Apa yang Mesti Dipersiapkan Sebelum Donor Darah?

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari bentuk pengabdian kepada masyarakat, BEM Fakultas Hukum Universitas Airlangga menyelenggarakan donor darah. Donor darah ini menjadi kegiatan yang sering diadakan mahasiswa dari lintas fakultas dan jurusan di UNAIR.

Dalam donor darah yang berlangsung di Faculty Club, Gedung A FH UNAIR, Selasa (24/4) kemarin, beberapa calon pendonor tak dapat melangsungkan donor darah karena kurang memenuhi persyaratan. Lantas, apa saja syarat donor darah yang bisa dipersiapkan sebelum seseorang melakukan donor?

Beberapa persyaratan itu antara lain, memiliki berat badan minimal 45 kg; kadar hemoglobin minimal 12,5 g/dl dan maksimal 17,0 g/dl; tidak dalam pengaruh vaksin; serta tidak dalam keadaan setelah operasi besar (setelah 1 tahun) maupun operasi kecil (setelah 6 bulan).

Seringnya, seseorang memiliki kadar hemoglobin yang rendah sehingga terhalang untuk melakukan donor darah. Untuk meningkatkan kadar hemoglobin, beberapa hal dapat dilakukan. Seperti, mengkonsumsi makanan kaya zat besi, meningkatkan asupan vitamin C, mengkonsumsi asam folat, serta makan buah bit dan apel.

Sementara itu, ada banyak manfaat yang didapat usai seseorang melakukan donor darah. Donor darah dapat menjaga kesehatan jantung dan membuat darah mengalir lebih lancar, meningkatkan produksi sel darah merah, mencegah kelebihan zat besi, serta meningkatkan aktivitas antioksidan dalam tubuh. Bagi pendonor, donor darah dapat berguna untuk menunjang kesehatan tubuh.

Selain itu, yang jelas, donor darah dapat membantu menyelamatkan hidup pasien yang membutuhkan bantuan darah.

Kegiatan yang bekerjasama dengan PMI Surabaya ini mendapat respon positif dari sivitas FH UNAIR. Putera selaku Menteri Pengmas BEM FH UNAIR mengatakan, kegiatan donor darah yang berlangsung tidak untuk memperingati suatu hal. Namun, murni sebagai aksi nyata dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk aksi nyata dalam pengabdian. Kita kan juga sering mendengar berita bahwa PMI kekurangan stok darah. Maka dari itu program kerja ini bertujuan untuk membantu dan selalu mendukung PMI dalam membantu masyarakat yang membutuhkan darah,” tuturnya.

Selain donor darah, program kerja Kementerian Pengmas BEM FH UNAIR antara lain Sekolah Hebat, Pengmas Berbagi, donasi bencana, dan abdi desa. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




Mewaspadai Air Minum dalam Kemasan

UNAIR NEWS – Dalam seminggu terakhir ini, berkembang isu yang menyebutkan bahwa ada mikroplastik (plastik berukuran sangat kecil) yang terkandung dalam beberapa merk air minum kemasan botol yang tersebar di Indonesia. Isu tersebut tak pelak membuat banyak orang was-was terhadap pemakaian air dalam kemasan botol.

Isu tersubut muncul setelah sebuah penelitian di State University of New York of Fredonia yang menyatakan bahwa ada kandungan mikroplastik dalam air kemasan botol. Tak tanggung-tanggung, 93 persen kandungan mikroplastik itu berada dalam air minum kemasan botol merk terkenal di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Mengenai hal tersebut, Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T. dosen yang memfokuskan penelitian tentang air dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan sejumlah tanggapan. Termasuk memberikan kiat bagi masyarakat yang sudah menjadikan air kemasan botol sebagai konsumsi sehari-hari.

Kewaspadaan adanya mikroplastik itu bukan hanya pada kemasan botol plastik. Riset terbaru menunjukkan, selain di botol plastik, mikroplastik terkandung dalam kemasan karton (tetra pak) dan botol kaca yang pembuatannya juga dilapisi kandungan plastik tertentu.

“Sejauh ini keberadaan mikroplastik bukan hanya di air kemasan botol. Di kemasan berkarton, juga ada jika tetra pak (kemasan karton, Red) dilapisi plastik tertentu,” katanya.

Jenis plastik yang banyak dibahas adalah Polyethylene terephthalate (PET). Yakni, plastik yang biasanya dipakai untuk botol air mineral dalam kemasan. Juga, Polypropylene atau Polypropene (PP) untuk tutup botol.

Dosen yang melakukan penelitian dengan judul Penurunan Polutan Air Limbah Menggunakan  Imobilisasi Mikroalga Dan Bakteri (2017-2019) itu menduga mikroplastik tersebut berasal dari tutup botol. Karena beberapa sebab, beberapa partikelnya terurai dan bercampur dengan minuman.

“Yang dikhawatirkan adalah saat ke luar pabrik zero (tidak mengandung mikroplastik, Red). Tapi, saat ke luar, terjadi goncangan atau tersimpan tidak baik sehingga memudahkan plastik rilis (terurai),” ungkap dosen Departemen Biologi UNAIR tersebut.

Nuri –sapaannya– bersaran ke depan pengemasan air mineral harus lebih diperhatikan. ”Entah jenis plastiknya yang tidak terlarut sama air atau ada teknologi tertentu,” imbuhnya.

Waspada

Saat ini menurut Nuri, jumlah kontaminan, zat yang dapat membahayakan kesehatan, berukuran mikro pada air semakin banyak. Hal itu terjadi karena juga kian banyaknya pencemaran air.

Lembaga riset di luar negeri saat ini sudah berfokus pada partikel berukuran mikro, bukan lagi makro. Partikel tersebut tidak mudah terlihat sehingga membutuhkan teknologi yang canggih.

Keberadaan mikroplastik sangat dikhawatirkan karena sifatnya yang mirip logam berat. Nuri mengatakan, perlu adanya kajian lebih lanjut apakah mikroplastik dapat terakumulasi ke dalam tubuh manusia. Dikhawatirkan, partikel ini mengakibatkan risiko munculnya penyakit. Apalagi jika partikel tersebut telah menyangkut di bagian ginjal.

Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T. dosen biologi UNAIR saat berbincang dengan mahasiswa. (Foto: Binti Q. Masruroh)

Lantas, seberapa amankah mikroplastik terhadap tubuh manusia? Nuri mengungkapkan, saat ini WHO (World Health Organization) mengkaji batas aman mikroplastik untuk dikonsumsi manusia. Berkaitan dengan kesehatan manusia, lanjut dia, memang harus dikaji secara detail.

Dari sumber yang lain, melalui BBC, Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menyarankan masyarakat tidak perlu khawatir karena air mineral yang beredar sudah sesuai dengan standar yang berlaku. Dia menambahkan, keberadaan mikroplastik belum ada dalam aturan soal kelayakan pangan. “Perlu ditetapkan oleh lembaga berwenang seperti WHO, FAO, atau Kementerian Kesehatan,” katanya.

Lalu, bagaimana menyikapi air mineral dalam kemasan yang sudah telanjur dikonsumsi masyarakat sehari-hari?

Nuri menuturkan, penting untuk memperhatikan kemasan plastik yang digunakan sebagai tempat penyimpanan minuman. Misalnya, menghindari penyimpanan dalam suhu yang panas. ”Cara penyimpanan juga berpengaruh. Jika penyok, potensi rilis juga lebih besar,” katanya.

Menyimpan air mineral di mobil tidak dianjurkan. Sebab, suhu di dalam mobil panas, apalagi jika parkir di area yang panas. Saat berada di suhu yang tinggi, plastik mudah meriliskan zat-zat. Sangat tidak dianjurkan meminum air kemasan yang lama disimpan di area yang panas.

Berikutnya, waspadai penggunaan botol berulang-ulang. Penggunaan botol berkali-kali juga memiliki potensi bahaya yang lebih tinggi dibanding yang kemasan baru. Kemasan plastik untuk makanan sekali pakai, misalnya, tidak dianjurkan untuk digunakan kembali. Kecuali, kemasan yang memang terbuat dari bahan yang aman jika dipakai berulang-ulang.

“Dari saya, jangan konsumsi air yang ada di kendaraan cukup lama untuk menghindari risikonya. Jangan menggunakan botol kemasan berulang-ulang. Sebab, risiko rilis menjadi lebih tinggi,” tutupnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria Rifai

 




Untuk Anak, Manfaatkan MSG dari Bahan Alami

UNAIR NEWS – Di jaman serba instan seperti sekarang, tampaknya sulit menghindar dari olahan makanan yang mengandung Monosodium glutamat MSG, atau yang lebih akrab disebut micin atau vetsin. Ini yang membuat sebagian para orang tua merasa khawatir ketika memberikan asupan makanan untuk buah hatinya.  Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?

Sebenarnya, MSG tidak hanya ada pada penyedap rasa saja. Beberapa bahan alami yang biasa kita konsumsi sebenarnya juga mengandung MSG. Seperti tomat, keju, susu, ayam, bebek, daging, makarel, salmon , telur, ikan, bayam, kentang, jagung, brokoli, kecap, bahkan daun pandan.

Seperti kita tahu, MSG berguna sebagai penambah cita rasa gurih pada makanan, sehingga menambah nafsu makan. Lalu bagaimana memperkenalkan rasa gurih yang aman bagi anak-anak?

Menurut dokter spesialis anak FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo Dr. Irwanto dr., Sp.A(K), pengenalan rasa gurih melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI) sebenarnya bisa disiasati dengan memanfaatkan kandungan glutamat dari bahan alami. Seperti dari sayuran dan bahan alami lainnya. Misalnya, memanfaatkan gurihnya kaldu ayam dan kaldu daging dalam menyajikan MPASI.

“Bayi berusia enam bulan sudah bisa diperkenalkan sedikit demi sedikit dengan rasa gurih melalui penyajian MPASI. Cara ini efektif supaya anak mengenal rasa tapi nggak sampai berlebihan dan bisa dibatasi,” ungkap peraih penghargaan Global Travel Award oleh Bill nad Melinda Gates Foundation ini.

Meskipun Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) memperbolehkan penggunaan MSG, namun kadar pemakaian tetap harus dibatasi sesuai dengan aturan. Kecuali pada orang-orang yang diketahui alergi, maka perlu menghindari.

Sebenarnya penggunaan garam lebih dulu populer sebelum MSG. Ceritanya, tahun 1996 WHO memperbolehkan penggunaan MSG untuk mengurangi tingkat konsumsi garam yang diketahui cukup tinggi pada saat itu.

“Dulu garam banyak dikonsumsi, akibatnya banyak yang mengalami hipertensi. Untuk menghindari itu, WHO kemudian memperbolehkan MSG digunakan sebagai penyedap rasa. Itu saja sebenarnya,” ungkapnya.

Bicara soal garam dan MSG, tampaknya sulit mengekang kegemaran lidah masyarakat kita yang cenderung menggemari cita rasa masakan yang gurih. Padahal sebenarnya garam lebih berbahaya ketimbang vetsin. Karena MSG diketahui hanya mengandung 30 persen natrium lebih sedikit ketimbang pada garam. Sayangnya sedikit dari kita yang menyadari hal itu.

Kesalahan pada cara memasak tentu sangat mempengaruhi jumlah penggunaan garam. Untuk itu, Irwanto menyarankan sebaiknya pemberian garam dilakukan setelah semua proses memasak berakhir.

“Jadi selama masak jangan dikasih garam dulu, nanti setelah matang baru garamnya dimasukkan. Ini cara paling aman. Selain  kita bisa mengoreksi rasa,  pemakaian garam pun juga akan terkendali,” ungkapnya.

Kontroversi pemakaian MSG sebenarnya telah berlangsung sekitar tahun 1960an. Saat itu, New England Journal of Medicine mengungkap sebuah laporan terkait komplain dari sekelompok orang yang mengeluh pusing dan muntah setelah makan di sebuah restoran chinese food.

Berangkat dari laporan tersebut, sekitar tahun 1970 sejumlah peneliti mulai mengembangkan penelitian chinese food syndrome. Dua kelompok manusia diuji. Sebagian mengonsumsi makanan mengandung MSG, sebagian lain tidak. Ternyata, kelompok yang mengonsumsi makanan mengandung MSG mengalami faringitis atau gangguan tenggorokan, sementara sebagian lain tidak mengeluhkan gejala apapun. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata efek faringitis terjadi karena dampak alergi pada MSG.

FDA menegaskan bahwa reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan karena MSG. Semua tergantung pada tingkat sensivitas tubuh.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya.

Para peneliti sepakat bahwa pemberian MSG pada hewan coba berdampak pada sel saraf serta menyebabkan terjadinya perubahan pada korteks yang terkait pada fungsi kognitif.

Irwanto menekankan, pemberian MSG pada hewan coba memang terbukti membawa efek toksik. Karena sampel dipapar MSG dengan takaran lebih tinggi dari yang biasa dikonsumsi manusia. Namun hasil percobaan pada hewan belum bisa memperkuat dugaan bahwa efek MSG juga sama bahayanya jika dikonsumsi manusia.

Sejauh ini penelitian seputar MSG masih sebatas pada hewan coba, dan belum ada peneliti yang mengaplikasikan pada manusia. Mengingat sampai sejauh ini belum ada laporan kasus yang mendesak para peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut.

“Sejauh ini hanya didapatkan observasi berupa keluhan pusing dan muntah sebagai efek dari chinese food syndrome. Dan itu terjadi karena alergi,” ungkap wisudawan terbaik UNAIR tahun 2013 tersebut.

Bahkan berdasarkan riset baru-baru ini oleh Staging di University of Iowa menyimpulkan bahwa MSG tidak berdampak pada anak yang mengalami hiperaktif atau gangguan perilaku yang lain. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Vetsin Vs ‘Generasi Micin’

UNAIR NEWSBelakangan istilah ‘generasi micin’ begitu populer di masyarakat. Kemunculannya seakan memperkuat persepsi bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan bervetsin dapat mengganggu kualitas berpikir seseorang. Katanya, gara-gara micin otak bisa lemot, oon, kurang tanggap, dan sebagainya. Benarkah micin bikin otak bermasalah?

Dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Dr. Irwanto dr., Sp.A(K) mengatakan bahwa penyebab otak jadi lemot sebenarnya bukan karena micin. Hal ini diperkuat dengan beberapa hasil riset yang telah dikembangkan oleh para peneliti luar negeri.

Sebenarnya, kontroversi penggunaan vetsin atau micin atau Monosodium glutamat (MSG) telah berlangsung sekitar tahun 1960an. Saat itu, New England Journal of Medicine mengungkap sebuah laporan terkait komplain dari sekelompok orang yang mengeluh pusing dan muntah setelah makan di sebuah restoran chinese food.

Berangkat dari laporan tersebut, sekitar tahun 1970 sejumlah peneliti mulai mengembangkan penelitian chinese food syndrome. Dua kelompok manusia diuji. Sebagian mengonsumsi makanan ber-MSG, sebagian lain tidak. Ternyata, kelompok yang mengonsumsi makanan ber-MSG mengalami faringitis atau gangguan tenggorokan, sementara sebagian lain tidak mengeluhkan gejala apapun. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata efek faringitis terjadi karena dampak alergi pada MSG.

Food and Drug Administration (FDA) menegaskan bahwa reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan karena MSG. Semua tergantung pada tingkat sensivitas tubuh.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya.

Untuk memastikan dampak pemakaian Natrium glutamat, penelitian kemudian berlanjut pada hewan coba. Hasilnya, pemberian MSG pada hewan mengakibatkan terjadinya perubahan pada prefrontal korteks dan neuron menjadi lebih sedikit. Kondisi tersebut juga memicu terjadinya neurodegeneratif.

Para peneliti sepakat bahwa pemberian MSG pada hewan coba berdampak pada sel saraf serta menyebabkan terjadinya perubahan pada korteks yang terkait pada fungsi kognitif.

Irwanto menekankan, pemberian MSG pada hewan coba memang terbukti membawa efek toksik. Karena sample dipapar MSG dengan takaran lebih tinggi dari yang biasa dikonsumsi manusia. Namun hasil percobaan pada hewan belum bisa memperkuat dugaan bahwa efek MSG juga sama bahayanya jika dikonsumsi manusia.

Sejauh ini penelitian seputar MSG masih sebatas pada hewan coba, dan belum ada yang mengaplikasikannya pada manusia. Mengingat sampai sejauh ini belum ada laporan kasus yang mendesak para peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut.

“Sejauh ini hanya didapatkan observasi berupa keluhan pusing, muntah sebagai efek dari chinese food syndrome. Dan itu terjadi karena alergi,” ungkapnya.

Sementara itu, William Pardridge, MD dalam bukunya Regulasi Asam Amino di Dalam Otak menuliskan bahwa MSG tidak termasuk ke dalam Blood-brain barrier (BBB) atau unsur yang mampu menembus selaput otak.

Melalui buku tersebut, Irwanto menjelaskan bahwa glutamat tidak akan masuk ke selaput otak. Dalam hal ini tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk menyeimbangkan kadar MSG yang dikonsumsi. Dengan begitu MSG tidak akan sampai berpengaruh ke otak.

“Karena MSG dianggap tidak sampai menembus selaput otak, maka aman dikonsumsi,” tegasnya.

FDA dan WHO telah memastikan bahwa MSG aman dikonsumsi selama dalam batas wajar. Menurut panduan, batas rata-rata konsumsi MSG maksimal 2,5-3,5 gram MSG dengan berat badan 50-70 kg. Atau, setengah sendok teh dari keseluruhan makanan yang dikonsumsi seharian.

Sementara bagi yang alergi MSG, Irwanto menyarankan agar mengurangi jumlah konsumsi makanan ber-MSG. Alergi pada MSG dapat diketahui pada saat seseorang mengalami keluhan berupa pusing mendadak, muntah, rasa panas di leher, lengan, dada, hingga merasa berdebar-debar setelah mengonsumsi makanan ber-MSG. Keluhan semacam itu biasa disebut dengan chinese food syndrome.

Menurutnya, manifestasi alergi bisa datang sewaktu-waktu. Ada yang ketahuan alergi sejak kecil, ketika remaja, atau bahkan setelah dewasa. Tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing.

“Kalau sudah merasakan keluhan seperti itu, maka sebaiknya batasi makanan bervetsin,” ungkapnya.

Setelah mengamati uraian di atas, tampaknya sebutan ’Generasi Micin’ kurang cocok dialamatkan kepada si lemot. Apa mungkin perlu menggantinya dengan istilah lain yang lebih cocok?

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Pria 40 Tahun ke Bawah, Waspadai Penyakit Satu Ini

UNAIR NEWS Kasus kematian mendadak akibat jantung koroner meningkat setiap tahun. Diketahui tidak sedikit pria produktif berusia di bawah 40 tahun yang menjadi sasaran. Fenomena ini jelas menunjukkan adanya pergeseran usia penderita jantung koroner. Dimana usia muda tak menjamin seseorang memiliki kondisi fisik yang prima.

Adanya pergeseran usia penderita jantung koroner ini diakui oleh seorang pakar jantung dan pembuluh darah Fakultas Kedokteran UNAIR – RSUD Dr. Soetomo dr. Andrianto.,Sp.JP.,FIHA. Secara ilmu kedokteran, kematian mendadak akibat jantung koroner tidak terjadi begitu saja tanpa adanya gejala penyerta.

“Jauh sebelumnya tubuh telah mengirim sinyal berupa rasa tidak nyaman di dada. Namun seringkali diabaikan oleh si penderita,”ungkapnya.

Kematian mendadak terjadi ketika seseorang mengalami gangguan irama bilik jantung. Hal ini menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi pompa jantung. Akibatnya, pasokan oksigen ke seluruh organ penting di dalam tubuh mengalami gangguan hebat.

“Kematian mendadak umumnya terjadi setelah seseorang mengalami serangkaian gejala seperti lemas, pingsan, nyeri, sesak, berdebar di bagian kiri dada atau tepat di posisi jantung,” ungkapnya.

Sebetulnya mengabaikan rasa sakit atau tidak nyaman di bagian dada sebelah kiri adalah bentuk kebiasaan yang tidak baik. Seringkali penderita tak menyadari bahwa rasa nyeri pada bagian dada bisa menjadi gejala awal terjadinya jantung koroner.

“Umumnya masyarakat mengira keluhan nyeri dada, lemas, disertai jantung berdebar hanya dianggap sebagai gejala masuk angin atau kecapekan. Akhirnya diabaikan, malah dikerokin. Setelah dikerokin bukanya membaik malah bablas. Jangan disepelekan,” jelasnya.

Jika sejak awal sudah merasakan gejala awal demikian maka Andrianto menyarankan perlu segera diperiksakan ke dokter. Karena seringkali penderita baru dilarikan ke rumah sakit setelah kondisinya parah. Padahal jika bisa terdeteksi sejak awal, maka gejala yang masih ringan sebenarnya dapat segera tertangani.

Dalam mekanisme penanganan kasus jantung koroner, jika terjadi penyumbatan pembuluh darah pada jantung dan tidak segera mendapatkan pertolongan dalam waktu 12 jam, dapat mengakibatkan terjadinya sumbatan pembuluh darah permanen.

“Sebanyak 40 persen penderita jantung koroner meninggal pada empat jam pertama, setelah mengalami serangkaian keluhan nyeri di dada sebelah kiri,” ungkapnya.

Namun jika segera ditangani, maka berpeluang bisa menyelamatkan banyak otot jantung, sehingga kemungkinan pulih lebih besar.

Selain diakibatkan karena jantung koroner, penyebab kematian mendadak lainnya dapat disebabkan karena kelainan irama jantung primer (bawaan), kardiomiopati hipertrofik (penebalan otot jantung bawaan) atau penyakit miokarditis (peradangan otot jantung).

Untuk meminimalisir resiko jantung koroner, maka disarankan kepada para pria berumur 40 tahun keatas dan siapa saja yang memiliki riwayat keluarga penderita jantung koroner untuk memeriksakan kesehatan jantungnya melalui Cardiac general check up. Pemeriksaan satu ini meliputi pemeriksaan darah untuk memastikan kondisi kolesterol dalam darah, tes treatmeal, dan USG jantung.

Selain rutin memeriksakan kondisi kesehatan, penting juga untuk meningkatkan pola hidup sehat. Seperti mengendalikan konsumsi makanan berlemak, serta rutin berolahraga.

Olah raga aerobik menurut Andrianto sangat disarankan khususnya bagi para penderita jantung koroner. Karena gerakan aerobik mampu melatih seseorang mengatur keluar masuknya sirkulasi oksigen dengan gerakan yang ringan. Selain aerobik, olah raga lainnya seperti bersepeda, jogging, lari, dan berenang juga bisa menjadi alternatif olah raga yang menyenangkan.

“Olah raga menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kebugaran. Bagi penderita jantung koroner, olah raga ringan dapat membantu menjaga kebugaran. Dengan frekuensi tidak lebih dari 5-7 kali dalam seminggu, selama tidak lebih 45 menit,” ungkapnya.

Ada banyak faktor pencetus seseorang bisa mengalami jantung koroner. Dapat disebabkan karena stres berlebihan, pola hidup tidak sehat kurang berolahraga, serta berlebihan mengonsumsi makanan mengandung lemak dan kolestrol tinggi.

Jika pria berpotensi besar mengalami jantung koroner, maka sebenarnya perempuan juga rentan dengan risiko penyakit satu ini. Hanya saja, bukan pada perempuan usia produktif, melainkan perempuan berusia 50 tahun keatas atau sudah memasuki masa menopause.

“Perempuan usia produktif lebih diuntungkan karena masih mengalami siklus menstruasi. Selama masih mengalami menstruasi, selama itu pula tubuhnya aktif memproduksi hormon estrogen. Hormon ini yang akan melindungi perempuan dari resiko penyakit jantung maupun gangguan pembuluh darah,” ungkapnya. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Si Perfeksionis Rawan Terkena Kanker

UNAIR NEWS – Pertumbuhan sel kanker memerlukan proses perkembangan yang cukup panjang serta dipengaruhi oleh banyak faktor risiko. Penyebabnya tidak dapat diketahui secara pasti. Bukan hanya disebabkan oleh satu faktor resiko saja, melainkan gabungan dari berbagai stressor.

Sejumlah penelitian menyimpulkan, ternyata ada keterkaitan antara tubuh dengan pikiran. Analoginya, tubuh dan pikiran akan saling berinteraksi sehingga kemudian pikiran ‘menyetir’ kondisi fisik seseorang.

Pakar psikoneuroimunologi  Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga  Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr., MS mengungkapkan bahwa stres ternyata dapat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kanker. Hal tersebut diperkuat dengan adanya penelitian yang mengaitkan antara karakter seseorang dengan risiko kanker yang terjadi.

Dalam penelitian disebutkan bahwa perempuan perfeksionis, cenderung berpotensi lebih besar mengalami kanker payudara dibandingkan dengan perempuan dengan karakter sanguinis atau periang.

Mengapa? karena perempuan yang menuntut segala sesuatunya harus sempurna serta tidak toleran terhadap kekurangan orang lain akan lebih sering mengalami stres berkepanjangan. Lain halnya dengan perempuan dengan karakter sanguinis yang diketahui lebih easy going dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga hampir jarang mengalami stres.

Selain stres, faktor pemicu lainnya bisa berasal dari riwayat keluarga, infeksi virus, paparan bahan kimia, pola hidup dan pola makan yang tidak sehat, serta radiasi.

Untuk itu diperlukan upaya pencegahan. Prof Taat menekankan supaya kita semua senantiasa berpikir positif, bergerak aktif, hindari stres berlebihan, serta menjalani pola hidup yang lebih sehat. Tidak cukup itu saja, kita juga perlu melakukan pencegahan sekunder yakni dengan deteksi dini dan vaksinasi.

“Sekitar 43 persen dari kanker dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan 30 persen dari kanker dapat terdeteksi,” ungkapnya.

Selain menjalankan pola hidup yang sehat, kegiatan keagamaan juga sejatinya mampu mengendalikan emosional seseorang. Sehingga, diharapakan peluang munculnya bibit-bibit sel kanker dapat diminimalisir.

”Mereka yang senantiasa berpikiran positif akan merasakan dampak luar biasa. Selain meningkatkan daya tahan tubuh, berpikir positif juga bisa menurunkan tekanan darah maupun gula darah. Dengan berpikir positif, maka kualitas hidup seseorang akan membaik,” ungkapnya.

Menurutnya, aktivitas dzikir hati dan lisan mampu meningkatkan kecerdasan spiritual seseorang kepada Tuhannya. Sehingga secara otomatis dapat menghasilkan sebuah refleksi tindakan yang positif dan benar. Selama Psikoterapi berbasis keagamaan dilakukan dengan cara yang benar, maka  akan membawa manfaat.

“Sakit yang Tuhan berikan kepada seseorang tidak lain adalah sebuah bentuk kecintaan kepada umat-Nya. Jika kita mau menyadari hal itu, maka kita tidak akan sampai berpikiran negatif, dan memilih untuk pasrah dan ikhlas. Dengan begitu, maka kecerdasan emosionalnya akan semakin membaik,” ungkapnya.

Meskipun belum ada penelitian yang secara jelas membuktikan dampak psikoterapi  yang ditunjukkan dalam bentuk persentase hasil, namun secara kasat mata, psikoterapi banyak membawa perubahan positif pada kehidupan para penderita kanker.

Sebut saja mereka para survivor kanker, yang berusaha melawan sakitnya dengan melakukan metode penyembuhan melalui pendekatan diri kepada Tuhannya.

“Sehari-hari para survivor kanker ini beraktivitas, menjadi relawan, dan terus bersedekah. Banyak dari mereka yang merasa kualitas hidupnya menjadi lebih baik,” ungkap pria yang pernah aktif mengajar ilmu psikoneuroimunologi di FK UNAIR ini. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Obesitas Picu Mikropenis pada Anak

UNAIR NEWS Kelebihan berat badan atau obesitas memang selalu menyisakan banyak problem kesehatan, tak terkecuali obesitas pada anak-anak. Kegemukan sentral pada area perut ternyata dapat memunculkan resiko gangguan pada organ vital.

Dokter Spesialis Andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Dyan Pramesti,dr., M.Kes, Sp.And mengatakan, pertumbuhan organ seks sekunder sangat dipengaruhi oleh hormon testosteron.  Jika terjadi gangguan pada hormon tersebut, makan proses pertumbuhan penis menjadi terhambat. Gangguan hormonal inilah yang diduga meyebabkan terjadinya keterlambatan pertumbuhan penis.

“Dari sejumlah pasien yang saya tangani,  80 persen pasien anak yang obesitas mengalami mikropenis. Hal ini karena kegemukkan memicu terjadinya gangguan hormonal, sehingga menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi hormon testosteron,” ujarnya.

Idealnya ukuran penis bayi baru lahir pada kondisi rileks adalah 3,1-4,7 cm, pada anak umur 1 tahun 3,9-5,6 cm, dan usia 5 tahun adalah 4-5 cm. Penis yang kurang dari ukuran normal disebut penis kecil dan belum memerlukan terapi hormon. Sementara, jika ukurannya kurang dari 2,5 cm lebih dari rentang ukuran normal, maka kondisi ini disebut mikropenis sehingga perlu diupayakan terapi hormon.

Menurutnya, kasus mikropenis pada anak kegemukan sebenarnya dapat ditangani melalui terapi hormon  HCG. Meski begitu, para orang tua patut waspada ketika anaknya mengalami obesitas, serta berupaya membantu anak mengendalikan berat badan.

“Jika tidak segera diketahui dan ditangani, akan berisiko mengalami mikropenis hingga dewasa,” ungkapnya.

Melalui serangkaian tes dan terapi hormon testosteron dari luar berupa HCG, akan memicu testis memproduksi testosteron. Terapi tersebut akan berdampak pada perubahan ukuran penis menjadi lebih besar, meningkatkan kualitas pembentukan sel benih hingga memperbaiki fungsi reproduksi.

Terapi hormon akan efektif apabila dilakukan sebelum anak memasuki usia pubertas. Dan sebaiknya, dilakukan sebelum anak memasuki akil balig atau maksimal ketika anak berumur 12 tahun.

“Oleh karena itu harus diperbaiki kadar hormon di dalamnya. Untuk ketepatan diagnosis, ukuran penis harus dipastikan dengan teknik pengukuran yang benar,” tambahnya.

Kaitan antara mikropenis dengan kualitas kesuburan tentu berbeda. Kualitas kesuburan lebih identik dengan kualitas  testis (zakar).

“Bukan berarti yang mikropenis itu tidak subur. Hanya saja, anak dengan mikropenis memiliki zakar yang tidak turun. Akibatnya dapat  berisiko mengalami gangguan kesuburan,” ungkapnya.

Sebelum menentukan pengobatan, dokter andrologi terlebih dahulu akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada alat vital si anak, serta menentukan perlu tidaknya terapi.

Strecthed Penile Length (SPL) adalah standar pengukuran penis menggunakan penggaris yang kaku atau spatula kayu. Selain mengukur panjang penis, evaluasi secara menyeluruh juga dilakukan mulai dari memeriksa kondisi anatomi penis, skrotum, dan testis.

Selain melihat kondisi penis, diperiksa pula kondisi zakarnya. Karena pada kasus mikropenis, umumnya disertai dengan kondisi ukuran zakar yang kecil, zakar tidak turun, atau lubang kencing tidak pada tempatnya (hypospadia). Kondisi tersebut menandakan terhambatnya pertumbuhan bagian terpenting dari organ reproduksi.

Jika terdiagnosa mikropenis, dokter akan memberikan terapi injeksi hormon testosteron secara berkala dan dosis yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain itu, dokter juga akan menyarankan kepada pasien untuk menurunkan berat badan.

Jika mikropenis akibat obesitas, maka masih bisa diatasi. Namun jika diakibatkan karena kelainan kromosom seks atau kelainan klinefelter syndrome, maka tidak menutup kemungkinan dapat menurun secara genetik.

Seperti diketahui, klinefelter syndrome adalah kelainan genetik pada laki-laki yang disebabkan karena kelebihan kromosom X. Laki-laki normal memiliki kromosom seks berupa XY, sementara penderita klinefelter syndrome umumnya memiliki kromosom seks XXY. Penderita klinefelter syndrome akan berpotensi mengalami kemandulan dan menurun secara genetik. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha
Editor: Binti Q. Masruroh




Terapi Non Obat Dengan Memperbanyak Tobat

UNAIR NEWS – Tidak mudah menjalani kehidupan sebagaimana para penderita kanker pada umumnya. Untuk bertahan, mereka harus rutin mengonsumsi obat dan menjalani terapi yang melelahkan. Namun seiring berjalannya waktu, paradigma pengobatan kanker kini mulai bergeser pada metode pengendalian stres  berbasis psikoterapi.

Keberhasilan diagnosis dan pemberian obat ternyata tidak cukup untuk meningkatkan kualitas hidup penderita kanker. Ada komponen lain yang diketahui sangat berpengaruh dalam mendukung kesembuhan diri seseorang. Yakni dengan memperhatikan respon biologis tubuh.

Pendiri Perhimpunan Psikoneuroimunologi Indonesia (PPNII) Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr., MS berangggapan, penting untuk memasukkan komponen psikoterapi kedalam metode penyembuhan kanker. Yakni, dengan jalan menyeimbangkan pemberian obat dengan psikoterapi.

Menurutnya, apa yang ada di pikiran sangat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang. “Respon tubuh penderita sebenarnya cerminan dari pola pikirnya sendiri. Tergantung seberapa besar motivasinya untuk sembuh. Semakin ia berontak, semakin tidak ikhlas menerima sakitnya, maka semakin buruk kondisi fisiknya,” jelasnya.

Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa ketika penderita kanker terlalu stres, maka daya tahan tubuh berangsur menurun. Tanpa disadari pergolakan batin ini akan meningkatkan jumlah sel kanker sehingga memperparah kondisi penyakitnya. Kondisi ini mengakibatkan tubuh sulit menerima bentuk terapi apapun, sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk penyembuhan.

Lain halnya ketika penderita kanker memilih untuk senantiasa berpikiran positif, ikhlas, serta menyibukkan diri dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Dengan sikap demikian maka dampaknya daya tahan tubuh akan semakin membaik.

“Respon ini dapat menekan laju pertumbuhan sel kanker, sekalipun tidak mudah membunuh sepenuhnya sel-sel kanker,” ungkapnya.

Menurut Prof Taat, ketakutan dan frustasi di benak penderita kanker merupakan sebuah bentuk respon yang wajar. Ketika lambat laun kanker mulai menggerogoti kehidupan seseorang, maka perlu waktu baginya untuk  bisa ikhlas menerima.

“Jika stressor dapat segera diterima dengan cara yang positif, maka dampak kedepannya akan jauh lebih baik. Contohnya seperti para survivor kanker. Dengan mengikhlaskan diri, kehidupan mereka justru menjadi lebih baik, ” ungkapnya.

Dari tahun ke tahun, penderita kanker di Indonesia semakin meningkat. Hal ini seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Riskesdas) 2013 mencatat, jumlah populasi penderita kanker sekitar 6 persen dari total penduduk. Sementara prevalensi penderita kanker di Indonesia mencapai 1,4 per 1.000 penduduk.

Seiring perkembangan teknologi kedokteran, metode terapi bagi penderita kanker terus berkembang. Mulai dari terapi radiasi hingga menggunakan metode pengobatan khusus untuk melawan sel kanker.

Namun, sebuah penelitian yang menggali potensi terapi kanker menunjukkan hasil yang mengejutkan.  Dalam penelitian itu disebutkan, respon pengobatan kanker lebih ditujukan untuk membunuh sel kanker, meskipun telah diupayakan cara untuk mengurangi efek samping terhadap sel yang normal.

Pengobatan kombinasi yang selama ini diberikan untuk penderita kanker diketahui hanya membunuh sel kanker dewasa. Sementara sel punca kanker masih bertahan di dalam tubuh. Artinya, hasil akhir terapi sebenarnya masih berpeluang meninggalkan bibit kanker yang lebih ganas dibanding sel kanker dewasa yang mati lebih cepat karena pengaruh terapi.

Prof Taat menilai, pengobatan konvensional tidak sepenuhnya menjamin kesembuhan. Walaupun belum ada penelitian yang menyimpulkan seberapa besar pengaruh psikoterapi dalam menurunkan jumlah sel kanker, namun pengobatan medis perlu diimbangi dengan tindakan psikoterapi. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Hobi Makan Ikan Asin? Hati-hati!

UNAIR NEWS Menikmati sepiring nasi hangat dengan sambal terasi dan ikan asin memang bikin nagih. Namun di balik gurihnya ikan yang diawetkan ini kita sepatutnya tidak berlebihan dalam mengonsumsinya. Mengapa? Karena ikan asin disebut-sebut sebagai salah satu jenis makanan pemicu Kanker Nasofaring (KNF).

Selain ikan asin, jenis olahan ikan lain seperti ikan asap maupun jenis ikan berpengawet lainnya dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Seperti disampaikan oleh Achmad Chusnu Romdhoni, dr., SpTHT-KL (K) bahwa adanya kandungan bahan kimia dan pengawet pada olahan ikan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya mutasi sel dalam tubuh. Terlebih lagi proses pengawetan ikan dengan cara diasinkan, diasap atau dimasak menggunakan kayu bakar akan merubah kandungan protein di dalam ikan menjadi unsur yang berbahaya

“Apabila tubuh tidak mampu memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh mutasi sel tersebut, maka sel menjadi tidak terkendali, kondisi itu memicu terjadinya tumor,” ujarnya.

Tren penderita KNF diprediksi meningkat setiap tahun. Surabaya menjadi wilayah endemis tertinggi se-Jawa Timur. Hal ini ditengarai karena pengobatan KNF yang dinilai tidak tuntas, sehingga menyebabkan peningkatan kasus. Bukan lantaran biaya pengobatan yang mahal, melainkan disebabkan karena adanya stem sel kanker sebagai faktor penghambat proses penyembuhan. Fakta ini berhasil ia buktikan melalui penelitiannya.

Pria kelahiran September 1976 ini tergelitik meneliti fenomena itu lantaran penasaran dengan hasil terapi penderita KNF yang sejauh ini dinilai tidak pernah optimal.

Secara teoritis stem cell (sel punca) kanker ada di semua jenis kanker. Sel punca kanker ini merupakan bagian dari tumor yang sifatnya mirip dengan sel punca normal. Sel punca kanker bisa membelah diri, memperbanyak diri, dan berubah menjadi sel dewasa.

Melalui penelitiannya, Dosen Departemen/SMF Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran UNAIR- RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini membuktikan bahwa stem cell kanker bersifat kebal atau resisten terhadap pengobatan dengan kemoterapi cisplatin. Itu artinya, pada proses pengobatan, tumor ganas atau kanker tidak akan maksimal karena terhambat oleh stem cell kanker yang sulit dieliminasi.

Menurutnya, penanganan kanker satu ini tidak cukup hanya dengan obat dan melakukan terapi radiasi maupun kemoterapi. Untuk memaksimalkan pengobatan, diperlukan terapi kombinasi untuk mengeliminasi sel kanker.

“Walaupun pasien telah menjalani terapi radiasi, kemoterapi, bahkan mengonsumsi obat terbaik sekalipun ternyata  masih ditemukan adanya residu berupa sisa tumor,” ungkapnya.

Apa gejalanya?

KNF adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Gejala klinisnya bervariasi, tergantung tingkat keparahan. Umumnya, penderita baru memeriksakan diri ketika sudah mengalami benjolan di bagian samping leher, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kesulitan menelan, hingga mimisan.

Seringkali penderita KNF mengeluh sakit di bagian telinga dan mengalami pilek bercampur darah. Ini terjadi karena letak kanker yang tersembunyi, tepatnya berada dekat dengan bagian otak. Sebagai dampak lanjut, terjadi pula benjolan pada leher, gangguan syaraf pusat otak, hingga sakit kepala berkepanjangan.

Stem sel kanker dengan stem sel normal sama-sama dihasilkan dari sum-sum tulang (bone marrow). Yang membedakan adalah  stem sel normal tidak mengalami mutasi. Berbeda dengan stem sel kanker, stem sel ini secara genetik menyebabkan kanker. Ketika stem cell kanker bermutasi, maka akan sangat berpotensi menjadi tumor ganas.

“Sejumlah literatur menyebutkan sisa tumor itu diduga merupakan stem cell kanker. Sehingga segala bentuk pengobatan yang diberikan tidak mempan dalam melumpuhkan ganasnya sel kanker. Parahnya, stem sel itu justru kambuh sehingga membentuk kanker baru, dan itu sudah terbukti benar,” jelasnya.

Di Indonesia, kasus KNF terbilang cukup tinggi. Di negara manapun, 80 persen penderitanya datang dengan kondisi akut sehingga menyulitkan proses penyembuhan.

Romdhoni merasa perlu digalakkannya program skrining untuk deteksi dini sekaligus sosialisasi kepada petugas kesehatan di puskesmas dan masyarakat, seperti nelayan, para pekerja di tempat pembakaran gerabah, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan industri.

Adanya faktor pemicu yang lain

Selain faktor makanan, faktor lingkungan seperti rokok, resiko bekerja di lingkungan industri dan penuh asap juga menjadi faktor pemicu. Namun ada lagi faktor pemicu lain yang justru lebih ditakuti dan sulit dihindari, yakni ancaman penyebaran virus Ebstein Barr (EBV) serta faktor genetik (ras mongoloid).

“Di negara manapun termasuk Indonesia sulit untuk terhindar dari resiko infeksi virus EBV. Itu karena 90 persen populasi serologinya positif,” ujarnya.

Untuk bisa mencapai status KNF stadium lanjut, tidak ada batasan waktu. Semua tergantung dari keganasan tumor itu sendiri. Jika pertumbuhannya cepat, maka rentan waktu untuk mencapai keganasan lebih cepat.

”Jika pertumbuhan virus cepat maka estimasi waktu sekitar tiga bulan untuk menjadi KNS stadium awal. kondisi tersebut bisa diperparah jika sering terpapar dengan faktor pemicu lainnya. Pertumbuhan sel tumor akan lebih cepat menjadi  kanker,” ujarnya.

Potensi terserang KNF memerlukan adanya kombinasi dari tiga faktor diatas. Jika faktor virus dan genetik tidak dapat dihindari, maka yang bisa ditekan adalah faktor risiko dari karsinogen lingkungan, antara lain dari makanan berpengawet dan rokok.

“Penting bagi kita untuk menghindari konsumsi makanan berpengawet, mengurangi konsumsi ikan asin, menghidari rokok, dan meningkatkan pola hidup sehat,” ungkapnya. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh




Menjemur ‘Bayi Kuning’, Efektifkah?

UNAIR NEWS Aktivitas menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi tampaknya sudah menjadi tradisi. Masyarakat percaya cara ini mampu mengatasi gejala kuning yang kerap dialami bayi baru lahir. Terlepas dari benar tidaknya hal tersebut, sebenarnya penanganan gejala kuning pada bayi harus tepat. Jika salah, maka bisa mengancam keselamatan bayi.

Bayi kuning atau dalam istilah medis disebut Hiperbilirubinemia adalah suatu gejala klinis yang sering dijumpai pada bayi baru lahir berusia 1-2 minggu. Dokter anak FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo Agus Haryanto,dr.,SpA(K) mengungkapkan Hiperbilirubinemia yang masih terbilang wajar sebenarnya dapat diatasi dengan terapi sinar matahari. Sementara jika Hiperbilirubinemia tergolong akut, maka perlu dilakukan foto terapi.

Menjemur bayi di bawah sinar matahari sebenarnya tidak direkomendasikan oleh kalangan dokter anak. Mengingat bilirubin diproduksi dari pemecahan sel darah merah dan sifatnya tidak mudah larut dalam air, maka diperlukan paparan cahaya yang cukup lama dan konstan agar dapat melarutkan kadar bilirubin yang berlebihan di dalam tubuh.

“Jarak matahari dengan kita kan jauh, sementara menjemur bayi paling lama 15 sampai satu jam saja. Beda dengan foto terapi yang memiliki panjang gelombang tertentu sehingga proses terapi menurunkan kadar bilirubin menjadi lebih efektif, efisien, dan optimal,” ungkapnya.

Aktivitas menjemur bayi baru lahir sebenarnya bertujuan untuk menghangatkan tubuh serta merangsang bayi supaya haus. Ketika haus, bayi akan cenderung minum susu lebih banyak.

Protein yang terkandung di dalam susu terlebih lagi ASI akan mengikat bilirubin, kemudian dibawa ke liver dan dibuang melalui tinja dan air seni. Selama proses tersebut berlangsung, maka dalam kurun waktu beberapa hari kadar bilirubin dalam tubuh akan kembali normal.

“Gejala Hiperbilirubinemia paling ringan ditandai dengan ciri malas minum dan terjadi penurunan berat badan lebih dari 10 persen,” ujarnya.

Walaupun masyarakat menganggap bayi kuning adalah hal wajar, namun tidak semua bayi kuning dianggap normal. Menurut Agus, jika kadar bilirubin terlalu tinggi sementara tidak mendapat penanganan yang tepat, maka dapat memicu terjadinya kernikterus atau komplikasi berat. Dampak dari komplikasi ini  dapat mengganggu sistem saraf otak secara permanen.

Dunia medis mengenal kernikterus sebagai suatu komplikasi berat dari Hiperbilirubinemia, dimana kadar bilirubin di dalam tubuh bayi (kadar bilirubin darah > 20 mg/dl) yang bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada saraf otak secara permanen.

Sebagai salah satu rumah sakit pusat rujukan nasional, RSUD Dr. Soetomo telah merawat lebih dari 450 bayi dengan Hiperbilirubinemia di tahun 2016, sementara 6-8 kasus di antaranya mengalami kemikterus.

“Jika sampai terjadi keracunan di otak, maka 5-10 persen kemungkinan bisa mengalami cacat otak permanen,” ujarnya.

Agus menjelaskan, jika diketahui bayi mengalami Hiperbilirubinemia stadium dua disertai demam dan kejang, maka 90 persen berpotensi meninggal. Sementara jika masih bisa diselamatkan, maka diupayakan tindakan transfusi tukar golongan darah.

“Cara ini dapat membantu bayi tetap survive, tapi 10 persen beresiko cacat,” ungkapnya.

Sayangnya, hingga kini belum ada data akurat mengenai besaran kasus Hiperbilirubinemia di Indonesia. Namun Agus meyakini, kasus Hiperbilirubinemia di Indonesia seperti fenomena gunung es. Karena dianggap sebagai hal wajar oleh masyaraktat, akibatnya gejala bayi dengan Hiperbilirubinemia akut seringkali terabaikan.

“Ketepatan diagnosis dan penanganan Hiperbilirubinemia akan sangat memengaruhi tumbuh kembang bayi di tahap selanjutnya,” ujarnya.  (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Binti Q. Masruroh