Intip Tiga Harta Karun Istimewa Entikong

Perjalanan menuju Entikong (Perbatasan Indonesia-Malaysia) tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak pernah berpikir kalau saya bisa tinggal merasakan kehidupan di perbatasan selama sebulan, waktu yang cukup singkat, tapi sangat cukup untuk merasakan kehidupan yang berbeda di antara daerah garis depan ini. Perjalanan saya diprakarsai adanya program Marching for Boundary yang diadakan oleh Beasiswa Aktivis Nusantara. Program Marching for Boundary merupakan program magang di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) selama satu bulan. Saya bersama teman sejawat menjalani program ini mulai 16 Juli sampai 12 Agustus lalu. Hidup di salah satu daerah Kalimantan Barat ini cukup membuat saya sadar akan tentang perhargaan kepada alam.

Sebelum datang ke Entikong, terlintas di benak saya bahwa desa ini akan sangat pelosok di kelilingi hutan. Ekspektasi saya untuk hal ini memang ada benarnya juga. Untuk sampai di Entikong, saya butuh waktu sekitar 4-5 jam dari Pontianak dengan menggunakan travel. Yang bisa dinikmati selama perjalanan adalah kebun-kebun kelapa sawit, bukit-bukit dengan perpohonan lebat, dan rumah-rumah panggung. Namun, ketika sampai di kecamatan Entikong, desa ini cukup ramai dibandingkan dengan daerah lainnya. Mungkin salah satu penyebabnya adalah letaknya yang berdekatan dengan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sehingga masyarakat lebih memilih bermukim di kecamatan Entikong. Tapi, jangan salah, kecamatan Entikong sendiri masih punya desa-desa pelosok yang tidak mudah dijangkau dengan transportasi umum. Awalnya, saya berpikir perjalanan Entikong akan mulus tanpa kendala. Tapi, jalan berliku rasanya menyambut dengan ciri khas yang tidak bisa dilupakan. Kalau belum terbiasa melewati jalan seperti ini, saya sarankan untuk bawa obat pencegah mabuk darat.

Selamat tinggal di Entikong, ada beberapa hal yang menjadi salah satu ciri khas terlebih karena alam telah menjadi harta karun yang sangat bernilai untuk penduduk setempat. Tidak jarang kalau kita pergi ke Entikong, kita akan menemukan lereng-lereng bukit dipenuhi dengan tumbuhan menjalar.Awalnya saya kira sirih, tapi ternyata itu tanaman lada atau sahang. Setelah ditelusuri lebih lewat dialog dengan masyarakat setempat, mata pencaharian paling banyak di Entikong adalah berkebung sahang dan kelapa sawit. Murid-murid saya di SMK YLBE Entikong tidak jarang yang membantu orang tuanya ke kebun yang letaknya pun ternyata jauh dari kecamatan Entikong. Kebun Sahang banyak ditanam di bukit yang memiliki cukup ketinggian antara 300-1500 meter di atas permukaan laut. Jadi, kalau kita ingin menyusuri daerah perkebunan sahang ataupun kelapa sawit, mau tidak mau harus menaiki bukit-bukit Entikoeng.

Masih kurang puas dengan pemandangan jejeran kelapa sawit yang rapi, tentunya saya bolang lagi ke tempat lain di Entikong. Tidak perlu datang ke desa pelosok di kecamatan Entikong, pemandangan perbukitan hijau sudah bisa dijamah ketika kita melewati jalan raya. Akan sangat terlihat sangat indah jika kita menyusuri jalan di sore hari saat matahari mulai malu-malu untuk beranjak turun dari peraduannya.

Tidak hanya itu yang istimewa dari perjalanan ke Entikong. Saya juga bisa menyaksikan langsung ketergantungan masyarakat setempat kepada alam. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau Entikong pasti susah air. Jika kemarau panjang melanda Entikong, masyarakat sudah pasti akan mengandalkan air dari sungai. Tidak jarang saya melihat anak-anak dengan senjata penangkap ikan mereka, ibu-ibu dengan bak cucian, dan pencari rebung bersama-sama memanfaatkan aliran sungai ini untuk memenuhi kebutuhan air dan hiburan sehari-hari.

Kalau melihat kekayaan alam yang menjadi harta karun di Entikong, betapa bersyukurnya Tuhan masih bisa menolong manusia dengan cara-cara yang berbeda, tapi tetap memenuhi kebutuhan. Harta karun ini patut untuk dijaga oleh para generai Entikong. Tak lupa juga, kekayaan-kekayaan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan Sumber Daya Manusia harus terus dikembangkan untuk menjadikan daerah garis depan sejahtera. Terimakasih Entikong untuk pengalaman bolangnya!

 

*Ditulis dari pengalaman Marching for Boundary di Entikong, Kalimantan Barat (Juli-Agustus)




Belajar Berbhineka dari Desa Balun Lamongan

Berbicara kearifan lokal di Kabupaten lamongan tentu tidak bisa lepas dari salah satu desa tua yang ada di Kabupaten ini yaitu desa Balun. Terletak di utara pusat Kabupaten Lamongan, desa ini menjadi desa wisata religi dengan memberi keunikan dari sisi masyarakat dan kearifan lokal penduduk setempat. Berdasarkan cerita dari tetuah adat setempat nama desa Balun berasal dari kata “Mbah Alun”.

Tokoh Mbah Alun sendiri merupakan Raja Blambangan yang lahir di Lumajang. Mbah Alun belajar mengaji dari Sunan Giri IV (Sunan Prapen), selesai belajar mengaji ia kembali ke tempatnya untuk mensyiarkan agama sebelum diangkat menjadi Raja Blambangan. Selama pemerintahannya pada tahun 1633-1639 Blambangan mendapatkan serangan dari Belanda dan Mataram hingga hancur. Hingga saat itu Mbah Alun melarikan diri ke arah wilayah Lamongan untuk mencari perlindungan.

Beliau bersembunyi disekitar Candi Pari, sebelum akhirnya ia mensyiarkan Agama Islam di daerah ini hingga akhir hayatnya. Ia pun mendapatkan gelar “Sunan Tawang Alun” dan namanya diabadikan menjadi nama desa “Balun”. Selain itu juga ia mendapat sebutan dengan nama Sin Arih karena ia menyembunyikan identitas dirinya sebagai seorang raja

Setelah peristiwa G30S tepatnya pada tahun 1967 mulai masuk dan berkembang di desa ini agama Kristen. Brerawal dari kekosongan kekuasaan pada jabatan pamong-pamong yang terlibat dalam peristiwa ini maka ditunjuklah pejabat sementara, Prajurit tersebut bernama Pak Bathi. Pak Bathi sendiri merupakan penganut agama Kristen sehingga dari sinilah agama Kristen mulai berkembang. Seiring berjalannya waktu Pak Bathi menunjuk seorang pendeta untuk membaptis pemeluk baru, dengan sikap keterbukaan dan toleransi tinggi  yang ditujukan oleh masyarakat Balun serta metode dakwah tanpa kekerasan  membuat banyak orang yang memeluk Kristen.

Pada tahun yang sama agama Hindu masuk ke desa ini. Tokoh sesepuhnya adalah bapak Thardono Sasmito dari Desa Plosowahyu. Sebagai agama pendatang Hindu berkembang secara pelan-pelan dan mulai melakukan sembahyang dirumah tokoh-tokoh adat, sebelum akhirnya dengan semangat swadaya tinggi untuk membangun tempat peribadatan masing-masing.

Perbedaan religiusitas tidak membuat masyarakat Balun semena-mena dan berlaku deskriminatif terhadap yang lainnya, justru mereka saling menjaga satu sama lain. Interaksi sosial yang demikian itu melahirkan budaya-budaya yang khas dan mempengaruhi interaksi multi agama yang terjadi. Interaksi sosial demikian melahirkan interpretasi pada simbol-simbol budaya yang beda dari daerah lain. Sebagai contoh ketika ada hajatan seperti kenduren pasti setiap lelaki dewasa yang hadir akan memakai kopyah begitu pula seorang prempuannya pasti memakai kerudung, jadi ditempat ini suatu simbolitas seperti ini tidak hanya milik umat muslim saja namun milik semuanya.

Lain lagi ketika setiap ada orang yang meninggal masyarakat desa selalu melakukan upacara adat selametan, yaitu semacam tahlilan yang dilakukan semua agama yang ditujukan untuk mengirim doa kepada orang yang sudah meninggal. Kolaborasi doa menurut agama dan keyakinan masing-masing akan begitu terlihat sakral dan berbeda dari umumnya ketika melihat hal yang demikian dilakukan di desa ini.

Hal yang begitu sangat terasa kebhinekaan dari masyarakat ini adalah ketika salah satu dari agama ini melaksanakan hari raya maka umat dari agama lain akan mengamankan jalannya upacar keagamaan dan hari raya ini, seperti saat masyarakat dari umat kristiani maka pemuda dari muslim yang terdiri dar remaja masjid dan anak pondok akan ikut menjaga gereja bersama TNI dan Polri. Hal yang demikian begitu terasa bagi masyarakat Balun sendiri maupun masyarakat luar daerah sehingga rasa tentram dan saling memiliki seperti yang tertuang pada pancasila begitu terasa di tempat ini secara turun-temurun.

Untuk melihat kearifan lokal yang sedemikian rupa ini, masyarakat ataupun wisatawan bisa melihat pada h-1 sebelum hari raya nyepi. Sajian kebudayaan yang terbalut dalam upacar ogoh-ogoh dan pembakaran patung-patung angkara murka di alun-alun desa akan terasa begitu eksotis dan mewah sehingga tidak akan rugi jika melihatnya secara langsung belum lagi sambutan masyarakat yang begitu sopan untuk selalu memuliakan tamu dan wisatawan.




Kaderisasi Ormawa yang Terintegrasi untuk Menguatkan Solidaritas Alumni

MENURUT KBBI, kaderisasi berasal dari kata kader yang memiliki arti orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam sebuah organisasi. Sedangkan kaderisasi adalah proses yang terstruktur guna menyiapkan orang-orang tersebut. Kader terbaik dalam suatu organisasi tentu melahirkan tongkat estafet kepemimpinan yang terintegrasi, sehingga setelah keluar dari organisasi tersebut tentu sistem yang telah dibangun tetap akan berjalan. Kaitannya dengan Universitas Airlangga terletak pada proses kaderisasi mahasiswa dilingkungan Organisasi Mahasiswa yang belum diatur secara mendasar oleh Universitas Airlangga.

Slogan “Excellence with Morality” merupakan modal utama yang dapat menjadi tolok ukur keberhasilan suatu proses kaderisasi ormawa ditingkat Universitas Airlangga. Based On Morality,  Excellence, Strong Academic Culture, dan Target oriented adalah nilai-nilai structural yang harusnya juga menjadi pegangan bagi seluruh Organisasi Mahasiswa Universitas Airlangga. Universitas Airlangga harus mampu membaca budaya disetiap organisasi mahasiswa agar mampu melahirkan kekuatan alumni yang kokoh. Dalam mengenal seluruh budaya disetiap ormawa tentu dibutuhkan sinergisasi antara pihak pembuat kebijakan dengan ormawa terkait.

Menurut rencana strategis Universitas Airlangga, dalam Manajemen alumni, target keterlibatan alumni ditahun 2018 adalah 12% dari total keseluruhan alumni.  Sedangkan target untuk alumni yang berkontribusi pada pendanaan adalah sekitar 4% ditahun 2018. Keberhasilan target alumni ditahun 2018 tentu ditentukan oleh para alumni yang telah lulus dibawah tahun 2018. Artinya disana ada pengaruh kaderisasi Ormawa beberapa tahun sebelum 2018.Tentu ketika kaderiasi di setiap ormawa universitas tidak mampu melahirkan kader yang mencintai almamater universitas Airlangga maka sangat maklum apabila target tidak tercapai.

Dalam kehidupan kampus, organisasi mahasiswa telah menjadi budaya yang mengakar disetiap program studi. Terbukti dengan berbagai macam kegiatan produktif yang dilakukan ormawa dapat membantu Universitas Airlangga menaikkan peringkat academic reputation. Tentu dalam setiap proses kegiatan tersebut terdapat banyak sekali interaksi yang dibangun diantara mahasiswa, baik satu fakultas maupun berbeda fakultas. Akibatnya, mereka telah menambah jejaring pertemanan mereka yang akan sangat berguna dikemudian hari.

Struktur Organisasi mahasiswa yang ada di Universitas Airlangga sangatlah beragam. Universitas harus mampu melihat fungsi dari setiap struktur yang ada. Tujuannya adalah untuk menyesuaikan kegiatan disetiap Organisasi Mahasiswa yang dapat menguatkan solidaritas alumni. Sebut saja organisasi mahasiswa dilingkup terkecil, Himpunan Mahasiswa atau HIMA, HIMA merupakan organisasi mahasiswa  di tingkat program studi yang mamiliki kemampuan untuk menjangkau para alumni. Karena setiap alumni pernah mempunyai kontribusi dan dedikasi masing-masing ditingkat program studi. Selain itu Himpunan Mahasiswa lah yang mampu memetakan sejauh mana kontribusi alumni untuk almamater setelah lulus dari Universitas Airlangga.

Setelah ditingkat program studi, tingkatan selanjutnya adalah dilingkup fakultas. Organisasi mahasiswa ditingkat fakultas beberapa diantaranya adalah BEM Fakultas, BSO Fakultas, dan Unit Kegiatan Fakultas. Dalam hal ini, Universitas harus menyesuaikan sistem kaderisasi yang ada disetiap fakultas. Keaktifan alumni disetiap fakultas dapat diukur dan dilihat dari seberapa jauh Undang-undang pengkaderan fakultas mengatur peran alumni didalamnya.  Kemudian Universitas memberikan sarana dan prasarana  pendukung yang selaras dengan kebutuhan masing-masing fakultas.

Beberapa jenjang pengkaderan memiliki sifat dan peranan khusus, sehingga perlakuannya jelas berbeda. Kegiatan pengkaderan yang sudah terwadahi yakni LKMM Tingkat Dasar hingga Tingkat Lanjut. Namun belum ada hasil secara kongkrit mengenai hal tersebut. Dengan membantu organisasi mahasiswa mengembangkan kualitas SDM nya maka Universitas telah memberikan kontribusi untuk sistem kaderisasi. Oleh karena itu, naiknya kualitas SDM di organisasi mahasiswa merupakan modal awal universitas untuk memperoleh kekuatan alumni yang berkualitas dan solid pula.




Menyoal Domain Name Paslon Presiden-Wakil Presiden: Political -Cybersquatting atau Conventional -Cybersquatting?

PUBLIK kembali diramaikan dengan adanya berita tentang adanya cybersquatting nama paslon presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024. Domain name yang menggunakan nama paslon tersebut dihargai senilai Rp 1 Milyar bahkan ada yang memasang harga sampai dengan Rp. 2 Milyar. Dari kacamata bisnis, kegiatan ini sungguhlah sesuatu yang sangat menggiurkan. Dari kacamata politik, internet merupakan alat kampanye yang sangat penting di zaman yang serba digital ini, sehingga dorongan para politikus untuk menggunakan nama pribadi mereka sebagai alat kampanye untuk mengamankan suara menjadi hal yang signifkan (Lipton, From Domain Names to Video Games: The Rise of the Internet in Presidential Politics, 2009).

Namun, tentunya ada hal yang perlu dikritisi adalah tentang tata cara perolehan domain name yang dimaksud. Bahwa persoalan jual beli domain name ini apakah dianggap sebagai cybersquatting, yaitu kegiatan  pendaftaran beberapa nama domain yang sesuai dengan merek dagang terdaftar dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan dari menjual nama ke pemegang merek dagang yang relevan atau kepada pihak ketiga (Lipton, Internet Domain Names. Trademark and Free Speech, 2010). Lantas apakah dengan domain name berupa nama paslon Capres-Cawapres dapat dikatakan sebagai cybersquatting? Tulisan ini membahas secara singkat tentang apa dan bagaimana cybersquatting dalam sudut pandang hukum dan Political-Cybersquatting sebagai varian cybersquatting dalam perkancahan politik.

Political-Cybersquatting

Kehadiran Internet sangatlah berharga bagi seorang politisi dan partai politik di era digital ini. Sebagai alat kampanye, situs web dianggap lebih cost-efficient dibandingkan dengan kampanye secara konvesional misalkan dengan mendatangi calon pemilih potensial. Kemampuan Internet yang lain adalah dapat menjangkau calon pemilih atau simpatisan untuk ikut urun rembug dalam program kerja yang ditawarkan dengan turut serta diskusi aktif dalam forum yang disediakan oleh sebuah situs web.

Oleh karena potensi yang dimiliki Internet itu, politisi juga semakin menjadimenyadari pentingnya eksistensi diri online, salah satunya adalah memanfaatkan nama mereka sendiri dan orang-orang dari partai politik mereka sebagai domain name. Studi menunjukkan bahwa sebagian besar politisi dan partai politik mulai mengerti bahwa domain name adalah alat penting untuk membantu pengguna Internet dalam mengidentifikasi situs web politik. Situs web ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan penggalangan dana, dan untuk menyebarkan informasi tentang masalah kebijakan-kebijakan partai dan politisi yang bersangkutan(Lipton, Internet Domain Names. Trademark and Free Speech, 2010).

Politisi zaman sekarang pun juga secara rutin memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan berbagai media digital lainnya untuk mengumpulkan pendukung dan berkomunikasi dengan para pemilih. Kembali dalam konteks domain name, hal ini berarti bahwa politisi dan partai politik harus segera mengambil langkah-langkah preventif untuk mengamankan dan untuk memastikan sebuah domain name tidak diambil oleh pihak yang berseberangan (cybersquatter).

Tentunya hal ini menimbulkan permasalahan dalam hal perolahan sebuah domain name bagi para politisi. Dalam konteks ini, salah satu permasalahan adalah dasar perlindungan perolehan nama domain name seorang politisi. Bahwa benar sebagain besar perlindungan perolehan domain name didsarkan pada perlindungan terhadap Merek Dagang (Trademark), bukan sebagai alat perlindungan terhadap kepentingan politik. Belum lagi, peran situs web dengan domain name seoarng politisi adalah sangat signifikan dalam masa-masa kampanye dan proses politik lainnya.

Bukti nyata mencatat bahwa terdapat kebingungan bagi para pengguna Internet ketika hendak memanfaatkan situs web politik ini. Adalah kasus hillary.com yang terjadi di Amerika Serikat pada saat Hillary Clinton mencalonkan dirimenjadi Presiden Amerika Serikat, dimana situs dengan nama hillary telah didaftarkan oleh sebuah perusahaan software bernama Hillary Software. Hal ini menunjukkan bahwa legal interest menjadi poin penting dalam perolehan sebuah domain name. Belum lagi, tindakan politicalcybersquatting ini dapat juga dimanfaatkan petahana maupun lawan politiknya untuk memperoleh manfaat baik finansial maupun politik.

Conventional-Cybersquatting

Dalam Ketentuan Umum UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Domain Name(Nama Domain) diartikan sebagaisebuah alamat internet penyelenggaranegara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat, yangdapat digunakan dalam berkomunikasi melalui internet,yang berupa kode atau susunan karakter yang bersifatunik untuk menunjukkan lokasi tertentu dalam internet.

Dalam perolehannya,  prinsip yang digunakan adalah first come fist serve, artinya bahwa barang siapa yang mendaftar pertama kali, maka dia lah yang berhak untuk memiliki domain name yang dimaksud. Ketentuan ini juga diatur dalam Pasal 23 ayat (1) UU ITE yang menyatakan:

‘…Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat berhak memiliki Nama Domain berdasarkan prinsip pendaftar pertama

Yang menjadi catatan penting disini adalah bahwa prinsip ini tidak sama dengan prinsip yang digunakan dalam ranah Hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dimana tidak memerlukan pemeriksaan substantif seperti halnya Merek atau Paten.

Selanjutnya ketentuan yang ada adalah bahwa perolehan domain name yang dimaksud haruslah disertai dengan itikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secarasehat, dan tidak melanggar hak Orang lain seperti yang diatur dalam Pasal 23 ayat (2) UU ITE. Dimana ditambhkan dalam penjelasan pasal 23 ayat (2) ini dinyatakan bahwa yang dianggap sebagai “melanggar hak Orang lain”, misalnya adalah melanggar merek terdaftar, nama badan hukum terdaftar, nama Orang terkenal, dan nama sejenisnya yang pada intinya merugikan orang lain.

Dalam kasus melejitnya hargadomain name paslon Capres-Cawapres, apakah tindakan yang dimaksud dapat dikategorikan sebagai tindakan cybersquatting haruslah memenuhi unsur-unsur dalam Pasal 23 UU ITE diatas. Sehingga apabila memang ada pihak yang berkeberatan atau yang mempunyai legal interest suatudomain name, Undang-undang telah mengamanahkan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) untuk menyelesaikannya.

 




Mengawal dan Menjaga Iklim Organisasi Mahasiswa PSDKU UNAIR di Banyuwangi

UNAIR NEWS – Organisasi merupakan salah satu elemen penting dalam dunia perkuliahan. Organisasi juga menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Kampus PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi yang selanjutnya disebut kampus UNAIR Banyuwangi terdapat berbagai macam organisasi, baik yang mengarah ke bidang akademis maupun bidang non akademis.

Jika melihat dinamika dan iklim organisasi di kampus UNAIR Banyuwangi, organisasi mahasiswa kampus Banyuwangi mulanya dibentuk dan dibina oleh BEM Universitas Airlangga Surabaya pada satu tahun pertama, yakni pada tahun 2014. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya mahasiswa, iklim keorganisasian yang ada di kampus Banyuwangi terus berkembang. Tercatat, total keseluruhan organisasi yang ada di kampus Banyuwangi pada tahun 2018 sebanyak 22 organisasi. Diantaranya KM (Keluarga Mahasiswa), BSO (Badan Semi Otonom) yang terdiri dari GS (Garuda Sakti), AUBMO (Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga di Banyuwangi), empat HIMA (Himpunan Mahasiswa) Program Studi, serta 15 KOMIKAT (Komunitas Minat dan Bakat).

Sebagai salah satu mahasiswa yang banyak berkecimpung dalam organisasi di kampus UNAIR Banyuwangi, penulis melihat bahwa kondisi organisasi di kampus Banyuwangi bisa dibilang kurang ideal, karena jumlah mahasiswa yang hanya sekitar 750-an dan 22 organisasi.  Hal itu merupakan perbandingan yang kurang berimbang antara total mahasiswa dengan jumlah organisasinya. Bahkan, jika di rata-rata setiap organisasi akan mendapat mahasiswa sekitar 36 orang. Meski demikian, minat dan antusias mengikuti organisasi dari mahasiswa yang ada di kampus UNAIR Banyuwangi cukup tinggi, terlebih mahasiswa baru. Faktanya, bisa dilihat dari keikutsertaan dalam kepanitiaan dan keorganisasian cukup didominasi oleh mahasiswa baru.

Hambatan dan Tantangan

Menjadi salah satu ketua organisasi induk di kampus UNAIR Banyuwangi bisa dibilang mudah dan juga sulit. Secara jumlah, memang kampus UNAIR Banyuwangi tidak sebanyak yang di Surabaya, sehingga semakin mudah dalam manajemen. Namun, sedikitnya SDM juga menjadi salah satu kendala. Terlebih, jika melihat kondisi SDM yang abai dengan konidisi organisasi. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme anggota untuk menghidupkan beberapa organisasi, terlebih KOMIKAT. Berbagai alasan yang akhirnya membuat kondisi KOMIKAT di kampus Banyuwangi berjalan kurang baik, salah satunya mengenai jadwal perkulihan mahasiswa yang cukup padat sehingga membuat mahasiswa terlalu disibukkan dengan kegiatan perkuliahan sehngga berakibat pada menurunnya minat dari mahasiswa untuk berorganisasi khususnya pada organisasi KOMIKAT.

Upaya untuk memperbaiki kondisi keorganisasian tersebut salah satunya meningkatkan kualitas SDM yang ada untuk menunjang aktifitas organisasi. Dilihat dari segi SDM, setiap organisasi memiliki agenda pengkaderan untuk menunjang kegiatan dan mempersiapkan tongkat estafet kepengurusan organisasi selanjutnya. Selain itu dari kampus sendiri dari tahun 2017 memberikan fasilitas berupa LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) mulai dari TD (Tingkat Dasar), TM (Tingkat Menengah), dan TL (Tingkat Lanjut). Upaya yang dilakukan kampus dirasa memberikan dampak yang cukup positif untuk meningkatkan kualitas SDM dan organisasi di kampus Banyuwangi.

Kondisi organisasi yang ada di Banyuwangi dari tahun 2017 cukup mengalami perkembangan yang pesat, dapat dilihat mulai dari tata kelola administrasi, keuangan, organisasi semakin baik dan rapi sehingga dapat memberikan rasa nyaman untuk mahasiswa menjalankan organisasi di Banyuwangi.

Asas Permusyawaratan

Asas Permusyawaratan menjadi hal utama yang dilakukan oleh seluruh organisasi mahasiswa yang ada di Banyuwangi untuk memutuskan atau menyelesaikan suatu permasalahan. Ada yang namanya FORKOM ORMAWA (Forum Komunikasi Organisasi Kemahasiswaan) yang di naungi oleh Organisasi Keluarga Mahasiswa.

Terdapat empat forkom yakni FORKOM BSO, FORKOM KOMIKAT, FORKOM HIMA, serta FORKOM Seluruh ORMAWA yang semuanya itu diatur dan di fasilitasi oleh organisasi KM. Pelaksanaan dari forkom itu sendiri diagendakan setiap 2 bulan sekali dilaksanakan dengan agenda update keuangan, timeline kegiatan, sharing informasi seputar kondisi organisasi di Banyuwangi, monitoring dan evaluasi program kerja, sampai jaring aspirasi dari tiap-tiap organisasi yang nantinya akan diteruskan dari KM kepada pihak-pihak yang berkaitan.




Kampanye Gerakan Sosial Ala Milenial

UNAIR NEWS – Hidup dan berinteraksi dengan orang lain disekitar akan membuka ruang dimensi pengetahuan dan informasi baru. Namun, paradoksnya dalam berinteraksi sering kali memunculkan sebuah keniscayaan yakni berupa konflik. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan seperangkat alat hidup. Tidak hanya perangkat-perangkat yang terlihat seperti panca indera, melainkan juga akal dan perasaan agar manusia hidup didunia  tidak sekedar hidup. Melainkan bisa memikirkan dan memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Untuk itu, munculnya agenda-agenda pengabdian merupakan sebuah keharusan bagi setiap manusia. Dan seharusnya agenda-agenda tersebut tidak hanya sebatas penyelesaian sks perkuliahan atau sebatas event organisasi, melainkan dimanapun dan kapanpun senantiasa dilakukan sebagai bentuk kewarasan manusia atas akal dan perasaannya.

Mengabdi bukanlah persoalan benefit material yang akan didapatkan, melainkan suatu keikhlasan dari apa yang dimiliki dan diberikan kepada orang lain. Berbagai macam varietas gerakan sosial telah banyak bermunculan, salah satunya yakni agenda pengabdian kepada masyarakat di berbagai aspek yang dilatar belakangi pada hasrat kepedulian sesama. Pada dasarnya, munculnya gerakan-gerakan sosial pada ranah masyarakat merupakan entitas pembuktian bahwa pemerintah belum atau bahkan tidak sanggup menjangkaunya dan juga menjadi kritik atasnya. Namun perlu diketahui, bahwa untuk mewujudkan cita-cita suatu negara, tidak hanya satu atau dua instrumen saja yang bergerak, melainkan seluruh komponen yang tercakup didalamnya. Jadi, gerakan-gerakan sosial (pengabdian) yang telah diinisiasi merupakan bentuk kesadaran fundamental atas akal dan perasaan yang diberikan Tuhan kepada inisiator.

Lagi-lagi menghargai peradaban menjadi salah satu parameter keberhasilan suatu negara. Saat ini masyarakat Indonesia menginjakkan kaki pada fase  masyarakat (ber)teknologi yang ditandai dengan maraknya digitalisasi hampir diseluruh aspek kehidupan.. Hal ini dapat di lihat sebagai hal yang sangat potensial dalam mengembangkan gerakan-gerakan sosial (pengabdian) oleh para inisitor dan orang-orang yang terlibat didalamnya untuk mengkampanyekan gerakan sosial mereka. Gerakan sosial dapat dipandang sebagai gerakan yang sukses apabila dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat yang menjadi obyek pengabdian maupun masyarakat yang membantu baik dalam hal tenaga maupun finansial. Selain itu juga memiliki massa yang banyak guna keberlangsungan dan keberlanjutan gerakan sosial tersebut. Dan ini dapat dipandang sebagai fenomena sosial kekinian masyarakat Indonesia.

Tren Gerakan Sosial Kekinian

Berkaitan dengan penjelasan sebelumnya, bahwa masyarakat Indonesia saat ini berada pada fase masyarakat (ber)teknologi yang ditandai dengan maraknya proses digitalisasi dan terciptanya ruang publik online yakni media sosial. Sehingga hal itu memudahkan terjadinya persebaran dan penyerapan informasi ke seluruh masyarakat. Seperti yang mudah sekali di temui, informasi terkait gerakan-gerakan sosial dapat kita temukan di media-media sosial baik dalam bentuk publikasi visual maupun publikasi tekstual. Apalagi kini dalam setiap perjalanan hidup para pemuda, media sosial menjadi langgam baru dalam mengekspresikan diri. Apapun yang di lakukan dan dialaminya dapat dipublikasikan melalui media sosial tersebut.

Hal ini lah yang kemudian menjadikan gerakan-gerakan sosial sebagai tren yang banyak diminati oleh para Pemuda. Karena nantinya akan tercipta sebuah citra diri yang terpandang baik apabila artefak sisa pengabdian di publikasi oleh para pemuda dan dapat dilihat serta di nilai oleh orang lain.

Efektifitas Membangun Kesadaran Kolektif Pemuda

Kini, berbagai macam ruang publik online telah didominasi oleh pemuda. Sehingga dalam memobilisasi massa utamanya pemuda, memanfaatkan aktivitas media sosial menjadi hal yang sangat strategis. Seperti pernyataan Donk yang di kutip oleh I Gede Agung Ayu Kade Galuh dalam bukunya (Media Sosial dan Demokrasi) bahwa aktivitas media sosial terbukti mampu mempengaruhi bentuk gerakan nyata. Kemampuan aktivitas media sosial tersebut dapat terwujud setidaknya ada tiga cara yakni pembagian definisi masalah sebagai dasar pembentukan identitas kolektif, mampu memobilisasi anggota, serta memperluas jaringan dengan menghubungkan sejumlah organisasi lain yang berbeda.

Jelas bahwa strategi media sosial sangat efektif apabila menjadi habits dalam memobilisasi pemuda untuk menggerakkan gerakan-gerakan sosial berupa pengabdian masyarakat mengingat bahwa aktivitas gerakan sosial membutuhkan masa yang tidak sedikit. Seperti definisi gerakan sosial menurut Anthony Giddens yang mengatakan bahwa gerakan sosial merupakan suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action).

Di lingkungan kampus pun, hampir di semua organisasi-organisasi baik intra maupun ekstra yang memiliki agenda pengabdian masyarakat selalu memainkan peran media sosial dalam upaya memobilisasi masa. Melalui publikasi baik sebelum berlangsungnya maupun saat berlangsungnya agenda pengabdian yang di posting lewat media sosial organisasi, dapat menjadi strategi dalam memobilisasi mahasiswa untuk senantiasa berpartisipasi dalam agenda pengabdian sebagai upaya menerapkan poin ketiga Tri Dharman Perguruan Tinggi serta dapat menjadi stimulus bagi mereka yang belum memiliki itikad pengabdian masyarakat maupun belum memiliki kesempatan untuk melakukan pengabdian masyarakat.




Pendidikan Perbatasan Indonesia-Malaysia, Cukupkah?

UNAIR NEWS – Perubahan pendidikan konvensional menjadi digital nampaknya berkembang pesat saat-saat ini. Namun, jika ditengok ke bagian perbatasan Indonesia, nampaknya pendidikan digital yang masif dilakukan di kota metropolitan dan daerah sekitarnya belum berlaku di sini. Entikong adalah salah satu daerah di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat- yang langsung berbatasan dengan Malaysia. Tak heran jika jalur perbatasan antara Indonesia-Malaysia yang berada di Entikong disebut sebagai jalur sutera karena bus dari Indonesia-Malaysia atau sebaliknya dapat masuk ke dua negara tanpa harus menyebarangi lautan. Jalur sutera ini pada satu sisi memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat Entikong. Pendidikan merupakan salah satu di antara sorotan yang harus pemerintah perhatikan baik dari segi pelayanan terhadap siswa, ketersediaan tenaga pendidik, dan fasilitas belajar.

Seperti yang dilansir oleh sejumlah media, Kalimantan Barat masih membutuhan setidaknya 15 ribu guru untuk mencukupi kebutuhan minimal tenaga pendidik (Tribun Pontianak, 2017). Terdapat setidaknya 70 ribu guru di Kalimantan Barat yang terbagi menjadi 45 ribu guru PNS dan 25 ribu guru honorer. Meskipun begitu, ketersediaan tenaga pendidik tampaknya tidak terlalu menyebar dengan merata. Seperti halnya yang dirasakan oleh beberapa sekolah di Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, mendapat jalur sutera rasanya tidak menguntungkan dalam hal pendidikan. SMK Yayasan Lintas Batas, MTs Istiqomah, dan MI Istiqomah yang bermukim di Entikong mengalami penderitaan yang sama dalam hal tenaga pendidik.

Sekolah-sekolah ini mati-matian mencari guru yang bisa mengisi mata pelajaran tertentu. Sekolah ini terpaksa mengambil guru dari luar sekolah yang sudah mendapatkan amanah di sekolah tertentu. Alternatif yang mereka pakai adalah menjadikan guru dari sekolah lain sebagai guru terbang untuk mengisi mata pelajaran tertentu. Persoalan ini mungkin dapat teratasi dengan adanya program Guru Garis Depan (GGD) yang ditempatkan di Sekolah Garis Depan (SGD). Sekolah Garis Depan meliputi sekolah-sekolah di lokasi 3 T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal). Program SGD dan GGD merupakan perwujudan dari program Nawacita ke-3 yaitu membangun dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Berdasarkan target pembenahan tahun 2016 lalu, ada sebanyak 114 SGD yang menjadi sasaran dengan 11 unit sekolah baru (7 SMA, 2 SMK, dan 2 SLB) serta 103 revitalisasi (27 SD, 30 SMP, 25 SMA, 18 SMK, 3 SLB) (Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Salah satu daerah yang mendapatkan perhatian soal SGD dan GGD adalah Sanggau, Kalimantan Barat. Dari data jumlah pendaftar GGD di Kalimantan Barat, terdapat setidaknya 1492 guru untuk Sanggau, Bengkayang, dan Sambas. Jumlah pendaftar ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pendaftar GGD di 48 kabupaten/kota lainnya.

Adanya program GGD di daerah 3T seharusnya mampu untuk menjadi alternatif pemerataan guru. Selain, harus adanya advokasi pemuda calon pendidik lainnya dari daerah yang bersangkutan. Akibatnya jika pemerataan guru di daerah 3T tidak dapat ditanggulangi, siswa-siswi bahkan tidak akan mendapatkan hak penuh mereka untuk belajar karena tidak adanya efektifitas pembelajaran di sekolah. Yang terjadi di dusun Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat adalah siswa-siswi terpaksa tidak menerima pelajaran di jam sekolah karena guru mata pelajaran tersebut tidak masuk atau memang tidak tersedianya guru pengampu mata pelajaran tersebut. Tidak jarang saya mendapati siswa-siswi SMK YLB keluar kelas, bermain bola, nongkrong di depan kelas, atau bolos. Mungkin, siswa-siswi ini sudah lelah menghadapi kondisi sekolah yang seperti itu.

Saat ini, kemendikmud telah mengalokasikan sebanyak Rp. 1,7 T untuk tunjungan guru daerah khusus. Namun, dalam pengelolaan dana tersebut sudah diserahan langsung ke pada pemerintah setempat. Agaknya, perlu dilakukan pembenahan terhadap penggunaan dana untuk menunjang kebutuhan-kebutuhan sekolah di daerah Rp. 3 T. Meskipun pada kenyataannya pemerintah mengurangi alokasi anggaran untuk pendidikan menjadi 416,09 T, alokasi dana tersebut untuk daerah malah meningkat sebanyak 0,12% (Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, 2017).Memaksimalkan tunjangan guru non-PNS bisa jadi dapat memberikan ketertarikan guru-guru perbatasan untuk tetap di daerah. Kurangnya tenaga pendidik di daerah penyebabnya bisa jadi karena perbandingan guru yang akan pensiun dan tersedianya calon guru timpang. Tahun 2015 yang lalu saja, Kalbar dikatakan memiliki 11.000 guru yang memasuki masa pensiun. Bukan tidak mungkin bila mengandalkan transfer guru melalui GGD, tapi usaha dari pemerintah Entikong sendiri harus mampu menempa regenerasi guru dari dalam sendiri.

Bila tidak, ketergantungan untuk mencari guru dari luar daerah akan terus terjadi. Upaya ini tentu dilakukan salah satunya dengan penguatan peran STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) di Entikong dan pelatihan untuk sumber daya manusia sekolah sebagai calon penerus guru. Penting untuk diketahui bahwa, adanya insitusi pendidikan yang berfokus pada pengajaran akan membantu dalam proses mencetak guru sebagai korektor, inspirator, informator, organisator, motivatior, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dan evaluator (Amri, 2013). Oleh karenanya, dalam menyiapkan kualitas pendidikan, perlu adanya generator tenaga pendidik baik dari segi kuantitas dan kualitas.

Jalur Sutera antara Indonesia-Malaysia di Entikong tidak menjamin semua kebutuhan masyarakat terpenuhi terutama untuk kebutuhan pendidikan. Dengan adanya program nawacita yang telah terselenggara di Indonesia untuk 3T, diharapkan mampu untuk mengirimkan lebih banyak guru untuk ditempatkan di sekolah-sekolah yang memang kurang tenanga pendidik. Percayalah bahwa daerah 3T dapat berdaya dari orang-orang di dalamnya. Indonesia perlu bangga telah dapat mengakomodir kebutuhan rakyatnya dalam hal pendidian meskipun masih perlu proses pembenahan sekarang dan ke depannya.




Menunggu Kiprah Nyata Ksatria Muda Airlangga

UNAIR NEWS – “Bagi mahasiswa baru, selamat datang di kampus impianmu”. Tempat yang akan menemanimu dalam waktu yang tak lama. Jangan percaya kalau jadi sarjana itu tujuan utama dalam studi. Tak ada yang istimewa dari acara wisuda. Berjejer rapi lalu digeser toga kemudian foto bersama keluarga. Sungguh itu adegan yang menjemukan dan tak layak untuk dirindukan. Terlebih, jangan meyakini bahwa IP (Indeks Prestasi) tinggi itu segalanya.

Kampus beda dengan kekolah, dimana yang bernilai tinggi selalu dapat pujian. Hal ini pula yang menjadi pembeda antara sekolah dan kuliah. Saat sekolah, orientasi kalian adalah untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi dari kelas 1 naik ke kelas 2, 3, dan seterusnya atau bisa dikatakan bahwa tujuan kalian sekolah adalah untuk sekolah lagi (dari SD ke SMP menuju SMA). Namun di bangku kuliah semuanya berbeda, mahasiswa harus dipaksa untuk menempa diri, sehingga saat memasuki pasca kampus tidak gagap dalam menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

Secara umum, ketika telah lulus, seorang mahasiswa dapat menjadi empat jenis. Pertama, manusia yang bekerja pada lingkup pengembang profesi yang linier dengan studinya (praktisi), contoh: kuliah jurusan ilmu hukum setelah itu menjadi pengacara, kuliah jurusan akuntansi setelah itu menjadi bankir, dan sebagainya. Yang kedua, manusia yang bekerja menjadi akademisi, artinya mahasiswa tersebut telah ahli  secara keilmuan karena mendalami studinya. Contoh: kuliah jurusan ilmu politik lalu menjadi peneliti pada lembaga survey, dosen sesuai disiplin ilmunya, dan sebagainya.

Ketiga, manusia yang menjadi pengusaha (enterprenuer), entah jenis usahanya sesuai dengan ilmu yang dipelajari, seperti contoh: kuliah jurusan budidaya perairan kemudian membangun usaha ternak lele, kuliah jurusan kedokteran lalu menjadi importir alat-alat medis, dan lain-lain. Atau bisa jadi usahanya tidak berhubungan sama sekali dengan studinya di kampus. Yang keempat adalah manusia pengangguran, yaitu seorang mahasiswa yang setelah lulus tidak tahu akan menjadi apa dan harus bagaimana.

Akan menjadi seperti apa seorang mahasiswa nantinya itu kembali lagi pada perjuangan masing-masing. Di kampus, kalian merdeka seutuhnya, tidak lagi diatur oleh orang tua atau guru, kalian sendiri lah yang harus mengatur hidup kalian, mulai dari makan apa, berangkat ke kampus jam berapa, mengerjakan tugas dimana, dan seterusnya. Itu sebabnya biarkan petualangan membawamu ke sana kemari. Kampus memberi kamu pengalaman yang tak dapat kamu peroleh di mana-mana. Karena di kampus, segala ruang pengembangan diri tersedia, ratusan komunitas, atau organisasi yang mewadahi kebutuhan mahasiswa bisa ditemukan.

Untuk mereka yang ingin mendalami studinya secara akademis, tersedia berbagai lembaga penelitian di tingkat fakultas dan universitas. Bagi yang ingin mengembangkan kemampuan berwirausaha, ada pula pusat pengembangan profesi & kewirausahaan yang secara rutin mengadakan workshopnya. Atau bagi mereka yang ingin menempa ideliasme secara idelogis atau biasa disebut “aktivis” pun juga tidak sulit. Organisasi adalah sangkar yang indah dan memikat untuk anak muda yang berani.Setidaknya, organisasi membimbing keyakinan untuk percaya kalau kebenaran itu bukan retorika kosong. Organisasi adalah kuliah yang sesungguhnya. Kamu bukan diajarkan untuk meraih prestasi, tapi kamu dibimbing untuk memahami bahwa dasar hidup itu adalah solidaritas dan hubungan interpersonal (softskills).

Dalam organisasi, kalian akan belajar mengenai 4 komponen manajemen diri, yaitu PAOC. Planning, atau perencanaan adalah pengaturan tujuan dan mencari cara bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut. Organizing atau pengkoordinasian adalah proses dalam memastikan kebutuhan manusia dan fisik setiap sumber daya tersedia untuk menjalankan rencana dan mencapai tujuan. Actuating atau Realisasi merupakan tahap eksekusi semua rencana yang telah dibuat dan dibagi tugasnya. Dan terakhir Controlling atau Pengawasan yaitu serangkaian proses koreksi, antisipasi dan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan situasi, kondisi dan perkembangan zaman

Oleh karenanya, saran saya sebagai mahasiswa baru, jelajahilah segala ruang pengembangan diri di kampus, di semester pertama kuliah ikutilah semua organisasi yang membuatmu tertarik, jangan batasi dirimu karena takut tidak ada waktu, itu adalah omong kosong yang menghantui otakmu. Manajemen waktu akan berjalan dengan sendirinya, tidak dapat dipelajari jika kalian tidak mencoba batas maksimal, “learning by doing”. Di semester kedua, usahakan kalian mulai memilah mana organisai yang sekiranya cocok untuk pengembangan dirimu ke depan, danana organisasi yang akan kamu jalani dengan lebih serius.

Di semester ketiga, saatnya membuktikan bahwa kamu adalah bagian penting dalam organisasi yang telah kamu pilih, berkontibusilah secara maksimal, sehingga pada semester selanjutnya kalian telah siap mengelola organisasi tersebut secara mandiri. Satu hal penting lagi, sekaligus menjadi pentup, bahwa organisasi akan mengajarkan budaya asah, asih, asuh. Dalam organisasi proses pertama adalah menempa diri atau proses penyesuaian (asah), lalu kalian akan diajarkan bagaimana caranya berkontribusi secara aktif dengan sesama (asih), lalu yang terakhir saatnya bagi kalian untuk mengelola organisasi, dan mengajarkan pada adik tingkatmu apa yang selama ini kamu pelajari (asuh).

Penulis: Galuh Teja Sakti (Presiden BEM Universitas Airlangga 2018)




Dilema Pendidikan Dokter, Butuh Perhatian Khusus

HARI Kamis (19/7/2018) lalu ratusan orang yang tergabung dalam Pergerakan Dokter Muda Indonesia (PDMI) melakukan demonstrasi di depan pintu Barat Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat. Alasan mereka berdemo adalah untuk meminta Presiden Joko Widodo menyelesaikan polemik ijazah mereka yang ditahan oleh pihak kampus.

Menurut para dokter muda itu, ijazahnya ditahan oleh pihak kampus karena mereka belum lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) yang sebelumnya bernama Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). UKMPPD yang disahkan melalui Undang-Undang Nomor 20/2013 tentang Pendidikan Kedokteran menyatakan bahwa tata cara ujian kompetensi adalah syarat mahasiswa kedokteran untuk memperoleh sertifikat profesi yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi.

Menurut PDMI, ijazah kelulusan dengan sertifikat profesi itu memiliki tupoksi berbeda. Ketika dokter muda dinyatakan lulus yudisium, seharusnya sudah mendapatkan ijazah. Sedangkan UU No. 20 Tahun 2013 mensyaratkan UKMPPD sebagai exit exam mahasiswa kedokteran dalam rangka memperoleh sertifikat kompetensi dan sertifikat profesi sebagai pengganti ijazah.

Pendidikan kedokteran adalah pendidikan yang sangat krusial, karena berhubungan langsung dengan nyawa manusia. Kualitas pendidikan kedokteran menjadi harga yang tidak bisa ditawar untuk menghasilkan kualitas dokter bermutu. Kita sebagai manusia tentu ingin diri dan keluarga kita ditangani oleh seorang dokter kompeten dan professional ketika sedang sakit atau dalam keadaan nyawanya terancam.

Persoalan di atas merupakan contoh dari carut-marutnya pendidikan kedokteran di Indonesia yang sudah berlarut-larut dan didiamkan. Masih banyak masalah krusial yang telah diketahui pemerintah terkait dengan pendidikan kedokteran di Indonesia, namun pemerintah masih bergeming. Masalah tersebut sangat mungkin akan menjadi “bom waktu” yang bisa mengancam generasi Indonesia.

Life-saving manusia memang tanggungjawab seorang dokter. Tetapi bagaimana menghasilkan dokter yang berkualitas, adalah tanggungjawab pemerintah. Pemerintah memiliki hak prerogatif untuk menyeleksi calon dokter ini sejak masih mahasiswa.

Mulai dari hulu (proses pendirian Fakultas Kedokteran dan proses penerimaan mahasiswa baru) sampai di hilir (pendidikan kedokteran berkelanjutan bagi dokter) menjadi kewajiban pemerintah.

Saat ini sudah banyak pakar dan stakeholders yang dilibatkan dan dimintai saran terkait dengan pengembangan pendidikan kedokteran dan dunia kesehatan Indonesia. Pemerintah memiliki bekal lebih dari cukup, hanya saja belum tereksekusi.

Stop Pendirian FK Baru

Hingga saat ini, jumlah kampus Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia mencapai 86 FK. Sebanyak 75 FK diantaranya sudah menghasilkan lulusan dokter, sedangkan 11 FK masih belum meluluskan dokter.

Pada September 2017, pemerintah secara resmi telah mencabut moratorium pendirian FK baru. Alasan pencabutan itu karena adanya peningkatan akreditasi dari delapan kampus FK yang terakreditasi C menjadi B. Persentase akreditasi menjadi 20 FK terakreditasi A, 44 FK terakreditasi B, 22 FK terakkreditasi C dan akreditasi minimal (Sumber: LAM PT KES).

Alasan kedua, ini yang sering disampaikan pemerintah adalah masalah rasio dokter. Hingga saat ini jumlah dokter di Indonesia bisa dikatakan cukup. Data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) per 21 Juli 2018 mencapai 128.351 orang. Artinya, satu dokter melayani 2.025 penduduk (dengan asumsi penduduk Indonesia pada saat ini mencapai 260 juta jiwa).

Jika asumsi tersebut benar, maka jumlah ini sudah mendekati rasio ideal dokter seperti yang disyaratkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 1 berbanding 2500. Seorang dokter melayani 2.500 jiwa. Kementerian Kesehatan sendiri menargetkan rasio dokter di Indonesia mencapai 1 : 2000 dan konon itu sudah tercapai.

Hal yang seharusnya memerlukan perhatian khusus adalah terkait belum meratanya distribusi dokter. Jadi bukan rasio dokternya. Selama ini, pendirian FK baru dan penempatan dokter-dokter masih terpusat di Pulau Jawa.

Maldistribusi dokter ini sering terjadi karena minimnya insentif dan fasilitas di luar Jawa, utamanya di pulau-pulau terpencil, sehingga para dokter berpikir dua kali untuk mengabdi di pulau-pulau terpencil tersebut. Padahal seharusnya hal ini tidak menjadi masalah jika hak yang diperoleh dokter seimbang sesuai dengan kewajiban beban kerjanya.

Selama ini, pemerintah terkesan sangat mudah membuka Fakultas Kedokteran (FK) baru, sedangkan hasil akreditasi dan hasil UKMPPD-nya masih jauh dari harapan. Banyaknya pendirian FK baru dengan tanpa adanya seleksi secara ketat, justru akan menjadi beban bagi negara dimasa mendatang.

Merujuk pada keterangan Ketua KKI, Prof. Bambang Supriyatno pada diskusi “Menata Cetak Biru Sumber Daya IPTEK DIKTI Menuju Indonesia Emas” pada bulan Desember tahun lalu, ada 2.500 dokter muda yang gagal lulus UKMPPD. Jika merujuk rasio ideal satu dokter diharapkan melayani 2.000 penduduk, tentu saja jika ini terus dibiarkan maka akan menjadi problem nasional yang serius. Belum lagi ditambah dengan pertumbuhan dokter muda di Indonesia yang diperkirakan pertambahan itu mencapai 12.000 dokter muda pada tahun 2018 ini (Kepala BPPSDM Kemenkes).

Kesehatan adalah bagian dari ketahanan nasional, dan masalah ini tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar. Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa tahun 2019 nanti Indonesia akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Pembangunan SDM yang dimaksud oleh Presiden itu, tentu sangat berkaitan erat dengan pendidikan dan kesehatan. Kita dapat memulai menata masalah ini semua mulai dari peningkatan kualitas dokter (di Indonesia) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di negeri yang terdiri 17.500 pulau ini. Semoga bisa. (*)

Editor: Bambang Bes




PKKMB AMERTA, Antara Cita-Cita dan Realita

UNAIR NEWS – Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru atau PKKMB merupakan serangkaian kegiatan yang mengenalkan mahasiswa baru terkait kehidupan kampus baik ditingkat jurusan, fakultas, hingga universitas. PKKMB Universitas atau yang sering disebut dengan PKKMB AMERTA adalah kegiatan ditingkat universitas yang bertujuan untuk menanamkan cinta almamater Universitas Airlangga kepada mahasiswa baru. Namun keberadaan PKKMB AMERTA terkadang menjadi delik permasalahan yang terus menjadi perdebatan setiap tahunnya. Kegiatan dengan panitia terbanyak ini selalu menjadi sorotan ketika memasuki ajang kaderisasi bergengsi mahasiswa dilingkungan Universitas Airlangga.

Perjalanan PKKMB AMERTA telah menginjak usia yang ke 5 tahun sejak tahun 2014 pertama kali dilaksanakan. Proses disetiap tahunnya selalu mempunyai cerita masing-masing. AMERTA 2016 (belum menjadi PKKMB AMERTA) mengajarkan kepada seluruh panitia AMERTA tentang kesiapan, kedisiplinan, ketangguhan, serta kesabaran dalam menghadapi perubahan konsep yang terjadi. Ditambah lagi keadaan Badan Eksekutif Mahasiswa saat itu sedang terjadi permasalahan internal yang berakibat pada hubungan koordinasi panitia PKKMB AMERTA dengan semua pihak luar. Terlebih, saat itu banyak sekali pihak-pihak pemangku kebijakan yang masih belum memahami urgensi kegiatan AMERTA.

Dari hal itu, AMERTA 2016 belum mendapatkan legalitas kegiatan secara resmi oleh pihak Rektorat, sehingga banyak sekali fakultas yang menanyakan urgensi kegiatan tersebut seperti apa. Ditahun ini pencapaian terbesar panitia adalah mampu mengundang Ibu Khofifah selaku Menteri Sosial yang juga alumni FISIP Universitas Airlangga dalam kegiatan penutupan AMERTA Sanjivani. Kehadiran Gubernur Jatim terpilih itu ke Universitas Airlangga adalah hal yang sangat langka. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan AMERTA juga mempunyai peran penting dalam membangun sinergitas alumni.

Perkembangan yang terlihat sangat signifikan pada tahun 2017 yakni diberikannya legalitas kegiatan PKKMB AMERTA dengan SK Rektor serta mulai adanya koordinasi pembahasan konsep AMERTA secara terintegrasi yang melibatkan setiap perwakilan fakultas.  Meski demikian, kondisi tersebut belum mengubah banyak hal, termasuk anggaran kegiatan. Dalam hal penganggaran kegiatan pun, masih ada beberapa kendala yang menyebabkan panitia harus lihai dalam mengatur keuangan.

Dibalik tantangan itu, PKKMB AMERTA 2017 telah melahirkan paradigma baru bahwa kegiatan OSPEK universitas jauh dari kegiatan perpeloncoan dan lain sebagainya. AMERTA Candradimuka adalah langkah kongkrit panitia dalam melahirkan calon generasi bangsa yang mampu berfikir kritis dalam menanggapi isu kebangsaan. Sedangkan AMERTA ABISEKA merupakan kegiatan inagurasi serta apresiasi tertinggi yang diberikan kepada mahasiswa baru karena telah menjalani serangkaian kegiatan PKKMB. Kegiatan AMERTA ABISEKA terbukti ampuh membawa energi positif ketika Piu Padi seorang alumni UNAIR membawakan beberapa lagu untuk mahasiswa baru.

Tentu salah satu tujuan kegiatan AMERTA yakni untuk mendekatkan mahasiswa baru dengan alumni UNAIR. Teriakan “Ospek Lagi, Ospek Lagi, Ospek Lagi” membuat hampir seluruh panitia menangis betapa perjuangan mereka telah terbayarkan karena antusias dari mahasiswa baru yang begitu tinggi. Tujuan-tujuan lain seperti menanamkan cinta tanah air, cinta almamater merupakan cita-cita yang harus diwujudkan dan didukung oleh seluruh pihak universitas.

Realita yang terjadi pada tahun 2018 tentu berbeda dengan realita PKKMB AMERTA pada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini ada pengurangan alokasi waktu yakni 1 hari, dari total 10 hari secara keseluruhan ditahun lalu menjadi 9 hari ditahun ini. Perubahan yang terlihat sederhana justru menghasilkan beberapakali kendala antara seluruh elemen didalamnya yakni ormawa seluruh universitas dengan pihak pemangku kebijakan. Beruntung semua pihak mau mencari solusi atau jalan tengah atas permasalahan ini. Dengan demikian kegiatan AMERTA 2018 didukung oleh seluruh ormawa di unair.

Namun lagi-lagi permasalahan utama yang selalu menjadi kendala adalah waktu, mepetnya seluruh kesepakatan yang telah terjadi mengakibatkan perubahan konsep AMERTA beberapa kali. Sedangkan dengan waktu yang tersisa panitia harus berfikir cepat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan teknis seperti perlengkapan konfigurasi, persiapan dekorasi, dan lain sebagainya. Kegiatan yang mempunyai cita-cita mulia ini terkadang masih jauh dari realita yang diharapkan. Ketidakcermatan dalam melihat pola permasalahan yang terjadi beberapa tahun terakhir adalah PR besar bagi pihak pemangku kebijakan.

Keberpihakan civitas akademika kepada AMERTA sangatlah diperlukan. Dukungan dari semua pihak tentu akan memudahkan panitia AMERTA untuk membuat realita kegiatan yang sama persis dengan cita-cita yang diinginkan. Berbagai kegiatan ospek diuniversitas lain cukuplah menjadi motivasi dan trigger bagi seluruh pihak untuk merasa memiliki kegiatan AMERTA. Semoga AMERTA ditahun ini dan tahun selajutnya dapat melahirkan ksatria-ksatria terbaik Universitas Airlangga yang siap melahirkan karya-karya penelitian, prestasi akademik dan non akademik yang membanggakan Airlangga dan Indonesia. AIRLANGGA TETAP KAU JAYA !!!

Penulis: M. Fairuzzuddin Zuhair (Wakil Presiden BEM Universitas Airlangga 2018 dan Manajer Marketing Konveksi Surabaya Vidogarment)