Ilustrasi: Istimewa

Sabtu Bersama Pak Eko

AKU baru saja menutup pintu pagar ketika sebuah sepeda tua melintas di jalan depan rumah. Melaju pelan, membunyikan bel. Lelaki itu tersenyum, mengangguk samar. Aku membalasnya. Semua orang mengenalnya, Pak Eko si pendongeng. Sudah hampir sepuluh tahun ini, ia menghidupkan dunia anak-anak Kampung Turi. Meski terhitung paruh baya, lelaki itu masih kuat mengayuh sepeda dari satu desa ke desa lainnya. Menjajakan hiburan dengan cerita-cerita pembuai imajinasi.

Lelaki itu pandai mencuri hati. Tak butuh waktu lama, anak-anak desa sudah akrab bergaul dengannya. Tiap Sabtu siang atau sore, bocah-bocah itu akan bergerombol di pos ronda. Menunggu detik-detik Pak Eko datang menuntun sepeda kumbang, dengan sekeranjang buku yang dapat dipinjam bergantian. Sebab, tak ada perpustakaan. Hadirnya Pak Eko seperti oase di tengah kerontangnya pengetahuan dan akses informasi di desa kami. Sesekali lelaki itu juga menjadi guru les dadakan. Pos ronda pun menjelma jadi taman belajar tiap petang menjelang.

Anehnya, ia tak pernah mau dibayar. Selama hampir sepuluh tahun itu pula, aku bertanya-tanya. Dari mana ia dapat uang? Mungkinkah dia konglomerat yang tengah mendedikasikan diri? Ah, mungkin pula ia masih bekerja di usia senjanya. Tak pernah ada yang mengetahuinya. Aku tak pernah bertanya dari mana orang tua itu berasal. Aku sering mendengarnya bercerita, tapi lelaki itu tak pernah menceritakan banyak hal tentang dirinya. Yang pasti, semenjak kedatangannya sepuluh tahun lalu, Pak Eko menjadi figur idola baru. Nyaring bel sepedanya selalu ditunggu. Sayangnya, lelaki itu hanya datang tiap Sabtu.

***

Sabtu itu, Pak Eko datang lagi. Dari jauh, anak-anak bersorak, berlari menyambut lelaki tua bertopi fedora yang tampak payah mengayuh sepeda.

”Pak Eko datang!”

Seperti dikomando, bocah-bocah itu berjajar menyanyikan lagu selamat datang sambil bertepuk tangan. Lelaki itu melambaikan tangan dari kejauhan. Bunyi kring bel sepedanya disambut riuh anak-anak yang tak sabar mendengarnya merajut kisah fiksi.

”Halo, anak-anak!” serunya tatkala melewati barisan.

Anak-anak itu bergegas mengikuti. Terus membuntuti hingga lelaki tua itu menepikan sepedanya di pos ronda. Seloroh anak-anak membuatnya terkekeh. Ia mengisyaratkan agar anak-anak itu duduk rapi membentuk beberapa sab barisan. Tak perlu dua kali perintah, mereka segera menertibkan diri.

”Apa kabar hari ini?” di balik guratan usia di wajahnya, senyum lelaki itu tak pernah berubah, selalu semringah.

”Luar biasa!” anak-anak menyahut kompak.

”Siap mendengar Pak Eko bercerita?”

”Siaaap!”

Semua tampak tak sabar mendengar Pak Eko mulai mendongeng. Lelaki itu menarik napas panjang, kemudian berdeham.

”Hari ini, Pak Eko akan bercerita tentang Kisah Si Badut dan Penyihir.”

Semua bersiap, mencari posisi duduk yang paling nyaman. Lelaki tua itu mengambil atribut dongeng berupa boneka-boneka tangan.

”Di suatu desa, hiduplah seorang badut yang selalu berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Setiap hari, ia berkeliling untuk menyebarkan kebahagiaan. Ia selalu berusaha membuat orang-orang tertawa. Mengusir kesedihan dan duka cita. Si badut sangat ramah dan baik hati. Karena kemurahan hatinya, semua orang menyukainya.”

Lelaki itu sejenak berhenti. Kemudian melanjutkan ceritanya lagi.

”Akan tetapi, ada peyihir jahat yang rupanya tidak suka melihat orang-orang bahagia sebab ulah si badut. Ia pun menyebarkan berita bohong tentang si badut. Dikatakannya kepada warga di penjuru desa, bahwa badut itu suka mencuri. Bukan hanya mencuri uang atau benda berharga, melainkan juga menculik anak-anak!”

”Mengapa badut itu menculik anak-anak?” sahut seorang anak yang duduk di barisan depan.

Pak Eko tersenyum.

”Sebenarnya badut tidak pernah mencuri atau menculik anak-anak. Penyihir itu berbohong. Ia berharap dengan begitu, orang-orang akan menjauhi si badut atau bahkan mengusirnya. Namun penyihir itu gagal melakukan aksinya. Orang-orang tidak percaya, dan tetap berkawan baik dengan si badut,” sambungnya.

”Si penyihir tidak kehabisan akal. Ia pun menjebak si badut. Ia merubah dirinya menyerupai badut, lalu mengajak anak-anak berjalan mengikutinya. Anak-anak tidak tahu jika itu adalah badut palsu. Mereka pun terus berjalan hingga menyeberangi sungai. Karena alirannya yang deras dan cukup dalam, anak-anak itu kesulitan menyeberang. Mereka berteriak minta tolong, namun penyihir itu hanya tertawa. Si badut yang mendengar teriakan anak-anak itu pun berlari dan mencoba menolong. Seketika penyihir mengubah dirinya ke wujud asli. Ia memberikan kabar bahwa si badut telah mencelakai anak-anak penduduk. Mendengar hal itu, warga berduyun-duyun pergi ke sungai. Dilihatnya si badut tengah berenang menghampiri anak-anak yang nyaris tenggelam. Beberapa di di antaranya hanyut tak terselamatkan. Penduduk pun marah. Mereka menyangka si badutlah yang melakukan semuanya. Badut itu pun diarak beramai-ramai, dilempari kotoran dan batu bahkan nyaris dibakar hidup-hidup.”

”Kasihan sekali badut itu.”

”Untung saja ada seorang anak bernama Jojo yang menyelamatkan si badut dari amukan warga. Dia menceritakan bahwa sejak pagi badut itu bermain bersamanya. Jadi tidak mungkin anak-anak itu pergi ke sungai karena mengikuti si badut. Semua terhenyak, mereka terkejut mendengar pengakuan Jojo.”

”Si penyihir jahat terus menghasut warga. Ia bersikeras bahwa si badut harus diusir dari desa itu. Warga pun menyetujuinya. Mereka menganggap Jojo hanya berimajinasi. Si badut pun akhirnya pergi dan tidak boleh kembali lagi.”

”Sudah selesai?”

Lelaki tua itu menggeleng. Ia tersenyum melihat wajah-wajah kecil yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

”Semenjak badut pergi, anak-anak menjadi murung. Derai tawa tak terdengar lagi. Banyak orang-orang mengalami kesedihan. Desa menjadi suram dan muram. Hal itulah yang diinginkan si penyihir. Dengan begitu, orang-orang akan datang padanya meminta ramuan kebahagiaan. Namun, khasiat ramuan itu tidak pernah bertahan lama. Tak lama kemudian, warga desa kembali diselimuti duka. Kepala desa pun bingung melihat kondisi warganya. Ia teringat akan sosok badut yang dulu pernah diusir. Ia percaya bahwa badut itu bisa mengembalikan keceriaan seperti semula. Dicarinya badut itu ke mana-mana, namun tak ada yang menjumpainya.”

”Ke mana perginya si badut?”

”Badut itu jatuh sakit. Ia sedih mengingat anak-anak yang tak bisa diselamatkannya di sungai. Meskipun itu bukan salahnya, tetapi si badut berduka karena kehilangan kawan-kawan kecilnya. Ia tak lagi tampak bahagia. Badut itu bersembunyi di lereng gunung. Dia hidup bersama peri hutan.”

Lelaki itu berhenti sejenak. Usia yang tak lagi muda membuat napasnya mudah tersengal.

”Suatu hari, ada dua orang pencari kayu di hutan. Mereka berbincang tentang desa sebelah yang mengkhawatirkan. Anak-anak sering menangis, banyak orang jatuh sakit. Si badut yang tengah duduk di atas pohon tanpa sengaja mendengarkan percakapan dua orang pencari kayu. Ia pun bergegas menemui peri hutan untuk mengantarnya pergi.”

”Apa badut itu disambut penududuk kembali?”

“Nah, ternyata, kedatangan si badut disambut dingin seperti sebelumnya. Semua orang menutup dan mengunci pintu rumah, melarang anak-anak bermain di luar. Melihat hal itu, si badut pun kecewa.”

”Ketika mereka hendak memutuskan kembali ke hutan, si badut dan peri bertemu Jojo, anak laki-laki yang dulu  pernah membelanya. Jojo sangat senang si badut telah kembali. Ia pun membawa si badut bertemu dengan kepala desa. Melihat si badut datang, raja nampak senang. Kepala desa menceritakan apa yang telah terjadi semenjak si badut pergi. ‘Apakah kau mau mengembalikan keceriaan di desa ini?’ tanya kepala desa. ‘Tapi aku sudah tidak diharapkan lagi oleh mereka,’ jawab si badut.

‘Semua ini akibat ulah penyihir yang dianggap warga sebagai tabib. Setiap hari mereka meminta ramuan kebahagiaan. Tapi rupanya ramuan itu justru memperparah keadaan. Penyihir itu juga yang menyebabkan si badut diusir dari desa. Ia tidak suka melihat orang-orang bahagia.’

Semua yang ada di situ terkejut. Jojo terdiam cukup lama. Air mukanya tampak berubah. Ia menunduk kemudian melanjutkan cerita.

‘Penyihir itu telah memperbudakku. Aku lah yang mengajak si badut bermain saat penyihir itu menggiring anak-anak ke sungai. Hanya karena imbalan sebuah permen aku menuruti perintahnya. Tapi kemudian aku sadar bahwa penyihir itu jahat. Aku sangat menyesal.’ Ungkap Jojo.

‘Penyihir itu harus diberi pelajaran!’ peri hutan menimpali.

‘Bagaimana kita bisa mengalahkannya?’

‘Aku tahu. Kekuatannya akan lenyap oleh energi positif manusia. Saat ia berbuat jahat, kita tidak boleh terpancing emosi. Emosi negatif justru membuat kekuatannya semakin bertambah.’

‘Jadi, kita harus membalas perbuatan jahatnya dengan perbuatan baik?’

Jojo mengangguk.

‘Bagaimana caranya?’

‘Kudengar penyihir itu tengah terbaring sakit akibat salah meminum ramuannya sendiri. Kurasa kita harus menjenguknya.’

”Keesokan hari, merekapun menjalankan misi. Si badut berkunjung ke pondok penyihir dengan membawa sekeranjang kue labu. Jojo dan peri hutan mengawasinya dari jauh. Mereka akan segera bertindak jika terjadi sesuatu. Si badut mengetuk pintu pondok kayu. Tak berapa lama, pintu itu terbuka. Di sudut ruangan, si penyihir tampak terkejut melihat kedatangannya.

‘Apa yang kau lakukan di sini makhluk konyol?’ tanya si penyihir.

‘Kudengar kau sakit. Aku datang menjengukmu, kawan.’ Si badut tersenyum, berjalan mendekat.

‘Aku membawa kue labu kesukaanmu. Coba lah, ini enak sekali. Apakah kau sudah makan?’

Penyihir itu tambah geram. Dilemparnya benda-benda di dekatnya untuk mengusir si badut.

‘Enyah kau dari hadapanku! Dasar makhluk bodoh!’

Lagi-lagi badut hanya tersenyum. Diletakkannya keranjang kue itu di meja. Diambilnya sepotong, diberikannya kepada penyihir yang terbaring lemah.

‘Aku terlahir untuk berbagi kebaikan dan menebarkan kebahagiaan. Aku tak punya niat jahat untuk menyakiti siapapun. Percayalah, aku datang untuk menjengukmu.’

‘Enyah, kau!’ Diarahkannya tongkat sakti penyihir pada si badut. Nihil, manteranya tak membuahkan hasil. Dicobanya berkali-kali, namun tak pernah berhasil. Kekuatan si penyihir telah lenyap. Menyadari itu, ia lantas tersedu-sedu. Badut itu duduk di tepi dipan, tempat si penyihir berbaring. Penyihir itu melempar tongkatnya, ia menangis, menyesali perbuatannya.

‘Kau benar-benar tulus dan baik hati. Aku telah mempermalukan diriku sendiri.’ Isak si penyihir. Si badut tersenyum. Diraihnya sepotong kue di meja, lalu disuapkan pada penyihir dengan hati-hati.

‘Maafkan aku, aku telah berbuat jahat padamu.’

‘Aku sudah memaafkanmu. Setelah sembuh, berhentilah menjadi penyihir jahat. Kau harus berubah menjadi orang yang baik. Kau bisa menggunakan kemampuanmu untuk menolong sesama.’

”Penyihir mengangguk pelan. Diperhatikannya si badut yang merawat dirinya dengan sabar. Selama tujuh hari, si badut selalu mengunjungi penyihir hingga sembuh. Ia datang membawa obat dan makanan. Si penyihir kian yakin jika badut benar-benar baik hati. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat lagi. Namun, si penyihir memilih meninggalkan desa itu. Ia pergi mengasingkan diri untuk mengubur kenangan buruknya dan memulai kehidupan baru.”

”Perlahan suasana pulih seperti semula. Si badut kembali disambut dengan suka cita. Derai tawa anak-anak mulai terdengar. Tak ada lagi duka dan sedih berkepanjangan. Desa itu pun diselimuti kebahagiaan dan keceriaan seperti sedia kala. Tamat.” Pak Eko mengakhiri cerita.

Anak-anak bertepuk tangan. Beberapa di antara mereka tampak menyeka sudut mata. Entah karena terharu atau sebab menguap. Usai menamatkan cerita, seperti biasa ia akan membagikan hadiah kepada anak-anak. Entah sebungkus permen atau sekeping roti, ia tak pernah lupa berbagi.

Dari jauh, aku diam-diam memperhatikan. Cerita itu pernah kudengar sebelumnya. Pada hari dan waktu yang sama, tujuh tahun lalu. Hanya ada kami berdua ketika itu. Aku bertanya, apakah dongeng hanyalah imajinasi, interpretasi mimpi, atau sebuah ironi.

”Dongeng tak selalu menjual fantasi. Ia hanya kiasan yang tak jauh-jauh dari pengalaman hidup itu sendiri. Kau tahu, Nak, fiksi adalah salah satu cara terbaik menyampaikan fakta. Fakta yang disulap menjadi narasi,” jawab lelaki itu sembari memasukkan buku-buku ke dalam keranjang.

Aku mengangguk, lantas tersenyum.

”Saya paham. Badut dalam cerita ini adalah Pak Eko sendiri kan?”

Ganti lelaki itu tersenyum. Ia meraih sepeda yang tersandar di dinding pos. Bersiap-siap pergi.

“Nak, aku lah tokoh yang tengah berusaha menepati janji pada si badut itu.”

Sesaat aku terhenyak, mengangguk, tanpa bertanya lagi.“

 

Penulis: Zanna Afia Deswari




Ilustrasi: google/image

Bahasa Sunyi

Sejak saat itu aku tak pernah berlama-lama menatap langit. Hanya sesekali mencuri waktu saat kau sudah benar-benar terlelap dalam mimpi. Dan, kau adalah yang akan berlama-lama menatap langit, dalam gelap maupun terik. Kau tak akan bertanya selagi aku tak ada di sana. Sementara aku akan menatapmu dari jauh, berbicara pada udara. Yang kutahu, kau dan aku sering tenggelam dalam imajinasi. Mengabdi pada sunyi, berjibaku pada rindu. Sebenarnya aku ingin suatu hari kita bisa menatap langit bersama. Dengan senyum, bukan air mata. Namun, aku tak pernah tega melihatmu bertanya-tanya, dan aku terlalu cengeng untuk menjawabnya. Meski begitu, aku tak mau menangis di hadapanmu. Karena ketika aku menitikkan air mata, kau akan ikut berkaca-kaca. Cukup langit sore ini yang menangis, kau jangan. Karena akan sulit kuhentikan. Itulah mengapa aku suka membiarkanmu menatap langit sendirian. Berbincang pada apa yang kau damba di atas sana. Aku juga. Pun begitu aku tak ingin selalu larut dalam sendu. Rinai, aku tak menjanjikan indahnya masa depan. Tapi, aku akan berjuang mewujudkan apa yang kau cita-citakan. Semampuku, akan kucari arti bahagia untukmu.

Hujan sore tadi menyisakan aroma basah pada tanah yang kupijak. Wangi hujan ibarat mesin waktu yang seolah menggiring ingatan pada dimensi tak beraturan. Aku menggelar kardus yang kudapat dari warung sebelah. Merebahkan diri menatap angkasa yang beranjak gelap. Memeluk dingin yang menguliti malam. Menghirup udara basah yang bercampur bau menyengat tumpukan sampah. Malam ini aku ingin menatap langit lama-lama, sekali saja. Kubayangkan ibu tersenyum dari atas sana.

Bu, kami merindukanmu. Rinai selalu bertanya tentangmu setiap hari. Semenjak ibu pergi, ia suka bicara sendiri. Pada angin, rumput, semut, hingga dinding kardus rumah kita. barangkali ia butuh teman bicara, sementara aku tak bisa mengimbanginya. Aku bicara dengan isyarat yang kubisa. Sementara ia tak memahaminya. Aku sering bingung ketika ia menangis tiba-tiba.

Maafkan aku yang belum bisa menjadi kakak yang baik untuknya. Bu, apa yang bisa kujamin untuk masa depannya? uang kardus dan koran yang kujajakan tak cukup untuk membeli seragam sekolah yang ia impikan. Aku hanya mampu menghibur ketika ia menangis melihat teman-temannya bisa sekolah dan pergi berlibur. Sesekali kuajak dia mancing di pinggir kali. Seketika matanya berbinar. Meski tak pernah pulang membawa ikan, setidaknya kami dapat rongsokan yang bisa ditukar uang. Cukup buat beli garam agar nasi tak hambar.

Aku tak paham mengapa akhir-akhir ini banyak orang menatapku haru. Meski sejak dulu begitu, namun rasanya berbeda, Bu. Seperti mereka melihat dua kali lipat kemalangan terpantul dari mataku. Ah, tapi aku tak peduli. Ibu bilang, hidup harus dinikmati, toh? Orang-orang itu cuma tak paham definisi bahagia orang miskin macam kita. Yang pasti, kusemogakan kelak adikku tak bernasib sama.

Malam ini sunyi, Bu. Tapi apakah ibu tahu, sejatinya semesta tengah berbisik mesra. Tentang hal yang tak diketahui manusia. Semacam rinduku pada ibu, dan cintaku pada Rinai. Tenang saja, aku tak pernah kesepian. Meski aku duduk dan bergumam sendirian. Ah, tapi aku tak sendirian. Masih ada Rinai, yang membuatku tersenyum tiap membuka mata. Satu-satunya yang kumiliki, kelak tumbuh jadi gadis manis yang tidak cengeng lagi.

Beberapa minggu ini, Rinai sering hilang. Kucari sampai petang, namun ia tak kunjung pulang. Di pengujung senja dia akan datang. Hanya meringis, seolah tak terjadi apa-apa.

“Jangan main jauh-jauh, nanti kamu hilang!”

Tapi ia tak pernah menjawab. Entahlah, akhir-akhir ini Rinai jadi jarang bicara. Ia lebih banyak tersenyum dan keluyuran entah kemana. Syukurnya, ia tak merengek minta bertemu ibu lagi.

Aku bangkit, menyeka bulir bening yang jatuh tanpa kusadari. Tiba-tiba sepasang tangan kecil menutup mataku dari belakang.

“Baa..!” gadis kecil itu terkikik sembari melepaskan sekapan tangannya. Aku menariknya ke pangkuanku, memeluknya erat-erat. Rinai diam menatapku. Sejurus kemudian mengalihkan pandangannya pada bintang-bintang.

“Ibu di sana ya?” aku mengangguk.

“Kok ngga pulang?” aku menggeleng, mengedikkan bahu.

Rinai berdiri, berbalik ke arahku, membisikkan sesuatu.

“Aku ingin bertemu ibu.”

Perlahan bayangannya menghilang bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. Kurasakan sunyi kembali mengitari semestaku. Sesaat aku termangu, sebelum akhirnya menyadari ia tak ada lagi di hadapanku. Aku terisak dalam gelap. Membenamkan wajah dalam rerumputan basah.

Bukankah Tuhan telah mengabulkan keinginanmu bertemu ibu, tiga puluh sembilan hari yang lalu?

Ruang kubus, 11/2/2018

 

 

Penulis: Zanna Afia Deswari




ilustrasi

Pemilu (Bagian II)

Aku tak puas. Pun begitu, awalan me- juga tidak menghasilkan kata untuk pilu. Memilu juga tak ada di kamus.

Atau mungkinkah, awalan pe- itu jika kutambahkan pilu akan menyebabkan konsonan ‘p’ akan luruh.

Bibirku lirih membunyikan kata, “tidak mungkin”. Namun otak jailku, dalam bahasa othak athik gathuk mengatakan yang sebaliknya.

Mungkinkah pepilu itu salah, dan pemilu itu adalah hasil peleburan awalan pe- dan kata pilu.

“Ah, mana mungkin pemilu punya akar kata yang bermakna kesedihan.”

Giliran hatiku bertaburkan tanya, senang-senang jail, tapi juga gelisah jika kata itu benar adanya.

Kemudian, kutelateni pencarian ini dengan membuka kamus lagi. Dan untunglah, KBBI tidak setuju. Prasangkaku mungkin melampaui batas. Ia sinis menuduh pada pendapatku tadi, karena nyatanya pemilu adalah singkatan dari pemilihan umum. Bukan seperti rangkaian yang kuduga.

Mana mungkin pemilihan umum itu sedih.

Pemilihan itu proses untuk mendapatkan sesuatu yang dikehendaki. Dan umum itu berarti banyak orang. Dan pemilihan umum adalah proses seleksi dimana banyak orang terlibat, berlangsung terbuka dari seluruh pihak dan untuk semua pihak pula yang tergabung di dalamnya.

Jadi asosiasi mengenai kesedihan tentang pemilu harus ditepis. Pemilu adalah pesta, festival, ajang yang tidak ada sedihnya sama sekali. Ini adalah ajang heroik, “sebuah adu kehebatan antar calon untuk membawa masa depan rakyat yang lebih adil dan sejahtera”, katanya di negeriku.

Tapi kata temanku suatu ketika.

“Suatu saat nanti, saat hati sepiku telah terisi. Saat itulah kita harus benar-benar merevisi cara kita memilih pemimpin dengan sakral dan khidmat.”

Mungkin, maksud temanku tadi, “kita tidak akan memakai sistem menyedihkan tentang pemilu, tapi menggunakan sistem dimana seorang pemimpin diangkat karena dia punya kualitas dari akar kepemimpinan dari bawah langsung”, bukan dengan baliho, iklantelevisi, dan polesan pencitraan yang mahal, bukan pula lewat sogokan yang haram, dan tidak juga lewat agen-agen yang berpotensi memakelari “harga mati” masa depan Indonesia dan manusia Indonesiamenjadi “harga nego”—dagang sapi. sekian.

(Oleh: Sukartono / Alumni UNAIR 2012)




Ilustrasi

Pemilu (Bagian I)

Tanpa sengaja di puncak rasa bosan karena sepi. Kuraih sebuah buku di rak perpustakaan kampusku. Tanpa punya maksud apa-apa. Aku dibimbing untuk sekadar membuka halaman demi halaman.

Lantas, tiba-tiba saja di bercak noda coklat yang membekas pada halaman itu, aku menemukan sebuah kata yang tak kurang sedih, sebagaimana yang kesepian pasti juga dalam kesedihan.

Kalau kata yang kutemukan ini sudah bermakna sedih, maka kata ini pasti juga terasing karena terlalu lama orang bersenandung atas bunyinya, tetapi hanya dalam omong kosong—tanpa pemaknaan, tanpa penghayatan.

Kata dalam buku itu ialah “pilu”, rasa hati yang bagaikan diiris oleh sembilu—irisanbuluh yang tajam melebihi belati.

Kalau bagimu kata itu belum terasa sedih, bersedihlah tapi bukan untuk sedih itu sendiri. Tapi, bersedihlah untuk merenungkan sampai hari ini, apakah sudah pantas kita tidak merasa sedih tentang diri kita sendiri ?

Tentang satu kata itu (pilu), akal budi ini terasa ingin mengejarnya. Walau ia akan lari karena kudekatinya tanpa ilmunya. Sebagaimana orang-orang yang terus merasa sepi, mereka tidak akan pernah tahu tentang keramaian yang sesungguhnya. Karena keengganan untuk mendekatkan diri dalam kerumunan hidup yang meskipun fana, tapi adalah bagian dari kebahagiaan yang tetap harus diselami selagi engkau ada di dunia ini.

Dan pendeknya untuk pertama-tama kupakai caraku untuk memahami kata ‘pilu’ itu, dengan kusorongkan sebuah awalan padanya. Namun, jika benar pilu senada dengan sedih, maka kutambahkanpula pe- di awal kata sedih.

Awalan pe- untuk sedih, menjadi penyedih, yang artinya seseorang yang larut dalam kesedihan tak bertepi.

Awalan me- untuk sepi, menjadi menyepi, yang artinya mengasingkan diri menuju sepi.

Lantas kata kamus, tak ada kata yang bisa dibentuk ketika awalan pe- kutambahkan untuk pilu. KBBI daring maupun buku, tak mengenal kosa kata pepilu. Pepilu tak ada. Dan tak berarti, hanya saja kalau kuucapkan dia adalah bunyi, suara, pelafalan dari bibir yang penasaran pada makna kata yang diembannya. bersambung…

(Oleh: Sukartono / Alumni UNAIR 2012)




inspirasi data

Ibu Pertiwi dan Aku Lahir Tepat di 2030 (Part III)

Apakah Pertiwi tidak tahu apa hasil diagnosa dokter beberapa hari yang lalu ? Ternyata tidak. Setelah melihat gelagat suaminya yang berubah. Yang sangat tepat waktu saat pulang kerja, dan dengan kehadiran Ibu mertuanya di rumah. Ia makin merasa curiga. Hingga, di suatu pagi, ia yang hanya ditemani Ibunya, pura-pura kalau obatnya sudah habis dan ingin menebus obat lagi ke dokter yang sama. Di saat itulah, Pertiwi dan Ibu mertuanya, mendapat penjelasan gamblang tentang diagnosa dokter atas penyakitnya, sekaligus kemungkinan kalau kelahiran bayinya itu akan merenggut Ibunya sendiri.

Pertiwi amat tabah mendengar penjelasan itu. Tapi sang ibu mertua merasa sangat tidak menyangka, kalau anaknya itu sedang berada di ujung bahaya.

“Apa yang salah dari perjodohan kedua anakku ini. Kenapa sampai ada omongan seperti ini dari dokter,” ujar si ibu mertua dalam pikirnya.

Dulu, eyang mereka memprediksi tepat kalau mereka akan punya anak di 2030. Ramalan eyang mereka itu nampaknya akan tepat. Tapi kenapa penuh resiko. Kenapa Pertiwi tidak punya kepastian akan masa depannya. Bukankah kalau si bayinya lahir tepat pada waktunya, Januari 2030. Itu pertanda kebahagiaan bagi keluarga besar Nusatara, yang dikaruniai cucu laki-laki pertamanya. Apakah tangis cucuku itu menandai kesedihannya ? Ataukah justru sebaliknya. Aku ingin cucuku dan Ibu Pertiwi tetap hidup. Tak boleh ada anak yang lahir sebagai petaka bagi Ibunya.

Jauh dalam kandungan Ibunya. Si bayi itu ingin menjawab keresahan neneknya.

“Nenek, kata dokter bukanlah kepastian kehendak Tuhan. Aku akan lahir tepat pada waktunya. Yakni di tahun 2030sebagaimana ramalan eyang buyut. Dan Ibu masih akan terus mendampingiku hingga pada tahun 2045 nanti, ketika aku akan menjadi remaja kuat dan cerdas. Di tahun itulah, titik balik dimana keluarga kita akan mengalami fase baru yang akan lebih membahagiakan. Yakni, aku yakin sebelum tahun itu. Ibu akan dinyatakan sembuh total oleh Dokter. Dan ayah akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia.”

***

Selesai

Penulis: Sukartono (Alumni FST UNAIR 2012)




kumparan com

Ibu Pertiwi dan Aku Lahir Tepat di 2030 (Part II)

Sepasang suami istri muda itu akhirnya pulang. Si suami menahan penjelasan dokter sampai di rumah. Sepanjang perjalanan ia hanya mencoba menghibur istrinya, sekaligus menyembunyikan rasa khawatirnya yang begitu dalam. Ia hanya berpesan untuk tidak bekerja terlalu keras di rumah. Hingga ketika sudah sampai di rumah, sang istripun bertanya.

“Mas, tadi dokter kelihatannya berbicara khusus dengan Mas. Memang dokter berpesan apa ?”

Pertiwi memang seorang istri yang begitu teliti, ia pandai bertanya, dan tak sedikit pula rahasia-rahasia suaminya dapat ia korek dengan mudah. Seperti misalnya, saat 3 bulan lalu, Pertiwi yang lagi ngidam minta di belikan motor baru. Si suami yang hanya punya simpanan sedikit, tak pelak harus menghutang ke salah seorang temannya dengan bunga yang fantastis. Padahal, si suami bilang ia mengambil hutang dari kakaknya. Tak salah, tapi nyatanya si kakak adalah penjilat yang tak kenal ampun kepada siapapun juga. Termasuk ke adiknya sendiri.

“Kenapa Mas terlihat murung, mendengar pertanyaanku itu ?”

“Tidak, Pertiwi. Dokter hanya berpesan agar aku lebih banyak menjagamu. Tadi aku bilang ke dokter, kalau selama ini aku terlalu sibuk bekerja. Kerja, kerja dan kerja. Tanpa sadar kalau kamu sedang hamil tua. Seharusnya, aku lebih mengerti kamu. Memperhatikanmu.”

“Mas tidak bohongkan ?”

Si suami kemudian memeluknya. Dan mengecup keningnya, lalu bermanja-manja sambil mengelus perut si istri yang sudah besar.

“Sebentar lagi, kamu akan lahir nak. Kamu pasti nanti gagah, seperti Ayah. Ayah sudah rindu menunggu kelahiranmu.”

***

Penulis: Sukartono (Alumni MTK UNAIR 2012)




Sasbud

Ibu Pertiwi dan Aku Lahir Tepat di 2030 (Part I)

“Aku tak mau lahir, Ibu.”

“Kau jangan berkata begitu,” elus Pertiwi yang sedang mengandung 6 bulan itu.

***

Dua hari lalu, Pertiwi pergi ke dokter. Tiga bulan terakhir, ia sering merasa pusing dan mual. Namun, bagianya gejala yang sering ia derita itu hanyalah satu gejala wajar karena ia sedang hamil. Suaminya juga tidak begitu memperhatikannya, karena Pertiwi selalu pandai menenangkan sang suami, tatkala ia nampak begitu lemas dan pucat, setiap kali pusingnya kambuh.

Dan hari itu, 27 September 2029, gejala pusingnya kambuh hingga membuatnya terjatuh ketika sedang pergi ke kamar mandi. Untunglah kandungannya kuat, dan si bayi dalam kandungan itu di nyatakan baik-baik saja. Barukarena kejadian itulah ia mau diajak ke dokter. Bersama suaminya, ia pergi ke dokter kandungan di daerahnya.

Mula-mula dokter amat curiga, ada kontradiksi yang amat mencolok. Pertiwi punya peluang besar untuk melahirkan bayinya dengan selamat dan normal. Tapi ada kemungkinan yang amat mengkhawatirkan di balik semua itu. Akhirnya doktor menggunakan segala analisis yang memungkinkan dengan menggunakan uji laboratorium dan sebagainya. Dari sini, dokter akhirnya memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan pada pemeriksaannya.

Kepada sang suami, dokter berkata. “Dengan cara bagaimanapun juga, kami sulit memastikan kondisi Ibu Pertiwi saat melahirkan nanti. Kelahiran bayi Bapak, baik secara normal maupun sesar akan sangat beresiko. Ibu mengidap penyakit hemofilia.”

Sang suami, terbingung-bingung mendengar penjelasan semacam ini. Ada ekspresi antara ingin marah dan sedih takut kehilangan istrinya itu. Di dalam lamunannya ada bisikan yang membuatnya kian lemas.

“Dokter bukanlah seorang sastrawan yang suka mengarang cerita. Bukan aktor yang menciptakan narasi fiksi. Ia berkata lewat analisis logis, dengan metode ilmiah. Ia bukan politisi yang suka menakut-nakuti, yang suka menebar kontradiksi antara ucapan dan lakunya.”

“Oh, Tuhan. Bagaimana ini ?” sambil menghela nafas begitu panjang.

***

Oleh: Sukartono (Alumni MTK UNAIR 2012)




Emak

Mak Surati (Bagian II)

UNAIR NEWS – Mak merasa tergagap-gagap dengan ketidakmampuan dalam mengajar si tole. Apa boleh buat. Sudah berapa kali Mak marah-marah di depan tole. Dan berapa kali pula tole ganti membelalakkan mata tanpa takut beriringan dengan nada tingginya yang tak mau dikalahkan pula.

Hingga seorang tetangga, tukang gosip yang judes bin cerewet pernah berkomentar. “Kalau itu anakku, walah. Pasti udah saya sambel itu.”

“Bocah kog, sama orang tua berani.”

Jadi rasanya, cerita Malin Kundang itu memang kisah yang relevansinya masih bisa dikais. Narasi gubuk Desa, kehidupan orang tua. Dan dambaan kemewahan dalam pikiran si anak. Serta keacuhan seorang anak untuk sadar pada kondisi yang ada. Di bumbui dengan begitu materialistiknya dunia luar.

Mak yang berkali-kali marah. Tapi kenapa tidak sekalipun ‘keramat’ seorang Mak dipikirkan untuk ditakuti oleh si tole Bagus. Inilah keajaiban anak sekarang.

Kulminasinya. Bersama pergaulan yang tak bisa di tahan. Di tengah-tengah bantahan. “Masak, anak muda kog nggak boleh kemana-mana.” Di saat itu, bertumpuk fase-fase kenakalan tole. Dari mula-mula hanya sebatas menghisap sebatang rokok sekali sehari, kini sudah dua bungkus sehari. Mak ibaratnya menyajikan uang jajan harian untuknya yang berlebih hanya demi jadi asap di bakar.

Ujarnya. “Gaul bro. Cah nom kog nggak ngrokok. Nggak muda-lah.”

 Hanya saja. Prilakunya menjadi, dari rokok kemudian seteguk minuman keras mulai dicicipinya, bersama satu genk motornya. Yang setiap sore dari jam lima hingga remang-remang habis magrib mangkal di gardu jembatan pinggir jalan umum desa itu.

Miras inilah yang suatu waktu. Menjadikan hati Mak makin tersayat walau wajah keibuannya tetap mengontrol rasanya untuk tidak berlaku terlalu berlebihan. “Le, le. Siapa yang kau tiru. Sampai teler, mabuk-mabukan seperti ini. Bapakmu dulu itu orang taat.” Sambil terisak bercapur marah.

Saya hanya termenung. Si tole ini bukan seorang diri. Kerumunan hari ini mewabahkan tole lain. Banyak. Orang-orang tua bingung mengendalikan anaknya. Peralihan pikiran materialistik kota dari tawaran mode di televisi, secara masif mendorong kemalasan, memicu ilusi kemewahan. Dan orang tua, dalih rasa tak tega dipaksa anak-anaknya untuk tidak bisa mengelakkan rengekan mereka.

Satu tanya. Ketidakseimbangan Desa yang dirusak oleh dimensi infrastruktur bisnis, budaya dan kaburnya orientasi tata masyarakat yang mendambakan ketenangan, teduh dan damai. Desaku bergejolak, tidak asri. Tapi penuh dengan ranjau ‘bom waktu’ yang akan meledakkan kekisruhan mental, dan krisis kewarasan akal berpikir. [ * ]

Penulis: Sukartono (Alumni FST UNAIR Angkatan 2012)




Emak

Mak Surati (Bagian I)

UNAIR NEWS – Tempat tinggalku adalah padukuhan mungil. Tak ada yang istimewa. Masyarakat kami hidup apa adanya dengan sawah sebagai sumber mata pencaharian turun temurun. Kantor kami adalah hamparan tanah, meja dan kursinya adalah cangkul, sabit dan alat bajak yang kini digantikan oleh traktor mesin. Sering begantinya masa,  alam berubah—musim tak bisa diprediksi dan kejayaan pertanian surud. Kini era modern mewabah dan zaman ‘now’ datang membawa setumpuk gelisah.

Semua harap-harap cemas tanpa siap apa yang akan terjadi. Mak Surati hanya seorang berpendidikan SD nggak tamat. Sedangkan kontaminasi masa mewabahkan prilaku tak terkendali kepada tole Bagus, anak semata wayangnya.

Suami Mak Surati sudah meninggal semenjak tole masih berusia 3 tahun. Saat itu pula Mak Surati mulai banting setir, dari yang semula hanya momong si tole. Kemudian termaksa Mak harus mengambil alih tugas keluarga dalam mencari nafkah. Usaha dagang bakso keliling suaminya akhirnya diambil alih dengan membuka warung di pojokan Pasar Nglambang.

Sejak itulah, Mak yang hanya bisa memikirkan kebutuhan rumah tangga, luput bersamaan dengan perkembangan si tole yang kini sudah menginjak umur 18 tahun. Alih-alih ingin membahagiakan si anak, malah akhirnya Mak harus pontang panting menuruti keinginan anaknya itu.

Tahun lalu, ketika sebuah sinetron televisi mewabahkan gaya hidup ala anak jalanan dengan motor gedhe-nya. Si tole merengek, mengancam Mak dengan nada amat menjengkelkan. Apa daya, mau tidak mau sepetak sawah hasil peninggalan ayahya itu harus terjual demi menuruti keinginannya itu.

Mak, amat pasrah dengan kondisi itu.

Di luar, entah Mak tahu atau tidak. Bersama teman sepergaulannya, tole sering dikesankan ikut melakukan hal-hal yang terbilang dibenci oleh para orang tua yang pagi dan malamnya digunakan bekerja untuk membiayai anaknya. Di sekolah ia sering bolos di jam-jam pelajaran. Bahkan suatu waktu, sampai Mak dipanggil oleh pihak sekolah karena tole terjaring razia Satpol PP.

“Mbok ya. Kalau sekolah yang bener Le. Emak ini kerja siang malam buat kamu.”

Sudahlah Mak. Tak usah terlalu kecewa. Tole sudah tumbuh sebagaimana yang ia pilih dan ia rasakan sebagai kenikmatan. Kalau tole bolos, dan terjaring razia karena berdua-duaan saat jam sekolah di bawah ringin kurung alun-alun dengan pakaian putih biru yang pating slintut. Itu bukan salah tole. Roman masa muda itu adalah tren masa kini. Kebebasan dan kebebalan adalah hak kids zaman now. 

Dan mungkin sekali-kali Mak tidak boleh hanya tahunya bakso, pelanggan, lalu lintas rumah dan pasar saja. Mak harus ikut update, menonton film Dilan yang tanpa tabu, dengan mempertontonkan wacana roman yang lebih berani dan maju untuk anak seusianya. Nggemesin dan kisah pacaran baper ialah puncak imaji masa muda.

Bersambung…

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika Universitas Airlangga)




Di Antara Dua Sahabat (Bagian II)

Mereka kemudian menghentikan langkah. Meneduhkan pikiran, dan mendudukkan jasmani serta rohaniah agar lebih enak dalam obrolan. Keputusannya ialah duduk di teras pohon beringin lebat, sambil menggelar tikar plastik yang telah mereka beli sebelumnya dari jajaran penjual di tepi alun-alun.

“Ya udah lupakan sajalah itu”, tuturnya.

Mereka beralih topik percakapan untuk meregangkan pembicaraan dari yang serius ke yang serius lainnya.

“Eh, iya. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Bagus.”

“Sepertinya dia berhasil dan sukses.”

Di bawah dua beringin kembar, lalu dipangku oleh pemandangan kantor bupati dan percakapan soal tingkah politisi diawali.

“Bukannya dia sekarang di Cipinang?”

“Iya. Dia punya kesempatan untuk berhasil pada Pilkada waktu itu. Dia tidak jatuh sebenarnya. Tetapi, dia diuji untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.”

“Aku sebenarnya terkejut dengan pemberitaan itu. Dan, sebenarnya saya juga malu.”

“Jangan begitu. Orang punya kemungkinan setiap saat untuk berbuat salah. Tapi, kasih Tuhan masih membukakan pintu pertaubatan untuknya.”

Sebuah kasus menjerat Dr. Bagus Pradana beberapa bulan lalu. Seorang Bupati yang naik ke kursi panas jabatan dengan perjuangan berdarah-darah. Menimbulkan friksi golongan hitam dan putih, memisahkan hubungan persaudaraan antara teman, kerabat bahkan menyisakan luka, hingga pemilihan periode berikutnya.

“Saya juga sempat menyesal tentang ini. Bisa-bisanya aku terbawa dalam kampaye mendukungnya. Walau tak sedaerah, namun postinganku waktu itu, penuh mendukung kemenangannya. Seakan kalau pihak musuh yang menang. Maka riwayat dunia akan tergulung. Tapi justru karena dia yang tidak hati-hati. Malahan dunia yang kubayangkan tidak tergulung, justru tergulung sendiri oleh kelakuaannya.”

“Kalau boleh jujur, saya juga memilih dia dulu.”

Jawaban ini mungkin akan mengejutkan.

“Loh, apa iya ?”

“Iya. Saya yakin dibalik hujatan dan situasi yang saling lempar itu. Saya masih bisa fair memilih. Sentimen permusuhan model apa pun, termasuk ‘SARA’ tidak akan bisa memengaruhi keyakinan saya untuk memilih seseorang.”

“Why?”

Dipandanglah wajah temannya itu dengan raut yang cukup serius.

“Pilkada kan soal lima tahun. Soal pertarungan ide. Soal adu bagus kepemimpinan. Dan, itu sama sekali terpisah menurutku dengan keputusan Tuhan untuk menyayangiku atau melaknatku dengan pembalasannya. Ini soal lima menit untuk lima tahun.”

“Tapi?”

Si teman memotongnya. “Yang kalian sangka tentang sebuah golongan itu homogen adalah masa lalu, masa yang kuno. Sejarah mencatat perpecahan dimana-mana atas motif apapun. Itu bukti bahwa tidak ada satu doktrin pun yang awet dianut oleh semua golongan yang merujuk pada sebuah teks yang sama sekalipun.”

“Benar.”

Sore pun semakin meramaikan suasana alun-alun itu. Tak ada keindahan yang bisa dilebih-lebihkan, kecuali di tempat itulah orang-orang dari yang anak-anak sampai remaja, sedang berebut tempat dan kenyamanannya untuk menikmati hidup ini.

“Apa kau sudah lebih tenang kini pada usiamu yang sudah mendekati kepala lima? Sudah punya cucu?.”

“Tiga anakku laki-laki semua. Anak pertamaku sudah bekerja, tapi belum punya rencana. Sedangkan dua lainnya masih kuliah. Aku hanya khawatir tentang diriku sendiri, karena mereka terlalu hebat untuk ukuran anak seusianya di masa kita dulu.”

“Memang tantangan makin hari makin berat. Standar moral begeser sedemikian hebat. Hal tabu diterjang begitu mudahnya.”

“Sudahlah. Biarlah mereka yang menjawabnya saja.”

Tak pantas sebagai orang tua berputus asa pada masa depan anak-anaknya.

“Kau memilih melepaskan mereka ?”

“Kadang iya, tapi lebih banyak mereka yang melepaskan kita atau kita yang tidak mampu memahami dinamika jiwa yang meraka lalui dengan perkembangan teknologi yang maha hebat ini. Aku tidak tahu.”

Mereka sejenak, tercenung menatap langit yang kian memerah dengan taburan adonan kue berbentuk bulu domba yang ditumpahkan ke sela udara di atap angkasa.

“Lihat itu sajalah biar kita lebih tenang.” Sambil menunjuk kebahagiaan pasangan muda yang sedang bermain-main dengan anaknya yang masih berusia sekitar tiga tahunan. Lucu, menggemaskan, dan keluarga yang harmonis.

“Selebihnya terkadang itu fatamorgana juga.”

Mereka berdua tertawa. [ * ]

 

SUKARTONO