Perisai Diri yang Tak Lelah Berprestasi

UNAIR NEWS – Seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UNAIR tidak pernah kehabisan semangat buat berprestasi. Termasuk, dari divisi beladiri, Perisai Diri (PD).

UKM ini meraih predikat membanggakan belum lama ini. Yakni, dalam event Kejuaraan Nasional Silat Perisai Diri ke XXVI yg bertempat di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya tgl 27 september sampai 02 oktober 2017. Dalam event tadi, PD berhasil membawa pulang satu emas, tiga perak, dan dua perunggu. Sedangkan dalam perhelatan Perisai Diri International Championship IX di Malang yang ditutup pada 2 November lalu, ksatria Airlangga sukses membawa dua perak dan satu perunggu.

Selama ini, UKM beladiri menjadi salah satu wadah berekspresi para mahasiswa. Tak hanya melatih fisik, beladiri juga mengajarkan para penghayatnya untuk disiplin, berkomitmen, dan pantang menyerah.

Nilai-nilai positif itu menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya, saat latihan. Namun, di semua kesempatan beraktifitas.

“Semoga ke depan, lebih banyak medali yg disumbangkan untuk UNAIR,” papar Ketua PD Yaniar Sari Ramadhani.

Yang menarik, keikutsertaan dalam turnamen atau pertandingan, imbuhnya, dapat menambah kedekatan antar anggota. Frekuensi latihan yang makin sering dan atmosfer yang membuat anggota-anggota saling butuh semangat adalah penyebabnya.

“Latihan harus serius dan saling menguatkan. Jangan lupa berdoa,” urai dia.

Yang tak kalah penting, menumbuhkan motivasi diri untuk siap bersaing dan bertanding. Tanpa itu semua, latihan tidak akan membuahkan hasil optimal.

Biasanya, latihan PD dilaksanakan seminggu dua kali. Namun, bila menjelang ikut kejuaraan, mereka berlatih enam kali seminggu, selama sebulan penuh sebelum bertanding. (*)




“Teaching Generation”, Film UNAIR yang Raih Penghargaan Video Kreatif Internasional

UNAIR NEWS – Di tengah kompetisi perguruan tinggi pada era global yang kian bersaing, Universitas Airlangga (UNAIR) mendapatkan penghargaan trofi perak untuk kategori video institusi paling kreatif tingkat internasional. Penghargaan itu disampaikan dalam event 13th QS-Apple Creative Awards 2017, di Taichung, Taiwan, 22 November 2017.

Video yang diproduksi oleh Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR itu berjudul “Teaching Generation”. Mengambil scene di beberapa lokasi di Surabaya, film itu mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Apalagi, saat pemberian penghargaan, ada tiga Wakil Rektor serta beberapa pimpinan dan staf utusan kerjasama luar negeri kampus ini yang hadir di sana.

Suko Widodo selaku Ketua PIH tak menyangka film berdurasi 4.30 menit itu bakal mendapat apresiasi tinggi hingga meraih penghargaan. Pasalnya, film diproduksi dalam rentan waktu yang cukup pendek. Pun, pesaing berasal dari berbagai negara, bukan hanya Indonesia.

“Pada awalnya tidak yakin menang. Karena kami buat dengan waktu yang relatif pendek. Kami juga harus riset untuk menggambarkan sejarah UNAIR dari masa ke masa,” ucap Suko.

“Bersyukur, awards ini memicu kami untuk berkarya lebih baik. Ini pengakuan yang membanggakan,” imbuhnya.

Terinspirasi dari perjalanan panjang UNAIR

“Teaching Generation” berkisah tentang perjalanan empat generasi keluarga yang semuanya kuliah di kampus Airlangga. Keempat pemeran utamanya, Suroso, Sri, Jono, dan Selly, adalah keluarga dari empat generasi yang kuliah di fakultas berbeda di UNAIR.

Ialah Redo Nomadore, sutradara pembuat “Teaching Generation”, alumnus Prodi Hubungan Internasional FISIP UNAIR. Redo tak menyangka, karyanya mendapat sambutan yang positif.

Project video heritage ini adalah salah satu project yang paling menantang yang pernah saya handle. Proses produksinya sangat seru dan kita banyak mengeksplorasi lokasi-lokasi bersejarah di Surabaya untuk mendapatkan set yang tepat,” ujar Redo.

Piala Silver yang didapat UNAIR atas Film “Teaching Generation”. (Dok. Pribadi)

Pada mulanya, Redo mendapat inspirasi dari perjalanan panjang UNAIR dalam memajukan pendidikan. Sejak tahun 1913, bermula dari cikal bakal UNAIR yang berada di Fakultas Kedokteran, kampus ini telah bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang terus berkembang sesuai tuntutan zaman.

Beberapa lokasi yang menjadi scene film antara lain rumah tua di Dinoyo; Jalan Gula, Surabaya Utara; Tugu Pahlawan dan sekitarnya; bilangan Jalan Rajawali; serta tentu, Kampus A UNAIR sebagai icon. Dalam mengekplorasi ide sebelum memproduksi sebuah film, riset menjadi hal wajib. Begitupula ketika Redo menggarap “Teaching Generation”.

“Kami coba sepresisi mungkin sampai riset seragam PETA, seragam tentara belanda zaman itu, seragam tentara jepang zaman itu, model radio zaman itu, style fashion di setiap zaman, dan banyak lagi,” ungkapnya.

Empat Zaman

Keempat tokoh dalam “Teaching Generation” dibantu belasan tokoh pemeran yang lain, bercerita dari empat zaman yang berbeda. Pertama, zaman penjajahan, yakni tahun 1924 ketika cikal bakal UNAIR masih berupa sekolah kedokteran NIAS. Scene zaman kedua adalah tahun 1945, zaman ketika Indonesia merdeka. Ketiga, tahun 80’an, zaman ketika dari berbagai sumber, UNAIR sedang banyak melakukan pembangunan. Dan keempat, scene sekarang, tahun 2017.

Redo, yang sebelumnya banyak memproduksi film-film konseptual dan deskriptif itu, mengaku gembira, film buatannya meraih penghargaan video institusi paling kreatif dan mengalahkan video-video dari beragam perguruan tinggi.

Atas penghargaan yang telah diterima, ia mengucapkan banyak terimakasih kepada berbagai pihak yang turut serta dalam menyelesaikan film.

“Terimakasih banyak untuk UNAIR yang sudah memberi arahan dan memberi keleluasaan pada saya dan tim HINTERHOV untuk mengeksplorasi ide. Juga pada seluruh Tim PIH UNAIR yang telah banyak mendukung pada setiap prosesnya,” terang Redo. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Rio F. Rachman

Film “Teaching Generation”




BEM Gelar Seminar Nasional dan Peluncuran Buku

BEM UNAIR ADAKAN SEMINAR TENTANG GERAKAN MAHASISWA DAN LAUNCHING BUKU “DARI AIRLANGGA BERGERAK UNTUK INDONESIA”

Gerakan mahasiswa hari ini dipandang dilematis, satu sisi mereka terhegemoni oleh perasaan heroik sejarah gerakan mahasiswa dahulu, seperti demontrasi 98. Di sisi lain, tuntutan peran dan konteks mahasiswa hari ini berbeda jika harus disamakan dengan gerakan mahasiswa seperti masa-masa sebelumnya. Sebagai upaya awal untuk membaca dan berusaha merumuskan gerakan mahasiswa yang ideal tersebut, BEM UNAIR 2017 melalui Kementerian Sosial dan Politik mengadakan Seminar Nasional dan Launching Buku bertemakan “Arah Gerak Mahasiswa Pasca Reformasi 98” yang bertempat di Aula Amerta Gedung Manajemen UNAIR Kampus C, Sabtu (18/11).

Seminar tersebut mengundang beberapa pembicara, yaitu Adian Napitupulu, selaku mantan aktifis yang hari ini menjabat sebagai anggota DPR-RI, Aribowo, Dosen FISIP UNAIR, dan dipandu oleh Linggar Rama Dian, Dosen FISIP UNAIR selaku moderator. Sebelumnya, dijadwalkan politisi kawakan Fahri Hamzah turut hadir dalam diskusi tersebut. Namun sayangnya, ketika hari H, yang bersangkutan melalui asisten pribadinya menyatakan tidak bisa hadir.

Dalam pemaparan awalnya, Aribowo lebih banyak berbicara tentang gerakan mahasiswa dari tinjauan teoritis historis, “Gerakan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari konteks teori modernis yang berkembang,” urai dia.

Dilanjutkan pria yang pernah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya ini, apa yang harus dilawan mahasiswa hari ini adalah potensi kecenderungan pemerintah yang terkesan otoritarinisme dalam merespon berbagai persoalan dewasa ini, seperti mengadukan pembuat meme ketua DPR ke jalur hukum.

Para pembicara menyuguhkan bahasan menarik

Pada sesi selanjutnya, Adian Napitupulu berpendapat bahwa dia tidak setuju ketika dikatakan pemerintah hari ini dicap otoriratianisme. Hal tersebut harus diuji dengan data-data di lapangan yang kuat serta memperjelas indikator apa yang digunakan untuk menilai. Dalam pembacaan arah gerakan mahasiswa, Adian lebih banyak menitikberatkan isu apa yang diangkat, bukan pada cara yang dipakai. “Gerakan mahasiswa hari ini jangan plagiat gerakan mahasiswa 98, oh, dulu presiden diturinin, sekarang Jokowi turunin juga. Itu logika yang keliru”, ujar anggota DPR Komisi VII tersebut.

Seminar tersebut ditutup dengan launching buku dari Kementerian Sosial Politik BEM UNAIR 2017. Buku yang berjudul “Dari Airlangga Bergerak untuk Indonesia” tersebut merupakan kumpulan kajian yang telah diselenggarakan Kementerian Sospol BEM UNAIR 2017 serta opini mahasiswa UNAIR. Di dalamnya memuat banyak topik yang diperbincangkan, mulai dari isu pembubaran HTI, Hak Angket DPR kepada KPK, tentang kasus Hukum Setyo Novanto, isu-isu kesehatan, arah gerak mahasiswa dan lain-lain.

“Buku ini sebagai wujud gerakan literasi yang dikembangkan BEM UNAIR dalam mengkaji-kaji isu dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa. Ini adalah upaya publikasi bahwa gerakan apapun yang dilakukan BEM UNAIR memiliki landasan kajian yang bisa dipertanggungjawabkan” tutur Dian Dwi Jayanto, Menteri Sosial dan Politik BEM UNAIR 2017. (*)

Penulis: Tim BEM UNAIR

Editor: Rio F. Rachman




Mahasiswa FKM Raih Award Kesehatan PT Astra

UNAIR NEWS – Mahasiswa S-2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) mendapatkan award dari PT Astra Internasional Tbk. Ialah Ronaldus Asto Dadut, yang mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Awards tahun 2017, pada 18 Oktober, di kantor pusat Astra, Jakarta.

Asto mendapatkan award bidang kesehatan lantaran prestasinya yang sebagai perintis dan pengembang sebuah komunitas di Sumba. Komunitas itu bernama Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan Sumba atau yang akrab disebut Kamunitas J-RUK Sumba.

PT Astra Internasional Tbk memberikan award kepada tujuh pemenang terpilih. Mereka masing-masing mewakili bidang pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, kesehatan, teknologi, dan satu kelompok.

“Saya sebetulnya juga tidak tahu alasan bisa terpilih di bidang kesehatan. Padahal, kegiatan kami di Komunitas J-RUK Sumba bukan hanya bidang kesehatan,” kata Asto.

Tujuh pemenang itu telah berhasil mengalahkan sejumlah 3.432 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebelum ditetapkan sebagai penerima award, Asto bersama 12 finalis lain diundang ke Jakarta untuk presentasi terkait kegiatannya di Komunitas J-ruk Sumba serta visi misinya terhadap komunitas itu.

Mendirikan komunitas

Asto, laki-laki kelahiran Waitabula, Sumba Barat Daya, 20 Maret 1992, telah merintis Komunitas J-RUK Sumba sejak tahun 2014 silam. Dalam perjalanannya, banyak kegiatan yang dilakukan Asto dan teman-teman di komunitas J-ruk Sumba.

Berbagai kegiatan itu meliputi edukasi preventif tentang bahaya human trafficking (perdagangan manusia) dan pendampingan korban, edukasi preventif tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), membantu anak-anak untuk dapat pelayanan kesehatan, gerakan literasi, serta masih aneka kegiatan sosial lainnya.

“Saya bersama teman-teman merintis komunitas ini karena tahun itu masalah perdagangan manusia di NTT cukup tinggi, khususnya di Pulau Sumba. Sehingga, kami mencoba mengambil peran dengan melakukan kegiatan edukasi sosialisasi preventif tentang bahaya human trafficking,” ujar Asto.

Selain itu, Asto mendirikan komunitas karena ingin memiliki wadah bagi anak muda menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik.

Pemilihan penerima awards 2017 ini melibatkan panelis dari PT Astra International Tbk dan Tempo Media Group. Juga, lima panelis ternama. Mereka adalah Menteri Kesehatan RI Prof Nila Moeloek, Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Indonesia Prof Dr. Emil Salim, Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prof Fasli Jalal, Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan Tri Mumpuni, Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo, Komisaris PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti, Head of Public Division PT Astra Internasional Tbk Yulian Warman, dan Riza Deliansyah dari PT Astra Internasional Tbk. (*)

Penulis  : Binti Q. Masruroh

Editor    : Rio F. Rachman




Menguatkan Persaudaraan Lewat Exmo Club

UNAIR NEWS – Exmo Club (Exmo adalah akronim dari Excellence with Morality) adalah wadah pembinaan mental spiritual yang digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) UNAIR. Di dalamnya, dilakukan aktitas berupa pertemuan secara rutin dengan difasilitasi seorang mentor.

Program Exmo Club ini dapat memberikan kesan mendalam. Artinya, kegiatan tersebut dapat membuat peserta kegiatan lebih konsisten dalam menjalankan ibadah. Hal-hal yang disampaikan secara rutin, bisa merasuk ke dalam sanubari, dan ilmu yang diperoleh bisa dengan tulus diimplementasikan.

Pertemuan Exmo Club diadakan untuk menjaga kondisi ruhiyah tiap anggota dengan saling mengingatkan untuk giat beribadah. Selain mempelajari hal-hal terkait keislaman, anggota kelompok pun dapat sharing tentang kesehariannya baik kehidupan akademik di kampus maupun permasalahan pribadi. Dengan lingkungan yang sangat peduli itu, timbul kesan mendalam dan memererat persaudaraan.

“Exmo Club membuat para anggota menjadi lebih dekat dan bisa saling tolong-menolong,” ungkap Affan Muhammad Andalan, ketua UKMKI UNAIR.

Harapannya, UKMKI dapat menjadi lembaga dakwah kampus yang semakin istiqamah menyebarkan nilai-nilai Islam dan melayani seluruh elemen di kampus dengan mengedepankan ukhuwah (persaudaraan). Juga, profesional dalam berkegiatan dengan tetap mengutamakan esensi keislaman di tiap-tiap programnya. Dengan itu, kerja-kerja “mencerdaskan yang saleh dan mensalehkan yang cerdas” akan semakin progresif.

Yang tak kalah menarik, UKMKI juga kerap mengikuti sejumlah program di luar kampus. Maksudnya, UKM ini berpartisipasi dalam event di level lokal, regional, bahkan nasional.

Misalnya, berpartisipasi dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Surabaya Raya dan di tingkat nasional, turut serta menghadiri Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional ke-XVIII di Pekanbaru, pada bulan Mei lalu. Selain itu, UKMKI UNAIR kini menjadi salah satu Lembaga Dakwah Kampus yang masuk dalam kategori mandiri sehingga memiliki beberapa Lembaga Dakwah Kampus dampingan yang secara bergantian kami kunjungi untuk memantau dan membantu pengembangan organisasi di kampus tersebut (wilayah Surabaya Raya).

Di lini keilmuan, UKMKI UNAIR juga menjadi mitra Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia – Klaster Mahasiswa (MITI-KM) yang rutin mengadakan pertemuan-pertemuan dan seminar. “Yang baru saja kami ikuti bulan lalu bertempat di Universitas Trunojoyo Madura,” tambah Affan.

UKMKI UNAIR juga rutin diundang dalam kegiatan Mudzakarah Da’i. Yakni, pertemuan para da’i dari berbagai organisasi Islam yang membahas isu-isu strategis keumatan. Diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur. (*)




Semarak Malam Puncak Grand Final Duta Psikologi UNAIR 2017

UNAIR NEWS – Malam Puncak Grand Final Duta Psikologi UNAIR 2017 yang dilaksanakan di halaman Fakultas Psikologi UNAIR pada Rabu malam (18/10) berlangsung meriah. Kemeriahan berasal dari antusiasme yang besar dari keluarga besar Fakultas Psikologi UNAIR yang memadati halaman depan Fakultas Psikologi UNAIR sejak 30 menit sebelum acara dimulai.

Selain itu, hadir pula pimpinan Fakultas Psikologi UNAIR, keluarga finalis Duta Psikologi UNAIR, dan juga perwakilan duta UNAIR 2016. Acara dimulai dengan penampilan tari Puspanjali yang kemudian dilanjutkan dengan penampilan dari ke-13 finalis Duta Psikologi UNAIR 2017.

Dekan Fakultas Psikologi Dr. Nurul Hartini, M.Kes., Psikolog dalam sambutannnya sekaligus membuka secara resmi acara tersebut mengatakan, dengan adanya Duta Psikologi UNAIR, nantinya diharapkan akan mejadi ujung tombak fakultas Psikologi dalam menyosialisasikan peran penting ilmu psikologi.

“Saya harap Duta Psikologi bisa menjadi garda depan untuk menyosialisasikan peran ilmu psikologi sebagai ilmu yang dapat berperan dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat,” terangnya.

Dalam Grand Final ini juga terdapat penampilan dari Josef Hamonangan Siagian yang merupakan anak inklusi yang telah memiliki segudang prestasi di bidang musik. Penampilan dari Josef ini juga menggambarkan bahwa Fakultas Psikologi sangat terbuka terhadap keberadaan anak inklusi di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, acara semakin meriah dengan hadirnya Herdina Indrijati yang merupakan Ketua Dewan Juri yang telah memililki pengalaman sebagai juri dan pemateri dalam pemilihan Ning Surabaya hingga Putri Indonesia Jawa Timur. Selanjutnya, hadir juga Ning Asta Dewanty yang merupakan Ning Surabaya 2003 dan juga merupakan Putri Indonesia Jawa Timur 2005 sekaligus alumni Psikologi UNAIR. Terakhir, juga hadir Natasha Ardelia yang merupakan Runner Up Putri Indonesia Jawa Timur 2012 yang juga mahasiswa aktif program profesi di Fakultas Psikologi.

Pemilihan Duta Psikologi UNAIR 2017 merupakan yang pertama  dalam sejarah Fakultas Psikologi. Hal ini yang membuat raut ketegangan sangat nampak di wajah ke-13 finalis saat sesi tanya jawab berlangsung. Dalam tahapan sesi tanya jawab yang pertama menghasilkan tiga besar yang berhak lolos ke tahap selanjutnya.

Sebelum berlanjut ke pengumuman Duta Psikologi UNAIR 2017, terlebih dahulu diumumkan untuk Best Atribut Duta Psikologi UNAIR 2017 yang terdiri dari Duta Berbakat yaitu Awwalu Nur Rizky, Duta Favorit yaitu Andini Iskayanti Putri, dan Duta Vidiografi yaitu Khansa Nabilah. Berlanjut ke pengumuman inti, terlebih dahulu diawali dengan pengumuman Wakil II Duta Psikologi UNAIR yaitu Andini Iskayanti Putri, Wakil I Duta Psikologi UNAIR yaitu Andrea Maria Agniwijaya.

Tiba saat pengumuman Duta Psikologi UNAIR 2017, seluruh penonton histeris bahagia saat yang diumumkan pemenangnya adalah Rhajiv Nur Ilham. Raut bahagia juga tampak dari seluruh finalis saat Rhajiv diumumkan sebagai Duta Psikologi UNAIR 2017.

Usai dinobatkan sebagai Duta Psikologi, Rhajiv mengatakan bahwa ia siap mengemban amanah untuk menjadi Duta bagi Fakultas Psikologi UNAIR dalam mengenalkan ke seluruh khalayak masyarakat peran penting ilmu psikologi.

“Seperti halnya sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi UNAIR di awal, saya siap mengemban amanah tersebut,” tuturnya.

Penulis: I Wayan Putra Radityawan

Editor: Nuri Hermawan




Mahasiswa Ilmu Politik Juara Karya Tulis Nasional

UNAIR NEWS – Dua mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih juara I dalam Lomba Kreatifitas Karya Tulis Ilmiah (OSCAR) dalam rangkaian acara Silaturahmi Nasional Himpunan Nasional Mahasiswa PPKN Indonesia tahun 2017, yang berlangsung pada 2 sampai 6 Oktober 2017 di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Padang, Sumatra Barat. Lomba tersebut mengakat tema “Eksistensi Pancasila di Era Global”.

Keduanya, yaitu yakni Dimas Lazuardy Firdauz (2014) dan Dian Dwi Jayanto (2014) berhasil menarik perhatian dewan juri dengan pemaparan hasil karya berjudul “Koeksistensi Pancasila & Era Global Sebagai Wujud Ideologi Terbuka Terhadap Perkembangan Zaman”. Hal tersebut ditandai dengan apresiasi dewan juri terhadap mereka saat menjelaskan ide konsep ko-eksistensi Pancasila dalam pergulatannya dengan fenomena-fenomena Politik identitas kontemporer yang terjadi belakangan ini. Seperti, kejadian maraknya gerakan agama “kanan” dan muncul kembali kontroversi terkait PKI.

“Harusnya, pemerintah tidak menggunakan cara overnasionalisme dalam merespon berbagai pergulatan politik identitas, baik kiri maupun kanan. Termasuk memproduksi ulang identitas komunisme untuk menciptakan ketakutan di masyarakarat, demi meneguhkan nasionalisme”, jelas Dian Dwi Jayanto dalam presentasi.

Rekan setimnya, Dimas Lazuardy, mengungkapkan kesannya terhadap kemenangan lomba tersebut. “Sejak sebelum lomba, sebenarnya kami lebih fokus mencari dana dari kampus buat biaya transport. Alhamdulillah, bisa diberi kemenangan,” kenangnya sambil terkekeh setengah bercanda.

Rangkaian acara Silaturahmi Nasional (SILATNAS) ini sebelumnya dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Labtas, dilanjutkan dengan seminar Internasional ICCE 2017 di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Di samping itu, banyak agenda lain yang dilaksanakan. (*)

Penulis: Tim Ilmu Politik UNAIR




Peduli Sesama, Sivitas FEB Serentak Donorkan Darah

UNAIR NEWS – Saat ini Palang Merah Indonesia (PMI) mengalami kekurangan satu juta kantong darah. Inilah yang memotivasi Departemen Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga untuk menggalang donor darah, Rabu (20/9), di Aula Fajar Notonegoro. Kegiatan tahunan ini mengangkat tema “Share Blood, Share Life, Share Smile”.

Sejak dibuka pukul 08.00 hingga 14.00, lebih dari 200 peserta yang juga sivitas akademika antusias melakukan donor darah. Tak hanya donor darah, para peserta pun juga melakukan cek kesehatan dari Rumah Zakat.

Tidak semua peserta dapat menjadi pendonor. Sehingga, sebelumnya para pendonor harus memenuhi syarat pendonor agar lolos, di antaranya dalam keadaan sehat, berat badan minimal 50 kilogram untuk pengambilan darah 350 cc, tekanan darah normal, kadar hemoglobin lebih dari 12,5 gram per desiliter, bukan pecandu alkohol, tidak bertato, tidak memiliki riwayat penyakit berat, serta tidak dalam kondisi hamil.

Di samping itu, donor darah memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan tubuh, seperti melindungi jantung, menurunkan risiko terkena kanker, mencegah penuaan dini, membantu sirkulasi darah, hingga menurunkan kolesterol.

“Kegiatan ini merupakan salah satu dari program kerja Departemen Pengabdian Masyarakat, di mana tujuannya untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan menyadarkan terutama mahasiswa untuk terus peduli pada lingkungan sekitar,” jelas Reinthard Xaverius, ketua pelaksana kegiatan donor darah.

Antrian yang panjang tak membuat peserta bosan menunggu, mereka dihibur oleh penampilan akustik grup Macoustic yang juga mahasiswa S-1 Manajemen.

“Kalau aku seneng bisa bantu orang lain, meskipun hanya dengan sekantong darah. Ini bukan kali pertama bagi saya mendonorkan darah, terakhir di Sekolah Menegah Atas (SMA), sehingga terhitung sudah 4 kali mendonorkan darah,” tutur Linda Ayu, mahasiswa S-1 Ekonomi Pembangunan, salah satu pendonor darah.

Para pendonor mendapatkan berbagai bingkisan dari PMI dan panitia sebagai bentuk apresiasi kepedulian terhadap sesama.

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S




Para Pelajar Antusias Berdiskusi dengan Grup Musik Angkatan Laut AS

UNAIR NEWS – Sebelum menggelar pertunjukan musik dan disaksikan sivitas akademika di depan Kantor Manajemen Universitas Airlangga pada Rabu (13/9) lalu, The 7th Fleet Band Orient Express melakukan temu sapa dengan mahasiswa hingga siswa sekolah menengah atas.

Tak ayal, kedatangan para anggota grup musik yang berprofesi sebagai angkatan laut Amerika Serikat ini mengundang rasa penasaran audiens.

Acara temu sapa itu berlangsung di American Corner, Perpustakaan Kampus B UNAIR di hari yang sama dengan waktu mereka menggelar pertunjukan konser. Pada acara temu sapa itu, selain bernyanyi, para anggota band juga bercerita seputar kegiatan mereka di Indonesia.

“Selain saling mengenalkan dua kebudayaan yang berbeda, acara ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar kedua negara,” ujar Agung B. Kristiawan, staf humas sekaligus pengelola American Corner UNAIR.

Selain mahasiswa, acara temu sapa ini juga dihadiri siswa SMA di lingkungan Surabaya. Mereka terlihat antusias bertanya seputar bagaimana grup band terbentuk, kesan mereka tentang Indonesia, hingga makanan yang mereka sukai.

Band beraliran jazz The 7th Fleet Band Orient Express baru kali pertama ini datang ke UNAIR. Selain menggelar temu sapa dan pertunjukan musik di UNAIR, mereka juga berkunjung ke Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Surabaya dan memberikan dukungan tentang gerakan penghijauan.

Grup musik beranggotakan LT Brian S. Chaplow, MUCS(IW) Luis O. Lebrón, MU1 Justin Glenn, dan MUC Robert Booker ini mengilhami patriotisme, mengangkat semangat, meningkatkan kesadaran Angkatan Laut dan hubungan masyarakat, serta mempertahankan warisan musik bangsa.

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Puluhan Dokter Lomba Masak Nasi Goreng

UNAIR NEWS – Bagaimana jadinya bila dokter yang biasanya menyuntik tiba-tiba harus lomba masak nasi goreng? Tentu seru. Ada yang terampil ada pula yang nasinya gosong.

Di momen peringatan HUT ke-72 RI, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menggelar banyak acara. Mulai dari jalan sehat, bersepeda, donor darah hingga sunatan massal. Istimewanya lagi, panitia juga menyelenggarakan lomba masak nasi goreng yang diikuti oleh dokter-dokter FK. Lomba ini pun sukses menyita perhatian.

Perlombaan ini  berlangsung meriah di halaman FK UNAIR, Minggu (27/8). Tanpa canggung, puluhan dokter dari jajaran dekanat dan ketua departemen FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini menampilkan kebolehan memasak.

Dengan mengenakan celemek lengkap dengan topi berwarna putih, seluruh peserta tampil bak seorang koki handal. Dalam kompetisi tersebut, masing-masing regu yang terdiri dari dua orang ini  ditantang  memasak sekaligus mempercantik penyajiannya hanya dalam waktu 30 menit.

Selama kompetisi berlangsung, penonton tak henti-hentinya tertawa melihat aksi para peserta. Terlebih lagi ketika melihat para ‘pak dokter’ ini beraksi memainkan spatula di atas wajan. Lomba masak nasi goreng lumayan bisa membuat degup jantung peserta berdetak lebih cepat.

Sebelumnya, panitia telah mempersiapkan segala keperluan memasak, mulai dari kompor, penggorengan, bahan dan bumbu di atas meja. Saat lomba akan dimulai, penonton yang berjubel mengelilingi arena mulai bersorak-sorai sambil menyuarakan yel-yel. Sang pembawa acara pun tak henti-hentinya berseloroh.

“Hari minggu praktik dokter libur semua, ya, karena pada ngumpul di sini lomba masak nasi goreng,” tutur pembawa acara.

Menyaksikan peserta dokter pria memainkan aksinya, lagi-lagi mengundang tawa penonton. Ada peserta yang terlihat cekatan dan lihai merajang cabai. Ada yang terlihat ragu meracik bumbu. Ada yang tampak santai, ada juga yang tampak tergopoh-gopoh.

Bahkan, ketika memasukkan nasi putih ke dalam wajan, sebagian dari mereka asal memasukkan garam dan margarin tanpa takaran. Ada pula yang menyalakan api kompor terlalu besar.

Kepanikan peserta mulai mereda ketika sebagian mereka sudah rampung memasak dan mulai mendekorasi penyajiannya. Dalam kompetisi ini, rupanya nasi goreng buatan Dekan FK UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K) dan Dr. Sulis Bayu Sentono, dr., Sp.Ort lebih dulu jadi.

Pencapaian tim Soetojo spontan mendapat pujian dari penonton.

“Wah, pak dekan paling cepat, ya, masaknya. Luar biasa. Pasti sudah berpengalaman ya, Prof?,” celoteh sang pemandu acara.

“Cepet tapi durung karuan enak (cepat tapi belum tentu enak),” celetuk salah satu penonton yang disambut tawa penonton lainnya.

Dalam kompetisi ini, masing-masing regu juga diwajibkan berkreasi menciptakan nama untuk nasi gorengnya masing-masing. Tim Soetojo memberi nama ‘Nasi Goreng Spesial 17-an Rasa Indonesia’ pada menu racikannya. Sementara tim rivalnya, Wakil Dekan II Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) dan Dr. Joni memberi nama ‘Nasi Goreng Merdeka’.

Peserta lainnya pun tak kalah kreatif. Ada yang memberi nama ‘Nasi Goreng Perjuangan’. Alasannya barangkali karena benar-benar butuh perjuangan supaya nasi gorengnya enak.

Panitia menetapkan penilaian pada beberapa aspek. Selain rasa, kriteria penilaian lainnya adalah kebersihan, tampilan, dan kecepatan waktu.

Meskipun menjadi peserta yang tercepat dalam memasak nasi goreng, tim Soetojo tak berhasil mendapatkan juara. Namun, orang nomor satu di FK tetap sportif. Bagi Soetojo, pengalaman memasak sudah sering dilakukan ketika masih pendidikan dokter.

“Dulu waktu masih mahasiswa saya sering masak nasi goreng, jadi nggak kaget lah kalau sekarang disuruh masak,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dialami Budi maupun Joni. Sebagai laki-laki, kemandirian sudah terbentuk sejak mereka jadi anak kos. Alasannya klasik. Supaya hemat, maka mau-tidak mau mereka harus belajar masak sendiri.

Kemeriahan acara peringatan HUT ke-72 RI semakin terasa setelah sebelumnya ratusan partisipan mengikuti acara gowes dan senam sehat. Acara tersebut diikuti ratusan karyawan dan mahasiswa FK, serta kolega-kolega FK.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S