KETUA Asrama Mahasiswa UNAIR Drs. R. Arif Wibowo, M.si., saat menilai masakan hasil lomba memasak para penghuni Asrama Putri Universitas Airlangga pada Minggu (17/2/2019). (Foto: Istimewa)

Milad Ke-16, Asrama UNAIR Perkuat Keguyuban dengan Sejumlah Lomba

UNAIR NEWS – Asrama mahasiswa Universitas Airlangga mengadakan lomba memasak dan pertandingan futsal untuk para penghuninya. Terutama dalam rangka acara peringatan Milad-nya yang ke-16. Digelar pada Minggu (17/2/2019), kegiatan lomba memasak itu ditujukan bagi penghuni asrama putri, sedangkan lomba futsal untuk penghuni asrama putra.

Lomba memasak di dapur asrama putri itu dibagi menjadi enam kelompok. Tepatnya disesuaikan dengan blok lantai kamar para penghuni. Lomba tersebut berlangsung selama 90 menit.

Sementara itu, lomba futsal diadakan di GOR futsal Kampus C UNAIR. Semua pemenang lomba akan diumumkan pada malamnya, yakni saat penutupan sekaligus tasyakuran bersama.

”Kami berharap kegiatan itu dapat mempererat silaturahmi, saling kenal satu sama lain dan sharing ilmu pengetahuan yang bermanfaat,” ujar Ketua Asrama Mahasiswa UNAIR Drs. R. Arif Wibowo, M.si., dalam sambutannya.

Panitia dari kegiatan tahunan tersebut, lanjut Arif, adalah koordinator penghuni asrama. Mereka tidak lain merupakan mahasiswa yang tinggal di asrama. Mereka menyiapkan dorprize berupa hadiah-hadiah untuk menarik antusiasme serta semakin memeriahkan acara milad tersebut.

”Selain itu, pada puncak acara tersebut dilakukan makan tumpeng bersama sekaligus diakhiri dengan pengumuman hasil lomba dan penyampaian kesan dan pesan dari para penghuninya,” sebutnya.

Arif berharap acara peringatan itu mampu membuat Asrama Mahasiswa UNAIR kian menjadi semakin jaya. Khususnya mampu meningkatkan rasa gotong royong dan solidaritas antar penghuni. Termasuk merangsang adanya pertemuan diskusi keilmuan di antara para penghuni asrama.

”Semoga mahasiswa yang tinggal di sini semakin betah,” imbuhnya.

Di sisi lain, salah seorang penghuni asrama putri Khotim mengaku sangat senang dengan acara tersebut. Selain melatih skill dalam memasak, kegiatan tersebut bisa mempererat dan menambah keakraban penghuni asrama.

”Saya dan teman-teman dapat menikmati hidangan tumpeng yang sangat nikmat secara bersama-sama. Senang sekali bisa bareng-bareng dengan teman-teman,” ungkapnya. (*)

 

Penulis: Widyah Puspitasari

Editor: Feri Fenoria




Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifai

Hari Bahasa Ibu Internasional, Pakar UNAIR: Menjaga Bahasa Berarti Menjaga Budaya

UNAIR NEWS  – Dalam dinamika dan perjalanan panjang dunia kebahasaan di dunia, sejarah telah mencatat bahwa tepat pada tanggal 21 Februari diperingati sebagai International Mother Language Day (IMLD) atau lebih dikenal dengan Hari Bahasa Ibu Internasional.

Menurut www.un.org gagasan besar untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional merupakan inisiatif masyarakat negara Bangladesh. Di negara itu, tepat setiap 21 Februari diperingati sebagai momen penting bagi orang Bangladesh atas segala upaya dan perjuangan yang telah dilakukan untuk pengakuan atas bahasa Bangla.

Mengenai momen Hari Bahasa Ibu Internasional yang tepat jatuh pada hari ini, 21 Februari 2019, pakar Etnografi Linguistik Universitas Airlangga Dr. Ni Wayan Sartini., M.Hum., memberikan banyak tanggapan. Menurutnya, peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional merupakan momen yang sangat tepat untuk membangun kesadaran akan kekayaan bahasa daerah yang ada di Indonesia.

“Pada momen seperti ini, kita harus lebih peduli dan sadar bahwa di negara kita ini ada sekitar 720 bahasa daerah yang kondisinya berbeda-beda,” jelasnya. “Kita juga harus sadar bahwa Bahasa Ibu Internasional itu merupakan bahasa pertama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia,” imbuhnya.

Pakar Etnoliguistik Universitas Airlangga Dr. Ni Wayan Sartini, M.Hum. (Foto: Istimewa)
Pakar Etnoliguistik Universitas Airlangga Dr. Ni Wayan Sartini, M.Hum. (Foto: Istimewa)

Bahasa ibu, lanjutnya, merupakan kekayaan bangsa yang mengandung nilai-nilai budaya daerahnya. Untuk itu, doktoral jebolan Universitas Udayana Bali itu menekankan bahwa bahasa ibu memang benar-benar harus dijaga.

“Hal ini adalah sebagai upaya agar bahasa ibu tidak punah dan tidak tergerus oleh modernisasi serta arus globalisasi,” paparnya.

Mengenai upaya-upaya untuk menjaga dan melestarikan bahasa ibu, Ketua Departemen S2 Ilmu Linguistik UNAIR itu mengatakan bahwa perlu dilakukan usaha-usaha yang serius, seperti memasukkannya dalam kurikulum pembelajaran, pembuatan kamus, dan melakukan penelitian-penelitian untuk mengetahui kondisi bahasa-bahasa yang ada.

“Tidak hanya itu, upaya yang perlu juga dilakukan adalah menggalakkan penggunaan bahasa daerah dalam lanskap linguistik sebuah wilayah,” tandasnya.

Pada akhir, dosen yang sangat fokus pada penelitian bahasa lokal itu menegaskan bahwa diperlukan usaha yang serius untuk menjaga dan melestarikan bahasa ibu. Pasalnya, hal itu menjadi salah satu upaya agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya walaupun harus melambung tinggi menggapai modernisasi.

“Sebab, menjaga bahasa berarti menjaga budaya,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




Mahasiswa FH UNAIR Ikuti Kompetisi Peradilan Semu Piala Makhamah Agung ke-22

UNAIR NEWS – Jumat, 15 Februari 2019, Badan Semi Otonom (BSO) Asian Law Students’Association (ALSA) LC UNAIR mengirimkan delegasi dalam perlombaan peradilan semu Piala Makhamah Agung ke-22 di Purwokerto, Jawa Tengah. Lomba ini merupakan ajang bergengsi bagai mahasiswa fakultas hukum se-Indonesia.

Ajang tersebut dikatakan bergengsi mengingat banyaknya perguruan tinggi di berbagai penjuru daerah di Indonesia yang mengikuti perlombaan ini. Mulai dari Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Universitas Hasanuddin, Universitas Syiah Kuala, dan sebagainya. Keseluruhan ada 14 delegasi dan 2 tim observer.

Lomba ini berlangsung selama empat hari, mulai dari tanggal 15 Februari 2019 hingga 18 Februari 2019. Selain harus meghadapi lawan yang berat dari berbagai daerah di Indonesia, lomba peradilan semu ini memiliki banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari berkas berspidangan, mempersiapkan peran, mempersiapkan materi, dan sebagainya.

Rizky Setiawan selaku ketua delegasi dari UNAIR mengatakan bahwa delegasi FH UNAIR memakan waktu latihan kurang lebih 5 bulan untuk mempersiapkan lomba peradilan semu ini.

“Lomba peradilan semu ini adalah lomba yang menampilkan simulasi persidangan seperti sidang sungguhan, sehingga persiapannya harus benar-benar matang. Kami bahkan dituntut berperan seperti hakim, jaksa, dan advokat sungguhan,” ujar Rizky.

Dalam perlombaan ini 14 delegasi dibagi menjadi 4 chamber, yaitu chamber A, B, C, dan D. Delegasi UNAIR masuk ke dalam chamber B bersama Universitas Tarumanegara, Universitas Jember, dan Universitas Padjajaran. Meski unggul 200 poin dari dua tim lain, namun delegasi UNAIR belum mampu lolos ke babak berikutnya karena terpaut 70 poin dari Universitas Jember.

Dalam perebutan Piala Makhamah Agung ke-22 ini, Universitas Gajah Mada berhasil menjadi juara 1, sementara Universitas Diponegoro menjadi juara 2, dan Universitas Jember merebut juara 3. Meskipun delegasi dari UNAIR belum mampu berhasil membawa Piala Makhamah Agung, namun delegasi puas karena telah menampilkan yang terbaik.

“Sedih pasti ada, namun kami bangga sudah berusaha yang terbaik untuk almamater. Semoga delegasi UNAIR untuk piala Makhamah Agung ke-23 dapat membawa pulang Piala Makhamah Agung ke Bumi Airlangga,” ujar Alya Anindita, salah satu delegasi.

Adapun sembilan belas delegasi dari UNAIR adalah Adelia Putri Marina (2017), Agatha Geraldine (2017), Ajeng Nur Fadila (2017), Alya Anindita (2016), Alya Anira (2016), Aqiqoh Farhah Maulani (2017), Arfie ranchman Widiatama (2017), Aushofi (2017), Eka Putri Fadhila (2017).

Fransiskus Leonardo Sihole (2015), Guntur Aris Prabowo (2017), I Putu Setya Agung (2017), Izzah Kholif Abidin (2017), Kartika Budiarti (2017), Muhammad Rizky S (2016), Nalendra Pradipto (2016), Vicentius Susanto (2017), Wahyu Aliansa (2017), dan Zalematuzzara Munasib (2017). (*)

Penulis : Xavier Nugraha

Editor: Binti Q. Masruroh




KPU Banyuwangi Tekan Angka Golput di Kalangan Mahasiswa

UNAIR NEWS – Menjelang pemilu 17 April 2019 mendatang, Komisi Pemilihan Umum Kabupetan Banyuwangi melaksanakan Sosialisasi Pemilihan Umum kepada pemilih pemula, yaitu kepada mahasiswa PSDKU Universitas Airlangga Banyuwangi. Sosialisasi yang dilaksanakan pada Rabu (20/2) di ruang kuliah A201 tersebut, dihadiri oleh KPU Banyuwangi, Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, dan perwakilan Polres Banyuwangi.

Diadakannya sosialisasi pemilu kepada mahasiswa, karena jumlah mahasiswa di Indonesia dirasa cukup banyak, oleh karena itu perlunya sosialisasi tentang pemilu untuk menekan angka golput di kalangan mahasiswa. Selain itu, KPU juga menjelaskan bagaimana alur pencoblosan dan syarat-sayarat surat suara dikatakan sah atau tidak sah.

Sebagai pembuka, KPU Banyuwangi menyebutkan bahwa jumlah calon perwakilan rakyat yang mencalonkan diri semakin meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu tingkat kebingungan untuk menentukan pilihan pasti semakin meningkat juga. Sebagai contoh untuk DPRD kabupaten Banyuwangi, dari 50 kursi yang diperebutkan, jumlah calonnya mencapai 602 nama.

Menyambung pernyataan dari KPU Banyuwangi, Drs. Wiyono, M.H., selaku kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan (Bakesbangpol) Banyuwangi, menyatakan bahwa demokrasi yang salah satunya yaitu pemilu, merupakan hak dan kewajiban bagi warga negara.

“Jadi, jika kalian memilih untuk golput, maka kalian tidak bertanggung jawab kepada Negara, dan bukan warga negara yang baik,” ujarnya.

Menurut Wiyono, terdapat 3 hal yang menjadi parameter keberhasilan berjalannya pemilu, yaitu rangkaian proses pemilu mulai dari pendaftaran bakal calon hingga penghitungan suara berjalan lancar dan tuntas, pemungutan suara berlangsung secara luber jurdil (langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil), serta hasil dari pemilu dapat diterima oleh seluruh rakyat.

“Sebagai mahasiswa, kalian harus mendukung seluruh rangkaian pemilu tersebut, target suara di Banyuwangi untuk pemilu 2019 yaitu 79%, semua harus memilih. Menjadi mahasiswa rantau di sini bukan menjadi alasan untuk golput, kalian bisa mengurus formulir pindah pilih ke KPU nanti,” imbuhnya.

Berbeda dengan pembicara lainnya, Aiptu Bambang Purwanto, selaku perwira bantuan hukum Polres Banyuwangi, menegaskan bahwa perangkat keamanan seperti Polisi dan TNI bersifat netral. Polisi yang kerap disapa Bambang tersebut juga menghimbau kepada mahasiswa UNAIR Banyuwangi untuk selalu menjaga keamanan baik di lingkungan kampus maupun luar kampus terkait pemilu 2019 nanti.

Sosialisasi Pemilihan umum 2019 untuk pemilih pemula. (Foto: Ananda Wildhan)

“Mahasiswa juga berhak memiliki pilihannya, namun kalian tidak perlu terlalu fanatik seperti orang-orang di luar sana, karena kalian kaum intelektual. Lebih baik kalian bersikap netral, namun kalian rahasiakan pilihan kalian, sesuai asas pemilu kita,” pungkasnya.

Diungkapkan oleh Ahmad Rido’i Yuda Prayogi salah satu mahasiswa PSDKU UNAIR Banyuwangi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, bahwa kegiatan sosialisasi pemilihan umum kepada pemilih pemula tersebut sangat bermanfaat.

“Kegiatan tersebut sangat membantu kami dalam menambah wawasan terkait pemilu serentak April nanti, apa lagi kami masih pemilu pemula, jadi kami bisa mengerti bagaimana surat suara dikatakan sah dan tidak sah,” ungkapnya. (*)

Penulis : Bastian Ragas

Editor : Binti Q. Masruroh




Ilustrasi oleh Tim Pelangi VI

Cerita “PELANGI VI” Saat Kembali Lakukan Pengabdian di Pesisir Tulungagung

UNAIR NEWS – School of Airlangga In Harmony (SCHOLAH) UNAIR Mengajar kembali mengadakan Pelangi jilid VI di Sekolah Dasar Negeri IV Ngrejo, Dusun Wonokoyo, Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggung Gunung, Kabupaten Tulungagung. Kegiatan ini merupakan program pengabdian di bidang pendidikan yang dapat dikatakan sebagai bentuk mini dari Indonesia Mengajar. Pelangi UNAIR hadir untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan di daerah yang termasuk kategori 3 T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal).

Tim yang mulai diterjunkan pada Senin (7/1) hingga Minggu (27/1) tersebut beranggotakan lima mahasiswa UNAIR dari tiga fakultas. Mereka adalah Aldi ( FV 2017), Refah (FEB 2017 ), Nisa Aslam (FEB 2017), Poppy (FPsi 2018), dan Amithya (FPsi 2017).

Selama tiga pekan di sana, tim Pelangi VI membantu para guru SDN Ngrejo IV melakukan kegiatan belajar mengajar. Setiap pagi, Aldi dan kawan-kawan mengisi kelas-kelas kosong apabila ada guru yang absen disebabkan kepentingan lain sehingga tidak dapat hadir. Biasanya, tim akan masuk kelas dan mengajar mulai pukul 07.00 hingga 08.00 pagi sembari menunggu guru pengajar. Usai mengajar di sekolah, kegiatan mereka dilanjutkan dengan bimbingan belajar pada sore hari dan mengaji pada malam hari.

Lokasi Desa Ngrejo yang terletak di pesisir pantai menjadikan sebagian besar warga bermata pencahariaan sebagai nelayan. Tak sedikit pula warga yang menjadi petani dan pekebun. Desa yang menyimpan keindahan alam dan pantai pasir putih yang menawan tersebut sayangnya masih belum memiliki akses internet dan telepon selular yang memadai.

Permasalahanutama yang ada di desa Ngrejo terletak pada rendahnya pemahaman masyarakat, khususnya orang tua tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Masalah ekonomi seringkali menjadi alasan para siswa tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Selain itu, lokasi rumah para guru yang cukup jauh dari sekolah menyebabkan tenaga pengajar seringkali terlambat atau bahkan tidak hadir di kelas. Sehingga banyak siswa yang melewatkan jam kosong dan pembelajaran yang kurang efektif. Kendati demikian, tim Pelangi VI menilai, siswa-siswi SDN IV Ngrejo memiliki semangat yang tinggi untuk belajar.

“Bukan tentang mengajar saja mereka juga mengimplemantasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat kepada orang-orang didesa tersebut tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka,” ujar Abid selaku penanggung jawab kegiatan pada UNAIR NEWS (21/2).

Abid mengatakan, meski dalam jangka pendek belum terdapat progres yang siginifikan, namun dpelan tapi pasti, ia berharap kegiatan tersebut akan membawa perubahan positif jangka panjang bagi pendidikan di sana.

“Semoga kedepannya kegiatan ini dapat memberikan dampak besar dan jelas terhadap masyarakat sekitar walau hanya lingkup Jawa Timur saja. Kegiatan ini juga menjadi andalan UNAIR dalam bidang pengabdian sebagai upaya perbaikan pendidikan di Indonesia” pungkasnya.

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Nuri Hermawan




Berkunjung ke UNAIR, Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Jajaki Kerja Sama

UNAIR NEWS – Duta Besar Pakistan untuk Indonesia H.E Abdul Salik Khan melakukan kunjungan ke Universitas Airlangga pada Rabu, 20 Februari 2019. Kunjungan kerja yang berlangsung di Ruang Rektor itu adalah dalam rangka penjajakan kerjasama antara kedua belah pihak.

Kedatangan H.E Abdul Salik Khan bersama rombongan dari kedutaan disambut oleh Wakil Rektor I UNAIR Prof Djoko Santoso, Wakil Rektor III Prof Amin Alamsjah, tim dari Airlangga Global Engagement, dan beberapa pimpinan fakultas.

Dalam kunjungan itu H.E Abdul Salik Khan mengatakan bahwa ia terkesan dengan kunjungannya kali ini ke Universitas Airlangga. Ia juga mengungkapkan rasa bangganya karena ada 10 mahasiswa asal Pakistan yang diterima di UNAIR untuk program pascasarjana dan doktoral.

“Saya berharap kerjasama ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang dan kami telah menandatangani MoU antara Universitas Airlangga dan beberapa universitas di Pakistan,” terangnya terkait kerjasama antara UNAIR dengan Pemerintah Pakistan.

Dikatakan H.E Abdul Salik Khan bahwa saat ini fokus kerja sama yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah Pakistan adalah bidang kedokteran, ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, kesehatan masyarakat, dan tak menutup kemungkinan bidang lainnya.

“Pakistan merupakan negara dengan muslim terbesar kedua di dunia dan Indonesia menjadi negara dengan muslim terbesar pertama di dunia. Ada ruang lingkup yang baik antara kedua negara,” terangnya.

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia H.E Abdul Salik Khan (dua dari kanan) dan Wakil Rektor I UNAIR Prof Djoko Santoso (dua dari kiri) saat bertukar cindera mata. (Foto: Binti Q. Masruroh)

Selain itu, kunjungan kerjasama ini adalah sekaligus meresmikan Pakistan Reading Corner di UNAIR. H.E Abdul Salik Khan mengatakan bahwa Pakistan Reading Corner yang didirikan oleh Kedutaan Pakistan akan menyediakan berbagai buku dan bahan bacaan berkaitan dengan Pakistan.

Pakistan Reading Corner ini akan memberikan informasi dasar tentang Pakistan seperti sejarah Pakistan, hubungan Pakistan dan Indonesia, dan bagaimana ruang lingkup untuk memperluas kerja sama di bidang lainnya antara kedua belah pihak.

“Jadi, anda dapat mengetahui beberapa pengetahuan tentang Pakistan melalui buku. Kami akan memberikan informasi kepada mahasiswa Universitas Airlangga untuk mengetahui tentang Pakistan,” tambahnya.

Selain dengan UNAIR, dikatakan H.E Abdul Salik Khan bahwa Pemerintah Pakistan juga melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi lain di Indonesia.

“Kami secara serius bekerja untuk mengembangkan kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi antara Indonesia dan Pakistan. Kedua negara ini adalah anggota OKI dan Pakistan memiliki sekretaris di Islamabad. Melalui lembaga itu kita dapat membangun kerja sama antara dua negara,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Prof Djoko Santoso mengatakan bahwa kunjungan Pakistan ini adalah kesempatan yang bagus dalam hal menduniakan Indonesia lewat kerjasama. Kerja sama yang ingin dibangun ke depan adalah dalam hal Tri Darma Perguruan Tinggi, baik pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.

“Ini kesempatan emas untuk berkomunikasi dengan dunia internasional,” papar Prof Djoko.

“Harapannya kerjasama ini bisa penuh manfaat, terutama antara UNAIR dengan universitas-universitas di Pakistan,” tambahnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh




Penampilan Jazz in Kampus Curi Hati Para Mahasiswa UNAIR

UNAIR NEWS – Otoritas Jasa Keuangan menggelar pesta “Jazz in Kampus” pada  (19/02) di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen UNAIR, Kampus C. Penampilan dibuka oleh “JFive” yang merupakan grup band jazz asal UNAIR, di mana semua personil JFive masih berstatus sebagai mahasiswa. JFive membawakan lagu-lagu populer kalangan anak milenial yakni Glenn Fredly Terserah, Chrisye Kala Cinta Menggoda, Maliq & D’Essentials Dia.

Sambutan dilakukan oleh Wakil Rektor II Dr., Muhammad Madyan SE., M.Si., M.Fin. Ia bertutur ini adalah kali pertama Jazz in Kampus dilaksanakan di tempat in door nan sakral, yaitu Aula Garuda Mukti. Dengan mengangkat tema jazz performance, dapat dibuktikan bahwa musik jazz tidak sulit diterima di kalangan masyarakat.

Selama ini, imbuhnya, banyak asumsi yang mengatakan jenis musik jazz tidak universal. Berangkat dari situ Jazz in Kampus ingin mematahkan stigma yang ada dengan menampilkan jati diri jazz sesungguhnya.

“Bagi para mahasiswa UNAIR, selamat menikmati penampilan Jazz in Kampus. Semoga Jazz in Kampus dapat dijadikan pelipur sejenak dari aktivitas penat di kampus,” lanjut Madyan.

Menyambung sambutan Wakil Rektor II Muhammad Madyan, Indah Kurnia selaku angoota DPR RI dan CEO Jazz in Kampus menceritakan awal mula Jazz in Kampus dilaksanakan, yakni pada tahun 2008. Jazz in Kampus sendiri bakal dilaksanakan selama 3 hari, terhitung mulai 19-21 Februari di 6 kampus Surabaya, termasuk UNAIR.

Vokalis Surabaya All Stars saat membawakan lagu Cakra Khan – Kekasih Bayangan. (Foto: Tunjung Senja)

Menurut Indah Kurnia alasan kuat mengapa aksi panggung jazz dilakukan di kampus-kampus ialah untuk mendapat apresiasi nyata dari mahasiswa. Mahasiswa dinilai sebagai pengamat konkrit yang mampu menganalisis suatu materi secara kritis. Karena sejatinya musisi sejati butuh sebuah apresiasi juga rekognisi.

“Sungguh mengesankan melihat antusiasme para mahasiswa dalam menikmati musik jazz,” tutur Indah Kurnia.

Salah satu aksi paggung yang mengguncang para penonton yaitu kala Mus Mujiono tampil menyuarakan lagu Esok Masih Ada oleh Glenn Fredly. Diketahui Mus Mujiono ialah seorang musisi jazz Indonesia legendaris yang mendapat julukan “George Benson Indonesia”.

Laki-laki yang akrab disapa Nono tersebut hampir menguasai seluruh alat musik, dari mulai keyboard, drum, gitar, saksofon, kecuali terompet. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




UHAMKA dan UNAIR Gali Cikal Bakal Sejarah Nasionalisme Indonesia

UNAIR NEWS – Menggali tema nasionalisme, Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR bersama Program Studi Pendidikan Sejarah UHAMKA mengadakan seminar sejarah bertajuk “Kebermaknaan Nasionalisme Dalam Perspektif Sejarah” di Aula Siti Parwati, FIB UNAIR, Senin (18/02).

Dalam acara tersebut, turut dihadirkan dua pembicara ahli, yakni Dekan FKIP UHAMKA, Dr. Desvian Bandarsyah, M.Pd dan Dosen Ilmu Sejarah FIB UNAIR, Eni Sugiarti, S.S., M.Hum. Keduanya dipandu oleh Edi Budi Santoso, S.S., M.Hum sebagai moderator.

Merujuk informasi di awal, Dekan FKIP UHAMKA, Dr. Desvian menjelaskan tentang warisan sejarah nasionalisme di Indonesia. Menurutnya, konsep nasionalisme yang berkembang di Eropa sejak abad ke-18, menyebar ke kawasan Asia-Afrika awal abad ke-20 sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.

Di Indonesia, Kata Desvian, nasionalisme terbentuk dari respon praktik kolonialisme Belanda yang mendorong para pemikir bangsa untuk membentuk gerakan organisasi dengan konsep ke-Indonesiaannya.

“Gerakan organisasi kebangsaan yang dipelopori Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Perhimpunan Indonesia, beserta tokoh-tokohnya itu adalah rahim yang melahirkan nasionalisme Indonesia,” Ujar Desvian.

Sementara itu, Dosen Ilmu Sejarah FIB UNAIR, Eni Sugiarti menyampaikan materinya yang berjudul “Membentuk Ke-Indonesian diatas tajamnya Pena: Fungsi Pers dan Peran Seniman Membangun Nasionalisme Indonesia”. Menurutnya,  terbentuknya akar nasionalisme di Indonesia tidak terlepas dari peran pers dan seniman.

Lanjut Eni, pers merupakan media pergerakan yang masif dilakukan sebelum Indonesia merdeka. Dia mencontohkan, terdapat tiga media pers yang turut membantu pergerakan, yakni Memorie Der Nouvelles, Vendu Nieuws, dan Bataviashe Kolonie Courant.

Mengutip pernyataan Ben Anderson, Eni mengatakan bahwa nasionalisme  di Indonesia hadir dari berbagai aspek, seperti pembuatan taman makam pahlawan, cenotaph (tugu peringatan tentara yang gugur), lagu kebangsaan,  bendera  nasional,  kesamaan bahasa, dan kesepahaman agama.

“Hal-hal seperti  inilah  yang  disebut  sebagai  akar budaya  nasionalisme,” ucap Eni

Pengajar mata kuliah Sejarah Pergerakan Nasional (SPN) itu menambahkan, Ben Anderson mencoba  menunjukkan dua  bentuk  pembayangan yang lain,  yaitu  melalui novel  dan surat  kabar.  Kedua  wahana itu, kata Eni,  secara  teknis dapat  menampilkan  keterwakilan  kembali komunitas imaginatif yang disebut  sebagai  bangsa.

“Dengan  itu,  Anderson membuat  kesimpulan kepada kita  bahwa  nasionalisme merupakan  sesuatu  yang  diciptakan  dan  ia telah memberi tinjauan terhadap masa silam sekaligus memberi bayangan terhadap masa depan,” Tutup Eni.

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor : Khefti Al Mawalia




Ingat, Ini Lima Program Studi Terketat SBMPTN Kelompok Soshum

UNAIR NEWS – Halo Calon Ksatria Muda Airlangga, setelah memaparkan keketatan lima program studi kelompok Saintek. Kali ini, UNAIR NEWS akan memberikan informasi kepada seluruh pejuang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019, tentang lima program studi kelompok Soshum yang memiliki persaingan paling ketat di Universitas Airlangga.

Sahabat pejuang SBMPTN 2019, jangan lupa mekanisme baru SBMPTN 2019. Pada tahun ini, selain tidak lagi dilakukan oleh Panitia Lokal, SBMPTN juga bakal dilaksanakan secara berkala dan menggunakan sistem Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Tidak hanya itu, pada SBMPTN 2019 peserta juga boleh mengikuti ujian sebanyak dua kali. Bahkan, untuk menentukan program studi, sahabat pejuang semua bisa memilih program studi usai mengetahui hasil UTBK yang telah dilakukan.

Ya, sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan program studi kelompok Soshum, berikut UNAIR NEWS sajikan, grafik mengenai lima program studi kelompok Soshum yang memiliki keketatan paling tinggi di Universitas Airlangga.

Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa’i

Nah, bagaimana sahabat pejuang SBMPTN 2019? Salah satu program studi impian sahabat ada dalam lima program studi kelompok Soshum paling ketat di UNAIR? Persiapkan dengan matang, pahami model soal yang juga berbeda dengan sebaik-baiknya. Jangat takut, karena keberhasilan akan ditentukan dengan seberapa besar usaha yang sahabat semua lakukan.

Selamat mempersiapkan SBMPTN 2019 dengan sebaik-baiknya. Kami tunggu untuk menjadi Ksatria Muda Airlangga selanjutnya.

 

Penulis: Nuri Hermawan




Untuk membantu para sahabat pejuang SBMPTN 2019 yang akan memilih Universitas Airlangga, utamanya yang akan memilih program studi kelompok Saintek, berikut UNAIR NEWS sajikan lima program studi kelompok Saintek di Universitas Airlangga yang memiliki keketatan tertinggi.

Catat, Lima Program Studi Terketat SBMPTN Kelompok Saintek

UNAIR NEWS – Halo Calon Ksatria Muda Airlangga, pejuang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019. Sudah tahu mekanisme baru SBMPTN 2019, kan? Selain tidak lagi dilakukan oleh Panitia Lokal, SBMPTN tahun ini akan dilaksanakan secara berkala dan menggunakan sistem Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Untuk membantu para sahabat pejuang SBMPTN 2019 yang akan memilih Universitas Airlangga, utamanya yang akan memilih program studi kelompok Saintek, berikut UNAIR NEWS sajikan lima program studi kelompok Saintek di Universitas Airlangga yang memiliki keketatan tertinggi.

Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa’i

Setelah mengetahui lima program studi terketat kelompok Saintek, sahabat pejuang SBMPTN 2019 tentu akan lebih mempertimbangkan dan mempersiapkan banyak hal. Terlebih, jika salah satu program studi meruapakan prodi impian sahabat semua. Selamat berjuang, kami tunggu untuk menjadi Ksatria Muda Airlangga selanjutnya.!!!

Penulis: Nuri Hermawan