Pengaruh Perbedaan Umpan terhadap Hasil Tangkapan pada Alat Tangkap Bubu di Perairan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik Jawa Timur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: liputan6com

Wilayah laut indonesia yang terletak di daerah tropis menjadikan keanekaragaman hayati laut indonesia tertinggi di dunia. Sumberdaya perikanan laut terutama pada perairan pantai yang keanekaragaman ekosistem dan variabilitas organisme laut sangat penting bagi kehidupan sebagian masyarakat indonesia. Ikan karang, rajungan (P. pelagicus), kepiting bakau, ikan peagis lainnya sering berimigrasi ke perairan pantai sehingga keanekaragaman hayati laut begitu penting untuk kehidupan sosial-ekonomi. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan cukup beragam salah satunya adalah bubu. Bubu merupakan alat tangkap yang berbentuk jebakan dan bersifat pasif. Alat tangkap bubu berbentuk seperti kurungan dengan ruang tertutup. Ikan yang masuk atau terperangkap alat tangkap ini tidak dapat keluar meloloskan diri. Bubu terbuat dari bahan kayu kayu, bambu, plastik, jaring atau kawat. Bubu tergolong alat tangkap yang ramah lingkungan karena termasuk alat tangkap yang pasif dengan menunggu ikan masuk ke jebakan. Kelebihan dari alat tangkap bubu antara lain hasil tangkapannya yang didapatkan selalu segar.

Berdasarkan kondisi geografis Desa Pangkah Wetan memiliki ketinggian 3,8 Mdl dari permukaan air laut, suhu rata-rata harian 29oC, curah hujan 2000 mm dan jumlah bulan hujan sebanyak 4/6 bulan. Desa Pangkah Wetan merupakan daerah pantai dengan jarak tempuh 2 Km dari kecamatan. Jarak tempuh dari kabupaten terdekat cukup jauh yakni sekitar 35 Km, Berdasarkan data Badan Pusat Statsitik Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik memiliki tanah seluas 3.186.180 Ha. Terdiri dari sawah tadah hujan seluas 80.807 Ha, tegal kering 203.465 Ha, pemukiman 38.455 Ha, pasang surut 2.406.416 Ha, lapangan 2 Ha, fasilitas umum 47 Ha dan lainnya 451.278 Ha Tujuan dari penelitian ini antara lain mengetahui perbedaan hasil tangkapan rajungan (P. pelagicus) dengan alat tangkap bubu menggunakan umpan ikan swanggi, ikan pepetek dan keting mengetahui umpan yang paling efektif digunakan untuk alat tangkap bubu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen merupakan suatu metode penelitian dengan mengadakan suatu percobaan untuk melihat suatu hasil yang ditujukan kearah penemuan sebab akibat antara variabel-variabel yang diteliti. . Penangkapan rajungan dengan menggunakan umpan keting, sewanggi dan pepetek memiliki perbedaan hasil pada masing-masing umpan. Rata-rata rajungan banyak tertangkap dengan menggunakan umpan keting. Sedangkan hasil paling sedikit diperoleh dengan umpan sewanggi. Rata-rata hasil tangkapan pada Umpan Keting sebesar 10 ekor dengan standart deviasi sebesar 1,36. Rata-rata hasil pada Umpan Swanggi sebesar 8 ekor dengan standart deviasi sebesar 0,78. Sedangkan rata-rata hasil tangkapan pada umapan pepetek sebsar 9 ekor dengan standart deviasi sebesar 1,00.

Pada umpan keting didapatkan hasil tangkapan tertinggi sebesar 12 ekor dan hasil tangkapan terendah sebesar 8 ekor. Pada umpan swanggi diperoleh hasil tangkapan tertinggi sebesar 9 ekor dan terendah 7 ekor. Sedangkanpada umpan pepetek hasil tangkapn tertinggi sebesar 10 ekor dan terendah sebesar 7 ekor. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di dapatkan kesimpulan:Rata-rata hasil tangkapan pada Umpan Keting sebesar 10 ekor dengan standart deviasi sebesar 1,36. Rata-rata hasil pada Umpan Swanggi sebesar 8 ekor dengan standart deviasi sebesar 0,78. Sedangkan rata-rata hasil tangkapan pada umpan pepetek sebsar 9 ekor dengan standart deviasi sebesar 1,00.

Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Ujung Pangkah desa Pangkah Kulon Kabupaten Gresik Jawa Timur. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2019.

Penulis : Wahyu Isroni

Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat ditemukan pada jurnal ilmiah pada link berikut ini:

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/679/1/012016/meta

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu