Guru Besar 88 Tahun Memukau Hadirin dengan Permainan Biola

UNAIR NEWS – Diusia yang ke 88 tahun, Prof. I G. N. Gde Ranuh, dr, Sp.A(K) tampil memukau dalam acara Tribute Lecture XVI di Aula, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rabu (14/2). Dalam kesempatan itu, Prof Ranuh menampilkan kebolehannya memainkan biola di depan puluhan tamu undangan.

Guru besar ilmu kesehatan anak ini memainkan dua buah lagu diiringi alunan piano yang dimainkan dengan lembut oleh Prof Dr dr Jusak SpPK (K). Penonton pun terkesima menyaksikan penampilan memukau pria kelahiran 23 November 1939 itu.

Acara Tribute Lecture XVI kali ini menampilkan Prof Ranuh sebagai sosok inspiratif. Graha Masyarakat Ilmiah Kedokteran (Gramik) FK UNAIR dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR -RSUD Dr. Soetomo menyelenggarakan acara ini sebagain bentuk penghargaan atas jasa beliau sebagai salah satu perintis keilmuan di bidang kedokteran anak.

Dalam perjalanan karirnya, mantan dekan FK UNAIR ini menjadi salah satu perintis dan penyusun kurikulum Pendidikan Dokter Anak Indonesia. Kurikulum  pertama disusun dan diresmikan pada 1976, kemudian disempurnakan pada 1978 dan 1990. Hingga kini, kurikulum tersebut masih digunakan sebagai pedoman pendidikan kedokteran anak di Indonesia.

Suami RA Rabiatul Abdijah itu juga menjadi salah satu perintis Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga.

Sederet penghargaan pernah diraih Prof Ranuh atas dedikasinya selama ini. Pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 1978, serta penghargaan dari anggota Board APSSEAR (Association of Pediatrics, S.E. Asian Region) di Tokyo, Jepang, tahun 1988.

Selain memainkan biola, kakek 13 cucu itu juga menyampaikan orasinya terkait pro kontra imunisasi anak di Indonesia.

Penampilan memainkan biola oleh Prof Ranuh saat itu memang memberi warna tersendiri. Hampir belum pernah selama penyelenggaraan acara Tribute Lecture, sosok inspiratif yang dihadirkan menampilkan sesuatu yang berbeda.

Jiwa bermusik memang sudah lama melekat dalam diri Prof Ranuh sejak muda. Di tengah kesibukannya sebagai dokter dan dosen kala itu, Prof Ranuh tetap meluangkan waktu untuk bermusik. Dari sang ayah, dia belajar cara membaca not balok, dan mempelajari biola secara otodidak.

“Dari kecil sudah kenal dengan musik. Soalnya, ayah saya hobi bermain seruling dan biola,” tutur pria  yang masih aktif menjadi guru besar emeritus di FK UNAIR itu.

Selain bermusik, Prof Ranuh juga hobi berenang. Saking hobinya, sampai sekarang Prof Ranuh masih meluangkan waktu untuk berenang. Setidaknya, tiga kali seminggu dia berenang bersama anak dan cucu-cucunya.

“Olahraga itu tidak harus berapa lama, yang penting rutin,” papar mantan rektor Universitas Hang Tuah tersebut.

Biola seolah telah menjadi bagian dari hidupnya. Terbukti sampai sekarang, Prof Ranuh masih meluangkan waktunya bermain dengan biola kesayangan. Dengan kemampuan yang masih dimiliki, terbersit tanya, Apa rahasia awet sehatnya Prof Ranuh ini ya?.

Dengan kalem, Prof Ranuh menjawab, “Syukuri apapun yang kita peroleh,“. Luar biasa, semoga menginsipirasi kita semua. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Binti Q. Masruroh




Seminar Nasional Ilmu Komunikasi

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga melalui Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menggelar seminar nasional komunikasi pada Rabu (14/2). Tema yang diangkat adalah ”Ilmu Komunikasi Indonesia Menghadapi Tantangan Global Pendidikan Tinggi Komunikasi pada Era Digitalisasi Teknologi.”

Bertempat di Hotel Santika Premiere Surabaya, seminar itu menghadirkan enam pembicara dari perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Pada sesi pertama menghadirkan Prof. Hafied Cangara (Universitas Hasanudin/Unhas); Prof. Ilya Sunarwinadi (Universitas Indonesia/UI); dan Prof. Widodo Muktiyo (Universitas Negeri Surakarta/UNS). Kemudian pada sesi kedua ada Dr. Eny Maryani (Universitas Padjajaran/Unpad); Dr. Hermin Indah Wahyuni (Universitas Gadjah Mada/UGM); dan Ratih Puspa, Ph.D., (UNAIR).

Berikut dokumentasi foto oleh UNAIR NEWS.




Sambut Pendaftaran SNMPTN, UNAIR Buka Konsultasi untuk Masyarakat

UNAIR NEWS – Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) bakal dibuka besok lusa, Rabu 21 Februari 2018. Karena itu, sebagai bentuk tanggung jawab atas keterbukaan informasi kepada publik, Universitas Airlangga melalui Pusat Informasi dan Humas (PIH) bersama dengan Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) memberikan kesempatan kepada seluruh kepala sekolah, guru, orang tua, dan siswa SMA sederajat untuk berkonsultasi mengenai jalur masuk, beasiswa, hingga memilih program studi yang tepat di UNAIR.

Mengenai hal tersebut, Ketua PIH UNAIR Dr. Suko Widodo menyatakan bahwa kesempatan itu harus dimanfaatkan dengan baik oleh pihak-pihak yang menginginkan informasi dan konsultasi seputar UNAIR. Pasalnya, dengan konsultasi serta mengetahui dengan baik informasi yang dibutuhkan, siswa akan lebih siap dan matang dalam memilih program studi di UNAIR.

“Ini adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan. Baik bagi para kepala sekolah, guru, orang tua, maupun siswa SMA untuk melihat gambaran secara lengkap tentang UNAIR,” ujarnya.

Pakar komunikasi politik tersebut juga menegaskan, kesempatan menggali informasi dan konsultasi akan dilayani langsung selama tiga hari. Yakni, mulai 23 hingga 25 Februari 2018.

“Untuk hari Jumat, kami buka konsultasi seusai salat Jumat hingga sore. Sementara itu, untuk Sabtu dan Minggu, kami mulai pagi hingga sore,” tandasnya.

Nanti, tambah Suko, acara itu akan dilangsungkan di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. Selain berkonsultasi dan menggali berbagai informasi tentang UNAIR, acara yang dikemas dalam Airlangga Education Expo tersebut bakal menyajikan berbagai talk show.

“Nanti juga ada diskusi langsung dengan rektor UNAIR. Karena itu, kami menggundang semua pihak untuk hadir dalam acara yang sangat penting ini,” pungkas Suko.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria R




UNAIR dan UI Wakili Indonesia pada Kompetisi Peradilan Semu di Washington

UNAIR NEWS – Delegasi Badan Semi Otonom (BSO) International Law Student Association (ILSA) Fakultas Hukum, Universitas Airlangga bersama delegasi Universitas Indonesia (UI) akan mewakili Indonesia di ajang kompetisi peradilan semu (moot court) Philip C. Jessup di Washington, D.C, USA, 1-7 April 2018 mendatang.

Pendelegasian ini diputuskan setelah keduanya berhasil mengalahkan 24 delegasi lain dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia lewat kompetisi yang diselenggarakan oleh Indonesian Society of International Law (ISIL) di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, beberapa waktu yang lalu. Delegasi UNAIR memperoleh juara Runner Up dan delegasi UI memperoleh juara I.

“Philip C. Jessup adalah kompetisi peradilan semu internasional tertua di dunia. Setiap tahun diadakan putaran nasional dimana dua tim terbaik akan mewakili negara tersebut untuk bertanding di putaran internasional,” tutur Dewi Santoso selaku ketua delegasi.

Para delegasi yang mewakili ILSA dalam kompetisi kali ini ialah Dewi Santoso (2015) oraralis sekaligus ketua delegasi, Bima Adhijoso (2015) oralis, Zulfikar Winarno (2015) oralis, Regine Wiranata (2016) oralis, dan Mutiara Kasih (2014) tim advisor. Selain tim inti tersebut, juga terdapat researchers yakni Megawati Widjaja (2016), Maya Assegaf (2015), Shofy Suma (2016), dan Thesalonica (2017).

Di babak penyisihan, delegasi UNAIR melawan empat tim berbeda. Di babak quarter melawan Universitas Atmajaya Jakarta, di babak semi final melawan Universitas Padjajaran, dan di babak final melawan Universitas Indonesia.

“Materi tahun ini cukup bervariasi dan sangat menantang. Di antaranya keabsahan putusan arbitrase, penangkapan kapal, perang di laut, dan kewajiban pelucutan senjata dalam hukum internasional,” ujar mahasiswa semester enam itu.

Sebelumnya, selama enam bulan lamanya para delegasi mempersiapkan segala sesuatu untuk menunjang penampilan mereka saat lomba. Mulai dari pembuatan berkas memorial hingga presentasi oral pleading.

Tak dipungkiri, sebelum mengikuti kompetisi, delegasi BSO ILSA mengalami kendala perihal biaya. Sebab, biaya yang dikeluarkan cukup banyak, mulai biaya pendaftaran hingga keberangkatan. Namun hal itu membuahkan hasil yang memuaskan dengan mengantongi predikat Runner Up.

“Kami sangat senang dan bersyukur. Kami tidak meyangka karena selama 14 tahun UNAIR mengikuti lomba ini akhirnya kami bisa mencapai posisi ini dan berkesempatan untuki mewakili Indonesia di putaran Internasional,” tambah Dewi. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




Sinergi UNAIR-MUI Perkuat Potensi Ekonomi

UNAIR NEWS – Kedatangan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH. Ma’ruf Amin disambut hangat oleh jajaran pimpinan Universitas Airlangga. KH. Ma’ruf Amin yang juga anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UNAIR itu datang untuk memenuhi undangan dari MWA guna memberikan sejumlah masukan.

Dalam pertemuan singkat yang dilangsungkan di ruang rektor pada Sabtu (16/2), KH. Ma’ruf Amin menyinggung hal mengenai sinergi peran perguruan tinggi dan MUI dalam mengembangkan potensi ekonomi. Dengan didampingi oleh istri dan beberapa pengurus MUI, KH. Ma’ruf Amin menyatakan bahwa dalam mengembangkan potensi ekonomi, MUI sangat membutuhkan peran perguruan tinggi. Karena itu, dia berharap UNAIR mampu menjadi salah satu kampus yang mengambil peran yang lebih dalam meningkatkan potensi ekonomi yang ada di tengah masyarakat.

“Peran PTN (perguruan tinggi negeri, Red) dalam memaksimalkan potensi umat bisa melalui penelitian dan seperangkat sistemnya. Terlebih lagi sekarang ini era digital. Kita semua tahu bahwa yang mengerti dan memahami digital ada di perguruan tinggi,” terang KH. Ma’ruf Amin.

Selanjutnya, dalam mengembangkan potensi ekonomi, KH. Ma’ruf Amin menegaskan bahwa sistem membangun ekonomi dari bawah perlu dilakukan. Karena itu, MUI mendorong perguruan tinggi agar bertanggung jawab dalam memberikan bimbingan dan inovasi.

“Karena itu, dalam menata ekonomi bangsa, MUI sangat membutuhkan sinkronisasi dan dorongan serta inovasi dari PTN,” tandasnya.

Menanggapi pernyataan KH. Ma’ruf Amin, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menyatakan bahwa dalam mengembangkan potensi yang ada di tengah masyarakat, UNAIR telah berkomitmen melalui penyelanggaran program studi yang terkait. Selain itu, pihaknya memiliki Pusat Riset dan Pengembangan Produk Halal.

“Kami memiliki program studi doktoral ekonomi syariah pertama di Indonesia. Sekarang sudah lengkap dari S1 dan S2. Selain itu, kami telah menyediakan Pusat Riset dan Pengembangan Produk Halal,” sebut Prof. Nasih.

Senada dengan rektor, Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM., yang juga hadir pada pertemuan itu menyampaikan bahwa sinergi dan kolaborasi memang sangat penting. Karena itu, Prof. Djoko menegaskan bahwa pihaknya siap berkomitmen untuk hal-hal tersebut.

“Untuk mengembangkan potensi itu, kami juga berharap MUI bersedia memberikan sertifikasi untuk Pusat Riset dan Pengembangan Produk Halal serta rumah sakit yang kami miliki,” terangnya.

Pada akhir perbincangan, Prof. Nasih kembali menegaskan bahwa untuk meningkatkan sinergi antara UNAIR dan MUI, pihaknya berharap KH. Ma’ruf Amin ke depan berkenan memberikan kuliah tamu, seminar, dan ceramah di UNAIR. “Kami berharap pada bulan puasa nanti KH. Ma’ruf Amin berkenan untuk mengisi ceramah di masjid kampus,” pungkas Prof. Nasih. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Deklarasi Konsorsium Ilmu Komunikasi Sebagai Awal Diversifikasi Perguruan Tinggi

UNAIR NEWS – Usai melangsungkan kegiatan Konsorsium Nasional Ilmu Komunikasi ke-7, Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga memberikan keterangan hasil konsorsium kepada awak media melalui konferensi pres pada Kamis (15/02). Konferensi Pres tersebut dilakukan oleh empat perwakilan dari sepuluh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit yang membuka jurusan Ilmu Komunikasi di Indonesia.

Keempat perwakilan tersebut adalah Prof. Ilya Sunarwinadi, Ph.D., dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Hafied Cangara, Ph.D., dari Universitas Hasanudin (UNHAS), Dr. Pinckey Triputra, M.Sc., dari Universitas Indonesia (UI), dan Dr. Yayan Sakti Suryandari, S.Sos., M.Si., dari Universitas Airlangga (UNAIR).

“Pertemuan Konsorsium Ilmu Komunikasi ini sudah kali ke-7 dan sekaligus pada pertemuan kali ini kami ingin mendeklarasikan adanya Konsorsium Ilmu Komunikasi di Indonesia” jelas Yayan saat membuka Konferensi Pres.

Selanjutnya, Prof. Ilya menjelaskan bahwa konsorsium pertama yang diselenggarakan di UI, awalnya bertujuan sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah administratif dan keilmuan. Hal itu, nantinya  menjadi rumusan permasalahan di Ilmu Komunikasi yang akan disampaikan ke pemerintah.

Menambahkan pernytaan Prof. Ilya, Pinckey mengatakan bahwa diawali dengan sedikitnya anggota hingga konsorsium disambut baik oleh semua institusi pendidikan tinggi yang memiliki jurusan Ilmu Komunikasi. Hal itu, tambahnya, dilandasi tujuan dari organisasi untuk memajukan Ilmu Komunikasi di Indonesia. Mengingat bidang Ilmu Komunikasi yang semakin populer.

“Adanya organisasi ini tidak bertujuan untuk menyaingi organiasi lain sejenis tapi ini bentuk rasa kepedulian untuk memajukan dunia pendidikan khususnya Ilmu Komunikasi dari kami, pihak-pihak yang concern akan kemajuan dan perkembangan Ilmu Komunikasi ke depan” jelas Pinckey.

Senada dengan yang lain, Hafied menambahkan bahwa pada pertemuan konsorsium ke-7 tidak hanya mendeklarasikannya secara resmi tapi juga diangkat tema “Ilmu Komunikasi Indonesia Menghadapi Tantangan Global Pendidikan Tinggi Komunikasi di Era Digitalisasi” sebagai bahasan untuk memunculkan penyelesaian permasalahan bersama.

Menanggapi hal tersebut, pertemuan konsorsium ini telah menumbuhkan sebuah sudut pandang baru bahwa teknologi digital bukanlah ancaman tapi tantangan dan pacuan suatu peluang Ilmu Komunikasi agar menjadi lebih menarik lagi. Salah satunya melalui Diversifikasi.

“Diversifikasi yang kami harapkan sehingga tidak terjadi penyeragaman Ilmu Komunikasi pada semua PTN tapi setiap PTN menggambarkan karakter mereka yang khas dan kekhususan masing-masing untuk kekayaan Ilmu Komunikasi itu sendiri,” jelas Prof. Ilya kembali.

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan




Adik Kecil

Burung bangau mulai kembali

Sang Surya mulai menepi

Diam diam sang Senja datang

Tersenyum hangat obat kerinduan

 

Indah langit sore tak terbantahkan

Penuh cerita seharian

Tak adil memang tak adil

Kala sang anak mulai menggigil

 

Rumah tak kokoh tak berbata

Rumah tak hangat tak berjendela

Adik kecil mulai bercerita

Tentang om om bermobil berwarna

 

Sang kakak mulai bernyanyi

Bak iwan fals yang sedang konser di bali

Bedanya ini di pinggir kali

Tak ada sound system apa lagi genset bermuatan tinggi

 

Kakak dan adik mulai berduet

Kakak bermain gitar dan adik bernyanyi dengan cerewet

Tak merdu tak ada yang penting semangat nyanyi tak boleh padam

Agar tak tergores dinginnya malam

 

Sungguh malang nasibmu

Sungguh terasa sangatlah pilu

Jangan lah kau adik kecilku

Pasti ada orang baik yang kan menolongmu

 

Sabarlah Tuhan tau apa yang terjadi di Negeri ini tentang panas dingin tinggi rendah apapunlah Itu jangan lah engkau putus asa.

 

Penulis: Arham M. Azhari




10 PTN Terkemuka Bahas Isu Komunikasi di FISIP UNAIR

UNAIR NEWS – Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga mendapat kehormatan sebagai tuan rumah pertemuan Konsorsium Nasional Ilmu Komunikasi ke-7. Acara yang mengusung tema “Ilmu Komunikasi Indonesia Menghadapi Tantangan Global Pendidikan Tinggi Komunikasi di Era Digitalisasi Teknologi” dilangsungkan pada Kamis (15/2).

Bertempat di Ruang Adi Sukadana Gedung A FISIP UNAIR, acara itu dihadiri oleh 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Ialah Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai tuan rumah, Universitas Indonesia (UI), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Andalas (Unand), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Brawijaya (UB).

Hadir mewakili Dekan FISIP UNAIR untuk memberikan sambutan, Prof. Myrtati Dyah Artaria, M.A., Ph.D., selaku Wakil Dekan III FISIP UNAIR. Dalam sambutannya, Prof. Myrtati mengatakan bahwa pihaknya merasa bangga bisa menjadi tuan rumah bagi 10 PTN terkemuka yang memiliki Program Studi Ilmu Komunikasi di Indonesia.

“Bagi FISIP, Departemen Ilmu Komunikasi sangat membanggakan dan memiliki segudang prestasi. Untuk itu, perlunya dilakukan diskusi tentang isu-isu penting yang menyangkut dunia komunikasi dalam konsorsium ini, semoga acara ini dapat bermanfaat secara optimal untuk Indonesia,” tutur ahli Antrpologi Forensik itu.

Senada dengan Prof. Myrtati, Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR Dr. Yayan Sakti Suryandaru, S.Sos.,MSi., mengatakan bahwa dengan adanya konsorsium itu, nantinya dapat menghasilkan banyak hal dan kemajuan dalam mengembangkan keilmuan komunikasi di Indonesia dan dunia.

“Melalui konsorsium ini, semoga langkah-langkah strategis bagi pendidikan Ilmu Komunikasi dalam menghadapi tantangan pergerakan dan tren global pendidikan komunikasi di dunia dan perkembangan teknologi digital dapat dirumuskan dengan baik,” jelas Yayan.

Sebelum dilaksanakan di FISIP UNAIR, Konsorsium Nasional Ilmu Komunikasi sebelumnya dilaksanakan di Kota Malang. Ke depan Konsorsium Nasional Ilmu Komunikasi diharapkan dapat konsisten digelar rutin dua tahun sekali di PTN Indonesia dengan tujuan untuk terus memajukan pendidikan Ilmu Komunikasi.

 

Penulis: Nuri Hermawan




Komitmen Bersama Empat Prodi Lewat AUN-QA

UNAIR NEWS – Empat program studi di lingkungan Universitas Airlangga kembali mendapat akreditasi dari ASEAN University Networking-Quality Assessment (AUN-QA). Empat prodi itu ialah prodi pendidikan bidan, akuntansi, pendidikan ners, dan pendidikan dokter gigi.

Seusai pelaksanaan akreditasi yang dimulai pada Selasa (13/2), asesor dari AUN-QA memberikan laporan di hadapan jajaran pimpinan UNAIR pada Kamis (15/2). Bertempat di Aula Kahuripan 301, Prof. Dr. Fauza Ab. Ghafar yang mewakili tim asesor menyampaikan beberapa hal seputar laporan akreditasi.

Guru Besar dari University of Malaya, Malaysia, tersebut menyampaikan bahwa ada sebelas kriteria yang menjadi indikator penilaian AUN-QA. Semuanya meliputi tahap awal, proses, hingga luaran yang dihasilkan dari program studi. Salah satu yang perlu diupayakan adalah konsistensi program studi dalam memenuhi kebutuhan di lapangan.

“Hal yang juga penting dalam hal ini adalah kiprah alumni  untuk memberikan sumbangsih, baik bagi almamater maupun mitra kerja yang sudah dibangun,” ujarnya.

Menanggapi pernyataan dari asesor AUN-QA, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menyatakan bahwa UNAIR secara konsiten terus membangun iklim inovasi. Selain itu, perubahan demi perubahan menjadi bagian yang terus dilakukan, terlebih pada era digital dan informasi seperti saat ini.

“Saya berharap dengan akreditasi ini ada hubungan timbal balik guna memberikan masukan-masukan yang bisa kami gunakan untuk terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas institusi ini,” terangnya.

Selain rektor, dalam kesempatan itu, beberapa perwakilan dekan memberikan tanggapan. Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes., salah satunya. Dekan FKG UNAIR itu menegaskan bahwa dalam meningkatkan kualitas, riset memang menjadi basis pendidikan yang terus digalakkan di FKG UNAIR.

“Karena itu, sebagai bentuk kontrak kinerja yang telah ditetapkan rektor, kami akan terus memperkuat hal tersebut,” tegasnya.

Selain Dekan FKG UNAIR, Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons)., selaku dekan FKp UNAIR menegaskan bahwa pihaknya akan berkomitmen untuk terus berbenah. Terutama dalam meningkatkan kualitas mahasiswa dan mengandeng mitra dengan kerja sama.

“Hal ini tentu demi menyongsong visi bersama menjadi bagian dari 500 besar kampus kelas dunia,” jelas Prof. Nursalam. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Untuk Anak, Manfaatkan MSG dari Bahan Alami

UNAIR NEWS – Di jaman serba instan seperti sekarang, tampaknya sulit menghindar dari olahan makanan yang mengandung Monosodium glutamat MSG, atau yang lebih akrab disebut micin atau vetsin. Ini yang membuat sebagian para orang tua merasa khawatir ketika memberikan asupan makanan untuk buah hatinya.  Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?

Sebenarnya, MSG tidak hanya ada pada penyedap rasa saja. Beberapa bahan alami yang biasa kita konsumsi sebenarnya juga mengandung MSG. Seperti tomat, keju, susu, ayam, bebek, daging, makarel, salmon , telur, ikan, bayam, kentang, jagung, brokoli, kecap, bahkan daun pandan.

Seperti kita tahu, MSG berguna sebagai penambah cita rasa gurih pada makanan, sehingga menambah nafsu makan. Lalu bagaimana memperkenalkan rasa gurih yang aman bagi anak-anak?

Menurut dokter spesialis anak FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo Dr. Irwanto dr., Sp.A(K), pengenalan rasa gurih melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI) sebenarnya bisa disiasati dengan memanfaatkan kandungan glutamat dari bahan alami. Seperti dari sayuran dan bahan alami lainnya. Misalnya, memanfaatkan gurihnya kaldu ayam dan kaldu daging dalam menyajikan MPASI.

“Bayi berusia enam bulan sudah bisa diperkenalkan sedikit demi sedikit dengan rasa gurih melalui penyajian MPASI. Cara ini efektif supaya anak mengenal rasa tapi nggak sampai berlebihan dan bisa dibatasi,” ungkap peraih penghargaan Global Travel Award oleh Bill nad Melinda Gates Foundation ini.

Meskipun Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) memperbolehkan penggunaan MSG, namun kadar pemakaian tetap harus dibatasi sesuai dengan aturan. Kecuali pada orang-orang yang diketahui alergi, maka perlu menghindari.

Sebenarnya penggunaan garam lebih dulu populer sebelum MSG. Ceritanya, tahun 1996 WHO memperbolehkan penggunaan MSG untuk mengurangi tingkat konsumsi garam yang diketahui cukup tinggi pada saat itu.

“Dulu garam banyak dikonsumsi, akibatnya banyak yang mengalami hipertensi. Untuk menghindari itu, WHO kemudian memperbolehkan MSG digunakan sebagai penyedap rasa. Itu saja sebenarnya,” ungkapnya.

Bicara soal garam dan MSG, tampaknya sulit mengekang kegemaran lidah masyarakat kita yang cenderung menggemari cita rasa masakan yang gurih. Padahal sebenarnya garam lebih berbahaya ketimbang vetsin. Karena MSG diketahui hanya mengandung 30 persen natrium lebih sedikit ketimbang pada garam. Sayangnya sedikit dari kita yang menyadari hal itu.

Kesalahan pada cara memasak tentu sangat mempengaruhi jumlah penggunaan garam. Untuk itu, Irwanto menyarankan sebaiknya pemberian garam dilakukan setelah semua proses memasak berakhir.

“Jadi selama masak jangan dikasih garam dulu, nanti setelah matang baru garamnya dimasukkan. Ini cara paling aman. Selain  kita bisa mengoreksi rasa,  pemakaian garam pun juga akan terkendali,” ungkapnya.

Kontroversi pemakaian MSG sebenarnya telah berlangsung sekitar tahun 1960an. Saat itu, New England Journal of Medicine mengungkap sebuah laporan terkait komplain dari sekelompok orang yang mengeluh pusing dan muntah setelah makan di sebuah restoran chinese food.

Berangkat dari laporan tersebut, sekitar tahun 1970 sejumlah peneliti mulai mengembangkan penelitian chinese food syndrome. Dua kelompok manusia diuji. Sebagian mengonsumsi makanan mengandung MSG, sebagian lain tidak. Ternyata, kelompok yang mengonsumsi makanan mengandung MSG mengalami faringitis atau gangguan tenggorokan, sementara sebagian lain tidak mengeluhkan gejala apapun. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata efek faringitis terjadi karena dampak alergi pada MSG.

FDA menegaskan bahwa reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan karena MSG. Semua tergantung pada tingkat sensivitas tubuh.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya.

Para peneliti sepakat bahwa pemberian MSG pada hewan coba berdampak pada sel saraf serta menyebabkan terjadinya perubahan pada korteks yang terkait pada fungsi kognitif.

Irwanto menekankan, pemberian MSG pada hewan coba memang terbukti membawa efek toksik. Karena sampel dipapar MSG dengan takaran lebih tinggi dari yang biasa dikonsumsi manusia. Namun hasil percobaan pada hewan belum bisa memperkuat dugaan bahwa efek MSG juga sama bahayanya jika dikonsumsi manusia.

Sejauh ini penelitian seputar MSG masih sebatas pada hewan coba, dan belum ada peneliti yang mengaplikasikan pada manusia. Mengingat sampai sejauh ini belum ada laporan kasus yang mendesak para peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut.

“Sejauh ini hanya didapatkan observasi berupa keluhan pusing dan muntah sebagai efek dari chinese food syndrome. Dan itu terjadi karena alergi,” ungkap wisudawan terbaik UNAIR tahun 2013 tersebut.

Bahkan berdasarkan riset baru-baru ini oleh Staging di University of Iowa menyimpulkan bahwa MSG tidak berdampak pada anak yang mengalami hiperaktif atau gangguan perilaku yang lain. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh