa di Lombok pada 29 Juli lalu, ditemukan beberapa wilayah yang terdampak malaria. Sehingga, orang dari luar daerah yang datang ke lokasi tersebut harus meminum obat profilaksis (pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit, Red) terlebih dahulu.

“Tindakan pencegahan atau profilaksis itu sendiri tidak hanya dengan meminum obat. Dapat dengan tindakan teknis lainnya disesuaikan dengan endemisitas penyakit yang ada,” ucap Atik.

Selanjutnya adalah mengenali karakter atau budaya setempat. Menurut Atik, hal tersebut berguna untuk merancang program dengan pendekatan yang sesuai dengan masyarakat setempat. Dengan bagitu, program dapat berjalan dengan baik dan memperbesar kemungkinan untuk sukses.

Kelima, menjaga tubuh tetap sehat. Relawan datang ke lokasi untuk membantu korban bencana dan relawan lainnya. Karena itu, relawan harus tetap sehat sehingga tidak menjadi beban untuk relawan lainnya.

“Semua orang di sana nanti harus berkonsentrasi untuk melakukan sesuatu yang dapat membantu masyarakat terdampak. Jangan sampai mereka malah kerepotan untuk mengurus kita juga,” tambahnya.

Untuk itu, relawan perlu untuk memperhatikan waktu istirahatnya. Memakan makanan yang bergizi jika memungkinkan atau minum vitamin jika diperlukan. Selain itu, relawan juga perlu untuk membawa obat pribadi mereka.

Tidak berbeda jauh dengan Atik. Berdasarkan pengalamannya, Hamzah menjelaskan bahwa untuk menjadi relawan, seseorang perlu untuk memperhatikan banyak hal. Di antaranya adalah kesehatan pribadi, izin dari orang tua, kesiapan fisik dan mental, surat tugas, persiapan logistik, dan lain sebagainya.

“Relawan juga harus mau mengabdi tanpa pamrih, siap lelah, siap bekerja meski tanpa apresiasi,” ucap Hamzah.

Hamzah Yasfi Akbar Solihin ketika bertugas di Pandeglang pada Selasa (25/12) hingga Sabtu (29/12). (Dok. Pribadi)

Berada di Lokasi yang Berpotensi Bencana Susulan

Ketika relawan berada di lokasi yang berpotensi untuk terjadi bencana susulan, maka sebelumnya relawan harus mampu untuk mengetahui tanda-tandanya. Contohnya adalah daerah Selat Sunda yang berpotensi terjadi tsunami susulan akibat aktivitas vulkanik gunung Krakatau.

“Ketika berada di lokasi tersebut, maka relawan perlu untuk mengetahui tanda-tanda datangnya tsunami. Terlebih, bencana yang terjadi di Banten dan Lampung tersebut terjadi di luar perkiraan,” jelas Atik.

Selain mengetahui tanda-tandanya, relawan juga harus memahami cara untuk dapat menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Pada kondisi tsunami misalnya, ketika relawan masih dapat berlari ke tempat tinggi, maka lari ke tempat tinggi. Jika tidak memungkinkan, relawan bisa mencari papan atau benda yang dapat mengambang, dan sebagainya.

“Relawan juga perlu untuk memahami teknik atau cara untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana,” terang Atik.

Sifat dan Karakter

Sebagai seorang yang akan terjun ke medan bencana, relawan perlu untuk memiliki banyak sifat-sifat positif. Terutama adalah ketangguhan. Menurut Atik, seorang relawan harus tangguh. Karena medan yang akan dihadapi oleh relawan nanti akan sangat berat. Jika jiwanya tidak tangguh untuk bisa berada di lingkungan terdampak bencana, bagaimana seorang relawan dapat memberi pertolongan.

“Tidak main-main bekerja di daerah bencana. Perlu untuk mempunyai orang-orang yang siap baik fisik maupun mental. Suka menolong, empati, dan hal-hal baik lainnya,” terangnya.

Berdasarkan pengalaman yang dialami oleh Hamzah ketika ditugaskan di Pandeglang, banyak hal yang menarik dan miris terjadi. Salah satunya adalah ketika Hamzah bertemu dengan pengungsi yang sedang membutuhkan layanan kesehatan.

“Saya banyak menjumpai warga yang patah tulang tetapi tidak mau dirujuk dan banyak juga warga yang tekanan darahnya 140 hingga 200 dan yang mereka rasakan hanya pusing biasa,” ucap Hamzah.

Pengalaman tersebut lebih membuka mata Hamzah. Yaitu ketika di lokasi bencana dirinya bisa melihat semua aspek yang ada di masyarakat. Utamanya adalah gotong royong, saling bahu-membahu agar daerah tersebut bangkit.

Untuk teman-teman yang akan pergi mengabdi menjadi relawan, Hamzah berpesan agar tetap semangat mengabdi, meniatkan apa yang dilakukan sebagai ibadah. Begitu pula dengan Atik yang berpesan agar calon relawan memiliki kompetensi yang cukup untuk pergi ke lokasi.

Atik juga berharap, mahasiswa dapat menjalankan misinya dengan baik. Kondisi bencana yang sekarang terjadi merupakan laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh