Tim KKN UNAIR Banyuwangi Usulkan Candi Purwo Jadi Wisata Baru

UNAIR NEWS – Candi Purwo diusulkan tim Kuliah Kerja Nyata-Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) Universitas Airlangga di Banyuwangi menjadi wisata baru. Rencana tersebut muncul seusai tim menggelar penelusuran ke lokasi pada Minggu (8/7).

Nilai kesejarahan Desa Kedungasri coba digali tim yang beranggota sembilan orang itu. Selanjutnya, diharapkan hal tersebut mampu mendorong Candi Purwo menjadi alternatif wisata baru di kawasan itu.

Ide tersebut muncul ketika salah satu tim KKN-BBM Tematik 58 UNAIR diterjunkan ke Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Tim melihat adanya banyak potensi di sana. Salah satunya potensi alam. Terutama soal keindahan dan keasrian desanya.

Desa Kedungasri terdiri atas tiga dusun. Yakni, Dusun Pondokasem, Dambuntung, dan Persen. Salah satu dusun, yaitu Dusun Pondokasem, terdapat satu potensi bidang wisata. Yakni, melalui adanya Candi Purwo.

Peningkatan potensi wisata itu dilakukan tim dengan mengunjungi Candi Purwo. Didampingi Kepala Dusun Pondok Asem Parmin dan pejabat Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kedungasri Kowi, tim meneliti potensi tersebut. Turut serta dalam kegiatan itu Bejo, juru kunci Candi Purwo.

Ketua tim KKN-BBM 58 UNAIR Desa Kedungasri Ifan Haidar Ali menyampaikan, Candi Purwo belum banyak dikenal masyarakat. Selama ini, candi tersebut hanya dikunjungi umat Hindu yang akan beribadah.

”Lokasinya di tengah hutan. Candi itu memiliki panorama yang cukup indah dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata,” katanya.

”Sekitar Candi Purwo, terdapat gundukan tanah yang dikenal dengan sebutan Gumuk Gadung yang konon katanya tidak akan terendam oleh air meskipun air laut pasang,” imbuh Haidar.

Berdasar cerita di masyarakat, candi tersebut dibangun untuk mengingat lokasi bertemunya Prabu Brawijaya dengan Sunan Kalijaga. Pertemuan itu membahas tentang isu yang menerpa Kerajaan Majapahit, bahwa Kerajaan Majapahit telah hancur diserang Kerajaan Demak. Kenyataannya, Kerajaan Majapahit hancur bukan karena diserang Demak, melainkan perang saudara.

”Hingga kini, banyak masyarakat Hindu, baik dari Banyuwangi maupun Bali yang berkunjung untuk beribadah ke candi ini,” ucap Bejo.

Meski terdapat candi, mayoritas penduduk di Desa Kedungasri beragama Islam. Ada pula agama Kristen. Hal itu menunjukkan toleransi dan keberagaman di sana.

Ayu Nur Imany, salah seorang anggota kelompok KKN itu mengungkapkan bahwa nilai toleransi di Desa Kedusngasri bisa dijadikan daya tarik. Namun, bukan berarti itu hanya sebagai tontonan. Realitas keragaman tersebut bisa dijadikan penguat untuk saling menghargai dan memupuk nilai-nilai toleransi.

“Toleransi beragama menjadikan Desa Kedungasri ini tenang, tertib, serta aktif dalam menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing,” tuturnya. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Tim PKM UNAIR Banyuwangi Beri Solusi Tingkatkan Produksi Benih Nila Merah

UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga di Banyuwangi temukan solusi peningkatan produksi benih nila merah di Kabat, Banyuwangi. Solusi itu terwujud dalam produk Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKM-T) INTEL. Yakni, Inkubator Telur Ikan untuk Meningkatkan Ketersediaan Benih Ikan Nila (Orechromis niloticus) di Balai Benih Ikan Kabat–Banyuwangi.

Atas ajuan program tersebut, tim INTEL berhasil memperoleh dana hibah dari Kemristekdikti dalam PKM 2018. Selanjutnya, pendanaan itu digunakan untuk merealisasikan program INTEL tersebut. Khususnya dalam melakukan upaya peningkatan produksi benih nila merah di Balai Benih Ikan (BBI) Kabat.

Temuan solusi tersebut berawal dari ditetapkannya BBI Kabat menjadi laboratorium lapangan FPK UNAIR Banyuwangi. Atas dukungan sarana itu, tim yang terdiri atas lima orang tersebut mencari masalah di sana.

Mereka adalah Yunus Yovia Rohman, Indra Wicaksono, Ahmed Sultan Afif Shiddiq, dan Dinda Yuni Istanti. Awalnya, tim menggelar studi lapangan dengan tujuan memajukan BBI Kabat.

Hingga akhirnya, tim menemukan problem soal kemampuan BBI Kabat menyediakan benih nila merah. Balai belum mampu memenuhi kebutuhan mayarakat atas benih karena tingginya permintaan pasar. Penyebabnya, teknologi yang dipakai balai dalam kegiatan pembenihan masih kurang memadai.

”Di BBI Kabat ini, pembenihannya masih dengan cara lama. Ikan nila yang bertelur akan dibiarkan begitu saja di kolam pembenihan. Hingga, induknya mengerami telur di mulut dan menetas di kolam tersebut. Kemudian, larva yang sudah menetas diambil,” kata Ketua PKM INTEL Yunus Yovia Rohman.

”Jadi, prosesnya memakan waktu yang lama. Dan, wajar kalau (BBI Kabat, Red) belum mampu  mencukupi kebutuhan pasar,” imbuhnya.

Yunus mengungkapkan, Nila merah sendiri merupakan tipe ikan yang mengerami telurnya di dalam mulut. Jadi, dibutuhkan waktu yang cukup lama hingga telur menetas menjadi larva.

Karena itu, tim INTEL datang dengan teknologinya, yaitu berupa inkubator telur. Penggunaan teknologi tersebut bertujuan memotong siklus pengeraman pada pembenihan ikan nila.

”Jadi, ikan nila betina yang telah bertelur, lalu dibuahi jantan, dan kembali dierami betina di mulutnya, bisa langsung diambil telurnya untuk dimasukan ke inkubator. Dengan begitu, induk nila dapat kembali bertelur tanpa harus mengerami telur,” ujarnya.

Setelah hampir sebulan program itu dilaksanakan, pihak BBI Kabat sangat berterima kasih kepada tim INTEL. Sebab, teknologi inkubator tersebut berhasil meningkatkan produksi ikan nila, bahkan mencapai dua kali lipat.

PENANDATANGANAN surat kerja sama dengan pihak Balai Benih Ikan Kabat – Banyuwangi. (Foto : Tim INTEL)
PENANDATANGANAN surat kerja sama dengan pihak Balai Benih Ikan Kabat – Banyuwangi. (Foto : Tim INTEL)

”Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik UNAIR Banyuwangi ini. Dengan inkubator sederhana ini, produksi ikan nila kami akan cepat meningkat,” ungkap Ketua BBI Kabat Banyuwangi Hadi Subhan, S.P.

”Dan, saran kami, supaya ukuran inkubator ini nanti juga diperbesar. Agar, itu (inkubator, Red) bisa digunakan dalam skala yang lebih besar,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Temui Tokoh Masyarakat, Tim PKL Bulusan UNAIR Gali Masalah Kesehatan  

UNAIR NEWS – Di Banyuwangi, kesehatan masih menjadi problem yang kompleks hingga saat ini. Permasalahan yang sering muncul, salah satunya, kegagalan program intervensi, sosialisasi kepada masyarakat. Hal itu sering terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan masyarakat dan implementasi program yang diterapkan.

Menanggapi problem tersebut, tim PKL (praktik kerja lapangan) dari Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi menggali langsung masalah kesehatan dari para tokoh masyarakat. Metode Nominal Group Technique (NGT) digunakan tim yang terdiri atas sepuluh mahasiswa itu. Penelususran problem tersebut digelar pada Minggu (8/7).

Cara itu dipilih karena penelusuran pada data instansi kesehatan (top-buttom) bukan menggali akar masalah langsung dari masyarakat (buttom-up). Karena itu, akar penyebab masalahnya sulit dideteksi. Akibatnya, program intervensi cenderung tidak tepat sasaran, bahkan berkemungkinan gagal.

Diketahui, tim PKL UNAIR melakukan penulusuran sekaligus pemecahannya selama 35 hari. Kegiatan tersebut terdiri atas identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, identifikasi penyebab, menyusun program intervensi, menerapkan program intervensi, serta melakukan monitoring dan evaluasi program.

“Saat ini kami masih dalam tahap identifikasi masalah,” ucap Aziz, salah seorang anggota tim.

”Dari kegiatan NGT itu, kami berharap bisa mendapatkan masalah kesehatan yang benar-benar bersumber dari masyarakat dan mewakili secara keseluruhan wilayah Kelurahan Bulusan. Selanjutnya, itu (hasil penelitian, Red) nanti dipadukan dengan data sekunder dari pihak puskesmas,” tambahnya.

Kegiatan NGT tersebut turut melibatkan seluruh ketua RT dan RW di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Kegiatan tersebut diadakan di Kantor Kelurahan Bulusan. Paparan soal kondisi kesehatan di Bulusan disampaikan perangkat desa.

“Dari kegiatan NGT ini, kami berhasil menemukan beberapa prioritas masalah. Di antaranya, penyakit stroke, ISPA (infeksi saluran pernapasan akut, Red) dan TB,” ungkap Wahyu Febriawan, salah seorang anggota kelompok PKL Bulusan. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

 




Kelompok KKN UNAIR Babat Hutan untuk Jalan ke Alas Purwo

UNAIR NEWS – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Airlangga di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, babat alas (membangun jalan) di sepanjang akses menuju kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo. Kegiatan bersama warga itu digelar pada Sabtu (7/7).

Sejumlah perangkat desa setempat dan komunitas di masyarakat turut hadir dan membantu babat alas tersebut. Di antaranya, babinsa, kepala desa (Kades) dan kepala dusun (Kasun) Pondokasem serta Persen. Juga diikuti komunitas trail motocross. Diawali dengan briefing (pembekalan) bersama Kades Kedungasri di rumah Kasun Pondokasem, babat alas itu dimulai pukul 08.00.

“Tahun ini merupakan tahun kali pertama Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, menjadi salah satu wilayah tujuan kegiatan KKN dari Universitas Airlangga,” ujar Kades Kedungasri Sunaryo.

”Kami sangat senang dengan antusiasme mahasiswa dalam membantu warga di sini,” imbuhnya.

Saat briefing, Sunaryo mengungkapkan bahwa kegiatan pembukaan alur jalan atau babat alas tersebut bertujuan membangun sarana jalan ke hutan Taman Nasional Alas Purwo. Khususnya akses yang langsung menuju Balai Taman Nasional (BTN) Alas Purwo.

“Terbangunnya Jalan ke BTN Alas Purwo ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat Kedungasri,” katanya.

”Jalan ini dimulai dari ujung timur Dusun Pondok Asem sepanjang 3 km mengikuti alur yang memang khusus dibuat Perhutani. Yakni, ditandai dengan ditanamnya pohon mahoni di sepanjang jalur yang ada,” tambah Sunaryo.

Sementara itu, Babinsa Desa Kedungsari Hasannudin menyatakan bahwa akses menuju BTN Alas Purwo tersebut hanya dapat dilalui dengan kendaraan roda dua. Dalam kegiatan itu, pohon mahoni di sepanjang perjalanan diberi tanda untuk mengetahui alur akses yang bakal digunakan.

Diduga, jalur tersebut dibuka karena ada rencana pembukaan taman nasional secara besar-besaran. Terutama demi kelancaran akses menuju BTN Alas Purwo.

“Ke depannya kami berharap pembangunan jalan ini dapat terealisasikan. Dengan begitu, manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat,” ungkap Hasannudin.

Di sisi lain, Ayu Nur Imany, salah seorang anggota tim KKN UNAIR, mengungkapkan bahwa warga sangat berharap instansi-instansi terkait bisa segera melaksanakan pembangunan jalan. Terutama yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan berdampak baik terhadap masyarakat.

”Sebab, atas pembangunan dan pembukaan jalan ini, masyarakat sangat antusias dan menyambut dengan tangan terbuka,” sebutnya. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




41 Mahasiswa PKL Kesmas UNAIR Banyuwangi Diberangkatkan

UNAIR NEWS – Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi memberangkatkan 41 mahasiswa untuk melaksanakan PKL (Praktik Kerja Lapangan) pada Senin (2/7). Mereka merupakan mahasiswa semester VII.

Koordinator PKL Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes., menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan yang tahun kedua digelar. Lokasinya juga masih sama dengan tahun sebelumnya. Yakni diadakan di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

”Tepatnya di empat desa. Desa Telemung, Desa Pesucen, Desa Klatak, dan Desa Bulusan,” ujarnya.

Kegiatan serupa dilaksanakan Prodi Kesmas UNAIR di kampus utama. Yakni, di Kabupaten Probolinggo.

Sementara itu, Kepala Prodi Kesmas PSDKU UNAIR di Banyuwangi Moh. Zainal Fatah mengungkapkan bahwa secara keseluruhan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) memberangkatkan lebih dari 200 mahasiswa untuk PKL pada Juli–Agustus. Baik yang dari FKM Surabaya maupun dari FKM PSDKU UNAIR Banyuwangi. Mereka merupakan mahasiswa semester VII.

“Masing-masing kelompok terdiri atas sepuluh mahasiswa. Secara khusus, mereka menggali masalah kesehatan yang ada di wilayah yang ditempatinya,” katanya.

”Mereka juga melakukan kerja sama dengan pihak desa dan puskesmas setempat untuk menyusun program intervensi pemecahan masalah,” tambah Zainal.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 35 hari. Yakni, terhitung mulai pemberangkatan pada Senin (2/7) sampai penutupan pada Selasa (7/8).

Di sisi lain, Septa Indra Puspikawati, S.KM., M.Ph., salah seorang dosen pendamping menyampaikan bahwa di setiap desa, para peserta didampingi dua dosen. Kedua dosen berperan menjadi doesn pendamping lapangan (DPL). Selain itu, turut mendampingi peserta, yakni seorang pembimbing dari instansi kelurahan dan satu orang dari puskesmas. Dengan begitu, total setiap tim didampingi empat pembimbing.

“Tahun kemarin, program dari mahasiswa cukup berhasil memberikan intervensi kepada masyarakat dan mendapat apresiasi menarik dari pihak puskesmas setempat,” sebutnya.

”Dengan PKL ini, harapannya, semoga tahun ini bisa semakin baik lagi,” imbuh Septa. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifai




Perdana, 8 Mahasiswa FPK UNAIR Banyuwangi Diwisuda

UNAIR NEWS – Delapan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Program Studi di Luar Kampus (PSDKU) Universitas Airlangga di Banyuwangi membukukan sejarah pada Pelantikan Wisuda periode Juli 2018. Kedelapan mahasiswa menjadi lulusan pertama prodi FPK PSDKU UNAIR di Banyuwangi.

Tepatnya pada Ahad (1/7), gelar S.Pi., atau sarjana perikanan resmi mereka raih. Itu menjadi sangat istimewa karena proses pendidikan mereka digelar di luar kampus utama Surabaya. Delapan mahasiswa tersebut adalah Alvian Irwan Prayoga; M. Luthfil Hakim; Dewi Fatmawati S.; Nina Rofi’ Rukmana; Maria Agustina Pardede; Lukita Sury; Dana Icha Bakti; dan Novi Nur Latifah.

Sebelum mereka dilantik Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., Ak., CMA., di ACC (Airlangga Convention Centre) UNAIR Kampus C, proses pendidikan serupa dengan yang di pusat dilalui. Tidak ada yang berbeda. Hingga akhirnya kelulusan mampu mereka raih.

Kepada delapan mahasiswa itu dan yang lain, Dekan FPK UNAIR Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., Mp., menyampaikan pesan dalam acara pelepasan lulusan perdana tersebut di fakultas. Saat terjun ke dunia kerja, mahasiswa mesti menggangap semua orang adalah kolega.

”Dengan begitu, akan terwujud rasa menghargai orang lain dan dihargai orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Nasih dalam pelantikan wisuda 1.030 lulusan turut memberikan perhatian kepada para lulusan perdana PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Dalam sambutannya, rektor meminta para lulusan tersebut berdiri, lantas menyampaikan selamat.

”Tidak ada perbedaan antara alumni UNAIR Banyuwangi dan UNAIR Surabaya. Yang menjadi pembeda adalah hanya tempat belajar,” katanya.

”Saat terjun ke dunia kerja nanti, seluruh alumni UNAIR baik Banyuwangi maupun Surabaya, tetap memakai satu nama, yakni Universitas Airlangga,” imbuhnya.

Sambut Kakak Tingkat

Momen pelantikan perdana mahasiswa PSDKU UNAIR di Banyuwangi tersebut sontak disambut baik rekan dan adik tingkat. Sejumlah mahasiswa Banyuwangi FPK turut hadir dalam pelantikan wisuda itu. Mereka rela menempuh jarak yang tidak dekat dari Banyuwangi ke Surabaya untuk merayakan pencapaian tersebut.

Banner berukuran 3 x 1 meter menyambut delapan mahasiswa lulusan perdana itu seusai mengikuti prosesi pelantikan. ”Selamat dan Sukses Wisudawan & Wisudawati” tertulis pada banner tersebut. Yang menarik adalah tulisan-tulisan tanda pagar (tagar) yang membingkai ucapan selamat dalam banner itu. Mulai tagar JanganLupaAdiknya, NdangRabi, NdangKerjo, SakinahMawadahWarohmah sampai HidupItuKeras.

“Ini merupakan wisuda pertama. Dan, bisa dibilang sejarah bagi kampus UNAIR Banyuwangi. Jadi, kami juga tidak mau dong ketinggalan momen,” ujar M. Reynaldy Thoriq, mahasiswa FPK PSDKU UNAIR di Banyuwangi yang hadir dalam penyambutan tersebut.

”Meski jauh-jauh dari Banyuwangi atau kota masing-masing, yang terpenting bisa menyambut kakak tingkat kami yang sedang wisuda. Dan, mereka merupakan penduduk pertama di kampus UNAIR Banyuwangi,” tambahnya. (*)

Penulis: Bastian Ragas/ Feri Fenoria Rifai




KM PSDKU Banyuwangi Lanjutkan “GAME” Sesi II

UNAIR NEWS – Departemen Sosial Keluarga Mahasiswa (KM) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi kembali melanjutkan kegiatan Gerakan Airlangga Mengajar atau GAME  hingga sesi 2.  Gerakan Airlangga Mengajar kali ini memboyong sejumlah 22 volunteer mahasiswa.

Mengusung tema “Satu Aksi, Cinta Negeri, Siap Mengabdi” kegiatan itu masih dilangsungkan di SDN 1 Karangrejo dengan target siswa-siswi kelas 1-5. Tujuan dari kegiatan GAME adalah untuk membantu siswa siswi di sekolah-sekolah terpencil untuk mendapatkan tambahan pengetahuan yang layak untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Ketua pelaksana kegiatan, Khansa Fatihah Muhammad mengungkapkan, setelah sukses  dilaksanakan pada Sabtu(26/5), kegiatan itu dilanjutkan kembali di sesi kedua  pada Minggu (1/7).

“Sasaran kami adalah sekolah-sekolah dengan kondisi terpencil, butuh bantuan edukasi dan kurang terekspos,“ ujar mahasiswa yang akrab disapa Khansa itu.

Sementara itu, Nur Azizatul Ikrima selaku sekretaris kegiatan sekaligus koordinator Departemen Sosial KM mengungkapkan, kegiatan season 2 itu sedikit berbeda dari sebelumnya. Menurutnya, kegiatan GAME kali ini lebih berfokus pada penyampaian materi mengenai dasar-dasar pola hidup bersih dan sehat di sekolah.

Setelah penyampaian materi oleh para pemateri, kegiatan dilanjutkan dengan recall berupa permainan ular tangga, dimana dalam setiap pemberhentiannya siswa diberi pertanyaan seputar materi yang telah diberikan.

“Tidak harus melulu dengan materi seperti seminar, kami ingin agar mudah diingat jadi kami tanamkan kembali melalui permainan agar lebih menarik minat siswa,” ujar Ikrima.

Pada kesempatan yang sama Khansa menambahkan, ia menekankan bahwa membangun kebiasaan baik dapat dimulai dari diri sendiri dan dimulai sejak sedini mungkin.

“Karena menjadi generasi yang cerdas saja tidak cukup, harus diimbangi dengan menjaga pola hidup sehat,” tambah mahasiswa asal Rogojampi itu.

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Nuri Hermawan




Tanggap Bencana Banjir Bandang, KM PSDKU Galang Relawan

UNAIR NEWS – Akibat hujan deras yang mengguyur Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh,  Kabupaten Banyuwangi, sejak dua hari terakhir mengakibatkan banjir bandang lantaran meluapnya sungae Badeng.

Luapan air sungai itu disebabkan oleh sumbatan material pohon yang berasal dari wilayah Kecamatan Songgon. Dikutip dari Koran Harian Kompas pada Jum’at, 22 Juni 2018, total ada sekitar 300 rumah terdampak banjir bandang, sedangkan 15 rumah rusak parah.

Melihat kondisi tersebut, Departemen Sosial Keluarga Mahasiswa (KM) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi merencanakan kegiatan bertajuk “Limited Oppurtunity Relawan Banjir Bandang Alas Malang.’’

Kegiatan itu sebagai ajang bagi para mahasiswa PSDKU yang ingin  menjadi tenaga relawan kemanusiaan. Kuota para relawan hanya dibatasi sebanyak 30 orang. Recruitment dilakukan menggunakan sistem online mengingat situasi yang sedang libur akhir semester.

Para relawan disediakan sarana transportasi dan konsumsi dari kampus ke lokasi bencana. Bantuan yang diberikan pada warga terdampak adalah barang kebutuhan sehari-hari seperti selimut, tikar, susu bayi, alat masak dan lain-lain.

“Di lokasi kejadian para relawan kami ikut membantu dalam operasi pembersihan serta memberi motivasi kepada korban bencana banjir,’’ ujar Yuda Prayogi tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat PSDKU angakatan 2017. “Rencana kegiatan ini dilaksanakan semata-mata sebagai bentuk rasa kemanusiaan kita terhadap para korban bencana banjir,” imbuhnya.

Kondisi sebagian rumah korban banjir di daerah terdampak sudah dapat ditinggalii kembali. Namun jalan di Dusun Garit masih penuh lumpur dari sisa banjir. Sehingga, rencananya para relawan akan disebar ke wilayah yang masih membutuhkan bantuan yakni di Desa Garit dan Alas Malang.

“Harapan kami kegiatan ini juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi,’’ tutur Nur Azizatul Ikrima, tim dari Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat PSDKU. “Dapat diibaratkan kegiatan ini merupakan hubungan mutualisme yang sangat bermanfaat bagi korban maupun relawan,’’ pungkas Ikrima

Penulis: Tunjung Senja WIduri

Editor: Nuri Hermawan




Mahasiswa UNAIR Banyuwangi Bikin Gerakan Airlangga Mengajar

UNAIR NEWS – Departemen Sosial Keluarga Mahasiswa (KM) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi mengadakan kegiatan GAME (Gerakan Airlangga Mengajar), Sabtu (26/5). Gerakan Airlangga Mengajar kali ini memboyong sejumlah 22 volunteer mahasiswa, mengusung tagline “Satu aksi, cinta negeri, siap mengabdi”, berlokasi di SDN 1 Karangrejo dengan sasaran siswa-siswi kelas 1-5.

Tujuan dari kegiatan game adalah untuk membantu siswa siswi di sekolah. Selain itu, untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap permasalahan yang ada disekitar dan memberikan kontribusi dalam menyelesaikan masalah yang ada.

Ketua pelaksana kegiatan Khansa Fatihah Muhammad mengungkapkan, GAME kali ini merupakan event kedua setelah tahun sebelumnya terlaksana dengan sukses.

“Sasaran kami adalah Sekolah sekolah dengan kondisi terpencil, butuh bantuan edukasi dan kurang terekspos,” ujar Khansa.

Nur Azizatul Ikrima sekretaris kegiatan sekaligus koordinator departemen sosial KM mengungkapkan, kegiatan dihari pertama, Sabtu (26/5), mengusung tema mengejar mimpi.

“Kami mengajak siswa siswi untuk menggambarkan cita-cita mereka dalam tulisan dan gambar,” terangnya.

Ikrima mengungkapkan, ia dan tim lebih menekankan bahwa cita cita tidak melulu pada profesi tertentu yang sering mereka dengar, seperti dokter, pilot, polisi.

“Kami menjelaskan cita-cita dari sisi yang berbeda. Cita-cita sebagai petani, peternak, dan nelayan, asalkan itu baik dan berguna bagi diri dan orang lain tentu itu baik pula. Tidak harus melulu pada profesi tertentu tadi,” ujar Ikrima.

Khansa menambahkan, ia dan tim menekankan bahwa sekalipun jadi petani, peternak, dan nelayan, mereka harus lebih sukses dari orang tua mereka dengan lahan lebih luas dan penghasilan lebih banyak. Harapannya, agar dapat membantu orang di sekitarnya.

“Karena menjadi petani, peternak, dan nelayan, juga merupakan pekerjaan yang mulia, memudahkan kita memperoleh beras, ayam, ikan dan banyak hasil lainnya,” tambahnya.

Antusias dari peserta cukup tinggi. Guru pun sangat mendukung terselenggaranya acara dan berharap kegiatan seperti itu dapat terus berlanjut ditahun-tahun berikutnya. Serta, bisa menjadi teladan bagi universitas lain, khususnya di Banyuwangi. Harapan dari penyelenggara, semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi siswa siswi yang ada di sana. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Binti Q. Masruroh




Asah Kepemimpinan dan Kebersamaan dengan LKB3M

UNAIR NEWS – Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga (AUBMO) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi kembali menyelenggarakan acara buka bersama. Namun, pada acara buka bersama kali ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, tim AUBMO PSDKU berinovasi dengan menyelipkan materi pelatihan kepemimpinan di dalamnya.

Acara yang bertajuk Latihan Kepemimpinan dan Buka Bersama Bidik Misi (LKB3M) itu mengusung tema “Prepare Yourself with Leadership to your Bright Future”. Dilaksanakan pada Sabtu (19/5), AUBMO PSDKU mengundang  Nuri Hermawan, S.Hum., selaku alumni bidikmisi yang saat ini berprofesi sebagai staf di PIH UNAIR.

Pada kesempatan itu, alumnus Sastra Indonesia UNAIR itu menuturkan, perjuangan mahasiswa bidikmisi tidak cukup hanya dengan kemampuan akademik saja, tetapi harus diimbangi dengan kemampuan soft skill melalui kegiatan keorganisasian, kepanitiaan, pengabdian untuk mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

“Meskipun mengikuti kegiatan keorganisasian, jangan sampai mahasiswa bidikmisi lulusnya telat. Zaman saya dulu, lebih dari setengah mahasiswa penerima bantuan bidimisi tidak lulus tepat waktu. Jangan sampai ini terjadi pada kalian,” ujar pria kelahiran Blitar itu.

Tidak hanya itu, selama acara berlangsung, imbuhnya, mahasiswa penerima bantuan dana pendidikan bidikmisi di PSDKU diajak untuk mengingat kembali  sejarah pencanangan bantuan dana pendidikan bidikmisi di Indonesia.

“Karena dengan memahami sejarah, kita tidak akan salah dalam menentukan arah dan langkah,” tuturnya.

Acara LKB3M dilaksanakan di Ruang B201 Kampus Giri PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Selain latihan kepemimpinan dan buka bersama acara juga dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah. Menurut Ulviana Dewi Kumalasari salah satu peserta kegiatan mengungkapkan, melalui kegiatan LKB3M ia lebih mengenal sejarah perjuangan menteri pendidikan mengusulkan pengadaan bantuan bidikmisi.

“Dan hal ini bisa kami rasakan sekarang, bagi mahasiswa yang kurang mampu pun bisa menempuh pendidikan tinggi di Indonesia,” jelasnya.

Usai memberikan materi, ada sesi simulasi. Dalam sesi ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-7 orang. Simulasi terdiri dari dua bagian, yaitu permainan angka dan susun rangka. Pada permainan susun angka, peserta diajak untuk menyusun angka dari nominal 0-9 dan operasi hitung untuk menghasilkan kemungkinan angka terbesar dan angka terkecil.

“Tujuan permaian pertama ini untuk melatih peserta menyusun strategi dalam mencapai target maksimal bersama kelompok,” jelas mahasiswa yang akrab disapa Ulvi.

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria R