EGCG Topikal pada Kulit sebagai Bahan Alternatif pada Tata Laksana Penuaan Kulit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi penuaan kulit. (Sumber: Health Kompas)

Proses penuaan akan terjadi pada semua makhluk hidup, termasuk pada manusia. Proses penuaan pada manusia terjadi pada seluruh organ, mulai dari kulit sebagai organ terluar hingga organ lainnya. Kulit merupakan organ yang istimewa karena merupakan orga terluar yang tampak saat berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Dan sebagai makhluk sosial, peran penampilan sangat mempengaruhi rasa percaya diri seseorang individu. Penampilan dengan penuaan kulit yang muncul lebih awal, akan menyebabkan rasa tidak percaya diri, dna dapat menyebabkan kualitas hidup seseorang menjadi menurun.

Proses penuaan pada kulit dapat diakibatkan oleh faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam yang mempengaruhi terjadinya proses penuaan kulit diantaranya adalah usia, faktor keturunan. Semakin tua usia seseorang, maka proses penuaan kulit akan semakin tampak. Sedangkan faktor dari luar yang mempengaruhi timbulnya proses penuaan kulit diantaranya faktor gaya hidup, makanan yang tidak sehat, kondisi stres, kondisi kesehatan secara umum yang kurang baik, polusi lingkungan, serta yang paling berperan adalah akibat pengaruh paparan sinar ultraviolet dari sinar matahari. Kulit sebagai organ terluar terutama area wajah yang tidak terlindungi oleh pakaian, merupakan area tubuh yang paling rentan mengalami penuaan karena dapat terpapar sinar ultraviolet dari matahari secara langsung.

Beberapa bahan alam digunakan pada pencegahan penuaan kulit. Salah satu di antaranya adalah teh hijau. Teh hijau sendiri telah dikonsumsi oleh masyarakat sejak dahulu kala. Teh hijau dipercaya dapat meningkatkan kesehatan, termasuk salah satu diantaranya dengan mencegah proses penuaan. Bahkan di Inggris, tradisi minum teh di sore hari merupakan salah satu tradisi yang terus dilakukan hingga saat ini. Masyarakat kini juga menggalakkan minum teh hijau pada beberapa jamuan acara resmi, seperti pada high tea party.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa pemberian ekstrak teh hijau dapat menurunkan risiko penuaan kulit. Hal ini terutama pada penggunaan ekstrak teh hijau secara topikal atau dengan pengolesan. Epigallocatechin-3-gallate (EGCG) merupakan senyawa yang terkandung di dalam ekstrak teh hijau. EGCG merupakan bahan aktif utama yang berperan utama pada mekanisme kerja ekstrak teh hijau. EGCG dapat bekerja sebagai anti oksidan. EGCG bekerja dengan menghambat pembentukan radikal bebas yang berperan pada penuaan kulit.

Hal yang sangat penting yang harus terpenuhi pada pemberian bahan topikal atau obat oles, adalah kemampuan penyerapan ke dalam kulit. Dengan harapan, setelah bahan aktif tersebut dapat diserap oleh kulit, maka bahan aktif akan dapat bekerja dan bermanfaat bagi kulit kesehatan.

Studi yang kami lakukan bertujuan untuk mengevaluasi penyerapan EGCG topikal dalam bentuk sediaan krim ke dalam kulit. Krim EGCG topikal yang digunakan pada studi ini juga mengandung minyak zaitun dan minyak kelapa (virgin coconut oil) yang juga dapat membantiu perbaikan sawar kulit, sehingga mempermudah penyerapan bahan aktif EGCG ke daam kulit. Evaluasi dilakukan dengan melakukan ekstraksi kulit hewan coba, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Dari studi ini, di dapatkan hasil bahwa bahan aktif EGCG dapat masuk ke dalam kulit hewan coba setelah digunakan selama 1 minggu, dengan frekuensi pemberian 2 kali per hari. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan EGCG topikal dalam bentuk sediaan krim ini berpotensi untuk bekerja sebagai bahan topikal alternatif yang bermanfaat pada kulit, terutama pada pencegahan proses penuaan kulit.

Penulis : Damayanti

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://medicopublication.com/index.php/ijfmt/article/view/11605

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu