Gambaran Rekaman Jantung yang Menyerupai Serangan Jantung Akut Pada Kasus Nyeri Perut Mendadak, Apa Penyebabnya?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: tempoco

Infark miokard akut, atau yang lebih umum dikenal dengan serangan jantung, adalah kondisi dimana terjadi penyumbatan pada pembuluh darah jantung (coroner) yang terjadi secara cepat, serta memiliki resiko tinggi hingga dapat menyebabkan kematian. Pemeriksaan rekam jantung, atau yang biasa dikenal dengan sebutan EKG (elektrokardiografi), merupakan salah satu pemeriksaan utama yang diperlukan untuk mendiagnosis adanya gambaran penyumbatan pembuluh darah jantung tersebut, dengan cara membaca gelombang aktifitas listrik jantung. Gambaran yang umumnya dianggap “khas” pada EKG yang biasanya muncul pada kondisi serangan jantung akut adalah adanya peningkatan gelombang segmen ST pada bacaan EKG, atau yang dikenal dengan istilah Infark miokard dengan elevasi segmen ST akut (STEMI).

Pada kondisi serangan jantung, pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri pada dada. Nyeri dada pada kondisi penyumbatan pembuluh darah jantung biasanya bersifat spesifik (kualitas seperti tertekan atau ditindih beban berat, menjalar hingga ke lengan kiri, lengan kanan, pundak, atau tembus ke punggung) atau tidak spesifik (hanya rasa tidak nyaman di bagian dada, atau nyeri pada perut atau ulu hati, diserta mual, muntah, dan keringat dingin). Jika pasien yang datang dengan keluhan ini, terutama pada kelompok beresiko tinggi seperti kelompok usia lanjut ( di atas 50 tahun), pemeriksaan rekam jantung wajib segera dilakukan.

Selain itu biasanya akan dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa pemerikaan enzim jantung, yang dapat membantu dalam menegakan diagnosis penyumbatan pembuluh darah jantung, dimana akan didapatkan peningkatan dari enzim jantung tersebut yang menunjukan adanya bagian otot jantung yang mengalami kerusakan akibat adanya sumbatan aliran darah menuju otot jantung. Jika ditemui gambaran EKG yang “khas” seperti disebutkan sebelumnya, disertai peningkatan kadar enzim jantung dalam darah, maka tindakan reperfusi atau pembukaan kembali lairan pemubuluh darah jantung yang tersembutan perlu dilakukan dengan segera, baik dengan cara kateterisasi jantung primer yang biasanya dilanjutkan dengan pemasangan ring pada pembuluh darah jantung, ataupun dengan menggunakan obat-obatan yang dengan tujuan untuk menghancurkan sumbatan plak yang ada pada pembuluh darah jantung.

Namun ternyata, ada banyak kondisi-kondisi selain penyumbatan pembuluh darah jantung yang dapat menyebabkan gambaran elevasi segmen ST pada EKG yang dapat disalah artikan sebagai serangan jantung. Kelainan-kelainan yang dapat menyebabkan gambaran segmen ST elevasi dapat berasal dari penyakit seputar jantung selain penyumbatann pembuluh darah jantung, maupun penyebab lain yang disebabkan gangguan pada organ lain diluar jantung, seperti pada gangguan saraf pusat, kelainan paru, dan lain-lain. Karena itu, dibutuhkan kecermatan dan pengetahuan mendalam oleh seorang dokter dalam kelainan yang muncul pada EKG karena pada kondisi-kondisi darurat yang butuh penanganan cepat, baik pada kegawatdaruratan karena kelainan jantung maupun karena organ lain. Hasil intepretasi EKG bukan saja untuk penegakan diagnosis, namun juga akan mempengaruhi terapi dan tindakan yang akan diberikan kepada pasien yang bersangkutan.

Salah satu gangguan organ di luar jantung yang dapat menyebabkan gambaran ST elevasi pada EKG adalah kelainan pada sistem pencernaan  dan organ-organ didalam rongga perut. Laporan kasus terdahulu telah mencatat berbagai jenis kasus yang dapat menyebabkan gambaran tersebut, seperti pada kasus batu empedu, radang prankreas akut, penyumbatan pada usus halus, dan lain-lain. Namun, laporan kasus yang menjelaskan gambaran elevasi ST pada EKG yang menyerupai serangan jantung yang ditemukan pada pasien yang mengalami kebocoran lambung atau perforasi gaster masih jarang.

Pada laporan kasus yang telah diterbitkan di BMJ Case Report tahun ini, kami melaporkan pasien berusia lanjut yang pada awalnya memiliki keluhan nyeri ulu hati hebat mendadak, disertai mual, muntah, dan keringat dingin, dan kemudian nyeri menjalar keseluruh perut. Setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung, kami menemukan adanya gambaran ST elevasi pada EKG yang biasanya muncul pada pasien dengan sumbatan pembuluh darah jantung. Pemeriksaan klinis dan penunjang lebih lanjut dengan foto X-Ray dada, perut, dan pemeriksaan laboratorium menunjukan bahwa pasien saat itu sedang mengalami kondisi kebocoran lambung disertai infeksi dan peradangan pada selaput pembungkus perut (peritonitis) akibat paparan asam lambung, dimana kondisi ini merupakan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan segera berupa operasi pembedahan perut untuk membersihkan organ-organ dalam perut dan memperbaiki lambung yang bocor.

Namun dengan adanya gambaran yang menyerupai sumbatan pembuluh darah jantung pada rekaman EKG, perlu dipastikan apakah pasien aman untuk dilakukan operasi segera, karena jika memang benar ada terjadi sumbatan pembuluh darah jantung, maka operasi menjadi beresiko sangat tinggi. Untuk itu, kami evaluasi lanjutan menggunakan alat ekokardiografi atau USG untuk jantung untuk melihat fungsi jantung dan apakah ditemukan tanda-tanda sumbatan pembuluh darah jantung atau kondisi lain yang mungkin menyebabkan gambaran “khas” tersebut pada pemeriksaan rekam jantung. Dari pemeriksaan tersebut, didapatkan bahwa gambaran fungsi jantung adalah normal, disertai kadar enzim jantung yang normal, maka kami memutuskan bahwa pasien tidak mengalami sumbatan pembuluh darah jantung, dan aman untuk dilakukan operasi segera untuk mengatasi kebocoran lambung nya. Dan setelah dilakukan operasi, pemantauan berkala selama di rawat inap menunjukan bahwa gambaran rekaman EKG jantung pasien secara bertahap kembali kepada kondisi normal.

Dari laporan kasus kami, dapat ditarik kesimpulan bahwa gambaran yang menyerupai penyumbatan pembuluh darah jantung dapat ditemukan pada kondisi kegawatan pada organ lain, termasuk pada kasus kebocoran lambung, maka dari itu, pemeriksaan secara detil dan didukung pemeriksaan penunjang lain, diperlukan agar dapat memberikan penanganan terbaik dan optimal untuk pasien-pasien tersebut.

Penulis: Ryan Enast Intan dan Firas Farisi Alkaff

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilmiah kami di:

https://casereports.bmj.com/content/14/3/e237470

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu