Airlangga Business Community Meet Up Bahas Tuntas Potensi dan Fokus Bisnis Peternakan Domba/Kambing di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Yolanda Surya Wijaya saat menjelaskan materi mengenai potensi bisnis peternakan domba dan kambing di Indonesia. (Dok: Pribadi)

UNAIR NEWS – Dalam rangka mewadahi dan mengembangkan bakat minat mahasiswa di bidang kewirausahaan, Airlangga Business Community (ABC) berkolaborasi dengan Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) menyelenggarakan ABC Meet Up. ABC Meet Up kali ini fokus membahas mengenai potensi bisnis peternakan domba dan kambing.

Yolanda Surya Wijaya sebagai Owner Kandangkondang.id hadir sebagai narasumber utama pada kegiatan tersebut. Kandang Kondang sendiri merupakan perusahaan peternakan kambing dan domba yang menyediakan kebutuhan peternak serta daging untuk dikonsumsi.

Yolanda, sapaan akrabnya, menuturkan bahwa dia bersama suami terinspirasi dari kisah Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Abdurrahman bin Auf adalah orang kaya raya yang ada di Mekkah pada saat itu, namun ketika hijrah ke Madinah bersama Rasulullah, dia dalam keadaan tidak memiliki apapun.

“Sesampainya di Madinah, Abdurrahman bin Auf kemudian bertanya kepada orang terkaya di Madinah untuk menunjukkan dimana letak pasar. Nah, salah satu cara beliau untuk kaya kembali adalah dengan berdagang kambing,” tuturnya.

Selain itu, Yolanda melihat potensi bisnis peternakan domba dan kambing ini sangatlah besar di Indonesia. Pertama dengan melihat adanya peningkatan pada bidang kuliner domba atau kambing.

“Setelah saya melakukan sedikit riset, akan ada peluang ekspor kambing dan domba ke mancanegara,” lanjutnya.

Berdasarkan data pada tahun 2018, peningkatan kebutuhan domba kambing untuk Lembaga Aqiqah sangat tinggi. Bahkan tercatat kebutuhannya mencapai angka 6,3 juta ekor per tahun dengan nilai tidak kurang dari 6,3 triliun per tahun. Kemudian untuk data qurban, lanjutnya, kebutuhan domba dan kambing lumayan tinggi. Persentase terhadap total qurban, yang trennya terus naik adalah kebutuhan kambing dan domba.

“Ini menandakan bahwa peluang market-nya sudah ada. Kemudian dengan potensi-potensi tersebut, kita kan fokus kemana?” lanjutnya.

Yolanda menerangkan untuk bisnis peternakan ada 4 alternatif fokus utama, yaitu trading (perdagangan), fattening (penggemukan), breeding (pembiakan) dan milking (pemerahan). Untuk trading, wirausahawan bisa memulai dengan jual beli daging untuk konsumsi kuliner.

“Untuk trading awal-awal saya sarankan memanfaatkan event qurban. Untuk risikonya pun relatif kecil,” jelasnya.

Untuk fattening, Yolanda biasanya membeli domba yang berumur 7-8 bulan. Pada usia-usia tersebut, perkembangan domba bisa menjadi sangat pesat.

“Setelah gemuk, baru kemudian kita bisa jual kembali. Untuk masa penggemukannya kira-kira 2-3 bulan,” imbuhnya.

Fokus bisnis ketiga yaitu breeding yang merupakan jantungnya bisnis peternakan. Bisnis breeding merupakan bisnis yang keuntungannya akan sangat besar. Namun untuk panennya lumayan memakan waktu.

“Untuk breeding, waktu hamil biasanya 5 bulan, kemudian menyusui 2-3 bulan. Butuh waktu sekitar 9 bulan untuk panen. Kalau mau shortcut, kita bisa membeli domba betina hamil,” sarannya.

Peternakan domba dan kambing di Kandang Kondang, menerapkan pemeliharaan insentif. Kandang Kondang menyediakan satu kamar untuk satu kambing agar pemeliharaannya bisa lebih intensif. Kandang Kondang sudah memiliki SOP pemeliharaan per ukuran domba.

“Racikan porsi makanan domba juga ada. Semua pakan harus mengandung kandungan gizi yang baik. Kemudian untuk milking, saat ini domba perah di Indonesia jarang ada. Untuk milking ini kami memelihara dan memerah susu kambing etawa” tutupnya. (*)

Penulis:  Sandi Prabowo

Editor:  Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu