Bangga diajar Dosen Berwawasan Global

UNAIR NEWS – Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Fakultas Keperawatan (FKp) adalah keberadaan dosen-dosen yang berwawasan global. Para pengajar itu tak pernah pelit membagi ilmu pada mahasiswa di sana.

Demikian yang diungkapkan oleh Qurrata A’yuni Rasyidah, salah satu mahasiswi angkatan 2015. “Banyak dosen yang punya pengalaman belajar di luar negeri. Kami ikut bangga dan kagum. Para pengajar di sini bukan orang sembarangan,” papar dia.

Para dosen juga memiliki sikap kekeluargaan. Sehingga, membuat nyaman suasana perkuliahan. Apalagi, selama ini banyak pula dosen yang secara khusus turun tangan dalam membantu kegiatan mahasiswa. Baik di organisasi, maupun di komunitas minat dan bakat.

“Pembimbing Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) memiliki kepedulian pada kegiatan akademik maupu  non akademik yang kami lakukan,” tandas dia.

Misalnya, dengan cara mencarikan peluang dan wadah bagi mahasiswa untuk mengikuti even-even positif. Ketika mahasiswa terkendala dalam masalah biaya di bagian keuangan, pembimbing akan memberi saran serta mencarikan solusi.

Pembimbing juga ikut terjun langsung membantu kegiatan. Contohnya, tatkala ada mahasiswa FKp mengikuti lomba poster dan membutuhkan voting “like” di instagram untuk bisa masuk ke babak berikutnya, pembimbing turut menyebarluaskan informasi guna pengumpulan massa voting. Pembimbing selalu bersemangat memompa motivasi mahasiswa. Perannya pun kongkret sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan.

Kuliah di FKp memberi banyak manfaat bagi para mahasiswanya. Termasuk, manfaat di aspek mental atau keseimbangan kejiwaan. Maksudnya, para mahasiswa digembleng untuk lihai merawat orang lain yang sedang sakit. Di waktu yang sama, rasa syukur karena diberi kesehatan ikut terpupuk.

“Kami jadi lebih menghargai kesehatan, dan tidak mau menyakiti orang lain, baik fisik maupun psikis. Karena sakit itu tidak enak,” ungkapnya. “Rasa kepekaan sosial terus terasah,” imbuhnya.

Ditambahkan Emha Rafi Pratama, salah satu mahasiswa, dekanat selalu memberi ruang para mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam ajang internasional. Dengan demikian, pengalaman berharga dapat diraih para mahasiswa tersebut. “Kegiatan organisasi kami, bahkan program kerja besar sekalipun, pasti didukung penuh,” ungkap dia. (*)




Travelplanner “Go Far Way”, Jadikan Hobi Jalan Profesi

UNAIR NEWS – Salah satu alumnus Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia ini punya hobi berkelana. Lelaki bernama Rizal Rakhmat Dwianto tersebut bertekad untuk menjadi travelplanner kelas dunia. Selama ini, lelaki yang mengecap bangku kuliah di rentang 2007 hingga 2011 ini sudah melakukan banyak perjalanan baik di dalam maupun di luar negeri.

“Kecuali, pas kerja jadi wartawan harian dan tidak dapat libur akhir pekan. Kalau sudah begitu, saya ke luar kotanya pas hari libur. Meskipun hanya sehari, saya upayakan bisa travelling,” ungkap wartawan Jawa Pos di sekitar tahun 2011 hingga 2014 tersebut.

Saat masih belum lulus kuliah pun, Rizal sudah menjajal kota-kota di Asia Tenggara. Mulai Singapura, Kuala Lumpur, Johor, Ho Chi Minh, Bangkok, dan lain sebagainya. Melalui sebuah situs pertemanan para pengelana di seluruh dunia, Couchsurfing, dia memantapkan diri untuk mengikuti jalan hobi, menjadikan hobi sebagai jalur profesi. Betapa menyenangkan!

Dengan menjadi pengelana, Rizal memiliki banyak teman lintas negara dengan beraneka budaya. Adapun negara-negara yang pernah disinggahinya antara lain, Tiongkok, India, Nepal, Oman, Turki, Norwegia, Denmark, Jerman, Austria, dan Italia. Di tiap negara, Rizal berupa untuk melihat suasana di sekitar dan menikmati kearifan lokal yang ada. Dia mengaku senang menyaksikan kondisi sosial di semua belahan dunia.

“Ada beberapa kawan yang kalau backpacking, maunya mencari tempat mesum atau tempat mabuk-mabukan. Saya pikir, sebagai orang Indonesia, hal itu tidak bagus. Alhamdulillah, saya tidak seperti itu,” ungkap lelaki yang pernah menjadi asisten dosen untuk mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia dan Ilmu Sosial Budaya Dasar di FST, FKM, serta FEB tersebut.

Yang menarik, alumnus SMPN 1 Mojosari juga berhasil merintis cita-citanya untuk memiliki profesi yang sesuai dengan hobi. Tampaknya, profesi inilah yang akan digelutinya sepenuh hati. Yakni, menjadi seorang travel planner atau perencana perjalanan. Sekaligus, menjadi guide atau pembimbing perjalanan.

“Saya mendirikan start up Go Far Way. Melalui website www.gofarway.com. Mereka yang ingin berpetualang, bisa bergabung bersama saya. Pasti mereka dapat pengelaman menyenangkan,” ungkap dia mencuri kesempatan untuk promosi.

Rizal mengutarakan, awal Oktober lalu, dia mengajak satu rombongan ke Annapurna. Bila berjalan sesuai rencana, tahun depan akan ada perjalanan lain ke lokasi itu. Tidak menutup kemungkinan, bakal banyak rute lain lagi.

“Pasti nanti akan berkembang. Saya suka bidang ini,” ujar salah satu pembicara dalam  acara TEDx Tugu Pahlawan 2016 tersebut. (*)




Siapkan Jurnal Terindeks Scopus

UNAIR NEWS – Banyak hal yang dilakukan oeh Fakultas Keperawatan (FKp) sebagai bentuk komitmen mewujudkan cita-cita meraih kampus berstandar dunia dengan masuk list 500 terbaik di level internasional. Salah satunya, dengan menyiapkan jurnal terindeks scopus.

Dekan FKp Prof. Dr. Nursalam M.Nurs (Horns) menyampaikan, sekitar tiga bulan silam, proses review jurnal oleh pihak terkait sudah dilakukan. Dalam tiga sampai sembilan bulan ke depan, keputusan akan dikeluarkan. Secara umum, pihak FKp yakin bahwa Jurnal Ners yang mereka terbitkan bakal bisa terindeks scopus. Apalagi, selama ini, fakultas tersebut sudah melakukan persiapan yang matang.

Misalnya, dengan melakukan studi banding ke sejumlah fakultas atau kampus yang sudah memiliki jurnal terindeks scopus. Antara lain, di Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, dan lain sebagainya. “Kami juga sudah pernah berkomunikasi dengan kampus di Filipina. Maka itu, kami yakin cita-cita ini akan tercapai pada 2018,” kata dia.

Diterangkan Nursalam, tidak banyak kampus di Indonesia yang memiliki jurnal terindeks Scopus. Bila Jurnal Ners UNAIR sukses meraih capaian ini, tentu akan mencatatkan rekor atau sejarah tersendiri di kampus Airlangga.

Bila berjalan sesuai rencana, pada 7 sampai 8 April mendatang, FKp juga akan menggelar Internasional Nursing Conference ke-9. Konferensi itu bakal menghadirkan para pakar dari UNAIR sebagai pembicara. Juga, para ahli dari Taiwan, Jepang, Malaysia, Australia, Irlandia, dan negara-negara lainnya.

“Kami memasang target, paling tidak ada lima puluh artikel dari FKp UNAIR,” cetus dia. Para dosen sudah memersiapkan penelitian mereka secara maksimal. Terlebih, konferensi tersebut dipastikan akan terindeks scopus.

Langkah lain yang akan dilakukan oleh FKp tahun ini adalah membuka program studi S3. Sehingga, lengkaplah sudah semua jenjang studi perguruan tinggi bidang keperawatan tersedia di sini. Soal akreditasi, untuk jenjang S1 sudah meraih predikat A. Adapun S2, tengah proses reakreditasi. Saat ini masih B, namun dalam waktu dekat, FKp optimistis akan segera meningkat ke A. (*)




Sokong Mahasiswa Kembangkan Minat dan Bakat

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) selalu memberikan ruang bagi para mahasiswa untuk menbangkan minat, bakat, serta kreatifitas. Maka itu, perhatian kampus terhadap ranah non akademik juga selalu diaplikasikan. Di tingkat fakultas pun, dilaksanakan prinsip yang serupa. Tak terkecuali, di Fakultas Keperawatan (FKp).

Dekan FKp Prof. Dr. Nursalam mengutarakan, pihaknya mengalokasikan anggaran untuk kegiatan-kegiatan non akademik mahasiswa. Bahkan, mereka yang berkiprah di even luar kampus bakal diberi dispensasi bahkan bantuan. Sebagai misal, dalam PKM atau Pimnas. Selama ini, mahasiswa FKp sudah banyak berprestasi.

“Aktifitas positif semacam itu bias ikut mendongkrak reputasi kampus,” ungkap dia saat ditemui di ruang kerjanya Selasa (26/12).

Mahasiswa yang melakukan kegiatan di bidang olahraga maupun kesenian juga terus didorong. Tentu saja, dengan tidak meninggalkan kewajiban akademik masing-masing. “Kami pasti fasilitasi. Kalau tidak dari dekanat, akan kami carikan dari rektorat, dalam hal ini di direktorat kemahasiswaan,” demikian komitmennya.

Ditambahkan Nursalam, para mahasiswa juga terus diluaskan wawasannya. Antara lain, dengan diajak melaksanakan pelatihan atau pertukaran ke luar negeri. Apalagi, selama ini FKp memang sudah memiliki jejaring internasional dengan kampus-kampus di Irlandia, Australia, Taiwan, Jepang, Malaysia, dan lain sebagainya.

FKp juga menerima mahasiswa dari kampus lain yang ingin belajar di kamp Airlangga. Dengan cara-cara tadi, pengetahuan para mahasiswa bias bertambah. Selain itu, hubungan dan komunikasi mereka dengan para mahasiswa asing juga makin kuat.

“Kami rutin melaksanakan International Student Forum,” papar Nursalam. Pada 2017, terhitung masuk tahun kedua. Pada 2018, even serupa dipastikan akan dilaksanakan.

Guna mengingkatkan kualitas lulusan, FKp juga terus menguatkan mutu dosen. Antara lain, dengan menggenjot jumlah dosen bergelar doktor. Juga, meningkatkan layanan tenaga kependidikan atau tendik, dengan cara memberi mereka pelatihan atau non degree training. Semua program tadi bermuara pada keinginan pada cita-cita menjadikan UNAIR masuk dalam list 500 kampus terbaik dunia. (*)




Menikah Lagi

TIDAK akan ada orang yang terlalu terkejut atas pernikahan kedua Batutah. Orang-orang hanya berpikir bahwa seorang duda dengan satu anak berusia 5 tahun, tengah melepas masa lajang setelah ditinggal mati istrinya selama setahun. Tapi, bagi saya, momen ini cukup menghentak.

Saya seperti sudah melihat pernikahan ini sejak beberapa tahun silam. Wartawan sebuah majalah ternama ini, yang tulisan-tulisannya begitu tajam soal olahraga, sudah pernah bilang, bahwa saat istri dan mertuanya meninggal, dia akan langsung mempersunting seorang gadis yang dulu pernah dirayunya. Mereka sejatinya hampir menikah. Namun, takdir dengan segala kerumitannya, berpihak pada istri Batutah yang pertama, anak sepasang pengusaha tambak di Sidoarjo.

Lelaki asal Lamongan ini seperti sudah menduga pula, istri dan mertuanya akan mampus akibat tabrakan hebat di jalan tol. Apa yang pernah dia sampaikan saat kami mengobrol di salah satu stand PKL dekat Gelora Delta Sidoarjo itu terwujud setahun silam. Keluarganya meninggal seketika di jalan tol. Kecuali, anak perempuannya yang waktu itu berusia empat tahun. Bocah itu selamat tanpa kurang satu apapun. Saat kecelakaan, Batutah tidak berada di mobil yang sama.

Saya dan Batutah, serta kawan kami Mubarok, adalah wartawan surat kabar kriminal Surabaya, sejak duduk di semester akhir sekolah Wartawan Ngindeng, sampai tiga tahun setelahnya. Saya jadi reporter rubrik Klenik, sedangkan Batutah dan Mubarok jadi wartawan khusus Polwiltabes (sekarang Polrestabes) Surabaya dan Mapolda Jawa Timur.

Setelah tiga tahun, saya bertekad kuliah S2 untuk jadi dosen. Sementara Batutah dan Mubarok pindah ke majalah kenamaan. Batutah di rubrik olahraga dan kerap keliling kota di sepanjang Indonesia. Sedangkan Mubarok dipatok fokus di gubernuran Jawa Timur.

Beberapa tahun silam, setelah sudah sama-sama mapan dengan pekerjaan kami pasca jadi reporter koran kuning, di salah satu stand PKL Gelora Delta Sidoarjo, sehabis mengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi di sebuah kampus swasta dekat alun-alun, saya menemui Batutah yang habis liputan sepak bola di sana. Dia bersungut-sungut, mengeluhkan istrinya yang susah diatur. Keras kepala, seperti ayah mertuanya. Ibu mertuanya, banyak mengomel.

Secara finansial, dia dan keluarga tak kurang suatu apapun. Maklum, mertuanya adalah juragan tambak bandeng yang kaya raya. Problemnya, istri dan mertua dianggap Batutah memuakkan. Dia merasa seperti terasing. Dia mau ngekost bersama istri dan anak saja. Si istri merengek untuk menolak. Ayah dan Ibu mertuanya malah ceramah. Istri Batutah adalah anak semata wayang. Dan, anak perempuan Batutah yang waktu itu berusia satu tahun, adalah cucu kesayangan mertua Batutah.

Setelah mengeluh hebat kesana kemari, barulah Batutah mengatakan cerita yang absurd. Dia mengaku pernah bermimpi, istri dan mertuanya akan modar di jalan tol. Lantas, dia dan anaknya akan pindah ke Garut. Tempat seorang gadis, yang usianya tidak terpaut sampai setahun dengannya, berada.

Gadis itu, kata Batutah, menunggunya mempersunting. Gadis itu adalah seorang sarjana ekonomi dari kampus besar di Jakarta, dan meraih gelar masternya dari Universitas Sorbonne, Perancis.

“Dulu dia pernah jadi staf keuangan tim sepakbola di Jawa Barat. Saya kenal dia waktu bertugas di Bandung. Kami dekat, tapi pas dia ke Perancis, saya pamit menikah. Dia waktu itu bilang, akan menunggu aku menduda,” ungkap Batutah yang membuat kening saya berkerut, alis mata saya terangkat heran.

Saya sempat berpikir dungu, apa Batutah mengirimi keluarganya itu santet? Karena saya tahu benar, beberapa kali dia pernah tugas di Banyuwangi. Sementara di kabupaten yang pernah mahsyur dengan cerita “ninja-ninja” itu, atau kisah tentang seorang bocah yang bisa membuat orang lain sakit perut hanya dengan melintir sebiji lombok, terkenal dengan ilmu hitam. Betapa tidak, di zaman saya baru-baru menjadi wartawan mistik, saya pernah berkunjung ke sebuah gubuk di hutan bambu.

Rumah itu begitu misterius, tak pernah terserang sinar matahari, karena rerimbun bambu yang bergerombol lebat. Saya, dan kawan yang sangat bajingan dan bersedia ceritanya saya tuliskan di koran meski dengan nama samaran, mendatangi seorang dukun dengan kalung dari akar pohon. Kawan saya yang jahanam itu, membayar si dukun iblis dengan uang Rp 10 juta, untuk membasmi dua tetangganya. Tetangga-tetangga yang, kata kawan saya yang jahat itu, banyak omong dan suka memfitnah. Dua tetangga itu, mampus satu minggu setelah teluh dikirimkan atau tujuh hari setelah kami meninggalkan rumah setan itu.

Sampai sekarang, saya merasa laknat karena tidak menghalangi tindakan bedebah itu. Sementara saya sempat mendengar ucapan jalang tukang tenung tadi, “Kalau bayar Rp 30 juta, dua orang itu mati sekarang juga. Kalau bayar Rp 20 juta, dua orang itu mati tiga hari lagi,” papar lelaki dengan ikat kepala hitam dan tubuh penuh tatto itu.

Seekor anjing sebesar kambing layak dikurbankan, menjulurkan lidah dan tampak gundah tak jauh di belakangnya. Kalau kami bertiga sedang senyap tanpa sepatah kata, desah nafas binatang najis itulah yg terdengar seram. Satu-satu dan cepat. Sesekali gemeratak gigi bertaringnya terdengar seperti gatal mau mengerat. Hitam legam warnanya, terbersit di benak, apakah ini jelmaan siluman?!

Yang keparat, kawan saya yang kurang ajar itu sempat berseloroh setengah berkelakar, “Saya yang paket hemat saja. Rp 10 juta, satu minggu,” kelihatannya, si tengik ini sudah pernah dengar soal paket hemat.

Kembali pada Batutah, perkiraan saya bahwa dia mengirim santet pada keluarganya, segera saya lenyapkan. Tidak ada bukti, dan dosa saya sudah begitu banyaknya di dunia ini. Tak perlulah saya menambahnya dengan dosa berprasangka buruk.

Hingga pada siang yang terik, sebuah undangan meluncur ke kampus tempat saya mengajar, tak lama berselang setelah undangan via WhatsApp Batutah meluncur. “Tentu, saya akan berupaya keras untuk datang. Saya segera mempersiapkan keberangkatan ke Garut. Mungkin pakai sepur Kertajaya dari Pasar Turi. Turun Cirebon, lantas naik angkutan umum ke Garut,” saya menjawab.

Saya tidak mungkin naik bis dari Surabaya. Karena jujur saja, saya selalu mabuk darat bila terlalu lama dalam mobil atau bis. Entah mengapa.

Sesampainya di kota dodol, di alamat yang sudah tercantum pada undangan, tenda biru berdiri. Pesta digelar dengan cukup sederhana. Mubarok menyambut saya, “Sendirian, Bung?” dia berbasabasi. “Pertanyaanmu kayak orang yang sudah kawin saja,” saya berseloroh, dan kami tersenyum sambil bersalaman.

Mubarok mengarahkan saya ke tempat Batutah berada. Tidak ada pelaminan. Modelnya hanya seperti syukuran. “Tidak banyak yang diundang. Teman-teman kantor pun tidak. Namun, Batutah berencana buat prasmanan kecil pas kembali dari cuti,” Mubarok berbisik. “Justru ide seperti ini menarik,” sahut saya. “Dari pada buat pesta besar dan membuat tukang catering dan kuade makin kaya, mending uangnya dibuat bulan madu,” tambah saya. “Kayak orang pernah bulan madu saja,” bangsat benar Mubarok ini menyindir.

Saya tidak banyak mengobrol dengan Batutah. Karena, dia dikelilingi keluarga besar istrinya. Mereka suka bercanda. Juga, suka sepak bola. Mereka berbincang hangat tentang beberapa klub. Tentu saja, tentang Persebaya, klub yang dicintai Batutah, yang mulai bangkit. Dan, digadang-gadang segera naik kasta serta trengginas seperti di masa silam. Sekadar catatan, pada Piala Tiger 1998, tak kurang dari 10 pemain Persebaya terbang ke vietnam untuk memakai jersey Garuda. “Persebaya adalah tulang punggung Timnas. Seperti Barcelona bagi Spanyol”, kata Batutah berapi-api di tengah keluarga barunya.

Tak lama saya di sana. Buat apa juga saya ngendon di rumah orang. Mubarok mengantarkan saya naik sedannya ke stasiun Cirebon. Seperti biasa, karena biasa mabuk darat, saya minta izin buka kaca mobil. Di perjalanan, kami bertukar kisah. Tak banyak yang baru. Lebih banyak hanya menguak kenangan kami di masa silam.

Misalnya, saat saya dapat voucher pijat plus-plus dan membaginya pada Mubarok dan Batutah. Voucher itu dari seorang pejabat yang suka mengkritisi keberadaan tempat maksiat. “Tidak semua pejabat munafik. Tapi, pejabat munafik itu realitas,” kata Batutah waktu itu, seraya masuk tempat pijat. Kami pikir, Batutah juga wartawan yang tak kalah munafik. Dia menggaungkan gasak protitusi, bahkan sempat mewawancarai pemuka agama soal itu. Eh, dia pijat plus-plus.

Mubarok juga bercerita kalau Batutah akan bulan madu ke Bali. Dia, istri dan anaknya, akan berlibur di Pulau Dewata. Sehari setelah menikah, mereka akan diantar Mubarok ke Bandara Cengkareng. “Aku akan nyuruh orang saja bawa mobil ini ke Surabaya. Aku naik pesawat. Supaya tidak capek,” kata Mubarok sambil memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu masuk stasiun Cirebon.

Sekitar tujuh jam perjalanan, sampailah saya di Pasar Turi. Malam cukup larut, dan apesnya, saya tidak bisa tidur lagi hingga siang. Hari itu tidak ada kuliah. Saya memilih tidak datang ke kampus.

Seperti biasa, saya datangi warkop terdekat. Sambil bawa telepon pintar yang tiba-tiba berbunyi sebelum kopi yang saya pesan jadi. Terdengar Mubarok dari seberang, setengah berteriak setengah sesenggukan.

“Bung! Kami kecelakaan di Tol Palimanan! Anak dan istri Batutah meninggal. Batutah patah kaki dua-duanya,” ungkap dia. “Kamu bagaimana?” saya menyahut dengan hati berdegup kencang. “Aku tidak kurang suatu apapun,” kata dia terbata. “Saya ke sana sekarang juga!” dan penjaga warkop menyuguhkan kopi. Saya merogoh saku dan memberinya uang Rp 3 ribu. Mencicipi kopi panas sedikit dan bergegas pulang. Kali ini, biarpun mabuk darat, saya akan tetap mencarter mobil dan bertolak ke Cirebon secepat-cepatnya. (*)




Fakultas Keperawatan Aktif Gelar Even Internasional

UNAIR NEWS – Fakultas Keperawatan (FKp) adalah salah satu fakultas yang aktif menggelar even internasional. Baik berupa konferensi, seminar, maupun kuliah umum. Para dosen juga selalu diberi kesempatan untuk ke luar negeri dan mengikuti event kelas dunia. Tujuannya, sebagai pendukung program menuju World Class University yang dicanangkan UNAIR. FKp siap melakukan apapun agar kampus Airlangga dapat menduduki posisi 500 terbaik perguruan tinggi di dunia.

“Kami aktif melakukan pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, riset bersama, dan kegiatan lain dengan kampus-kampus di luar negeri,” urai Prof. Dr. Nursalam., M.Nurs (Hons), dekan FKp saat ditemui di ruang kerjanya pada Jum’at (22/12).

Alumnus Lambton College, Sarnia Ontario, itu menyatakan, kerjasama yang dilakukan lintas benua. Mulai Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. “Dosen kami juga sudah mulai diberangkatkan dan akan terus disekolahkan ke luar negeri. Khususnya, untuk program doktoral,” urai lelaki yang juga pernah menyelesaikan kuliah di University of Wolllongong tersebut.

Salah satu konferensi internasional yang akan digelar oleh FKp sedianya dilaksanakan pada April 2018 mendatang. Banyak negara yang akan ikut serta. Menariknya, ini merupakan ajang rutin tahunan. Sudah banyak delegasi dari Asia, Eropa, Australia, dan Amerika yang menyatakan kesiapan berpartisipasi.

Pada bagian lain, Koordinator Informasi Humas FKp Setho Hadisuyatmana, S.Kep.Ns., M.NS (CommHlth&PC) menerangkan, selama ini kualitas mahasiswa juga terus ditingkatkan agar mampu bersaing di ranah global. Fasilitas pendukung disiapkan untuk mereka. Selain itu, mereka juga dilaytih jiwa kewirausahaannya. Sehingga, yang terasah pada dirinya, tidak hanya aspek akademik, namun juga aspek non akademik.

“Mereka kami bebaskan untuk menjadi kreatif dan inovatif,” urai dia saat ditemui pada Expo Nerspreneurship di halaman FKp pada Selasa (19/12).

FKp berdiri pada Pada tanggal 20 Juni 2008. Di tanggal tersebut, S-1 Ilmu Keperawatan berdiri di bawah naungan Fakultas Keperawatan dan resmi lepas dari FK UNAIR. Sejak didirikan, Fakultas Keperawatan UNAIR bercita-cita menjadi pusat pendidikan dan pengembangan keperawatan yang terkemuka di tingkat nasional dan internasional.

Tak hanya itu, fakultas yang berlokasi di Kampus C UNAIR juga bertekad mencetak lulusan perawat yang unggul, mandiri, dan inovatif dengan keunggulan keperawatan penyakit tropik yang tidak mengesampingkan etika profesi.

Fakultas Keperawatan sudah menjadi salah satu sentral pendidikan perawat di Indonesia bagian timur. Banyak lulusan yang sudah berkiprah dan memberi sumbangsih di daerah terluar tanah air. Fokus perkuliahan antara lain di bidang Keperawatan Maternitas dan  Anak, Keperawatan Jiwa Dan Komunikasi, Keperawatan Dasar,  Medikal Bedah, dan Kritis. (*)




Fakultas Keperawatan UNAIR Gelar Expo Nerspreneurship

UNAIR NEWS – Suasana halaman dalam Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga begitu semarak Selasa pagi (19/12). Sebuah kegiatan yang melibatkan mahasiswa digelar. Tenda besar didirikan, dengan jejeran meja-meja stan.

Acara kali ini bertajuk Nerspreneurship, Expo Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) 2017. Dalam event itu, para mahasiswa menjual produk baik yang berupa makanan, minuman, kreasi kudapan sehat, produk kesehatan alami, dan sebagainya.

Ada dua puluh empat kelompok mahasiswa yang membuka stan. Tiap kelompok, terdiri dari sekitar delapan mahasiswa. Sedangkan yang merubungi stan-stan mereka untuk membeli berasal dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Selain makanan basah, ada pula kreasi lain seperti kripik wortel, masker jagung, dan lain-lain.

Salah satu kreasi yang menarik minat pengunjung adalah Hajite atau Hazna (indah atau bagus, Red) Jilbab Stetoskop. Produk ini memudahkan perempuan yang mengenakan jilbab untuk memasang stetoskop. “Kami mendesain agar stetoskop bisa lebih gampang dipakai tanpa harus memasukkannya ke bagian dalam jilbab untuk mencapai telinga,” ungkap Lailatul Rohmah Kurniawati, salah satu anggota kelompok mahasiswa yang menggagas desain jilbab ini.

Hajite, salah satu kreasi para mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.

Di samping stan Hajite, ada stan lain yang tak kalah menarik. Yakni, “Buku Bantal Edukasi”, khusus bagi anak-anak. Buku tersebut berbentuk layaknya bantal dengan tulisan dan gambar edukatif. Antara lain, tentang bagian-bagian tubuh lengkap dengan terjemahan bahasa inggrisnya. Ada pula tentang apa saja yang perlu dilakukan setelah bangun tidur di pagi hari, beraktifitas, sampai kembali tidur di malam hari.

“Ini adalah bagian dari mata kuliah kewirausahaan,” kata Angga Krisna, panitia pelaksana kegiatan.

Mahasiswa semester 3 itu mengutarakan, ada dua angkatan yang menjadi peserta. Yakni, angkatan 2014 (semester 7) dan angkatan 2016 (semester 3). Ada enam kelompok dari angkatan 2014, dan delapan belas kelompok dari angkatan 2016.

Dalam perkuliahan, kata alumnus SMAN 16 Surabaya itu, para mahasiswa digembleng untuk menjadi sosok yang berjiwa kewirausahaan. Utamanya, dari aspek mental dan semangat pantang menyerah. “Produk kewirausahaan kami berkutat pada bidang kesehatan. Makanan, minuman, dan produk perawatan maupun jasa yang diberikan, mesti berbasis kesehatan,” ungkap dia.

Selama ini, pihak kampus selalu mendukung prohgram-program mahasiswa. Termasuk, di ranah kreatifitas dan kewirausahaan. Sebab, secara umum, dekanat juga ingin mencetak lulusan yang mumpuni di bidang akademik maupun non akademik. Semangat juang kewirausahaan perlu menjadi landasan di setiap langkah para alumnus.

Dekan FKp Prof. Dr. Nursalam M.Nurs (Hons) mengatakan, pihaknya selalu mendukung aktifitas positif para mahasiswa apapun bentuknya. Sebagai misal, kegiatan yang berhubungan dengan olahraga, organisasi, dan kreatifitas. Dia mengutarakan, prestasi mahasiswa dari bidang manapun, memiliki peran mendongkrak reputasi baik bagi kampus. “Kami terus memfasilitasi,” urai dia.

Baik dari segi pendanaan, maupun birokrasi, pasti bakal dipermudah. Dengan demikian, para mahasiswa memiliki ruang ekspresi yang luas dan aplikatif. Para dosen juga telah memiliki visi yang sama dalam rangka pengembangan minat bakat tersebut. “Prestasi kami di bidang kreatifitas mahasiswa pada tingkat nasional juga mampu bersaing dengan fakultas dan kampus lain,” papar dia.

Ditambahkan Wakil Dekan I Dr. Kusnanto, apa yang diaplikasikan ini merupakan praktek dari sejumlah teori materi perkuliahan. “Jadi yang dipahami di kelas bisa langsung dikreasikan di lapangan. Menciptakan produk yang layak jual dan dibutuhkan publik,” ungkap dia. (*)




Mahasiswi FKM Siap Ikut Anggar Asian Games 2018

UNAIR NEWS – Mahasiswa UNAIR tak pernah berhenti berprestasi. Tak hanya mengharumkan nama kampus, para Ksatria Airlangga juga berupaya keras turut membawa nama baik bangsa di pentas dunia.

Adalah Dinda Maulidya Putri Maharani, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat angkatan 2015, yang tengah memersiapkan diri mengikuti Asian Games 2018 dan membela tim merah putih di level internasional. Atlet anggar ini baru saja membawa medali dari Kejuaraan Nasional Anggar 2017 dan Test Event Asian Games 2018, Jakarta 1 Desember 2017 silam.

Dia berhasil meraih medali perak di individual junior sabel putri Kejuaraan Nasional Anggar se-Indonesia 2017 dan medali perak beregu di Test Event Asian Games 2018. Atas prestasi membanggakan itu, perempuan yang mulai bermain anggar sejak kelas dua SMP itu diproyeksikan untuk masuk tim nasional anggar yang berlaga di Asian Games tahun depan.

“Insya Allah saya masuk dalam team Pelatnas dan team di Asian Games 2018. Januari, akan ada pemanggilan atlet untuk mengikuti pelatnas,” papar dara yang juga penyuka bulutangkis ini saat diwawancara Sabtu (9/12).

Selama ini, Dinda mengaku tidak kesulitan mengatur waktu latihan anggar dengan kuliah. Biasanya, latihan dilaksanakan pada sore hari, selepas jam kuliah. Umumnya, satu minggu, tiga kali. Untuk memerkuat stamina, dia jogging rutin tiap Sabtu dan Minggu.

Jika akan menghadapi event atau kejuaraan, Dinda kerap menambah porsi latihan. “Penambahan seperti itu bertujuan agar otot tidak kaku dan kondisi tubuh tetap stabil,” urai gadis yang ingin mengusulkan agar UNAIR punya UKM olahraga anggar ini. Sejauh ini, Dinda mengamati, mahasiswa UNAIR yang menyukai olahraga ini jumlahnya tidak sedikit, sehingga pas bila dibentuk UKM baru.

Dinda memiliki banyak pengalaman menarik tentang olahraga yang satu ini. Pas SMP dulu, baru belajar dua minggu, dia sudah menyabet tempat ketiga pada sebuah kejuaraan level Jawa Timur. Dari sana, dia bersemangat untuk terus ikut pertandingan. Hingga kerap meraih juara. Sejak saat itulah, dia “kecanduan” main anggar.

Dinda berharap, karirnya bermain anggar maupun pendidikan formalnya bisa berjalan lancar beriringan. “Saya berharap bisa selalu membanggakan kedua orangtua dan negara Indonesia,” ungkap perempuan yang aktif di UKM Bulutangkis tersebut. (*)




FIB Gelar Event Internasional Bahas Urban Studies

UNAIR NEWS – Kampus Airlangga terus melakukan langkah-langkah untuk bisa menyejajarkan diri dengan perguruan-perguruan tinggi terbaik kelas dunia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar event berstandar internasional. Seperti yang dihelat oleh Fakultas Ilmu Budaya pada 8 sampai 9 Desember 2017 di Wyndam Surabaya Hotel, Jalan Basuki Rahmat Surabaya.

Gelaran ini bertajuk 4th International Conference on Urban Studies (ICUS): Border and Mobility, dan merupakan hasil kolaborasi dengan Ubon Ratchathani Rajabhat University, Thailand.

Reportase event itu bisa di lihat di tautan ini

Sekelumit foto dokumentasinya bisa dilihat di bawah ini




FIB Gelar Konferensi Internasional tentang Urban Studies

UNAIR NEWS – Kampus Airlangga terus melakukan langkah-langkah untuk bisa menyejajarkan diri dengan perguruan-perguruan tinggi terbaik kelas dunia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar event berstandar internasional. Seperti yang dihelat oleh Fakultas Ilmu Budaya pada 8 sampai 9 Desember 2017 di Wyndam Surabaya Hotel, Jalan Basuki Rahmat Surabaya.
Gelaran ini bertajuk 4th International Conference on Urban Studies (ICUS): Border and Mobility, dan merupakan hasil kolaborasi dengan Ubon Ratchathani Rajabhat University, Thailand.

Konferensi internasional ini berfokus untuk mengamati dampak mobilitas perkotaan dan hubungannya terhadap isu-isu seputar perbatasan. Persoalan yang disorot beraneka rupa dan lintas bidang. Baik tentang isu pendidikan, advokasi, politik, ekonomi, sosial, dan keamanan. Yang kemudian terkoneksi pula dengan bahasan-bahasan terkait gender, seksualitas, ras, etnisitas, identitas dan lain sebagainya.

Tema yang didiskusikan adalah Borders in global research, Borders in locality, Borders of identity movements, Borders in body, well-being and of being human, Borders in politics of sexuality and gender identity struggles, Borders in policymaking, Borders in arts, Borders in media and communications technology, Borders in space and place, Borders in maritime security and issues, Borders in language, culture and multilingualism, Borders of history, Borders in literature and culture, dan Borders in education.

Keynote Speakers yang dihadirkan adalah Michele Ford (University of Sydney, Australia), dan Brenda Yeoh (National University of Singapore, Singapore). Sedangkan Invited Speakers yang ikut membahas detail di sesi plenary adalah Thor Kerr (Curtin University, Perth, Australia), Jan van Der Putten (Hamburg University, Germany), Freek Colombijn (Vrije University, Amsterdam, the Netherland), dan Bekisizwe Ndimande (University of San Antonio, Texas, the United States of America).

Juga, Melani Budianta (The University of Indonesia, Jakarta, Indonesia), I Made Andi Arsana (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia), serta Diah Ariani Arimbi, Irfan Wahyudi, Lina Puryanti, dan Baiq L.S. Wardhani (mereka berasal dari Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia). Ada pula Umaporn Wittayasin, Nalinee Thongprasert, Ananya Dechakhamphu (mereka dari Ubon Ratchathani Rajabhat University, Thailand), serta Sappasiri Songsukrujiroad (Faculty of Humanities and Social Sciences, Mahasarakham University, Thailand).

Partisipan yang hadir berasal dari banyak kampus di tanah air bahkan luar negeri, seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, Australia, Afrika Selatan, dan lain sebagainya. Jumlahnya 100 pemakalah, dan 50 peserta.

Dekan FIB Diah Ariani Arimbi, PhD, mengatakan, pihaknya memang memiliki perhatian khusus pada event-event besar berskala global. Hal ini tidak lepas dari cita-cita UNAIR untuk berada dalam daftar 500 kampus terbaik dunia. Adapun tema yang diambil tentu merupakan topik mutakhir. Yang erat kaitannya dengan dunia yang saat ini sudah seperti tak berbatas satu sama lain. “Orang bisa berpindah dari satu negara ke negara lain dengan mudah dan cepat,” ungkap dia.

Kesempatan ini, imbuh Diah, layak pula dijadikan para akademisi sebagai momen berdiskusi dan memerluas jaringan. Juga, untuk mengenal satu sama lain. Sehingga ke depan, bisa saling bersinergi.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III UNAIR Prof. Amin Alamsjah mengutarakan, persoalan seputar perkotaan dan kewilayahan selalu menarik disimak. Tiap waktu, problem tentang urban selalu lahir seiring perkembangan zaman. “Apa yang dilakukan dalam konferensi ini adalah mengkajinya secara ilmiah, untul menghasilkan solusi aplikatif di masyarakat,” papar dia. (*)