SMART University Ala Universitas Airlangga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Infografik: Feri Fenoria
Infografik: Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Platform “SMART University” diusung Prof. Nasih dalam kepemimpinan periode keduanya menahkodai Universitas Airlangga. Prof. Nasih dilantik kembali menjadi rektor periode 2020-2025 oleh Prof Hatta Ali (Ketua MWA) pada Selasa (16/6/2020).

Pengoperasian program itu berwujud pada akronim SMART yang terdiri atas lima konsep kunci. Yakni, Smart education for millennial people, Meaningful research and community service, Acceleration innovation and enterprising, Responsive and lean management, dan Top up tangible and intangible resourch utilization.

Konsep pertama adalah Smart Education for Milenial People. Hal itu
mengindikasikan pada pengembangan pendidikan dan pengajaran yang agile (adaptif). Terutama ditujukan bagi para millennial dalam menghadapi perkembangan teknologi. Implementasinya berupa optimalisasi pemanfaatan teknologi terkini untuk kebutuhan segala kehidupan kampus.

Dalam hal ini, pendidikan dan pengajaran akan sedikit mengalami perubahan. Kurikulum akan ditata ulang agar lebih relevan dan fleksibel sesuai tantangan masa depan. Salah satunya adalah penguatan Kampus Merdeka. Selain itu, model transfer knowledge akan diperkaya. Program vokasi dikuatkan. Pusat kewirausahaan, inkubator bisnis, dan teaching industry juga akan dikembangkan.

Selanjutnya, Meaningful Research and Community Service menegaskan
pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat merujuk
pada ilmu teknologi dan humaniora yang berdampak secara signifikan pada SDG’s (Suistanable Development Goal’s). Yakni, mendorong riset dan pengabdian masyarakat yang lebih bermakna untuk kehidupan. Iklim dan kapasitas riset akan ditingkatkan melalui research group dan research center maupun kolaborasi. Di samping itu, interdisciplinary research akan lebih didorong melalui program research mandate dan research group.

“Tidak ada lagi riset yang tidak ada manfaatnya. Riset dan community
development
harus didorong untuk memberikan makna dan meningkatkan
kualitas,” ujar Prof Nasih.

Konsep berikutnya, Accelerating Inovation and Enterprising merujuk pada
pengembangan ekosistem inovasi untuk innovation – based economy. Dalam hal ini adalah mempercepat inovasi yang tidak hanya fisik, tapi juga ada inovasi yang bersifat sosial. Salah satu yang akan dilakukan adalah memfasiliasi paten, HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), dan
merek.

Lalu, konsep Responsive and Lean Management menunjukkan pengelolaan
universitas berdasar prinsip akuntabilitas, transparansi, responsibilitas,
independensi, dan keadilan. Hal itu mengharuskan semua sivitas akademika untuk responsif terhadap beragam kondisi dan keadaan. Semua itu diwujudkan demi menjamin pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang bermutu, efektif, dan efisien.

“Seluruh unit kerja, fakultas, maupun rektorat harus responsif terhadap berbagai situasi dan kondisi. Sekaligus menjadi pusat-pusat pertanggungjawaban sesuai fungsinya masing-masing,” tuturnya.

Terakhir, Top Up Tangible and Intangible Resource Utilization merujuk
pada pengoptimalan aset dan sumber daya untuk kepentingan pelaksanaan
Tridharma Perguruan Tinggi. Semua potensi UNAIR didorong untuk
mendukung pilar pendidikan, penelitian. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Baca juga:

Majalah Warta Airlangga Edisi 134 Desember/2020

Infografik lainnya

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu