Cinta dalam Berzakat II

UNAIR NEWS – …………….. Akhirnya. Si istri tadi memenuhi permintaan Bu Nyai, karena tidak mungkin ia menolak ajakan orang yang paling dihormati di Desa itu.

Si istri itu kemudian diajak masuk ke rumah Bu Nyai.

“Bu, ini Bapak dapat sedekah banyak dari para santrinya. Saya dengar Pak Karmin adalah orang yang paling pandai menyembunyikan sedekahnya. Bapak berpesan agar sebagian sedekah ini diamanatkan untuk Pak Karmin agar dibagikan ke orang yang membutuhkan. Bagaimana Bu ?”

Si istri terdiam.

“Bu ?”

Barulah si istri berterus-terang.

“Andai, Bu Nyai bersedia. Bolehkah saya pulang dulu, bertanya kepada Bapak dan mengantarkan zakat anak-anak ini dahulu kepada yang berhak Bu.”

Bu Nyai itu ganti terdiam. Mungkin ia terhenyak, karena selama ini ia dan Pak Yai tidak tahu bahwa Pak Karmin juga membagikan zakat. Mungkin di benaknya. Pak Karmin hanyalah penerima zakat. Kenapa harus sengotot itu dalam beragama—apakah urusan berbagi itu primer dalam agama.

“Baiklah Bu, saya ngikut saja.”

Walhasil, malam itu si istri tetap hanya bisa membagikan tiga kantong zakat seperginya dari rumah Bu Nyai. Walau di depan mata ia bisa saja meminta belas kasihan Bu Nyai untuk menutup kekurangan satu kantong zakat demi suaminya. Tapi ia tidak melakukan itu. Baginya konteks amanat yang disampaikan Bu Nyai ada satu hal. Dan kewajiban zakat bagi keluarganya adalah hal yang lain.

Sesampainya di rumah, sang istri memutuskan untuk mengurangi jatah beras untuk keperluan sehari-hari. Dan kantong zakat ke empat itu ditunaikan demi membersihkan syahwat keduniaan manusia dan menuju pada kefitrian.

Pak Karminpun memandang ketulusan istrinya itu dengan kasih sayang.

“Tak usah khawatir Pak. Ibu tidak pernah tahu apa rencana Allah. Dan insyaallah, kita tidak akan pernah kelaparan Pak.”

Senyum Pak Karmin merekah.

“Kaulah paras mulia, satu dari banyak istri yang sangat kaya, Bu. Allah tidak salah mejodohkan kita.”

bersambung…

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR 2012)




Cinta dalam Berzakat I

UNAIR NEWS –  Ia juga ikut berbagi zakat kepada para fakir lainnya di penghujung Ramadhan tahun ini. Baginya, selagi ada yang masih bisa digunakan untuk berbagi, ia akan berkeras untuk berzakat. Walau ia sendiri adalah fakir miskin penerima zakat.

Ketika ada pembagian zakat dari takmir masjid, ia sekelurga selalu mendapatkan bagian 4 bungkus—tidak lebih. Hanya saja, tahun ini sepertinya jatah itu terkurangi. Jumlah warga penerima zakat meningkat. Ia hanya memperoleh 3 kantong saja.

Inilah dilema bagi keluarga ini. Tahun-tahun sebelumnya ia mengandalkan 4 kantong itu untuk di zakatkan kembali kepada yang berhak. Anggota keluarga mereka berjumlah 4. Dan apa daya, tahun ini ia harus mengurangi jatah beras untuk kehidupan sehari-harinya demi menunaikan kewajiban zakat keluarganya.

Usut punya usut, persedian beras mereka sudah tidak banyak. Tak ada tumpukan gabah, karena mereka hanya petani penggarap—yanghanya mendapatkan bagian sepersekian dari hasil panen. Selebihnya hasil panen adalah hak si empunya lahan.

“Kenapa Bapak, ngotot.”, protes istrinya.

Ia tak melanggapi keluhan istrinya. Justru ia bergegas pergi untuk mencari cara agar bisa menunaikan kewajibannya. Tapi, malam itu bunyi takbir sudah berdengung. Di mana-mana gelegar kemenangan dikumandangkan dengan suka ria. Artinya, esok hari sebelum sholat I’d adalah deadline akhir bagi usahanya.

“Sudahlah, Bu. Zakatkan tiga bungkus itu untuk Ibu, Azam dan Qori’. Bapak ndak usah.”

Istrinya, kali ini tak mau berdebat lagi. Perintah suaminya itu kemudian segera dilaksanakannya.

Di perjalanan, dengan membawa tas yang berisi bungkusan beras yang siap ia bagikan. Seorang perempuan berkerudung, dengan berpakaian rapi menyapanya.

“Asalamualaikum. Mau kemana Bu ? Kog kelihatannya terburu-buru.”

Dengan malu-malu, sambil tersenyum, dijawablah sapaan tadi.

“Waalaikumsalam. Eh, Bu Nyai. Ini Bu, lagi menunaikan amanat Bapak.”

Ceritanya, malam itu Pak Kyai memperoleh sedekah banyak dari para orang tua santri yang sesuai adat kebiasaan, selalu sowan di malam takbiran tiba.

“Eh, kebetulan. Mampir ke rumah dulu Bu. Saya juga dapat pesanan dari Pak Yai. Nggak terburu-buru to.”

Bersambung…

 Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR 2012)




Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku III

UNAIR NEWS – Dua kalimat syahadat saja aku tak benar-benar serius. Aku tak bisa berbahasa Arab, akupun tak mampu membaca samudera luas yang bernama Al-Qur’an itu. Sholatku hanya sebatas ritual, doaku adalah rengekan rapal yang tak jarang hanya sekedar kulafalkan tanpa arti. Dan ketika kuketuk pintu di dalam hatiku, aku jadi sangat ragu.

“Bagaimana aku sedang berpuasa, sementara daging dan jiwaku saja tidak serius menghamba kepada-Mu.”

Aku tak pandai sebagaimana Engkau hadir kepada hamba-Mu dengan rahman dan rahim-Mu. Engkau Maha Berpuasa, mengesampingkan seluruh kemungkinan-Mu untuk hadir dalam sifat-Mu yang Maha Adil lagi Maha Kuasa di dunia yang kami alami ini.

Begitulah, hingga aku tak akan lulus memperoleh pahala dari puasa yang Engkau wajibkan atas kami sebagaimana Engkau wajibkan kepada ummat sebelum kami.

Aku sendiri tak sempat memahami puasaku kecuali pikiranku tentang rasa lapar dan haus saja. Aku tak sempat berpuasa kecuali yang kupikirkan hanyalah hadiah-hadiah, seakan-akan aku hanya memposisikan Tuhanku sebagai mandor yang mempekerjakanku sebagai kuli. Sehingga puasa kujadikan sebagai sistem semester pendek untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya, serakus-rakusnya kekayaan pahala. Berhubung Tuhanku sedang mendistribusikan kenaikan jumlah pahala yang tidak main-main berlipatnya.

Tanpa kuberfikir bahwa kekayaan pahala itu, amatlah tidak cukup kalau kita gunakan untuk membeli satu kavling surga-Nya Allah. Sebab nikmat yang turun kepada kita, jika dinominalkan dalam kekayaan pahala, jumlahnya masihlah sangat kurang. Hutang kita kepada Allah tak tertebus oleh seluruh amal rekadaya kita, jika hanya berharap pamrih. Apa yang bisa kita andalkan kecuali Rasulullah.

Puasa ini, untukku sulit kupersembahkan kepada-Nya. Walau puasa oleh Allah disebutkan hanya untuk-Nya. Tapi seluruh cela, kekurangan, dan kenaifan pikiran, daging, dan hatiku, teramat berat jika harus dinilai oleh Allah sendiri. Aku tak akan punya wajah, tak akan tega, jika Rasulullah dalam tatapan kasihnya kemudian menemukan orang sepertiku yang mengaku-aku sebagai ummatnya.

Tapi entah kenapa, aku begitu menikmati puasa dan bulan Puasa melalui tatapan bahagia, ekspresi-ekspresi syukur, dan kreatifitas tradisi, yang praktis hanya ada di bulan ini. Pemandangan di kota-kota, di desa-desa dan di masjid-masjid terasa hidup. Mereka semua terhanyut dalam suasana untuk kembali meninggikan Tuhan—walau uforia masjid menjadi ramai, biasanya hanya sejenak pada minggu-minggu awal puasa. Tapi itu bukti, bahwa jerat rantai di kaki iblis dan setan, memang sangat terasa. Karena, mereka tetap tak akan menghapuskan naluri dasar manusia untuk kembali kepada Tuhannya. Try out Iblis sia-sia saja tak akan sempurna untuk menghitam legamkan kertas kosong bernama manusia itu. [ * ]

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku II

UNAIR NEWS – Alasanku masih memegang agama adalah untuk menuju pada ketenangan diri. Aku yakin Islam adalah pintu selamat, pintu ketenangan, keteduhan dan kasih sayang. Di dalam ketenangan itulah aku menemukan surga. Dan di dalam kasih sayanglah, aku menemukan bidadari-bidadari yang sedang merayu, menggoda dan membawaku pada kepuasan rohaniah imajiner yang tiada ukurnya.

Aku yakin iman itulah yang akan mempertemukanku setiap waktu memandang wajah Tuhanku. Dan dengan jalan berpasrah kepada-Nya, senatiasa syukur serta tawakal. Dari situlah letak aliran sungai di dalam surga dapat kunikmati, kupegang, dan ku kendalikan.

Senatiasa ku sadari, bahwa kelemahan, rasa lupa bahkan dosa dan nista sering kulakoni. Aku juga tak akan lepas dari siksa-siksa neraka. Aku bukan orang suci.

Sedikit saja aku menggantungkan diri pada orang lain, pada dunia, dan pada rasa cinta yang berlebih-lebihan. Maka dosa kekafiran memanggangku, mengintai pada rasa kecewa di kemudian hari. Perasaan kecewa, susah, sedih inilah yang lekat dalam ingatan, menusukkan siksa tanpa mampu membunuhku sekejap saja—bisa menghantui lama. Hidup tak mati-mati dalam siksaan.

Bahkan aku terasa takut dalam era ini. Sangat sedemikian takut. Dosaku, nistaku, dan kesalahanku, janganlah dikekalkan di alam IT. Sehingga anak, cucu, buyut, canggah dan keturunanku sewaktu-waktu tak terjebak dalam aib. Ikut melaknatku, dan yang kutakut ialah mereka menolak mengakui garis darahku.

Era informasi ini bagiku jebakan, tapi juga peluang. Era ini lebih kekal dan mengekalkan segala hal di dunia, baik keburukan maupun kebaikan. Bahkan, laknat kepada Fir’aun, Qarun, Abu Lahab dan Abu Jahal bisa saja digantikan oleh nama-nama baru ke dalam dunia segenggaman tangan itu. Itulah neraka yang harus diwaspadai bersama. Maka berhati-hatilah dengan dunia yang tak kenal tega ini. Untuk menjadi baik, baiklah tanpa takut sendiri. Kalau memilih menjadi buruk, tanggunglah sendiri.

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku I

UNAIR NEWS – Nyaris aku tersinggung karena orang-orang bisa hidup lebih religius. Sangat Islam dan punya Islam sebagai penolong mereka dalam agenda menuju surga.

Aku sama sekali merasa lepas dari upaya untuk baik seperti mereka. Diriku tak punya apa-apa. Tak punya ulama untuk ku bela, dan tak punya hafalan Al-Qur’an yang bisa kubanggakan. Hingga aku tak berkesempatan untuk membela ulama’ maupun merasa ternistakan oleh orang yang memelintir kitab suci itu.

Aku sendari awal dilahirkan di Indonesia dalam lembaran takdir. Orang tuaku suku Jawa, kakek nenekku lahir dan beragama Islam. Tak pernah ku dengar dari Mbah Modin tentang khilafah. Kami hidup mengagumi Sukarno dan bersholawat kepada Kanjeng Nabi. Menurutku, kekhalifahan sudah tergelar di tanah air kami, baik dari titik start Indonesia dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Maupun kekhilafahan versi Kasultanan Demak era Sultan Patah dan wali songo penasehatnya.

Harus diakui, Islam adalah agama yang kuterima dari didikan Ibu Bapak dan dari pengaruh lingkungan yang diturunkan dalam tradisi bergilir turun temurun. Ku terima itu tanpa aku punya kesempatan lain membantahnya. Tapi aku tetap saja tidak punya perangkat kompetensi agama apa-apa, sehingga diriku aman untuk tidak dicap sebagai santri, orang alim, nahdiyin, muhammadiyin, aktivis HTI atau lain sebagainya.

Meski begitu, dalam hati kecilku berat bagiku untuk makar keluar dari agama ini. Aku mungkin menjadi orang-orang buta yang sekadar menjalankan syariat sebagai penggugur kewajiban. Katakanlah itu munafik, dan memang aku merasa takut juga jika tidak diakui dalam rumpun keluarga Islam itu sendiri. Entah kenapa nuraniku cukup ciut untuk dituduh neko-neko, semisal kafir, liberal atau setingkat atheis. Jikapun ada yang terlanjur menuduhku atau menuduh orang lain dengan istilah itu. Kuharap meraka yang menuduh itu adalah yang tidak kafir, yang tidak liberal dan yang tidak punya sesembahan lain kecuali Allah dimanapun juga, baik di daging maupun dihatinya. Karena aku takut otoritas mereka itu menjadi patah gara-gara harus meladeni orang-orang remeh seperti aku. Meski aku yakin mereka tak mungkin kurang bukti, tak mungkin kurang rasa istiqomah. Bahkan kedekatan dan kedalaman meraka dalam menelaah kontekstualisasi Islam pastilah tepat. Mereka amat dekat dengan Allah.

Tetapi sebagai pembelaan, aku akan kekehtetap mengklaim bahwa diriku berlindung dalam kuasaan ke-Esaan-Nya, meski rumpunku itu dicela oleh otoritasapapun juga. Tak jua masalah, meski rumpunku dikonotasikan dengan istilah Islam Kejawen, Islam Tradisi, Islam Abangan, Islam Nusantara atau Islam Warisan. Memang harus diakui bahwa the truth of Islam, bukanlah kelas kami-kami ini.

bersambung…

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Jangan Tersandera Part II

UNAIR NEWS – Di sebuah mimbar, seorang Kyai ditanya seorang jamaahnya. Jamaah yang bertanya ini adalah seorang warga dari desa Selo. Ia sendari ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Halus bertutur kata, warga itu menyampaikan pertanyaannya dengan tawadu’.

“Kyai, apakah akan terjadi sesuatu dengan desa kami setelah petir itu memecah kepercayaan setempat, apa itu pertanda buruk ?”

Karena yang bertanya adalah perempuan, maka Kyai ini memanggilnya dengan Yu.

“Yu, sampeyan kan sudah ngaji lama disini. Semuakan dari Gusti Allah. Pasrahkan saja sama yang mengatur.”

Dengan mengangguk, warga ini masih belum merasa puas dengan jawaban itu. Tapi ia sungkan untuk mengutarakan pertengkaran batin yang tak bisa terobati dengan jawaban itu.

***

Berbeda dengan spektrum pendekatan Pak Kyai. Sebuah jurnal ilmiah mencoba menjelaskan fenomena petir. Mas Mus yang sangat anti dengan hal-hal yang berbau mistik mencoba menjelaskan semampunya, atas isi sebuah jurnal yang telah ia baca itu.

Nongkrong, di warung kopi, Mas Muspun merangsek pada obrolan. Ia dengan perlente membedah isu petir ngalor ngidul.

“Pembusukan dari bahan organik, asap pembakaran pabrik, yang terionisasi dan mengandung metana, kalau naik ke atmosfer. Ketika gas teroinisasi itu mengumpul banyak, maka akan timbul perbedaan potensial yang tinggi. Di sinilah bisa terjadi lompatan-lompatan listrik.” Tutur Mas Mus meyakinkan.

“Penjelasanmu itu terlalu, ndakik-ndakik nggak bisa diterima. Ini bukan soal peristiwa petirnya. Tapi soal kog baru sekarang” jawab seorang warga.

“Mas, apa ini karena pabrik gula, ya”

“Iya. Betul. Ada industri dan polusi.”

Desa itu memang dalam tahun-tahun terakhir dipenuhi oleh pabrik gula dengan pengolahannya yang menghasilkan polusi udara.

“Iya, industri dan polusi ada, tapi Mbah Mat meninggal mendadak selang beberapa hari saja setelah petir itu merusak sebuah pohon di dekat tempat keramat yang dijaganya. Jangan meremehkan lho.”

Mungkin dalam hati, Mas Mus tidak akan berselera untuk menjawab kekolotan jawaban semacam itu.

“Kepercayaan macam apa yang justru menteror diri sendiri” gerutu Mas Mus dalam hati.

Bersambung…

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Jangan Tersandera Part I

UNAIR NEWS – Jejak kaki laki-laki itu makin terdengar cepat lajunya. Beriringan dengan itu, amukan suara menggelar terdengar tanpa diketahui dari mana asalnya. Sebuah petir telah meyambar pohon kelapa yang letaknya tak jauh dari tempat keramat yang masih dipelihara di desa itu. Beberapa batang kelapa beserta buahnya jatuh. Dan di atas puncaknya, sisa-sisa api masih menyala memakan bagian yang masih bisa terbakar.

Dari sini dimulailah kesibukan dan kecemasan. Orang tunggang langgang membaca fenomena ini.

“Ada keanehan ! Ada petir !” begitu teriak seorang warga.

Tak ada yang peduli terikan itu. Begitu suara petir kedua terdengar. Semua orang tak berpikir panjang lagi. Mereka berlarian menyelamatkan diri masing-masing. Dari anak-anak, kaum muda maupun yang tua, semua bergegas berlindung di dalam rumah.

Sawah harus ditinggalkan. Ternak-ternak dikandangkan.

Suasana semacam kiamat kecil terjadi beberapa menit sampai petir itu tak terdengar lagi bunyinya.

Desa yang memegang teguh tradisi dan adat itu ramai seketika. Omongan-omongan wargapun berkisar pada peristiwa hari itu. Hujan petir terbukti mematahkan tradisi kepercayaan setempat.

Desa Selo dalam sejarah barunya. Bersama deru petir yang terlontar tiada hentinya, sebuah headline koran lokal memajang foto kerusakan yang disebabkan oleh hantaman petir hari itu.

***

Di rumahnya, Mbah Mat, juru kunci desa menjadi sasaran pertanyaan dari peristiwa yang terjadi dua hari lalu. Orang tua yang dipercaya karena tak pernah meleset meramalkan kejadian di desa itu, kini tak mau berbicara dengan alasan sedang menjalankan ritual tapa mbisu.

Orang mungkin tak sabar menunggu penjelasan Mbah Mat. Tapi dengan amat disayangkan, lelaki tua itu tak akan lagi bisa memberi jawaban apa-apa. Ia akan dikubur, tepat sebelum matahari tergelincir. Kematiannya tak akan mengubur kegelisahan para tetangga yang sudah terlanjur berharap.

Orang justru berspekulasi, mengaitkan antara peristiwa hujan petir, dan kematian sang juru kunci tiga hari berikutnya, yang tak disangka juga bertepatan dengan hari Jum’at Legi. Hari yang dipercaya keramat bagi orang.

Misteri baru hadir. Orang masih tidak percaya.

“Seumur-umur, ini yang pertama bagiku. Dimanapun juga setahuku, desa yang mengandung “selo” pasti tidak akan dihampiri petir. Jangankan dihampiri, mendengar bunyinya saja tidak.”

Penduduk desa yang teguh memegang adat itu, kini sangat paranoid.

***

Bersambung

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Tentang Kebuntuan Itu II

UNAIR NEWS – “Kenapa kau memandangiku begitu”. Muka lonjong ini ganti aneh, ia menatapku seperti seorang psikolog. Entah apa yang ia tulis, tapi ia ulangi tingkahnya hingga beberapa kali. Memandangiku sejenak menulis, dan kuhitung lebih dari lima kali hingga rentetan bait tulisan penuh mengumpulkan sari pati isi ke dalam kertasnya itu.

“Bagaimana ?”

“Tak ada order lagi.”

“Sudahlah, jawabannya akan kita tunggu kapanpun, semua tak ada yang akan mau merendah”

“Aku keluar dulu” tiba-tiba ada teriakan itu terdengar, salah seorang dari kami itu terlihat mulai tak sabaran.

Yang lain bertanya. “Untuk apa ?”

“Waktu sudah mendesak, kita dikejar tempo. Kalau rapat resmi esok hari tidak menghasilkan keputusan. Ini sama saja gagal” ucapnya dengan ekspresi kelelahan.

“Lebih baik gagal”, si lonjong yang sibuk tadi kini ikut menambah kebuntuan. “Tanggungjawab kita bukan untuk gagal atau bersepakat, kita harus memilih integritas dari pada menuruti order-order yang beresiko tadi”

“Apa kita akan mengambil resiko ?”

Lonjong berseru tegas. “Iya, lebih baik disalahkan atau kita bubar. Itu lebih mulia”. Intonasi terbata-bata “I-N-T-E-G-R-I-T-A-S”

“Tidak mungkin kita mengambil keputusan yang bermasalah. Mungkin tentang integritas tapi itu bermasalah dan juga menimbulkan permasalahan”

Jam 12.30. Waktu mulai larut, penghuni kafe juga makin sepi. Malam mulai terasa dingin, sepoi deburan titik-titik halus dari embun AC membasahi dinding kaca depan kafe. Ku kenakkan jaketku untuk menghalau kantuk.

“Sampai pagi-pun kita tidak akan sepakat.”

“Adakah besok, seorang ksatria yang berjiwa baja untuk mensudahi segalanya”

“Jangan berharap. Dirimu saja masih kolot dan keras, bagai karang yang kesepian di terpa deburan ombak, bukan makin mengalah, justru malah memecah-mecah partikel kokoh deburan air yang digerakkan oleh energi gelombang tersebut”

Karena memang tidak ada kesempatan untuk menyepakati sebuah keputusan yang berarti. Malam sepanjang-panjangnya di ulur-ulur oleh perdebatan yang melahap dari detik demi detik waktu, dari es teh sampai kopi pengulur kantuk, dari suguhan potato hingga makanan ringan yang sama sekali tidak mengenyangkan isi perut.

Ujian untuk memutuskan, diputuskan, dan untuk menjadikan musyawarah mufakat sebagai konsensus penting, atau untuk mensudahi gelap mata kita tentang voting yang meluap-meluap hingga menimbulkan hasil kembar.

“Serahkan saja semua kepada yang kita percayai punya otoritas”. Karena kita tidak percaya pada kekuatan diri sendiri, kepada kemurnian objektivitas nilai tentang ukuran kebaikan dan penciri keunggulan yang harus diberat sebelahi. Tidak salah golongan atau keputusan itu, tapi salah pada rumus kejujuran yang kita belakangi. Nurani sejati tak akan pernah berbohong. (*)

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika Universitas Airlangga)

bersambung




Tentang Kebuntuan Itu I

UNAIR NEWS – Obrolan ini nyaris saja berakhir. “Akhiri sajalah, percuma”, takdir tidak diubah dengan kata-kata, melainkan harus menggunakan tindakan.

Si empunya kursi itu mulai berdiri. “Kursiku sudah terasa panas”, tas yang ada di atas meja ia kenakan. Yang lain dengan mata awas mengawasi pergeraknnya. Ia sudah tidak betah, dan akan bergegas pergi. Tiba-tiba lelaki yang duduk di seberang tatapannya bersuara menahan, “Tunggu”.

“Tak usah terburu-buru”, sambil melirik jamnya, dengan sedikit membersihkan debu yang mengotori kaca arloji itu, lelaki tadi mencoba membujuk. “Ini masih sore.”

Ia sepertinya hanya menggertak pergi.

Ia tertegun berdiri, belum berbalik membelakangi kawan-kawannya. Raut wajahnya makin kusut, kerutan di kepalanya hampir-hampir membalikkan usianya yang masih muda. Bibirnya menyatu dalam tanda tanya antara cemberut dan tersenyum sinis.

Dengan pelupuk mata yang hampir kosong, sesekali ia tolehkan kesan bahwa dirinya sedang menunggu. Ia pandang satu persatu mereka yang tanpa gairah. Semua serempak menjadi makin lesu. Isi kepala yang jejal dan berat, sudah melunturkan segalanya. Ia hembuskan nafas panjang penuh kesabaran.

“Duduklah kembali” lelaki tadi menghampirinya, kedua pundaknya di pegang lelaki itu, “Ayolah” kata lelaki itu sambil berjalan mengarahkannya untuk duduk kembali ke kursinya. Ia tak melawan dan pasrah kembali ke tempatnya, bisalah kalau dianggap ia sedang menahan kecewa.

Di minggu ini, mungkin kebuntuan itu akan terpupus ketika semua sudah mulai putus asa.Tak ada yang berani untuk melawan. Kini ia melirik kearah depan lurus. Ia mulai sumeleh, digapailah kopi sisa yang tersaji di hadapannya.

“Itu tinggal ampas” ungkapku dalam hati.

Mungkin getir, rasa pahit dan gelap kopi yang ia minum adalah isyarat bahwa saat ini yang sedang berlangsung adalah suguhan-suguhan yang pahit berampas. Suguhan tanpa pilihan lain kecuali warna gelap, kecuali rasa perasaan yang sebenarnya tidak benar-benar akan mengobati kehausan itu sendiri.

“Siapa yang mau berkorban ?”

“Tidak ada”

“Apa kita takut ?”

“Kita benar-benar takut pada diri masing-masing”

“Ini masih tidak jelas”

Pada pembicaraan tersebut, ia malah terdiam saja, mendengarkan sambil bersandar di dinding yang membatasi antara ruang luar dan bilik lain dalam kafe itu. Ia pejamkan matanya sambil mengayun-ayunkan kepalanya secara ritmis namun lembut, sesekali ia menjedukkan bagian belakang kepalanya ke dinding yang terbuat dari asbes itu, dengan wajah terpejam yang mendongak ke atas. Tangannya yang ada di meja juga ia ketuk-ketukkan penanda bahwa sebenarnya ia tidak sedang tidur.

Dengan berat, ia keluarkan suaranya lagi, kali ini agak serak. Ia mendehem. “Jangan pernah merasa yakin pada kepasrahan. Kehebataan kata-kata dan mantra-mantra gagasan hanya bisa kita puji kalau terbukti. Tapi kalau terus kita abaikan maka selamanya kita tidak pernah tahu, apakah gagasan ini tepat atau salah.”

Diantara mereka menyela. “Lantas apa yang harus kita ambil, semua buntu.”

Lelaki yang tadi menolak pasrah. “Selamanya kita tidak akan pernah tahu jika kita selalu memilih kalah. Kita harus bisa mengambil keputusan.”

Lagi. “Jangan kau anggap dengan lari dari masalah semua selesai. Belajarlah mengambil keputusan.”

“Iya. Tidak mungkin kita melimpahkan sesuatu keputusan dengan asumsi bahwa kedaulatan kita saat ini adalah harga murah, meski segalanya memang kita niati untuk sepakat tentang ketidaksepakatan”

Seorang yang ada di sampingku, yang dari awal memilih mendengar saja, kini saatnya ia bicara. Si muka lonjong ini mungkin punya alternatif.Mulailah ia membuka-buka tas dan mengeluarkan sebatang pensil. Kertas yang ada di depanku di raihnya.

“Apa yang kau tulis itu” lirih tanyaku padanya, berharap yang lain masih fokus.

“Nggak” jawabnya.

bersambung….




Piramida Warna Part III

UNAIR NEWS – Dari seorang teman. Katanya tadi malam ada sebuah kecelakaan, korbannya salah satunya adalah adik kos kita dulu. Memang segalanya tidak bisa diprediksi. Waktu memutar tanpa perlu seorangpun mampu mengaturnya.

Katamu : “Senatiasalah dalam kewaspadaan penuh, dimanapun juga dan dalam situasi apapun juga”.

Kemudian kau abadikan nasihat biimplikasimu “Tiada jaminan dalam kewaspadaan dan akan lebih tidak terjamin jika tidak waspada”

Di konteks cerita yang lain, mungkin aku juga perlu memberimu kabar yang bertolak belakang dari cerita di awal.

Kali ini kabar itu datangnya dari salah seorang anak binaan kita dulu, Ardi namanya. Petikan pesannya bunyinya begini

“Orang miskin boleh kuliah, Kak !” itu isi pesan pertamanya.

Penasaran, kubalas tanya : “Siapa orangnya ?”

Emoticon balasannya, menandakan dia sedang senang sekali. Dan dilanjutkan “Alhamdulillah lolos Bidikmisi di SNMPTN kak.”

Ia girang gemilang dan katanya kali pertama yang dikabari adalah aku.

“Terimakasih doa dan motivasinya selama ini kak. Salam untuk yang lainnya. Aku kagen !”

Memang kebahagiaan terbelah di beberapa kesempatan dengan kabar lainnya yang mungkin tidak pula membahagiakan.

Kalau kamu ingat, salah seorang teman kita dulu punya nasib yang agak mirip dengan Ardi. Sama-sama dalam ekonomi sederhana, dan akhirnya kuliah lewat beasiswa pula. Kau tahu sendirikan betapa tentangan keluarga sempat merintanginya.

Ia sangat sulit meyakinkan ayahnya, dan Ibunyapun tak sanggup membujuk ayahnya yang keras itu.

Dengan serba ketiadaan kita patungan menampungnya sementara hingga beasiswanya turun. Hanya tekad kuat dan kerja keraslah akhirnya dia kita akui sebagai orang yang sukses melawan hal tersulit yang merintanginya. Bahkan keberuntungan memperjuangkan beasiswa itu juga harus disertai haru biru, tangis dan bentakan dengan orang tua pula.

Bapaknya yang dulu sangat kaku itu, akhirnya justru kini cukup akrab denganku. Mungkin merasa telah banyak bersalah, menarik-narik diriku sebagai provokator agar anaknya kuliah. Dan kalau sedang pulang, aku seolah diperlakukannya seperti anak sendiri ketika mampir di rumahnya.

Kata Bapakku : “Orang tua itu yang diinginkan anaknya hidup enak, meski jauh dari rumah, yang penting punya jaminan hidup. Hati kita sudah senang.”

Sangat sederhana kadang, dana lam pikiran orang tua itu tidak bisa dipahami secara sempit. Bapak teman kita itu toh menunjukkan bahwa dirinya ternyata salah perhitungan. Watak, memang watak, kaku dan keras adalah cara mendidik.

“Aku tak pernah sakit hati pada siapapun juga. Toh tiada untung bermusuhan itu”  ujar teman kita dulu di saat awal kita menampungnya.

Provokasipun tidak mempan membuat dia berpaling dari Bapaknya.

“Bapakku memang begitu, sudah kuhafal sejak dulu. Aku besar karenanya, aku tak pernah merasa dia menjatuhkanku, sekalipun.”

Bakti teman kita itu pada orang tuanya tak bisa diragukan. Dan ini adalah penggalan pengait, bahwa janji persahabatan kita juga tak akan pudar oleh berbagai kondisi apapun. Pertahanan utama itu memang rasa yakin tentang komitmen saling menjaga dalam kebaikan.

Penulis: Sukartono