Semarak Malam Puncak Grand Final Duta Psikologi UNAIR 2017

UNAIR NEWS – Malam Puncak Grand Final Duta Psikologi UNAIR 2017 yang dilaksanakan di halaman Fakultas Psikologi UNAIR pada Rabu malam (18/10) berlangsung meriah. Kemeriahan berasal dari antusiasme yang besar dari keluarga besar Fakultas Psikologi UNAIR yang memadati halaman depan Fakultas Psikologi UNAIR sejak 30 menit sebelum acara dimulai.

Selain itu, hadir pula pimpinan Fakultas Psikologi UNAIR, keluarga finalis Duta Psikologi UNAIR, dan juga perwakilan duta UNAIR 2016. Acara dimulai dengan penampilan tari Puspanjali yang kemudian dilanjutkan dengan penampilan dari ke-13 finalis Duta Psikologi UNAIR 2017.

Dekan Fakultas Psikologi Dr. Nurul Hartini, M.Kes., Psikolog dalam sambutannnya sekaligus membuka secara resmi acara tersebut mengatakan, dengan adanya Duta Psikologi UNAIR, nantinya diharapkan akan mejadi ujung tombak fakultas Psikologi dalam menyosialisasikan peran penting ilmu psikologi.

“Saya harap Duta Psikologi bisa menjadi garda depan untuk menyosialisasikan peran ilmu psikologi sebagai ilmu yang dapat berperan dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat,” terangnya.

Dalam Grand Final ini juga terdapat penampilan dari Josef Hamonangan Siagian yang merupakan anak inklusi yang telah memiliki segudang prestasi di bidang musik. Penampilan dari Josef ini juga menggambarkan bahwa Fakultas Psikologi sangat terbuka terhadap keberadaan anak inklusi di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, acara semakin meriah dengan hadirnya Herdina Indrijati yang merupakan Ketua Dewan Juri yang telah memililki pengalaman sebagai juri dan pemateri dalam pemilihan Ning Surabaya hingga Putri Indonesia Jawa Timur. Selanjutnya, hadir juga Ning Asta Dewanty yang merupakan Ning Surabaya 2003 dan juga merupakan Putri Indonesia Jawa Timur 2005 sekaligus alumni Psikologi UNAIR. Terakhir, juga hadir Natasha Ardelia yang merupakan Runner Up Putri Indonesia Jawa Timur 2012 yang juga mahasiswa aktif program profesi di Fakultas Psikologi.

Pemilihan Duta Psikologi UNAIR 2017 merupakan yang pertama  dalam sejarah Fakultas Psikologi. Hal ini yang membuat raut ketegangan sangat nampak di wajah ke-13 finalis saat sesi tanya jawab berlangsung. Dalam tahapan sesi tanya jawab yang pertama menghasilkan tiga besar yang berhak lolos ke tahap selanjutnya.

Sebelum berlanjut ke pengumuman Duta Psikologi UNAIR 2017, terlebih dahulu diumumkan untuk Best Atribut Duta Psikologi UNAIR 2017 yang terdiri dari Duta Berbakat yaitu Awwalu Nur Rizky, Duta Favorit yaitu Andini Iskayanti Putri, dan Duta Vidiografi yaitu Khansa Nabilah. Berlanjut ke pengumuman inti, terlebih dahulu diawali dengan pengumuman Wakil II Duta Psikologi UNAIR yaitu Andini Iskayanti Putri, Wakil I Duta Psikologi UNAIR yaitu Andrea Maria Agniwijaya.

Tiba saat pengumuman Duta Psikologi UNAIR 2017, seluruh penonton histeris bahagia saat yang diumumkan pemenangnya adalah Rhajiv Nur Ilham. Raut bahagia juga tampak dari seluruh finalis saat Rhajiv diumumkan sebagai Duta Psikologi UNAIR 2017.

Usai dinobatkan sebagai Duta Psikologi, Rhajiv mengatakan bahwa ia siap mengemban amanah untuk menjadi Duta bagi Fakultas Psikologi UNAIR dalam mengenalkan ke seluruh khalayak masyarakat peran penting ilmu psikologi.

“Seperti halnya sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi UNAIR di awal, saya siap mengemban amanah tersebut,” tuturnya.

Penulis: I Wayan Putra Radityawan

Editor: Nuri Hermawan




Mahasiswa Ilmu Politik Juara Karya Tulis Nasional

UNAIR NEWS – Dua mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih juara I dalam Lomba Kreatifitas Karya Tulis Ilmiah (OSCAR) dalam rangkaian acara Silaturahmi Nasional Himpunan Nasional Mahasiswa PPKN Indonesia tahun 2017, yang berlangsung pada 2 sampai 6 Oktober 2017 di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Padang, Sumatra Barat. Lomba tersebut mengakat tema “Eksistensi Pancasila di Era Global”.

Keduanya, yaitu yakni Dimas Lazuardy Firdauz (2014) dan Dian Dwi Jayanto (2014) berhasil menarik perhatian dewan juri dengan pemaparan hasil karya berjudul “Koeksistensi Pancasila & Era Global Sebagai Wujud Ideologi Terbuka Terhadap Perkembangan Zaman”. Hal tersebut ditandai dengan apresiasi dewan juri terhadap mereka saat menjelaskan ide konsep ko-eksistensi Pancasila dalam pergulatannya dengan fenomena-fenomena Politik identitas kontemporer yang terjadi belakangan ini. Seperti, kejadian maraknya gerakan agama “kanan” dan muncul kembali kontroversi terkait PKI.

“Harusnya, pemerintah tidak menggunakan cara overnasionalisme dalam merespon berbagai pergulatan politik identitas, baik kiri maupun kanan. Termasuk memproduksi ulang identitas komunisme untuk menciptakan ketakutan di masyarakarat, demi meneguhkan nasionalisme”, jelas Dian Dwi Jayanto dalam presentasi.

Rekan setimnya, Dimas Lazuardy, mengungkapkan kesannya terhadap kemenangan lomba tersebut. “Sejak sebelum lomba, sebenarnya kami lebih fokus mencari dana dari kampus buat biaya transport. Alhamdulillah, bisa diberi kemenangan,” kenangnya sambil terkekeh setengah bercanda.

Rangkaian acara Silaturahmi Nasional (SILATNAS) ini sebelumnya dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Labtas, dilanjutkan dengan seminar Internasional ICCE 2017 di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Di samping itu, banyak agenda lain yang dilaksanakan. (*)

Penulis: Tim Ilmu Politik UNAIR




Peduli Sesama, Sivitas FEB Serentak Donorkan Darah

UNAIR NEWS – Saat ini Palang Merah Indonesia (PMI) mengalami kekurangan satu juta kantong darah. Inilah yang memotivasi Departemen Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga untuk menggalang donor darah, Rabu (20/9), di Aula Fajar Notonegoro. Kegiatan tahunan ini mengangkat tema “Share Blood, Share Life, Share Smile”.

Sejak dibuka pukul 08.00 hingga 14.00, lebih dari 200 peserta yang juga sivitas akademika antusias melakukan donor darah. Tak hanya donor darah, para peserta pun juga melakukan cek kesehatan dari Rumah Zakat.

Tidak semua peserta dapat menjadi pendonor. Sehingga, sebelumnya para pendonor harus memenuhi syarat pendonor agar lolos, di antaranya dalam keadaan sehat, berat badan minimal 50 kilogram untuk pengambilan darah 350 cc, tekanan darah normal, kadar hemoglobin lebih dari 12,5 gram per desiliter, bukan pecandu alkohol, tidak bertato, tidak memiliki riwayat penyakit berat, serta tidak dalam kondisi hamil.

Di samping itu, donor darah memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan tubuh, seperti melindungi jantung, menurunkan risiko terkena kanker, mencegah penuaan dini, membantu sirkulasi darah, hingga menurunkan kolesterol.

“Kegiatan ini merupakan salah satu dari program kerja Departemen Pengabdian Masyarakat, di mana tujuannya untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan menyadarkan terutama mahasiswa untuk terus peduli pada lingkungan sekitar,” jelas Reinthard Xaverius, ketua pelaksana kegiatan donor darah.

Antrian yang panjang tak membuat peserta bosan menunggu, mereka dihibur oleh penampilan akustik grup Macoustic yang juga mahasiswa S-1 Manajemen.

“Kalau aku seneng bisa bantu orang lain, meskipun hanya dengan sekantong darah. Ini bukan kali pertama bagi saya mendonorkan darah, terakhir di Sekolah Menegah Atas (SMA), sehingga terhitung sudah 4 kali mendonorkan darah,” tutur Linda Ayu, mahasiswa S-1 Ekonomi Pembangunan, salah satu pendonor darah.

Para pendonor mendapatkan berbagai bingkisan dari PMI dan panitia sebagai bentuk apresiasi kepedulian terhadap sesama.

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S




Para Pelajar Antusias Berdiskusi dengan Grup Musik Angkatan Laut AS

UNAIR NEWS – Sebelum menggelar pertunjukan musik dan disaksikan sivitas akademika di depan Kantor Manajemen Universitas Airlangga pada Rabu (13/9) lalu, The 7th Fleet Band Orient Express melakukan temu sapa dengan mahasiswa hingga siswa sekolah menengah atas.

Tak ayal, kedatangan para anggota grup musik yang berprofesi sebagai angkatan laut Amerika Serikat ini mengundang rasa penasaran audiens.

Acara temu sapa itu berlangsung di American Corner, Perpustakaan Kampus B UNAIR di hari yang sama dengan waktu mereka menggelar pertunjukan konser. Pada acara temu sapa itu, selain bernyanyi, para anggota band juga bercerita seputar kegiatan mereka di Indonesia.

“Selain saling mengenalkan dua kebudayaan yang berbeda, acara ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar kedua negara,” ujar Agung B. Kristiawan, staf humas sekaligus pengelola American Corner UNAIR.

Selain mahasiswa, acara temu sapa ini juga dihadiri siswa SMA di lingkungan Surabaya. Mereka terlihat antusias bertanya seputar bagaimana grup band terbentuk, kesan mereka tentang Indonesia, hingga makanan yang mereka sukai.

Band beraliran jazz The 7th Fleet Band Orient Express baru kali pertama ini datang ke UNAIR. Selain menggelar temu sapa dan pertunjukan musik di UNAIR, mereka juga berkunjung ke Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Surabaya dan memberikan dukungan tentang gerakan penghijauan.

Grup musik beranggotakan LT Brian S. Chaplow, MUCS(IW) Luis O. Lebrón, MU1 Justin Glenn, dan MUC Robert Booker ini mengilhami patriotisme, mengangkat semangat, meningkatkan kesadaran Angkatan Laut dan hubungan masyarakat, serta mempertahankan warisan musik bangsa.

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Puluhan Dokter Lomba Masak Nasi Goreng

UNAIR NEWS – Bagaimana jadinya bila dokter yang biasanya menyuntik tiba-tiba harus lomba masak nasi goreng? Tentu seru. Ada yang terampil ada pula yang nasinya gosong.

Di momen peringatan HUT ke-72 RI, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menggelar banyak acara. Mulai dari jalan sehat, bersepeda, donor darah hingga sunatan massal. Istimewanya lagi, panitia juga menyelenggarakan lomba masak nasi goreng yang diikuti oleh dokter-dokter FK. Lomba ini pun sukses menyita perhatian.

Perlombaan ini  berlangsung meriah di halaman FK UNAIR, Minggu (27/8). Tanpa canggung, puluhan dokter dari jajaran dekanat dan ketua departemen FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini menampilkan kebolehan memasak.

Dengan mengenakan celemek lengkap dengan topi berwarna putih, seluruh peserta tampil bak seorang koki handal. Dalam kompetisi tersebut, masing-masing regu yang terdiri dari dua orang ini  ditantang  memasak sekaligus mempercantik penyajiannya hanya dalam waktu 30 menit.

Selama kompetisi berlangsung, penonton tak henti-hentinya tertawa melihat aksi para peserta. Terlebih lagi ketika melihat para ‘pak dokter’ ini beraksi memainkan spatula di atas wajan. Lomba masak nasi goreng lumayan bisa membuat degup jantung peserta berdetak lebih cepat.

Sebelumnya, panitia telah mempersiapkan segala keperluan memasak, mulai dari kompor, penggorengan, bahan dan bumbu di atas meja. Saat lomba akan dimulai, penonton yang berjubel mengelilingi arena mulai bersorak-sorai sambil menyuarakan yel-yel. Sang pembawa acara pun tak henti-hentinya berseloroh.

“Hari minggu praktik dokter libur semua, ya, karena pada ngumpul di sini lomba masak nasi goreng,” tutur pembawa acara.

Menyaksikan peserta dokter pria memainkan aksinya, lagi-lagi mengundang tawa penonton. Ada peserta yang terlihat cekatan dan lihai merajang cabai. Ada yang terlihat ragu meracik bumbu. Ada yang tampak santai, ada juga yang tampak tergopoh-gopoh.

Bahkan, ketika memasukkan nasi putih ke dalam wajan, sebagian dari mereka asal memasukkan garam dan margarin tanpa takaran. Ada pula yang menyalakan api kompor terlalu besar.

Kepanikan peserta mulai mereda ketika sebagian mereka sudah rampung memasak dan mulai mendekorasi penyajiannya. Dalam kompetisi ini, rupanya nasi goreng buatan Dekan FK UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K) dan Dr. Sulis Bayu Sentono, dr., Sp.Ort lebih dulu jadi.

Pencapaian tim Soetojo spontan mendapat pujian dari penonton.

“Wah, pak dekan paling cepat, ya, masaknya. Luar biasa. Pasti sudah berpengalaman ya, Prof?,” celoteh sang pemandu acara.

“Cepet tapi durung karuan enak (cepat tapi belum tentu enak),” celetuk salah satu penonton yang disambut tawa penonton lainnya.

Dalam kompetisi ini, masing-masing regu juga diwajibkan berkreasi menciptakan nama untuk nasi gorengnya masing-masing. Tim Soetojo memberi nama ‘Nasi Goreng Spesial 17-an Rasa Indonesia’ pada menu racikannya. Sementara tim rivalnya, Wakil Dekan II Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) dan Dr. Joni memberi nama ‘Nasi Goreng Merdeka’.

Peserta lainnya pun tak kalah kreatif. Ada yang memberi nama ‘Nasi Goreng Perjuangan’. Alasannya barangkali karena benar-benar butuh perjuangan supaya nasi gorengnya enak.

Panitia menetapkan penilaian pada beberapa aspek. Selain rasa, kriteria penilaian lainnya adalah kebersihan, tampilan, dan kecepatan waktu.

Meskipun menjadi peserta yang tercepat dalam memasak nasi goreng, tim Soetojo tak berhasil mendapatkan juara. Namun, orang nomor satu di FK tetap sportif. Bagi Soetojo, pengalaman memasak sudah sering dilakukan ketika masih pendidikan dokter.

“Dulu waktu masih mahasiswa saya sering masak nasi goreng, jadi nggak kaget lah kalau sekarang disuruh masak,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dialami Budi maupun Joni. Sebagai laki-laki, kemandirian sudah terbentuk sejak mereka jadi anak kos. Alasannya klasik. Supaya hemat, maka mau-tidak mau mereka harus belajar masak sendiri.

Kemeriahan acara peringatan HUT ke-72 RI semakin terasa setelah sebelumnya ratusan partisipan mengikuti acara gowes dan senam sehat. Acara tersebut diikuti ratusan karyawan dan mahasiswa FK, serta kolega-kolega FK.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S




Mahasiswa Baru Dituntut Meninggalkan Kebiasaan Saat SMA

UNAIR NEWS – Momen orientasi tentu tidak terlepas dari pembekalan dan pengenalan universitas, fakultas, hingga jurusan. Tahun ini, Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan menggelar kegiatan orientasi “Bridging Program” di Aula ABC Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jumat (25/8).

Koordinator Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Tri Haryanto, Ph. D memberikan sambutan hangat kepada para mahasiswa baru. “Saya berharap agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa-mahasiswa baru agar mengenal EP (Ekonomi Pembangunan) lebih dalam,” tutur Tri.

Talkshow “Bridging Program” diisi oleh dosen Ekonomi Pembangunan M. Khoerul Mubin, M.Sc, dan Mahasiswa Berprestasi FEB tahun 2015 Oktavia Dewi Rizka Alam. Keduanya berbagi pengalaman ketika masih menjadi mahasiswa ekonomi pembangunan.

“Motivasi terbesar saya hingga sampai di titik ini dan mengenyam pendidikan tinggi adalah ibu saya. Ibu saya yang tidak mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) membuat saya terus terpacu,” tutur Mubin.

Dosen yang pernah mengenyam studi S-2 Economics di Queen Mary University of London dengan beasiswa LPDP ini pun aktif berorganisasi, kepanitiaan, hingga kegiatan akademik bersama dosen saat di bangku perkuliahan.

Berbeda dengan Mubin, Okta menekankan tentang pentingnya perubahan pola pikir yang harus disesuaikan setelah meninggalkan bangku sekolah menengah atas. Pola pikir siswa SMA tentu masih bergantung pada penjelasan guru ketika di kelas, sedangkan mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dan lebih intens dalam berdiskusi sehingga tumbuhlah iklim untuk saling berkomunikasi.

“Saya pribadi sangat menekankan manajemen waktu dan disiplin dengan jadwal. Tidak semua waktu harus digunakan untuk belajar, kita bisa membaginya dengan kegiatan organisasi, mengerjakan tugas di akhir pekan, waktu untuk berbagi dengan teman, dan terpenting adalah me time (waktu sendiri),” tutur Okta.

Di penghujung kegiatan, moderator mulai memandu untuk sesi diskusi yang dibagi dalam dua kelompok besar. Keduanya harus menganalisis dan memberi tanggapan terkait kemiskinan di Indonesia. Hal ini tentu melatih kemampuan dalam menyampaikan pendapat yang dibutuhkan saat proses perkuliahan.

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S




Museum Budaya UNAIR Punya Koleksi Benda Antik dari Dinasti Tiongkok

UNAIR NEWS – Koleksi Museum Sejarah dan Budaya Universitas Airlangga bertambah. Museum ini mendapatkan sumbangan barang-barang antik sejak peradaban Cina Dinasti Ming, Jing, Sung, maupun Tang. Jumlah ini menambah barang-barang museum yang sebelumya hanya terbatas koleksi-koleksi dari dalam negeri.

Keluarga Aminuddin yang merupakan profesor peneliti dari Museum Nasional RI memberikan sumbangan barang-barang antik itu. Sang anak, Mohammad Faisal Hasan Mujaddin., M.A., menyerahkan secara simbolis barang-barang pada Senin, (28/8) di Museum Sejarah dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, UNAIR. Kepada UNAIR News, Faisal mengatakan bahwa koleksi itu berasal dari ribuan tahun yang lalu.

“Jumlahnya ada 12, meliputi barang dari berbagai macam dinasti, Ming, Jing, Sung, maupun Tang. Semuanya sangat berharga dan masuk katalog cagar budaya,” ucap koordinator Museum Sejarah dan Budaya UNAIR Edy Budi Santoso., S.S., M.A.

Penambahan koleksi ini dikatakan Edy dapat menambah wawasan kepada mahasiswa maupun generasi muda lainnya. Pun memberi wawasan bahwa kini, warisan budaya bukan saja memiliki nilai historis yang tinggi namun juga memiliki nilai nominal yang tidak sedikit.

Keunikan dan proses sejarah yang mahal

Benda-benda antik itu memiliki sejarah kepemilikan yang cukup tinggi. Oleh karenanya, jika dinominalkan setara dengan 750 ribu dolar Singapura. Benda-benda itu bisa saja dijual dengan harga murah. Namun karena memiliki keunikan sejarah yang tinggi, kolektor berlomba-lomba memilikinya.

“Barang-barang ini bisa saja murah. Bisa saja dijual hanya satu juta, tergantung keunikan dan sejarah kepemilikan barangnya,” ujar Faisal yang merupakan alumnus program Master of Art, Lasalle College of The Art, Singapore.

Mengapa kita bisa membeli barang-barang antik dengan harga murah sedangkan di luar negeri bisa dijual dengan harga mahal sekali? Itu karena keunikan dan histori yang memiliki peran sangat penting. Faktor historis itu meliputi kepemilikan serta bagaimana benda tersebut bisa ditemukan.

Di luar negeri, seperti di Amerika dan Hongkong misalnya, ada alat pendeteksi tanah yang dapat digunakan dalam memprakirakan umur semuah barang. Alat itu berfungsi untuk mendeteksi umur tanah. Selanjutnya, dari prakiraan umur yang didapat, dapat dilakukan riset mendalam mengenai sebuah benda bersejarah.

Sayangnya, Indonesia belum memiliki peralatan ini. Sehingga ada juga praktik pemalsuan barang antik yang tiruannya banyak beredar di pasaran. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




RSGM UNAIR Siap Beroperasi 24 Jam

UNAIR NEWS – Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Airlangga kini dilengkapi fasilitas instalasi gawat darurat (IGD) yang siap beroperasi 24 jam.

Keberadaan IGD RSGM UNAIR 24 jam diresmikan Wakil Rektor bidang Kerjasama Bisnis UNAIR Junaidi Khotib, Ph.D., Rabu (23/8). Bersamaan dengan peresmian IGD 24 jam, fasilitas lain yang turut diluncurkan adalah layanan bedah sentral dan instalasi rawat inap.

Direktur RSGM Prof. R. M. Coen Pramono Danudiningrat , drg., SU., Sp.BM(K), menyampaikan, peresmian fasilitas ini merupakan upaya pengembangan sarana prasarana rumah sakit. Setelah sebelumnya, pada tanggal 1 Desember 2016 lalu, RSGM UNAIR memperoleh ijin operasional tetap dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“Kita sudah maju satu langkah dengan menjalankan IGD 24 jam secara penuh. Operasionalisasi RSGM UNAIR bisa berjalan karena support (dukungan) dari Universitas dan RSUD Dr. Soetomo,” tutur Prof. Coen.

Prof. Coen mengatakan, RSGM UNAIR juga menjadi wahana bagi mahasiswa dokter gigi umum dan spesialis untuk menempuh pendidikan profesi. Kebijakan tersebut seiring dengan perubahan paradigma pendidikan dokter gigi berbasis poliklinik menjadi rumah sakit.

“Sehingga anak-anak lulusan kami diharapkan semakin memahami bahwa (problem kesehatan) manusia itu tidak hanya di mulut tetapi seutuhnya dari rambut hingga ujung kaki,” tutur profesor bedah mulut dan maksilofasial.

Junaidi yang menjabat Wakil Rektor IV mengungkapkan, keberadaan RSGM UNAIR diharapkan menjadi rumah sakit pendidikan yang diminati para pakar untuk melakukan riset demi perbaikan pelayanan kesehatan.

“Selain secara reguler melayani pasien gigi dan mulut, sebaiknya ada unggulan yang dirancang demi pelayanan yang lebih baik. RSGM harus bisa menjadi tempat para ahli untuk memberikan upaya lebih baik di bidang kesehatan,” pungkas Junaidi.

Peresmian IGD dilaksanakan di area RSGM pada Rabu (23/8). Acara peresmian dihadiri oleh Kepala Bidang Pelayanan Medis Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo dokter Tri Wahyu Martanto, Wakil Dekan I Prof. Dr. Anita Yuliasari, drg., M.Kes., dan Direktur Utama Airlangga Health Science Institute Prof. Dr. Nasronuddin, dr., Sp.PD., K-PTI.

Dilengkapi fasilitas unggulan

Meski baru mendapat ijin operasional tetap pada 1 Desember 2016 lalu, RSGM UNAIR sebetulnya telah beroperasi sejak 2002. Bentuknya berubah-ubah mulai dari balai pengobatan gigi hingga poliklinik. Saat menjadi RSGM dengan ijin sementara, para dokter juga pernah melakukan operasi bedah mulut terhadap pasien asal Bima, Nusa Tenggara Barat.

RSGM dilengkapi berbagai fasilitas unggulan. Ada  fasilitas rawat inap yang terdiri dari 3 unit tempat tidur dewasa untuk kelas tiga, 2 unit tempat tidur dewasa untuk kelas satu, dan 2 unit tempat tidur anak. IGD juga dilengkapi 1 unit tempat tidur.

Selain itu, RSGM juga dilengkapi fasilitas unit pelayanan intensif (High Care Unit) dua unit tempat tidur, dua ruang operasi besar, tiga unit tempat tidur ruang pemulihan. Ada pula instalasi nutrisi dan pusat sterilisasi alat operasi gigi dan mulut (Central Sterilization Service Department).

Beragam fasilitas yang dimiliki RSGM UNAIR diharapkan dapat menunjang pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Prof. Coen menambahkan, RSGM UNAIR siap menjadi pusat rujukan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia wilayah timur.

“Kami berharap bisa menampung pasien-pasien dari Indonesia timur,” pungkas Prof. Coen.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor: Nuri Hermawan

 




Dosen Manajemen Raih Best Paper Seminar Nasional di Medan

UNAIR NEWS – Para dosen Universitas Airlangga tidak pernah miskin prestasi. Kali ini, kabar menggembirakan datang dari Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Salah satu dosen bernama Dr Tri Siwi Agustina berhasil meraih penghargaan Best Paper dalam Seminar Nasional dan Call for Paper – Roundtable Indonesia Entrepreneur Educator (RIEE) 2017. Event tersebut diselenggarakan oleh Asosiasi Perkumpulan Pendidik Kewirausahaan Indonesia (Perwira). Kali ini, RIEE diadakan oleh Prodi Magister Manajemen, Universitas Sumatera Utara, Medan, pada 9 Agustus 2017.

Dalam kegiatan itu, setidaknya ada 88 papers, yang mewakili 15 kampus, dari 7 kota se-Indonesia. Bila berjalan sesuai rencana, event serupa akan diselenggarakan bulan Agustus tahun 2018 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Univ Syiah Kuala Banda Aceh.

RIEE adalah wadah rutin tahunan para pendidik Kewirausahaan dari seluruh Indonesia. Tujuan dari terbentuknya adalah sebagai sarana para pendidik entrepreneurship untuk berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang pengajaran Kewirausahaan.

RIEE juga sarana bagi peneliti tentang pembelajaran kewirausahaan, kewirausahaan secara umum, dan small business, untuk sharing hasil riset melalui Call for Paper dan jurnal ilmiah Perwira.

RIEE diinisasi oleh Prasetya Mulya dan Departemen Manajemen FEB UNAIR. Saat ini RIEE sudah memasuki tahun ke-5 dan masih sangat terbuka bagi para pendidik kewirausahaan untuk bergabung.

Perempuan yang biasa disapa Siwi itu menyajikan paper dengan judul Peran Unik Wanita sebagai “Garwo (Sigaraning Nyowo)” dalam Mendampingi Suami Memimpin Bisnis Keluarga pada Pasangan Suami Istri Jawa. Dalam masyarakat Jawa, istri disebut pula Garwo atau Sigaraning Nyowo, yang bisa diartikan sebagai belahan jiwa.

Paper tersebut mengulas tentang berbagai peran wanita sebagai istri yang mendampingi suami memimpin bisnis keluarga. “Mengapa menarik dikaji? Karena kontribusi istri dalam suatu kesuksesan sebuah bisnis keluarga seringkali luput diperhatikan,” terang Dr Siwi.

Padahal, imbuhnya, di balik kesuksesan suami, pasti ada peran besar istri. Nah, paper tersebut mengulas apa saja peran istri dalam mendampingi suami dalam menjalankan bisnis keluarga.

Peran istri pada suami yg menjalankan bisnis keluarga sangat beragam. Namun, pada pasangan suami istri Jawa, terungkap bahwa istri memiliki kontribusi yang detail dan komprehensif.

Mulai dari menyiapkan anak-anaknya menjadi penerima tongkat estafet kepemimpinan bisnis, misalnya dengan memilihkan sekolah hingga memberikan pengertian pada anak untuk mau meneruskan bisnis keluarga, hingga menciptakan suasana harmonis dengan karyawan dan ikut memotivasi kerja karyawan. Istri juga menjadi penasehat bagi suami, business partner, dan turut terlibat pada manajerial bisnis keluarga. Hal tersebut sangat beralasan, karena bagaimanapun juga, para istri beranggapan bahwa kesuksesan bisnis tersebut akan membawa kesejahteraan bagi keluarga mereka. (*)

 

Penulis: Rio F. Rachman

 

 




Tahun 2018, Gedung Baru Fakultas Farmasi Siap Difungsikan

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih secara simbolis melakukan topping off atau pengecoran atap di lantai sepuluh gedung baru Fakultas Farmasi (FF).

Gedung yang mulai dibangun sejak peletakan tiang pancang pertama pada 15 Juni 2015 lalu itu diperkirakan akan selesai dan mulai digunakan tahun 2018 mendatang.

“Selesai sempurna tahun 2019. Tapi tahun 2018 kita sudah bisa manfaatkan paling nggak lima lantai. Sehingga tahun ini lima lantai paling bawah disiapkan untuk bisa dipakai,” ujar Rektor UNAIR ditemui UNAIR News,  Jumat (18/8).

Kesepuluh lantai itu akan difungsikan beragam, mulai dari ruang perkuliahan, ruang dosen dan administrasi, hingga laboratorium yang sangat dibutuhkan dosen dan mahasiswa untuk melakukan riset.

Nasih mengatakan, pada gedung FF yang baru ini juga akan dibangun laboratorium yang bisa difungsikan bukan hanya mahasiswa dan dosen dari FF namun juga fakultas lain yang memiliki bidang ilmu serupa.

“Kalau ada lab yang bisa sesuai dengan bidang ilmu yang lain, bisa dimanfaatkan oleh fakultas lain, sehingga ada lab dasar yang bisa dimanfaatkan banyak fakultas. Termasuk yang selama ini belum tergarap dengan baik adalah bagaimana mahasiswa S-2 dan S-3 yang memiliki ruang kuliah berdekatan dengan lab untuk diskusi,” tambah Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu.

Setelah gedung baru FF ini selesai, gedung lama FF yang sebelumnya berada di Kampus B UNAIR akan segera dialihfungsikan. Sehingga FF akan menjadi satu kampus dengan fakultas-fakultas di Kampus C yang keseluruhan di bidang eksakta.

Dalam sambutan sebelum pemotongan tumpeng, Nasih mengatakan saat ini FF mulai menyiapkan pengusulan nama untuk gedung baru FF. Sehingga nanti ketika bangunan resmi digunakan, gedung baru sudah memiliki nama tersendiri.

“Sehingga nanti ketika peresmian gedung bukan bernama gedung farmasi,” ucapnya.

Pembangunan gedung baru FF ini akan menjadi percontohan terorganisirnya lab-lab yang ada di UNAIR.

“Misal, kalau anak farmasi (FF) mau belajar tentang wirausaha, silakan belajar ke ekonomi (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), atau anak farmasi (FF) yang ingin belajar statistika, silakan ke lab FST (Fakultas Sains dan Teknologi),” tutur Rektor.

“Peresmian gedung ini nantinya akan memperbaiki itu. Sebab, sumber ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) adalah riset, dan sumber riset lab, sehingga keberadaan lab harus kita perhatikan betul,” ungkapnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S