Selamat Jalan, Guru Kami….

UNAIR NEWS – Suasana rumah Jalan Dharmawangsa 27, Surabaya, tersebut lain dari biasanya, Sabtu (18/11). Tenda besar menaungi halaman. Kursi-kursi memenuhi pelataran tersebut. Karangan bunga berjejer di depan pagar. Para pelayat terlihat datang silih berganti.

Keluarga besar Universitas Airlangga (UNAIR) berduka. Rektor periode 1980-1984, Prof. Dr. Marsetio Donosepoetro, dr. SpPK(K), meninggal dunia pada pukul 09.10 di usia ke 87 tahun. Belakangan ini, kondisi kesehatan Pendiri Bagian Patologi Klinik FK Unair – RSUD Dr Soetomo tersebut memang kerap menurun.

“Dedikasi almarhum untuk UNAIR sudah terbukti nyata. Bahkan, almarhum juga memberi sumbangsih kongkret bagi tanah air. Misalnya, saat menjadi Duta Besar RI di UNESCO (1985-1990, Red),” kata Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA saat melayat ke rumah duka.

Karangan bunga tanda duka cita dari para kerabat terus berdatangan.

Selama menjadi orang nomor satu di UNAIR, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) ini dikenal sebagai pribadi yang tegas, disiplin, dan suka memberi teladan. Pembangunan karakter menjadi prioritas. Sehingga, para lulusan, dan semua sivitas akademika baik dosen maupun tenaga kependidikan, memiliki jiwa yang luhur. Bukan sekadar orang-orang kampus yang brilian dari segi akademik.

Prof Marsetio juga menjadi salah satu akademisi UNAIR yang mencetuskan gagasan “universialisasi” pendidikan. Maksudnya, semua disiplin ilmu seharusnya saling bersinergi. Sebagai contoh, ilmu kedokteran, selalu terhubung dengan ilmu-ilmu sosial. Demikian pula pada disiplin atau rumpun ilmu yang lain.

Semuanya saling ketergantungan dan melengkapi, guna meraih hasil optimal saat diimplementasikan di masyarakat. Tak ayal, lelaki kelahiran Jakarta 8 Maret 1930 itu juga kerap mengajar bidang-bidang ilmu sosial, baik di UNAIR, maupun di kampus lain.

Pria yang menjadi Guru Besar sejak 1976 ini populer pula dengan metode mengajarnya yang gayeng dan bersahabat. Sehingga, para mahasiswa lebih mudah mencerna materi perkuliahan. Pintu rumahnya selalu terbuka bagi para mahasiswa yang ingin datang berkonsultasi. Pemilik senyum ramah ini tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran anak didiknya. Tak heran, kedekatannya pada banyak kalangan membuatnya begitu dicintai orang-orang di sekitar.

Para pelayat terus berdatangan sebagai bentuk penghormatan.

Suami dari Dalisar Mohammad Sarin yang menikah pada 1959 ini pun tergolong sosok ayah yang dekat dengan keluarga. Hal itu disampaikan oleh dokter Erwin Ramawan Marsetio. “Almarhum memberi kami contoh melalui tindakan. Tidak suka banyak bicara. Selalu berpesan tentang pentingnya akhlak yang baik,” ungkap ahli ortopedi tersebut.

Diungkapkan putra kedua mendiang tersebut, selama ini, kakek dari lima cucu yang sudah memiliki dua cicit tersebut selalu mendahulukan kepentingan orang dan masyarakat. Yang menarik, meskipun tergolong sebagai dokter senior dan berpengalaman, Prof. Marsetio tidak pernah kehilangan fokus pada upaya pengembangan pendidikan atau dunia kampus. “Beliau peduli pada dunia pendidikan. Sangat peduli pada generasi yang akan datang,” urainya.

Rencananya, pada Minggu pagi (19/11) pukul 08.00, jenazah akan disemayamkan di gedung Rektorat UNAIR untuk memberi kesempatan para sivitas akademika yang ingin memberi penghormatan. Kemudian, pada 09.00, diberangkatkan ke Tempat Pemakaman Umum Keputih Surabaya.

Selamat jalan, Guru kami…

 

 

 

 

Riwayat Pendidikan :

Th. 1961                      : Lulus Dokter FK Universitas Airlangga

Th. 1961 – 1963          : Pendidikan Clinical Pathology di University of California

Th. 1972                      : Pendidikan Medical Education Management di Srilanka

Th. 1974                      : Brevet Spesialis Patologi Klinik

Th. 1974                      : Pendidikan Hospital Management di Leiden

Th. 1977                      : Pendidikan di University Management di OHIO University

Th. 1979                      : Pendidikan Research Management di University Los Panjos Manila

Th. 1982                      : Doctor of Science di OHIO University

 

Riwayat Pekerjaan:

Th. 1963 – 1974          : Pendiri Bagian Patologi Klinik FK Unair – RSUD Dr Soetomo dan

menjabat sebagai Kepala Bagian PK

Th. 1969 – 1970          : Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo

Th. 1974                      : Perintis Unit Hemodialisis di Bagian Patologi Klinik RSUD Dr.

Soetomo Surabaya

Th. 1974 – 1980          : Pembantu Rektor Unair Bidang Akademik

Th. 1978                      : Ketua SATGAS Pengembangan Sistem Pengajaran Pendidikan                                             pada Departemen Pendidikan & Kebudayaan

Th. 1980 – 1984          : Rektor Universitas Airlangga

Th. 1985 – 1990          : Duta Besar RI di UNESCO

Th. 1992 – 1997          : Ketua Komisi IX (Pendidikan) di DPR RI




Mahasiswa Keperawatan Gelar Aksi Peduli Diabetes

UNAIR NEWS – Mahasiswa Keperawatan Unair tampak semangat melakukan Aksi Long March di CFD (Car Free Day) Taman Bungkul pada Minggu (12/11). Kain putih yang diikatkan di kepala mahasiswa dan yel-yel yang dinyanyikan sepanjang jalan menambah semangat mereka. Maskot UNAIR pun turut mengiringi kegiatan Long March di Acara HAM (Hentakan Aksi Mahasiswa) 2017, dalam memperingati Hari Kesehatan Nasional dan World Diabetes Day.

Tema yang diangkat mahasiswa keperawatan kali ini adalah “Indonesia Bebas Diabetes”. Para mahasiswa memberi cek kesehatan gratis pada masyarakat yang lokasinya di dekat area skateboard. Bekerja sama dengan Rumah Zakat, cek kesehatan tersebut meliputi cek tensi atau tekanan darah dan tes gula darah tanpa dipungut biaya. Mekanisme cek kesehatan mengggunakan kupon yang dibagikan oleh mahasiswa keperawatan kepada masyarakat. Respon masyarakat sangat tinggi dan antusias untuk mengikuti  cek kesehatan ini. Kegiatan dilanjutkan dengan prosesi tanda-tangan petisi pada banner yang disediakan untuk “Melangkah Bersama Cegah Bebas Diabetes”.

Ada sekitar 75 warga yang tercatat pada cek kesehatan kali ini. Dimulai dari yang muda, hingga yang tua. Mereka terlihat antusias sehingga stand tampak ramai. Mereka yang memadati stand tersebut adalah orang-orang yang habis olahraga atau hanya sekedar berjalan-jalan di Taman Bungkul. Mereka bertanya banyak seputar diabetes.

Mahasiswa fakultas keperawatan pun memberikan feedback kepada mereka yang telah antusias bertanya, dengan memberikan edukasi seputar diabetes. Harapannya, masyarakat bisa mengetahui tanda dan gejala dari diabetes serta tindakan pencegahannya. Sedangkan untuk masyarakat yang telah sadar akan diabetes, mereka bisa melakukan cek gula darah secara rutin dan menghindari hal-hal penyebab diabetes. Berikut dokumentasinya. (*)

Penulis: Qurrata A’yuni Rasyidah, Mahasiswi Fakultas Keperawatan UNAIR

Editor: Rio F. Rachman​




Mahasiswa Antusias, Prosiding Diterbitkan di Skala Internasional

UNAIR NEWS – Event bertajuk International Post-Graduate Conference on Media and Communication yang dihelat oleh Magister Media dan Komunikasi (Medkom), di Ballroom Hotel Harris, Jalan Bangka, Surabaya, pada Senin (13/11), memiliki banyak manfaat. Termasuk, bagi mahasiswa magister di prodi tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Abd. Rahman, salah satu mahasiswa semester ketiga. Dia mengatakan, kali ini, dia menjadi panitia. Meski demikian, dia tetap berkesempatan untuk ikut menyimak beberapa diskusi panel. Juga, ikut mendengarkan seminar umum dari tiga pakar bidang media dan komukasi.

Yakni, Prof. Dr. Sharyn Graham Davies dari Auckland University of Technology, Prof. Dr. Gati Gayatri, MA, dari Pusat Litbang Literasi dan Profesi Kementerian Kominfo, dan Dr. Kuskridho Ambardi, MA., direktur eksekutif Lembaga Survey Indonesia.

“Selain itu, saya juga dapat bertemu dengan akademisi dari kampus lain. Ini adalah momen meluaskan jaringan dan menambah kawan,” papar pemuda yag merupakan salah satu penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan tersebut.

Apresiasi positif serupa disampaikan oleh mahasiswa S2 Medkom semester pertama bernama Fiqih Arfani. Pria yang berprofesi sebagai wartawan ini mengutarakan, keaktifan dalam seminar internasional adalah salah satu syarat kelulusan. Baik itu aktif sebagai peserta, maupun pembicara.

“Kali ini, saya jadi peserta. Tidak ikut menjadi presenter dalam diskusi panel. Insya Allah, tahun depan saya jadi pemakalah,” papar salah satu penerima beasiswa dari Persatuan Wartawan Indonesia tersebut.

Yang tak kalah menarik, semua artikel yang masuk ke panitia dan terpilih buat ikut diskusi panel, bakal dimasukkan dalam prosiding. Diterbitkan oleh Scite Press dan terindeks Scopus. “Ini menjadi poin plus bagi para peserta,” kata Ketua Panitia Windri Saifudin.

Konferensi internasional yang diadakan S2 Medkom kali ini menguliti soal perkembangan dunia digital, media dan komunikasi dalam ruang lingkup politik, industri, budaya serta pemberdayaan masyarakat. Event ini diikuti setidaknya 160 peserta dari berbagai kota. Bahkan, ada pula peserta dari Palestina dan Perancis. (*)




FISIP Giat Gelar Event Internasional

UNAIR NEWS – Salah satu fakultas yang giat menggelar konferensi dan seminar umum berlevel internasional adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dalam sambutannya pada acara International Post-Graduate Conference on Media and Communication yang dilaksanakan Magister Media dan Komunikasi, Dekan FISIP Dr. Falih Suaedi mengutarakan, sepanjang tahun ini, tak kurang enam acara yang dihadirinya.

“Sebelum ini, saya memberi sambutan di lima acara internasional serupa. Ini menjadi bukti, stamina dan atmosfer akademik di FISIP tak pernah padam,” papar dia di Ballroom Hotel Harris, Senin pagi (13/11).

Yang tak kalah menarik, imbuhnya, ada banyak jurusan atau program studi di fakultas ini yang sudah terakreditasi A sekaligus terakreditasi di tingkat internasional. Hal ini menunjukkan, FISIP siap melahiran lulusan bereputasi baik dan kompetitif. “Departemen Ilmu Komunikasi UNAIR ini termasuk yang terbaik di Indonesia. Saingannya Cuma UI (Universitas Indonesia),” kata dia.

FISIP juga terus menggelar kuliah tamu dengan menghadirkan orang-orang hebat. Misalnya, yang akan kembali diadakan oleh prodi Magister Media dan Komunikasi, Rabu mendatang (15/11). Dahlan Iskan, salah satu wartawan senior pemilik Jawa Pos Grup, yang didaulat untuk membagi ilmunya. “Pak Dahlan juga siap menjadi dosen luar biasa di UNAIR. Beliau antusias saat kami ajak bersinergi,” kata Falih.

Sementara itu, Kepala Departemen Ilmu Komunikasi Dr. Yayan Sakti Suryandaru mengemukakan, kegiatan konferensi internasional yang digelar pada Senin di Hotel Harris juga dapat menjadi ajang diskusi para akademisi. Tujuannya, merumuskan solusi atas persoalan yang terjadi di tanah air. Khususnya, di ranah media dan komunikasi. “Kami merasa senang karena bisa menjadi tuan rumah kegiatan ini. Kami juga merasa terhormat karena para hadirin dan narasumber berkenan hadir,” kata dia.

Dalam konferensi kali ini, ada 160 partisipan yang datang. Baik sebagai presenter, maupun peserta. Mereka berasal dari banyak kota di tanah air. Bahkan, ada pula yang dri Palestina dan Perancis.

Tiga pakar yang didaulat sebagai invited speaker adalah Prof. Dr. Sharyn Graham Davies dari Auckland University of Technology, Prof. Dr. Gati Gayatri, MA, dari Pusat Litbang Literasi dan Profesi Kementerian Kominfo, dan Dr. Kuskridho Ambardi, MA., direktur eksekutif Lembaga Survey Indonesia. (*)    




Magister Media dan Komunikasi Gelar Konferensi Internasional

UNAIR NEWS – Kampus Airlangga kembali menggelar acara berlevel internasional. Kali ini, Program Studi S2 Media dan Komunikasi menghelat event bertajuk International Post-Graduate Conference on Media and Communication. Dalam ruang lingkup politik, industri, budaya dan pemberdayaan masyarakat. Event ini dilaksanakan di Ballroom Hotel Harris, Jalan Bangka, Surabaya, pada Senin (13/11).

Tiap tahun, Prodi ini memang rutin menggelar acara dengan topik-topik menarik dan sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar. Para narasumber bereputasi diundang, sehingga mereka yang hadir sebagai peserta pun merasa tertantang untuk datang.

Acara ini terdiri dari diskusi/presentasi panel dan seminar umum. Dikusi panel digelar sejak pukul 07.30 hingga pukul 09.30. Lantas, dilanjutkan dengan sesi seminar umum dengan pembicara kenamaan hingga pukul 12.30. kemudian, setelah Ishoma hingga pukul 13.00, kembali digelar diskusi panel sampai pukul 17.00.

Ada tiga pakar yang didaulat menjadi invited speaker. Yakni,  Prof. Dr. Sharyn Graham Davies dari Auckland University of Technology, Prof. Dr. Gati Gayatri, MA, dari Pusat Litbang Literasi dan Profesi Kementerian Kominfo, dan Dr. Kuskridho Ambardi, MA., direktur eksekutif Lembaga Survey Indonesia.

Secara umum, Prof. Sharyn berbicara tentang pergerakan budaya seiring laju perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Sedangkan Prof. Gati membahas soal bagaimana pergerakan dan pemberdayaan masyarakat seiring tumbuhnya kesadaran pemanfaatan teknologi informasi. Termasuk di dalamnya, soal pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam dunia industri sebagai pengerek perekonomian bangsa. Adapun Dr. Kuskridho membawakan tentang topik politik yang dihubungkan dengan percepatan arus informasi kekinian.

Tak kurang dari 160 hadirin yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Baik sebagai presenter, maupun peserta. Mereka berasal dari sejumlah negara, selain Indonesia. Antara lain, dari Palestina dan Perancis.

Kepala Departemen Ilmu Komunikasi Dr. Yayan Sakti Suryandaru mengutarakan, pihaknya selalu berupaya menggelar kegiatan yang berkualitas yang terbuka untuk umum. “Sehingga bisa bermanfaat luas, baik bagi warga kampus maupun untuk masyarakat,” urai dia.

Di tempat yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dr. Falih Suaedi mengutarakan, pengetahuan tentang media dan komunikasi bersifat mutlak. Khususnya, di zaman serba digital seperti sekarang ini. “Pemahaman tentang literasi media digital perlu terus ditingkatkan untuk pengembangan masyarakat di segala bidang,” papar Falih dalam sambutannya. (*)

 




Dekan FIB Raih Penghargaan Internasional

UNAIR NEWS – Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Diah Ariani Arimbi, PhD., mendapat penghargaan dari sebuah Non-Government Organitation (NGO) internasional, Jum’at lalu (3/11). Akademisi yang menggeluti bidang sastra Inggris dan gender tersebut mendapat penghargaan Indonesia Education Leadership Award 2017 dari NGO bernama World CSR Day and World Sustainability. Prosesi pemberian penghargaan itu juga didukung oleh sejumlah institusi internasional lain, seperti, Thought Leader, CMO Asia, Stars Group dan sebagainya.

Diah mengatakan, ada sejumlah kriteria bagi penerima penghargaan. Misalnya, kiprah di ranah penelitian level dunia, dan efeknya pada masyarakat. Panitia pemberi penghargaan memiliki dewan juri yang terdiri dari sejumlah anggota. Dewan juri itulah yang memilih siapa orang yang berhak atas penghargaan itu.

Award ini bukan seperti lomba yang meminta orang-orang untuk mengirim syarat-syarat tertentu. Namun, panitia dan dewan juri yang melacak siapa saja yang pas untuk diberi predikat Indonesia Education Leadership Award 2017 tersebut.

Para juri yang terlibat antara lain, Dr. Arun Arora (Ex President and CEO, The Economic Times; Chairman, Edvance Pre-schools Pvt. Ltd. & Emeritus Chairman, World HRD Congress), Dr. Harish Mehta (Chairman & MD-Onward Technologies Ltd.; Emeritus Chairman – World HRD Congress & Founder Member–NASSCOM), Professor Indira Parikh (President, Antardisha, India’s Iconic HR Leader & Ex-Dean, IIM Ahmedabad) dan Nina E. Woodard (President & Chief “N” Sights Officer , Nina E. Woodard & Associates, a division of NDPendence, Inc.).

Juga, Dr. C. M. Dwivedi (Group Chief Human Resource Officer, Sopariwala Exports Pvt. Ltd.), Dr. Saugata Mitra (Chief People Officer & Group Head HR, Mother Dairy Fruit & Vegetable Pvt. Ltd.), dan Dr. R L Bhatia (Founder, World CSR Day and World Sustainability).

“Selama ini saya memang kerap menjadi dissertation examiner bagi mahasiswa asing di luar negeri, maupun editor di sejumlah jurnal internasional,” kata Diah saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/11).

Panitia yang memberi penghargaan pada Diah memiliki reputasi yang panjang. Hal itu bisa ditelusuri melalui official website yang bersangkutan, dan akun media sosialnya.

Di sisi lain, FIB selama ini terus melakukan penguatan jejaring internasional. Harapannya, FIB dapat menjadi salah satu ujung tombak bagi kampus ini, guna meraih posisi 500 besar dunia.

Misalnya, pada 8 sampai 9 Desember mendatang, akan diadakan The 4TH International Conference on Urban Studies: Border and Mobility. Kampus atau institusi internasional yang terlibat antara lain, Hamburg University, Curtin University, Sydney University, University of Illinois, Asia Research Institute, dan lain sebagainya. Prosiding dari acara itu nantinya bakal terindeks Scopus.

“Kami juga giat untuk melakukan pertukaran mahasiswa, dosen, dan staf. Ada rencana pula untuk membuat double atau join degree dengan kampus di Jerman,” papar dia. (*)

 




Kampus Airlangga, Rumah Kedua bagi Mahasiswa Asing

UNAIR NEWS – Kampus Airlangga memiliki banyak mahasiswa asing yang berasal dari beragam belahan dunia. Secara umum, mereka betah untuk kuliah di sini. Bahkan, mereka merasa bahwa UNAIR merupakan rumah kedua.

Ahmed Madani, asal Gza Palestina, misalnya. Dia mengatakan, kenyamanan dan kedamaian di UNAIR tak akan pernah terlupakan.  Dosen, staf, dan kawan-kawannya, tak pernah letih memberinya semangat untuk belajar.

“Universitas Airlangga sudah menjadi rumah kedua bagi saya. Saya sangat berterimakasih kepada Universitas Airlangga telah menerima saya sebagai mahasiswa,” urai mahasiswa S3 Ilmu Sosial angkatan 2015 tersebut.

Para mahasiswa asing juga terbantu dengan kerahaman mahasiswa Indonesia yang siap membantu mereka. Khususnya, bila mereka menemui persoalan tentang bahasa. “Jika ada yang tidak saya mengerti, mereka membantu saya untuk memahami. Pelakuan di sini angat menyenangkan,” kata Randriamamisoa Heriniaina Olivia, mahasiswi S1 Budidaya Perairan FPK, asal Madagaskar.

Dosen yang ada di UNAIR pun, menjadi magnet tersendiri. Sebab, perhatian tenaga pengajar terhadap mahasiswa asing merupakan kunci utama kesuksesan perantau itu dalam perkuliahan.

“Yang saya lihat, para dosen selalu memahami kondisi mahasiswa. Serta, selalu menawarkan bantuan jika mahasiswa mengalami kesulitan” papar Rungthum Rangsikul, mahasiswa S2 Kajian Sastra dan Budaya FIB, asal Thailand.

Apresiasi positif dari para mahasiswa asing tersebut menjadi katalisator bagi kampus guna memberikan pelayanan yang lebih baik lagi. Tak ayal, jumlah mahasiswa asing di UNAIR terus bertambah. Pihak-pihak yang ingin bekerjasama dengan UNAIR pun terus meningkat. Tak terkecuali, institusi atau kampus yang berasal dari luar negeri.

Daya tarik lain yang ada di kampus Airlangga adalah kualitas.Juga, fasilitas yang serba lengkap. “Menurut saya, UNAIR sudah memiliki kualitas yang baik. Fasilitas yang ada di sini juga lengkap. Sangat membantu mahasiswa untuk mengeskplorasi potensi,” ujar Nubar Azad Qizi Gubanova, mahasiswa S3 Ilmu Sosial dari Azerbaijan.  “Saya pilih UNAIR sebagai tujuan, padahal banyak pilihan universitas lain. Saya tetap memilih UNAIR karena merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia,” tambah Yassir Ahmed Elbashir Elhasan, mahasiswa S2 Kesehatan dan Keselamatan Kerja, dari Sudan.

Pelayanan pada mahasiswa asing juga menjadi poin plus tersendiri. Yang menjadikan mahasiswa dari luar negeri itu betah dan nyaman berkuliah. “Saya merasa bahwa pendidikan dan manajemen pelayanan di UNAIR ini bagus, mulai dari staf hingga direktur yang menangani bidang pendidikan. Mereka sudah melayani mahasiswa asing dengan baik,” ujar Abdulrahman Taresh Abdulghani, mahasiswa S3 Ilmu Ekonomi dari Yaman. (*)




Perkuat Jejaring Internasional, Raih 500 Terbaik Dunia

UNAIR NEWS – Salah satu cara untuk meraih predikat 500 kampus terbaik dunia adalah memerkuat jejaring internasional. Langkah itu sudah dilakukan oleh UNAIR, melalui segenap unit maupun fakultas yang ada di kampus ini. Termasuk, Sekolah Pascasarjana.

Wakil Direktur I bidang Akademik Sekolah Pascasarjana (SP) Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, M.Kes, drh., mengatakan, pihaknya sudah menjalankan banyak program yang melibatkan pihak luar negeri. Di samping melakukan riset bersama antara SP dan institusi lain, dijalankan pula kerjasama pendidikan. Misalnya, datang ke kampus lain untuk menawarkan program SP sebagai pilihan studi lanjut mahasiswa di kampus tersebut.

Sebagai contoh, pertengahan tahun lalu, SP datang ke tiga kampus di Myanmar. Sebelumnya, sudah dijalin komunikasi dengan pihak kampus-kampus yang dimaksud. Dari sana, diketahui terdapat banyak mahasiswa di kampus-kampus tadi yang berminat melanjutkan studi di UNAIR.

“Minat mereka tersebar ke banyak fakultas. Termasuk, ke Sekolah Pascasarjana,” kata  Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan itu saat ditemui di ruang kerjanya Senin (6/11).

Kedatangan Anwar dan sejumlah dosen UNAIR ke Myanmar sekaligus untuk melakukan salah satu tahapan seleksi. Dari hasil tes tersebut, terjaring banyak mahasiswa yang pada awal tahun 2018, atau ketika masuk semester genap, bakal resmi menjadi mahasiswa SP.

Selama ini, ada banyak jalur beasiswa yang tersedia di UNAIR dan bisa digunakan mahasiswa asing. Di SP, sudah ada sejumlah mahasiswa asing. Misalnya, dari Nigeria, Tanzania, Suriah, dan lain sebagainya.

Memang, keberadaan mahasiswa asing bukan satu-satunya variabel untuk mendongkrak ranking di level dunia. Masih banyak variable lainnya. Antara lain, jumlah publikasi internasional terindeks Scopus.

Untuk meningkatkan jumlah publikasi itu, SP mengadakan program Visiting Profesor. Ada dua Guru Besar dari Malaysia yang tahun ini datang. Selain mengajar, mereka juga memberikan bimbingan teknis pada mahasiswa dan dosen tentang seluk-beluk mengirimkan artikel ke jurnal internasional bereputasi.  Targetnya, minimal ada enam artikel yang dapat dipublikasikan, sehubungan dengan kehadiran dua akademisi negeri Jiran tersebut.

“Salah satu mahasiswa kami, sudah menulis di jurnal internasional bereputasi. Satu artikel sudah terpublikasi, satu lagi sudah diterima dan siap dipublikasikan,” kata Anwar.

Ditambahkan Anwar, selama ini pihaknya secara rutin mengadakan konferensi internasional tiap tahun. Para mahasiswa dan dosen juga diarahkan untuk ikut seminar dan konferensi internasional di kampus lain. Baik di dalam, maupun di luar negeri.

Kuliah umum berlevel dunia juga kerap dilaksanakan oleh oleh masing-masing program studi yang ada. Dengan demikian, wawasan para mahasiswa maupun dosen lebih luas. Perspektif mereka menjadi lebih kaya sehingga kualitas SDM di sana pun makin terjamin. Dengan demikian, SP jadsanggup bersaing di ranah global.

Program Studi di Sekolah Pascasarjana

S-2

  • Ilmu Forensik
  • Imunologi
  • Sains Hukum dan Pembangunan
  • Sains Ekonomi Islam
  • Pengembangan Sumber Daya Manusia
  • Bioteknologi Perikanan dan Kelautan
  • Kajian Hak Atas Kekayaan Intelektual
  • Kajian Ilmu Kepolisian
  • Teknobiomedik
  • Manajemen Bencana

S-3

  • Ilmu Ekonomi Islam
  • Pengembangan Sumber Daya Manusia

 

 

 




Alumnus Ilmu Komunikasi UNAIR Juara Go-Video 2017

UNAIR NEWS – Para alumni kampus Airlangga kembali mengukir prestasi membanggakan. Kali ini, melalui karya berupa film dokumenter. Film berjudul “Wise and Sunrise” besutan Aditya Suwardi (Sutradara, Ilmu Komunikasi 2011) dan As’ad Aswin (Eksekutif Produser, Ilmu Komunikasi 2012) itu sukses menjadi “Best Documenter” dalam ajang Go-Video Competition 2017 yang dihelat oleh Go-Jek.

“Kru film juga banyak yang dari Ilmu Komunikasi UNAIR,” kata As’ad Jum’at malam lalu (3/11).

Mereka antara lain, Rizki Zulkifli (2011), Bayu Aditya (2012), Benediktus Andre (2014), Goyco Faza Ghafara (2011). Mereka semua sudah lulus, kecuali Andre. Atas raihan di event bertajuk #hidup tanpa batas itu, mereka mendapat hadiah sebesar Rp 100 juta rupiah.

Saat ditanya apa rahasia kemenangan itu, As’ad mengutarakan, kuncinya adalah kegi gihan. Juga, kerjasama. “Jangan takut memulai, jangan takut jelek, jangan takut bersaing,” tegas As’ad.

“Wise and Sunrise” berkisah tentang dua pengemudi Go-Jek bernama Arif, yang dalam bahasa Inggris berarti Wise, dan Fajar, yang dalam bahasa Inggris berarti Sunrise.

Arif Fahrozi adalah seorang seniman serba bisa. Selain penari Gatot Kaca yang kerap diundang dalam acara pernikahan, ayah tiga anak tersebut juga instruktur senam, guru ngaji, peniup terompet, seniman, dan pembawa acara dalam prosesi Jawa. Sedangkan Fajar Nugroho merupakan seorang ahli herbal dan akupunktur. Mereka berkenalan karena sama-sama berstatus mitra Go-Jek.

Tak hanya berkenalan, mereka lantas saling belajar satu sama lain. Arif belajar jadi akupunktur dari Fajar, sedangkan Fajar belajar jadi pembawa acara prosesi Jawa dari Arif.

“Wise and Sunrise” dipilih menjadi pemenang melalui sejumlah tahap dan seleksi ketat. Para juri yang memutuskan bukanlah orang-orang sembarangan. Pengumuman dilaksanakan pada Rabu malam (1/11) di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail Kuningan, Jakarta Selatan.

Tidak mudah bagi para juri untuk menetapkan para pemenangnya. Di antara mereka bahkan telah terjadi perdebatan sengit sebelum mengambil sebuah kesepakatan. Hal itu disebabkan ada juri yang menginginkan video yang satu menjadi pemenang, ada juga yang menginginkan video lain yang menjadi pemenang.

Dewan juri pada kompetisi ini terdiri atas Chief Marketing Officer (CMO) GO-JEK Indonesia Piotr Jakubowski, Riri Riza (sutradara), Chelsea Islan (aktris), Reza Rahadian (aktor), Mira Lesmana (sutradara), Anggy Umbara (sutradara), dan Mikey Moran (DJ).

Selain kategori dokumenter, kompetisi ini juga melombalan kategori animasi, drama, komedi, dan musik. Juga, memberikan penghargaan Student Reward berhadiah DJI Spark Drone dan apresiasi bagi “Best Picture”. (*)




Menguatkan Persaudaraan Lewat Exmo Club

UNAIR NEWS – Exmo Club (Exmo adalah akronim dari Excellence with Morality) adalah wadah pembinaan mental spiritual yang digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) UNAIR. Di dalamnya, dilakukan aktitas berupa pertemuan secara rutin dengan difasilitasi seorang mentor.

Program Exmo Club ini dapat memberikan kesan mendalam. Artinya, kegiatan tersebut dapat membuat peserta kegiatan lebih konsisten dalam menjalankan ibadah. Hal-hal yang disampaikan secara rutin, bisa merasuk ke dalam sanubari, dan ilmu yang diperoleh bisa dengan tulus diimplementasikan.

Pertemuan Exmo Club diadakan untuk menjaga kondisi ruhiyah tiap anggota dengan saling mengingatkan untuk giat beribadah. Selain mempelajari hal-hal terkait keislaman, anggota kelompok pun dapat sharing tentang kesehariannya baik kehidupan akademik di kampus maupun permasalahan pribadi. Dengan lingkungan yang sangat peduli itu, timbul kesan mendalam dan memererat persaudaraan.

“Exmo Club membuat para anggota menjadi lebih dekat dan bisa saling tolong-menolong,” ungkap Affan Muhammad Andalan, ketua UKMKI UNAIR.

Harapannya, UKMKI dapat menjadi lembaga dakwah kampus yang semakin istiqamah menyebarkan nilai-nilai Islam dan melayani seluruh elemen di kampus dengan mengedepankan ukhuwah (persaudaraan). Juga, profesional dalam berkegiatan dengan tetap mengutamakan esensi keislaman di tiap-tiap programnya. Dengan itu, kerja-kerja “mencerdaskan yang saleh dan mensalehkan yang cerdas” akan semakin progresif.

Yang tak kalah menarik, UKMKI juga kerap mengikuti sejumlah program di luar kampus. Maksudnya, UKM ini berpartisipasi dalam event di level lokal, regional, bahkan nasional.

Misalnya, berpartisipasi dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Surabaya Raya dan di tingkat nasional, turut serta menghadiri Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional ke-XVIII di Pekanbaru, pada bulan Mei lalu. Selain itu, UKMKI UNAIR kini menjadi salah satu Lembaga Dakwah Kampus yang masuk dalam kategori mandiri sehingga memiliki beberapa Lembaga Dakwah Kampus dampingan yang secara bergantian kami kunjungi untuk memantau dan membantu pengembangan organisasi di kampus tersebut (wilayah Surabaya Raya).

Di lini keilmuan, UKMKI UNAIR juga menjadi mitra Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia – Klaster Mahasiswa (MITI-KM) yang rutin mengadakan pertemuan-pertemuan dan seminar. “Yang baru saja kami ikuti bulan lalu bertempat di Universitas Trunojoyo Madura,” tambah Affan.

UKMKI UNAIR juga rutin diundang dalam kegiatan Mudzakarah Da’i. Yakni, pertemuan para da’i dari berbagai organisasi Islam yang membahas isu-isu strategis keumatan. Diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur. (*)