Tuberkulosis Paru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: KlikDokter

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mtb dan dapat menyerang berbagai organ terutama paru. Diagnosis TB ditetapkan berdasarkan keluhan, anamnesis, pemeriksaan klinis, laboratorium, dan penunjang lainnya. Pemeriksaan laboratorium bakteriologis (pemeriksaan sputum mikroskopik langsung, pemeriksaan tes cepat molekuler, dan kultur), pemeriksaan radiologis (foto rontgen, CT scan, dan MRI), pemeriksaan histopatologi, uji kepekaan obat, dan uji serologis juga berperan penting dalam penegakan diagnosis TB.

Manifestasi TB yang sangat bervariasi terkadang menjadi tantangan bagi dokter untuk mengidentifikasi penyakit ini. Manifestasi klasik TB paru secara umum mudah didiagnosis karena menunjukkan karakteristik klinis dan radiologis yang khas namun beberapa gejala TB paru juga sering ditemukan pada penderita kanker paru. Pasien infeksi menyerupai keganasan sebagian besar asimptomatis (>27%) dan 27% sisanya menunjukkan gejala yang bervariasi dengan rata-rata gejala yang dialami muncul sekitar 1 bulan sebelumnya.

Tuberkulosis Menyerupai Kanker Paru

Kami melaporkan seorang laki-laki berusia 24 tahun dengan tuberkulosis yang menyerupai kanker paru dengan metastasis tulang multipel.

Gejala klinis TB paru yang paling umum adalah batuk, nyeri dada, dan demam. Gejala lain yang lebih jarang dijumpai antara lain berat badan turun, dispnea, kelelahan, malaise, hemoptisis, dan keringat malam. Beberapa pasien dengan pseudotumor juga disertai dengan komorbid seperti usia tua, diabetes mellitus, alkoholik, dan penyakit paru obstruktif kronis, atau pasien dengan keadaan immunocompromised seperti pada orang dengan HIV/AIDS atau yang menjalani transplantasi organ.

Tumor marker merupakan salah satu modalitas diagnostic yang digunakan secara luas untuk menyingkirkan kanker dari penyakit jinak lainnya. Kadar tumor marker yang tinggi menunjukkan keberadaan kanker. Carcinoembryonic antigen (CEA), cancer antigen (CA) 125, CYFRA 21-1, dan SCCAg merupakan tumor marker yang dapat digunakan dalam diagnosis kanker paru karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) sedangkan pro-gastrin-releasing peptide dan neuron-spesific enolase (NSE) umumnya digunakan dalam diagnosis kanker paru karsinoma sel kecil (KPKSK). Namun, terdapat laporan hasil tumor marker yang abnormal juga dapat terjadi pada penyakit jinak termasuk TB paru.

Gambaran radiologis foto toraks sebagian besar pasien TB yang menyerupai keganasansama dengan kanker meskipun sekitar 20% kasus masih memungkinkan gambaran suatu infeksi. Gambaran radiologis yang paling sering ditemui adalah nodul bulat soliter (46%), kavitas, dan massa lobulated. Lokasi lesi bervariasi dan tidak ada lokasi tertentu yang dominan.

Gambaran malignansi pada CT scan menunjukkan berbagai macam morfologi termasuk tepi speculated, lobulated, blood vessel convergence signs, indentasi pleura, opasitas ground-glass, dan kavitas berdinding tebal dan iregular. Pada pemberian kontras, nodul dengan tepi halus, bronchus signs, dan bentuk bulat dipertimbangkan sebagai lesi jinak. Namun, penelitian menunjukkan TB paru dapat menunjukkan satu atau lebih gambaran keganasan. Pasien TB paru asimptomatis memiliki frekuensi margin spiculated lebih tinggi daripada kanker paru. Akibatnya terjadi tumpang tindih antara TB paru dan kanker paru pada gambaran CT scan toraks.

Metode dan Hasil

Seorang pasien, Tuan H, usia 24 tahun, tidak merokok maupun mengkonsumsi alkohol, datang dengan keluhan utama kejang selama 30 menit. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak kekuningan selama 1 bulan disertai nyeri tengkuk dan dada terutama saat batuk, kelemahan kedua tungkai sejak 1 bulan disertai rasa baal dari ujung kaki hingga pusar,dan benjolan pada sisi kiri kepala serta luka padadada, punggung bawah, dan kedua tumit sejak 1 bulan. Selain itu, didapatkan keluhan penurunan napsu makan, penurunan berat badan, dan keringat malam.

Pada kasus ini, pasien datang dalam kondisi kejang, anamnesis tidak menunjukkan adanya gejala klinis TB paru yang khas. Hasil CEA pada pasien berada dalam batas normal sehingga tidak mendukung ke arah keganasan terutama KPKBSK. Foto toraks pasien tidak menunjukkan karakteristik khas dari TB paru sehingga mengarah pada misdiagnosis. CT scan toraks pasien menunjukkan lesi solid batas tidak tegas, tepi spiculated, dan pada pemberian kontras tampak contrast enhancement. Lesi juga tampak mengobliterasi bronkus kanan.

Pada kasus ini, selain ditemukan gambaran pseudotumor paru juga didapatkan TB tulang yang luas pada beberapa organ seperti vertebra servikal, sternum, dan calvaria. Diagnosis sulit dilakukan karena manifestasi awal yang tidak khas serta pada kondisi lanjut dapat menyerupai malignansi.

Pemeriksaan MRI torakolumbal dengan kontras pada kasus menunjukkan destruksi tulang multipel pada vertebra dan sternum serta pembentukan abses pada bagian posterior vertebra servikal yang jarang ditemui pada kasus spondilitis TB. Destruksi sternum dengan pembentukan abses yang ditemukan pada pasien dapat disebabkan oleh empat mekanisme yakni adanya penebalan pleura yang mengakibatkan penyebaran kuman TB secara limfogen, empiema terlokalisasi dari pleuritis TB, penyebaran kuman TB dari rongga toraks akibat tindakan medik, dan infiltrasi hematogen akibat TB milier. Namun, hasil pengecatan BTA pus regio sternum pada pasien memberi hasil negatif. Kultur Mtb dua bulan kemudian juga memberikan hasil negatif.

Keterlibatan calvaria pada kasus ini juga merupakan hal yang langka. Tuberkulosis calvaria umumnya terjadi pada usia 11 hingga 20 tahun dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 2:1. Kejang yang terjadi pada pasien awalnya diduga akibat proses metastasis pada otak karena efek desak massa yang mengakibatkan peningkatan intrakranial dan keterlibatan meningen. Namun, pemeriksaan jaringan calvaria paska operasi menunjukkan hasil tes cepat molekuler Mtb detected low, rifampisin resistant not detected; hapusan BTA positif scanty,dan pemeriksaan histopatologi didapatkan radang granulomatosa dan kuman BTA sesuai tuberkulosa. Hal ini yang menjadi dasar penegakan diagnosis tuberkulosis pada pasien.

Penulis: Laksmi Wulandari

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu