Robert James Bintaryo, Alumnus Manajemen Jadi Kepala KDEI Taiwan

UNAIR NEWS – Robert James Bintaryo merupakan alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga yang menjadi Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) Taipei. Ia merupakan lulusan Manajemen tahun 1986.

Robert merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Lulus dari SMAN 5 Surabaya pada tahun 1979, pria kelahiran Malang ini sempat gagal masuk UNAIR. Robert kemudian berkuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya.

Tahun berikutnya, Robert mencoba lagi mengikuti seleksi masuk UNAIR dan diterima di Jurusan Manajemen yang menjadi pilihan pertamanya.

“Sampai saat ini saya masih hafal nomor identitas mahasiswa saya,” ungkap lelaki kelahiran 2 September 1959 bangga.

Saat Robert mulai berkuliah, orangtuanya pensiun. Ia dan saudara-saudaranya yang menempuh pendidikan tinggi pada waktu yang sama, harus memahami kondisi keuangan keluarga. Robert yang suka menikmati musik, bersama teman-temannya sering mengadakan acara bermusik untuk mendapatkan uang tambahan.

“Sering bikin acara siaran di TVRI. Saya sendiri nggak bisa main musik, tapi teman-teman saya yang main. Jadi, kita punya semacam event organizer musik. Saat itu bisa masuk TVRI itu sudah senang sekali rasanya,” kenangnya.

Skripsinya tentang produk pakan ternak sebuah perusahaan pakan ternak di Jawa Timur mengantarkannya lulus menjadi sarjana ekonomi pada tahun 1986. Setelah lulus, Robert sempat bekerja di perusahaan asuransi di Jakarta. Dua tahun kemudian ia mengikuti seleksi dan lolos menjadi PNS di Kementerian Perindustrian dan Pedagangan (Kemenrindag) pada saat itu.

Dapat Beasiswa Kuliah di Inggris

Saat menjadi PNS di Kemenrindag, Robert mendapatkan beasiswa untuk studi di Inggris selama dua tahun. Robert mengambil Diploma Business Administration di Cardiff Business School, Cardiff,  pada tahun pertama dan melanjutkan Master of Business Administration di Hull University, Hull, pada tahun kedua.

“Alhamdulillah tesis saya dipilih oleh professor untuk disidangkan beliau. Jadi, saya tidak perlu maju sidang,” paparnya.

Pengalaman bersama TKI

Sebelum memimpin KDEI, Robert telah memiliki banyak pengalaman memimpin. Ia pernah menjadi Atase Perdagangan Belgia/Uni Eropa (2005 – 2009), Kepala Bagian Bantuan Luar Negeri Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian Perdagangan (2009), Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis Direktorat Jenderal (Ditjen) Perdagangan Dalam Negeri (2014 – 2016), serta Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Ditjen Perdagangan Dalam Negeri (2016).

Berbekal pengalamannya memimpin organisasi, menjadi atase, dan berbaur dengan masyarakat, Robert memimpin KDEI Taipei yang terdiri dari beragam divisi seperti imigrasi, perdagangan, perindustrian, investasi, ketenagakerjaan, serta pelayanan dan perlindungan WNI.

Pelayanan dan perlindungan WNI menjadi tantangan tersendiri bagi Robert. Pasalnya, jumlah Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan sendiri pada tahun 2016 telah mencapai 253 ribu atau 1 persen dari total populasi Taiwan, dan ada 5000 pelajar Indonesia di Taiwan.

Sering kali ia terjun langsung ke lapangan untuk memantau para TKI yang bermasalah, mengunjungi TKI yang sakit, mengadakan buka bersama para TKI, hingga bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk mengadakan acara hiburan bagi para TKI.

Menurut penghobi renang ini, kunci keberhasilannya adalah mampu menjaga kepercayaan, jejaring, dan mau terjun ke masyarakat.

“Saya punya banyak teman. Tanpa bantuan teman-teman rasanya saya tidak bisa seperti ini. Selain itu juga menjaga kepercayaan yang sudah diberikan,” paparnya.

Harapan untuk UNAIR

Sebagai alumnus UNAIR, Robert berpesan untuk para mahasiswa dan alumni, agar kita ingat bahwa negara membutuhkan kontribusi kita.

“Perhatikan masyarakat bawah, agar kontribusi kita untuk negara bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” papar Robert.

Robert berharap, dengan kualitas pendidikan yang dimiliki UNAIR, serta dukungan para alumni, UNAIR bisa mengejar rangking dunia. “Kita sudah punya tokoh-tokoh yang diperhitungkan. Tinggal kita tingkatkan lagi, dan terus menjaga kualitas,” ungkap Robert.

Kakak dan adik Robert juga alumnus UNAIR. Kakaknya seorang dokter gigi, dan adiknya dokter wanita spesialis bedah tulang pertama di Indonesia, dr. Yvonne Sarah Bintaryo.

Penulis: Inda Karsunawati (alumnus Fisika UNAIR dan kandidat master Teknobiomedik di National Taiwan University of Science and Technology)

Editor: Defrina Sukma S

 




Potret Kenangan Pendakian Denali Mahasiswa UNAIR

UNAIR NEWS – Mendaki puncak tertinggi dunia membutuhkan perjuangan panjang. Namun, tak ada hasil yang mengkhianati usaha. Tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Wanala Universitas Airlangga berhasil mengharumkan almamater dan Tanah Air di puncak Denali pada bulan Juni.

Berikut potret perjuangan yang diambil oleh ketiga atlet AIDeX beranggotakan Muhammad Faishal Tamimi (alumnus Fakultas Vokasi), Mochammad Roby Yahya (mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan), dan Yasak (alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

 

 




Empat Prodi Divisitasi Asesor AUN-QA

UNAIR NEWS – Sebanyak empat program studi di Universitas Airlangga akan divisitasi oleh para asesor ASEAN University Networking Quality Assessment (AUN-QA).

Keempat prodi yang tengah divisitasi adalah Prodi S-1 Ilmu Komunikasi (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), S-1 Psikologi (Fakultas Psikologi), S-1 Budidaya Perairan (Fakultas Perikanan dan Kelautan), dan S-1 Ekonomi Pembangunan (Fakultas Ekonomi dan Bisnis).

Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, ketika ditemui usai seremoni pembukaan penilaian asesor AUN-QA Selasa (22/8), mengatakan, pihaknya berharap keempat prodi yang tengah divisitasi asesor bisa melampaui target yang ditetapkan universitas. Keempat prodi tersebut ditarget untuk mendapatkan nilai minimal 4,00 dari skala 7,00.

“Harus nilai 4 dari skala 7. Keterangannya appropriate. Kalau bisa, ya, menuju ke nilai 5. Artinya, lebih dari standar. Kalau menuju 5 berarti siap untuk world class university. Karena ini suatu proses pendidikan yang assessed (dinilai),” tutur Prof. Djoko usai seremoni pembukaan yang dihadiri pimpinan Badan Penjamin Mutu, prodi dan fakultas, serta universitas.

Aspek pembelajaran yang dinilai oleh para asesor AUN-QA antara lain hasil pembelajaran yang diharapkan (expected learning outcomes), struktur dan isi program (programme structure and content), metode pembelajaran (teaching and learning approach), penilaian terhadap mahasiswa (student assessment), dan kualitas staf akademik (academic staff quality).

Prof. Djoko menilai, penilaian yang dilakukan asesor AUN-QA akan membawa dampak berkelanjutan terhadap pengakuan pihak eksternal.

“Jika pihak eksternal mengakui bahwa kualitasnya UNAIR itu layak untuk world class (berkelas dunia), maka dampaknya banyak. Dari aspek human development index (indeks pembangunan manusia), riset, hibah, kompetisi, inovasi, dan kreasi. Banyak sekali dampaknya,” pungkas Guru Besar Fakultas Kedokteran.

Proses visitasi akan dilakukan oleh delapan asesor AUN-QA ke empat prodi akan berlangsung pada tanggal 22–24 Agustus di masing-masing prodi terkait. Para asesor merupakan pengajar senior dari Universitas Malaya dan Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas De La Salle Filiphina, dan National Institution of Development Administration Thailand.

Sampai saat ini, sebanyak sembilan prodi di UNAIR telah mendapatkan penilaian sertifikasi AUN-QA. Kesembilan prodi itu adalah S-1 Pendidikan Dokter, S-1 Ilmu Hukum, S-1 Pendidikan Dokter Hewan, S-1 Pendidikan Apoteker, S-1 Biologi, S-1 Kimia, S-1 Sastra Inggris, S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan S-1 Manajemen.

Wakil Rektor I juga menambahkan, pihaknya telah mempersiapkan prodi-prodi lainnya jenjang S-1 yang telah mendapatkan akreditasi A dua kali berturut-turut untuk divisitasi oleh asesor AUN-QA.

Rencananya, sertifikasi AUN-QA pada prodi jenjang S-1 akan berakhir pada tahun 2020. Selain itu, prodi-prodi yang telah mendapatkan penilaian dari AUN-QA akan divisitasi oleh lembaga akreditasi internasional.

“Mereka yang sudah tersertifikasi AUN akan kita naikkan untuk akreditasi internasional. Tahun ini, bulan November, ada empat prodi dari Fakultas Sains dan Teknologi dan satu prodi Pendidikan Apoteker yang diakreditasi ASIIN (Accreditation Agency for Degree Programs in Engineering, Informatics/Computer Science, the Natural Sciences and Mathematics),” tutur Prof. Djoko.

Penulis: Defrina Sukma S




Prof. Amin: Walaupun Hanya Sebelas Tim, UNAIR Bisa Juara PIMNAS 2017

UNAIR NEWS – Sebelas tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Airlangga, secara resmi dilepas Wakil Rektor III UNAIR Prof. M. Amin Alamsyah, Ir., M.Si., Ph.D., untuk berkompetisi di arena Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) Ke-30 tahun 2017. Agenda ”pesta ilmiah” tahunan kali ini diselenggarakan di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sulawesi Selatan, 23-28 Agustus 2017.

Pelepasan kontingen di hall lantai I Gedung Rektorat UNAIR, Senin (21/8) kemarin juga dihadiri Direktur Kemahasiswaan Dr. M. Hadi Shubhan, SH., MH., CN., dosen pembimbing PKM, TPK (Tim Pembina Kemahasiswaan), serta perwakilan dari fakultas.

Direktur Kemahasiswaan M. Hadi Shubhan melaporkan, sebelas PKM ini merupakan yang lolos dari 134 proposal PKM yang memperoleh pendanaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Adapun proposal yang lolos ini, masing-masing tiga tim/proposal PKM bidang Karsa Cipta (PKM-KC), PKM bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM), dan PKM Penelitian Eksakta (PKM-PE). Selain itu terdapat dua proposal bidang Gagasan Tertulis (PKM-GT).

”Mohon doa restunya dari warga sivitas UNAIR semoga Allah memberi kelancaran dan keberhasilan pada Tim PIMNAS UNAIR untuk mampu meraih prestasi yang terbaik,” kata Hadi Shubhan.

Wakil Rektor III Prof. M. Amin Alamsyah, dalam sambutan sebelum melepas kontingen PIMNAS UNAIR yang ditandai dengan pengenaan topi peserta, mengatakan bahwa jika Allah berkehendak bahwa Tim UNAIR akan juara, berapapun yang berlomba, maka tidak seorang pun bisa menghalanginya.

”Walau kita hanya berangkat dengan sebelas tim, jika Allah menghendaki kita juara, insya Allah bisa juara,” kata Prof. Amin, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR ini.

Kepada sebelas anggota tim PKM yang akan berlaga di PIMNAS, Prof. Amin meminta untuk menunjukkan kemampuannya secara maksimal untuk meraih prestasi terbaik. Hal itu penting, karena pencapaian prestasi yang tinggi dari mahasiswa dan sivitas akan sangat menunjang terhadap peningkatan ranking world class university (WCU) UNAIR.

”Mari kita tunjukkan kepada masyarakat, dengan sama sekali tidak ada niatan untuk pamer, bahwa mahasiswa UNAIR bisa mengukir prestasi itu,” katanya.

pimnas
KONTINGEN Universitas Airlangga untuk PIMNAS Ke-30/2017 di Makassar, bersama pimpinan, pembimbing, dan tim pendamping lainnya. (Foto: Bambang Bes)

Ketua Kontingen UNAIR ke PIMNAS ke-30 di Makassar, H. Agus Widyantoro, SH., MH., menjelaskan, ia siap memimpin 53 mahasiswa anggota tim PKM berikut belasan dosen pembimbing masing-masing, serta beberapa Tim Pembina Kemahasiswaan (TPK).

”Semangat PIMNAS di Mataram akan kita kobarkan lagi. Waktu itu UNAIR kan hanya dengan enam tim PKM, tetapi dengan semangat dan persiapan yang kita lakukan, kita mampu menjadi juara II, runner-up,” kata Agus Widyantoro, dosen Fakultas Hukum ini.

Kontingen PIMNAS UNAIR akan menuju Makassar melalui penerbangan dari Bandara Juanda pada jam 13.00 WIB, sehingga pukul 16.00 diharapkan sudah tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Selanjutnya tim UNAIR akan bermalam di Fave Hotel Penakkukang Jl. Pelita Raya 8 Makassar. (*)

Penulis: Bambang Bes




UNAIR Maksimalkan Kinerja Penelitian

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mochammad Nasih mengatakan bahwa pihaknya akan menggenjot kinerja perguruan tinggi. Kinerja yang dimaksud adalah akreditasi program studi, jumlah dosen dan yang berpendidikan doktor, dan publikasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasih menyusul rilis peringkat perguruan tinggi non-politeknik yang masuk pada klaster 1 oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Pemeringkatan tersebut dinilai dari aspek sumber daya manusia, penelitian, kelembagaan, kemahasiswaan, dan pengabdian masyarakat.

“UNAIR menduduki peringkat tujuh. Bertahan. Tahun kemarin UNAIR juga menduduki peringkat tujuh. Semoga tahun depan bisa meningkat,” tutur Nasih.

Untuk menaikkan posisi tersebut, Nasih akan mengakselerasi sejumlah hal. Pertama, penambahan jumlah program studi (prodi) yang terakreditasi A. Targetnya, pada tahun 2017, prodi yang terakreditasi A mencapai 65 persen. Target ini meningkat dari tahun lalu yang berada pada angka 55 persen.

“Semoga tahun depan jumlah prodi yang terakreditasi A bisa 78 persen. Selama ini, kita masih terkendala periodisasi akreditasi. Pada tahun ini dan tahun depan, prodi yang masih terakreditasi B bisa berubah menjadi A,” ungkap Nasih.

Selain itu, jumlah publikasi juga perlu ditingkatkan. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu mengungkapkan, jumlah publikasi yang diterbitkan peneliti UNAIR hingga pertengahan tahun 2017 mencapai 300 paper. Bila ditambah proseding, tahun ini, jumlah publikasi diharapkan bisa mencapai seribu publikasi.

Ia lantas berharap upaya segenap sivitas akademika UNAIR untuk terus bersinergi dalam mensukseskan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Ini cermin terutama bagi kawan-kawan universitas. Posisi kita ini harus diambil pelajarannya, dan kita harus ngapain ke depan,” pinta rektor. (*)

Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Binti Q. Masruroh




Memaknai Kembali Hari Konstitusi Indonesia

UNAIR NEWS – Hari Konstitusi Indonesia mulai diperingati pada tanggal 18 Agustus Tahun 2008. Hari itu bertepatan dengan ditandatanganinya Deklarasi Hari Konstitusi Indonesia oleh Lembaga Kajian Konstitusi, Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan Pimpinan serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dilengkapi pula oleh berbagai komponen masyarakat Indonesia. Gagasan diperingatinya tanggal 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi Indonesia, diawali dari sebuah artikel yang ditulis Mochamad Isnaeni Ramadhan dengan judul “Konstitusi Indonesia” yang dimuat dalam harian Suara Karya.

Menanggapi peringatan Hari Konstitusi Indonesia, pakar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Dr. Sukardi, S.H., M.H., mengatakan, konstitusi merupakan hukum tertinggi yang dapat dipahami pula dari sisi materiilnya. Sukardi juga menambahkan bahwa dalam konstitusi mengatur antara pemerintah dengan masyarakat yang berisi hak asasi manusia serta menandai adanya suatu negara.

“Konstitusi itu bisa dipahami sebagai hukum tertinggi. Kemudian juga dilihat dari sisi materiilnya konstitusi juga mengatur antara pemerintah dengan yang diperintah yang berisi hak asasi manusia dan menandai adanya sebuah negara,” ujarnya.

Terkait adanya wacana mengembalikan UUD NRI 1945 ke naskah aslinya, pengampu mata kuliah hukum perancangan undang-undang ini menegaskan, apabila hal itu akan dilakukan tentu saja diperlukan poin-poin penting terkait urgensi yang mendasari pengembalian tersebut perlu dilakukan.

“Kalau mau melakukan pengembalian naskah UUD asli tentu saja harus menentukan urgensinya. Karena apabila kita tarik mundur bahwa UUD 1945 itu megatur mengenai sistem pemerintahan yang kuat. Padahal yang sekarang terjadi adalah sistem check and balances dimana tidak ada satu lembaga pun yang memiliki kekuatan super power. Antara lembaga legislatif, eksekutif, dan yudisial memiliki kedudukan yang seimbang yang sesuai dengan makna konstitusi mengenai pembagian kekuasaan,” pungkas Sukardi.

Mengenai usulan apa yang disarankan oleh Sukardi tentang konstitusi, dirinya mengatakan apabila saat ini yang paling penting adalah bagaimana pembentuk undang-undang memaknai  bunyi konstitusi sesuai dengan konsep kekinian karena konstitusi multitafsir.

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan




Maulana Ridho Aryanto, Rintis Bisnis Sejak Sekolah Dasar

UNAIR NEWS – Masa kanak-kanak identik dengan bermain, rasa ingin tahu, hingga mencoba hal baru. Dengan segala aktivitas yang dilakukan, tentu membuat pola pikir anak terus tumbuh, baik secara psikis maupun motorik. Setiap anak memiliki kegemaran masing-masing, seperti bersepeda, memelihara hewan, hingga mengoleksi.

Maulana Ridho Aryanto, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini berhasil memanfaatkan kegemarananya memelihara hewan sebagai bisnis. Bisnis peternakan kucing dan reptilnya kini beromset ratusan juta tiap tahunnya. Meskipun begitu, bungsu dari dua bersaudara ini memiliki pandangan bahwa apapun yang menyenangkan dapat menjadi bisnis. Uniknya, ia sudah memulai usahanya sejak di bangku sekolah dasar.

“Sejak kecil memang suka sama kucing, apalagi baunya yang ngangenin. Setiap pulang sekolah pasti saya mencari kucing-kucing saya. Bahkan Mama saya pun begitu,” tuturnya.

Bermula dari memunguti kucing di jalan, ia memutuskan berjualan apa saja demi menambah pundi-pundi uang untuk membeli kucing. Berkat kesabaran dan kerja kerasnya, ia mampu membeli sepasang kucing Persia.  Saat itu ia masih duduk di kelas enam sekolah dasar. Berjalan satu setengah tahun, ia terus menambah indukan. Baik yang bersertifikat maupun yang tidak bersertifikat. Setelah dilakukan jasa pemacakan, yaitu mengawinkan dengan kucing jantan milik orang lain, kemudian untuk pertama kalinya, ia berhasil menjual 5 ekor kucing, masing-masing seharga 12 juta.

Menurut mahasiswa kelahiran Surabaya, 16 Juli 1997 ini, kucing bersertifikat itu lebih pada perlindungan kepemilikan. Selain mendapat sertifikat kepemilikan, akan ditanamkan semacam micro chip pada tubuh kucing sehingga tidak akan tertukar.

Menginjak bangku sekolah menengah pertama, mahasiswa yang kerap disapa Barlan ini mulai tertarik dengan jenis Sphynx. Keputusan membeli Sphynx akhirnya jatuh ketika ia menginjak sekolah menengah atas, mengingat saat itu harganya tidak terlalu tinggi, seekor betina bisa dibeli seharga 15 juta.

Dalam beberapa kesempatan, Barlan juga berhasil menjuarai kompetisi yang diselenggarakan di Bandung, Jakarta, hingga Malaysia.

“Untuk kucing, poin penilainya biasanya seputar kecantikan dan struktur tubuh. Sedangkan ular dilihat warna gen dan kecerahan warnanya,” tuturnya.

Selain memelihara kucing, dua tahun belakangan ini, Barlan mencoba peruntungan baru pada reptile jenis ular. Untuk pertama kalinya, ia mengimpor 3 ekor ular jenis ball phyton dari Amerika seharga 20 juta. Ia lebih memilih impor lantaran memiliki gen warna yang banyak, sekitar 4-6 gen warna. Menurutnya, semakin banyak gen warna yang dimiliki membuat aksen warna pada kulit ular menjadi lebih indah.Terbukti, ular peliharaannya ditaksir oleh artis Lucky Hakim.

Pemasaran dan Perawatan

Dalam pemasaran, Barlan memilih media sosial facebook untuk bergabung dengan komunitas pencinta hewan. Selain itu, ia pun dengan telaten menawarkan pada teman-temannya. Untuk pangsa pasarnya pun tidak hanya di dalam negeri, namun sering kali di ekspor ke Kanada dan Australia. Omset per tahun yang diperoleh dari penjualan kucing berkisar 100 juta, sedangkan ular lebih dari 100 juta. Untuk menjaga kualitas, ia pun mengeluarkan biaya perawatan sekitar 15 juta per bulan untuk membeli vitamin, makanan, hingga listrik untuk mengeringkan bulu-bulu kucing.

Sebagaimana dalam berbisnis, ia pun pernah mengalami kegagalan. Saat itu, ia mecoba untuk memelihara Bunglon, namun ia tidak bisa menetaskan telurnya sehingga terpaksa dijual.

Kedepannya, ia akan mencoba peruntungan lain yang kini sedang dirintis, yakni bisnis jasa perjalanan. Ia melihat ada celah-celah bisnis dari hobinya jalan-jalan, sebagaimana pribahasa sambil menyelam minum air.

Penulis :SitiNur Umami

Editor : Nuri Hermawan




Dosen Manajemen Raih Best Paper Seminar Nasional di Medan

UNAIR NEWS – Para dosen Universitas Airlangga tidak pernah miskin prestasi. Kali ini, kabar menggembirakan datang dari Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Salah satu dosen bernama Dr Tri Siwi Agustina berhasil meraih penghargaan Best Paper dalam Seminar Nasional dan Call for Paper – Roundtable Indonesia Entrepreneur Educator (RIEE) 2017. Event tersebut diselenggarakan oleh Asosiasi Perkumpulan Pendidik Kewirausahaan Indonesia (Perwira). Kali ini, RIEE diadakan oleh Prodi Magister Manajemen, Universitas Sumatera Utara, Medan, pada 9 Agustus 2017.

Dalam kegiatan itu, setidaknya ada 88 papers, yang mewakili 15 kampus, dari 7 kota se-Indonesia. Bila berjalan sesuai rencana, event serupa akan diselenggarakan bulan Agustus tahun 2018 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Univ Syiah Kuala Banda Aceh.

RIEE adalah wadah rutin tahunan para pendidik Kewirausahaan dari seluruh Indonesia. Tujuan dari terbentuknya adalah sebagai sarana para pendidik entrepreneurship untuk berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang pengajaran Kewirausahaan.

RIEE juga sarana bagi peneliti tentang pembelajaran kewirausahaan, kewirausahaan secara umum, dan small business, untuk sharing hasil riset melalui Call for Paper dan jurnal ilmiah Perwira.

RIEE diinisasi oleh Prasetya Mulya dan Departemen Manajemen FEB UNAIR. Saat ini RIEE sudah memasuki tahun ke-5 dan masih sangat terbuka bagi para pendidik kewirausahaan untuk bergabung.

Perempuan yang biasa disapa Siwi itu menyajikan paper dengan judul Peran Unik Wanita sebagai “Garwo (Sigaraning Nyowo)” dalam Mendampingi Suami Memimpin Bisnis Keluarga pada Pasangan Suami Istri Jawa. Dalam masyarakat Jawa, istri disebut pula Garwo atau Sigaraning Nyowo, yang bisa diartikan sebagai belahan jiwa.

Paper tersebut mengulas tentang berbagai peran wanita sebagai istri yang mendampingi suami memimpin bisnis keluarga. “Mengapa menarik dikaji? Karena kontribusi istri dalam suatu kesuksesan sebuah bisnis keluarga seringkali luput diperhatikan,” terang Dr Siwi.

Padahal, imbuhnya, di balik kesuksesan suami, pasti ada peran besar istri. Nah, paper tersebut mengulas apa saja peran istri dalam mendampingi suami dalam menjalankan bisnis keluarga.

Peran istri pada suami yg menjalankan bisnis keluarga sangat beragam. Namun, pada pasangan suami istri Jawa, terungkap bahwa istri memiliki kontribusi yang detail dan komprehensif.

Mulai dari menyiapkan anak-anaknya menjadi penerima tongkat estafet kepemimpinan bisnis, misalnya dengan memilihkan sekolah hingga memberikan pengertian pada anak untuk mau meneruskan bisnis keluarga, hingga menciptakan suasana harmonis dengan karyawan dan ikut memotivasi kerja karyawan. Istri juga menjadi penasehat bagi suami, business partner, dan turut terlibat pada manajerial bisnis keluarga. Hal tersebut sangat beralasan, karena bagaimanapun juga, para istri beranggapan bahwa kesuksesan bisnis tersebut akan membawa kesejahteraan bagi keluarga mereka. (*)

 

Penulis: Rio F. Rachman

 

 




Tahun 2018, Gedung Baru Fakultas Farmasi Siap Difungsikan

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih secara simbolis melakukan topping off atau pengecoran atap di lantai sepuluh gedung baru Fakultas Farmasi (FF).

Gedung yang mulai dibangun sejak peletakan tiang pancang pertama pada 15 Juni 2015 lalu itu diperkirakan akan selesai dan mulai digunakan tahun 2018 mendatang.

“Selesai sempurna tahun 2019. Tapi tahun 2018 kita sudah bisa manfaatkan paling nggak lima lantai. Sehingga tahun ini lima lantai paling bawah disiapkan untuk bisa dipakai,” ujar Rektor UNAIR ditemui UNAIR News,  Jumat (18/8).

Kesepuluh lantai itu akan difungsikan beragam, mulai dari ruang perkuliahan, ruang dosen dan administrasi, hingga laboratorium yang sangat dibutuhkan dosen dan mahasiswa untuk melakukan riset.

Nasih mengatakan, pada gedung FF yang baru ini juga akan dibangun laboratorium yang bisa difungsikan bukan hanya mahasiswa dan dosen dari FF namun juga fakultas lain yang memiliki bidang ilmu serupa.

“Kalau ada lab yang bisa sesuai dengan bidang ilmu yang lain, bisa dimanfaatkan oleh fakultas lain, sehingga ada lab dasar yang bisa dimanfaatkan banyak fakultas. Termasuk yang selama ini belum tergarap dengan baik adalah bagaimana mahasiswa S-2 dan S-3 yang memiliki ruang kuliah berdekatan dengan lab untuk diskusi,” tambah Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu.

Setelah gedung baru FF ini selesai, gedung lama FF yang sebelumnya berada di Kampus B UNAIR akan segera dialihfungsikan. Sehingga FF akan menjadi satu kampus dengan fakultas-fakultas di Kampus C yang keseluruhan di bidang eksakta.

Dalam sambutan sebelum pemotongan tumpeng, Nasih mengatakan saat ini FF mulai menyiapkan pengusulan nama untuk gedung baru FF. Sehingga nanti ketika bangunan resmi digunakan, gedung baru sudah memiliki nama tersendiri.

“Sehingga nanti ketika peresmian gedung bukan bernama gedung farmasi,” ucapnya.

Pembangunan gedung baru FF ini akan menjadi percontohan terorganisirnya lab-lab yang ada di UNAIR.

“Misal, kalau anak farmasi (FF) mau belajar tentang wirausaha, silakan belajar ke ekonomi (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), atau anak farmasi (FF) yang ingin belajar statistika, silakan ke lab FST (Fakultas Sains dan Teknologi),” tutur Rektor.

“Peresmian gedung ini nantinya akan memperbaiki itu. Sebab, sumber ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) adalah riset, dan sumber riset lab, sehingga keberadaan lab harus kita perhatikan betul,” ungkapnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Dosen UNAIR Hobi Menyanyi dan Ciptakan Lagu

UNAIR NEWS – Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa alunan musik adalah bagian dari kehidupan manusia. Tidak pandang dari kalangan mana, seseorang pasti akan mencintai alunan musik sesuai genrenya. Begitu pula yang dirasakan oleh salah satu dosen di Departemen Sastra Indonesia Universitas Airlangga Mochammad Jalal, S.S., M.Hum. Dosen Linguistik ini mengaku mencintai dunia musik sejak masih usia belasan tahun.

“Sebenarnya sampai sekarang dunia musik bagi saya hanya sekedar penyaluran hobi yang tidak pernah saya geluti secara profesional,” ungkap Jalal.

Sejak kecil, dosen yang akrab disapa Jalal ini memang tumbuh di lingkungan yang bersentuhan dengan alunan-alunan musik. Sang ayah, sering nembang macapat sebagai penghantar tidurnya. Selain itu, di lingkungan masjid tempatnya mengaji juga banyak hal yang berkaitan dengan nada-nada musik yang harus dihafal.

“Ya banyak yang harus saya hafal, seperti puji-pujian, sholawatan, diba’, dan lainnya,” ujar Jalal.

Dosen asal Bojonegoro ini mengaku, dirinya dibesarkan di lingkungan masyarakat yang kental dengan tembang-tembang seni tradisional. Tayub dan gending-gending Jawa adalah musik yang sering Jalal dengarkan sejak kecil. Maka tak heran, bakatnya memainkan alat musik seperti seruling dan gitar memang telah terasah secara otodidak sejak dini.

“Bermula dari sanalah rupanya yang menumbuhkan sense of music saya. Menginjak remaja, saya mulai berlatih musik, gitar, dan seruling secara otodidak. Dalam olah vokal, saya juga mulai berlatih dengan menirukan suara penyanyi yang kala itu lagu-lagunya saya nilai menarik, baik dari genre pop dan dangdut,” tutur laki-laki yang melanjutkan studi S-2 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini.

Hasilnya tidak main-main. Saat duduk di bangku SMA, Jalal pernah menjuarai kompetisi menyanyi dangdut se-Kabupaten Bojonegoro.

Hobi menyanyi tidak hanya berhenti sampai usia SMA saja, namun berlanjut hingga dirinya tercatat sebagai mahasiswa UNAIR tahun 90-an. Bahkan, Jalal dengan sengaja bergabung dengan grup Paduan Suara UNAIR agar dapat belajar musik secara teoritis.

“Di PSUA era 90-an, saya termasuk tim inti yang dikirim di berbagai event nasional dan selalu tidak ketinggalan dalam berbagai festival untuk membela UNAIR,” tuturnya.

Kepada UNAIR News Jalal menuturkan, dirinya saat itu mulai tertarik dengan genre seriosa yang dianggap paling sulit dalam seni olah vokal. Semangatnya belajar untuk dapat menguasai genre musik itu membuahkan hasil. Di tahun 1994, Jalal berhasil menjadi Juara 1 kompetisi menyanyi se-Jawa Timur untuk kategori seriosa.

Menciptakan lagu

Dengan bergabung PSUA sejak tahun 2008, kemampuan dosen yang kini tinggal di Sidoarjo ini dalam mengaransemen suara dan menulis lagu kian terasah. Apalagi, kini dirinya telah mempunyai single lagu yang sudah viral di kampus karena unggahannya di akun YouTube beberapa bulan lalu.

Saat diwawancarai mengenai single terbarunya yang berjudul Izin Poligami, ia menuturkan bahwa apa yang ditulis hanya untuk hiburan semata.

“Itu sebenarnya iseng dan untuk lucu-lucuan saja. Ketika isu poligami sedang ramai dibicarakan di media, saya jadi ingin membuat lagu dari genre dangdut. Tidak norak, smart, tapi bisa menggambarkan isu poligami dengan apik,” ungkapnya.

Berbekal melakukan rekaman di studio milik teman serta hasil dorongan keras dari teman, single tersebut akhirnya ia unggah di YouTube, mulai viral dan menjadi pembicaraan di lingkungan UNAIR.

Jalal mengatakan, hobi di dunia seni musik tidak pernah menjadi pengganggu aktivitasnya sebagai dosen. Namun justru sebaliknya, dapat disinergikan dengan berbagai kegiatan seni yang diselenggarakan di UNAIR. Berbekal kompetensi itu, Jalal dipercayai menjadi pembina PSUA sejak 2003 hingga 2015. Selain itu, pihaknya kini menjadi pembina Paguyuban Karawitan Sastra Jendra (Pakar Sajen) FIB UNAIR.

“Saya juga sering dipercaya menyelenggarakan event yang berhubungan dengan seni di UNAIR. Misalnya tahun 2011 saya berhasil membuat pertunjukan ludruk berbahasa Suroboyoan dengan mengkolaborasikan antara dosen, mahasiswa, dan mahasiswa asing,” tambahnya.

Jalal mengaku, meskipun sekadar hobi, seni musik cukup bisa menghasilkan uang. Dengan menjadi Pembina PSUA dan terkadang mendapat pesanan untuk mengaransemen lagu, rezeki bisa mengalir dengan sendirinya. Pihak keluarga juga sering mengandalkan dirinya menjadi pengisi acara musik tradisional maupun modern. Selain itu, melalui hobi bermusik Jalal mengaku semakin menambah relasi dan kolega yang memiliki hobi yang sama.

“Ya yang jelas ini memang awalnya hanya sekedar hobi. Tidak pernah terbersit keinginan untuk benar-benar profesional. Hanya menggeluti bidang ini. Ya pokoknya just fun dan main-main dengan bidang musik seperti sekarang ini saya rasa cukup,” ungkapnya di akhir perbincangan. (*)

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor : Binti Q. Masruroh