Gathering dan Penyerahan Hadiah Lomba yang Diadakan PIH

UNAIR NEWS – Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga memberikan penghargaan kepada 18 peserta lomba penulisan opini, foto, dan video competition, Rabu (20/9). Selain seluruh pemenang, pemberian penghargaan tersebut juga dihadiri oleh awak media, maupun staf dan pimpinan PIH. Event itu juga merupakan gathering dan ajang diskusi bersama.

Berikut sekelumit dokumentasinya.




Raih Hadiah dengan Berbagi Pengalaman Menyenangkan Bareng UNAIR

UNAIR NEWS – Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga memberikan penghargaan kepada 18 peserta lomba penulisan opini, foto, dan video competition, Rabu (20/9). Selain seluruh pemenang, pemberian penghargaan tersebut juga dihadiri oleh awak media, maupun staf dan pimpinan PIH.

Defrina Sukma Satiti, S. IP., selaku Ketua Panitia acara mengatakan, ketiga lomba yang bertema “Pengalaman Menyenangkan Bersama UNAIR” itu diadakan dengan tujuan menguatkan reputasi UNAIR melalui media sosial. Selain itu, lomba ini juga diadakan untuk meningkatkan kesadaran bersama bahwa UNAIR telah diamanahi pemerintah menuju top 500 world class university pada tahun 2020 mendatang.

“Maka dengan lomba-lomba yang kami adakan ini, kami sedang mensosialisasikan amanah dari pemerintah tersebut. Mengapa melalui medsos? Sebab medsos menjadi media yang paling akrab dengan dunia kita saat ini,” ucap Defrina.

Melalui lomba-lomba yang diadakan ini, Defrina berharap bahwa pemenang lomba tetap aware untuk membagi pengalaman menyenangkan mereka di UNAIR. Sementara kepada pemenang penulisan opini, ia berharap agar mereka tetap menulis berbagai gagasan mereka untuk kemajuan perguruan tinggi, khususnya UNAIR.

“Semoga tetman-teman tetap sharing tentang fun experience mereka, serta berbagi gagasan untuk kemajuan perguruan tinggi, khususnya UNAIR,” ujar alumnus Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR itu.

Sementara itu, Ketua Pusat Informasi dan Humas Dr. Suko Widodo mengatakan, para pemenang lomba adalah mereka yang terpilih berdasarkan kualitas dari masing-masing kriteria pemenang perlombaan. Ia mengatakan, PIH siap untuk membina bakat yang mereka miliki untuk dapat semakin dikembangkan.

Selain itu, pakar komunikasi politik itu juga mengatakan bahwa lomba-lomba yang memicu kreatifitas mahasiswa semacam ini akan terus diadakan, minimal satu kali dalam setahun.

“Akan kita adakan lomba-lomba semacam ini, minimal satu kali dalam setahun. Tentunya, lomba akan dikemas yang lebih menarik dan dengan hadiah yang lebih besar lagi,” ujar dosen yang baru lulus sebagai doktor Ilmu Sosial FISIP UNAIR itu.

Mewakili pemenang kompetisi, M. Wahyu Syafiul Mubarok pemenang lomba penulisan opini berharap agar UNAIR lebih memperbaiki dan meningkatkan sektor baca dan tulis mahasiswa. Hal ini agar cita-cita menuju WCU tidak sebatas mimpi belaka.

“Untuk meningkatkan sektor baca dan tulis mahasiswa, menurut saya yang pertama adalah dengan optimalisasi perpustakaan yang tidak hanya berpusat di kampus B saja melainkan di kampus UNAIR lainnya. Selain itu juga dengan mendekatkan mahasiswa dengan jurnal-jurnal internasional yang sudah dibeli oleh UNAIR semenjak semester awal,” ungkap Wahyu.

Sementara itu, Gaby Calisha Azzahra pemenang lomba video mengungkapkan terima kasih kepada PIH yang telah menyelenggarakan lomba sehingga dapat menjadi wadah kreasi bagi mahasiswa.

“Yang jelas lomba ini memberikan wadah buat teman-teman kreator, videografer, juga lomba opini dan foto. Lomba ini bukan hanya membuat kami berkompetisi, tapi juga membuat kami melahirkan sebuah karya baru,” ucap Gaby. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan




Dalami Kesehatan Buruh Migran, M Asphian Arwin Raih Wisudawan Terbaik S2 FH UNAIR

UNAIR NEWS – Muhammad Asphian Arwin, laki-laki asal Raha, Sulawesi Tenggara ini berhasil menjadi wisudawan terbaik S-2 Fakultas Hukum Universitas Airlangga, dengan meraih IPK 3,79. Bermula dari mengikuti penelitian bersama dosen yang membahas mengenai hukum kesehatan bagi buruh migran, Asphian keterusan dan tertarik untuk mendalaminya.

”Saya menemukan isu hukum berupa masalah yang dialami buruh migran, salah satunya pada aspek perlindungan kesehatan di kawasan ASEAN. Saya membahas tentang perlindungan hak buruh migran dalam mendapatkan jaminan kesehatan serta membuat model kerangka hukum bagi para buruh dalam mendapatkan kemudahan akses perlindungan kesehatan di luar negeri,” ujar penulis tesis “Kerangka Hukum Penerapan Prinsip Universal Health Coverage Bagi Perlindungan Hak Atas Kesehatan Buruh Migran di Kawasan ASEAN”.

Selain kuliah, Asphian melakukan penelitian bersama dosen hingga riset tesis di Universitas Leiden di Belanda. Dalam perjalanannya menempuh pendidikan di Jawa pun, Asphian tak menampik bahwa dirinya sempat merasa kesulitan terhadap bahasa sehari-hari di lingkungannya. Namun, baginya itu bukan hambatan.

”Semasa kuliah S-2, hambatan yang menyangkut di bidang akademik tidak ada, tetapi saya sempat mengalami kendala adaptasi. Akhirnya saya harus mempelajari bahasa Jawa,” kisah Asphian.

Saat ini pun, Asphian kembali disibukkan dengan kegiatan penelitian bersama dosen. Selain itu juga tengah mendalami bahasa asing demi melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri. Di akhir wawancara, Asphian berbagi tips kepada mahasiswa agar sukses menjalani perkuliahan.

”Disiplin mengerjakan tugas perkuliahan serta time management, ini karena kebanyakan mahasiswa S2 sudah bekerja, sehingga terkadang antara waktu kuliah dan pekerjaan tak saling mendukung. Karena itu, saya yang belum bekerja lebih banyak mengatur waktu kegiatan akademik dengan organisasi kemahasiswaan,” imbuhnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Defrina Sukma S, bes




Manajemen Diri yang Baik, Antar Dewi Indah Cahyani Lulus Terbaik FIB UNAIR

UNAIR NEWS – ”Kenali dirimu terlebih dahulu.” Itulah pernyataan tegas wisudawa terbaik S-1 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, Dewi Indah Cahyani, saat ditanya trik dan tips menggapai prestasi ini. Dengan manajemen yang baik tentang mengenali diri, perempuan kelahiran 6 Desember 1994 itu bisa mengetahui tipe dan cara belajar yang tepat.

“Apakah kita tipe yang harus belajar sendiri atau berkelompok, di tempat yang sepi atau ramai, belajar sampai larut atau dini hari. Jadi perlu kenali dulu diri kita. Misalnya, saya tipe orang yang mudah mengantuk, jadi harus belajar ditemani musik atau bersama teman,” kata peraih IPK 3.85 ini.

Selain itu, trik dan tips dari perempuan penghobi menari tarian tradisional dan menonton film ini, selanjutnya jangan hanya terfokus pada belajar. Peraih Juara Tarian Terbaik pada Festival Yosakoi 2015 ini mengatakan, selain belajar pada ranah akademik, mahasiswa harus aktif  berkegiatan di luar akademik.

“Tetapi pastikan bahwa kegiatan itu yang kalian sukai. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penghilang stres akibat kegiatan belajar dalam perkuliahan,” paparnya. Ia tambahkan yang tak kalah pentingnya belajar dengan tujuan. Misalnya ingin sukses dan membahagiakan orang tua.

Perempuan yang pernah menjadi anggota klub Tari Yosakoi di Departemen Sastra Jepang FIB UNAIR ini juga berkisah pengalaman menarik saat kuliah. Baginya, satu hal yang dirasakan paling menarik adalah saat ikut dalam pentas drama Ngangsu Candra Kidung 2017 berjudul “Pralaya Tumapel” di gedung Cak Durasim, 2 Maret 2017. Dalam pentas drama itu, ia berunjuk diri sebagai penari.

“Walaupun berat, karena harus berlatih keras selama 3 bulan, terutama untuk saya yang tidak memiliki bassic menari tradisional, tapi bekat kerja keras kami alhamdulillah terbayar lunas dengan suksesnya pertunjukan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Binti Q. Masruroh, bes




Peran Teknologi dalam Menjawab Tantangan Industri Indonesia

UNAIR NEWS – Pertumbuhan perekonomian di Indonesia tidak terlepas dari kontribusi berbagai sektor, termasuk sektor industri manufaktur. Industri manufaktur dalam pendapatan domestic bruto (PDB) berperan hingga mencapai 5%. Disisi lain, industri manufaktur terus menghadapi tantangan global, yakni perkembangan teknologi.

Dalam menjawab tantangan ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menghelat seminar bertajuk “Riding The Wave of Technological Changes: The Way Forward to Drive Productivity And Alleviate Inequality.”

Dr. Rudi Purwono Wakil Dekan I FEB memberikan sambutan hangat, ucapan terimakasih, serta harapan seluruh peserta, khususnya yang sedang menempuh mata kuliah Perekonomian Indonesia dapat mengambil manfaat.

Bertempat di Aula Fajar Notonegoro Selasa, (19/9), hadir beberapa pembicara dari berbagai kalangan, baik akademisi, pengusaha, dan instansi terkait.

Pembicara pada sesi pertama antara lain Yasir Niti Samudro, Ph.D dari Badan Kebijakan Fiskal, DR. (HC) Alim Markus dari Maspion Grup, dan Prof. Badri Munir Sukoco, Ph.D dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Sedangkan pembicara pada sesi kedua antara lain DR. Cornelius Tjahjaprijadi dari Badan Kebijakan Fiskal, Ir. Arief Tri Hardjoko, MT dari Bappeda Provinsi Jawa Timur, serta akademisi FEB Dr. Rudi Purwono.

Fokus pembahasan dua sesi tersebut antara lain mengenai pemanfaatan teknologi maju dalam industri manufaktur, serta bagaimana mendorong pertumbuhan e-commerce di Indonesia.

Alim menjelaskan, dalam menjawab tantangan global Maspion terus berakselerasi berupaya untuk meningkatkan produknya.

“Dulu Maspion hanya memproduksi kipas angin, namun kini sudah mampu memproduksi AC. Akan tetapi Maspion masih memproduksi produk seri-konvensional yang masih memiliki pangsa pasar di daerah timur,” tambah Alim.

Hal serupa disampaikan Yasir bahwa perubahan ekonomi berkutat pada inovasi kewirausahaan dan kekuatan pasar. Bahkan peran pekerja mulai tergantikan dengan teknologi. Sehingga, industri harus sadar akan perkembangan industri yang pesat. Di berbagai negara maju bahkan telah menggaungkan Revolusi Industri 4.0 yang berbasis pada internet, data center, dan otomasi.

Tak hanya itu, Cornelius memaparkan bahwa salah satu hambatan e-commerce di negara-negara berkembang terkait infrastruktur, teknologi, ketersediaan jaringan TIK, hingga sumber daya manusia yang berkualitas. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor : Binti Q. Masruroh




SKI FH Gelar Diskusi Tragedi Rohingya

UNAIR NEWS – Kekerasan terhadap etnis Rohingya yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar melalui militernya membuat para mahasiswa yang tergabung dalam Badan Semi Otonom (BSO) SKI FH UNAIR turut prihatin dan ingin mengkaji hal tersebut.

“Kita sebagai muslim tentunya prihatin dengan kejadian tersebut. bentuk prihatin kita yakni dengan mengadakan diskusi publik ini. Sebenarnya kami selalu mengadakan diskusi rutin dan kali ini bertepatan dengan adanya isu Rohingya sehingga isu tersebut kita jadikan bahan untuk dikaji. Kita ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi di Myanmar tersebut dan tentunya dengan lingkup diskusi yang lebih luas,” ujar ketua SKI FH UNAIR.

Diskusi publik yang diselenggarakan pada (8/9) ini diisi oleh tiga pemateri  yakni Iman Prihandono, Ph.D, I Wayan Tatib S.H.,M.S. yang keduanya merupakan dosen Fakultas Hukum UNAIR serta Firdaus Faisal yang mewakili suara mahasiswa.

Dalam pemaparannya I wayan Tatib menyoroti tragedi kemanusiaan ini dari prespektif humaniter internasional .

“Apa yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar dapat dikategorikan sebagai perbuatan genosida. Apabila hal itu masih terjadi maka kita dapat menuntut ke pengadilan pidana internasional,” ujar pengampu Hukum Internasional tersebut.

Dilanjutkan oleh Iman yang menjelaskan mengenai tragedi rohingnya dilihat dari kacamata organisasi internasional.

“Peran serta dari organisasi internasional maupun lembaga dalam lingkup regional khususnya ASEAN ini harus berperan aktif dalam menciptakan perdamaian termasuk konflik internal dalam suatu negara,” ungkap ketua Departemen Hukum Internasional tersebut.

Faisal sendiri menjelaskan mengenai peran mahasiswa dalam menyikapi tragedi rohingnya ini.

“Kita sebagai genarasi muda dalam menyikapi  persoalan di myanmar ini jangan hanya dinilai bahwa ini persoalan agama saja. Tetapi ini juga ada konflik kepentingan ekonomi, politik dan lainnya,” ungkap mahasiswa semester 5 ini.

Kesimpulan dalam diskusi yang dihadiri oleh 26 mahasiswa ini adalah menolak tindakan yang dilakukan oleh pemerintahan Myanmar karena apapun bentuknya dan alasannya hal terssebut tidak dibenarkan secara hukum internasional.

Diskusi publik diakhiri dengan penandatanganan sebagai bentuk penolakan sikap atas tragedy rohingya inu.

 

Penulis: Pradita Desianti

Editor: Nuri Hermawan




Kuliah Umum FKH dengan Pembicara dari Amerika Serikat

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) kedatangan tamu spesial Selasa pagi (19/9). Mereka adalah Dr Jeffrey C. Mariner DVM, PhD. dan Prof. Dr. Jeffrey K. Griffiths, MD., MPH&TM dari Tuft University, Amerika Serikat.

Berikut dokumentasinya.




Gaya Kepemimpinan Jadi Kunci Keberhasilan Industri Pariwisata

UNAIR NEWS – Bukan zamannya lagi bagi para pemimpin untuk mendominasi proses pembuatan dan implementasi kebijakan. Sebab, partisipasi rakyat menjadi kunci utama pembangunan daerah, termasuk di bidang pariwisata.

Hal tersebut disampaikan oleh akademisi sekaligus pemerhati pariwisata Dr. Suko Widodo dalam menanggapi terapan kebijakan Bupati Trenggalek dan Bupati Banyuwangi dalam acara CEO Forum: The Future of Hospitality Industry in East Java, Selasa (19/9), di Dyandra Convention Center.

“Perkembangan Trenggalek dan Banyuwangi bagus sekali. Ada perubahan sosial yang terjadi di kedua tempat tersebut dan itu dahsyat luar biasa,” tutur Suko ketika dimintai pendapatnya oleh moderator.

Menurut Suko, gaya kepemimpinan Emil Dardak (Bupati Trenggalek) dan Abdullahh Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) menjadi kunci keberhasilan dalam melaksanakan kebijakan. Keduanya dianggap menempatkan rasionalisasi dalam pembangunan dengan cara yang terbuka, yakni berdialog dengan rakyat.

“Mereka mengajak rakyat bersama-sama melakukann perubahan. Sesuatu yang biasa dilakukan secara top down (pemerintah ke rakyat, -res), tapi ini diubah oleh mas Emil dan mas Anas. Karena untuk mengubah keadaan pariwisata atau apapun memang diperlukan upaya yang besar,” imbuhnya.

Bupati Banyuwangi mengatakan, dalam menggarap industri pariwisata, pihaknya lebih mengutamakan kearifan lokal. Bagi Anas, pembangunan berkelanjutan tak hanya tentang pemenuhan sabuk hijau di ruang terbuka melainkan pelestarian kearifan lokal.

Untuk mendukung itu, pihaknya berusaha menarik wisatawan dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang menonjolkan tradisi masyarakat Banyuwangi.

“Saat ini ada enam penerbangan dari Jakarta ke Banyuwangi. Ada daerah lain yang sampai mensubsidi maskapai penerbangan ke daerahnya, tapi penumpangnya tidak tumbuh. Kalau saya tidak mensubsidi pesawat tetapi bikin event. Market (pasar) terbentuk karena penumpang datang terus ke Banyuwangi,” terang Anas.

Lain halnya dengan Emil. Bupati termuda tersebut tengah mengubah citra daerah yang dipimpinnya dari “kota pensiunan” ke “kota yang ramah anak muda”. Ia mengatakan, perginya anak muda dari kampung halaman karena pemerintah tak memfasilitasi ruang kreasi bagi mereka.

Untuk itu, Emil mencoba membangun pusat kreatif bagi anak-anak muda untuk menjajal usaha rintisan (start-up).

“Anak-anak bikin ‘Cuss-Jek’ seperti ojek online. Jadi, kalau turis bingung mau keluar hotel pas malam-malam, atau bingung pesan makanan tinggal gunakan Cuss-Jek,” papar Emil.

Dalam pembuatan kebijakan, Emil memerintahkan bawahannya untuk selalu berdiskusi dengan warganya. Tujuannya, untuk mengawal keberlanjutan hasil pembangunan.

Selanjutnya, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf yang juga hadir dalam acara tersebut menerangkan, perubahan yang dilakukan dua pemimpin daerah tersebut layak diapresiasi. Mereka dianggap mau mengubah gaya kepemimpinan sehingga rakyat mau bergerak dan berpartisipasi.

Ia mengatakan, industri pariwisata menjadi sektor ekonomi andalan Jawa Timur. Meski hasilnya belum banyak berkontribusi terhadap pendapatan domestik regional bruto, pemerintah akan terus berinovasi di sektor pariwisata.

Acara CEO Forum merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-26 Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga yang bekerjasama dengan portal berita Josstoda.com. Acara ini sekaligus untuk memperingati Dies FEB dan Dies UNAIR.

“CEO Forum ini diadakan untuk memberikan nuansa praktis pada mereka peserta dan mahasiswa,” ungkap Koordinator Prodi S-2 Manajemen Dr. Gancar Premananto.

Penulis : Defrina Sukma S

Editor  : Nuri Hermawan




Berawal dari Takut Ikan, Aisyah Afrianti Malah Lulus Terbaik FPK UNAIR

UNAIR NEWS – Salah satu pengalaman menyenangkan yang dijalani Aisyah Afrianti adalah memegang ikan saat praktikum. Gadis asal Surabaya ini menyandang gelar wisudawan terbaik S-1 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, periode September 2017 ini, mengaku takut dengan hewan. Termasuk ikan. Namun, ketakutan itu berhasil sirna ketika peraih IPK 3,76 ini menjadi mahasiswa S-1 Budidaya Perairan. Mau tak mau, ia berusaha meyakinkan dan memberanikan diri untuk memegang ikan.

“Pengalaman paling menyenangkan waktu saya praktikum dan harus pegang ikan. Saya takut dengan hewan. Jadi, pertama kali pegang, ya, takut. Geli rasanya tapi senang juga karena akhirnya saya berani. Meskipun agak merasa geli di tangan,” kenang Aisyah seraya tertawa.

Dalam penelitian skripsinya, Aisyah melakukan riset soal pencemaran rumput laut di lepas pantai Sumenep. Jenis pencemar logam berat yang ditimbulkan akibat aktivitas eksplorasi minyak dan gas antara lain timbal, merkuri, dan kadmium.

“Agar rumput laut tidak tercemar memang harus membedakan lokasi untuk budidaya rumput laut dan kegiatan lain yang berpotensi sebagai pencemar. Paling tidak, harus mempertimbangkan jarak bila memang lokasi dilakukan di wilayah yang sama seperti di Sumenep,” imbuh perempuan kelahiran 24 April 1995.

Menurut Aisyah, rumput laut merupakan komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tinggi. Rumput laut banyak dimanfaatkan untuk bahan makanan yang dikonsumsi.

“Itulah mengapa diperlukan penelitian terhadap tingkat pencemaran terhadap rumput laut mengingat laut di Indonesia banyak yang tercemar,” tutur Aisyah.

Ditanya soal kiat-kiatnya dalam belajar, Aisyah mengaku dirinya berusaha belajar dengan serius ketika perkuliahan berlangsung. Selebihnya, ia tinggal mengulang materi kuliah saat tiba masa-masa ujian semester. Usai diwisuda, perempuan setinggi 155 sentimeter ini rencananya akan melanjutkan studi sesuai bidang yang ditekuninya di Jepang. (*)

Penulis: Defrina Sukma S

Editor: Binti Q Masruroh, bes




IGAK Yulia Dewi Lulus Terbaik Pasca 13 Tahun Meninggalkan Kampus

UNAIR NEWS – Menjadi sarjana setelah merampungkan studi S-1 di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tahun 2001, tak membuat I Gusti Agung Komang Yulia Dewi, ciut hati untuk kembali melanjutkan studi. Setelah tak menggeluti dunia kampus 13 tahun, Yulia kembali menempuh studi Magister di fakultas yang sama. Bahkan, ia berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3.80.

“Saya lulus S-1 tahun 2001 tapi UNAIR belum punya program profesi. Nah, di tahun 2000 saya mendapatkan student program dari GE Money, jadi saya keasyikan kerja. Saya menunggu di Udayana (program profesi, -red) tapi belum buka. Akhirnya saya kembali ke UNAIR,” ujar Yulia.

Dalam rentan waktu yang cukup lama itu, Yulia menyibukkan diri dengan profesi yang ia senangi. Berbagai jabatan penting ia emban. Mulai Sales Manager PT General Electric Finance Indonesia Surabaya Branch (2000-2008), Manager Visa PT Bali Mode Indonesia Sanur (2009-2011), Business Development Manager PT Bali Mode Indonesia Sanur (2011-2012), serta Chief of Business Relation & Academic Support Sekolah HighScope Indonesia Bali (2012-2014).

Ia mengaku cukup mengalami kesulitan di awal perkuliahan saat kembali ke jagad perkuliahan. Ia butuh penyesuaian dari kondisi kerja yang telah berlangsung 14 tahun. “Ada kejadian yang tak terlupakan yaitu awal kuliah pada masa matrikulasi. Di akhir masa matrikulasi ada ujian. Nah, saya butuh tiga kali ujian agar bisa pas skor 65. Ujian pertama gagal. Besoknya ujian lagi, eh gagal lagi. Pas ujian ketiga, kesempatan terakhir, saya baru berhasil,” ucapnya sambil tertawa.

Selain itu, sempat ditolak di banyak hotel menjelang praktik profesi, merupakan ujian tersendiri baginya. “Saya mengajukan permohonan ke hampir sepuluh hotel, sampai akhirnya Hotel Grand Inna Surabaya mau menerima saya untuk kerja praktik. Mereka menolak dengan berbagai alasan, seperti ada kerahasiaan data karyawan, posisi magang sudah terisi mahasiswa lain, dsb,” katanya.

Namun akhirnya, segala usaha Yulia berbuah manis. Gelar baru telah ia dapatkan sebagai lulusan terbaik Magister Psikologi Profesi Universitas Airlangga. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Nuri Hermawan, bes