Daya Saing Indonesia Meningkat Jadi Tujuan Kementerian PUPR

UNAIR NEWS – Jalan menjadi salah satu infrastruktur yang diprioritaskan untuk memperlancar jalur distribusi di Pulau Jawa. Gencarnya pembangunan infrastruktur itu menaikan peringkat daya saing Indonesia ke posisi ke-36. Hal tersebut menunjukan Indonesia memiliki daya saing yang bagus dalam urusan kompetisi global.

”Kementerian PUPR terus mendorong pembangunan jalon tol, MRT, dan kereta cepat Jakarta–Surabaya yang menjadi perhatian utama,” ucap Sekjen PUPR Prof. (R). Dr. Ir. Anita Firmanti Eko Susetyowati, MT., dalam acara PUPR Goes To Campus di Airlangga Convention Center, Rabu (15/11).

”Untuk upaya mendukung ketahanan pangan dan rehabilitas irigasi, perbaikan kawasan kumuh yang mencapai 30 ribu hektare turut dilakukan. Ini upaya PUPR dalam memeratakan pembangunan di Indonesia,” terangnya.

Langkah semacam ini, menurut Anita, merupakan upaya kementerian PUPR dalam meningkatkan daya saing Indonesia. Dalam acara Kementerian Goes to Campus bertema ”Mengambil Manfaat Pembangunan Infrastruktur PUPR di Pulau Jawa”, aspek-aspek yang memengaruhi sasaran infrastruktur turut disampaikan. Salah satunya, demografi.

Perlu diketahui, sebanyak 70 persen penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa. Jadi, lanjut dia, ditambah angka urbanisasinya yang tinggi, di Pulau Jawa, kami memfasilitasi itu untuk mendapat hasil yang optimal dalam pembangunan infrastruktur. Dukungan infrastruktur sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

”Kelancaran jalur distribusi akan meningkatkan ekonomi rakyat. Bila ekonomi meningkat, rakyat ikut sejahtera,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Junaidi Khotib, S.Si., Apt., M.Kes., Ph.D., menyatakan bahwa peran akademisi adalah menyiapkan sumber daya agar pengembangan infrastruktur itu bisa didukung tenaga-tenaga yang handal. Perguruan tinggi berperan sebagai penjembatan antara pemerintah dan masyarakat. Hal yang timbul dari dampak pembangunan tersebut bisa diantisipasi pemerintah dengan baik. Termasuk diterima masyarakat.

Pembangunan dan pengembangan infrastruktur bisa berjalan dengan baik serta masyarakat bisa mengoptimalkan hasilnya.
Di sisi lain, UNAIR juga sudah tergabung dalam university network for infrastructure development. Jadi, UNAIR mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia.

”Mulai membangun infrastruktur konektivitas dari satu tempat ke tempat lainnya seperti jalan tol hingga ditujukan untuk ketahanan pangan. Misalnya, pembangunan agrobisnis. Kami terlibat di situ,” pungkasnya.

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Feri Fenoria




Mahasiswa UNAIR Beri Pelatihan Tanggap Bencana di Mojokerto

UNAIR NEWS – Fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia, bencana seperti banjir, kekeringan, serta longsor, sering dianggap sebagai gejala alam dan takdir. Padahal, fenomena itu lebih sering terjadi karena manusialah yang salah mengurus hutan serta aset alam.

Merespons hal itu, Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM KM Universitas Airlangga mengadakan pelatihan tanggap bencana yang bekerja sama dengan PMI, pemadam kebakaran (damkar), dan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Pelatihan tersebut dikemas dalam sebuah Festival Desa di Desa Sajen, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (11/11).

Festival Desa merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat (pengmas) oleh mahasiswa. Ketua BEM KM UNAIR Anang Fajrul menyatakan, kampus, terutama mahasiswa, harus ikut ambil bagian dan bersinergi dengan masyarakat guna meningkatkan perekonomian serta taraf hidup mereka di desa. Karena itu, kegiatan pengmas tersebut diadakan.

”Pengmas ini merupakan salah satu upaya kami sebagai mahasiswa dan civitas kampus untuk bisa memberikan karya terbaik kepada masyarakat. Tentu mahasiswa wajib ikut andil dalam membangun dan mengembangkan potensi desa,” ujar mahasiswa ilmu politik itu.

Lokasi pengmas dipilih dengan pertimbangan, Desa Sajen nanti dapat menjadi contoh bagi perkembangan desa-desa yang lain. “Lokasi di Desa Sajen dipilih karena kami melihat potensi, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Termasuk budaya di daerah tersebut bisa kita jadikan awal pengembangan dan contoh bagi daerah-daerah lain,” ujar Anang.

Dalam pengmas yang terselenggara selama dua hari tersebut, kegiatan yang dilakukan bukan hanya pelatihan tanggap bencana. Kegiatan lainnya, antara lain, penggalian potensi desa, gerakan bersih desa, pasar murah, pentas seni, pameran potensi desa, dan senam bersama.

Tak kurang dari 80 partisipan dari mahasiswa mengikuti acara itu. Mereka terdiri atas anggota BEM dan volunteer. Selain mahasiswa UNAIR, BEM KM melibatkan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur dan siswa SMA Negeri 1 Gondang, Mojokerto.

Dalam pengmas tersebut, masyarakat terlihat sangat antusias dan mengapresiasi acara mahasiswa UNAIR itu. ”Ini menunjukkan adanya sinergitas antara mahasiswa dan masyarakat, kampus, serta desa,” ujar salah seorang warga. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria




UNAIR Dorong Mahasiswa untuk Riset di Luar Negeri

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga merupakan perguruan tinggi negeri yang tengah mencanangkan program world class university. Karena itu, seluruh aspek di dalamnya dikerahkan untuk mewujudkan program tersebut. Tak terkecuali sumber daya manusia (SDM) dan research.

Pada September 2017, Program Studi Magister Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga mengirimkan mahasiswanya mengikuti program Student Exchange: Research Internship Universitas Airlangga-Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Mereka adalah Miftakhul Jannatin dan Atina Khoirun Nisa, mahasiswa semester IV yang menempuh tesis.

Acara tersebut merupakan kegiatan penunjang untuk penelitian tugas akhir (tesis) mereka. Dengan mengangkat topik sintesis smart material graphene oxide-magnetite dari biomassa untuk degradasi antibiotik kloramfenikol, tentu instrumen-instrumen yang canggih, khususnya untuk keperluan karakterisasi, dibutuhkan.

Kegiatan itu berlangsung pada 10 September–26 Oktober 2017 setelah mengalami perubahan yang semula dijadwalkan berakhir pada 9 Oktober 2017. Namun, supervisor host university Prof. Wan Aini Wan Ibrahim mengundang salah seorang delegasi untuk mengikuti international conference, yaitu Malaysia Separation Science Conference 2017 (MySSC 2017).

”Sebenarnya kerja sama UNAIR dan UTM terjalin lama, sejak 2009. Yakni, dibuktikan dengan MoU yang ditandatangani kedua pihak. Jadi, adanya MoU tersebut sangat membantu mahasiswa dalam kegiatan outbound, apalagi untuk keperluan riset,” ungkap Miftakhul Jannatin.

Selama lebih dari sebulan, mahasiswa delegasi melakukan riset berupa proses sintesis dan karakterisasi material. Mahasiswa bebas menggunakan alat serta instrumen di jabatan (Departemen) Kimia UTM.

”Tentu menjadi pengalaman dan ilmu yang luar biasa. Sebab, berbagai instrumen yang belum dipahami bisa kami gunakan dan manfaatkan,” tuturnya.

Prof. Wan Aini berharap, adanya program tersebut dapat memperkuat hubungan baik antara kedua universitas. Terlebih di sektor riset. Jadi, publikasi-publikasi ilmiah berbasis kolaborasi dapat terlahir. Tentu harapan ini in line dengan target UNAIR dalam mewujudkan world class university.

Penulis: Tim Humas FST UNAIR

Editor: Feri Fenoria




Rektor Kesepuluh: UNAIR Harus Menyesuaikan Perkembangan Zaman

UNAIR NEWS – Memasuki usia ke-63 tahun, berbagai kalangan memiliki masukan sekaligus harapan untuk Universitas Airlangga, tak terkecuali rektor kesepuluh yang menjabat periode 1997-2001. Ialah Prof. H. Soedarto, dr., DTM&H., Ph.D., disela menghadiri sidang Dies Natalis UNAIR, Jumat (10/11), pria kelahiran tahun 1943 ini mengungkapkan doa dan harapannya untuk kemajuan UNAIR.

Prof. Darto, sapaan akrabnya, mengakui banyak perubahan yang terjadi selepas dirinya tidak lagi menjabat sebagai rektor hingga kini. Baik pengembangan keilmuan dengan bertambahnya fakultas, maupun perkembangan pola pikir dosen dan mahasiswa.

“Kemajuannya pesat sekali dibanding periode 1997-2001, apalagi dalam level internasional. Saya kira itu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Para mahasiswa juga memiliki idealisme yang tinggi sekali, terbukti dengan beragam prestasi yang diraih,” ujar Prof Darto.

Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAIR ini juga mengatakan, salah satu yang harus terus diperbaruhi oleh UNAIR adalah pengembangan kurikulum. Hal itu mengingat keilmuan yang terus berkembang.

“Ilmu itu selalu maju terus, kurikulum harus selalu menyesuaikan dengan eranya, bahkan setelah lima tahun harus mulai diperbaruhi dan ditingkatkan,” ujarnya.

Meski demikian, upaya-upaya internasional harus terus ditingkatkan. Mengingat, persaingan SDM di Indonesia bukan hanya dalam lingkup nasional, namun sudah merambah ke tingkat internasional.

Professor yang pernah menjabat Pembantu Rektor I UNAIR tahun 1993-1997 ini berharap, UNAIR diharap dapat mengembangkan lokasi kampus yang dimiliki. Artinya, pembelajaran bukan hanya dilakukan di Surabaya, namun juga merambah kota-kota lain yang potensial untuk dikembangkan.

Di usia UNAIR yang ke-63 tahun, Prof. Darto berharap UNAIR semakin menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Baik perkembangan zaman di level nasional maupun internasional.

“Harapan saya, yang penting bagaimana kita menyesuaikan diri dengan perkembangan nasional maupun internasioanal. Jadi kampus ini menjadi area dimana para ilmuan bisa berkembang dengan bebas dan baik,” pungkasnya. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan




Gading Ekapuja, Staf FKp yang Ikuti Academic Fellowship di Amerika

UNAIR NEWS – Gading Ekapuja Aurizki, S.Kep., Ns., patut berbangga. Sebab, dia mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Amerika Serikat untuk mengikuti Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship di University of Massachusetts (UMass), Amherst.

Gading yang merupakan staf di Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, bersama dua puluh pemuda dari delapan negara di Asia Tenggara, mengikuti kuliah bertema ”Civic Engagement” itu selama lima pekan. Mulai 2 September hingga 8 Oktober 2017.

Bisa lolos dalam acara bergengsi tersebut tidaklah mudah. Gading mengakui bahwa seleksi program yang diinisasi Presiden Barack Obama itu sangat ketat dan kompetitif. Seleksi pemberkasan dan wawancaranya dilakukan Kedutaan Amerika Serikat di Indonesia beserta konsulat jendralnya.

”Sekitar seribu pemuda dari seluruh Indonesia, berusia 18–25 tahun, mendaftar dan hanya dua puluh lima orang yang terpilih,” tuturnya. ”Alhamdulillah, ini semua tak terlepas dari dukungan rekan-rekan di fakultas keperawatan,” imbuhnya.

Selama program, mantan wakil ketua BEM KM UNAIR 2014 tersebut diajak melihat langsung bagaimana masyarakat Amerika menyelesaikan berbagai permasalahan. Gading juga menjelaskan bahwa kuliah yang diikutinya bersama puluhan perwakilan dari negara-negara ASEAN berkutat seputar pemberdayaan masyarakat, kepemimpinan, kewarganegaraan, kebudayaaa, lingkungan, dan hak-hak sipil.

”Jadi, tujuan dari acara ini sebagai bentuk kerja sama USA dengan ASEAN. Alumni kegiatan itu nanti diharapkan dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah di negaranya masing-masing,” jelasnya.

Seusai mengikuti program, Gading mengungkapkan bahwa banyak hal yang bisa diterapkan di kampus. Metode pembelajaran yang baik, misalnya. Menurut dia, diskusi di kelas selama mengikuti program itu benar-benar berjalan, aktif.

”Di sana, dosen tidak hanya satu arah. Jadi, ada timbal balik dengan mahasiswa. Kalau di sini, sering kali kita terlalu bergantung kepada dosen,” terang Gading.

Pada akhir, dia mengungkapkan bahwa untuk membangun kemajuan dan menyelesaikan masalah bangsa, perubahan pola pikir menjadi hal yang mendasar yang ingin Gading terapkan. Dia juga menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal yang banyak untuk menjadi bangsa yang besar.

”Kita ini punya warisan budaya yang banyak, bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan Amerika. Hanya, kita harus tahu cara membangun Indonesia dari budaya yang kita miliki ini,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Pentas Prabu Airlangga Peringati Dies Natalis UNAIR Ke-63

UNAIR NEWS – Pertunjukkan wayang orang sebagai rangkaian penutup kegiatan Dies Natalis Universitas Airlangga (UNAIR) ke-63 digelar di Balai Pemuda, pada Sabtu malam (11/11). Seni peran yang ditampilkan kali ini mengangkat tema Prabu Airlangga. Tema tersebut diambil untuk lebih mengenalkan generasi millienial akan budaya Indonesia, dalam hal ini sejarah Prabu Airlangga.

Berikut foto-foto yang didokumentasikan oleh Helmy Rafsanjani.




UNAIR Banyuwangi Sukses Gelar AIROC, Arena Mengasah Bakat dan Minat

UNAIR NEWS – Airlangga Olympic Challenge (AIROC), pekan olahraga terpopuler antar program studi di Universitas Airlangga, dilaksanakan di PSDKU Universitas Airlangga Banyuwangi, hari Minggu (12/11) kemarin.

Kegiatan ini melibatkan seluruh mahasiswa dan civitas akademika di UNAIR Banyuwangi. Tidak tanggung-tanggung, kegiatan ini berlangsung selama dua bulan berturut-turut. Tahun ini merupakan event ketiga pelaksanaan AIROC, dengan serangkaian acara antara lain meliputi pertandingan basket (putra dan putri), futsal (putra dan putri), badminton, voli (putra dan putri), tenis meja, lomba senam kreasi, lomba  game data, dan masih banyak lagi yang dikompetisikan.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kementerian Kesenian dan Olahraga Keluarga Mahasiswa (KM) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi. Serangkain acara itu dimulai sejak Oktober lalu hingga puncak penutupannya pada Minggu, 12 November 2017 kemarin.

Meriahnya kegiatan ini juga didukung oleh semangat para supporter antar-angkatan dan program studi yang ada. Apalagi, kekompakan dan yel-yel juga masuk dalam kriteria penilaian yang dilombakan.

Bahkan tak hanya mahasiswa, dosen dan staf akademik pun turut mendukung dan memberikan semangat pada para pemain. Acara lomba diadakan setiap hari Kamis dan Sabtu, pada malam hari.

banyuwangi
PADA sisi yang lain, tim dari prodi Akuntansi tidak mau ketinggalan dalam memeriahkan AIROC (Airlangga Olympic Challenge) 2017. (Foto: Istimewa)

Dihubungi terpisah oleh unair.news, A. Agung Gde Satia Utama, SE.,M.Si.,Ak., Sekretaris Koordinator PSDKU UNAIR di Banyuwangi, kegiatan ini sangat bagus untuk mengembangkan bakat softskill mahasiswa. Jadi tidak hanya yang di Surabaya, maka mahasiswa disini pun diasah agar tidak kalah bersaing dalam kemampuan softskill-nya.

”Bagi yang menyukai seni tradisional, di Banyuwangi juga sudah ada karawitan. Bagi yang suka olahraga kami juga siapkan melaui komunitas minat bakat, jadi event AIROC ini sebagai salah satu penyalurannya,” tambah Agung Gde Satia Utama. (*)

Penulis : Siti Mufaida

Editor : Bambang Bes




’Basic Training of Public Health’, Kaderisasi Hima Kesmas UNAIR Banyuwangi

UNAIR NEWS – Kaderisasi mahasiswa terus dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa (Hima) S-1 Kesehatan Masyarakat (B-PHA) Universitas Airlangga PSDKU (Pusat Studi Diluar Kampus Utama) Banyuwangi, dengan mengadakan Basic Training of Public Health (BToPH), Sabtu sepekan lalu.

Menurut ketua pelaksana BtoPH, Rochmad Ardiansyah P, Senin (13/11) kemarin, kegiatan BToPH ini merupakan bentuk aktualisasi pengenalan program studi kesehatan masyarakat (Kesmas) kepada mahasiswa baru (maba). Materi yang dikenalkan terutama mengenai aspek etika, dasar ilmu kesehatan masyarakat, peluang kerja, serta penerapan ilmu kesehatan itu sendiri.

Tujuannya agar mahasiswa semester awal dapat mengenal lebih mendalam program studi yang telah dipilihnya. Saat ini mahasiswa prodi S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat PSDKU Universitas Airlangga Banyuwangi sudah sampai pada angkatan ke-4, dengan total  sekitar 200 mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

”Kegiatan pengkaderan dengan BToPH ini dilaksanakan selama satu semester, namun yang do action dilaksanakan sekitar 1,5 bulan. Puncak do action-nya dilaksanakan pada 9-10 September lalu yang berlokasi di Taman Wisata Osing di Banyuwangi.

”Tidak hanya mahasiswa, dalam proses pengkaderan ini bagi mahasiswa baru juga melibatkan seluruh dosen prodi Kesmas di Banyuwangi. Tujuannya agar maba tidak lagi canggung dengan dosen pengajarnya yang ada, sehingga dapat mengenal bagaimana system pembelajaran selanjutnya,” lanjut Ardin.

kaderisasi
PESERTA kaderisasi Prodi S1 Kesehatan Masyarakat UNAIR Banyuwangi, melakukan kegiatan. (Foto: dokumentasi panitia).

Rangkaian kegiatan BToPH tersebut terdiri dari pengenalan program studi Kesmas, pengenalan tujuh departemen yang ada, penjelasan lebih mendalam mengenai delapan peminatan, pembelajaran mengenai etika dasar, peluang kerja mahasiswa kesmas, pengelanan ISMKMI (Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia) dan IAKMI (Ikatan Alumni Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia), kajian keagamaan, pengakraban antar-maba dan senior, pelaksanaan event angkatan, magang dan masih banyak lainnya.

Dinilai oleh Nurmakkatul, seorang mahasiswa baru angkatan 2017, kegiatan ini cukup unik, karena dengan cara unik pula ia mengaku bisa mengenal prodi yang dipilih melalui kegiatan ini.

”Saya kagum dengan penyajian acara BToPH, karena dengan acara ini saya lebih mengenal bagaimana menjadi seorang sarjana kesehatan masyarakat itu nantinya, lebih akrab dengan teman, dan tahu bagaimana gambaran nanti setelah lulus,” tutur Nurmakkatul. (*)

Penulis : Siti Mufaida

Editor : Bambang Bes




Prof. Sunarto Reksoprawiro Sumbang Buku Atas Nama Bapak Ibu

NEWS UNAIR – Berbagi ilmu dan buku adalah cara Prof. Sunarto Reksoprawiro, dr., FINACS., lakukan agar ilmu yang dirinya ajarkan kepada anak didiknya senantiasa melekat dalam ingatan. Guru Besar Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Divisi Bedah Kepala Leher RSUD Dr. Soetomo-FK UNAIR itu membagikan ratusan buku panduan diagnosis kasus bedah kepala leher kepada puluhan mahasiswanya. Kegiatan bagi-bagi handbook tersebut dijalaninya sejak beberapa bulan terakhir hingga saat ini.

Berjudul Bedah Kepala dan Leher Diagnostik Fisik, buku setebal 94 halaman itu berisi gambar-gambar penderita bedah kepala leher dengan berbagai diagnosis klinis. Termasuk, di dalamnya, terdapat penjelasan dari kelainan yang tampak.

Di buku tersebut, ada puluhan kasus umum bedah kepala leher yang sering ditangani di RSUD Dr. Soetomo. Misalnya, penyakit tiroid, cidera tulang wajah dan belakang, kelainan bawaan pada anak, infeksi, serta neoplasma.

Diagnosis klinis merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam penanganan pasien. Salah mendiagnosis berdampak pada proses terapi dan pengobatannya. Itulah sebabnya Sunarto menganggap penting bahwa para calon dokter itu musti belajar menguasai cara mendiagnosis secara tepat dan benar. Salah satunya dengan mempelajari kondisi fisik kelainan yang dialami penderita.

”Menegakkan diagnosis akhir suatu penyakit umumnya diawali dengan menentukan diagnosis klinisnya. Jika hanya mengandalkan hasil pemeriksaan penunjang tanpa mengetahui diagnosis klinis yang benar, ini akan memengaruhi tahap terapi,” ungkapnya.

Di dalam buku itu, tersaji secara jelas gambar-gambar pasien Dr. Soetomo disertai dengan penjelasannya. Jadi, mahasiswa bisa belajar mendiagnosis.

”Salah satu kompetensi yang harus dimiliki dokter umum adalah kemampuan mendiagnosis. jika langkahnya tepat, proses merujuk ke dokter spesialis juga akan tepat karena sesuai dengan penyakit yang diderita,” tuturnya.

Beberapa penyakit bedah kepala leher umumnya berada di lokasi tertentu. Dengan mengetahui lokasi serta konsistensi dari benjolannya melalui pemeriksaan, membuat diagnosis klinis akan mudah.

Pria asal Bojonegoro tersebut mengungkapkan, di antara jumlah kasus bedah kepala leher di RSUD Dr. Soetomo, yang paling banyak adalah penyakit tiroid. Sementara kedua adalah patah tulang wajah dan belakang. Menyusul kelainan bawaan, infeksi, hingga kanker rongga mulut.

Buku yang dicetak full colour itu diberikan kepada mahasiswa dokter muda yang stase di Divisi Bedah Kepala Leher RSUD Dr. Soetomo-FK UNAIR. Ketika memasuki tahap pembelajaran menggunakan metode Problem Based Learning (PBL), secara berkelompok, mahasiswa mendiskusikan satu kasus yang diberikan dosennya.

”Di divisi bedah kepala leher, ada banyak kasus yang harus dipelajari. Karena itu, saya membekali mereka dengan buku ini supaya punya pegangan. Baik yang masih menempuh pendidikan maupun internship sehingga bisa menjadi referensi bagi yang sudah lulus,” jelasnya.

Yang menarik, buku tersebut tidak sekadar kenang-kenangan untuk mahasiswanya. Sunarto berniat membagikan buku itu untuk membahagiakan orang tuanya. ”Semoga buku-buku ini menjadi amal jariah untuk orang tua saya,” ucap pehobi traveling tersebut.

Dia berharap kehadiran buku itu dapat memudahkan para mahasiswa kedokteran dan peserta didik dokter spesialis bedah. Terutama dalam belajar menegakkan diagnosis klinis penderita kelainan bedah kepala leher secara benar dan tepat.

”Semoga motivasi belajar mahasiswa terus meningkat. Sebab, takutnya retensi daya ingat mereka akan berkurang. Dengan buku ini, setiap waktu bisa dibaca-baca lagi sehingga retensi ingatan mereka menjadi lebih kuat,” pungkasnya.

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Feri Fenoria




Airlangga Career Workshop, Persiapkan Ksatria Airlangga untuk Siap Berkarya

UNAIR NEWS – Kementerian Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) BEM UNAIR rupanya begitu optimis dalam melakukan kaderisasi mahasiswa. Pasalnya, setelah sukses dengan program kerja AMERTA 2017, kali ini, Kementerian PSDM BEM UNAIR kembali megadakan program kerja lanjutan yakni Airlangga Career Workshop (ACW). Tidak kurang dari seratus sepuluh mahasiswa baik semester awal hingga semester akhir terlihat sangat antusias ketika mengikuti acara itu.

“Pada dasarnya kami mulai menyadari bahwa kaderisisasi di UNAIR awalnya hanya sampai AMERTA. Tidak ada lanjutannya. Di Tahun ini, kami dari PSDM berusaha untuk membuat proses kaderisasi sampai tingkat akhir sebelum mereka lulus,” ungkap Muhammad Halim selaku menteri PSDM.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut (11-12/11), banyak sekali hal-hal yang didapatkan oleh peserta. Di hari pertama, para peserta diberi pelatihan terkait pembuatan curriculum vitae (CV), cara mengetahui passion, melakukan branding, dan sukses berkarir dalam pemerintahan.

Untuk hal itu, berbagai pemateri pun didatangkan. Hadir sebagai pemateri dalam acara tersebut seperti Geo Fany Suherawan (Head of Business Development dan Marketing PT Qareer Harapan Asia), Rochmad Agung Widodo (Senior Counsel in Chevron), Lastiko Endi Rahmantyo (Koordinator Tracer Study dan Koordinator Pemberdayaan Alumni PPPK UNAIR, dan Farah Andita Ramadhani (PNS Bagian Kerja Sama Luar Negeri Pemkot Surabaya).

Setelah dibekali pelatihan pada hari pertama. Keesokan harinya para peserta disuguhkan seminar dengan tema Preparing The Future yang disampaikan oleh tiga narasumber diantaranya adalah Muhammad Najikh (Fouder PT Kelola Mina Laut), Bagus Budi Raharjo (Direktur M-Brother’s Indonesia Group) dan Tri Siwi Agustina (Koordinator Kewirausahaan PPPK UNAIR).

“Harapan kami selaku panitia agar para peserta nantinya sudah siap terjun kedalam dunia pekerjaan. Karena disini kami telah memberikan pelatihan terkait cv maupun interview. Selain itu kami juga berharap agar ketika mereka sukses, mereka tidak melupakan almamater karena sedikit atau banyak peran almamater juga tidak dapat dikesampingkan,” imbuh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi tersebut.

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan