Idealisme, Moral, dan Semester Akhir: Tantangan Mahasiswa

PREDIKAT sebagai seorang mahasiswa merupakan level derajat paling tinggi yang disematkan bagi kalangan penuntut ilmu. Sudah tentu, predikat tersebut disandangkan untuk mengukuhkan diri bahwa mahasiswa adalah insan pengejar ilmu yang harus memiliki kesadaran keilmuan secara lebih holistik, baik di tingkat penguasaan pengetahuan, maupun pada praktik moral pertanggungjawaban keilmuan itu sendiri kepada masyarakat. Dalam kerangka itulah gelar mahasiswa sejatinya teramat sakral, mewah, dan tidak boleh disia-siakan, terlebih lagi disalahgunakan.

Lebih jauh lagi, ada banyak catatan sejarah yang kemudian menempatkan peran sentral mahasiswa sebagaimana yang selalu didengungkan; yakni tampil sebagai leader of change di saat-saat kritis yang paling menentukan. Oleh karena itu, baju idealisme adalah senjata yang tidak boleh ditanggalkan oleh para mahasiswa sekaligus para lulusannya yang telah diwisuda.

Idealisme ibaratnya taring ideology, yang tanpa sadar bisa mendorong sebuah energi amat besar, sehingga perubahan itu menjadi suatu keniscayaan. Idealisme itu pula bisa menjadi cermin pembimbing, yang selalu mengajak akal dan budi kita selalu berdiskusi. Menjauh dari watak tercela, membimbing pada pandangan moral yang benar. Tidak berdusta, dan berani ksatria: hidup mati mempertahankan kejujuran dan kebenaran.

Sebagai bagian dari mahasiswa itu sendiri, sebagai bagian dari Ksatria Airlangga dengan semboyan “Excelencce with morality”, sesungguhnya kita diajak untuk tidak hanya hafal kalimat dari semboyan tersebut. Akan tetapi juga meresapinya serta menerimanya tanpa sanksi. Karena kita yakin bahwa diri kita berusaha agar mampu mengemban amanat yang berat, seirama dengan dengan gelar mahasiswa dan gelar Ksatria Airlangga.

Dengan demikian, modal moral termasuk dalam idealisme mahasiswa. Perlu digali lebih jeli lagi, bahwa walaupun realitas menggerusnya dengan berbagai cara. Tetapi sepanjang kita jujur pada diri sendiri, kita tidak akan kalah.

Kita harus terus memelihara kadar idealisme mahasiswa ini sama besarnya ketika pertama kali kita diterima (sebagai mahasiswa), ketika kita optimis semasa menjadi mahasiswa baru, maupun di penghujung sisa-sisa masa perkuliahan. Tentu saja, ini akan amat hebat jika memeliharanya tidak lekang dimakan oleh waktu hingga akhir hayat nanti.

Kemudian point dari idealisme yang disandingkan dengan moral akan menjaga tata perilaku, yang tidak lain karena jenjang usia kedewasaan, luasan pengetahuan, sekaligus derajat kehormatan diri seseorang dan almamater yang (senantiasa) perlu dijaga. Ibaratnya: jangan sampai nila setitik merusak susu sebelanga. Teramat durhaka. Guru-guru kita akan ternistakan karena ulah kelakuan moral yang melenceng dari ajaran dan suara idealisme yang pernah menggelora.

Marilah memaknai idealisme tersebut sebagai bagian dari cara kita untuk adil kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Kalau kita percaya bahwa berbuat curang itu adalah sebuah pengingkaran terhadap nilai-nilai kebenaran, maka standar itu tidak boleh hanya diberlakukan hanya untuk menghantam objek-objek yang ada di luar diri kita.

Justru, warning itu pertama dan yang utama harus membuat diri seseorang mau untuk membuka mata. Membuka makna tentang gelora perjuangannya —walau memang terkadang di banyak kasus, kita ingin segalanya itu serba instan karena terlalu jenuh.

Sebagai pejuang semester akhir yang harus dijalani oleh seorang mahasiswa, seyogyanya dijaga agar spirit idealisme mahasiswa tidak pernah untuk dilupakan. Spirit itu harus menjadi modal yang lebih luas untuk menyongsong keberkahan dalam menyelesaikan tugas akhir dan mensyukuri prosesi wisuda yang sudah di depan mata.

Insya Allah, mimpi-mimpi yang sudah direncanakan itu akan dimudahkan kalau kita punya kemauan keras untuk jujur, menjadi pejuang yang gigih, memegang idealisme serta bersiteguh memegang moral dan pekerti. Kemudian benar-benar keluar dengan membawa ilmu yang “Excellence with morality”. Semoga. Amin. (*)

Editor: Bambang Bes




Tantangan Alumni Bidikmisi, Ekspektasi dan Realitanya

Manusia dididik agar pintar. Benar dan tepatkah parameter itu untuk menyelesaikan seluruh persoalan di negeri ini? Mungkin iya, namun bisa juga tidak. Akan tetapi orang-orang yang pintar selalu istimewa, karena dia berpeluang besar memperoleh kemudahan menata masa depan, meskipun hanya bersandar atas kepandaiannya saja.

Kalau Anda mendengar tentang Bidikmisi, maka mahasiswa dan lulusannya adalah bagian dari sejarah itu semua. Yaitu sejarah orang-orang yang terdidik dan beruntung. Mengapa? Sebab mereka dipilih dan dibiayai oleh Negara, meskipun untuk meraihnya harus bersaing dan menyisihkan sesama kelas ekonominya demi duduk di kursi perguruan tinggi. Itulah perjuangan.

Hanya rasa syukur dan kebanggaanlah yang bisa kita panjatkan sebagai bentuk kesadaran bahwa Bidikmisi merupakan bagian penting dari perjalanan anak bangsa yang terpilih untuk mencari ilmu menuju sebuah gelar kesarjanaan, yang sungguh terlampau mewah bagi kelas ekonomi kurang mampu. Karena sadar bahwa pendidikan tinggi masih terlampau mahal.

Apabila berkaca pada idealisme, sebenarnya kebanggaan dan kesyukuran itu sendiri adalah modal penting, namun belum cukup. Tingginya prestasi itu baru titik awal dari pengabdian. Tetapi sebenarnya, terdapat tantangan lain yang lebih besar yang disandarkan kepada lulusan peraih beasiswa dari pemerintah bernama Bidikmisi itu. Mereka memang tidak dituntut untuk membalas budi, tetapi naluri balas budi adalah panggilan jiwa yang suci, dalam rangka merealisasikan cita-cita Bidikmisi: memutus mata rantai kemiskinan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suratnya kepada mahasiswa peraih Bidikmisi tertanggal 11 Maret 2014, menegaskan sebuah harapan atas masa depan lulusan Bidikmisi.

Saya ingin pada saatnya nanti, ikutlah mengubah jalannya sejarah. Bayar dan tebuslah apa yang telah negara berikan kepada kalian semua…”

Demikian petikan Pak SBY yang mengingatkan betapa besarnya beban yang ditanggungkan para generasi Bidikmisi: ”mengubah jalannya sejarah” dan tentunya dengan paradigma baru yang mengarah pada kemajuan bangsa.

Beasiswa ini tidak boleh hanya melahirkan kelas priyayi baru yang asyik dengan zona nyamannya sendiri-sendiri. Melainkan generasi Bidikmisi harus mampu menyokong perubahan zaman dengan kepekaan sosialnya sebagai anak-anak negara.

Kalau kita membaca kisah-kisah menarik, yang mengandung nilai motivasi dan pengharapan dari buku “Para Pembidik Mimpi: 99 Kisah Penerima Bidikmisi Berprestasi”, tentu optimisme tentang kebangkitan Generasi Bidikmisi sebagai bagian dari kado 100 tahun Indonesia sangatlah niscaya. Diantara mereka banyak yang kemudian melakukan studi lanjut di perguran tinggi ternama di tanah air maupun di manca negara.

Tidak heran juga kalau M. Nuh dalam buku “Menyemai Kreator Peradaban” juga menyatakan optimis bahwa “dalam 5-10 tahun mendatang akan hadir di negeri tercinta ini ribuan master dan doktor dari keluarga miskin”.

Kita berharap upaya-upaya lulusan Bidikmisi yang masih terus berlangsung dalam menghimpun dirinya pada sebuah jaringan Bidikmisi dapat terealisasi dengan segera. Wadah jejaring para lulusan diharapkan menjadi silang kesinambungan yang terus tersambung dari proses Bidikmisi pasca mahasiswa.

Jika dengan sungguh-sungguh, jejaring alumni Bidikmisi akan menjadi pembuktian dua hal sekaligus yakni kenyataan bahwa kualitas Bidikmisi memang lebih dari lainnya, dan kenyataan lain bahwa mahasiswa Bidikmisi punya darah juang konsisten untuk tidak lupa —bahwa mereka dibantu dengan uang rakyat dan akan kembali mengabdi memperjuangkan rakyat.

Semoga semboyan itu tidak terlupakan oleh para lulusan peraih beasiswa Bidikmisi! (*)

 

Editor: Bambang BES