Nanopartikel Kelor sebagai Obat Anti-Kanker

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Theresia Indah Budhy Sulisetyawati, drg., M.Kes. resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Patologi Mulut dan Maksilofasial Univeristas Airlangga (UNAIR) pada Kamis (8/4/2021). (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Prof. Dr. Theresia Indah Budhy Sulisetyawati, drg., M.Kes. resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Patologi Mulut dan Maksilofasial Univeristas Airlangga (UNAIR). Menjadi Guru Besar FKG UNAIR aktif yang ke-32, Prof. There bersama empat guru besar lain dikukuhkan di Aula Garuda Mukti, Kampus C UNAIR pada Kamis (8/4/2021).

Penghargaan tertinggi bagi insan akademik tersebut Prof. There raih melalui terobosannya yang menemukan potensi besar khasiat Moringa oleifera atau daun kelor sebagai obat anti-kanker. Hasil penelitian tersebut diuraikan dalam orasinya yang berjudul ‘Pengembangan Terapi Kanker Rongga Mulut dengan Nanopartikel Moringa Oleifera’.

Topik penelitian itupun diambil bukan tanpa sebab. Prof. There mengingatkan bahwa masalah kanker di Indonesia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Apalagi diikuti dengan fakta hadirnya Indonesia sebagai negara dengan kasus kanker terbanyak di Asia Tenggara, setelah Vietnam.

“Angka kematian kanker di Indonesia 2 persen persen. Dan untuk kanker mulut prevalensinya naik dari 1,4 persen di tahun 2013 menjadi 1,8 persen di tahun 2018. Angka kejadian kanker di Indonesia pun mencapai 135.000 orang per tahunnya. Sebuah problematika yang tidak dapat kita kesampingkan,” terang Guru Besar UNAIR PTN-BH ke-225 tersebut.

Mengikuti fakta tersebut, Prof. There akhirnya berusaha untuk menemukan obat anti-kanker dengan cara yang lebih aman, alami, dan mudah didapat, khususnya di Indonesia. Potensi obat anti-kanker itupun jatuh kepada tanaman kelor yang setelah diteliti mengandung berbagai zat aktif seperti fitokimia yang dapat menjadi agen anti-neoproliferatif penghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

Lalu mengapa nanopartikel daun kelor menjadi fokus utama penelitian?

Prof. There menjelaskan bahwa nanopartikel menjadi material biologis atau sintetik yang mampu menjadi bahan penghantar obat yang ukurannya lebih kecil daripada mikrosfer dan liposom. “Nanopartikel mampu menembus ruang-ruang antar sel yang hanya dapat ditembus ukuran koloidal, stabilitas tinggi, terlindung dari degradasi, tolerabilitas yang sangat baik, toksisitas rendah pada hati, dan serangkaian kelebihan lain.

“Kelebihan tersebut nantinya mampu mengikat molekul obat dalam jumlah memadai dengan efisiensi penyerapan yang sangat tinggi,” imbuh perempuan kelahiran Ujung Pandang, 7 Juni 1961 tersebut.

Dengan kelebihan nanopartikel itu, Prof. There menggunakan mekanisme apoptosis yang mendorong eliminasi dan menghilangkan sel-sel yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa kematian sel kanker dapat didorong melalui apoptosis dan nekrosis. Pada konsentrasi 500 μg/ml dan 750 μg/ml banyak terjadi kematian sel kanker secara nekrosis, namun pada kosentrasi 250 μg/ml banyak ditemukan ekspresi Caspase-3.

Dalam penelitian ini kematian sel yang disebabkan oleh ekspresi caspase-3 merupakan kunci utama dari apoptosis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Nanopartikel Moringa Oleifera konsentrasi 250 μg/ml yang berbasis kitosan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan terapi kanker di rongga mulut yang lebih aman dan efektif.

“Potensi anti-kanker pada nanopartikel terbukti sangat besar, namun ke depannya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan uji ketahanan suatu bahan terapi. Mengingat daun kelor yang sangat mudah ditemukan diikuti dengan berdirinya prodi Rekayasa Nanoteknologi di UNAIR harapan besar terealisasinya terobosan ini akan terus kami usahakan,” pungkasnya di akhir orasi.

Sebagai informasi, Prof. There merupakan lulusan S1 FKG UNAIR Tahun 1985 dan S2 Program Magister Prodi Patobiologi tahun 2000. Melalangbuana dalam berbagai seminar dan konferensi internasional, lulusan S3 prodi Ilmu Kedokteran UNAIR 2004 tersebut kini melengkapi capaian karirnya sebagai Guru Besar ke-517 sejak UNAIR berdiri. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu