Statin Bukan Hanya Sekedar Anti Dislipidemia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sakit ginjal kronis. (Sumber: CNN Indonesia)

Penyakit ginjal kronis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya kelainan struktur dan/atau fungsi ginjal selama minimal 3 bulan dan disertai munculnya gangguan kesehatan. Penyakit ginjal kronis merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi dan terapinya memakan biaya yang cukup tinggi pula. Komplikasi tersering merupakan komplikasi kardiovaskular dan bisa terjadi di stage awal. Oleh karena itu deteksi dini dan pencegahan terjadinya progesivitas sangatlah penting.

Inflamasi merupakan salah satu proses yang berperan penting pada penyakit ginjal kronis. Inflamasi menyebabkan kerusakan lapisan pembuluh darah, penggumpalan darah, dan menurunkan fungsi ginjal. Mekanisme terjadinya kerusakan ginjal juga salah satunya berhubungan dengan adanya radikal bebas, kematian jaringan, jaringan parut, racun urea dalam darah, dan berkaitan juga dengan sistem renin-angiotensin. Pada pasien penyakit ginjal kronis ditemukan kenaikan penanda-penanda inflamasi seperti hs-CRP, PTX3, dan sitokin (TNF-α, CRP, IL-8, IL-10, IL-1β, IL-1RA, dan IL-6).

Inflamasi menjadi mediator yang bertanggung jawab terhadap progresivitas penyakit dan komplikasinya. Terdapat korelasi antar penanda-penanda inflamasi dengan fungsi ginjal seperti laju filtrasi ginjal, kadar nitrogen urea darah, albumin urin, dan kreatinin serum. Salah satunya hs-CRP terbukti berkorelasi negatif dengan laju filtrasi ginjal. Oleh karena itu dalam rangka mencegah komplikasi dan progresivitas penyakit ginjal kronis, mengontrol inflamasi menjadi salah satu alternatif terapi pada pasien penyakit ginjal kronis. Salah satu cara mengontrol inflamasi adalah dengan mengonsumsi obat-obat yang memiliki efek lain sebagai anti inflamasi.

Pada pasien penyakit ginjal kronis, kondisi dislipidemia merupakan suatu kondisi yang umum terjadi. Salah satu terapi untuk dislipidemia adalah dengan mengonsumsi obat anti dislipidemia golongan statin. Penelitian akhir-akhir ini menemukan bahwa statin selain sebagai anti dislipidemia, ia juga memiliki efek sebagai anti inflamasi. Mekanisme statin sebagai anti inflamasi adalah melalui mevalonate pathways dan juga secara simultan melalui respon innate dan adaptive. Statin menurunkan respon inflamasi lapisan pembuluh darah dan sel T. Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa statin mampu menurunkan penanda-penanda inflamasi seperti hs-CRP, CRP, dan sitokin (IL-6, TNF-α, dan IL-1β). Statin mampu meningkatkan regulasi sintesis nitrit oksida, menurunkan neutrofil dan infiltrasi makrofag, mencegah proliferasi sel, anti radikal bebas, dan menurukan regulasi sitokin. Pada kelompok pasien yang mengonsumsi statin juga terbukti memiliki nilai laju filtrasi ginjal yang lebih baik.

Kemampuan statin sebagai anti inflamasi dan pelindung ginjal terbukti juga di pasien selain pasien penyakit ginjal kronis. Pada pasien diabetes nephropathy, statin terbukti menurunkan albumin dalam urin. Pada pasien diabetes yang sedang dalam cuci darah, statin mampu menurunkan kejadian aterosklerosis dan stroke. Masih terdapat kontroversi manfaat statin pada pasien cuci darah. Terdapat penelitian yang menyatakan bahwa statin menghambat sintesis vitamin K2 dimana vitamin K2 bertanggung jawab untuk aktivasi protein yang menghambat endapan kalsium di pembuluh darah sehingga secara tidak langsung statin menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Selain itu statin juga menstimulasi kematian sel otot-otot pembuluh darah. Ditambah pada pasien cuci darah, mereka sendiri pada dasarnya telah kekurangan vitamin K. Diluar hal tersebut, statin tetap terbukti mampu menurunkan hs-CRP pada pasien cuci darah.

HDL merupakan transporter kolesterol dan protein pelindung yang juga berperan sebagai anti inflamasi dan anti radikal bebas. Kondisi dislipidemia pada pasien penyakit ginjal kronis menyebabkan kadar HDL-kolesterol rendah dan HDL tidak mampu bekerja optimal sebagai anti inflamasi dan anti radikal bebas. Penelitian membuktikan bahwa HDL dan hs-CRP terbukti berkorelasi negatif. Artinya semakin rendah HDL-kolesterol makan semakin tinggi hs-CRP dan resiko komplikasi kardiovaskular pun akan semakin tinggi. Oleh karena itu konsumsi statin akan cukup bermanfaat.

Penelitian-penelitian telah menunjukan bahwa efek anti inflamasi dari statin pada pasien penyakit ginjal kronis cukup berpotensi dan layak dipertimbangkan untuk dijadikan alternatif terapi dan layak untuk diteliti lebih lanjut. Selain itu pada penelitian dengan subjek pasien penyakit ginjal kronis yang mengkonsumsi statin, perbandingan HDL-Cholesterol/hs-CRP berkorelasi positif dengan laju filtrasi ginjal. Hasil ini memiliki arti bahwa kombinasi dan interaksi antara inflamasi dan HDL-kolesterol berubah secara simultan dan mengarah pada fungsi ginjal yang lebih baik. Berdasarkan hal tersebut maka pengukuran perbandingan HDL-kolesterol/hs-CRP berpotensial berguna sebagai kombinasi baru untuk monitoring fungsi ginjal yang bisa digunakan pada praktek sehari-sehari.

Penulis: Maftuchah Rochmanti, Nadira Muthi Tsania, Lukman Hakim, Mochammad Thaha

Detail tulisan lengkap dapat dilihat di:

https://www.maejournal.com/article/a-potential-combination-of-hdl-cholesterol-and-hs-crp-for-inflammation-monitoring-in-ckd-patient-with-statin-therapy

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu