FK UNAIR Gandeng PAMKI Gelar Simposium Internasional Pertama Mikrobiologi Klinik

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) menggelar acara bertajuk 1st International Scientific Meeting on Clinical Microbiology and Infectious Diseases (ISM-CMD, 10th National Congress of Indonesian Society for Clinical Microbiology (KONAS PAMKI), dan 12th National Symposium of Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (NS-IARW).

FK UNAIR bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (IARW) untuk menyelenggarakan acara tersebut. Bertempat di Hotel Bumi Surabaya, acara dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Sabtu (13/10) dan Minggu (14/10).

Terdapat sekitar 250 peserta yang berasal dari berbagai institusi kesehatan maupun pendidikan di Indonesia hadir dalam acara itu.

Berbagai tokoh penting dalam acara itu. Seperti Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Nila Djuwita F. Moeloek, dr., Sp.M (K), Rektor Universitas Airlangga, Prof. Muhammad Nasih, S.E., M.T., Ak., CMA., Ketua PAMKI, Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK(K), Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Sekretaris Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemementerian Kesehatan RI, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dan Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR beserta jajaran.

Selain itu, acara ini juga mengundang beberapa ahli mikrobiologi klinik internasional untuk menjadi pembicara. Di antaranya, Prof. Fumito Aruyama, Ph.D, Manabu Ato, MD., Ph.D., Matsumoto Sokichi, Prof. Toshiro Shirakawa, dan Prof. Kazufumi Shimizu, Ph.D., dari Jepang; Satheesh Thangaraj, Ph.D., dari Singapura; dan Juliette Severin, MD., Ph.D., dari Belanda.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Dr. Eko Budi Koendhori, dr., M.Kes., Sp.MK(K), selaku ketua pelaksana kegiatan, Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK(K), selaku Ketua PAMKI, Rektor UNAIR, Prof. Muhammad Nasih, dan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Nila Djuwita F. Moeloek.

Pembukaan acara diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI dengan ditandai pemukulan gong sebagai simbolis.

Mengambil tema “Update on Management and Control of Infectious Disease in The Era of Antimicrobal Resistance”, forum ini diharapkan dapat memberi informasi yang relevan dan berguna untuk penanganan penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh mikroba resisten.

Dr. Eko Budi Koendhori mengatakan, saat ini resistensi antibiotik mengalami peningkatan yang sangat pesat, termasuk di Indonesia. Hal tersebut dapat terjadi ketika penggunaan antibiotik tidak sesuai dengan prosedur dan dosis yang dianjurkan dokter.

“Harapannya, acara ini dapat memberikan informasi dan edukasi kepada para praktisi mikrobiologi klinis untuk menciptakan strategi penanganan yang tepat dan mengurangi munculnya resistensi antimikroba,” papar Dr. Eko Budi.

Penggunaan antibiotik berlebihan dan secara tidak tepat merupakan masalah yang dapat mendorong resistensi, sekaligus berpotensi menimbulkan efek samping, reaksi alergi, atau bahkan menimbulkan penyakit baru.

Dekade ini, resistensi antibiotik disebut sebagai masalah kesehatan global. Penggunaan antibiotik memiliki konsekuensi yang lebih luas dibandingkan obat-obatan biasa. Ketika seseorang menyalahgunakan antibiotik, hal tersebut justru akan mengakibatkan terciptanya mikroba yang kebal terhadap antibiotik maupun obat-obatan lain. Sehingga dapat memungkinkan terjadinya infeksi baru dan sulit diobati.

Acara ini merupakan ajang pertemuan internasional pertama FK UNAIR yang mengangkat masalah mikrobiologi, dan dilaksanakan serentak bersama kongres nasional ke-sepuluh PAMKI dan simposium nasional ke-duabelas IARW.

Sebelumnya, telah terselenggara kegiatan workshop tentang penyakit difteri, pencegahan dan pengendalian penyakit, yang digelar di FK UNAIR pada Kamis-Jum’at (11-12/10) lalu.

Selain itu, terdapat pula acara pameran alat-alat laboratorium dan kesehatan, pameran poster dari peserta symposium, serta pameran batik kedokteran. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




Apresiasi Bakat Seni Mahasiswa, FISIP UNAIR Kembali Gelar Pekan Seni 2.0

UNAIR NEWS – Menyambut perayaan Dies Natalis ke-41, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menyelenggarakan pekan seni. Kegiatan ini merupakan program kerja dari Kementerian Seni dan Budaya BEM FISIP 2018. Setelah sukses dihelat pertama kali pada tahun 2017, pekan seni kembali dilaksanakan selama tiga hari.

Pekan seni resmi dibuka pada Senin (15/10) melalui seremonial yang dihadiri oleh pihak dekanat, BEM, dan BLM FISIP. Dalam sambutannya, Wakil Dekan I FISIP UNAIR Prof. Dr. Budi Prasetyo, M.Si. mengatakan bahwa Dekanat FISIP mendukung penuh serangkaian acara pekan seni sebagai sarana ekspresi diri para mahasiswa FISIP. Bukan hanya itu, hadirnya pekan seni memberikan hiburan tersendiri bagi segenap sivitas akademika FISIP di tengah kegiatan perkuliahan.

“Di tengah kesibukan belajar, mahasiswa juga perlu diberi ruang untuk mengasah bakat di bidang seni,” ujar Prof. Budi.

Usai menyampaikan sambutan, didampingi oleh Wakil Dekan II, Dr. Tuti Budirahayu, M.Si, Prof. Budi beserta perwakilan panitia melakukan pelepasan balon sebagai tanda dimulainya rangkaian pekan seni 2018.

Terdapat beberapa rangkaian acara pekan seni. Di antaranya, FISIP Got Talent (FGT), aspiration box, mobile legend competition, lomba akustik, pameran puisi dan foto, pameran HIMA, dan pagelaran seni HIMA. Setiap prodi memberikan perwakilan untuk mengikuti lomba-lomba yang telah diadakan.

Acara berlangsung sepanjang hari di sela-sela pergantian kegiatan perkuliahan mulai pukul 8.30 pagi hingga 17.00 sore.

Delapan besar peserta yang berhasil memasuki babak semifinal lomba antara lain, gitar solo dari prodi ilmu informasi dan perpustakaan, vokal solo dari ilmu informasi dan perpustakaan, vokal duet dari hubungan internasional, tari tradisional solo dari administrasi negara, puisi teaterikal dari ilmu politik, tari tradisional solo dari sosiologi, tari tradisional grup dari sosiologi, dan tari modern dari sosiologi.

Kemeriahan pekan seni berlanjut hingga Rabu (17/10). Pekan seni ditutup pada malam puncak yang dilaksanakan pada Jumat (26/10). Pada malam puncak itu, diumumkan para pemenang lomba sekaligus penampilan dari bintang tamu spesial yang merupakan seorang musisi, Jason Ranti. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Kunjungi Dapur Jawa Pos untuk Siapkan Diri Hadapi Dunia Kerja

UNAIR NEWS – Persaingan di dunia kerja saat ini semakin ketat. Selain karena jumlah penduduk yang terus bertambah, persaingan juga muncul karena perusahaan-perusahaan saat ini membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu.

Untuk mempersiapkan itu, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga yang tergabung dalam English Departement Students’ Association (EDSA) mengadakan company visit (Comvis) ke Kantor Redaksi Harian Jawa Pos, Graha Pena Surabaya, pada Selasa (16/10).

Ketua panitia comvis Annisa Radista Wardhani mengatakan, company visit ini dilakukan mengingat minimnya informasi mahasiswa mengenai atmosfer dunia kerja.

Selain itu, kegiatan ini adalah tindak lanjut dari Webinar (Web-Seminar) pada Juni lalu, yang turut mengundang narasumber dari alumni Bahasa dan Sastra Inggris yang berkarir di bidang media, pariwisata, dan ekspor-impor.

“Berdasarkan hasil polling minat karier yang telah dilakukan oleh Divisi Litbang EDSA, media memuncaki posisi teratas jenjang karier yang diminati oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris. Bidang inilah yang menjadi patokan untuk menentukan perusahaan tujuan company visit ke Jawa Pos tahun ini,” terang Annisa.

Selama satu setengah jam kunjungan ke redaksi Jawa Pos, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris diajak untuk masuk dapur redaksi. Di sana, mahasiswa diberi materi terkait area kerja Jawa Pos seperti bagian Zetizen, berita nasional, iklan, sport (olahraga), dan segala macam berita yang tercantum di koran harian Jawa Pos.

“Tidak hanya itu, kami juga diberi kesempatan untuk berdiskusi secara langsung dengan Ivo, salah satu pemateri yang merupakan jurnalis dan editor di Jawa Pos, dia juga menjelaskan kalau Jawa Pos juga bekerjasama dengan media luar negeri seperti Reuters,” tambahnya.

Salah satu peserta, Dyta Septiyatik, mengaku terkesan dengan kegiatan kunjungan ini. Kunjungan ini merupakan kali pertama ia merasakan pengalaman langsung di dunia jurnalistik.

“Jadi tahu kalo dunia kerja jurnalistik itu banyak tantangan, terus dipasang deadline dan itu dipasang setiap hari buat para jurnalis. Terus ada posisi apa aja di sana, sama fungsinya sendiri di rumah redaksi,” papar mahasiswa angkatan 2015 itu. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Binti Q. Masruroh




Cerita Laras Mengikuti Ekspedisi Jalur Rempah di Maluku Utara

UNAIR NEWS – Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Laras Setyaningsih berkesempatan menjadi delegasi Jawa Timur mengikuti program ekspedisi jalur rempah. Program itu diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang berlangsung pada 27 September – 10 Oktober 2018.

Dalam ekspedisi itu, Laras bersama puluhan mahasiswa dari berbagai kampus berkesempatan melakukan napak tilas kemasyhuran jejak peradaban jalur rempah Nusantara di Pulau Makeng (Makian), Maluku Utara.

Ekspedisi itu, dikatakan Laras, diselenggarakan untuk menumbuhkan rasa kecintaan generasi muda Indonesia terhadap sejarah jalur rempah, mengingat sejarahnya merupakan salah satu sejarah yang megah di Indonesia. Sabab di mas lampau, jalur rempah yang berada di kepulauan Maluku Utara berhasil mengundang kedatangan bangsa-bangsa lain.

“Jadi, yang perlu ditekankan di sini adalah kita (Indonesia, Red) yang berhasil mengundang bangsa barat untuk melihat kebesaran dan kekayaan tanah kita, bukan sebaliknya kita yang menghamba pada bangsa barat. Dan tidak lupa, bukti-bukti kebesaran bangsa ini harus di share agar generasi muda tidak melulu merasa inferior terhadap bangsa barat,” tutur Laras, mahasiswa asal Ngawi.

Selama di Pulau Makian, Laras bersama tim membuat laporan berupa karya tulis, video, dan fotografi. Ia bersama tim melakukan riset dengan metode live in, tinggal di rumah warga untuk mempelajari kehidupan masyarakat sekitar. Ia pun ikut aktivitas harian seperti ke hutan untuk mencari kenari, pala, dan cengkih. Ia juga berkesempatan melihat secara langsung tradisi lisan berkembang pesat di Pulau Makian. Mayoritas adalah masyarakat maritim dengan tradisi lisan yang kuat.

“Juga yang aku lihat di sana, apa yang didapat (tangkapan ikan, Red) hari itu dibagi. Jadi hidupnya komunal banget. Hasil tangkapan yang mereka dapat hari itu disyukuri, seberapa banyak hasil memecah (toki, Red) kenari itu yang disyukuri,” terangnya.

Laras merasakan, selama di Pulau Makian, dirinya kagum dengan masyarakat pesisir Pulau Makian karena memiliki kultur berbeda dengan masyarakat Jawa.

“Jika biasanya aku dan orang-orang di lingkunganku (Jawa, Red) mengukur kebahagiaan dengan apa yang sudah kita capai, terus menuntut diri atas pencapaian itu, dari orang-orang Makeang aku belajar bahwa bahagia adalah tentang bersyukur,” tutur Laras.

“Aku juga belajar bahwa parameter kebahagiaan masing-masing orang itu beda-beda. Sepulang dari Makeang aku sangat setuju sama hasil survei Kumparan yang menempatkan Maluku Utara di provinsi paling bahagia di Indonesia,” tambahnya.

Usai kegiatan Laras berharap, ia dan tim dapat melakukan timbal balik kepada negara dengan turut mengabdikan diri lewat ilmu masing-masing.

“Karena aku berangkatnya dibiayai penuh pakai uang rakyat, jadi aku punya tanggungjawab untuk membagikan ilmu ini kembali ke masyarakat. Terlebih aku juga anak sejarah semoga bisa berbagi ilmu mengenai sejarah jalur rempah Moluku Kie Raha,” tutup mahasiswa ilmu sejarah angkatan 2015 itu. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Binti Q. Masruroh




Mahasiswa FETP UNAIR Bantu Surveilans Bencana di Palu

UNAIR NEWS – Sebagai respons atas terjadinya bencana Palu-Donggala, Sekretariat FETP (Field Epidemiology Training Program) Indonesia memberikan penugasan untuk mendelegasikan mahasiswa Magister Epidemiologi minat Epidemiologi Lapangan (FETP) untuk terjun ke lokasi bencana. Termasuk hal itu berlaku pada Universitas Airlangga. Dua mahasiswa turut diberangkatkan ke Palu.

Adalah Andini Rizki Amanda (Indi) dan Harni Utari Nennong (Harni). Keduanya merupakan mahasiswa S2 FETP UNAIR. Indi dan Harni ditugaskan ke Palu-Donggala bersama dengan mahasiswa FETP dari universitas lain penyelenggara pendidikan FETP di Indonesia.

Ketua Departemen Epidemiologi di FKM UNAIR Dr. Atik Choirul Hidajah dr., M.Kes., menyampaikan bahwa dua mahasiswa tersebut pergi ke lokasi untuk membantu Kementerian Kesehatan dalam melakukan kegiatan analisis risiko dampak bencana. Selain itu, mereka diamanahi melakukan surveilans atau pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara sistemik, akibat bencana. Termasuk investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang berpotensi terjadi akibat bencana di tiga kabupaten atau kota yang terdampak paling parah. Terutama di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi.

”Surveilans pada kondisi tanggap darurat bencana dan masa pemulihan bencana merupakan hal yang sangat penting. Dengan surveilans, akan diperoleh data yang terus-menerus,” sebutnya.

”Dengan begitu, dapat diketahui apakah suatu wilayah terindikasi KLB atau tidak. Jika terindikasi KLB, segera dilakukan investigasi. Hasil investigasi tersebut kemudian digunakan untuk memberikan rekomendasi tindakan yang perlu dilakukan untuk menghentikan penyebaran, mencegah, terjadinya KLB dan penyebarannya,” imbuhnya.

Menurut dr. Atik, selain melakukan surveilans, mahasiswa FETP yang berangkat ke sana ditugaskan untuk melakukan survei dan monitoring mengenai keadaan vaksin di puskesmas. Hal tersebut sangat penting dilakukan karena listrik di lokasi terdampak padam cukup lama.

TIM FETP (Field Epidemiology Training Program) di depan kantor Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah sebelum bertugas. (Foto: Istimewa)
TIM FETP (Field Epidemiology Training Program) di depan kantor Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah sebelum bertugas. (Foto: Istimewa)magister

Sementara itu, Indi mengungkapkan bahwa saat ini beberapa kantor, perusahaan, dan sekolah di Kota Palu yang tidak runtuh mulai kembali aktif. Fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak roboh juga sudah beroperasi seperti biasa. Baik yang di daerah terdampak bencana maupun tidak.

Meskipun beberapa puskesmas telah beroperasi, terdapat beberapa kendala. Misalnya, listrik yang belum masuk wilayah dan hujan yang sempat membuat longsor.

”Puskesmas yang terdampak bencana buka sampai Minggu. Sementara yang tidak terdampak bencana buka seperti biasa, yaitu Senin sampai Sabtu. Untuk puskemas yang roboh, belum tahu berapa jumlahnya,” sebut Indi ketika dihubungi via media daring oleh UNAIR NEWS.

Menambahkan keterangan Indi, Harni menyampaikan bahwa di Kota Palu saat ini rata-rata masyarakatnya masih tinggal di lokasi pengungsian. Berdasar pengamatannya, banyak warga yang mengalami diare karena sanitasi dan keadaan lingkungan yang buruk. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya gempa susulan yang masih terjadi dan hujan yang turun.

”Sejauh ini, kami masih pantau, diare. Sebab, kasus diare meningkat di beberapa puskesmas karena sanitasinya. Kami masih melakukan penyelidikan apa penyebab dari kasus diare tersebut,” tuturnya. (*)

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Feri Fenoria




Ekonomi Islam Sukses Gelar Iqtishoduna ke Tujuh

UNAIR NEWS – Bertajuk “Ekonomi Kita, Perjuangan Kita”.  Ekonomi Islam mampu menghelat acara terbesarnya setiap tahun. Ekonomi Islam yang telah berusia 10 tahun mampu memberikan appresiasi acara megah yang biasa dikenal dengan “Iqtishoduna”. Kini, Iqtishoduna telah menginjak 7 tahun dengan serangkaian acara yang menarik di berbagai tempat.

Iqtishoduna yang bertujuan untuk mendakwahkan Ekonomi Islam dengan 3 serangkaian acara yaitu, Sharia Fair (SF), Islamic Economics Olympiad (SEO), Seminar and Call for Papers (SCFP).

Sharia Fair yang dilaksanakan dari 15 – 21 Oktober 2018 di Royal Plaza Surabaya merupakan acara terbesar dari Iqtishoduna yang memiliki serangkaian acara yang mampu mendakwahkan ekonomi Islam ke masyarakat. Dengan acara, Beauty Class with Wardah, Lomba Pidacil, Lomba Banjari, Lomba Makeup dan Fashion Show, Talkshow dengan Drs. Ec. Suherman Rosyidi, Pameran Syariah terdiri dari Bisnis Syariah, Lembaga Keuangan Islam, Fashion Syariah, dan Travel Haji & Umroh.

Dalam acara Sharia Fair menghadirkan Guest Star yaitu, Syakir Daulay, Zikri Daulay, dan Chiki Fawzi. Dan penampilan spesial dari Tomach Lan Kanca, Ivo Acapella, Angklung YPAB Surabaya, Tari Sufi, Tari Saman, Acoustic Band, Fashion Show, Hip Hop Cilik, Beatbox, dan Wushu Cilik.

Alhamdulillah serangkaian acara berjalan dengan lancar dan mampu mendakwahkan Ekonomi Islam dari segala aspek kehidupan dari kalangan anak-anak hingga dewasa,” ujar Muhammad Rasyid, selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam.

Ia menambahkan, dalam acara Seminar and Call for Paper (SCFP) yang dilaksankana dari 15 – 18 Oktober 2018 memiliki dua rangkaian acara. International Seminar dengan Prof. Dato’ Dr. Ahamed Kameel Mydin Meera, Jardine A. Husman, dan Dr. Imron Mawardi. Seminar dengan tema “Cryptocurrency: Prospect, Challenges, and Application in Islamic Prespective” dan Call for Paper yang diikuti oleh Universitas se-Indonesia. Setelah pengumuman juara, peserta Call for Paper mengikuti serangkaian acara Galla Dinner di Balai Kota Surabaya. Untuk kemudian, pergi Field Trip di Surabaya dengan tujuan ke Jalesveva Jayamahe, Tugu Pahlawan, dan tempat oleh-oleh Khas Surabaya.

Sedangkan Islamic Economics Olympiad (SEO) telah dilaksanakan dari 17 – 20 Oktober 2018 di Asrama Haji Surabaya. Acara yang  diikuti oleh siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Indonesia untuk memperkenalkan Ekonomi Islam kepada para pejuang bangku kuliah nantinya. Setelah pengumuman Juara, Games dengan peserta, dan Field Trip.

“Ucapan Jazakumullah dari panitia untuk semua yang telah berantusias dan hadir dalam serangkaian acara Iqtishoduna, semoga acara ini semakin  baik ke depannya,” tegasnya.

Penulis: Rollista Dwi Oktavia

Editor: Nuri Hermawan




Iqtishoduna Talkshow, Potensi Indonesia untuk Halal Life Style

UNAIR NEWS – “Halal Life Style sejatinya bukan hanya soal gaya hidup kaum muslimin. Halal life style bisa menjadi kebaikan bagi semua umat. Sebab perintah awalnya berbunyi nash” bertajuk dalam Al Baqarah 169 yang ditunjukkan seluruh umat manusia. Kini industri halal mulai berkembang pesat, bisnis yang berbasis dengan sistem ekonomi Islam tidak hanya dikembangkan di negara dengan penduduk mayoritas Islam, tetapi negara yang sebagian penduduknya non-muslim.

Talkshow dalam acara Iqtishoduna 2018 yang diadakan oleh Mahasiswa Ekonomi Islam FEB UNAIR pada Kamis (19/10), di Royal Plaza Surabaya mengusung tema yang diangkat yaitu, “Meningkatkan Industri Halal Sebagai Implementasi Indonesia Halal Life Style” dengan pembicara Drs. Ec. Suherman Rosyidi, M. Com.

Suherman sapaan akrabnya menjelaskan, sebenarnya perkembangan industri di dunia khususnya  Indonesia terkenal dengan 4F yaitu, Fashion, Finance, Food, Fun, dianggap sebagai peluang besar kebutuhan dan gaya hidup (Halal Life Style, red). Namun, masih tertinggal dari negara berpenduduk non muslim dalam wisata dan makanan halalnya.

“Kita cenderung konsumtif yang hanya memakai tanpa menghasilkan sendiri, seakan ketergantungan dengan produksi pihak lain dan potensi yang ada belum teraktualisasi dengan baik,” ujar Suherman dosen Ekonomi Islam FEB UNAIR.

Posisi Indonesia saat ini berada dalam peringkat ke – 10  dalam industri halal dan peringkat pertama diduduki oleh Malaysia dalam destinasi makanan halal. Turunnya peringkat Indonesia di mata dunia dikarenakan berbagai macam aspek, salah satunya perkembangan gaya hidup halal di Indonesia masih stabil dibanding negara lainnya. Negara Malaysia yang telah memiliki Halal Park, Jepang mempunyai Hall Transportation Nippon Express, hingga masyarakat bukan mayoritas non muslim mampu mengembangkan Halal Foodcourt seperti di Singapura.

“Seperti halnya Malaysia makanan halal benar-benar diperhatikan. Disana terdapat tempat judi yang pasti ada minuman keras. Tetapi, di atas PUB nya terdapat tulisan “Orang Islam Tidak Boleh Datang Kesini” kurang lebih seperti itu,” tegasnya.

Ia menambahkan, terdapat dampak dari makanan yang halal dan haram maupun syubhat bagi tubuh. Dampak makanan yang halal, mampu menjaga kesehatan jasmani dan rohani, memiliki akhlaqul kharimah, mendapatkan barakah dari Allah SWT dengan rezeki yang diperolehnya di dunia maupun akhirat. Sedangkan dampak makanan haram, penyebab tidak diterimanya amal ibadah dan terhalangnya doa, mempengaruhi sifat dan perilaku, dan menyebabkan terkikisnya iman.

“Karena itu, kesadaran akan pentingnya nilai – nilai syariah dalam kehidupan menjelma menjadi Halal Life Style. Besarnya pasar Indonesia telah mendorong banyak perusahaan besar untuk mencantumkan sertifikat halal pada produknya,” pungkasnya.

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Nuri Hermawan




Tim Gabungan BEM dan Mahagana UNAIR Siap Bantu Korban Palu – Donggala

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Mahasiswa Tanggap Bencana (Mahagana) siap berangkat menuju ke Palu, Sulawesi Tengah. Sebelum berangkat pada  Jumat malam (19/10), tim gabungan BEM dan Mahagana itu terlebih dahulu menemui Rektor UNAIR Prof. Nasih.

Dihadapan lima belas mahasiswa yang siap berangkat tersebut, Prof. Nasih mengatakan bahwa meski mahasiswa, kepedulian terhadap saudara-sudara yang membutukan seperti ini adalah dari proses pembelajaran.

“Jadi, mahasiswa tidak sekadar mengasah otak saja. Lebih dari itu, mengasah hati dengan peka terhadap kondisi sosial adalah hal utama,” jelasnya.

Mengingat kondisi di lokasi yang tidak normal, Prof. Nasih berpesan kepada mahasiswa yang berangkat harus bisa menyesuaikan diri dengan baik. Harus bisa menjaga diri dan harus melakukan pengabdian yang optimal.

“Tebar optimisme kepada mereka. Tebar terus harapan bahwa banyak saudara yang peduli dengan kondisi mereka,” imbuhnya.

Prof. Nasih juga menegaskan bahwa semua hal yang mereka lakukan adalah bentuk dari pengamalam motto UNAIR Excellence with Morality. Tirta Muhammad Rizki, ketua tim, yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2017 menuturkan jumlah mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut ialah 15 mahasiswa yang terdiri dari UKM khusus yaitu Menwa, Wanala, KSRPMI, Pramuka, serta dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Terhitung mulai hari ini hingga 1 November mendatang.

“Setelah sampai di sana tim akan berkoordinasi dengan posko BPBD Jatim. Saat menunggu arahan tim ada planning yaitu team assessment yang mensurvei apa saja yang dibutuhkan di sana dan apa saja yang dapat tim lakukan,” paparnya.

Menurutnya, tim  akan dibagi menjadi 3 divisi yaitu tim traumahiling, tim dapur umum, dan tim logistik. Tim akan fokus pada satu posko. Mengenao donasi yang terkumpul sudah ada sejumlah 175 juta yang berasal dari BEM fakultas, organisasi mahasiswa, dan unit kegiatan mahasiswa (UKM).

Sementara itu, Ketua BEM UNAIR, Galuh Teja Sakti mengatakan kegiatan itu merupakan program dari universitas yang diberikan kepada BEM melalui Mahagana dan dilanjutkan oleh UKM khusus. Teja berharap para anggota selalu dilindungi oleh Tuhan serta dapat menolong para korban yang menjadi amal baik bagi para anggota.

Penulis: Nuri Hermawan dan M. Najib Rahman




Begini Kata Ahli soal MSG Bikin Bodoh

UNAIR NEWS – Pengetahuan masyarakat terkait penggunaan Monosodium Glutamat (MSG) masih terbatas. Banyak asumsi yang tersebar bahwa MSG memberikan dampak buruk. Salah satunya mengganggu kesehatan otak.

Mitos yang berkembang di masyarakat adalah mengonsumsi MSG bisa membuat bodoh, alergi, hingga Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Melihat kondisi itu, Program Studi (Prodi) Ilmu GIZI Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, PERGIZI PANGAN Jatim, dan Linisehat mengadakan Seminar dan Demo Masak pada Sabtu, (20/10). Seminar yang bekerja sama dengan Ajinomoto itu berlangsung di Aula Kahuripan Lantai 3, Gedung Rektorat, Kampus C UNAIR. Tema “Mutu dan Keamanan Pangan serta Fakta Ilmiah MSG” dipilih dalam seminar tersebut.

Tema itu dipilih karena seminar bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dan akademisi terkait pesan keamanan penggunaan MSG dan pengolahan pangan yang aman. Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber. Yakni, Dra. Retno Chatulistiani, P, Apt. dan Dr. Ir Annis Catur Adi, MSi.

Paparan materi pertama disampaikan Retno Chatulistiani. Khususnya materi soal ”Hoaks Pangan dan Penanganannya”. Retno menekankan bahwa berita hoaks pangan yang beredar di masyarakat bisa ditangani dengan tidak langsung percaya dan menyebarkan berita tersebut.

”MSG sejatinya adalah Bahan Tambahan Pangan (BTP). Di mana pengonsumsiannya aman asal tidak berlebihan,” ungkap Retno selaku kepala Bidang Informasi dan Komunikasi BPOM Surabaya.

Menurut Retno, yang terpenting konsumsi BTP seperti MSG harus sesuai dengan peraturan BPOM.  Masyarakat diharapkan sangat jeli dalam memilih produk makanan. Retno menyarankan masyarakat mengonsumsi makananan yang sudah punya ijin edar untuk menjamin keamanan produk tersebut.

Sementara itu, sesi materi kedua dijelaskan Dr. Ir Annis Catur Adi, MSi selaku ketua DPD PERGIZI PANGAN Jatim dan ketua Gizi Kesehatan UNAIR. Dia memaparkan materi tentang ”Mitos dan Fakta Ilmiah MSG”. Annis Catur menjelaskan bahwa BPOM dan WHO sudah mengklaim jika MSG aman untuk dikonsumsi.

”MSG dibuat berdasar prosedur yang sudah terstandardisasi. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir. MSG juga tidak menimbulkan penambahan intake energy,” lanjutnya.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa MSG bersifat self limiting. Yakni, penambahan MSG berlebihan menimbulkan rasa tidak enak.

Pada akhir, kegiatan dilanjutkan dengan demo masak bersama Chef Yunita Princess. Yakni, demo memasak yang bertajuk ”Jajanan Enak, Aman, dan Sehat“. Terdapat dua menu yang disajikan, yaitu Patel Krispy dan Kroket Kacang Merah. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria




Porsi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Perguruan Tinggi mesti Seimbang

UNAIR NEWS – ”Hingga sekarang, penelitian berkembang begitu pesat. Hal ini tidak sejalan  dengan pengabdian masyarakat yang masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat, seharusnya penelitian dan pengabdian masyarakat dapat berjalan beriringan,” tegas Prof . Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com, ketua LPM (Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat) Universitas Airlangga dalam sesi materi seminar.

Menurut Prof. Jusuf, perlu ada pengintegrasian aktivitas atau kegiatan pengmas dengan cara berkolaborasi dengan seluruh perguruan tinggi. Menindaklanjuti masalah tersebut, LPM UNAIR menginisiasi seminar pengmas pertama di Indonesia. Yakni Lokakarya dan Seminar Pengabdian Masyarakat pada Jum’at (19/10).

Bekerja sama dengan United Nations Emergency Children’s Fund (UNICEF) dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, seminar tersebut diadakan di Ruang Kahuripan, Lantai 3, Kampus C UNAIR. Seminar itu mengusung tema ”Pengabdian Perguruan Tinggi untuk Masyarakat Berkeadilan dan Berkemakmuran secara Berkelanjutan di Era Industri 4.0”.

Seminar tersebut dibuka dengan sambutan Wakil Rektor III Prof. Ir. Moch Amin Alamsyah M.Si., Ph.D. Dia menyatakan bahwa pengabdian masyarakat menjadi salah satu poin Tri Dharma perguruan tinggi. Karena itu, perguruan tinggj bisa membangun masyarakat mencapai keadilan sosial menyeluruh demi terwujudnya kesejahteraan secara global. Tujuan itu dapat digapai apabila dilakukan secara bersama-sama.

Prof. Haryono Suyono, MA., Ph.D didapuk menjadi pembicara pertama dalam seminar. Mantan menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Indonesia itu menyampaikan peranan perguruan tinggi membangun bangsa yang cerdas dan keluarga sejahtera. Menurut dia, tugas perguruan tinggi, salah satunya, menjadi pendamping desa. Hal itu diharapkan mampu merangsang inovasi dan membangun wirausaha sosial melalui gotong royong.

Prof. Haryono juga menyampaikan pesan Presiden Jokowi yang pernah diucapkan pada  Rabu (23/5). Presiden Jokowi berpesan, kita semua perlu memahami Revolusi Industri 4.0, sistem internet, dan dampaknya. Revolusi Industri 4.0 merupakan era canggih di mana ada konektivitas manusia, mesin, dan data yang dikenal dengan internet of things.

”Kunci keberhasilan era Revolusi Industri 4.0 bukan dari besarnya kapasitas industri. Tapi dari dinamika cepat masyarakat merespons kemajuan zaman (making Indonesia 4.0),” lanjut Prof. Haryono.

Selanjutnya, materi disampaikan Tubagus Arie Rumantara, S. Hum., selaku Kepala Perwakilan Unicef Wilayah Jawa. Perlu diketahui, UNICEF adalah organisasi internasional yang berada di bawah naungan PBB yang didirikan pada 11 Desember 1946. UNICEF bertujuan mengatasi kendala bahwa kemiskinan, kekerasan, penyakit, dan diskriminasi terjadi kepada anak. UNICEF juga membantu membangun dunia, yakni merealisasikan hak-hak setiap anak.

 

Tubagus Arie menyampaikan bahwa masih banyak ketimpangan anak. Terutama di bagian timur Indonesia. Padahal mandat dari SDGs (Sustainable Development Goals) yang tertera dalam tiga poin teratas, yakni tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan. Karena itu, UNICEF gencar bermitra dengan berbagai organisasi dan instansi di seluruh Indonesia.

”Hampir semua mitra kerja UNICEF adalah universitas. UNICEF butuh bantuan dari univesitas yang berfokus mengatasi permasalahan anak. Misalnya, subsidi anak dan praktik yang melibatkan nilai budaya, contohnya pernikahan dini,” tutur Tubagus Arie.

”Ke depan, fokus UNICEF adalah remaja. Sebelumnya UNICEF hanya berfokus pada permasalahan anak,” imbuhnya. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria