DARI kiri, Waka (Wakil Komandan) Densus (Detasemen Khusus) Polri (Kepolisian Republik Indonesia) Brigjen Pol Martinus Hukom, S.IK., M.Si., dan moderator Agastya Wardhana dalam Seminar Internasional bertajuk Airlangga Asean+3 Youth Conference and Cultural Programme (AAYCCP) 2018 pada Rabu (21/11) di Airlangga Convention Center (ACC). (Foto: Feri Fenoria)

Lawan Paham Radikal, Mahasiswa Dituntut Perbanyak Menulis

UNAIR NEWS – Bahasan mengenai terorisme beberapa dekade terakhir menjadi fokus perhatian di berbagai negara. Bukan hanya negara dengan penduduk muslim, tapi juga yang non-muslim.

Terjadinya hal itu bisa dimaknai sebagai buntut atas rentetan serangan terorisme di beberapa negara di dunia yang sempat terjadi dalam tempo waktu yang hampir bersamaan. Selain itu, fokus bahasan terkait dengan teroris menjadi penting karena gejolak pendirian negara Islam Irak dan Syiria (ISIS) di kawasan Timur Tengah.

Akibat laju pekembangan teknologi yang dewasa ini kian maju, gejolak tersebut memberikan perangsang bagi kelompok lain di luar Timur Tengah turut menggelar aksi. Tepatnya, karena melihat propaganda dari kelompok tersebut. Sebagai contoh, dalam lingkup terdekat di kawasan ASEAN, gejolak ISIS sempat membuat takut masyarakat. Tepatnya munculnya gerakan teroris yang menyatakan berafiliasi dengan ISIS di kawasan Filipina Selatan.

Di Indonesia sendiri, pada waktu yang terdekat, Surabaya sempat diberondong serentetan kasus bom bunuh diri, bulan Mei 2018. Yang menjadi perhatian, satu keluarga dilibatkan dalam kasus bunuh diri yang menyerang tiga gereja itu. Mirisnya, terdapat kalangan anak-anak dalam kasus bom bunuh diri tersebut.

Waka (Wakil Komandan) Densus (Detasemen Khusus) Polri (Kepolisian Republik Indonesia) Brigjen Pol Martinus Hukom, S.IK., M.Si., dalam Seminar Internasional bertajuk Airlangga Asean+3 Youth Conference and Cultural Programme (AAYCCP) 2018 pada Rabu (21/11) menyampaikan bahwa kemunculan paham teroris melewati tiga fase atau tiga prinsip. Pertama, intoleransi; kedua, radikal; dan ketiga, terorisme.

”Pada sejumlah kasus, anggapan tentang yang lain yang berbeda lebih buruk atau tidak baik menjadi bibit yang kemudian berkemungkinan menjadi gerakan yang lebih berbahaya berupa terorisme,” ujarnya di hadapan peserta dari berbagai negara, mulai kawasan ASEAN hingga Timur Tengah.

Intoleran, lanjut Martinus, menjadi salah satu embrio berkembangnya kebencian yang mengarah pada tindakan-tindakan kekerasan. Misalnya, anggapan kepada orang atau kelompok di luar barisannya lebih buruk. Intoleransi bermakna kurangnya sikap tenggang rasa.

Hal itu, ungkap Martinus, bakal berkembang pada paham radikal, salah satu contohnya Islam radikal. Mengutip pernyataan Said Aqil, Islam radikal dimaknai sebagai orang Islam yang mempunyai pikiran yang kaku dan sempit dalam memahami Islam. Pada akhirnya, prinsip tersebut berkembang menjadi gerakan terorisme.

Perkembangan Teknologi

Martinus menekankan pada ancaman yang ditimbulkan kemajuan teknologi atas persebaran paham radikal. Menjadi rahasia umum bahwa media sosial memliki andil yang cukup besar dalam persebaran paham-paham itu. Hal tersebut banyak dibuktikan pada kasus-kasus yang telah dihadapi Polri.

”Teknologi ini menjadi hal yang penting. Tidak sedikit pelaku tampak begitu baik di mata masyarakat dan orangtua. Tapi, yang bersangkutan justru mampu membuat bom sendiri. Ini benar ada. Seperti kasus di Jawa Barat,” sebutnya.

Dalam kasus itu, terang Martinus, yang bersangkutan memang rutin berselancar di internet. Paham-paham radikal yang diterima berasal dari membaca ulasan maupun mengikuti grup-grup online kelompok-kelompok radikal.

Padahal, dalam tampilan di rumah, yang bersangkutan tidak tampak mencurigakan. Dan tampak begitu pendiam di kamar berinteraksi di internet. Namun ternyata, yang bersangkutan mampu membuat bom dan ditaruh di bawah tempat tidur.

”Bahkan, orangtuanya kaget dengan temuan itu. Inilah yang menjadi perhatian kita bersama-sama untuk berhati-hati dengan akses kemudahan mendapat informasi di internet,” kata Martinus di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR.

Menulis dan Menebar Virus Kebaikan

Martinus menjelaskan, persebaran paham radikal juga datang dari non-online. Misalnya dari persebaran buku-buku dan buletin. Fakta yang dihadapi masyarakat saat ini adalah sangat banyak bacaan yang mengandung paham radikal beredar luas.

Secara materi, harganya juga sangat murah dan mudah didapatkan jika dibandingkan dengan bacaan atau tulisan yang mengulas paham Islam moderat. Itulah yang menurut Martinus menjadi evaluasi semua orang.

Kepada mahasiswa, Martinus berharap, adanya keaktifan untuk menulis narasi-narasi yang positif sebagai upaya melawan berkembanganya paham radikal di Indonesia. Narasi-narasi positif itu bisa berupa tulisan-tulisan pendek di media sosial, juga di beberapa tulisan cetak dengan mengangkat tema persatuan, kesatuan, dan keberagaman Indonesia.

”Jadi, bersemangatlah menulis untuk ikut mengamankan negeri yang kita cintai ini dari teroris,” katanya.

SEJUMLAH personel tim Gegana Polda Jawa Timur seusai menggelar simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)
SEJUMLAH personel tim Gegana Polda Jawa Timur seusai menggelar simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)

Perlu diketahui, hadir dalam seminar nasional itu jajaran pimpinan UNAIR dan Kepolisisan Daerah (Kapolda) Jawa Timur. Di antaranya, Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib S.Si, Apt., M.Kes., Ph.D., mewakili rector dan Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto beserta jajaran.

Dalam seminar tersebut, turut delaksanakan simulasi dalam tim Gegana Polda Jawa Timur menangani kasus terorisme. Beserta kendaraan taktis yang lengkap, sejumlah personel tim Gegana Polda Jawa Timur menunjukkan prosedur penanganan bom pada benda-benda yang mencurigakan.

SALAH seorang anggota tim Gegana memeriksa benda mencurigakan dalam simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)
SALAH seorang anggota tim Gegana memeriksa benda mencurigakan dalam simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)

Tampak peserta yang berasal dari luar Indonesia begitu menikmati dan sangat antusias. Bahkan seusai simulasi tersebut digelar, sejumlah peserta tampak bersemangat dan ini berfoto bersama dengan sejumlah personel beserta rantisnya. (*)

 

 

Penulis: Feri Fenoria

 




REKTOR UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih., SE., M.T., Ak., (MA) saat membuka kegiatan jalan sehat di depan Kantor Manajemen pada Minggu (21/10). (Foto: Galuh Mega Kurnia)

Bazaar dan Lomba Mewarnai Turut Meriahkan Acara Jalan Sehat dan Senam FKH UNAIR

UNAIR NEWS – Untuk memperingati hari ulang tahun fakultas, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga mengajak masyarakat untuk turut hadir dalam kegiatan jalan sehat dan senam bersama di halaman depan Kantor Manajemen UNAIR, Kampus C, pada Minggu (21/10). Acara itu dimeriahkan dengan kegiatan lomba mewarnai untuk anak-anak SD, bazaar, cek gizi gratis, dan donor darah.

Jalan sehat dibuka pada pukul 6.00 dan turut dihadiri Wakil Dekan III FKH Prof. Dr. Suwarno., drh., M.SI dan Rektor UNAIR Prof.  Dr. Mohammad Nasih., SE., M.T., Ak., (MA) sebagai pembuka kegiatan jalan sehat. Di hadapan peserta, Prof. Nasih mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan FKH UNAIR atas nama UNAIR dan diperuntukkan kepada semua lapisan masyarakat. Khususnya untuk civitas akademika UNAIR sendiri serta untuk masyarakat sekitar.

”Kami semata-mata bekerja untuk rakyat. Jadi, apabila ada kegiatan seperti ini pasti mengundang rakyat,” ujarnya.

Selain itu, Prof. Suwarno menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan peringatan hari jadi FKH. FKH sendiri telah berdiri pada 1970, tapi secara resmi baru disahkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan pada 1972.

”Dengan bertambahnya umur, otomatis FKH UNAIR akan menunjang apa yang menjadi program perguruan tinggi dalam hal ini UNAIR. Seperti yang diucapkan rektor bahwa pada akhir 2020, UNAIR harus masuk 500 besar WCU, dan kita dari FKH yang berada di bawah naungan UNAIR harus ikut menyemarakkan segala aktivitas yang ada di UNAIR untuk mendukung target tersebut,” ungkap Prof. Suwarno.

Sementara itu, Kania Rifa Iradatya atau yang biasa dipanggil Tya, ketua pelaksana kegiatan dari BEM FKH, menjelaskan bahwa FKH mengadakan lomba fotografi dan desain yang akan diumumkan pada puncak acara, yaitu pada Sabtu (17/11). Termasuk lomba mewarnai untuk anak SD dengan target 100 peserta dan dibedakan menjadi tiga kategori. Yakni, kategori A untuk anak TK, kategori B untuk anak SD kelas 1–3, dan kategori C untuk anak SD kelas 4–5.

”Mengadakan lomba mewarnai untuk anak-anak mengenai animal welfare (kewaspadaan terhadap perlakuan yang pantas terhadap hewan-hewan). Jadi, biar anak kecil dari sekarang sudah tahu, jadi dikenalkan dengan dunia binatang,” jelasnya.

Menurut Tya, doorprize utama dari acara jalan sehat tersebut adalah kambing. Pemilihan kambing tersebut sebagai simbol bahwa acara itu diselenggarakan oleh FKH. Khususnya untuk menarik banyak orang karena doorprize utama yang tidak biasa tersebut.

Selain itu, kegiatan tersebut berkolaborasi dengan BEM UNAIR, yaitu Kementerian Pengembangan Profesi dan Kewirausahaan (PPK) UNAIR yang menyelenggarakan Airlangga Creative Market (ACM) 4. Selain berbentuk bazaar, pihak BEM UNAIR mengadakan pemeriksaan gizi gratis dan donor darah.

Di sisi lain, Khoirunnisa Adityarini atau yang akrab dipanggil Tita, ketua pelaksana dari PPK BEM UNAIR menjelaskan bahwa untuk kegiatan donor darah, BEM UNAR bekerja sama dengan KSR UNAIR. KSR UNAIR kemudian berkoordinasi dengan PMI. Juga dihgelar pemeriksaan gizi gratis dengan menggandeng mahasiswa FKM program studi ilmu gizi.

”Untuk bazaar, kami menyediakan 37 stan. 35 untuk masyarakat dan mahasiswa yang menyewa dan dua untuk sponsor,” ucap Tita.

Selain itu, dalam bazaar tersebut, terdapat stan yang cukup menarik banyak pengunjung. Yaitu, stan yang disewa oleh Yunaz Ali Akbar yang merupakan ketua BEM FIB 2018. Pada stand tersebut, Yunaz mencoba mengembangkan bisnis custom notebook yang dirintis bersama temannya yang dari ITS. Selain itu, Prasaja, perpustakaan sepeda yang telah dikelola Yunaz sejak setahun yang lalu, turut hadir dan mendapat banyak perhatian dari pengunjung.

”Perpustakaan bergerak ini sudah setahun yang lalu saya kelola. Sebab, saya sendiri hobi baca dan sepedahan. Setiap hari ke kampus bawa sepeda ini, waktu cangkruk juga. Jadi, warga bisa baca di mana saja. Termasuk di acara jalan sehat ini,” ungkap Yunaz. (*)

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Feri Fenoria




ERUAN Perlombaan Ludo (Manusia) di Hall Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga. (Foto: Panitia)

Meriahnya Main Ludo Manusia di Ghardana Dekan Cup 2018 FIB

UNAIR NEWS ­– Dalam menyambut Dies Natalis Ke-21 tahun Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB UNAIR menggelar acara Ghardana Dekan Cup 2018. Kegiatan itu menjadi salah satu program kerja terbesar BEM FIB yang terdiri atas perlombaan olahraga maupun non-olahraga. Tepatnya yang dimulai pada Senin (17/9) sampai Jum’at (21/9) 2018.

Salah satu yang unik dari perlombaan Ghardana Dekan Cup tahun ini adalah perlombaan Ludo. Ketua Ghardana Dekan Cup Izzudin Ma’ruf menjelaskan, panitia menyelenggarakan kegiatan lomba Ludo karena banyak kawula muda yang saat ini memainkan game (online) tersebut.

”Jadi, kami berinisiatif untuk menuangkannya secara langsung. Bukan lewat HP, tapi langsung ke manusianya. Sebab, pasti sensasinya bakalan berbeda dan lebih ngena,” terangnya.

Jalannya Pertandingan

Alur lomba itu sama dengan ludo online. Setiap tim menempati pos warna yang tersedia. Dan, akan berjalan sesuai dengan jumlah angka yang didapatkan.

Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) yang menempati pion warna merah. Bahasa dan Sastra Inggris berada pada warna kuning. Ilmu Sejarah warna hijau dan Studi Kejepangan warna biru.

”Jadi, dari setiap tim (jurusan, Red) itu mengirimkan lima perwakilan. Empat orang sebagai pion dan satu orang sebagai pengocok dadu,” kata Izzudin.

Selama perlombaan, setiap tim beradu dalam mengatur strategi. Tim yang mendapatkan nilai enam akan menjalankan pion ke arena dan berhak melempar dadu lagi.

Keseruan pun semakin bergemuruh ketika suporter dari keempat jurusan saling memberikan dukungan. Mereka melihat sembari meneriakkan zel-zel dari lantai 2 dan 3 Hall FIB. Terdengar teriakan ”Ayo; Enam; Yeay” dari para suporter.

Hasil lomba Ludo tersebut pun akhirnya dimenangkan Studi Kejepangan sebagai juara I. Selanjutnya Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai juara II dan Ilmu Sejarah sebagai juara III.

Salah seorang peserta dari Ilmu Sejarah Fikria Iwa Logika mengaku sangat senang mengikuti perlombaan Ludo itu. Dia merasakan hal yang berbeda dengan yang di online.

”kegiatan ini sangat seru karena Ludonya reallife. Jadi, kompetisinya lebih greget dan bisa merasakan balik kandang (pos, Red),” terangnya.

Sementara itu, setelah diadakannya lomba ini, Izzudin berharap mahasiswa FIB dapat mengatur strategi di FIB. Misalnya, membagi waktu antara tugas kuliah serta organisasi. Dan, yang paling penting, menurut dia,  mahasiswa mampu menjalin keakraban dan kedamaian di lingkungan FIB. (*)

 

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa’I




SEJUMLAH masyarakat tengah mengurus perpanjangan Surat Ijin Mengemudi (SIM) di tempat parkir Airlangga Convention Center (ACC), Kampus C, UNAIR, Rabu (5/9). (Foto: Agus Irwanto)

Ke UNAIR, Polisi Beri Kemudahan Perpanjangan SIM Mahasiswa dan Umum

UNAIR NEWS – Aktivitas akademik, juga kegiatan pengembangan diri yang padat, kerap menjadi salah satu alasan mahasiswa lupa memperpanjang SIM (Surat Ijin Mengemudi). Belum lagi karena asal daerah mereka yang jauh, yang membutuhkan cukup banyak waktu untuk kembali.

Menanggapi hal itu, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkemuka Jasa Rahardja yang bekerja sama dengan Kepolisian RI (Polri) dan Universitas Airlangga menggelar acara bertajuk Police & Jasa Rahardja Go To Campus and Safety Riding pada Rabu (5/9). Acara tersebut bertempat di gedung Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C, UNAIR.

Dalam acara itu, Polri, Khususnya dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya menempatkan satu unit mobil pelayanan SIM keliling. Tepatnya di area parkir gedung ACC.

Penempatan layanan keliling itu memang ditujukan kepada mahasiswa. Bukan hanya civitas kampus, pelayanan perpanjangan SIM tersebut juga menyasar banyak warga sekitar kampus. Tampak sedari pagi puluhan pengunjung mengantre untuk memperpanjang SIM. Baik itu SIM A maupun SIM C.

”Sebagaimana kita tahu, mahasiswa UNAIR kan berasal dari berbagai daerah seluruh Indonesia. Diharapkan mahasiswa UNAIR bisa memanfaatkan pelayanan ini,” Bripka Ari Mahlizar, koordinator salah satu unit layanan sim keliling tersebut.

”Jadi, mahasiswa tidak harus ijin meninggalkan perkuliahan hanya untuk memperpanjang SIM mereka,” tambahnya.

Petuga dari Satlantas Polrestabes Surabaya itu menambahkan bahwa pelayanan SIM keliling kali ini juga ditujukan untuk mendukung acara Police & Jasa Rahardja Go To Campus and Safety Riding. Yakni, sebuah kegiatan yang bertujuan meyosialiasikan upaya menekan tingginya angka kecelakaan kepada masyarakat. Khususnya oleh Jasa Rahardja bersama dengan Polri kepada mahasiswa.

Terkait dengan layanan tersebut, tutur Bripka Ari, perpanjangan SIM-nya dilakukan secara online seluruh Indonesia. Artinya, pemohon perpanjangan SIM bisa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tanpa mereka harus kembali mengurus di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) di daerah masing-masing.

”Pelayanan perpanjangan SIM yang kita lakukan merupakan online seluruh Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia bisa memperpanjang SIM di sini. Tanpa harus kembali ke daerah asalnya,” kata polisi yang bertugas di unit pelayanan Perpanjangan SIM keliling di Taman Bungkul itu.

Ketika di tanya tentang adanya pelayanan perpanjangan SIM secara rutin di kampus, Bripka Ari belum bisa memberikan kepastian. Semua itu, lanjut dia, berdasar pada kebijakan Satlantas Polrestabes Surabaya.

”Kami (Polri, Red) kan pelayan publik. Artinya, kami akan selalu siap melayani masyarakat,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Agus Irwanto

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

 




KHOFIFAH Indar Parawansa (baju putih) bersama Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., AK.,CMA., saat berfoto bersama dengan mahasiswa baru 2018 pada Sabtu (11/8). (Foto: Feri Fenoria Rifa'i)

Rektor dan Khofifah Indar Parawansa Tutup PKKMB 2018

UNAIR NEWS – Semarak serangkaian kegiatan mahasiswa baru Universitas Airlangga telah sampai pada pengujung acara. Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2018 UNAIR atau biasa dikenal dengan nama Amerta itu resmi ditutup pada Sabtu siang (11/8).

Gubernur Jawa Timur terpilih yang sekaligus alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Khofifah Indar Parawansa turut hadir menutup kegiatan tersebut bersama Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., Ak., CMA., beserta jajaran pimpinan. Dalam kesempatan itu pula, Khofifah turut menyampaikan paparan sekaligus motivasi kepada sebanyak 6.780 mahassiswa baru.

Dalam paparannya, Khofifah membuka memori perjuangannya pada Maret 1998 saat menjadi juru bicara untuk menyampaikan orasi reformasi politik 1998. Kala itu Khofifah muda aktif menyuarakan gagasan soal demokrasi. Khususnya soal pemilihan langsung yang tertuang dalam UU saat ini, pemilihan pemimpin mulai presiden hingga kepala daerah langsung dipilih rakyat.

”Ini merupakan bentuk penghargaan kepada hak-hak suara rakyat,” ujarnya.

Revolusi Industri 4.0

Kepada mahasiswa baru, Khofifah mengingatkan atas hadirnya era baru Revolusi Industri 4.0. Menurut dia, diperlukan kolaborasi antar elemen untuk menghadapinya. Termasuk di dalamnya adalah perguruan tinggi. Khususnya Universitas Airlangga.

”Suka tidak suka semuanya mesti bersiap,” ucapnya.

Khofifah menyebut UNAIR sebagai salah satu lokomotif penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi era itu. Khususnya di Jawa Timur. Langkah sekaligus target UNAIR untuk masuk jajaran 500 World Class University pada 2020 juga diapresiasi Khofifah.

”Fakultas dan program studi di UNAIR sudah memenuhi kualifikasi untuk bisa mendorong lokomotif Revolusi Industri 4.0,” sebutnya.

”Revolusi Industri 4.0 menjadi sangat penting sebagai transparansi, akuntabilitas, dan layanan. Termasuk di dalamnya adalah efisiensi program kita,” tambahnya.

Selain itu, kepada mahasiswa, Khofifah berharap keaktifan dalam merespons gejala sosial kemasyarakatan, terutama di Jawa Timur. Dia meminta jajaran civitas akademika UNAIR bersinergi.

”Aktif untuk memberikan masukan, meluruskan, dan mengingatkan bila ada kebijakan yang kurang. Termasuk mengapresiasi terhadap capaian positif pemerintah. Terutama Jawa Timur,” katanya.

Khofifah menekankan kepada mahasiswa baru fokus pada pendidikannya masing-masing untuk benar-benar menjadi ksatria bagi Indonesia. Ksatria kesehatan, ksatria ilmu sosial, maupun bidang lain untuk kemajuan bangsa dan negara.

KHOFIFAH saat memberikan paparan dan motivasi dalam penutupan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2018 UNAIR. (Foto: Feri Fenoria Rifa'i)
KHOFIFAH saat memberikan paparan dan motivasi dalam penutupan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2018 UNAIR. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)

Tugas dari Rektor

Sementara itu, dalam sambutannya, Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., Ak., CMA., menekankan pada kebijakan peningkatan mutu UNAIR yang disingkat BEST. Yakni, Based on Morality; Excelent Academic, Research, and Development Community; Strong Academic Culture; dan Target Oriented.

”Mahasiswa mesti tahu, paham, dan meresapi kebijakan peningkatan mutu ini (BEST UNAIR, Red),” katanya.

Selain itu, dalam sambutannya, rektor UNAIR memberikan tugas sepada seluruh mahasiswa baru. Mereka diminta menuliskan kebijakan mutu pendidikan UNAIR itu di sebuah kertas. Termasuk menuliskan sepuluh larangan bagi mahasiswa UNAIR.

”Kemudian, tulisan ini mohon ditaruh atau ditempel di meja belajar, juga kamar, masing-masing. Selanjutnya, tolong  difoto dan dikirimkan ke direktorat pendidikan UNAIR melalui Pak Hadi Shubhan,” jelas Prof. Nasih.

”Mahasiswa yang tidak melakukan ini, sertifikat PKKMB-nya nanti tidak diberikan,” imbuhnya.

Pada akhir, Prof. Nasih menekankan akan pentingnya kolaborasi segenap civitas akademika UNAIR dalam meningkatkan kualitas serta mutu pendidikan di UNAIR. Khususnya menumbuhkan sikap tanggung jawab sebagai mahasiswa dan civitas akademika dalam mengejar target, salah satunya masuk 500 World Class University.

Perlu diketahui, Prof. Nasih dalam sambutannya juga menggelar kuis berhadiah voucher uang Rp. 200.000 kepada mahasiswa baru. Dalam kesempatan itu pula, bersama dengan Khofifah, rektor UNAIR menyerahkan apresiasi kepada Ksatria, kelompok mahasiswa baru, terbaik PKKMB 2018. Atas penutupan kegiatan tersebut, mahasiswa baru bakal mengikuti kuliah aktif pada Senin, (13/8). (*)

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i




Gedung Parkir Bertingkat Kampus B UNAIR Mulai Dibangun

UNAIR NEWS – Sejumlah fasilitas penunjang pendidikan terus dilengkapi Universitas Airlangga. Kali ini minimnya lahan parkir yang menjadi problem civitas akademika di Kampus B selama ini bakal segera teratasi.

Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., Ak., CMA., menandai dimulainya pembangunan Gedung A Parkir Bertingkat Kampus B UNAIR pada Senin (30/7). Tepatnya di lokasi gedung itu berdiri, di sisi timur Gedung Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), sisi timur Gedung Syariah Tower. Sesuai dengan rencana, ada sepuluh lantai yang bakal menampung kendaraan para mahasiswa dan dosen di gedung parkir tersebut.

Direktur Sarana dan Prasarana UNAIR Karnaji, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya melaporkan bahwa gedung itu akan dibangun empat lantai pada tahap I. Total bakal ada tiga gedung parkir di sana. Luas areanya mencapai 3.664 m persegi. Panjangnya, tambah dia, adalah 112 m dan lebar 32 m.

”Setiap lantai bakal dapat menampung sebanyak 124 mobil,” ujarnya dalam Groundbreaking Ceremony di Kampus B UNAIR.

”Lantai 1, rencananya untuk memuat motor, parkir motor. Itu dapat memuat sekitar 414 motor,” tambahnya.

Mengenai kapan bisa digunakan, Karnaji menyatakan bahwa pengerjaan proyek itu bakal berakhir pada akhir April 2019. Jadi, total pengarjaannya adalah sepuluh bulan. Dia juga berharap kesepakatan penyelesaiannya tidak molor.

”Kita harap minggu terakhir April, tahap I lantai 1 sampai 4 bisa selesai,” ujarnya.

Soal kesepakatan dengan kontraktor, pengerjaan gedung parkir bertingkat tersebut akan dikerjakan secara bertahap. Anggaran pada tahap pertama bernilai 54 miliar. Menurut dia, ada bagian yang sangat membutuhkan biaya tidak sedikit. Yakni, di lantai dasar.

”Ini terkait dengan pemancangan tiang. Jadi, ada 812 titik tiang. Masing-masing tiang, masing-masing lubang, ada tiga tiang. Nah, kita membutuhkan sekian ribu tiang,” sebutnya.

Karnaji menjelaskan, diproyeksikan bakal dibangun tiga bagian gedung parkir di sana. Yang saat ini dibangun merupakan gedung A. Gedung B bakal dibangun di tempat parkir FISIP saat ini. Di antara gedung A dan B, kata Karnaji, bakal dibangun penghubung di atas sungai sebagai gedung C.

”Jika ditotal, bangunan A, B, dan C membutuhkan dana sekitar 300 miliar,” ujarnya.

TIANG pancang langsung ditanam seusai ditekan tombol dimulainya pembangunan Gedung Parkir Bertingkat Kampus B UNAIR. (Foto: Feri Fenoria Rifa'i)
TIANG pancang langsung ditanam seusai ditekan tombol dimulainya pembangunan Gedung Parkir Bertingkat Kampus B UNAIR. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)

Sementara itu, Prof. Nasih menilai pembangunan itu menjadi solusi sekaligus hal yang harus segera dilakukan. Mengingat, tempat parkir di kampus B menjadi problem yang harus segera diselesaikan. Proses-proses pendidikan, tutur dia, harus tidak terganggu.

”Kalau kita lihat, di Fakultas Hukum saat kuliah di lantai 2, dengan minimnya lahan parkir, terdengar suara klakson karena sesaknya tempat. Belum lagi karena mobilisasi mahasiswa yang juga padat,” ujarnya.

Karena itu, Prof. Nasih berharap kehadiran sarana itu dapat menunjang dan mendukung kegiatan perkuliahan di Kampus B. Dia menilai penyediaan sarana parkir memang harus dimulai saat ini. Selain penyediaan sarana, Prof Nasih mengingatkan bidang kemahsiswaan turut mendukung langkah itu dengan pembuatan aturan terkait dengan kendaraan mahasiswa.

”Bisa saja direncanakan, mahasiswa S1 dan D3 tidak diperkenankan bawa mobil,” sebutnya.

Soal pengerjaan gedung, Prof. Nasih juga mengingatkan kontraktor untuk bergerak bersinergi bersama. Serta mengerjakan kesepakatan sesuai dengan rencana. Upaya itu, ungkap Prof Nasih, menjadi bentuk keseriusan UNAIR dalam memberikan fasilitas pendidikan bagi civitas. Terutama sebagai upaya meningkatkan kualitas melalui penyediaan sarana yang memadai.

”Semoga dalam prosesnya, pembangunan ini tidak mengalami kendala. Sekaligus pengerjaanya bisa sesuai dengan rencana yang disepakati. Kita berharap pada 2019, area parkir mahasiswa difokuskan di area sekitar sini (area gedung parkir baru, Red),” tuturnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i

Penampakan tiga bangunan Gedung Parkir Bertingkat Universitas Airlangga di Kampus C. (Foto: Feri Fenoria Rifa'i)
Penampakan calon Gedung Parkir Bertingkat Universitas Airlangga di Kampus C. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)

 




Satu Jam Menengok Kinerja Pusat Percetakan UNAIR

UNAIR NEWS – Selasa lalu (22/5) adalah hari yang penuh ilmu dan pengalaman luar biasa. Pada hari itu mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga berkesempatan melakukan kunjungan ke Pusat Penerbitan dan Percetakan (Pusbitek) Universitas Airlangga. Pada kesempatan itu, para mahasiswa diajak langsung untuk menyaksikan proses demi proses percetakan buku.

Beberapa prosesnya, mulai dari pemberian materi sebagai bentuk pengenalan Pusbitek kepada mahasiswa, hingga mengajak langsung terjun melihat proses kinerja para karyawan.

Pusat penerbitan dan percetakan UNAIR ini telah berdiri sejak lama, yakni 22 Januari 1972 silam. Hingga kini, Pusbitek telah mencetak ribuan karya penulis. Pusbitek telah berkembang menjadi pusat penerbitan dan percetakan perguruan tinggi nasional yang kuat, besar, dan akurat.

Tak perlu ragu untuk berkarir bersama Pusbitek. Sebab, mahasiswa lulusan jurusan apapun tak menjadi kendala untuk bisa bergabung. Asal, mampu memenuhi syarat menjadi karyawan yaitu melalui serangkaian tes yang diselenggarakan. Salah satu tes tersebut adalah bagian editing.

Pada bagian editing ternyata tidak harus mematok mahasiswa lulusan editing naskah. Melainkan terbuka untuk semua jurusan. Namun ada bagian tertentu yang tidak sembarang jurusan mampu diterima. Seperti layout dan desain yang memang harus ditangani ahli yang menguasai.

Meski sudah menjadi karyawan Pusbitek, ternyata masih ada seminar-seminar pelatihan yang wajib diikuti. Hal tersebut dilakukan agar karyawan memiliki pengetahuan baru mengenai percetakan naskah. Karena tak dipungkiri bahwa dunia percetakan juga akan terus berinovasi dan berkembangan seiring perkembangan zaman.

Proses penerbitan buku di Pusbitek tidak semudah yang dibayangkan. Para penulis harus membawa naskahnya ke bagian pemasaran. Pada bagian pemasaran, naskah akan di-review terlebih dahulu, apakah pantas dan layak untuk diterbitkan. Pada uji kelayakan naskah akan ditentukan apakah naskah itu layak untuk diterbitkan atau masih harus direvisi. Bisa saja, naskah ditolak jika diketahui ada 30% hasil plagiat.

Di Pusbitek, pada bagian editing ada alat khusus yang mampu mendeteksi prosentasi isi naskah. Ketika naskah sudah berada di tangan editor naskah, maka naskah akan diberi catatan-catatan untuk ditanyakan kepada penulis dan dirundingkan bagaimana baiknya naskah tersebut untuk layak cetak.

Tak jarang, catatan dari editor ditolak oleh penulis. Penulis mengganggap bahwa naskah yang ia tulis telah sempurna. Namun, hal itulah yang menjadi tantangan tersendiri bagi para editor Pusbitek.

Setelah naskah selesai diedit dan dibenarkan oleh para editor, maka naskah masuk pada proses pra-cetak. Naskah yang telah diedit diserahkan ke bagian layout untuk diatur tata letak dan diformat berbentuk buku. Bersamaan dengan itu, bagian desain akan membuat sampul buku. Setelah itu, proof akan dibaca oleh penulis dan dimintai persetujuan untuk naik cetak disertai dengan tanda tangan kontrak penerbitan.

Setalah kontrak ditandatangani, maka naskah siap untuk dicetak. Setalah naskah dicetak dan sudah melalui tahap finishing, buku siap dijual kepada pembaca. Dalam hal ini, penulis dapat mengambil royalty dari hasil penjualan bukunya.

Biaya Penerbitan

Ada tiga tipe pembiayaan penerbitan naskah. Pertama, penerbitan naskah dibiayai oleh Pusbitek. Kedua, bekerjasama dengan instansi atau unit di perguruan tinggi atau di luar perguruan tinggi. Ketiga, biaya penerbitan ditanggung oleh individu atau instansi pemesan.

Walaupun pembiayaan naskah dibayar oleh individu atau instansi pemesan, naskah tersebut tetap harus melewati segala prosedur penerbitan yang ada. Untuk naskah yang dibiayai oleh pemesan, naskah yang sudah dicetak akan dikembalikan lagi kepada penulis untuk dipasarkan.

Begitulah proses kinerja Pusbitek yang luar biasa. Sebagai percetakan yang besar, Pusbitek sudah memiliki jaringan pasar buku yang banyak. Yakni, di berbagai toko buku di kota besar di Indonesia. Serta, jaringan perguruan tinggi, juga berbagai rumah sakit dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). (*)

Penulis: Novi Yanni

Editor: Binti Q. Masruroh

*Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, UNAIR




parkir motor

Lokasi Parkir Motor di Rektorat UNAIR Pindah ke Belakang Perpustakaan

UNAIR NEWS – Pembenahan terus dilakukan oleh Kantor Manajemen Universitas Airlangga. Kali ini mengenai perparkiran kendaraan bermotor. Terhitung mulai hari Rabu tanggal 18 April 2018, tempat parkir sepeda motor bagi sivitas UNAIR dan tamu, dialihkan ke belakang Gedung Perpustakaan.  Berdampingan dengan Asrama Puteri kampus C UNAIR. Semula, parkir ini berada diantara gedung Kahuripan dengan gedung Student Center (SC).

Menjelang perpindahan lokasi parkir itu, Selasa (17/4) sore diadakan selamatan sederhana “Potong Tumpeng” di lokasi parkir yang baru. Hadir dalam acara ini antara lain Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., Wakil Rektor II Dr. Muhammad Madyan, SE., M.Si., M.Fin., Wakil Rektor III Prof. Moch Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D., Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., Direktur Sumber Daya Dr. Purnawan Basundoro, SS., M.Hum., Direktur Sarana, Prasarana dan Lingkungan Karnaji, S,Sos., M.Si., Staf Khusus Drs. Ec. Pribadi Archam, dan beberapa staf Kantor Rektorat UNAIR.

parkir motor
SUASANA selamatan sederhana perpindahan lokasi parkir motor di sekitar Rektorat kampus C UNAIR. (Foto: Bambang Bes)

Dalam sambutannya, Prof. Moh Nasih mengatakan bahwa selamatan ini antara lain sebagai niatan kita yang tulus untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar di tempat baru ini nanti senantiasa diberikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan dalam penempatan sarana penunjang para pegawai.

”Kalau sarana perparkiran kendaraan pegawai itu nyaman dan aman, insyaAllah akan menunjang rasa tenteram pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Mudah-mudahan disini senantiasa aman dan nyaman,” kata Pak Rektor.

Setelah dibacakan doa oleh Wakil Rektor III Prof. Moch Amin Alamsjah, maka Rektor menyerahkan pelaksanaan prosesi ”potong tumpengnya” kepada Wakil Rektor II Dr. Muh Madyan. Lalu potongan nasi tumpeng beserta lauk-pauknya itu diserahkan kepada Direktur Sarpras dan Lingkungan Karnaji, S.Sos., M.Si. Baru setelah itu dilaksanakan makan tumpeng nasi kuning bersama.

Dalam “cuitan” beberapa yang hadir dalam selamatan ini, penempatan parkir motor di lokasi yang baru ini dinilai lebih baik. Sebagian lahan sudah beratap, semua lahannya sudah berpaving, listrik penerangan parkir juga terang, dan diyakini tidak tergenang air jika hujan deras karena dataran lokasinya agak tinggi dibandingkan dengan lokasi parkir semula.

parkir motor
PIMPINAN Universitas Airlangga dan peserta selamatan berfoto bersama di lokasi baru perparkiran sepeda motor di sekitar Rektorat kampus C. Lahannya berpaving rapi dan beratap. (Foto: Bambang Bes)

Selain itu akan memecah keramaian menjadi merata, dari yang selama ini hanya di sekitar masjid, Student Center, dan gedung Rektorat. Apalagi di sekitar perparkiran terdapat perpustakaan, asrama mahasiswa puteri, dan kedepan akan dekat dengan Sport Center yang saat ini sedang dikerjakan pembangunannya.

Menurut keterangan dari Bagian Sarpras UNAIR, tempat parkir motor yang lama akan direhab untuk parkir kendaraan pimpinan yang semula berada di lantai dasar gedung Selasar. Sedangkan lantai dasar Selasar, menurut rencana akan dipergunakan untuk menambah kebutuhan ruang kerja. (*)

Penulis : Bambang Bes




olahraga

UNAIR Segera Menambah Tiga Lapangan Olahraga Baru di Kampus C

UNAIR NEWS – Diharapkan dalam waktu yang tidak lama lagi, Universitas Airlangga akan memiliki tiga fasilitas olahraga baru. Ketiga fasilitas olahraga itu adalah lapangan basket, lapangan tennis, dan lapangan futsal. Ketiga lapangan tersebut semuanya terbuka (outdoor) dan akan dibangun bersebelahan di lahan yang letaknya di kawasan belakang gedung student center (SC) di kampus C UNAIR Jl. Mulyorejo Surabaya.

Tiga fasilitas olahraga tersebut akan dibangun dengan panjang 110 meter dan lebar 60 meter. Pembangunan fasilitas olahraga ini merupakan tanggungjawab sosial dari sebuah perusahaan, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Harvest Gorontalo Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang suplemen herbal. Kesepakatan itu telah tertuang dalam MoU (Memorandum of Understanding – kerjasama kesepahaman) antar kedua pihak yang dilaksanakan pada Desember 2017 lalu.

Saat ini, pembangunan lapangan olahraga tersebut sedang dalam proses pematangan desain. Karena itu, Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA dengan didampingi antara lain Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., Kamis (4/1) pagi meninjau lokasi calon pembangunan fasilitas olahraga tersebut.

Ditemui secara terpisah, Direktur Sarana Prasarana UNAIR, Karnaji, S.Sos., M.Si., menerangkan, pembangunan ketiga fasilitas olahraga tersebut akan dimulai awal Februari mendatang, dan diperkirakan akan selesai dalam waktu sekitar empat bulan kemudian. Sehingga pertengahan tahun 2018 ini sivitas akademika UNAIR, khususnya mahasiswa, sudah bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.

”Pembangunan tiga lapangan ini akan menambah fasilitas olahraga yang sudah dimiliki UNAIR selama ini, yaitu lapangan futsal dan GOR yang bisa digunakan untuk voli dan basket, serta satu arena olahraga panjat tebing,” ujar Karnaji.

olahraga
REKTOR Universitas Airlangga Prof. M. Nasih (menunjuk) ketika meninjau calon lokasi pembangunan tiga lapangan olahraga baru di kampus C, Kamis (4/1). (Foto: Istimewa)

Pengerjaan proyek ini sepenuhnya ditangani oleh PT. Harvest Indonesia selaku perusahaan yang memberi CSR kepada UNAIR. Jika dinominalkan, proyek ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 1 miliar.

Sementara itu, Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si., juga berharap melalui pembangunan fasilitas baru olahraga ini maka akan semakin banyak fasilitas olahraga yang tersedia bagi sivitas akademika, khususnya untuk mahasiswa.

Selain itu, dengan pembangunan fasilitas olahraga ini diharapkan bisa membagi keramaian aktivitas mahasiswa UNAIR. Sebab, selama ini kegiatan keolahragaan masih berpusat di lapangan futsal dan GOR, keduanya juga di kampus C.

Ditemui usai melakukan peninjauan yang dilakukan Kamis (4/1) pagi, Rektor UNAIR Prof. Moh. Nasih mengatakan bahwa pembangunan tiga lapangan itu akan segera dilakukan. Tujuannya agar fasilitas olahraga ini dapat segera dimanfaatkan oleh mahasiswa UNAIR.

”Segera (dibangun, Red). Lahannya sudah diukur-ukur. Agar segera bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa bisa dapat tempat untuk berolahraga,” ujar Prof. M. Nasih. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Bambang Bes




Fakultas Keperawatan UNAIR Gelar Expo Nerspreneurship

UNAIR NEWS – Suasana halaman dalam Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga begitu semarak Selasa pagi (19/12). Sebuah kegiatan yang melibatkan mahasiswa digelar. Tenda besar didirikan, dengan jejeran meja-meja stan.

Acara kali ini bertajuk Nerspreneurship, Expo Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) 2017. Dalam event itu, para mahasiswa menjual produk baik yang berupa makanan, minuman, kreasi kudapan sehat, produk kesehatan alami, dan sebagainya.

Ada dua puluh empat kelompok mahasiswa yang membuka stan. Tiap kelompok, terdiri dari sekitar delapan mahasiswa. Sedangkan yang merubungi stan-stan mereka untuk membeli berasal dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Selain makanan basah, ada pula kreasi lain seperti kripik wortel, masker jagung, dan lain-lain.

Salah satu kreasi yang menarik minat pengunjung adalah Hajite atau Hazna (indah atau bagus, Red) Jilbab Stetoskop. Produk ini memudahkan perempuan yang mengenakan jilbab untuk memasang stetoskop. “Kami mendesain agar stetoskop bisa lebih gampang dipakai tanpa harus memasukkannya ke bagian dalam jilbab untuk mencapai telinga,” ungkap Lailatul Rohmah Kurniawati, salah satu anggota kelompok mahasiswa yang menggagas desain jilbab ini.

Hajite, salah satu kreasi para mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.

Di samping stan Hajite, ada stan lain yang tak kalah menarik. Yakni, “Buku Bantal Edukasi”, khusus bagi anak-anak. Buku tersebut berbentuk layaknya bantal dengan tulisan dan gambar edukatif. Antara lain, tentang bagian-bagian tubuh lengkap dengan terjemahan bahasa inggrisnya. Ada pula tentang apa saja yang perlu dilakukan setelah bangun tidur di pagi hari, beraktifitas, sampai kembali tidur di malam hari.

“Ini adalah bagian dari mata kuliah kewirausahaan,” kata Angga Krisna, panitia pelaksana kegiatan.

Mahasiswa semester 3 itu mengutarakan, ada dua angkatan yang menjadi peserta. Yakni, angkatan 2014 (semester 7) dan angkatan 2016 (semester 3). Ada enam kelompok dari angkatan 2014, dan delapan belas kelompok dari angkatan 2016.

Dalam perkuliahan, kata alumnus SMAN 16 Surabaya itu, para mahasiswa digembleng untuk menjadi sosok yang berjiwa kewirausahaan. Utamanya, dari aspek mental dan semangat pantang menyerah. “Produk kewirausahaan kami berkutat pada bidang kesehatan. Makanan, minuman, dan produk perawatan maupun jasa yang diberikan, mesti berbasis kesehatan,” ungkap dia.

Selama ini, pihak kampus selalu mendukung prohgram-program mahasiswa. Termasuk, di ranah kreatifitas dan kewirausahaan. Sebab, secara umum, dekanat juga ingin mencetak lulusan yang mumpuni di bidang akademik maupun non akademik. Semangat juang kewirausahaan perlu menjadi landasan di setiap langkah para alumnus.

Dekan FKp Prof. Dr. Nursalam M.Nurs (Hons) mengatakan, pihaknya selalu mendukung aktifitas positif para mahasiswa apapun bentuknya. Sebagai misal, kegiatan yang berhubungan dengan olahraga, organisasi, dan kreatifitas. Dia mengutarakan, prestasi mahasiswa dari bidang manapun, memiliki peran mendongkrak reputasi baik bagi kampus. “Kami terus memfasilitasi,” urai dia.

Baik dari segi pendanaan, maupun birokrasi, pasti bakal dipermudah. Dengan demikian, para mahasiswa memiliki ruang ekspresi yang luas dan aplikatif. Para dosen juga telah memiliki visi yang sama dalam rangka pengembangan minat bakat tersebut. “Prestasi kami di bidang kreatifitas mahasiswa pada tingkat nasional juga mampu bersaing dengan fakultas dan kampus lain,” papar dia.

Ditambahkan Wakil Dekan I Dr. Kusnanto, apa yang diaplikasikan ini merupakan praktek dari sejumlah teori materi perkuliahan. “Jadi yang dipahami di kelas bisa langsung dikreasikan di lapangan. Menciptakan produk yang layak jual dan dibutuhkan publik,” ungkap dia. (*)