Penutupan Amerta Abiseka 2018 Dihadiri Gubernur Terpilih Jatim Khofifah

UNAIR NEWS – Sebelum memasuki masa kuliah, mahasiswa baru dikenalkan dengan kehidupan kampus. Momen tersebut menjadi sangat berkesan. Terutama ketika alumnus yang juga menempati posisi penting di pemerintahan datang untuk memberikan motivasi.

Hal itulah yang mungkin dirasakan sejumlah mahasiswa baru seusai mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2018 Universitas Airlangga. Kegiatan yang disebut Amerta itu ditutup pada Sabtu (11/8). Khofifah Indar Parawansa yang juga mantan Menteri Kabinet Kerja Jokowi hadir sekaligus menutup kegiatan itu bersama Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., AK., CMA. Gubernur Terpilih Jawa Timur itu juga menyampaikan paparan di hadapan 6780 mahasiswa baru UNAIR. Berikut keseruan penutupan tersebut yang digelar di Airlangga Convention Center (ACC) oleh tim UNAIR NEWS:

 




Rektor Berikan Pengarahan pada Orang Tua Mahasiswa Baru 2018

UNAIR NEWS – Orang tua mahasiswa baru 2018 Universitas Airlangga turut mengikuti kegiatan pengenalan kampus pada Jum’at (3/8). Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh Nasih menemui para orang tua dalam kegiatan bertajuk Forum Pimpinan UNAIR bersama Orang Tua Mahasiswa Baru Tahun 2018/2019. Silaturahmi itu mengajak orang tua mahasiswa dari 14 fakultas di lingkungan UNAIR untuk mengetahui system pendidikan di kampus sekaligus mengajak mereka turut mendukung pendidikan ananknya.

Dalam kegiatan di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus C UNAIR itu, para orang tua dapat menanyakan perihal pendidikan, juga yang lainnya, langsung kepada pejabat UNAIR. Berikut dokumentasi dari UNAIR NEWS:

 




Tips bagi Mahasiswa Baru untuk Optimalkan Potensi dari Mawapres UNAIR 2018, Reza Affandi

UNAIR NEWS – Thomas Alfa Edison pernah berkata “Persiapan hari ini menentukan prestasi dimasa depan”. Sebagai mahasiswa baru, penting sekali untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin diawal menjalani kehidupan perkuliahan untuk masa depan yang lebih baik. Berikut tips untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa baru dari Mohamad Reza Affandi, Mahasiswa Pendidikan Dokter 2015 sekaligus Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Airlangga (UNAIR) 2018.

Memahami diri Sendiri

Memahami diri sendiri mulai dari kekuatan, kelemahan, potensi maupun ancaman. Menurut pengalaman dari Reza, hal tersebut dapat diketahui dengan cara aktif mengikuti kegiatan organisasi apaun yang disukai, mengikuti tes minat dan bakat, maupun meminta pendapat orang tua.

“Dulu saya ikut hampir seluruh organisasi di kampus karena memang benar-benar tidak mengetahui minat dan bakat yang sesungguhnya. Namun perlahan organisasi yang tidak saya sukai, kemudian tersingkir ditahun kedua. Ini bukan soal buang-buang waktu, menurut saya justru investasi waktu untuk benar benar menggali minat, bakat, kelemahan, dan kelebihan diri seutuhnya. Bisa jadi kita multitalenta sehingga kita bertahan di dua atau tiga organisasi,” jelas Reza membagikan pengalamannya.

Membuat Rencana dengan Baik

Menurut Reza, perencanaan dapat dimulai dari perencanaan jangka panjang, yaitu satu tahun, empat tahun, sepuluh tahun, dua lima tahun, dan seterusnya. Untuk kemudian diperinci ke bulan, minggu, sampai hari.

“Saya melakukan perencanaan jangka pendek dan panjang. Pertama saya tentukan ingin menjadi apa untuk saat ini, harus jelas dan terukur. Saya memimpikan menjadi orang yang besar, hebat, dan memiliki dampak kepada orang lain. Berhubung jurusan saya kedokteran, ilmu saya sudah dapat diaplikasikan di masyarakat. Namun, saya ingin lebih. Saya memutuskan bercita-cita menjadi dokter spesialis penyakit dalam sekaligus berkarier di birokrasi pengendalian penyakit tidak menular (misalnya menteri kesehatan) Kemudian jangka pendeknya saya bagi perbulan, per minggu, dan per hari.. saya menuliskan jadwal saya tersebut di Google Calendar,” jelas Reza.

Mengenali Cara Belajar

Di perkuliahan, jelas Reza, jika mahasiswa tidak mengenali cara belajar yang cocok, maka belajar akan terasa sangat membosankan, waktu akan terbuang untuk belajar dan hanya mengandalkan hafalan. Sehingga, potensi diri tidak akan termaksimalkan.

“Di kedokteran, jujur saya melihat cara belajar harus diubah total dari belajar D-1 menjadi dicicil, dari hafalan menjadi pemahaman, strategi mengerjakan soal-soal dan seterusnya. Saya perlu waktu hampir satu tahun untuk menyesuaikan diri, mulai dari cara belajar, dan mengatur kesibukan,” terangnya.

Rajin Membaca Buku Favorit Non – Fiksi

Menurut Reza, membaca buku non fiksi sebanyak mungkin dapat berguna untuk meningkatkan wawasan diluar jurusan yang diambil selama masa perkuliahan. Sebagai alternatif lain, bagi mahasiswa yang tidak menyukai buku, Reza menyarankan untuk menyisipkan sebagian waktu guna menonton video produktif di YouTube.

Buat Lingkungan yang Positif

Reza meyakini bahwa di dunia ini terdapat dua tipe teman. Yaitu teman yang toksik dan teman yang produktif. Teman yang toksik adalah mereka yang memiliki karakter sangat berbeda dengan kita, dan selalu mengarahkan kepada hal-hal yang tidak baik. Untuk itu, jauhi teman toksik dan dekati teman yang produktif.

“Saya berusaha untuk bergabung dengan kelompok2 yang baik dan produktif. Dan menjalin komunikasi dengan mereka sesering mungkin. Misalnya: Komunitas, pembinaan beasiswa, asrama keagamaan, mentoring, dan lainnya,” jelas Reza.

Selain itu, bagi mahasiswa yang ingin menjadi mawapres seperti dirinya, Reza berpesan untuk mempersiapkan sejak dini. Mulai mengikuti banyak lomba dan organisasi, serta membangun IPK.

“Hal yang paling penting adalah istiqomah. Dalam hal ini, persisten dikeinginan tersebut,” pungkas Reza.

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan




“Amerta Abiseka” Tandai Mahasiswa Baru 2018 Resmi Menjadi Ksatria Airlangga

UNAIR NEWS – Seperti yang diungkapkan M. Fairuzzuddin Zuhair selaku Wakil Presiden BEM UNAIR 2018, dalam tajuk opini “ PKKMB AMERTA, Antara Cita-Cita dan Realita” yang ia tulis di kolom UNAIR NEWS dua pekan lalu. Menurutnya, Amerta Abiseka merupakan kegiatan penutupan inagurasi serta apresiasi tertinggi yang diberikan kepada mahasiswa baru karena telah menjalani kegiatan PKKMB.

Setelah rangkaian acara yang digelar mulai dari pembukaan PKKMB yakni pengukuhan mahasiswa baru. Kemudian dilanjut pada acara Amerta Candradimuka. Terakhir, sebagai penutup acara digelar Amerta Abiseka (11/08). Dapat dikatakan anti klimaks acara terletak pada Amerta Abiseka, pasalnya hal itu menandai berakhirnya ospek universitas.

“Kegiatan Amerta tahun ini sukses digelar, tidak ada mata acara yang dibatalkan dan diubah di hari-H, semua sesuai harapan, ” terang Dony Ali selaku Sie Acara Amerta 2018.

Mahasiswa yang akrab disapa Dony dengan tegas berujar bahwa ia tidak melebihkan acaranya sendiri, hal itu murni berdasar fakta bahwa Amerta 2018 mendekati sempurna, Dony menilai dari poin 1 – 10, Amerta tahun ini raih poin 9,5.

“600 panitia Amerta dan 6.527 mahasiswa baru bersinergi dan bekerjasama menyukseskan acara Amerta,” ungkap Dony Ali

Mengenai penamaan Abiseka, ia menjelaskan bahwa menurut sejarah pada masa Kerajaan Hindu, Abiseka dapat diartikan sebagai upacara pelantikan Raja Prabu Airlangga setelah ia ditempa dan digodok saat candradimuka. Hingga kemudian menyandang gelar Abiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

“Sedangkan dalam KBBI abiseka memiliki arti upacara yang dilakukan dengan cara mandi dengan air suci,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu juga turut hadir Khofifah Indar Parawansa, M.Si selaku Gubernur Jawa Timur dan alumni FISIP UNAIR.  Dalam kegiatan tersebut, Khofifah memberi sambutan singkat kepada mahasiswa baru. Dalam pidatonya, Khofifah menyebutkan bahwa dulunya Khofifah muda adalah aktivis yang turut andil dalam lahirnya reformasi politik 20 tahun silam. Menurutnya, tema besar 20 tahun reformasi yang diusung kali ini diharapkan dapat menginspirasi para mahasiswa baru untuk bergerak menjadi agen perubahan.

Selain itu, kemariahan Abiseka diwarnai dengan penampilan dari beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Terhitung empat UKM tampil dalam acara itu yaitu Taekwondo, Persaudaraan Setia Hati Teratai, Teater Mata Angin, dan Unit Kegiatan Tari dan Karawitan. Acara ditutup dengan penampilan solo dari Dudy Oris, mantan vokalis Yovie & Nuno sekaligus  alumni FEB UNAIR. Dudy membawakan lagu Menjaga Hati dan Untukku yang mampu menghinoptis para audiens di Airlangga Convention Center (ACC).

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Nuri Hermawan




Magang di Kemenkumham, Mahasiswa FH Belajar Analisis Kasus Napi Narkotika

UNAIR NEWS – Bukan sesuatu yang baru bagi mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga ketika mereka mengisi liburan dengan magang. Magang menjadi salah satu kegiatan yang dianggap menarik, khususnya saat mahasiwa telah menempuh semester V.

Meski tidak diwajibkan, tidak sedikit mahasiswa FH yang tertarik untuk mengisi liburannya dengan menambah ilmu di berbagai instansi. Misalnya, di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kejaksaan Negeri (Kejari), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Vivik Saraswati, misalnya. Salah seorang mahasiswa FH angkatan 2016 itu turut menceritakan pengalamannya saat magang di Kemenkumham baru-baru ini.

”Magang memang sesuatu yang biasa kalau di sini (FH, Red). Awalnya, tahu dari kakak tingkat dan kebetulan salah satu Badan Semi Otonom (BSO) International Law Students Association (ILSA) punya program kerja magang di Kemenkumham. Karena tertarik, jadi saya ikuti,” ujarnya.

”Meski saya bukan anggota ILSA, tapi boleh daftar. Ada juga teman-teman magang yang secara kolektif mengajukan ke instansi lainnya. Jadi, memang bergantung anaknya,” imbuhnya.

Biasanya magang dilakukan selama tiga minggu hingga satu bulan. Mengenai berkas yang diperlukan saat magang, menurut Vivik, berkas-berkas yang disyaratkan cukup mudah. Mahasiswa hanya perlu mengajukan surat permohonan magang yang telah disediakan fakultas, fotocopy kartu hasil studi (KHS), dan kartu tanda mahasiswa (KTM).

”Banyak banget yang saya pelajari. Mulai menganlisis kasus-kasus terkini. Dan, kadang ikut rapat dalam kantor yang membahas peraturan daerah (perda) provinsi atau kabupaten/kota, surat edaran, dan imbauan yang dianggap diskriminatif terhadap perempuan, anak, maupun, disabilitas. Jadi, di sana belajar secara substansi dan administrasi,” jelas Vivik perihal pengalaman yang didapat selama magang.

Vivik menambahkan, saat itu sangat banyak sekali, hampir lebih dari empat ratus aturan yang diskriminatif. Selain itu, dia belajar analisis kasus narapidana mati narkotika yang mengajukan grasi. Namun, saat grasinya belum turun, yang bersangkutan sudah meninggal.

”Ini (kasus grasi, Red) menjadi sesuatu baru bagi saya,” ungkapnya.

Selain itu, Vivik dan mahasiswa lain mengikuti diskusi publik yang diadakan Kementerian Agama. Yakni, soal moderasi beragama, intoleransi, dan hate speech.

”Ada juga diskusi publik yang diadakan LSM ELSAM yang membahas mengenai politik hukum RAN HAM. Di situ ada salah seorang dosen FH juga ternyata,” tuturnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Sambutan Hangat Suku Sasak Lombok Kepada Tim ENJ UNAIR

UNAIR NEWS – Delegasi Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) Universitas Airlangga berangkat menuju Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/8). Menggunakan Kapal Motor Penumpang (KMP) Legundi, tim ENJ UNAIR menuju lokasi sasaran di Dusun Slemang 2, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

“Kami berangkat pukul 08.15 dari basecamp di daerah Kedinding Tengah, Surabaya, menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak. Karena kami harus loading barang dulu, jadi harus berangkat lebih awal,” ujar Rizal Andi, salah satu delegasi ENJ dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR.

Sampai di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, tim ENJ UNAIR harus mengendarai truk sapi selama kurang lebih dua jam untuk menuju Dusun Slemang 2. Di sepanjang perjalanan menuju Slemang, terdapat banyak tenda-tenda yang didirikan warga untuk berlindung dari gempa.

“Tenda-tenda itu dirikan warga untuk tidur malam, karena mereka takut ada gempa susulan saat di malam hari. Namun karena banyaknya warga yang tidur di luar, terjadi peningkatan pencurian di dalam rumah, harus selalu waspada,” celetuk Sinto, mahasiswa Fakultas Hukum yang juga asli Suku Sasak.

Sesampainya di Dusun Slemang 2, tim disambut dengan ramah oleh warga setempat yang merupakan Suku Sasak. Ada yang unik dalam sambutan itu. Yakni, hidangan yang disuguhkan berupa sayur dadar. Sayur ini mirip sayur asem di Jawa. Bedanya, sayur dadar berisi kacang tanah dan kedelai yang masih terdapat kulitnya.

“Ini (sayur dadar, Red) sayur khas Suku Sasak yang disuguhkan untuk menyambut tamu yang datang,” ujur Bastoni, salah satu warga Suku Sasak yang menyambut tim ENJ UNAIR.

Setelah makan-makan, kegiatan selanjutnya adalah perkenalan anggota ENJ UNAIR 2018 kepada warga Suku Sasak Dusun Slemang 2. Dalam perkenalan juga dijelaskan tentang makna panggilan amak dan inak oleh warga.

“Amak adalah panggilan yang berarti bapak. Sedangkan Inak adalah panggilan yang berarti ibu. Sedangkan saya kan, panggilanya Amak Bastoni. Berarti saya ini bapak dari anak pertama saya yang bernama Bastoni. Amak dan inak di sini dipanggil dengan mana anak mereka masing-masing,” imbuh Bastoni dengan logat khas Lombok.

Setelah ramah tamah yang dilakukan bersama warga Suku Sasak, agenda selanjutnya adalah kegiatan sapa warga, dimana semua delegasi ENJ UNAIR 2018 berkeliling Dusun Slemang dan mengenalkan diri pada setiap warga yang ditemui di jalan.

Selama dua minggu ke depan, ada banyak kegiatan yang akan dilakukan tim ENJ UNAIR di Dusun Slemang 2. Antara lain menyembelih hewan kurban saat Idul Adha; mengajar; renovasi sekolah; sosialisasi hipertensi, gosok gigi, dan cuci tangan; upacara 17 Agustus dan lomba-lomba; pembagian tas sekolah ke siswa SD. Mereka juga akan mengadakan English Class, Campus Expo, dan sosialisasi kesehatan ternak. (*)

Penulis: Anca Laika

Editor: Binti Q. Masruroh




4th ICoCSPA FISIP UNAIR, Bahas Isu Globalisasi Teknologi Digital

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari rangkaian acara Dies Natalis ke-41, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga menggelar International Conference on Contemporary Social and Political Affairs (ICoCSPA) 2018. Konferensi yang sudah digelar untuk kali keempat itu mengusung tema “Global Digital Age”.

Bertempat di Ballroom Hotel Santika Premiere, Gubeng, Surabaya pada Senin (13/8), konferensi itu menghadirkan Prof. Ronald A. Lukens-Bull dari University of North Florida yang mengusung bahasan  Digital Religion, Fanaticism & Terrorism, Prof. Cheryll Ruth Soriano dari De La Salle University yang mengusung tema Digital Labour Solidarity, Prof. Ariel Heryanto dari Monash University yang mengusung bahasan tentang Social Media & Identity Politics in Indonesia, dan Prof. Henry Subiakto selaku The Indonesian Ministry of Communication and Informatics yang mengusung bahasan Indonesia Internet Policies.

Usai pemaparan pada sesi pertama, awak media diperkenankan untuk menggali lebih dalam mengenai bahasan yang pemateri usung dalam konferensi. Dihadapan awak media, Prof. Cheryll Ruth Soriano dari De La Salle University mengungkapkan banyak hal seputar solidaritas tenaga kerja digital yang semakin masif di era globalisasi. Baginya, solidaritas tenaga kerja digital di era globalisasi sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kekuatan baru dan menjadi salah satu hal yang menentukan arah sosial dan politik.

“Interaksi dalam media utamanya, ini adalah cara untuk mempermudah interaksi antara pelaku tenaga kerja digital,” jelasnya.

Menambahkan pernyataan Prof. Cheryll, pemateri selanjutnya, Prof. Ariel Heryanto memberikan beberapa paparan tentang peran sentral media dalam mengawal setiap periode zaman. Bahkan, tambahnya, adanya media telah memberikan sumbangsih besar dalam proses kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Makanya, jauh sebelum istilah hoaks menjadi bahasan publik, hoaks sebenarnya sudah ada. Hanya saja dalam bentuk dan istilah yang berbeda,” jelasnya.

Sementara itu, sebagai Ketua Panitia ICoCSPA ke-4 FISIP UNAIR, Titik Puji Rahayu, S. Sos., M.Com., mengatakan bahwa tema tentang globalisasi teknologi digital tengah menjadi isu yang hangat untuk diperbincangkan. Selain itu, menurutnya, era digital yang sedang terjadi ini memiliki dampak positif maupun negatif.

“Di era global seperti saat ini, teknologi digital sangat memberikan warna bagi berbagai isu, seperti agama, terorisme, buruh, dan sebagainya,” paparnya.

Penulis: Nuri Hermawan




UNAIR Dukung Gerakan Kejar Mimpi Anak Muda melalui Leadership Camp Surabaya

UNAIR NEWSBermimpilah setinggi langit. Jika kamu jatuh, maka kamu akan jatuh di antara bintang-bintang. Kalimat bijak dari presiden pertama Republik Indonesia itu mengajarkan untuk jangan pernah takut bermimpi. Mimpi menjadi awal seseorang menyusun langkah dalam merencanakan dan mencapai tujuan hidup. Tanpa mimpi, tentu seseorang hanya akan menghabiskan waktu tanpa tahu arah yang akan dituju.

Mimpi dan anak muda adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sebab, pada rentang usia tersebut, seseorang mulai mencipta beragam cita dan impian. Namun, rupanya, tak sedikit anak-anak muda yang hilang harapan dan membiarkan mimpinya padam disebabkan berbagai latar belakang dan permasalahan.

Karena itu, sebagai bentuk kepedulian untuk menghidupkan kembali mimpi anak-anak muda, UNAIR bersama komunitas penggagas gerakan Kejar Mimpi menggelar acara Leadership Camp Surabaya pada Sabtu (11/8). Bertempat di Aula Fadjar Kartonagoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), acara tersebut dihadiri ratusan anak muda dari berbagai kota di Jawa Timur.

Kegiatan itu merupakan wujud kontribusi UNAIR dalam mendukung gerakan Kejar Mimpi yang dirintis sejak 2017. Leadership Camp Surabaya merupakan salah satu rangkaian acara dari Kejar Mimpi.

Mengangkat tema ”Creating Breakthruogh for Indonesian Youth”, Leadership Camp kali ini menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif sebagai pembicara. Di antaranya, Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih Emil Elestianto Dardak; Musisi/aktris Maudy Ayunda dan Sandra Dewi; Direktur SDM CIMB Niaga Heidy Lapian; serta dokter sekaligus dosen muda UNAIR Indri Lakhsmi Putri, dr., Sp. BP-RE(KKF).

Para pembicara saling berbagi pengalaman hidup dan usaha mereka dalam mencapai mimpi. dr. Indri, salah satunya. Dia menuturkan perjuangannya menggapai mimpi hingga menjadi seperti sekarang tidaklah mudah. Indri sempat merasakan berbagai kendala selama menempuh pendidikan sebagaimana banyak dirasakan anak-anak muda. Meski begitu, dia membagikan kunci keberhasilannya meraih mimpi.

”Kuncinya, ada dua. Jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. Sering pikiran negatif dalam diri menjadi penghalang untuk mengejar mimpi. Itu yang harus dihindari,” sebutnya.

Cevi Agis, penggagas gerakan Kejar Mimpi sekaligus koordinator acara menjelaskan bahwa Kejar Mimpi merupakan gerakan sosial yang memberikan dukungan kepada anak-anak muda di Indonesia untuk mewujudkan mimpinya. Baik melalui kampanye di media sosial maupun pergelaran acara di beberapa kota di Indonesia. Meski tergolong baru, gerakan tersebut mendapat antusias yang luar biasa dari anak-anak muda.

Dari sekian banyak perguruan tinggi di Jawa Timur, UNAIR menjadi universitas yang terpilih karena reputasinya sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia. Cevi sangat berterima kasih karena UNAIR telah mendukung dan membantu terselenggaranya acara dengan sangat baik.

”Mempertimbangkan sisi prestasi dan lokasinya seperti apa. Jadi, kami memilih UNAIR. Apalagi, setelah kami menghubungi Bu Siwi dari PPKK, ternyata mendapat respons yang sangat baik. Dari pihak kampus appreciate banget. Jadi, bisa menambah value anak-anak UNAIR dan ajang networking juga,” ungkap Cevi.

”Kita ingin lebih banyak lagi anak-anak muda, khususnya di Surabaya, yang terinspirasi gerakan sosial Kejar Mimpi. Kita ingin mendorong anak-anak muda berani bermimpi dan pantang menyerah,” imbuhnya. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




Inilah Empat Tips Memilih Hewan Kurban yang Baik

UNAIR NEWS – Tanggal 10 Dzulhijjah atau tepat pada tanggal 22 Agustus 2018 mendatang merupakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban. Idul Kurban merupakan suatu perayaan yang memberikan makna yang luas bagi umat Muslim. Yang mana, umat Muslim disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Salah satu syarat terpenting dalam melaksankan ibadah kurban adalah memberikan hewan kurban yang sah berdasarkan syariat Islam dengan kualitas yang baik. Mengenai hal itu, UNAIR NEWS merangkum tips memilih hewan kurban yang baik sesuai dengan syariat Islam. Nara sumber topik ini adalah Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si yang menjabat sebagai ketua Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR).

  1. Batas Minimal Umur Hewan

Aspek yang mendasari pemilihan hewan kurban yang baik pertama adalah mengenai umur hewan kurban. Hewan kurban yang sah untuk dikurbankan seperti kambing dan domba harus sudah memenuhi umur satu tahun. Sedangkan sapi dan kerbau harus sudah genap dua tahun.

“Cara lain untuk mengetahui adalah dengan melihat gigi hewan. Hewan yang sah ditandai dengan adanya pergantian gigi, yaitu bila dua gigi susu bagian depan sudah tanggal,” jelasnya.

2. Bentuk Tubuh Hewan

Aspek yang kedua ialah bentuk tubuh yang serasi dan tidak cacat. Hewan yang akan dikurbankan harus diperhatikan panjang tubuh, tinggi tubuh, keserasian, dan tidak cacat. Dikatakan serasi jika hewan tersebut standar atau normal. Selain itu, tulang punggung hewan kurban relatif rata atau lurus, tanduknya seimbang, dan kakinya simetris.

“Ciri-ciri yang lain ialah postur tubuh hewan tersebut ideal dengan kombinasi perut, kaki depan dan belakang, kepala, serta leher,” tambahnya.

3. Kesehatan Hewan

Aspek yang ketiga ialah kesehatan hewan. Ciri-ciri hewan yang sehat secara fisik yaitu hewan aktif dan reaktif ketika didekati oleh seseorang. Hewan yang sehat akan lincah, kuat, bersemangat, tidak pincang, tidak gelisah, dan selera makannya bagus.

Lebih lanjut, hewan yang sehat juga memiliki rambut halus yang mengkilap dan tidak mudah rontok. Rambut juga tidak berdiri dan tidak mengalami perubahan warna. Di permukaan kulit hewan juga terbebas dari parasit kulit seperti tungau, caplak, kutu, dan sebagainya.

“Perlu diperhatikan, jika kulit hewan terlihat kusam dan badannya kurus berarti menandakan hewan tersebut mengalami cacingan,” tambahnya.

Sedangkan penyakit yang sering terjadi pada hewan kurban ialah kelelahan yang bisa terjadi akibat proses distribusi. Hewan kurban juga sering mengalami diare dan penyakit demam tiga hari atau BOVINE Ephemeral Fever (BEF). Serta, bebas dari kudis yang mayoritas berasal dari tempat tinggal awal hewan.

4. Persentase Berat Hewan

Aspek yang terakhir ialah persentase berat karkas. Karkas adalah bagian dari ternak setelah disembelih yang terdiri dari daging dan tulang, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Karkas dihitung berdasarkan berat hewan saat masih hidup. Sebagai acuan, sapi PO (Peranakan Ongole) harus memiliki berat karkas 40-45 persen, sapi Bali 52-55 persen, sapi Madura 46-48 persen, sapi peranakan limousin 52 persen, dan sapi peranakan simental 51 persen. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




Tangkal Paham Radikal, Bradanaya FIB Perkuat Diskusi Pancasila

UNAIR NEWS – Serangkaian agenda kegiatan Bradanaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga berfokus pada pencegahan paham-paham radikal. Salah satu upayanya berupa diskusi kritis soal ideologi Pancasila kepada mahasiswa baru 2018 FIB UNAIR. Khususnya ditujukan untuk penguatan ideologi  Pancasila.

Bertempat di ruangan Prapanca FIB UNAIR Kamis (9/8), Balayudha, tim disiplin kepanitian Bradanaya FIB, memberikan tema ”Deradikalisasi Terorisme yang Berbentuk Kekerasan”. Balayudha selaku coordinator diskusi tersebut mengajak mahasiswa baru saling bersikap kritis soal tema besar dengan berbagai sudut pandang.

Dalam paparannya, Koordinator Balayudha Ridho Permana menjelaskan bahwa konsep radikal itu bisa ditangkal dengan pemahaman mengenai kebangsaan. Yakni, dengan menjelaskan sejarah dan makna Pancasila.

Menurut Ridho, cikal bakal Pancasila sudah ada pada masa kerajaan Majapahit. Bentuknya adalah Bhineka Tunggal Ika. Kata di Kitab Sutasoma tersebut menjadi simbol pemersatu keberagaman Nusantara pada masa lalu.

”Bhineka Tunggal Ika adalah tahap dasar yang paling utama. Ini adalah (semboyan, Red) awal pembentuk Pancasila, kemudian pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya 29 Mei sampai 1 Juni 1945, founding father (pendiri bangsa) membuat Pancasila,” ujarnya.

Memahami Pancasila

Menurut Ridho, dalam memahami Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia, pertama yang harus dipahami adalah agama, konsep Ketuhanan. Ketika beragama, akan muncul rasa toleransi antar-umat beragama. Karena itu, rasa toleransi tersebut yang bakal membentuk rasa kemanusiaan.

Kemudian, jika rasa kemanusiaan sudah terbentuk, akan muncul rasa persatuan. Bila sudah ada rasa tersebut, akan terbentuk kerakyatan. Sebuah bangsa yang dipimpin pemimpin yang bijaksana, terdapat kata mufakat dalam proses (pemilihan) musyawarahnya.

”Dan jika sudah tercapai nilai ketuhanan, kemanusiaa, persatuan, serta keterwakilan yang mufakat, akan terbentuk nilai keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkap mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UNAIR tersebut.

Pemaparan tentang Pancasila seperti di atas adalah bentuk efektif untuk menangkal pemahaman radikalisme. Penanaman nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk diberikan kepada mahasiswa baru agar tidak terpengaruh paham yang salah.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta Reza memberikan pernyataan bahwa kesalahan pemahaman tentang cara beragama juga dapat menjadi imbas terbentuknya radikalisme. Menurut dia, ada dampak-dampak buruk dari radikalisme yang tampak menggejala di masyarakat akhir-akhir ini.

Sementara itu, ditemui setelah kegiatan di ruangannya, Kepala Bagian Kemahasiswaan FIB UNAIR Bayu menanggapi diskusi kritis itu sebagai cara untuk melihat dasar serta niat tumbuhnya radikalisme. Penting, lanjut dia, untuk mengetahui sebab-sebab sekaligus mativasi seseorang berlaku radikal.

”Bagi saya, kita perlu untuk melihat keluar bagaimana radikalisme itu terbentuk. Hal yang dilakukan mahasiswa (panitia, Red) sudah baik. khususnya mengenalkan kepada mereka (mahasiswa baru) terkait bahayanya radikalisme,” tuturnya. (*)

 

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa’i