image_pdfimage_print
Ilustrasi

Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku III

Dua kalimat syahadat saja aku tak benar-benar serius. Aku tak bisa berbahasa Arab, akupun tak mampu membaca samudera luas yang bernama Al-Qur’an itu. Sholatku hanya sebatas ritual, doaku adalah rengekan rapal yang tak jarang hanya sekedar kulafalkan tanpa arti. Dan ketika kuketuk pintu di dalam hatiku, aku jadi sangat ragu.
Ilustrasi Kembang Api

Berpesta Dengan Duka II

Laki-laki itu membuatku penasaran, untuk apa pesta ini diadakan. Sebelum aku bertanya pada Durja dan Lukas, aku mengingat obrolan kami suatu siang saat jam istirahat kerja. Aku, Durja, dan laki-laki itu menghabiskan sisa jam istirahat di sebuah balkon tempat kami bekerja.
Ilustrasi

Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku II

Alasanku masih memegang agama adalah untuk menuju pada ketenangan diri. Aku yakin Islam adalah pintu selamat, pintu ketenangan, keteduhan dan kasih sayang. Di dalam ketenangan itulah aku menemukan surga. Dan di dalam kasih sayanglah, aku menemukan bidadari-bidadari yang sedang merayu, menggoda dan membawaku pada kepuasan rohaniah imajiner yang tiada ukurnya.
Ilustrasi Merdeka.com

Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku I

Aku sama sekali merasa lepas dari upaya untuk baik seperti mereka. Diriku tak punya apa-apa. Tak punya ulama untuk ku bela, dan tak punya hafalan Al-Qur’an yang bisa kubanggakan. Hingga aku tak berkesempatan untuk membela ulama’ maupun merasa ternistakan oleh orang yang memelintir kitab suci itu.
Ilustrasi caseygriffin.com

Berpesta Dengan Duka I

Ia mengundangku ke rumahnya. Laki-laki itu memang gemar sekali berpesta, bahkan ia tak pernah melihat situasi saat berpesta. Baru saja seminggu yang lalu ia mengundangku untuk berpesta, atas kenaikan gajinya di sebuah perusahaan, tempat ia bekerja selama tiga tahun belakangan. Pesta itu dilangsungkan di sebuah cafe, yang sepertinya sudah ia kosongkan khusus untuk tamu-tamu pestanya. Istrinya tak turut hadir di sana, katanya ini khusus.
Ilustrasi

Jangan Tersandera Part II

Di sebuah mimbar, seorang Kyai ditanya seorang jamaahnya. Jamaah yang bertanya ini adalah seorang warga dari desa Selo. Ia sendari ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ilustrasi

Jangan Tersandera Part I

Jejak kaki laki-laki itu makin terdengar cepat lajunya. Beriringan dengan itu, amukan suara menggelar terdengar tanpa diketahui dari mana asalnya.
Ilustrasi

Sepatu Part II

Baju yang dilipat ibuk tinggal sedikit. Ibuk merasa terbantu karena Dini. Meskipun sedari tadi Dini cuma diam.

Ranjang

  Aku memandang langit dari balik jendela kaca berteralis. Jendela yang terbuka itu berengsel pada bagian atas. Malam larut, aku tak takut dengan angin. Beberapa bintang bisa kulihat dengan jelas. Ranjang yang kududuki menjadi bukti...

Pelabuhan

Ada banyak hal yang bisa ditulis dari pelabuhan. Mulai dari fenomena sosial di sana, hingga apa yang menjadi perebutan di sana.

TOP STORY