Microbiome Rongga Mulut Pengaruhi Kesehatan Kehamilan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Retno Indrawati Roestamadji, drg., M.Si., saat pidato pengukuhan Guru Besar UNAIR pada Kamis (08/04/2021). (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Kesehatan rongga mulut ibu hamil perlu diperiksakan ke dokter secara berkala demi menjaga kesehatan ibu dan bayi. Hal itu dipaparkan oleh Prof. Dr. Retno Indrawati Roestamadji, drg., M.Si., pada pidato pengukuhan Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR) pada Kamis (08/04/2021) melalui live streaming YouTube.

Sebelumnya, Prof. Retno menjelaskan microbiome manusia disebut juga genom kedua yaitu memainkan peranan penting dalam banyak aspek kesehatan dan penyakit. “Kenapa disebut sebagi genom kedua karena sebenarnya manusia hanya mengekspresi sekitar 20 ribu gen tetapi sisa gen yang lain adalah ekspresi microbiome yang ada pada tubuh kita,” terang Guru Besar sejak UNAIR berdiri ke-519 itu.

Ia juga menambahkan bahwa microbiome terdapat pada berbagai bagian tubuh dan jumlahnya sangat bervariasi tergantung pada individu. Perbedaan microbiom pada seseorang tergantung pada gaya hidup, diet, lingkungan, atau apa yang mereka konsumsi pada masa bayi.

Anak yang lahir normal, umumnya usus banyak mengandung bakteri Lactobacillus yang membuat bayi toleran pada ASI dan lainnya. Sedangkan pada anak lahir caesar banyak bakteri Sthaphylococcus dari lingkungannya yaitu dokter, perawat, atau ibunya. Bakteri Sthaphylococcus ini tidak menguntungkan karena bersifat patogenik yang dapat menyebabkan obesitas dan alergi.

“Kelahiran cesaer saat menjadi tren dan sangat tinggi, terkadang bukan karena indikasi namun ingin memepunyai tanggal lahir bagus, maka seorang ibu seringkali meminta caesar,” imbuhnya.

Guru Besar FKG aktif ke-33 dalam penelitiannya menjelaskan adanya peningkatan IL-22 (interleukin 22) yang signifikan pada kelompok ibu hamil trisemester tiga dengan karies gigi. Pada kelompok karies, variabilitas microbiome rongga menurun. Hal ini menunjukan pada karies terjadi ketidakseimbangan sehingga terjadi karies gigi.

“Pada kelompok karies microbiomenya, variasinya menurun, sementara yang tidak karies variabilitasnya normal dan itu menunjukan pada karies terjadi disbiosis atau ketidakseimbangan,” terangnya.

Selanjutnya, pada rongga mulut ibu hamil trisemester tiga dengan periodontitis dan tidak periodontitis terdapat perbedaan kadar IL-6 dan TNFa. Peningkatan TNFa tersebut perlu diwaspadai terjadinya preeklampsia. “Pada ibu hamil harus sering pergi ke dokter gigi untuk melihat kesehatan giginya, karena kalo dibiarkan terjadinya periodontitis, kemudian rongga mulutnya menjadi jelek dan itu menjadi penyebab preeclampsia,” imbuhnya.

Tingginya konsentrasi IL-6 dan TNFa pada ibu hamil trisemester tiga yang menggunakan alat ortho cekat, perlu diwaspadai peningkatan risiko keguguran dan kelahiran bayi prematur. Penggunaan alat ortho cekat menyebabkan adanya microbiome rongga mulut jenis Abiothropia defective. Bakteri tersebut turut berperan dalam terjadinya bacterial endocarditis dengan kerusakan katup dan gagal jantung.

“Ibu hamil diperbolehkan menggunakan alat ortho cekat tapi harus terkontrol kebersihan dari alat ortho cekat tersebut. Supaya tidak terjadi peningkatan interleukin 6 dan TNFa” jelas dosen FKG.

Pada akhir Prof. Retno juga menjelaskan bahwa penelitian microbiome dapat dilakukan secara multidisipliner. Hal tersebut belum pernah ia pikirkan sebelumnya bahwa infertilite pada ibu dan hubungannya dengan oral microbiome. (*)

Penulis: Wiji Astutik

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp