Peran Safety Behavior dalam Bisnis MRO di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh indutry.co.id

Indonesia merupakan salah satu negara dengan peningkatan armada pesawat tertinggi (7,4%) di antara negara lainnya. Untuk memastikan pengoperasian dan keselamatan pesawat, perawatan rutin dan perbaikan berkala dibutuhkan sebuah organisasi perawatan pesawat, yang dikenal dengan MRO (Maintenance, Repair & Overhaul). Pertumbuhan bisnis pesawat tak pelak berdampak pada kebutuhan MRO karena perawatan menjadi kebutuhan mutlak setiap armada. Kondisi ini menjadikan MRO sebagai industri strategis di bidang penerbangan. Industri MRO juga memiliki dampak ekonomi berupa penambahan devisa dan peningkatan kandungan lokal. Selain itu, pertumbuhan industri MRO juga mendorong terciptanya lapangan kerja berteknologi tinggi, serta menciptakan multiplier effect pada industri pendukung.

Dalam Dasar-dasar Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) dan Strategies (Rodrigues Vieira dan Loures, 2016), Kannisson menyatakan bahwa pemeliharaan mengacu pada proses memastikan bahwa suatu sistem terus menjalankan fungsi standarnya pada tingkat keandalan dan keamanan yang baik. Sedangkan Viles menekankan bahwa tujuan pemeliharaan tidak hanya untuk meminimalkan waktu perbaikan tetapi juga untuk meningkatkan keandalan produk, serta mendapatkan informasi yang relevan untuk dianalisis. Dengan fungsi vital dalam dunia penerbangan, industri MRO secara terus menerus memiliki tantangan dan membutuhkan upaya untuk mengatasinya agar industri tersebut mampu bertahan, tumbuh, dan berkembang. Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah mengatasi masalah kecelakaan di tempat kerja yang sering menimbulkan kerugian bagi individu maupun perusahaan. Penyebab utama penurunan produktivitas individu adalah kecelakaan kerja (Spurgeon et al., 1997). Kecelakaan kerja terjadi karena banyak faktor. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan kerja adalah faktor manusia.

Kualitas keselamatan kerja di perusahaan sangat penting untuk meningkatkan perilaku keselamatan. Untuk membangun lingkungan keselamatan kerja yang diinginkan dengan baik diperlukan peran dan kontribusi baik dari pimpinan maupun karyawan, yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku keselamatan setiap individu di suatu perusahaan.Pemimpin yang menggarisbawahi urgensi keselamatan di antara anggota perusahaan akan meningkatkan iklim keselamatan yang kemudian mendorong pekerja untuk mengadopsi perilaku yang juga mengedepankan nilai keselamatan kerja (safety behaviour) (Martínez Corcoles, Gracia, Tomas dan Peiro, 2011). Menurut (Cooper, 2015) kepemimpinan keselamatan adalah proses pemimpin dalam membentuk tim, memastikan bahwa tim terlibat dalam mendorong nilai-nilai keselamatan dan menjaga tim untuk mencapai tujuan keselamatan organisasi. Menurut Hair et al. (1995) dalam (Lu dan Yang, 2010), seseorang dapat dikatakan sebagai safety leadership jika telah memenuhi tiga aspek yaitu safety motivation, safety policy dan safety concern.

Untuk mensosialisasikan pentingnya nilai-nilai keselamatan kerja perlu dibangun proses komunikasi yang baik. Komunikasi membantu pekerja memahami target yang kontradiktif, mengurangi ketidakpastian, dan berfungsi sebagai dasar konsensus tentang cara bekerja dengan tepat (D. Zohar dan Tenne-Gazit, 2008). Komunikasi keselamatan memiliki fungsi pendidikan terkait dengan bahaya situasional yang tidak jelas dan lingkungan kerja yang berubah serta penugasan kerja (Cigularov et al., 2010). Hal tersebut juga dapat mengurangi potensi risiko seperti kecelakaan kerja dan dampak negatif lainnya terkait pekerjaan.

Lebih lanjut, untuk menerapkan nilai-nilai keselamatan diperlukan komitmen. Sebuah pelajaran yang dilakukan oleh Laura S. Fruhen, Griffin dan Andrei (2019) mengukur komitmen keselamatan melalui lima aspek tindakan manajemen yaitu pengambilan keputusan, kebijakan manajerial, keterlibatan aktif, dan komunikasi dengan tenaga kerja. Faktanya, dalam beberapa literatur keselamatan, komitmen keselamatan ditekankan sebagai pengaruh penting pada keselamatan organisasi dan merupakan komponen utama dari iklim keselamatan atau budaya keselamatan.Saat ini, PT GMF AeroAsia Tbk adalah perusahaan yang bergerak dalam MRO yang paling terkemuka dan terbesar di Indonesia, serta nomor 4 di Asia dan nomor 9 di dunia. GMF mempekerjakan sekitar 5.000 karyawan yang berbasis di Jakarta dan tersebar di 47 bandara di dalam dan luar negeri. GMF menyediakan solusi terintegrasi untuk 180 pelanggan yang tersebar di 5 benua di lebih dari 60 negara di dunia. GMF bergerak di bidang perawatan pesawat, mesin pesawat dan komponen pesawat, serta mesin turbin off-plane. Perawatan, perbaikan, dan overhaul seringkali menggunakan bahan berbahaya dan zat beracun (B3) yang berpotensi menyebabkan keracunan, ledakan, dan api. Sarana dan prasarana berupa peralatan dan mesin juga berisiko menimbulkan berbagai kecelakaan kerja. GMF dibuat berbagai upaya untuk meningkatkan pemahaman melalui peningkatan keselamatan program diskusi, cetakan & teks berjalan, SMS (Safety Management System), lembar pengarahan, audio, video, dan situs web, dan majalah PENITY yang terbit sejak Oktober 2018 dan memiliki tujuan khusus untuk menyampaikan pengetahuan dan informasi tentang keselamatan kepada semua Personel GMF. Informasi yang terkandung relevan dengan situasi dihadapi oleh individu-individu di perusahaan.

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dan dianalisis, diperoleh kesimpulan bahwa safety leadership memiliki efek positif langsung pada safety climate. Safety communication memiliki efek positif langsung pada safety climate. Safety commitment memiliki efek positif langsung pada safety climate. Safety leadership memiliki efek positif langsung pada safety behavior. Safety communication memiliki efek positif langsung pada safety behavior. Safety commitment memiliki efek positif langsung pada safety behavior. Safety climate memiliki efek positif langsung pada safety behavior. Safety leadership memiliki efek positif tidak langsung pada safety behavior melalui safety climate. Safety communication memiliki efek tidak langsung yang positif pada safety behavior melalui safety climate. Safety commitment memiliki efek tidak langsung yang positif terhadap safety behavior melalui safety climate. Hal ini mendukung pernyataan Iklim keamanan menurut Flin et al. (2006) adalah persepsi anggota perusahaan tentang lingkungan kerja dan peraturan keselamatan kerja yang ada di dalamnya. Studi ini akan mendorong dilakukannya safety leadership dalam rangka untuk memacu iklim keselamatan dan perilaku keselamatan karyawan.Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi oleh manajemen perusahaan dalam memperhatikan safety leadership dalam rangka untuk memacu iklim keselamatan dan perilaku keselamatan karyawan misalnya Tim manajemen harus menetapkan sistem insentif keselamatan kerja yang merupakan indikator terendah dari variabel kepemimpinan keselamatan. Selanjutnya, perusahaan harus memperhatikan komunikasi keselamatan untuk menciptakan iklim keselamatan dan keselamatan perilaku karyawan misalnya harus dilakukan oleh tim Manajemen kampanye untuk mempromosikan praktik kerja aman yang merupakan indikator terendah pada variabel komunikasi keselamatan. Perusahaan selanjutnya harus memperhatikan komitmen keselamatan untuk membangun iklim keselamatan dan perilaku keselamatan karyawan artinya Manajemen harus memberi penghargaan kepada karyawan yang menerapkan perilaku keselamatan sebagai indikator komitmen keselamatan terendah variabel. Selanjutnya, fokus juga harus diberikan pada iklim keselamatan menciptakan perilaku keselamatan karyawan dengan meningkatkan kualitas kerja keamanan. Selain itu, komitmen keselamatan memiliki efek tidak langsung yang positif perilaku keselamatan melalui iklim keselamatan, yang berarti keselamatan komitmen meningkat, itu akan meningkatkan perilaku keselamatan melalui keselamatan iklim. Hasil ini berarti perusahaan harus memperhatikan keselamatan komitmen jika mereka ingin meningkatkan perilaku keselamatan karyawan iklim keselamatan.

Penulis : Anis Eliyana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://authors.elsevier.com/sd/article/S240584402032644X

(An empirical analysis of safety behaviour: A study in MRO business in Indonesia)

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu