Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UNAIR Dr. Dewi Retno Suminar saat berbagi tips pada peserta AEE hari kedua. (Foto: Feri Fenoria R)

Calon Mahasiswa Baru, Inilah Tips Memilih Program Studi

UNAIR NEWS – Hari kedua Airlangga Education Expo (AEE) terus dipadati oleh siswa, guru, dan orang tua siswa yang datang dari berbagai daerah. Salah satu materi yang menarik di hari kedua adalah paparan mengenai tips memilih program studi.

Menanggapi kegalauan peserta dalam menentukan jurusan, Dr. Dewi Retno Suminar atau Dewi selaku wakil dekan III Fakultas Psikologi UNAIR memberikan tips memilih jurusan sesuai minat dan bakat untuk seluruh peserta yang hadir pada AEE hari ke dua pada Sabtu (16/2). Setidaknya, terdapat tiga hal yang perlu untuk diperharikan oleh calon mahasiswa untuk menentukan pilihan.

Bermimpi

“Jangan takut bermimpi!” tegas Dewi.

Sebelum menentukan pilihan, Dewi menganjurkan kepada peserta untuk memiliki mimpi. Setidaknya, peserta sudah memiliki bayangan tentang dirinya sepuluh tahun lagi akan menjadi apa? Atau bekerja dimana? Dan sebagai apa?

Tidak hanya bermimpi. Selanjutnya peserta perlu untuk mulai merancang cara menggapai mimpi tersebut.

Sebagai permisalan, Dewi menjelaskan bahwa bila seseorang ingin menjadi pengusaha maka selanjutnya perlu untuk menguasai ilmu-ilmu tentang wirausaha. Salah satu caranya adalah dengan menjadi mahasiswa di manajemen UNAIR.

Kenali kekuatan diri sendiri

Tips kedua yang diberikan oleh Dewi adalah untuk mengenali kekuatan diri sendiri. Dengan begitu peserat akan mengetahui mereka bagus di bidang apa.

“Sebagai contoh, ketika telah mengetahui kemampuan dirinya, maka seorang anak yang tidak bagus di pelajaran biologi dan kimia namun bagus di pelajaran fisika, tidak akan memilih jurusan kedokteran yang diinginkan ibunya, melainkan akan memilih jurusan lain seperti jurusan teknik yang dia tahu dia mampu sekolah di jurusan tersebut,” jelas Dewi.

Ada beberapa cara untuk mengenali kekuatan diri. Salah satunya adalah dengan melihat nilai pelajaran yang bagus. Karena jika seorang siswa mendapat nilai bagus di suatu pelajaran, artinya siswa tersebut tertarik dan mampu bekerja atau belajar di bidang yang membutuhkan pengetahuan dari pelajaran tersebut.

Selain itu, peserta juga perlu mengetahui bakat lain yang dia miliki seperti daya ingat dan ketekunan. Jika seseorang tidak memiliki daya ingat yang baik, Dewi menyarankan untuk tidak memilih jurusan kedokteran karena belajar di kedokteran membutuhkan daya ingat yang baik. Sebaliknya, jika seseorang tidak tekun, maka sebaiknya tidak memilih jurusan teknik atau jurusan lain yang memerlukan ketekunan tinggi.

“Selain nilai pelajaran, kalian juga bisa mengetahui minat dan bakat kalian dengan mengikuti tes minat dan bakat,” ujar Dewi.

Fokus pada minat diri

Dewi menyarankan kepada peserta untuk tidak masuk ke prodi yang tidak diminati. Karena menurut Dewi, jika seseorang tidak tertarik dengan suatu bidang, maka dia tidak akan memberikan upaya terbainya. Sebaliknya, jika seseorang tertarik pada suatu bidang, maka dia akan mau dan terpacu untuk mencari tahu mengenai bidang tersebut.

“Jangan ikut-ikutan teman,” ucap Dewi mengingatkan.

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan




Menariknya Belajar di Negeri Kangguru

UNAIR NEWS – Program beasiswa diadakan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia dalam meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas. Salah satunya dengan membentuk karakter bangsa yang mempunyai jiwa kepemimpinan tinggi dan memiliki visi menjadi pemimpin bangsa di masa depan.

Saat ini, program beasiswa menjadi begitu beragam baik dalam negeri maupun luar negeri. Pemerintah Indonesia memberi banyak peluang bagi generasi muda untuk mengejar impian dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal ini terbukti dari banyaknya pendidikan di luar negeri yang telah menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia.

Namun menjadi miris, ketika para pemuda Indonesia menjadi minim pengetahuan akan informasi tersebut. Tidak banyak dari mereka yang mengenal program beasiswa luar negeri. Ditambah mereka bingung menentukan negara mana yang memiliki kualitas pendidikan yang baik.

Negara Australia mungkin bisa menjadi salah satu pilihan dalam melanjutkan studi pendidikan. Australia diketahui mempunyai pendidikan tinggi kelas dunia yang tidak jauh dari Indonesia dan tidak semahal yang dibayangkan. Salah satu beasiswa bergengsi Australia yang kini dikenal luas ialah Beasiswa Australia Awards.

(Foto: idntimes.com)

Beasiswa Australia Awards merupakan beasiswa internasional yang menawarkan kesempatan bagi para calon pemimpin Indonesia untuk melakukan studi, penelitian, dan pengembangan keprofesian di Australia. Beasiswa ini mencakup biaya kuliah, biaya perjalanan, dana penunjang pada saat kedatangan, bantuan biaya hidup bulanan, asuransi kesehatan dan perjalanan. Cakupan Australia Awards pun hampir di seluruh wilayah Australia, seperti Australian National University, University of Canberra, Charles Darwin University, CQ University Australia, University of Newcastle, dan lain-lain.

Australia adalah negara yang memiliki kualitas pendidikan yang mumpuni. Berikut 8 fakta seputar pendidikan di Australia :

  1. Fakta menunjukkan bahwa 24% pelajar Indonesia memilih untuk melanjutkan pendidikan di Australia.
  2. 7 dari 100 Universitas teratas dunia berada di Australia.
  3. 6 dari 50 kota pelajar terbaik dunia ada di Australia.
  4. Lebih dari 9000 warga Indonesia sedang belajar di Australia.
  5. Australia memiliki jumlah pelajar internasional tertinggi ketiga di dunia.
  6. Lebih dari 300 bahasa dituturkan di Australia.
  7. 49% warga Australia lahir atau mempunyai orang tua yang lahir di luar negeri.
  8. Biaya kuliah untuk Bachelor of Arts (atau setara dengan sarjana) di 100 Universitas teratas dunia di Australia hanya membayar setengah dari biaya kuliah dari 100 universitas teratas dunia di Amerika.

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Khefti Al Mawalia




Bahasa Mandarin, Pentingkah untuk Dipelajari?

UNAIR NEWS – Bisa berbahasa dan bertutur selain bahasa ibu atau bahasa indonesia dan bahasa Inggris pada abad ke-20 ini memang sudah menjadi suatu kebutuhan untuk kalangan tertentu. Salah satunya Bahasa Mandarin.

UNAIR NEWS berhasil menemui Muhammad A. S. Jawad, alumnus Teknik Lingkungan Universitas Airlangga angkatan 2012 yang sedang melanjutkan pendidikan master di Chung Yuan Christian University (CYCU). Jawad menjelaskan bahwa bahasa ini sangat populer karena pengguna bahasa Mandarin di seluruh dunia sangat banyak.

“Bahasa ini tetap menjadi bahasa penting baik untuk kepentingan bisnis maupun akademis,” tutur Jawad.

Tak hanya itu, meski di awal Jawad belajar bahasa Mandarin untuk memenuhi kebutuhan hidup di negara penuturnya, Taiwan, selanjutnya ia menyadari bahwa dengan perkembangan Tiongkok secara besar-besaran di tahun belakangan ini, serta sejarah kebudayaan yang panjang dan menarik. Kedua hal tersebut membuat Jawad terus mempelajarinya walaupun bahasa ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

“Jelas lebih susah bahasa Mandarin dan sangat jauh berbeda dengan bahasa Indonesia maupun Inggris, karena ada sistem tone/nada,” jelas Jawad.

Jawad menambahkan, untuk dapat membaca sebuah koran atau komik dengan baik, seseorang yang belajar Bahasa Mandarin harus menghafal ribuan huruf, minimal 3.000-5.000 huruf. Perbedaan penggunaan penulisan Bahasa Mandarin juga menambah kesulitannya.

Jawad (paling kanan) bersama 5 mahasiswa yang lain ketika sedang berlibur di Shin Kong Zoo, Taiwan. (Dok. Pribadi)

Dari tulisan, di Taiwan (dan Hongkong) menggunakan huruf Traditional Chinese. Sementara di Tiongkok menggunakan huruf Simplified (aksara yang disederhanakan dengan jumlah goresan lebih sedikit per karakternya). Sedangkan secara lisan, Taiwan dan Tiongkok tidak ada perbedaan.

Dalam mengatasi kesulitan tersebut, ia lebih menitikberatkan dengan kegiatan membaca. Karena dengan bisa membaca belajar secara otodidak atau mandiri di Indonesia tetap bisa dilakukan. Berdasar pengalamannya setelah belajar bahasa Mandarin dari nol, untuk cara belajar hampir sama seperti mempelajari bahasa yang lain.

“Harus mulai dari alfabetnya (Bopomofo), lalu ke nadanya, setelah bisa menguasai makhorijul huruf (untuk bahasa arab) baru masuk ke kalimat-kalimat sederhana,” ungkap Jawad.

Terakhir, Jawad memberi tahu bahwa tips belajar bahasa Mandarin adalah mendedikasikan banyak waktu mempelajarinya, secara aktif seperti berbicara maupun menulis, serta secara pasif dengan membaca dan mendengarkan.

“Yang penting kita bisa benar-benar membiasakan diri dengan Bahasa ini setiap hari”, terang Jawad. (*)

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh




Berkaca dari Masyarakat Taiwan dalam Keseharian

UNAIR NEWS – Mempelajari karakter dan sifat orang lain untuk dibandingkan dengan diri sendiri tentuk tak ada salahnya untuk dilakukan. Bukan untuk mencari siapa yang terbaik ataupun tidak lebih baik tetapi dengan hal tersebut ketika sisi positif yang diambil perbandingan akan membuat perubahan.

Sebab seringkali, motivasi dan semangat muncul saat melihat orang lain lebih baik dari diri sendiri. Cara belajar karakter dan sifat orang dari negari lain, salah satunya adalah melalui kehidupan sehari-hari untuk menjadi koreksi diri. Berikut cara hidup masyarakat Taiwan yang dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Tertib Mengantre

Budaya ini pastinya masih ada di masyarakat Indonesia. Namun, yang patut diberi apresiasi lebih dari negara dengan ibukota Taipe itu adalah mereka mau antre panjang dan rapi berbaris sampai giliran mereka.

Tak jarang, di Taiwan dijumpai deretan panjang barisan orang-orang yang sedang mengantre dari sesuatu yang sangat penting sampai hanya untuk membeli makanan yang enak dan terkenal. Sedikit berbeda di negeri Khatulistiwa ini, meskipun mengantre tetap dilakukan, tetapi ketertiban dan keteraturan sering tidak diperhatikan sehingga kerap kali terjadi gesekan antar pengantre.

  1. Datang Tepat Waktu Sesuai Kesepakatan

Jam Karet. Istilah yang sering didengar di Indonesia untuk waktu kedatangan yang tidak sesuai jam yang dijanjikan di awal. Agaknya Indonesia perlu banyak belajar dengan Taiwan dalam hal ketepatan waktu. Orang-orang di Taiwan menghargai waktu sampai membandingkannya dengan uang.

Ada yang pernah memberi tahu, suatu ketika seseorang datang terlambat sekitar 10 menit sehingga 12 orang lainnya harus menunggunya. Seseorang yang sedang menunggu tersebut memberi tau ke orang yang telat melalui hitungan waktu yang terbuang dengan membandingkan dalam jumlah uang, berapa banyak uang yang terbuang untuk menunggu orang yang terlambat. Tentunya waktu lebih berharga daripada uang.

  1. Membuang Sampah

Masyarakat taiwan terbiasa memisahkan sampah organik dan non-organik. Di tempat makan ataupun tempat umum pasti tersedia 2 jenis tempat sampah untuk memisahkan keduanya. Jenis tempat sampah akan lebih banyak ketika memasuki kawasan akademik seperti kampus.

Hal lain yang menarik adalah truk untuk mengangkut sampah di sana memiliki suara dengan nada khas sepanjang jalan. Nada tersebut menandakan truk sampah telah datang sehingga masyarakat bisa membuang sampah secara mandiri langsung ke truk sampah. Pembuatan sampah yang dipilah dan membuang sampah secara mandiri perlu diteladani dan ditiru.

Mari bersama-sama berkaca dari orang lain untuk memperbaiki diri.

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh




5 Kiat Merawat Buku untuk Para Pecinta Buku

UNAIR NEWS – Memang benar adanya bila buku diibaratkan sebagai jembatan ilmu dan sahabat abadi. Tidak ada yang dapat menampik kebutuhan manusia pada buku. Setiap jenis buku memiliki informasi yang patut diserap, entah novel, cerita bergambar, ensikopledia, biografi, antologi dan lain-lain.

Itulah sebabnya mengapa buku tak pernah bicara namun mampu menutup mulut rapat para manusia di muka bumi. Karena buku memberi informasi secara tepat dan akurat. Namun tetap saja hal itu tergantung pada pemilihan buku yang dibaca.

Sebagai pecinta buku, banyak orang rela menghabiskan uang untuk membeli buku favorit mereka. Akibatnya, rumah mereka bisa saja penuh dengan tumpukan buku bak perpustakaan. Melihat hal itu, para pecandu buku wajib hukumnya untuk merawat buku mereka. Sehingga buku sebagai harta paling berharga bisa terjaga hingga jangka waktu lama, bahkan dapat diturunkan kepada anak-cucu nanti.

Berikut terdapat tips-tips jitu menjaga buku kesayangan supaya tetap awet:

  1. Simpan buku di tempat khusus

Sebaiknya belilah rak atau lemari buku. Bila minim uang, pinjam rak milik tetangga atau teman yang tak terpakai. Karena bila tidak disediakan tempat bisa dipastikan buku akan tercecer dan berpeluang besar untuk rusak.

Pastikan meletakkan rak di tempat terang karena serangga suka membuat sarang di tempat yang minim penerangan. Letakkan rak di tempat yang mudah dijangkau agar mudah dibersihkan. Pastikan pula rak memiliki jalur sirkulasi udara yang lancar agar jamur tidak berkembng biak.

2. Berikan buku perhatian ekstra

Sampullah buku menggunakan plastik tebal dan tidak lengket. Hal yang patut diperhatikan dalam menyampul buku ialah sampul buku menggunakan plastik bening agar cover buku tetap terlihat. Sehingga, bila ingin membaca buku kembali, tidak perlu kesusahan mencarinya. Juga jangan terlalu ketat dalam menyampul buku untuk mengantisipasi cover buku terlipat saat dibuka.

3. Jangan lipat lembaran buku

Gunakan pembatas rak buku dan pembatas buku. Pembatas rak buku berfungsi supaya buku tetap kokoh berdiri dan tidak mudah jatuh. Sedangkan pembatas buku penting sebagai penanda halaman buku yang sudah dibaca.

4. Tertib mengecek ulang buku

Bila terdapat teman yang meminjam buku, usahakan mencatat setiap buku yang dipinjam. Perlu juga untuk membuat perjanjian supaya buku dikembalikan dalam keadaan utuh dan tidak hilang. Cek rak buku secara berkala apakah terjaga kebersihannya, bersihkan rak bila kotor dan berdebu.

5. Jangan membajak buku

Selain melanggar hak cipta, bila buku sering di-foto copy, jilidan buku berpotensi besar untuk rusak. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




Ingin Jadi Relawan? Berikut Hal yang Perlu Diperhatikan!

UNAIR NEWS – Ibu pertiwi sedang berduka. Runtutan peristiwa bencana alam yang terjadi memakan begitu banyak korban jiwa. Sebagai agent of change, gerakan kemanusiaan banyak dilakukan oleh mahasiswa untuk membatu meringankan beban korban bencana.

Tidak hanya dengan mengumpulkan donasi, namun juga ikut terjun langsung ke lokasi terdampak untuk menjadi relawan. Salah satunya adalah diadakannya open recruitment relawan UNAIR untuk terjun ke lokasi terdampak bencana tsunami Selat Sunda.

UNAIR NEWS berhasil menghubungi Dr. Atik Choirul Hidajah dr., M.Kes, ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk berbagi ilmu terkait dunia kerelawanan. Tidak  hanya Atik, UNAIR NEWS juga berhasil menghubungi Hamzah Yasfi Akbar Sholihin atau Hamzah, mahasiswa FKM UNAIR sekaligus anggota Korps Sukarela (KSR) PMI Kota Bogor sejak bulan September 2015.

Hamzah juga menjadi relawan PMI yang mendapat penugasan ke Pandeglang, sejak tanggal 25-29 Desember 2018 lalu.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Menjadi Relawan

Menurut dokter Atik, setidaknya terdapat lima hal yang perlu untuk diperhatikan oleh relawan ketika memutuskan untuk terjun ke lokasi bencana. Yang pertama adalah waktu atau di fase apa relawan akan ke lokasi. Apakah relawan datang ke lokasi pada fase tanggap darurat atau ketika recovery.

“Jika tim datang ke lokasi pada fase recovery, maka aktivitas-aktivitas yang dilakukan nantinya juga harus sesuai seperti pengadaan trauma healing atau perbaikan dan pengadaan sanitasi,” jelas Atik.

Kemudian, kompetensi. Terkait dengan kompetensi yang perlu untuk dimiliki oleh relawan, Atik mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) No. 17 tahun 2011 tentang Pedoman Relawan Penanggulangan Bencana.

Dalam dokumen tersebut, setidaknya terdapat sepuluh kompetensi yang perlu untuk dimiliki oleh relawan. Yaitu pencarian dan penyelamatan, dapur umum, logistik, informasi dan komunikasi, manajemen tempat evakuasi, pengelolaan air, sanitasi dan kesehatan lingkungan, kesehatan pengungsi, penanganan psikososial, standar minimum dalam penanggulangan bencana, serta pengurangan risiko bencana.

“Mahasiswa yang akan terjun ke lokasi bencana setidaknya perlu untuk miliki beberapa dari kompetensi tersebut,” ucapnya.

Tidak hanya itu, relawan juga perlu untuk mengetahui penyakit endemis yang ada di lokasi. Sebagai contoh bencana gempa di Lombok pada 29 Juli lalu, ditemukan beberapa wilayah yang terdampak malaria. Sehingga, orang dari luar daerah yang datang ke lokasi tersebut harus meminum obat profilaksis (pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit, Red) terlebih dahulu.

“Tindakan pencegahan atau profilaksis itu sendiri tidak hanya dengan meminum obat. Dapat dengan tindakan teknis lainnya disesuaikan dengan endemisitas penyakit yang ada,” ucap Atik.

Selanjutnya adalah mengenali karakter atau budaya setempat. Menurut Atik, hal tersebut berguna untuk merancang program dengan pendekatan yang sesuai dengan masyarakat setempat. Dengan bagitu, program dapat berjalan dengan baik dan memperbesar kemungkinan untuk sukses.

Kelima, menjaga tubuh tetap sehat. Relawan datang ke lokasi untuk membantu korban bencana dan relawan lainnya. Karena itu, relawan harus tetap sehat sehingga tidak menjadi beban untuk relawan lainnya.

“Semua orang di sana nanti harus berkonsentrasi untuk melakukan sesuatu yang dapat membantu masyarakat terdampak. Jangan sampai mereka malah kerepotan untuk mengurus kita juga,” tambahnya.

Untuk itu, relawan perlu untuk memperhatikan waktu istirahatnya. Memakan makanan yang bergizi jika memungkinkan atau minum vitamin jika diperlukan. Selain itu, relawan juga perlu untuk membawa obat pribadi mereka.

Tidak berbeda jauh dengan Atik. Berdasarkan pengalamannya, Hamzah menjelaskan bahwa untuk menjadi relawan, seseorang perlu untuk memperhatikan banyak hal. Di antaranya adalah kesehatan pribadi, izin dari orang tua, kesiapan fisik dan mental, surat tugas, persiapan logistik, dan lain sebagainya.

“Relawan juga harus mau mengabdi tanpa pamrih, siap lelah, siap bekerja meski tanpa apresiasi,” ucap Hamzah.

Hamzah Yasfi Akbar Solihin ketika bertugas di Pandeglang pada Selasa (25/12) hingga Sabtu (29/12). (Dok. Pribadi)

Berada di Lokasi yang Berpotensi Bencana Susulan

Ketika relawan berada di lokasi yang berpotensi untuk terjadi bencana susulan, maka sebelumnya relawan harus mampu untuk mengetahui tanda-tandanya. Contohnya adalah daerah Selat Sunda yang berpotensi terjadi tsunami susulan akibat aktivitas vulkanik gunung Krakatau.

“Ketika berada di lokasi tersebut, maka relawan perlu untuk mengetahui tanda-tanda datangnya tsunami. Terlebih, bencana yang terjadi di Banten dan Lampung tersebut terjadi di luar perkiraan,” jelas Atik.

Selain mengetahui tanda-tandanya, relawan juga harus memahami cara untuk dapat menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Pada kondisi tsunami misalnya, ketika relawan masih dapat berlari ke tempat tinggi, maka lari ke tempat tinggi. Jika tidak memungkinkan, relawan bisa mencari papan atau benda yang dapat mengambang, dan sebagainya.

“Relawan juga perlu untuk memahami teknik atau cara untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana,” terang Atik.

Sifat dan Karakter

Sebagai seorang yang akan terjun ke medan bencana, relawan perlu untuk memiliki banyak sifat-sifat positif. Terutama adalah ketangguhan. Menurut Atik, seorang relawan harus tangguh. Karena medan yang akan dihadapi oleh relawan nanti akan sangat berat. Jika jiwanya tidak tangguh untuk bisa berada di lingkungan terdampak bencana, bagaimana seorang relawan dapat memberi pertolongan.

“Tidak main-main bekerja di daerah bencana. Perlu untuk mempunyai orang-orang yang siap baik fisik maupun mental. Suka menolong, empati, dan hal-hal baik lainnya,” terangnya.

Berdasarkan pengalaman yang dialami oleh Hamzah ketika ditugaskan di Pandeglang, banyak hal yang menarik dan miris terjadi. Salah satunya adalah ketika Hamzah bertemu dengan pengungsi yang sedang membutuhkan layanan kesehatan.

“Saya banyak menjumpai warga yang patah tulang tetapi tidak mau dirujuk dan banyak juga warga yang tekanan darahnya 140 hingga 200 dan yang mereka rasakan hanya pusing biasa,” ucap Hamzah.

Pengalaman tersebut lebih membuka mata Hamzah. Yaitu ketika di lokasi bencana dirinya bisa melihat semua aspek yang ada di masyarakat. Utamanya adalah gotong royong, saling bahu-membahu agar daerah tersebut bangkit.

Untuk teman-teman yang akan pergi mengabdi menjadi relawan, Hamzah berpesan agar tetap semangat mengabdi, meniatkan apa yang dilakukan sebagai ibadah. Begitu pula dengan Atik yang berpesan agar calon relawan memiliki kompetensi yang cukup untuk pergi ke lokasi.

Atik juga berharap, mahasiswa dapat menjalankan misinya dengan baik. Kondisi bencana yang sekarang terjadi merupakan laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh




Tips Rampungkan Skripsi dari Wisudawan Terbaik FST UNAIR

UNAIR NEWS – Sebagai seorang mahasiswa, skripsi merupakan hal yang wajib untuk dikerjakan dan diselesaikan sebagai syarat kelulusan. Tidak jarang, skripsi dapat menjadi beban psikologis tersendiri bagi mahasiswa. Baik karena berbagai hal yang perlu untuk dilakukan seperti penelitian, revisi, konsultasi dengan pembimbing, atau beban keluarga dan masyarakat yang menuntut untuk segera lulus.

Untuk itu, UNAIR NEWS berhasil menghubungi salah satu wisudawan terbaik S2 FST UNAIR per Desember 2018. Yaitu Suhaila Hayaza atau Ella untuk memberikan informasi kepada para pejuang skripsi terkait tips menyelesaikan skripsi dengan baik dan tepat waktu.

Bagaimana cara menyelesaikan skripsi dengan baik dan tepat waktu?

Menurut Ella, hal pertama yang perlu dilakukan para pejuang skripsi adalah dengan menyadari bahwa skripsi merupakan bagian dari tanggungjawab. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk kuliah, maka kuliah tersebut harus dituntaskan. Untuk bisa tuntas, salah satu syaratnya adalah skripsi yang diselesaikan dan dipresentasikan di depan para penguji.

“Jika sudah merasa skripsi adalah bagian dari tanggungjawab, InshaAllah kalau kita capek, males, jenuh, kita tetap akan berusaha nge-push diri kita untuk mengerjakan,” ucap Ella.

Kedua, berdasarkan pengalaman Ella sebagai mahasiswa S1 dan S2 di bidang sains, bergabung dalam penelitian payung dosen akan sangat membantu. Selain roadmap penelitiannya sudah jelas, mahasiswa juga tidak perlu memikirkan lagi soal dana. Sebab biasanya, penelitian tersebut sudah didanai dari fakultas, universitas, ataupun Kemenristekdikti.

“Jadi, sejak semester 4 atau 5, baiknya sudah mencari informasi tentang penelitian yang sedang dilaksanakan oleh bapak ibu dosen dan berdiskusi dengan beliau soal kemungkinan topik skripsi kalian,” jelas Ella.

Tips yang ketiga adalah perbanyak membaca skripsi kakak kelas, membaca jurnal nasional maupun internasional. Hal itu dilakukan agar mendapat inspirasi dari bacaan. Selain itu, dengan memperbanyak membaca juga membantu menemukan topik skripsi. Dimana, topik skripsi bisa didapat dari melanjutkan penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh kakak kelas ataupun penelitian orang lain.

Kemudian tips keempat, jangan putus asa! Gagal atau hambatan itu pasti ada, tapi bukan berarti kita harus pasrah terhadap kegagalan itu. Kesulitan yang dihadapi ketika mengerjakan skripsi dapat ditanyakan kepada dosen, teman, kakak kelas, browsing di internet, memanfaatkan segala resource yang ada disekitar dengan semaksimal mungkin.

Dan tips yang terakhir yaitu harus punya deadline! Breakdown segala planning. Mulai dari kapan membuat proposal, KKN, sidang skripsi, yudisium, hingga wisuda. Semuanya dicatat beserta tanggal-tanggalnya.

“Segala usaha ini jangan lupa dibarengi dengan doa, baik itu doa dari orang tua maupun doa kamu sendiri. InshaAllah segalanya dipermudah,” terang Ella.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menulis skripsi

Menurut Ella, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menulis skripis. Yang pertama adalah topik dan minat. Apakah variabel dari topik yang diteliti sudah sesuai dengan minat penulis atau belum.

“Karena ini penting banget. Kalau kita dari awal udah ga suka dengan topiknya, ngerjainnya juga nanti ga semangat,” ujar Ella.

Kedua, pendanaan. Sebelum melaksanakan skripsi, sebaiknya seseorang sudah mengetahui penelitian tersebut akan menghabiskan dana berapa dan dari mana bisa mendapatkan dana tersebut. Jangan sampai dalam pelaksanaannya penulis bingung tanpa budget.

Kemudian, waktu penelitian. Hal ini terkait dengan apakah variabel yang digunakan mampu diteliti dalam kurun waktu yang ditentukan atau tidak. Kemampuan seseorang dalam me-manange waktu sangat diuji saat melaksanakan skripsi.

“Jangan sampai karena pemilihan topik yang terlalu sulit, akhirnya masa kuliah kamu jadi mundur beberapa taun,” terang Ella.

Manajemen waktu juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk fokus ke skripsi dan tidak menduakan dengan hal-hal di luar itu. Seperti organisasi, pekerjaan, ataupun aktivitas non-akademik lainnya.

Kemudian, ketika perasaan stres datang, maka hal yang perlu dilakukan adalah take a break. Berhenti mengerjakan skripsi dulu sehari atau beberapa jam untuk refreshing. Bisa dengan tidur, nonton film, membaca buku kesukaan, bertemu teman, atau hal positif lain yang disukai.

“Kalau sudah rileks, mulai ngerjakan lagi,” tutur Ella.

Dan kadang, ketika stres melanda, motivasi untuk mengerjakan skripsi juga ikut luntur. Untuk itu, akan lebih baik jika para pejuang skripsi juga mengingat perjuangan orang tua untuk membesarkan kita dan membiayai kuliah kita yang tidak murah. Lakukan segalanya untuk membuat orang tua bangga. Dan kembali mengingat bahwa skripsi adalah sebuah tanggungjawab.

“Tuntaskan! Terus berusaha dan berdoa. InshaAllah hasil tidak akan mengkhianati usaha. Semangat untuk semua yang sedang bergelut dengan skripis, tugas akhir, tesis, ataupun disertasi,” pungkas Ella. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh




Tips Mengolah Ikan Ala Dosen Akuakultur

UNAIR NEWS – Berada di penghujung tahun 2018, kebanyakan masyarakat Indonesia memiliki tradisi kumpul bersama keluarga maupun teman-teman untuk menyambut malam pergantian tahun. Tradisi berkumpul di malam pergantian tahun tidak lengkap rasanya jika tidak dilengkapi dengan pesta kembang api dan bakar-bakar ikan.

Bakar-bakar ikan menjadi hal umum di kalangan masyarakat, karena harganya yang lebih ekonomis, lezat rasanya, dan cocok untuk momen berkumpul. Namun, penting juga untuk memperhatikan proses penyimpanan dan pengolahan dari ikan yang akan dikonsumsi, karena ikan terkenal mudah busuk jika tidak ditangani dengan baik.

Dijelaskan oleh Hapsari Kenconojati, S.Si., M.Si., salah satu dosen Program Studi Akuakultur PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi, bahwa komoditas perikanan sangat penting untuk ditangani sebelum dikonsumsi. Penanganan ikan sendiri bisa dibagi menjadi penyimpanan, perlakuan, dan pengolahan.

“Kalo untuk teknik pengolahan ikan, saya rasa masyarakat sudah cukup paham. Tapi hal-hal mendasar mengenai perlakuan, penyimpanan, dan cara mengolah biasanya yang sering dilalaikan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ada 2 tips dalam mengolah ikan yang akan dikonsumsi, yaitu perlakuan yang tepat dan pengolahan dengan benar. Perlakuan ikan kaitannya dengan kesegaran dan masa simpan ikan. Jadi sebaiknya, setelah ikan ditangkap lebih baik langsung disimpan dalam suhu rendah seperti di es atau dibekukan, sehingga proses pembusukan ikan dapat terhambat.

“Jika mendapat ikan dari pasar, sebaiknya ikan segera disiangi, dibuang bagian insang dan saluran pencernaannya, setelah itu baru diolah lebih lanjut atau disimpan ke freezer,” imbuhnya.

Penyimpanan ikan di freezer juga perlu diperhatikan, meskipun bisa menghambat proses pembusukan ikan. Namun, tidak selamanya ikan bisa disimpan di dalam freezer. Bahkan bisa mengurangi cita rasa jika terlalu lama. Freezer yang bagus biasanya bisa menyimpan ikan 1-2 bulan. Namun jika memakai freezer dari kulkas rumahan, sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu dalam menyimpan ikan.

Freezer pada kulkas rumahan suhunya hanya bisa mencapai -10C, sedangkan freezer pada cold storage pasti jauh lebih rendah, sehingga ikan juga lebih awet,” jelasnya.

Pengolahaan ikan juga tak kalah penting untuk diperhatikan, karena setiap pengolahan ikan pasti bisa menurunkan kandungan gizi terutama protein dan vitamin. Selain itu, protein juga mudah sekali terdenaturasi oleh suhu ditunjang dengan lamanya waktu pengolahan. Oleh karena itu, semakin lama proses pemasakan, maka kandungan gizinya juga akan semakin berkurang.

Dosen yang akrab disapa ibu Hapsari tersebut juga menyesalkan ibu-ibu yang mempunyai pikiran semakin lama memasak ikan, maka akan semakin matang. Padahal kandungan gizinya justru bisa berkurang banyak. Belum lagi ikan atau lauk yang dimasak lagi untuk dimakan keesokan harinya.

“Lebih baik memasak sedikit demi sedikit daripada memanaskan ikan untuk kedua kalinya,” katanya.

Menurutnya, memasak ikan yang baik yaitu dengan cara di-steam atau dikukus. Kalaupun ingin diolah dengan cara goreng, usahakan memakai minyak baru dan api kecil, karena menggoreng ikan dengan suhu tinggi bisa merusak asam lemak tak jenuh seperti omega 3 dan omega 6 menjadi asam lemak jenuh.

“Apalagi pada malam tahun baru nanti pasti rame-ramenya orang bakaran ikan, saran saya hindari membakar ikan hingga bagian luarnya hangus. Karena selain dapat mengurangi kandungan gizi, bagian yang hangus juga bersifat karsinogenik,” jelasnya.

Sebagai penutup, dosen muda tersebut berpesan bahwa ikan sangat baik untuk dikonsumsi, karena merupakan sumber protein lain dan lebih mudah dicerna oleh tubuh.

“Selain itu, ikan juga mengandung omega 3 dan omega 6 yang tinggi, sehingga mengkonsumsi ikan dapat membantu meningkatkan kecerdasan,” pungkasnya. (*)

Penulis : Bastian Ragas

Editor : Binti Q. Masruroh




Ingin Sukses PKM? Yuk, Intip Tips PKM dari Peraih Medali Emas PIMNAS 31

UNAIR NEWS – Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan salah satu ajang kompetisi bergengsi tingkat mahasiswa yang diadakan oleh Kemeterian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti). Setiap tahunnya, terdapat ribuan proposal PKM yang diajukan ke Kemristekdikti. Ribuan proposal PKM tersebut nantinya akan diseleksi hingga akhirnya berhak mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Hilmi Putra Pradana atau yang biasa dipanggil Hilmi, salah satu anggota tim B-STEAM peraih medali emas pada PIMNAS 31 menjelaskan, salah satu parameter PKM dapat lolos di seleksi universitas adalah ide dan judul yang original. Sehingga, ketika di cek di internet tidak ada yang menyamai. Selain itu, adalah kesesuaian format proposal PKM yang diserahkan dengan pedoman PKM yang diberikan sebelumnya.

Apa yang perlu diperhatikan setelah lolos seleksi universitas?

Lolos seleksi universitas bukan berarti juga akan lolos didanai. Menurut Hilmi, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah :

Pertama, pastikan bahwa format penulisan PKM sesuai dengan pedoman baru dari Kemenristekdikti. Hal tersebut sangat penting dan harus dilakukan agar kemungkinan lolos didanai semakin tinggi.

“Baca secara terperinci seperti apa format dan isi yang diminta oleh Kemenristekdikti melalui pedoman PKM,” ucap Hilmi.

Selanjutnya, sitasi atau daftar pustaka yang digunakan tidak melewati 5 tahun terakhir. Semakin banyak dan semakin baru daftar pustaka yang digunakan, semakin baik. Selain itu, proposal juga harus dapat menonjolkan keterbaruan, memiliki manfaat yang besar, dan urgensi masalah yang harus diselesaikan.

Terakhir, kalimat yang digunakan dalam proposal PKM harus mudah dipahami oleh pembaca. Sebab, pihak penyeleksi tentu akan menyeleksi banyak sekali proposal. Sehingga, kemudahan pemahaman tulisan akan membantu penyeleksi untuk memahami maksud dari proposal PKM tersebut.

Setelah didanai, lantas bagaimana?

Ketika proposal PKM yang diajukan lolos hingga tahap didanai, maka gerbang menuju PIMNAS akan terbuka sedikit lebih lebar. Untuk itu, tim perlu untuk melakukan yang terbaik agar dapat lolos PIMNAS.

Menurut Hilmi, salah satu yang perlu dilakukan oleh tim adalah taat admnistrasi. Seperti taat mengisi logbook harian serta mengerjakan laporan kemajuan dan laporan keuangan dengan rinci dan sebaik mungkin.

“Yang tim kami terapkan tahun lalu adalah hampir setiap kegiatan di logbook kami, selalu kami beri foto kegiatan,” terang Hilmi.

Selain itu, tim harus bisa saling bantu membantu, saling mengerti, sehingga penerapan PKM yang telah didanai dapat diselesaikan dengan baik. Tim juga perlu untuk terus menjaga komunikasi dan sering berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

Setelah lolos PIMNAS, UNAIR akan bertanggung jawab penuh untuk melatih tim terpilih agar bisa mendapatkan prestasi yang terbaik. Sehingga, tim yang lolos PIMNAS harus berusaha untuk tetap kuat agar dapat mencapai hasil terbaik dengan berbagai revisi, kritik membangun, dan latihan yang terus menerus.

Kepada tim yang telah berhasil lolos seleksi internal UNAIR, Hilmi berpesan untuk mengerjakan proposal PKM dengan sepenuh hati dan tidak lupa untuk menikmati prosesnya. Lakukan yang terbaik yang tim bisa sampai ketika pengumuman lolos didanai, lolos PIMNAS, ataupun pengumuman juara. Dengan begitu, maka tidak akan ada penyesalan karena bagaimanapun hasilnya itu adalah dari usaha terbaik yang telah dilakukan.

“Sebab nikmatnya kemenangan akan terasa setelah letihnya berjuang,” pungkas Hilmi. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh




Empat Fakta yang Harus Diketahui Sebelum Pergi ke Taiwan

UNAIR NEWS – Bisa bepergian ke luar negeri merupakan salah satu kesempatan yang sangat membanggakan bagi mahasiswa. Salah satunya ketika dapat berkunjung atau bahkan tinggal beberapa saat di negara dengan julukan naga kecil asia, Taiwan.

Tentu saja, setiap negara berbeda dengan negara lainnya, tak terkecuali Indonesia dengan Taiwan. Sebagai pendatang baru yang merasakan suasana yang ada di Taiwan, berikut 4 hal yang harus anda ketahui ketika pergi ke Taiwan.


Easy Card

Easy Card merupakan salah satu barang yang direkomendasikan untuk dimiliki oleh pendatang baru di Taiwan. Dengan harga sekitar 50 ribu jika dikonversikan ke rupiah, kita sudah bisa mendapatkannya. Kartu yang diperkenalkan sejak 2002 itu berguna untuk melakukan pembayaran dalam transportasi di Taiwan, seperti bus, kereta, dan persewaan sepeda (uBike).

Penggunaan easy card hanya perlu tap-tap di sensor yang ada. Pengisian saldo easy card juga cukup mudah, hanya perlu pergi ke supermarket yang banyak tersebar di Taiwan. Hal yang menarik dari kartu ini adalah ketika pengguna turun dari kereta dan ternyata saldo tidak mencukupi untuk membayar kereta, maka secara otomatis saldo kartu menunjukkan angka minus dan otomatis mengurangi saldo ketika diisi.


Pakai Lajur Kanan

Berbeda dengan Indonesia yang menggunakan lajur kiri untuk laju kendaraan, Taiwan merupakan salah satu negara yang menggunakan lajur kanan untuk berjalan atau menggunakan kendaraan. Sehingga, ketika berada di Taiwan jangan sampai lupa mengambil lajur kanan di setiap perjalanan. Lajur kiri hanya digunakan untuk mendahului.

Ada kekaguman ketika melihat kebiasaan orang di Taiwan yang dapat berbaris rapi di lajur kanan, sehingga orang yang terburu-buru bisa langsung mengambil lajur kiri untuk mendahului.


Toko Indonesia

Fakta yang lain adalah cukup banyak ditemui toko Indonesia di sini. Toko tersebut menjual berbagai macam produk asli Indonesia yang diimpor langsung. Mengenai harga, yang pasti relatif lebih mahal dari pada di Indonesia. Meskipun begitu, hadirnya toko-toko di Taiwan dapat mengobati kerinduan orang-orang akan makanan Indonesia. Misalnya, yang rindu akan pedasnya rasa sambal dan nikmatnya mie instan Indonesia

Universal Travel Adapter

Tak sama dengan Indonesia yang menggunakan stop kontak berbentuk lingkaran, negara dengan ibukota Taipe ini menggunakan tipe stop kontak pipih sehingga membawa universal travel adapter menjadi kewajiban. Barang tersebut wajib ada ke daftar perlengkapan yang harus dibawa.

Jika tidak punya, membelinya juga tidak akan sia-sia karena tetap bisa digunakan untuk bepergian ke negara lain. Membawa kabel rol dengan banyak colok-masuk dapat juga menjadi alternatif sebagai alat yang dicolokkan ke universal travel adapter.

Jadi, sudah siap kan, untuk pergi Ke Taiwan?

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor : Binti Q. Masruroh