Lokasi Parkir Motor di Rektorat UNAIR Pindah ke Belakang Perpustakaan

UNAIR NEWS – Pembenahan terus dilakukan oleh Kantor Manajemen Universitas Airlangga. Kali ini mengenai perparkiran kendaraan bermotor. Terhitung mulai hari Rabu tanggal 18 April 2018, tempat parkir sepeda motor bagi sivitas UNAIR dan tamu, dialihkan ke belakang Gedung Perpustakaan.  Berdampingan dengan Asrama Puteri kampus C UNAIR. Semula, parkir ini berada diantara gedung Kahuripan dengan gedung Student Center (SC).

Menjelang perpindahan lokasi parkir itu, Selasa (17/4) sore diadakan selamatan sederhana “Potong Tumpeng” di lokasi parkir yang baru. Hadir dalam acara ini antara lain Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., Wakil Rektor II Dr. Muhammad Madyan, SE., M.Si., M.Fin., Wakil Rektor III Prof. Moch Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D., Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., Direktur Sumber Daya Dr. Purnawan Basundoro, SS., M.Hum., Direktur Sarana, Prasarana dan Lingkungan Karnaji, S,Sos., M.Si., Staf Khusus Drs. Ec. Pribadi Archam, dan beberapa staf Kantor Rektorat UNAIR.

parkir motor
SUASANA selamatan sederhana perpindahan lokasi parkir motor di sekitar Rektorat kampus C UNAIR. (Foto: Bambang Bes)

Dalam sambutannya, Prof. Moh Nasih mengatakan bahwa selamatan ini antara lain sebagai niatan kita yang tulus untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar di tempat baru ini nanti senantiasa diberikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan dalam penempatan sarana penunjang para pegawai.

”Kalau sarana perparkiran kendaraan pegawai itu nyaman dan aman, insyaAllah akan menunjang rasa tenteram pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Mudah-mudahan disini senantiasa aman dan nyaman,” kata Pak Rektor.

Setelah dibacakan doa oleh Wakil Rektor III Prof. Moch Amin Alamsjah, maka Rektor menyerahkan pelaksanaan prosesi ”potong tumpengnya” kepada Wakil Rektor II Dr. Muh Madyan. Lalu potongan nasi tumpeng beserta lauk-pauknya itu diserahkan kepada Direktur Sarpras dan Lingkungan Karnaji, S.Sos., M.Si. Baru setelah itu dilaksanakan makan tumpeng nasi kuning bersama.

Dalam “cuitan” beberapa yang hadir dalam selamatan ini, penempatan parkir motor di lokasi yang baru ini dinilai lebih baik. Sebagian lahan sudah beratap, semua lahannya sudah berpaving, listrik penerangan parkir juga terang, dan diyakini tidak tergenang air jika hujan deras karena dataran lokasinya agak tinggi dibandingkan dengan lokasi parkir semula.

parkir motor
PIMPINAN Universitas Airlangga dan peserta selamatan berfoto bersama di lokasi baru perparkiran sepeda motor di sekitar Rektorat kampus C. Lahannya berpaving rapi dan beratap. (Foto: Bambang Bes)

Selain itu akan memecah keramaian menjadi merata, dari yang selama ini hanya di sekitar masjid, Student Center, dan gedung Rektorat. Apalagi di sekitar perparkiran terdapat perpustakaan, asrama mahasiswa puteri, dan kedepan akan dekat dengan Sport Center yang saat ini sedang dikerjakan pembangunannya.

Menurut keterangan dari Bagian Sarpras UNAIR, tempat parkir motor yang lama akan direhab untuk parkir kendaraan pimpinan yang semula berada di lantai dasar gedung Selasar. Sedangkan lantai dasar Selasar, menurut rencana akan dipergunakan untuk menambah kebutuhan ruang kerja. (*)

Penulis : Bambang Bes




UNAIR Segera Menambah Tiga Lapangan Olahraga Baru di Kampus C

UNAIR NEWS – Diharapkan dalam waktu yang tidak lama lagi, Universitas Airlangga akan memiliki tiga fasilitas olahraga baru. Ketiga fasilitas olahraga itu adalah lapangan basket, lapangan tennis, dan lapangan futsal. Ketiga lapangan tersebut semuanya terbuka (outdoor) dan akan dibangun bersebelahan di lahan yang letaknya di kawasan belakang gedung student center (SC) di kampus C UNAIR Jl. Mulyorejo Surabaya.

Tiga fasilitas olahraga tersebut akan dibangun dengan panjang 110 meter dan lebar 60 meter. Pembangunan fasilitas olahraga ini merupakan tanggungjawab sosial dari sebuah perusahaan, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Harvest Gorontalo Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang suplemen herbal. Kesepakatan itu telah tertuang dalam MoU (Memorandum of Understanding – kerjasama kesepahaman) antar kedua pihak yang dilaksanakan pada Desember 2017 lalu.

Saat ini, pembangunan lapangan olahraga tersebut sedang dalam proses pematangan desain. Karena itu, Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA dengan didampingi antara lain Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., Kamis (4/1) pagi meninjau lokasi calon pembangunan fasilitas olahraga tersebut.

Ditemui secara terpisah, Direktur Sarana Prasarana UNAIR, Karnaji, S.Sos., M.Si., menerangkan, pembangunan ketiga fasilitas olahraga tersebut akan dimulai awal Februari mendatang, dan diperkirakan akan selesai dalam waktu sekitar empat bulan kemudian. Sehingga pertengahan tahun 2018 ini sivitas akademika UNAIR, khususnya mahasiswa, sudah bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.

”Pembangunan tiga lapangan ini akan menambah fasilitas olahraga yang sudah dimiliki UNAIR selama ini, yaitu lapangan futsal dan GOR yang bisa digunakan untuk voli dan basket, serta satu arena olahraga panjat tebing,” ujar Karnaji.

olahraga
REKTOR Universitas Airlangga Prof. M. Nasih (menunjuk) ketika meninjau calon lokasi pembangunan tiga lapangan olahraga baru di kampus C, Kamis (4/1). (Foto: Istimewa)

Pengerjaan proyek ini sepenuhnya ditangani oleh PT. Harvest Indonesia selaku perusahaan yang memberi CSR kepada UNAIR. Jika dinominalkan, proyek ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 1 miliar.

Sementara itu, Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., juga berharap melalui pembangunan fasilitas baru olahraga ini maka akan semakin banyak fasilitas olahraga yang tersedia bagi sivitas akademika, khususnya untuk mahasiswa.

Selain itu, dengan pembangunan fasilitas olahraga ini diharapkan bisa membagi keramaian aktivitas mahasiswa UNAIR. Sebab, selama ini kegiatan keolahragaan masih berpusat di lapangan futsal dan GOR, keduanya juga di kampus C.

Ditemui usai melakukan peninjauan yang dilakukan Kamis (4/1) pagi, Rektor UNAIR Prof. Moh. Nasih mengatakan bahwa pembangunan tiga lapangan itu akan segera dilakukan. Tujuannya agar fasilitas olahraga ini dapat segera dimanfaatkan oleh mahasiswa UNAIR.

”Segera (dibangun, Red). Lahannya sudah diukur-ukur. Agar segera bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa bisa dapat tempat untuk berolahraga,” ujar Prof. M. Nasih. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Bambang Bes




Fakultas Keperawatan UNAIR Gelar Expo Nerspreneurship

UNAIR NEWS – Suasana halaman dalam Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga begitu semarak Selasa pagi (19/12). Sebuah kegiatan yang melibatkan mahasiswa digelar. Tenda besar didirikan, dengan jejeran meja-meja stan.

Acara kali ini bertajuk Nerspreneurship, Expo Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) 2017. Dalam event itu, para mahasiswa menjual produk baik yang berupa makanan, minuman, kreasi kudapan sehat, produk kesehatan alami, dan sebagainya.

Ada dua puluh empat kelompok mahasiswa yang membuka stan. Tiap kelompok, terdiri dari sekitar delapan mahasiswa. Sedangkan yang merubungi stan-stan mereka untuk membeli berasal dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Selain makanan basah, ada pula kreasi lain seperti kripik wortel, masker jagung, dan lain-lain.

Salah satu kreasi yang menarik minat pengunjung adalah Hajite atau Hazna (indah atau bagus, Red) Jilbab Stetoskop. Produk ini memudahkan perempuan yang mengenakan jilbab untuk memasang stetoskop. “Kami mendesain agar stetoskop bisa lebih gampang dipakai tanpa harus memasukkannya ke bagian dalam jilbab untuk mencapai telinga,” ungkap Lailatul Rohmah Kurniawati, salah satu anggota kelompok mahasiswa yang menggagas desain jilbab ini.

Hajite, salah satu kreasi para mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.

Di samping stan Hajite, ada stan lain yang tak kalah menarik. Yakni, “Buku Bantal Edukasi”, khusus bagi anak-anak. Buku tersebut berbentuk layaknya bantal dengan tulisan dan gambar edukatif. Antara lain, tentang bagian-bagian tubuh lengkap dengan terjemahan bahasa inggrisnya. Ada pula tentang apa saja yang perlu dilakukan setelah bangun tidur di pagi hari, beraktifitas, sampai kembali tidur di malam hari.

“Ini adalah bagian dari mata kuliah kewirausahaan,” kata Angga Krisna, panitia pelaksana kegiatan.

Mahasiswa semester 3 itu mengutarakan, ada dua angkatan yang menjadi peserta. Yakni, angkatan 2014 (semester 7) dan angkatan 2016 (semester 3). Ada enam kelompok dari angkatan 2014, dan delapan belas kelompok dari angkatan 2016.

Dalam perkuliahan, kata alumnus SMAN 16 Surabaya itu, para mahasiswa digembleng untuk menjadi sosok yang berjiwa kewirausahaan. Utamanya, dari aspek mental dan semangat pantang menyerah. “Produk kewirausahaan kami berkutat pada bidang kesehatan. Makanan, minuman, dan produk perawatan maupun jasa yang diberikan, mesti berbasis kesehatan,” ungkap dia.

Selama ini, pihak kampus selalu mendukung prohgram-program mahasiswa. Termasuk, di ranah kreatifitas dan kewirausahaan. Sebab, secara umum, dekanat juga ingin mencetak lulusan yang mumpuni di bidang akademik maupun non akademik. Semangat juang kewirausahaan perlu menjadi landasan di setiap langkah para alumnus.

Dekan FKp Prof. Dr. Nursalam M.Nurs (Hons) mengatakan, pihaknya selalu mendukung aktifitas positif para mahasiswa apapun bentuknya. Sebagai misal, kegiatan yang berhubungan dengan olahraga, organisasi, dan kreatifitas. Dia mengutarakan, prestasi mahasiswa dari bidang manapun, memiliki peran mendongkrak reputasi baik bagi kampus. “Kami terus memfasilitasi,” urai dia.

Baik dari segi pendanaan, maupun birokrasi, pasti bakal dipermudah. Dengan demikian, para mahasiswa memiliki ruang ekspresi yang luas dan aplikatif. Para dosen juga telah memiliki visi yang sama dalam rangka pengembangan minat bakat tersebut. “Prestasi kami di bidang kreatifitas mahasiswa pada tingkat nasional juga mampu bersaing dengan fakultas dan kampus lain,” papar dia.

Ditambahkan Wakil Dekan I Dr. Kusnanto, apa yang diaplikasikan ini merupakan praktek dari sejumlah teori materi perkuliahan. “Jadi yang dipahami di kelas bisa langsung dikreasikan di lapangan. Menciptakan produk yang layak jual dan dibutuhkan publik,” ungkap dia. (*)




Semarak Gebyar Maulid Internasional

UNAIR NEWS – Usai Salat Isya ditegakkan, senandung salawat terus menggema di Masjid Ulul Azmi Kampus C Universitas Airlangga. Sabtu malam (16/12) untuk kali pertama, UNAIR bersama Takmir Masjid Ulul Azmi menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengundang ulama dari luar negeri. Ialah Habib Ali Zainal Abidin Al Hamid selaku pemimpin Majelis Taklim Darul Murtazda – Malaysia. Selain itu, hadir pula Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus selaku pembina Majelis Rasulullah SAW – Jawa Timur.

Acara yang dikemas dalam Gebyar Maulid Internasional 1439 H itu mengusung tema “Menggapai Syafa’atmu dengan Cinta Wahai Rasulullah”. Hadir pula dalam acara tersebut Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih. Dalam sambutannya, Prof. Nasih mengajak semua hadirin untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Pasalnya, bagi Prof. Nasih, bisa berkumpul di tengah orang-orang yang shalih dengan memperingati kelahiran Sang Pemimpin umat merupakan karunia yang luar biasa dari Allah SWT.

“Sungguh yang demikian ini adalah rahmat dari Allah yang sangat besar, tanpa rahmat dan pertolongan-Nya tidak mungkin kita bisa melakukan dan berkumpul di majelis yang mulia seperti ini,” papar Guru Besar FEB UNAIR itu. “Semoga maksud dan cita-cita seluruh hadirin dan civitas akademika UNAIR bisa tercapai, utamanya dalam mengemban amanah dan menebar kemanfaat untuk umat,” imbuhnya.

Usai sambutan dari Prof. Nasih, selanjutnya acara cermah pertama disampaikan oleh Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus. Dalam ceramahnya, Habib Idrus menegaskan bahwa setiap umat Islam yang beriman tentu merindukan dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan dalam kehidupan. Tidak lupa, Habib Idrus juga memberikan contoh peran dan ahlak Nabi Muhammad yang menjadi teladan dan laku hidup para sahabat-sahabat Nabi.

“Allah pun menyebutkan dalam Quran bahwa sahabat Nabi itu ridha kepada Allah SWT dan Allah pun ridha akan mereka,” tegasnya.

Pembina Majelis Rasulullah Jawa Timur itu juga mengisahkan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Ialah Haritsah yang kisah hidupnya perlu menjadi teladan pemuda hari ini. Menurut Habib Idrus, kecintaan kepada Allah SWT  yang sangat besar mampu mengantarkan haritsah mendapat derajat syahid.

“Saat cinta Haritsah begitu besar kepada Allah SWT, bukan dunia yang diminta tapi syahid di jalan Allah SWT,” jelas Habib Idrus.

Selanjutnya, ceramah kedua disampaikan oleh Habib Ali Zainal Abidin Al Hamid. Ulama dari Malaysia itu membuka ceramah dengan mengingatkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad di dunia adalah hadiah bagi umat manusia. Hadiah besar itu, bagi Habib Ali, merupakan hadiah dari Allah SWT yang manusia tidak bisa membalasnya.

“Selain menjadi hadiah bagi kita semua, Rasulullah SAW juga menjadi tauladan dalam setiap gerak hidup kita,” tegasnya.

Habib Ali juga menjelaskan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pembaca ayat. Artinya, menurut Habib Ali, hal-hal yang dibacakan oleh Nabi merupakan semua hal yang bersandar dari Allah SWT. Selanjutnya, hadirnya nabi juga menjadi penyuci hati dan jiwa serta pembawa ilmu. Oleh karena itu, tambah Habib Ali, peradaban yang ditinggalkan oleh Nabi bukanlah kekuasaan melainkan ilmu dan akhlak.

“Ilmu dan akhlak ini tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diutus ke dunia ini tidak lain untuk menyempurnakan akhlak,” tandas Habi Ali.

Penulis : Nuri Hermawan




Musim Liburan Tiba, UNAIR jadi Tujuan Favorit Study Tour Siswa SMA

UNAIR NEWS – Waktu belajar di semester gasal telah usai, terhitung mulai tanggal 17 Desember hingga awal tahun baru 2018, siswa sekolah dasar hingga menengah memasuki musim liburan. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghabiskan waktu libur sekolah dan libur akhir tahun 2017. Salah satunya, bagi siswa SMA kerap mengisi liburan dengan melakukan kunjungan kampus.

Untuk itu, saat musim liburan tiba, Universitas Airlangga kerap dibanjiri kunjungan siswa SMA dari berbagai daerah. Tercatat, selama musim liburan kali ini kunjungan datang dari berbagai SMA, diantaranya SMAN Tanjunganom Nganjuk, SMAN Karangbinangun Lamongan, SMAN 21 Surabaya, SMAN 1 Sumberjo Bojonegoro, MAN Kandangan Kediri. Bahkan, ada sembilan siswa dari perwakilan SMA di Pontianak dengan berbekal nekad juga berkunjung ke UNAIR.

Mengenai hal itu, Anindya Anindita S.I.Kom selatu staf Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR yang bertugas mengurus kunjungan siswa SMA mengatakan, saat musim liburan tiba memang sering terjadi kenaikan jumlah kunjungan siswa SMA ke UNAIR.

“Musim liburan memang menjadi waktu yang tepat. Karena siswa SMA memanfaatkan musim liburan seperti ini untuk berkunjung ke kampus dan sekaligus ke tempat wisata,” terangnya.

Tidak hanya itu, Anin juga menambahkan, kunjungan siswa SMA juga akan terus berlangsung hingga mendekati masa pendaftaran Selekasi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Bahkan, tambahnya, hal itu akan terus berlanjut hingga mendekati pelaksanaan Ujian Akhri Nasional (UAN).

“Kunjungan siswa SMA akan terus berlanjut hingga mendekati pendaftaran SNMPTN. Mereka pun juga tidak hanya berasal dari kelas XII saja, tapi juga ada yang kelas XI dan bahkan kelas X,” paparnya.

Menanggapi meningkatnya kunjungan siswa SMA saat musim liburan, Ketua PIH UNAIR Dr. Suko Widodo, M.Si., mengatakan bahwa hal ini menjadi salah satu upaya UNAIR untuk memberikan pelayanan informasi yang sebaik-baiknya.

“Dari tahun ke tahun, kunjungan siswa SMA memang terus meningkat. Artinya, ini memang menjadi bukti UNAIR sebagai badan publik untuk memberikan informasi tentang kehidupan kampus secara lengkap,” terangnya. “Dan mereka yang berkunjung pun merasa puas dan terbantu,” tandasnya.

Penulis : Nuri Hermawan




Perisai Diri yang Tak Lelah Berprestasi

UNAIR NEWS – Seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UNAIR tidak pernah kehabisan semangat buat berprestasi. Termasuk, dari divisi beladiri, Perisai Diri (PD).

UKM ini meraih predikat membanggakan belum lama ini. Yakni, dalam event Kejuaraan Nasional Silat Perisai Diri ke XXVI yg bertempat di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya tgl 27 september sampai 02 oktober 2017. Dalam event tadi, PD berhasil membawa pulang satu emas, tiga perak, dan dua perunggu. Sedangkan dalam perhelatan Perisai Diri International Championship IX di Malang yang ditutup pada 2 November lalu, ksatria Airlangga sukses membawa dua perak dan satu perunggu.

Selama ini, UKM beladiri menjadi salah satu wadah berekspresi para mahasiswa. Tak hanya melatih fisik, beladiri juga mengajarkan para penghayatnya untuk disiplin, berkomitmen, dan pantang menyerah.

Nilai-nilai positif itu menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya, saat latihan. Namun, di semua kesempatan beraktifitas.

“Semoga ke depan, lebih banyak medali yg disumbangkan untuk UNAIR,” papar Ketua PD Yaniar Sari Ramadhani.

Yang menarik, keikutsertaan dalam turnamen atau pertandingan, imbuhnya, dapat menambah kedekatan antar anggota. Frekuensi latihan yang makin sering dan atmosfer yang membuat anggota-anggota saling butuh semangat adalah penyebabnya.

“Latihan harus serius dan saling menguatkan. Jangan lupa berdoa,” urai dia.

Yang tak kalah penting, menumbuhkan motivasi diri untuk siap bersaing dan bertanding. Tanpa itu semua, latihan tidak akan membuahkan hasil optimal.

Biasanya, latihan PD dilaksanakan seminggu dua kali. Namun, bila menjelang ikut kejuaraan, mereka berlatih enam kali seminggu, selama sebulan penuh sebelum bertanding. (*)




“Teaching Generation”, Film UNAIR yang Raih Penghargaan Video Kreatif Internasional

UNAIR NEWS – Di tengah kompetisi perguruan tinggi pada era global yang kian bersaing, Universitas Airlangga (UNAIR) mendapatkan penghargaan trofi perak untuk kategori video institusi paling kreatif tingkat internasional. Penghargaan itu disampaikan dalam event 13th QS-Apple Creative Awards 2017, di Taichung, Taiwan, 22 November 2017.

Video yang diproduksi oleh Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR itu berjudul “Teaching Generation”. Mengambil scene di beberapa lokasi di Surabaya, film itu mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Apalagi, saat pemberian penghargaan, ada tiga Wakil Rektor serta beberapa pimpinan dan staf utusan kerjasama luar negeri kampus ini yang hadir di sana.

Suko Widodo selaku Ketua PIH tak menyangka film berdurasi 4.30 menit itu bakal mendapat apresiasi tinggi hingga meraih penghargaan. Pasalnya, film diproduksi dalam rentan waktu yang cukup pendek. Pun, pesaing berasal dari berbagai negara, bukan hanya Indonesia.

“Pada awalnya tidak yakin menang. Karena kami buat dengan waktu yang relatif pendek. Kami juga harus riset untuk menggambarkan sejarah UNAIR dari masa ke masa,” ucap Suko.

“Bersyukur, awards ini memicu kami untuk berkarya lebih baik. Ini pengakuan yang membanggakan,” imbuhnya.

Terinspirasi dari perjalanan panjang UNAIR

“Teaching Generation” berkisah tentang perjalanan empat generasi keluarga yang semuanya kuliah di kampus Airlangga. Keempat pemeran utamanya, Suroso, Sri, Jono, dan Selly, adalah keluarga dari empat generasi yang kuliah di fakultas berbeda di UNAIR.

Ialah Redo Nomadore, sutradara pembuat “Teaching Generation”, alumnus Prodi Hubungan Internasional FISIP UNAIR. Redo tak menyangka, karyanya mendapat sambutan yang positif.

Project video heritage ini adalah salah satu project yang paling menantang yang pernah saya handle. Proses produksinya sangat seru dan kita banyak mengeksplorasi lokasi-lokasi bersejarah di Surabaya untuk mendapatkan set yang tepat,” ujar Redo.

Piala Silver yang didapat UNAIR atas Film “Teaching Generation”. (Dok. Pribadi)

Pada mulanya, Redo mendapat inspirasi dari perjalanan panjang UNAIR dalam memajukan pendidikan. Sejak tahun 1913, bermula dari cikal bakal UNAIR yang berada di Fakultas Kedokteran, kampus ini telah bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang terus berkembang sesuai tuntutan zaman.

Beberapa lokasi yang menjadi scene film antara lain rumah tua di Dinoyo; Jalan Gula, Surabaya Utara; Tugu Pahlawan dan sekitarnya; bilangan Jalan Rajawali; serta tentu, Kampus A UNAIR sebagai icon. Dalam mengekplorasi ide sebelum memproduksi sebuah film, riset menjadi hal wajib. Begitupula ketika Redo menggarap “Teaching Generation”.

“Kami coba sepresisi mungkin sampai riset seragam PETA, seragam tentara belanda zaman itu, seragam tentara jepang zaman itu, model radio zaman itu, style fashion di setiap zaman, dan banyak lagi,” ungkapnya.

Empat Zaman

Keempat tokoh dalam “Teaching Generation” dibantu belasan tokoh pemeran yang lain, bercerita dari empat zaman yang berbeda. Pertama, zaman penjajahan, yakni tahun 1924 ketika cikal bakal UNAIR masih berupa sekolah kedokteran NIAS. Scene zaman kedua adalah tahun 1945, zaman ketika Indonesia merdeka. Ketiga, tahun 80’an, zaman ketika dari berbagai sumber, UNAIR sedang banyak melakukan pembangunan. Dan keempat, scene sekarang, tahun 2017.

Redo, yang sebelumnya banyak memproduksi film-film konseptual dan deskriptif itu, mengaku gembira, film buatannya meraih penghargaan video institusi paling kreatif dan mengalahkan video-video dari beragam perguruan tinggi.

Atas penghargaan yang telah diterima, ia mengucapkan banyak terimakasih kepada berbagai pihak yang turut serta dalam menyelesaikan film.

“Terimakasih banyak untuk UNAIR yang sudah memberi arahan dan memberi keleluasaan pada saya dan tim HINTERHOV untuk mengeksplorasi ide. Juga pada seluruh Tim PIH UNAIR yang telah banyak mendukung pada setiap prosesnya,” terang Redo. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Rio F. Rachman

Film “Teaching Generation”




BEM Gelar Seminar Nasional dan Peluncuran Buku

BEM UNAIR ADAKAN SEMINAR TENTANG GERAKAN MAHASISWA DAN LAUNCHING BUKU “DARI AIRLANGGA BERGERAK UNTUK INDONESIA”

Gerakan mahasiswa hari ini dipandang dilematis, satu sisi mereka terhegemoni oleh perasaan heroik sejarah gerakan mahasiswa dahulu, seperti demontrasi 98. Di sisi lain, tuntutan peran dan konteks mahasiswa hari ini berbeda jika harus disamakan dengan gerakan mahasiswa seperti masa-masa sebelumnya. Sebagai upaya awal untuk membaca dan berusaha merumuskan gerakan mahasiswa yang ideal tersebut, BEM UNAIR 2017 melalui Kementerian Sosial dan Politik mengadakan Seminar Nasional dan Launching Buku bertemakan “Arah Gerak Mahasiswa Pasca Reformasi 98” yang bertempat di Aula Amerta Gedung Manajemen UNAIR Kampus C, Sabtu (18/11).

Seminar tersebut mengundang beberapa pembicara, yaitu Adian Napitupulu, selaku mantan aktifis yang hari ini menjabat sebagai anggota DPR-RI, Aribowo, Dosen FISIP UNAIR, dan dipandu oleh Linggar Rama Dian, Dosen FISIP UNAIR selaku moderator. Sebelumnya, dijadwalkan politisi kawakan Fahri Hamzah turut hadir dalam diskusi tersebut. Namun sayangnya, ketika hari H, yang bersangkutan melalui asisten pribadinya menyatakan tidak bisa hadir.

Dalam pemaparan awalnya, Aribowo lebih banyak berbicara tentang gerakan mahasiswa dari tinjauan teoritis historis, “Gerakan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari konteks teori modernis yang berkembang,” urai dia.

Dilanjutkan pria yang pernah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya ini, apa yang harus dilawan mahasiswa hari ini adalah potensi kecenderungan pemerintah yang terkesan otoritarinisme dalam merespon berbagai persoalan dewasa ini, seperti mengadukan pembuat meme ketua DPR ke jalur hukum.

Para pembicara menyuguhkan bahasan menarik

Pada sesi selanjutnya, Adian Napitupulu berpendapat bahwa dia tidak setuju ketika dikatakan pemerintah hari ini dicap otoriratianisme. Hal tersebut harus diuji dengan data-data di lapangan yang kuat serta memperjelas indikator apa yang digunakan untuk menilai. Dalam pembacaan arah gerakan mahasiswa, Adian lebih banyak menitikberatkan isu apa yang diangkat, bukan pada cara yang dipakai. “Gerakan mahasiswa hari ini jangan plagiat gerakan mahasiswa 98, oh, dulu presiden diturinin, sekarang Jokowi turunin juga. Itu logika yang keliru”, ujar anggota DPR Komisi VII tersebut.

Seminar tersebut ditutup dengan launching buku dari Kementerian Sosial Politik BEM UNAIR 2017. Buku yang berjudul “Dari Airlangga Bergerak untuk Indonesia” tersebut merupakan kumpulan kajian yang telah diselenggarakan Kementerian Sospol BEM UNAIR 2017 serta opini mahasiswa UNAIR. Di dalamnya memuat banyak topik yang diperbincangkan, mulai dari isu pembubaran HTI, Hak Angket DPR kepada KPK, tentang kasus Hukum Setyo Novanto, isu-isu kesehatan, arah gerak mahasiswa dan lain-lain.

“Buku ini sebagai wujud gerakan literasi yang dikembangkan BEM UNAIR dalam mengkaji-kaji isu dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa. Ini adalah upaya publikasi bahwa gerakan apapun yang dilakukan BEM UNAIR memiliki landasan kajian yang bisa dipertanggungjawabkan” tutur Dian Dwi Jayanto, Menteri Sosial dan Politik BEM UNAIR 2017. (*)

Penulis: Tim BEM UNAIR

Editor: Rio F. Rachman




Mahasiswa FKM Raih Award Kesehatan PT Astra

UNAIR NEWS – Mahasiswa S-2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) mendapatkan award dari PT Astra Internasional Tbk. Ialah Ronaldus Asto Dadut, yang mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Awards tahun 2017, pada 18 Oktober, di kantor pusat Astra, Jakarta.

Asto mendapatkan award bidang kesehatan lantaran prestasinya yang sebagai perintis dan pengembang sebuah komunitas di Sumba. Komunitas itu bernama Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan Sumba atau yang akrab disebut Kamunitas J-RUK Sumba.

PT Astra Internasional Tbk memberikan award kepada tujuh pemenang terpilih. Mereka masing-masing mewakili bidang pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, kesehatan, teknologi, dan satu kelompok.

“Saya sebetulnya juga tidak tahu alasan bisa terpilih di bidang kesehatan. Padahal, kegiatan kami di Komunitas J-RUK Sumba bukan hanya bidang kesehatan,” kata Asto.

Tujuh pemenang itu telah berhasil mengalahkan sejumlah 3.432 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebelum ditetapkan sebagai penerima award, Asto bersama 12 finalis lain diundang ke Jakarta untuk presentasi terkait kegiatannya di Komunitas J-ruk Sumba serta visi misinya terhadap komunitas itu.

Mendirikan komunitas

Asto, laki-laki kelahiran Waitabula, Sumba Barat Daya, 20 Maret 1992, telah merintis Komunitas J-RUK Sumba sejak tahun 2014 silam. Dalam perjalanannya, banyak kegiatan yang dilakukan Asto dan teman-teman di komunitas J-ruk Sumba.

Berbagai kegiatan itu meliputi edukasi preventif tentang bahaya human trafficking (perdagangan manusia) dan pendampingan korban, edukasi preventif tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), membantu anak-anak untuk dapat pelayanan kesehatan, gerakan literasi, serta masih aneka kegiatan sosial lainnya.

“Saya bersama teman-teman merintis komunitas ini karena tahun itu masalah perdagangan manusia di NTT cukup tinggi, khususnya di Pulau Sumba. Sehingga, kami mencoba mengambil peran dengan melakukan kegiatan edukasi sosialisasi preventif tentang bahaya human trafficking,” ujar Asto.

Selain itu, Asto mendirikan komunitas karena ingin memiliki wadah bagi anak muda menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik.

Pemilihan penerima awards 2017 ini melibatkan panelis dari PT Astra International Tbk dan Tempo Media Group. Juga, lima panelis ternama. Mereka adalah Menteri Kesehatan RI Prof Nila Moeloek, Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Indonesia Prof Dr. Emil Salim, Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prof Fasli Jalal, Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan Tri Mumpuni, Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo, Komisaris PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti, Head of Public Division PT Astra Internasional Tbk Yulian Warman, dan Riza Deliansyah dari PT Astra Internasional Tbk. (*)

Penulis  : Binti Q. Masruroh

Editor    : Rio F. Rachman




Menguatkan Persaudaraan Lewat Exmo Club

UNAIR NEWS – Exmo Club (Exmo adalah akronim dari Excellence with Morality) adalah wadah pembinaan mental spiritual yang digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) UNAIR. Di dalamnya, dilakukan aktitas berupa pertemuan secara rutin dengan difasilitasi seorang mentor.

Program Exmo Club ini dapat memberikan kesan mendalam. Artinya, kegiatan tersebut dapat membuat peserta kegiatan lebih konsisten dalam menjalankan ibadah. Hal-hal yang disampaikan secara rutin, bisa merasuk ke dalam sanubari, dan ilmu yang diperoleh bisa dengan tulus diimplementasikan.

Pertemuan Exmo Club diadakan untuk menjaga kondisi ruhiyah tiap anggota dengan saling mengingatkan untuk giat beribadah. Selain mempelajari hal-hal terkait keislaman, anggota kelompok pun dapat sharing tentang kesehariannya baik kehidupan akademik di kampus maupun permasalahan pribadi. Dengan lingkungan yang sangat peduli itu, timbul kesan mendalam dan memererat persaudaraan.

“Exmo Club membuat para anggota menjadi lebih dekat dan bisa saling tolong-menolong,” ungkap Affan Muhammad Andalan, ketua UKMKI UNAIR.

Harapannya, UKMKI dapat menjadi lembaga dakwah kampus yang semakin istiqamah menyebarkan nilai-nilai Islam dan melayani seluruh elemen di kampus dengan mengedepankan ukhuwah (persaudaraan). Juga, profesional dalam berkegiatan dengan tetap mengutamakan esensi keislaman di tiap-tiap programnya. Dengan itu, kerja-kerja “mencerdaskan yang saleh dan mensalehkan yang cerdas” akan semakin progresif.

Yang tak kalah menarik, UKMKI juga kerap mengikuti sejumlah program di luar kampus. Maksudnya, UKM ini berpartisipasi dalam event di level lokal, regional, bahkan nasional.

Misalnya, berpartisipasi dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Surabaya Raya dan di tingkat nasional, turut serta menghadiri Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional ke-XVIII di Pekanbaru, pada bulan Mei lalu. Selain itu, UKMKI UNAIR kini menjadi salah satu Lembaga Dakwah Kampus yang masuk dalam kategori mandiri sehingga memiliki beberapa Lembaga Dakwah Kampus dampingan yang secara bergantian kami kunjungi untuk memantau dan membantu pengembangan organisasi di kampus tersebut (wilayah Surabaya Raya).

Di lini keilmuan, UKMKI UNAIR juga menjadi mitra Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia – Klaster Mahasiswa (MITI-KM) yang rutin mengadakan pertemuan-pertemuan dan seminar. “Yang baru saja kami ikuti bulan lalu bertempat di Universitas Trunojoyo Madura,” tambah Affan.

UKMKI UNAIR juga rutin diundang dalam kegiatan Mudzakarah Da’i. Yakni, pertemuan para da’i dari berbagai organisasi Islam yang membahas isu-isu strategis keumatan. Diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur. (*)