Ternyata Penyebab Preeklampsia Dapat Berasal dari Riwayat Kehamilan Sebelumnya dan Riwayat Keluarga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: Preeklampsia

Berdasarkan kesepakatan Internasional yang diprakarsai oleh World Health Organization (WHO),  untuk meningkatkan dicanangkanlah multiple development goals (MDGs) dan kelanjutannya, yaitu sustainable development goals (SDGs) untuk meningkatkan kesehatan semua orang di dunia. Di dalam MDGs dan SDGs ini, menurunkan angka kematian ibu merupakan salah satu poin penting yang harus dicapai. Angka kematian ibu merupakan masalah yang serius pada negara berkembang, khususnya Indonesia. Padahal menurut central for disease control and prevention (CDC) Amerika, 60% dari penyebab kematian terkait kehamilan merupakan hal yang dapat dicegah.

Preeklampsia merupakan salah satu dari penyebab utama dari tingginya angka kematian ibu tesebut. Definisi dari preeklampsia yaitu kondisi dimana ibu hamil di atas 20 minggu dengan tekanan darah diatas 140/90 mmHg dengan proteinuria 300 mikrogram dalam 24 jam. Menurut WHO, insidens dari preeklampsia pada negara berkembang yaitu sekitar 7 kali dari negara maju. Hal ini cukup memprihatinkan karena Indonesia, selaku negara berkembang, memiliki insidens preeklampsia setinggi 27.1%, sedangkan angka insidens preeklampsia secara global hanyalah 2-8% dari semua kehamilan. Selain itu, data nasional juga mendukung bahwa insidens prekklampsia pada rumah sakit tersier mencapai 21%, dimana 10.2% berkembang menjadi eclampsia dan 5.6% berkembang menjadi edema paru. Tingginya persentase komplikasi dari kasus preeklampsia ini menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan untuk mencegah timbulnya mortalitas dan morbiditas pasien. Maka dari itu, kami merasa perlu untuk mengidentifikasi lebih lanjut faktor resiko yang menyebabkan seseorang lebih cenderung terkena preeklampsia dibandingkan yang lain.  Hal ini penting, karena apabila tenaga kesehatan gagal mengidentifikasi dan menangani preeklampsia, maka terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi: kesehatan ibu hamil dan janin dapat terancam, penanganan awal dapat tertunda, serta komplikasi dari kondisi tersebut gagal untuk dicegah.

Berdasarkan studi kami, dilakukan studi case-control yang dimulai sejak juni hingga oktober 2018 pada 2 rumah sakit rujukan pemerintah tipe sekunder di Jawa Timur, yakni RSUD Ibnu Sina Gresik dan RSUD Dr. R. Koesma Tuban, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai faktor resiko yang ada pada pasien preeklampsia ini apabila dibandingkan dengan ibu hamil tanpa preeklampsia. Data dari kedua kelompok ibu hamil tersebut dikumpulkan dari kuesioner yang disusun berdasarkan kriteria International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy (ISSHP), American College of Obstetrics and Gynecology (ACOG), serta kementrian kesehatan Indonesia. Data ini kemudian diolah dengan tes Kolgomorov Smirnov dan tes multivariate logistic regression.

Berdasarkan hasil studi kami, ditemukan bahwa secara karakteristik (umur, riwayat pendidikan, kondisi sosioekonomi ibu), pasien dari kedua kelompok terdistribusi secara normal. Wanita dari kelompok preeklampsia memiliki riwayat keluarga dan riwayat preeklampsia sebelumnya apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, dari jumlah antenatal care (ANC), tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Selain itu, tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam usia kehamilan saat melahirkan, dimana mayoritas dari ibu melahirkan secara aterm. Namun, pada kelompok kasus, ditemukan bahwa secara garis besar banyak ibu yang melahirkan dengan tindakan sectio Caesarea. Berdasarkan hasil analisis multivariant, ditemukan bahwa wanita hamil akan memiliki kecenderungan menderita preeklampsia apabila memiliki riwayat keluarga dengan preeklampsia. Sedangkan dari temuan pada janin, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dari berat bayi lahir (BBL), skor APGAR pada menit pertama dan kelima, serta insidens dirawat pada neonatal intensive care unit (NICU) pada kedua kelompok.

Temuan dari studi kami cukup berbeda dari studi lain yang menyatakan bahwa usia yang ekstrim (di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun) merupakan faktor resiko dari timbulnya preeklampsia pada seseorang. Hal ini mungkin disebabkan dari keterbatasan studi bahwa Sebagian besar sampel kami berada pada usia 20-35 tahun. Selain itu, studi kami menggarisbawahi bahwa riwayat keluarga dan riwayat preeklampsia sebelumnya merupakan perbedaan yang signifikan selaku prediktor timbulnya preeklampsia pada kehamilan saat ini. Tak lupa juga, tingginya kejadian sectio Caesarea pada kelompok preeklampsia disebabkan karena kondisi dari preeklampsia ibu yang sudah berat, serta adanya fetal distress, yang menyebabkan tindakan cepat untuk melahirkan bayi sangatlah diperlukan. Akan tetapi, hasil keluaran dari janin kedua kelompok tidak memiliki perbedaan yang signifikan, baik secara morbiditas, maupun mortalitas. Perlu diingat pula bahwa, secara jangka panjang, tindakan sectio Caesarea dapat meningkatkan kemungkinan terkena obesitas masa kecil hingga usia 5 tahun. Oleh karena itu, ibu dengan kondisi preeklampsia perlu waspada dan mengantisipasi akan kemungkinan terjadinya hal ini dalam pertumbuhan anak.

Penulis: dr. Alfonsus Adrian Hadikusumo Harsono dan dr. Firas Farisi Alkaff

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilmiah kami di:

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2021/03/68-C-M20_1330_Firas_Farisi_Alkaff_Indonesia.pdf

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu