Pengembangan Variasi Obat Baru melalui Kimia Medisinal

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Bambang Tri Purwanto, drs., M.S., Apt., menyampaikan orasinya berjudul ‘Kimia Medisinal dan Peranannya dalam Pengembangan Obat Baru’ pada Pengukuhan Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlanga (UNAIR), Kamis (8/4/2021). (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Tuntutan penemuan obat-obatan baru semakin meningkat seiring dengan banyaknya kemunculan variasi penyakit baru dalam dunia farmasi. Penemuan obat baru tersebut bertujuan untuk mengobati jenis penyakit tertentu, meningkatkan efektivitas dan keterandalan obat, menurunkan efek samping atau toksisitas, meningkatkan selektivitas obat, dan meningkatkan kenyamanan pemakaian obat.

Berlandaskan hal itu, Prof. Dr. Bambang Tri Purwanto, drs., M.S., Apt., menyampaikan orasinya berjudul ‘Kimia Medisinal dan Peranannya dalam Pengembangan Obat Baru’ pada Pengukuhan Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlanga (UNAIR), Kamis (8/4/2021). Dikukuhkan sebagai guru besar bidang kimia medisinal, Prof. Purwanto membuka orasinya dengan menjelaskan bahwa kimia medisinal adalah multidisiplin ilmu yang memberikan ilustrasi bagaimana cara-cara mengembangkan obat baru.

“Kimia medisinal sangat penting di dalam dunia farmasi karena memiliki peranan untuk mencari, menemukan, mengembangkan, sampai bisa mendapatkan obat baru,” jelas Guru Besar Fakultas Farmasi aktif ke-26 itu.

Selain karena munculnya variasi penyakit baru, dosen 63 tahun itu menuturkan belum adanya  obat yang baik untuk penyakit tertentu, banyaknya kuman yang sudah kebal terhadap obat-obatan tertentu, dan ditemukannya berbagai efek samping akibat pemakaian obat yang sudah dikenal juga menjadi alasan tersendiri perlunya dilakukan pengembangan obat. Untuk memeroleh obat baru, Prof. Purwanto menjelaskan hal itu dapat dilakukan dengan mengembangkan senyawa yang sudah diketahui aktivitasnya dan digunakan sebagai senyawa induk untuk menekan keperluan biaya.

Lebih lanjut, dalam pengukuhan yang berlangsung pada Kamis (08/04/2021) itu, Prof. Purwanto menyebutkan beberapa tahapan dalam konsep pengembangan obat. Tahapan pertama adalah tahap kimia medisinal, yaitu perancangan obat dengan melakukan identifikasi senyawa penuntun yang kemudian dilakukan screening secara in silico dan dikaitkan dengan aktivitas farmakologis.

Selain itu, ada juga proses penemuan senyawa obat yang diperoleh dari proses sintesis untuk modifikasi senyawa penuntun kemudian dilakukan screening terkait dengan aktivitas farmakologisnya. Dari proses tersebut, Prof. Purwanto menyebutkan akan didapatkan senyawa bahan obat aktif.

Selanjutnya, tahapan kedua adalah dilaksanakan proses kimiawi dari senyawa bahan obat aktif tersebut terkait dengan nilai farmakokinetika (ADME) berskala laboratorium. Kemudian, proses pabrikasi terkait dengan masalah perijinan dan pemasaran dilakukan.

“Tahapan terakhir adalah melibatkan apoteker sebagai penanggung jawab kefarmasian untuk memberikan informasi obat kepada masyarakat,” terangnya.

Sebelum menutup orasinya,  dosen yang lahir pada 6 Oktober 1957 itu berharap ahli kimia medisinal di Indonesia dapat melakukan kolaborasi untuk mengembangkan obat baru, baik berasal dari alam maupun sintesis.

“Semoga kedepannya bisa lebih banyak pertemuan ilmiah bidang kimia medisinal baik regional, nasional, maupun internasional,” tuturnya.

Tidak lupa, Guru Besar UNAIR ke-520 itu menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan seluruh pihak yang selalu membantunya selama ini. Prof. Purwanto juga berterima kasih kepada KEMENDIKBUD dan rektor UNAIR yang telah memberikannya ijin untuk menyandang gelar sebagai guru besar. (*)

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu