Pupuk Jiwa Sosial Mahasiswa Baru PSDKU UNAIR Lewat VOD 2018

UNAIR NEWS – Mahasiswa baru angkatan 2018 Program Studi di Luar Kampus Utama Universitas Airlangga di Banyuwangi adakan Pengabdian Masyarakat di pesisir Pulau Santen, Desa Karangrejo, Banyuwangi pada Sabtu (8/9). Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut termasuk ke dalam serangkaian Viva Outer Division (ospek PSDKU, red), yang merupakan penugasan dan wajib dilaksanakan oleh mahasiswa baru.

“Setiap tahun VOD menugaskan mahasiswa baru berupa kegiatan Event Angkatan, bentuk event angkatan kami serahkan ke mahasiswa baru, bisa pengabdian masyarakat, bisa makrab, yang terpenting melibatkan satu angkatan dan output kami terpenuhi yaitu dapat mengeratkan satu angkatan mereka (maba),” ujar Bondan Sigit, ketua VOD 2018.

Mahasiswa baru angkatan 2018 mengambil tema pengabdian masyarakat untuk event angkatan mereka. Kegiatan pengmas yang dilakukan di pesisir Pulau Santen tersebut murni seluruhnya disiapkan oleh mahasiswa baru sejak awal berlangsungnya VOD atau tiga minggu sebelum pelaksanaan event angkatan.

“Kami mengambil tema pengabdian masyarakat karena kegiatan seperti ini dapat mengeratkan angkatan kami, ditambah juga merupakan bentuk pengamalan kami terhadap Tri dharma perguruan tinggi,” tutur Hanif Rizky, leader angkatan 2018.

Pemilihan tempat di pesisir Pulau Santen bukanlah tanpa alasan, mahasiswa baru melihat adanya permasalahan sampah di tempat itu. Setiap harinya tidak sedikit sampah yang menumpuk di pesisir Pulau Santen akibat terbawa ombak ke tepi pantai, sehingga sektor pariwisata pantai syari’ah yang terletak di ujung utara Pulau Santen terancam menurun jumlah pengunjungnya akibat sampah.

“Konsep pengmas kami yaitu jalan sehat sambil pungut sampah. Jadi, kami start dari ujung utara ke selatan dan selama perjalanan kami mewajibkan teman-teman untuk mengambil semua sampah. Selain itu, kami juga mendonasikan beberapa tempat sampah yang kami tempatkan di tempat yang stategis sekitar lingkungan Pulau Santen,” imbuh mahasiswa baru FEB 2018 tersebut.

Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan maba 2018 tidak hanya seputar bersih-bersih lingkungan pantai dan pemukiman warga, mereka (maba) juga mengadakan game yang diikuti oleh mahasiswa baru, panitia VOD, dan warga Pulau Santen.

“Harapan saya selaku leader angkatan 2018, semoga kedepannya angkatan kami lebih kompak lagi, dan dengan pengmas kami ini semoga dapat meringankan masalah kebersihan disini dan juga masyarakat Pulau Santen bisa lebih sadar akan kebersihan lingkungan,” pungkas Hanif.

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan




Menyimak “Entrepreneurship Online Sharing Session” AUBMO UNAIR Banyuwangi

UNAIR NEWS – Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat jiwa entrepreneurship harus dimiliki oleh mahasiswa saat ini. Hal tersebut yang menjadi latar belakang diadakannya “Entrepreneurship Online Sharing Session” oleh Airlangga University Bidik Misi Organization (AUBMO) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi. Sharing online yang diadakan di grup whatsapp pada Jum’at (14/9) kemarin, menghadirkan narasumber yang merupakan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR angkatan 2012 dan mantan Wakil Presiden BEM UNAIR 2015, yaitu Moh. Hadi Subarkah.

Berikut telah UNAIR NEWS rangkum beberapa pertanyaan, tips, dan trik selama berlangsungnya Entrepreneurship Online Sharing Session.

 

Apa saja tantangan yang akan dihadapi ketika kita mencoba untuk berwirausaha diusia muda ?

“Tantangan utama ketika kita berwirausaha diusia muda pasti banyak, mulai gak tau caranya ini itu, orang tua yang khawatir kalo bangkrut, komplain pelanggan, kurang motivasi di tengah jalan, hingga melihat teman-teman yang sudah dapat kerja tampil rapi dan punya gaji rutin tiap bulan.”

 

Dengan tantangan yang ada, apa sih kiat-kiat untuk tetap bisa istoqomah menjadi pengusaha muda ?

“Wirasusaha itu soal mindset, jadi dibenerin dulu mindsetnya. Mindset pengusaha beda dengan karyawan atau pekerja mandiri. Pengusaha harus siap resiko, pengusaha harus pandai memotivasi diri sendiri, tidak boleh ngemis-ngemis motivasi. Ingat seorang raja dikerajaan tidak pernah ngemis motivasi ke rakyatnya. Agar tetap istiqomah dan terjaga, carilah mentor bisnis dan komunitas bisnis, disitu kalian akan punya lingkaran frefuensi yang sama untuk menjaga mindset kalian.”

 

Bagaimana cara untuk mengembangkan kreativitas dan ide dalam berwirausaha ?

Entrepreneur itu harus jeli melihat peluang. Harus pinter melihat demand/permintaan barang disekitar kita. Biar kratif, sering berkunjung aja ke teman-teman yang punya bisnis, sering diskusi dan bisa juga datang ke pameran-pameran dagang & UMKM yang dibuat dinas/kementerian.”

 

Bagaimana cara memotivasi diri kita sendiri ketika usaha kita kadang sering dinilai negative oleh orang disekitar kita ?

“Tidak ada pengusaha pemula yang nggak dapat komen negatif, pro dan kontra pasti ada. Yang penting kita yakin ya lanjut saja. Untuk memotivasi diri, kita harus punya target dan konsisten dengan target kita. Orang kadang kehilangan motivasi atas apa yang dia kerjakan, karena dia tidak ada target. Buatlah target harian, setiap hari mau ngapain, next apa lagi. Target jelas dan stepladder-nya terarah serta terukur.”

“Semua orang ingin sukses, dan banyak juga yang ingin menjadi pengusaha. Bisnis yang paling baik adalah bisnis yang dilakukan bukan terus ditanyakan. Jadi lakukanlah!, Konkret kan!. Dan berproseslah seperti tanaman bonsai!, tak perlu terlihat cepat, tak perlu terlihat besar, tak perlu pula terlihat tinggi. Tetapi memiliki harga yang tinggi.”

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan




Fisheries Leadership Training, Latih Kepekaan Sosial Mahasiswa Baru FPK PSDKU Banyuwangi

UNAIR NEWS – Fisheries Leadership Training (FLT), merupakan program kerja dari Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan PSDKU UNAIR Banyuwangi, yang fokus pada kaderisasi mahasiswa baru Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR Banyuwangi.

“FLT kemarin dilaksanakan selama 4 hari dalam 2 Minggu  dan berisi beberapa kegiatan seperti pengenalan civitas akademik FPK, pengenalan budaya FPK, observasi lapang dan tracking, namun kegiatan yang paling kami unggulkan yaitu observasi lapang,” tutur Hilmy Maulana, ketua FLT 2018.

Obervasi lapang yang dilaksanakan Sabtu (8/9), merupakan kegiatan unggulan yang diberikan panitia FLT kepada maba FPK. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Kampunganyar, Banyuwangi. Kegiatan itu, imbuhnya, bertujuan untuk membuka pola pikir, kepekaan, kepedulian, dan mengajak mahasiswa baru untuk menyelesaikan beberapa permasalahan yang ada di masyarakat.

Teknis pelaksanakan obervasi lapang yaitu, mahasiswa baru bertugas mencari rumah warga kurang mampu di Desa Kampunganyar yang telah disiapkan oleh panitia. Kemudian mahasiswa baru ditugaskan untuk mengumpulkan data terkait permasalahan sosial pada warga tersebut melalui metode wawancara, dan terakhir mahasiswa baru dituntut untuk menganalisis data hasil observasi lapang yang sudah didapatkan untuk ditemukan solusi dan wajib dipresentasikan di depan pihak pemerintah desa Kampunganyar dan dosen FPK PSDKU.

“Kegiatan observasi ke masyarakat secara langsung dan dilaksanakan oleh mahasiswa baru memang berisiko tinggi, namun sebagai mahasiswa sudah kewajiban kami untuk nantinya kembali ke masyarakat, jadi sejak dini kami menerjunkan mahasiswa baru ke masyarakat untuk memberikan solusi terhadap beberapa permasalahan mereka (masyarakat), tapi kami sebagai kakak tingkat tetap mendampingi mereka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuh Hilmy.

Pemilihan tempat di Desa Kampunganyar bukanlah tanpa alasan, meskipun desa tersebut tidak berbasis perikanan, tetapi desa tersebut merupakan salah satu desa di kabupaten Banyuwangi yang berpotensi besar di bidang perikanan tawar, karena pasokan air bersih yang sangat melimpah.

“Oleh karena itu, saya berharap dan juga sudah menekankan ke mahasiswa baru, bahwa solusi yang mereka tawarkan terhadap permasalahan yang ada di masyarakat Desa Kampunganyar, sebaiknya tetap berhubungan dengan bidang mereka, yaitu perikanan, dan alhamdulillah jika sektor perikanan berhasil diterapkan di desa ini,” pungkas mahasiswa FPK angkatan 2017 tersebut.

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan




Mengenal Viva Outer Division, Kaderisasi Ala Mahasiswa UNAIR Banyuwangi

UNAIR NEWS – Viva Outer Division (VOD) merupakan program kerja kaderisasi yang digalakkan oleh Departemen PSDM Keluarga Mahasiswa PSDKU UNAIR Banyuwangi. Kegiatan itu bertujuan sebagai pengenalan budaya kampus kepada mahasiswa baru (maba) Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) UNAIR Banyuwangi.

Menurut ketua pelaksana VOD, Bondan Sigit, serangkaian kegiatan VOD merupakan bentuk pengenalan kampus Banyuwangi kepada maba yang belum didapatkan selama ospek di Surabaya. Selama 4 hari dalam satu bulan mulai akhir Agustus hingga pertengahan September, mahasiswa baru dilatih untuk beradaptasi di kampus Banyuwangi dengan diberikan materi-materi dan kegiatan yang bertujuan untuk lebih mengenal kampus serta mengeratkan satu angkatan.

Minggu pertama VOD selama 2 hari (25-26/8), difokuskan untuk memberikan materi kepada mahasiswa baru yang meliputi budaya kampus, budaya Banyuwangi, leadership, debat maba, literasi, pengenalan organisasi, dan pengenalan komikat atau Unit Kegiatan Mahasiswa. Khusus untuk materi budaya Banyuwangi, panitia mendatangkan langsung pemateri dari Pemeritah Daerah Kabupaten Banyuwangi agar sinergitas Kampus UNAIR Banyuwangi dengan Pemda Banyuwangi tetap terjaga.

Minggu kedua VOD (8-9/9), berbeda dengan minggu pertama yang sebagian besar di dalam ruangan dan terkesan lebih formal karena melibatkan dosen dan pihak pemda. Kegiatan minggu kedua  sebagian besar pelaksanaan di outdoor meliputi konfigurasi maba, outbond, event angkatan maba, dan malam puncak inagurasi.

“Untuk Minggu kedua ini memang output kami yaitu menumbuhkan jiwa sosial, organisasi, jiwa korsa dan kekompakan maba terhadap teman-teman seangkatannya,” tutur Bondan

Jiwa sosial dan pengenalan organisasi dikemas dalam kegiatan event angkatan, menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang dipersiapkan dan dilaksanakan oleh maba sendiri. Oleh sebab itu, imbuhnya, maba dibiarkan membentuk kepanitiannya sendiri untuk menyukseskan event angkatan. Sedangkan untuk jiwa korsa dan kekompakan, dikemas dalam bentuk kegiatan outbond dan konfigurasi maba.

“Serangkaian VOD ini memang jaraknya lumayan jauh, karena dua minggu pertengahan diisi ospek jurusan di tiap program studi yang juga masuk  dalam serangkaian VOD, namun selama masa rehat, kami melalui kakak pendamping kelompok tetap memberikan penugasan kepada maba, seperti pengumpulan kardus untuk konfigurasi, essai, pengumpulan indentitas civitas UNAIR Banyuwangi, dan lain sebagainya,” pungkas Bondan.

Dinilai oleh Wulan Lestari, seorang mahasiswa baru angkatan 2018, kegiatan VOD tersebut sangat berkesan bagi mereka

“VOD-nya seru, apalagi waktu minggu kedua nggak bikin bosen, karena ada konfigurasi dan outbond, apalagi waktu malam inagurasi juga lebih seru, momen yang tidak akan terlupakan,” tutur Wulan.

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan




Akuntansi UNAIR Banyuwangi Sukses Gelar Youth Science Paper Competition 2018

UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi sukses menyelenggarakan kegiatan kompetisi paper ilmiah atau lebih dikenal dengan YSPC (Youth Science Paper Competition) 2018 pada Minggu (2/9). Perlombaan itu mengambil tema ”Digital of Economic”.

YSPC merupakan salah satu program kerja unggulan HMA PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa setingkat D3 dan S1 nasional.

Tujuan kegiatan itu adalah menjadi ajang kompetisi antar-universitas sekaligus wadah untuk menuangkan ide kreatif mahasiswa Indonesia di bidang perekonomian. Tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan YSPC.

Menurut Sulistyo Primadani, ketua HMA PSDKU UNAIR 2018, ekonomi digital merupakan suatu hal yang kompleks dan merupakan fenomena yang baru muncul terkait dengan aspek-aspek ekonomi mikro, ekonomi makro, dan teori organisasi dan administrasi. Ekonomi digital akan menjelaskan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi beberapa dekade yang akan datang.

”Ekonomi digital memiliki banyak sub-sektor yang dapat memperluas ruang para mahasiswa yang ingin mengkaji bahasan ini melalui media karya tulis ilmiah. Karena itu, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi wadah ide dan gagasan baru mengenai ekonomi digital dari mahasiswa di seluruh Indonesia,” lanjutnya

Sub-tema yang dikompetisikan, antara lain, mengenai Business and Economy; Information and Technology; Social and Culture; Hospitality; serta Tourism. Serangkaian tahap seleksi telah dilaksanakan dimulai pendaftaran hingga pelaksanaan field trip.

Seleksi dimulai pada Senin(9/4) hingga pengumuman lolos sepuluh besar pada Rabu (1/8). Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi sepuluh besar yang lolos full paper pada Sabtu (1/9) dan pelaksanaan field trip pada Minggu(2/9) kemarin.

Sementara itu, Sischa Dwiyanto, ketua pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa peserta presentasi full paper adalah sepuluh tim mahasiswa dari beberapa universitas di Indonesia. Setiap tim terdiri atas 2–3 orang. Peserta skor paper tertinggi diundang ke PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi untuk presentasi.

”Juara I diraih tim dari Universitas Kristen Maranatha Bandung. Juara II, yaitu Universitas Negeri Malang dan juara III dari Universitas Indonesia,” lanjutnya.

Sebelumnya, Jumat (31/8) sepuluh besar finalis YSPC diundang ke kampus PSDKU UNAIR  Banyuwangi untuk mengikuti technical meeting. Mereka membahas ketentuan selama presentasi, ketika presentasi berlangsung didapatkan tiga juara berdasar murni penilaian dari dewan juri.

”Untuk field trip, kami menawarkan kunjungan wisata ke Pulau merah dan kawasan wisata de-Djawatan di Kabupaten Banyuwangi. Kemudian, para finalis diajak berkeliling ke Osing Deles, salah satu pusat oleh-oleh di Banyuwangi. Kepesertaannya tidak wajib, jadi para finalis boleh ikut boleh tidak,” ungkap Sischa.

Tak tanggung-tanggung, HMA menawarkan hadiah berupa tropi dan uang pembinaan. Hadiah lomba paper competition YSPC, juara I mendapatkan sertifikat, trophy , dan uang tunai 2 juta. Juara II mendapat sertifikat, Trophy, 1,5 juta. Dan, juara III mendapatkan sertifikat, trophy, 1 juta.

”Semua peserta mendapatkan sertifikat,” ujar Sischa.

”Harapannya dengan dilaksanakannya kegiatan semacam itu, mahasiswa bisa lebih bersemangat dalam berkarya dan mengasah kemampuannya di bidang kepenulisan,” imbuhnya. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Juara Bertahan Kuliah Turu Akhirnya Raih Wisudawan Terbaik

UNAIR NEWS – Tak disangka, Deddy Poerba Anggara, mahasiswa Program Studi (Prodi) Budidaya Kelautan Universitas Airlangga di Banyuwangi, mampu meraih predikat wisudawan terbaik prodi. Tepatnya dalam wisuda periode September 2018 pada Sabtu (8/9). Capaian tersebut sangat mengesankan Deddy. Mengingat, selama tiga tahun, predikat Kultur (kuliah turu) melekat kepadanya.

Kultur merupakan nominasi bagi mahasiswa yang sering tidur saat ada kuliah di kelas. Nominasi itu diberikan himpunan mahasiswa budidaya perairan UNAIR di Banyuwangi.

Deddy mendapat gelar Kultur saat agenda Cangkrukan, malam keakraban prodi budidaya perairan. Predikat juara bertahan, tiga tahun berturut-turut, juga melekat kepada Deddy dalam agenda yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan (HMBP) PSDKU UNAIR di Banyuwangi.

Saat ditemui tim UNAIR NEWS, ketua Hima Budidaya Perairan Periode 2016–2017 itu mengakui bahwa fakta kuliah turu tersebut sebagai kelemahannya. Namun, kelemahan tersebut, lanjut Deddy, muncul karena dirinya berkomitmen melakukan hal positif saat malam. Misalnya, belajar serta membaca PPT dan jurnal hingga larut malam.

”Aku iki sebenere sering tidur waktu kuliah. Setiap orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Ya, berhubung aku kuat bacanya pada malam dan kalau baca siang biasanya gampang ketiduran. Ya sudah, tak manfaatkan malam itu akhirnya (belajar, Red),” katanya, lantas tertawa.

Terkait dengan tips belajar, Deddy bisa dianggap nyleneh daripada yang lainnya. Belajar malamnya hanya berdurasi dua jam. Deddy juga bukan tipikal orang yang suka mencatat, kecuali berhitung.

Menurut dia, yang terpenting dari proses belajar itu adalah kenyamanan. Kenyamanan setiap orang pun berbeda antara satu dan yang lain.

”Ya, saranku se temukan porsi dan pola belajar masing-masing yang senyaman mungkin. Dan, di tempat ternyaman mungkin, setelah itu harus konsisten,” ungkapnya.

”Aku seneng sepi kalau belajar. Kalau misal kosan lagi ramai, mending aku nonton film. Belajarnya nanti kalau sudah sepi. Sebab, percuma dipaksakan, malah nggak masuk, buang waktu, mending nonton film, pikirannya tenang. Nanti buat belajar tambah joss!” tegas Deddy.

Menurut Deddy, kalau ingin mendapat yang terbaik, seseorang harus melakukan yang terbaik pula, fokus dan konsisiten. Selin itu, terkait dengan berbagai usaha yang terbaik tersebut, diperlukan keyakinan untuk menjalaninya. Yakin hasil postif tengah menunggu.

”Kata pepatah kan sopo seng temen bakal tinemu (Jawa). Sama kayak man jadda wa jadda,” ungkap mahasiswa asal Lamongan itu.

”Soal penelitian saya, karena tentang transplantasi karang di laut, kendalanya adalah cuaca dan kondisi alam. Was-was kalau semisal rak transplantasi hilang kena ombak. Dan waktu penelitian bertepatan dengan musim hujan. Banyak air masuk dari daratan, air keruh akhirnya, was was juga kalau terumbu karang-nya mati,” tutur mahasiswa yang hobi nonton anime itu.

DEDDY Poerba Anggara (paling kanan) seusai diwisuda di Airlangga Convention Center, Kampus C, UNAIR. (Foto: istimewa)
DEDDY Poerba Anggara (paling kanan) seusai diwisuda di Airlangga Convention Center, Kampus C, UNAIR. (Foto: istimewa)

Pada akhir, Deddy sangat bersyukur bisa berkuliah. Terutama dengan beasiswa bidikmisi. Ke depan, dia berharap mampu memberikan kontribusi terhadap bangsa melalui proses belajar yang ditempuhnya selama ini. Terutama di bidang kelautan.

Penerima bidikmisi kayak saya ini, kuliah tidak bayar malah dibayari. Kalau tidak sungguh-sungguh, ya sama saja saya mengecewakan banyak orang, orang tua, dan negara,” katanya. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Skripsi Buat Frustasi, Tutut Apriliana Masuk 10 Besar Wisudawan Terbaik FEB

UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi menorehkan prestasi yang membanggakan pada Sabtu (8/9). Mahasiswa bernama lengkap Tutu Apriliana meraih predikat wisudawan terbaik se-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga. Tepatnya masuk nominasi sepuluh lulusan terbaik FEB dan berhasil menempati peringkat kedua. Dia berhasil membukukan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,9 dan nilai SKP (sistem kredit prestasi) mencapai 863 poin.

Saat ditemui tim UNAIR NEWS, Tutut mengakui meraih gelar wisudawan terbaik tentu butuh  proses yang tidak bisa instan begitu saja. Sejak awal menjadi mahasiswa baru, dia sudah bertujuan bisa menjadi wisudawan terbaik. Berbagai persiapan yang matang agar bisa meraihnya dilakukan.

”Di samping nilai akademis, saya juga aktif mengikuti kegiatan organisasi. Mulai Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA), Keluarga mahasiswa (KM), hingga organisasi eksternal kampus HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Dan, untuk menambah SKP, saya sering mengikuti kegiatan konferensi, baik nasional maupun Internasional,” jelasnya.

Selama melangkah, pasti ada halang rintangan yang harus dilewati. Salah satunya, problem saat menempuh skripsi yang dialami Tutut.

”Dosen pembimbing saya lumayan killer dan perfect banget. Pengalaman paling berat bagi saya selama kuliah, ya menempuh skripsi ini,” ungkapnya.

”Luar biasa memang. Selama semester VII itu, saya sudah lima kali ganti topik dan yang kelima itulah yang akhirnya baru disetujui dosen. Padahal, teman-teman saya yang sejurusan di Banyuwangi sudah hampir selesai skripsinya di semester VII,” imbuh mahasiswa kelahiran Bojonegoro tersebut.

Topik yang disetujui tersebut tergolong baru. Jadi, dibutuhkan cukup banyak referensi dan data primer. Selain itu, penelitian tersebut mengharuskan Tutut mengambil data di 24 kecamatan di Banyuwangi.

”Bayangkan saja, mulai Pesanggaran sampai Wongsorejo, saya harus berkeliling mengambil data. Sampelnya 63 desa menyebar di 24 kecamatan ini,” ucapnya.

”Beban yang paling berat buat saya ya, menyusun skripsi ini. Sebab, bagi saya, skripsi ini jauh lebih berat dibanding selama kuliah,” tambahnya.

”Motivasi saya sederhana. Saya ingin membanggakan orang tua. Saya kuliah sudah dibiayai negara dari Bidikmisi. Saya juga berasal dari keluarga sederhana. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan tidaklah menghambat seseorang untuk berprestasi. Dan, tidak menghambat kita untuk membanggakan orang tua selama kita berusaha,” tutur mahasiswa yang hobi traveling itu.

Tutut berharap adik-adik akuntasi PSDKU UNAIR di Banyuwangi terus bersemangat. Termasuk menumbuhkan sikap berjuang dan berusaha keras untuk mengukir prestasi. Perbedaan tempat UNAIR di Surabaya dan di Banyuwangi tidak dijadikan masalah untuk rendah diri atau minder.

”Tipsnya untuk bisa meraih peringkat sepuluh besar wisudawan terbaik fakultas, pertahanin IPK jangan sampai turun. Kalau bisa semaksimal mungkin belajar terus harus seimbang antara kegiatan akademik dan softskill leadership-nya di organisasi. Sebab, dari organisasi, kita bakal punya banyak relasi dan meningkatkan pengalaman,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Program Studi Akuntansi PSDKU UNAIR di Banyuwangi A. A. Gede Satia Utama, SE., M.Si., Ak., mengaku menjadi kebanggan sivitas Akademik PSDKU karena salah seorang wisudawan terbaik FEB berasal dari prodi Akuntansi UNAIR di Banyuwangi. Khususnya yang merupakan lulusan pertama sejak berdirinya Prodi S1 Akuntansi UNAIR di Banyuwangi.

”Saya berharap, baik Tutut maupun wisudawan akuntasi lainnya dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah di masyarakat. Berguna bagi bangsa dan Negara. Dan dapat terus memberikan kontribusi serta inovasi bagi kemajuan almamater, masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Agung. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Di Wisuda September, UNAIR Banyuwangi Resmi Miliki Alumni dari Empat Prodi

UNAIR NEWS – Setelah sebagian mahasiswa dari Program Studi (Prodi) S1 Kedokteran Hewan dan S1 Budidaya Perairan PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi meluncurkan wisudawan pertamanya pada Juli, S1 Akuntansi dan S1 Kesehatan Masyarakat resmi menyusul mengirimkan mahasiswanya untuk diwisuda. Tepatnya pada Sabtu (8/9) dan Selasa (11/9).

Sekretaris Koordinator PSDKU UNAIR di Banyuwangi A. A. Gde Satia Utama, SE.,M.Si.,Ak. Memberikan selamat dan ucapan sukses atas capaian tersebut. Terutama kepada para wisudawan dari empat prodi di UNAIR Banyuwangi.

”Ini merupakan sejarah bagi kampus PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi. Yang menghasilkan lulusan pertama setelah empat tahun berdiri. Dan, empat program studinya ini memperoleh akreditasi B oleh BAN PT atau LamPTkes,” katanya.

Lulusan pertama ini merupakan pioneer. Merekalah para alumni yang akan menjadi saksi hidup mulai dari berdirinya kampus PSDKU UNAIR di Banyuwangi hingga pengembangannya pada masa mendatang.

”Kami menjamin kualitas lulusan PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi tidak jauh berbeda dengan kampus utama. Sebab, treatment-nya sama. Tidak dibedakan sedikitpun. Sekali mahasiswa UNAIR, kualitasnya juga UNAIR,” tambah Agung.

Perlu diketahui, sebanyak 27 mahasiswa dari prodi S1 Akuntansi diwisuda pada Sabtu (8/9). Menyusul berikutnya, mahasiswa dari Prodi S1 Kesehatan Masyarakat PSDKU UNAIR di Banyuwangi sebanyak 22 mahasiswa diwisuda pada Selasa (11/9). Sisanya dilanjutkan pada Desember mendatang.

Sementara itu, Kepala Prodi S1 Kesehatan Masyarakat PSDKU UNAIR di Banyuwangi Dr. Mohammad Zainal Fatah, Drs., M.S., M. Kes., mengungkapkan bahwa pihaknya berusaha sebisanya mahasiswa di Banyuwangi bisa lulus tepat waktu. Meski, hal itu terkendala jarak yang cukup jauh dengan kampus utama.

Termasuk keterbatasan waktu untuk konsultasi dengan dosen pembimbing. Namun, kendala tersebut mampus diatasi segenap mahasiswa UNAIR di Banyuwangi. Para mahasiswa begitu gigih dan pantang menyerah. Banyak di antara mereka yang lulus tepat waktu.

”Semangatnya mahasiswa di PSDKU ini luar biasa. Meski kami para dosen harus PP Banyuwangi-Surabaya, itu terbayar sudah dengan semangat mereka di sini. Rasa lelah kami pun terbayar. Kami menjadi ikut semangat bersama mereka, sangat antusias,” ungkap Sri Widjati, salah seorang dosen pengajar dari Surabaya.

“Saya berharap adik-adik mahasiswa nanti, setelah menjadi alumni UNAIR, tetap menjaga nama baik almamater dan tetap mendukung UNAIR menuju 500 World class University. Di manapun kalian berada, selalu berpegang teguh pada Excellence With Morality,” tambah Agung memberikan motivasi kepada para wisudawan. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Mahasiswa Akuntansi UNAIR Banyuwangi Raih Juara II Kompetisi Esai di UNEJ

UNAIR NEWS – Lilik K. Romadhoni dan Arina Manasika, mahasiswa program studi Akuntansi PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi, meraih Juara II dalam Essai Competition Sharia Fair 2018. Dalam event yang diadakan Universitas Jember se-Besuki Raya pada Rabu (5/9) itu, keduanya mengankat esai bertema manajemen ekonomi syariah.

Di bawah bimbingan Siti Nuraini, salah seorang dosen pengajar program studi Akuntansi PSDKU UNAIR di Banyuwangi, dua mahasiswa tersebut mengusung judul Lazisda (Lembaga Zakat Infaq Shodaqoh Daerah): Strategi Pemerintah Daerah sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian Daerah melalui Manajemen Ekonomi Syariah.

Saat ditemui tim UNAIR NEWS, Arina mengungkapkan bahwa banyak pengalaman yang didapat selama di sana. Keduanya bisa mendapatkan banyak masukan, ide kreatif, serta tambahan pengetahuan tentang ekonomi syariah.

”Kegiatan ini merupakan ajang untuk mengasah kemampuan kami dalam mepresentasikan hasil karya yang telah disusun. Awalnya ragu sih dan kurang percaya diri. Namun, akhirnya kami puas banget bisa membawa pulang tropi kemenangan ini (juara II, Red),” ucapnya.

Sementara itu, Siti Nuraini menyampaikan kebangaannya atas raihan prestasi tersebut meski terbilang masih pengalaman awal bagi anak asuhnya. Ke depan, dia berharap adanya peningkatan, bukan hanya Lilik dan Arina, tapi juga mahasiswa yang lain.

Poin pentingnya selama di sana mereka bisa banyak bertemu dengan orang-orang keren dan masiswa-mahasiswa dari universitas lain. Pastinya mereka bisa bertemu orang-orang dengan banyak sekali ide-ide kreatifnya.

”Jadi, pengetahuan mereka menjadi lebih meluas, tidak hanya itu-itu,” ujar Siti.

”Melalui kegiatan itu, kami bisa menambah relasi dan menguji adrenalin juga sih sebenarnya buat maju presentasi,” tambah Arina menanggapi pernyataan pembimbingnya.

Perlu diketahui, presentasi finalis Essay Competition Sharia Fair 2018 diikuti delapan tim dari beberapa universitas di Indonesia. Kegiatan kali itu mengusung tema ”Ekonomi Syariah sebagai solusi pembangunan ekonomi di Indonesia”. Kegiatan tersebut berlokasi di Ruang Multimedia Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember.

”Upaya yang dilakukan selama ini, pertama pasti mematangkan ide penulisan, memahami isi tulisan, kemudian latihan presentasi. Lalu, kesiapan strategi saat menjawab pertanyaan, membangun rasa percaya diri, dan tentu berdoa dan berusaha semaksimal mungkin,” kata Arina soal kunci suksesnya meraih prestasi tersebut. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Jelang Diwisuda, FKM Sumpah Calon Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Gizi

UNAIR NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga menggelar sumpah bagi calon sarjana S1 (strata 1) kesehatan masyarakat dan calon sarjana S1 Gizi pada Jumat (7/9). Nur Risca Azizah, salah seorang calon wisudawan yang turut serta, menuturkan bahwa serangkaian seremonial tersebut berlangsung sangat hikmat.

Pembacaan sumpah itu membuat seluruh yang hadir berdebar. Kami disumpah atas nama Tuhan setiapa peserta (berdasar keimanan masing-masing) di bawah alkitab masing-masing.

”Sekarang di pundak kami, ada amanah yang kami tanggung. Kami harus melanjutkan perjuangan untuk membawa nama baik almamater Universitas Airlangga dan fakultas kesehatan masyarakat tercinta,” ujarnya.

”Di manapun kami berada, di Instansi manapun, harapannya kami dapat memenuhi amanah untuk menepati janji yang telah kami ucapkan bersama  pada hari ini, Jumat(7/9). Khususnya dapat selalu terjaga beserta nilai-nilai excellent with morality yang sudah UNAIR tanamkan sejak maba (mahasiswa baru, Red),” imbuh Risca.

Sementara itu, Dekan FKM UNAIR Tri Martiana menyampaikan bahwa mahasiswa yang disumpah atau bakal diwisuda sekarang diibaratkan pindah kamar. Sekarang mereka akan pindah kamar ke instansi yang lain. Yang dulunya kamarnya ada di UNAIR, sekarang akan dilepas menuju kamar-kamar baru, instansi tempat mereka akan bekerja dan menorehkan prestasi.

”Kalian pertama menjadi maba diterima kami di ruangan ini. Sekarang kami melepas kalian terakhir juga di ruangan ini. Jadi, ruangan ini sangat bersejarah,” sebutnya.

Pengambilan sumpah atau janji tersebut berlangsung di Aula Sumarto, gedung FKM Kampus C UNAIR. Kegiatan itu melibatkan seluruh mahasiswa dari program studi (prodi)kesehatan masyarakat dan gizi yang akan melaksanakan proses wisuda pada Selasa (11/9). Sejumlah 22 mahasiswa prodi kesehatan masyarakat dari PSDKU UNAIR Banyuwangi juga turut serta. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i