Mahasiswa UNAIR Ciptakan Pembangkit Listrik Free Energy, Zero Emission, dan Portable

UNAIR NEWS – Modernisasi telah mendorong lahirnya peningkatan konsumsi energi oleh penduduk di bumi ini. Kemudian gaya hidup modern dan persaingan industri berskala global juga merupakan bagian penting dari akumulasi terhadap penggunaan energi.

Karena itu peningkatan konsumsi energi juga telah memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan energi, sementara di sisi lain cadangan energi di perut bumi dapat dipastikan telah mengalami penyusutan. BP Statistical Review of World Energy (2013) menyatakan, konsumsi energi pokok dunia tumbuh hingga 1,8% pada tahun 2012.

”Karenanya saat ini Indonesia menghadapi masalah serius, yaitu ketahanan energi. Mengutip data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (2014) bahwa konsumsi energi di Indonesia pada periode tahun 2000-2012 meningkat rata-rata sebesar 2,9% per tahun,” demikian dinyatakan Siti Nurmala, ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC).

Karena itulah bersama empat kawannya, Siti Dkk berhasil menciptakan “PIONEER (Spin Magnet Generator) Sebagai Pembangkit Listrik  Free Energy, Zero Emission, dan Portable”. Empat orang anggota tim PKM-KC ini adalah Tita Aulia Nur Utami, Mayasari Hariyanto, Muhammad Zulfa Abdillah dan Moch Andi Putra Jaya.

Proposal kreativitas dan inovasi PKM-KC ini telah berhasil lolos penilaian Dikti, sehingga memperoleh dana hibah pengembangan dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

Ditambahkan oleh Siti Nurmala, bahwa konsumsi energy listrik di Indonesia semakin meningkat dan cadangan bahan sumber pembangkit listrik semakin berkurang. Penghematan energy listrik perlu dilakukan agar cadangan energi listrik di Indonesia tidak cepat habis. Untuk itulah Siti dan kawan-kawan membuat inovasi dengan PIONEER, sebuah alat pembangkit listrik yang free energy, zero emission dan portable.

“Prinsip kerja dari PIONEER ini cukup sederhana, yaitu memanfaatkan gaya dari arah flux magnetic yang berlawanan sebagai sumber energy listrik. Alat ini dapat menghasilkan energy listrik lebih besar dari energy masukan yang digunakan sehingga efisiensi penggunaan listrik lebih besar,” kata Tita Aulia NU menambahkan.

Teknologi ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya tidak memerlukan energi/biaya operasional dan perawatan yang cukup banyak, karena menggunakan sumber energi magnet yang berputar terus menerus, dapat dioperasikan pada kondisi cuaca apapun dan dimanapun karena bentuknya yang portable dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas berbahaya.

”Dengan teknologi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil sehingga ketahanan energi nasional di masa mendatang tetap terjamin,” kata Siti Nurmala. (*)

Editor: Bambang Bes

 




Mahasiswa UNAIR Teliti Bahaya Asap Rokok Elektrik dan Asap Rokok Konvensional

UNAIR NEWS – Merokok merupakan salah satu gaya hidup masyarakat Indonesia yang tidak dianjurkan untuk kesehatan. Dari hasil Riskesdas 2013, ada peningkatan proporsi penduduk Indonesia usia sekitar 15 tahun yang merokok setiap tahunnya. Pemerintah mulai berupaya menurunkan jumlah perokok dengan memberikan pernyataan mengenai kenaikan harga rokok konvensional pada tahun 2016. Pernyataan tersebut membuat sebagian perokok konvensional beralih ke rokok elektrik (vapor) yang dianggap lebih aman.

Lima mahasiwa jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga dalam penelitiannya berhasil membandingkan pengaruh antara asap rokok elektrik dan asap rokok konvensional terhadap paru-paru tikus putih (Rattus norvegicus). Hasil penelitiannya dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul “Perbandingan Pengaruh Asap Rokok Elektrik dan Asap Rokok Konvensional terhadap Pulmo Tikus Putih (Rattus norvegicus)”.

Hasil penelitian mahasiwa tersebut, yaitu Yoan Asri Triantara (ketua tim), Inggit Almira, Sarwan Adi Kusumo, Muhammad Fajar, dan Dicky Darmawan, berhasil lolos dari penilaian Dirjen Dikti dan berhak atas dana hibah penelitian Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2017.

elektrik
DIANTARA proses pemaparan asap rokok pada tikus putih. (Foto: Dok PKMPE)

Diterangkan oleh Yoan Asri, penelitian untuk mengetahui seberapa kerusakan paru melalui jumlah makrofag alveolar dan karakter histopatologis pada tikus putih, dibagi dalam empat kelompok pemaparan asap rokok elektrik dan asap rokok konvensional. Dibawah bimbingan Dr. Dwi Winarni, Dra., M. Si., Tim PKMPE ini ingin memberikan informasi perbandingan pengaruh kedua jenis asap rokok tersebut agar menjadi bahan pertimbangan peneliti lain dan masyarakat umum.

”Hasil penelitian yang diuji menggunakan uji Brown-Forsythe dan Games-Howell menunjukkan bahwa asap rokok konvensional dengan kadar nikotin 2,4 mg dapat menyebabkan peningkatan jumlah makrofag alveolar dan karakter kerusakan histopatologis paru terbesar, namun tidak berbeda signifikan dengan pengaruh yang disebabkan oleh asap rokok elektrik dengan kadar nikotin 3 mg,” kata Yoan.

Pada kelompok pemaparan asap elektrik dengan kadar nikotin 0 mg, ditemukan makrofag alveolar sebagai indikasi kerusakan paru dan karakter histopatologis dengan skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol.

“Jadi rokok elektrik maupun rokok konvensional dapat menyebabkan kerusakan pada tikus putih yang menjadi model eksperimen kami. Hal yang selama ini juga berlaku untuk rokok elektrik dengan kadar nikotin 0 mg ini dianggap aman oleh masyarakat,” ujar Yoan menyimpulkan hasil penelitian bersama timnya. (*)

Editor: Bambang Bes




Ahli Bedah Plastik Ciptakan Krim Atasi Keloid

UNAIR NEWS – Latar belakangnya sebagai dokter bedah plastik membuat Prof. Dr. David Sontani Perdanakusumah, dr., Sp.BP-RE (K) banyak bergelut dengan rekonstruksi dan perbaikan cacat tubuh manusia. Dari sederet tindakan operasi yang pernah ia lakukan membuatnya penasaran dengan jenis luka tubuh yang berserat, tebal dan berwarna kontras dengan kulit sekitarnya. Jenis luka ini disebut keloid.

Dalam mengatasi keloid, pada umumnya dokter menggunakan berbagai cara, seperti operasi, suntikan kortison, cryotherapy, dan cara-cara lainnya. Namun, metode-metode itu tak dapat menghilangkan keloid. Bahkan, tindakan operasi justru memperbesar keloid. Tak jarang, keloid menjadi mimpi buruk bagi pasien ataupun dokter.

Keloid tumbuh akibat aktivitas kolagen yang berlebih. Pertumbuhan kolagen dipengaruhi enzim kolagenase yang kurang terkontrol. Enzim kolagenase adalah enzim yang mengatalisis hidrolisis kolagen.

“Versi saya, kolagen itu nggak akan berlebih kalau ada kolagenase. Jadi, saya bilang, kalau kolagenase berfungsi dengan bagus, mungkin tidak akan ada keloid. Karena semua yang berlebih dihancurkan. Jadi, (kolagenase berfungsi) seperti mandor,” imbuhnya.

Dokter kelahiran Singkawang itu lantas kembali melanjutkan risetnya yang ia mulai sejak melakukan penelitian disertasi. Melanin, pewarna pada kulit, memiliki sifat kimia asam. Agar kolagenase berfungsi, maka enzim tersebut harus bersifat basa. Pada orang yang tidak berkulit putih, banyaknya melanin membuat suasana kulit bersifat asam.

Akhirnya, David merumuskan cara agar melanin itu turun dengan pemutih yang menggunakan pelarut basa. Agar keadaan asam dan basa tak membuat kulit kian sensitif, ia mengombinasikan pemutih dengan liposom sehingga sifat basa baru keluar ketika sudah memasuki lapisan dermis. Pemutih yang ia gunakan adalah Hydroquinone dengan kadar empat persen.

“Jadi, ide saya yang dipatenkan adalah pemutih dalam suasana basa untuk keloid. Karena dengan dikasih pemutih ke keloid, suasananya basa, kolagenasenya aktif, melaninnya turun sehingga suasana di dalam akan basa, kolagenasenya muncul (aktif) dan kolagen semua yang berlebih akan dipapas sehingga turun,” tutur David.

Prof. Dr. David Sontani
Prof. Dr. David Sontani Perdanakusumah, dr., Sp.BP-RE (K) (Foto: Defrina Sukma S)

Pemikirannya itu ia tuangkan dalam paten berjudul “Penggunaan Hidrokuinon untuk Mencegah dan Mengobati Keloid”. Pemutih keloid dalam suasana basa akhirnya berhasil dipatenkan pada tanggal 17 Oktober 2012 dengan nomor paten ID P0031959.

Pendaftaran produknya menuju paten sempat melewati jalan berliku. Selain karena rutinitas, ide penggunaan pemutih untuk menyamarkan warna kulit dianggap bukan barang baru.

“Saya mengurus paten sekitar tahun 2004, tetapi baru keluar tahun 2012. Delapan tahun. Karena hydroquinone bukan barang baru. Itu sudah lama dipakai untuk pemutih, tapi hydroquinone untuk keloid tidak pernah ada di dunia. Itu riset saya. Original,” tegas Wakil Dekan I FK UNAIR.

Ia praktikkan itu ke pasien-pasiennya yang telah melalui tindakan operasi. Hasilnya, keloid jadi mengecil dan lebih cerah. Untuk keloid yang bentuknya besar, pemberian krim perlu dikombinasikan dengan tindakan bedah.

“Krim itu bisa mengecilkan. Sedikit dipangkas. Tapi untuk mendapatkan hasil yang dramatis, perlu dikombinasi dengan tindakan bedah,” imbuh David.

Selain pasien dengan keloid, dokter berusia 56 tahun itu pernah memberikan krim pemutihnya pada pasien dengan bekas cacar dan luka bakar. “Bekas luka bakar di tangan, saya kasih terus mulus. Ada luka trauma, bekas operasi, saya kasih kemudian memudar dan halus,” terang peraih penghargaan Science Achievement Award 2015 dari media Republika.

Pemutih yang David gunakan saat ini mengandung empat persen hydroquinnon dalam suasana basa dengan derajat keasaman atau pH 7,5. Ia saat ini tengah mengembangkan krim dengan derajat keasaman 7,6 sebab angka ini merupakan angka yang ideal untuk kolagenase.

Saat ini, oleh Institute of Tropical Disease UNAIR, krim pemutih milik David tengah dihilirisasi oleh salah satu industri farmasi di Indonesia. Uji produk krim pemutih milik Guru Besar bidang Ilmu Bedah Plastik ini dalam tahap uji stabilitas. Setelah uji stabilitas, tahap berikutnya adalah uji klinik di berbagai pusat kesehatan. Ia berharap, krim pemutihnya bisa memberi harapan baru bagi pasien dan tenaga medis dalam mengatasi keloid pada tubuh. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor    : Faridah hari




Selamatkan Lingkungan, Sampah Plastik Diinovasi Jadi Bahan Bakar Bensin dan Solar

UNAIR NEWS – Limbah plastik yang berceceran dan berpotensi mengganggu lingkungan di tempat-tempat pemrosesan akhir sampah (TPA), ditangan mahasiswa jurusan Ilmu dan Teknologi Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, berhasil dibuat sebagai bahan bakar berupa bensin dan solar dan bisa digunakan untuk motor dan mobil.

Inovasi pembuatan bahan bakar dengan metode thermal cracking yaitu pembakaran pada suhu tinggi 300-400°C tanpa oksigen. Hasilnya, dalam pembakaran satu kilogram plastic menghasilkan satu liter bahan bakar berupa bensin dan solar. Inovasi ini dimaksudkan sebagai partisipasi bagaimana mengatasi masalah persampahan global.

Mahasiswa penggiat penelitian dan inovasi ini adalah Edo Dwi Praptono (angkatan 2013), Ade Imas Agusningtyas (2013), Hilmi Putra Pradana (2016), Ledy Theresia (2016), dan Lola Sara (2016).

Oleh mereka berlima, inovasi yang kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) itu telah berhasil lolos penilaian Dikti dan berhak atas dana hibah pengembangan dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017. Proposal tersebut berjudul ”Landfill Mining Project: Pirolisis Sampah Plastik Hasil Eskavasi Sebagai Bahan Bakar Dengan Metode Thermal Cracking untuk Memperpanjang Usia TPA”.

Keprihatinan bahwa Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar setelah Tiongkok, telah membulatkan tekad Edo Dwi Praptono Dkk melakukan inovasi ini dan andil mencarikan solusi. Predikat sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar itu karena minat masyarakat dalam penggunaan plastik untuk aktivitasnya semakin meningkat. Masyarakat belum banyak mengetahui bahwa sampah plastik itu akan berpengaruh besar terhadap kerusakan lingkungan, seperti pencemaran air, udara, dan tanah, karena tingkat degradasi sampah plastik untuk bisa terurai di tanah ini membutuhkan waktu puluhan tahun.

Selain itu, kata Edo, peningkatan jumlah sampah plastik akan berpengaruh terhadap ketersediaan lahan TPA sebagai lokasi penimbunan sampah. TPA Klotok di Kota Kediri, sebagai lokasi penelitian ini melakukan pembalakan hutan di sekitar area TPA untuk memperluas lokasi penimbunan sampah.

Tentu saja, hal itu sangat merugikan jika ditinjau dari segi ekologi. Sehingga dibutuhkan solusi dalam menangani permasalahan tersebut, antara lain dengan mengkonversi sampah plastik  menjadi bahan bakar, mengingat saat ini kebutuhan penggunaan bahan bakar semakin meningkat. Namun hal itu berbanding terbalik dengan ketersediaan bahan bakar fosil yang ada.

”Sehingga kami berharap konversi sampah plastik hasil eskavasi TPA menjadi bahan bakar ini dapat dijadikan alternative solusinya,” tambah Edo.

Diterangkan oleh Edo, proses konversi ini dilakukan dengan metode thermal cracking, yaitu pembakaran pada suhu tinggi tanpa oksigen. Proses pembakarannya dilakukan selama 45 menit dengan suhu 300-400°C. Hasil pembakaran satu kilogram plastik menghasilkan satu liter bahan bakar berupa bensin dan solar.

bensin
TEKNOLOGI tepat guna reaktor pembakaran yang merupakan bagian dari penyulingan minyak sampah plastik ini. (Foto: Dok PKMPE FST)

Jenis plastik yang dapat digunakan cukup melimpah, seperti jenis plastik PP (gelas air kemasan), HDPE (botol shampoo), PETE (botol air kemasan), Other (bungkus makanan ringan), dan sampah plastik lain yang dapat dengan mudah ditemukan di aktivitas sehari-hari di masyarakat.

Dengan pemanfaatan sampah plastik ini maka keberlanjutan proses konversi tetap terjaga karena jumlah sampah plastik yang sangat melimpah dan terus meningkat setiap harinya. Hasil dari konversi sampah plastik dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor seperti motor, mobil, serta dapat juga digunakan untuk penggerak alat-alat pertanian.

“Konversi sampah plastik menjadi bahan bakar ini dapat dijadikan solusi untuk mengatasi tingginya timbunan sampah plastik di TPA dan digunakan sebagai alternative bahan bakar pengganti bahan bakar fosil. Bayangkan saja jika seluruh TPA di Indonesia melakukan konversi seperti ini, maka Indonesia akan terbebas dari permasalahan sampah plastik global,” tandas Edo Dwi Praptono dengan nada optimis.

Pengembangan selanjutnya, ditambahkan Ade Imas Agusningtyas, kegiatan ini dapat dijadikan sebagai lahan pengabdian masyarakat di sekitar area TPA untuk dapat membantu mengelola sampah plastik dan peningkatan taraf hidup masyarakat dengan mengkomersilkan produk bahan bakar dari limbah plastic. (*)

Editor: Bambang Bes




Pakan Aditif dari Wortel, Mampu Naikkan Berat Badan Harian Ayam Broiler

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kedoktean Hewan (FKH) Universitas Airlangga dalam penelitiannya menemukan bahwa wortel (Daucus carota L) dapat digunakan sebagai bahan aditif pakan ayam broiler yang teruji efektif dan mampu meningkatkan berat badan harian ayam.

Mahasiswa FKH UNAIR yang melakukan penelitian tersebut adalah Ahmad Syaifullah (2014), Akhmad Afifudin Al-Anshori (2016), Indah Tri Lestari(2016), Maylendah Larasati Wibowo (2016), dan Dhinar  Ramadhani (2016).

Dibawah bimbingan Dr. Widya Paramita Lokapirnasari, Drh., MP., penelitian tersebut dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dengan judul “Pemanfaatan Ekstrak Umbi Wortel (Daucus carota L) Terhadap Peningkatan Berat Badan Harian Pada Ayam Broiler”. Proposal ini telah lolos seleksi Dikti, sehingga berhak atas dana penelitian program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

Dijelaskan oleh Ahmad Syaifullah, ayam Broiler merupakan ayam ras pedaging hasil persilangan antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Peternakan Broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sumber protein hewani.

Dalam usaha peternakan broiler, biaya pakan merupakan komponen terbesar dari total biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak, yaitu sekitar 70%. Guna memaksimalkan hasil produksi dengan biaya seminimal mungkin, peternak melakukan berbagai cara. Salah satu usahanya dengan menambahkan bahan aditif.

Kenapa wortel? Lanjut Ahmad Syaifullah, wortel merupakan salah satu bahan pakan yang melimpah. Kandungan betakaroten dan tingginya kadar serat dalam wortel sangat berguna melancarkan sistem pencernaan dan meningkatkan kinerja usus dalam penyerapan nutrisi. Dengan potensi tersebut, wortel dapat digunakan sebagai alternatif untuk efisiensi pakan pada peternakan broiler, jadi dapat meningkatkan pertumbuhan berat badan secara harian pada broiler.

ayam broiler
DIAGRAM pertambahan berat badan harian ayam broiler dari hasil uji coba. (Dok PKM-PE FKH)

”Kami melakukan penelitian menggunakan 100 ekor ayam broiler yang dipelihara secara intensif.  Pada umur 2 minggu dibagi dalam 5 kelompok, terdiri dari 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan yang diberi wortel dengan dosis dari konversi manusia ke ayam. Selanjutnya semua dosis dicampurkan dalam air minum sesuai kebutuhan harian ayam broiler,” kata Ahmad menjelaskan.

Parameter yang dilihat adalah laju pertambahan berat badan harian ayam selama masa pemeliharaan (5 minggu) hingga panen. Penimbangan berat badan dilakukan setiap minggu terhadap 50% sampel dari tiap kelompok, kemudian dibagi 7 untuk mengetahui rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) ayam broiler per minggu. Pertambahan berat badan ini bisa dilihat pada diagram.

Menurut Ahmad Syaifullah, kecukupan energi dan protein dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat, juga keberhasilan usaha pemerintah dalam pembangunan pangan peningkatan sumber daya manusia. Hal ini penting sebab peternakan ayam broiler merupakan penyumbang protein hewani terbesar bagi masyarakat Indonesia.

Ahmad Dkk berharap hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para peternak ayam broiler. Keberadaan wortel di Indonesia yang sangat melimpah, biaya pembelian yang cukup efisien serta telah terbuktinya dalam uji coba, menjadi nilai tambah untuk memilih wortel sebagai bahan pakan aditif untuk usaha broiler mereka. (*)

Editor: Bambang Bes




Pelet Kroto Diketahui Sebagai Pakan Ikan yang Mempercepat Pertumbuhan

UNAIR NEWS – Empat mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga di PSDKU (Pusat Studi Diluar Kampus Utama) Banyuwangi, dalam penelitiannya menemukan pelet kroto (Pelo) sebagai pakan ikan yang teruji efektif mampu mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan kelulushidupan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus).

Lele dumbo panjang 5-10 Cm dan berat 1-2 gram, dalam lima perilaku uji coba selama 30 hari, baik panjang dan berat badan semua meningkat. Namun peningkatan paling maksimal (berlipat) pada perilaku kelima (pemberian kroto murni tanpa pelet komersial), panjang badan lele bertambah 5,5 Cm dan berat badan lele bertambah hampir 4 gram.

Empat mahasiswa FPK UNAIR itu kemudian menuangkan penelitiannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) ini adalah Indra Wicaksono (ketua tim), dengan anggota Santika Dwi Christanti, Rina Suliestyana, dan Ayu Nur Imaniy. Dibawah bimbingan Mohammad Faizal Ulkhaq, S.Pi., M.Si., proposal berjudul “PELO (Pelet Kroto): Alternatif Pakan Ikan Buatan untuk Mempercepat Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias gariepinus)” ini berhasil lolos seleksi untuk memperoleh dana pengembangan dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2017.

Diterangkan Indra Wicaksono, penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan yang terdiri dari pelakuan A (0% pelet komersial tanpa kroto). Perlakuan B (pemberian PELO dengan kombinasi 25% kroto dan 75% pelet komersial), perlakuan C (50% pelet dan 50% kroto), perilaku D (75% pelet dan 25% kroto), dan perilaku E (100% PELO murni tanpa pelet komersial). Pertambahan perkembangannya Lihat Diagram.

pakan ikan
DIAGRAM pertambahan berat badan dan panjang lele dumbo dari hasil uji coba dengan lima perlakuan. (Dok PKM-PE PELO)

Lele dumbo (Clarias gariepinus) yang dijadikan uji coba adalah lele dengan panjang 5-10 Cm dan berat 1-2 gram, sebanyak 20 ekor untuk masing-masing ulangan. Sedang parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik dan nilai kelulushidupan lele selama masa pemeliharaan (30 hari). Hasil penelitian ini menunjukkan kandungan protein pada kroto dan pelet yang digunakan yaitu bahan kering, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Ca, BETN, ME (Kcal/kg).

Menurut Indra Wicaksono, mengapa pihaknya meneliti ini, sebab nutrisi merupakan hal sangat penting bagi setiap makhluk hidup karena digunakan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. ”Tanpa nutrisi, perkembangan dan pertumbuhan akan terhambat bahkan akan mengalami kematian. Salah satu bahan pakan yang mengandung nutrien tinggi itu adalah kroto, yaitu kadar protein mencapai 47%,” kata Indra.

Sedangkan selama ini pemanfaatan kroto di Indonesia masih sebatas untuk pakan burung berkicau dan umpan memancing ikan. Selain itu kroto juga dimanfaatkan peternak ayam untuk mempercepat pertumbuhan ayam. Sedangkan masyarakat Thailand dan Filipina membudidayakan kroto tidak hanya untuk pakan burung atau ikan, tetapi juga sebagai bahan pangan manusia karena kandungan nutrien yang tinggi dan tekstur yang lembut seperti krim.

pakan ikan
ANGGOTA Tim PKMPE sedang memproses pelet kroto di Lab FPK UNAIR Banyuwangi. (Foto: Dok PKM-PE PELO)

Perikanan budidaya merupakan kegiatan yang banyak di Indonesia, karena memiliki prospek sangat menjanjikan. Namun, tingginya harga pakan sebagai biaya terbesar budidaya, menjadi kendala yang banyak dihadapi para pembudidaya. Karena itu perlu dicari alternatif bahan pakan yang murah, kandungan nutrient-nya sesuai kebutuhan ikan, dan mudah didapat (tidak musiman).

”Jadi kroto sebagai telur semut yang memiliki kandungan protein cukup tinggi bagus dikonsumsi oleh ikan, khusunya ikan karnivora, sebab kandungan protein kroto berasal dari protein hewani,” lanjut Indra Wicaksono.

Keunggulan dari PELO (pelet kroto) ini adalah, pertama: diperoleh produk pakan ikan dengan harga lebih terjangkau dan mudah didapat. Kedua, telah terbukti dalam uji coba sebagai pakan ikan alternatif yang mempercepat pertumbuhan ikan, dan ketiga: memiliki aroma yang relatif sedap dan khas. (*)

Editor: Bambang Bes




Kincir Tenaga Magnet, Solusi Aerasi Ramah Lingkungan Tambak Udang dan Efisien 40%

UNAIR NEWS – Ganjalan cukup signifikan dalam budidaya udang selama ini, selain penyediaan pakan dalam satu siklus juga biaya untuk menggerakkan kincir air di kolam sebagai aerasi yang relatif besar. Berusaha membantu mengatasi persoalan tersebut, lima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga menawarkan inovasinya sebuah kincir tenaga magnet (KTM) dengan konsep free energy walau energinya terus-menerus berputar yang bisa 40% lebih efisien.

Lima mahasiswa FPK Universitas Airlangga Surabaya itu adalah Hafit Ari Pratama (ketua tim), Muhammad Zulfikar Alfian Bahtiar, Irfan Mahbuby, Anisa Redhita Sari, dan Zakariya. Kedepan, mereka ingin gagasannya ini bermanfaat dalam industri budidaya perikanan.

Melihat urgensinya atas kreasi ini, mereka menuangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berjudul “Kincir Tenaga Magnet” (KTM). Dibawah bimbingan dan arahan dosennya, Putri Desi Wulan Sari, S.Pi, M.Si., proposal ini berhasil lolos dari penilaian Dikti sehingga berhak atas hibah dana dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2016-2017. Dari dana inilah prototip dari gagasan tersebut direalisasikan oleh Hafit Dkk.

aerasi
TIM mahasiswa FPK UNAIR ketika sedang merancang gagasannya tentang KTM. (Foto: Dok PKMKC FPK)

”Kincir air ini bisa digunakan untuk aerasi tambak dalam budidaya secara intensif, khususnya budidaya udang vannamei,” kata Hafit Ari Pratama.

Dijelaskan Hafit didampingi rekan setimnya, latar belakang dilakukan inovasi ini adalah pada pembudidayaan intensif, khususnya budidaya udang vannamei, dimana pengeluaran satu siklus yang mencapai puluhan juta rupiah/hektarnya sebagai biaya operasional. Biaya operasional tersebut selain masalah pakan juga biaya untuk menggerakkan kincir air di kolam untuk aerasi.

Masalahnya, tanpa adanya kincir air sebagai aerasi, komoditas udang yang dibudidayakan bisa mengalami kelambatan tumbuh hingga kematian, yang disebabkan oleh rendahnya kelarutan oksigen dalam kolam dan tingginya pH.

Selama ini kincir air itu digerakkan menggunakan bahan bakar solar, dimana biayanya bisa mencapai 50% dari total biaya operasional. Kemudian kincir air yang digerakkan dengan listrik juga masih memakan biaya yang relatif mahal, yakni biaya listrik masih mencapai hingga 30% dari biaya operasional. Selain itu listrik yang dikeluarkan harus memiliki daya cukup tinggi, sehingga efisiensinya dapat digolongkan masih rendah.

Kemudian dengan Kincir Tenaga Magnet, mula-mula kincir digerakkan dengan bantuan dinamo yang diputar oleh tenaga listrik dari aki. Saat kincir memutar itu terdapat GGL Induksi yang dihasilkan oleh perputaran magnet dalam piringan yang berbenturan dengan kumparan kawat pada kerangka KTM. GGL Induksi ini yang kemudian menghasilkan listrik dan disimpan pada aki.

”Selanjutnya aki akan memutar dinamo dengan energi listriknya, dan dinamo menggerakkan kincir, begitu seterusnya,” jelas Hafit.

Ditambahkan, dalam konsep ini masih diperlukan optimasi lebih lanjut. Konsep free energy yang ditawarkan masih belum optimal, karena KTM tidak dapat terus berputar selamanya, tapi akan berhenti pada waktunya. Sehingga optimasi masih dibutuhkan untuk membuat KTM dapat berputar lebih lama seperti yang diharapkan. Optimasi ini dilakukan dengan cara menambah magnet dan koil, sehingga energi yang disimpan dalam aki dapat lebih banyak.

Kelebihan dari Kincir Air Tenaga Magnet (KTM) buatan mahasiswa FPK UNAIR ini lebih ramah lingkungan dan dapat dioperasikan tanpa menggunakan daya yang besar. Selain itu juga memiliki efisiensi lebih tinggi dari solusi yang ditawarkan sebelumnya, yaitu diperkirakan dapat menghemat biaya hingga 40% jika dibandingkan dengan menggunakan listrik. (*)

Editor: Bambang Bes




Analisis Faktor Penyebab Kejadian ’Preeklampsia’ Ibu Hamil untuk Turunkan AKI

UNAIR NEWS – Preeklampsia merupakan kelainan yang hanya ditemukan pada masa kehamilan. Hal itu ditandai dengan peningkatan tekanan darah disertai proteinuria pada wanita hamil saat akhir trimester kedua sampai ketiga kehamilan. Preeklampsia dapat berakibat buruk pada ibu maupun janin yang dikandungnya. Tanpa perawatan yang tepat, preeklampsia dapat menimbulkan komplikasi serius yaitu persalinan preterm dan kematian ibu.

Mengutip catatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, tahun 2013 di Jatim terdapat angka kematian ibu melahirkan mencapai 474 kasus, meningkat dibanding tahun 2012 yang 450 kasus. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 juga menunjukkan, penyebab langsung Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 13% adalah preeklampsia.

Pada tahun 2012 faktor preeklampsia/eklampsia masih menjadi faktor dominan, yakni 34,88% penyebab kematian ibu di Jawa Timur (Depkes Jatim, 2012). Selain itu, tahun 2014 terjadi peningkatan kasus preeklampsia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dari 27,88% menjadi 32,48%.

Bertekad untuk membantu mengendalikan jumlah penderita preeklampsia tersebut sedini mungkin, mahasiwa program studi Statistika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, yaitu Intan Diyora Naya, Eries Diah Permatasari, Sa’adah Juli Hastuti, Khoirunnisa Alfadistya, dan Andi Herawanto, melakukan inovasi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE).

hamil
KELOMPOK PKM-PE Intan Dkk berdiskusi dalam penelitian mengenai usaha turut menurunkan angka preeklamsia. (Foto: Istimewa)

Proposal PKMPE mereka dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di RSU Haji Surabaya Sebagai Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) berdasarkan Metode Regresi Logistik Biner”, berhasil lolos seleksi dan memperoleh dana penelitian Kemenristikdikti dalam program PKM 2016-2017.

”Kami melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab preeklampsia dan memodelkannya agar diketahui pola hubungan antar faktor  menggunakan metode regresi logistik biner,” kata Intan Diyora, ketua kelompok PKM ini.

Ditambahkan, faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab terjadinya preeklampsia pada ibu hamil itu, antara lain hipertensi, proteinuria, penyakit yang menyertai kehamilan; diabetesmellitus, berat badan ibu, usia ibu, paritas, kehamilan ganda, riwayat hipertensi sebelum kehamilan dan riwayat keluarga pernah menderita preeklampsia atau eklampsia.

Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa dari delapan faktor yang digunakan tim, ternyata diperoleh empat faktor yang berpengaruh signifikan sebagai penyebab preeklampsia. Keempat faktor tersebut adalah tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, kadar protein dalam urine (proteinuria) dan riwayat menderita hipertensi sebelum kehamilan.

”Model yang kami dapatkan bisa digunakan mendiagnosa untuk memprediksi ibu hamil menderita preeklampsia atau tidak. Oleh sebab itu kami harapkan masyarakat terutama ibu-ibu agar lebih peduli tentang kesehatan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, sehingga diharapkan dapat mengurangi penderita preeklampsia setiap tahunnya,” kata Intan. (*)

Editor: Bambang Bes




Mahasiswa Antropologi UNAIR Teliti Uniknya Tradisi Lamaran di Lamongan

UNAIR NEWS – Pada umumnya proses lamaran (meminang) dalam perkawinan dimulai oleh pihak laki-laki, tetapi di Kabupaten Lamongan inisiatif itu dari pihak perempuan yang meminang calon suaminya. “Keunikan” inilah yang menggelitik lima mahasiswa jurusan Antropologi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) tertarik melakukan penelitian tentang lamaran wanita terhadap pria.

Kelima mahasiswa Antropologi FISIP UNAIR itu adalah Luluk Oktavia, Yusuf Bilal Abdillah, Biandro Wisnuyana, Dyah Bratajaya Wisnu Puteri, dan Selvi Nur An Nisaa Permata. Kemudian mereka menuangkan ide ini dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH).

Proposal berjudul “Menguak Tradisi Lamaran (Calon Mempelai Wanita Terhadap Calon Mempelai Pria) di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur” ini berhasil lolos seleksi dan mendapatkan pendanaan pengembangan dari Kementrian, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

”Ini benar-benar bagai pepatah Lain ladang lain belalang, Lain lubuk lain ikannya – artinya di setiap daerah memiiki adat istiadat berbeda, satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lainnya. Salah satunya di Lamongan Jawa Timur ini,” kata Luluk Oktavia, ketua penelitian.

Ternyata terdapat kisah dibalik tradisi lamaran ini, yang tidak lain adalah kisah yang terjadi di zaman kerajaan dahulu. Dimulai dari sebuah kisah tentang Tumenggung Lamongan. Ia mempunyai dua anak laki-laki yang rupawan, namanya Panji Laras Liris. Ketampanan pemuda ini sangat terkenal, hingga membuat dua putri dari Kerajaan Kediri jatuh cinta kepada Panji Laras Liris.

Singkat cerita, kedua puteri dari Kerajaan Kediri itu pergi ke daerah Lamongan untuk meminang Panji Laras Liris. Pada akhirnya saat masih ditengah perjalanan sudah ditolak, karena Panji Laras Liris merasa jijik melihat kaki sang puteri yang banyak bulu seperti kaki kuda.

lamaran
Salah satu pelaksanaan tradisi lamaran yang hingga saat ini masih dilaksanakan di Kab. Lamongan: pihak perempuan yang melamar laki-laki. (Foto: Istimewa)

Maka dari itu, hingga saat ini masyarakat Lamongan memiliki anggapan keyakinan bila laki-laki Lamongan menikah dengan wanita asal Kediri, mereka akan mendapatkan kesialan dalam hubungan rumah tangganya. Dari cerita inilah melahirkan tradisi di Lamongan bahwa pihak wanita yang harus melamar pria.

“Jadi dalam lamaran ini ada beberapa prosesi, seperti njaluk, ganjur, milih dino, dan pernikahan. Di mana orang tua pihak wanita meminta kepada si pria untuk menjadi menantunya. Setelah meminta (njaluk), mereka melakukan ganjuran (lamaran) ke pihak pria, lalu pihak pria membalas ganjuran itu selang beberapa hari. Kalau semua sudah saling setuju, baru kedua pihak menentukan hari pernikahannya, setelah itu mereka menikah,” tambah Luluk Oktavia.

Pada tradisi lamaran ini terdapat nilai-nilai social, yaitu pihak wanita yang mendatangi pria. Disini terkesan bahwa ada penghargaan dari seorang wanita kepada pria. Selain itu terdapat kesan bahwa seorang pria harus menjaga wanita karena ia juga mampu memberikan sesuatu kepada pria yang dipercayainya itu. Jadi bila ada laki-laki yang hanya menggantungkan hidupnya pada seorang wanita dan rumah tangganya berantakan, maka harga diri laki-laki itu akan turun di masyarakat umum.

Perspektif lain juga terlihat pada seserahan yang dibawa pihak wanita dalam proses lamaran. Setelah diterima oleh pihak pria, dalam pernikahan nanti si pria akan memberikan mahar yang lebih besar dari nilai seserahan yang telah diterima itu.

”Ini memberikan kesan bahwa terdapat rasa gengsi dari pihak pria jika mahar yang diberikan lebih kecil dari seserahan yang dibawa pihak wanita. Sebagai calon kepala keluarga haruslah mapan dan memiliki derajat lebih tinggi dari isterinya. Oleh karena itu, mereka menunjukkannya dari mahar yang diberikan kepada calon istrinya,” tambah Luluk. (*)

Editor: Bambang Bes




Tempurung Kelapa Didedikasikan untuk Pasien Kanker Usus Besar yang Kurang Mampu

UNAIR NEWS – Dokter penemu skin barrier dari tempurung kelapa, Dr. Vicky S Budipramana, dr., SpB., KBD, termasuk sosok yang peduli dengan pasiennya. Dulu, skin barrier tempurung kepala buatannya diproduksi sendiri lalu diberikan kepada pasien secara cuma-cuma. Pertimbangannya, batok kelapa bisa didapatkan secara gratis dari pasar.

“Tapi lama kelamaan ndak bisa begitu. Sekarang mesti beli kelapa utuh. Satu batok bisa dibuat jadi  empat sampai lima produk. Pasien cukup mengganti ongkos pembuatan dan bahannya saja, murah tidak lebih dari lima ribu rupiah,” jelasnya.

Namun demikian, murah bukan berarti diminati banyak orang. Ia mengakui tidak semua pasiennya mau menggunakan skin barrier batok kelapa. Jika pasien tersebut mampu, maka mereka lebih memilih menggunakan colostomy bag.

Produk colostomy bag karayagam buatan pabrik ini diklaim lebih nyaman digunakan. Tinggal ditempel di permukaan kulit, tanpa harus menggunakan sabuk atau tali elastis. Produk ini juga memiliki kemampuan daya serap tinggi tapi hanya bisa digunakan selama beberapa hari. Hanya saja, produk tersebut mesti didapat dengan harga cukup mahal.

“Penggunaan batok kelapa memang spesifik untuk pasien kurang mampu dan tinggal di daerah periferi. Bayangkan, kalau mereka harus membeli yang mahal, satu kantong untuk penggunaan 3-4 hari saja dikalikan Rp 80ribu. Sebulan sudah habis berapa biayanya? Apalagi mereka orang desa, mau beli di mana? Karena persediaan colostomy bag hanya ada di perkotaan saja,” jelasnya.

Lain halnya jika batok kelapa. Selain bahannya mudah didapat, batok kelapa ternyata memiliki kemampuan daya serap yang tinggi dan perawatannya mudah. Perawatannya mudah. Jika kantong stoma sudah penuh dengan cairan ekskreta, batok kelapa bisa dilepas dan dicuci. Sisa kerak yang menempel di permukaan batok bisa disikat sampai bersih, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 7 jam atau dioven 130 derajat selama 20 menit. Setelah itu dapat digunakan berulang kali seumur hidup.

Keduanya memang memiliki kekurangan dan kelebihan. Sebut saja karayagam. Dalam kondisi kulit yang masih lecet dan basah, karayagam tidak bisa digunakan. Alhasil, mau tidak mau pasien harus menggunakan batok kelapa sementara waktu sampai kondisi kulitnya membaik.

Sedangkan batok kelapa, hanya penggunaanya saja yang dianggap kurang nyaman, karena dinilai kurang praktis dan musti menggunakan tali elastis. Namun bagi pasien kurang mampu, itu saja sudah sangat membantu. Tanpa mengeluarkan biaya lebih besar, kulit mereka aman dari iritasi, tanpa mengganggu aktivitas mereka.

Teknik pemanfaatan batok kelapa menjadi skin barrier tampaknya hanya ada di Indonesia dan tidak menutup kemungkinan di beberapa wilayah tropis lainnya.

Agar bisa diproduksi, tentu dibutuhkan sejumlah persyaratan. Pengalamannya dalam memperjuangkan hak paten dilaluinya dengan cukup berliku. Jauh sebelum hak paten diperjuangkan, ia melakukan penelitian seputar potensi batok kelapa terlebih dulu, dan kemudian berhasil masuk jurnal internasional.

Selanjutnya, tahun 2008 ia mencoba mengurus hak paten. Namun usahanya memperjuangkan hak paten sempat terhalang, karena dalam proses paten pihak tersebut menelusuri, ide hak patennya sama dengan hasil penelitian yang sudah ada di dalam jurnal, sehingga dianggap tidak orisinal lagi. Setelah melalui usaha yang cukup keras, inovasinya berhasil disetujui pada tahun tahun 2012.

Menurutnya, angka prevalensi kanker usus meningkat setiap tahun.  Diperkirakan setiap minggu, Instalasi Rawat Darurat RSUD Dr. Soetomo menerima puluhan pasien baru kanker usus besar. Banyak dari mereka berasal dari luar kota, tinggal di pedesaan.

Bahkan, ia mengajarkan kepada para pasien bagaimana cara membuat skin barrier dari batok kelapa. Tapi ternyata tak semua orang bisa membuat.

“Kelihatannya sederhana, ya, tapi ternyata ndak semua orang mampu membuatnya. Karena kebutuhan terus meningkat, akhirnya saya minta bantuan orang lain untuk membuat, dan pasien tinggal ganti ongkos dan bahannya saja, dan ini bukan komersil,”  jelasnya. (*)

Penulis: Sefya H. Istighfarica
Editor: Defrina Sukma S