Penggunaan Chitosan sebagai Alternatif Bahan Penghenti Perdarahan Tulang pada Bedah Jantung

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi bedah jantung. (Sumber: Dokter Sehat)

Sternotomi adalah ancangan standar yang dilakukan pada hampir setiap prosedur pembedahan pada jantung dan mediastinum. Perdarahan akan terjadi setelah sternum (tulang dada) terbelah karena terputusnya pembuluh darah di tengah tulang. Penghentian perdarahan yang efektif sangat diperlukan untuk menjaga lapangan operasi tetap kering dan menghindari transfusi darah yang berlebihan selama operasi, serta mencegah dilakukannya operasi ulang akibat perdarahan masif paska operasi yang selanjutnya dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada pasien. Salah satu bahan yang umum digunakan untuk menghentikan perdarahan adalah bone wax. Bone wax yang berfungsi sebagai hemostat (penghenti perdarahan) mekanis akan menghambat aliran darah dari pembuluh yang rusak dan memfasilitasi pembentukan bekuan darah. Meskipun demikian, karena sifatnya yang tidak dapat diserap, keberadaan bone wax di antara fragmen tulang telah terbukti dapat mempengaruhi penyembuhan tulang, memicu reaksi inflamasi kronis, dan meningkatkan laju infeksi.

Di sisi lain, chitosan yang merupakan salah satu biopolimer yang terbanyak di alam, mempunyai kemampuan hemostat intrinsik yang dicapai melalui tiga mekanisme yaitu penyerapan plasma, koagulasi eritrosit, serta adhesi, agregasi, dan aktivasi platelet. Dengan sifat biokompatible, biodegradable, anti mikroba, serta pro regeneratif, diduga penggunaan chitosan sebagai bahan hemostatik dapat meningkatkan penyembuhan tulang paska sternotomi.

Dari penelitian pada 32 ekor hewan coba kelinci, didapatkan hasil berupa penggunaan chitosan sebagai bahan hemostatik dapat meningkatkan penyembuhan tulang paska sternotomi yang dibuktikan dengan jumlah sternum yang sembuh total (celah antar tulang sempit dan sejajar) lebih banyak secara signifikan, jumlah sel raksasa benda asing lebih rendah secara signifikan, serta jumlah osteoblast lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok hewan coba yang menggunakan bone wax. Hasil tersebut sesuai dengan hasil beberapa penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa keberadaan bone wax pada tulang dapat menyebabkan pembentukan sel raksasa benda asing dan inflamasi pada jaringan sekitar, yang selanjutnya dapat memicu timbulnya jaringan granuloma dan reaksi fibrosis yang akan mengganggu aktivitas osteoblast sehingga menghambat proses osteosíntesis.

Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh bukti bahwa chitosan dapat memicu regenerasi melalui stimulasi terhadap proliferasi sel, pembentukan jaringan, dan peningkatan fungsi makrofag, memicu diferensiasi dari sel progenitor mesenkimal menjadi osteoblast, menstimulasi deposisi kalsium, meningkatkan kekuatan tulang, serta menurunkan kerusakan tulang.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemakaian chitosan sebagai alternatif bahan hemostatik dapat dipertimbangkan penerapannya secara klinis. Namun, penelitian-penelitian selanjutnya yang lebih mendalam dengan menggunakan hewan coba berukuran besar, dengan jumlah sample lebih banyak, atau dalam masa pengamatan yang lebih lama hendaknya dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian ini.

Penulis: Heroe Soebroto

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini,

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33353370/

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu