Wisuda UNAIR Periode Desember 2017

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., mewisuda 1.967 lulusan baru. Prosesi wisuda berlangsung selama dua hari, terhitung sejak Sabtu (2/12) hingga Minggu (3/12). Bertempat di Airlangga Convention Centre (ACC) Kampus C UNAIR, prosesi wisuda berlangsung khidmad dan semarak.

Berikut foto-foto yang didokumentasikan oleh UNAIR NEWS.




Presiden Management & Science University Malaysia Lawatan ke UNAIR

UNAIR NEWS – Lawatan presiden Management & Science University (MSU) Malaysia bersama rombongan ke Indonesia tiba di Surabaya pada Senin malam (11/12). Dalam lawatan yang diwarnai dengan makan malam di salah satu rumah makan di Surabaya itu, rombongan MSU Malaysia disambut langsung oleh rektor UNAIR beserta jajaran wakil dekan dan para pimpinan di lingkungan kantor Manajemen UNAIR.

Berikut foto-foto yang didokumentasikan oleh tim UNAIR NEWS.




14 Desember UNAIR Kembali Kukuhkan Guru Besar

Universitas Airlangga akan mengukuhkan tiga guru besar pada Kamis (14/12) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR. Pengukuhan guru besar itu menambah daftar jumlah guru besar yang dimiliki UNAIR. Sampai saat ini, guru besar aktif yang dimiliki UNAIR mencapai 180 orang.

Tiga guru besar itu adalah Prof. Dr. H. Bambang Purnomo Soenardirahardjo, M.S., drh., PA Vet.(K), guru besar bidang Ilmu Embriologi Veteriner dari Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR. Prof. Bambang tercatat sebagai guru besar aktif FKH ke-27. Dia akan menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Potensi Paparan Teratogenesis untuk Menghindari Kejadian Cacat Lahir pada Hewan”.

Selanjutnya, Prof. Dr. dr. R. Heru Prasetyo, M.S., Sp. ParK, guru besar bidang Ilmu Parasitologi Kedokteran dari Fakultas Kedokteran UNAIR. Prof. Heru merupakan guru besar aktif FK ke-109. Dia akan menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Membentengi Ancaman Infeksi Parasit Oportunistik untuk Menjaga Ketahanan Hidup ODHA”.

Guru besar ketiga, yaitu Prof. Dr. Merryana Adriani, SKM., M.Kes. (Dietitien), guru besar bidang Ilmu Gizi Kesehatan, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR. Prof. Merry merupakan guru besar aktif FKM ke-12. Dia akan menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Pengendalian Penyakit Degeneratif Melalui Makanan Bergizi, Seimbang, dan Aman”.

Ketiganya merupakan guru besar ke-466, 467, dan 468 sejak UNAIR berdiri pada 1954. Sementara itu,  sejak UNAIR menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH), ketiganya merupakan guru besar ke-174, 175, dan 176. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Feri Fenoria Rifai




Tinggalkan Keluarga, Fokus, Serlie Kristin Raih Predikat Wisudawan Terbaik S3 FKM

UNAIR NEWS – Serlie Kristin Andriani Littik, terbilang tangguh dan gigih dalam menuntaskan pendidikan S-3 prodi Ilmu Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Melalui penelitiannya model realized access bayi berdasarkan potential access, ia berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,88.

“Hal mendasar mengangkat topik ini karena tingginya kasus kesakitan dan kematian bayi, sementara itu ditemukan rendahnya pemanfaatan fasilitas kesehatan bayi di daerah penelitian. Terlebih terbatasnya otonomi ibu dalam pengambilan keputusan,” terang Serlie.

Perjalanan Serlie menempuh S-3 ini tidak mudah. Tantangan terberatnya harus meninggalkan keluarga dan dua anaknya yang masih balita. Kesehariannya, ia harus sendiri tinggal di Surabaya. Tapi dukungan serta doa keluarga dan teman-temannya membuatnya tegar menjalani setiap proses. Tidak terlepas dorongan promotor dan ko-promotor yang terus memacu untuk maju.

“Saya bersyukur mendapatkan promotor dan ko-promotor yang sangat mendukung. Beliau menyediakan waktu membimbing dan memotivasi saya di tengah kesibukan dan kepadatan jadwal,” tambah perempuan asal Kupang NTT ini.

keluarga
REKTOR Universitas Airlangga Prof. M Nasih menyerahkan Piagam Wisudawan Terbaik kepada Serlie Kristin Andriani Littik, dalam wisuda di UNAIR, Minggu (3/12) lalu. (Foto: Helmy Rafsanjani)

Disamping itu, Serlie memiliki pandangan bahwa tak semua orang bisa melanjutkan studi. Jadi banyak hal yang harus dikorbankan dalam menempuh perkuliahan. Baginya, inilah motivasi untuk memberikan yang terbaik sebagai bentuk tanggungjawab kepada institusi, keluarga, dan Tuhan.

“Anak saya sempat jatuh sakit di Kupang, tentu sebagai ibu sulit untuk tetap fokus. Saya pun belajar menyerahkan diri dan anak-anak kepada Tuhan,” tutur Serlie.

Ia yakin tidak ada sesuatu yang instan, sehingga perlu memiliki target untuk membuat manajemen waktu menjadi lebih baik dan mengurangi stress karena lebih disiplin. Terakhir adalah berdoa dan bekerja keras tanpa patah semangat, namun tidak lekas puas akan pencapaian. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor : Nuri Hermawan




Monika, Ibu Rumah Tangga Sukses Jadi Wisudawan Terbaik S-2 FKM UNAIR

UNAIR­ NEWS – Menjadi ibu rumah tangga bukan hambatan bagi Monika Kartikaning Fajarin untuk meraih prestasi secara akademik. Baginya, kewajiban sebagai ibu dan mahasiswa S2 di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga justru sebagai tantangan yang harus dihadapi. Karena prinsip itulah maka predikat wisudawan terbaik pun dapat dicapai perempuan kelahiran Malang, 13 Oktober 1981 ini. Ia lulus dengan IPK 3,98.

Sebelumnya pun, Monika ketika lulus pendidikan S-1 tahun 1998 dan lulus 2002 juga dengan IPK cumlaude, yakni 3,66. Tahun ini IPK mendekati sempurna dan mengantarnya gelar itu lagi saat lulus dari Magister FKM program studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, minat studi Manajemen Pemasaran dan Keuangan Pelayanan Kesehatan. Capaian tersebut bukan tanpa hambatan.

”Harus fokus, pandai-pandai mengatur waktu, dan tetapkan skala prioritas,” tutur anak pertama dari tiga bersaudara itu.

MONIKA menunjukkan Simpai sebagai wisudawan terbaik S2 FKM UNAIR. (Foto: BE Santosa)

Bahkan, dalam masa pendidikan, beberapa kegiatan sosial diikuti perempuan penyuka membaca dan traveling ini. Salah satunya, bersama lembaga pelayanan iman dan doa serta Praja Pemkot Batu berupa pemberian penyuluhan serta pelayanan kesehatan secara gratis bagi masyarakat di desa terpencil di Jawa Timur. Termasuk untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Batu.

Sebelum menempuh magister, Monika sebagai pegawai di Dinas Kesehatan Kota Batu. Dari situlah keprihatinannya terhadap dunia kesehatan muncul, sehingga mengilhami judul tesisnya, yaitu ”Analisis Biaya Program Promosi Kesehatan sebagai Dasar Penyusunan Upaya Rasionalisasi Alokasi Anggaran di Puskesmas Kota Batu.

Setelah capaian itu, Monika bakal kembali mengabdi di Dinkes Kota Batu. Baginya, capaian prestasi yang sebenarnya adalah saat pengalaman dan ilmu bisa dibhaktikan untuk menolong orang lain, sebagaimana pengabdiannya selama 15 tahun ini. (*)

Penulis: Feri Fenoria Rifai

Editor: Binti Q. Masruroh.

 




MSU Malaysia Bakal Perkuat Kerja Sama dengan UNAIR

UNAIR NEWS Lawatan presiden Management & Science University (MSU) Malaysia bersama rombongan ke Indonesia tiba di Surabaya pada Senin malam (11/12). Dalam lawatan yang diwarnai dengan makan malam di salah satu rumah makan di Surabaya itu, rombongan MSU Malaysia disambut langsung oleh rektor UNAIR beserta jajaran wakil dekan dan para pimpinan di lingkungan kantor Manajemen UNAIR.

Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak, CMA., dalam sambutannya sesaat sebelum makan malam menyatakan bahwa hubungan MSU dan UNAIR baik lingkup kerja sama akademik maupun riset sudah berjalan lama. Prof. Nasih juga menambahkan bahwa sebagai bangsa yang memiliki misi yang sama, kerja sama antar perguruan tinggi semestinya harus terus dilakukan.

”Kita ini kan satu rumpun, kerja sama apa pun sudah sepatutnya harus terus dilakukan,” ujar Prof. Nasih.

Selanjutnya, Prof. Nasih menyinggung perihal kunjungan staf UNAIR yang melakukan kegiatan magang di MSU. Bagi dia, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen UNAIR untuk terus belajar dalam meningkatkan kualitas dari berbagai kampus di dunia.

”Meski masih muda, MSU ini sudah luar biasa. Kami pun perlu belajar dan ke depan juga sebaliknya,” terangnya.

Menanggapi pernyataan Prof. Nasih, Presiden MSU Malaysia Prof. Tan Sri Shukri menyatakan bahwa dalam lawatannya bersama rombongan yang bakal berlanjut ke Jember itu, dirinya selalu memaksimalkan waktu luang dengan baik. Salah satunya dengan menemui kolega di UNAIR.

”Banyak yang saya mau pelajari dari UNAIR. Semoga pertemuan ini menjadi masa depan terbaik bagi kita semua,” tuturnya.

Sebagai bangsa yang memiliki kultur yang hampir sama, dia berharap pada era globalisasi seperti saat ini baik UNAIR maupun MSU harus memiliki kesatuan tekad dan target. Jika tidak, lanjut dia, bukan tidak mungkin potensi sebagai kampus di tengah bangsa yang besar bakal terisi kemunduran.

”Kita ini bangsa besar. Kalau bekerja sendirian tidak bisa sukses. Jadi, kita harus bersatu. Dengan kerja bersama sangat mungkin akan sukses,” katanya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria

Video terkait:




Miguel, Wisudawan Terbaik S3 UNAIR: Indonesia Juga Rumah Saya

UNAIR NEWS – Sembilan tahun tinggal di Indonesia, membuat Miguel Angel Esquivias Padilla, merasakan bahwa Indonesia sudah seperti kampung sendiri. Laki-laki kelahiran Jelisco, Mexico, 10 September 1983 ini, menyatakan bersyukur dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Prodi Doktor (S3) Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga dalam wisuda hari Minggu (3/12) lalu. Miguel meraih IPK 3,95.

“Selama studi, saya tidak ada target untuk mencari penghargaan, apalagi studi S3 ini sebuah komitmen saya untuk menjalankan pendidikan yang sebaik mungkin,” kata Miguel, yang juga staf pengajar di almamaternya, FEB UNAIR.

Baginya, menempuh studi di Indonesia tidaklah mudah. Pada tahun pertama saja, beasiswa yang ia harap-harapkan tidak bisa “cair” karena berbagai sebab. Sehingga ia harus mengerahkan tabungannya sebagai biaya studi.

”Pada awalnya waktu saya sangat terbatas, karena harus membaginya antara untuk studi dan menjalankan penelitian,” jelas Miiguel keopada unair.news.

Dalam disertasinya, ia meneliti yang terkait ASEAN intergration, khususnya pada production sharing atau vertical specialization di kawasan ASEAN. Baginya, ASEAN sebagai wilayah yang potensial dengan integrasi India, Cina, dan negara lainnya telah menciptakan sebuah jaringan besar menjadi area perdagangan bebas terbesar di dunia untuk lima tahun kedepan.

wisudawan
SAAT Miguel menerima piagam penghargaan dari Rektor UNAIR Prof. M. Nasih. (Foto: Helmy Rafsanjani)

“Duka yang saya alami selama proses penelitian tentunya harus membaca puluhan artikel hingga belajar teknik baru. Bahkan sempat dua kali publikasi saya ditolak,” tutur pria yang dulu juga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik saat lulus S2 Ilmu Ekonomi UNAIR ini.

Setelah studi S3 ini, ia akan tetap melanjutkan karir di Indonesia. Baginya, Indonesia sudah menjadi layaknya rumah sendiri. Meskipun tidak mudah dalam hal imigrasi atau ketenegakerjaan, tetapi Miguel yakin hambatan itu akan dapat diatasi.

“Kedepan saya akan terus berusaha menjadi akademisi kelas dunia. Saya dibesarkan dalam keluarga dengan pemikiran, mimpi dan kerja yang tidak terbatas oleh suatu wilayah. Orang tua saya mendidik agar pergi kemanapun untuk memberikan manfaat dan kontribusi,” kata Miguel, mantab. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Nuri Hermawan/bes




1.000 Alumni FKH Sambangi Kampus dan Pererat Silaturahmi

UNAIR NEWS – Almamater memang menjadi tempat terbaik untuk ajang reuni. Terlebih jika sudah berpuluh-puluh tahun tidak saling tegur sapa. Karena itu, Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga menggelar reuni akbar lintas angkatan. Acara pada Minggu (10/12) itu dihadiri lebih dari 1.000 alumni FKH UNAIR mulai angkatan 1970 hingga 2011.

Kompak berseragam ungu, ribuan alumni memenuhi setiap sudut fakultas yang selalu menggaungkan jargon ”Viva Veteriner” tersebut. Hadir untuk membuka acara adalah Wakil Dekan III FKH UNAIR yang juga Ketua Panitia Prof., Dr. Suwarno, drh., M.Si. Dalam sambutannya, dia menyatakan bahwa acara reuni akbar itu dikemas dengan berbagai kegiatan.

Selain disediakan bazar, stan foto, pijat refleksi, dan berbagai hiburan, bagi angkatan 1973, 1974, 1975, panitia mengajak alumni mengelilingi Kampus A UNAIR. Yakni, tempat FKH kali pertama melakukan aktivitas kuliah. Selanjutnya, mereka pergi ke kampus B, hingga ke Pusat Veteriner Farma (PUSVETMA) dan Rumah Sakit Hewan (RSH) Setail sebagai tempat praktikum.

Mengenai peserta yang sangat banyak, Prof. Suwarno mengakui bahwa hal tersebut adalah bentuk kepedulian alumni. Mereka ingat terhadap almamaternya.

”Hal ini menunjukkan bahwa alumni eleng kandange,” tandas Prof. Suwarno.

Selain itu, Prof. Suwarno tidak lupa mengajak para alumnus untuk bersama menyongsong 48 tahun FKH UNAIR. Terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Alumni juga tidak lupa diajak untuk mengisi tracer study sebagai bentuk tolok ukur kualitas lulusan.

”Saya berharap alumni juga berperan aktif dalam urun rembuk, baik via WhatsApp maupun e-mail,” tutur Prof. Suwarno.

Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Dekan FKH UNAIR Prof. Dr. Pudji Srianto, M.Kes., Ph.D. Di tengah riuh dan meriahnya acara reuni akbar itu, Prof. Pudji yang juga ketua IKA FKH UNAIR menyatakan bahwa tahun 1970–1975 merupakan angkatan awal-awal yang penuh kenangan.

Sebelum memberikan paparan, Prof. Pudji mengulas berbagai kenangan saat awal-awal menjadi mahasiswa. Sebagai salah satu generasi awal, Prof. Pudji betul-betul menyaksikan perkembangan FKH dari kampus A, B, hingga menetap di Kampus C seperti saat ini. Dia menyadari, FKH sebagai salah satu fakultas tertua di Indonesia, alumnus FKH UNAIR telah banyak berkiprah untuk mengisi berbagai peran penting dunia kedokteran hewan di Indonesia.

”Kita tahu, Indonesia sudah mempunyai sebelas kampus yang memiliki FKH. Di Lima di antaranya, dekan FKH merupakan alumnus UNAIR,” tuturnya bangga.

Sebelum mengakhiri sambutan, Prof. Pudji mengenalkan beberapa pejabat penting di lingkungan FKH UNAIR. Selanjutnya, alumnus FKH angkatan 1975 itu mengajak alumni turut serta dalam memperbaiki fasilitas kampus. Terutama fasilitas FKH.

Tidak lupa, Prof. Pudji mendorong alumni yang berkiprah di dunia industri untuk membantu hilirisasi hasil riset ilmuan FKH UNAIR. ”Setiap tahun ada lebih dari 50 hasil riset civitas akademika FKH UNAIR yang belum dihilirisasi. Semoga alumni yang terjun di dunia industri bisa membantu hal ini,” pungkasnya.

Penulis : Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Bakti Sosial FKp UNAIR Tangani Korban Bencana Pacitan

UNAIR NEWS – Memiliki visi sebagai pengkaji lingkungan, kali ini GENCorps (Green Nursing Corps), organisasi mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga, menggelar bakti sosial yang ditujukan kepada warga Pacitan. Terutama mereka yang baru terkena banjir dan tanah longsor. Bakti sosial itu tidak hanya berwujud membagikan hygiene kit, tapi juga berfokus pada penyuluhan PHBS (Pola Hidup Bersih Sehat).

Sebagai organisasi yang beranggota mahasiswa jurusan kesehatan, GENCorps memanfaatkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah untuk saling berbagi dengan warga Pacitan. Ada sepuluh anggotanya yang terjun langsung membantu warga.

Berangkat dari FKp UNAIR pada Jumat (8/12) pukul 20.00, berbagai bantuan yang terkumpul dibagikan kepada korban bencana di sana. Selain itu, ada beberapa agenda inti kegiatan lainnya pada Sabtu (9/12). Di antaranya, penyuluhan PHBS (Pola Hidup Bersih Sehat), pembagian hygiene kit, serta wawancara beberapa warga untuk mengetahui kronologi terjadinya bencana itu.

”Bakti sosial GENCorps kali ini bekerja sama dengan seluruh ormawa di FKp. Kegiatan ini, kami beri nama GPP atau Gerakan Peduli Pacitan. Dalam aksi ini, seluruh ormawa saling membantu untuk menggalang dana bantuan yang akan diberikan langsung kepada warga Pacitan melalui GENCorps,” tutur Ferly, salah seorang anggota GENCorps.

Agenda pertamanya, penyuluhan PHBS (Pola Hidup Bersih Sehat) bagi warga Pacitan. Bukan hanya di satu tempat yang cukup luas, penyuluhan itu juga dilakukan secara door-to-door. GENCorps ingin warga memiliki pengetahuan baru tentang pentingnya menjaga hidup sehat meski telah terkena banjir dan tanah longsor.

”Kami memang sengaja melakukan penyuluhan lanjutan dengan mendatangi beberapa rumah warga secara langsung. Sebab, kami ingin kehadiran kami di sini bisa membantu warga Pacitan. Tidak semua warga hadir dalam acara penyuluhan tadi pagi. Jadi, penyuluhan door-to-door merupakan salah satu langkah efektif kami agar warga bisa mendapatkan pengetahuan PHBS. Harapannya, warga bisa menerapkannya meski kondisi banjir dan tanah longsor membaik,” ungkap Ferly.

Ferly menambahkan, pada akhir kegiatan penyuluhan, tim tidak lupa membagikan hygiene kit kepada warga. Total ada 610 hygiene kit yang dibawa. Masing-masing berisi sabun mandi, sikat dan pasta gigi, serta shampoo.

Agenda GENCorps, Sabtu (9/12), ditutup dengan kunjungan ke salah satu rumah warga. Kunjungan tersebut bertujuan menggali informasi kronologi terjadinya banjir dan tanah longsor di sana. Selain itu, tim memotivasi warga untuk tetap semangat serta tidak lupa menerapkan PHBS. (*)

Penulis: Yenny Paramitha

Editor: Feri Fenoria




Dr. Suko Hardjono: Dasari Kerja dengan Konsistensi dan Tanggung Jawab

UNAIR NEWS – Atas pengabdian dan dedikasinya di bidang kemahasiswaan sejak ’90-an, Dr. Suko Hardjono, Drs., Apt., terpilih sebagai Lifetime Achievement Bidang Kemahasiswaan dari Kementerian Riset, Teknologi, Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). Selama di UNAIR, Dr. Suko sempat menjabat sekretaris Jurusan Kimia Farmasi (1990–1993), pembantu dekan III Fakultas Farmasi (1992–1998), pembantu rektor III Universitas Airlangga (2002–2006), dan anggota senat akademik UNAIR (2006–2007).

”Ada dua hal yang menjadi prinsip dalam bekerja. Yakni, konsisten ketika menekuni suatu bidang dan harus punya tanggung jawab yang tinggi,” ujarnya kepada UNAIR News soal kuncinya meraih capaian tersebut.

Dua prinsip itulah yang dipegang dosen Fakultas Farmasi UNAIR yang juga penerima tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun dari presiden Republik Indonesia pada 2013 tersebut. Bagi Dr. Suko, ketekunan dan keuletannya dalam bekerja menuai hasil. Bersama dengan sejawatnya, Dr. Rudolf Woodrow Matindas dari Universitas Indonesia (UI), Dr. Suko mendapat penghargaan itu.

”Ketika sudah sanggup menjalani tugas, saya akan selesaikan dengan sebaik-baiknya,” ungkap Dr. Suko.

Dr. Suko menjelaskan, keterlibatannya di bidang kemahasiswaan dimulai saat duduk di bangku kuliah, yaitu menjabat ketua Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR 1977. Pada 1993, dia diminta untuk membantu kegiatan kemahasiswaan. Pada periode 1998–1999, Dr. Suko sempat menjadi pembantu rektor yang sekarang dikenal dengan istilah wakil rektor (warek) menggantikan pejabat waktu itu.

”Posisi saat itu kosong. Waktu itu pembantu rektor III yang dijabat alm. Dr. zainal Effendi meninggal. Dan, saya ditunjuk sebagai pejabat harian (PLH) untuk menjadi pembantu rektor III,” ucapnya.

Sejak itu, eksistensi Dr. Suko di tingkat nasional terlihat. Mulai rapat koordinasi, dialog kebangsaan, pelayar kebangsaan, hingga PIMNAS. Dalam Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) 2002 dan UNAIR sebagai tuan rumah, Dr. Suko ditunujuk sebagai ketuanya.

Lahirnya Bidikmisi, bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik sampai lulus tepat waktu, juga mencatat nama Dr. Suko. Dia terlibat dalam lahirnya program tersebut yang resmi diluncurkan pada 2010.

Dr. Suko juga menelurkan buku ”Mengawal Airlangga Tanpa Henti” pada 2013 yang berisi tentang kiprah dan pengalamannya di bidang kemahasiswaan. Bahkan, pada 2017, dia dilantik menjadi guru besar Fakultas Farmasi UNAIR.

Penghargaan kemristekdikti yang diberikan melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) itu bertujuan meningkatkan kualitas kemahasiswaan. Pemberian itu diharapkan mampu membentuk sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul pada masa depan melalui kegiatan kemahasiswaan.

Di antara banyak penerima anugerah Kemenristekdikti 2017, UNAIR memperoleh penghargaan di dua kategori. Selain kategori Penggawa Kemahasiswaan Purna Bhakti (Tahun 2015-2017) oleh Dr. Suko Hardjono, Drs., Apt., Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) UNAIR terpilih menjadi Pusat Karir Terbaik bersama UI. (*)

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Feri Fenoria