Inovasi Tanaman Yodium Antarkan UKM Penalaran Dapatkan Juara 3

UNAIR NEWS – Juara 3 didapatkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran, Universitas Airlangga, pada Lomba Karya Tulis Ilmiah  (LKTI) Temu Ilmiah UKM Penalaran dan Penelitian se-Jawa Timur (TIUPPS) ke-13. Pasalnya, hal itu adalah kemenangan kelima kali berturut-turut yang didapatkan oleh UKM Penalaran. Nisrina Mahfudhah Wibowo, salah satu pemenang menjelasksan bahwa tim mereka, semuanya berbeda program studi, bahkan fakultas.

“Saya sendiri mahasiswi S-1 Ilmu Gizi, FKM, kedua teman saya Amry Indah Sari S-1 Kimia dan  Siti Istikhomah S-1 Matemarika, mereka di FST,” jelas Nisrina sapaan akrabnya.

Keikutsertaan mereka, imbuhnya, bertujuan untuk meningkatkan budaya berkompetisi di bidang kepenulisan dan untuk melanjutkan amanah di tahun kemarin yang mewakili UKM Penalaran di TUPSS.  Kejelasan tujuan tersebut memunculkan ide-ide inovatif untuk dituliskan.

Ide tersebut membuahkan karya dengan judul ‘Analisis Kelayakan Investasi Usaha Budidaya Tanaman Yodium (Jatropha multifida L.) Menggunakan Media Polybag di Desa Putren Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk’. Ide tersebut muncul dengan mensinkronkan permasalahan yang ada dengan tema LKTI.

“Permasalahan itu diambil dari sharing tentang masalah yang ada di kampung masing-masing anggota. Kebetulan permasalahan yang paling rumit adalah di desa Putren, kampung halaman Siti Istikhomah,” jelas Nisrina.

Di Desa Putren, tuturnya, warga kebanyakan berprofesi sebagai Petani. Komoditas utama petani disana adalah hanya bawang merah. Melihat kurang bervariasinya komoditas petani Desa Putren, Nisrina dan tim berkeinginan mengembangkan dan membudidayakan tanaman lain yang bermanfaat secara ekonomi dan punya khasiat untuk kesehatan.

“Tanaman yang kami pilih adalah tanaman yodium. Tanaman langka ini bermanfaat untuk kesehatan dan memiliki harga jual yang sangat tinggi, tapi budidaya lumayan mudah. Tanaman yodium ini mampu tumbuh di tanah dengan cara stek. Dari situlah ide penggunaan polybag kami muncul,” tutur nisrina.

Ide itulah yang mengantarkan mereka ke tahap presentasi. Ketika nisrina ditanya mengenai tips triknya dalam berpresentasi, saran darinya adalah untuk menguasai materi yang akan disajikan. Keahlian dalam berpresentasi tersebut mereka dapatkan dari materi dari UKM Penalaran yang diikuti.

“Gugup pasti semua orang mengalaminya, yang terpenting penguasaan materi yang dipresentasikan sehingga dapat memudahkan menjawab pertanyaan dari juri dan audiens,”jelasnya.

Diakhir, nisrina menjelaskan bahwa ketertarikan dalam menulis berawal dari hobinya membaca. Pikirnya dengan membaca buku atau karya tulis ilmiah orang lain akan memotivasi Nisrina dalam membuat karya di masa depan.

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor : Nuri Hermawan




Musyawarah Wilayah 3 ISMKMI di Undip Memilih UNAIR Jadi Koordinator

UNAIR NEWS – Beberapa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga mengikuti Musyawarah Wilayah 3 Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) di Universitas Diponegoro, Semarang, Minggu (6/5).

BEM FKM UNAIR 2018 mendelegasikan 14 anggotanya untuk ikut dalam Musyawarah Wilayah 3. Sepuluh di antaranya berasal kampus utama UNAIR Surabaya, yaitu Neula Armyttha; Annisa Firdaus; Arira Celia; Andhini Aurelia; Ulfah; Saifullah Putra; Ahmad Luqmanul; Anugrah Visar; Salsabilla; dan Alifiah P. Larasati.

Sementara itu, empat lainnya berasal dari Himpunan Mahasiswa Kesehatan Mayarakat (B-PHA) PSDKU UNAIR di Banyuwangi. Yakni, Saiful Aziz Setiawan (ketua B-PHA 2018), Novie Erva Fauziyah (koordinator divisi Health Policy Critical B-PHA 2018), Nadiyah Rahmasari (staf divisi Health Policy Critical B-PHA 2018), dan Dinda Sekar Pramesti.

Saiful mengungkapkan bahwa agenda musyawarah wilayah tersebut merupakan serangkaian acara. Serangkaian itu meliputi seminar nasional, musyawarah wilayah, dan rapat kerja wilayah selama dua hari, Sabtu–Minggu (5–6/5).

Agenda seminar nasional dilaksanakan pada Sabtu (5/5) di Aula dr. Budioro Brotosaputro, MPH. Tepatnya di FKM Universitas Diponegoro, Semarang.

Seminar nasional sesi pertama itu bertema “Millenials Enforcement as the Pioneer of Nation Health Improvement” dengan pembicara Agung Dwi Laksono S.KM., M.Kes. Selanjutnya, seminar sesi dua berjudul “Training Teknik Fasilitasi” dengan pemateri Syamsul Huda, dosen Departemen Promosi Kesehatan FKM Universitas Diponegoro.

Musyawah wilayah dan rapat kerja wilayah dilaksanakan pada Minggu (6/5) di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jawa Tengah. Agenda hari kedua itu dimulai dengan pembahasan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) kepengurusan ISMKMI Wilayah 3 periode 2017–2018.

“Itu disampaikan Koordinator Wilayah 3 ISMKMI periode 2017–2018 Anggi Putri Aria Gita,” tutur Saiful.

“Kemudian berlanjut pada pemilihan koordinator Wilayah 3 ISMKMI periode 2018–2019,” imbuhnya.

Keputusan sidang memutuskan koordinator wilayah 3 ISMKMI periode 2018–2019 adalah Muhammad Affan Mahfudz (UNAIR). Lalu, dilanjutkan dengan Open Recruitment tahap wawancara Pengurus Wilayah 3 ISMKMI periode 2018–2019.

”Dan, ditutup dengan serah terima jabatan serta foto bersama,” katanya. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifai




Menuju Ibu Sehat dengan “KENAL IBU”

UNAIR NEWS – Program Studi Kesehatan Masyarakat PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi bekerjasama dengan Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala melaksanakan pelatihan untuk membangun kapasitas bidan dan kader kesehatan. Tujuan pelatihan ini adalah skrining ibu hamil dan menyusui dengan masalah depresi kardiomiopati peripartum dan memberi mereka dukungan yang diperlukan. Pelatihan berlangsung Sabtu, (12/5).

“Pelatihan imi merupakan adobsi dari pelatihan sebelumnya yang berhasil dilakukan di Banyuwangi selama empat hari,” tutur Desak Made Sintha salah satu dosen peneliti dari Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat (Kesmas)PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi.

Pelatihan yang berlangsung sebelumnya yakni terhitung sejak tanggal 9-12 April bertempat di Ruang Minak Jinggo, Kantor Pemda Kabupaten Banyuwangi, dan Ruang Pertemuan, Puskesmas Licin, Banyuwangi.

Perawatan antenatal dan setelahpersalinan di Indonesia selama ini hanya dalam bentuk perawatan fisik dan tidak termasuk perawatan kesehatan mental yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

“Dalam pelatihan itu dikembangkan modul pelatihan KENAL IBU, akronim dari Kesehatan Mental Ibu Hamil dan Menyusui. Isinya disesuaikan dengan bahasa yang berbeda di Banda Aceh dan Banyuwangi. Sehingga terdapat alat ukur dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Madura, Osing, dan Aceh,” ujar Sintha.

Pelatihan bidan dan kader kesehatan di Banda Aceh itu dilaksanakan selama empat hari, yaitu Rabu (9/5) sampai dengan Sabtu (12/5), bertempat di Gedung CMHS Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Pelatihan KENAL IBU tahap pertama ditujukan untuk para kader kesehatan, dilanjutkan dengan tahap kedua kepada para bidan di Banda Aceh. Sebanyak  7 bidan dan 38 kader di Banda Aceh berpartisipasi dalam pelatihan ini.

Selain kegiatan interaktif dengan mengikuti buku panduan KENAL IBU, materi pelatihan difasilitasi oleh beberapa ahli, yaitu psikolog Dr. Marty Mawarpury dan Maya Khairani, M.Psi dari Prodi Psikologi Universitas Syah Kuala serta dua fasilitator dari PSDKU UNAIR Banyuwangi.

Hampir semua peserta pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan.Hasil dari evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa peserta pelatihan merasakan manfaat besar dari pelatihan ini, khususnya karena sebagian besar dari mereka belum terlalu paham tentang kesehatan mental ibu hamil dan menyusui. Informasi lengkap baru mereka dapatkan melalui pelatihan ini.

Harapan dari para bidan dan kader kesehatan peserta pelatihan adalah agar pelatihan seperti ini dapat terus diberikan bukan hanya sekali. Selain itu, mereka juga berharap agar ke depan, materi pelatihan juga bisa melibatkan para suami atau anggota keluarga lainnya agar dapat berpartisipasi membantu mereka dalam menghadapi depresi peripartum pada ibu hamil dan menyusui.

“Kami berencana mensosialisasikan hasil pelatihan ini kepada semua pegawai puskesmas. Termasuk berbagi ilmu yang didapatkan selama pelatihan dengan perawat jiwa di puskesmas. Selain itu, kami akan menerapkan skrining yang telah kami pelajari di pelatihan ini pada ibu hamil dan menyusui di wilayah kerja kami,” ujar bidan Hera dan Eva yang mewakili para bidan dari Puskesma Kopelma Darussalam Banda Aceh.

Peserta pelatihan juga berharap suatu saat mereka mendapatkan kesempatan melakukan studi banding ke berbagai puskesmas di Banyuwangi yang telah lebih dulu menerapkan kegiatan skrining atau deteksi KENAL IBU.

Ketua tim projek pelatihan Susy K Sebayang, Ph.D menyampaikan harapannya atas terselenggaranya pelatihan.

“Besar harapan kami agar metode deteksi dan sistem rujukan yang diberikan saat pelatihan ini dapat diadopsi oleh pemerintah daerah secara berkelanjutan,” terang Susy.

Susy menambahkan bahwa kegiatan ini adalah pertama di Indonesia yang menunjukkan bahwa perawatan rutin sebelum dan sesudah melahirkan dapat memberikan dukungan untuk ibu hamil dan menyusui, tidak hanya untuk kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental.

Setelah pelatihan deteksi KENAL IBU di Banda Aceh untuk bidan dan kader di Banda Aceh, keseluruhan pelatihan yang telah dilaksanakan di dua kota ini, Banyuwangi dan Banda Aceh, nantinya akan ada  evaluasi. Tujuannya, untuk menilai seberapa baik bidan dan kader kesehatan menyerap pengetahuan baru ini dan menerapkannya dalam layanan perawatan rutin antenatal dan postnatal. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Binti Q. Masruroh




Tingkatkan Publikasi Jurnal dengan Hadirkan Profesor dari Malaysia

UNAIR NEWS – Fakultas Vokasi Universitas Airlangga mengadakan lokakarya dengan topik “How to Avoid Paper Rejection on Journals with High Impact Factor”. Lokakarya yang berlangsung di ruang Rapat Pimpinan 2, Rabu (9/5), itu dilaksanakan untuk meningkatkan produktivitas Fakultas Vokasi mengenai publikasi jurnal yang terindeks.

Jurnal terindeks merupakan sebuah jurnal yang diterbitkan oleh suatu lembaga penerbit tertentu. Jurnal yang terindeks betul-betul dapat dipastikan keberadaannya dan memiliki struktur kepengeloalaan yang jelas.

Dikutip dari Kompas 28 Februari 2017, Dirjen Dikti menggunakan indeks Scopus sebagai acuan jurnal internasional bereputasi. Dengan bantuan Scopus, para pembuat kebijakan, panitia penilai kepangkatan, serta pemberi insentif publikasi sangat terfasilitasi.

Lokakarya dihadiri oleh berbagai staf pengajar dari Departmen Kesehatan, Bisnis, dan Teknik. Kegiatan ini sengaja ditujukan untuk para dosen. Lokakarya ini diarahkan langsung oleh Prof Hamzah Bin Arof, Ph.D dari University of Malaya.

“Ya benar kami hadirkan langsung pengajar ahli dari University of Malaya. Sehingga para staf pengajar terbantu dalam pembuatan karya ilmiah,” ujar Prof. Retna Apsari, Wakil Dekan I Fakultas Vokasi.

Retna berharap, kedatangan Hamzah Bin Arof sebagai fasilitator dosen yang memandu tata cara menulis artikel ilmiah bisa membuahkan hasil. Terutama, publikasi jurnal internasional yang terindeks Scopus karena banyak yang mengakses jurnal ilmiah tersebut.

Diketahui, Hamzah merupakan pengajar Department of Electrical Engineering University of Malaya. Ia telah menerbitkan ratusan jurnal internasional dan sudah terindeks.

“Dalam lokakarya ini saya berharap ada 50 paper yang dipublikasikan para dosen di jurnal terindeks Scopus,” lanjut Retna.

Retna mengatakan, pada 17 Oktober nanti, 1st International Conference on Vocational Innovation and Applied Sciences (ICVIAS) 2018 juga mendatangkan Hamzah Bin Arof sebagai pembicara. Ia berharap, Fakultas Vokasi bisa menambah jumlah paper yang terindeks Scopus sebanyak 150.

“Harapan saya dengan adanya adjunct professor yang pertama di Fakultas Vokasi maka budaya meneliti dan menulis di fakultas akan tumbuh dan berkembang sejalan dengan cita-cita World Class University (WCU) UNAIR,” pungkas Retna. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




Melayani dengan Hati, Kunci Kekuatan Prof. Mieke Sang Srikandi DVI UNAIR

UNAIR NEWS – Dokter gigi seringkali diidentikkan dengan stereotip profesi medik yang “bermain” di wilayah clean, rapih, tertata, sophisticated, dan terkesan mahal. Di samping itu, hingga saat tulisan ini dibuat, dari sejumlah fakultas dan program studi kedokteran gigi yang tersebar di seluruh Indonesia, proporsi antara dokter gigi lulusan antara pria dan wanita masih didominasi oleh dokter gigi wanita. Sehingga pada literasi awam, seringkali muncul paradigma salah yang diungkapkan secara tidak langsung, stereotip tersebut dilekatkan kepada para dokter gigi wanita.

Prof., Dr. Mieke Sylvia Margaretha Amiatun Ruth, drg., MS., Sp.Ort(K), sang guru besar Odontologi Forensik (Forensic Dentistry) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga secara membanggakan membuktikan bahwa dokter gigi wanita Indonesia tidak seperti itu.

Prof. Mieke, panggilan akrabnya, adalah salah satu narasumber dan expert bidang forensik yang sudah banyak berkecimpung di bidang identifikasi jenazah korban bencana atau kasus kriminalitas bertahun-tahun lamanya.

Berkat kepiawaian, komitmen, dan rasa kemanusiaan tinggi yang ia miliki, banyak kasus dengan korban banyak yang membutuhkan analisis identifikasi forensik mendalam. Seperti kasus penerbangan jatuh, bencana alam, hingga kriminalitas teror seperti yang baru-baru ini melanda Kota Surabaya berhasil ia tangani dengan baik. Bahkan, lebih cepat dari yang sedianya diperkirakan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) gabungan.

Ditemui di sela-sela tugasnya dalam identifikasi korban dan pelaku bom gereja Kota Surabaya, Senin (14/5), Prof. Mieke menuturkan keprihatinannya sebagai warga Kota Surabaya.

“Saya pribadi merasa terkejut dan kecewa sebagai warga Surabaya saat mendengar ada peristiwa ini. Saya sudah sampai berpikir, ini pasti banyak korban tidak berdosa yang terkena imbas,” tuturnya dengan raut wajah sedih.

Profesor kedokteran gigi forensik  yang turut tercatat sebagai salah satu identifikator pada proses identifikasi jenasah korban Air Asia Q Z8501 Air Asia tahun 2015 lalu ini secara tegas menyampaikan, perasaan subjektif seorang manusia -khususnya dokter- tidak boleh sampai mengalahkan rasa kemanusiaan yang muncul saat ada bencana luar biasa. Sepertihalnya kasus bom di Kota Surabaya ini.

“Terus terang pada saat saya dengar ada korban berjatuhan, saya langsung mengkondisikan perasaan bahwa saya harus bantu negara dan para keluarga yang menunggu dengan cemas. Apakah ada anggota keluarga atau warga yang menjadi korban? Itu yang menguatkan saya,” papar Prof. Mieke.

Prof. Mieke yang tercatat sebagai salah satu anggota International Organization for Forensic Odonto-Stomatology (IOFOS) ini memiliki riwayat panjang dalam upayanya memasyarakatkan peranan pencatatan data ante-mortem (sebelum meninggal, Red). Upaya ini sebagai langkah partisipatif dan komitmennya membantu masyarakat.

Beberapa yang terkini seperti penyelenggaraan program pengabdian masyarakat di Kabupaten Probolinggo (2014) dan Kabupaten Pasuruan (2015) lalu dengan tema “Pelatihan Pengisian Personal Medical Record sebagai Upaya Pengumpulan Data Antemortem pada Aparat Desa dan Kader Kesehatan.

“Bayangkan jika semua warga memiliki catatan terkait kondisi gigi dan morfologi wajah dari keluarganya secara mandiri sejak dini, dituntun dan dipandu oleh dokter gigi setempat, maka bilamana kelak terjadi bencana yang tentunya tidak kita inginkan bersama, proses identifikasi keluarga akan lebih cepat dan mudah. Bukan karena tim DVI-nya saja, tapi partisipasi keluarga juga berperan,” ungkap Prof. Mieke.

Peristiwa bom di Kota Surabaya lalu menyisakan pesan kuat dari Prof. Mieke kepada para generasi muda dokter gigi di seluruh Indonesia.

“Peran dokter gigi itu luas. Salah satunya dalam membantu negara dan masyarakat di situasi yang tidak nyaman bagi semua orang, seperti tragedi ini (teror bom di Surabaya, Red). Entah yang kita identifikasi ini pelaku korban, rasakan di hati bahwa pada saat mereka masih hidup, pasti juga memiliki konflik batinnya masing-masing. Jangan bedakan antara korban atau pelaku pada saat kita bertugas,” pungkasnya. (*)

Penulis: Gilang Rasuna

Editor: Binti Q. Masruroh




Talkshow Beasiswa Luar Negeri oleh Mahasiswa Perhotelan Berjalan Sukses

UNAIR NEWS – Manajemen Perhotelan merupakan salah satu jurusan di Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga yang memiliki banyak tugas yang menantang. Salah satunya adalah mata kuliah MICE (Meeting, Invention, Convention, Exhibition) yang mengharuskan mahasiswa membuat sebuah event.

Kali ini, mahasiswa semester 2 D-3 Manajemen Perhotelan berhasil membuat sebuah acara talkshow dengan ditambahi pameran yang dilaksanakan Sabtu (12/5) lalu.

Acara yang diadakan di Hotel Grand Darmo Suite, Surabaya, mengambil tema “Reach Your Dream and Beyond”. Terdapat dua sesi dalam acara ini. Masing-masing sesi diisi oleh pemateri yang ahli dan pernah mendapatkan beasiswa di luar negeri.

Selain itu talkshow ini juga dihadiri banyak peserta yang terlihat antusias untuk mendapatkan beasiswa seperti yang didapatkan para pemateri. Banyak dari para peserta yang penasaran tentang beasiswa dan mengajukan beberapa pertanyaan.

Sesi pertama diisi oleh Ayu Febriyanti Puspitasari SE, M.M, MBA yang pernah mendapatkan beasiswa di Taiwan. Dalam sesi ini pemateri menjelaskan cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tips, trik dan hambatan yang mungkin muncul. Selain itu, Ayu mengajak para peserta untuk mengubah pola pikir mereka.

“Mulai dari sekarang kalian harus mengubah mindset kalian terlebih dahulu. Bahwa beasiswa bukan hanya untuk orang pintar, tapi memenuhi kualifikasi sesuai dengan yang diperlukan,” terang Ayu.

Ayu menambahkan, hal penting yang harus disiapkan setelah mendapatkan beasiswa adalah mental.

“Mental kalian yang harus kalian siapkan dahulu. Sebab, lingkungan, iklim, bahasa, dan makanan di luar negeri berbeda dengan di Indonesia. Maka dari itu mental adalah hal yang paling penting,” papar Ayu.

Sesi kedua talkshow diisi oleh ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Malaysia periode 2017/ 2018 Doni Ropawandi. Doni merupakan salah satu pemateri yang pernah mendapat banyak beasiswa. Salah satunya adalah beasiswa di Malaysia. Dalam sesi ini, Doni mengajarkan kepada peserta untuk tekun dalam mendapatkan beasiswa.

“Prinsip orang yang mendapatkan beasiswa adalah orang yang tekun dan bersungguh-sungguh. Tekun adalah gagal sekali, jangan putus asa, dan coba lagi,” ungkap Doni.

Selain memberikan tips, trik, dan cara mendapatkan beasiswa, kedua pemateri juga menceritakan kehidupan mereka dalam mendapatkan beasiswa, suka duka mereka berkuliah di luar negeri, dan keuntungan yang mereka dapat dari belajar di luar negeri.

Di sela-sela sesi, peserta yang hadir disuguhi dengan live music. Dengan adalah live music ini membuat para peserta terlihat semakin nyaman, senang, dan enjoy.

Tidak hanya talkshow saja yang mereka berikan, namun mereka juga tempat untuk pameran. Pameran tersebut berisi stan-stan yang menawarkan beasiswa luar negeri. Stan ini cukup membantu peserta yang benar-benar ingin mendapatkan beasiswa ke luar negeri. (*)

Penulis : Katelya Larasati A.

Editor: Binti Q. Masruroh




Mahasiswa FISIP UNAIR Terpilih Menjadi Ning Surabaya

UNAIR NEWS – menjadi Cak dan Ning mungkin menjadi impian bagi sebagian remaja yang ada di kota Surabaya. Program yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu telah menjadi salah satu ajang yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Cak dan Ning Surabaya merupakan sepasang sosok muda Surabaya yang akan mewakili Surabaya dalam pelestarian budaya dan mampu mengemban tugas sebagai duta wisata kota Surabaya. Selain itu, tujuan dari adanya pemilihan duta wisata yang juga ada di setiap daerah itu ialah menjadi pionir penyambutan tamu baik yang datang dari lokal maupun intrenasional.

Pemilihan Cak dan Ning yang baru saja digelar pada beberapa waktu lalu, menghantarkan Shafira Aliyah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNAIR ini menjadi Ning Surabaya tahun 2018.

Shafira mengatakan bahwa keinginannya mengikuti Cak dan Ning sudah ada sejak tahun lalu. Namun, dikarenakan saat itu dirinya baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), maka dirinya memilih fokus terlebih dahulu pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

“Sebenarnya saya ingin ikut Cak dan Ning dari tahun lalu, tetapi saat itu saya baru lulus SMA dan tanggalnya mendekati SBMPTN. Jadi saya memilih fokus pada SBMPTN terlebih dahulu. Saat mengikuti Cak dan Ning banyak hal yang saya pelajari. Seperti kedisiplinan, wawasan mengenai Surabaya, dan etika mengenai duta pariwisata, filososi Cak dan Ning serta bagaimana seorang pria memperlakukan wanita dan sebaliknya,” tutur Shafira.

Bertemu dengan orang-orang baru yang yang luar biasa rupanya menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi mahasiswa semester dua tersebut. Selama mengikuti proses pemilihan, para peserta diberi pembekalan melalui karantina selama 5 hari. Selama proses karantina, para calon Cak dan Ning yang sudah dipasangkan harus bersama selama karantina atau bahkan menuju suatu tempat. Hal tersebut menjadi sesuatu yang membekas pula dihati para peserta karena kebersaaman diantara mereka.

Shafira mengatakan bahwa untuk mengikuti pemilihan Cak dan Ning sebenarnya tidak begitu memerlukan waktu yang lama. Hanya saja setiap remaja diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan cara tetap menjadi diri sendiri dengan melakukan perubahan agar menjadi versi yang lebih baik.

Sebagai Ning Surabaya, maka Shafira memiliki tugas untuk mengenalkan dan memajukan pariwisata Kota Surabaya. Selain itu sebagai representatasi pemuda Surabaya, dirinya juga mengajak pemuda pemudi untuk turut menjaga lingkungan dan mengenalkan pariwisata Surabaya ke khalayak luas.

“Menurut saya 15 peserta itu sudah seperti keluarga. Kalau kali ini saya dapat juara itu adalah bonus karena memang ini adalah kompetisi. Tetapi sebenarnya menurut saya kita semua sudah menang dan menjadi representasi dari pemuda Surabaya,” imbuh alumnus SMA Negeri 2 tersebut.

Meski begitu, Shafira mengaku tidak menemukan kendala yang berarti saat mengikuti proses seleksi hingga pemilihan.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Nuri Hermawan




Mahasiswa UNAIR Terpilih Menjadi Wakil I Cak dan Ning Surabaya

UNAIR NEWS – Pemilihan Duta wisata daerah atau yang biasa disebut Cak dan Ning Surabaya  telah menobatkan dua mahasiswa Univeristas Airlangga sebagai Wakil I. Kedua mahasiswa tersebut  adalah Reno Albra (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) serta Paquita Maharani (Fakultas Kedokteran Gigi). Selain tu ada pula Shabrina Puspa (Fakultas Psikologi) sebagai Waki III dan Iqbal Firma Thermizi (Fakultas Ekonomi dan Bisinis) sebagai Cak Persahabatan.

Mengenai raihan prestasi itu, Reno Albra mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam ajang pemilihan duta wisata tersebut merupakan keinginan sang mama yang sejak lama belum diwujudkan olehnya. Hal itu, berbeda dengan Paquita yang sudah pernah mengikuti ajang cak dan ning sebelumnya, namun belum berhasil masuk ke babak grand final. Sehingga dirinya ingin mencoba kembali.

“Sebenernya ini adalah salah satu impian dari mama saya sejak saya semester 1. Tapi belum pernah saya wujudkan karena pada saat itu saya tidak mau mengikuti cak dan ning hanya ingin memperoleh pengalaman. Nah ketika saya sudah menemukan motivasi barulah saya mendaftarkan diri,” ujar Reno.

Lanjutnya, dalam mengikuti gelaran tersebut ia memiliki dua motivasi. Pertama, ia tidak ingin cak ning dipandang sebagai paguyupan yang eksklusif. Pasalnya, ia ingin cak ning sebagai organisasi yang inklusif dan menjadi bagian dari representasi pemuda Surabaya.

“Kedua saya juga berharap cak ning juga dapat berkolabprasi dengan berbagai komunitas untuk menanggapi berbagai persoalan sosial,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut Paquita, selama mengikuti masa karantina lima hari, para peserta diberi berbagai materi seperti kondisi Surabaya dewasa ini serta berbagai permasalahan yang sedang terjadi. Selain itu, imbuhnya, mereka juga diberi bekal mengenai kepercayaan mengenai rezeki yang tidak pernah tertukar, berusaha semaksimal mungkin pada suatu hal, dan bekerja bersama dengan orang-orang yang memiliki perbedaan latar belakang.

“Setelah menjadi wakil I sebenarnya tidak ada tugas yang spesifik. Karena yang sudah masuk final pasti akan masuk paguyupan. Kalau sudah masuk paguyupan nanti tugasnya dibagi untuk 15 peserta tersebut,” imbuh Paquita.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Nuri Hermawan




Bikin Inovasi Anti Penuaan, 4 Mahasiswa UNAIR Raih Medali di Malaysia

UNAIR NEWS – Empat mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga meraih special award dan medali perak dalam kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE) Competition di Kuala Lumpur, Malaysia, 9–12 Mei. Mereka berhasil meraih juara lantaran presentasi inovasi yang mereka buat, yaitu beauty spray dari ekstrak biji labu kuning untuk anti penuaan.

Prestasi itu diraih Rahmatul Habibah, Agustina Lia Fitriani, Asih arama Anindhia, dan Rizki Jian Utami.

“Kami presentasi dengan topik ‘Beauty spray of cucurbita moschata for anti aging’. Nah, di sana, kami mempresentasikan secara oral di depan dua juri dari negara lain tentang bagaimana inovasi kami. Bagaimana kami membuatnya, apa kelebihannya, bagaimana analisis SWOT-nya, bagaimana future research-nya, dan lain-lain,” ujar Lia, salah seorang anggota tim.

Atas presentasi tersebut, delegasi UNAIR itu mendapatkan special award dari World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) Taiwan, organisasi sosial nirlaba internasional bidang penemuan. Termasuk mendapatkan medali perak dari acara WYIE.

Lia menuturkan, ide awal munculnya inovasi tersebut adalah banyaknya orang pada era sekarang, khususnya perempuan, yang sibuk dengan pekerjaannya. Mereka tidak memiliki waktu untuk melakukan perawatan wajah.

“Kami berinovasi membuat sebuah skin care yang praktis. Bisa dibawa ke mana-mana. Dan, tentu, murah serta bahannya mudah didapat. Akhirnya kami terpikir untuk membuatnya dari biji labu kuning atau pumkin seeds. Kandungannya setara dengan biji bunga matahari yang kaya akan vitamin E, karatenoid, tekoferol antioksidan, dan anti aging essence,” jelasnya.

Bahan-bahan itu, lanjut Ika, dapat membantu meregenerasi kulit mati sehingga sangat baik untuk anti aging.

Para peserta berasal dari berbagai negara, antara lain, Arab Saudi, Taiwan, Thailand, Korea, Malaysia, Macau, dan Indonesia. Mereka merupakan siswa SMP-SMA, mahasiswa, dosen, dan peneliti. Sementara itu, dari Indonesia, ada 70 tim yang berangkat. Salah satunya berasal dari FKp UNAIR.

Sebelum berangkat mengikuti kompetisi di Kuala Lumpur, setiap peserta harus mengikuti tahap seleksi. Seleksi abstrak adalah yang paling awal. ”Tim kami membuat sebuah inovasi kecantikan yang lagi tren, yaitu beauty spray dari biji labu kuning untuk anti aging (penuaan, Red),” tambahnya.

Dari kompetisi tersebut, Lia mengaku mendapat pengalaman yang berlimpah. Pertama, dia bisa membawa nama UNAIR, khususnya FKp di kancah internasional melalui sebuah inovasi penelitian. Kedua, kemampuan berbahasa Inggris Lia semakin terasah.

“Selain itu, kami bisa mengenal banyak orang. Khususnya investor dari berbagai negara. Kami juga berkesempatan melihat budaya negara lain,” ungkap Lia. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria Rifai

 




Ekonomi Islam Raih Juara Berturut-turut dalam Temilnas

UNAIR NEWS – Delegasi mahasiswa ekonomi Islam Universitas Airlangga tidak pernah letih membawa prestasi di tingkat nasional. Salah satu yang menjadi langganan adalah olimpiade temu ilmiah nasional (Temilnas) yang diadakan oleh FOSSEI (Forum Silahturahmi Studi Ekonomi Islam).

Tahun ini, melalui Temilnas yang diadakan di Universitas Islam Negeri Sumatra Utama, Medan, delegasi Ekonomi Islam UNAIR meraih Juara 1 dan Best Presentation. Juara 1 diraih oleh tim cabang olimpiade dengan anggota Muhammad Indra Maulana, Irma Faikhotul Hikmah, dan Salma Fioren Salsabella. Sementara Best Presentation diraih oleh cabang paper dengan anggota Yuliandi Fikri, Fready Wijaya, dan Irma Yanti.

Alhamdulillah, tim olimpiade Universitas Airlangga mendapatkan Juara 1 setelah sekian lama berjuang. Dan tim paper mendapatkan juara Best Presentation. Derai tangisan dari delegasi UNAIR meningkatkan semangat,” ujar Salma Fioren Salsabella, salah satu anggota tim olimpiade yang juga pernah meraih juara 1 SESO (Sharia Economic Smart Olympiad) di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2017 dan juara 3 temu ilmiah regional (Temilreg) Jatim tahun 2018.

Sebelum meraih juara, delegasi olimpiade berhasil mengalahkan tim dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia, Universitas Hasanuddin, Universitas Padjadjaran, Universitas Semarang, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Gunadarma.

Kompetisi yang diselenggarakan 25 – 29 Maret itu diikuti oleh seluruh mahasiswa perguruan tinggi Indonesia, khususnya yang mengambil studi ekonomi Islam.

Untuk mempersiapkan perlombaan, Himpunan Mhasiswa Ekonomi Islam telah melakukan pendelegasian sejak 1 bulan sebelum keberangkatan.

Dalam cabang olimpiade, ada dua seleksin dalam lomba. Pertama, seleksi final dengan mengerjakan soal pilihan ganda. Kedua, seleksi tahap akhir berupa studi kasus dengan esai populer Al-Quran. (*)

Penulis: Rollista Dwi Oktavia

Editor: Binti Q. Masruroh