image_pdfimage_print
Emak

Mak Surati (Bagian I)

Semua harap-harap cemas tanpa siap apa yang akan terjadi. Mak Surati hanya seorang berpendidikan SD nggak tamat. Sedangkan kontaminasi masa mewabahkan prilaku tak terkendali kepada tole Bagus, anak semata wayangnya.

Di Antara Dua Sahabat (Bagian II)

Mereka kemudian menghentikan langkah. Meneduhkan pikiran, dan mendudukkan jasmani serta rohaniah agar lebih enak dalam obrolan. Keputusannya ialah duduk di teras pohon beringin lebat, sambil menggelar tikar plastik yang telah mereka beli sebelumnya dari...

Di Antara Dua Sahabat (Bagian I)

“Kita tak lagi bisa kembali ke masa itu.” Saat itu, usia mereka belum bisa dibilang matang. Sebagai sebuah tahap pendewasaan, siapapun bisa saja bertengkar pada hal sepele. “Loh, kok kamu malah pengin ke masa lalu to?” “Iya....
Jagongan

Teman

Ia agak sedikit gila, mudah punya khayalan, ngeyelan, suka bergaul, tapi tak suka menjadikan kawan bicaranya sebagai teman. Selera humornya lumayan, penampilannya tidak modern, namun tidak setuju kalau disebut tidak modis. Hobinya adalah membual,...

Senyuman di Perempatan

Aku tengah menyibak langkah pelan melawan debu jalanan. Mukaku kusut walaupun tak sekusut bendera partai yang ditancapkan sembarangan di sepanjang trotoar. Rambutku sudah tidak serapi tadi pagi ketika semangat masih membumbung tinggi. Kini yang...

Menikah Lagi

TIDAK akan ada orang yang terlalu terkejut atas pernikahan kedua Batutah. Orang-orang hanya berpikir bahwa seorang duda dengan satu anak berusia 5 tahun, tengah melepas masa lajang setelah ditinggal mati istrinya selama setahun. Tapi,...
Ilustrasi

Cinta dalam Berzakat II

Si istri tadi memenuhi permintaan Bu Nyai, karena tidak mungkin ia menolak ajakan orang yang paling dihormati di Desa itu.
Ilustrasi

Cinta dalam Berzakat I

Baginya, selagi ada yang masih bisa digunakan untuk berbagi, ia akan berkeras untuk berzakat. Walau ia sendiri adalah fakir miskin penerima zakat.
Ilustrasi

Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku III

Dua kalimat syahadat saja aku tak benar-benar serius. Aku tak bisa berbahasa Arab, akupun tak mampu membaca samudera luas yang bernama Al-Qur’an itu. Sholatku hanya sebatas ritual, doaku adalah rengekan rapal yang tak jarang hanya sekedar kulafalkan tanpa arti. Dan ketika kuketuk pintu di dalam hatiku, aku jadi sangat ragu.
Ilustrasi Kembang Api

Berpesta Dengan Duka II

Laki-laki itu membuatku penasaran, untuk apa pesta ini diadakan. Sebelum aku bertanya pada Durja dan Lukas, aku mengingat obrolan kami suatu siang saat jam istirahat kerja. Aku, Durja, dan laki-laki itu menghabiskan sisa jam istirahat di sebuah balkon tempat kami bekerja.

EDITORIAL COLOUMN