Kuliah Tamu Kedokteran Hewan UNAIR Banyuwangi Ulas Penyakit Brucellosis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Aamiir Shezad mahasiswa Program Doktoral FKH UNAIR yang berasal dari Pakistan saat mengisi Kuliah Tamu Prodi Kedokteran Hewan Banyuwangi. (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Program Studi S1 Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga (UNAIR) di Banyuwangi, pada akhir bulan Maret lalu mengadaan kuliah tamu dengan mendatangkan Dr. Aamiir Shezad. Beliau merupakan mahasiswa Program Doktoral FKH UNAIR yang berasal dari Pakistan.

Pada kuliah tamu yang dilaksanakan secara luring dan daring tersebut, Dr. Aamiir menyampaikan topik bahasan mengenai penyakit brucellosis. Dr. Aamiir mengungkapkan bahwa brucellosis merupakan penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder menyerang berbagai jenis hewan Iainnya serta manusia. 

Pada sapi, terangnya, penyakit ini dikenal pula sebagai penyakit keluron menular atau penyakit Bang. Sedangkan pada manusia menyebabkan demam yang bersifat undulans dan disebut “Demam Malta”. Bruce pada tahun 1887 mengisolasi jasad reniknya yang disebut Micrococcus melitensis dan kemudian disebut Brucella melitensis.

“Bakteri brucella untuk pertama kali ditemukan oleh Bruce pada tahun 1887 pada manusia dan dikenal sebagai Micrococcus melitensis. Kemudian Bang dan Stribolt pada tahun 1897 mengisolasi jasad renik yang serupa dari sapi yang menderita keluron menular. Jasad renik tersebut diberi nama Bacillus abortus bovis. Penemuan selanjutnya menunjukkan bahwa kedua jasad renik tersebut termasuk dalam genus Brucella,” papar Dr. Aamiir.

Lebih lanjut, Dr. Aamiir menjelaskan penyakit ini bersifat enzootik pada daerah tertentu, hal ini penting, karena merupakan sumber penularan untuk manusia atau bersifat zoonosis. 

“Penularan pada hewan terjadi melalui saluran pencernaan, saluran kelamin, dan mukosa atau kulit yang luka. Pada sapi dan kambing, penularan melalui perkawinan sering terjadi, sehingga pemacek yang merupakan reaktor harus dikeluarkan,” tandasnya. 

Cara mendiagnosa penyakit ini,jelasnya, metode ELISA merupakan salah satu cara untuk mendeteksi brucellosis pada sapi, dan lebih praktis serta sensitif untuk digunakan sebagai uji diagnostik. 

“Saat ini telah berkembang uji diagnostik brucellosis dengan metoda teknologi biomolecular, yaitu Polimerase Chain Reaction (PCR) terutama di daerah dimana ada program vaksinasi dengan strain 19. Kit diagnostik brucellosis yang lebih praktis penggunaannya di lapangan dan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama dengan sampel darah atau serum juga telah dikembangkan,” papar Dr. Aamiir.

Di Denmark pernah terjadi kerugian besar akibat penggunaan semen yang dicemari Brucella untuk Inseminasi Buatan. Penularan melalui saluran kelamin juga banyak terjadi pada babi dan anjing. Selain itu penularan dapat juga terjadi secara mekanis melalui insekta.

Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh brucellosis sangat besar, walaupun mortalitasnya kecil. Pada ternak kerugian dapat berupa keluron, anak hewan yang dilahirkan lemah kemudian mati, terjadinya gangguan alat-alat reproduksi yang mengakibatkan kemajiran temporer atau permanen. Kerugian pada sapi perah berupa turunnya produksi air susu. 

“Menurut perhitungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, kerugian akibat penyakit ini ditaksir mencapai lebih dari 5 milyar rupiah per tahun. Penyakit ini bersifat zoonosis dapat menular dari hewan ke manusia, dan biasanya sulit diobati sehingga sampai saat ini brucellosis merupakan zoonosis penting dan strategis,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu