Faktor Risiko Kardiotoksisitas Dini yang Diinduksi oleh Daunorubisin pada Leukemia Limfoblastik Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto dari CNN Indonesia

Daunorubisin, salah satu obat golongan Antrasiklin, merupakan obat yang sering digunakan dalam kemoterapi kanker yang dapat meningkatkan kesintasan. Namun, penggunaanya juga memberikan konsekuensi gangguan kardiovaskuler pada beberapa pasien. Sebagai agen neoplastik, mekanisme kerja golongan Antrasiklin meliputi inhibisi replikasi deoxyribo nucleic acid (DNA) dan transkripsi ribo nucleic acid (RNA), terlebih pada sel yang bereplikasi secara cepat. Sehingga selain memberikan dampak apoptosis pada sel kanker, sel sehat seperti sel otot jantung juga terdampak. Kardiotoksisitas sebagai salah satu efek dari pemberian kemoterapi dengan Antrasiklin telah banyak dilaporkan pada dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko kardiotoksisitas dini yang diinduksi oleh Antrasiklin, khusunya pada anak-anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut (LLA).

Kardiotoksisitas dini didefinisikan sebagai kejadian penurunan left ventricle ejection fraction (LVEF) > 10% atau dibawah 50% dari nilai awal dalam rentang tahun pertama pemberian kemoterapi Daunorubisin. Pengukuran LVEF dilakukan oleh konsultan kardiologi anak menggunakan ekokardiografi. Berdasar studi yang pernah ada, ada beberapa faktor risiko penyebab kardiotoksisitas yang juga diteliti dalam studi ini, diantaranya kelompok umur <4 tahun, stratifikasi risiko dan dosis akumulasi Daunorubisin. Risiko anak LLA berusia ≥4 tahun mengalami kardiotoksisitas dini adalah 1,128 kali lebih tinggi dibanding dengan yang berusia <4 tahun (prevalence ratio, PR 1,128; 95% CI: 1.015 – 1.254; p < .001). Tren penurunan LVEF dapat merupakan bagian dari proses penuaan. Hal ini dipengaruhi oleh volume ventrikel kiri, masa, dan fungsinya yang bervariasi seiring usia seperti pada individu sehat. Studi ini memberikan hasil berbeda dibanding studi sebelumnya yang menunjukkan usia lebih muda memiliki penurunan fungsi jantung yang dievaluasi dengan parameter left ventricular shortening fraction (LVSF). Adanya perbedaan farmakokinetik dan farmakodinamik pada kelompok usia yang lebih muda menyebabkan usia lebih muda sebagai salah satu faktor risiko kardiotoksisitas pada pasien kanker.

Istilah “tidak ada dosis aman dalam pemberian Antrasiklin” perlu dicermati lebih lanjut. Penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang bervariasi antara dosis kumulatif Antrasiklin dan kardiotoksisitas berdasarkan parameter yang digunakan, rentang waktu observasi, dan metodologi yang digunakan. Dosis kumulatif Daunorubisin dalam berbagai protokol kemoterapi bervariasi antara 75 – 450 mg/m2. Dalam studi kami, didapatkan bahwa anak dengan LLA yang memiliki dosis Daunorubisin lebih dari 120mg/m2 berisiko mengalami kardiotoksisitas sebesar 1,161 lebih tinggi dibanding dengan yang mendapat dosis lebih rendah (PR 1,161; 95%CI: 1.019 – 1.324; p 0.001). Adapun penentuan nilai cut off berdasar studi yang pernah dilakukan di bagian Kardiologi Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Soetomo Surabaya, dimana didapatkan bahwa dosis >120mg/m2 menunjukkan gangguan fungsi diastolik ventrikel kiri. Perhitungan nilai diagnostik terhadap dosis kumulatif Daunorubisin dilakukan dengan kurva receiver operating characteristic (ROC). Didapatkan area dibawah kurva dengan nilai 0,677 dengan nilai sensitivitas 100% dan spesifisitas 29,5% untuk nilai cut off dosis akumulasi Daunorubisin > 120mg/m2.

Berdasar Protokol Kemoterapi LLA Anak 2013, ada dua stratifikasi kelompok risiko yaitu  risiko tinggi dan standar, dengan dosis kelompok risiko tinggi sebesar tiga kali lipat kelompok risiko  standar. Kelompok stratifikasi risiko tinggi memiliki 1,135 kali risiko lebih tinggi dibanding kelompok risiko standar (PR 1.135;95%CI: 1.016 – 1.269; p < .001). Sebagai kesimpulan, usia ≥ 4 tahun, kelompok stratifikasi risiko tinggi, dan dosis kumulatif > 120 mg/m2 adalah faktor risiko terjadinya kardiotoksisitas dini pada pasien LLA anak yang mendapat kemoterapi Daunorubisin. Kewaspadaan klinis dan evaluasi fungsi jantung berkala perlu dilakukan pada pasien LLA anak dengan dosis kumulatif > 120mg/m2.

Penulis: Dr. I Ketut Alit Utamayasa, dr., Sp.A(K)

Link jurnal:  http://journal.waocp.org/article_89589.html

Judul jurnal:

FAKTOR RISIKO KARDIOTOKSISITAS DINI YANG DIINDUKSI OLEH DAUNORUBISIN PADA LEUKEMIA LIMFOBLASTIK ANAK

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu