Faktor yang Berpengaruh pada Perpanjangan Interval QTc pada Pasien TB-RO dengan Regimen STR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilistrasi hipokalemia. (Sumber: Halodoc)

Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) merupakan krisis kesehatan masyarakat, dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang stagnan sekitar 54% dan 30%. Meskipun terdapat beberapa efek samping yang berkaitan dengan obat-obat TB-RO, namun penggunaan shorter regimen dapat dipertimbangkan. Hal ini memungkinkan beberapa faktor berpengaruh terhadap perpanjangan interval QTc pada pasien TB-RO dengan pengobatan Shorter-Term Regimen (STR). QTc > 500 ms dianggap sebagai faktor resiko aritmia ventrikel, seperti torsades de pointes (TdP), peningkatan durasi rawat inap dan kematian. Sekitar 10-20% pasien dengan perpanjangan QTc akibat obat memiliki predisposisi genetik dan >70% memiliki setidaknya dua faktor risiko lain. Perpanjangan QTc akibat obat sering kali berkaitan dengan dosis obat yang diberikan. Obat-obatan tertentu dapat memperpanjang durasi potensial aksi ventrikel dan interval QT melalui mekanisme ionik yang berbeda bergantung pada dosisnya.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa hipokalemia berkaitan dengan perpanjangan interval QT. Seperti halnya hipokalemia, peningkatan kadar natrium (hipernatremia) juga dapat menyebabkan efek yang sama. Usia menjadi faktor lain yang dapat menyebabkan perpanjangan QTc pada pasien TB-RO dengan STR. Perpanjangan QT juga sering terjadi pada pasien obesitas dan dapat diperpendek seiring dengan penurunan berat badan. Pasien dengan Diabetes Mellitus juga mengalami perpanjangan QT. Faktor lain yang mempengaruhi perpanjangan QT adalah jenis kelamin. Hubungan antara jenis kelamin dan interval QT dengan pemberian obat kardiovaskular menunjukkan bahwa wanita lebih rentan dibandingkan pria pada perkembangan TdP.

Penelitian kami bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berperan pada perpanjangan QTc pada pasien DR-TB dengan rejimen STR. Selain penggunaan obat TB yang diketahui dapat memperpanjang interval QTc, kami menganalisis pengaruh faktor risiko tambahan pada interval QTc, seperti usia, jenis kelamin, gangguan elektrolit, komorbid (Diabetes Mellitus), berat badan (BB), body mass index (BMI), dosis obat, dan baseline QTc.

Penelitian kami menemukan beberapa faktor risiko dapat menyebabkan perpanjangan ΔQTc seperti BMI yang rendah, hipokalemia, dan baseline QTc. BMI yang rendah mempengaruhi perpanjangan QTc dengan penurunan massa ventrikel kiri dan dimensi ruang jantung. Perpanjangan interval QTc tercermin dalam disfungsi sistem saraf otonom jantung, sedangkan sistem saraf otonom jantung dipengaruhi oleh gangguan makan.

Hipokalemia berpengaruh terhadap perpanjangan interval QT karena kalium ekstraseluler yang rendah dapat meningkatkan penurunan dan inaktivasi IKr atau meningkatkan pemblokiran oleh natrium. Perpanjangan interval QT dapat terjadi bila ada keterlambatan dalam repolarisasi miokard akibat arus ionik dari kelainan elektrolit. Interval QTc dapat mengkonfirmasi hipotesis bahwa kalium rendah menyebabkan terjadinya henti jantung mendadak dan insiden cardiovascular diseases (CVD). Berdasarkan hasil tersebut, kami menyarankan untuk melakukan dietary counseling, terutama berfokus pada asupan kalium, bergantung pada massa tubuh pasien.

Studi ini tidak memiliki hubungan yang signifikan antara dosis moxifloxacin dengan ΔQTc. Setiap dosis moxifloxacin dapat menyebabkan terjadinya perpanjangan QTc. Obat lain yang memungkinkan untuk menyebabkan perpanjangan QT adalah clofazimin. Penelitian kami menyimpulkan bahwa BMI yang rendah, hipokalemia, baseline QTc, dan QTc 1 minggu setelah pemberian obat berpengaruh secara signifikan terhadap perpanjangan QT. Kami menyarankan dilakukan pemantauan elektrokardiogram (EKG) secara rutin untuk pasien yang menjalani pengobatan STR terutama pasien dengan faktor resiko yang berperan terhadap perpanjangan ΔQTc.

Penulis: Soedarsono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di doi:

https://doi.org/10.37506/ijfmt.v15i1.13641

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu