Jawa Timur Tetap Kekuatan Kelima POMNAS 2017, Kempo Ukir Sejarah

UNAIR NEWS – Kontingen Jawa Timur harus rela tetap berada di ranking kelima, atau lima besar dari 34 Tim BAPOMI Provinsi se-Indonesia yang mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XV, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dalam pertandingan di hari terakhir, Jumat (20/10) kemarin, Jatim yang berangkat dengan kekuatan apa adanya, artinya bukan atlet mahasiswa terbaik di Jatim, masih sanggup berada di lima besar dengan meraih 12 medali emas, 26 medali perak, dan 28 perunggu. Pesaing ketatnya adalah Jawa Tengan, meraih medali 13 emas, 16 perak, dan 32 perunggu.

”Seandainya di hari terakhir sebanyak lima cabor yang menempatkan atlet Jatim di final dan berbuah emas, Jatim akan mengungguli Jateng. Tetapi ternyata di basket, baik putera dan puteri hanya meraih perak, demikian juga voli indoor untuk nomor puteri,” kata Drs. Hany Natawidjana, penasihat Kontingen BAPOMI Jatim.

Sedangkan kontingen DKI Jakarta masih yang terkuat di arena POMNAS. DKI memperoleh 51 emas, 32 perak dan 35 medali perunggu. Disusul di urutan kedua Jabar yang menurunkan sebagian besar atlet mahasiswa eks PON 2017, meraih 26 medali emas, 24 perak, dan 31 perunggu. Tuan rumah Sulawesi Selatan membuat kejutan dengan segenap rekadayanya berada di posisi ketiga dengan 26 emas, 12 perak, dan 21 perunggu.

ukir sejarah
TIM basket puteri usai menerima medali dalam UPP hari Jumat (20/10) petang. (Foto: Bambang Bes)

Pada hari terakhir kemarin Jatim hanya menambah dua medali emas, melalui nomor Randori puteri kelas 50 cabor kempo atas nama Lyoba Seila Perada Usen, serta cabor sepak takraw di nomor ganda puteri (dua pemain).

”Alhamdulillah, kami sangat mensyukuri hasil ini, dimana tahun ini merupakan keikutsertaan Kempo Jatim yang pertama kali dan langsung memperoleh 1 medali emas, 1 perak dan 3 perunggu. Ini sejarah baru,” kata Cuk Prasetyo, pelatih Kempo Jatim.

Sedang di final cabor voli puteri, Jatim dikalahkan DKI Jakarta, sedang di nomor voli putera Jatim meraih perunggu setelah mengalahkan Banten. Dari matras kempo juga menghasilkan medali perak di nomor embu berpasangan putera dan tiga perunggu nomor randori putera 50 dan 55, serta embu berpasangan putera.

Di final cabor basket, tim puteri Jatim yang diperkuat beberapa mahasiswa UNAIR, dikalahkan DKI Jakarta. Sedangkan di nomor basket putera, Jatim mengulang prestasi dua tahun lalu di Banda Aceh, yaitu meraih medali perak. Jika di POMNAS XIV lalu kalah dari DKI, tahun 2017 ini kalah dari tetangga DKI, yaitu BAPOMI Provinsi Banten. Jatim kalah dengan skor 79-63.

“Raihan Sulsel ini merupakan sebuah prestasi, sebab di POMNAS 2015 lalu di Aceh, Sulsel hanya mampu mengumpulkan 6 emas, 8 perak dan 7 perunggu dan finish di peringkat ke-6,” tulis di website resmi POMNAS 2017. (*)

Penulis: Bambang Bes




Pertama, PIPS UNAIR Ajak Dosen Magang Peduli Lingkungan

UNAIR NEWS – Pusat Inovasi Pembelajaran dan Sertifikasi Universitas Airlangga menggelar pengabdian masyarakat bersama puluhan dosen magang Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi. Acara pengmas bertajuk peduli lingkungan itu dilangsungkan di Ekowisata Mangrove Surabaya, Jumat (20/10).

Usai melakukan kegiatan peduli lingkungan dengan membersihkan area Ekowisata Mangrove dari berbagai jenis sampah, Yuni Sari Amalia, S.S., MA., selaku ketua PIPS UNAIR mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan panggilan jiwa. Bagi perempuan yang akrab disapa Yuni itu, kebersihan lingkungan merupakan hal penting, terlebih jika hal itu menyangkut lokasi wisata dan tempat ekosistem alam.

“Secara personal saya memang peduli dengan lingkungan, utamanya terkait sampah. Ini yang menjadi keprihatinan saya saat melihat lautan sampah di sini,” terangnya.

Meski sederhana, kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh PIPS bersama dosen magang itu bagi Yuni merupakan langkah kecil yang bisa memberikan dampak yang besar. Pasalnya, Yuni bertekad bahwa ke depan akan ada gerakan-gerakan serupa yang konsen pada kebersihan lingkungan.

“Meski membersihkan sampah yang besar itu harus berkolaborasi dengan pihak-pihak yang lebih luas, tapi ini langkah kecil kami dengan menggandeng dosen magang agar kegiatan ini ke depan bisa menjadi gerakan yang lebih baik,” paparnya.

Mengenai langkah ke depan, Yuni berharap bahwa dosen magang yang belajar di UNAIR bisa mengaplikasikan berbagai ilmu yang di dapat di UNAIR termasuk rasa kepedulian terhadap lingkungan. Tidak hanya itu, Yuni juga ingin jika suatu saat pihak pengelola wisata bisa menjadi wisata pengmas menjadi salah satu cara untuk mengajak wisatawan peduli dan cinya pada lingkungan.

“Selain itu, meski sudah ada perhatian dari pemerintah, saya harap perhatian lebih tetap diberikan untuk daerah-daerah seperti di kawasan mangrove,” tandasnya.

Yuni juga ingin bahwa kegiatan serupa bisa melibatkan dosen dan mahasiswa UNAIR. Selanjutnya, seusai salat jumat, Yuni bersama rombongan bakal menuju ke bank sampah di kawasan Mangrove di Gunung Anyar, Surabaya.

“Kami bakal belajar dengan salah satu tokoh penggerak bank sampah yang sudah sukses dan menjadi inspirasi nasional. Selanjutnya, dosen magang kami juga mengajar kepada anak-anak di sekitar bank sampah,” terang Yuni. “Jadi saling terkait, kita diberi ilmu, kita juga memberikan ilmu,” pungkas Yuni. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor :  Binti Q. Masruroh




Antara UU ITE dan Kebebasan Berekspresi di Era Saat Ini

UNAIR NEWS – Adanya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) rupanya tidak sepenuhnya membawa dampak positif dalam dinamika komunikasi dan informasi. Pasalnya, UU ITE tidak jarang dijadikan ‘alat’ untuk bermain politik maupun merugikan orang lain. UU yang seharusnya menjadi perlindungan ini justru banyak mengandung pasal karet yang keberadaannya dimanfaatkan oleh oknum-oknum untuk menjebloskan orang lain ke dalam jeruji besi.

Adanya sanksi pidana dalam UU ITE nampaknya tidak diamini oleh salah satu dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga Dr. Herlambang Perdana Wiratraman. Melalui diskusi media yang bertajuk “Journalism Is Not a Crime” yang diadakan pada Kamis, (19/10) Herlambang mengatakan bahwa ada lima alasan mengapa dirinya tidak menyetujui pidana pers diberlakukan bagi kegiatan jurnalistik.

“Saya memiliki lima alasan mengapa saya tidak menyetujui pidana pers diberlakukan bagi kegiatan jurnalistik. Pertama judicial precedent (Putusan Kasasi MA), kedua perkembangan hukum kebebasan ekspresi negara, ketiga rekomendasi PBB, keempat ketidakakurasian dan ketidakmanfaatan penggunaan pemidanaan pers (sosiologi hukum, sejarah hukum), dan kelima arah pembangunan hukum Indonesia (Dewan Pers, BPHN, SEMA 2008),” tutur Herlambang.

Sejalan dengan Herlambang, jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengatakan bahwa amandeman terakhir UU ITE ini masih belum maksimal karena berbagai persoalan belum dapat dipecahkan.

“Sebagai sebuah refleksi, amandemen UU ITE kemarin tidak cukup karena tidak menjawab permasalahan yang ada. Hari ini kita memang tidak berhadapan dengan rezim yang mengekang kebebasan berekspresi seperti masa orde baru. Tetapi secara tidak langsung, kita sedang berhadapan dengan hal-hal yang mengarah ke situ. Misalnya ketika polisi membubarkan diskusi yang sedang berjalan,” ungkap Dandhy.

Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan Prof. Henry Subiakto. Ia memaparkan mengenai isu-isu krusial UU ITE sekaligus tren masyarakat mengakses internet yang semakin lama semakin banyak.

“UU ITE adalah payung hukum aktivitas di dunia maya. Adanya UU ITE merupakan extensi norma dunia nyata ke dunia maya. Sehingga, apa yang dilarang di dunia nyata maka dilarang pula di dunia maya,” ujar staf ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika bidang hukum tersebut. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Binti Q. Masruroh




Belajar Sastra Membuat Sri Ratnawati Belajar Realita Kehidupan

UNAIR NEWS – “Rasa bahasa yang hadir pada karya sastra selama ini sering menghipnotis pembaca-pembacanya. Rekam jejak sejarah yang dimunculkan dalam karya fiksi membuat orang lain paham tentang apa yang telah terjadi pada masa lampau,” begitulah penuturan Sri Ratnawati, dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga saat menjelaskan betapa pentingnya seseorang untuk belajar sastra.

Ratna sapaan karibnya adalah salah satu dosen di FIB yang begitu cinta dengan sastra. Baginya, sastra adalah representasi kehidupan di dunia ini. Apapun yang terjadi pada kehidupan manusia, telah digambarkan jelas dalam karya sastra.

Menurut dosen yang pernah menerbitakn jurnal ilmiah dengan judul Dialektika Hindu-Jawa Islam dalam Serat Mi’raj ini, jika menyinggung perihal sastra, maka perlu untuk diketahui bahwa akan ada sebuah karya dimana sastra mengemas tiga budaya dalam satu wadah, karya itu adalah sastra pesisiran. Akan didapatkan budaya Hindu, Jawa, dan Islam di dalamnya.

Proses penyiaran Islam yang dilakukan di masa silam salah satunya melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Ratna menuturkan, melalui karya-karya sastra pesisiran, penyebaran agama Islam menjadi lebih efektif.

“Apalagi sastra pesisiran lebih kepada membungkus Islam dengan tradisi sebelumnya,” tambah Ratna.

Saat diwawancarai, dosen asal Madura ini mengatakan bahwa Islam bukanlah anti tradisi, tetapi lebih pada toleransi terhadap tradisi yang hadir sebelum Islam datang. Tentu, adaptasi tradisi itu dengan menggunakan gaya-gaya yang baru.

Dikatakan Ratna, tokoh yang ditulis dalam sastra pesisiran sudah mengarah pada nama-nama Islam. Namun, beberapa masih menyinggung tradisi Hindu dan Budha. Misalnya, nama dewa dan dewi, tokoh khayangan, dan tradisi yang lainnya. Oleh karena itu sastra pesisiran adalah salah satu alat yang digunakan untuk merepresentasikan orang-orang zaman dahulu dalam hal toleransi terhadap sesama.

“Terlihat jelas, orang terdahulu lebih luwes pandangannya terhadap dunia luar dibandingkan orang-orang modern sekarang ini,” tutur dosen yang sedang melakukan penelitian mengenai dongeng Madura ini.

Ratna menambahkan, saat Islam mulai mewarnai agama di Nusantara, tradisi Hindu-Budha tidak serta merta langsung dihapuskan. Namun tetap dibungkus dengan apik agar Islam dapat lebih mudah disebarkan dan diterima oleh masyarakat umum.

“Islam tidak pernah menafikkan tradisi yang lebih tua. Sejarah semacam ini perlu dipelajari oleh setiap orang, tidak hanya orang-orang yang bergelumit di bidang budaya saja, agar setiap pribadi mampu menghargai setiap perbedaan yang ada di muka bumi ini,” ujar Ratna.

“Sastra itu tidak pernah berbohong. Apapun yang dituliskan itu adalah riil. Walaupun memang sastra dikemas dalam bentuk fiksi, namun berangkatnya dari realitas,” tambah Ratna.

Ratna berujar, sastra pesisiran tidak membicarakan hitam putih atau benar dan salah. Namun, sastra ini menggambarkan bagaimana konsekuensi bagi orang baik dan orang jahat, maupun perbuatan benar dan salah.

Sebagai seorang akademisi, Ratna memiliki harapan kepada masyarakat umum, khususnya kalangan pemuda, agar lebih mencintai sastra. Karena dari sastra, dunia dapat dilihat dalam sekejap.

“Sastra selalu memberikan pelajaran moral untuk bekal hidup, serta memberi tahu kita bagaimana orang-orang terdahulu dalam mengatasi masalah dengan tidak emosional,” tandas Ratna diakhir wawancara. (*)

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor : Binti Q. Masruroh




Kunjungi Kejaksaan Negeri Surabaya untuk Kembangkan Pengetahuan

UNAIR NEWS – Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Semi Otonom (BSO) Forum Studi Bisnis (FSB) Fakultas Hukum Universitas Airlangga, mengadakan kunjungan ke Kejaksaan Negeri Surabaya, Selasa (17/10). Kunjungan ke Kantor Kejaksaan Negeri Surabaya tersebut dilakukan guna lebih mengenal jaksa sebagai pengacara negara.

Kunjungan bertema “Mengenal Peran Kejaksaan dalam Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara” ini diikuti tidak kurang dari 35 mahasiswa yang merupakan anggota FSB maupun luar FSB.

“Kita sengaja melakukan kunjungan di kejaksaan karena kita ingin memperkenalkan bahwa kejaksaan tidak hanya berkutat mengenai pidana tetapi juga perdata dan juga tata usaha negara. Selain itu, FSB yang bergerak dalam bidang hukum bisnis tidak membatasi anggotanya untuk belajar mengenai perdata saja,” ujar Firyal Iqbal selaku ketua panitia.

Selanjutnya, Iqbal juga mengatakan bahwa kunjungan ke Kejaksaan Negeri Surabaya merupakan kali pertama diadakan. Namun, bersama rekan-rekannya ia pernah berkunjung ke instansi lain seperti company visit ke PT. Petrokimia Gresik serta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Selain itu, anggota FSB juga berkunjung ke universitas lain untuk menghadiri undangan legal discussion maupun kuliah tamu seperti di Univesitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Indonesia.

Kedatangan mahasiswa ke Kejaksaan Negeri Surabaya disambut oleh Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya Didik Farkhan Alisyahdi S.H., M.H, dan Sidharta Praditya Revinda Putra S.H.,M.H, selaku salah satu Pengacara Negara. Keduanya banyak memberikan wawasan kepada mahasiswa melalui materi-materi yang diberikan.

Pada kesempatan ini Sidharta menyampaiakan tugas dan wewenang Kejaksaan RI, lingkup bidang perdata dan TUN, Prosedur menggunakan Jasa Jaksa Pengacara Negara (JPN), serta etika JPN dalam beracara.

“Untuk dapat menggunakan jasa JPN, Negara atau Pemerintah atau BUMN maupun BUMD mengajukan permintaan secara tertulis kepada Kejaksaan untuk memberikan bantuan hukum, pertimbangan hukum, dan tindakan hukum lain. Khusus untuk anggota masyarakat dapat mengajukan permintaan secara tertulis atau lisan untuk memberikan pelayanan hukum di bidang perdata dan TUN. Permohonan tersebut disertai surat kuasa khusus (SKK) sebagai dasar hukum bagi JPN bertindak untuk dan atas nama pemohon sebagai pemberi kuasa,” ujar Sidharta.

Selain itu, Didik juga memberikan gambaran mengenai syarat dan prosedur pendaftaran jaksa yang membuat mahasiswa sangat antusias. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan




Di Balik Penobatan Duta Fakultas Psikologi Pertama

UNAIR NEWS – “Ini adalah kemenangan mahasiswa semuanya, kemenangan mahasiswa psikologi UNAIR, siapapun yang menjadi pemenang, semuanya adalah duta-duta terbaik yang akan mewakili dan mengharumkan nama Fakultas Psikologi,” tutur Dr. Nurul Hartini, M.Kes, Dekan FPsi dalam sambutannya pada Grand Final Duta Psikologi UNAIR 2017.

Pemilihan duta FPsi untuk pertama kalinya membawa antusiasme di kalangan mahasiswa. Sejak pendaftaran dibuka pada 26 September silam, puluhan pendaftar dari berbagai angkatan mengumpulkan berkas sebagai persyaratan. Pendaftar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, namun juga non-akademik yang dibuktikan melalui prestasi yang telah diperoleh. Selain itu, mereka juga dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan baik serta berpenampilan menarik.

“Untuk tahap pertama memang kami harus mengumpulkan berbagai berkas dan memenuhi persyaratan, termasuk IPK minimal 2.75 hingga menguasai bahasa Inggris dan Indonesia,” tutur Awwalu Nur Rizqi yang dinobatkan sebagai Duta Berbakat.

Sebelum diumumkan ke babak final, seluruh pendaftar harus mengikuti tes tulis dan focus group discussion (FGD) dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Forum FGD itu mengambil tema seputar pengetahuan umum tentang FPsi dan UNAIR.

Setelah terpilih 13 finalis yang siap dikarantina, proses seleksi masih berlanjut. Kali ini dewan juri memberi tantangan membuat video berkaitan dengan pengenalan salah satu ruangan yang ada di FPsi dan video unjuk bakat. Waktu pengerjaan video relatif singkat. Di samping itu, finalis masih harus menempuh perkuliahan dan aktivitas lainnya.

“Awalnya kaget, namun semakin dipikir bahwa ‘nanggung’ sudah sampai di sini dan mengapa tidak sekalian ditotalitaskan,” terang Awwalu yang akrab dipanggil Cicik.

Cicik bercerita, beberapa saat menuju malam puncak Grand Final pada Rabu (18/10), ke-13 finalis melakukan depth interview.

Hingga tibalah pada tahap akhir, seluruh finalis dihadapkan pada sesi tanya jawab seputar dunia psikologi. Tantangannya ialah, mereka harus menjawab pertanyaan yang diajukan dihadapan dewan juri dan tentunya penonton yang hadir.

“Mengapa psikologi menjadi ilmu yang dibutuhkan bagi kehidupan saat ini? Karena pada dasarnya, psikologi mempelajari jiwa dan karakter individu. Apabila mengetahui hal tersebut, maka hubungan dan interaksi akan semakin terbangun,” Jawab Rhajiv Nur Ilham.

Tiga besar finalis yang terpilih masing-masing mendapat pertanyaan yang sama, yakni bagaimana cara memaknai kemenangan, apabila malam ini dinobatkan sebagai Duta Psikologi.

“Pertama bersyukur pada Tuhan YME, kemudian berusaha semaksimal mungkin berbakti pada Fakultas Psikologi, dan aktif berpartisipasi pada kegiatan fakultas maupun universitas,” jawab Rhajiv Nur Ilham yang dinobatkan sebagai Duta Fakultas Psikologi pertama. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor : Binti Q. Masruroh




Bedah Buku Ajak Berprestasi dan Sebarkan Kabar Positif

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari sumbangan pemikiran untuk almamater, Drs.Ec.A.Cholis Hamzah, M.Sc. menulis buku dengan judul Renungan tentang Inspirasi Bangsa. Buku itu ia tulis tahun 2012 setelah berkeliling ke berbagai negara, baik untuk urusan pendidikan maupun kepentingan pekerjaan.

Karya Cholis itu pun di bedah pada Kamis (19/10) dengan menghadirkan empat pembicara, di antaranya Cholis Hamzah selaku penulis buku, Brigjend TNI (Purn) Soebagijo, S.H., M.Hum, Akhyari Hananto Founder media Good News From Indonesia, Prof. Teddy Ontoseno, dengan moderator Iman Dwi Hartanto yang merupakan penyiar radio Suara Surabaya.

Renungan tentang Inspirasi Bangsa sebagai buku pertama yang ditulis Cholis merupakan hasil kontemplasi dirinya selama hidup dan belajar di negeri orang. Buku itu terdiri lebih dari 50 artikel di dalamnya.

Dalam kesempatan bedah buku itu, Cholis banyak berbicara tentang fakta-fakta positif tentang Indonesia yang jarang, bahkan tidak terekspose oleh media. Padahal, banyak orang pintar yang menghasilkan produk unggul serta menghasilkan karya-karya bermanfaat.

Menanggapi hal itu Cholis mengatakan, media memiliki andil dalam memberitakan hal-hal positif. Bukan justru yang sering menjadi jargon, “Bad news is good news”.

“Seluruh bangsa termasuk media harusnya punya ideologi untuk ikut memajukan anak-anak bangsa,” ujar Cholis.

Alumnus prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi (sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis) UNAIR itu menambahkan, mestinya, pemerintah turut ambil andil dalam memajukan masyarakat Indonesia dimata asing. Misalnya, dengan memberikan penghargaan kepada anak-anak bangsa yang memiliki prestasi. Sehingga, hal ini turut memicu munculnya prestasi-prestasi yang lain.

“Harus diberi penghargaan orang-orang Indonesia yang tangguh dan berprestasi di luar negeri. Diberitakan media. Sehingga mereka memiliki kebanggaan sebagai anak bangsa,” tambah Cholis.

Sepakat dengan Cholis, Ahyari Hananto mengajak peserta untuk memiliki pola pikir optimistik. “Dari sekian banyak keprihatinan di negara ini, yakinlah bahwa masih banyak orang baik, pintar, dan taat beragama. Jangan sampai mereka lari dan pergi meninggalkan Indonesia,” ujar Ahyari.

Pada kesempatan itu, ada beberapa peserta yang memberikan kritik untuk perbaikan buku “Renungan tentang Inspirasi Bangsa”. Salah seorang peserta dari Surabaya mengusulkan, ada edisi revisi buku dengan mencantumkan kapan tulisan dibuat, menambahkan index buku, penambahan gambar agar pembaca tidak bosan. Ia juga memberi saran agar format buku lebih diperkecil supaya lebih mudah untuk dibawa kemana-mana. (*)

Penulis: Binti Quryatul M

Editor : Nuri Hermawan




Pameran Produk Inovasi Mendorong tumbuhnya UMKM di Surabaya

UNAIR NEWS – Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir membuka pameran bertajuk Inovator Inovasi Indonesia Expo (I3E), Kamis (19/10). Pameran yang berlangsung di Grand City Convention and Exhibition Hall, Surabaya, itu digelar dengan tujuan menumbuhkan iklim yang kondusif bagi pengembangan inovasi di Indonesia.

Pemeran inovasi yang akan berlangsung selama empat hari itu melibatkan 458 peserta dari seluruh Indonesia. Tujuh bidang yang dipamerkan meliputi pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), transportasi (laut, darat, dan udara), teknologi maju termasuk nano teknologi, teknologi pertahanan dan keamanan, dan bidang energi terbarukan. Tujuh bidang itu yang menjadi fokus pemerintah saat ini.

“Pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) Indonesia masih kalah dengan negara tetangga. Singapura tumbuh sebesar 7% dari jumlah penduduk, Malaysia 5%, sedangakan Indonesia hanya 1,6%. Riset di Indonesia harus bisa mendorong inovasi di Indonesia,” papar Nasir.

Nasir menambahkan, pertumbuhan 1,6% di Indonesia yang berbasis teknologi hanya 0,4%. Sebanyak 1,2% berbasis pada lingkungan dan budaya.

“Biasanya karena orang tua pebisnis, anak ngikut menjadi pebisnis, yang artinya UMKM di Indonesia masih berbasis pada lingkungan dan budaya,” ucap Nasir.

Dalam pameran itu, Universitas Airlangga menempatkan berapa inovasi unggulannya. Seperti Illuminator CNC-Photodynamic Laser, Bio Imuno Formula, Bhagenta, Nonikit, Bio KSB-1, Permen Susu Kedelai, Bio-N Oils, Dentolaser Varises Indonesia berupa aplikasi, dan masih ada beberapa produk yang lain.

Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih mengapresiasi inovasi dari dosen dan mahasiswa di UNAIR yang mengikuti pameran.

“Produk ini siap untuk dipasarkan. Hilirisasi tinggal menunggu waktu dan akan terus didorong untuk bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ucap Nasih sambil menunjuk stan-stan dari dosen dan mahasiswa UNAIR.

Nasih menyebutkan, pertumbuhan UMKM saat ini sudah sangat signifikan. Tahun 2017 dengan target 400 startup company, ternyata hingga kini sudah menembus 661. Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu menambahkan, ke depan UMKM bisa berbasis pada teknologi, bukan hanya sebatas pada tema lingkungan dan budaya. Dengan berbasis teknologi, akan memberi nilai tambah bagi perusahaan di tengah perkembangan era digital.

Menambahkan pernyataan Nasih, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, pertumbuhan sturtup company ini dapat membawa tren positif menyikapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Selain itu, pertumbuhan sturtup company dapat memengaruhi masyarakat untuk terus bersaing.

“Era yang memerlukan daya saing ini harus direspon dengan inovasi yang memiliki nilai jual secara global,” ucap gus Ipul sapaan akrabnya.

Idealnya, pertumbuhan UMKM indonesia harus mencapai 5% pertahun. Untuk itu, Kemenristek Dikti mewakili pemerintah berupaya mengumpulkan investor. Teknologi yang paling banyak diminati yaitu pangan, energi, dan Teknologi Informasi (IT). Ke depan, IT harus mengusai informasi yang lebih spesifik lagi. Hal ini karena Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM berbasis teknologi. (*)

Penulis : Helmy Rafsanjani

Editor : Binti Q. Masruroh




Rangkaian Perhelatan 63 Tahun Universitas Airlangga

UNAIR NEWS – Tepat 10 November mendatang, Universitas Airlangga genap berusia 63 tahun. Mengusung tema “Indonesia Adil dan Beradab” peringatan 63 Tahun UNAIR diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai kegiatan yang melibatkan sivitas akademika hingga masyarakat umum.

Beragam kegiatan itu bakal dilaksanakan sejak 9 Oktober hingga 24 November mendatang. Kegiatan besar pertama adalah acara Rector Cup yang akan berlangsung berlangsung hingga 23 Oktober. Pada laga Rector Cup diisi dengan berbagai lomba seperti Badminton, Catur, Voli, Futsal, Basket, Bridge, Pencak Silat, Tenis, Tenis Meja, Karya Tulis, dan Pekan Seni Mahasiswa.

Kedua, kegiatan besar yang bakal berlangsung pada 22 Oktober mendatang adalah Minggu Sehat Ceria. Pada gelaran Minggu Sehat Ceria serangkaian kegiatan akan berlangsung seperti CMS Surabaya Run, Jalan Sehat dan Lomba Senam UNAIR, Bazar, Panen Raya, Lomba Bakar Ikan, Lomba Vocal Group, dan Pojok Layanan.

Berlanjut acara besar ketiga adalah Lomba Cipta dan Baca Puisi yang bakal berlangsung 5 November. Kemudian dilanjutkan dengan Book Sale yang bakal dilangsungkan mulai tanggal 6 hingga 12 November.

Lomba Paduan Suara Nasional Tingkat SMA juga bakal digelar pada tanggal 8 November. Selanjutnya, Sarasehan Nasional dengan tema “Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Kehidupan Kebangsaan Indonesia yang Demokrasi dan Berkeadilan Sosial” akan dilangsungkan pada tanggal 8 dan 9 November.

Acara selanjutnya yang menjadi kebanggaan seluruh sivitas akademika dan bangsa Indonesia adalah Peresmian Rumah Sakit Terapung. RS Terapung perdana yang dilayarkan oleh institusi pendidikan tinggi ini bakal diresmikan pada tanggal 9 November.

Puncak dari peringatan Dies Natalis ke-63 UNAIR yang jatuh pada 10 November bakal diisi dengan sidang universitas yang diisi dengan orasi ilmiah. Selanjutnya ada tiga kegiatan besar yang bakal menjadi serangkaian acara penutup, yakni Pentas Wayang Orang pada 11 November, Pekan Pengabdian Masyarakat pada tanggal 11 hingga 18 November, dan kegiatan terakhir adalah Malam Penganugerahan UNAIR pada tanggal 24 November.

Ayo, kita semarakkan 63 Tahun kampus tercinta, Universitas Airlangga. Di timur Jawa Dwipa, Airlangga tetap Kau jaya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Binti Q. Masruroh




Alumni SMA Al – Hikmah Surabaya Langganan Masuk UNAIR

UNAIR NEWS – Tujuh perwakilan guru dan kepala sekolah SMA Al – Hikmah Surabaya  melakukan audiensi ke Universitas Airlangga. Audiensi ini diterima langsung oleh Dr. Achmad Solihin, SE., M.Si selaku Ketua Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru dan dua staf Pusat Informasi dan Humas.

Audiensi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai sistem penerimaan mahasiswa baru dan mengetahui perkembangan hasil studi alumni SMA Al-Hikmah Surabaya yang saat ini menjadi mahasiwa di Universitas Airlanggga.

“Saat ini siswa yang berada di kelas 12 ada sekitar 360 orang dan kebanyakan dari mereka memilih UNAIR,” Ujar Ahmad Fais  selaku kepala SMA Al – Hikmah

Ketua PPMB mengapresiasi SMA Al-Hikmah yang masuk  jajaran 20 besar jumlah mahasiswa terbanyak yang diterima di Universitas Airlangga. Mahasiwa aktif yang berasal dari SMA Al-Hikmah sebanyak 260 orang yang tersebar di berbagai fakultas dan program studi.

Ahmad Fais menjelaskan bahwa rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif dari mahasiwa asal SMA Al-Hikmah rata-rata cukup baik, yakni di angka 3. Sejauh ini pihak sekolah tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada siswa agar bisa belajar di Universitas Airlangga untuk menambah jumlah mahasiswa SMA Al- Hikmah di UNAIR. Hal itu juga akan berpengaruh terhadap penilaian indeks sekolah pada jalur SNMPTN.

Dalam audiensi tersebut pihak SMA – Al Hikmah juga  menyampaikan keraguan siswa dalam menentukan pilihan Program Studi.

“Para siswa ini bertanya- tanya apakah Jurusan IPA bisa daftar ke Jurusan IPS, begitu pula sebaliknya,” tandas Ahmad Faiz

Menanggapi hal tersebut, Solihin menjelaskan bahwa untuk Jalur SNMPTN memang lebih sulit, karena dalam penilaian SNMPTN juga mempertimbangkan nilai mata pelajaran yang linier dengan program studi pilihan, Untuk IPA misalnya, terdapat enam mata pelajaran yang menjadi penilaian, yakni Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi. Sedangkan untuk IPS, enam mata pelajaran yang menjadi penilaian adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Geografi, dan Ekonomi.

Penulis Anandya Anandita

Editor : Faridah Hari