Faktor Lingkungan yang Harus Diwaspadai sebagai Penyebab Diare pada Balita

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Diare pada balita. (Sumber: Orami)

Kesehatan anak utamanya saat masih dalam kategori usia balita merupakan suatu hal yang harus menjadi perhatian khusus bagi para orang tua sebab pada usia tersebut anak sedang mengalami fase tumbuh kembang yang harus dioptimalkan dan satu masalah kesehatan yang terjadi bisa berdampak fatal bagi masa depannya. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap status kesehatan anak atau individu adalah lingkungan sosial ekonomi, lingkungan fisik, dan perilaku individu. Salah satu faktor yang berperan besar adalah faktor lingkungan seperti keadaan tempat tinggal, kondisi lingkungan sekitar individu.

Kualitas kesehatan lingkungan merupakan salah satu faktor yang memberikan peran terbesar bagi kesehatan masyarakat. Aspek kesehatan lingkungan meliputi akses air bersih, akses sanitasi dasar yang layak, penanganan limbah, vektor penyakit. Apabila terdapat ketidak seimbangan faktor kesehatan lingkungan maka akan berdampak pada kondisi kesehatan individu dan dapat menimbulkan penyakit berbasis lingkungan seperti diare, ISPA, malaria, demam berdarah dengue, dan tuberkulosis paru. Risiko lingkungan menyumbang 23% penyebab kematian secara global, dan sebanyak 2,5 juta kematian terkait penyakit infeksi, parasit, neonatal dan gizi dan memiliki laporan yang lebih besar pada anak-anak.

Salah satu penyakit berbasis lingkungan yang masih terjadi di Indonesia adalah diare. Diare disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau parasit, malabsorpsi, alergi, keracunan, dan imunodefisiensi. Jika diare tidak ditangani dengan serius maka akan mengakibatkan dehidrasi dan malnutrisi. WHO menyatakan bahwa diare merupakan penyebab kematian balita nomor dua di dunia. Penyakit diare berkontribusi besar terhadap malnutrisi dan kematian anak. Diare dapat menyerang semua umur sehingga harus mendapat perhatian khusus karena jumlahnya yang masih tinggi. Berdasarkan data WHO tahun 2017, terdapat 1,7 juta kasus diare pada balita setiap tahun dan 525.000 (30,8%) diantaranya meninggal akibat diare.

Faktor lingkungan yang memiliki peran yang signifikan terhadap diare berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mayoritas kejadian diare terjadi pada rumah yang lantainya tidak kedap air sebesar 77,8%, rumah dengan jamban keluarga yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan sebesar 73,9%, rumah tanpa saluran air limbah memenuhi persyaratan sebesar 47,1%, pengolahan sampah rumah tangga yang tidak tepat 83,3% dan ketersediaan air bersih yang tidak memadai sebesar 68.8%.

Lantai yang tidak tahan air menyebabkan ruangan menjadi lebih mudah kotor dan menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme serta dapat menyerap air yang kemungkinan telah tercemar mikroorganisme. Oleh karena itu, anak balita yang bermain di rumah dan bersentuhan dengan lantai yang kotor akan menyebabkan balita mudah terkena penyakit akibat kuman yang menempel di tubuhnya, termasuk kuman penyebab diare. Ketersediaan jamban keluarga yang memenuhi syarat Kesehatan juga memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada balita. Ketersediaan jamban keluarga berdampak besar pada penurunan risiko penyakit diare. Hal ini dikarenakan banyak penyakit menular yang ditularkan melalui penularan fecal-oral dan melalui berbagai media (seperti air, tanah), kontak langsung dengan permukaan benda yang terkontaminasi, atau melalui vektor (seperti lalat) saat membuang feses dimanapun.

Sementara itu, air limbah rumah tangga merupakan air limbah yang tidak mengandung kotoran manusia yaitu air dari kamar mandi, dapur, mencuci pakaian dan lain-lain. Air limbah tersebut dapat menjadi media yang berguna untuk pertumbuhan mikroorganisme patogen. Oleh karena itu diperlukan saluran pembuangan khusus yang terbuat dari bahan anti air agar tidak mencemari lingkungan sekitar rumah dan dapat mencegah munculnya beberapa penyakit akibat pembuangan sampah dan saluran pembuangan salah satunya ada diare. Untuk aspek pengolahan sampah beberapa responden menyatakan bahwa cara mereka mengolah sampah antara lain membakar sampah, membiarkan sampah organik dan anorganik tercampur, dan sampah dibiarkan menumpuk dan membusuk di area terbuka seperti di lapangan. Hal ini dapat membuat vektor penyakit seperti lalat mudah berkembang biak dan risiko diare pada balita meningkat.

Faktor yang terakhir adalah kesediaan air bersih sebagai salah satu penyebab diare. Sumber air bersih yang digunakan sangat penting untuk diperhatikan, karena sangat menentukan kualitas air bersih yang digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, memasak, dan lain-lain. Sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat, yang tidak terlindungi, dekat dengan jamban dan tangki septik, dapat dengan mudah mencemari air yang dihasilkan. Air yang tercemar meningkatkan risiko terjadinya diare pada balita, karena salah satu media penularan penyakit ini adalah melalui air.

Beberapa cara untuk mengurangi kejadian diare antara lain membersihkan lantai rumah secara rutin, menyediakan keset pada lantai yang masih terbuat dari tanah, menyediakan tempat sampah yang tertutup dan tahan air, mengumpulkan sampah di tempat pembuangan sementara terdekat, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah bersentuhan dengan tanah.

Penulis: Shintia Yunita Arini

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://e-journal.unair.ac.id/JKL/article/view/22729

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu