Tips bagi Mahasiswa Baru untuk Optimalkan Potensi dari Mawapres UNAIR 2018, Reza Affandi

UNAIR NEWS – Thomas Alfa Edison pernah berkata “Persiapan hari ini menentukan prestasi dimasa depan”. Sebagai mahasiswa baru, penting sekali untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin diawal menjalani kehidupan perkuliahan untuk masa depan yang lebih baik. Berikut tips untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa baru dari Mohamad Reza Affandi, Mahasiswa Pendidikan Dokter 2015 sekaligus Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Airlangga (UNAIR) 2018.

Memahami diri Sendiri

Memahami diri sendiri mulai dari kekuatan, kelemahan, potensi maupun ancaman. Menurut pengalaman dari Reza, hal tersebut dapat diketahui dengan cara aktif mengikuti kegiatan organisasi apaun yang disukai, mengikuti tes minat dan bakat, maupun meminta pendapat orang tua.

“Dulu saya ikut hampir seluruh organisasi di kampus karena memang benar-benar tidak mengetahui minat dan bakat yang sesungguhnya. Namun perlahan organisasi yang tidak saya sukai, kemudian tersingkir ditahun kedua. Ini bukan soal buang-buang waktu, menurut saya justru investasi waktu untuk benar benar menggali minat, bakat, kelemahan, dan kelebihan diri seutuhnya. Bisa jadi kita multitalenta sehingga kita bertahan di dua atau tiga organisasi,” jelas Reza membagikan pengalamannya.

Membuat Rencana dengan Baik

Menurut Reza, perencanaan dapat dimulai dari perencanaan jangka panjang, yaitu satu tahun, empat tahun, sepuluh tahun, dua lima tahun, dan seterusnya. Untuk kemudian diperinci ke bulan, minggu, sampai hari.

“Saya melakukan perencanaan jangka pendek dan panjang. Pertama saya tentukan ingin menjadi apa untuk saat ini, harus jelas dan terukur. Saya memimpikan menjadi orang yang besar, hebat, dan memiliki dampak kepada orang lain. Berhubung jurusan saya kedokteran, ilmu saya sudah dapat diaplikasikan di masyarakat. Namun, saya ingin lebih. Saya memutuskan bercita-cita menjadi dokter spesialis penyakit dalam sekaligus berkarier di birokrasi pengendalian penyakit tidak menular (misalnya menteri kesehatan) Kemudian jangka pendeknya saya bagi perbulan, per minggu, dan per hari.. saya menuliskan jadwal saya tersebut di Google Calendar,” jelas Reza.

Mengenali Cara Belajar

Di perkuliahan, jelas Reza, jika mahasiswa tidak mengenali cara belajar yang cocok, maka belajar akan terasa sangat membosankan, waktu akan terbuang untuk belajar dan hanya mengandalkan hafalan. Sehingga, potensi diri tidak akan termaksimalkan.

“Di kedokteran, jujur saya melihat cara belajar harus diubah total dari belajar D-1 menjadi dicicil, dari hafalan menjadi pemahaman, strategi mengerjakan soal-soal dan seterusnya. Saya perlu waktu hampir satu tahun untuk menyesuaikan diri, mulai dari cara belajar, dan mengatur kesibukan,” terangnya.

Rajin Membaca Buku Favorit Non – Fiksi

Menurut Reza, membaca buku non fiksi sebanyak mungkin dapat berguna untuk meningkatkan wawasan diluar jurusan yang diambil selama masa perkuliahan. Sebagai alternatif lain, bagi mahasiswa yang tidak menyukai buku, Reza menyarankan untuk menyisipkan sebagian waktu guna menonton video produktif di YouTube.

Buat Lingkungan yang Positif

Reza meyakini bahwa di dunia ini terdapat dua tipe teman. Yaitu teman yang toksik dan teman yang produktif. Teman yang toksik adalah mereka yang memiliki karakter sangat berbeda dengan kita, dan selalu mengarahkan kepada hal-hal yang tidak baik. Untuk itu, jauhi teman toksik dan dekati teman yang produktif.

“Saya berusaha untuk bergabung dengan kelompok2 yang baik dan produktif. Dan menjalin komunikasi dengan mereka sesering mungkin. Misalnya: Komunitas, pembinaan beasiswa, asrama keagamaan, mentoring, dan lainnya,” jelas Reza.

Selain itu, bagi mahasiswa yang ingin menjadi mawapres seperti dirinya, Reza berpesan untuk mempersiapkan sejak dini. Mulai mengikuti banyak lomba dan organisasi, serta membangun IPK.

“Hal yang paling penting adalah istiqomah. Dalam hal ini, persisten dikeinginan tersebut,” pungkas Reza.

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan




Inilah Empat Tips Memilih Hewan Kurban yang Baik

UNAIR NEWS – Tanggal 10 Dzulhijjah atau tepat pada tanggal 22 Agustus 2018 mendatang merupakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban. Idul Kurban merupakan suatu perayaan yang memberikan makna yang luas bagi umat Muslim. Yang mana, umat Muslim disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Salah satu syarat terpenting dalam melaksankan ibadah kurban adalah memberikan hewan kurban yang sah berdasarkan syariat Islam dengan kualitas yang baik. Mengenai hal itu, UNAIR NEWS merangkum tips memilih hewan kurban yang baik sesuai dengan syariat Islam. Nara sumber topik ini adalah Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si yang menjabat sebagai ketua Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR).

  1. Batas Minimal Umur Hewan

Aspek yang mendasari pemilihan hewan kurban yang baik pertama adalah mengenai umur hewan kurban. Hewan kurban yang sah untuk dikurbankan seperti kambing dan domba harus sudah memenuhi umur satu tahun. Sedangkan sapi dan kerbau harus sudah genap dua tahun.

“Cara lain untuk mengetahui adalah dengan melihat gigi hewan. Hewan yang sah ditandai dengan adanya pergantian gigi, yaitu bila dua gigi susu bagian depan sudah tanggal,” jelasnya.

2. Bentuk Tubuh Hewan

Aspek yang kedua ialah bentuk tubuh yang serasi dan tidak cacat. Hewan yang akan dikurbankan harus diperhatikan panjang tubuh, tinggi tubuh, keserasian, dan tidak cacat. Dikatakan serasi jika hewan tersebut standar atau normal. Selain itu, tulang punggung hewan kurban relatif rata atau lurus, tanduknya seimbang, dan kakinya simetris.

“Ciri-ciri yang lain ialah postur tubuh hewan tersebut ideal dengan kombinasi perut, kaki depan dan belakang, kepala, serta leher,” tambahnya.

3. Kesehatan Hewan

Aspek yang ketiga ialah kesehatan hewan. Ciri-ciri hewan yang sehat secara fisik yaitu hewan aktif dan reaktif ketika didekati oleh seseorang. Hewan yang sehat akan lincah, kuat, bersemangat, tidak pincang, tidak gelisah, dan selera makannya bagus.

Lebih lanjut, hewan yang sehat juga memiliki rambut halus yang mengkilap dan tidak mudah rontok. Rambut juga tidak berdiri dan tidak mengalami perubahan warna. Di permukaan kulit hewan juga terbebas dari parasit kulit seperti tungau, caplak, kutu, dan sebagainya.

“Perlu diperhatikan, jika kulit hewan terlihat kusam dan badannya kurus berarti menandakan hewan tersebut mengalami cacingan,” tambahnya.

Sedangkan penyakit yang sering terjadi pada hewan kurban ialah kelelahan yang bisa terjadi akibat proses distribusi. Hewan kurban juga sering mengalami diare dan penyakit demam tiga hari atau BOVINE Ephemeral Fever (BEF). Serta, bebas dari kudis yang mayoritas berasal dari tempat tinggal awal hewan.

4. Persentase Berat Hewan

Aspek yang terakhir ialah persentase berat karkas. Karkas adalah bagian dari ternak setelah disembelih yang terdiri dari daging dan tulang, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Karkas dihitung berdasarkan berat hewan saat masih hidup. Sebagai acuan, sapi PO (Peranakan Ongole) harus memiliki berat karkas 40-45 persen, sapi Bali 52-55 persen, sapi Madura 46-48 persen, sapi peranakan limousin 52 persen, dan sapi peranakan simental 51 persen. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




Tips Menulis dari Wahyu Syafi’ul Mubarok, Sang Langganan Juara LKTI

UNAIR NEWS – Siapa yang tak mengenal sosok mahasiswa prodi Fisika 2016 satu ini. Namanya kerap mewarnai media massa kampus hingga surat kabar nasional berkat sederet prestasi yang membanggakan.

Ialah Mohammad Wahyu Syafi’ul Mubarok. Mahasiswa yang juga menyandang gelar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Sains dan Teknologi 2017 itu telah menghabiskan banyak waktunya untuk menuangkan ide dalam tulisan.

Terbukti, sejumlah karya yang ditulisnya berhasil mengantarkan Wahyu menjemput impian. Dari tulisannya pula, dia dapat mewujudkan asanya menjejakkan kaki hingga ke negeri orang, Turki.

Pada sela kesibukannya yang padat, Wahyu tak pernah meluputkan waktu untuk terus produktif dan berkarya. Mahasiswa yang rajin mengikuti kompetisi tersebut telah menerbitkan tak kurang dari lima judul buku beserta puluhan karya dalam bentuk antologi dan esai. Terakhir, dia baru saja mengukir namanya sebagai juara I LKTIN di Universitas Brawijaya bersama dua rekannya beberapa waktu lalu.

Atas banyaknya capaian berkat hobi sekaligus bakatnya itu, tentu banyak yang ingin tahu apa rahasia Wahyu dalam menulis. Jika Anda salah satunya, berikut kami bocorkan tips dan trik menulis dari Wahyu, sang penulis muda dari UNAIR.

Tips menulis

Menurut Wahyu, terdapat tiga rahasia yang digunakan para penulis besar. Rahasia yang pertama adalah menulis, rahasia kedua adalah menulis, dan yang ketiga adalah menulis. Ia mengibaratkan menulis seperti halnya belajar naik sepeda.

”Yang dibutuhkan adalah praktik. Semakin banyak praktik, Anda akan semakin ahli. Jangan terlalu banyak teori, menulis dulu yang banyak, evaluasi kemudian. Sebab, orang bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik,” terangnya.

Trik agar Tulisan Lolos Seleksi

Saat ditanya apakah ada kiat khusus agar tulisan lolos seleksi dan lomba, Wahyu mengaku tak punya trik tertentu. Ia beranggapan jika sebenarnya tulisan atau naskah memiliki takdir masing-masing. ”Dalam artian, ketika naskah tersebut klop dengan dewan jurinya, pasti lolos. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk terus mencoba dan banyak ikut kompetisi,” ucapnya.

Hal tersebut berguna untuk mengetahui dan mengukur seberapa layak naskah yang ditulis. Secara tidak langsung. Keberanian itu juga berperan membangun kepercayaan diri.

”Dan, yang paling penting, jangan lupa berdoa,” imbuhnya.

Kendala menulis

Menurut Wahyu, kendala paling umum yang menghalangi seseorang untuk menulis adalah rasa malas untuk memulai. Kesibukan sering dijadikan alasan sehingga tidak pernah ada waktu untuk menulis. Padahal, yang bersangkutan bercita-cita menjadi penulis. Selain itu, sering banyak orang yang patah semangat ketika karyanya ditolak atau gugur dalam perlombaan.

”Padahal, upaya JK Rowling untuk menjadikan buku Harry Potter meledak di dunia pun harus mengalami penolakan lebih dari sepuluh kali,” katanya.

Sementara itu, kendala di bidang menulis karya ilmiah, lanjut dia, beberapa orang cenderung terlampau puas dengan hasil yang didapat. Jadi, mereka enggan untuk mencoba lagi.

”Tentu, ini akan mengerdilkan kemampuan critical thinking itu sendiri. Sebab, menulis adalah merawat ingatan dan mengonversinya menjadi sebuah kebermanfaatan,” sebutnya.

Cara mengatasi

Semua berangkat dari niat dan keinginan masing-masing. Semakin kuat dan besar misi yang dibawa, semangat seseorang itu untuk menulis semakin kuat. Orang-orang hebat dulunya adalah amatiran yang berani mencoba dan berusaha.

”Kalau saya sendiri, ketika tulisan saya belum juga rampung, saya memotivasi diri sendiri bahwa tulisanmu ditunggu umat. Idemu layak untuk menolong problematika bangsa. Papermu dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan bermartabat,” jelasnya.

Wahyu menambahkan lingkungan yang mendukung semangat literasi juga diperlukan. Dia menyarankan untuk bergabung dengan komunitas atau organisasi kepenulisan. Hal itu bertujuan menjaga daya dan semangat menulis.

Pada akhir, Wahyu berpesan kepada teman-teman mahasiswa tidak merasa minder dengan anggapan tulisan jelek atau tidak bermutu. Menurut dia, yang menjadi masalah adalah tulisan itu belum menemukan pembaca yang tepat. Atau dalam penulisan ilmiah, ide yang belum lolos bukan berarti tidak layak. Jadi, masih dibutuhkan pengembangan lagi.

”Sebagai contoh, ide saya terkait uji nuklir pernah saya kirim ke PKM-GT, tapi nggak lolos. Akhirnya saya rombak dan saya kirim ke PPI (Persatuan Pelajar Indonesia, Red) Turki. Alhamdulillah lolos dan diundang ke sana,” ungkapnya, lantas tersenyum.

”Intinya, jangan berhenti menulis. Sebab, tulisan adalah jangkar peradaban. Jadi, warnai hidup kita dengan tulisan. Sebab, kita tidak akan tahu tulisan kita yang mana yang akan mengubah sejarah,” pungkasnya.

Jadi, tak ada alasan lagi untuk takut menulis kan?

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Ketahui Tips dan Trik “Backpacker-an” Jika Ingin Mulus di Jalan

UNAIR NEWS – Ingin liburan tapi tidak ingin mengeluarkan banyak uang, backpacker-an bisa jadi pilihan. Backpacker, yang dalam bahasa inggris berarti orang yang membawa backpack atau tas ransel. Tapi semakin kesini, arti tersebut meluas menjadi lebih luas. Backpacker diberi arti menjadi perjalanan yang tidak bergantung dengan jasa travel.

Karena tidak menggunakan travel, para backpacker benar-benar dapat menikmati nuansa dimana sedang berlibur. Liburan yang dilakukan sendiri melatih sejauh mana kemampuan untuk survive atau bertahan di lingkungan baruh, dan yang terpenting hemat budget.

Walaupun hemat budget, dalam melakukan liburan para backpacker dituntut untuk bisa jaga diri sendiri dan mempersiapkan apa yang mungkin ada terjadi. Oleh karena itu, ada beberapa tips dan trik kalau ingin backpacker-an. Berikut UNAIR NEWS merangkum beberapa tips dan triknya.

Siapkan Fisik dan Barang Bawaan

Menyiapkan fisik sebelum berangkat liburan hal yang pasti dilakukan, apalagi ketika liburan backpacker karena tubuh yang fit akan mengurangi risiko sakit diperjalanan. Perjalanan backpacker-an bisa menambah pengalaman untuk survive, bukan sekedar liburan saja.

Bukan sebatas itu saja, barang bawaan juga perlu ditentukan, hanya bawa barang yang diperlukan dan dibutuhkan saja. Salah satu barang yang wajib dibawa adalah peralatan safety (perlindungan diri) dan obat-obatan pribadi. Dalam membawa semua barang tersebut memakai tas carrier  sangat dianjurkan.

Buat Rencana Perjalanan

Tanpa travel, para backpacker dapat menentukan dimana saja mau pergi, seberapa lama ditempat itu, dan selanjutnya mau kemana. Maka membuat rencana perjalanan (plan) tentu wajib dilakukan. Plan yang dibutuhkan bukan cuma satu saja, bikin beberapa untuk cadangan. Bahkan bisa jadi di tengah perjalanan plan yang kamu buat berubah karena keadaan saat di tempat wisata atau perjalanan bisa jadi berbeda.

Atur Pengeluaran

Karena berpergian sendiri, menetapkan pengeluaran tiap aktivitas sangat diperlukan. Karena tanpa itu bisa jadi budget yang dikeluarkan bisa jadi semakin besar. Ada beberapa cara untuk menghemat pengeluaran saat backpacker-an. Salah satunya jika menggunakan transportasi seperti kereta atau pesawat lakukan pemesanan tiket jauh-jauh hari sehingga mendapatkan tiket lebih murah, bisa juga dengan sewa kendaraan. Mencari tau info homestay atau penginapan yang sesuai budget atau camping dapat menjadi pilihan hemat.

Jangan Malu Bertanya

Takut tersesat dijalan atau masalah sepele terjadi,seperti salah pilih menu makanan sehingga harga mahal, tentu tidak akan terjadi jika tidak malu bertanya. Salah satu kuncinya itu berusaha lebih untuk bersosialisasi dan mawas diri, membawa diri masuk ke dalam lingkungan yang ada.

Belum pernah backpacker-an, coba tips trick diatas dan coba buktikan sensasinya.

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan




Apa yang Mesti Dipersiapkan Sebelum Donor Darah?

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari bentuk pengabdian kepada masyarakat, BEM Fakultas Hukum Universitas Airlangga menyelenggarakan donor darah. Donor darah ini menjadi kegiatan yang sering diadakan mahasiswa dari lintas fakultas dan jurusan di UNAIR.

Dalam donor darah yang berlangsung di Faculty Club, Gedung A FH UNAIR, Selasa (24/4) kemarin, beberapa calon pendonor tak dapat melangsungkan donor darah karena kurang memenuhi persyaratan. Lantas, apa saja syarat donor darah yang bisa dipersiapkan sebelum seseorang melakukan donor?

Beberapa persyaratan itu antara lain, memiliki berat badan minimal 45 kg; kadar hemoglobin minimal 12,5 g/dl dan maksimal 17,0 g/dl; tidak dalam pengaruh vaksin; serta tidak dalam keadaan setelah operasi besar (setelah 1 tahun) maupun operasi kecil (setelah 6 bulan).

Seringnya, seseorang memiliki kadar hemoglobin yang rendah sehingga terhalang untuk melakukan donor darah. Untuk meningkatkan kadar hemoglobin, beberapa hal dapat dilakukan. Seperti, mengkonsumsi makanan kaya zat besi, meningkatkan asupan vitamin C, mengkonsumsi asam folat, serta makan buah bit dan apel.

Sementara itu, ada banyak manfaat yang didapat usai seseorang melakukan donor darah. Donor darah dapat menjaga kesehatan jantung dan membuat darah mengalir lebih lancar, meningkatkan produksi sel darah merah, mencegah kelebihan zat besi, serta meningkatkan aktivitas antioksidan dalam tubuh. Bagi pendonor, donor darah dapat berguna untuk menunjang kesehatan tubuh.

Selain itu, yang jelas, donor darah dapat membantu menyelamatkan hidup pasien yang membutuhkan bantuan darah.

Kegiatan yang bekerjasama dengan PMI Surabaya ini mendapat respon positif dari sivitas FH UNAIR. Putera selaku Menteri Pengmas BEM FH UNAIR mengatakan, kegiatan donor darah yang berlangsung tidak untuk memperingati suatu hal. Namun, murni sebagai aksi nyata dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk aksi nyata dalam pengabdian. Kita kan juga sering mendengar berita bahwa PMI kekurangan stok darah. Maka dari itu program kerja ini bertujuan untuk membantu dan selalu mendukung PMI dalam membantu masyarakat yang membutuhkan darah,” tuturnya.

Selain donor darah, program kerja Kementerian Pengmas BEM FH UNAIR antara lain Sekolah Hebat, Pengmas Berbagi, donasi bencana, dan abdi desa. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




Mewaspadai Air Minum dalam Kemasan

UNAIR NEWS – Dalam seminggu terakhir ini, berkembang isu yang menyebutkan bahwa ada mikroplastik (plastik berukuran sangat kecil) yang terkandung dalam beberapa merk air minum kemasan botol yang tersebar di Indonesia. Isu tersebut tak pelak membuat banyak orang was-was terhadap pemakaian air dalam kemasan botol.

Isu tersubut muncul setelah sebuah penelitian di State University of New York of Fredonia yang menyatakan bahwa ada kandungan mikroplastik dalam air kemasan botol. Tak tanggung-tanggung, 93 persen kandungan mikroplastik itu berada dalam air minum kemasan botol merk terkenal di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Mengenai hal tersebut, Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T. dosen yang memfokuskan penelitian tentang air dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan sejumlah tanggapan. Termasuk memberikan kiat bagi masyarakat yang sudah menjadikan air kemasan botol sebagai konsumsi sehari-hari.

Kewaspadaan adanya mikroplastik itu bukan hanya pada kemasan botol plastik. Riset terbaru menunjukkan, selain di botol plastik, mikroplastik terkandung dalam kemasan karton (tetra pak) dan botol kaca yang pembuatannya juga dilapisi kandungan plastik tertentu.

“Sejauh ini keberadaan mikroplastik bukan hanya di air kemasan botol. Di kemasan berkarton, juga ada jika tetra pak (kemasan karton, Red) dilapisi plastik tertentu,” katanya.

Jenis plastik yang banyak dibahas adalah Polyethylene terephthalate (PET). Yakni, plastik yang biasanya dipakai untuk botol air mineral dalam kemasan. Juga, Polypropylene atau Polypropene (PP) untuk tutup botol.

Dosen yang melakukan penelitian dengan judul Penurunan Polutan Air Limbah Menggunakan  Imobilisasi Mikroalga Dan Bakteri (2017-2019) itu menduga mikroplastik tersebut berasal dari tutup botol. Karena beberapa sebab, beberapa partikelnya terurai dan bercampur dengan minuman.

“Yang dikhawatirkan adalah saat ke luar pabrik zero (tidak mengandung mikroplastik, Red). Tapi, saat ke luar, terjadi goncangan atau tersimpan tidak baik sehingga memudahkan plastik rilis (terurai),” ungkap dosen Departemen Biologi UNAIR tersebut.

Nuri –sapaannya– bersaran ke depan pengemasan air mineral harus lebih diperhatikan. ”Entah jenis plastiknya yang tidak terlarut sama air atau ada teknologi tertentu,” imbuhnya.

Waspada

Saat ini menurut Nuri, jumlah kontaminan, zat yang dapat membahayakan kesehatan, berukuran mikro pada air semakin banyak. Hal itu terjadi karena juga kian banyaknya pencemaran air.

Lembaga riset di luar negeri saat ini sudah berfokus pada partikel berukuran mikro, bukan lagi makro. Partikel tersebut tidak mudah terlihat sehingga membutuhkan teknologi yang canggih.

Keberadaan mikroplastik sangat dikhawatirkan karena sifatnya yang mirip logam berat. Nuri mengatakan, perlu adanya kajian lebih lanjut apakah mikroplastik dapat terakumulasi ke dalam tubuh manusia. Dikhawatirkan, partikel ini mengakibatkan risiko munculnya penyakit. Apalagi jika partikel tersebut telah menyangkut di bagian ginjal.

Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T. dosen biologi UNAIR saat berbincang dengan mahasiswa. (Foto: Binti Q. Masruroh)

Lantas, seberapa amankah mikroplastik terhadap tubuh manusia? Nuri mengungkapkan, saat ini WHO (World Health Organization) mengkaji batas aman mikroplastik untuk dikonsumsi manusia. Berkaitan dengan kesehatan manusia, lanjut dia, memang harus dikaji secara detail.

Dari sumber yang lain, melalui BBC, Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menyarankan masyarakat tidak perlu khawatir karena air mineral yang beredar sudah sesuai dengan standar yang berlaku. Dia menambahkan, keberadaan mikroplastik belum ada dalam aturan soal kelayakan pangan. “Perlu ditetapkan oleh lembaga berwenang seperti WHO, FAO, atau Kementerian Kesehatan,” katanya.

Lalu, bagaimana menyikapi air mineral dalam kemasan yang sudah telanjur dikonsumsi masyarakat sehari-hari?

Nuri menuturkan, penting untuk memperhatikan kemasan plastik yang digunakan sebagai tempat penyimpanan minuman. Misalnya, menghindari penyimpanan dalam suhu yang panas. ”Cara penyimpanan juga berpengaruh. Jika penyok, potensi rilis juga lebih besar,” katanya.

Menyimpan air mineral di mobil tidak dianjurkan. Sebab, suhu di dalam mobil panas, apalagi jika parkir di area yang panas. Saat berada di suhu yang tinggi, plastik mudah meriliskan zat-zat. Sangat tidak dianjurkan meminum air kemasan yang lama disimpan di area yang panas.

Berikutnya, waspadai penggunaan botol berulang-ulang. Penggunaan botol berkali-kali juga memiliki potensi bahaya yang lebih tinggi dibanding yang kemasan baru. Kemasan plastik untuk makanan sekali pakai, misalnya, tidak dianjurkan untuk digunakan kembali. Kecuali, kemasan yang memang terbuat dari bahan yang aman jika dipakai berulang-ulang.

“Dari saya, jangan konsumsi air yang ada di kendaraan cukup lama untuk menghindari risikonya. Jangan menggunakan botol kemasan berulang-ulang. Sebab, risiko rilis menjadi lebih tinggi,” tutupnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria Rifai

 




Untuk Anak, Manfaatkan MSG dari Bahan Alami

UNAIR NEWS – Di jaman serba instan seperti sekarang, tampaknya sulit menghindar dari olahan makanan yang mengandung Monosodium glutamat MSG, atau yang lebih akrab disebut micin atau vetsin. Ini yang membuat sebagian para orang tua merasa khawatir ketika memberikan asupan makanan untuk buah hatinya.  Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?

Sebenarnya, MSG tidak hanya ada pada penyedap rasa saja. Beberapa bahan alami yang biasa kita konsumsi sebenarnya juga mengandung MSG. Seperti tomat, keju, susu, ayam, bebek, daging, makarel, salmon , telur, ikan, bayam, kentang, jagung, brokoli, kecap, bahkan daun pandan.

Seperti kita tahu, MSG berguna sebagai penambah cita rasa gurih pada makanan, sehingga menambah nafsu makan. Lalu bagaimana memperkenalkan rasa gurih yang aman bagi anak-anak?

Menurut dokter spesialis anak FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo Dr. Irwanto dr., Sp.A(K), pengenalan rasa gurih melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI) sebenarnya bisa disiasati dengan memanfaatkan kandungan glutamat dari bahan alami. Seperti dari sayuran dan bahan alami lainnya. Misalnya, memanfaatkan gurihnya kaldu ayam dan kaldu daging dalam menyajikan MPASI.

“Bayi berusia enam bulan sudah bisa diperkenalkan sedikit demi sedikit dengan rasa gurih melalui penyajian MPASI. Cara ini efektif supaya anak mengenal rasa tapi nggak sampai berlebihan dan bisa dibatasi,” ungkap peraih penghargaan Global Travel Award oleh Bill nad Melinda Gates Foundation ini.

Meskipun Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) memperbolehkan penggunaan MSG, namun kadar pemakaian tetap harus dibatasi sesuai dengan aturan. Kecuali pada orang-orang yang diketahui alergi, maka perlu menghindari.

Sebenarnya penggunaan garam lebih dulu populer sebelum MSG. Ceritanya, tahun 1996 WHO memperbolehkan penggunaan MSG untuk mengurangi tingkat konsumsi garam yang diketahui cukup tinggi pada saat itu.

“Dulu garam banyak dikonsumsi, akibatnya banyak yang mengalami hipertensi. Untuk menghindari itu, WHO kemudian memperbolehkan MSG digunakan sebagai penyedap rasa. Itu saja sebenarnya,” ungkapnya.

Bicara soal garam dan MSG, tampaknya sulit mengekang kegemaran lidah masyarakat kita yang cenderung menggemari cita rasa masakan yang gurih. Padahal sebenarnya garam lebih berbahaya ketimbang vetsin. Karena MSG diketahui hanya mengandung 30 persen natrium lebih sedikit ketimbang pada garam. Sayangnya sedikit dari kita yang menyadari hal itu.

Kesalahan pada cara memasak tentu sangat mempengaruhi jumlah penggunaan garam. Untuk itu, Irwanto menyarankan sebaiknya pemberian garam dilakukan setelah semua proses memasak berakhir.

“Jadi selama masak jangan dikasih garam dulu, nanti setelah matang baru garamnya dimasukkan. Ini cara paling aman. Selain  kita bisa mengoreksi rasa,  pemakaian garam pun juga akan terkendali,” ungkapnya.

Kontroversi pemakaian MSG sebenarnya telah berlangsung sekitar tahun 1960an. Saat itu, New England Journal of Medicine mengungkap sebuah laporan terkait komplain dari sekelompok orang yang mengeluh pusing dan muntah setelah makan di sebuah restoran chinese food.

Berangkat dari laporan tersebut, sekitar tahun 1970 sejumlah peneliti mulai mengembangkan penelitian chinese food syndrome. Dua kelompok manusia diuji. Sebagian mengonsumsi makanan mengandung MSG, sebagian lain tidak. Ternyata, kelompok yang mengonsumsi makanan mengandung MSG mengalami faringitis atau gangguan tenggorokan, sementara sebagian lain tidak mengeluhkan gejala apapun. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata efek faringitis terjadi karena dampak alergi pada MSG.

FDA menegaskan bahwa reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan karena MSG. Semua tergantung pada tingkat sensivitas tubuh.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya.

Para peneliti sepakat bahwa pemberian MSG pada hewan coba berdampak pada sel saraf serta menyebabkan terjadinya perubahan pada korteks yang terkait pada fungsi kognitif.

Irwanto menekankan, pemberian MSG pada hewan coba memang terbukti membawa efek toksik. Karena sampel dipapar MSG dengan takaran lebih tinggi dari yang biasa dikonsumsi manusia. Namun hasil percobaan pada hewan belum bisa memperkuat dugaan bahwa efek MSG juga sama bahayanya jika dikonsumsi manusia.

Sejauh ini penelitian seputar MSG masih sebatas pada hewan coba, dan belum ada peneliti yang mengaplikasikan pada manusia. Mengingat sampai sejauh ini belum ada laporan kasus yang mendesak para peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut.

“Sejauh ini hanya didapatkan observasi berupa keluhan pusing dan muntah sebagai efek dari chinese food syndrome. Dan itu terjadi karena alergi,” ungkap wisudawan terbaik UNAIR tahun 2013 tersebut.

Bahkan berdasarkan riset baru-baru ini oleh Staging di University of Iowa menyimpulkan bahwa MSG tidak berdampak pada anak yang mengalami hiperaktif atau gangguan perilaku yang lain. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Vetsin Vs ‘Generasi Micin’

UNAIR NEWSBelakangan istilah ‘generasi micin’ begitu populer di masyarakat. Kemunculannya seakan memperkuat persepsi bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan bervetsin dapat mengganggu kualitas berpikir seseorang. Katanya, gara-gara micin otak bisa lemot, oon, kurang tanggap, dan sebagainya. Benarkah micin bikin otak bermasalah?

Dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Dr. Irwanto dr., Sp.A(K) mengatakan bahwa penyebab otak jadi lemot sebenarnya bukan karena micin. Hal ini diperkuat dengan beberapa hasil riset yang telah dikembangkan oleh para peneliti luar negeri.

Sebenarnya, kontroversi penggunaan vetsin atau micin atau Monosodium glutamat (MSG) telah berlangsung sekitar tahun 1960an. Saat itu, New England Journal of Medicine mengungkap sebuah laporan terkait komplain dari sekelompok orang yang mengeluh pusing dan muntah setelah makan di sebuah restoran chinese food.

Berangkat dari laporan tersebut, sekitar tahun 1970 sejumlah peneliti mulai mengembangkan penelitian chinese food syndrome. Dua kelompok manusia diuji. Sebagian mengonsumsi makanan ber-MSG, sebagian lain tidak. Ternyata, kelompok yang mengonsumsi makanan ber-MSG mengalami faringitis atau gangguan tenggorokan, sementara sebagian lain tidak mengeluhkan gejala apapun. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata efek faringitis terjadi karena dampak alergi pada MSG.

Food and Drug Administration (FDA) menegaskan bahwa reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan karena MSG. Semua tergantung pada tingkat sensivitas tubuh.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya.

Untuk memastikan dampak pemakaian Natrium glutamat, penelitian kemudian berlanjut pada hewan coba. Hasilnya, pemberian MSG pada hewan mengakibatkan terjadinya perubahan pada prefrontal korteks dan neuron menjadi lebih sedikit. Kondisi tersebut juga memicu terjadinya neurodegeneratif.

Para peneliti sepakat bahwa pemberian MSG pada hewan coba berdampak pada sel saraf serta menyebabkan terjadinya perubahan pada korteks yang terkait pada fungsi kognitif.

Irwanto menekankan, pemberian MSG pada hewan coba memang terbukti membawa efek toksik. Karena sample dipapar MSG dengan takaran lebih tinggi dari yang biasa dikonsumsi manusia. Namun hasil percobaan pada hewan belum bisa memperkuat dugaan bahwa efek MSG juga sama bahayanya jika dikonsumsi manusia.

Sejauh ini penelitian seputar MSG masih sebatas pada hewan coba, dan belum ada yang mengaplikasikannya pada manusia. Mengingat sampai sejauh ini belum ada laporan kasus yang mendesak para peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut.

“Sejauh ini hanya didapatkan observasi berupa keluhan pusing, muntah sebagai efek dari chinese food syndrome. Dan itu terjadi karena alergi,” ungkapnya.

Sementara itu, William Pardridge, MD dalam bukunya Regulasi Asam Amino di Dalam Otak menuliskan bahwa MSG tidak termasuk ke dalam Blood-brain barrier (BBB) atau unsur yang mampu menembus selaput otak.

Melalui buku tersebut, Irwanto menjelaskan bahwa glutamat tidak akan masuk ke selaput otak. Dalam hal ini tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk menyeimbangkan kadar MSG yang dikonsumsi. Dengan begitu MSG tidak akan sampai berpengaruh ke otak.

“Karena MSG dianggap tidak sampai menembus selaput otak, maka aman dikonsumsi,” tegasnya.

FDA dan WHO telah memastikan bahwa MSG aman dikonsumsi selama dalam batas wajar. Menurut panduan, batas rata-rata konsumsi MSG maksimal 2,5-3,5 gram MSG dengan berat badan 50-70 kg. Atau, setengah sendok teh dari keseluruhan makanan yang dikonsumsi seharian.

Sementara bagi yang alergi MSG, Irwanto menyarankan agar mengurangi jumlah konsumsi makanan ber-MSG. Alergi pada MSG dapat diketahui pada saat seseorang mengalami keluhan berupa pusing mendadak, muntah, rasa panas di leher, lengan, dada, hingga merasa berdebar-debar setelah mengonsumsi makanan ber-MSG. Keluhan semacam itu biasa disebut dengan chinese food syndrome.

Menurutnya, manifestasi alergi bisa datang sewaktu-waktu. Ada yang ketahuan alergi sejak kecil, ketika remaja, atau bahkan setelah dewasa. Tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing.

“Kalau sudah merasakan keluhan seperti itu, maka sebaiknya batasi makanan bervetsin,” ungkapnya.

Setelah mengamati uraian di atas, tampaknya sebutan ’Generasi Micin’ kurang cocok dialamatkan kepada si lemot. Apa mungkin perlu menggantinya dengan istilah lain yang lebih cocok?

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Pria 40 Tahun ke Bawah, Waspadai Penyakit Satu Ini

UNAIR NEWS Kasus kematian mendadak akibat jantung koroner meningkat setiap tahun. Diketahui tidak sedikit pria produktif berusia di bawah 40 tahun yang menjadi sasaran. Fenomena ini jelas menunjukkan adanya pergeseran usia penderita jantung koroner. Dimana usia muda tak menjamin seseorang memiliki kondisi fisik yang prima.

Adanya pergeseran usia penderita jantung koroner ini diakui oleh seorang pakar jantung dan pembuluh darah Fakultas Kedokteran UNAIR – RSUD Dr. Soetomo dr. Andrianto.,Sp.JP.,FIHA. Secara ilmu kedokteran, kematian mendadak akibat jantung koroner tidak terjadi begitu saja tanpa adanya gejala penyerta.

“Jauh sebelumnya tubuh telah mengirim sinyal berupa rasa tidak nyaman di dada. Namun seringkali diabaikan oleh si penderita,”ungkapnya.

Kematian mendadak terjadi ketika seseorang mengalami gangguan irama bilik jantung. Hal ini menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi pompa jantung. Akibatnya, pasokan oksigen ke seluruh organ penting di dalam tubuh mengalami gangguan hebat.

“Kematian mendadak umumnya terjadi setelah seseorang mengalami serangkaian gejala seperti lemas, pingsan, nyeri, sesak, berdebar di bagian kiri dada atau tepat di posisi jantung,” ungkapnya.

Sebetulnya mengabaikan rasa sakit atau tidak nyaman di bagian dada sebelah kiri adalah bentuk kebiasaan yang tidak baik. Seringkali penderita tak menyadari bahwa rasa nyeri pada bagian dada bisa menjadi gejala awal terjadinya jantung koroner.

“Umumnya masyarakat mengira keluhan nyeri dada, lemas, disertai jantung berdebar hanya dianggap sebagai gejala masuk angin atau kecapekan. Akhirnya diabaikan, malah dikerokin. Setelah dikerokin bukanya membaik malah bablas. Jangan disepelekan,” jelasnya.

Jika sejak awal sudah merasakan gejala awal demikian maka Andrianto menyarankan perlu segera diperiksakan ke dokter. Karena seringkali penderita baru dilarikan ke rumah sakit setelah kondisinya parah. Padahal jika bisa terdeteksi sejak awal, maka gejala yang masih ringan sebenarnya dapat segera tertangani.

Dalam mekanisme penanganan kasus jantung koroner, jika terjadi penyumbatan pembuluh darah pada jantung dan tidak segera mendapatkan pertolongan dalam waktu 12 jam, dapat mengakibatkan terjadinya sumbatan pembuluh darah permanen.

“Sebanyak 40 persen penderita jantung koroner meninggal pada empat jam pertama, setelah mengalami serangkaian keluhan nyeri di dada sebelah kiri,” ungkapnya.

Namun jika segera ditangani, maka berpeluang bisa menyelamatkan banyak otot jantung, sehingga kemungkinan pulih lebih besar.

Selain diakibatkan karena jantung koroner, penyebab kematian mendadak lainnya dapat disebabkan karena kelainan irama jantung primer (bawaan), kardiomiopati hipertrofik (penebalan otot jantung bawaan) atau penyakit miokarditis (peradangan otot jantung).

Untuk meminimalisir resiko jantung koroner, maka disarankan kepada para pria berumur 40 tahun keatas dan siapa saja yang memiliki riwayat keluarga penderita jantung koroner untuk memeriksakan kesehatan jantungnya melalui Cardiac general check up. Pemeriksaan satu ini meliputi pemeriksaan darah untuk memastikan kondisi kolesterol dalam darah, tes treatmeal, dan USG jantung.

Selain rutin memeriksakan kondisi kesehatan, penting juga untuk meningkatkan pola hidup sehat. Seperti mengendalikan konsumsi makanan berlemak, serta rutin berolahraga.

Olah raga aerobik menurut Andrianto sangat disarankan khususnya bagi para penderita jantung koroner. Karena gerakan aerobik mampu melatih seseorang mengatur keluar masuknya sirkulasi oksigen dengan gerakan yang ringan. Selain aerobik, olah raga lainnya seperti bersepeda, jogging, lari, dan berenang juga bisa menjadi alternatif olah raga yang menyenangkan.

“Olah raga menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kebugaran. Bagi penderita jantung koroner, olah raga ringan dapat membantu menjaga kebugaran. Dengan frekuensi tidak lebih dari 5-7 kali dalam seminggu, selama tidak lebih 45 menit,” ungkapnya.

Ada banyak faktor pencetus seseorang bisa mengalami jantung koroner. Dapat disebabkan karena stres berlebihan, pola hidup tidak sehat kurang berolahraga, serta berlebihan mengonsumsi makanan mengandung lemak dan kolestrol tinggi.

Jika pria berpotensi besar mengalami jantung koroner, maka sebenarnya perempuan juga rentan dengan risiko penyakit satu ini. Hanya saja, bukan pada perempuan usia produktif, melainkan perempuan berusia 50 tahun keatas atau sudah memasuki masa menopause.

“Perempuan usia produktif lebih diuntungkan karena masih mengalami siklus menstruasi. Selama masih mengalami menstruasi, selama itu pula tubuhnya aktif memproduksi hormon estrogen. Hormon ini yang akan melindungi perempuan dari resiko penyakit jantung maupun gangguan pembuluh darah,” ungkapnya. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Si Perfeksionis Rawan Terkena Kanker

UNAIR NEWS – Pertumbuhan sel kanker memerlukan proses perkembangan yang cukup panjang serta dipengaruhi oleh banyak faktor risiko. Penyebabnya tidak dapat diketahui secara pasti. Bukan hanya disebabkan oleh satu faktor resiko saja, melainkan gabungan dari berbagai stressor.

Sejumlah penelitian menyimpulkan, ternyata ada keterkaitan antara tubuh dengan pikiran. Analoginya, tubuh dan pikiran akan saling berinteraksi sehingga kemudian pikiran ‘menyetir’ kondisi fisik seseorang.

Pakar psikoneuroimunologi  Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga  Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr., MS mengungkapkan bahwa stres ternyata dapat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kanker. Hal tersebut diperkuat dengan adanya penelitian yang mengaitkan antara karakter seseorang dengan risiko kanker yang terjadi.

Dalam penelitian disebutkan bahwa perempuan perfeksionis, cenderung berpotensi lebih besar mengalami kanker payudara dibandingkan dengan perempuan dengan karakter sanguinis atau periang.

Mengapa? karena perempuan yang menuntut segala sesuatunya harus sempurna serta tidak toleran terhadap kekurangan orang lain akan lebih sering mengalami stres berkepanjangan. Lain halnya dengan perempuan dengan karakter sanguinis yang diketahui lebih easy going dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga hampir jarang mengalami stres.

Selain stres, faktor pemicu lainnya bisa berasal dari riwayat keluarga, infeksi virus, paparan bahan kimia, pola hidup dan pola makan yang tidak sehat, serta radiasi.

Untuk itu diperlukan upaya pencegahan. Prof Taat menekankan supaya kita semua senantiasa berpikir positif, bergerak aktif, hindari stres berlebihan, serta menjalani pola hidup yang lebih sehat. Tidak cukup itu saja, kita juga perlu melakukan pencegahan sekunder yakni dengan deteksi dini dan vaksinasi.

“Sekitar 43 persen dari kanker dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan 30 persen dari kanker dapat terdeteksi,” ungkapnya.

Selain menjalankan pola hidup yang sehat, kegiatan keagamaan juga sejatinya mampu mengendalikan emosional seseorang. Sehingga, diharapakan peluang munculnya bibit-bibit sel kanker dapat diminimalisir.

”Mereka yang senantiasa berpikiran positif akan merasakan dampak luar biasa. Selain meningkatkan daya tahan tubuh, berpikir positif juga bisa menurunkan tekanan darah maupun gula darah. Dengan berpikir positif, maka kualitas hidup seseorang akan membaik,” ungkapnya.

Menurutnya, aktivitas dzikir hati dan lisan mampu meningkatkan kecerdasan spiritual seseorang kepada Tuhannya. Sehingga secara otomatis dapat menghasilkan sebuah refleksi tindakan yang positif dan benar. Selama Psikoterapi berbasis keagamaan dilakukan dengan cara yang benar, maka  akan membawa manfaat.

“Sakit yang Tuhan berikan kepada seseorang tidak lain adalah sebuah bentuk kecintaan kepada umat-Nya. Jika kita mau menyadari hal itu, maka kita tidak akan sampai berpikiran negatif, dan memilih untuk pasrah dan ikhlas. Dengan begitu, maka kecerdasan emosionalnya akan semakin membaik,” ungkapnya.

Meskipun belum ada penelitian yang secara jelas membuktikan dampak psikoterapi  yang ditunjukkan dalam bentuk persentase hasil, namun secara kasat mata, psikoterapi banyak membawa perubahan positif pada kehidupan para penderita kanker.

Sebut saja mereka para survivor kanker, yang berusaha melawan sakitnya dengan melakukan metode penyembuhan melalui pendekatan diri kepada Tuhannya.

“Sehari-hari para survivor kanker ini beraktivitas, menjadi relawan, dan terus bersedekah. Banyak dari mereka yang merasa kualitas hidupnya menjadi lebih baik,” ungkap pria yang pernah aktif mengajar ilmu psikoneuroimunologi di FK UNAIR ini. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh