Pemilu (Bagian I)

Tanpa sengaja di puncak rasa bosan karena sepi. Kuraih sebuah buku di rak perpustakaan kampusku. Tanpa punya maksud apa-apa. Aku dibimbing untuk sekadar membuka halaman demi halaman.

Lantas, tiba-tiba saja di bercak noda coklat yang membekas pada halaman itu, aku menemukan sebuah kata yang tak kurang sedih, sebagaimana yang kesepian pasti juga dalam kesedihan.

Kalau kata yang kutemukan ini sudah bermakna sedih, maka kata ini pasti juga terasing karena terlalu lama orang bersenandung atas bunyinya, tetapi hanya dalam omong kosong—tanpa pemaknaan, tanpa penghayatan.

Kata dalam buku itu ialah “pilu”, rasa hati yang bagaikan diiris oleh sembilu—irisanbuluh yang tajam melebihi belati.

Kalau bagimu kata itu belum terasa sedih, bersedihlah tapi bukan untuk sedih itu sendiri. Tapi, bersedihlah untuk merenungkan sampai hari ini, apakah sudah pantas kita tidak merasa sedih tentang diri kita sendiri ?

Tentang satu kata itu (pilu), akal budi ini terasa ingin mengejarnya. Walau ia akan lari karena kudekatinya tanpa ilmunya. Sebagaimana orang-orang yang terus merasa sepi, mereka tidak akan pernah tahu tentang keramaian yang sesungguhnya. Karena keengganan untuk mendekatkan diri dalam kerumunan hidup yang meskipun fana, tapi adalah bagian dari kebahagiaan yang tetap harus diselami selagi engkau ada di dunia ini.

Dan pendeknya untuk pertama-tama kupakai caraku untuk memahami kata ‘pilu’ itu, dengan kusorongkan sebuah awalan padanya. Namun, jika benar pilu senada dengan sedih, maka kutambahkanpula pe- di awal kata sedih.

Awalan pe- untuk sedih, menjadi penyedih, yang artinya seseorang yang larut dalam kesedihan tak bertepi.

Awalan me- untuk sepi, menjadi menyepi, yang artinya mengasingkan diri menuju sepi.

Lantas kata kamus, tak ada kata yang bisa dibentuk ketika awalan pe- kutambahkan untuk pilu. KBBI daring maupun buku, tak mengenal kosa kata pepilu. Pepilu tak ada. Dan tak berarti, hanya saja kalau kuucapkan dia adalah bunyi, suara, pelafalan dari bibir yang penasaran pada makna kata yang diembannya. bersambung…

(Oleh: Sukartono / Alumni UNAIR 2012)




Ibu Pertiwi dan Aku Lahir Tepat di 2030 (Part III)

Apakah Pertiwi tidak tahu apa hasil diagnosa dokter beberapa hari yang lalu ? Ternyata tidak. Setelah melihat gelagat suaminya yang berubah. Yang sangat tepat waktu saat pulang kerja, dan dengan kehadiran Ibu mertuanya di rumah. Ia makin merasa curiga. Hingga, di suatu pagi, ia yang hanya ditemani Ibunya, pura-pura kalau obatnya sudah habis dan ingin menebus obat lagi ke dokter yang sama. Di saat itulah, Pertiwi dan Ibu mertuanya, mendapat penjelasan gamblang tentang diagnosa dokter atas penyakitnya, sekaligus kemungkinan kalau kelahiran bayinya itu akan merenggut Ibunya sendiri.

Pertiwi amat tabah mendengar penjelasan itu. Tapi sang ibu mertua merasa sangat tidak menyangka, kalau anaknya itu sedang berada di ujung bahaya.

“Apa yang salah dari perjodohan kedua anakku ini. Kenapa sampai ada omongan seperti ini dari dokter,” ujar si ibu mertua dalam pikirnya.

Dulu, eyang mereka memprediksi tepat kalau mereka akan punya anak di 2030. Ramalan eyang mereka itu nampaknya akan tepat. Tapi kenapa penuh resiko. Kenapa Pertiwi tidak punya kepastian akan masa depannya. Bukankah kalau si bayinya lahir tepat pada waktunya, Januari 2030. Itu pertanda kebahagiaan bagi keluarga besar Nusatara, yang dikaruniai cucu laki-laki pertamanya. Apakah tangis cucuku itu menandai kesedihannya ? Ataukah justru sebaliknya. Aku ingin cucuku dan Ibu Pertiwi tetap hidup. Tak boleh ada anak yang lahir sebagai petaka bagi Ibunya.

Jauh dalam kandungan Ibunya. Si bayi itu ingin menjawab keresahan neneknya.

“Nenek, kata dokter bukanlah kepastian kehendak Tuhan. Aku akan lahir tepat pada waktunya. Yakni di tahun 2030sebagaimana ramalan eyang buyut. Dan Ibu masih akan terus mendampingiku hingga pada tahun 2045 nanti, ketika aku akan menjadi remaja kuat dan cerdas. Di tahun itulah, titik balik dimana keluarga kita akan mengalami fase baru yang akan lebih membahagiakan. Yakni, aku yakin sebelum tahun itu. Ibu akan dinyatakan sembuh total oleh Dokter. Dan ayah akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia.”

***

Selesai

Penulis: Sukartono (Alumni FST UNAIR 2012)




Ibu Pertiwi dan Aku Lahir Tepat di 2030 (Part II)

Sepasang suami istri muda itu akhirnya pulang. Si suami menahan penjelasan dokter sampai di rumah. Sepanjang perjalanan ia hanya mencoba menghibur istrinya, sekaligus menyembunyikan rasa khawatirnya yang begitu dalam. Ia hanya berpesan untuk tidak bekerja terlalu keras di rumah. Hingga ketika sudah sampai di rumah, sang istripun bertanya.

“Mas, tadi dokter kelihatannya berbicara khusus dengan Mas. Memang dokter berpesan apa ?”

Pertiwi memang seorang istri yang begitu teliti, ia pandai bertanya, dan tak sedikit pula rahasia-rahasia suaminya dapat ia korek dengan mudah. Seperti misalnya, saat 3 bulan lalu, Pertiwi yang lagi ngidam minta di belikan motor baru. Si suami yang hanya punya simpanan sedikit, tak pelak harus menghutang ke salah seorang temannya dengan bunga yang fantastis. Padahal, si suami bilang ia mengambil hutang dari kakaknya. Tak salah, tapi nyatanya si kakak adalah penjilat yang tak kenal ampun kepada siapapun juga. Termasuk ke adiknya sendiri.

“Kenapa Mas terlihat murung, mendengar pertanyaanku itu ?”

“Tidak, Pertiwi. Dokter hanya berpesan agar aku lebih banyak menjagamu. Tadi aku bilang ke dokter, kalau selama ini aku terlalu sibuk bekerja. Kerja, kerja dan kerja. Tanpa sadar kalau kamu sedang hamil tua. Seharusnya, aku lebih mengerti kamu. Memperhatikanmu.”

“Mas tidak bohongkan ?”

Si suami kemudian memeluknya. Dan mengecup keningnya, lalu bermanja-manja sambil mengelus perut si istri yang sudah besar.

“Sebentar lagi, kamu akan lahir nak. Kamu pasti nanti gagah, seperti Ayah. Ayah sudah rindu menunggu kelahiranmu.”

***

Penulis: Sukartono (Alumni MTK UNAIR 2012)




Ibu Pertiwi dan Aku Lahir Tepat di 2030 (Part I)

“Aku tak mau lahir, Ibu.”

“Kau jangan berkata begitu,” elus Pertiwi yang sedang mengandung 6 bulan itu.

***

Dua hari lalu, Pertiwi pergi ke dokter. Tiga bulan terakhir, ia sering merasa pusing dan mual. Namun, bagianya gejala yang sering ia derita itu hanyalah satu gejala wajar karena ia sedang hamil. Suaminya juga tidak begitu memperhatikannya, karena Pertiwi selalu pandai menenangkan sang suami, tatkala ia nampak begitu lemas dan pucat, setiap kali pusingnya kambuh.

Dan hari itu, 27 September 2029, gejala pusingnya kambuh hingga membuatnya terjatuh ketika sedang pergi ke kamar mandi. Untunglah kandungannya kuat, dan si bayi dalam kandungan itu di nyatakan baik-baik saja. Barukarena kejadian itulah ia mau diajak ke dokter. Bersama suaminya, ia pergi ke dokter kandungan di daerahnya.

Mula-mula dokter amat curiga, ada kontradiksi yang amat mencolok. Pertiwi punya peluang besar untuk melahirkan bayinya dengan selamat dan normal. Tapi ada kemungkinan yang amat mengkhawatirkan di balik semua itu. Akhirnya doktor menggunakan segala analisis yang memungkinkan dengan menggunakan uji laboratorium dan sebagainya. Dari sini, dokter akhirnya memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan pada pemeriksaannya.

Kepada sang suami, dokter berkata. “Dengan cara bagaimanapun juga, kami sulit memastikan kondisi Ibu Pertiwi saat melahirkan nanti. Kelahiran bayi Bapak, baik secara normal maupun sesar akan sangat beresiko. Ibu mengidap penyakit hemofilia.”

Sang suami, terbingung-bingung mendengar penjelasan semacam ini. Ada ekspresi antara ingin marah dan sedih takut kehilangan istrinya itu. Di dalam lamunannya ada bisikan yang membuatnya kian lemas.

“Dokter bukanlah seorang sastrawan yang suka mengarang cerita. Bukan aktor yang menciptakan narasi fiksi. Ia berkata lewat analisis logis, dengan metode ilmiah. Ia bukan politisi yang suka menakut-nakuti, yang suka menebar kontradiksi antara ucapan dan lakunya.”

“Oh, Tuhan. Bagaimana ini ?” sambil menghela nafas begitu panjang.

***

Oleh: Sukartono (Alumni MTK UNAIR 2012)




Cinta dalam Berzakat II

UNAIR NEWS – …………….. Akhirnya. Si istri tadi memenuhi permintaan Bu Nyai, karena tidak mungkin ia menolak ajakan orang yang paling dihormati di Desa itu.

Si istri itu kemudian diajak masuk ke rumah Bu Nyai.

“Bu, ini Bapak dapat sedekah banyak dari para santrinya. Saya dengar Pak Karmin adalah orang yang paling pandai menyembunyikan sedekahnya. Bapak berpesan agar sebagian sedekah ini diamanatkan untuk Pak Karmin agar dibagikan ke orang yang membutuhkan. Bagaimana Bu ?”

Si istri terdiam.

“Bu ?”

Barulah si istri berterus-terang.

“Andai, Bu Nyai bersedia. Bolehkah saya pulang dulu, bertanya kepada Bapak dan mengantarkan zakat anak-anak ini dahulu kepada yang berhak Bu.”

Bu Nyai itu ganti terdiam. Mungkin ia terhenyak, karena selama ini ia dan Pak Yai tidak tahu bahwa Pak Karmin juga membagikan zakat. Mungkin di benaknya. Pak Karmin hanyalah penerima zakat. Kenapa harus sengotot itu dalam beragama—apakah urusan berbagi itu primer dalam agama.

“Baiklah Bu, saya ngikut saja.”

Walhasil, malam itu si istri tetap hanya bisa membagikan tiga kantong zakat seperginya dari rumah Bu Nyai. Walau di depan mata ia bisa saja meminta belas kasihan Bu Nyai untuk menutup kekurangan satu kantong zakat demi suaminya. Tapi ia tidak melakukan itu. Baginya konteks amanat yang disampaikan Bu Nyai ada satu hal. Dan kewajiban zakat bagi keluarganya adalah hal yang lain.

Sesampainya di rumah, sang istri memutuskan untuk mengurangi jatah beras untuk keperluan sehari-hari. Dan kantong zakat ke empat itu ditunaikan demi membersihkan syahwat keduniaan manusia dan menuju pada kefitrian.

Pak Karminpun memandang ketulusan istrinya itu dengan kasih sayang.

“Tak usah khawatir Pak. Ibu tidak pernah tahu apa rencana Allah. Dan insyaallah, kita tidak akan pernah kelaparan Pak.”

Senyum Pak Karmin merekah.

“Kaulah paras mulia, satu dari banyak istri yang sangat kaya, Bu. Allah tidak salah mejodohkan kita.”

bersambung…

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR 2012)




Cinta dalam Berzakat I

UNAIR NEWS –  Ia juga ikut berbagi zakat kepada para fakir lainnya di penghujung Ramadhan tahun ini. Baginya, selagi ada yang masih bisa digunakan untuk berbagi, ia akan berkeras untuk berzakat. Walau ia sendiri adalah fakir miskin penerima zakat.

Ketika ada pembagian zakat dari takmir masjid, ia sekelurga selalu mendapatkan bagian 4 bungkus—tidak lebih. Hanya saja, tahun ini sepertinya jatah itu terkurangi. Jumlah warga penerima zakat meningkat. Ia hanya memperoleh 3 kantong saja.

Inilah dilema bagi keluarga ini. Tahun-tahun sebelumnya ia mengandalkan 4 kantong itu untuk di zakatkan kembali kepada yang berhak. Anggota keluarga mereka berjumlah 4. Dan apa daya, tahun ini ia harus mengurangi jatah beras untuk kehidupan sehari-harinya demi menunaikan kewajiban zakat keluarganya.

Usut punya usut, persedian beras mereka sudah tidak banyak. Tak ada tumpukan gabah, karena mereka hanya petani penggarap—yanghanya mendapatkan bagian sepersekian dari hasil panen. Selebihnya hasil panen adalah hak si empunya lahan.

“Kenapa Bapak, ngotot.”, protes istrinya.

Ia tak melanggapi keluhan istrinya. Justru ia bergegas pergi untuk mencari cara agar bisa menunaikan kewajibannya. Tapi, malam itu bunyi takbir sudah berdengung. Di mana-mana gelegar kemenangan dikumandangkan dengan suka ria. Artinya, esok hari sebelum sholat I’d adalah deadline akhir bagi usahanya.

“Sudahlah, Bu. Zakatkan tiga bungkus itu untuk Ibu, Azam dan Qori’. Bapak ndak usah.”

Istrinya, kali ini tak mau berdebat lagi. Perintah suaminya itu kemudian segera dilaksanakannya.

Di perjalanan, dengan membawa tas yang berisi bungkusan beras yang siap ia bagikan. Seorang perempuan berkerudung, dengan berpakaian rapi menyapanya.

“Asalamualaikum. Mau kemana Bu ? Kog kelihatannya terburu-buru.”

Dengan malu-malu, sambil tersenyum, dijawablah sapaan tadi.

“Waalaikumsalam. Eh, Bu Nyai. Ini Bu, lagi menunaikan amanat Bapak.”

Ceritanya, malam itu Pak Kyai memperoleh sedekah banyak dari para orang tua santri yang sesuai adat kebiasaan, selalu sowan di malam takbiran tiba.

“Eh, kebetulan. Mampir ke rumah dulu Bu. Saya juga dapat pesanan dari Pak Yai. Nggak terburu-buru to.”

Bersambung…

 Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR 2012)




Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku III

UNAIR NEWS – Dua kalimat syahadat saja aku tak benar-benar serius. Aku tak bisa berbahasa Arab, akupun tak mampu membaca samudera luas yang bernama Al-Qur’an itu. Sholatku hanya sebatas ritual, doaku adalah rengekan rapal yang tak jarang hanya sekedar kulafalkan tanpa arti. Dan ketika kuketuk pintu di dalam hatiku, aku jadi sangat ragu.

“Bagaimana aku sedang berpuasa, sementara daging dan jiwaku saja tidak serius menghamba kepada-Mu.”

Aku tak pandai sebagaimana Engkau hadir kepada hamba-Mu dengan rahman dan rahim-Mu. Engkau Maha Berpuasa, mengesampingkan seluruh kemungkinan-Mu untuk hadir dalam sifat-Mu yang Maha Adil lagi Maha Kuasa di dunia yang kami alami ini.

Begitulah, hingga aku tak akan lulus memperoleh pahala dari puasa yang Engkau wajibkan atas kami sebagaimana Engkau wajibkan kepada ummat sebelum kami.

Aku sendiri tak sempat memahami puasaku kecuali pikiranku tentang rasa lapar dan haus saja. Aku tak sempat berpuasa kecuali yang kupikirkan hanyalah hadiah-hadiah, seakan-akan aku hanya memposisikan Tuhanku sebagai mandor yang mempekerjakanku sebagai kuli. Sehingga puasa kujadikan sebagai sistem semester pendek untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya, serakus-rakusnya kekayaan pahala. Berhubung Tuhanku sedang mendistribusikan kenaikan jumlah pahala yang tidak main-main berlipatnya.

Tanpa kuberfikir bahwa kekayaan pahala itu, amatlah tidak cukup kalau kita gunakan untuk membeli satu kavling surga-Nya Allah. Sebab nikmat yang turun kepada kita, jika dinominalkan dalam kekayaan pahala, jumlahnya masihlah sangat kurang. Hutang kita kepada Allah tak tertebus oleh seluruh amal rekadaya kita, jika hanya berharap pamrih. Apa yang bisa kita andalkan kecuali Rasulullah.

Puasa ini, untukku sulit kupersembahkan kepada-Nya. Walau puasa oleh Allah disebutkan hanya untuk-Nya. Tapi seluruh cela, kekurangan, dan kenaifan pikiran, daging, dan hatiku, teramat berat jika harus dinilai oleh Allah sendiri. Aku tak akan punya wajah, tak akan tega, jika Rasulullah dalam tatapan kasihnya kemudian menemukan orang sepertiku yang mengaku-aku sebagai ummatnya.

Tapi entah kenapa, aku begitu menikmati puasa dan bulan Puasa melalui tatapan bahagia, ekspresi-ekspresi syukur, dan kreatifitas tradisi, yang praktis hanya ada di bulan ini. Pemandangan di kota-kota, di desa-desa dan di masjid-masjid terasa hidup. Mereka semua terhanyut dalam suasana untuk kembali meninggikan Tuhan—walau uforia masjid menjadi ramai, biasanya hanya sejenak pada minggu-minggu awal puasa. Tapi itu bukti, bahwa jerat rantai di kaki iblis dan setan, memang sangat terasa. Karena, mereka tetap tak akan menghapuskan naluri dasar manusia untuk kembali kepada Tuhannya. Try out Iblis sia-sia saja tak akan sempurna untuk menghitam legamkan kertas kosong bernama manusia itu. [ * ]

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku II

UNAIR NEWS – Alasanku masih memegang agama adalah untuk menuju pada ketenangan diri. Aku yakin Islam adalah pintu selamat, pintu ketenangan, keteduhan dan kasih sayang. Di dalam ketenangan itulah aku menemukan surga. Dan di dalam kasih sayanglah, aku menemukan bidadari-bidadari yang sedang merayu, menggoda dan membawaku pada kepuasan rohaniah imajiner yang tiada ukurnya.

Aku yakin iman itulah yang akan mempertemukanku setiap waktu memandang wajah Tuhanku. Dan dengan jalan berpasrah kepada-Nya, senatiasa syukur serta tawakal. Dari situlah letak aliran sungai di dalam surga dapat kunikmati, kupegang, dan ku kendalikan.

Senatiasa ku sadari, bahwa kelemahan, rasa lupa bahkan dosa dan nista sering kulakoni. Aku juga tak akan lepas dari siksa-siksa neraka. Aku bukan orang suci.

Sedikit saja aku menggantungkan diri pada orang lain, pada dunia, dan pada rasa cinta yang berlebih-lebihan. Maka dosa kekafiran memanggangku, mengintai pada rasa kecewa di kemudian hari. Perasaan kecewa, susah, sedih inilah yang lekat dalam ingatan, menusukkan siksa tanpa mampu membunuhku sekejap saja—bisa menghantui lama. Hidup tak mati-mati dalam siksaan.

Bahkan aku terasa takut dalam era ini. Sangat sedemikian takut. Dosaku, nistaku, dan kesalahanku, janganlah dikekalkan di alam IT. Sehingga anak, cucu, buyut, canggah dan keturunanku sewaktu-waktu tak terjebak dalam aib. Ikut melaknatku, dan yang kutakut ialah mereka menolak mengakui garis darahku.

Era informasi ini bagiku jebakan, tapi juga peluang. Era ini lebih kekal dan mengekalkan segala hal di dunia, baik keburukan maupun kebaikan. Bahkan, laknat kepada Fir’aun, Qarun, Abu Lahab dan Abu Jahal bisa saja digantikan oleh nama-nama baru ke dalam dunia segenggaman tangan itu. Itulah neraka yang harus diwaspadai bersama. Maka berhati-hatilah dengan dunia yang tak kenal tega ini. Untuk menjadi baik, baiklah tanpa takut sendiri. Kalau memilih menjadi buruk, tanggunglah sendiri.

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku I

UNAIR NEWS – Nyaris aku tersinggung karena orang-orang bisa hidup lebih religius. Sangat Islam dan punya Islam sebagai penolong mereka dalam agenda menuju surga.

Aku sama sekali merasa lepas dari upaya untuk baik seperti mereka. Diriku tak punya apa-apa. Tak punya ulama untuk ku bela, dan tak punya hafalan Al-Qur’an yang bisa kubanggakan. Hingga aku tak berkesempatan untuk membela ulama’ maupun merasa ternistakan oleh orang yang memelintir kitab suci itu.

Aku sendari awal dilahirkan di Indonesia dalam lembaran takdir. Orang tuaku suku Jawa, kakek nenekku lahir dan beragama Islam. Tak pernah ku dengar dari Mbah Modin tentang khilafah. Kami hidup mengagumi Sukarno dan bersholawat kepada Kanjeng Nabi. Menurutku, kekhalifahan sudah tergelar di tanah air kami, baik dari titik start Indonesia dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Maupun kekhilafahan versi Kasultanan Demak era Sultan Patah dan wali songo penasehatnya.

Harus diakui, Islam adalah agama yang kuterima dari didikan Ibu Bapak dan dari pengaruh lingkungan yang diturunkan dalam tradisi bergilir turun temurun. Ku terima itu tanpa aku punya kesempatan lain membantahnya. Tapi aku tetap saja tidak punya perangkat kompetensi agama apa-apa, sehingga diriku aman untuk tidak dicap sebagai santri, orang alim, nahdiyin, muhammadiyin, aktivis HTI atau lain sebagainya.

Meski begitu, dalam hati kecilku berat bagiku untuk makar keluar dari agama ini. Aku mungkin menjadi orang-orang buta yang sekadar menjalankan syariat sebagai penggugur kewajiban. Katakanlah itu munafik, dan memang aku merasa takut juga jika tidak diakui dalam rumpun keluarga Islam itu sendiri. Entah kenapa nuraniku cukup ciut untuk dituduh neko-neko, semisal kafir, liberal atau setingkat atheis. Jikapun ada yang terlanjur menuduhku atau menuduh orang lain dengan istilah itu. Kuharap meraka yang menuduh itu adalah yang tidak kafir, yang tidak liberal dan yang tidak punya sesembahan lain kecuali Allah dimanapun juga, baik di daging maupun dihatinya. Karena aku takut otoritas mereka itu menjadi patah gara-gara harus meladeni orang-orang remeh seperti aku. Meski aku yakin mereka tak mungkin kurang bukti, tak mungkin kurang rasa istiqomah. Bahkan kedekatan dan kedalaman meraka dalam menelaah kontekstualisasi Islam pastilah tepat. Mereka amat dekat dengan Allah.

Tetapi sebagai pembelaan, aku akan kekehtetap mengklaim bahwa diriku berlindung dalam kuasaan ke-Esaan-Nya, meski rumpunku itu dicela oleh otoritasapapun juga. Tak jua masalah, meski rumpunku dikonotasikan dengan istilah Islam Kejawen, Islam Tradisi, Islam Abangan, Islam Nusantara atau Islam Warisan. Memang harus diakui bahwa the truth of Islam, bukanlah kelas kami-kami ini.

bersambung…

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)




Jangan Tersandera Part II

UNAIR NEWS – Di sebuah mimbar, seorang Kyai ditanya seorang jamaahnya. Jamaah yang bertanya ini adalah seorang warga dari desa Selo. Ia sendari ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Halus bertutur kata, warga itu menyampaikan pertanyaannya dengan tawadu’.

“Kyai, apakah akan terjadi sesuatu dengan desa kami setelah petir itu memecah kepercayaan setempat, apa itu pertanda buruk ?”

Karena yang bertanya adalah perempuan, maka Kyai ini memanggilnya dengan Yu.

“Yu, sampeyan kan sudah ngaji lama disini. Semuakan dari Gusti Allah. Pasrahkan saja sama yang mengatur.”

Dengan mengangguk, warga ini masih belum merasa puas dengan jawaban itu. Tapi ia sungkan untuk mengutarakan pertengkaran batin yang tak bisa terobati dengan jawaban itu.

***

Berbeda dengan spektrum pendekatan Pak Kyai. Sebuah jurnal ilmiah mencoba menjelaskan fenomena petir. Mas Mus yang sangat anti dengan hal-hal yang berbau mistik mencoba menjelaskan semampunya, atas isi sebuah jurnal yang telah ia baca itu.

Nongkrong, di warung kopi, Mas Muspun merangsek pada obrolan. Ia dengan perlente membedah isu petir ngalor ngidul.

“Pembusukan dari bahan organik, asap pembakaran pabrik, yang terionisasi dan mengandung metana, kalau naik ke atmosfer. Ketika gas teroinisasi itu mengumpul banyak, maka akan timbul perbedaan potensial yang tinggi. Di sinilah bisa terjadi lompatan-lompatan listrik.” Tutur Mas Mus meyakinkan.

“Penjelasanmu itu terlalu, ndakik-ndakik nggak bisa diterima. Ini bukan soal peristiwa petirnya. Tapi soal kog baru sekarang” jawab seorang warga.

“Mas, apa ini karena pabrik gula, ya”

“Iya. Betul. Ada industri dan polusi.”

Desa itu memang dalam tahun-tahun terakhir dipenuhi oleh pabrik gula dengan pengolahannya yang menghasilkan polusi udara.

“Iya, industri dan polusi ada, tapi Mbah Mat meninggal mendadak selang beberapa hari saja setelah petir itu merusak sebuah pohon di dekat tempat keramat yang dijaganya. Jangan meremehkan lho.”

Mungkin dalam hati, Mas Mus tidak akan berselera untuk menjawab kekolotan jawaban semacam itu.

“Kepercayaan macam apa yang justru menteror diri sendiri” gerutu Mas Mus dalam hati.

Bersambung…

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)